P E D O M A N     TEKNIK ANALISIS ASPEK FISIK   & LINGKUNGAN, EKONOMI SERTA SOSIAL BUDAYA DALAM PENYUSUNAN        RENCANA ...
PEDOMAN PENATAAN RUANGKAWASAN REKLAMASI PANTAIPERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO.40/PRT/M/2007               DEPARTEMEN P...
PEDOMAN     TEKNIK ANALISIS ASPEK FISIK   & LINGKUNGAN, EKONOMI, SERTA SOSIAL BUDAYA DALAM PENYUSUNAN        RENCANA TATA ...
MENTERI PEKERJAAN UMUM                      MENTERI PEKERJAAN UMUM                        MENTERI                         ...
Mengingat      : 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan                    Ruang;                 2. Peratu...
karakteristik sumber daya alam dengan menelaah kemampuan dan   kesesuaian lahan agar pemanfaatan lahan dapat dilakukan sec...
Pasal 4Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak...
Lampiran   : Peraturan Menteri Pekerjaan UmumNomor      : 20 /PRT/M/2007Tanggal    : 12 Juli 2007Tentang    : PEDOMAN TEKN...
vi
Kata pengantarMenurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,pemerintah dan pemerintah daerah berkepenti...
viii
Daftar isiKata Pengantar     .........................................................................................    ...
2.2.4.2 Air tanah ...............................................................   21          2.2.5 Sumber daya mineral/...
3.3      Analisis perekonomian ...............................................................         116         3.3.1 S...
xii
Daftar tabelTabel   2.1    Curah hujan wilayah dan/atau kawasan ............................                       7Tabel ...
Tabel   3.12   Luas setiap jenis penggunaan lahan perkotaan di               wilayah dan/atau kawasan (pada tahun t) ........
Tabel   4.4    Proyeksi penduduk menurut kelompok umur               Tahun 1993 - 1996 ......................................
Tabel   4.18   Banyaknya jenis tenaga kesehatan ...................................               167Tabel   4.19   Persen...
Daftar gambarGambar   2.1    Bagan alir tata cara analisis aspek fisik dan lingkungan ..                          4Gambar ...
Bab I                               Pendahuluan1.1     Latar belakangMenurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Pen...
1.4     ManfaatPedoman ini bermanfaat bagi pemerintah dan pemerintah daerah serta parapemangku kepentingan yang terkait da...
Bab II                   Analisis aspek fisik dan lingkungan2.1     UmumLahan pengembangan wilayah merupakan sumber daya a...
4              Gambar 2.1       Bagan Alir tata cara analisis aspek fisik dan lingkungan                      SATUAN KEMAM...
Pengumpulan data, dengan cakupan data yang dikehendaki adalah seperti terlihatpada bagan alir tersebut. Sedangkan tahap an...
2.2.1     KlimatologiData klimatologi adalah data iklim berdasarkan hasil pengamatan pada stasiunpengamat di wilayah yang ...
2.2.1.1         Curah hujan           Tabel 2.1        Curah hujan wilayah dan/atau kawasan............ *)                ...
2.2.1.3           Intensitas hujan    Tabel 2.3        Curah hujan wilayah dan/atau kawasan....................*)(mm)     ...
Contoh Peta Topografi dalam analisis aspek fisik dan lingkungan adalah sepertipada Gambar 2.2.Dari peta topografi ini dapa...
10     Gambar 2.2   Contoh peta topografi
Gambar 2.3               morfologi                  Contoh peta morfologi11
Secara lebih rinci satuan morfologi perbukitan dapat dibagi lagi atas tigasubsatuan, yakni: subsatuan morfologi perbukitan...
Gambar 2.4   Contoh peta kemiringan lereng13
2.2.3       GeologiUntuk mengetahui kondisi geologi regional wilayah dan/atau kawasanperencanaan dan daerah sekitarnya, ma...
Tabel 2.4      Susunan stratigrafi wilayah..........*)            Umur                  Formasi/              Simbol      ...
16     Gambar 2.5   Contoh peta geologi umum
perencanaan ini lebih bersifat geologi tinjau yang berpegang pada geologi umum,perencanaan ini lebih bersifat geologi tinj...
18     Gambar 2.6   Contoh peta geologi permukaan
Tabel 2.6       Susunan tanah...............*)        Kedalaman                                 Jenis               Deskri...
2.2.4.1    Air permukaanAir permukaan adalah air yang muncul atau mengalir di permukaan seperti:mata air, danau, sungai, d...
Tabel 2.7     Debit sungai-sungai di .......*)                                       Debit           Debit         Debit  ...
22     Gambar 2.7   Contoh peta pola aliran sungai
Khusus untuk air tanah bebas, data kedalaman sumur penduduk pada beberapalokasi telah dipetakan berupa Peta Hidrologi yang...
24     Gambar 2.8   Contoh peta potensi air tanah
Gambar 2.9   Contoh peta isofreatis tanah                                         tanah25
2.2.5       Sumber daya mineral/bahan galianSumber daya mineral/bahan galian dalam penyusunan rencana tata ruang punperlu ...
Tabel 2.8      Sumber daya mineral/bahan galian di ....................*)                                         Sumber/ ...
28     Gambar 2.10                      daya mineral                   Contoh peta sumber daya mineral
Kemungkinan bencana alam yang akan timbul di suatu daerah, dalam hal inibencana alam beraspek geologi, seperti: banjir, lo...
30     Gambar 2.11                     bencana                   Contoh peta rawan bencana
Selain untuk mengetahui rasio tutupan lahan, data penggunaan lahan jugadiperlukan untuk mengetahui pengelompokan peruntuka...
2.2.8   Studi fisik/lingkungan yang ada atau pernah dilakukanStudi-studi fisik yang pernah dilakukan menyangkut fisik atau...
Gambar 2.12   Contoh peta penggunaan lahan33
2.2.9   Kebijakan pengembangan fisik yang adaKebijakan pengembangan fisik yang ada di wilayah dan/atau kawasan perludiketa...
2.3     Analisis kemampuan lahan2.3.1   Satuan kemampuan lahan (SKL) morfologi                                            ...
Lingkup pekerjaanMelakukan pemilahan bentuk bentang alam/morfologi pada wilayah dan/ataukawasan perencanaan yang mampu unt...
Gambar 2.13   Contoh peta SKL morfologi                                   morfologi37
5)      Deskripsikan potensi dan kendala morfologi masing-masing tingkatan SKL        Morfologi tersebut.Hal-hal yang perl...
3)   Mengetahui metode pengerjaan yang sesuai untuk masing-masing     tingkatan kemampuan lahan.Masukan1)   Peta Topografi...
40     Gambar 2.14                   kemudahan dikerjakan                   Contoh peta SKL kemudahan dikerjakan
2.3.3        Satuan kemampuan lahan (SKL) kestabilan lerengLingkup pekerjaanMelakukan analisis untuk pengetahui tingkat ke...
7)   Besar Curah Hujan,8)   Penggunaan lahan yang ada saat ini,9)   Data Bencana Alam (bahaya gerakan tanah, kegempaan, gu...
Gambar 2.15   Contoh peta SKL kestabilan lereng                                   kestabilan lereng43
2.3.4    Satuan kemampuan lahan (SKL) kestabilan pondasiLingkup pekerjaanMelakukan analisis untuk mengetahui tingkat kemam...
Keluaran1)   Peta SKL Kestabilan Pondasi,2)   Deskripsi masing-masing tingkatan kestabilan pondasi, yang memuat juga     p...
46     Gambar 2.16   Contoh peta SKL kestabilan pondasi
2.3.5     Satuan kemampuan lahan (SKL) ketersediaan airLingkup pekerjaanMelakukan analisis untuk mengetahui tingkat keters...
Keluaran1)   Peta SKL Ketersediaan Air.2)   Deskripsi masing-masing tingkatan kemampuan ketersediaan air.3)   Perkiraan ka...
Gambar 2.17   Contoh peta SKL kemampuan lahan tata air                                                   tata air49
3)      Untuk air tanah yang mutunya kurang atau tidak memenuhi persyaratan,        digolongkan dalam kemampuan yang renda...
2)   Memperoleh gambaran karakteristik drainase alamiah masing-masing     tingkatan kemampuan drainase.3)   Mengetahui dae...
52     Gambar 2.18   Contoh peta SKL drainase
Hal-hal yang perlu diperhatikan1)      Pengaruh kondisi hidrologi penting sekali diperhitungkan, terutama        mengenai ...
Masukan1)   Peta Permukaan,2)   Peta Geologi,3)   Peta Morfologi,4)   Peta Kemiringan Lereng,5)   Data Hidrologi dan Klima...
Gambar 2.19   Contoh peta SKL terhadap erosi55
Terhadap Erosi ini adalah kebalikan dari SKL Untuk Drainase, dan tidak        berarti pula pada waktu di-superimpose-kan a...
Masukan1)   Peta Morfologi, Kemiringan Lereng dan Topografi,2)   Peta Geologi dan Geologi Permukaan,3)   Data Hidrologi da...
58     Gambar 2.20                              limbah                   Contoh peta SKL pembuangan limbah
2.3.9    Satuan kemampuan lahan (SKL) terhadap bencana alamLingkup pekerjaanMelakukan analisis untuk mengetahui tingkat ke...
4)   Data Hidrologi dan Klimatologi,5)   Penggunaan Lahan yang ada saat ini.Keluaran1)   Peta SKL terhadap bencana alam. C...
Gambar 2.21   Contoh peta bencana alam61
2.3.10    Analisis kemampuan lahanMelakukan analisis untuk memperoleh gambaran tingkat kemampuan lahan untukdikembangkan s...
Keluaran1)   Peta klasifikasi kemampuan lahan untuk pengembangan kawasan.2)   Kelas-kelas atau tingkatan kemampuan lahan u...
64     Gambar 2.22   Contoh peta nilai kemampuan lahan
Gambar 2.23   Contoh peta klasifikasi kemampuan lahan                                           kemampuan lahan65
Tabel 2.10       Pembobotan satuan kemampuan lahan      No.                    Satuan Kemampuan Lahan            Bobot    ...
Hal-hal yang perlu diperhatikan1)   Penentuan klasifikasi kemampuan lahan tidak mutlak berdasarkan selang     nilai, tetap...
2.4     Analisis kesesuaian lahan2.4.1      Arahan tata ruang pertanianMenggunakan data:ATLAS Arahan Tata Ruang Pertanian ...
Gambar 2.24   Contoh peta arahan kesesuaian lahan pertanian69
2.4.2     Arahan rasio tutupanLingkup pekerjaanMelakukan analisis untuk mengetahui gambaran perbandingan daerah yang bisat...
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang

4,121 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,121
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
17
Actions
Shares
0
Downloads
486
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pedoman teknis analisis aspek fisik dan lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang

  1. 1. P E D O M A N TEKNIK ANALISIS ASPEK FISIK & LINGKUNGAN, EKONOMI SERTA SOSIAL BUDAYA DALAM PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANGPERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO.20/PRT/M/2007 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG
  2. 2. PEDOMAN PENATAAN RUANGKAWASAN REKLAMASI PANTAIPERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO.40/PRT/M/2007 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG JL.PATIMURA NO.20 KEB.BARU, JAKARTA SELATAN
  3. 3. PEDOMAN TEKNIK ANALISIS ASPEK FISIK & LINGKUNGAN, EKONOMI, SERTA SOSIAL BUDAYA DALAM PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANGPERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO.20/PRT/M/2007 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG
  4. 4. MENTERI PEKERJAAN UMUM MENTERI PEKERJAAN UMUM MENTERI REPUBLIK INDONESIA REPUBLIK INDONESIA REPUBLIK PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERATURAN MENTERI UMUM NOMOR : 20 /PRT/M/2007 NOMOR : 2220 /PRT/M/2007 NOMOR : /PRT/M/2007 TENTANG PEDOMANTENTANG RUANG PENATAAN TENTANG KAWASAN RAWAN BENCANA LONGSOR PEDOMAN TEKNIS ANALISIS ASPEK FISIK DAN LINGKUNGAN, PEDOMAN TEKNIS ANALISIS ASPEK FISIK DAN LINGKUNGAN, EKONOMI, SERTA SOSIAL BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA EKONOMI, SERTA SOSIAL BUDAYA DALAM PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG DALAM PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG MENTERI PEKERJAAN UMUM, DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. bahwa dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007PEKERJAAN UMUM, MENTERI tentang Penataan Ruang diperlukan adanya MENTERI PEKERJAAN UMUM, Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan BencanaMenimbang : :a. a. Longsor; rangka implementasi Undang-Undang Nomor Menimbang bahwa dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor bahwa dalam b.2626 Tahun 2007 Tentang PenataanKawasan Rawan Bencana Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang diperlukan adanya bahwa Pedoman Penataan Ruang Ruang diperlukan adanya Pedoman diperlukan Analisis Aspek ruang di kawasan rawan Longsor Teknis Analisispenataan Fisik dan Lingkungan, Pedoman Teknis agar Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi, serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana bencana longsor dapatBudaya Dalam sesuai dengan kaidah Ekonomi, serta Sosial dilaksanakan Penyusunan Rencana Tata Ruang; penataan ruang; Tata Ruang; b. b. bahwa Pedoman Teknis Analisis Aspek Fisik dan c.bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimanaFisik dan bahwa Pedoman Teknis Analisis Aspek dimaksud Lingkungan,a Ekonomi, serta ditetapkan Peraturan Menteri dalam huruf dan huruf b, perlu Sosial Budaya Dalam Lingkungan, Ekonomi, serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang diperlukan agar Pekerjaan Umum; Penyusunan Rencana Tata Ruang diperlukan agar Mengingat : 1.pengembangan wilayah dan kawasan dapat dilaksanakan Undang-Undang wilayah 26 Tahun 2007 tentang Penataan pengembangan Nomor dan kawasan dapat dilaksanakan sesuai dengan kaidah penataan ruang; Ruang; dengan kaidah penataan ruang; sesuai c.2.bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tentang Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996dimaksud dalam huruf aHakdan huruf b, perlu ditetapkan Peraturan Pelaksanaan dan huruf b, perlu ditetapkandan Tata Cara dalam huruf a dan Kewajiban serta Bentuk Peraturan Menteri Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang; Peran Pekerjaan Umum; Menteri Pekerjaan Umum; 3. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional; i ii
  5. 5. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang; 2. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang; 3. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional; 4. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung; 5. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara RI; 6. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara RI; 7. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu; 8. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 327/KTPS/M12002 tentang Penetapan Enam Pedoman Bidang Penataan Ruang; 9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 286/PRT/M/ 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum; MEMUTUSKAN:Menetapkan : PEDOMAN TEKNIS ANALISIS ASPEK FISIK DAN LINGKUNGAN, EKONOMI, SERTA SOSIAL BUDAYA DALAM PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG. Pasal 1Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Analisis aspek fisik dan lingkungan adalah analisa untuk mengenaliii
  6. 6. karakteristik sumber daya alam dengan menelaah kemampuan dan kesesuaian lahan agar pemanfaatan lahan dapat dilakukan secara optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem.2. Analisis aspek ekonomi adalah analisa untuk mengenali potensi lokasi, potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan agar dengan usaha yang minimum dapat memperoleh hasil optimum yang bertujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat, serta terjadinya investasi dan mobilisasi dana.3. Analisis aspek sosial budaya adalah analisa struktur sosial budaya serta prasarana dan sarana budaya untuk mencapai pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bersifat lahiriah, batiniah, atau spiritual.4. Menteri adalah Menteri Pekerjaan Umum. Pasal 2(1) Pengaturan Pedoman Teknis Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi, serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang dimaksudkan sebagai pelengkap Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 327/KTPS/M/2002 tentang Penetapan Enam Pedoman Bidang Penataan Ruang.(2) Pengaturan Pedoman Teknis Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi, serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang bertujuan untuk memberikan arahan bagi para pemangku kepentingan dalam melakukan analisis sebagai salah satu tahapan yang diperlukan dalam penyusunan rencana tata ruang. Pasal 3(1) Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi pengaturan tentang teknis analisis penyusunan rencana tata ruang ditinjau dari aspek fisik dan lingkungan, aspek ekonomi, serta aspek sosial budaya.(2) Pengaturan tentang teknis analisis penyusunan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimuat secara lengkap dalam lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. iii
  7. 7. Pasal 4Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang berkepentinganuntuk diketahui dan dilaksanakan.iv
  8. 8. Lampiran : Peraturan Menteri Pekerjaan UmumNomor : 20 /PRT/M/2007Tanggal : 12 Juli 2007Tentang : PEDOMAN TEKNIS ANALISIS ASPEK FISIK DAN LINGKUNGAN, EKONOMI, SERTA SOSIAL BUDAYA DALAM PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG v
  9. 9. vi
  10. 10. Kata pengantarMenurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,pemerintah dan pemerintah daerah berkepentingan dalam penyusunan rencanatata ruang sebagai arahan pelaksanaan pembangunan sejalan denganpelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah sebagaimana ditetapkan dalamUndang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.Dalam penyusunan rencana tata ruang salah satu tahapan yang harusdilaksanakan adalah analisis aspek fisik dan lingkungan, aspek ekonomi, sertaaspek sosial budaya. Berdasarkan hal tersebut diperlukan acuan mengenai teknikanalisis dalam penyusunan rencana tata ruang.Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Departemen PekerjaanUmum telah menyusun suatu pedoman teknik analisis dalam penyusunanrencana tata ruang wilayah dan/atau kawasan. Penyusunan pedoman inibertujuan memberi arah bagi pemerintah provinsi, kabupaten dan kota, danpara pemangku kepentingan dalam menyusun rencana tata ruang wilayah.Upaya fasilitasi ini diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan penyebarluasan agardapat dimanfaatkan secara luas dan diikuti upaya perbaikan melalui saran,masukan, maupun kritik untuk penyempurnaan pedoman ini.Semoga pedoman ini bermanfaat dalam mempercepat terwujudnya pemanfaatanruang yang nyaman, produktif, dan berkelanjutan di persada Nusantara. Akhirnyakepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan pedoman ini, kamimengucapkan terima kasih. vii
  11. 11. viii
  12. 12. Daftar isiKata Pengantar ......................................................................................... viiDaftar Isi ......................................................................................... ixDaftar tabel ......................................................................................... xiiiDaftar gambar ......................................................................................... xviiBab I Pendahuluan ............................................................................. 11.1 Latar belakang ........................................................................... 11.2 Tujuan ...................................................................................... 11.3 Sasaran ...................................................................................... 11.4 Manfaat ...................................................................................... 21.5 Ruang lingkup ............................................................................ 21.6 Sistematika pedoman ................................................................. 2Bab II Analisis aspek fisik dan lingkungan ........................................... 32.1 Umum ....................................................................................... 32.2 Pengumpulan data ..................................................................... 5 2.2.1 Klimatologi........................................................................ 6 2.2.1.1 Curah hujan ......................................................... 7 2.2.1.2 Hari hujan ............................................................. 7 2.2.1.3 Intensitas hujan .................................................... 8 2.2.2 Topografi .......................................................................... 8 2.2.2.1 Peta morfologi ...................................................... 9 2.2.2.2 Peta kemiringan lereng ........................................ 12 2.2.3 Geologi ............................................................................. 14 2.2.3.1 Geologi umum...................................................... 14 2.2.3.2 Geologi wilayah .................................................... 15 2.2.3.3 Geologi permukaan ............................................. 17 2.2.4 Hidrologi ........................................................................... 19 2.2.4.1 Air permukaan ...................................................... 20 ix
  13. 13. 2.2.4.2 Air tanah ............................................................... 21 2.2.5 Sumber daya mineral/bahan galian ................................. 26 2.2.6 Bencana alam .................................................................. 27 2.2.7 Penggunaan lahan ........................................................... 29 2.2.8 Studi fisik / lingkungan yang ada atau pernah dilakukan . 32 2.2.9 Kebijaksanaan Pengembangan Fisik Yang Ada .............. 342.3 Analisis kemampuan lahan ........................................................ 35 2.3.1 SKL morfologi................................................................... 35 2.3.2 SKL kemudahan dikerjakan ............................................. 38 2.3.3 SKL kestabilan lereng ...................................................... 41 2.3.4 SKL kestabilan pondasi .................................................... 44 2.3.5 SKL ketersediaan air ........................................................ 47 2.3.6 SKL untuk drainase .......................................................... 50 2.3.7 SKL terhadap erosi .......................................................... 53 2.3.8 SKL pembuangan limbah ................................................. 56 2.3.9 SKL terhadap bencana alam ............................................ 59 2.3.10Analisis Kemampuan Lahan ............................................ 622.4 Analisis kesesuaian lahan .......................................................... 68 2.4.1 Arahan tata ruang pertanian ............................................ 68 2.4.2 Arahan rasio tutupan ........................................................ 70 2.4.3 Arahan ketinggian bangunan ........................................... 73 2.4.4 Arahan pemanfaatan air baku .......................................... 75 2.4.5 Perkiraan daya tampung lahan ........................................ 77 2.4.6 Persyaratan dan pembatas pengembangan .................... 79 2.4.7 Evaluasi pemanfaatan lahan yang ada terhadap kesesuaian lahan .............................................. 81 2.4.8 Analisis kesesuaian lahan ................................................ 832.5 Rekomendasi kesesuaian lahan ................................................ 86Bab III Analisis aspek ekonomi .............................................................. 893.1 Umum ..................................................................................... 893.2 Identifikasi potensi sumber daya ............................................... 91 3.2.1 Analisis aspek lokasi ........................................................ 91 3.2.2 Analisis aspek sumber daya alam ................................... 97 3.2.3 Analisis aspek sumber daya buatan ................................ 102 3.2.4 Analisis aspek sumber daya manusia .............................. 109x
  14. 14. 3.3 Analisis perekonomian ............................................................... 116 3.3.1 Struktur ekonomi dan pergeserannya .............................. 118 3.3.2 Sektor basis ..................................................................... 120 3.3.3 Komoditi sektor basis yang memiliki keunggulan dan komparatif berpotensi ekspor ................................... 1223.4 Penentuan sektor basis/komoditas potensial ............................. 1243.5 Penentuan sektor basis/komoditas unggulan ............................ 129 3.5.1 Analisis pengaruh kebijakan pemerintah ......................... 131 3.5.2 Analisis pasar unggulan (market trend) dan pola aliran komoditas unggulan ....................................... 133 3.5.3 Analisis potensi pengembangan kegiatan/komoditas unggulan .......................................................................... 135 3.5.4 Analisis pemilihan sektor/komoditas unggulan ................ 1373.6 Penilaian kelayakan pengembangan komoditas unggulan ........ 140 3.6.1 Analisis kebutuhan teknologi untuk mengolah komoditas unggulan ........................................ 140 3.6.2 Analisis kebutuhan infrastruktur untuk pengembangan komoditas unggulan ............................... 142Bab IV Analisis aspek sosial budaya ..................................................... 1454.1 Umum ...................................................................................... 145 4.1.1 Pengumpulan data ........................................................... 1464.2 Indikator sosial budaya .............................................................. 146 4.2.1 Indikator sosial budaya .................................................... 1494.3 Analisis aspek sosial budaya ..................................................... 150 4.3.1 Analisis kependudukan .................................................... 152 4.3.2 Analisis pendidikan .......................................................... 156 4.3.3 Analisis ketenagakerjaan ................................................. 160 4.3.4 Analisis kesehatan ........................................................... 165 4.3.5 Analisis perumahan dan lingkungan ................................ 169 4.3.6 Analisis sosial budaya ...................................................... 1754.4 Analisis potensi pengembangan wilayah dan/atau kawasan berdasarkan aspek sosial budaya .............................. 1784.5 Pemilihan rencana tindak pengembangan wilayah dan/atau kawasan berkaitan dengan aspek sosial budaya ....................... 1814.6 Rekomendasi pengembangan sosial budaya melalui pemberdayaan masyarakat ........................................................ 183 xi
  15. 15. xii
  16. 16. Daftar tabelTabel 2.1 Curah hujan wilayah dan/atau kawasan ............................ 7Tabel 2.2 Curah hujan wilayah dan/atau kawasan menurut hari hujan ........................................................................... 7Tabel 2.3 Curah hujan wilayah dan/atau kawasan menurut intensitas hujan .................................................................. 8Tabel 2.4 Susunan stratigrafi geologi umum ..................................... 15Tabel 2.5 Susunan stratigrafi geologi permukaan ............................. 17Tabel 2.6 Susunan tanah ................................................................... 19Tabel 2.7 Debit sungai-sungai ........................................................... 21Tabel 2.8 Sumber daya mineral/bahan galian ................................... 27Tabel 2.9 Penggunaan lahan............................................................. 31Tabel 2.10 Pembobotan satuan kemampuan lahan ............................ 66Tabel 3.1 Laju pertumbuhan ekonomi menurut daerah wilayah ...... 92Tabel 3.2 Total biaya pembangunan dan total pengeluaran di wilayah dan/atau kawasan (dalam ribu rupiah dan harga berlaku) ............................................................ 93Tabel 3.3 Data volume ekspor dan impor di wilayah dan/atau kawasan .............................................................. 93Tabel 3.4 Tata jenjang pusat pengembangan/perkotaan di wilayah dan/atau kawasan ............................................. 94Tabel 3.5 Luas setiap jenis penggunaan lahan wilayah perencanaan (Ha) .............................................................. 94Tabel 3.6 Kepadatan penduduk pada tahun t.................................... 95Tabel 3.7 Produksi pertanian di wilayah dan/atau kawasan pada tahun t ....................................................................... 99Tabel 3.8 Produksi hasil hutan (dalam m3) di wilayah dan/atau kawasan .............................................................. 99Tabel 3.9 Populasi ternak di wilayah dan/atau kawasan tahun t ....... 99Tabel 3.10 Produksi sumber daya laut pada tahun t di wilayah dan/atau kawasan .............................................................. 100Tabel 3.11 Produksi sumber daya pertambangan di wilayah dan/atau kawasan .............................................................. 100 xiii
  17. 17. Tabel 3.12 Luas setiap jenis penggunaan lahan perkotaan di wilayah dan/atau kawasan (pada tahun t) ......................... 103Tabel 3.13 Panjang jaringan transportasi utama di wilayah perencanaan ......................................................... 104Tabel 3.14 Penilaian potensi pengembangan dari kondisi jaringan jalan ......................................................... 104Tabel 3.15 Potensi pelayanan utilitas di wilayah dan/atau kawasan ............................................................................. 105Tabel 3.16 Analisis potensi pengembangan dari keberadaan prasarana dan sarana ekonomi ......................................... 106Tabel 3.17 Mata pencaharian penduduk wilayah perencanaan dan provinsi........................................................................ 110Tabel 3.18 Perkembangan keadaan industri di wilayah dan/atau kawasan .............................................................. 111Tabel 3.19 Kemampuan pengembangan perdagangan/wiraswasta wilayah ............................................................................... 112Tabel 3.20 Struktur penduduk menurut kelompok umur di wilayah dan/atau kawasan ................................................. 112Tabel 3.21 Struktur penduduk menurut tingkat pendidikan di wilayah dan/atau kawasan ................................................. 113Tabel 3.22 Tingkat kesejahteraan yang telah dicapai ......................... 113Tabel 3.23 Distribusi pendapatan per 20 % (kuartil) kelompok rumah tangga ..................................................................... 114Tabel 3.24 PDRB kegiatan sektor ekonomi primer wilayah kabupaten/kota dan provinsi ................................. 126Tabel 3.25 Kontribusi nilai PDRB pada kegiatan sektor ekonomi sekunder di wilayah kabupaten/kota dan provinsi ............. 127Tabel 3.26 Kontribusi nilai PDRB pada kegiatan sektor ekonomi tersier di wilayah kabupaten/kota dan provinsi .................. 128Tabel 4.1 Jumlah penduduk, jumlah penduduk usia produktif dan tidak produktif, penduduk menurut daerah tempat tinggal, penduduk menurut daerah asal ........................... 153Tabel 4.2 Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk tahun 1961, 1971, 1980, 1990 ............................................................... 153Tabel 4.3 Luas daerah dan kepadatan penduduk tahun 1961, 1971, 1980, 1990 ..................................................... 154xiv
  18. 18. Tabel 4.4 Proyeksi penduduk menurut kelompok umur Tahun 1993 - 1996 ............................................................. 154Tabel 4.5 Estimasi proporsi penduduk menurut kelompok usia produktif dan tidak produktif .............................................. 154Tabel 4.6 Persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas menurut partisipasi sekolah ............................................... 157Tabel 4.7 Perbandingan banyak murid, rasio jumlah guru, rasio murid-guru, rasio murid-kelas dalam beberapa tahun 1987, 1990, 1993 ..................................................... 158Tabel 4.8 Persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang buta huruf menurut daerah tempat tinggal, tahun 1987, 1990, 1993 ..................................................... 158Tabel 4.9 Persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut daerah tempat tinggal dan pendidikan tertinggi, yang ditamatkan tahun 1987, 1990, 1993 ......................... 159Tabel 4.10 Penduduk yang bekerja, penduduk yang mencari pekerjaan, penduduk bukan angkatan kerja ..................... 162Tabel 4.11 Tingkat partisipasi angkatan kerja menurut golongan umur dan daerah tempat tinggal tahun 1991 - 1993 .............................................................. 162Tabel 4.12 Persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang bekerja menurut daerah tempat tinggal dan status pekerjaan ................................................................ 163Tabel 4.13 Persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang bekerja menurut daerah tempat tinggal dan lapangan pekerjaan utama ................................................ 163Tabel 4.14 Angka kematian bayi per 1000 kelahiran menurut jenis kelamin dan wilayah/kawasan perencanaan, tahun 1971, 1980 dan 1990 ............................................... 166Tabel 4.15 Angka kematian balita per 1000 kelahiran menurut jenis kelamin dan wilayah/kawasan tahun 1971, 1980, 1990 ......................................................................... 166Tabel 4.16 Angka harapan hidup pada waktu lahir menurut jenis kelamin dan daerah tempat tinggal, tahun 1971, 1980 Dan 1990 .............................................. 166Tabel 4.17 Banyaknya rumah sakit, tempat tidur, puskesmas, dan apotek ......................................................................... 167 xv
  19. 19. Tabel 4.18 Banyaknya jenis tenaga kesehatan ................................... 167Tabel 4.19 Persentase rumah tangga menurut beberapa fasilitas perumahan dan daerah tempat tinggal ................ 171Tabel 4.20 Persentase rumah tangga menurut daerah tempat tinggal dan jenis penerangan yang digunakan .................. 171Tabel 4.21 Persentase rumah tangga menurut daerah tempat tinggal dan sumber penerangan ........................................ 171Tabel 4.22 Persentase rumah tangga menurut daerah tempat tinggal dan sumber air minum .......................................... 172Tabel 4.23 Persentase rumah tangga menurut daerah tempat tinggal dan fasilitas air minum .......................................... 172Tabel 4.24 Persentase rumah tangga menurut daerah tempat tinggal dan tempat buang air besar ................................... 172Tabel 4.25 Persentase rumah tangga menurut daerah tempat tinggal dan jenis bahan bakar untuk memasak ................. 173Tabel 4.26 Persentase rumah tangga menurut daerah tempat tinggal dan luas lantai ........................................................ 173Tabel 4.27 Persentase banyaknya rumah tangga menurut daerah tempat tinggal dan jenis dinding terbanyak ....................... 173Tabel 4.28 Persentase banyaknya rumah tangga menurut daerah tempat tinggal dan jenis atap terbanyak ............................ 173Tabel 4.29 Persentase banyaknya rumah tangga menurut daerah tempat tinggal dan jenis lantai terluas ............................... 174Tabel 4.30 Persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang mendengarkan radio, menonton televisi, membaca surat kabar selama seminggu yang lalu menurut daerah tempat tinggal ......................................... 176Tabel 4.31 Persentase penduduk yang menjadi korban kejahatan menurut daerah tempat tinggal ......................................... 176Tabel 4.32 Indeks pembangunan manusia di wilayah dan/atau kawasan .............................................................. 179xvi
  20. 20. Daftar gambarGambar 2.1 Bagan alir tata cara analisis aspek fisik dan lingkungan .. 4Gambar 2.2 Contoh peta topografi ....................................................... 10Gambar 2.3 Contoh peta morfologi ....................................................... 11Gambar 2.4 Contoh peta kemiringan lereng ......................................... 13Gambar 2.5 Contoh peta geologi umum ............................................... 16Gambar 2.6 Contoh peta geologi permukaan ....................................... 18Gambar 2.7 Contoh peta pola aliran sungai ......................................... 22Gambar 2.8 Contoh peta potensi air tanah ........................................... 24Gambar 2.9 Contoh peta isofreatis tanah ............................................. 25Gambar 2.10 Contoh peta sumber daya mineral .................................... 28Gambar 2.11 Contoh peta rawan bencana ............................................. 30Gambar 2.12 Contoh peta tata guna lahan ............................................. 33Gambar 2.13 Contoh peta morfologi ....................................................... 37Gambar 2.14 Contoh peta SKL kemudahan penggalian ........................ 40Gambar 2.15 Contoh peta SKL kestabilan lereng ................................... 43Gambar 2.16 Contoh peta SKL kestabilan pondasi ................................ 46Gambar 2.17 Contoh peta SKL kemampuan lahan tata air .................... 49Gambar 2.18 Contoh peta SKL drainase ................................................ 52Gambar 2.19 Contoh peta SKL terhadap erosi ....................................... 55Gambar 2.20 Contoh peta SKL pembuangan limbah ............................. 58Gambar 2.21 Contoh peta SKL bencana alam ....................................... 61Gambar 2.22 Contoh peta nilai kemampuan lahan ................................ 64Gambar 2.23 Contoh peta klasifikasi kemampuan lahan ....................... 65Gambar 2.24 Contoh peta arahan kesesuaian lahan pertanian ............. 69Gambar 2.25 Contoh peta kesesuaian rasio tutupan lahan .................... 72Gambar 2.26 Contoh peta arahan ketinggian bangunan ........................ 74Gambar 2.27 Contoh peta kesesuaian lahan ......................................... 85Gambar 2.28 Contoh peta rekomendasi kemampuan lahan .................. 88Gambar 3.1 Bagan alir analisis aspek ekonomi .................................... 90Gambar 4.1 Bagan alir proses pengumpulan data aspek sosial budaya .................................................................... 147Gambar 4.2 Bagan alir analisis aspek sosial budaya ........................... 151 xvii
  21. 21. Bab I Pendahuluan1.1 Latar belakangMenurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,Pemerintah dan pemerintah daerah berwenang dalam penyusunan rencana tataruang sebagai arahan pelaksanaan pembangunan sejalan dengan pelaksanaandesentralisasi dan otonomi daerah sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.Dalam penyusunan rencana tata ruang salah satu tahapan yang harusdilaksanakan adalah analisis aspek fisik dan lingkungan, aspek ekonomi, sertaaspek sosial budaya. Berdasarkan hal tersebut diperlukan acuan mengenai teknisanalisis dalam penyusunan rencana tata ruang.1.2 TujuanPedoman ini bertujuan untuk memberikan arahan bagi pemangku kepentingandalam melakukan analisis sebagai salah satu tahapan yang diperlukan dalampenyusunan Rencana Tata Ruang.1.3 SasaranSasaran yang hendak dicapai diantaranya adalah:1) Tertingkatkannya kemampuan aparat daerah dalam melakukan analisis dalam penyusunan rencana tata ruang;2) Tersedianya petunjuk tentang unit kebutuhan data yang digunakan pada tahap analisis dalam penyusunan rencana tata ruang;3) Tersedianya acuan dan petunjuk tentang proses dan tata cara dalam melakukan analisis dalam penyusunan rencana tata ruang; 1
  22. 22. 1.4 ManfaatPedoman ini bermanfaat bagi pemerintah dan pemerintah daerah serta parapemangku kepentingan yang terkait dalam penyusunan rencana tata ruang.1.5 Ruang lingkupLingkup Pedoman Teknis Analisis Penyusunan Rencana Tata Ruang terdiri dari:1) Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan,2) Analisis Aspek Ekonomi,3) Analisis Aspek Sosial Budaya.1.6 Sistematika pedomanPedoman ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:Bab I PendahuluanBab ini berisikan latar belakang, tujuan, sasaran, manfaat, ruang lingkup dansistematika dari Pedoman Teknis Analisis Penyusunan Rencana Tata Ruang.Bab II Analisis aspek fisik dan lingkunganBab ini berisikan mengenai tata cara, unit analisis, serta kebutuhan data dalammelakukan analisis aspek fisik dan lingkungan.Bab III Analisis aspek ekonomiBab ini berisikan mengenai tata cara, unit analisis, serta kebutuhan data dalammelakukan analisis aspek ekonomi.Bab IV Analisis aspek sosial budayaBab ini berisikan mengenai tata cara, unit analisis, serta kebutuhan data dalammelakukan analisis aspek sosial budaya.2
  23. 23. Bab II Analisis aspek fisik dan lingkungan2.1 UmumLahan pengembangan wilayah merupakan sumber daya alam yang memilikiketerbatasan dalam menampung kegiatan manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam tersebut. Banyak contoh kasus kerugian ataupun korban yangdisebabkan oleh ketidaksesuaian penggunaan lahan yang melampauikapasitasnya. Untuk itulah perlu dikenali sedini mungkin karakteristik fisik suatuwilayah maupun kawasan untuk dikembangkan, baik potensi sumber dayaalamnya maupun kerawanan bencana yang dikandungnya, yang kemudianditerjemahkan sebagai potensi dan kendala pengembangan wilayah ataukawasan.Analisis fisik dan lingkungan wilayah atau kawasan ini adalah untuk mengenalikarakteristik sumber daya alam tersebut, dengan menelaah kemampuan dankesesuaian lahan, agar penggunaan lahan dalam pengembangan wilayah dan/atau kawasan dapat dilakukan secara optimal dengan tetap memperhatikankeseimbangan ekosistem.Hasil studi analisis fisik dan lingkungan ini akan menjadi masukan dalampenyusunan rencana tata ruang maupun rencana pengembangan wilayah dan/atau kawasan (rencana tindak, rencana investasi, dan lain-lain), karena akanmemberikan gambaran kerangka fisik pengembangan wilayah dan/atau kawasan.Secara garis besar tata cara analisis kelayakan fisik atau dikenal juga sebagaistudi kesesuaian lahan wilayah dan/atau kawasan ini dapat digambarkan dalambentuk bagan alir berikut (Gambar 2.1) 3
  24. 24. 4 Gambar 2.1 Bagan Alir tata cara analisis aspek fisik dan lingkungan SATUAN KEMAMPUAN LAHAN (SKL) ARAHAN TATA SKL MORFOLOGI RUANG PERTANIAN KLIMATOLOGI SKL KEMUDAHAN ARAHAN RASIO DIKERJAKAN TUTUPAN LAHAN TOPOGRAFI SKL KESTABILAN LERENG ARAHAN RASIO KETI NGGIAN BANGUNAN GEOLOGI SKL KESTABILAN PONDASI ARAHAN PEMENFA HIDROLOGI ATAN AIR BAKU SKL KETERSEDIA AN AIR ANALISIS ANALISIS KESTA REKOMENDASI KEMAM PERKIRAAN DAYA BILAN LAHAN KESTABILAN SD MINERAL/BHN PUAN LAHAN TAMPUNG LAHAN LAHAN SKL UNTUK GALIAN DRAINASE PERSY & PEMBA SKL TERHADAP TAS PENGEMB BENCANA ALAM EROSI SKL TERHADAP PENGGUNAAN PEMBUANGAN LAHAN LIMBAH EVALUASI PENGGUNAAN LAHAN YG ADA THD SKL TERHADAP BENCANA ALAM KESESUAIAN LAHAN STUDI FISIK KEBIJAKS PENGEMB FISIK YANG ADA
  25. 25. Pengumpulan data, dengan cakupan data yang dikehendaki adalah seperti terlihatpada bagan alir tersebut. Sedangkan tahap analisis terdiri dari dua, yakni analisiskemampuan lahan dan analisis kesesuaian lahan. Hasil akhir dari studi ini adalahberupa rekomendasi kesesuaian lahan, yang akan menjadi masukan padapengembangan wilayah dan/atau kawasan.2.2 Pengumpulan dataData-data yang dibutuhkan dalam aspek analisis fisik dan lingkungan dalampedoman ini adalah:1) Klimatologi;2) Topografi;3) Geologi;4) Hidrologi;5) Sumber Daya Mineral/ Bahan Galian;6) Bencana Alam; dan7) Penggunaan Lahan. 5
  26. 26. 2.2.1 KlimatologiData klimatologi adalah data iklim berdasarkan hasil pengamatan pada stasiunpengamat di wilayah yang bersangkutan dan/atau daerah sekitarnya, meliputi:1) Curah hujan,2) Hari hujan,3) Intensitas hujan,4) Temperatur rata-rata,5) Kelembaban relatif,6) Kecepatan dan arah angin,7) Lama penyinaran (durasi) matahari.Data klimatologi ini dapat diperoleh pada stasiun meteorologi dan geofisika diwilayah dan/atau kawasan atau daerah sekitarnya yang terdekat, atau padakabupaten dalam bentuk laporan, atau dapat juga diperoleh pada BadanMeteorologi dan Geofisika Pusat di Jakarta.Kedalaman data adalah pengamatan selama 10 tahun (bila tersedia). Bila datayang diperoleh tidak mencapai kedalaman tersebut, sebaiknya dikumpulkan datasemaksimum yang tersedia, dengan contoh penyajian seperti yang disajikanpada Tabel 2.1, Tabel 2.2, dan Tabel 2.3, pada sub-sub bab sebagai berikut:6
  27. 27. 2.2.1.1 Curah hujan Tabel 2.1 Curah hujan wilayah dan/atau kawasan............ *) (mm) tahun 1985 – 1994 (stasiun pengamat .............................*)) Tahun No. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Jumlah Pengamatan 1. 1965 2. 1966 10. 1994 Rata - Rata Ket : * nama lokasi wilayah atau kawasan perencanaan2.2.1.2 Hari hujan Tabel 2.2 Curah hujan wilayah dan/atau kawasan...................*) (hari) tahun 1985 – 1994 (stasiun pengamat.......................*)) Tahun No. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Jumlah Pengamatan 1. 1965 2. 1966 10. 1994 Rata - Rata Ket : * nama lokasi wilayah atau kawasan perencanaan 7
  28. 28. 2.2.1.3 Intensitas hujan Tabel 2.3 Curah hujan wilayah dan/atau kawasan....................*)(mm) tahun 1985 - 1994 (stasiun pengamat .....................*)) Tahun No. Tahun Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Jumlah No. Pengamatan Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Jumlah Pengamatan 1. 1965 1. 1965 2. 1966 2. 1966 10. 1994 10. 1994 Rata - Rata Rata-rata Ket : * nama lokasi wilayah atau kawasan perencanaan2.2.2 TopografiData topografi berupa peta topografi dengan skala terbesar yang tersedia, yangdapat diperoleh pada instansi: Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional(BAKOSURTANAL), Badan Pertanahan Nasional (BPN), Direktorat Topografi -TNI Angkatan Darat, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya MineralDepartemen Energi dan Sumber Daya Mineral, dan instansi terkait lainnya.8
  29. 29. Contoh Peta Topografi dalam analisis aspek fisik dan lingkungan adalah sepertipada Gambar 2.2.Dari peta topografi ini dapat diturunkan beberapa peta yang berkaitan denganbentuk bentang alam dan kemiringannya, yakni peta morfologi dan petakemiringan lereng/lahan, yang dalam hal ini dikelompokkan sebagai peta data,karena penganalisisan berikutnya berpijak pada peta morfologi dan kemiringanlereng ini, bukan peta topografi yang merupakan data mentahnya.2.2.2.1 Peta morfologiPeta morfologi adalah pengelompokan bentuk bentang alam berdasarkan rona,kemiringan lereng secara umum, dan ketinggiannya, pada beberapa satuanmorfologi. Contoh Peta Morfologi lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.3.Satuan morfologi dataranSatuan morfologi dataran adalah bentuk bentang alam yang didominasi olehdaerah yang relatif datar atau sedikit bergelombang, dengan kisaran kemiringanlereng 0% - 5%.Lebih rinci lagi satuan morfologi dataran ini dapat dibedakan atas dua subsatuan,yakni subsatuan morfologi dataran berkisar antara 0% - 2%; dan subsatuanmorfologi medan bergelombang dengan kisaran kemiringan lereng lebih dari2% hingga 5%.Satuan morfologi perbukitanSatuan morfologi perbukitan adalah bentuk bentang alam yang memperlihatkanrelief baik halus maupun kasar, membentuk bukit-bukit dengan kemiringan lerengyang bervariasi. 9
  30. 30. 10 Gambar 2.2 Contoh peta topografi
  31. 31. Gambar 2.3 morfologi Contoh peta morfologi11
  32. 32. Secara lebih rinci satuan morfologi perbukitan dapat dibagi lagi atas tigasubsatuan, yakni: subsatuan morfologi perbukitan landai dengan kemiringanlereng antara 5% - 15% dan memperlihatkan relief halus; subsatuan morfologiperbukitan sedang dengan kemiringan lereng berkisar antara 15% - 40% danmemperlihatkan relief sedang, dan subsatuan morfologi perbukitan terjal dengankemiringan lebih dari 40% dan memperlihatkan relief kasar.Satuan morfologi tubuh gunung berapiSatuan tubuh gunung berapi ini hampir sama dengan satuan morfologi perbukitan,dan umumnya merupakan subsatuan perbukitan sedang hingga terjal, namunmembentuk kerucut tubuh gunung berapi.Satuan tubuh gunung berapi ini perlu dipisahkan dari satuan perbukitan, karenatubuh gunung berapi mempunyai karakterisitk tersendiri dan berbeda dariperbukitan umumnya, seperti banyak dijumpai mata air, kandungan-kandungangas beracun, dan sumber daya mineral lainnya yang khas gunung berapi.2.2.2.2 Peta kemiringan lerengPeta kemiringan lereng diturunkan dari peta topografi, karena penataan ruangdan peruntukannya banyak sekali ditentukan oleh kondisi kemiringan suatuwilayah, demikian juga pengembangan jaringan utilitas sangat dipengaruhi olehbesarnya kemiringan lereng ini. Peta ini memuat pembagian atau klasifikasikemiringan lereng di wilayah dan/atau kawasan perencanaan atas beberapakelas sebagai berikut:1) Kemiringan lereng 0% - 2%2) Kemiringan lereng > 2% - 5%3) Kemiringan lereng > 5% - 15%4) Kemiringan lereng > 15% - 40%5) Kemiringan lereng > 40%Pada peta topografi dengan skala dan kelengkapan yang memungkinkan, selangkemiringan > 5% - 15%, dibagi lagi atas: > 5% - 8%, dan > 8% - 15%. Untuklebih jelasnya contoh peta kemiringan lereng ini dapat dilihat pada Gambar 2.4.12
  33. 33. Gambar 2.4 Contoh peta kemiringan lereng13
  34. 34. 2.2.3 GeologiUntuk mengetahui kondisi geologi regional wilayah dan/atau kawasanperencanaan dan daerah sekitarnya, maka diperlukan data fisiografi daerah yanglebih luas. Fisiografi ini akan memperlihatkan gambaran umum kondisi fisik secararegional baik menyangkut morfologi, pola pembentuknya, pola aliran sungai,serta kondisi litologi dan struktur geologi secara umum. Gambaran umum kondisigeologi atau fisiografi ini dapat dilihat pada Peta Geologi Indonesia. Data geologiyang diperlukan dalam analisis aspek fisik dan lingkungan terdiri dari tiga bagian,yakni data geologi umum, geologi wilayah, dan data geologi permukaan.2.2.3.1 Geologi umumData geologi umum ini diperlukan untuk mengetahui kondisi fisik secara umum,terutama pada batuan dasar yang akan menjadi tumpuan dan sumber dayaalam wilayah ini, serta beberapa kemungkinan bencana yang bisa timbul akibatkondisi geologinya atau lebih dikenal dengan bencana alam beraspek geologi.Data geologi umum wilayah perencanaan dan sekitarnya yang diperlukan padaanalisis kelayakan fisik kawasan ini adalah peta dan data geologi, dalam skalaterbesar yang tersedia. Data geologi ini mencakup stratigrafi dan uraianlitologinya, struktur geologi, serta penampang-penampang geologi. Untuk contohpeta geologi lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.5, sedangkan untukcontoh penyajian susunan stratigrafi secara umum dapat dilihat pada Tabel 2.4.14
  35. 35. Tabel 2.4 Susunan stratigrafi wilayah..........*) Umur Formasi/ Simbol Litologi Satuan Batuan Pada Peta Batuan Vulkanik Kuarter Batuan Sedimen Aluvium Tersier dst. Ket : * nama lokasi wilayah atau kawasan perencanaanData geologi umum ini dapat diperoleh pada Departemen Energi dan SumberDaya Mineral, atau pada instansi lain yang pernah melakukan penelitian geologiterinci di wilayah yang diperlukan.Selain instansi tersebut, data geologi umum dapat diperoleh pada instansi-instansiyang berkaitan dengan bidang geologi seperti Pertamina, perusahaan-perusahaan minyak dan perusahaan tambang baik logam maupun bahan galianlainnya, serta perguruan-perguruan tinggi yang memiliki jurusan geologi yangmungkin pernah melakukan penelitian di wilayah bersangkutan.2.2.3.2 Geologi wilayahKhusus untuk wilayah dan/atau kawasan perencanaan perlu dilakukan telaahangeologi lebih terinci, disesuaikan dengan skala penelitian yang dilakukan, yangdiperoleh berdasarkan peta geologi umum dan dilakukan pengecekan dilapangan.Peta geologi wilayah ini memuat semua unsur geologi seperti yang dikehendakipada geologi umum, hanya lebih terinci yang kemungkinan akan berbeda daripeta geologi umum, karena dilakukan penelitian pada skala lebih besar.Mengingat keterbatasan waktu dan biaya, maka peta geologi wilayah 15
  36. 36. 16 Gambar 2.5 Contoh peta geologi umum
  37. 37. perencanaan ini lebih bersifat geologi tinjau yang berpegang pada geologi umum,perencanaan ini lebih bersifat geologi tinjau yang berpegang pada geologi umum,dan lebih menekankan pada rincian karakteristik litologi dan struktur geologinya,dan lebih menekankan pada rincian karakteristik litologi dan struktur geologinya,dan tentunya dengan tidak mengabaikan stratigrafi serta unsur-unsur geologidan tentunya dengan tidak mengabaikan stratigrafi serta unsur-unsur geologilainnya.lainnya.Susunan stratigrafi wilayah perencanaan seperti terlihat pada Tabel 2.5.Susunan stratigrafi wilayah perencanaan seperti terlihat pada Tabel 2.5. Tabel 2.5 Susunan stratigrafi wilayah........*) Tabel 2.5 Susunan stratigrafi wilayah........*) Umur Formasi/ Simbol Litologi Umur Formasi/ Simbol Litologi Satuan Batuan Pada Peta Satuan Batuan Pada Peta Holosen Holosen Kuarter Kuarter Plistosen Plistosen Pliosen Pliosen Tersier Tersier dst. dst. Ket : * nama lokasi wilayah atau kawasan perencanaan Ket : * nama lokasi wilayah atau kawasan perencanaan2.2.3.3 Geologi permukaan2.2.3.3 Geologi permukaanGeologi permukaan adalah kondisi geologi tanah/batu yang ada di permukaanGeologi permukaan adalah kondisi geologi tanah/batu yang ada di permukaandan sebarannya baik lateral maupun vertikal hingga kedalaman batuan dasardan sebarannya baik lateral maupun vertikal hingga kedalaman batuan dasarserta sifat-sifat keteknikan tanah/batu tersebut, dalam kaitannya untuk menunjangserta sifat-sifat keteknikan tanah/batu tersebut, dalam kaitannya untuk menunjangpengembangan kawasan. Data geologi permukaan hanya dapat diperoleh daripengembangan kawasan. Data geologi permukaan hanya dapat diperoleh daripenelitian lapangan (data primer), dengan penyebaran vertikal diperolehpenelitian lapangan (data primer), dengan penyebaran vertikal diperolehberdasarkan hasil pemboran dangkal. Sifat keteknikan dengan keterbatasanberdasarkan hasil pemboran dangkal. Sifat keteknikan dengan keterbatasanbiaya dan waktu penelitian hanya dapat disajikan berupa pengamatanbiaya dan waktu penelitian hanya dapat disajikan berupa pengamatanmegaskopis, kecuali daya dukung tanah/batu yang dapat dipertajam dari hasilmegaskopis, kecuali daya dukung tanah/batu yang dapat dipertajam dari hasilpengujian sondir.pengujian sondir.Peta geologi permukaan yang memuat sebaran lateral tanah/batu ini (GambarPeta geologi permukaan yang memuat sebaran lateral tanah/batu ini (Gambar2.6), juga diikuti dengan susunan tanah/batu hingga batuan dasar yang diperoleh2.6), juga diikuti dengan susunan tanah/batu hingga batuan dasar yang diperolehdari hasil pemboran dangkal yang menunjukkan penyebaran vertikal dari tanah/dari hasil pemboran dangkal yang menunjukkan penyebaran vertikal dari tanah/batu tersebut (Tabel 2.6).batu tersebut (Tabel 2.6). 17 17
  38. 38. 18 Gambar 2.6 Contoh peta geologi permukaan
  39. 39. Tabel 2.6 Susunan tanah...............*) Kedalaman Jenis Deskripsi Simbol (m) Tanah (Deskripsi) Ket : * nama lokasi wilayah atau kawasan perencanaan2.2.4 HidrologiData hidrologi yang dimaksud di sini adalah data yang berkaitan dengan kondisikeairan, baik air permukaan maupun air tanah. Untuk itu penyajian data hidrologiini dibedakan atas air permukaan dan air tanah, seperti yang akan diuraikanpada sub bab di bawah ini. 19
  40. 40. 2.2.4.1 Air permukaanAir permukaan adalah air yang muncul atau mengalir di permukaan seperti:mata air, danau, sungai, dan rawa. Pada data air permukaan ini masing-masingjenis sumber air tersebut hendaknya diikuti besaran atau debitnya, sehinggadapat terlihat potensi air permukaan secara umum.Khusus untuk sungai disajikan lengkap dengan Wilayah Sungai (WS) dan DaerahAliran Sungai (DAS) nya, karena masing-masing WS umumnya mempunyaikarakteristik berbeda, demikian juga dengan DAS yang diharapkan dapatmemberikan gambaran potensi sungai sampai orde yang terkecil. Data sungaiini juga dilengkapi dengan pola aliran, arah aliran air permukaan pada masing-masing DAS serta kerapatan sungai yang secara tidak langsung akanmemperlihatkan aktivitas sungai tersebut baik pengaliran maupun pengikisannya.Data air permukaan ini dapat diperoleh pada instansi pengairan setempat ataupunpusat, dilengkapi dengan pengamatan lapangan yang menunjukkan kondisikeairan sesaat pada waktu pengamatan yang akan menunjukkan potensi airpada musim tertentu (penghujan atau kemarau, tergantung waktu pengamatan).Sedangkan untuk data mata air kemungkinan juga dapat diperoleh dari petahidrologi yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional.Peta air permukaan secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 2.7, dengandebit sungai-sungai tersebut selain dicantumkan pada peta juga dibuat tabulasiyang menunjukkan debit pada bulan kering (debit minimal) dan debit pada bulanbasah (debit maksimal) seperti disajikan pada Tabel 2.7.20
  41. 41. Tabel 2.7 Debit sungai-sungai di .......*) Debit Debit Debit No Sungai Maksimal Minimal Rata-Rata 1. 2. … Dst Ket : * nama lokasi wilayah atau kawasan perencanaan2.2.4.2 Air tanahData air tanah dapat dipisahkan atas air tanah dangkal dan air tanah dalam,yang masing-masing diupayakan diperoleh besaran potensinya. Air tanah dangkaladalah air tanah yang umum digunakan oleh masyarakat sebagai sumber airbersih berupa sumur-sumur, sehingga untuk mengetahui potensi air tanah bebasini perlu diketahui kedalaman sumur-sumur penduduk, dan kemudian dikaitkandengan sifat fisik tanah/batunya dalam kaitannya sebagai pembawa air. Selainbesarannya air tanah ini perlu diketahui mutunya secara umum, dan kalaumemungkinkan hasil pengujian mutu air dari laboratorium.Sedangkan air tanah dalam yakni air tanah yang memerlukan teknologi tambahanuntuk pengadaannya, secara umum dapat diketahui dari kondisi geologinya,yang tentunya memerlukan pengamatan struktur geologi yang cermat.Kondisi air tanah ini dapat diperoleh dari penelitian hidro-geologi baik yangdilakukan oleh Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral DepartemenEnergi dan Sumber Daya Mineral, maupun instansi lainnya yang berkaitan dengankeairan seperti Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen PekerjaanUmum, ataupun juga dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi. 21
  42. 42. 22 Gambar 2.7 Contoh peta pola aliran sungai
  43. 43. Khusus untuk air tanah bebas, data kedalaman sumur penduduk pada beberapalokasi telah dipetakan berupa Peta Hidrologi yang memuat juga kedalamannyapada musim kering dan musim basah seperti pada Gambar 2.8. Dari datakedalaman sumur dan peta topografi dapat digambarkan peta isofreatis yangmenunjukkan ketinggian muka air tanah dari muka laut seperti terlihat padaGambar 2.9. 23
  44. 44. 24 Gambar 2.8 Contoh peta potensi air tanah
  45. 45. Gambar 2.9 Contoh peta isofreatis tanah tanah25
  46. 46. 2.2.5 Sumber daya mineral/bahan galianSumber daya mineral/bahan galian dalam penyusunan rencana tata ruang punperlu diketahui, mengingat dalam proses pembangunan nantinya akan banyakdiperlukan bahan bangunan berupa batu, pasir, dan tanah urug yang kesemuanyaini termasuk bahan galian golongan C.Sebaran potensi bahan galian golongan C ini untuk daerah-daerah tertentu telahdilakukan pemetaannya oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral atauinstansi lainnya yang berwenang. Namun untuk daerah yang belum dipetakandapat dikenali di lapangan dan dipertegas dengan kondisi geologinya, jugainformasi dari pemerintah daerah setempat mengenai aktivitas penambanganbahan galian golongan C ini di wilayahnya.Sumber daya mineral lainnya yang tidak termasuk bahan galian golongan Cseperti minyak bumi, batubara, dan mineral logam, juga perlu diketahui di wilayahdan/atau kawasan bilamana ada, karena akan menyangkut kemungkinanpengembangan penambangan di wilayah dan/atau kawasan dan kaitannyadengan penataan ruang.Sumber daya mineral ini disajikan baik dalam bentuk peta seperti Gambar 2.10,maupun dalam bentuk tabel berupa jenis bahan galian, lokasi, sumber bahangalian, dan perkiraan cadangan seperti terlihat pada Tabel 2.8.26
  47. 47. Tabel 2.8 Sumber daya mineral/bahan galian di ....................*) Sumber/ Jenis Perkiraan No. Lokasi Batuan Keterangan Bahan Galian Cadangan Induk 1. 2. dst Sumber : Ket : * nama lokasi wilayah atau kawasan perencanaan2.2.6 Bencana alamBencana alam pada dasarnya adalah gejala atau proses alam yang terjadi akibatupaya alam mengembalikan keseimbangan ekosistem yang terganggu baik olehproses alam itu sendiri ataupun akibat ulah manusia dalam memanfaatkansumber daya alam ini. 27
  48. 48. 28 Gambar 2.10 daya mineral Contoh peta sumber daya mineral
  49. 49. Kemungkinan bencana alam yang akan timbul di suatu daerah, dalam hal inibencana alam beraspek geologi, seperti: banjir, longsor/gerakan tanah, amblesan,letusan gunung berapi, gempa bumi, kekeringan, dan lainnya, pada dasarnyadapat dikenali dari kondisi geologi, sejarah bencana alam yang pernah terjadi diwilayah tersebut, dan gejala bencana alam dalam bentuk lokal atau mikro yangkemungkinan akan meluas atau merupakan indikasi terjadinya bencana yanglebih makro.Kemungkinan bencana atau daerah rawan bencana alam ini tentunya perludikenali sedini mungkin, agar tindakan pengamanan bila daerah tersebut memangakan dikembangkan, telah disiapkan, atau sejak dini dihindari pengembanganpada daerah rawan bencana ini.Berbagai jenis bencana alam dan daerah pengaruhnya adalah data bencanaalam yang dimintakan dalam studi ini, dan bila perlu masing-masing jenis bencanadisajikan dalam peta terpisah sesuai dengan ketersediaan datanya, seperti terlihatpada Gambar 2.11.2.2.7 Penggunaan lahanPenggunaan lahan di wilayah dan/atau kawasan perencanaan perlu diketahuisecara terinci, terutama sebaran bangunan yang bersifat tidak meluluskan air/kedap air. Hal ini berkaitan erat dengan rasio tutupan lahan yang ada saat iniyang nantinya digunakan dalam penghitungan ketersediaan air tanah bebas. 29
  50. 50. 30 Gambar 2.11 bencana Contoh peta rawan bencana
  51. 51. Selain untuk mengetahui rasio tutupan lahan, data penggunaan lahan jugadiperlukan untuk mengetahui pengelompokan peruntukan lahan, termasukaglomerasi fasilitas yang akan membentuk pusat kota serta bangunan-bangunanyang memerlukan persyaratan kemampuan lahan tinggi, yang akan digunakandalam penentuan rekomendasi kesesuaian lahan.Di samping itu dengan mengetahui sebaran penggunaan lahan di wilayah ini,maka akan terlihat pada daerah-daerah mana penggunaan lahan yang ternyatamenyimpang dari kesesuaiannya atau melampaui kemampuannya, sehinggadapat dijadikan masukan juga dalam memberikan rekomendasi kesesuaian lahanini.Data penggunaan lahan disajikan berupa peta penggunaan lahan/tata guna lahanseperti terlihat pada Gambar 2.12, dan tabel luas penggunaan lahan sepertiterlihat pada Tabel 2.9. Tabel 2.9 Penggunaan lahan di .......*) Luas Jenis Penggunaan Lahan No Desa (Ha) Permukiman Sawah Kebun Hutan Dll 1. 2. dst Sumber : Ket : * nama lokasi wilayah atau kawasan perencanaan 31
  52. 52. 2.2.8 Studi fisik/lingkungan yang ada atau pernah dilakukanStudi-studi fisik yang pernah dilakukan menyangkut fisik ataupun lingkungandapat diperoleh sebagai masukan data dalam analisis kelayakan fisik kawasanini, dan harus dicantumkan sumbernya.Studi-studi ini sangat membantu dalam penentuan arahan kesesuaian peruntukanlahan, ataupun dalam rekomendasi, karena daerah yang sudah disarankanperuntukannya dari studi terdahulu bila dalam analisis kelayakan fisik kawasanini tidak termasuk pengembangan perkotaan dapat diperuntukan sebagaimanausulan semula. Sedangkan untuk daerah yang masuk pengembangan perkotaantetapi arahan dari studi terdahulu sudah ada dan bukan untuk perkotaan, dapatdilakukan penyesuaian yang tentunya telah melalui pertimbangan dari berbagaisektor, yang kemudian diakomodasikan dalam hasil studi ini sebagai optimasiterakhir dalam bentuk rekomendasi kesesuaian lahan.32
  53. 53. Gambar 2.12 Contoh peta penggunaan lahan33
  54. 54. 2.2.9 Kebijakan pengembangan fisik yang adaKebijakan pengembangan fisik yang ada di wilayah dan/atau kawasan perludiketahui, terutama kebijakan penggunaan lahan. Hal ini diperlukan dalampenentuan rekomendasi kesesuaian lahan, karena kebijakan penggunaan lahanyang telah digariskan baik oleh Pemerintah maupun pemerintah daerah tentunyadalam rekomendasi dicoba dipenuhi dengan memberikan persyaratan-persyaratan khusus sesuai dengan kendala dan potensi yang dimilikinya.Dengan demikian data mengenai kebijakan pengembangan fisik baik olehPemerintah maupun pemerintah daerah dalam analisis kelayakan fisikpengembangan kawasan ini harus disertakan, agar tidak menimbulkanpertentangan antara rekomendasi kesesuaian lahan dengan kebijakan yang adadan sudah berjalan.34
  55. 55. 2.3 Analisis kemampuan lahan2.3.1 Satuan kemampuan lahan (SKL) morfologi 35
  56. 56. Lingkup pekerjaanMelakukan pemilahan bentuk bentang alam/morfologi pada wilayah dan/ataukawasan perencanaan yang mampu untuk dikembangkan sesuai denganfungsinya.Sasaran1) Memperoleh gambaran tingkat kemampuan lahan untuk dikembangkan sebagai perkotaan dilihat dari segi morfologinya.2) Mengetahui potensi dan kendala morfologi masing-masing tingkatan kemampuan lahan terhadap morfologi.Masukan1) Peta morfologi skala terbesar yang tersedia,2) Peta kemiringan lereng bila ada,3) Peta morfologi bila sudah pernah dilakukan studi sejenis,4) Hasil pengamatan lapangan mengenai morfologi ini.Keluaran1) Peta Satuan Kemampuan Lahan Morfologi. Contoh Peta Satuan Kemampuan Lahan Morfologi dapat dilihat pada Gambar 2.13.2) Potensi dan kendala morfologi masing-masing tingkatan dalam SKL Morfologi.Langkah-langkah1) Hitung kemiringan lereng wilayah perencanaan secara terinci dari peta topografi, dan sesuaikan/pertajam dengan hasil pengamatan lapangan, dengan pembagian seperti yang disyaratkan pada kompilasi data.2) Dalam kasus tidak tersedia peta topografi yang memadai, kemiringan lereng ditentukan berdasarkan pengamatan langsung di lapangan dan plotting pada peta dasar (peta ini adalah merupakan peta sketsa kemiringan lereng).3) Tentukan satuan-satuan morfologi yang membentuk wilayah perencanaan berdasarkan peta topografi dan atau peta kemiringan lereng tersebut.4) Tentukan tingkatan kemampuan lahan morfologi berdasarkan peta-peta hasil analisis di atas, dan persyaratan atau batasan yang diharapkan pada pengembangan kawasan.36
  57. 57. Gambar 2.13 Contoh peta SKL morfologi morfologi37
  58. 58. 5) Deskripsikan potensi dan kendala morfologi masing-masing tingkatan SKL Morfologi tersebut.Hal-hal yang perlu diperhatikanPenghitungan/pengamatan kemiringan lereng dilakukan dengan teliti, karenabeberapa analisis satuan kemampuan lahan menggunakan kemiringan lerengini sebagai salah satu masukannya.2.3.2 Satuan kemampuan lahan (SKL) kemudahan dikerjakanLingkup pekerjaanMelakukan analisis guna mengetahui tingkat kemudahan lahan di wilayah dan/atau kawasan untuk digali/dimatangkan dalam proses pembangunan/pengembangan kawasan.Sasaran1) Memperoleh gambaran tingkat kemampuan lahan untuk digali, ditimbun, ataupun dimatangkan dalam proses pembangunan untuk pengembangan kawasan,2) Mengetahui potensi dan kendala dalam pengerjaan masing-masing tingkatan kemampuan lahan kemudahan dikerjakan,38
  59. 59. 3) Mengetahui metode pengerjaan yang sesuai untuk masing-masing tingkatan kemampuan lahan.Masukan1) Peta Topografi,2) Peta Morfologi,3) Peta Kemiringan Lereng,4) Peta Geologi,5) Peta Geologi Permukaan,6) Peta Penggunaan Lahan yang ada saat ini.Keluaran1) Peta Satuan Kemampuan Lahan Kemudahan Dikerjakan,2) Deskripsi masing-masing tingkatan kemudahan dikerjakan.Contoh Peta Satuan Kemampuan Lahan Kemudahan Dikerjakan lebih jelasnyadapat dilihat pada Gambar 2.14.Langkah-langkah1) Tentukan tingkat kekerasan batuan berdasarkan peta topografi, peta geologi, peta penggunaan lahan yang ada saat ini, dan sesuaikan dengan data geologi permukaan yang merupakan hasil pengamatan langsung di lapangan.2) Tentukan kemudahan pencapaian berdasarkan peta morfologi, peta kemiringan lereng, dan penggunaan lahan yang ada saat ini.3) Tentukan tingkat kemudahan dikerjakan berdasarkan kedua hal tersebut di atas, lengkap dengan deskripsi masing-masing tingkatan.Hal-hal yang perlu diperhatikanKetelitian data geologi permukaan serta penentuan lokasi pengeboran sangatmenentukan ketepatan analisis tingkat kemudahan dikerjakan ini. 39
  60. 60. 40 Gambar 2.14 kemudahan dikerjakan Contoh peta SKL kemudahan dikerjakan
  61. 61. 2.3.3 Satuan kemampuan lahan (SKL) kestabilan lerengLingkup pekerjaanMelakukan analisis untuk pengetahui tingkat kemantapan lereng di wilayah dan/atau kawasan dalam menerima beban pada pengembangan wilayah dan/ataukawasan.Sasaran1) Memperoleh gambaran tingkat kestabilan lereng untuk pengembangan wilayah dan/atau kawasan.2) Mengetahui daerah-daerah yang berlereng cukup aman untuk dikembangkan sesuai dengan fungsi kawasan.3) Mengetahui batasan-batasan pengembangan pada masing-masing tingkatan kestabilan lereng.Masukan1) Peta Topografi,2) Peta Morfologi,3) Peta Kemiringan Lereng,4) Peta Geologi,5) Peta Geologi Permukaan,6) Karakteristik Air Tanah Dangkal, 41
  62. 62. 7) Besar Curah Hujan,8) Penggunaan lahan yang ada saat ini,9) Data Bencana Alam (bahaya gerakan tanah, kegempaan, gunung berapi, dan pengikisan).Keluaran1) Peta Satuan Kemampuan Lahan Kestabilan Lereng,2) Deskripsi masing-masing tingkatan kestabilan lereng.Contoh Peta Satuan Kemampuan Lahan Kestabilan Lereng lebih jelasnya dapatdilihat pada Gambar 2.15.Langkah-langkah1) Tentukan dahulu daerah yang diperkirakan mempunyai lereng tidak stabil dari peta topografi, morfologi, dan kemiringan lereng.2) Pertajam perkiraan di atas dengan memperhatikan kondisi geologi daerah- daerah tersebut.3) Kaitkan hasil analisis di atas dengan kondisi geologi permukaan serta pengamatan lapangan, dan karakteristik air tanah dangkalnya.4) Perhatikan penggunaan lahan yang ada saat ini pada daerah tersebut apakah bersifat memperlemah lereng atau tidak.5) Bila sudah ada hasil penelitian mengenai bencana gerakan tanah di wilayah ini, maka daerah yang rawan bencana adalah daerah yang mempunyai lereng tidak stabil, dan ini merupakan masukan langsung bagi SKL Kestabilan Lereng.6) Amati kondisi kegempaan di wilayah ini, karena gempa akan memperlemah kestabilan lereng.7) Tentukan tingkat kestabilan lereng di wilayah ini serta deskripsi masing- masing tingkat tersebut berdasarkan tahapan-tahapan di atas.Hal-hal yang perlu diperhatikan1) Kecermatan pengamatan lapangan dan penelitian tanah (bor dan sondir) sangat menentukan dalam SKL Kestabilan Lereng ini.2) Pola dan sebaran mata air-mata air yang muncul di kaki bukit/lereng, karena kehadiran mata air yang cukup banyak pada lereng yang sama dan ketinggian tidak jauh berbeda merupakan tanda adanya bidang gelincir.42
  63. 63. Gambar 2.15 Contoh peta SKL kestabilan lereng kestabilan lereng43
  64. 64. 2.3.4 Satuan kemampuan lahan (SKL) kestabilan pondasiLingkup pekerjaanMelakukan analisis untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan dalammendukung bangunan berat dalam pengembangan perkotaan, serta jenis-jenispondasi yang sesuai untuk masing-masing tingkatan.Sasaran1) Mengetahui gambaran daya dukung tanah secara umum,2) Memperoleh gambaran tingkat kestabilan pondasi di wilayah dan/atau kawasan,3) Mengetahui perkiraan jenis pondasi dari masing-masing tingkatan kestabilan pondasi.Masukan1) Peta Kestabilan Lereng,2) Peta Geologi,3) Peta Geologi Permukaan,4) Karakteristik Air Tanah Dangkal,5) Penggunaan Lahan yang ada saat ini.44
  65. 65. Keluaran1) Peta SKL Kestabilan Pondasi,2) Deskripsi masing-masing tingkatan kestabilan pondasi, yang memuat juga perkiraan jenis pondasi untuk masing-masing tingkatan kestabilan pondasi.Contoh Peta Satuan Kemampuan Lahan Kestabilan Pondasi lebih jelasnya dapatdilihat pada Gambar 2.16.Langkah-langkah1) Pisahkan daerah-daerah yang berlereng tidak stabil, karena daerah ini merupakan juga daerah yang memiliki kestabilan pondasi rendah.2) Perhatikan kondisi geologi yang akan memperlemah daya dukung tanah, seperti: struktur geologi, dan bantuan yang mempunyai daya dukung lemah (gambut, batu gamping, dan lain-lain).3) Kaitkan dengan kondisi geologi permukaan, yang memperlihatkan sifat fisik dan nilai konus/daya dukung masing-masing jenis tanah.4) Perhatikan karakteristik air tanah dangkal, terutama kedalaman muka air tanah, dan pengaruh penyusupan air laut (terjadi salinasi).5) Perhatikan penggunaan lahan yang ada saat ini, apakah ada yang bersifat memperlemah daya dukung tanah, seperti penggalian bahan galian C yang tidak beraturan.Hal-hal yang perlu diperhatikan1) Penentuan lokasi pemboran dan sondir yang tepat akan membantu ketelitian analisis kestabilan pondasi ini.2) Bangunan berat/tinggi yang sudah ada di salah satu tempat bukan merupakan indikasi daerah tersebut mempunyai kestabilan pondasi tinggi. 45
  66. 66. 46 Gambar 2.16 Contoh peta SKL kestabilan pondasi
  67. 67. 2.3.5 Satuan kemampuan lahan (SKL) ketersediaan airLingkup pekerjaanMelakukan analisis untuk mengetahui tingkat ketersediaan air gunapengembangan kawasan, dan kemampuan penyediaan air masing-masingtingkatan.Sasaran1) Mengetahui kapasitas air untuk pengembangan kawasan,2) Mengetahui sumber-sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan pengembangan kawasan, dengan tidak mengganggu keseimbangan tata air,3) Memperoleh gambaran penyediaan air untuk tiap tingkatan ketersediaan air, dan pengolahan secara umum untuk air dengan mutu kurang memenuhi persyaratan kesehatan.Masukan1) Data Hidrologi dan Data Klimatologi,2) Peta Morfologi,3) Peta Kemiringan Lereng,4) Peta Geologi dan Peta Geologi Permukaan,5) Penggunaan Lahan yang ada saat ini. 47
  68. 68. Keluaran1) Peta SKL Ketersediaan Air.2) Deskripsi masing-masing tingkatan kemampuan ketersediaan air.3) Perkiraan kapasitas air permukaan dan air tanah.4) Metode pengolahan sederhana untuk air yang mutunya tidak memenuhi persyaratan kesehatan.5) Sumber-sumber air yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber air bersih.Contoh Peta Satuan Kemampuan Lahan kestabilan air lebih jelasnya dapat dilihatpada Gambar 2.17.Langkah-langkah1) Tentukan tingkatan ketersediaan air berdasarkan data hidrologi.2) Pertajam analisis tersebut dengan melihat kondisi geologi serta geologi permukaan.3) Hitung kapasitas air berdasarkan data klimatologi dan morfologi, kemiringan lereng, dengan memperhatikan juga tingkat peresapan berdasarkan kondisi geologi, geologi permukaan, serta penggunaan lahan yang ada saat ini.4) Perhatikan pemanfaatan air yang ada saat ini sehingga kapasitas air hasil perhitungan pada butir 3 dapat diperluas lagi.5) Uraikan kendala dan potensi masing-masing tingkatan kemampuan ketersediaan air.Hal-hal yang perlu diperhatikan1) Hati-hati dalam merekomendasikan air tanah dalam atau artesis, karena tanah artesis ini pengisiannya lambat dan daerah peresapannya perlu pengaman. Eksploitasi air tanah dalam yang melebihi kapasitasnya akan menimbulkan berbagai permasalahan, seperti amblesan di permukaan, dan penyusupan air laut pada daerah pantai.2) Data curah hujan yang digunakan dalam penghitungan ketersediaan air adalah data curah hujan minimal rata-rata (10 tahunan), karena penghitungan ini didasarkan pada ketersediaan air minimal, sehingga pada musim kering pun masih bisa disediakan air sebesar yang diperhitungkan tersebut.48
  69. 69. Gambar 2.17 Contoh peta SKL kemampuan lahan tata air tata air49
  70. 70. 3) Untuk air tanah yang mutunya kurang atau tidak memenuhi persyaratan, digolongkan dalam kemampuan yang rendah, dan tidak diperhitungkan dalam perhitungan kapasitas air. Dalam kasus air yang tersedia hanya dengan mutu demikian, maka analisis harus dilengkapi dengan pengolahan air secara sederhana untuk dapat digunakan langsung oleh penduduk.4) Kondisi geologi yang perlu diperhatikan juga adalah kemungkinan adanya gejala mineralisasi baik di tempat maupun di bagian hulu, karena proses tersebut akan menimbulkan pengayaan unsur kimia tertentu yang bersifat beracun seperti Sulfur, Arsen, dan lainnya.5) Penggunaan lahan yang ada saat ini yang kemungkinan bersifat mencemari air seperti: industri, pembuangan sampah, dan lainnya perlu diperhatikan dalam merekomendasikan ketersediaan air tanah ini.2.3.6 Satuan kemampuan lahan (SKL) untuk drainaseLingkup pekerjaanMelakukan analisis untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan dalammematuskan air hujan secara alami, sehingga kemungkinan genangan baikbersifat lokal ataupun meluas dapat dihindari.Sasaran1) Mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam proses pematusan.50
  71. 71. 2) Memperoleh gambaran karakteristik drainase alamiah masing-masing tingkatan kemampuan drainase.3) Mengetahui daerah-daerah yang cenderung tergenang di musim penghujan.Masukan1) Peta Morfologi,2) Peta Kemiringan Lereng,3) Peta Topografi,4) Peta Geologi,5) Peta Geologi Permukaan,6) Data Hidrologi dan Klimatologi,7) Penggunaan Lahan yang ada saat ini.Keluaran1) Peta SKL Drainase.2) Deskripsi masing-masing tingkatan kemampuan drainase.Contoh Peta Satuan Kemampuan Lahan Drainase lebih jelasnya dapat dilihatpada Gambar 2.18.Langkah-langkah1) Tentukan tingkat kemudahan pematusan berdasarkan peta morfologi, kemiringan lereng, dan topografi.2) Pertajam penentuan pada butir 1 dengan melihat kemampuan batuan/ tanah dalam menyerap air guna mempercepat proses pematusan berdasarkan kondisi geologi dan geologi permukaan.3) Perhatikan kondisi hidrologi yang berpengaruh dalam proses pematusan ini seperti: kedalaman muka air tanah, pola aliran sungai, dan lainnya.4) Kaitkan juga analisis kemampuan drainase ini dengan kondisi klimatologi setempat.5) Perhitungkan juga penggunaan lahan yang berpengaruh pada proses pematusan, seperti pengupasan bukit, kepadatan bangunan yang tinggi, penggalian bahan galian Golongan C yang tidak tersistem, dan lainnya.6) Deskripsikan masing-masing tingkatan kemampuan drainase setelah memperhatikan semua hal tersebut di atas. 51
  72. 72. 52 Gambar 2.18 Contoh peta SKL drainase
  73. 73. Hal-hal yang perlu diperhatikan1) Pengaruh kondisi hidrologi penting sekali diperhitungkan, terutama mengenai pola aliran dan karakteristik sungai, dan kedalaman muka air tanah.2) Tingkat kemampuan drainase yang ditekankan di sini adalah proses pematusan alamiah, bukan dalam pengertian jaringan drainase.2.3.7 Satuan kemampuan lahan (SKL) terhadap erosiSasaran1) Mengetahui tingkat keterkikisan tanah di wilayah dan/atau kawasan perencanaan.2) Mengetahui tingkat ketahanan lahan terhadap erosi.3) Memperoleh gambaran batasan pada masing-masing tingkatan kemampuan terhadap erosi.4) Mengetahui daerah yang peka terhadap erosi dan perkiraan arah pengendapan hasil erosi tersebut pada bagian hilirnya. 53
  74. 74. Masukan1) Peta Permukaan,2) Peta Geologi,3) Peta Morfologi,4) Peta Kemiringan Lereng,5) Data Hidrologi dan Klimatologi,6) Penggunaan Lahan yang ada saat ini.Keluaran1) Peta SKL Terhadap Erosi.2) Deskripsi masing-masing tingkatan kemampuan lahan terhadap erosi tersebut.Contoh Peta Satuan Kemampuan Lahan Terhadap Erosi lebih jelasnya dapatdilihat pada Gambar 2.19.Langkah-langkah1) Tentukan tingkat keterkikisan berdasarkan peta geologi permukaan, peta geologi, peta morfologi, dan peta kemiringan lereng.2) Pertajam batasan tersebut dengan memperhatikan kondisi hidrologi dan klimatologi seperti: pola aliran dan karakteristik sungai, debit sungai, curah hujan, kecepatan dan arah angin.3) Perhatikan juga penggunaan lahan yang mempengaruhi aktivitas erosi tersebut seperti: pengupasan lahan terutama pada perbukitan, penggalian bahan galian Golongan C yang tidak tersistem, dan lainnya.4) Tentukan tingkat ketahanan terhadap pengikisan ini setelah diperoleh tingkat keterkikisan di atas.Hal-hal yang perlu diperhatikan1) Peta geologi permukaan yang memuat juga sifat fisik tanah/batu merupakan penentu untuk SKL Terhadap Erosi ini, oleh karenanya diperlukan sekali ketelitian data ini.2) SKL Terhadap Erosi ini seringkali berlawanan dengan SKL Untuk Drainase, namun demikian tidak berarti berlaku umum dengan menganggap SKL54
  75. 75. Gambar 2.19 Contoh peta SKL terhadap erosi55
  76. 76. Terhadap Erosi ini adalah kebalikan dari SKL Untuk Drainase, dan tidak berarti pula pada waktu di-superimpose-kan akan saling menghilangkan, karena kedua SKL ini berbeda bobotnya dalam suatu wilayah dan/atau kawasan.2.3.8 Satuan kemampuan lahan (SKL) pembuangan limbahLingkup pekerjaanMelakukan analisis untuk mengetahui daerah-daerah yang mampu untukditempati sebagai lokasi penampungan akhir dan pengolahan limbah, baik limbahpadat maupun limbah cair.Sasaran1) Mengetahui daerah-daerah yang mampu untuk ditempati sebagai lokasi penampungan akhir dan pengolahan limbah padat atau sampah.2) Mengetahui daerah yang mampu untuk ditempati lokasi penampungan akhir dan pengolahan limbah cair.3) Mempersiapkan daerah-daerah tersebut dan pengamanannya sebagai lokasi pembuangan akhir limbah.56
  77. 77. Masukan1) Peta Morfologi, Kemiringan Lereng dan Topografi,2) Peta Geologi dan Geologi Permukaan,3) Data Hidrologi dan Klimatologi,4) Penggunaan Lahan yang ada saat ini.Keluaran1) Peta SKL Pembuangan Limbah, contoh Peta SKL Pembuangan Limbah dapat dilihat pada Gambar 2.20.2) Perkiraan prioritas lokasi pembuangan sampah dan daya tampung lokasi.Langkah-langkah1) Menentukan daerah yang mampu sebagai tempat pembuangan akhir sampah berdasarkan morfologi, kemiringan lereng, dan topografinya.2) Mempertajam batasan daerah yang relatif kedap air berdasarkan kondisi geologi dan geologi permukaan.3) Memperhatikan kondisi hidrologi dan klimatologi, yakni: curah hujan, pola aliran air baik permukaan maupun air tanah, dan kedalaman muka air tanah dangkal.4) Memperhalus analisis kemampuan pembuangan limbah ini dengan mempertimbangkan kondisi penggunaan lahan yang ada saat ini, yakni jarak pencapaian, jenis penggunaan lahan di sekitar daerah yang diusulkan, dan kemungkinan jenis limbah yang akan dihasilkan.Hal-hal yang perlu diperhatikan1) Peresapan dan pengaliran air yang melalui penampungan tersebut hendaknya benar-benar diperhitungkan dalam analisis, dikaitkan dengan pemanfaatan air tersebut pada daerah hilirnya. Hal ini tentunya memerlukan ketajaman analisis menurut kondisi hidrologi dan geologinya.2) Jenis limbah yang akan ditempatkan juga harus diperhitungkan untuk menghindari bahan berbahaya dan beracun (B3), karena jenis limbah ini memerlukan lokasi pembuangan khusus.3) Penggunaan lahan yang ada saat ini, terutama permukiman dan prasarana kota lainnya hendaknya jauh dari daerah yang diusulkan, mengingat berbagai kesulitan yang mungkin timbul akibat penampungan tersebut. 57
  78. 78. 58 Gambar 2.20 limbah Contoh peta SKL pembuangan limbah
  79. 79. 2.3.9 Satuan kemampuan lahan (SKL) terhadap bencana alamLingkup pekerjaanMelakukan analisis untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam menerimabencana alam khususnya dari sisi geologi, untuk menghindari/mengurangikerugian dan korban akibat bencana tersebut.Sasaran1) Mengetahui tingkat kemampuan wilayah perencanaan terhadap berbagai jenis bencana alam beraspekkan geologi.2) Mengetahui daerah-daerah yang rawan bencana alam dan mempunyai kecenderungan untuk terkena bencana alam, termasuk bahaya ikutan dari bencana tersebut.3) Mengetahui pola pengembangan dan pengamanan masing-masing tingkat kemampuan lahan terhadap bencana alam.Masukan1) Data Bencana Alam,2) Peta Topografi, Morfologi, dan Kemiringan Lereng,3) Peta Geologi dan Geologi Permukaan, 59
  80. 80. 4) Data Hidrologi dan Klimatologi,5) Penggunaan Lahan yang ada saat ini.Keluaran1) Peta SKL terhadap bencana alam. Contoh Peta SKL terhadap Bencana Alam dapat dilihat pada Gambar 2.21.2) Deskripsi masing-masing tingkatan kemampuan lahan terhadap bencana alam tersebut.3) Batasan pengembangan pada masing-masing tingkat kemampuan terhadap bencana alam tersebut.Langkah-langkah1) Menentukan tingkat kemampuan lahan terhadap bencana alam berdasarkan data bencana alam.2) Mempertajam penentuan di atas dengan memperhitungkan kecenderungan untuk terkena bencana berdasarkan peta topografi, morfologi, kemiringan lereng, kondisi geologi, geologi permukaan dan data hidrologi serta klimatologi.3) Menganalisis penggunaan lahan yang ada saat ini yang memperbesar kemungkinan terkena bencana alam, seperti penggalian sumber mineral atau bahan galian golongan C, peningkatan aktivitas perkotaan pada daerah-daerah rawan bencana, pengupasan hutan/bukit, gangguan pada keseimbangan tata air baik air permukaan maupun tanah.4) Menentukan batasan pengembangan pada masing-masing tingkat kemampuan lahan terhadap bencana alam tersebut, yang merupakan deskripsi lengkap setiap tingkatan.Hal-hal yang perlu diperhatikan1) Setiap gejala bencana alam hendaknya diperhitungkan dalam analisis, karena data ini merupakan indikasi kehadiran bencana alam tersebut.2) Kehati-hatian dalam melakukan analisis ini, karena akibat bencana yang muncul sangat merugikan. Oleh karenanya ketelitian data sangat diperlukan.3) Kemungkinan suatu jenis bencana alam beraspekkan geologi, hendaknya diperkirakan juga kemungkinan bencana ikutannya seperti kemungkinan longsoran akibat guncangan gempa.60
  81. 81. Gambar 2.21 Contoh peta bencana alam61
  82. 82. 2.3.10 Analisis kemampuan lahanMelakukan analisis untuk memperoleh gambaran tingkat kemampuan lahan untukdikembangkan sebagai perkotaan, sebagai acuan bagi arahan-arahankesesuaian lahan pada tahap analisis berikutnya.Sasaran1) Mendapatkan klasifikasi kemampuan lahan untuk dikembangkan sesuai fungsi kawasan.2) Memperoleh gambaran potensi dan kendala masing-masing kelas kemampuan lahan.3) Sebagai dasar penentuan: arahan-arahan kesesuaian lahan pada tahap analisis berikutnya dan rekomendasi akhir kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan.MasukanSemua data yang dimintakan pada tahap pengumpulan data, kecuali datakebijaksanaan yang sudah ada.62
  83. 83. Keluaran1) Peta klasifikasi kemampuan lahan untuk pengembangan kawasan.2) Kelas-kelas atau tingkatan kemampuan lahan untuk dikembangkan sesuai dengan fungsi kawasan.3) Uraian potensi dan kendala fisik masing-masing kelas kemampuan lahan.Contoh Peta Nilai Kemampuan Lahan dan Peta Arahan Kesesuaian Lahan dapatdilihat pada Gambar 2.22 dan Gambar 2.23.Langkah-langkah1) Melakukan analisis satuan-satuan kemampuan lahan, untuk memperoleh gambaran tingkat kemampuan pada masing-masing satuan kemampuan lahan.2) Tentukan nilai kemampuan setiap tingkatan pada masing-masing satuan kemampuan lahan, dengan penilaian 5 (lima) untuk nilai tertinggi dan 1 (satu) untuk nilai terendah.3) Kalikan nilai-nilai tersebut dengan bobot dari masing-masing satuan kemampuan lahan. Bobot ini didasarkan pada seberapa jauh pengaruh satuan kemampuan lahan tersebut pada pengembangan perkotaan. Bobot yang digunakan hingga saat ini adalah seperti terlihat pada Tabel 2.10.4) Superimpose-kan semua satuan-satuan kemampuan lahan tersebut, dengan cara menjumlahkan hasil perkalian nilai kali bobot dari seluruh satuan-satuan kemampuan lahan dalam satu peta, sehingga diperoleh kisaran nilai yang menunjukkan nilai kemampuan lahan di wilayah dan/ atau kawasan perencanaan. 63
  84. 84. 64 Gambar 2.22 Contoh peta nilai kemampuan lahan
  85. 85. Gambar 2.23 Contoh peta klasifikasi kemampuan lahan kemampuan lahan65
  86. 86. Tabel 2.10 Pembobotan satuan kemampuan lahan No. Satuan Kemampuan Lahan Bobot 1. SKL Morfologi 5 2. SKL Kemudahan Dikerjakan 1 3. SKL Kestabilan Lereng 5 4. SKL Kestabilan Pondasi 3 5. SKL Ketersediaan Air 5 6. SKL Terhadap Erosi 3 7. SKL Untuk Drainase 5 8. SKL Pembuangan Limbah 0 9. SKL Terhadap Bencana Alam 55) Tentukan selang nilai yang akan digunakan sebagai pembagi kelas-kelas kemampuan lahan, sehingga diperoleh zona-zona kemampuan lahan dengan nilai …… - …… yang menunjukkan tingkatan kemampuan lahan di wilayah ini, dan digambarkan dalam satu peta klasifikasi kemampuan lahan untuk perencanaan tata ruang. Pembuatan peta nilai kemampuan lahan ini yang merupakan penjumlahan nilai dikalikan bobot ini ada dua cara, yakni: a. Men-superimpose-kan setiap satuan kemampuan lahan yang telah diperoleh hasil pengalian nilai dengan bobotnya secara satu persatu, sehingga kemudian diperoleh peta jumlah nilai dikalikan bobot seluruh satuan secara kumulatif. b. Membagi peta masing-masing satuan kemampuan lahan dalam sistem grid, kemudian memasukkan nilai dikalikan bobot masing-masing satuan kemampuan lahan ke dalam grid tersebut. Penjumlahan nilai dikalikan bobot secara keseluruhan adalah tetap dengan menggunakan grid, yakni menjumlahkan hasil nilai dikalikan bobot seluruh satuan kemampuan lahan pada setiap grid yang sama.66
  87. 87. Hal-hal yang perlu diperhatikan1) Penentuan klasifikasi kemampuan lahan tidak mutlak berdasarkan selang nilai, tetapi memperhatikan juga nilai terendah = 1 dari beberapa satuan kemampuan lahan, yang merupakan nilai penentu apakah selang nilai tersebut berlaku atau tidak. Dengan demikian apabila ada daerah atau zona tertentu yang mempunyai selang nilai cukup tinggi, tetapi karena mempunyai nilai terendah dan menentukan, maka mungkin saja kelas kemampuan lahannya tidak sama dengan daerah lain yang memiliki nilai kemampuan lahan yang sama. Sebagai contoh, daerah yang secara kumulatif nilainya cukup tinggi atau sedang, namun berada pada daerah rawan longsor, tentunya kelas kemampuan lahannya tidak sama dengan daerah lain yang relatif aman, walaupun nilai kemampuan lahannya sama. Hal ini mungkin saja terjadi mengingat penjumlahan secara matematis akan menyebabkan ada faktor- faktor yang mengakibatkan jumlah akhir menjadi tinggi.2) Klasifikasi kemampuan lahan yang dihasilkan di sini adalah hanya berdasarkan kondisi fisik apa adanya, belum mempertimbangan hal-hal yang bersifat non-fisik. 67
  88. 88. 2.4 Analisis kesesuaian lahan2.4.1 Arahan tata ruang pertanianMenggunakan data:ATLAS Arahan Tata Ruang Pertanian Indonesia Skala 1:1.000.000 olehDepartemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, PusatPenelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2001.Sedangkan contoh peta arahan tata ruang pertanian dapat dilihat pada Gambar2.24.68
  89. 89. Gambar 2.24 Contoh peta arahan kesesuaian lahan pertanian69
  90. 90. 2.4.2 Arahan rasio tutupanLingkup pekerjaanMelakukan analisis untuk mengetahui gambaran perbandingan daerah yang bisatertutup oleh bangunan bersifat kedap air dengan luas lahan keseluruhan.Sasaran1) Mengetahui perbandingan daerah yang boleh dibangun dengan luas lahan keseluruhan.2) Memperoleh tingkatan rasio tutupan lahan sesuai dengan kendala fisik masing-masing tingkatan.3) Memperoleh gambaran arahan dan luas daerah pengembangan sesuai dengan arahan rasio tutupan lahan.Masukan1) Klasifikasi Kemampuan Lahan,2) SKL Untuk Drainase,3) SKL Kestabilan Lereng,4) SKL Terhadap Erosi,5) SKL Terhadap Bencana Alam.70

×