KARYA TULIS ILMIAH GURU ONLINE 2010 PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODELJIGSAW UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MEL...
HALAMAN PENGESAHAN            LAPORAN AKHIR PENELITIAN TINDAKAN KELASBidang Kajian :1. Judul Penelitian            : Pener...
ABSTRAKICHSAN. KTI 2010 PPPPTK TK dan PLB Bandung 2010. Penerapan Metode      Pembelajaran Kooperatif      Model Jigsaw un...
KATA PENGANTAR       Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkah, rahmahdan bimbingannya dapat terselesa...
DAFTAR ISIHALAMAN JUDUL ----------------------------------------------------------------------               iHALAMAN PENG...
viBAB III. METODOLOGI PENELITIAN----------------------------------------------                      27     A. Desain Penel...
vii          3. Observasi Tindakan II-----------------------------------------------------              57          4. Ref...
DAFTAR GAMBARKeterangan                                                                  HalamanGambar 1: Tahapan pembelaj...
DAFTAR TABELKeterangan                                                                   HalamanTabel 3.1: Pedoman Konvers...
DAFTAR GRAFIKKeterangan                                                                   HalamanGrafik 4.1: Rekap Prestas...
BAB I                               PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah           Kompetensi kejuruan merupakan mata pela...
2      Dalam mengajarkan kompetensi kejuruan, sebaiknya diusahakan agarsiswa mudah memahami konsep yang ia pelajari, sehin...
3     Kegiatan penilaian pembelajaran merupakan salah satu bentuk upayaguru dalam rangka memperoleh informasi sebagai bali...
4yang tepat. Dalam arti mampu mengembangkan kemampuan siswa yangdiasumsikan kelompok tinggi dan sekaligus meningkatkan kem...
5          Untuk itulah dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti akan   mengambil sebuah judul Penerapan Metode Pembel...
6    subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu di SMK Negeri    1 Geneng tahun pelajaran 2010/2011. Penelitian i...
7         Untuk mengatasi masalah tersebut maka upaya yang dilakukan adalah   menerapkan salah satu metode mengajar yang d...
8   4. SMK             Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu bentuk      satuan pendidikan formal yang menyele...
91. Manfaat Teoretis:  Memperkaya khazanah teori/keilmuan yang terkait dengan kompetensi  Melaksanakan Pekerjaan Finishing...
10c. Bagi sekolah   1) Dapat memberikan temuan yang akurat tentang kompetensi guru       dalam      mengajar dan kompetens...
BAB II             KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR,                     DAN HIPOTESIS TINDAKANA. Kajian Pustaka  1. Meto...
12belajar dan/atau memecahkan masalah yang spesifik. Setelah “kelompokahli” selesai melaksanakan tugas maka anggota “kelom...
13        Dari pendapat para ahli di depan dapat disimpulkan bahwa metode  pembelajaran model jigsaw adalah metode pembela...
14Hal ini sesuai dengan pendapat Djahiri (1992:28) yang menyatakan bahwa,pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan ...
15metode ini, yaitu bisa memberikan kesempatan kepada siswa untukmencintai   pelajaran      dan   sekolah.   Dalam   kegia...
16   kelompok. Siswa akan merasa kontribusinya sangat berarti bagi   kelompok dan pada saat yang bersamaan merasa bergantu...
175) Proses Kelompok   Untuk memantapkan keberhasilan yang berkelanjutan, guru perlu   menanam usaha untuk proses kelompok...
18b. Penerapan Model Jigsaw        Dari beberapa teori yang ada maka peneliti dapat menuliskan   langkah-langkah pembelaja...
19   rendah. Misalkan (A1 berarti group A dari kelompok sangat baik, ....   A4 group A dari kelompok rendah). Tiap group a...
20   Siswa berkumpul di kelompok asal   dan masing-masing mendapatkan   tugas yang berbeda   Setiap siswa dengan bagian tu...
21   keahliannya kepada groupnya masing-masing, satu persatu. Proses ini   diharapakan akan terjadi shearing pengetahuan d...
22          memperoleh skor untuk kelompoknya didasarkan pada skor kuis          mereka melampaui skor dasar mereka.      ...
23      meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan dalam melaksanakan      pekerjaan finishing kayu yang harus di...
24mengikuti pelajaran. Kekurangberhasilan tersebut disebabkan oleh metodeyang dipergunakan oleh guru yang kurang tepat.   ...
25  Lebih jelasnya alur kerangka berpikir dapat dilihat dari gambar berikut ini:  SEBELUM TINDAKAN  1. Guru mengajar secar...
26C. Hipotesis Tindakan     Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: Penerapan metode  pembelajaran kooperatif mode...
BAB III                       METODOLOGI PENELITIANA. Desain Penelitian         Penelitian ini menggunakan metode Classroo...
28        Tahap pertama dalam penelitian ini adalah merancang perangkat   pembelajaran yang berupa rencana pembelajaran ya...
29C. Waktu dan Tempat Penelitian               Penelitian ini dimulai pada bulan Juni sampai dengan Desember 2010.  Secara...
30         Kegiatan yang dilakukan:   a. Menyusun rencana pembelajaran yang mengacu pada kurikulum yang        berlaku ses...
31    Siswa memperhatikan pemberitahuan guru.    Guru menampilkan beberapa gambar contoh menghitung luas          permuk...
32   sebuah meja yang akan difinishing       tidak jauh beda dengan   menghitung luas permukaan bidang. Guru menjelaskan ...
33   Topik Ahli    5 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing                    vernis. Siswa mulai membaca dan ...
34     Diskusi kelas dipimpin oleh guru      Guru memimpin diskusi kelas.      Siswa mengikuti diskusi kelas      Guru ...
35 Guru tidak banyak memberikan penjelasan dan langsung membagi   siswa dalam 5 kelompok secara hiterogen dalam kemampuan...
36 Guru pada saat yang sama mengingatkan siswa bahwa kalau ada   hal yang ingin ditanyakan, terlebih dahulu ditanyakan ke...
37       Siswa mengikuti diskusi kelas       Guru memberikan kesempatan setiap kelompok untuk memberikan          pendap...
38   permasalahan yang timbul pada saat kegiatan belajar mengajar   berlangsung, keoptimalan siswa dalam mengerjakan lemba...
39E. Data dan Sumber Data        Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah peristiwa dan   informasi tentang kemam...
40  proses, hasil, dan kondisi penerapan metode pembelajaran kooperatif model  jigsaw.2. Tes             Kemampuan Merenca...
41          Triangulasi berfungsi untuk membandingkan dan mengecek kembali  derajat kepercayaan suatu informasi yang telah...
42              Tabel 3.1: Pedoman Konvensi Nilai Absolute Skala          No         Interval                 Kriteria    ...
BAB IV                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANA. Hasil Penelitian Siklus I   1. Pratindakan (Temuan Masalah)       ...
44     10                                               X                            45     11                            ...
45   Grafik 4.1 Rekap Prestasi Siswa Sebelum Ada Tindakan       90       80       70       60       50                    ...
46d. Pendahuluan   Fase 1    Guru membacakan tujuan pembelajaran tentang subkompetensi          Merencanakan kebutuhan fi...
47   pelajaran matematika tentang cara menghitung luas permukaan   sebuah bidang. Guru menyuruh siswa untuk mengaitkan pe...
48 Siswa memperhatikan materi tentang topik finishing, yaitu   Topik Ahli    1 : menghitung luas bidang pekerjaan.   Topi...
49   Diskusi kelompok asal    Guru menyuruh siswa untuk berkumpul kembali dengan kelompok      asalnya masing-masing.   ...
503. Observasi Tindakan 1   Setelah   dilakukan    tindakan   sebagaimana      siklus   1   yang   dalam   pelaksanaanya m...
51    15                                   X                       75    16                                   X           ...
52         Grafik4.2 Prestasi Belajar Siswa Siklus I 90 80 70 60 50                                                       ...
53       mencapai ketuntasan 80% secara klasikal. Sehingga dengan hasil ini       direkomendasikan untuk melakukan tindaka...
54   klasikal 71,25%. Dengan hasil itu memang sudah ada peningkatan dari   prestasi belajar akan tetapi belum sesuai denga...
55 Siswa berkumpul dengan kelompok asal masing-masing sesuai   pembagian yang ditentukan oleh guruFase 3Membaca, menelaah...
56Diskusi kelompok ahli Guru menyuruh siswa untuk bergabung dengan kelompok ahli   masing-masing. Siswa bergabung dengan...
57   c. Penutup    Guru bersama siswa menyimpulkan materi pelajaran yang dibahas.        Guru melakukan ulangan harian d...
58      7                                   X                        95      8                                   X        ...
59      3      Nilai tertinggi        95      4      Nilai Terendah         70      5      Nilai Rata                   Ra...
60     ketuntasan. Nilai terendah 70 dan nilai tertinggi 95 sedang rata-rata secara     klasikal 81%.            Dengan ha...
61             Tabel 4. Rekap Perkembangan Prestasi Belajar                   4.7                                         ...
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
KTI -METHODE JIGSAW
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

KTI -METHODE JIGSAW

6,455 views

Published on

Published in: Education
1 Comment
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
6,455
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
44
Actions
Shares
0
Downloads
376
Comments
1
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

KTI -METHODE JIGSAW

  1. 1. KARYA TULIS ILMIAH GURU ONLINE 2010 PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODELJIGSAW UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MELAKSANAKAN PEKERJAAN FINISHING KAYU PADA PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK KONSTRUKSI KAYU SMK NEGERI I GENENG TAHUN PELAJARAN 2010/2011 OLEH: Drs. ICHSAN, M.M.Pd. NIP 19670709 200501 1 005 DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN NGAWI SMK NEGERI 1 GENENG TAHUN 2010 i
  2. 2. HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN AKHIR PENELITIAN TINDAKAN KELASBidang Kajian :1. Judul Penelitian : Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Untuk Meningkatkan Kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu Pada Program Keahlian Teknik Konstruksi Kayu SMK struksi Negeri 1 Geneng Tahun Pelajaran 2010/2011.2. Ketua Peneliti a. Nama Lengkap : Drs. Ichsan, M.M.Pd b. Jenis Kelamin : Laki-Laki c. Pangkat/Gol dan NIP : Guru Madya TK.1/IIIb. NIP.19670709200501005 . d. Mata Pelajaran (Kelas) a : Kompetensi Kejuruan Kelas XII e. Sekolah : SMK Negeri 1 Geneng, Kebupaten Ngawi3. Jumlah Anggota P Peneliti : 1 Orang4. Lama Penelitian : 6 Bulan Dari : Bulan Juli sampai bulan Desember5. Biaya Penelitian : Rp 1.000.000,00Pembimbing Ketua Peneliti PenelitiDr. Musa Sukardi, M.Pd. Drs. Ichsan, M.M.Pd.NIP.196304141987011001 196304141987011001 NIP. 19670709 200501 1 005 Mengetahui, Mengetahui, Kepala SMKN 1 Geneng Drs. Isbullah, M.M.Pd. NIP 19520724 198103 1 009 ii
  3. 3. ABSTRAKICHSAN. KTI 2010 PPPPTK TK dan PLB Bandung 2010. Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw untuk Meningkatkan Kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu pada Program Keahlian Teknik Konstruksi Kayu SMK Negeri I Geneng.Kata kunci: metode pembelajaran kooperatif Jigsaw, kompetensi melaksanakan pekerjaan finishing kayu Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sejauhmana penerapanMetode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw dalam meningkatkan KompetensiMelaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu pada Program Keahlian TeknikKonstruksi Kayu di SMK Negeri I Geneng. Teknik pengumpulan data dalampenelitian ini menggunakan teknik pengamatan dan tes, selanjutnya diujivaliditasnya dengan metode triangulasi, sedangkan teknik analisis data dalampenelitian ini menggunakan analisis kritis komparatif, yaitu mendeskripsikantemuan-temuan data dan membandingkannya dengan indikator-indikator kinerjayang sudah ditentukan. Kesimpulan hasil penelitian tindakan ini adalah: Metode pembelajarankooperatif model Jigsaw dapat meningkatkan Kompetensi MelaksanakanPekerjaan Finishing Kayu dengan indikasi sebagai berikut: (1) Angka ketuntasanmengalami kenaikan dari 35% pada pratindakan, meningkat menjadi 75% padasiklus I dan meningkat menjadi 100% pada siklus II. (2) Ketidaktuntasanmengalami penurunan yakni dari 65% pada pratindakan menurun menjadi 25%pada siklus I dan menurun menjadi 0% pada siklus II. (3) Nilai tertinggi padapratindakan adalah 90, pada siklus I juga 90, dan pada siklus II meningkatmenjadi 95.(4) Nilai terendah mengalami kenaikan dari 35 pada pratindakan,meningkat menjadi 50 pada siklus I, dan meningkat menjadi 70 pada siklus II. (5)Nilai rata-rata juga mengalami kenaikan yakni, dari 63 pada pratindakan,meningkat menjadi 71,25 pada siklus I, dan meningkat menjadi 81 pada siklus II. Guru perlu meningkatkan keaktifan siswa dalam kompetensimelaksanakan pekerjaan finishing kayu, agar siswa lebih termotivasi dalambelajarnya, tidak bosan, tertarik dengan kompetensi melaksanakan pekerjaanfinishing kayu. Untuk itu guru perlu memvariasikan metode pembelajaran, sertamelibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu guru diharapkanmelakukan penilaian, baik penilaian unjuk kerja maupun penilaian proses. iii
  4. 4. KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkah, rahmahdan bimbingannya dapat terselesaikan penulisan karya tulis ilmiah (KTI) ini untukmemenuhi sebagian persyaratan kenaikan pangkat guru yang harus memenuhiangka kredit dari sub unsur publikasi ilmiah. Kendala dan hambatan sering penulis jumpai dalam kaitannya penyusunankarya tulis ilmiah ini. Namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnyakesulitan dapat teratasi. Dengan selesainya penyusunan KTI ini, penulis inginmenyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penulisdalam menyusun KTI dari awal sampai akhir penulisan. Ucapan terima kasih yangsetulus-tulusnya penulis sampaikan kepada yang terhormat : 1. Dra. Hj. Teriska R.,M.Ed. Selaku Ketua PPPPTK dan PLB Bandung yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian ini. 2. Rudy Budiman, dkk., Selaku Admin PPPPTK dan PLB Bandung yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian ini. 3. Dr. Musa Sukardi, M.Pd., Sebagai Pembimbing , yang telah memberikan kesempatan untuk mengadakan penelitian dan dengan sabar telah membimbing dari awal sampai dengan penyelesaian KTI ini. 5. Drs. Isbullah, M.M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Geneng yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis. 10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu hingga selesainya penyusunan tesis ini. Semoga kebaikan semua pihak mendapatkan balasan yang setimpal dariAllah SWT. Akhir kata penulis berharap KTI yang sederhana ini dapatmemberikan kontribusi positif terhadap kemajuan ilmu pengetahuan di bidangpendidikan. Ngawi, 2010 Penulis iv
  5. 5. DAFTAR ISIHALAMAN JUDUL ---------------------------------------------------------------------- iHALAMAN PENGESAHAN ----------------------------------------------------------- iiABSTRAK---------------------------------------------------------------------------------- iiiKATA PENGANTAR -------------------------------------------------------------------- ivDAFTAR ISI ------------------------------------------------------------------------------- vLAMPIRAN-LAMPIRAN --------------------------------------------------------------- viiiBAB I PENDAHULUAN ---------------------------------------------------------------- 1 A. Latar Belakang Masalah ------------------------------------------------------- 1 B. Identifikasi Masalah ------------------------------------------------------------ 5 C. Pembatasan Masalah------------------------------------------------------------ 5 D. Rumusan Masalah--------------------------------------------------------------- 6 E. Pemecahan Masalah------------------------------------------------------------- 6 F. Definisi istilah-------------------------------------------------------------------- 7 G. Tujuan Penelitian---------------------------------------------------------------- 8 H. Manfaat Hasil Penelitian ------------------------------------------------------- 8BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN------------------------------------------------------------------------- 11 A. Kajian Pustaka------------------------------------------------------------------- 11 1. Metode Kooperatif Model Jigsaw ----------------------------------------- 11 2. Pembelajaran Kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu 22 B. Kerangka Berpikir--------------------------------------------------------------- 23 C. Hipotesis Tindakan-------------------------------------------------------------- 26 v
  6. 6. viBAB III. METODOLOGI PENELITIAN---------------------------------------------- 27 A. Desain Penelitian---------------------------------------------------------------- 27 B. Subjek Penelitian ---------------------------------------------------------------- 28 C. Waktu dan Tempat Penelitian ------------------------------------------------ 29 D. Prosedur Penelitian------------------------------------------------------------- 29 1. Menyusun Rancangan Tindakan (Planning)--------------------------- 29 2. Pelaksanaan Tindakan (Acting)------------------------------------------ 30 3. Pengamatan Tindakan (Observasi)-------------------------------------- 37 4. Refleksi Tindakan (Refleksing) ------------------------------------------ 38 E. Data dan Sumber Data--------------------------------------------------------- 39 F. Teknik Pengumpulan Data---------------------------------------------------- 39 G. Validasi Data-------------------------------------------------------------------- 40 H. Teknik Analisis Data ---------------------------------------------------------- 41 I. Indikator Kinerja --------------------------------------------------------------- 42BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ---------------------------- 43 A. Hasil Penelitian Siklus I------------------------------------------------------- 43 1. Pratindakan (Temuan Masalah) ----------------------------------------- 43 2. Pelaksanaan Tindakan Siklus I ------------------------------------------ 45 3. Observasi Tindakan 1 ----------------------------------------------------- 50 4. Refleksi---------------------------------------------------------------------- 52 B. Hasil Penelitian Siklus II------------------------------------------------------ 53 1. Hasil Refelksi siklus I----------------------------------------------------- 53 2. Pelaksanaan Siklus II------------------------------------------------------ 54
  7. 7. vii 3. Observasi Tindakan II----------------------------------------------------- 57 4. Refleksi---------------------------------------------------------------------- 59 C. Pembahasan --------------------------------------------------------------------- 60BAB V. SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN---------------------------------- 63 A. Simpulan -------------------------------------------------------------------------- 63 B. Implikasi --------------------------------------------------------------------------- 65 C. Saran -------------------------------------------------------------------------------- 65DAFTAR PUSTAKA --------------------------------------------------------------------- 67LAMPIRAN -LAMPIRAN -------------------------------------------------------------- 68
  8. 8. DAFTAR GAMBARKeterangan HalamanGambar 1: Tahapan pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw-------- 20Gambar 2: Kerangka Berpikir ---------------------------------------------------- 25Gambar 3. Model Siklus Penelitian Tindakan Kelas -------------------------- 27 viii
  9. 9. DAFTAR TABELKeterangan HalamanTabel 3.1: Pedoman Konversi Nilai Absolute Skala -------------------------- 42Tabel 4.1: Prestasi Siswa Sebelum Ada Tindakan ----------------------------- 43Tabel 4.2: Rekap Prestasi Siswa Sebelum Ada Tindakan -------------------- 43Tabel 4.3: Prestasi Belajar Siswa Siklus I--------------------------------------- 50Tabel 4.4: Rekap Prestasi Belajar Siswa Siklus I ------------------------------ 51Tabel 4.5: Prestasi Belajar Siswa Siklus II-------------------------------------- 57Tabel 4.6: Rekap Prestasi Belajar Siswa Siklus II ----------------------------- 58Tabel 4.7: Rekap Perkembangan Prestasi Belajar ----------------------------- 60 ix
  10. 10. DAFTAR GRAFIKKeterangan HalamanGrafik 4.1: Rekap Prestasi Siswa Sebelum Ada Tindakan ------------------- 45Grafik 4.2: Prestasi Belajar Siswa Siklus I-------------------------------------- 51Grafik 4.3: Perkembangan Prestasi Belajar Siswa ----------------------------- 61 x
  11. 11. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah Kompetensi kejuruan merupakan mata pelajaran yang ada di SMK. Pada mata pelajaran ini peserta didik mengenal, mempraktikan dan menguasai berbagai kompetensi sesuai dengan program masing-masing jurusan. Kompetensi yang harus dikuasai peserta didik di masing-masing program diharapkan siswa mampu menghadapi perkembangan teknologi yang berkembang pesat. Mereka harus siap dan mampu menghadapi tantangan di dunia kerja yang perubahannya sangat cepat. Selama ini kegiatan pembelajaran di kelas masih dilaksanakan secara konvensional, terlebih jika di sekolah belum tersedianya sarana prasarana pendukung untuk pembelajaran kompetensi kejuruan. Kalaupun di sekolah sudah memiliki sarana pembelajaran kompetensi kejuruan seperti alat-alat praktek tetapi kegiatan pembelajaran masih monoton, hal ini terlihat dari kegiatan pembelajaran yang hanya tergantung pada intruksi atau perintah guru. Pembelajaran konvensional yang dilakukan guru di kelas seringkali merasa kewalahan karena siswa banyak memberikan pertanyaan, terlebih jika materi pelajaran dirasa cukup sulit untuk dipahami oleh siswa. Hal ini terjadi karena dalam melaksanakan pembelajaran konvensional guru merupakan sumber utama ilmu pengetahuan, dan dilakukan dengan metode ceramah. 1
  12. 12. 2 Dalam mengajarkan kompetensi kejuruan, sebaiknya diusahakan agarsiswa mudah memahami konsep yang ia pelajari, sehingga siswa lebihberminat untuk mempelajarinya. Media atau alat peraga serta metodepengajaran yang tepat dapat membantu siswa dalam memahami konsep matapelajaran kompetensi kejuruan, maka seyogyanya guru menyiapkan mediaserta metode sesuai dengan materi yang diajarkan. Media dan metode yangtepat dalam proses pembelajaran akan mempermudah siswa dalam memahamisuatu materi, siswa dapat mempelajarinya karena konkret jadi tidak hanyadihadapkan pada situasi yang abstrak. Dalam pembelajaran mata pelajaran kompetensi kejuruan di kelas, guruseringkali mengasumsikan bahwa semua siswa memiliki kemampuan yangsama. Dalam paradigma yang baru siswa memang dapat belajar apa sajanamun waktu yang diperlukan untuk mencapai kompetisi tertentu berbeda satudengan lainnya. Akibatnya banyak anak yang memiliki nilai tidak seimbang. Pembelajaran mata pelajaran kompetensi kejuruan merupakan bagianyang berkaitan dengan upaya membangun interaksi bermakna antara gurudengan siswa lewat materi ajar dalam rangka penguasan konsep. Peningkatankualitas pembelajaran berhubungan dengan upaya membangun komunikasitimbal balik antara guru dengan siswa yang melibatkan baik aspek kognitif,afektif maupun psikomotor. Ketiga hal tersebut perlu dikembangkan secaraberkelanjutan dengan berpedoman pada kompetensi dasar siswa dan indikatorkeberhasilannya.
  13. 13. 3 Kegiatan penilaian pembelajaran merupakan salah satu bentuk upayaguru dalam rangka memperoleh informasi sebagai balikan tentangpelaksanaan pembelajaran untuk dimanfaatkan sebagai bahan penilaian sejauhmana keberhasilan pembelajaran baik dari segi proses maupun produknya. Halini berarti bahwa pada penilaian yang perlu mendapatkan perhatian adalahproses penyediaan data yang benar dan terandal sehingga dapat diambilkeputusan yang tepat. Oleh karena itu, dalam penilaian pembelajarankompetensi kejuruan di SMK yang perlu mendapatkan penekanan adalahbagaimana guru mampu menyediakan informasi dalam pembelajaran tersebutdalam rangka mengukur tingkat pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan. Secara realitas pembelajaran kompetensi kejuruan di SMK Negeri IGeneng sering menghadapi masalah, utamanya dalam tingkat penguasaanmateri. Perbedaan sikap dan karakter siswa yang memiliki latar belakangsosial yang berbeda berdampak pada munculnya perbedaan nilai pada siswa.Perbedaan nilai yang terjadi pada siswa yang menempuh kompetensiMelaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu sangat terlihat dengan jelas. Adakelompok anak yang memiliki nilai yang tinggi sementara kelompok yang lainmemiliki nilai yang sangat rendah hal ini diakibatkan dari metodepembelajaran yang konvensional, hasil belajar siswa menjadi kelompok yangbernilai tinggi dan kelompok siswa yang bernilai rendah. Hal yang demikianjika dibiarkan akan membuat masalah tersendiri bagi sekolah. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut maka sebagai seorang gurukompetensi kejuruan diharapkan bisa mencari alternatif metode pembelajaran
  14. 14. 4yang tepat. Dalam arti mampu mengembangkan kemampuan siswa yangdiasumsikan kelompok tinggi dan sekaligus meningkatkan kemampuan siswadalam kategori bernilai rendah. Melihat kesenjangan perolehan nilai tersebutmaka salah satu alternatif yang tepat adalah mengoptimalkan kemampuansiswa yang memiliki prestasi tinggi namun bisa mengangkat anak-anak yangmemiliki nilai rendah, teknik yang kita gunakan adalah adalah teknikpembelajaran kooperatif model-jigsaw. Dalam pembelajaran kooperatif tipejigsaw, secara umum siswa dikelompokkan secara hiterogen dalamkemampuan. Siswa diberi materi yang baru atau pendalaman dari materisebelumnya untuk dipelajari. Masing-masing anggota kelompok secara acakditugaskan untuk menjadi ahli (expert) pada suatu aspek tertentu dari materitersebut. Setelah membaca dan mempelajari materi, expert dari kelompokberbeda berkumpul untuk mendiskusikan topik yang sama dari kelompok lainsampai mereka menjadi expert pada konsep yang ia pelajari. Kemudiankembali ke kelompok semula untuk mengajarkan topik yang mereka kuasaikepada teman sekelompoknya. Terakhir diberikan tes atau assesmen yang lainpada semua topik yang diberikan. Dengan teknik kooperatif tipe jigsaw ini maka siswa yang memilikikemampuan lebih dibanding dengan teman yang lain akan dijadikan ahli(expert) pada suatu aspek tertentu dari materi. Dengan penempatan siswa yangmemiliki kemampuan lebih sebagai expert maka kemampuan mereka akantetap berkembang sementara siswa yang memiliki kemampuan kurang akanterbantu oleh teman expert.
  15. 15. 5 Untuk itulah dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti akan mengambil sebuah judul Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw untuk Meningkatkan Kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu pada program keahlian teknik konstruksi kayu SMK Negeri I Geneng Tahun pelajaran 2010/2011.B. Identifikasi Masalah Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Pembelajaran konvensional yang dilakukan guru di kelas seringkali monoton sehingga anak jenuh dan materi tidak diserap oleh siswa secara maksimal. 2. Media atau alat peraga serta metode pengajaran yang kurang tepat mengakibatkan siswa kesulitan dalam memahami konsep mata pelajaran kompetensi kejuruan. 3. Rendahnya prestasi siswa dalam kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu pada Program Keahlian Teknik Konstruksi Kayu kelas XII SMK Negeri 1 Geneng tahun pelajaran 2010/2011.C. Pembatasan Masalah Pembatasan masalah dalam penelitian ini dibatasi pada siswa kelas XII Program Keahlian Teknik Konstruksi Kayu mata pelajaran kompetensi kejuruan, kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu, pada
  16. 16. 6 subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu di SMK Negeri 1 Geneng tahun pelajaran 2010/2011. Penelitian ini akan selesai jika siswa telah telah mencapai nilai 70 individu dan mencapai ketuntasan 80% secara klasikal, dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw.D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah di depan maka diajukan rumusan masalah sebagai berikut: Apakah metode pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu pada Program Keahlian Teknik Konstruksi Kayu kelas XII SMK Negeri 1 Geneng tahun pelajaran 2010/2011?E. Pemecahan Masalah Rendahnya kemampuan siswa dalam kemampuan kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu pada Program Keahlian Teknik Konstruksi Kayu kelas XII SMK Negeri 1 Geneng tahun pelajaran 2010/2011, disebabkan guru masih menerapkan metode pembelajaran yang konvensional. Peserta didik kurang terlibat langsung dalam pembelajaran. Akibat yang paling tampak adalah rendahnya prestasi belajar siswa dalam penguasaan materi pembelajaran.
  17. 17. 7 Untuk mengatasi masalah tersebut maka upaya yang dilakukan adalah menerapkan salah satu metode mengajar yang dapat mengajak siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran, metode tersebut adalah pembelajaran kooperatif model jigsaw. Dengan menerapkan metode ini diharapkan siswa dapat terlibat langsung sehingga dapat meningkatkan nilai dalam pembelajaran kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu pada pada Program Keahlian teknik Konstruksi Kayu kelas XII SMK Negeri 1 Geneng tahun pelajaran 2010/2011.F. Definisi Istilah 1. Metode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Metode Pembelajaran kooperatif model jigsaw adalah metode pembelajaran yang menekankan pada pembentukan kelompok ahli yang kemudian kelompok tersebut saling mempresentasikan hasil diskusinya pada setiap anggota kelompok. 2. Kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu Kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu adalah kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan dalam melaksanakan pekerjaan finishing kayu yang harus dimiliki oleh siswa. 3. Program Keahlian Teknik Konstruksi Kayu Program Keahlian Teknik Kontruksi Kayu adalah salah satu program keahlian di SMK dari jurusan bangunan gedung.
  18. 18. 8 4. SMK Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs.G. Tujuan Penelitian Sejalan dengan masalah yang akan dipecahkan melalui penelitian tindakan kelas ini, maka tujuan yang hendak dicapai adalah: 1. Menerapkan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw pada kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu pada Program Keahlian Teknik Konstruksi Kayu kelas XII SMK Negeri 1 Geneng tahun pelajaran 2010/2011. 2. Meningkatkan prestasi belajar siswa dalam kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw pada Program Keahlian Teknik Konstruksi Kayu kelas XII SMK Negeri 1 Geneng tahun pelajaran 2010/2011.H. Manfaat Hasil Penelitian Manfaat teoretis maupun praktis yang bisa dipetik dari penelitian tindakan kelas ini antara lain:
  19. 19. 91. Manfaat Teoretis: Memperkaya khazanah teori/keilmuan yang terkait dengan kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw.2. Manfaat Praktis: a. Bagi siswa 1) Dapat memberikan motivasi kepada siswa agar kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu meningkat atau lebih baik. 2) Dapat merefleksi potensinya diri yang harus dikembangkan lewat kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu b. Bagi Guru 1) Dapat mengembangkan kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu yang benar-benar efektif dengan jalan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw sehingga hasilnya akan lebih baik, 2) Dapat mengembangkan profesinya secara lebih mendalam, yakni memahami siswa dan profesinya secara menyeluruh baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Hal ini memiliki konsekuensi bahwa guru mampu melihat siswa sebagai individu yang memiliki potensi yang harus dikembangkan. 3) Menambah pengalaman guru untuk melaksanakan PTK.
  20. 20. 10c. Bagi sekolah 1) Dapat memberikan temuan yang akurat tentang kompetensi guru dalam mengajar dan kompetensi siswa dalam Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu, sehingga prestasi siswa dan hasil pembelajaran Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu dapat ditingkatkan. 2) Dapat memberikan sumbangan dalam menetapkan alternatif pengolahan sekolah yang memperhatikan berbagai keragaman. Pemahaman mengenai keragaman ini berguna dalam mengembangkan manajemen sekolah yang berbasis mutu.
  21. 21. BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKANA. Kajian Pustaka 1. Metode Kooperatif Model Jigsaw a. Pengertian Kata jigsaw berasal dari bahasa Inggris yang berarti “gergaji atau memotong”. Dalam metode pembelajaran teknik jigsaw termasuk dalam jenis metode pembelajaran kooperatif. Jigsaw dikembangkan pertama kali oleh Elliot Aronson dan koleganya di Universitas Texas, Roy Killen (1996:86) menyatakan bahwa: Dalam belajar kooperatif tipe jigsaw, secara umum siswa dikelompokkan oleh secara hiterogen dalam kemampuan. Siswa diberi materi yang baru atau pendalaman dari materi sebelumnya untuk dipelajari. Masing-masing anggota kelompok secara acak ditugaskan untuk menjadi ahli (expert) pada suatu aspek tertentu dari materi tersebut. Setelah membaca dan mempelajari materi, “ahli” dari kelompok berbeda berkumpul untuk mendiskusikan topik yang sama dari kelompok lain sampai mereka menjadi “ahli” di konsep yang ia pelajari. Kemudian kembali ke kelompok semula untuk mengajarkan topik yang mereka kuasai kepada teman sekelompoknya. Terakhir diberikan tes atau assesmen yang lain pada semua topik yang diberikan. langkah-langkah pembelajaran dengan jigsaw. Pembelajaran jigsaw dapat dideskripsikan sebagai strategi pembelajaran dimana siswa dikelompokkan dalam kelompok-kelompok yang disebut “kelompok asal”. Kemudian siswa juga menyusun “kelompok ahli” yang terdiri dari perwakilan “kelompok asal” untuk 11
  22. 22. 12belajar dan/atau memecahkan masalah yang spesifik. Setelah “kelompokahli” selesai melaksanakan tugas maka anggota “kelompok ahli” kembalike kelompok asal untuk menerangkan hasil pekerjaan mereka di“kelompok ahli” tadi. Metode jigsaw mengkondisikan siswa untuk beraktifitas secarakooperatif dalam dua kelompok, yaitu kelompok asal dan kelompok ahli.Aktifitas tersebut meliputi saling berbagi pengetahuan, ide, menyanggah,memberikan umpan balik dan mengajar rekan sebaya. Seluruh aktifitastersebut dapat menciptakan lingkungan belajar di mana siswa secara aktifmelaksanakan tugas sehingga pembelajaran lebih bermakna. Secara umum tahap-tahap pembelajaran kooperatif model jigsawyang akan diterapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (1)Tahap pendahuluan, (2) Tahap penyajian informasi/materi, (3) Tahappembentukan kelompok, (4) Tahap kerja dan belajar kelompok, (5) Tahapevaluasi, (6) Tahap penghargaan. Kooperatif model jigsaw diilustrasikan sebagai berikut: Siswaberkumpul di kelompok asal dan masing-masing mendapatkan tugas yangberbeda. Setiap siswa dengan bagian tugas yang sama berkumpul dalamkelompok ahli, untuk membahas materi yang diberikan. Siswa kembali kekelompok asal untuk mengajarkan bagian materi sesuai tugasnya masing-masing kepada seluruh anggota kelompok asal. Diskusi kelasantarkelompok yang dipimpin oleh guru.
  23. 23. 13 Dari pendapat para ahli di depan dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran model jigsaw adalah metode pembelajaran kooperatif yang menekankan pada pembentukan kelompok ahli yang kemudian kelompok tersebut saling mempresentasikan hasil diskusinya pada setiap anggota kelompok. Jadi, dalam pembelajaran kooperatif model jigsaw siswa dituntut menjadi ahli dalam materi tertentu dan mampu mempresentasikan keahliannya dalam kelompok.a. Prinsip Pembelajaran Kooperatif Belajar kooperatif bukanlah sesuatu yang baru. Dalam belajar kooperatif, siswa dibentuk dalam bentuk kelompok-kelompok secara hiterogen untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang diberikan guru. Dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil saling membantu satu sama lain. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih latar belakangnya. Pada pembelajaran kooperatif diajarkan ketrampilan-ketrampilan khusus agar dapat bekerja sama didalam kelompoknya. Seperti menjadi pendengar yang baik siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan. Ketepatan seorang guru dalam memilih metode pembelajaran akan berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa, karena metode pembelajaran akan berpengaruh terhadap kegiatan pembelajaran di kelas.
  24. 24. 14Hal ini sesuai dengan pendapat Djahiri (1992:28) yang menyatakan bahwa,pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan kurikulum danpotensi siswa merupakan kemampuan dan keterampilan dasar yang harusdimiliki seorang guru. Agar pelaksanaan model pembelajaran kooperatif dapat bermanfaatsecara maksimal maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip dasarpelaksanaan pembelajaran kooperatif yang terdiri dari (1) menejemenpembelajaran kooperatif, (2) Struktur tugas kelompok, (3) tanggungjawabpribadi dan kelompok, (4) peran guru dan siswa, (5) proses kelompok Falsafah yang mendasari cooperative learning (gotong royong)dalam pembelajaran adalah falsafah homo homoni socius. Falsafah inimenekankan bahwa manusia adalah mahkluk sosial. Kerja samamerupakan kebutuhan penting untuk kelangsungan kehidupan. Tanpa kerjasama tidak akan ada individu, keluarga, organisasi atau sekolah. Tanpakerja sama kehidupan sudah punah (Lie, 2002:28). Coorporative Learning memiliki dasar pemikiran “getting bettertogether” yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yanglebih luas dengan suasana yang kondusif kepada siswa untuk memperolehdan mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai serta keterampilan sosialyang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat. Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan siswa untukberinteraksi dan bekerjasama dengan siswa lain dalam suasana gotongroyong yang harmonis dan kondusif. Suasana positif yang timbul dari
  25. 25. 15metode ini, yaitu bisa memberikan kesempatan kepada siswa untukmencintai pelajaran dan sekolah. Dalam kegiatan-kegiatan yangmenyenangkan ini, siswa merasa lebih terdorong untuk belajar danberpikir (Lie, 2002:90). Johnson & Johnson (dalam Lie, 2002:30) mengatakan bahwa tidaksemua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif untukmencapai hasil yang maksimal. Lima unsur metode pembelajaran gotongroyong harus diterapkan. Kelima unsur tersebut adalah : a) Salingketergantungan positif, b) Tanggung jawab perseorangan, c) Tatap muka,d) Komunikasi antaranggota, e) Evaluasi proses kelompok. Dari pendapat tersebut jelas bahwa ada prinsip-prinsip yang harusdiperhatikan dalam penerapan metode kooperatif. Untuk lebih jelasnya,prinsip tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.1) Manajemen Pembelajaran Kooperatif Sebaiknya, siswa tidak dibiarkan mencari kelompoknya sendiri, karena dapat menyebabkan terjadinya keterasingan beberapa siswa. Dalam proses pembelajaran kooperatif, guru memiliki peran diantaranya menentukan pembagian kelompok dan memfasilitasi kekompakan kelompok.2) Struktur Tugas Dalam kelompok pembelajaran kooperatif, guru menyusun tugas melalui pembagian kerja, sarana dan keahlian. Penyusunan tugas ini akan menciptakan saling ketergantungan yang positif antara anggota
  26. 26. 16 kelompok. Siswa akan merasa kontribusinya sangat berarti bagi kelompok dan pada saat yang bersamaan merasa bergantung pada kontribusi anggota yang lain.3) Tanggung Jawab Pribadi dan Kelompok Jika penilaian hasil kerja siswa tidak didasarkan pada kontribusi individual, kemungkinan akan ada siswa yang bersikap seperti benalu, atau siswa lain yang bekerja terlalu keras untuk teman-temannya. Tanggung jawab pribadi dapat dibentuk melalui beberapa cara, bergantung pada isi dan metode cooperative yang dipakai. Siswa bisa didorong untuk bertanggung jawab sendiri dengan dinilai secara mandiri untuk bagian tugasnya dalam kerja kelompok. Selain itu, siswa juga perlu bertanggung jawab atas kegiatan kolektif kelompoknya, misalnya dengan hasil karya bersama, presentasi kelas, dan laporan kelompok.4) Peran Guru dan Siswa Kelompok pembelajaran kooperatif membuat siswa belajar secara aktif dan mandiri, namun guru tetap berperan penting dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, tidak berarti guru bisa mengabaikan dan meninggalkan pekerjaannya, sebab guru berperan sebagai fasilitator dan mendorong siswa untuk saling tergantung dengan siswa lain. Guru harus tetap memonitor, mengamati proses pembelajaran, dan turun tangan jika diperlukan.
  27. 27. 175) Proses Kelompok Untuk memantapkan keberhasilan yang berkelanjutan, guru perlu menanam usaha untuk proses kelompok. Artinya anggota kelompok perlu diberi kesempatan untuk merefleksikan tindakan baik yang positif dan negatif, serta membuat tindakan-tindakan yang harus dilanjutkan dan diubah. Tujuan proses kelompok adalah meningkatkan keberhasilan masing-masing anggota dalam memberikan kontribusi mereka terhadap pencapaian tujuan kelompok. Sedangkan konsep utama dari belajar kooperatif menurut Slavin(2001:20) adalah sebagai berikut. a. Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan. b. Tanggung jawab individual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok. Tanggung jawab ini terfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan memastikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi tanpa bantuan yang lain. c. Kesempatan yang sama untuk sukses, bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri. Hal ini memastikan bahwa siswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah sama-sama tertantang untuk melakukan yang terbaik dan bahwa kontribusi semua anggota kelompok sangat bernilai. Dari pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwapembelajaran kooperatif lebih menekankan pada cara siswa belajar secarabersama dalam kelompok-kelompok kecil dan saling membantu satu samalain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 siswadengan kemampuan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen adalahterdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin dan suku.
  28. 28. 18b. Penerapan Model Jigsaw Dari beberapa teori yang ada maka peneliti dapat menuliskan langkah-langkah pembelajaran dengan metode kooperatif model jigsaw, diantaranya sebagai berikut: 1) Orientasi Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diberikan. Memberikan penekanan tentang manfaat penggunaan metode Jigsaw dalam proses belajar mengajar. Mengingatkan senantiasa percaya diri, kritis, kooperatif dalam model belajaran ini. Peserta didik diminta belajar konsep secara keseluruhan untuk memperoleh gambaran keseluran dari konsep. (Bisa juga pemahaman konsep ini menjadi tugas yang sebelumya harus sudah dibaca di rumah). 2) Pengelompokan Misalkan dalam kelas ada 20 Siswa, yang kita tahu kemampuannya dan sudah dirangking (siswa tidak perlu tahu), kita bagi dalam bagi 25% (Rangking 1- 5) kelompok sangat baik, 25% (rangking 6-10) kelompok baik, 25% selanjutnya (rangking 11-15) kelompok sedang, 25% (rangking 15-20) rendah. Selanjutnya kita akan membaginya menjadi 5 group (A – E) yang isi tiap-tiap groupnya hiterogen dalam kemampuannya, berilah indek 1 untuk siswa dalam kelompok sangat baik, indek 2 untuk kelompok, baik indek 3 untuk kelompok sedang dan indek 4 untuk kelompok
  29. 29. 19 rendah. Misalkan (A1 berarti group A dari kelompok sangat baik, .... A4 group A dari kelompok rendah). Tiap group akan berisi Group A {A1, A2, A3, A4} Group B {B1, B2, B3, B4} Group C {C1, C2, C3, C4} Group D {D1, D2, D3, D4} Group E {E1, E2, E3, E4}3) Pembentukan dan pembinaan kelompok expert Selanjutnya group itu dipecah menjadi kelompok yang akan mempelajari materi yang kita berikan dan dibina supaya jadi expert, berdasarkan indeknya. Kelompok 1 {A1, B1, C1, D1, E1} Kelompok 2 {A2, B2, C2, D2 ,E2} Kelompok 3 {A3, B3, C3, D3 ,E3} Kelompok 4 {A4, B4, C4, D4 ,E4} Tiap kelompok ini di beri konsep (transformasi) sesuai dengan kemampuannya. Kelompok 1 yang terdiri dari siswa yang sangat baik kemapuannya diberi materi yang lebih komplek dan seterusnya. Setiap kelompok diharapkan bisa belajar topik yang diberikan dengan sebaik-baiknya sebelum ia kembali kedalam group sebagai tim ahli “expert”, tentunya peran pendidik cukup penting dalam fase ini. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan dipaparkan bentuk diagaram diskusi Kelompok Expert.
  30. 30. 20 Siswa berkumpul di kelompok asal dan masing-masing mendapatkan tugas yang berbeda Setiap siswa dengan bagian tugas yang sama berkumpul dalam kelompok ahli, untuk membahas materi yang diberikan Siswa kembali ke kelompok asal untuk menyampaikan bagian materi sesuai tugasnya masing- masing kepada seluruh anggota kelompok asal Diskusi kelas antarkelompok yang dipimpin oleh guru kelas Melaksanakan tes individu TES Pemberian penghargaan Individu dan Kel.Terbaik Gambar 1 : Tahapan pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw4) Diskusi (Pemaparan) kelompok ahli dalam group Expertist (peserta didik ahli) dalam konsep tertentu ini, masing masing kembali dalam group semula. Pada fase ini ke-lima group (1-5) memiliki ahli dalam konsep-konsep tertentu (1-4). Selanjutnya pendidik mempersilahkan anggota group untuk mempresentasikan
  31. 31. 21 keahliannya kepada groupnya masing-masing, satu persatu. Proses ini diharapakan akan terjadi shearing pengetahuan di antara mereka. Aturan dalam fase ini adalah: - Siswa memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap anggota tim mempelajari materi yang diberikan. - Memperolah pengetahuan baru adalah tanggung jawab bersama, jadi belajar sampai setiap anggota menguasai konsep. - Tanyakan pada anggota group sebelum tanya pada pendidik - Pembicaraan dilakukan secara pelan agar tidak menggangu group lain. - Akhiri diskusi dengan “merayakannya” agar memperoleh kepuasan.5) Test (Penilaian). Pada fase ini guru memberikan test tulis untuk dikerjakan oleh siswa yang memuat seluruh konsep yang didiskusikan. Pada test ini siswa tidak diperkenankan untuk bekerjasama. Jika mungkin tempat duduknya agak dijauhkan.6) Pengakuan Kelompok Penilaian pada pembelajaran kooperatif berdasarkan skor peningkatan individu, tidak didasarkan pada skor akhir yang diperoleh siswa, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata- rata skor sebelumnya. Setiap siswa dapat memberikan kontribusi poin maksimum pada kelompoknya dalam sistem skor kelompok. Siswa
  32. 32. 22 memperoleh skor untuk kelompoknya didasarkan pada skor kuis mereka melampaui skor dasar mereka. Selanjutnya berikan penghargaan kepada group yang memiliki penambahan nilai paling tinggi. Berikan juga penghargaan individu yang paling tinggi penambahan nilainya, juga pada tim yang paling kooperatif dan dinamis selama berdiskusi. Jika mungkin tambahkan jenis-jenis penghargaan yang bisa merata pada semua group.2. Pembelajaran Kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu a. Pengertian Menurut Purwadarminta dalam kamus umum Bahasa Indonesia, kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Kompetensi yang ada dalam Bahasa Inggris adalah competency atau competence merupakan kata benda, menurut William D. Powell dalam aplikasi Linguist Version 1.0 (1997) diartikan: 1) kecakapan, kemampuan, kompetensi 2) wewenang. Kata sifat dari competence adalah competent yang berarti cakap, mampu, dan tangkas Secara sederhana kompetensi diartikan seperangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan yang harus dimiliki dan dimiliki seseorang dalam rangka melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab pekerjaan dan jabatan yang disandangnya. (http://dahlanforum.wordpress.com/2008/04/17/pengertian-kompetensi/) Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu adalah kemampuan yang
  33. 33. 23 meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan dalam melaksanakan pekerjaan finishing kayu yang harus dimiliki oleh siswa pada program keahlian teknik perkayuan. b. Ruang Lingkup Standar Kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu merupakan seperangkat kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu yang dibakukan dan harus ditunjukkan oleh siswa pada hasil belajarnya dalam mata pelajaran kompetensi kejuruan. Standar ini dirinci dalam komponen kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indicator, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar, untuk setiap aspeknya. Pengorganisasian dan pengelompokan materi pada aspek tersebut didasarkan menurut urutanan-urutan pembelajaran yang hendak dicapai. Ruang lingkup materi pada standar kompetensi Melaksanakan Pekerjaan Finishing Kayu dibagi dalam subkompetensi-subkompetensi yaitu: 1) Menjelaskan Prosedur Dan Teknik Finishing Pekerjaan Kayu, 2) Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu, 3) Melaksanakan Pekerjaan Pengecatan, 4) Melaksanakan Pekerjaan Politur, 5) Melaksanakan Pekerjaan Melamin, dan 6) Melaksanakan Pekerjaan Vernis.B. Kerangka Berpikir Kemampuan siswa dalam kompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu sangat rendah/kurang. Hal itu terlihat dari sikap siswa dalam
  34. 34. 24mengikuti pelajaran. Kekurangberhasilan tersebut disebabkan oleh metodeyang dipergunakan oleh guru yang kurang tepat. Yaitu guru hanyamemberikan teori bagaimana Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu yangbaik tanpa diterapkan contoh langsung. Hal ini menyebabkan siswa hanyamereka-reka sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dalam menerapkan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw,guru tidak membelenggu pengalaman anak, artinya guru tetap memberikesempatan kepada mereka untuk mengembangkan secara maksimal sesuaidengan kemampuan anak. Dengan penerapan metode pembelajaran kooperatifmodel jigsaw diharapkan siswa dapat tertarik mengikuti pembelajaran,keaktifan dalam pembelajaran Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayumeningkat, serta kompetensi merencanakannya lebih baik. Adapun tindakandalam penelitian ini akan dilaksanakan 2 siklus atau sampai indikator yangdituju tercapai.
  35. 35. 25 Lebih jelasnya alur kerangka berpikir dapat dilihat dari gambar berikut ini: SEBELUM TINDAKAN 1. Guru mengajar secara konvensional 2. Peran siswa hanya sebagai objek 3. Guru kurang maksimal dalam memberi contoh 4. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran 5. Hasil kompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu siswaPERENCANAAN PELAKSANAAN SIKLUS I Penerapan Kooperatif Model Jigsaw REFLEKSI PENGAMATAN PERENCANAAN PELAKSANAAN SIKLUS II Penerapan Kooperatif Model Jigsaw REFLEKSI PENGAMATAN SETELAH TINDAKAN 1. KBM berlangsung hidup 2. Siswa tertarik mengikuti pembelajaran 3. Keaktifan dalam pembelajaran meningkat 4. Kompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu meningkat/lebih baikGambar 1. Kerangka Berpikir Gambar 2: Kerangka Berpikir
  36. 36. 26C. Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: Penerapan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam subkompetensi merencanakan kebutuhan finishing kayu pada Program Keahlian Teknik Konstruksi Kayu kelas XII SMK Negeri 1 Geneng tahun pelajaran 2010/2011.
  37. 37. BAB III METODOLOGI PENELITIANA. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode Classroom Action Research yang disingkat CAR atau penelitian Tindakan Kelas (PTK). CAR atau PTK merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama (Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan supardi, 2006: 3). Sedangkan menurut Rochiati Wiriaatmadja (2005: 66) penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Penelitian Tindakan Kelas ini diterapkan di kelas karena menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesional guru dalam proses belajar mengajar di kelas dengan melihat berbagai indikator keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa. Siklus action research dalam penelitian tindakan kelas ini dapat divisualisasikan sebagai berikut : planning planning reflecting acting reflecting acting observing observing Gambar 3. Model Siklus Penelitian Tindakan Kelas 27
  38. 38. 28 Tahap pertama dalam penelitian ini adalah merancang perangkat pembelajaran yang berupa rencana pembelajaran yang didasarkan pada penerapan metode kooperatif tipe jigsaw. Tahap kedua, merupakan tahap implementasi yakni memberitahukan kepada siswa yang menjadi subjek penelitian tentang kegiatan yang akan dilaksanakan yakni metode pembelajaran kooperatif model jigsaw. Melalui model kegiatan yang simultan dengan mengembangkan siklus pertama pada penelitian tindakan kelas. Hasil implementasi ini diobservasi dan direkam menggunakan instrumen pangumpul data yang berupa pengalaman kinerjanya. Data yang dikumpulkan berupa data kualitatif dan kuantitatif, untuk seterusnya diadakan refleksi. Hasil refleksi digunakan untuk perbaikan pada perencanaan siklus kedua. Dengan mendasarkan pada kegagalan siklus sebelumnya ditetapkanlah upaya perbaikan. Langkah semacam ini dilakukan pada siklus ke 2 dan seterusnya, hingga tercapainya tujuan penelitian.B. Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah siswa Program Keahlian Teknik Konstruksi Kayu kelas XII SMK Negeri 1 Geneng yang sedang mempelajari subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu. Adapun jumlah subjek penelitian ini adalah 22 siswa.
  39. 39. 29C. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dimulai pada bulan Juni sampai dengan Desember 2010. Secara rinci kegiatan ini disusun dalam jadwal kegiatan di bawah ini: N Juni Juli Agust Sept Okt Nov Des o Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 Penyusuna 1 n Proposal x x x x x x x x Pelaks. 2 Penelitian x x x x x x x x x x x x Penys Hasil 3 Penelitian x x x x x x x x 4 Evaluasi x x x Tempat penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Geneng, Kabupaten Ngawi.D. Prosedur Penelitian Prosedur kerja penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus atau sampai indikator yang diharapkan tercapai. Kegiatan dari masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu sebagai berikut: 1. Menyusun Rancangan Tindakan (Planning) Dalam tahap ini peneliti mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan penelitian. Hal-hal yang dipersiapkan antara lain menyiapkan perangkat pembelajaran dan alat ukur untuk mengetahui atau mengevaluasi tindakan penelitian ini tanpa mengesampingkan kendala-kendala dalam pelaksanaan tindakan.
  40. 40. 30 Kegiatan yang dilakukan: a. Menyusun rencana pembelajaran yang mengacu pada kurikulum yang berlaku sesuai dengan silabus mata pelajaran kompetensi kejuruan yang mengacu pada metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. b. Menyusun format pengamatan, aktivitas siswa dalam kegiatan, ketrampilan kooperatif siswa dalam kegiatan belajar mengajar. c. Menyusun alat evaluasi.2. Pelaksanaan Tindakan (Acting) Tahap pelaksanaan tindakan ini adalah pelaksanaan yang merupakan penerapan isi rancangan, yaitu melaksanakan tindakan di kelas. Semua rencana yang telah disiapkan di lapangan harus sesuai dengan rumusan yang telah ditetapkan dalam rancangan, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan harus sinkron, harus berlaku wajar dan tidak dibuat-buat. Kegiatan Inti Siklus I a. Pendahuluan Fase 1  Guru membacakan tujuan pembelajaran tentang subkompetensi Merencanakan kebutuhan finishing kayu.  Siswa menyimak tujuan pembelajaran tentang subkompetensi Merencanakan kebutuhan finishing kayu.  Guru memberitahu siswa bahwa setelah pembelajaran selesai akan ada penghargaan bagi individu maupun kelompok yang berprestasi.
  41. 41. 31  Siswa memperhatikan pemberitahuan guru.  Guru menampilkan beberapa gambar contoh menghitung luas permukaan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk finishing kayu.  Siswa memperhatikan bebarapa gambar contoh menghitung luas permukaan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk finishing kayu, yang ditampilkan oleh guru.b. Inti Fase 2  Guru menjelaskan pada siswa untuk mengingat kembali materi pelajaran sebelumnya tentang alat dan bahan pekerjaan finishing kayu serta mengingat kembali pelajaran matematika tentang cara menghitung luas permukaan sebuah bidang.  Siswa mengingat kembali materi pelajaran sebelumnya tentang alat dan bahan pekerjaan finishing kayu serta mengingat kembali pelajaran matematika tentang cara menghitung luas permukaan sebuah bidang.  Guru menyuruh siswa untuk mengaitkan pengetahuan awal tentang cara menghitung luas permukaan bidang dengan luas permukaan bidang sebuah meja yang akan difinishing.  Siswa mengaitkan pengetahuan awal tentang cara menghitung luas permukaan bidang dengan luas permukaan bidang sebuah meja yang akan difinishing, bahwa untuk menghitung luas bidang
  42. 42. 32 sebuah meja yang akan difinishing tidak jauh beda dengan menghitung luas permukaan bidang. Guru menjelaskan dan menunjukan cara menghitung bahan dan upah pekerjaan finishing yang berpedoman pada analisa BOW. Siswa memperhatikan penjelasan guru.Fase 3 Guru membagi siswa dalam 5 kelompok. Siswa berkumpul dengan kelompok asal masing-masing sesuai pembagian yang ditentukan oleh guruFase 4Membaca, menelaah, menginterpetasi Guru membagi materi/ modul Siswa menerima materi/modul dari guru Guru mengajak masing-masing siswa untuk memperhatikan materi tentang topik finishing sesuai dengan pembagiannya. Siswa memperhatikan materi tentang topik finishing, yaitu Topik Ahli 1 : menghitung luas bidang pekerjaan. Topik Ahli 2 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing cat. Topik Ahli 3 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing politur. Topik Ahli 4 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing melamin.
  43. 43. 33 Topik Ahli 5 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing vernis. Siswa mulai membaca dan menelaah topik masing-masing. Guru pada saat yang sama mengingatkan siswa bahwa kalau ada hal yang ingin ditanyakan, terlebih dahulu ditanyakan kepada teman kelompok sebelum ditanyakan kepada guru.Diskusi kelompok ahli Guru menyuruh siswa untuk bergabung dengan kelompok ahli masing-masing. Siswa bergabung dengan kelompok ahli masing-masing. Guru menyuruh siswa untuk berdiskusi dalam kelompok ahli sesuai keahlian masing-masing. Siswa berdiskusi dalam kelompok ahli sesuai keahlian masing- masing.Diskusi kelompok asal Guru menyuruh siswa untuk berkumpul kembali dengan kelompok asalnya masing-masing. Siswa kembali berkumpul dengan kelompok asalnya masing- masing. Guru menyuruh siswa untuk secara bergiliran menjelaskan tugasnya kepada teman kelompok asal. Siswa secara bergiliran menjelaskan tugasnya kepada teman kelompok asal.
  44. 44. 34 Diskusi kelas dipimpin oleh guru  Guru memimpin diskusi kelas.  Siswa mengikuti diskusi kelas  Guru memberikan kesempatan setiap kelompok untuk memberikan pendapat.  Siswa dalam setiap kelompoknya ikut memberikan pendapat.c. Penutup  Guru bersama siswa menyimpulkan materi pelajaran yang dibahas.  Guru memberikan tugas akhir.  Siswa menerima tugasKegiatan Inti Siklus IIa. Pendahuluan Fase 1  Guru mengingatkan kembali tujuan pembelajaran tentang sub- Kompetensi Merencanakan Kebutuhan finishing kayu.  Siswa mengingat kembali tujuan pembelajaran tentang Sub- Kompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing kayu.  Guru memberitahu siswa bahwa dalam pembelajaran yang terdahulu masih ada siswa yang nilainya kurang.  Siswa memperhatikan pemberitahuan guru.b. Inti Fase 2
  45. 45. 35 Guru tidak banyak memberikan penjelasan dan langsung membagi siswa dalam 5 kelompok secara hiterogen dalam kemampuan. Siswa berkumpul dengan kelompok asal masing-masing sesuai pembagian yang ditentukan oleh guruFase 3Membaca, menelaah, menginterpetasi Guru membagi materi/ modul Siswa menerima materi/modul dari guru Guru mengajak masing-masing siswa untuk memperhatikan materi tentang topik finishing sesuai dengan pembagiannya. Siswa memperhatikan materi tentang topik finishing, yaitu Topik Ahli 1 : menghitung luas bidang pekerjaan. Topik Ahli 2 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing cat. Topik Ahli 3 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing politur. Topik Ahli 4 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing melamin. Topik Ahli 5 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing vernis. Siswa mulai membaca dan menelaah topik masing-masing.
  46. 46. 36 Guru pada saat yang sama mengingatkan siswa bahwa kalau ada hal yang ingin ditanyakan, terlebih dahulu ditanyakan kepada teman kelompok sebelum ditanyakan kepada guru.Diskusi kelompok ahli Guru menyuruh siswa untuk bergabung dengan kelompok ahli masing-masing. Siswa bergabung dengan kelompok ahli masing-masing. Guru menyuruh siswa untuk berdiskusi dalam kelompok ahli sesuai keahlian masing-masing. Siswa berdiskusi dalam kelompok ahli sesuai keahlian masing- masing.Diskusi kelompok asal Guru menyuruh siswa untuk berkumpul kembali dengan kelompok asalnya masing-masing. Siswa kembali berkumpul dengan kelompok asalnya masing- masing. Guru menyuruh siswa untuk secara bergiliran menjelaskan tugasnya kepada teman kelompok asal. Siswa secara bergiliran menjelaskan tugasnya kepada teman kelompok asal.Diskusi kelas dipimpin oleh guru Guru memimpin diskusi kelas.
  47. 47. 37  Siswa mengikuti diskusi kelas  Guru memberikan kesempatan setiap kelompok untuk memberikan pendapat.  Siswa dalam setiap kelompoknya ikut memberikan pendapat. c. Penutup  Guru bersama siswa menyimpulkan materi pelajaran yang dibahas.  Guru melakukan ulangan harian dengan membagi siswa dalam dua kelompok yakni kelompok dengan nomor absen ganjil untuk mengerjakan di dalam kelas sementara siswa dengan nomor absen genap untuk keluar terlebih dahulu  Siswa secara bergantian mengikuti ulangan harian3. Pengamatan Tindakan (Observasi) Dalam pelaksanaan pemberian tindakan kelas seorang guru atau peneliti mengamati dan pencatatan dengan berpedoman pada instrumen yang telah disiapkan. Sumber pengumpulan data penelitian ada 2 macam, yaitu: tes dan nontes. Tes meliputi tes hasil belajar, sedangkan non tes meliputi pedoman lembar angket untuk siswa. Kedua jenis instrumen tersebut digunakan untuk penelitian. Instrumen tes adalah instrumen yang digunakan oleh peneliti untuk menjaring data yang bersifat kuantitatif yang diarahkan pada hasil belajar siswa. Instrumen nontes adalah instrumen yang digunakan oleh peneliti untuk menjaring data yang bersifat kualitatif, misalnya
  48. 48. 38 permasalahan yang timbul pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, keoptimalan siswa dalam mengerjakan lembar kerja siswa, aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar, keterampilan kooperatif siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Data yang terkumpul pada setiap siklus bersifat kualitatif dan kuantitatif yaitu : 1) dokumen hasil belajar siswa dalam mengerjakan soal- soal ulangan harian, 2) hasil observasi peneliti pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, 3) hasil wawancara siswa setelah kegiatan belajar mengajar.4. Refleksi Tindakan (Refleksing) Refleksi tindakan merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Dengan kegiatan refleksi ini akan diketahui kelebihan dan kelemahan dari pelaksanaan penelitian tindakan tersebut. Data hasil dari pengamatan tindakan dicari akar permasalahannya, dianalisis dan dikaji secara matang sehingga dapat diketahui apa yang harus ditingkatkan atau yang harus diperbaiki serta dipertahankan. Kegiatan ini sebagai acuan untuk merencanakan kegiatan- kegiatan pada siklus berikutnya. Penelitian ini akan dihentikan jika ketuntasan belajar siswa telah mencapai 70 secara individu dan 80% secara klasikal.
  49. 49. 39E. Data dan Sumber Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah peristiwa dan informasi tentang kemampuan siswa dalam subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu yang berupa penilaian tes unjuk kerja / performance dan hasil pengamatan proses pembelajaran yang berkaitan dengan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Peristiwa atau kegiatan, yaitu proses pembelajaran subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu dalam kegiatan pembelajaran dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw. b. Dokumen dan arsip, yaitu informasi tertulis yang berupa kurikulum, silabus pembelajaran, rencana pembelajaran yang dibuat oleh peneliti.F. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan duacara, yaitu : 1) pengamatan dan 2) tes.1. Pengamatan Pengamatan dalam penelitian ini dilaksanakan terhadap kegiatan pembelajaran subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu, sebelum diberi tindakan dan selama diberi tindakan dalam bentuk siklus-siklus. Peneliti mengamati siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Pengamatan ini dilakukan dengan cara membuat catatan-catatan terhadap
  50. 50. 40 proses, hasil, dan kondisi penerapan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw.2. Tes Kemampuan Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu siswa diukur melalui tes unjuk kerja/ perfomance. Tes tersebut digunakan untuk mengetahui perkembangan atau keberhasilan pelaksanaan tindakan yaitu kemampuan siswa dalam subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu. Tes pada awal kegiatan penelitian untuk mengidentifikasikan kekurangan atau kelemahan siswa dalam subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu dan tes di setiap akhir siklus bertujuan untuk mengetahui peningkatan prestasi hasil kemampuan siswa dalam subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu.G. Validasi Data Sebelum informasi dijadikan data penelitian, informasi tersebut perlu diuji validitasnya sehingga data yang diperoleh benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dipergunakan sebagai dasar yang kuat untuk mengambil kesimpulan. Teknik validitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi. Triangulasi adalah teknik uji validitas data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekkan atau pembanding terhadap data. Triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber data dan triangulasi metode pengumpulan data.
  51. 51. 41 Triangulasi berfungsi untuk membandingkan dan mengecek kembali derajat kepercayaan suatu informasi yang telah diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda. Misalnya data tentang kesulitan guru dalam pembelajaran subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu di kelas dan faktor- faktor penyebabnya. Peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut: memberikan tes unjuk kerja dan selanjutnya menganalisis kekurangan siswa pada saat merencanakan kebutuhan finishing kayu.H. Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kritis komparatif, dengan mendeskripsikan temuan-temuan data dan membandingkannya dengan indikator-indikator kinerja yang sudah ditentukan. Teknik analisis kritis yang dimaksud dalam penelitian ini mencakup kegiatan mengungkap kelemahan dan kelebihan siswa dan guru dalam proses belajar mengajar berdasarkan kriteria. Hasil analisis tersebut dijadikan dasar dalam penyusunan perencanaan tindakan untuk tahap berikutnya sesuai dengan siklus yang ada. Berkaitan dengan kemampuan subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu, analisis mencakup hasil pengamatan yang dilakukan saat prasurve. Hal ini untuk mengetahui kondisi awal dalam subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu. Data yang telah dikumpulkan harus dianalisis. Hasil analisis kuantitatif, selanjutnya dikonsultasikan pada pedoman konversi. Pedoman konversi yang digunakan adalah nilai absolut skala lima. Pedoman konversinya adalah sebagai berikut.
  52. 52. 42 Tabel 3.1: Pedoman Konvensi Nilai Absolute Skala No Interval Kriteria 1 00.00 % - 39.99 % Sangat kurang 2 40.00 % - 59.99 % Prestasi Kurang 3 60.00 % - 79,99 % Cukup berprestasi 4 80.00 % - 89.99 % Prestasi tinggi 5 90.00% - 100% Prestasi tinggi sekaliI. Indikator Kinerja PTK (Penelitian Tindakan Kelas) ini dikatakan berhasil apabila sekurang-kurangnya mencapai indikator sebagai berikut: meningkatnya prestasi siswa dalam subkompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw, telah mencapai nilai 70 individu dan mencapai ketuntasan 80% secara klasikal pada Program Keahlian Teknik Konstruksi Kayu kelas XII SMK Negeri 1 Geneng tahun pelajaran 2010/2011 .
  53. 53. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANA. Hasil Penelitian Siklus I 1. Pratindakan (Temuan Masalah) Untuk melakukan sebuah penelitian tindakan kelas, sebagaimana di uraikan pada latar belakang masalah di atas, selain adanya tingkat kemampuan yang berbeda dan setelah dilakukan test awal maka dapat diketahui bahwa kemampuan siswa di dalam memahami materi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu masih banyak yang memiliki kemampuan di bawah SKM. Hasil selengkapnya mengenai kemampuan siswa sebagaimana dalam tabel 4.1 di bawah ini. Tabel 4.1 Prestasi Siswa Sebelum Ada Tindakan Ketuntasan No Subjek Nilai Tuntas Tidak Tuntas 1 X 65 2 X 85 3 X 40 4 X 60 5 X 35 6 X 70 7 X 90 8 X 45 9 X 60 43
  54. 54. 44 10 X 45 11 X 70 12 X 60 13 X 65 14 X 60 15 X 80 16 X 60 17 X 85 18 X 80 19 X 65 20 X 40 JML 1260 7 13 MEAN 63Tabel 4.2 Rekap Prestasi Siswa Sebelum Ada Tindakan Nilai No. Aspek Pratindakan 1 Ketuntasan 7 siswa atau 35% 2 Ketidaktuntasan 13 siswa atau 65% 3 Nilai tertinggi 90 4 Nilai Terendah 35 5 Nilai Rata-Rata 63
  55. 55. 45 Grafik 4.1 Rekap Prestasi Siswa Sebelum Ada Tindakan 90 80 70 60 50 Tuntas 40 Tidak Tuntas 30 Tertinggi 20 terendah 10 0 Ketuntasan Pratindakan Nilai Pratindakan Dari tabel 4.2 di atas tampak bahwa berdasarkan pratindakan dari 20 2 pratindakan, siswa yang dinyatakan tuntas sebanyak 7 anak atau 35% sedangkan yang belum tuntas sebanyak 13 atau 65%. Nil terendah 35 nilai tertinggi 90 Nilai sedang rata-rata secara klasikal 63 Dan dari hasil pratindakan inilah maka rata 63. penelitian siklus I ini dilaksanakan2. Pelaksanaan Tindakan Siklus I Tindakan yang diterapkan pada siklus I ini, peneliti menerapkan pembelajaran dengan metode kooperatif tipe jigsaw pada siswa kelas XII SMK Negeri 1 Geneng pada materi sub petensi Merencanakan sub-kopetensi Kebutuhan Finishing Kayu . Adapun langkah yang ditempuh dalam menyusun kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
  56. 56. 46d. Pendahuluan Fase 1  Guru membacakan tujuan pembelajaran tentang subkompetensi Merencanakan kebutuhan finishing kayu.  Siswa menyimak tujuan pembelajaran tentang subkompetensi Merencanakan kebutuhan finishing kayu.  Guru memberitahu siswa bahwa setelah pembelajaran selesai akan ada penghargaan bagi individu maupun kelompok yang berprestasi.  Siswa memperhatikan pemberitahuan guru.  Guru menampilkan beberapa gambar contoh menghitung luas permukaan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk finishing kayu.  Siswa memperhatikan bebarapa gambar contoh menghitung luas permukaan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk finishing kayu, yang ditampilkan oleh guru.e. Inti Fase 2  Guru menjelaskan pada siswa untuk mengingat kembali materi pelajaran sebelumnya tentang alat dan bahan pekerjaan finishing kayu serta mengingat kembali pelajaran matematika tentang cara menghitung luas permukaan sebuah bidang.  Siswa mengingat kembali materi pelajaran sebelumnya tentang alat dan bahan pekerjaan finishing kayu serta mengingat kembali
  57. 57. 47 pelajaran matematika tentang cara menghitung luas permukaan sebuah bidang. Guru menyuruh siswa untuk mengaitkan pengetahuan awal tentang cara menghitung luas permukaan bidang dengan luas permukaan bidang sebuah meja yang akan difinishing. Siswa mengaitkan pengetahuan awal tentang cara menghitung luas permukaan bidang dengan luas permukaan bidang sebuah meja yang akan difinishing, bahwa untuk menghitung luas bidang sebuah meja yang akan difinishing tidak jauh beda dengan menghitung luas permukaan bidang. Guru menjelaskan dan menunjukan cara menghitung bahan dan upah pekerjaan finishing yang berpedoman pada analisa BOW. Siswa memperhatikan penjelasan guru.Fase 3 Guru membagi siswa dalam 5 kelompok. Siswa berkumpul dengan kelompok asal masing-masing sesuai pembagian yang ditentukan oleh guruFase 4Membaca, menelaah, menginterpetasi Guru membagi materi/ modul Siswa menerima materi/modul dari guru Guru mengajak masing-masing siswa untuk memperhatikan materi tentang topik finishing sesuai dengan pembagiannya.
  58. 58. 48 Siswa memperhatikan materi tentang topik finishing, yaitu Topik Ahli 1 : menghitung luas bidang pekerjaan. Topik Ahli 2 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing cat. Topik Ahli 3 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing politur. Topik Ahli 4 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing melamin. Topik Ahli 5 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing vernis. Siswa mulai membaca dan menelaah topik masing-masing. Guru pada saat yang sama mengingatkan siswa bahwa kalau ada hal yang ingin ditanyakan, terlebih dahulu ditanyakan kepada teman kelompok sebelum ditanyakan kepada guru.Diskusi kelompok ahli Guru menyuruh siswa untuk bergabung dengan kelompok ahli masing-masing. Siswa bergabung dengan kelompok ahli masing-masing. Guru menyuruh siswa untuk berdiskusi dalam kelompok ahli sesuai keahlian masing-masing. Siswa berdiskusi dalam kelompok ahli sesuai keahlian masing- masing.
  59. 59. 49 Diskusi kelompok asal  Guru menyuruh siswa untuk berkumpul kembali dengan kelompok asalnya masing-masing.  Siswa kembali berkumpul dengan kelompok asalnya masing- masing.  Guru menyuruh siswa untuk secara bergiliran menjelaskan tugasnya kepada teman kelompok asal.  Siswa secara bergiliran menjelaskan tugasnya kepada teman kelompok asal. Diskusi kelas dipimpin oleh guru  Guru memimpin diskusi kelas.  Siswa mengikuti diskusi kelas  Guru memberikan kesempatan setiap kelompok untuk memberikan pendapat.  Siswa dalam setiap kelompoknya ikut memberikan pendapat.f. Penutup  Guru bersama siswa menyimpulkan materi pelajaran yang dibahas.  Guru memberikan tugas akhir.  Siswa menerima tugas .
  60. 60. 503. Observasi Tindakan 1 Setelah dilakukan tindakan sebagaimana siklus 1 yang dalam pelaksanaanya memerlukan 4 jam pelajaran akirnya diperoleh hasil prestasi belajar siswa kelas XII SMK Negeri 1 Geneng dapat dipaparkan sebagaimana table 4.3 berikut ini. Tabel 4.3 Prestasi Belajar Siswa Siklus I Ketuntasan No Subjek Nilai Tuntas Tidak Tuntas 1 X 70 2 X 75 3 X 80 4 X 70 5 X 60 6 X 70 7 X 90 8 X 50 9 X 75 10 X 75 11 X 75 12 X 60 13 X 75 14 X 60
  61. 61. 51 15 X 75 16 X 70 17 X 85 18 X 75 19 X 75 20 X 60 JML 1425 15 5MEAN 71.25 Tabel 4.4: Rekap Prestasi Belajar Siswa Siklus I NilaiNo. Aspek Siklus I1 Ketuntasan 15 siswa atau 75%2 Ketidaktuntasan 5 siswa atau 25%3 Nilai tertinggi 904 Nilai Terendah 505 Nilai Rata-Rata 71,25
  62. 62. 52 Grafik4.2 Prestasi Belajar Siswa Siklus I 90 80 70 60 50 Tuntas Tidak Tuntas 40 Tertinggi 30 terendah 20 10 0 Ketuntasan Siklus I Nilai ISiklus Dari tabel 4.4 di atas tampak bahwa berdasarkan penerapan siklus I, dari 4 20 siswa yang dinyatakan tuntas sebanyak 15 anak atau 75% sedangkan yang belum tuntas sebanyak 5 atau 25%. Nilai terendah 50 nilai tertinggi 90 sedang rata rata-rata secara klasikal 71,25.4. Refleksi Penerapan siklus I ternyata menghasilkan konsep pembelajaran sub sub- kopetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu yang cukup baik. Dilihat dari prestasi belajar ditunjukkan dengan 15 anak atau 75% sedangkan yang belum tuntas sebanyak 5 atau 25%. Nilai terendah 50 nilai tertinggi 90 sedang rata rata-rata secara klasikal 71,25%. Dengan hasil itu . memang sudah ada peningkatan prestasi belajar akan tetapi belum sesuai peningkatan dengan target yang ditetapkan yakni telah mencapai nilai 70 individu dan
  63. 63. 53 mencapai ketuntasan 80% secara klasikal. Sehingga dengan hasil ini direkomendasikan untuk melakukan tindakan atau melanjutkan pada siklus II. Namun demikian untuk memenuhi target yang ditetapkan hendaknya dilakukan perubahan tindakan di antaranya: 1. Guru tidak banyak memberikan penjelasan namun langsung membentuk kelompok 2. Materi pembelajaran hendaknya dirubah artinya jika dalam siklus I kelompok 1 menghitung luas bidang pekerjaan maka, pada siklus II ini diganti menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing vernis dan seterusnya 3. Guru diminta untuk mendampingi siswa dalam menentukan kesimpulan 4. Dalam melakukan ulangan harian siswa hendaknya dibagi dua kelompok sehingga prestasi siswa murni dari siswa yang bersangkutanB. Hasil Penelitian Siklus II 1. Hasil Refelksi siklus I Penerapan siklus I ternyata menghasilkan konsep pembelajaran sub-kopetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu yang cukup baik, dilihat dari prestasi belajar menunjukkan bahwa dari 20 anak , 15 anak atau 75% mencapai ketuntasan sedangkan yang belum tuntas sebanyak 5 atau 25%. Nilai terendah 50 dan nilai tertinggi 90 sedang rata-rata secara
  64. 64. 54 klasikal 71,25%. Dengan hasil itu memang sudah ada peningkatan dari prestasi belajar akan tetapi belum sesuai dengan target yang ditetapkan yakni ketuntasan secara klasikal sebesar 80%. Dan oleh karena itu siklus ini dilaksanakan dengan rekomendasi siklus I di atas.2. Pelaksanaan Siklus II Tindakan kelas pada siklus II dilaksanakan sebagaimana rekomendasi siklus I titik tekan pada siklus II ini adalah telah tercapainya nilai 70 individu dan mencapai ketuntasan 80% secara klasikal. Adapun langkah pembelajaran sebagai berikut: a. Pendahuluan Fase 1  Guru mengingatkan kembali tujuan pembelajaran tentang sub- Kompetensi Merencanakan Kebutuhan finishing kayu.  Siswa mengingat kembali tujuan pembelajaran tentang Sub- Kompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing kayu.  Guru memberitahu siswa bahwa dalam pembelajaran yang terdahulu masih ada siswa yang nilainya kurang.  Siswa memperhatikan pemberitahuan guru. b. Inti Fase 2  Guru tidak banyak memberikan penjelasan dan langsung membagi siswa dalam 5 kelompok secara hiterogen dalam kemampuan.
  65. 65. 55 Siswa berkumpul dengan kelompok asal masing-masing sesuai pembagian yang ditentukan oleh guruFase 3Membaca, menelaah, menginterpetasi Guru membagi materi/ modul Siswa menerima materi/modul dari guru Guru mengajak masing-masing siswa untuk memperhatikan materi tentang topik finishing sesuai dengan pembagiannya. Siswa memperhatikan materi tentang topik finishing, yaitu Topik Ahli 1 : menghitung luas bidang pekerjaan. Topik Ahli 2 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing cat. Topik Ahli 3 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing politur. Topik Ahli 4 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing melamin. Topik Ahli 5 : menghitung keperluan bahan pekerjaan finishing vernis. Siswa mulai membaca dan menelaah topik masing-masing. Guru pada saat yang sama mengingatkan siswa bahwa kalau ada hal yang ingin ditanyakan, terlebih dahulu ditanyakan kepada teman kelompok sebelum ditanyakan kepada guru.
  66. 66. 56Diskusi kelompok ahli Guru menyuruh siswa untuk bergabung dengan kelompok ahli masing-masing. Siswa bergabung dengan kelompok ahli masing-masing. Guru menyuruh siswa untuk berdiskusi dalam kelompok ahli sesuai keahlian masing-masing. Siswa berdiskusi dalam kelompok ahli sesuai keahlian masing- masing.Diskusi kelompok asal Guru menyuruh siswa untuk berkumpul kembali dengan kelompok asalnya masing-masing. Siswa kembali berkumpul dengan kelompok asalnya masing- masing. Guru menyuruh siswa untuk secara bergiliran menjelaskan tugasnya kepada teman kelompok asal. Siswa secara bergiliran menjelaskan tugasnya kepada teman kelompok asal.Diskusi kelas dipimpin oleh guru Guru memimpin diskusi kelas. Siswa mengikuti diskusi kelas Guru memberikan kesempatan setiap kelompok untuk memberikan pendapat. Siswa dalam setiap kelompoknya ikut memberikan pendapat.
  67. 67. 57 c. Penutup  Guru bersama siswa menyimpulkan materi pelajaran yang dibahas.  Guru melakukan ulangan harian dengan membagi siswa dalam dua kelompok yakni kelompok dengan nomor absen ganjil untuk mengerjakan di dalam kelas sementara siswa dengan nomor absen genap untuk keluar terlebih dahulu  Siswa secara bergantian mengikuti ulangan harian3. Observasi Tindakan II Setelah dilakukan tindakan sebagaimana siklus II yang dalam pelaksanaanya memerlukan 4 jam pelajaran akirnya diperoleh hasil prestasi belajar siswa kelas XII SMK Negeri 1 Geneng yang dapat dipaparkan sebagaimana table 4.5 berikut ini. Tabel 4.5 Prestasi Belajar Siswa Siklus II Ketuntasan No Subjek Nilai Tuntas Tidak Tuntas 1 X 90 2 X 80 3 X 90 4 X 80 5 X 75 6 X 80
  68. 68. 58 7 X 95 8 X 70 9 X 85 10 X 80 11 X 70 12 X 75 13 X 80 14 X 80 15 X 85 16 X 75 17 X 90 18 X 80 19 X 90 20 X 70 JML 1620 20 0MEAN 81 Tabel 4.6 Rekap Prestasi Belajar Siswa Siklus II NilaiNo. Aspek Siklus II1 Ketuntasan 20 siswa atau 100%2 Ketidaktuntasan 0 siswa atau 0%
  69. 69. 59 3 Nilai tertinggi 95 4 Nilai Terendah 70 5 Nilai Rata Rata-Rata 81 Grafik4.3 Prestasi Belajar Siswa Siklus II100 90 80 70 60 Tuntas 50 Tidak Tuntas 40 Tertinggi 30 terendah 20 10 0 Ketuntasan Siklus II Nilai Siklus II Dari tabel 4.6 di atas tampak bahwa berdasarkan penerapan siklus II, dari 6 20 siswa semua tuntas Nilai terendah 70 nilai tertinggi 9 sedang rata- tuntas. 95 rata secara klasikal 81%.4. Refleksi Dalam penerapan siklus II tampak kegiatan pembelaja pembelajaran sudah berjalan dengan baik hal ini dapat dilihat dari 20 siswa yang mengikuti baik, kegiatan pembelajaran, semua telah mencapai nilai batas minimum
  70. 70. 60 ketuntasan. Nilai terendah 70 dan nilai tertinggi 95 sedang rata-rata secara klasikal 81%. Dengan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan yang signifikan. Dengan kata lain, prestasi belajar yang dicapai oleh siswa yang mengikuti pembelajaran telah sesuai dengan target yang ditetapkan yakni telah mencapai nilai 70 individu dan mencapai ketuntasan 80% secara klasikal. Mengingat target penelitian sudah tercapai maka direkomendasikan untuk tidak melanjutkan pembelajaran pada siklus III.C. Pembahasan Dari hasil observasi siklus I dan siklus II telah mampu mengubah paradigna baru dalam pembelajaran. Sebelum penerapan tindakan, pembelajaran Kompetensi Merencanakan Kebutuhan Finishing Kayu bersifat searah dimana guru lebih aktif sementara siswa hanya pasif. Situasi belajar sangat tegang, namun setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini pembelajaran tampak lebih aktif. Partisipasi siswa mulai tumbuh. Keberanian siswa dalam berpendapat juga mulai tampak. Dari hasil penerapan tindakan dapat dikatakan bahwa telah terjadi peningkatan prestasi belajar, dengan penerapan tindakan yakni penerapan teknik jigsaw maka prestasi belajar dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.7 di bawah ini.
  71. 71. 61 Tabel 4. Rekap Perkembangan Prestasi Belajar 4.7 NilaiNo. Aspek Pratindakan Siklus I Siklus II1 Ketuntasan 35% 75% 100%2 Ketidaktuntasan 65% 25% 0%3 Nilai tertinggi 90 90 954 Nilai Terendah 35 50 705 Nilai Rata Rata-Rata 63 71,25 81 Grafik4.4 Perkembangan Prestasi Belajar Siswa100 90 80 70 60 50 40 30 Tuntas 20 10 Tidak Tuntas 0 Tertinggi terendah

×