Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Peran anti C1q pada penderita SLE

1,202 views

Published on

Presentasi Referat Karya Tulis Akhir dengan judul peran antiC1q pada penderita SLE

Published in: Health & Medicine
  • Be the first to comment

Peran anti C1q pada penderita SLE

  1. 1. HUBUNGAN KADAR ANTI-C1Q DENGAN AKTIVITAS PENYAKIT PADA PENDERITA LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK Ferdy Ferdian, Laniyati Hamijoyo, Riardi Pramudiyo Divisi Reumatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran / RSUP Dr. Hasan Sadikin REFERAT KTA
  2. 2. HUBUNGAN KADAR ANTI-C1Q DENGAN AKTIVITAS PENYAKIT PADA PENDERITA LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK Pembimbing : Laniyati Hamijoyo, dr., SpPD-KR, M.Kes Riardi Pramudiyo, dr., SpPD-KR Presentan : Ferdy Ferdian, dr Divisi Rheumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UNPAD / RSHS Bandung 2014
  3. 3. Pendahuluan Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Terjadi deposit autoantibodi & komplek imun
  4. 4. Epidemilogi SLE • Penderita SLE dapat ditemui pada kelima benua terutama benua Eropa, Amerika dan Asia.5 • Sebagian besar penderita SLE adalah wanita pada usia reproduksi. Rasio antara wanita dan pria adalah 6-14 : 1.2,6,7 5. Bertoli AM. Epidemiology of systemic lupus erythematosus. Dalam: Tsokos GC. Systemic lupus erythematosus. Edisi ke-1. Philadelphia: Elsevier; 2007. h.1−14 6. Danchenko N, Satia JA, Anthony MS. Epidemiology of systemic lupus erythematosus: a comparison of worldwide disease burden. Lupus. 2006;15(5):308-18 7. Kyttaris VC. Systemic Lupus Erythematosus: From Genes to Organ Damage. Methods Mol Biol. 2010 ; 662: 265–283
  5. 5. Epidemilogi SLE Danchenko et al, 2006, Lupus 2006;15:308-318 Dachenko et al, 2006, 60 penelitian, 1950-2006 Danchenko and colleagues reviewed more than 60 studies on SLE incidence and prevalence in the United States, Europe, Asia, and Australia from 1950 to 2006 21.9:100.000 penduduk (Afro caribian) 5.1:100.000 penduduk USA 11.0:100.000 penduduk (Aborigin) Bagaimana dengan Indonesia? Data di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung terdapat 2.67% kasus SLE pada tahun 2012 dan 3.95% kasus SLE pada tahun 2013.9
  6. 6. Patogenesis SLE BAGAIMANA PATOGENESIS SLE??? HIPOTESIS HIPOTESIS HIPOTESIS HIPOTESIS Autoantibodi Autoantibodi berikatan dengan self antigen Komplek imun terdeposisi di jaringan Aktivasi kaskade komplemen Kerusakan jaringan
  7. 7. Sistem imun tubuh Opsonisasi Opsonisasi adalah proses melapisi partikel antigen oleh antibodi dan/atau oleh komponen komplemen sehingga antigen lebih mudah dan cepat dimakan fagosit Sitolisis Melalui pembentukan membran attack complex Inflamasi Peningkatan permeabilitas kapiler Kemoatraktif Klirens sel apoptosis
  8. 8. Peran komplemen The binding of C4b and C3b to immune complexes also prevents their aggregation into insoluble complexes and enhances their clearance Hollers VM, 2004, J. Clin. Invest. 114:616–619
  9. 9. Peran komplemen Komplek imun besar Mudah mengendap pada jaringan Komplek imun kecil dan mudah larut C3B C4B Jalur klasik Jalur alternatif
  10. 10. Peran komplemen Eritrosit Immune Complex Clearing Mechanism CR1 (Complement Reseptor-1) Liu CC, Navratil JS, Kao AH, Manzi S, Ahearn JM CR-1 Berikatan dengan komplek imun (sudah teraktivasi oleh C3) Kupffer sel di hati (RES) akan memfagositosis eritrosit yang berikatan dengan IC
  11. 11. Defek komplemen Liu CC, Navratil JS, Kao AH, Manzi S, Ahearn JM Terjadi defek pada komplemen Klirens komplek imun melalui CR-1 eritrosit akan menurun
  12. 12. Defek komplemen C3B C4B Komplek imun besar Mudah mengendap pada jaringan Komplek imun kecil dan mudah larut Jalur klasik Jalur alternatif
  13. 13. Penumpukan komplek imun Deposisi IC cepat Deposisi IC lambat Deposisi IC berukuran besar
  14. 14. Hubungan komplemen dengan SLE • Penderita SLE cenderung memiliki komplemen rendah akibat terpakai dalam proses inflamasi jaringan atau akibat adanya antibodi terhadap komplemen sehingga komplemen menjadi tidak aktif.12,17,31 • Penderita dengan hipokomplemen primer cenderung menjadi SLE.7,17,31 07. Kyttaris VC. Methods Mol Biol. 2010 ; 662: 265–283 12. Jankowiak et al, 2011, Pol Arch Med Wewn. 2011; 121 (9): 287-295 17. Yu et al. Dalam: Tsokos GC, Gordon C, Smolen JS, editor. Systemic lupus erythematosus. Edisi ke-1. Philadelphia: Elsevier; 2007. h.183-191 31. Liu et al. Dalam: Tsokos GC, Gordon C, Smolen JS, editor. Systemic lupus erythematosus. Edisi ke-1. Philadelphia: Elsevier; 2007. h. 194-208
  15. 15. Perjalanan penyakit SLE Bertsias et al, 2010 Predisposisi embentukan autoantibodi Inflamasi Disease activity dan damage
  16. 16. Pemantauan aktivitas penyakit The Systemic Lupus Erythematosus Disease Activity Index 24 parameter klinis dan laboratoris dalam 10 hari terakhir Mencakup 9 organ tubuh 1. Penilaian umum 2. Neurologis 3. Muskuloskeletal 4. Renal 5. Mukokutan 6. Jantung 7. Vaskular 8. Respirasi 9. Hematologis Tanpa aktivitas (SLEDAI=0)Aktivitas ringan (SLEDAI 1-5)Aktivitas sedang (SLEDAI 6-10)Aktivitas tinggi (SLEDAI 11-19)Aktivitas sangat tinggi (SLEDAI >20)
  17. 17. Perkembangan SLEDAI SLEDAI SELENA-SLEDAI SLEDAI-2K MEX-SLEDAI 1992 Safety of Estrogen in Lupus Erythematosus National Assessment Group Gladman et al, 2002 Guzman et al
  18. 18. 497 jurnal 26 jurnal terpercaya 22 jurnal dengan SELENA SLEDAI dan SLEDAI-2k Sisanya dengan ECLAM SLAM dan SLAQ
  19. 19. SELENA SLEDAI • Sistem skoring dibuat sederhana dan mudah • Parameter diberikan skor dengan rentang 1 sampai 8 • Skor hanya diberikan bila memenuhi kriteria parameter yang dimaksud pada saat pemeriksaan atau 10 hari sebelumnya • Parameter memiliki nilai ambang yang tinggi • Penurunan skor membutuhkan penghapusan yang komplit dari gejala dan tanda serta resolusi laboratorium yang jelas Petri M. “Treatment of SLE: Bridging the Gap from Clinical Trials to Practice” Symposium held during the Annual Congress of the American College of Rheumatology on November 11, 2012.
  20. 20. Lupus nefritis Spektrum SLE sangat luas dan dapat melibatkan semua organ Dengan adanya keterlibatan ginjal prognosis penderita SLE menjadi kurang baik.12,21 Lupus nefritis terjadi pada 40-85% penderita SLE dan sekitar 50% kasus terjadi pada tahun pertama penderita didiagnosis SLE.12,22 12. Jankowiak et al, 2011. Pol Arch Med Wewn. 2011; 121 (9): 287-295 21. Dooley MA. Dalam: Wallace DJ, Hahn BH, editor. Dubois' Lupus Erythematosus. Edisi ke-7. Los Angeles: Lippincott Williams & Wilkins; 2007. h.47−52. 22. Illei GG et al. Dalam: Tsokos GC, Gordon C, Smolen JS, editor. Systemic lupus erythematosus. Edisi ke-1. Philadelphia: Elsevier; 2007. hal 336
  21. 21. Lupus nefritis Ippolito et al, 2008, Clin Exp Rheumatol 2008;26(Suppl 51):S72-S79 Recent data suggest 5- and 10- year survival rates above 90% and 85%, respectively There remains a longer-term mortality risk with deaths attributable to end-stage renal disease, infections, cardiovascular disease, and cancer The all-cause standardized mortality rate for lupus patients is more than twice that of the general population In this North American lupus population, the SMRs were most elevated for renal disease (7.9; 95% CI, 5.5 to 11.0) Renal disease in SLE 7.9X
  22. 22. Lupus nefritis LUPUS NEFRITIS LUPUS NEFRITIS SEVERE LUPUS NEFRITIS Some patients with kidney involvement may show rapid progression to renal failure, while others may enter complete and stable remission after adequate therapy
  23. 23. Lupus nefritis LUPUS NEFRITIS EKSERSEBASI LUPUS NEFRITIS AKTIF REMISI PROGESIF
  24. 24. Lupus nefritis Baku emas diagnosis LN Komplikasi Tidak praktis Cara lain? Marker?
  25. 25. Lupus nefritis • Croca et al, 2011 Terapi yang berkembang saat ini hanya dapat mengurangi perkembangan GGT sebanyak kurang dari 5% dan belum dapat mengurangi angka mortalitas maupun morbiditas akibat LN. • Bertsias et al, 2012 Biarpun penderita LN menjalani terapi imunosupresif, 10-30% penderita LN akan jatuh ke dalam GGT dalam 15 tahun setelah diagnosis Croca et al, 2011. Rheumatology 2011;50:1424-1430 Bertsias et al, 2012. Ann Rheum Dis 2012;71:1771–1782.
  26. 26. Brain storming Benang merah Sebagai penghubungPENDERITA SLE SPEKTRUM KLINIS LUAS RENAL INVOLVEMENT TERAPI LN RESPON KLINIS MORBIDITIAS MENURUN MORTALITAS MENURUN BIOPSI BIOPSI SERIAL? REMISI PERSISTAN RELAPS APAKAH SELALU HARUS BIOPSI? APAKAH KITA BISA MERAMALKAN HASIL TERAPI? APAKAH KITA BISA TAHU SEPARAH APA KERUSAKANNYA? APAKAH KITA BISA TAHU SEDANG AKTIF ATAU TIDAK? APAKAH ADA PENANDA UNTUK DITEKSI DINI LN? HARAPAN semua QOL BAIK POPULASI UMUM PERMASALAHAN Kriteria diagnosis LN menurut American College of Rheumatology (ACR) tahun 1997 adalah proteinuria 24 jam (>0.5 gram/24 jam) atau urinalisa rutin, yaitu proteinuria sewaktu >3+ dengan metode carik celup dan atau ditemukan silinder seluler. Ferdian et al, 2015
  27. 27. What we need? DIAGNOSTIC ABILITY MONITORING ABILITY PROGNOSTIC FORECASTING Penanda yang memiliki sensitivitas dan spesivisitasnya yang baik terhadap sesuatu Penanda yang dapat dipergunakan untuk early diagnosis Penanda yang praktis (easy to assay) Penanda yang mudah diintepretasikan (simple to intepret) Penanda yang murah (readily available & reasonable cost) Penanda yang dapat digunakan untuk monitoring aktivitas penyakit dan sensitif terhadap perubahan walau kecil sekalipun Penanda yang dapat digunakan untuk monitoring keberhasilan terapi Penanda yang mampu meramalkan hasil akhir terapi Mok CK. Journal of Biomedicine and Biotechnology Volume 2010,
  28. 28. Biomarker lupus nefritis Liu et al, 2013. Ther Adv Musculoskel Dis (2013) 5(4) 210–233 • Kreatinin serum • Titer C3/C4 serum • Titer anti-dsDNA • Protein urin 24 jam • Sedimen urin • Biopsi ginjal TRADITIONAL BIOMARKER CANDIDATE BIOMARKER • Anti C1q serum • Anti nucleosom serum • C4d biopsi ginjal • C4d serum • MCP-1 urin • NGAL urin • Dll Over 50 potential biomarkers have been investigated for monitoring SLE. Of these anti-DNA, anti-nucleosome, monocyte chemoattractant protein-1, neutrophil gelatinase-associated lipocalin, urinary tumor necrosis factor (TNF)- like weak inducer of apoptosis, soluble cellular vascular adhesion molecules, C4d levels on erythrocytes, biopsy positive C4d and anti-C1q autoantibodies have all been investigated as renal disease biomarkers (Eggleton et al, 2014) Of these renal biomarkers, anti-C1q has persisted over three decades as a means of monitoring LN in SLE patents in research studies (Eggleton et al, 2014)
  29. 29. ANTIBODI C1Q Anti-C1q Abs have been suggested as a new potential parameter that helps establish the diagnosis and evaluate LN activity
  30. 30. C1q Sontheimer et al, 2005. J Invest Dermatol. 2005;125:14-23 C1q aktif
  31. 31. Anti-C1q Potlukova et al, 2008. Scandinavian Journal of Immunology 67, 423–430
  32. 32. Penelitian antibodi-C1q
  33. 33. Penelitian antibodi-C1q Siegert et al, 1999, Belanda Flierman et al, 2006, Belanda Gunnarsson et al, 1997, Swedia Heidenreich et al, 2009, Austria Trendelenburg et al, Eropa Oelzner et al, 2003, Bulgaria Marto et al, 2005, London Sinico et al, 2009, Italy Jankowiak et al, 2011, Poland Ravirajan et al, 2001, London Meyer et al, 2009, Perancis EROPA ASIA Altintas et al, 2008, Turki Fang et al, 2008, Cina Tan et al, 2009, Cina Cai et al, 2010, Cina Chen et al, 2002, Taiwan Mok et al, 2010, Hongkong Katsumata et al, 2011, Tokyo Pradhan et al, 2012, India Zhang et al, 2011, Cina utara Yang et al, 2012, Cina AMERIKA Akhter et al, 2011, USA Holer et al, 2004, USA Bernstein et al, 1994, USA Moura et al, 2009, Brazil Penelitian antibodi-C1q di seluruh dunia
  34. 34. Antibodi C1q dapat menditeksi keberadaan lupus nefritis pada penderita SLE A number of studies have shown that anti-C1q are found more frequently in patients with renal involvement than in those without renal inflammatory disease
  35. 35. Peran anti-C1q untuk menditeksi LN Cai et al, 2010. J Rheumatol 2010;37;759-765 CINA, GUANGZHOU Dari penelitian yang dilakukan oleh Cai dkk di Cina dengan jumlah sampel sebesar 113 penderita SLE. Didapatkan penderita SLE dengan LN memiliki titer anti- C1q lebih tinggi dibandingkan penderita tanpa LN p < 0.001 n=73 n=40
  36. 36. Peran anti-C1q untuk menditeksi LN Marto et al, 2005. Ann Rheum Dis 2005;64 :444–448 Dari penelitian yang dilakukan oleh Marto dkk di Inggris dengan jumlah sampel sebesar 151 penderita SLE. Didapatkan penderita SLE dengan LN memiliki titer anti- C1q lebih tinggi dibandingkan penderita tanpa LN EUROPE, INGGRIS
  37. 37. Antibodi C1q dapat membedakan lupus nefritis yang sedang aktif dan tidak aktif Active nephritis had significantly higher anti-C1q titres than those with quiescent renal involvement
  38. 38. Antibodi C1q untuk membedakan LN aktif/nonaktif Marto et al, 2005. Ann Rheum Dis 2005;64 :444–448 EUROPE, INGGRIS Dari penelitian yang dilakukan oleh Marto dkk di Inggris dengan jumlah sampel sebesar 115 penderita SLE. Didapatkan penderita SLE dengan LN aktif memiliki titer anti-C1q lebih tinggi dibandingkan penderita LN nonaktif
  39. 39. Antibodi C1q untuk membedakan LN aktif/nonaktif Jankowiak et al, 2011. Pol Arch Med Wewn. 2011; 121 (9): 287-295 The mean serum level of anti-C1q Abs differed significantly between the active and inactive groups, and particularly between active LN and controls (FIGURE 2A) (Jankowiak et al, 2011)
  40. 40. Antibodi C1q dapat meramalkan severitas lupus nefritis berdasarkan patologi anatomi Association between serum anti-C1q antibody and renal pathological characteristics
  41. 41. Antibodi C1q dapat meramalkan severitas lupus nefritis berdasarkan patologi anatomi Cai et al, 2010. J Rheumatol 2010;37;759-765 A high level of anti-C1q antibody may be a reliable predictor of proliferative lupus nephritis (Cai et al, 2010) These data suggest that in patients with lupus nephritis, anti-C1q antibody measurement could serve as a noninvasive tool for assessing renal lesions in lupus nephritis (Cai et al, 2010)
  42. 42. Antibodi C1q berguna untuk monitoring terapi lupus nefritis A number of studies have shown that levels of anti-C1q antibodies decreased after successful treatment of lupus nephritis
  43. 43. Peran anti-C1q dalam monitoring keberhasilan terapi LN Trendelenburg et al, 2006. Nephrol Dial Transplant (2006) 21: 3115–3121 Trendelenburg et al, 2006 Melaporkan bahwa terapi lupus nefritis yang berhasil akan menurunkan titer anti-C1q serum Levels of anti-C1q antibodies decreased after successful treatment of lupus nephritis Nephrol Dial Transplant (2006) 21: 3115–3121 Katsumata et al, 2011 Melaporkan hal yang sama tentang keberhasilan terapi akan menurunkan titer anti-C1q dalam serum Anti-C1q antibody titers significantly decreased as clinical disease was ameliorated following treatment (P=0.00097) Athritis & Reumatism vol. 63, no. 8, august 2011, pp 2436 –2444 Katsumata et al. Arthritis & Rheumatism Vol. 63, No. 8, August 2011, pp 2436 –2444
  44. 44. Peran anti-C1q dalam meramalkan keberhasilan terapi Cai et al, 2010. J Rheumatol 2010;37;759-765 Cai et al, 2010 Anti-C1q yg tetap tinggi selama dlm terapi, atau bahkan meningkat Penderita akan mengalami proteinuria yang persisten Sehingga diperlukannya terapi yang lebih intensif The longer the serum anti-C1q antibody level remained with high or increased titer, the less likely that proteinuria would recess after treatment. This suggests that patients with lupus nephritis with persistently high levels or increased titer of anti-C1q antibody should be prescribed intensive treatment, such as induction therapy of high-dose immunosuppressants or rituximab J Rheumatol 2010;37;759-765
  45. 45. Anti-C1q kombinasi dengan antidsDNA • Oelzner et al, 2003 Positive findings of both anti-dsDNA Ab and anti-C1q Ab are of relatively high specificity for active nephritis Oelzner et al, 2003. Clinical Rheumatology, 2003, Vol 22, Issue 4-5, pp 271-278
  46. 46. STUDI METAANALISIS ANTI-C1Q • Yin et al, 2012 indicated that anti-C1q autoantibodies had a relatively fair sensitivity and specificity for detecting LN in patients with SLE, as well as differentiating active from inactive LN. • The overall sensitivity and specificity for the detection of LN were 58% and 75% respectively, • For differentiating active from inactive LN were 74% and 77% respectively Yin et al, 2012. Lupus. 2012 Sep;21(10):1088-97
  47. 47. Bagaimana dengan aktivitas penyakit secara global?
  48. 48. Peran anti-C1q untuk monitoring aktivitas global Cai et al, 2010. J Rheumatol 2010;37;759-765 Serum anti-C1q was positively correlated to SLEDAI (r = 0.792, p < 0.001)(Cai et al, 2010)
  49. 49. Peran anti-C1q untuk monitoring aktivitas global Akther et al, 2011. Lupus. 2011 Oct;20(12):1267-74. In terms of global disease activity, anti-C1q had the highest association with the PGA (p<0.09) and was strongly associated with modified SELENA-SLEDAI (p<0.009) (Akhter et al, 2011) This study indicates the potential superior utility of anti-C1q over anti-dsDNA and other Measures to track renal activity (Akhter et al, 2011)
  50. 50. Peran anti-C1q untuk monitoring aktivitas global Anti-C1q titers were significantly correlated with SLE Disease Activity Index 2000 score (P < 0.0001) (Katsumata et al, 2011) Katsumata et al. Arthritis & Rheumatism Vol. 63, No. 8, August 2011, pp 2436 –2444
  51. 51. Bagaimana dengan aktivitas penyakit selain keterlibatan ginjal ?
  52. 52. Peran anti-C1q untuk monitoring aktivitas selain renal Balanescu et al, 2010. Rom J Intern Med. 2010;48(2):159-63. Anti C1q antibodies might play a pathogenic role in SCLE pathogenesis and being positively associated with cutaneous apoptosis markers might be associated with a negative prognosis and secondary SLE development (Balanescu et al, 2010) Furthermore, Hegazy et al. recently reported in their study a strong correlation between anti-C1q antibodies and cutaneous lupus and hypothesised a potential pathogenetic role in such context (Cozzani et al, 2014)
  53. 53. Peran anti-C1q untuk monitoring aktivitas selain renal Katsumata et al. Arthritis & Rheumatism Vol. 63, No. 8, August 2011, pp 2436 –2444 Anti-C1q antibodies were detected in the sera of patients with active SLE who had a variety of manifestations. Leukopenia was shown to be significantly associated with anti-C1q
  54. 54. Peran anti-C1q untuk monitoring aktivitas selain renal Hepburn et al, 2007. Ann Rheum Dis 2007;66:1106–1109. The removal of apoptotic cells in vivo is normally so rapid that few are seen in tissues such as the thymus, where 95% of cells undergo apoptosis. Their presence in BM is rare and they are not typically seen in normal BM (Hepburn et al, 2007)
  55. 55. Kontroversi?
  56. 56. Kontroversi • Siegert et al, 1991. No correlation between C1qAb titers and a score for general disease activity was found. However, significant positive correlations were found between C1qAb titers and the presence of several clinical and laboratory variables of disease activity. These included nephritis • Kumar et al, 1999. The titres of anti-C1q correlated positively with SLEDAI (P < 0.01) It is concluded that anti-C1q antibody can serve as a general marker for lupus activity. But no significant correlation was observed between anti-C1q positivity and any particular organ involvement. Similarly, no correlation was found between anti-C1q and proliferative lupus nephritis Siegert et al, 1991. J Rheumatol. 1991 Feb;18(2):230-4. Kumar et al, 1999. Indian J Med Res. 1999 Dec;110:190-3.
  57. 57. Kontroversi • Altintas et al, 2008. In our patient group, we did not see any relation between anti-C1q positivity and renal involvement or active renal involvement • Katsumata et al, 2011. Anti-C1q antibody titers were significantly correlated with SLE Disease Activity Index 2000 score (P < 0.0001) The prevalence and titers of anti-C1q antibodies were not significantly associated with active lupus nephritis (P <0.462 and P <0.366, respectively) • Trad et al, 2013. There was no significant association between anti-C1q and renal or extrarenal manifestations. In addition, there was no correlation between anti-C1q titer and SLEDAI index Altintas et al, 2008. Gazi Medical Journal. 2008: Cilt 19: Sayı 3: 126-132 Katsumata et al, 2011 Arthritis & Rheumatism Vol. 63, No. 8, August 2011, pp 2436 –2444 Trad et al, 2013. Pathol Biol (Paris). 2013 Jun;61(3):113-6
  58. 58. Penelitian antibodi C1q di Indonesia? Novelty derived from Latin word novus for "new" is the quality of being new, or following from that, of being striking, original or unusual. Novelty may be the shared experience of a new cultural phenomenon or the subjective perception of an individual.
  59. 59. Penelitian antibodi-C1q di Indonesia • Handono et al, 2014. Significant correlations were found between the small PRL serum levels and the anti-dsDNA (r=0.978; p=0.00) and C3 (r= -0.970; p=0.00) levels Handono et al, 2014. Arch Rheumatol 2014;29(1):35-41
  60. 60. KESIMPULAN ANTI-C1Q KETERLIBATAN GINJAL (LUPUS NEFRITIS) Antibodi C1q dapat menditeksi keberadaan lupus nefritis pada penderita SLE Antibodi C1q dapat membedakan lupus nefritis yang sedang aktif dan tidak aktif Antibodi C1q dapat meramalkan severitas lupus nefritis berdasarkan patologi anatomi Antibodi C1q berguna untuk monitoring terapi lupus nefritis Dan lain lain KETERLIBATAN ORGAN LAIN Antibodi C1q berhubungan dengan keterlibatan subacute lupus eritematous Antibodi C1q berhubungan dengan leukopenia AKTIVITAS PENYAKIT GLOBAL Antibodi C1q berbanding lurus dengan aktivitas penyakit dengan SLEDAI Antibodi C1q berhubungan bermakna dengan SELENA SLEDAI Antibodi C1q berkorelasi dgn aktivitas penyakit scr global berdasarkan SLEDAI 2000 TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN KETERLIBATAN GINJAL Altintas, et al. , Katsmumata et al,, Kumar et al, Trad et al TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN KETERLIBATAN ORGAN LAIN Altintas, et al., Kumar et al TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN AKTIVITAS GLOBAL Siegert et al,, Trad et al, Berkorelasi 58%/75%| 74%/77% Ferdian et al, 2015 Penelitian sejenis di Indonesia belum ada Sebagai dasar penelitian lanjutan Bagaimana dengan di Indonesia? Contohnya setelah pemberian terapi
  61. 61. TERIMAKASIH
  62. 62. HUBUNGAN KADAR ANTI-C1Q DENGAN AKTIVITAS PENYAKIT PADA PENDERITA LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK Ferdy Ferdian, Laniyati Hamijoyo, Riardi Pramudiyo Divisi Reumatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran / RSUP Dr. Hasan Sadikin Seminar Usulan Penelitian
  63. 63. LATAR BELAKANG PENELITIAN
  64. 64. TEMA SENTRAL PENELITIAN • Antibodi C1q menyebabkan komplemen C1q menjadi inaktif • C1q memegang peranan penting pada klirens komplek imun • Penurunan klirens menginduksi lebih banyak inflamasi di jaringan • Proses inflamasi akan mempengaruhi tampilan klinis SLE (SLEDAI) • Morbiditas dan mortalitas penderita LN masih tinggi • Eksersebasi dan progresifitas LN sangat beragam antar individu • Hubungan anti-C1q dengan LN / aktivitas lain masih kontroversi • Penelitian yang menghubungkan antibodi C1q dengan lupus nefritis dan berbagai aktivitas penyakit di Indonesia belum ada
  65. 65. RUMUSAN MASALAH • Apakah terdapat korelasi antara antibodi-C1q dengan berbagai aktivitas penyakit berdasarkan skor SELENA-SLEDAI pada penderita lupus eritematosus sistemik ?
  66. 66. TUJUAN PENELITIAN • Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antibodi-C1q dengan berbagai aktivitas penyakit berdasarkan skor SELENA-SLEDAI pada penderita lupus eritematosus sistemik
  67. 67. KEGUNAAN ILMIAH • Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperjelas hubungan antibodi-C1q terhadap berbagai aktivitas penyakit pada penderita SLE. • Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi landasan bagi penelitian lanjutan dengan menggunakan antibodi-C1q pada penderita SLE
  68. 68. KEGUNAAN PRAKTIS • Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi klinisi untuk menggunakan penanda antibodi-C1q dalam menilai berbagai aktivitas penyakit penderita SLE
  69. 69. KAJIAN PUSTAKA
  70. 70. KERANGKA PEMIKIRAN GENETIK LINGKUNGAN DISREGULASI SISTIM IMUN AUTOANTIBODI DEPOSIT KOMPLEK IMUN AKTIVASI KOMPLEMEN KRONIS INFLAMASI JARINGAN AKTIVITAS PENYAKIT PERUBAHAN DOMAIN KOLAGEN C1Q REAKSI AUTOIMUN ANTIBODI-C1Q KOMPLEMEN C1Q INAKTIF KLIRENS KOMPLEK IMUN MENURUN SELENA SLEDAI HIPOTESIS : TERDAPAT KORELASI ANTARA KADAR ANTIBODI-C1Q DENGAN AKTIVITAS PENYAKIT SLE DENGAN SKORING SELENA SLEDAI
  71. 71. PREMIS • Premis 1 : SLE adalah penyakit inflamasi autoimun kronik sistemik yang terdiri dari tahap predisposisi autoimunitas, pembentukan autoantibodi, inflamasi, manifestasi klinis berupa keterlibatan organ yang berfluktuasi, kerusakan jaringan, komorbiditas hingga mortalitas.1,2,3,4
  72. 72. PREMIS • Premis 2 : Sistem komplemen bila berfungsi secara normal akan memfasilitasi klirens komplek imun dan mencegah akumulasi komplek imun pada sistem organ, sebaliknya apabila sistem komplemen mengalami defek komplek imun akan terakumulasi pada jaringan dan menyebabkan inflamasi.16,17
  73. 73. PREMIS • Premis 3 : Pemantauan aktivitas penyakit SLE dengan skor SELENA-SLEDAI terdiri dari parameter-parameter klinis dan laboratoris yang terukur.4,20,21
  74. 74. HIPOTESIS • Terdapat korelasi antara antibodi-C1q dengan berbagai aktivitas penyakit berdasarkan skor SELENA-SLEDAI pada penderita lupus eritematosus sistemik (Premis 1,2,3)
  75. 75. POPULASI • Penderita yang telah didiagnosis sebagai pasien SLE berdasarkan kriteria ACR yang berobat ke Poliklinik Reumatologi dan dirawat inap di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung.
  76. 76. KRITERIA INKLUSI • Pasien berusia 14 tahun atau lebih • Pasien yang memenuhi 4 atau lebih dari 11 kriteria klasifikasi diagnosis SLE menurut ACR 1982 yang direvisi tahun 1997. • Pasien rawat jalan di Poliklinik Reumatologi dan rawat inap di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung • Pasien bersedia ikut dalam penelitian dan menandatangani informed consent
  77. 77. KRITERIA EKSKLUSI • Pasien SLE dengan penyakit hati kronis seperti hepatitis B dan C
  78. 78. RANCANGAN PENELITIAN • Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif analitik dengan desain potong lintang
  79. 79. UKURAN SAMPEL • Rumus besar sampel yang digunakan untuk penelitian korelatif adalah 3 )1( )1( ln5,0 2                        r r ZZ n  Za = deviat baku alfa Zb = deviat baku beta r = korelasi minimal yang dianggap bermakna Berdasarkan rumus pada persamaan diatas pada penelitian ini diperlukan sebanyak 38 sampel penelitian di tambah 10% menjadi 41 sampel penelitian
  80. 80. DEFINISI VARIABEL • Variabel bebas (independen) pada penelitian ini adalah kadar antibodi-C1q yang dinilai dalam satuan ug/ml • Variabel tergantung (dependen) pada penelitian ini adalah aktivitas penyakit SLE berdasarkan skor SELENA-SLEDAI
  81. 81. BATASAN OPERASIONAL • Kriteria Klasifikasi diagnosis SLE menurut The American College of Rheumatology/ACR tahun 1982 dan direvisi tahun 1997 • Aktivitas penyakit SLE dinilai menggunakan skor SELENA-SLEDAI yang mewakili aktivitas penyakit SLE pada 9 sistem organ selama 10 hari terakhir.
  82. 82. BATASAN OPERASIONAL • Pemeriksaan kadar anti-C1q serum dilakukan dengan metode sandwich ELISA dengan batas pengukuran batas pengukuran 0-100 U/ml. Penyimpanan bahan pemeriksaan pada suhu 4oC dapat bertahan stabil sampai 5 hari, stabil selama 1 bulan pada suhu -20oC dan stabil selama 2 bulan pada suhu -80oC
  83. 83. BATASAN OPERASIONAL • Penyakit hati kronis ditegakkan melalui anamnesis adanya riwayat penyakit hati, pemeriksaan fisik, serta ditandai oleh HbsAg atau anti HCV reaktif
  84. 84. ALUR PENELITIAN
  85. 85. TEMPAT PENELITIAN • Pengambilan subjek : Instalasi Rawat Jalan dan rawat inap RS dr. Hasan Sadikin • Pemeriksaan laboratorium : Laboratorium Patologi Klinik RSHS
  86. 86. RANCANGAN ANALISIS DATA DAN PENGUJIAN HIPOTESIS • Data yang terkumpul akan dianalisis secara deskriptif-analitik. • Untuk melihat hubungan antara dua variabel dengan menghitung koefisien korelasi dengan uji Pearson atau Rank Spearman
  87. 87. JADWAL PENELITIAN
  88. 88. TABEL MODEL
  89. 89. TABEL MODEL
  90. 90. TABEL MODEL
  91. 91. PERKIRAAN BIAYA
  92. 92. RSUP dr. Hasan Sadikin Tempo Dulu Terimakasih atas atensinya
  93. 93. Gambaran klinis pasien LN berdasarkan klasifikasi menurut ISN/RPS 2003 Seshan et al, 2009. Arch Pathol Lab Med. 2009;133:233–248

×