Sastra jawa melawan globalisasi

9,331 views

Published on

hasil reportase tentang kondisi sastra Jawa termutakhir

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
9,331
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
92
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Sastra jawa melawan globalisasi

  1. 1. Eskapisme Sastra Jawa Melawan Globalisasi Ichwan PrasetyoSastra itu buku (Suparto Brata, begawan sastra Jawa)Sekarang tak ada acuan karya sastra Jawa modern yang berkualitas (Sucipto HadiPurnomo, Ketua Organisasi Pengarang Sastra Jawa/OPSJ, dosen Bahasa dan Sastra Jawadi Universitas Negeri Semarang/Unnes) I Belasan sastrawan Jawa dan pencinta sastra Jawa berkumpul di Pendapa WismaSeni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo atau Taman Budaya Surakarta (TBS),Sabtu malam, 25 Februari 2012. Hujan rintik-rintik yang membuat banyak orang engganberanjak dari rumah seakan menabalkan kondisi dunia sastra Jawa kini yang semakintersingkir dari “peradaban” orang Jawa. Pertemuan itu diprakarsai pengurus OrganisasiPengarang Sastra Jawa (OPSJ). Pertemuan Sabtu malam itu sebagai tindak lanjut Kongres Sastra Jawa III di DesaJono, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, 28-30 Oktober 2011dan Kongres Bahasa Jawa V di Surabaya, 27-30 November 2011. Hampir semua yanghadir dalam pertemuan di Wisma Seni TBS itu hadir dalam Kongres Sastra Jawa III danKongres Bahasa Jawa V. Tito S Budi yang terkenal dengan nama pena Daniel Tito, sastrawan Jawa yangmenggeluti dunia sastra Jawa sejak awal 1970-an, di sela-sela pertemuan OPSJ itumengatakan apa yang dia lihat dalam pertemuan Sabtu malam itu adalah gambaran riildunia sastra Jawa era kini. “Semua yang hadir ini generasi tua. Mayoritas di atas 50 tahun. Ini realitas sastra Jawa. Sudah mati.”
  2. 2. “Semua yang hadir ini generasi tua. Mayoritas di atas 50 tahun. Ini realitas sastraJawa. Sudah mati,” kata Tito. “Kematian” sastra Jawa sudah lama dibicarakan. SastrawanArswendo Atmowiloto dalam sebuah diskusi di Balai Soedjatmoko Solo, beberapa waktulalu, mengatakan sastra Jawa mati seiring tersisihnya aksara Jawa dari kehidupan orangJawa. Tapi, pendapat ini dia koreksi pada awal 2012. Arswendo adalah penulis dan wartawan yang mengawali karier kesastraan dankepenulisannya di dunia sastra Jawa. Kini, dia kembali menulis karya sastra Jawa setelahlebih dari 30 tahun meninggalkan dunia sastra Jawa yang sebelumnya dia tekuni dengankarya berupa cerita pendek (crita cekak/cerkak) atau esai. Apa yang terjadi dalam pertemuan OPSJ di Wisma Seni TBS itu, menurut Tito,adalah pengulangan dari peristiwa yang sama dalam dua dekade terakhir. Menurutnya,dalam setiap pertemuan sastrawan Jawa yang dia hadiri selama dua dekade terakhir,orang-orang yang hadir adalah itu-itu saja. “Perbedaannya hanya satu, saya dan mereka makin tua,” kata Tito sambil tertawalepas. Menurutnya, kematian sastra Jawa menjadi keniscayaan ketika mereka yang rutinhadir dalam pertemuan-pertemuan sastrawan Jawa meninggal dunia. Mereka yang hadir—selalu hadir—dalam pertemuan-pertemuan sastrawan Jawa adalah orang-orang yangkonsisten hadir dalam jagat sastra Jawa. Sabtu malam itu hadir Suparto Brata, sastrawan Jawa senior yang secara informalditabalkan sebagai begawan sastra Jawa; Tiwiek SA, pendiri Sanggar Triwidha diTulungangung, Jawa Timur; Dhanu Priyo Prabowo, peneliti di Balai Bahasa Yogyakartayang pernah menjabat sebagai Sekretaris Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta; AmieWilliams, pencinta sastra Jawa yang punya akun Facebook yang konsisten membahasbahasa dan satra Jawa; Rini Tripuspo Hardini, guru di sebuah SMPN di Salatiga yangproduktif menulis geguritan (puisi berbahasa Jawa) serta beberapa pencinta sastra Jawadari Jakarta, Tegal, Surabaya dan Semarang. Dan rata-rata mereka sudah berumur di atas45 tahun. Para sastrawan dan pencinta sastra Jawa yang hadir dalam pertemuan OPSJ diWisma Seni TBS dan para sastrawan dan pencinta sastra Jawa dalam jumlah lebihbanyak yang hadir dalam Kongres Sastra Jawa III dan Kongres Bahasa Jawa V rata-ratamenyatakan sastra Jawa memang makin tersisih. Tapi, mereka juga bergelimangoptimisme untuk mempertahankan, bahkan tak henti berusaha memberdayakan sastraJawa. Yusuf Susilo Hartono, penulis yang menggeluti sastra Jawa yang tinggal diJakarta, mengatakan jika perlu kini para sastrawan dan pencinta sastra Jawa harus merekaatau berinovasi menghasilkan bentuk baru sastra Jawa demi menyesuaikan diri denganperkembangan zaman. Menurut Yusuf, sastra Jawa gaya baru atau sastra Jawa gagrag anyar yangberupa cerita pendek (crita cekak/cerkak), cerita bersambung (crita sambung/cerbung),puisi berbahasa Jawa (geguritan), novel atau novellete berbahasa Jawa dan esai-esaiberbahasa Jawa tentang sastra Jawa dan kejawaan bisa jadi sudah tak diminati generasimuda Jawa era kini. Semakin tingginya frekuensi komunikasi antarbudaya baik lokal, nasional,regional maupun internasional menempatkan masyarakat Jawa dalam posisi yangkompleks. Era kesejagatan atau globalisasi menuntut orang Jawa tak sekadar menjadi
  3. 3. orang Jawa yang njawa di dalam komunitas budaya mereka sendiri, tetapi sekaligusmenjadi orang Jawa yang berbangsa Indonesia serta menjadi orang Jawa yang wargamasyarakat dunia yang kini semakin nirbatas. Globalisasi meniscayakan frekuensi intensif antarbudaya lokal, nasional, regionaldan internasional. Tuntutan bahwa wong Jawa harus njawa di komunitas Jawa sekaligusberbangsa Indonesia dan warga dunia memang tak bisa diakomodasi secara baik danberimbang. Yang terjadi kini, mayoritas wong Jawa justru kehilangan kejawaan mereka.Wong Jawa ilang Jawane. Di tengah kerumunan budaya global yang saling bersaing memikat manusiamengakibatkan mayoritas orang Jawa menjadi tidak njawa. Orang Jawa kehilangan jatidiri, kata Sugiyatno Ronggojati, warga Solo yang merupakan salah satu budayawan Jawadan pelestari aksara Jawa sekaligus pencinta sastra Jawa. Menurut Sugiyatno, hilangnya karakter Jawa itu menjadikan karakter masyarakatJawa melemah. Karakter yang melemah tersebut membawa pengaruh negatif yangberantai. Dalam sebuah acara diskusi tentang karya sastra Ronggawarsita di LojiGandrung, rumah dinas Wali Kota Solo, Kamis, 1 Maret 2012, Sugiyatno mengatakan itusemua sebenarnya memang pengaruh tak langsung dari globalisasi. Globalisasi tak hanya punya pengaruh yang bersifat langsung yang dibawa olehagen-agen globalisasi seperti yang mudah dilihat dan diamati dalam gejala sektorekonomi dan keuangan. Agen globalisasi di sektor ekonomi bisa dilihat nyata denganpencabutan subsidi untuk rakyat, menjamurnya gerai-gerai perbelanjaan modern, modepakaian, genre film dan sebagainya. ”Yang paling berbahaya menurut saya justru pengaruh globalisasi yang taklangsung, yaitu pengaruh globalisasi pada kebudayaan,” kata KRA WidijatnoSontodipuro, pengelola majalah berbahasa Jawa Mbangun Tuwuh yang diterbitkankeluarga besar Pura Mangkunegaran, Solo. Sugiyatno dan Widijatno mengatakan lemahnya karakter masyarakat Jawa akibatdaya globalisasi menyebabkan berkurangnya ketegasan identitas lokal masyarakat Jawa.Identitas kejawaan semakin kabur. Ini mengakibatkan masyarakat Jawa mengalamikendala-kendala kultural dalam komunikasi antarbudaya baik dalam lingkup nasionalmaupun internasional. “Wong Jawa menjadi cenderung pesimistis, sinis, mudah gusar dalam menjalanipergaulan antarbudaya,” kata Sugiyatno. Kaburnya identitas kejawaan masyarakat Jawabisa diidentifikasi dari semakin berkurang atau semakin lemahnya penggunaan bahasaJawa dan apresiasi terhadap sastra Jawa. Bahasa dan sastra Jawa makin terpinggirkan diranah keluarga, lingkungan sekitar tempat tinggal maupun ritual-ritual kebudayaan. Daya saing bahasa Jawa terhadap bahasa asing dan bahasa nasional menjadisemakin berkurang. Generasi muda Jawa cenderung memilih menggunakan bahasaIndonesia dan bahasa asing dalam menjalankan aktivitas penunjang kehidupan merekaseperti aktivitas di lingkungan pekerjaan, akademik/pendidikan, maupun aktivitas formallainnya. Peminat terbitan-terbitan berbahasa Jawa semakin berkurang. Karya sastra Jawasebagai penjaga bahasa Jawa semakin tak laku, tak diminati. Generasi muda tidak mau“mengonsumsi” karya sastra Jawa. Peminatnya yang kebanyakan generasi tua punsemakin berkurang jumlahnya.
  4. 4. Apresiasi masyarakat Jawa terhadap karya sastra Jawa tidak berkembang. Meskipun para pegiat sastra Jawa masih ada, menurut Tito, apresiasi masyarakatJawa terhadap karya sastra Jawa tidak berkembang. Peminatnya makin berkurang.Penerbitan karya sastra Jawa kembang kempis. Konsumsi karya sastra Jawa taksebanding dengan konsumsi novel atau film Indonesia dan asing. Ini, kata Tito,Sugiyatno dan Widijatno, salah satu dampak tak langsung globalisasi terhadap sastraJawa. Apresiasi masyarakat Jawa terhadap sastra Jawa tertatih-tatih. Berkurangnyakualitas dan kuantitas penggunaan bahasa Jawa dan apresiasi sastra Jawa oleh masyarakatJawa sendiri merupakan indikator lunturnya jati diri kejawaan. Ihwal globalisasi dan sastra Jawa, Dhanu Priyo Prabowo, yang berpengalamanberpuluh-puluh tahun berkecimpung dalam dunia sastra Jawa dan meneliti bahasa dansastra Jawa, mengatakan sepakat dengan pendapat banyak orang bahwa sastra Jawamundur, bahkan ”mati” akibat terdesak globalisasi. Menurutnya, sebenarnya bukan hanya sastra Jawa yang terdesak globalisasi,tetapi juga kebudayaan lain di negara-negara berkembang. Pengaruh globalisasi terhadapkeberadaan dan keberlangsungan sastra Jawa adalah sesuatu yang wajar di tengah sistempolitik yang mondial yang berkembang saat ini. ”Tapi, pengaruh itu menurut saya normatif saja,” kata Dhanu dalam wawancaratertulis melalui email. Menurutnya, secera esensial justru mulai tumbuh “kebangkitan”sastra Jawa di tengah realitas “kemunduran” dan bahkan “kematian” sastra Jawa. Kebangkitan itu terjadi karena banyak orang Jawa atau siapa pun yang pernahbelajar tentang sastra Jawa sebagai sumber kearifan budaya Jawa sekarang sedangmencari kembali sastra Jawa sebagai wujud penolakan terhadap sistem politikkebudayaan global, khususnya pengaruh kapitalisme dan liberalisme yang cenderungnegatif bagi kebudayaan di negara-negara berkembang, termasuk Jawa. Orang Jawa dalam jumlah banyak secara terbuka atau sembunyi-sembunyi sedangmenempatkan kembali sastra Jawa sebagai sumber kebajikan hidup di tengah dunia yangserba kacau saat ini. Mereka yang mencari dan berusaha kuat menemukan kebajikanhidup itu berasal dari segala strata sosial dan pekerjaan. “Jadi, saya justru menampik anggapan sastra Jawa telah ‘mati’. ArswendoAtmowiloto yang pada 1982 dengan tegas menyatakan ‘sastra Jawa telah mati’,kemudian meralat pernyataannya dengan kesadaran penuh,” kata Dhanu. Arswendo sendiri pada 2012 ini menulis kembali cerita pendek berbahasa Jawasetelah berhenti menulis berbahasa Jawa selama 35 tahun. Menurut Dhanu, realitasmenunjukkan bahwa sastra Jawa kehidupannya memang tidak ideal seperti dituntut
  5. 5. banyak orang secara normatif dengan membandingkan dengan sastra negara lain. Tetapi,sastra Jawa tetap hidup dan menghidupi sikap hidup orang Jawa saat ini. Menurut Daniel Tito, sikap Dhanu itu menunjukkan memang ada perlawanan darikomunitas sastra Jawa terhadap realitas dan anggapan bahwa sastra Jawa “telah mati”.Dan memang optimisme seperti yang ditunjukkan Dhanu itu yang selama ini membuatsastra Jawa tetap hidup, walau tak berkembang senormatif ketika dibandingkan dengansastra Indonesia dan sastra negara lain. ”Persoalannya, optimisme sastra Jawa melawan realitas ‘kematiannya’ itumayoritas diusung oleh generasi tua. Sementara regenerasi sastrawan Jawa sangattertatih-tatih. Generasi muda lebih tertarik dengan sastra asing yang kemudian merekaekspresikan ke dalam sastra berbahasa Indonesia,” kata Tito. Inilah, yang menurut Tito, menjadi manifestasi dari realitas sastra Jawa yang“mati” tersebut. Tak ada regenerasi secara sistematis dan teratur. Lebih lanjut, Dhanumengatakan globalisasi adalah sebuah sistem yang mencoba menguasai dunia sesuaikeinginan dan agenda orang/kelompok/negara tertentu dengan gerakan kebudayaan yangmereka susun dan rekonstruksi. Sastra Jawa di tengah situasi cengkeraman penjajahan mondial denganmengatasnamakan globalisasi tidak menyajikan sejenis kebijaksanaan cepat saji yang taksehat bagi kehidupan. Sastra Jawa melawan gejala instan yang dibawa globalisasi denganmenyajikan makanan jiwa yang menenteramkan dan mencerahkan bagi kehidupan.“Pertanyaannya, apakah kita merasakan ketenteraman dan pencerahan dari sastra Jawakalau kita mempelajarinya dengan penuh apresiasi dan serius?” papar Dhanu. Realitas ketika sebagian besar warga masyarakat Jawa enggan mendekati danmengapresiasi sastra Jawa, menurut Dhanu, memang menunjukkan bahwa sebagian besarmasyarakat Jawa larut dalam budaya buah globalisasi yang serba instan, serba cepat danbisa langsung dirasakan kenikmatannya. Tapi, menurut Dhanu, jutsru realitas ini pula yang membangkitkan perlawanansastra Jawa terhadap globalisasi. Ihwal pengaruh globalisasi terhadap sastra Jawa, BonariNabonenar yang menjadi Ketua Panitia Kongres Sastra Jawa III dan Sekretaris OPSJ,mengatakan pengaruh globalisasi terhadap sastra Jawa memang tak langsungsebagaimana agen-agen globalisasi di sektor ekonomi, finansial, mode dan hiburanvisual. Menurut Bonari, pengaruh globalisasi terhadap sastra Jawa laksana agen senyapberdaya bunuh tinggi yang merasuk secara diam-diam ke dalam sektor kehidupanmasyarakat Jawa. Agen senyap itu masuk dan merasuk ke sektor kehidupan masyarakatJawa yang mencakup sisi ekonomi, sosial dan budaya (ekosob) dan kemudian berdampakluar biasa negatif terhadap dunia sastra Jawa. Bonari mengilustrasikan dulu di kawasan pedesaan di Kecamatan Panggul,Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, pada akhir 1970-an, banyak ibu yang terlibat dalampembicaraan tentang cerita bersambung yang dimuat majalah berbahasa Jawa. Merekasaling mengomentari dan menebak-nebak kira-kira bagaimana cerita selanjutnya. “Itu ketika pesawat televisi masih jarang. Lembaga penyiaran relevisi baruTVRI,” kata Bonari. Seiring perkembangan zaman, ketika peswat televisi makin murahdan nyaris semua rumah memiliki pesawat televisi, serta lembaga penyiaran televisisemakin banyak pula, majalah dan bacaan berbahasa Jawa juga ditinggalkan.
  6. 6. Realitas seperti itu terjadi bersamaan dengan generasi muda Jawa yang terustumbuh dengan pola pikir bahwa segala sesuatu yang berlabel luar negeri—dan luarnegeri itu adalah Barat—adalah lebih unggul dibandingkan “negeri sendiri”, apalagi jikadipersempit menjadi Jawa. Menguasai alat musik Barat jauh lebih bergengsi daripadamenguasai gamelan. Menguasai bahasa Inggris adalah lebih gagah daripada menguasaibahasa Jawa. Generasi muda yang merupakan bibit-bibit unggul Jawa semakin meninggalkan kejawaan, sedangkan yang tersisa, termasuk para penulis/pengarang/sastrawan Jawa, sebagian besar gagal mempersembahkan yang terbaik untuk merebut lebih banyak pembaca. Dengan persepsi seperti itu terciptalah lingkaran setan: generasi muda yangmerupakan bibit-bibit unggul Jawa semakin meninggalkan kejawaan, sedangkan yangtersisa, termasuk para penulis/pengarang/sastrawan Jawa, sebagian besar gagalmempersembahkan yang terbaik untuk merebut lebih banyak pembaca. Arswendo Atmowiloto dalam Kongres Sastra Jawa III mengatakan zaman kiniyang disebut zaman industri memosisikan segala sesuatu harus diukur dan dibandingkanantara yang satu dengan yang lainnya. Salah satu wujud nyatanya adalah rating atausharing di dunia kebudayaan. Ini jelas buah globalisasi, agen globalisasi yang berakarpada kapitalisme industri, yang meletakkan segala sesuatu dengan ukuran untung danrugi. “Kita tidak bisa menilai perempuan itu cantik, harus diukur bagian-bagianfisiknya. Ukuran itu yang dibandingkan dengan perempuan lain,” kata Arswendo. Polaberpikir seperti ini juga diterapkan ketika berbicara sastra Jawa. Ukuran-ukuran yangditerapkan memang mengecewakan dalam konteks kejawaan karena tidak menyentuhpersoalan batin atau roh, yang diukur sebatas fisik. Inilah yang mengakibatkan tontonan di televisi atau siaran di radio, dan beritaatau tulisan di koran, diukur dengan berapa penontonnya, berapa pendengarnya, berapapembacanya. Bukan apa isinya. Dalam ranah produksi mengemuka kredo: tak peduliberapa biayanya, yang penting berapa untungnya. Sastra Jawa, kata Arswendo, yang mengutakan roh dan isi, kemudian menjadikelabakan ketika harus hidup di tengah kondisi faktual yang mengutamakan rating dansharing. Bahasa Jawa yang dinilai generasi muda Jawa sekarang sebagai “tak gaul”,kuno, ketinggalan zaman, meniscayakan sastra Jawa dalam kondisi marginal, terengah-engah mengejar zaman.
  7. 7. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hemangku Buwono X,dalam Kongres Bahasa Jawa V di Surabaya mengatakan dengan merefleksi sejarah, telahterjadi transformasi budaya yang mendasar, perubahan orientasi dari lokal ke nasionaldan kini ke global atau internasional. Dalam konteks ini, menurut Sri Sultan, kini tak mungkin lagi mengatakan bahwabudaya Jawa (dan sastra Jawa) hanya merupakan rujukan orang Jawa saja, seperti tatkalaorang Jawa belum mengenal keluasan Tanah Air dan keragaman etnis serta budayanya. Dalam keluasan itulah, kontak-kontak dengan nilai-nilai asli di tempat lain terjadi.Dan dalam skala globalisasi, kontak-kontak budaya itu terjadi begitu masif dan tak jarangmengakibatkan budaya lokal tertentu (termasuk budaya Jawa dan sastra Jawa sebagaibagiannya) tersisih dan termarginalisasi. Megutip lembaran Babad Giyanti, Sri Sultan mengatakan bahwa Sri SultanHamengku Buwono I pernah bersabda: Satuhune Sri Narapati Mangunahnya Brangti-Wijayanti. Keprihatinan itu menggambarkan bahwa oleh gencarnya politik kolonialismeBelanda menjadikan raja-raja Jawa seakan terkena demam asmara, lemah tanpa daya. Keadaan ini harus dihadapi degan wijayanti dan puwarane sung awerdi, gagat-gagat wiyati. Agar berjaya harus meneladani sikap tulus tanpa pamrih guna menyambutcerahnya hari esok yang laksana biru nirmala. Keprihatinan atas kemunduran budaya,bahasa dan sastra Jawa, menurut Sri Sultan, ada paralelisme sejarahnya denganglobalisasi saat ini yang menantang untuk meningkatkan ketahanan budaya. Dalam hubungan dan konflik dengan perkembangan zaman, sastra Jawa memangtelah tua, sangat tua, umurnya lebih dari sepuluh abad. Sastra Jawa terbentang luas sejakabad IX hingga awal abad XXI ini. Sastra Jawa yang sedemikian tua itu menurut SBambang Purnama dalam bukunya Kesastraan Jawa Pesisiran, pada hakikatnyamerupakan pewahyuan atau realisasi diri kelompok manusia yang berbeda-beda, dengandemikian berkarakteristik yang berbeda-beda pula. Sebagai sastra yang telah tua, dengan umur lebih dari 10 abad, sastra Jawa telahmengalami berbagai pasang surut konsep tentang hakikat sastra. Konsep-konsep yangberlaku dalam sastra kakawin tidak sama dengan konsep sejenis dalam sastra kidung,yang muncul dan berkembang tidak lama setelah sastra kakawin mengalami masa surut. Konsep tembang macapat pada sastra Jawa baru jauh berbeda dengan konsepsastra Jawa pada kidung. Demikian juga pada sastra Jawa modern yang dikenal dengansebutan sastra Jawa gagrag anyar.Lokalitas Aktivis World Social Forum sekaligus dosen di Sekolah Tinggi FilsafatDriyarkarta Jakarta, Herry B Priono, dalam diskusi tentang globalisasi yangdiselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia di Jakarta, 18 Februari2012, mengatakan globalisasi memang berpengaruh terhadap kebudayaan, termasukbahasa ibu. ”Di banyak negara, termasuk di Indonesia, bahasa ibu terdesak, ditinggalkan olehpenuturnya. Para penuturnya menilai bahasa ibu itu kuno. Sedangkan bahasa modernadalah bahasa Inggris,” kata Herry. Dalam kesempatan itu Herry menceritakan di Semarang ada orangtua siswa-siswasekolah internasional yang meminta pengelola sekolah menghapus mata pelajaran Bahasa
  8. 8. Jawa. Mereka beranggapan bahasa Jawa tak perlu diajarkan di sekolah internasional.Bahasa yang paling penting adalah bahasa Inggris. Herry menyatakan prihatin dengan peristiwa itu. Baginya, manusia yangsempurna harus berfondasikan lokalitas, termasuk memahami dan menggunakan bahasaibu, yang kemudian menjadi manusia warga bangsa atau nasional dan kemudian menjadimanusia global atau internasional. Realitas seperti inilah, menurut Herry, yang menunjukkan sebagian pengaruhnegatif globalisasi. Era kesejagatan itu tak hanya menebar agen-agen kasat mata yangberupa gerai makanan cepat saji, mode pakaian, musik, film, rezim keuangan dan lainsebagainya. Globalisasi, menurutnya juga membawa pengaruh bersifat “tak langsung”yang merusak kebudayaan lokal. Afendy Widayat dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakartaketika berbicara dalam salah satu diskusi di Kongres Bahasa Jawa V di Surabayamengatakan setiap budaya sedikit atau banyak memiliki kekhasannya sendiri sebagaiikon kebanggaan masyarakat pendukungnya. Masyarakat Jawa yang masih merasa memiliki (handarbeni), yakni sebagaipemilik dan pendukung budaya Jawa secara umum, berbagai khasanah budaya didalamnya, tentu akan berusaha untuk mempertahankannya (diupi-upi dhimen lestari). Namun demikian, yang menjadi pertanyaan adalah seberapa jumlah (kuantitas)sebagian masyarakat Jawa yang demikian ini, dan seberapa jauh usaha yang dilakukan(kualitas) dalam rangka ikut gumregut cancut taliwanda mengupayakan pemertahananbudaya itu? Dewasa ini, kata Afendy, arah gerak budaya di setiap sudut dunia mau tidak mautelah terseret laju globalisasi atau keterbukaan informasi, tidak terkecuali padamasyarakat dan budaya Jawa. Tarik ulur antara budaya-budaya besar, seperti modernisasiala Barat, pembudayaan menurut agama-agama besar, atau riak-riak adat ketimurantertentu, lambat laun mulai menggelindingkan bola globalisasi itu menuju masa depanyang menyatu-budaya. Anggapan rendah itu mengemuka dari kalangan wong Jawa sendiri maupun dari kalangan di luar orang-orang Jawa. Realitas sastra Jawa di tengah realitas kebudayaan Jawa dan wong Jawa seperti diatas mengakibatkan mengemukanya anggapan bobot sastra daerah modern lebih rendahdibandingkan sastra Indonesia atau sastra dari negara lain, terutama negara-negara Barat.Anggapan rendah itu mengemuka dari kalangan wong Jawa sendiri maupun darikalangan di luar orang-orang Jawa.
  9. 9. Muncul pula anggapan bahwa sastra Jawa modern itu epigon belaka dari sastraIndonesia modern sehingga menulis dalam bahasa daerah itu tak berguna. Dua realitasyang memarginalkan sastra Jawa itu dibingkai kecurigaan bahwa menggeluti danmengembangkan sastra Jawa adalah usaha mengembangkan atau mempertahankanpaham sukuisme, daerahisme, melalui karya sastra. Dan ujungnya kemudian adalahbanyak penulis atau “sastrawan” Jawa yang kemudian “menyeberang” ke sastraIndonesia. Kondisi kontemporer menunjukkan sastra Jawa memang termarginalkan. Wujudkarya sastra dalam bentuk buku berupa novel, novelette, kumpulan puisi atau kumpulanesai sangat sulit ditemukakan di pasar atau di took-toko buku. Buku-buku karyasastrawan Jawa yang relatif mudah ditemukan di toko buku besar hanya karya SupartoBrata, terutama serial detektif. Itu pun karya lama. Sementara karya sastrawan Jawamutakhir lebih banyak berupa cerita pendek dan puisi yang dipublikasikan melalui mediamassa berbahasa Jawa yang jumlah serta oplahnya juga termarginalkan. II Definisi sastra Jawa modern yang dikenal umum adalah karya sastra Jawa yangmenggunakan bahasa Jawa Baru. Berdasarkan catatan Zoetmulder (1983: 25), bahasaJawa Baru muncul seiring berakhirnya penggunaan bahasa Jawa Kuna dan Bahasa JawaPertengahan pada akhir abad ke-17 yang ditandai dengan berakhirnya kekuasaan kerajaandi Blambangan dan mulai berkembangnya pengaruh Islam. Karya sastra Jawa modern yang dimaksud agaknya terlalu luas, meskipun dalamberbagai isi dan ceritanya juga telah menyuarakan tema-tema budaya Jawa modern.Istilah sastra Jawa modern yang dimaksud, menurut Afendy Widayat dari FakultasBahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, dipersempit menjadi yang menyangkutkarya sastra Jawa mutakhir (meminjam istilah JJ Ras, 1985), dan lebih khusus lagimengacu pada karya sastra Jawa yang berisi cerita kehidupan sehari-hari masyarakatJawa setelah kemerdekaan Indonesia. Batasan ini menekankan isi cerita yang lebih representatif yang lebih mudahuntuk dibandingkan dengan kehidupan riil masyarakat dewasa ini, bahkan mungkin dapatditemukan dalam kehidupan modern akhir-akhir ini. Karya-karya yang demikian iniantara lain berbentuk gancaran yakni cerita pendek atau crita cekak (cerkak), noveletteJawa, novel Jawa modern, dan cerita bersambung Jawa,. Yang berbentuk puisi yaknigeguritan; dan yang drama adalah sandiwara modern. Jenis prosa atau gancaran memiliki keunggulan-keunggulan komunikatif, antaralain: lugas dan jelas. Lugas, menurut Afendy, maksudnya secara umum lebih banyakmenggunakan kosakata sehari-hari sehingga lebih mudah untuk dicerna pembaca. Jelasmaksudnya secara umum lebih banyak menggunakan stuktur gramatikal sesuai denganstandar bahasa formal yang berlaku. Jenis puisi atau geguritan memiliki keunggulan-keunggulan estetis, antara lainpemilihan diksi yang padat, bebas, dan indah. Larik-larik puisi tidak harus berstrukturseperti kalimat formal. Jenis drama menekankan dialog yang mengarah pada konflik parapelakunya. Jenis ini tentu saja memiliki keunggulan aksi dramatik.
  10. 10. Berdasarkan keunggulan ciri-ciri jenis tersebut, jenis prosa atau gancaran, yaknicerkak, cerbung Jawa dan novel atau novellete Jawa merupakan bentuk yang palingrepresentatif untuk bacaan yang menyuarakan kehidupan keseharian masyarakat Jawamodern, meskipun tidak terlepas dari pandangan-pandangan tradisional yang sering dapatditemui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa dewasa ini. Muhammad Ali dalam buku Keterlibatan Sosial Sastra Jawa Modern, 1991,mendefinisikan sastra Jawa modern adalah sastra Indonesia berbahasa Jawa. Menurutnya,pendapat yang menyatakan sastra Jawa modern adalah kelanjutan kultur Jawa (lama)adalah pendapat yang keliru. Pendapat senada dikemukakan Suripan Sadi Hutomo. Yang jelas, sastra Jawa modern memang meninggalkan sastra Jawa klasik atautradisional dengan mengembangkan genre sastra baru yang berkiblat pada sastra Barat.Sastra Jawa modern itu berupa cerita pendek atau crita cekak (cerkak), ceritabersambung, novel, novellete yang berbahasa Jawa dan geguritan atau puisi berbahasaJawa. Satu bentuk lagi yang menguatkan sastra Jawa modern adakah esai berbahasaJawa. Sastra Jawa modern berjalan serupa dengan sastra Indonesia tapi gagal membangun ruang yang diterima komunitas masyarakatnya Sastra Jawa modern berjalan serupa dengan sastra Indonesia tapi gagalmembangun ruang yang diterima komunitas masyarakatnya. “Orang Jawa sekarangmayoritas malah tak bisa membaca karya sastra Jawa. Dan mereka juga tak punyakeinginan untuk membaca karya sastra Jawa,” kata Sucipto Hadi Purnomo, Ketua OPSJ. Suparto Brata, sastrawan Jawa yang berkarya sejak 1951, dan kini ditabalkansecara informal sebagai Begawan Sastra Jawa, dalam sebuah diskusi di DalemWuryoningratan Solo, beberapa waktu lalu, mengatakan sastra adalah buku. Tiada duniasastra tanpa buku. Karya sastra terbaik adalah buku. Mengutip Goldmann (1977; 99),Suparto mengatakan karya sastra yang sempurna adalah karya sastra yang didasarkan ataskeseluruhan kehidupan manusia, yaitu pengalaman subjek kreator (pengarang) sebagaiwarisan tradisi dan konvensi. Sastra menyajikan kehidupan, dan kehidupan tersebut sebagian besar terdiri darikenyataan sosial walaupun karya sastra juga meniru alam dan dunia subjektif manusia.Ada kesamaan antara sosiologi dengan sastra sehingga teks sastra dapat dikaji melaluipendekatan sosiologi (Wellek & Warren; 1989: 109).
  11. 11. Menjaga Kejawaan Bagi Suparto, buku sebagai puncak karya sastra Jawa adalah sarana baku danideal untuk menjaga kejawaan. Dengan buku sastra Jawa, wong Jawa punya kuasamenjaga kejawaan sehingga anggapan orang Jawa kehilangan kejawaan, wong Jawailang Jawane, bisa diantisipasi sehingga menjadi wong Jawa ora ilang Jawane. Tapi, realitas sekarang menunjukkan orang Jawa yang menulis (pengalamanhidupnya) dalam bentuk buku sangat sedikit. Karya sastra Jawa berupa buku, kataSuparto, sangat sedikit. Dan orang Jawa yang membacanya juga sangat sedikit. Bahkan,menurutnya, 95% orang Jawa tidak punya budaya membaca dan menulis buku. Apalagimembaca dan menulis buku karya sastra Jawa, atau setidaknya berbahasa Jawa. Globalisasi yang disokong perkembangan teknologi komunikasi dan informasilebih memanjakan kemampuan indera visual, terutama melihat dan mendengar radio,televisi, telepon, internet. Persentase orang Jawa yang tidak berbudaya membaca bukudan menulis buku meningkat menjadi lebih dekat ke 100%. Orang Jawa kian enggan membaca buku dan menulis buku. Melihat danmendengar itu kodrat. Sedangkan membaca dan menulis bukanlah kodrat.Membeludaknya alat-alat yang memanjakan kodrat membuat orang Jawa enggan belajardan menikmati hidup dengan susah payah. Menonton TV itu nikmat tanpa harus belajardulu. Sedangkan membaca dan menulis buku butuh proses panjang, harus bersusahpayah dulu. Realitas ini yang berkelindan dengan fenomena kultural yang mengakibatkanorang Jawa menjauh dari jati diri kejawaan memengaruhi eksistensi sastra Jawa. SastraJawa kian termarginalkan. Ketua OPSJ, Sucipto Hadi Purnomo, mengatakan kini tak ada model karya sastraJawa yang layak jadi panutan. Karya sastra Jawa yang kini ada adalah karya sastra yangsifatnya boleh dikatakan ”sekadar ada”. Sastrawan-sastrawan Jawa tetap berkarya demieksistensi, demi jati diri dan demi kecintaan mereka terhadap dunia sastra Jawa. Aktivitas kesastraan berpusat di komunitas-komunitas atau sanggar sastra Jawa.Komunitas itu misalnya Sanggar Triwidha di Tulungagung, Jawa Timur; Sanggar SastraJawa Yogyakarta (SSJY) dan Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) di Bojonegoro,Jawa Timur. Sastrawan Jawa atau setidaknya penulis karya sastra berbahasa Jawa yang takterhimpun atau jauh dari komunitas/sanggar sastra Jawa rata-rata bergiat secara mandiri.Mereka menulis cerita pendek, dongeng bocah, puisi atau esai dan kemudianmengirimkannya ke media massa berbahasa Jawa. Media massa berbahasa Jawa pun jumlahnya sangat sedikit. Di Yogyakarta hanyaada majalah Djaka Lodhang, suplemen Mekarsari di harian Kedaulatan Rakyat dansuplemen Jagad Jawa di Harian Jogja. Di Jawa Tengah hanya ada suplemen Jagad Jawadi harian SOLOPOS yang merupakan satu grup dengan Harian Jogja serta lembaranSang Pamomong di harian Suaran Merdeka. Di Jawa Timur ada dua media berbahasa Jawa yang berumur cukup tua, yaituPanjebar Semangat dan Jaya Baya. Selain media-media ini, di Yogyakarta, Jawa Tengahdan Jawa Timur ada beberapa media berkala berbahasa Jawa yang diterbitkan olehkomunitas-komunitas tertentu. Komunitas-komunitas ini punya kesamaan, yaitukecintaan terhadap bahasa dan sastra Jawa.
  12. 12. Penerbitan buku karya sastra Jawa menjadi kegiatan marginal dalam ranah sastra Jawa. Penerbitan buku hanya bisa dilakukan oleh komunitas-komunitas sastra Jawa atau diterbitkan mandiri oleh penulisnya yang biasanya dengan dukungan pihak-pihak yang dikenal baik. Media-media inilah yang kini menjadi tulang punggung sastra Jawa. Wujud karyasastra yang jamak muncul adalah cerita pendek, cerita bersambung, puisi dan esai.Penerbitan buku karya sastra Jawa menjadi kegiatan marginal dalam ranah sastra Jawa.Penerbitan buku hanya bisa dilakukan oleh komunitas-komunitas sastra Jawa atauditerbitkan mandiri oleh penulisnya yang biasanya dengan dukungan pihak-pihak yangdikenal baik. Penerbit buku komersial sangat jarang yang mau menerbitkan buku karya sastraJawa. Salah satu data untuk mengetahui penerbitan buku sastra Jawa adalah penghargaanRancage untuk karya sastra Jawa yang diselenggarakan setiap tahun. Berdasarkanpenjelasan tim kurator Yayasan Rancage dapat diketahui berapa buku sastra Jawa yangterbit dalam setahun, tentu saja itu adalah buku-buku yang layak disebut karya sastra. Pada 2009-2012 ada buku karya sastra Jawa yang memenangi penghargaanRancage. Novel Trah karya Atas S Danusbroto terbitan Narasi Yogyakarta menerimaRancage pada 2009. Buku ini terbit pada 2008. Dalam pemilihan karya sastra Jawa untukpenghargaan Rancage, novel ini mengalahkah tiga buku sastra Jawa lainnya, yaituLintang Biru, Antologi Geguritan Bengkel Sastra Jawa 2008, Dongane Maling karyaYohanes Siyamta dan Singkar novel karya Siti Aminah. Dalam proses seleksi, hanyaTrah dan Singkar yang masuk dalam kategori penilaian hadiah sastra Rancage 2009. Sementara pada penganugerahan Rancage 2012, karya sastra Jawa yang menangadalah Ombak Wengi. Ombak Wengi adalah kumpulan 99 puisi berbahasa Jawa atauguritan pilihan karya Yusuf Susilo Hartono pada periode 1981-2011. Buku itu berhasilmengalahkan sembilan buku karya sastra Jawa unggulan lainnya.
  13. 13. Sembilan buku itu adalah kumpulan puisi Raja Gurit karya Yudi Joyokusumo,Layang Saka Kekasih karya R Djoko Prakosa, Mutung Suwung, Aja Mutung MundhakSuwung karya RNg Suisdiyati Sarmo, Kidung saka Bandungan karya Rini TriPuspohardini, Bocah Cilik Diuber Srengenge karya Widodo Basuki; roman Ing ManilaTresnaku Kelara-lara karya Fitri Gunawan, Dilabuhi Jajah Desa Milangkori karyaRahmat Ali, dan Sisip ing Dalan Sidhatan karya Harwimuka; serta kumpulan ceritapendek Puber Kedua karya Ary Nurdiana. Pada 2009, buku bahasa Jawa yang terbit 12 judul. Buku-buku itu terdiri darikumpulan guritan yaitu Gurit Panuwuning Urip karya David Hariyono, Gurit AbangBranang karya Rachmat Djoko Pradopo, Layang Panantang karya Sumono SandyAsmoro dan Wong Agung: Gurit Punjul Rong Puluh karya Budi Palopo; sebuahkumpulan cerita pendek Tembangé Wong Kangen karya Sumono Sandy Asmoro dansejumlah roman Trétes Tintrim, Kunarpa Tan Bisa Kandha, Garuda Putih, Ser! RandhaCocak karya Suparto Brata; Mis, Koncoku Sinarawedi karya Rahmat Ali dan Carang-carang Garing karya Tiwiek SA. Layang Panantang karya Sumono Sandy Asmoromemenangi Rancage 2010. Berdasarkan penjelasan pihak yayasan Rancage yang dipublikasikan di banyakwebsite dan media massa, penerbitan kedua belas buku itu mengisyaratkan beberapafénoména penting. Pertama, ternyata yang menulis dalam bahasa Jawa tidak hanyameréka yang tinggal di Jawa Tengah dan Timur saja, melainkan juga di Jakarta yaituRahmat Ali. Dia adalah sastrawan yang tinggal di Jakarta dan biasa menulis dalambahasa Indonesia, selain Dyah Hadaning yang tinggal di Dépok. Kedua, kebanyakan buku ternyata terbit di Yogyakarta, walaupun ada yang terbitdi berbagai kota lain (Semarang, Surabaya, Malang). Ketiga, buku yang terbit ternyatakebanyakan karya pengarang Jawa Timur: Suparto Brata (Surabaya, empat judul), DavidHariyanto (Malang, satu judul), Sumono Sandy Asmoro (Ponorogo, dua judul). Keempat,muncul karya dua orang pengarang yang telah dikenal menulis dalam bahasa Indonésia,yaitu Rachmat Djoko Pradopo dan Rahmat Ali dalam bahasa Jawa untuk pertama kali. Berdasar data yang dilansir Yayasan Rancage pada 209 ini, ada optimisme bahwasastra Jawa tak perlu ditakutkan akan punah karena pendukungnya berada di berbagaidaérah dan berbagai kalangan. Pengarang seperti Suparto Brata sangat produktif. Pada 2010 buku sastra Jawa yang terbit ada 15 judul, yaitu lima kumpulan sajak:Sanja karya Nono Warnono, Garising Pepesthén karya Bambang Nursinggih, SalamSapan saka Gunung Gamping karya Naryata, Geguriatn Alam Sawegung karya SudiYatmana dan Bakal terus Gumebyar karya Sucihadi; tiga kumpulan cerita péndék: PuloAsu karya Hérwanto, Tunggak Jarak Mrajak kumpulan karya beberapa pengarang danPutri Tuwa kang Nyalawadi kumpulan terjemahan dari bahasa asing karya R Muchtar. Dan tujuh roman: Babad Jipang Panolan saduran dari cerita rakyat Jawa oléhJFX Hoery, Sadrajat Coro & Tikus karya Rahmat Ali, dan Cintrong Paju Papat, NonaSékertaris, Pawéstri Tanpa Idéntiti, Spookhuis (Gedhong Sétan) dan roman-biografi RMTR Suryo gubernur Jawa Timur yang pertama, kelimanya karya Suparto Brata. HadiahRancagé 2011 untuk sastra Jawa diterima oleh kumpulan cerita pendek Pulo Asu karyaHérwanto terbitan Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro, Jawa Timur. Siapa saja sastrawan Jawa termutakhir bisa dilihat dalam buku Paseban yangditerbitkan oleh Kongres Sastra Jawa III sekaligus menjadi buku resmi buah tanganKongres Bahasa Jawa V. Buku ini menurut Bonari Nabonenar yang dalam Kongres
  14. 14. Sastra Jawa III menjabat sebagai ketua panitia, cukup layak disebut sebagai jendela sastraJawa modern terkini. Buku ini menghimpun puisi dan cerita pendek karya sastrawan Jawa dari JawaTengah, DIY, Jawa Timur dan Jakarta. Seluruh penulis tak dibayar. Mereka berkarya danmenyetorkan karya semata-mata demi menyukseskan Kongres Sastra Jawa III.Pengumpulan karya dilakukan sejak kurang lebih dua bulan sebelum Kongres SastraJawa III diselenggarakan di Desa Jono, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro,Jawa Timur. “Untuk menyusun buku ini panitia mengundang 200-an sastrawan Jawa di JawaTengah, DIY dan Jawa Timur. Sampai batas akhir pengiriman terhimpun 40 ceritapendek dan 74 puisi. Karya-karya itu berasal dari 83 penulis,” jelas Bonari. Berdasar biodata penulis yang tercantum di bagian akhir buku, terlihat jelasbahwa sebagian besar penyumbang naskah cerita pendek dan puisis dalam buku Pasebanadalah sastrawan Jawa senior, mereka berusia 50 tahun ke atas. Hanya beberapa sajapenulis muda kelahiran tahun 1980-an atau 1990-an yang menyumbangkan tulisan. Bukuini juga menjadi buah tangan resmi dalam Kongres Bahasa Jawa V di Surbaya. “Regenerasi sastrawan Jawa memang sulit dilacak. Hanya di sanggar-sanggar sajayang mudah dilacak. Dan persoalan yang lebih serius adalah tak ada leksikon sastrawandan karya sastra Jawa. Tak ada daftar nama-nama sastrawan Jawa yang masih aktif,sudah tak aktif atau baru muncul,” kata Bonari.Ironi Kiprah Yayasan Rancage sendiri, menurut Tito S Budi, sebenarnya menjadi ironibagi dunia sastra Jawa. Ada anggapan di benak para sastrawan Jawa bahwa meraihhadiah Rancage adalah prestasi puncak sastrawan Jawa, prestasi bergengsi bagi sastraJawa. ”Saya justru miris karena Yayasan Rancage itu pemiliknya orang Sunda, AjipRosyidi. Jadi penghargaan untuk sastra Jawa justru diberikan oleh orang Sunda. Darikalangan masyarakat Jawa sampai saat ini tak ada penghargaan bergengsi untuk karyasastra Jawa,” kata Tito. Bonari Nabonenar, Sekretaris OPSJ, sepakat dengan keprihatinan Tito itu. Bonarimengatakan pernah bertemu dengan sejumlah sastrawan pencinta sastra Jawa di TamanBudaya Surakarta dan membahas wacana membangun dan menyediakan penghargaankhusus untuk karya sastra Jawa bermutu. Mereka yang hadir berasal dari Solo, Semarang,Jawa Timur dan Yogyakarta. Penghargaan itu direncanakan berasal dari masyarakat Jawasendiri. Tapi, hingga saat ini pembahasan tersebut belum menemukan rumusan teknisyang jelas. Niat dan rencana itu pun sampai saat ini belum terwujud. “Memang ironis. Penghargaan bergengsi untuk sastra Jawa justru diberikan olehorang Sunda,” kata Bonari. Ajip Rosyidi ketika hadir di Kongres Sastra Jawa III diBojonegoro mengatakan sastra Jawa tak boleh mati. Realitas kini bahwa sastra Jawatermarginalkan harus menjadi penyemangat sastrawan dan pencinta sastra Jawa untukterus berkarya. Yayasan Rancage yang dipimpinnya memang peduli pada pelestarian bahasadaerah dengan perhatian utama pada karya sastra berbahasa daerah. Yayasan Rancagememberikan penghargaan untuk karya sastra berbahasa daerah, antara lain untuk karyasastra berbahasa Sunda, Lampung, Bali dan Jawa.
  15. 15. Yayasan Rancage juga memberikan penghargaan untuk orang-orang yang punyaprestasi nyata menghidupi dan menghidupkan sastra daerah. Sucipto dan Bonari adalahdua pencinta dan sastrawan Jawa yang pernah mendapatkan hadiah Rancage. Akibat ketiadaan acuan karya sastra Jawa bermutu tinggi, kata Sucipto, regenerasisastrawan Jawa boleh dikatakan tersendat-sendat. Penulis karya sastra Jawa memang takpernah habis. Setiap tahun selalu muncul beberapa penulis muda yang berkiprah dipenulisan berbahasa Jawa. Namun, karya-karya mereka tak ada yang memenuhi kaidah kesastraan yangdiharapkan. Acuan mereka selama ini hanya cerita pendek, cerita bersambung, puisi danesai yang terbit di media-media berbahasa Jawa yang jumlahnya tak seberapa itu. Selama ini karya-karya sastra Jawa yang terbit dalam bentuk buku atau terbit di media-media berbahasa Jawa tak pernah dikritik. Padahal, menurut Dhanu, kritik sastra adalah salah satu penyangga kualitas karya sastra. “Acuan lainnya biasanya adalah karya-karta sastrawan Jawa yang lebih senioryang terdokumentasi di komunitas atau sanggar-sanggar sastra Jawa,” jelas Sucipto.Ketiadaan karya sastra Jawa berkualitas tinggi, menurut Dhanu Priyo Prabowo, penelitibahasa dan sastra di Balai Bahasa Yogyakarta akibat tak adanya kritikus sastra Jawa yangmumpuni. Selama ini karya-karya sastra Jawa yang terbit dalam bentuk buku atau terbit dimedia-media berbahasa Jawa tak pernah dikritik. Padahal, menurut Dhanu, kritik sastraadalah salah satu penyangga kualitas karya sastra. Sastra koran, sastra majalah dan penerbitan swadaya atau atas dukungan pihaktertentu menjadi tulang punggung sastra Jawa era kini. Sastra Jawa terjebak dalameskapisme, yaitu kehendak atau kecenderungan menghindar dari kenyataan denganmencari hiburan dan ketenteraman di dalam khayalan atau situasi rekaan.
  16. 16. Realitas sastra Jawa yang termarginalkan diantisipasi dengan optimisme tiadaputus dari komunitas-komunitas sastrawan dan pencinta sastra Jawa---yang minoritas dikalangan masyarakat Jawa---dengan menghasilkan karya walau tak diapresiasi secarabaik oleh masyarakat Jawa sendiri. Eskapisme sastra Jawa tak lelah melawan arus derasglobalisasi yang memarginalkan kearifan lokal, termasuk kejawaan. Seorang sastrawan Jawa asal Klaten, Jawa Tengah, Sriyana, beberapa waktu lalumengatakan secara faktual berkecimpung di jagat sastra Jawa memang butuh staminatinggi, semangat berkorban dan rasa cinta. Sriyana yang produktif menulis puisi, esai dan cerita pendek berbahasa Jawa inimengatakan sastra Jawa tak bisa menghidupi sastrawan Jawa. Dia memberikan gambaranhonor karya sastra Jawa yang dimuat di media-media berbahasa Jawa sangat jauh lebihsedikit dibandingkan honor untuk karya sastra Indonesia. Rata-rata honor tulisan karya sastra Jawa hanya Rp25.000-Rp75.000. Honor yangdiberikan Jagad Jawa SOLOPOS menurut Sriyana tergolong lumayan dibandingkanmedia berbahasa Jawa lainnya. Karya tulis esai kebudayaan Jawa yang dimuat di JagadJawa SOLOPOS diberi honor Rp150.000 sedangkan karya sastra Jawa lainnya seperticerita pendek dan geguritan diberi honor Rp100.000. Ini memang sangat njomplangdibandingkan karya sastra Indonesia. “Tapi, saya memilih berkecimpung dalam dunia sastra Jawa memang bukan untukmencari penghidupan. Saya justru ingin menghidupi sastra Jawa,” kata Sriyana. Kini,Sriyana masih aktif berkarya di dunia sastra Jawa. Karya-karyanya sering muncul diJagad Jawa SOLOPOS, Djaka Lodhang, Panjebat Semangat dan Jaya Baya. Kecintaan Sriyana pada sastra Jawa diawali dengan mengikuti kegiatan diSanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY). Dia pada awal 1990-an juga intensif bergurukepada sastrawan Jawa senior yang sebagian kini sudah meninggal dunia. Bagi Sriyana,sastra Jawa memang tak menghidupi dari sisi ekonomi, tapi menghidupinya dari sisispiritual. Sriyana mendapatkan kepuasan batin ketika berhasil mencipa cerita pendek,puisi atau esai berbahasa Jawa dan kemudian dibaca orang banyak ketika karyanya ituterbit di media massa. Semangat yang kurang lebih sama ditunjukkan Abednego Afriyadi. Dia tertarikdengan sastra Jawa sekitar lima tahun lalu setelah beberapa kali menyaksikan pentasTeater Gapit Solo yang dulu intensif mementaskan lakon teater dalam bahasa Jawa.Abedego merasa menemukan sensasi dan daya ungkap yang luar biasa dari bahasa Jawa. “Dari mendengarkan dialog-dialog dalam pentas Teater Gapit, saya kemudianberusaha mempelajari pengungkapan ide dan perasaan dengan bahasa Jawa. Sayakemudian mencoba menulis cerita pendek,” kata Abedego. Bagi Abednego, menuliskarya sastra Jawa, terutama cerita pendek, lebih pada aktualisasi diri, ekpresi gejolak jiwadan wahana untuk berkomunitas.Gotong Royong Dalam konteks inilah, Ketua Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB), JFXHoery, optimistis mengatakan bahasa dan Satra Jawa sebenarnya bukan mundur apalagidikatakan mati, tetapi mengikuti atau menyelaraskan dengan perkembangan zaman.Ketika bahasa Jawa kuna mengikuti perkembangan zaman memasuki era Jawa Baru, parapendukung bahasa /sastra Jawa kuno juga merasa kehilangan.
  17. 17. Demikian juga ketika bahasa/sastra Jawa Tengahan masuk era bahasa /sastra JawaBaru, dan selanjutnya dari bahasa Jawa Baru masuk ke bahasa Jawa Modern, atauGagrak Anyar. Para pendukung, penggiat eranya, merasa kehilangan. “Era globalisasi tentu mempengaruhi perkembangan bahasa /sastra Jawa, bukanitu saja tetapi mempengaruhi segala aspaek kehidupan. Tentu salah satu contohnya,bahasa/sastra Jawa terpinggirkan dari komunitasnya, akar rumputnya,” kata Hoery. Hoery mengatakan eksistensi sastra Jawa di Jawa Timur terglong baik. Ini terlihatdari dari tiga wilayah provinsi sebagai basis bahasa Jawa, Jawa Timir mempunyai duamajalah berbahasa Jawa yang bertahan lebih dari 75 tahun. Dari segi kepengarangan,wilayah Jawa Timur, menurutnya, memiliki pengarang paling banyak demikian jugaperaihan hadiah Rancage yang selama ini dianggap penghagaan sastra Jawa bergengsi,Jawa timur mampu yang paling banyak menerima penghargaan, belum lagi sanggar-sanggar sastra Jawanya. “Kegiatan PSJB bukan hanya di bidang sastra Jawa. PSJB punya visi terwujudnyamasyarakat Jawa yang sadar, cinta, peduli dan berdaya dalam melestarikan danmenumbuhkembangkan bahasa, sastra dan budaya Jawa,” jelas Hoery. Anggotanyaterdiri dari peminat, pemerhati, pencinta, pegiat dan pelaku bahasa, sastra dan budayaJawa. Menurut Hoery, regenerasi terus diupayakan. Pada 2010, PSJB mengadakanlomba menulis cerita pendek untuk siswa SMP-SMA, lomba drama bahasa Jawa untukanak SD. Pada 2011 menghimpun mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra JawaUniversitas Negeri Surabaya (Unesa) asal Bojonegoro sebanyak 14 orang. Pada 2012 iniPSJB merencanakan menerbitkan karya dalam bentuk antologi cerita pendek dan puisi. “Mereka yang aktif dalam kegiatan di PSJB kami motivasi untuk terus berkaryadengan mengirim tulisan ke majalah atau koran yang punya ruang berbahasa Jawa,menulis di situs di internet dan belajat berteater,” jelas Hoery. PSJB juga intensif bekerja sama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran(MGMP) Bahasa Jawa, mengadakan penataran atau sarasehan untuk guru-guru BahasaJawa serta turut melestarikan seni tradisional yang berbasis bahasa dan budaya Jawa. Tentang sastra itu buku, Hoery menyatakan sependapat. Karya sastra parapujangga semuanya berbentuk buku. Jadi Hoery mendukung penuh pendapat bahwasastra Jawa harus berbentuk buku. Jadi, sastrawan Jawa harus menghasilkan buku, bukansekadar karya yang dipublikasikan di majalah atau koran berbahasa Jawa. “Menurut pengamatan saya, para sastrawan Jawa memang tidak mengejar materi.Sangat jelas bahwa dengan ukuran hidup sekarang, hasil (honor) karya sastra Jawa tidakada artinya,” kata Hoery. Tetapi, para sastrawan Jawa tetap bertahan karena rasa cintaterhadap warisan leluhur. ”Bagi saya, menulis sastra Jawa hanya demi menghidupkan bahasa dan sastraJawa,” kata Hoery. Ihwal bertahannya sastra Jawa di tengah realitas marginalisasi yangsangat kentara, menurut Hoery, karena masih ada majalah atau koran berbahasa Jawa danpeminat/pembacanya juga masih ada kendati hanya minoritas dibandingkan populasipenutur bahasa Jawa yang menurut data UNICEF mencapai 75 juta orang. Dalam setahun terakhir sembilan sastrawan atau penulis yang biasa aktif dalamkegiatan di PSJB menerbitkan beberapa buku dalam bentuk antologi cerita pendekbersama, maupun antologi tunggal. Pada 2012 ini, PSJB berencana menerbitkan empat
  18. 18. buku dalam bentuk antologi cerita pendek tunggal, antologi bersama dan cerita anak-anakdalam bahasa Jawa. ”Untuk menerbitkan buku antologi bersama kami bergotong royong, untukpenerbitan tunggal sepenuhnya dibiayai penulis dibantu PSJB,” tutur Hoery. Kondisiyang sama juga terjadi di Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY) dan Sanggar Triwidha.Para sastrawan dan pencinta sastra Jawa di komunitas-komunitas ini selalu bergotongroyong untuk menerbitkan buku yang rata-rata berwujud antologi puisi (tunggal ataubersama) dan antologi cerita pendek (tunggal atau bersama). Dhanu Priyo Prabowo yang pernah menjabat sebagai Sekretaris SSJY dan kinimasih aktif sebagai peneliti bahasa dan sastra di Balai Bahasa Yogyakarta mengatakaneksistensi sastra Jawa di Yogyakarta masih terjada, walau dalam kondisi termarginalkan.Masih terjaga karena regenerasi berjalan walau tak massal dan sastrawan-sastrawan Jawadi Yogyakarta masih konsisten berkarya. “Yogyakarta adalah pusat kebudayaan Jawa selain Solo sehingga sastra Jawamasih mendapat tempat yang cukup baik secara formal maupun nonformal,” jelas Dhanu.Tempat sastra Jawa secara formal adalah di lingkungan pemerintahan melalui otoritasdinas dan lembaga-lembaga terkait. Sedangkan tempat sastra Jawa secara nonformaladalah di sanggar, komunitas pencinta, dan kelompok-kelompok di masyarakat. “SSJY punya majalah internal, Pagagan. Saya termasuk perintisnya pada1991/1994. Sampai kini masih terbit. Inilah salah satu majalah untuk menerbitkan karyasastrawan-sastrawan Jawa di Yogyakarta,” kata Dhanu. Pada era 1991/1994 ketika Dhanu menjabat sebagai Sekretaris SSJY, sanggar inidiberdayakan sebagai wadah berkumpulnya sastrawan dan pencinta sastra Jawa yangterpisah setelah sekian tahun tak terwadahi secara “formal”. “Zaman saya menjadisekretaris, SSJY itu tempat ngumpulke balung pisah,” kata Dhanu. Membangun relasi dengan banyak pihak supaya tumbuh pendapat yang lebih positif terhadap sastra Jawa. Kegiatan SSJY hingga saat ini difokuskan pada diskusi, workshop danmembangun relasi dengan banyak pihak supaya tumbuh pendapat yang lebih positifterhadap sastra Jawa. Hasilnya, SSJY menerbitkan majalah Pagagan sebagai wadahregenerasi penulis-penulis baru. Anggota sanggar biasanya bertemu setiap dua bulansekali.
  19. 19. Dalam setiap pertemuan, untuk memperoleh makalah dan majalah, biasanyapeserta dengan suka rela memberikan uang pengganti biaya cetak. Saat ini SSJYmendapatkan dukungan dana kegiatan dari Balai Bahasa Yogyakarta. Saat ini, kegiatansastra Jawa di SSJY tidak jauh berbeda. Majalah Pagagan konsisten terbit dan lebihmenekankan pada pembaca dan penulis muda. Dulu, Pagagan tidak membedakansegmen penulis dan pembaca muda atau tua.Jagat Maya ”Perlawanan” sastra Jawa modern terhadap realitas yang memarginalkannya jugaditempuh melalui dunia maya. Kini, di jagat maya cukup banyak website tentang sastraJawa, termasuk beberapa grup di Facebook yang khusus menghimpun sastrawan danpencinta sastra Jawa. Sudharto HS, pemilik dan pengelola situs kidemang.com dan lebih dikenal dengannama Ki Demang Sokowaten, mengatakan kini memang mulai muncul “arus balik” anakkandung globalisasi yaitu teknologi informasi dan komunikasi yang bermanfaat bagidunia sastra Jawa. Yang dimaksud arus balik adalah keterbukaan sebagian sastrawan dan pencintasastra Jawa untuk memanfaatkan internet sebagai wahana aktualisasi diri dan komunitas.Situs yang dikelolanya, kata Sudharto, kini rutin dikunjungi minimal 10.000 orang setiaphari. Situs kidemang.com adalah situs tentang kebudayaan Jawa. Di dalamnya jugamencakup bahasa, sastra dan aksara Jawa. Secara khusus Sudharto membangun link untuk kanal yang berisi karya-karyasastra Jawa mutakhir, terutama cerita pendek, esai dan puisi berbahasa Jawa. Kendatisudah cukup dikenal, dengan pengakses rata-rata 10.000 orang per hari, Sudhartokesulitan memberdayakan kidemang.com ke ranah komersial. ”Saya beberapa kali menawarkan situs saya ke mereka yang saya nilai layak danmampu memasang iklan. Ternyata mereka semua khawatir jika beriklan di websitetentang budaya, bahasa dan sastra Jawa citra produk mereka akan turun,” kata Sudharto.Sudharto menangkap kejawaan selalu diasosiasikan dengan marginal, pinggiran, takselaras zaman. Itu, menurutnya, memang buah interaksi antarkebudayaan yangberlangsung intensif dan kemudian ada yang “unggul” dan ada yang “terpinggirkan”.Kebudayaan Jawa yang di dalamnya mencakup bahasa dan sastra Jawa kini dalamkondisi terpinggirkan itu. ”Karena tak laku saya ’jual’, situs itu saya dedikasikan penuh untuk kepentinganmelestarikan dan memberdayakan kebudayaan Jawa, termasuk bahasa dan sastra,” kataSudharto. Dan beberapa tahun terakhir, Sudharto mendapatkan ucapan terima kasih darisebagian pengunjung situsnya. Mereka menyatakan mendapat bahan mengajar, bahanberdiskusi, atau bahan menggali tentang budaya, bahasa dan sastra Jawa darikidemang.com. Di Facebook, grup Sastra Jawa Gagrag Anyar adalah grup yang tergolong aktifmenjadi wahana diskusi para sastrawan dan pencinta sastra Jawa. Grup ini beranggota1.965 orang. Kalangan sastrawan Jawa senior cukup banyak yang aktif dalam diskusi digrup ini. Mereka juga aktif memutakhirkan status. JFX Hoery, Bonari Nabonenar, Yusuf Susilo Hartono, Dyah Hadaning, SumonoSandi Asmoro, Daniel Tito, Sucipto Hadi Purnomo, Suparto Brata adalah sebagiansastrawan Jawa senior yang sering muncul dalam diskusi di grup ini. Anggota grup ini
  20. 20. mayoritas memang bukan sastrawan Jawa yang aktif berkarya. Hanya sebagian kecil sajayang merupakan sastrawan Jawa yang aktif berkarya. Sebagian besar mereka adalah orang-orang yang punya rasa cinta terhadap bahasadan sastra Jawa. Grup ini tak melulu bicara tentang bahasa dan sastra Jawa. Beberapa kalimuncul diskusi sengit tentang tema tertentu yang terkait dengan bahasa dan sastra Jawa.Namun, kadang-kadang hanya muncul pemutakhiran status berupa baris-baris puisiberbahasa Jawa atau sekadar bertegur sapa sesama anggota grup. Menurut Bonari, selaku salah satu pemrakarsa grup ini, lalu lintas diskusi di grupini diharapkan memunculkan semangat baru untuk memperkaya khazanah sastra Jawamodern. Selain itu juga untuk menghimpun ide-ide baru demi pelestarian, pengembangandan pemberdayaan sastra Jawa modern. “Dan yang paling utama adalah sebagai wahanakomunikasi sesama pencinta bahasa dan sastra Jawa,” kata Bonari. Suprawoto, anggota staf ahli Menteri Komunikasi dan Informatika, ketikaberbicara dalam Kongres Sastra Jawa III dan Kongres Bahasa Jawa V mengatakanperkembangan media online bisa dimanfaatkan sebagai terobosan untuk mengembangkansastra Jawa (dengan sarana bahasa Jawa). Teknologi informasi dan komunikasi sangatmungkin dikembangkan untuk menggugah potensi masyarakat lokal. Muncul dan berkembangnya komunitas bahasa dan sastra Jawa onlimemembuktikan bahwa masyarakat lokal Jawa mulai menggunakan media ini. Sebagianbesar pengguna internet, menurut Suprawoto, adalah remaja berumur 15-19 tahun danrata-rata adalah pengguna pasif (lurking). Sebenarnya media online bisa digunakan untuk menunjukkan status social orangJawa yang selalu mengaku memiliki kebudayaan yang adiluhung. Tetapi, kenyataannya,bahasa Jawa yang digunakan di media online sebagian besar adalah bahasa Jawa nonbaku yang tak berdasarkan aturan tata tulis dan tata bahasa serta unggah-ungguh bahasa.Ini terjadi karena banyak website, blog, portal, situs dan grup di Facebook yang tidakdikelola oleh orang Jawa yang memang benar-bener paham tentang bahasa dan sastraJawa. Kemunculan bahasa dan sastra Jawa online harus diatasi secara aktif oleh parasastrawan Jawa dan pakar bahasa Jawa. Realitas yang “menggembirkan” berupamunculnya bahasa dan sastra Jawa di jagat maya jangan sampai berkembang ke arahyang keliru. Para sastrawan Jawa dan pakar bahasa Jawa harus aktif membuat danmenghidupkan portal, situs, website, blog dan grup-grup di jagat maya yangmenggunakan bahasa dan berkonten sastra Jawa. Sebagai langkah nyata yang bersifat strategis dan terukur, Organisasi PengarangSastra Jawa (OPSJ) dalam pertemuan di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah(TBJT) Solo, Sabtu (25 Februari 2012) malam lalu menetapkan keputusan. Pertama,sebagai tindak lanjut Kongres Sastra Jawa III di Bojonegoro dan Kongres Bahasa JawaV di Surabaya OPSJ akan menerbitkan buku-buku sastra Jawa. Penerbitan buku ini dalamkerangka semangat bekerja dan berkarya. Kedua, karya sastra Jawa yang akan diterbitkan dalam bentuk buku meliputuseluruh genre sastra Jawa modern yang meliputi cerita pendek, cerita bersambung, novel,novellete, puisi dan esai. Ketiga, penerbitan buku-buku karya sastra Jawa itu memperhatikan semangatregenerasi. Sastrawan muda menjadi prioritas. Sastrawan Jawa senior yang kesulitan
  21. 21. menerbitkan karya-karya mereka dalam bentuk buku juga akan diperhatikan oleh OPSJcecara khusus. Keempat, penerbitan buku-buku karya sastra Jawa diikuti denga publikasi danpromosi melalui media massa cetak, media sosial, komunitas sanggar-sanggar sastraJawa, komunitas Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa, komunitasmahasiswa dan dosen jurusan Sastra Jawa dan komunitas-komunitas lain yangmemungkinkan. Kelima, setiap buku karya sastra Jawa yang diterbitkan akan dibedah sekaligusdijual di komunitas-komunitas tersebut. Keenam, seleksi karya sastra Jawa yang akanditerbitkan dan proses penerbitannya akan dilaksanakan oleh tim khusus atau sebuahbadan pekerja yang bekerja di bawah arahan OPSJ. “Saat ini OPSJ memiliki dana yang cukup untuk menerbitkan beberapa bukukarya sastra Jawa. Kami berharap pemanfaatkan komunitas memungkinkan modal awalini bisa berputar untuk penerbitan buku-buku selanjutnya, dan akan sangatmenggembirkan jika bisa memberikan keuntungan bagi penulisnya,” kata Ketua OPSJ,Sucipto Hadi Purnomo. Dan terkait dengan perkembangan bahasa dan sastra Jawa di jagat maya, OPSJberencana membangun website tentang sastra Jawa yang nantinya akan berhubungandengan seluruh portal, situs, blog dan grup-grup di Facebook yang membahasa bahasadan sastra Jawa. Pembuatan website ini direncanakan terealisasi pada April 2012. III Dalam salah satu diskusi dalam rangkaian Kongres Sastra Jawa III, di Desa Jono,Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Tito S Budi yang lebihdikenal dengan nama penda Daniel Tito meradang. Saat itu dia menjadi pembicara dalamdiskusi dengan tema tentang pembelajaran bahasa dan sastra Jawa di sekolah. Diameradang karena ada seorang guru yang bertanya menggunakan bahasa Indonesia. Tito menyatakan takkan menanggapi pertanyaan guru itu jika pertanyaannya diakemukakan dengan bahasa Indonesia. Akhirnya, dengan bersusah payah disertaitertawaan dari sebagian besar peserta diskusi, guru itu mengemukakan pertanyaannyadalam bahasa Jawa. ”Bagaimana mau menanamkan kecintaan kepada bahasa dan sastra Jawa kalaugurunya saja tak mau berbahasa Jawa dalam acara yang membahas tentang sastra Jawa?”tanya Tito dalam bahasa Jawa ngoko. Peristiwa yang nyaris sama terjadi dalam Kongres Bahasa Jawa V di Hotel JWMarriot Surabaya. Pada acara diskusi dengan nara sumber pemakalah utama, ada seorangpemakalah dari Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yangmemaparkan makalahnya dalam bahasa Indonesia. Ratusan peserta diskusi memprotes pemakalah itu tapi dia bersikukuh tetapmenggunakan bahasa Indonesia dengan alasan ada regulasi berupa undang-undang yangmewajibkan penggunaan bahasa Indonesia dalam forum-forum resmi. Menurutnya,Kongres Bahasa Jawa V adalah forum resmi. Ratusan peserta beberapa kalimengemukakan protes saat dia menyampaikan makalah.
  22. 22. George Quinn, peneliti bahasa dan sastra Jawa dari Australia yang juga menjadisalah satu pemakalah utama, menyatakan tidak seharusnya forum yang membahastentang bahasa Jawa, bahasa penyampaiannya menggunakan bahasa selain bahasa Jawa.Dalam kesempatan itu, Quinn menulis makalah dalam bahasa Jawa ngoko danmenyampaikannya pula dalam bahasa Jawa ngoko. Delegasi dari Suriname secara tegas mengkritik penggunaan bahasa Jawa sebagaibahasa pengantar dan panyampaian makalah dalam Kongres Bahasa Jawa V itu. Setelahmendengar kritik yang mengemuka, panitia kongres kemudian memutuskan semuapemateri dalam forum diskusi utama maupun diskusi komisi-komisi wajib menggunakanbahasa Jawa dalam menyampaikan makalah mereka. Realitas memang menunjukkan para pemegang kebijakan kini sudah tidak peduliterhadap perkembangan bahasa ibu. Bahkan terhadap bahasa nasional pun kurangperhatiannya. Terhadap bahasa, sastra dan budaya, demikian juga. Orientasi parapemegang kebijakan adalah pemasukan /pendapatan daerah, sementara kegiatan bahasa,sastra dan budaya dianggap tidak menghasilkan peningkatan pendapatan daerah. Ketikakebudayaan lokal sebagai tersingkir, termarginalkan, bahasa dan sastra Jawa pun dalamkondisi demikian. Sekolah dan perguruan tinggi sebagai wahana mengader pencinta bahasa dansastra Jawa baru belum bisa berperan maksimal. Di wilayah Jawa Tengah, DaerahIstimewa Yogyakarta dan Jawa Timur sudah ada kesekapatan memasukkan pendidikanbahasa dan sastra Jawa sebagai kurikulum muatan lokal di sekolah. Realitas menunjukkan pendidikan bahasa dan sastra Jawa di sekolah belummampu meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap bahasa dan sastra Jawa,belum mampu menggugah kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan sastra Jawa danbelum mampu mengembangkan serta memberdayakan bahasa dan sastra Jawa. Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa di perguruan tinggi negeri di tiga wilaya ini, yaituUniversitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) danUniversitas Negeri Semarang (Unnes) juga belum mampu meregenerasi sastrawan Jawadan pembaca serta pencinta sastra Jawa. Jamak terjadi mahasiswa Jurusan Bahasa danSastra Jawa tetapi tidak bisa menulis teks berbahasa Jawa dengan baik. Salah seorang dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Sastra dan SeniRupa (FSSR) UNS, Imam Sutarjo, mengatakan minat mahasiswa Jurusan Bahasa danSastra Jawa untuk membaca dan menulis karya sastra Jawa memang sangat rendah. “Inibisa dimaklumi karena mahasiswa yang masuk ke jurusan ini biasanya karena tidakditerima di jurusan lain dan hanya butuh sekadar kuliah,” kata Imam. Untuk membangkitkan minat menulis dan membaca karya sastra Jawa, Imammemotivasi para mahasiswanya agar belajar menulis dalam teks berbahasa Jawa dankemudian dikirimkan ke media massa berbahasa Jawa. Barang siapa yang tulisannyadimuat, Imam menjanjikan nilai A untuk mata kuliah tentang penulisan. Sucipto Hadi Purnomo yang menjabat sebagai Ketua OPSJ dan sehari-hari adalahdosen di Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Unnes mengatakanregenerasi sastrawan Jawa dari perguruan tinggi memang sangat kurang. Sucipto yangmenjabat sebagai Kepala Bagian Humas Unnes mengatakan untuk mengatasi hal ituUnnes pada tahun akademik 2012/2013 membuat kebijakan batu dengan menggratiskanbiaya kuliah bagi 30 orang mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa. Sebanyak 25paket beasiswa plus biaya hidup disediakan bagi 25 calon mahasiswa Jurusan Pendidikan
  23. 23. Bahasa Jawa dan lima paket beasiswa plus biaya hidup bagi lima calon mahasiswaJurusan Sastra Jawa. MA Sudi Yatmana yang mendapatkan gelar Doktor Bahasa Jawa dari TheLondon Institute for Applied Research Inggris (1992) dan pernah menjadi dewan pakarmajalah berbahasa Jawa Pustaka Candra yang diterbitkan Proyek Pengembangan Bahasadan sastra Daerah Jawa Tengah pada era 1980-an sampai 1990-an mengatakan, kinipendidikan bahasa dan sastra Jawa di sekolah memang belum berpihak pada kepentinganpengembangan, pelestarian dan pemberdayaan bahasa dan sastra Jawa. Hingga KongresBahasa Jawa V selalu menghasilkan rekomendasi tentang perlunya pengembanganpendidikan bahasa dan sastra Jawa di SD dan sekolah menengah, tetapi realitasnyamemang belum menggemberikan. Pada tahun 1970, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah memberlakukanketentuan tentang pendidikan bahasa Jawa. Kebijakan ini sesuai dengan Kurikulim 1968.Sebagai implementasi Kurikulim 1975, Pemprov Jawa Tengah membuat Garis-GarisBesar Program Pengajaran (GBPP) Pelajaran Bahasa Jawa dan evaluasinya. Untuk melaksanakan Kurikulum 1984 (yang biasa disebut Kurikulum 1975 yangdisempurnakan) Pemprov Jawa Tengah membuat GBPP Pelajaran Bahasa Jawa. GBPPini disusun oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi JawaTengah dengan melibatkan ahli dan pakar bahasa dan sastra Jawa. Ketika diberlakukan Kurikukulum 1994, Pemprov Jawa Tengah membuat GBPPMuatan Lokal Mata Pelajaran Bahasa Jawa yang polanya mirip dengan Bahasa Indonesia.Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 untuk Pelajaran Bahasa Jawa disusun dandidukung oleh Keputusan Gubernur Jawa Tengah No 895.5/01/2005 bertanggal 23Februari 2005. KBK ini mencakup SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dilengkapi standar isi (SI)dan standar kompetensi lulusan (SKL) Pelajaran Bahasa Jawa (November 2008). KTSPini didukung Keputusan Gubernur Jawa Tengah No 423.5/5/2010 bertanggal 27 Januari2010. “Dari sisi kebijakan, jelas Pemprov Jawa Tengah sejak 1970 konsisten berusahamengembangkan pendidikan bahasa dan sastra Jawa di sekolah. Setahu saya di ProvinsiDIY dan Jawa Timur juga ada langkah serupa,” kata Sudi Yatmana dalam KongresBahasa Jawa V di Surabaya. Ketua Dewan Bahasa Jawa Provinsi Jawa Tengah, Ki Sutadi, mengatakanKongres Bahasa Jawa V di Surabaya merekomendasikan pembentukan Dewan BahasaJawa di tingkat Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta danseluruh kabupaten/kota di tiga provinsi itu. Dewan Bahasa Jawa harus dibentuk oleh gubernur dan/atau bupati/wali kota.Rekomendasi pembentukan Dewan Bahasa Jawa ini sebagai langkah mendorongpenyusunan dan pemberlakukan peraturan daerah (perda) tentang kebudayaan Jawa yangdi dalamnya mencakup tentang bahasa dan sastra Jawa. “Jawa Tengah selangkah lebih maju karena Dewan Bahasa Jawa sudah dibentukpada 2010 lalu. Jadi ketika Kongres Bahasa Jawa V merekomendasikan pembentukanDewan Bahasa Jawa, di Jawa Tengah sudah ada dan sudah berkegiatan,” kata Sutadi. Sejak pertengahan 2011, Dewan Bahasa Jawa Provinsi Jawa Tengah bekerja samadengan sejumlah pemangku kepentingan telah berdialog dengan Komisi E (bidangkesejahteraan rakyat) DPRD Provinsi Jawa Tengah. Dalam dialog itu muncul
  24. 24. kesepakatan untuk bersama-sama menyusun rancangan peraturan daerah (raperda)tentang kebudayaan Jawa yang di dalamnya mencakup pengaturan tentang upayamelestarikan dan memberdayakan bahasa dan sastra Jawa. Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Sri Maryuni, mengatakan sangatmendukung inisiatif menyusun raperda tentang kebudayaan Jawa itu. Raperda ini nantimenjadi paying hukum untuk membangun suasana, mekanisme, dan sistem yangmemungkinkan penciptaan iklim yang sangat kondusif untuk melestarikan sertamengembangkan bahasa dan sastra Jawa. “Tentu saja raperda ini disusun tidak bertentangan dengan UU tentang bahasanasional. UU tentang bahasa nasional itu mengatur bahwa setiap pertemuan resmi harusmenggunakan bahasa Indonesia tetapi dalam UUD 1945 jelas diatur bahwa pemerintahdaerah wajib melestarikan dan memberdayakan kearifan lokal. Bahasa dan sastra Jawaadalah salah satu kearifan lokal itu,” kata Sri Maryuni. Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah yang juga dosen di Fakultas Hukum UniversitasSemarang (USM), Bambang Sadono, mengatakan untuk memfasilitasi agar kekayaanbudaya Jawa, khususnya melalui bahasa dan sastra, bisa menjadi sumber referensikehidupan bernegara, butuh payung hukum dan pengakuan secara nasional dalam bentukundang-undang. Dalam program legislasi daerah (Prolegda) 2012, DPRD Jawa Tengah mencantumkan rencana membahas Raperda Pelestarian, Pembinaan, Pengkajian, dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Jawa. Tiap daerah pemangku kebudayaan Jawa dan pemakai bahasa Jawa baik provinsimaupun kabupaten/kota harus meneguhkannya dalam bentuk peraturan daerah (perda)sebagai komitmen riil. Bambang Sadono yang menjadi salah satu pembicara dalamKongres Bahasa Jawa V di Surabaya mengatakan upaya perlindungan dan pelestarianbahasa dan sastra Jawa harus dilakukan melalui perda di provinsi atau kabupaten/kotayang potensial sebagai pengguna bahasa Jawa. Dalam program legislasi daerah (Prolegda) 2012, DPRD Jawa Tengahmencantumkan rencana membahas Raperda Pelestarian, Pembinaan, Pengkajian, danPengembangan Bahasa dan Sastra Jawa. Sebagai referensi, Bali mempunyai Perda No
  25. 25. 3/1992 yang berjudul Bahasa, Aksara dan Sastra Bali. Jawa Barat punya Perda No 6/1996tentang Pelestarian, Pembinaan, dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sundayang kemudian direvisi dengan Perda No 5/2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra,dan Aksara Daerah. Menurut pencinta sastra Jawa yang juga dosen pedalangan di Institut SeniIndonesia (ISI) Solo, Bambang Murtiyoso, secara normatif di Jawa Tengah, Jawa Timurdan Daerah Istimewa Yogyakarta berlaku kurikulum muatan lokal tentang pendidikanbahasa dan sastra Jawa. Ternyata kurikulum itu belum mampu membangkitkan bahasadan sastra Jawa. Terbukti, anaka-anak dan generasi muda Jawa saat ini mayoritas takmengenal bahasa dan sastra Jawa. “Di Jawa Tengah kurikulum pendidikan bahasa dan sastra Jawa itu diberlakukansejak 1970. Pada era 1970-an dan 1980-an pendidikan bahasa dan sastra Jawa memangcukup bagus. Tetapi, memasuki era 1990-an ada kemunduran yang sangat signifikan.Sekarang, inilah yang harus diantisipasi,” kata Bambang. Salah satu persoalan pokoknya adalah kualitas guru bahasa dan sastra Jawa.Menurut Bambang, mayoritas guru bahasa dan sastra Jawa era kini adalah guru-guruyang tak paham kejawaan. Pelajaran bahasa dan sastra Jawa hanya betumpu padapersoalan tata kalimat, dan meninggalkan hal ihwal kejawaan itu sendiri. Akibatnya, gurujarang sekali menjadi motivator siswa untuk membaca dan mencintai karya sastra Jawa.*** Ichwan Prasetyo Jurnalis SOLOPOS-Grup Bisnis Indonesia Anggota/pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Solo Tulisan ini disusun sebagai hasil reportase tentang dampak globalisasi, reportase dibiayai AJI Indonesia

×