Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Fokus

226 views

Published on

Perhatian kita yang sudah berkeluarga akan terpecah dengan banyak urusan, mulai dari masalah mainan anak, anak sekolah, kesehatan, rumah, persoalan keluarga besar, hingga urusan karir dari pekerjaan yang sudah kita geluti. Masuk ke dunia bisnis tentu saja menambah kerumitan. Padahal kita menginginkan kenyamanan dan kebahagiaan.

Published in: Self Improvement
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Fokus

  1. 1. Fokus (bagian 1) : menjadi alami “Sepertinya susah kalau memulai bisnis setelah berkeluarga,” komentar seorang teman saya. “Selain perhatiannya banyak terpecah, juga kita jadi keluar dari zona nyaman,” katanya melanjutkan. Memang demikian pula yang saya rasakan. Perhatian kita yang sudah berkeluarga akan terpecah dengan banyak urusan, mulai dari masalah mainan anak, anak sekolah, kesehatan, rumah, persoalan keluarga besar, hingga urusan karir dari pekerjaan yang sudah kita geluti. Masuk ke dunia bisnis tentu saja menambah kerumitan. Padahal kita menginginkan kenyamanan dan kebahagiaan. Apakah yang sudah tua tak baik lagi untuk memulai bisnis? Hmmm, tunggu dulu. Ini hanyalah masalah bagaimana mengelola energi kita. Mengapa anak muda tampaknya lebih berpeluang sukses dalam bisnis? Ya.., karena energi mereka masih berlimpah. Saya sering bilang ke adik-adik yunior. Silahkan mencoba banyak hal, tapi di usia 30 tahun silahkan putuskan dimana akan berkiprah. Usia 30 tahun adalah masa evaluasi pertama dalam karir kita. Setelah mencoba banyak hal, dimanakah ladang yang ingin kita tekuni? Kalau sebelumnya kita punya banyak energi untuk mencoba banyak hal, maka semakin bertambah umur semakin menurun pula tingkat energi kita. Karena itu agar bisa tetap setajam sebelumnya, kita perlu mempersempit bidang yang kita tekuni. Ibarat mempertahankan tekanan untuk mendobrak hambatan, maka bila energi turun separuh maka area tekan harus direduksi menjadi separuh juga.
  2. 2. Jadi, menjadi fokus adalah suatu hal yang alami. Energi yang menurun harus diimbangi dengan menurunkan pula area yang kita kerjakan. Dengan demikian kerja kita tetap bisa seproduktif dulu saat masih lebih muda. Repotnya kalau kita ini serba bisa. Rasanya banyak sekali peluang yang menarik terus datang silih berganti menggoda untuk dicoba. Inilah yang menjadikan banyak orang pintar dan berbakat justru tak menjadi apapun setelah lama menempuh karirnya. Jadi, mari mulai fokus. Mana yang akan kita pilih? Mana pula yang dengan tegas kita tinggalkan? Tetes air yang fokus, bisa melubangi batu. Fokus (bagian 2) : dimanakah fokus diarahkan? Orang yang fokus ternyata sering ‘tidak beruntung’. Hehe, benar, terlalu fokus menyebabkan kita tidak beruntung. Sebuah penelitian oleh Wiseman menunjukkan bahwa orang yang terlalu fokus seringkali justru luput dari peluang-peluang yang melintas di depannya. Orang yang gagal menunjukkan ciri sikap yang kaku dan tegang, sehingga perhatiannya hanya terpusat pada fokusnya. Sebaliknya orang yang beruntung, dalam penelitian Wiseman yang ditulis di buku Luck Factor, menunjukkan fleksibilitas dalam memindahkan fokusnya. Mari kita ambil contoh Ray Kroc pendiri jaringan restoran McDonald’s. Sebenarnya dia adalah salesman hebat dengan rekor penjualan yang bagus untuk peralatan mixer minuman. Ketika dia menemukan McDonald’s pertama kali, dia merasa bahwa peluang menjual burger ala McDonald’s adalah peluang yang sangat bagus. Dia tinggalkan karirnya sebagai salesman alat mixer, dan pindah menjadi ’sales’ burger. Di sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa Ray Kroc tetap fokus menjadi ’salesman’, hanya kali ini fokus produknya adalah jaringan restoran siap saji. Jadi, dimanakah fokus harus kita arahkan? Jawab : pada peluang terbaik.
  3. 3. Jim Collins dalam bukunya Good to Great mendapatkan bahwa perusahaan yang berhasil menjadi ‘great’ ternyata mengalokasikan sumber daya terbaiknya bukan pada masalah terberat tapi pada peluang terbaik. Alasannya, mengalokasikan sumberdaya terbaik untuk masalah terberat hanya akan menjadikan perusahaan berpindah dari ‘bermasalah’ menjadi ‘baik-baik saja’, artinya tidak banyak peningkatan. Sedangkan bila mengalokasikan sumberdaya terbaik untuk peluang terbaik, maka perusahaan bisa berubah dari ‘baik-baik saja’ menjadi ‘luar biasa’. Kesimpulan Jim Collins ini tentu selaras dengan guru dia, yaitu Peter Drucker. Drucker adalah penggagas konsep bahwa sumberdaya terbaik harus digunakan untuk menggarap peluang terbaik. Perusahaan harus fokus kepada peluang. Menurut Drucker, pimpinan perusahaan yang baik juga harus fokus pada peluang, dan biarkan wakilnya yang menyelesaikan masalah. Artinya, energi puncak perusahaan adalah fokus pada peluang. Kita sebagai pribadi pun sama saja. Energi terbaik, kekuatan terbaik, dan talenta terbaik kita, seharusnya diarahkan kepada peluang terbaik. Tentu saja kita tetap harus menyelesaikan masalah-masalah, namun alokasi energi untuk meraih peluang seharusnya lebih banyak. Pertanyaan berikutnya : jadi apa itu peluang terbaik? Fokus (bagian 3) : Peluang Terbaik Tidak ada jawaban paling pasti untuk menjawab pertanyaa apa itu peluang terbaik. Sesuatu yang terbaik selalu terkait dengan kondisi dan waktu. Apa yang terbaik saat ini mungkin tak lagi terbaik untuk esok hari. Walau begitu, ada beberapa tips untuk mendeteksi peluang terbaik. Berikut tiga kriteria sederhana untuk menentukan peluang terbaik.
  4. 4. 1. Dampak : memberi imbalan jangka panjang Bagaimana kita yakin calon pendamping, tempat kerja, rumah, atau karir yang kita pilih adalah peluang terbaik? Sebuah diskusi kecil dengan teman semasa kuliah dulu memberikan jawaban menarik. Bagaimana kita yakin seseorang adalah pendamping yang baik bagi kita? Jawabnya, bayangkan 20 tahun lagi, apakah kira-kira kita masih nyaman dan senang bersama dia? Apakah kita masih akan ‘bersama-sama menapaki tangga menuju surga’ bersama dia? Kalau jawabnya ya, maka dia adalah pilihan tepat. Berbicara tentang karir dan investasi, maka pilihan terbaik adalah karir dan investasi yang memberikan ‘residu penghasilan’ atau disebut ‘passive income’. Kalau ada sebuah pekerjaan yang memberikan penghasilan besar jangka pendek, tapi tidak memberi kepastian jangka panjang, dibandingkan pekerjaan dengan penghasilan cukup namun memberikan pensiun jangka panjang, maka secara prinsip investasi kita sebaiknya memilih yang jangka panjang. Untuk menentukan peluang terbaik, kita perlu bertanya, “ Apakah yang saya lakukan ini akan memberikan manfaat dalam jangka yang cukup panjang ke depan bagi saya?” Bila jawabnya ya, maka peluang tersebut merupakan kandidat peluang terbaik. Ibarat menanam padi dan kelapa, maka sambil menanam padi yang memberi hasil jangka pendek, kita juga harus menanam kelapa yang memberi hasil dalam jangka panjang. 2. Nilai : memberikan kepuasan paling maksimal Mungkin beberapa peluang akan sama-sama memberikan efek jangka panjang bagi kita. Bertekun di MLM, merintis karir di kantor, ataupun membuat bisnis kursus sendiri. Bagaimana memutuskan peluang terbaik?
  5. 5. Setiap diri kita punya pembawaan unik. Ketika semua peluang sama menariknya, maka pertanyaan berikutnya adalah, “Mana yang memberikan kepuasan paling maksimal?” Benda yang sama memberikan kepuasan berbeda bagi orang yang berbeda. Menjadi Presiden walaupun merupakan mimpi standar bagi anak SD, ternyata bukan minat semua orang. Mungkin saya termasuk jenis orang yang akan tersiksa dengan protokoler kepresidenan, rumitnya pengawalan, dan intrik politik. Menurut tes SEPIA Modus, ternyata kepuasan maksimal saya adalah dunia kreasi (tipe kreator). 3. Sesuai : yang paling sesuai (fit) kondisi Karena setiap orang adalah unik, maka pekerjaan tertentu akan lebih sesuai bagi orang tertentu. Bagai ikan dalam air, begitu pepatahnya. Menjadi fit bukanlah yang terkuat, atau terhebat, tapi yang paling sesuai dengan kondisi. Kita akan mengerjakan sesuatu dengan gampang bila kita memang punya bakat dalam tugas tersebut. Di setiap pekerjaan sebenarnya ada sub pekerjaan yang berbeda-beda. Apakah semua tentara harus berotot kuat? Ya jelas tidak. Napoleon Boneparte adalah contoh legenda bahwa prajurit pendek dengan fisik kecil, namun jagoan strategi dan membakar semangat, adalah jendral yang sangat tangguh dalam perang. Nah, kalau Anda cerdik, walau otot biasa saja, mungkin tetap bisa cocok jadi jenderal. Selain bakat, dukungan komponen lain juga perlu dipertimbangkan. Kita tidak dapat melakukan sesuatu sendirian. Memperhatikan kondisi lingkungan juga penting untuk menilai suatu peluang terbaik. Kalau Anda ahli nuklir, paling berbakat di bidang tersebut, tapi tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung Merapi, mungkin berkarir sebagai ahli nuklir bukanlah peluang terbaik Anda saat itu. Anda harus pindah ke negara maju, atau minimal punya akses ke pemerintah untuk mewujudkan mimpi
  6. 6. Anda. Walau demikian dunia terus berputar, apa yang dulu bukan peluang terbaik bisa saja saat ini mulai menjadi peluang terbaik. Kondisi lingkungan yang berubah ini juga perlu diperhatikan dalam menilai sebuah peluang. Bila kita perlu memilih antara dua peluang yang sama bagusnya dalam memberi imbalan jangka panjang, sama bernilainya dalam memberikan kepuasan, maka kita pilih peluang dimana kita akan menjadi pemain yang cukup cakap dan terdapat dukungan yang memadai. Kita pilih lingkungan dimana kita paling ‘fit’ di dalamnya. Kesimpulan, kalau kita perhatikan prinsip-prinsip tersebut, maka 3 hal tersebut merupakan sisi lain dari prinsip landak : imbalan ekonomi (berapa Anda dibayar), passion (apa yang Anda suka), dan talenta (apa bakat Anda). Itu bila menilai diri kita pribadi. Sedangkan untuk menilai peluang maka kita melihat : dampak, nilai, dan kesesuaian (fit).

×