Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
1
DAFTAR ISI
Halaman :
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………….. i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………….. 1
BAB I. PENDAHULUAN
...
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Model Multiple Intelligences merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat
di t...
3
Dari hasil observasi yang telah dilaksanakan di SD Negeri 7 Kendari diperoleh
bahwa hasil belajar IPA Terpadu dari tahun...
4
PKN Siswa Kelas VI SD Negeri 7 Kendari pada Materi Pokok Peraturan Perundang-
undangan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan l...
5
2. Untuk menguji ada tidaknya perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil pretest
siswa kelas eksperimen deng...
6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Belajar
Secara teknis para ahli psikologi dan pendidikan, memberikan batasan belajar...
7
bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Menurut teori ini yang terpent...
8
4. Kecerdasan Kinestetik
5. Kecerdasan Musikal
6. Kecerdasan Interpersonal
7. Kecerdasan Itrapersonal
8. Kecerdasan Natu...
9
adanya pemilihan kecerdasan yang sesuai dengan konteks pembelajaran itu sendiri. Selain
itu, di dalam menerapkan model m...
10
Kemampuan mempersepsikan Interpersonal dalam bentuk diskusi kelompok atau
praktikum bersama.Keterkaitan kecerdasan Inte...
11
saat proses belajar menggunakan pola tradisional (menekankan bahasa dan logika), jika
aktivitas ini dilakukan akan memu...
12
benda dan kegiatan di dunia yang
mengelilingi mereka.
2. Tahap memperkuat
intelligence
Tahap dimana siswa memperkuat da...
13
Jika proses pembelajaran ingin mencapai tujuan bahwa siswa harus memiliki
pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampi...
14
Menurut Gardner, siswa lebih mudah memahami suatu pelajaran jika bahan
pelajaran disajikan sesuai dengan kecenderungan ...
15
(2010: 19), bahwa pembelajaran konvensional diartikan melakukan tugas dengan mendasari
ciri tradisi atau apa yang telah...
16
Menurut Paul B. Dierich (Hamalik, 2003) membagi aktivitas atau kegiatan belajar
kelompok menjadi 8, yaitu :
1. Kegiatan...
17
memupuk disiplin keras, mempererat hubungan sekolah dan masyarakat dan hubungan
orang tua dengan guru (Hamalik, 2003).
...
18
terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan
tingkah laku secara kuantitatif.
G...
19
2. Nilai rata-rata hasil post-test siswa kelas eksperimen lebih baik secara signifikan
daripada nilai rata-rata hasil p...
20
Ho = Rata-rata gain siswa pada kelas eksperimen lebih kecil atau sama dengan rata-rata
gain siswa pada kelas kontrol
H1...
21
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis, Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen...
22
No Kelas
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-Laki Perempuan
1 Eksperimen 10 7 17
2 Kontrol 12 8 39
Jumlah 22 15 37
C. Desain Pene...
23
D. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel
bebas d...
24
saat pretest sebelum pokok bahasan hukum-hukum Newton diajarkan dan pada saat post-test
setelah pembelajaran pokok baha...
25
rxy = koefisien korealsi antara variable X dan Y yang dicari
Kriteria pengujian, jika rxy> rtab maka alat ukur (butir s...
26
TUGAS
PENGARUH MODEL MULTIPLE INTELLIGENCES UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKN SISWA KELAS VI SD NEGERI 7
KENDARI PAD...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Proposal s2

354 views

Published on

FD

Published in: Art & Photos
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Proposal s2

  1. 1. 1 DAFTAR ISI Halaman : HALAMAN JUDUL ……………………………………………………….. i DAFTAR ISI ……………………………………………………………….. 1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ………………………………………………...2 B. Rumusan Masalah …………………………………………….. 4 C. Tujuan Penelitian …………………………………………….... 4 D. Manfaat Penelitian ……………………………………………. 5 BAB II. KAJIAN PUSTAKA A. Penegrtian Belajar ………………………………………….. 6 B. Model Multiple Intelligence………………………………….8 C. Dampak Model Multiple IntelligenceBagi Siswa dan Guru. 14 D. Pembelajaran Konvesional ………………………………… 15 E. Aktifitas Belajar ……………………………………………. 16 F. Hasil Belajar ………………………………………………... 18 G. Hipotesis Penelitian ………………………………………... 19 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis, Waktu dan Tempat Penelitian ……………………. 22 B. Populasi dan Sampel ……………………………………… 22 C. DesainPenelitian ………………………………………….. 23 D. Variabel Penelitian ………………………………………… 24 E. Instrumen Penelitian ………………………………………. 25 F. Validitas Item Soal ……………………………………….. .. 25 G. Reliabilitas Tes Secara Keseluruhan ……………………. 26
  2. 2. 2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Model Multiple Intelligences merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat di terapkan pada proses pembelajaran langsung. Model Multiple Intelligences juga merupakan seperangkat pemikiran mengenai kegitan mengajar yang mengembangkan multi intelligence/kecerdasan majemuk yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah atau untuk menciptakan suatu produk yang baru dan bernilai dalam mencapai suatu solusi untuk permasalahan yang di hadapi. Salah satu kemampuan yang dimaksud adalah motivasi dan kreativitas dalam berpendapat. Model Multiple Intelligences mencakup 8 kecerdasan itu pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spritiual (SQ).Multiple Intelligences yang didasarkan pada pemikiran bahwa kemampuan intelektual yang diukur melalui tes IQ sangatlah terbatas karena tes IQ hanya menekan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Padahal setiap siswa memiliki cara yang unik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Menerapkan model multiple intelligences dalam pembelajaran suatu materi tidak perlu melibatkan ketujuh komponen kecerdasan secara bersamaan. Akan tetapi, perlu adanya pemilihan kecerdasan yang sesuai dengan konteks pembelajaran itu sendiri. Selain itu, di dalam menerapkan model multiple intelligences ini, guru harus mengetahui perkembangan siswa dan mengamati keunikan setiap siswa, sehingga pembelajaran bisa sesuai dengan kebutuhan dan kekhususan tiap pribadi siswa.
  3. 3. 3 Dari hasil observasi yang telah dilaksanakan di SD Negeri 7 Kendari diperoleh bahwa hasil belajar IPA Terpadu dari tahun ke tahun masih sangat rendah.Hal ini ditandai dengan hasil wawancara pada tanggal 25 Mei 2012 dengan salah satu guru bidang studi Fisika. Di mana diungkapkan ada beberapa penyebab sehingga hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran Fisika masih sangat rendah. Hal ini terbukti dari rendahnya rata-rata hasil belajar Fisika yang diperoleh siswa kelas VI yakni dari jumlah keseluruhan siswa kelas VI di SD Negeri 7 Kendari hanya 40% yang memperoleh nilai KKM diatas 70. Ini ditandai dengan nilai ulangan harian yang diperoleh masing-masing siswa disetiap kelasnya. Disamping itu, ada beberapa permasalahan siswa terkait dengan materi dinamika partikel sub.pokok bahasan hukum-hukum newton yang dipelajari siswa diantaranya, kurangnya eksperimen (percobaan) sesuai materi, guru yang mengajar cenderung hanya menjelaskan teori-teori saja, siswa yang tidak memiliki kecerdasan matematika cenderung merasa tidak diperhatikan. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan yang ada di SD Negeri 7 Kendari, maka perlu diterapkan sebuahmodel mengajar yang kreatif dan aplikatif berdasarkan tingkat kecerdasan siswa yang berbeda-beda (Multiple Intelligences). Diharapkan dengan model Multiple Intelligences ini, dapat meningkatkan motivasi dan kreatifitas siswa, dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran Fisika, serta siswa yang tidak memiliki kecerdasan bahasa dan matematis dapat belajar Fisika dengan intelligensi yang dimilikinya. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul :”Pengaruh Model Multiple Intelligences untuk Meningkatkan Hasil Belajar
  4. 4. 4 PKN Siswa Kelas VI SD Negeri 7 Kendari pada Materi Pokok Peraturan Perundang- undangan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka permasalahan dalam skripsi ini adalah : 1. Bagaimana gambaran aktivitas belajar siswa kelas VI pada materi pokok peraturan perundang-undangan yang diajar dengan menggunakan model Multiple Intelligences? 2. Apakah ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil pretest siswa kelas eksperimen dengan nilai rata-rata hasil pretest siswa kelas kontrol pada materi pokok peraturan perundang-undangan? 3. Apakah ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil post-test siswa kelas eksperimen dengan nilai rata-rata hasil post-test siswa kelas kontrol pada materi peraturan perundang-undangan? 4. Apakah nilai rata-rata gain siswa kelas eksperimen lebih baik secara signifikan daripada nilai rata-rata gain siswa kelas kontrol pada materi pokok PKN dengan sub.pokok peraturan perundang-undangan ? C. Tujuan Penelitian. Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah maka tujuan yang dicapai pada skripsi ini adalah : 1. Untuk mendeskripsikan aktivitas belajar siswa kelas VIpada materi pokok PKN subpokok bahasan peraturan perundang-undangan yang diajar dengan menggunakan model Multiple Intelligences.
  5. 5. 5 2. Untuk menguji ada tidaknya perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil pretest siswa kelas eksperimen dengan nilai rata-rata hasil pretest siswa kelas kontrol pada materi pokok PKN subpokok bahasan peraturan perundang-undangan. 3. Untuk menguji ada tidaknya perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil post- test siswa kelas eksperimen dengan nilai rata-rata hasil post-test siswa kelas kontrol pada materi pokok PKN subpokok bahasan peraturan perundang-undangan.. 4. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata gain siswa ekperimen dengan nilai rata-rata gain kelas kontrol pada materi pokok PKN subpokok bahasan peraturan perundang-undangan. D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Bagi siswa dapat membantu sekaligus mempermudah siswa dalam belajar PKN. 2. Bagi guru dapat memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. 3. Bagi sekolah dapat memberikan masukan yang baik pada sekolah dalam rangka perbaikan atau peningkatan pembelajaran PKN. 4. Sebagai bahan masukan dan pembanding bagi peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian yang relevan dengan penelitian ini.
  6. 6. 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Belajar Secara teknis para ahli psikologi dan pendidikan, memberikan batasan belajar atau defenisi belajar yang beraneka ragam, namun semuanya merujuk pada terjadinya proses tingkah laku individu. Tetapi pada prinsipnya keanekaragaman itu tidak terlalu jauh menyimpang dari pengertian belajar yang sesungguhnya.Menurut Nasution dkk (1992:77) bahwa “belajar sebagai suatu perubahan yang terus menerus terjadi dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman, dan perilaku itu terjadi dalam perilaku yang memungkinkan”. Pengertian belajar menurut kamus bahasa Indonesia , bahwa belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Slameto (1987) mengemukakan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Senada dengan itu, usman dan setiawati (2001) mengemukakan bahwa belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk
  7. 7. 7 bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon. Menurut Watson, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan- perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan. B. Model Multiple Intelligences 1. Dasar-Dasar Teori Multiple Intelligences Kecerdasan kata Gardner, merupakan kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nilai IQ, gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi. Gardner mengungkapkan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, dan bukanlah unit kepemilikan tunggal.Kecerdasan merupakan serangkaian kemampuan dan keterampilan yang dapat dikembangkan.Kecerdasan ada pada setiap manusia tetapi dengan tingkat yang berbeda-beda. Gardner menyebutkan ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki setiap individu pada umumnya, yaitu : 1. Kecerdasan Linguistik 2. Kecerdasan Mathematis logis 3. Kecerdasan Spasial
  8. 8. 8 4. Kecerdasan Kinestetik 5. Kecerdasan Musikal 6. Kecerdasan Interpersonal 7. Kecerdasan Itrapersonal 8. Kecerdasan Naturalis Teori multiple intelligences adalah validasi tertinggi gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting. Pemakaiannya dalam pendidikan sangat bergantung pada pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap atau berbagai cara siswa (pelajaran) belajar, disamping pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap minat dan bakat masing-masing pembelajar. Teori multiple intelligencesbukan hanya mengakui perbedaan individual ini untuk tujuan-tujuan praktis, seperti pengajaran dan penilaian, tetapi juga menganggap serta menerimanya sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan menarik dan sangat berharga. 2. Model Multiple Intelligences Model Multiple Intelligences merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat di terapkan pada proses pembelajaran langsung. Model Multiple Intelligences juga merupakan seperangkat pemikiran mengenai kegitan mengajar yang mengembangkan multi intelligence/kecerdasan majemuk yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah atau untuk menciptakan suatu produk yang baru dan bernilai dalam mencapai suatu solusi untuk permasalahan yang di hadapi.Salah satu kemampuan yang dimaksud adalah motivasi dan kreativitas dalam berpendapat. Menerapkan model multiple intelligences dalam pembelajaran suatu materi tidak perlu melibatkan kedelapan komponen kecerdasan secara bersamaan. Akan tetapi, perlu
  9. 9. 9 adanya pemilihan kecerdasan yang sesuai dengan konteks pembelajaran itu sendiri. Selain itu, di dalam menerapkan model multiple intelligences ini, guru harus mengetahui perkembangan siswa dan mengamati keunikan setiap siswa, sehingga pembelajaran bisa sesuai dengan kebutuhan dan kekhususan tiap pribadi siswa. Namun hanya ada beberapa kecerdasan (Multiple Intelligences) yang sesuai identifiksai berdasarkan materi, yaitu : a. Linguistik Kemampuan berkaitan dengan bahasa dengan menggunakan kata secara efektif, baik lisan dan tertulis.Keterkaitan Linguistik dengan materi hukum-hukum newton, siswa diberi kesempatan untuk menuliskan pengertian mereka tentang hukum newton secara bebas atau mengungkapkan gagasannya secara lisan didepan kelas.Dalam memberikan soal bisa dalam bentuk esay atau isian yang berupa soal tentang pengertian atau penjelasan. b. Matematis Logis Kemampuan menggunakan angka dengan baik (misalnya ahli matematika, fisikawan, akuntan pajak, dan ahli statistik).Melakukan penalaran (misalnya, programmer, ilmuwan dan ahli logika).Keterkaitan kecerdasan Matematis Logis dengan materi hukum-hukum newton, siswa bisa di beri kesempatan mengerjakan soal-soal dalam bentuk perhitungan atau penurunan rumus matematis. c.Spasial Kemampuan mempersepsikan dunia spasial secara akurat, misalnya mengadakan eksperimen di laboratorium atau di luar laboratorium (lingkungan sekitar).Keterkaitan kecerdasan spasial dengan materi adalah dimana siswa di berikan soal-soal berupa gambar atau guru bisa melukan sebuah eksperimen terkait dengan materi hukum-hukum newton. d. Interpersonals
  10. 10. 10 Kemampuan mempersepsikan Interpersonal dalam bentuk diskusi kelompok atau praktikum bersama.Keterkaitan kecerdasan Interpersonal dengan materi adalah dimana siswa diberi kesempatan untuk mengerjakan soal dengan diskusi kelompok atau melakukan praktikum bersama dengan materi hukum-hukum newton. c. Naturalis Dapat diungkapkan dengan mengajak siswa untuk melihat keterkaitan materi hukum- hukum newton dengan lingkungan kehidupan mereka sehari-hari, misalnya siswa dapat menuliskan contoh-contoh penerapan hukum newton yang sering mereka alami atau dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Model multiple intelligences ini, mampu menjembatani proses pembelajaran yang membosankan menjadi suatu pengalaman belajar yang menyenangkan dan siswa tidak hanya dijejali materi dan teori-teori semata. Akan tetapi, dengan model multiple intelligences siswa dihadapkan pada kenyataan bahwa materi dan teori-teori yang mereka terima memang dapat mereka temui di dunia nyata dalam kehidupan mereka, serta materi dan teori-teori tersebut dapat mereka alami sendiri sehingga memberikan kesan yang mendalam dalam kehidupan mereka. Adapun keunggulan dan manfaat penerapan model multiple intelligences dalam proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah yaitu sebagai berikut: 1. Guru dapat menggunakan kerangka multiple intelligences dalam melaksanakan proses pengajaran secara luas. Aktivitas yang bisa dilakukan seperti menggambar, menciptakan lagu, mendengarkan musik, melihat suatu pertunjukkan dapat menjadi ‘pintu masuk’ yang vital terhadap proses belajar. Bahkan siswa yang penampilannya kurang baik pada
  11. 11. 11 saat proses belajar menggunakan pola tradisional (menekankan bahasa dan logika), jika aktivitas ini dilakukan akan memunculkan semangat mereka untuk belajar. 2. Dengan menggunakan model multiple intelligences, gurumenyediakan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan kebutuhan, minat, dan talentanya. 3. Peran serta orang tua dan masyarakat akan semakin meningkat di dalam mendukung proses belajar mengajar. Hal ini bisa terjadi karena setiap aktivitas siswa di dalam proses belajar akan melibatkan anggota masyarakat. 4. Siswa akan mampu menunjukkan dan ‘berbagi’ tentang kelebihan yang dimilikinya. Membangun kelebihan yang dimiliki akan memberikan suatu motivasi untuk menjadikan siswa sebagai seorang ‘spesialis’. 5. Pada saat guru ‘mengajar untuk memahami’, siswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang positif dan meningkatkan kemampuan untuk mencari solusi dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya. (Susanto, http: //www.bpkpenabur.or.id). 3. Tahap-Tahap Model Multiple Intelligences Berdasarkan penjelasan Richards dan Rodgers , mengenai tahapan model multiple intelligences, dapat dipahami bahwa pembelajaran dengan menggunakan model ini terdiri dari empat tahapan, yaitu sebagai berikut: Adapun tahap-tahap dalam model pembelajaran Multiple Intelligences dapat dilihat pada tabel dibawah ini ; Tabel 1.1. Tahap-tahap dalam model pembelajaran Multiple Intelligences. 1. Tahap membangkitkan intelligence Tahap ini merupakan suatu proses pengalaman belajar melalui pengalaman multiindrawi yaitu dengan menyentuh, mencium, mencicipi, melihat, dan juga siswa dapat peka untuk memahami banyak segi sifat
  12. 12. 12 benda dan kegiatan di dunia yang mengelilingi mereka. 2. Tahap memperkuat intelligence Tahap dimana siswa memperkuat dan meningkatkan kecerdasan secara sukarela mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang mereka pilih sendiri dan mendefinisikan dengan orang lain, sifat dan konteks pengalaman benda-benda dan peristiwa- peristiwa. 3. Tahap mengajar dengan/untuk intelligence Tahap ini terhubung tingkatan kecerdasan itu untuk fokus terhadap kelas. Ini dilakukan melalui lembar kerja dan proyek-proyek kelompok kecil dan diskusi dalam aktivitas belajar siswa. 4. Tahap transfer dari intelligence siswa Tahap ini bercermin pada pengalaman belajar tiga tahap sebelumnya dan berkaitan dengan isu-isu ini dan tantangan di luar kelas atau dunia nyata. Di samping tahap-tahap di atas, sebagai upaya untuk memadukan model Multiple Intelligence dalam pembelajaran, perlu juga memperhatikan hal-hal berikut: 1. Persepsi tentang siswa harus diubah Sebaiknya para pendidik memberikan perhatian kepada berbagai macam cara yang dilakukan siswa untuk memecahkan masalah-masalah mereka dan mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari. Kita harus menerima bahwa siswa memiliki profil-profil kognitif dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda. Guru harus menyediakan kesempatan-kesempatan belajar yang kaya, mempertajam kemampuan-kemampuan observasi siswa, mengumpulkan informasi tentang bakat dan kegemaran siswa, serta mempelajari kecerdasan-kecerdasan yang tidak biasa. 2. Guru membutuhkan dukungan dan waktu untuk memperluas daftar pengajaran mereka.
  13. 13. 13 Jika proses pembelajaran ingin mencapai tujuan bahwa siswa harus memiliki pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan yang seimbang, maka jam belajar yang selama ini hanya cukup untuk menguasai pengetahuan saja harus diubah dengan memperluas jam belajar. Hal ini perlu dilakukan untuk: a. Memberi dukungan dan melakukan praktek. b. Meminta guru tertentu yang memiliki kemampuan tinggi dalam sebuah kecerdasan untuk memberikan pelatihan. c. Mengintegrasikan para spesialis yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu. d. Mengunjungi lokasi-lokasi lain sebagai bahan perbandingan proses pembelajaran. 3. Diperlukan model baru terhadap proses penilaian Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam aktivitas penilaian, yaitu: a. Bagaimana menilai kecerdasan siswa; b. Bagaimana meningkatkan penilaian secara umum dalam hal kognitif, afektif, dan psikomotorik; c. Bagaimana melibatkan siswa dalam proses penilaian. d. Praktik profesional menuju ke arah perkembangan Tingkat profesionalisme para pendidik perlu dimiliki setiap guru, sehingga tantangan yang dihadapi terutama dalam menentukan model program yang akan dilakukan di kelas, tepat dan sesuai dengan kompetensi siswa. C. Dampak Model Multiple Intelligences Bagi Siswa dan Guru 1. Dampak Model Multiple Intelligences bagi Siswa yang Belajar
  14. 14. 14 Menurut Gardner, siswa lebih mudah memahami suatu pelajaran jika bahan pelajaran disajikan sesuai dengan kecenderungan inteligensi yang dimilikinya. Untuk itu, siswa akan sangat terbantu jika mereka memahami kecenderungan inteligensinya . Selanjutnya mereka dibantu untuk menggunakan cara belajar yang cocok. Beberapa metode untuk mengerti inteligensi siswa, antara lain dengan cara : 1) tes intelidensi ganda; 2) mengamati reaksi siswa waktu guru mengajar dengan berbagai inteligensi ganda, 3) mengamati gerak dan aktivitas siswa di luar kelas; 4) nilai rapor dan portofolio kegiatan siswa. Dengan berbagai perbedaan inteligensi siswa, maka sangat penting bagi guru untuk memberikan kebebasan siswanya belajar fisika dengan berbagai cara. 2. Dampak bagi Guru yang Mengajar Dalam risetnya, Gardner menemukan bahwa guru kebanyakan lebih suka mengajar dengan metode yang sesuai dengan kecenderungan inteligensinya. Guru yang inteligensi matematis-logisnya bagus akan mengajar secara sistematis, rasional, dan logis. Berbeda dengan guru yang kecenderungan inteligensi interpersonalnya menonjol, akan menyukai pendekatan personal. Jika menggunakan metode yang tidak cocok, kemungkinan bahan yang diajarkan sulit dicerna siswa, bahkan dianggap sebagai guru yang tidak disukai. Untuk itu guru perlu mengembangkan berbagai macam inteligensinya agar dapat mengajar dengan berbagai metode sesuai dengan inteligensi siswa-siswanya ( Afrisanti, 2011 : 105 ). D. Pembelajaran Konvensional Pembelajaran konvensional yaitu pembelajaran secara klasikal tanpa membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil dimana siswa belajar tanpa ada ketergantungan dalam strategi tugas dan tujuan. Adapun model pembelajaran konvensional berarti menurut apa yang sudah menjadi kebiasaan hal ini sejalan yang dikemukakan oleh Kusomo dalamMura
  15. 15. 15 (2010: 19), bahwa pembelajaran konvensional diartikan melakukan tugas dengan mendasari ciri tradisi atau apa yang telah dilaksanakan oleh guru atau pendidik dahulu tanpa ada usaha untuk memperbaiki dengan gaya kreasi yang ada padanya. Titik berat dan teori konvensional adalah pada bakat IQ (IntelegenceQuonient) siswa dalam hubungan dengan tingkat keberhasilan mereka dalam menguasai bidang tertentu. Mengenai pengajaran konvensional, beberapa ahli mencoba memberikan pendapat yang pada dasarnya merupakan kondisi nyata disekolah. (Mursell dan Nasution dalam Mura, 2010: 19) berpendapat bahwa pada cara mengajar yang konvensional atau tradisional yang pada suatu saat ketika menjadi universal dalam garis besarnya dilakukan menurut pola buku tugas resistansi, dimana bahan pengajaran dibagi dalam bahan untuk satu tahun atau triwulan yang dibagi pula dalam unit atau pelajaran. E. Aktivitas Belajar Aktivitas belajar merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran. Dengan melakukan berbagai aktivitas dalam kegiatan pembelajaran diharapkan siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri tentang konsep fisika sesuai dengan kegiatan yang dilakukannya sendiri atau pengalaman yang didapatkan sendiri oleh siswa.Dalam hal ini, aktivitas yang diamati selama kegiatan pembelajaran berlangsung dibatasi pada ruang lingkup. Aktivitas merupakan bagian yang sangat penting dalam proses belajar, sebab kegiatan belajar mengajar tidak akan terjadi apabila tidak ada aktivitas. Kegiatan tidak hanya diperlukan untuk memepelajari hal-hal tertentu melainkan semua pelajaran.Aktivitas belajar siswa adalah inti dari kegiatan belajar siswa disekolah.
  16. 16. 16 Menurut Paul B. Dierich (Hamalik, 2003) membagi aktivitas atau kegiatan belajar kelompok menjadi 8, yaitu : 1. Kegiatan visual, seperti membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demontrasi, pameran dan mengamati orang lain bekerja atau bermain. 2. Kegiatan lisan, seperti mengemukakan fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara dan diskusi. 3. Kegiatan mendengarkan, seperti mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan dan mendengarkan radio. 4. Kegiatan menulis, seperti menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan- bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket. 5. Kegiatan menggambar, seperti menggambar, membuat grafik, chart, diagram, peta dan pola. 6. Kegiatan metrik, seperti melakukan percobaan, memilih alat-alat, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun. 7. Kegiatan mental, seperti merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, melihat hubungan dan membuat keputusan. 8. Kegiatan emosional, seperti minat, membedakan, berani, tenang dan lain-lain. Penggunaan asas aktivitas besar nilainya bagi pengajar, karena siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri, berbuat sendiri, memupuk kerjasama yang harmonis dikalangan siswa, siswa bekerja sesuai dengan minat dan kemampuan siswa,
  17. 17. 17 memupuk disiplin keras, mempererat hubungan sekolah dan masyarakat dan hubungan orang tua dengan guru (Hamalik, 2003). F. Hasil Belajar. Kegiatan belajar mengajar yang merupakan kegiatan timbal balik guru dan siswa tentu mempunyai tujuan dan hasil yang diharapkan. Hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai merencanakan kegiatan belajar mengajar yang tepat. Secara umum dapat didenifisikan hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran. Hasil belajar dibagi menjadi tiga macam hasil belajar yaitu : (a). Keterampilan dan kebiasaan; (b). Pengetahuan dan pengertian; (c). Sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah. Hasil belajar siswadipengaruhi oleh kamampuan siswa dan kualitas pengajaran.Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang dimiliki oleh guru.Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif (intelektual), bidang sikap (afektif) dan bidang perilaku (psikomotorik). Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor dari dalam individu siswa berupa kemampuan personal (internal) dan faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan. Dengan demikian hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang
  18. 18. 18 terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif. G. Hipotesis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut: 1. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil pretest siswa kelas eksperimen dengan nilai rata-rata hasil pretest siswa kelas kontrol pada pokok bahasan hukum-hukum newton. Secara statistik dirumuskan : Ho : µ1 = µ2 H1 : µ1 ≠ µ2 Keterangan : Ho = Tidak ada perbedaan yang berarti antara rata-rata nilai hasil pretest siswa pada kelas eksperimen dengan rata-rata nilai hasil pretest siswa kelas kontrol pada pokok bahasan hukum-hukum Newton. H1 = Ada perbedaaan yang berarti antara rata-rata nilai hasil pretest siswa pada kelas eksperimen dengan rata-rata nilai hasil pretest kelas kontrol pada pokok bahasan hukum-hukum Newton. µ1 = Rata-rata nilai hasil pretest pada siswa kelas eksperimen µ2 = Rata-rata nilai hasil pretest pada siswa kelas kontrol
  19. 19. 19 2. Nilai rata-rata hasil post-test siswa kelas eksperimen lebih baik secara signifikan daripada nilai rata-rata hasil post-test siswa kelas kontrol pada pokok bahasan hukum- hukum newton. Secara statistik dirusmuskan: Ho = µ1 ≤ µ2 H1 = µ1> µ2 Keterangan : Ho = Rata-rata hasil post-test siswa pada kelas eksperimen lebih kecil atau sama dengan rata-rata hasil post-test siswa pada kelas kontrol. H1 = Rata-rata hasil post-test siswa pada kelas eksperimen lebih baik dari pada rata-rata hasil post-test siswa pada kelas kontrol. µ1 = Rata-rata nilai hasil post-test siswa pada kelas eksperimen µ2 = Rata-rata hasil post-test siswa pada kelas kontrol. 3. Nilai rata-rata gain hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih baik secara signifikan dari pada nilai rata-rata gain siswa kelas kontrol pada pokok bahasan hukum-hukum Newton. Secara statistik dirumuskan: Ho = µ1 ≤ µ2 H1 = µ1 > µ2 Keterangan :
  20. 20. 20 Ho = Rata-rata gain siswa pada kelas eksperimen lebih kecil atau sama dengan rata-rata gain siswa pada kelas kontrol H1 = Rata-rata gain siswa pada kelas eksperimen lebih baik dari pada rata-rata gain siswa pada kelas kontrol. µ1 = Rata-rata gain siswa pada kelas eksperimen µ2 = Rata-rata gain siswa pada kelas kontrol.
  21. 21. 21 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis, Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen. Penelitian ini telahdilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013, pada siswa kelas VI SD Negeri 7 Kendari. B. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VISD Negeri 7 Kendari yang terdaftar pada semester ganjil tahun ajaran 2012/2013. Distribusi populasi menurut kelas dapat dilihat pada Tabel 2.1. sebagai berikut. Tabel 2.1. Distribusi Populasi Penelitian Kelas Jenis Kelamin Jumlah L P VI. 25 12 37 Sumber: Data Observasi pada SD Negeri 7 Kendari. Sampel dalam penelitian ini ditetapkan melalui random sampling, setelah dilakukan uji homogenitas varians menggunakan uji Bartlett terhadap nilai ulangan semester genap dari ke sepuluh kelas yang menjadi populasi penelitian. Dari hasil analisis uji Bartlett diperoleh bahwa ke sepuluh kelas yang menjadi populasi penelitian memiliki varians yang homogen (lampiran 8). Selanjutnya diambil dua kelas secara acak, yaitu kelas X3 sebagai kelas eksperimen dan kelas X4 sebagai kelas kontrol. Adapun distribusi sampel dalam penelitian ini selengkapnya disajikan pada Tabel 2.2 berikut: Tabel 2.2. Distribusi Sampel Penelitian Menurut Kelas dan Jenis Kelamin
  22. 22. 22 No Kelas Jenis Kelamin Jumlah Laki-Laki Perempuan 1 Eksperimen 10 7 17 2 Kontrol 12 8 39 Jumlah 22 15 37 C. Desain Penelitian Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pretest-Post test, selengkapnya disajikan sebagai berikut.s E : O1 x O2 K : O3 - O4 dengan: E =Kelas eksperimen K = Kelas kontrol O1= Tes awal (pretes) yang diberikan pada kelas eksperimen O2= Tes akhir (post-test) yang diberikan pada kelas eksperimen O3= tes awal (pretest) yang diberikan pada kelas kontrol O4= tes akhir (post-test) yang diberikan pada kelas kontrol x= perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen , yaitu pengaruh model Multiple Intelligences pada kelas eksperimen. - = perlakuan yang diberikan pada kelas kontrol, yaitu pembelajaran konvensional - . (Arikunto, 2006:86)
  23. 23. 23 D. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan pengaruh modelMultiple Intelligences dan model pembelajaran konvensional, sedangkan yang menjadi variabel terikatnya adalah hasil belajar siswa. E. Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini digunakan dua jenis instrumen pengumpulan data yaitu: lembar observasi dan tes hasil belajar. a. Lembar observasi Lembar observasi digunakan untuk mengukur aktivitas yang terjadi dalam proses pembelajaran dengan modelMultiple Intelligences, dalam hal ini aktivitas yang diukur adalah aktivitas siswa dan guru. Lembar observasi terhadap aktivitas guru difokuskan pada keterlaksanaan model Multiple Intelligences dalam proses pembelajaran dengan memuat saran-saran terhadap aktivitas guru selama pembelajaran terhadap keterlaksanaan model Multiple Intelligences siswa. b. Tes hasil belajar Tes ini dikonstruksi dalam bentuk tes objektif model pilihan ganda dengan jumlah pilihan (option) sebanyak empat yang berjumlah 30 butir soal untuk tes uji coba serta 25 butir soal untuk soal pretest dan post-test yang disusun atas tingkat kognitif yaitu C1,C2 dan C3 dengan pilihan skor, jika jawaban benar diberi skor 1 dan jika jawaban salah diberi skor 0. Setiap soal dibuat untuk menguji tingkat kecerdasan yang dimiliki oleh siswa serta untuk menguji pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang tercakup dalam pokok bahasan hukum-hukum Newton, tes ini bersifat konseptual. Tes ini dilakukan dua kali, yaitu pada
  24. 24. 24 saat pretest sebelum pokok bahasan hukum-hukum Newton diajarkan dan pada saat post-test setelah pembelajaran pokok bahasan hukum-hukum Newton selesai dilaksanakan. Pretest dilakukan dengan tujuan untuk membagi kelompok kecerdasan siswa serta kemampuan awal siswa terhadap konsep-konsep hukum-hukum Newton, sedangkan post-test dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa sebagai hasil penggunaan model Multiple Intelligences siswa. Untuk mengetahui karakteristik kualitas tes yang akan digunakan, maka sebelum digunakan instrumen tes hasil belajar tersebut dilakukan uji coba untuk mengetahui tingkat validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran soal, dan daya pembeda tes tersebut. F. Validitas item soal Validitas tes adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan dan kesahihan suatu intsrumen. Tes yang valid adalah tes yang benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Validitas item soal dari suatu tes adalah ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebuah item dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir item tersebut. Validitas item soal (butir soal) dihitung dengan menggunakan rumus korelasi product momen sebagai berikut.         2222       YYNXXN YXXYN rxy (Arikunto, 2002: 72) Keterangan : X= skor setiap murid untuk setiap item Y = skor total perolehan setiap murid N = jumlah sample
  25. 25. 25 rxy = koefisien korealsi antara variable X dan Y yang dicari Kriteria pengujian, jika rxy> rtab maka alat ukur (butir soal) tersebut valid dan jika rxy ≤ rtab maka alat ukur (butir soal) tersebut tidak valid. Pengujian dilakukan pada α = 0,05. G. Reliabilitas tes secara keseluruhan Reliabilitas dari suatu tes ditentukan dengan rumus Kuder Richardson 20 (KR-20), yaitu.                   2 2 11 1 S pqS n n r (Arikunto, 2005:100) Keterangan: R11 = reliabilitas tes p = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar q = proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q = 1- p) pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q N = banyaknya item S = standar deviasi skor keseluruhan peserta tes Setelah diperoleh nilai r11 selanjutnya dibandingkan dengan rtab dengan kriteria pengujian jika r11 > rtab maka alat ukur tersebut reliabel dan jika r11  rtab maka alat tersebut tidak reliabel. Pengujian dilakukan pada α = 0,05.
  26. 26. 26 TUGAS PENGARUH MODEL MULTIPLE INTELLIGENCES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKN SISWA KELAS VI SD NEGERI 7 KENDARI PADA MATERI POKOK PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN. WA NDIMA G2G1 13 072 JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS HALU OLEO TAHUN 2013

×