Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

NOTULENSI DISKUSI TERBUKA ID-IGF

224 views

Published on

NOTULENSI DISKUSI TERBUKA ID-IGF

Published in: Internet
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

NOTULENSI DISKUSI TERBUKA ID-IGF

  1. 1. Notulensi Diskusi Terbuka ID-IGF Jumat, 19 Januari 2018 Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat Diskusi Terbuka Indonesian Internet Governance Forum (ID-IGF) 2018 telah dilaksanakan pada Jumat, 19 Januari 2018, di Perpustakaan Nasional RI – Jakarta Pusat. Diskusi Terbuka dihadiri oleh anggota MAG ID-IGF serta pemangku kepentingan tata kelola internet Indonesia lainnya (daftar hadir terlampir). Hasil rapat tersebut disampaikan sebagai berikut: Agenda Rapat A. Pembukaan dan Pengantar B. Pemaparan Catatan dari IGF Global 2017 di Jenewa C. Sosialisasi tentang ID-IGF oleh MAG ID-IGF D. Laporan Kegiatan ID-IGF (2017-2018) oleh Koordinator MAG ID-IGF E. Masukan dan Saran F. Penutupan A. PENGANTAR 1. Acara dibuka oleh Ibu Harkrisyati Kamil selaku MAG ID-IGF dan ISIPII sebagai tuan rumah untuk diskusi terbuka ini. 2. Pengantar dari Bapak Semuel A. Pangerapan: ID-IGF diinisiasi tahun 2012 agar internet di Indonesia bisa menjadi safe, secure dan berintegritas. Hampir setiap tahun, ID-IGF melaksanakan Dialog Nasional dimana semua pegiat internet berkumpul untuk membahas permasalahan internet di Indonesia dan diharapkan setelah Dialog Nasional ID-IGF akan ada pertemuan kecil untuk tiap subjek atau keranjang. Selain itu, apa yang dibahas di Dialog Nasional ID-IGF harus disambungkan isu yang ada dengan agenda pemerintah untuk regulasinya. Forum ini menjadi tempat berbagai perspektif dan menjadi tempat rakyat bersuara untuk menata cyber space Indonesia dan menjadi tempat untuk mengusulkan regulasi. B. PEMAPARAN CATATAN DARI IGF GLOBAL 2017 DI JENEWA (Geneva Switzerland) 3. Sambutan oleh moderator, Bapak Donny BU ID-IGF merupakan satu dari sekian banyak nasional IGF yang ada di dunia. IGF diselenggarakan setiap tahunnya dengan berpindah dari satu negara ke negara lain. Indonesia pernah menjadi tuan rumah IGF Global di Bali tahun 2013. Adapun di diskusi IGF sendiri bersifat bilateral jadi ada negosiasi ide. Mengapa Indonesia perlu mengikuti IGF Global? Karena kepentingannya adalah menyuarakan posisi Indonesia, bagaimana transaksi e-commerce di Indonesia bisa berkembang? Bagaimana Indonesia harus bertarung di cyber space? Selain itu, Indonesia menjadi contoh bagaimana negara besar mengatur diversitynya, bagaimana Indonesia mengatasi Internet destruction, bagaimana Indonesia membangun internet di daerah tertinggal dan membangun sejumlah hal terkait SDM dan pengamanan siber. 4. Pemaparan Catatan IGF Global 2017 oleh Bapak Bhredipta - IGF 2017 merupakan IGF pertama yang diikuti. Adapun masukan untuk kegiatan IGF 2017 yaitu masih perlunya upaya inklusi setiap stakeholder pada pembahasan materi, pembenahan pada outcome yang diharapkan dan alur materi presentasi/diskusi dari topik IGF 2017
  2. 2. - Pembahasan terkait Ekonomi Digital yaitu: Kolaborasi sektor publik dan sektor privat, Minimnya pembahasan terkait internet disruption, Ekonomi digital berperan dalam pencapaian SDGs, Masih rendahnya tingkat kepercayaan publik pada e-commerce secara global, dan Isu persaingan usaha antara UMKM/Startup dan perusahaan internet yang sudah stabil. Dengan kesimpulan: Butuh pengembangan softskill dan hardskill terkait ekonomi digital, Peningkatan infrastruktur untuk menjangkau pihak-pihak terkait dalam ekonomi digital dan Perlu kombinasi offline dan online untuk menjembatani keterbatasan fasilitas. - Pembahasan terkait Cyber Law yaitu: Introduksi norma-norma penggunaan internet, Kesadaran akan pertanggungjawaban korporasi pada produk-produk terkait internet, Isu jurisdiksi dan penegakan hukum siber lintas negara dan Sensor dan kebebasan berekspresi. Dengan kesimpulan: Butuhnya pengaturan hukum siber yang jelas dan berlaku secara global, Introduksi norma diharapkan dapat diadopsi oleh negara dan berkembang menjadi norma universal dan Timbul kesadaran bahwa internet dan cyberspace merupakan isu lintas sektor. - Pembahasan terkait Inklusi Internet yaitu: Kendala akses internet masih banyak terjadi, baik karena faktor alam maupun sulitnya pengadaan, Inklusi terhalang rendahnya partisipasi masyarakat karena pengaruh lingkungan social dan Kendala bahasa dan pemahaman penggunaan internet sebagai faktor krusial dalam inklusi internet. Dengan kesimpulan: Butuhnya relaksasi kebijakan penyediaan internet, Dibutuhkan kemauan bersama untuk menjadikan internet sebagai safe space selama masih tunduk pada norma dan ketentuan yang berlaku dan Pentingnya peningkatan mutu dan kualitas konten lokal atau konten asing yang dilokalisasi, serta penyebaran pemahaman untuk meningkatkan inklusi internet. - Pembahasan terkait Perlindungan Data Pribadi: Kewajiban lokalisasi dan kebebasan data untuk ekonomi, Butuhnya definisi universal terkait data-data sensitive, Masih banyaknya halangan-halangan yang dianggap tidak praktis dan menghalangi perpindahan data. Dan Terdapat kebutuhan untuk beberaa pengecualian ketentuan dalam kondisi tertentu. - Selain itu terdapat topik ekstra di IGF Global 2017 yaitu reformasi hak cipta dan netralitas internet. 5. Tanggapan Terhadap Pemaparan Bapak Bhredipta a. Bapak Semuel A. Pangerapan: IGF memang pertemuan tanpa konklusi karena forum multi nation itu susah dan sebuah kesepakatan ditentukan selama bertahun-tahun. Forum IGF merupakan tempat untuk berperang ide. Hasil dari IGF dibawa ke Indonesia dan dikorelasikan dengan kondisi di Indonesia dan dibahas bersama sesuai keranjang di Dialog Nasional ID-IGF atau forum-forum lain terkait dengan internet Indonesia. ID-IGF harus membuat rekomendasi kepada pemerintah. b. Bapak Bambang Pratama (BINUS University): Kami akan mengadakan international conference terkait cyber law dan diharapkan ID-IGF bisa mengelola panel di acara kami. Sampai detik ini belum ada literatur mengenai perlindungan data pribadi, dan apakah ada negara mana yang paling advance terkait perlindungan data pribadi sehingga Indonesia bisa belajar dari negara itu. 6. Pemaparan Catatan IGF Global 2017 oleh Ibu Shita Laksmi - Internet Governance Forum adalah forum diskusi antar multistakeholder terkait kebijakan internet yang difasilitasi oleh PBB karena internet terlalu kompleks diputuskan oleh satu stakeholder (pemangku kepentingan). IGF sudah diselenggarakan 12 kali dan mandat sampai 20 kali. - Di IGF 2017 Jenewa sendiri terdapat 260 sessions, 55 booth di IGF village dan dihadiri oleh 2019 peserta dari 142 negara. Terdapat juga 32 remote hubs, dengan 1661 stakeholders berpartisipasi
  3. 3. online. remote hub terbesar: United States, Switzerland, Nigeria, China, India, Brazil, France, United Kingdom dan Mexico - Persentasi peserta IGF 2017 terdiri dari 44,6% Civil Society, 20,3% Pemerintah, 14,6% Private Sector, 14,1% Komunitas Teknis, 6,1% Intergovernmental Organization dan 0,4% Media. - Tema yang paling populer: New Technologies & Emerging Issues, dari beragam sesi yang terkait dengan artificial intelligence, big data, fakenews, internet of things, virtual reality, block chain. - Tema populer kedua adalah cybersecurity, hampir sepertiga sesi IGF terkait dengan spesifik isu ini termasuk satu main session yang berjudul ‘cybersecurity for development and peace’. - Adapun ringkasan IGF 2017 yang dirangkum dari semua transkrip antara lain dari segi Infrastruktur yaitu Otomatisasi, Kecerdasan Buatan dan 5g Network. Pentingnya kapasitas teknis untuk menghadapi masa depan yaitu keuntungan digital untuk semua pihak lalu perlunya etika serta manusia ada di pusat pengembangan lalu 5g dan digitalisasi dalam internet of things. - Dari segi Security yaitu Perlukah ada Cyber Treaty? Bagaimana Melakukan Regulasi Atas IOT merupakan global issue utama. Perjanjian multilateral tidak terlalu efektif serta jurang pemisah antar negara makin luas dan lebih baik mengatur perusahaan melalui rangkaian prinsip dan minimum baseline daripada peraturan/ regulasi. - Dari segi Human Rights yaitu GDPR– General Data Protection Regulation EU yang akan berjalan Mei 2018. Dampak dari hal ini adalah jurisdiksi bagi perusahaan kecil dan negara berkembang. - Dari segi Legal yaitu Internet Intermediaries Liability, sejauh mana intermediary bertanggung jawab? Apakah menyerahkan sepenuhnya pada algoritma? Lalu ada pertukaran data yang menjadi trend utama disebabkan negara maju ingin free flow karena pertukaran data esensial untuk ekonomi digital dan perdagangan. - Dari segi Ekonomi yaitu Keputusan CJEU bahwa Uber adalah perusahaan transportasi serta adanya dampak ekonomi dari disrupsi internet kepada perkembangan ekonomi. Dari segi Pembangunan: Community Networks bahwa jaringan yang tidak hanya disediakan oleh telekomunikasi, perlu adanya alokasi, perizinan dan pendanaan agar berlanjut. Dan terakhir dari segi Sosial Budaya yaitu pentingnya berpikir kritis dan adanya fasilitasi negara terhadap konten lokal. - Perbaikan untuk IGF Global yang direkomendasikan oleh CSTD (Commision on Science and Technology for Development) antara lain: * Perbaikan outcome IGF seperti kegiatan antar IGF/Intersessional: Best Practice Forum, Dynamic Coalitions, perbaikan web IGF dan Geneva Message dan menyediakan proses bottom up, lokal, nasional dan perspektif regional untuk masuk. * Cara Kerja IGF: Konsultasi, Mag dan Sekretariat. Menentukan sub thema bottom up dengan penggunaan hashtag (#) bisa melalui webcasting, remote participation, web based intervention system (supaya lebih akuntabel). Anggota MAG (total 55 orang) lebih menjangkau banyak negara, representasi dari Eropa Barat dan grup lainnya (weog) berkurang serta perlunya induksi untuk anggota MAG IGF. * Pendanaan: Trust Fund IGF agar dipermudah prosesnya, proses yang lebih transparan dan akuntabel, sensitifitas dari semua anggota MAG IGF terkait pendanaan.
  4. 4. * Perluasan Partisipasi, Pengembangan Kapasitas: Proses seleksi mengedepankan pemilihan untuk negara berkembang, remote participation dan new comers track di IGF. * Sambung IGF Dengan Entitas IG Lainnya: Outreach inisiatif lain dengan UN SDG, GENEVA INTERNET PLATFORM, ISOC, ICANN. intensitas perkembangan antara IGF dengan nasional/ regional IGF. 7. Tanggapan Terhadap Pemaparan Ibu Shita Laksmi a. Ibu Adek Triana (Kementerian Luar Negeri): Terkait dengan Cyber Treaty, kami sangat mendukung dengan hal tersebut, tapi ada resistensi dan adanya aturan global terkait internet ini. Mengingat posisi Indonesia, apapun yang terkait dengan keputusan global tapi kita tetap melakukan pendekatan bilateral, karena belum ada peraturan global terkait ini, maka Indonesia masih menggunakan peraturan offline untuk online. Adakah upaya lain yang bisa untuk tren yang lebih positif ataukah masih jauh? b. Ibu Shita Laksmi (Diplo Foundation): PBB sendiri sudah membentuk UN GGE (United Nations Group of Govermental Experts) Upaya yang dilakukan memang banyak, tapi saya melihat belum ada sesuatu yang cukup konkrit selain UN GGE. C. SOSIALISASI ID-IGF OLEH MAG ID-IGF 1. Sesi ini dibawakan oleh Bapak Arfi Bambani dari AJI selaku anggota MAG ID-IGF 2. Banyak warga Indonesia yag mengalami kriminalisasi di dunia maya dan banyak warga negara yang kurang terliterasi di dunia maya. Melalui ID-IGF ini, kita bisa bertukar pengalaman terkait hal ini seperti bagaimana kita menyikapi apakah bentuk ekpresi di dunia maya bisa dikriminalisasi? Yang paling dramatis adalah menggunakan UU ITE untuk memblokir kebebasan berekpresi, menurut kami UU ITE tidak cukup. Selain itu Indonesia juga belum memiliki UU Perlindungan Data Pribadi, diharapkan melalui ID-IGF hal tersebut bisa diajukan regulasinya ke pemerintah mengingat government masuk ke dalam salah satu stakeholder ID-IGF. D. LAPORAN KEGIATAN ID-IGF (2017-2018) OLEH KOORD. MAG ID-IGF 1. ID IGF adalah kepanjangan dari Indonesian Internet Governance Forum dibentuk pada tahun 2012 yang diawali dengan deklarasi (tata kelola internet) oleh berbagai multistakeholder yang peduli dengan internet. ID-IGF merupakan wadah multistakeholder untuk membahas mengenai kebijakan TIK dan juga isu terkait tata kelola internet khususnya di Indonesia yang dapat dijadikan acuan sebagai masukan di dunia global. 2. Ada beberapa keranjang yang dibahas dalam ID-IGF yaitu: Infrastruktur, Sosial Budaya, Ekonomi serta Hukum dan Regulasi. Saat ini ID-IGF memiliki 25 MAG yang terdiri perwakilan Multi Stakeholder yaitu: Pemerintah, Akademisi, Komunitas Teknis, CSO dan Sektor Bisnis. 3. Adapun kegiatan ID-IGF sepanjang tahun 2017 yaitu: melaksanakan 11 kali pertemuan, melakukan kegiatan kolaborasi dengan berbagai multi stakeholder antara lain: rilis buku child online protection, kegiatan smart school online, INTEGRASI (Internet Junjung Toleransi), POLGOV Days, Launching GNLD Siberkreasi, Kegiatan 1NDONESIA, Kegiatan Ibu Cerdas di Media Sosial. Dan di tanggal 31 Januari 2018 akan diadakan kegiatan launching Buku Modul Tata Kelola Internet 4. Kegiatan besar ID-IGF yaitu Dialog Nasional ID-IGF 2017 yang dilaksanakan pada 27 Oktober 2017 di JIEXPO Kemayoran dengan tema: Transformasi Digital: Siapkah Indonesia?. Terdapat 12 sesi yang
  5. 5. terdiri dari 4 keranjang yaitu Sosial Budaya, Ekonomi, Infrastruktur dan Hukum. Ada juga 2 sesi baru di tahun ini yaitu Youth ID-IGF dan Open Mic yang mengusung tema startup untuk rakyat. Total peserta Dialog Nasional ID-IGF 2017 sebanyak 477 orang. 5. Untuk keberlanjutan ID-IGF sendiri diupayakan dengan cara mengundang berbagai komunitas, pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum yang peduli terhadap tata kelola internet yang transparan untuk dapat terlibat ke dalam ID-IGF serta berkolaborasi dengan ID-IGF untuk membahas mengenai kebijakan TIK, IoT, kebijakan siber, isu tata kelola internet dan juga isu TIK terkini. E. MASUKAN DAN SARAN 1. Bapak Semuel A. Pangerapan (Kominfo): Melalui ID-IGF ini diharapkan internet di Indonesia bisa trusted dan membuat masyarakat memiliki kesadaran penuh terhadap gadget yang mereka miliki. ID- IGF diharapkan mengadakan banyak forum kecil selain dialog nasional agar masyarakan lebih mengenal ruang siber itu seperti apa, dan selain fokus terhadap tata kelola internet, kita juga harus fokus kepada literasi digital Indonesia dan ID-IGF juga harus mengajak orang yang memiliki passion terhadap tata kelola internet untuk bergabung dalam forum ini. 2. Bapak Garin Ganis (ISOC-ID): Indonesia sudah sangat bergantung terhadap internet, tapi apakah pemerintah mempunya strategi nasional atau back up plan dalam menghadapi bencana jika suatu hari nanti internet mengalami shut down? Kita harus berpikir bagaimana cara agar kita bisa survive. 3. Ibu Mira (PANDI): ID-IGF harus mempunyai alur bagaimana tata cara perumusan suatu gagasan, mulai dari draft hingga menjadi policy. 4. Ibu Shita Laksmi (Diplo Foundation): Di antara seluruh IGF regional yang ada, Indonesia yang hanya memiliki draft mekanisme kerja walaupun belum disahkan oleh MAG ID-IGF. Outreach ID-IGF harus lebih luas sehingga adanya masukan usulan penggantian nama dari ID-IGF menjadi Forum Internet Indonesia, karena ID-IGF terlalu ribet untuk dijelaskan kepada masyarakat. 5. Ibu Astari (MAFINDO): Terkait IGF Global, banyak tema hoax dalam IGF banyak beberapa pandangan kritis terhadap hoax. Siapakah yang punya kompetensi yang menentukan informasi itu adalah hoax? Indonesia perlu ada kesepakatan terkait fenomena hoax ini. 6. Bapak Yuan (Komunitas Pustakawan): Pada tahun 2030 akan ada ledakan demografi, kita akan banyak sekali memiliki sumber daya manusia. Ada strategi yang bagus untuk Indonesia dalam menghadapi yaitu literasi informasi. Jika literasi informasi diperkuat dari sekarang maka pada saat ledakan demografi terjadi masyarakat menjadi lebih pintar dalam menerima informasi dan bisa membedakan mana fake dan real news. 7. Ibu Ellen (Safenet): Investasi literasi digital jauh lebih penting karena internet sekarang sudah dipakai oleh siapa saja tapi tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mendapatkan literasi digital, karena sampai sekarang banyak kalangan yang belum bisa membedakan mana opini, fakta, ataupun berita. Literasi digital jangan cuma one time event saja, kalau bisa literasi digital masuk ke dalam kurikulum sekolah. 8. Ibu Kiki (Komunitas Pustakawan/Blogger): Kalau bisa program-program ID-IGF juga menyasar kalangan bawah. ID-IGF bisa menggandeng beberapa komunitas penggiat literasi untuk sosialisasi mengenai literasi digital kepada kalangan bawah karena masih banyak ibu-ibu dari kalangan bawah yang menyebarkan berita basi.
  6. 6. F. PENUTUPAN Acara ditutup dengan penyerahan buku modul tata kelola internet oleh Koordinator MAG ID-IGF kepada Bapak Ashwin Sasongko, Ibu Harkrisyati Kamil, Bapak Semuel A. Pangerapan dan Ibu Shita Laksmi selaku perwakilan dari penggiat tata kelola internet di Indonesia. Lampiran: - Peserta Rapat Jakarta, 20 Januari 2018 Mengetahui, Mariam F. Barata Koordinator MAG ID-IGF
  7. 7. LAMPIRAN PESERTA RAPAT: 1. A. Ahmad Fauzi (Billion Apps) 2. Adek Triana (Kemlu) 3. Almania (iDEA) 4. Alvidha S (Sekretariat ID-IGF) 5. Amal Nur (viva.co.id) 6. Anita (GNLD Siberkreasi) 7. Arfi Bambani (AJI) 8. Aristanto H. (Perpusnas) 9. Ashwin Sasongko (LIPI) 10. Astari Y. (MAFINDO) 11. Ayu (CNN Indonesia) 12. Bambang Pratama (BINUS) 13. Bhredipta (KK Advocates) 14. Damar (liputan6.com) 15. Dhika Winata (Media Indonesia) 16. Didik P. (Perpusnas) 17. Doli (Lentera Indonesia) 18. Donny BU (Kemkominfo) 19. Ellen (safenet) 20. Emir Hartato (petabencana.id) 21. Endah (sinyal.co.id) 22. Fergi Nadira (Republika) 23. Fidya Shabrina (umum) 24. Finsa (Berita Potret) 25. Fiona Suwana (QOT) 26. Fri Herlino (mataindonesia.co) 27. Garin Ganis (ISOC ID) 28. Handoyo (APJII) 29. Harkrisyati Kamil (ISIPII) 30. Indri DS. (UNSW Law School) 31. Joko W. (Sorot News) 32. Joseph Mario (Umum) 33. Kiki Handriyani (Journal Reportase) 34. Liu (Umum) 35. M. Harun (melayutoday.com) 36. Mardiana (Sekretariat ID-IGF) 37. Mediana (KOMPAS) 38. Noor Iza (Kemkominfo) 39. Oki (FP3I) 40. Pandu (Bisnis Indonesia)
  8. 8. 41. Patricia (Kemkominfo) 42. Pritta (petabencana.id) 43. Reza Reflusmen (Kemlu) 44. Rizki Ameliah (Kemkominfo) 45. Roro (suara.com) 46. Rosalia Adisti (bukalapak.com) 47. Salma Nur Aini (Kemkominfo) 48. Satriyo Wibowo (ICSF) 49. Semuel A. Pangerapan (Kemkominfo) 50. Shita Laksmi (Diplo Foundation) 51. Silvester (Relawan TIK) 52. Sisca (suara.com) 53. Suwardi (Kemkominfo) 54. Syaiful H. (tempo.co) 55. Syifa (G-Priority) 56. Tedi SM (APJII) 57. Tini (kompas.com) 58. Tri Aryadi (Kemlu) 59. Virzah Syalfira (iDEA) 60. Weliana (hipwee.com) 61. Yogi H (CNN Indonesia) 62. Yuan (ISIPII) 63. Yuli Asmini (ISIPII)

×