Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Sejarah hadits

2,137 views

Published on

sejarah hadits

Published in: Education
  • Be the first to comment

Sejarah hadits

  1. 1. 1 HADITS PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW, DAN PADA MASA SAHABAT I. PENDAHULUAN Islam mengenal dua sumber primer dalam perundang-undangan. Pertama, Al- Qur’an dan kedua al-Hadits. Terdapat perbedaan yang signifikan pada sistem inventarisasi sumber tersebut. Al-Qur’an sejak awal diturunkan sudah ada perintah pembukuannya secara resmi, sehingga terpelihara dari kemungkinan pemalsuan. Berbeda dengan hadits, tak ada perlakuan khusus yang baku padanya, sehingga pemeliharaannya lebih merupakan spontanitas dan inisiatif para sahabat. Periode pertama sejarah pertumbuhan dan perkembangan hadits terjadi pada masa Rasul SAW Para sahabat hidup bersama Rasul SAW mereka dapat berinteraksi secara langsung, melihat, mendengar ataupun menyaksikan segala gerak-gerik yang dilakukan, diucapkan, bahkan taqrirnya Rasul SAW. Keberadaan sahabat memiliki peranan penting dalam proses yang berkesinambungan, mereka seperti jembatan menuju perubahan dan peradaban. Mereka adalah generasi pertama yang mengukir sejarah yang telah berjalan ribuan tahun dan mereka adalah lulusan terbaik dari madrasah yang diasuh Rasul SAW Dalam menerima, menyampaikan, memelihara, sampai menyebarkan Alquran dan hadits. Para sahabat menggunakan kehati-hatian di tingkat level tertinggi. Para sahabat memiliki dasar pijakan dalam mengambil keputusan terutama dalam masalah menuliskan hadits, walaupun secara pribadi mereka memiliki catatan sendiri terhadap hadits-hadits yang mereka terima dari Rasul SAW Tidak diragukan lagi bahwa hadits bagi umat Islam merupakan pedoman hidup pertama setelah al-Qur’an. Hadits haruslah dijadikan sebagai tuntunan hidup dalam bertingkah laku dan bersikap, disampingal-Qur’an, baik sebagai pribadi, anggota masyarakat dan Negara,maupun sebagai anggota tatanan hidup dialam semesta ini.1 Artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah (QS.al-Hasyr(59) :7) 1 Noor Achmad, Metode Takhrij Hadits: Cara Mudah Meneliti Hadits, (Kudus: Maseifa Jendela Ilmu 2010) ,h.105
  2. 2. 2 Semua ulama dalam Islam sepakat akan pentingnya peranan Hadits dalam berbagai disiplin Ilmu dan menjadi rujukan kedua setelah Al-Qur’an. Untuk memahami Hadits dengan baik kita perlu mengetahui Sejarah pertumbuhan dan perkembangan Hadits agar kita dapat memahami sejauh mana pertumbuhan dan perkembangannya dari masa ke masa. Diantara ulama tidak seragam dalam menyusun periodesasi pertumbuhandan perkembangan hadits. Ada yang membaginya pada tiga periode saja, yaitumasa rasulullah SAW Sahabat dan Tabi’in, masa pentadwinan dan masa setelah tadwin.2 Sedangkan menurut Prof. Dr. T. M Hasbi ash Shiddieqy, dalam bukunya Sejarah dan Pengantar Ilmu hadits, bahwa apabila kita pelajari dengan seksama suasana dan keadaan yang telah dilalui hadist sejak dari zaman tumbuhnya hingga dewasa ini, dapatlah kita menarik sebuah garis, bahwa hadits Rasul sebagai dasar Tasyri’ yang kedua telah melalui enam masa dan sekarang sedang menempuh periode ketujuh.3 Sejarah dan Periodisasi penghimpunan Hadis mengalami masa yang lebih panjang dibandingkan dengan dialami oleh Al-Quran, yang hanya memerlukan waktu relatife pendek, yaitu sekitar 15 tahun saja. Penghimpunan dan pengkodifikasian Hadis memerlukan waktu sekitar tiga abad.Yang dimaksud dengan Periodisasi penghimpunan Hadis disini adalah fase-fase yang telah ditempuh dan dialami dalam sejarah pembinaan dan perkembangan Hadis, sejak Rasulullah SAW masih hidup sampai terwujudnya kitab-kitab yang dapat disaksikan dewasa ini. Para Ulama dan ahli Hadis, secara bervariasi membagi periodisasi penghimpunan dan pengkodifikasian Hadis tersebut berdasarkan perbedaan pengelompokan data sejarah yang mereka miliki serta tujuan yang hendak mereka capai. Penyusunan kitab Hadis atau penulisan Hadis di dalam sebuah kitab belum terjadi pada masa Rasul SAW dan demikian juga belum ada pada masa Sahabat. Pada masa Rasul SAW memang ada riwayat yang berasal dari Rasul SAW yang membolehkan untuk menuliskan Hadis, namun penulisan Hadis pada masa Rasul masih dilakukan oleh orang perorang yang sifatnya pribadi dan tertentu pada orang-orang yang membutuhkan menuliskannya atau diizinkan oleh Rasul untuk menuliskannya. Penulisan Hadis pada masa Rasul SAW dan demikian juga pada masa Sahabat belumlah bersifat resmi. Para Sahabat di masa pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidin, pada umumnya, menahan diri dari melakukan penulisan Hadis. Hal tersebut di antaranya 2 Munzier Supartam Ilmu Hadits,(Cet..3 : Jakarta, PT. Raja grafindo Persada, 2002) h.702M. 3 Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Cet 6 : Jakarta, Bulan Bintang, 1980), h. 46
  3. 3. 3 karena adanya larangan Rasul SAW dari menuliskan Hadis-hadis beliau. Namun demikian, di samping adanya larangan, di sisi lain Rasul SAW juga memberi peluang kepada para Sahabat untuk menuliskan Hadis-hadis beliau. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kontroversi dalam hal penulisan Hadis antara adanya larangan dan kebolehan dalam menuliskan Hadis. Apabila kita menggunakan kata sejarah, kita secara naluri berfikir masa lampau, ini adalah sebuah kekeliruan. Sebab sejarah sebenarnya adalah sebuah jembatan yang menghubungkan masa lampau dan masa kini dan sekaligus menunjukan arah masa depan. Hadist adalah Segala ucapan perbuatan dan perilaku Rasulullah SAW ,4 yang merupakan salah satu pedoman hidup umat islam dimana kedudukan hadits disini adalah sebagai sumber hukum islam yang ke-2 setelah al-Quran. Didalam ilmu hadits pun terdapat pula sejarah dan perkembangan hadits pada masa prakodifikasi. Mudah- mudahan dengan mengetahui sejarah prakodifikasi hadits kita menjadi bijak dan arif dalam menghadapi zaman yang serba instan dan bisa membawa misi islam Rahmatan lil’alamin. Dari beberapa masa perkembangan hadis yang dikemukakan banyak ulama tersebut penulis akan mencoba membahas pada dua masa saja yaitu pada perkembangan hadis pada masa Rasulullah SAW dan pada masa sahabat, semoga tulisan ini dapat memberikan pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana keradaan hadis pada masa Rasulullah SAW. II. PEMBAHASAN A. HADIS PADA MASA RASULULLAH SAW Nabi Muhammad SAW menjadi pusat perhatian parasahabat Apa pun yang didatangkan oleh Nabi Muhammad SAW baik berupa ucapan, perbuatan maupun ketetapan merupakan referensi yang dibuat pedoman dalam kehidupan para sahabat.5 Setiap sahabat mempunyai kedudukan tersendiri dihadapan rasulullah. Adakalanya yang disebut dengan “al-sabiqun al-awwalun” yakni para sahabat yang pertama-tama masuk Islam, seperti Khulafaurrasyidin dan Abdullah Ibnu Mas’ud. Ada juga sahabat yang sungguh- sungguh menghafal hadis rasul, 4 A. Qadir Hasan, Ilmu Musthalah Hadits, Bandung: Dipenegoro, 2007. hlm. 17. 5 Prof.Dr.Muhaimin,MA, Dr.AbdulMujib,M.Ag, Dr.Jusuf Mudzakkir,M.Si, Kawasandan wawasan studi Islam (Cet 1 : Jakarta, Kencana, 2005) h. 147
  4. 4. 4 misalnya Abu Hurairah. Dan ada juga sahabat yang usianya lebih panjang darisahabat lain, sehingga mereka lebih banyak menghafalkan Hadits, seperi Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas. Demikian juga ada sahabat yang mempunyai hubungan erat dengan Nabi SAW, seperti Aisyah, Ummu Salamah dan Khulafaurrasyidin. Semakin erat dan lama bergaul semakin banyak pula Hadits yang diriwayatkan dan validitasnya tidak diragukan.6 Namun demikian sahabat juga adalah manusia biasa, harus mengurus rumah tangga, bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, maka tidak setiap kali lahir sebuah hadis disaksikan langsung oleh seluruh sahabat. Sehingga sebagian sahabat menerima hadits dari sahabat lain yang mendengar langsung ucapan Nabi atau melihat langsung tindakannya. Apalagi sahabat yang berdomisili didaerah yang jauh dari Madinah seringkali hanya memperoleh hadits dari sesama sahabat.7 Rasul membina umatnya selama 23 tahun. Masa ini merupakan kurun waktu turunnya wahyu dan sekaligus diwurudkannya hadist. Keadaan ini sangat menuntut keseriusan dan kehati-hatian para sahabat sebagai pewaris pertama ajaran islam. Untuk lebih memahami kondisi/ keadaan hadist pada zaman Nabi SAW berikut ini penulis akan diuraikan beberapa hal yang berkaitan: 1. Cara Rasulullah menyampaikan hadist Rasulullah dan para sahabat hidup bersama tanpa penghalang apapun, mereka selalu berkumpul untuk belajar kepada Nabi Saw. di masjid, pasar, rumah,dalam perjalanan dan di majelis ta’lim. Ucapan dan perilaku beliau selalu direkam dan dijadikan uswah (suri tauladan) bagi para sahabat dalam urusan agama dan dunia.8 Selain para sahabat yang tidak berkumpul dalam majelis Nabi Saw. untuk memperoleh patuah-patuah Rasulullah, karena tempat tingal mereka berjauhan, ada di kota dan di desa begitu juga profesi mereka berbeda, sebagai pedagang, buruh dll. Kecuali mereka berkumpul bersama Nabi Saw. pada saat-saat tertentu seperti hari jumat dan hari raya. Cara rasulullah menyampaikan tausiahnya kepada sahabat kemudian sahabat menyampaikan tausiah tersebut kepada sahabat lain yang tidak bisa hadir (ikhadz).9 6 Ibid hal. 1484 7 Muh.Zuhri, Hadits Nabi Telaah Historis dan Metodelogis, (Cet 11, Yogyakarta: Tiara wacana Yogya, 2003) h. 29 8 Mushtafaal-Suba’i. Assunnah. Kairo: Dar-Assalam. 2003. Hlm. 66. 9 Ibid.
  5. 5. 5 2. Keadaan para sahabat dalam menerima dan menguasai hadist Kebiasaan para sahabat dalam menerima hadits bertanya langsung kepada Nabi Saw. dalam problematika yang dihadapi oleh mereka, Seperti masalah hukum syara’ dan teologi. Diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam kitabnya dari ‘Uqbah bin al-Harits tentang masalah pernikahan satu saudara karena radla’ (sepersusuan). Tapi perlu diketahui, tidak selamanya para sahabat bertanya langsung. Apa bila masalah biologis dan rumah tangga, mereka bertanya kepada istri-istri beliau melalui utusan istri mereka, seperti masalah suami mencium istrinya dalam keadaan puasa.10 Telah kita ketahui, bahwa kebanyakan sahabat untuk menguasai hadist Nabi Saw., melalui hafalan tidak melalui tulisan, karena difokuskan untuk mengumpulkan al-Quran dan dikhawatirkan apabila hadist ditulis maka timbul kesamaran dengan al-Quran.11 3. Larangan menulis hadis dimasa nabi Muhammad SAW Hadis pada zaman nabi Muhammad saw belum ditulis secara umum sebagaimana al-Quran. Hal ini disebabkan oleh dua faktor : 1. para sahabat mengandalkan kekuatan hafalan dan kecerdasan otaknya, disamping alat-alat tulis masih kuarang. 2. karena adanya larangan menulis hadis nabi. Abu sa’id al-khudri berkata bahwa rosululloh saw bersabda: ‫فليمحه‬ ‫ُا‬‫ي‬‫ش‬ ‫كتب‬ ‫ومن‬ ‫القران‬ ‫اال‬ ‫ٌا‬‫ي‬‫ش‬ ‫عني‬ ‫تكتبوا‬ ‫ال‬ Artinya: Janganlah menulis sesuatu dariku selain al-Qua’an, dan barang siapa yang menulis dariku hendaklah ia menghapusnya. ( H.R Muslim ) Larangan tersebut disebabkan karena adanya kekawatiran bercampur aduknya hadis dengan al-Qur’an, atau mereka bisa melalaikan al-Qua’an, atau larangan khusus bagi orang yang dipercaya hafalannya. Tetapi bagi orang yang tidak lagi dikawatirkan, seperti yang pandai baca tulis, atau mereka kawatir akan lupa, maka penulisan hadis bagi sahabat tertentu diperbolehkan. 10 Ibid.hlm. 67. 11 Mana’ al-Qathan. Tarikh al-Tasyri’ al-Islami. Kairo: Maktabah Wahbah. 1989. hlm. 106
  6. 6. 6 4. Aktifitas menulis hadist Bahwasanya sebagian sahabat telah menulis hadist pada masa Rasulullah, ada yang mendapatkan izin khusus dari Nabi Saw.,hanya saja kebanyakan dari mereka yang senang dan kompeten menulis hadist menjelang akhir kehidupan Rasulullah.12 Keadaan Sunnah pada masa Nabi SAW belum ditulis (dibukukan) secara resmi, walaupun ada beberapa sahabat yang menulisnya. Hal ini dikarenakan ada larangan penulisan hadist dari Nabi Saw. penulis akan mengutip satu hadist hadist yang lebih shahih dari hadist tentang larangan menulis. Rasulullah Saw. bersabda: ‫فليمحه‬ ‫ان‬ ‫القر‬ ‫غير‬ ‫شيئا‬ ّ‫ى‬‫عن‬ ‫كتب‬ ‫فمن‬ ‫القران‬ ‫غير‬ ‫شيئا‬ ‫ى‬ّ‫ن‬‫اع‬ ‫التكتبو‬. ” jangan menulis apa-apa selain Al-Qur’an dari saya, barang siapa yang menulis dari saya selain Al-Qur’an hendaklah menghapusnya”.(HR. Muslim dari Abu Sa;id Al-Khudry) Tetapi disamping ada hadist yang melarang penulisan ada juga hadist yang membolehkan penulisan hadist, hadist yang diceritakan oleh Abdullah bin Amr, Nabi Saw. bersabda ‫االالحق‬ ‫منه‬ ‫خرج‬ ‫ما‬ ‫بيده‬ ‫نفسى‬ ‫الذى‬ ‫فو‬ ‫اكتب‬ ” tulislah!, demi Dzat yang diriku didalam kekuasaan-Nya, tidak keluar dariku kecuali yang hak”.(Sunan al-Darimi) Dua hadist diatas tampaknya bertentangan, maka para ulama mengkompromikannya sebagai berikut:  Bahwa larangan menulis hadist itu terjadi pada awal-awal Islam untuk memelihara agar hadist tidak tercampur dengan al-Quran. Tetapi setelah itu jumlah kaum muslimin semakin banyak dan telah banyak yang mengenal Al-Quran, maka hukum larangan menulisnya telah dinaskhkan dengan perintah yang membolehkannya.  Bahwa larangan menulis hadist itu bersifat umum, sedang perizinan menulisnya bersifat khusus bagi orang yang memiliki keahlian tulis menulis. Hingga terjaga dari kekeliruan dalam menulisnya, dan tidak akan dikhawatirkan salah seperti Abdullah bin Amr bin Ash. 12 Ulum al-hadist wa Mushtalahuhu.Beirut: Dar al-Ilmi Li al-malayin. 1997. hlm. 23-30.
  7. 7. 7  Bahwa larangan menulis hadist ditujukan pada orang yang kuat hafalannya dari pada menulis, sedangkan perizinan menulisnya diberikan kepada orang yang tidak kuat hafalannya.13 B. HADIS PADA MASA SAHABAT a. Perkembangan Hadis Ada tiga pengertian Sahabat yaitu : 1. Orang yang pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad saw. dengan beriman Kepadanya dan mati sebagai orang Islam. 2. Orang yang lama menemani Nabi Muhammad saw. dan berulang kali mengadakan pertemuan dengan beliau dalam rangka mengikuti dan mengambil pelajaran dari beliau. 3. Orang Islam yang pernah menemani Nabi Muhammad dan pernah melihat beliau. Dari uraian di atas dapat disederahanakan dan diketahui bahwa sahabat merupakan yang mempunyai unsur bertemu bergaul dan dekat dengan Nabi, beragama Islam, serta meninggal dalam keadaan Islam. Periode Rosul adalah periode ketika Rosul masih hidup yang lazim disebut periode wahyu dan pembentukan tata aturan Islam. Sedangkan pada periode sahabat merupakan periode di mana merupakan periode setelah Rosul wafat hingga munculnya periode setelahnya atau disebut periode tabi’in.14 Di periode sahabat, daerah kekuasaan Islam semakin meluas dan penyiaran hadis sebagai bagian dari penyiaran Islam menyertainya.Setelah wafatnya Nabi saw, Abu Bakar diangkat menjadi khalifah. Komitmen Abu Bakar untuk menegakkan hukum Allah dan sunnah Rasul saw. dibuktikan dengan kebijakannya memerangi kaum munafik. Pada masa ini hal yang sudah muncul dan harus dihadapi oleh umat Islam adalah persoalan orang- orang murtad dan orang-orang yang memalsukan hadis.15 Beliau bersumpah bahwa orang yang tidak mau membayar zakat akan diperanginya karena tindakan itu berseberangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Kepengikutan 13 Muhammad Ajjaj al-Khatib. Al-Sunnah Qabla al-Tadwin. Kairo: Maktabah wahbah. 1998.hlm. 303-309. 14 Muh. Zuhri, Hadis Nabi, Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta, 1997. Hal. 37 15 Ibid hal. 38
  8. 8. 8 sahabat terhadap Sunnah setelah khalifah ini terus berlanjut, misalnya di dalam pemerintah Umar, Usman, dan Ali. Periwayatan hadis pada masa Abu Bakar dan Umar bin Khattab masih terbatas disampaikan kepada yang memerlukan saja, belum bersifat pengajaran resmi. Demikian juga dengan penulisan hadis. Periwayatan hadis begitu sedikit dan lamban. Hal ini disebabkan kecenderungan mereka untuk membatasi atau menyedikitkan riwayat (Taqlil al-Riwâyah), di samping sikap hati-hati dan teliti para sahabat dalam menerima hadis. Abu Bakar sangat hati-hati dalam meriwayatkan hadis, jika terdapat masalah akan dicarikan ketentuannya dalam Alquran maupun hadis, jika tidak ditemukan maka akan dicarikan pengukuhan atau saksi dari para sahabat lain.16 Ali bahkan hanya mau menerima hadis perorangan jika orang tersebut bersedia disumpah karena pada masa itu muncul pemalsuan hadis. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam tidak begitu saja mempermudah urusannya agar tidak terjadi penipuan, kebohongan maupun mendapatkan hadis palsu tersebut. Selain Alquran sebagai sumber pertama hukum Islam, Sunnah Rasulullah saw. menempati urutan kedua. Ketika menjelang wafatnya Rasul saw. beliau bersabda, “Aku meninggalkan bagi kamu dua hal, jika kamu berpegang kepadanya, kamu tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan sunnahku”. Para sahabat berpegang teguh dengan wasiat Rasul saw. tersebut, yang dimaksud dengan berpegang kepada kitab Allah adalah menjadikan Alqur’an sebagai way of life. Ini berarti para sahabat mengamalkan perintah yang terdapat di dalamnya dan menjauhi laranganNya. Berpegang pada Sunnah Nabi saw. berarti mengikuti petunjuk Nabi saw. dan memelihara kemurniannya. Oleh sebab itu, sebagaimana yang akan dijelaskan lebih lanjut, sahabat sangat hati-hati sekali meriwayatkan sunnah Nabi SAW b. Pemeliharaan Hadis Pada Masa Sahabat Dimasa kekhalifahan Khulafaurrasyidin, periwayatan sangat sedikit dan agak lamban, terutama masa Abu Bakar dan Umar. Pada periode ini periwayatkan hadis-hadis dilakukan dengan sangat hati-hati, beliau tidak sembarangan menerima. Menerima hadis sebagaimana yang terjadi pada suatu hari, Abu Musa Al-‘Asyari mendatangi rumah Umar, setibanya di rumah Umar, 16 Ibid hal.37.
  9. 9. 9 beliau memberikan salam sebanyak tiga kali, Umar tidak menjawab sekalipun. Abu Musa pun tidak jadi masuk kerumah Umar. Ketika melihat Abu Musa sudah tidak ada lagi, lalu Umar mengejarnya sampai ketemu dan bertanya pada Abu Musa, kenapa anda berbalik ?, Abu Musa menjawab, bahwa kata Rasulullah barang siapa mengucapkan salam sampai tiga kali tidak dijawab maka tidak dibenarkan masuk ke dalam rumah tersebut. Lalu Umar mengatakan, Saya belum percaya apa yang kamu sampaikan sebelum kamu menghadirkan seorang saksi, yang mau menjadi saksi apa yang kamu sampaikan itu. 17 Terhadap kasus tersebut dapat kita pahami bahwa Umar tidak percaya apa yang disampaikan Abu Musa, bukan apa-apa, beliau menyuruh pada Abu Musa untuk menghadirkan saksi agar tidak sembarangan mengada- ada apa yang disampaikan oleh Nabi. Dan juga Umar Ibnu Khattab adalah termasuk orang yang paling menentang dan tidak suka terhadap orang-orang yang memperbanyak periwayatan hadis.18 Dalam ketelitian meriwayatkan hadis tidak hanya Umar Ibnu Khattab, Abu Bakar, Usman Ibnu Affan pun termasuk sahabat yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadis, bahkan ia pernah mengatakan dalam suatu khotbahnya agar para sahabat tidak banyak meriwayatkan hadis yang mereka tidak mendengar di masa Abu Bakar dan Umar.19 Begitu juga dengan Ali Ibnu Abi Thalib yang tidak dengan mudah menerima hadis dari orang lain. Sejarah mencatat bahwa dimasa Khulafaurrasyidin, khususnya masa Abu Bakar dan Umar, periwayatan hadis sangat sedikit dan lambat. Hal ini disebabkan kecendrungan mereka secara umum untuk menyedikitkan riwayat, disamping sikap ketelitian para sahabat dalam menerima hadis, bertujuan supaya terpelihara dari berbagai kekeliruan c. Masa Penyebarluasan Periwayatan Hadis Para sahabat selalu berusaha agar periwayatan hadis bisa tersebar luas keberbagai pelosok daerah. Hal ini terwujud setelah Rasulullah wafat. Yang nampak sekali terjadi pada masa Usman Ibnu Affan, karena mereka memberikan kelonggaran-kelonggaran kepada para sahabat untuk 17 Muhammad Ajaj Al-Kharib, Assunnah Dablat-Tadwin (Beirut : Dar al-Fikr ,th.1981), h.111-112. 18 Nawir Yuslem, Ulumul Hadist (Jakarta : PT.Mutiara Sumber Widya, 2001), h.113. 19 Ibid, h.114.
  10. 10. 10 menyebarluaskan periwayatan hadis ke daerah-daerah lain yang dimulai dengan penyebaran syiar agama Islam mengikuti pula dengan penyebaran hadis- hadis.20 Sejalan dengan kondisi diatas, dan dengan dalamnya tuntutan untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat yang baru memeluk agama Islam, maka khalifah Usman Ibnu Affan serta Ali Ibnu Abi Thalib, mulai memberikan kelonggaran-kelonggaran kepada sahabat dalam rangka menyebarluaskan periwayatan hadis, sehingga terjadilah penukaran informasi, mereka memberi dan menerima satu sama lain, sehingga terjadilah ikhtisar riwayat Al-hadis peningkatan kualitas periwayatan hadis.21 Diantara beberapa kota yang banyak terdapat para sahabat dan aktifitas periwayatan hadis, antaranya : 1. Madinah. Dikota ini banyak terdapat para sahabat yang mempunyai ilmu agama yang mendalam, terutama bidang hadis diantaranya, Disyar r.a, Abdullah Ibnu Sabid dan banyak sahabat-sahabat lainnya.22 2. Mekkah Dikota ini perkembangan hadis juga mengalami kemajuan hampir sama dengan kota Madinah. Disana ditunjuk Muaz Jabal sebagai guru yang mengajar penduduk setempat tentang halal dan haram. Peranan kota Mekkah dalam hal penyebaran hadis pada masa selanjutnya adalah sangat signifikan terutama pada musim-musim haji, dimana pada waktu itu merupakan sangat tepat. Dimana para sahabat saling bertemu satu sama lainnya, terutama para tabi’in. Waktu itu terjadi penukaran informasi tentang hadis yang kemudian mereka bawa pulang ke daerah masing-masing.23 3. Kuffah dan Basrah Setelah Irak ditaklukkan pada masa Khalifah Umar Ibnu Al- Khattab dikota Kuffah tinggallah sejumlah para sahabat yang terkenal seperti Ali Ibnu Abi Thalib, Sa’ad Zaid Amru Ibnu Nufail dan sahabat- 20 Daniel Djuned, Paradigma Baru Study Ilmu Hadis, (B.Aceh : Citra Karya) h. 16. 21 Ibid, h.23. 22 Subhi As-Shalih, Ulumul Al-Hadis Wamustalah (Beirut : Darul Ilmi Cul Malay) h.121. 23 Nawir Yuslem, Op.Cit., h.17
  11. 11. 11 sahabat yang lain.24 Begitu juga di kota Basrah banyak terdapat sahabat- sahabat, seperti Anas Ibnu Malik yang dikenal sebagai Imam Fi Al-Hadis di Basrah, Abu Musa Al-Asyari, Abdullah Ibnu Abbas dan sahabat-sahabat yang lain. III. PENUTUP Dapat disimpulkan bahwa Sejarah hadist pra kodifikasi terbagi menjadi beberapa bagian, untuk lebih mudah memahaminya, berikut uraiannya. I. Hadist Pada Masa Rasul SAW Dalam masa ini ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan masa itu: 1.Cara rasul menyampaikan hadist, melalui jamaah pada majlis-majlis, ceramah dan pidato di tempat-tempat terbuka seperti pasar, dan lain-lain. 2.Pemeliharaan hadist melalui hafalan dan tulisan. II. Hadist Pada Masa Sahabat Kehati-hatian para sahabat dalam hal pembukuan hadist dan pada masa itu belum ada pembukuan secara resmi, dikarenakan beberapa hal yang diantaranya adalah : 1) Agar tidak memalingkan perhatian umat Islam dalam mempelajari Al-Qur’an. 2) Para sahabat yang banyak menerima hadist dari Rasul SAW sudah tersebar ke berbagai daerah kekuasaan Islam. 3) Soal membukukan hadist, dikalangan sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat. 24 Muhammad Ajaj Al-Khatib, Op.Cit., h.169.
  12. 12. 12 DAFTAR PUSTAKA Noor Achmad, Metode Takhrij Hadits: Cara Mudah Meneliti Hadits, Kudus: Maseifa Jendela Ilmu 2010 Ash-Shiddieqy Hasbi, Sejarah Perkembagan Hadis, Jakarta : Bulan Bintang.tt. Ash-Shiddieqy, M.Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Jakarta : Bulan Bintang, Cet.Kesepuluh, 1991. Al-Hajjaj Al-Naisaburi Muslem, Sahih Muslim,Beirut : Dar Al-Fikr 1414 / 1993, Juz.2. Al-Khatib, M.’Ajjaj. Al-Sunnah Qabla al-Tadwin. Beirut : Dar al-Fikr, 1981. Al-Asqalani, Ibn Hajar. Kitab Al-Isabah Fi Tamyiz al-Shahabah, Beirut : Dar al-Fikr, 1978. Al-Din al-Qasimi, Muhammad Jamal, Qawaid al-Tahdits Min Funun al- Mushthalat al- Hadist. Beirut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, 1979. Djuned Daniel, Paradigma Baru Study Ilmu Hadis, Banda Aceh : Citra Karya, Thn.2002. Ensiklopedi Islam, Dewan Redaksi Jakarta PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Cet. Kesepuluh, 2002. Khudri Bek. Tarikh Tasyai’Al-Islam, Kairo : Dar al-Fikr, 1962. Nata, Abudin. Al-Quran dan Hadist, Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 1996. Ilmu 2010 Utang, Ranuwijaya, Ilmu Hadis, Jakarta : Gaya Media Pratama, Cet.Pertama. Yuslem Nawir, Ulumul Hadist, Jakarta : PT.Mutiara Sumber Widya, 2001.
  13. 13. 13 HADITS PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW DAN PADA MASA SAHABAT Disusun Sebagai Tugas Pada Mata Kuliah : Studi Al-qur’an dan Hadits Dosen Pengampu: Dr. H. Noor Achmad, M.A Disusun oleh: Imam Santoso NIM : A.14.2.1133 SEMESTER I PROGDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG 2015

×