Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Penyelidikan geolistrik resistivity pada penentuan titik sumur bor untuk pengairan

846 views

Published on

Jurnal

Published in: Engineering
  • Be the first to comment

Penyelidikan geolistrik resistivity pada penentuan titik sumur bor untuk pengairan

  1. 1. Jurnal Penelitian Enjiniring ISSN: 1411-6243 Vol. 12, No. 2, Tahun 2009 hal. 151-158 Penyelidikan Geolistrik Resistivity pada Penentuan Titik Sumur Bor untuk Pengairan di Daerah Garongkong Desa Lempang Kecamatan Tanete Riaja Barru Sultan Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Jl. Perintis Kemerdekaan Km.10 Tamalanrea, Makassar, 90245 Telp. /Fax: (041 l)580202 e-mail: sultanhamyahya@gmail. com Absrak: Air merupakan sumberdaya alam yang dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup, baik untuk memenuhi kebutuhan manusia secara langsung sebagai air baku untuk air minum, memasak membersihkan maupun yang secara tidak langsung, seperti untuk kebutuhan lahan pertanian (sawah atau kebun) untuk meningkatkan kesejahteraan. Penelitian ini dilakukan di Daerah Garongkong Desa Lempang Kecamatan Tanete Riaja Kabupaten Barru dengan metode Pengukuran Geolistrik Resistivity dalam menentukan titik pemboran eksplorasi air tanah untuk keperluan irigasi di daerah tersebut dengan tahapan kegiatan meliputi pengamatan geologi, pengukuran geolistrik, pengolahan data serta analisis dan interpretasi data. Hasil pengolahan dan interpretasi geologi dan geofisika disimpulkan bahwa lapisan batuan di daerah ini terdiri dari lima lapisan yaitu Lapisan 1 (0, 0-5,5 m) berupa tanah penutup yang berupa campuran dari berbagai material siltstone, sandstone dan Clay, Lapisan II (5, 5-24, 9 m) berupa batupasir bersisipan batulanau dan batupasir kasar yang belum kompak Lapisan [11 (24, 9-48, 0 m) berupa batupasir sedang-kasar, (bisa menyimpang air tanah, potensi air tanah walau masih sebagai akuifer dangkal), Lapisan IV (48,0-75,0 m) berupa batupasir kasar sebagai akuifer dalam di daerah ini (bisa menyimpang air tanah, potensi air tanah dalam) dan Lapisan V berupa lapisan batuan keras di daerah ini yang terindikasi sebagai batuan non klastik. Lokasi pemboran eksplorasi air tanah untuk keperluan irigasi sebaiknya dilakukan pada Titik GL.01 Koordinat 04" 29 '33,5 "LS l I 9" 39 '32, l "BT, kedalaman 75 meter. Kata kunci: air tanah, irigasi, garongkong, resistivity, akuifer. l. PENDAHULUAN Air merupakan sumberdaya alam yang mutlak dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup. Sehingga keberadaanya baik secara kualitas maupun secara kuantitas perlu dikelolah dengan baik dan berwawasan lingkungan. Hal ini dilakukan agar sumberdaya air ini dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia baik secara langsung sebagai air baku untuk air minum, memasak membersihkan maupun yang secara tidak langsung, seperti untuk kebutuhan lahan pertanian (sawah atau kebun) demi mencapai kesejahteraan hidup yang lebih baik. Kandungan air di bumi sangat melimpah, jumlah seluruhnya mencapai sekitar l.400.000.000 km3, terdiri dari sekitar 97% air laut (air asin) yang dapat dimanfaatkan secara langsung dan tidak langsung dalam kehidupan manusia. Hanya 3% sisanya yang berupa air tawar, yang meliputi 2% berupa gunung-gunung es di kedua kutub bumi. Selebihnya hanya sekitar 0,75% merupakan air tawar yang mendukung kehidupan mahluk hidup di darat, di danau, sungai dan di dalam tanah. Air tawar berasal dari siklus air (daur hidrologi) secara alami dan prosesnya panjang sehingga untuk mendapatkan air tawar yang sangat diperlukan manusia tersebut tidaklah mudah. Pemakaian air semakin meningkat seiring dengan laju penambahan penduduk. Oleh karena itu, maka perlu mengadakan penafsiran, perencanaan dan pengembangan yang tepat, hemat dalam pemakaian air dan melindungi sumber yang ada demi kelestarian sumberdaya alam tersebut. Keadaan ini mendorong pencarian dan pemanfaatan air tanah semakin intensif. Namun karena keterdapatan dan potensinya di dalam tanah tidak merata di semua tempat, maka diperlukan penyelidikan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam pengetahuan geologi dan hidrogeologi guna memperoleh data yang tepat dan akurat. Metode Geolistrik Tahanan Jenis (Resistivity) adalah salah satu metode geofisika yang bisa digunakan memetakan resistivitas bawah permukaan. Hal ini dimungkinkan karena lapisan tanah dan batuan yang terisi air sangat mudah mengalirkan arus listrik atau bersifat konduktif. Lapisan tanah konduktif seperti ini biasanya memiliki harga resistivitas tertentu (nilai rcsistivitinya rendah). Dengan menampilkan penampang resistivitas bawah pennukaan hasil pengukuran geolistrik metode resistiviti maka dapat diprediksikan lapisan-lapisan tanah atau batuan yang tersaturasi air, sehingga dapat memprediksi lokasi dan kedalaman tempat lapisan tanah yang mengandung air tawar yang baik untuk pengairan di daerah tersebut. 151
  2. 2. Sultan Jurnal Penelitian Enjiniring Penyelidikan Geolistrik Resistivity. .. Vol. 12, No. 2, Tahun 2009 Dengan metode inilah kondisi air tanah di daerah Garongkong untuk keperluan penentuan titik sumur bor yang diperuntukan membantu irigasi persawahan di daerah ini diinterpretasikan untuk mendapatkan lokasi yang tepat dan mempunyai potensi yang baik di sekitar daerah ini, sehingga secara kualitas dan kuantitas dapat memenuhi kebutuhan lahan persawahan yang ada di daerah ini. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Metode Pendugaan Geolistrik Metode geolistrik tahanan jenis (resistivity) merupakan salah satu metode geofisika yang biasa digunakan untuk memetakan resistivitas bawah pennukaan bumi. Metode ini cukup baik dikaitkan dengan keberadaan saturasi air di bawah permukaan. Hal ini dimungkinkan karena lapisan tanah dan batuan yang berisi air sangat mudah mengalirkan arus listrik atau bersifat konduktif. Lapisan tanah (konduktif) seperti ini biasanya memiliki harga resistivitas tertentu (berharga rendah). Dengan mengetahui nilai resistivitas lapisan bumi bawah permukaan, maka dapat diprediksikan lapisan-lapisan tanah atau batuan yang tersaturasi air (lapisan akuifer) yang potensial. Hal ini cukup bermanfaat untuk memprediksi lokasi dan kedalaman tempat perencanaan pemboran eksplorasi airtanah. Pada penyelidikan ini dilakukan resistivity sounding dengan menggunakan konfigurasi Schlumberger. Untuk aturan elektroda Schlumberger, spasi elektroda arus jauh lebih besar daripada spasi elektroda potensial. Secara garis besar aturan elektroda dan peralatan yang digunakan dapat dilihat pada gambar l di bawah. F9 Titik sounding Gambar l. a). Aturan elektroda dengan metode schlumberger. b). Peralatan geolistrik. 2.2. Dasar Interpretasi Secara teoritis setiap batuan memiliki daya hantar listrik dan harga tahanan jenisnya masing-masing. Batuan yang sama belum tentu mempunyai nilai tahanan jenis yang sama. Sebaliknya harga tanahan jenis yang sama bisa dimiliki oleh batuan yang berbeda jenis. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap nilai tahanan jenis antara lain 2 komposisi minaral pada batuan, kondisi batuan, komposisi benda cair pada batuan, dan faktor ekstemal lainnya. Beberapa aspek yang berpengaruh pada terhadap tahanan jenis terhadap suatu batuan, bisa digambarkan sebagai berikut: a. Batuan sedimen yang bersifat lepas (urai) mempunyai nilai tahanan jenis lebih rendah bila dibandingkan dengan batua sedimen padat dan kompak. b. Batuan beku dan metamorf (ubahan) mempunyai nilai tanahanjenis yang tergolong tinggi. c. Batuan yang basah dan mengandung air, nilai tahanan jenisnya rendah, dan semakin lebih rendah lagi bila air yang dikandungnya bersifat payau atau asin. Dalam pengambilan data lapangan perlu diperhitungkan faktor luar yang sering berpengaruh seperti: kabel, tiang listrik, dan saluran pipa logam dapat mempengaruhi akurasi data lapangan. Dalam interpretasi sangat diperlukan perolehan gambaran tentang besarnya tanahan jenis untuk berbagai macam air dan batuan, maupun kombinasi antaranya secara umum seperti yang telah dibuat pendekatan nilai tahanan jenis oleh Astier, 1971 (Tabel l). 152
  3. 3. Jurnal Penelitian Enjiniring ISSN: 1411-6243 Vol. 12, No. 2, Tahun 2009 hal. 151-158 Tabel l. Besar tahanan jenis dari berbagai macam air dan batuan secara umum sebagai patokan kualitatif gAstier, 1971). . Tahanan Arr atau Batuan p ohm Air laut (Eau de mer' ) 0,2 Air dalam akuifer aluvial (Eau de nappes alluviales) 10 - 30 Air sumber( Eau de source: ) 50 - 100 Pasir dan kerikil kering (Sables et graviers sees) 1000 - l0000 Pasir dan kerikil terendam air tawar (Sables e! graviers imbibes d'eau douce) 50 - 500 Pasir dan kerikil terendam air laut (Sables et graviers imbibe: d'eau salee) 0,5 - 5 Lempung (Argiles) 2 - 20 Mari (Marnes ) 20 - [O0 Batugamping (Calcaires) 300 - l0000 Batupasir berlempung (Gres argileux) 50 - 300 Batupasir berkwarsa gGres guartzites 1 300 - 10000 3. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan beberapa pendekatan kegiatan, yaitu Pengamatan Geologi, Pengukuran Geolistrik, Pengolahan Data serta Analisis dan Interpretasi Data. 3.1. Pengamatan Geologi Daerah Penelitian Kondisi geologi regional dan geologi setempat (lokal) daerah penelitian sangat menentukan dalam hal melihat potensi air tanah di daerah tersebut. Dengan demikian maka diperlukan kajian dan telaah kondisi geologi regional serta pengamatan langsung kondisi geologi setempat untuk mendukung data-data geofisika khususnya geolistrik resistivity yang dilakukan di daerah ini. 3.2. Pengukuran Geolistrik Pengukuran Geolistrik resistivity yang dilaksanakan di daerah ini menggunakan metode pengambilan data secara Schlumberger dengan ketentuan sebagai berikut: a. Pengukuran data lapangan di lokasi dibuat sebanyak 2 titik sounding dengan panjang bentangan berturut-turut 600 meter (2 x 300 meter). b. Konfigurasi elektroda yang dipergunakan dalam pengukuran tiap titik sounding adalah konfigurasi Schlumberger. 3.3. Pengolahan Data Pengolahan Data dilakukan di Laboratorium Geofisika Jurusan Teknik Geologi Universitas Hasanuddin dengan melakukan pengolahan dan analisa dari keseluruhan data yang didapatkan di lapangan yang berasal dari daerah Garongkong, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru. Prosedur pengolahan data geolistrik resistivity yang akan dilaksanakan di dalam penelitian ini meliputi: a. Data yang diperoleh dari pengukuran berupa harga besar arus (l) dan beda potensial (V) titik pengamatan. b. Harga resistivitas semu dihitung dari faktor konfigurasi pengukuran dan perbandingan harga beda potensial (V) dan kuat arus (l) pengukuran. c. Harga resistivitas semu yang telah didapatkan dari perhitungan lapangan dipetakan terhadap kedalaman semu, kemudian program RESZDINV melakukan konturing sehingga diperoleh penampang harga resistivitas semu terhadap semua kedalaman semu untuk setiap lintasan pengukuran di titik geolistrik tersebut. d. Penampang resisitivitas semu di atas digunakan untuk menginterpolasi data resisitivitas semu ideal dengan asumsi bahwa perlapisan bawah pennukaan antar titik pengukuran saling berhubungan. e. Hasil interpolasi dijadikan input untuk melakukan pemodelan lapisan resistivitas tanah bawah permukaan dengan bantuan komputer. 153
  4. 4. Sultan Jurnal Penelitian Enjiniring Penyelidikan Geolistrik Resistivity. .. Vol. 12, No. 2, Tahun 2009 3.4. Analisis dan Interpretasi Data Setelah ada hasil pengolahan data dengan menggunakan soñware kemudian data-data dikumpulkan baik berupa hasil kegiatan lapangan maupun data sekunder dianalisis dan dinterpretasi untuk mendapatkan lokasi titik pemboran yang potensial di Daerah Garongkong untuk keperluan irigasi persawahan. Langkah- langkah yang dilakukan dalam tahapan ini berupa: a. Pemodelan resistivitas bawah pennukaan dilakukan dengan menggunakan inversi metode sehingga untuk setiap lintasan akan diperoleh penampang model perlapisan resistivitas listrik bawah permukaan. b. Penampang resistivity ini kemudian dikorelasikan dan dinasabahkan dengan data-data geologi regional dan lokal daerah Garongkong. c. Hasil penasabahan ini kemudian dianalisis dan dinterpretasi untuk memprediksi kondisi saturasi pada masing-masing lapisan, sehingga diperoleh gambaran kondisi air tanah bawah pennukaan di sepanjang lintasan pengukuran. d. Setelah itu ditentukan lokasi rekomensasi tempat pemboran eksplorasi air tanah yang potensial di daerah ini dengan kedalaman maksimum pemboran. 4. HASIL DAN BAHASAN Survei dan pengukuran Geolistrik di Garongkong pada penentuan satu titik eksplorasi pemboran air tanah untuk keperluan irigasi di daerah ini dan dilakukan pengukuran geolistrik sebanyak dua titik duga sebagai berikut: Titik Duga pertama GL Ol berada di lokasi sawah Bapak Abdul Samad di belakang rumah Bapak Hasyim yang berada di Dusun Garongkong Desa Lempang Kecamatan Tanete Riaja Kabupaten Barru, tepatnya pada titik Koordinat 04°29`33,5"LS, ll9°39'32,l"BT dengan bentangan kabel ke arah N l40° E (Tenggara Baratlaut) sepanjang 600 meter (2 x 300 m). Hasil pengolahan data dengan menggunakan software serta hasil penasabahan dan interpretasi geologi menghasilkan gambaran kondisi lapisan secara vertikal dan horisontal seperti yang tergambar pada penampang di bawah ini (Gambar 2.). Depth Digimon 5 RMS trm= 28 SS Zi) IZB 249 395 030 573 675 785 S! ! IOS Imma Model Reslslmly Seram HEEQKJEEEZEJCJCJWEEB IID U5 191 251 335 445 538 77 Runway m nhm m Urut nlmmda spam; u: In n m Gambar 2. Kcnampakan secara vertikal kondisi lapisan tanah dan batuan di lokasi GL-Ol daerah Dusun Garongkong Desa Lempang Tanete Riaja Barru. o 0.0 Lintasan ini panjang lintasan 600 meter, kedalaman interpretasi sekitar IOS meter dengan interval nilai resistivitas berkisar (l l,0-> 77,8 Qm). Berdasarkan nilai resistivitas, daerah ini tennasuk kedalam material hasil rombakan yang tidak terkonsolidasi dengan baik sampai dengan material batuan yang sudah terkompaksi dengan baik yang berupa endapan alluvial (sedimen lepas), batuan sedimen klastik serta batuan sedimen non klastik. ° Sebaran nilai resistivas dari gambar penampang di atas (gambar 2) dapat dikelompokkan dalam 5 kelompok lapisan sebagai berikut : o Lapisan pertama dengan nilai resistivitas (25,4-44,5 Qm) merupakan lapisan tanah penutup yang merupakan percampuran dari berbagai material siltstone, sandstone dan Clay pada kedalaman berkisar oge o 154
  5. 5. Jurnal Penelitian Enjiniring VoI. 12, No. 2, Tahun 2009 ISSN. " 1411-6243 hal. 151-158 0,0-5,5 meter. Di lapisan ini baru bisa dilalui oleh air pennukaan sehingga sangat dipengaruhi oleh kondisi musim di daerah ini, jadi lapisan ini belum bisa menyimpang airtanah. Lapisan kedua dengan nilai resistivitas antara (l l,0-19,2 Qm) merupakan lapisan batupasir bersisipan dengan batulanau dan batupasir kasar yang belum begitu kompak, pada kedalaman berkisar 5,5-24,9 meter. Di lapisan ini sudah bisa dilalui dan menyimpang air permukaan, sehingga pada lapisan ini sudah ada potensi air permukaan namun masih dipengaruhi oleh kondisi musim. Lapisan ketiga dengan nilai resistivitas (l9,2-58,8 Qm) merupakan lapisan batupasir sedang-kasar yang diharapkan sebagai lapisan akuifer dangkal yang potensial di daerah ini, berada pada kedalaman berkisar 24348,0 meter. Di lapisan ini sudah bisa menyimpang airtanah, sehingga sudah mempunyai potensi air tanah walaupun sifamya masih sebagai akuifer dangkal. Lapisan keempat dengan nilai resistivitas antara (58,8-77,8 Qm) merupakan lapisan batupasir kasar yang diharapkan sebagai lapisan akuifer dalam yang potensial di daerah ini, berada pada kedalaman berkisar 48,0-75,0 meter. Lapisan ini bisa menyimpang air tanah, sehingga mempunyai potensi air tanah dalam yang potensial di daerah ini. Lapisan kelima dengan nilai resistivitas lebih besar dari 77,8 Qm yang merupakan batuan keras yang terindikasi sebagai batuan non klastik. Bila akan dilakukan pemboran air tanah di daerah ini maka kedalaman maksimum yang baik hanya sampai sekitar 75 meter dengan lokasi pemboran tepat pada titik pengukuran Geolistrik GL.01 di daerah ini. Titik Duga GL 02 berada sekitar 200 meter sebelah barat sawah Abdul Samad di belakang rumah Pak Hasyim di Dusun Garongkong Desa Lempang Kecamatan Tanete Riaja, tepatnya di titik Koordinat 04°29'33,l"LS l l9°39`29,3"BT dengan bentangan kabel ke arah N l40° E (Tenggara-Baratlaut) sepanjang 600 meter (2 x 300 m). Hasil pengolahan data dengan menggunakan soñware serta hasil interpretasi geologi menghasilkan gambaran kondisi lapisan secara vertikal dan horisontal seperti yang tergambar pada penampang di bawah ini (Gambar 3). Dtplll Dlltlmrnns RMS mv=36% 15'! 123 249 $5 BD 573 E75 782 Bl? unn . uma ; pung . s IOD m Gambar 3. Kcnampakan secara vertikal kondisi lapisan tanah dan batuan di lokasi GL-02 daerah Dusun Garongkong Desa Lempang Tanete Riaja Barru. Lintasan ini panjang lintasan 600 meter, kedalaman interpretasi sekitar |05 meter dengan interval nilai resistivitas berkisar (4,93-> 134 Qm). Berdasarkan nilai resistivitas, daerah ini termasuk kedalam material hasil rombakan yang tidak terkonsolidasi dengan baik sampai dengan material batuan yang sudah terkompaksi dengan baik yang berupa endapan alluvial (sedimen lepas), batuan sedimen klastik serta batuan sedimen non klastik. Sebaran nilai resistivas dari gambar penampang di atas (gambar 3) dapat dikelompokkan dalam 6 kelompok lapisan sebagai berikut : O Lapisan pertama dengan nilai resistivitas (l2,7-20,3 Qm) merupakan lapisan tanah penutup yang merupakan percampuran dari berbagai material siltstone, sandstone dan Clay pada kedalaman berkisar 0,0 - 5,5 meter. Di lapisan ini baru bisa dilalui oleh air permukaan sehingga sangat dipengaruhi oleh kondisi musim di daerah ini, jadi lapisan ini belum bisa menyimpang air tanah. Lapisan kedua dengan nilai resistivitas antara (4,93-l2,7 Qm) merupakan lapisan batupasir bersisipan dengan batulanau yang belum begitu kompak, pada kedalaman berkisar 5,5-24,9 meter. Di lapisan ini 155
  6. 6. Sultan Penyelidikan Geolistrik Resistivity. .. Jurnal Penelitian Enjiniring Vol. 12, No. 2, Tahun 2009 sudah bisa dilalui dan menyimpang air pennukaan, sehingga pada lapisan ini sudah ada potensi air permukaan namun masih dipengaruhi oleh kondisi musim. Lapisan ketiga dengan nilai resistivitas (l2,7-83,5 Qm) merupakan lapisan batupasir sedang - kasar yang diharapkan sebagai lapisan akuifer dangkal yang potensial di daerah ini, berada pada kedalaman berkisar 24,9-57,3 meter. Di lapisan ini sudah bisa menyimpang airtanah, sehingga sudah mempunyai potensi air tanah walaupun sifatnya masih sebagai akuifer dangkal. Lapisan keempat dengan nilai resistivitas (83,5-l34 Qm) dan Bagian bawah lapisan yang mempunyai nilai resistiviti antara (l2,7-83,S Qm) merupakan lapisan batupasir kasar yang diharapkan sebagai lapisan akuifer dalam yang potensial di daerah ini, berada pada kedalaman berkisar 57,3-9l,2 meter. Lapisan ini bisa menyimpang airtanah, sehingga mempunyai potensi air tanah dalam yang potensial di daerah ini, hanya saja pada bagian tengah daerah ini kemungkinan ada lapisan batuan yang sangat keras sehingga harus dihindari. Lapisan kelima dengan nilai resistivitas lebih besar dari 134 Qm, merupakan lapisan batuan keras di daerah ini yang terindikasi sebagai batuan non klastik. Lapisan keenam dengan nilai resistivitas antara (4,93-20,3 Qm) merupakan lapisan batuan keras yang terindikasi rekahannya terintrusi oleh air asin, sehingga kemungkinan besar pada kedalaman sekitar 95 meter ke bawah pada lokasi ini mengandung air payau sampai asin. Bila akan dilakukan pemboran air tanah di daerah ini maka kedalaman maksimum yang baik hanya sampai sekitar 60 meter dengan lokasi pemboran harus bergesar dari lokasi titik pengukuran Geolistrik GL.02 di daerah ini ke arah Timur. Dari hasil interpretasi pengolahan data geolistrik dan kondisi geologi di daerah Garongkong ini maka dikompilasikan kedua data titik geolistrik di daerah tersebut dan didapatkan data seperti pada gambar 4. di bawah. LIIIMIM 'N15 NIKE _ Enam-i &(1 "mataram LBKMI nuwun cuman All Hum ' (Kedu-nm u mur ) l. Una am: : Spam; = 100 n Forucnla seal: *s 1845 misua' inn smm Van : d exaggeraIiu-i r 'rudal Sewon display = l ll _ First aleria! ! is han: :t OO r List elaclmcu is lurah! :E67 U m Mml 'is siur. ; mh hmmm ' Ierelmf RMS emr= li , . (I f l' _ Qesistrrtyinthmm i! I H CH I l: UE Cl . 'l' , . nnaanzizujacnln ~. - ' E 'm “E” m 'Is t! :a : r Ai li l! "`°`""` _vsuugnpijy _ 4.58 1|.8 317 193 irinnnlbnumucq mumpuni-amankan tawanan: : hiuamnuatn Gambar 4. Kompilasi data pengukuran geolistrik pada titik GL-Ol dan GL-02 serta Rekomendasi Pemboran Eksplorasi Air Tanah Kedalaman 75 meter di daerah Garongkong Kecamatan Tanete Riaja Kabupaten Barru. Dengan membandingkan kondisi kedua lokasi pendugaan geolistrik di lokasi ini serta hasil analisa dan interpretasi, maka sebaiknya lokasi pemboran dilaksanakan pada titik GL-Ol dengan kedalaman lubang bor sekitar 75 meter seperti hasil perencanaan yang digambarkan pada penampang pada Gambar 4 di atas. 5. SINIPULAN Berdasarkan dari hasil pengolahan dan interpretasi geologi dan geofisika maka disimpulkan bahwa secara umum lapisan batuan di daerah ini terdiri dari lima lapisan batuan yaitu Lapisan pertama berupa lapisan tanah penutup yang merupakan campuran dari berbagai material siltstone, sandstone dan Clay, kedalaman 156
  7. 7. Jurnal Penelitian Enjiniring ISSN: 1411-6243 Vol. 12, No. 2, Tahun 2009 hal. 151-158 berkisar 0,0-5,5 meter. Lapisan kedua berupa lapisan batupasir bersisipan dengan batulanau dan batupasir kasar yang belum kompak, kedalaman berkisar 5,5-24,9 meter (bisa dilalui dan menyimpang air permukaan, ada potensi air pennukaan/ sumur gali), Lapisan ketiga berupakan lapisan batupasir sedang sampai kasar, kedalaman berkisar 24,9-48,0 meter (bisa menyimpang air tanah, mempunyai potensi air tanah walau sifatnya masih sebagai akuifer dangkal), Lapisan keempat berupa lapisan batupasir kasar sebagai akuifer dalam di daerah ini, kedalaman berkisar 48,0-75,0 meter (bisa menyimpang air tanah, punya potensi air tanah dalam) dan Lapisan kelima berupa lapisan batuan keras di daerah ini yang terindikasi sebagai batuan non klastik. Hasil kompilasi kondisi kedua lokasi pendugaan geolistrik di daerah ini serta hasil analisa dan interpretasi geologi, menunjukkan kondisi lapisan batuan di lokasi titik GL-Ol lebih baik sebagai lokasi pemboran eksplorasi air tanah dibandingkan dengan lokasi di titik GL-02 yang kemungkinan pada bagian bawahnya (kedalaman di bawah 95 meter) memungkinkan terjebak lapisan air payau sampai asin. Sehingga pelaksanaan pemboran air tanah di daerah Garongkong ini sebaiknya dilakukan pada lokasi Titik GL.0l dengan kedalaman 75 meter. DAFTAR PUSTAKA Berkman, D. ,A. , 1989, Field Geologists' Manual (3'd Ed. ), Monograph No. 9, The Australasian Institute of Mining and Metallurgy, Victoria. Billings, M. , P. , 1990, Structural Geology, (3"' Ed. ), Prentice-Hall of India, Private Limited, New Delhi. Hendrajaya, L. , & Arif I. , 1990, Metode Geoloistrik Tahanan Jenis, Institut Teknologi Bandung, Bandung, Indonesia. Kalmiawan, P. , Sismanto, A. , & Suparwoto, 2000, Survey of Resistivity Method to lnvestigate the Krakal Hot Spring in Desa Krakal, Kec. Alian, Kab. Kabumen, Jawa Tengah. Bandung: Prosiding PIT HAGI ke-25. Loke, M. , H. , 1999, Electrical Imaging Surveys for Environmental & Engineering Studies: A practical quide to 2-D and 3-D surveys, Malaysia. Penang. Loke, M. , H. , l999b. , RESZDIN V Rapid 2D Resistivity & IP Inversion (Wenner, dipoleg, poleg, pole-dipole, Schlumberger) on Land, Underwater &Cross-borehole Surveys; Soñware Manual Ver.3.3 for windows 3.l, 95. Malaysia. Penang. Rab Sukamto. , 1982, Geologi Lembar Pangkajene dan Watangpone Bagian Barat, Sulawesi, P3G, Dir. .lPert. Umum, Dep. Pert. & Energi, Bandung. Telford, W. M., et at. , 1976, Applied Geophysics, Cambridge University Press, London, Inggris. Todd, D. , K. , 1980, Groundwater Hydrology, Second Edition, John Willey, New York, USA. Van Nostrand, Robert, G. , & Kenneth, L. , Cook. , 1966, Interpretation of Resistivity Data. Washington: Geological. 157

×