Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Muhammad sebagai nabi dan negarawan

712 views

Published on

Bukti-bukti sejarah menyatakan bahwa sebelum Islam hadir di Arab, Arab berada pada periode Jahiliah.Dalam periodesasi sejarah Arab, Jahiliyah digunakan secara sempit, yakni terhitung satu abad sebelum kelahiran Islam.Kata Jahiliyah yang diartikan sebagai masa kebodohan atau kehidupan barbar.Meski demikian sebenarnya kata Jahiliyah pada masa itu lebih cocok diartikan sebagai masa dimana tidak ada otoritas hokum, nabi dan kitab suci. Kecocokan perngertian terakhir karena tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah juga mencatat bahwa sebelum kelahiran Islam, masyarakat di Arab Selatan telah mengenal baca tulis dan mengenal budaya, sehingga masyarakat Arab Selatan tidak bisa disebut sebagai masyarakat bodoh dan barbar. Kata Jahiliyah sendiri muncul beberapa kali dalam al-Qur’an (Q.S. 3:154, 5: 50, 33:33, 48: 26). (Philip K. Hitti, 2002: 108)
Periode Jahiliyah berakhir sejak kelahiran Islam hingga masa sekarang, periode ini dalam konteks sejarah Arab disebut sebagai periode Islam. Periode Islam sendiri terbagi menjadi beberapa sub periode. Dimulai dengan periode permulaan Islam atau yang sering disebut sebagai masa kerasulan Muhammad yang dibagi menjadi dua periode sejarah.Pertama, periode Makkah yang terhitung sejak Muhammad menerima wahyu pertama sampai beliau hijrah dari Makkah ke Madinah.Kedua, periode Madinah yaitu sejak beliau hijrah dari Madinah sampai wafat.
Pembahasana mengenai periodesasi Islam pada masa permulaan menjadi sangat menarik karena kelahiran Islam sebagai agama tidak hanya mengatur hubungan para pemeluknya dengan Tuhan.Akan tetapi lebih dari itu Islam hadir sebagai solusi dari setiap permasalahan yang ada. Hal ini menjadi pembeda mutlak antara Islam dengan agama-agama lain. Islam sebagai ad-din tidak asing dengan konsep pembangunan dan kemajuan.Tentu hal ini bertentangan dengan anggapan bahwa agama adalah penghalang kemajuan, sehingga modernitas dan agama merupakan dua hal yang terpisah atau bahkan bertentangan.Hal itu yang menyebabkan pembangunan peradaban barat yang secara penuh dibangun berdasarkan modernitas yang mengesampingkan agama.
Selain alasan di atas, pembahasan mengenai sejarah Islam juga menarik untuk dibahas karena dalam sejarahnya Islam dianggap sangat sukses dan dengan kecepatan yang luar biasa mampu melakukan ekspansi militer dan politik.Pembahasan mengenai periode permulaan Islam ini tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok Muhammad sebagai pembawa risalah yang juga diangkat sebagai kepala Negara.

Published in: Spiritual
  • Login to see the comments

  • Be the first to like this

Muhammad sebagai nabi dan negarawan

  1. 1. MUHAMMAD SEBAGAI NABI DAN NEGARAWAN Husnul Khotimah (201610290211009) Magister Ilmu Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang khotimahh44@gmail.com/khotimahh44@yahoo.co.id
  2. 2. A. Pendahuluan Bukti-bukti sejarah menyatakan bahwa sebelum Islam hadir di Arab, Arab berada pada periode Jahiliah.Dalam periodesasi sejarah Arab, Jahiliyah digunakan secara sempit, yakni terhitung satu abad sebelum kelahiran Islam.Kata Jahiliyah yang diartikan sebagai masa kebodohan atau kehidupan barbar.Meski demikian sebenarnya kata Jahiliyah pada masa itu lebih cocok diartikan sebagai masa dimana tidak ada otoritas hokum, nabi dan kitab suci. Kecocokan perngertian terakhir karena tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah juga mencatat bahwa sebelum kelahiran Islam, masyarakat di Arab Selatan telah mengenal baca tulis dan mengenal budaya, sehingga masyarakat Arab Selatan tidak bisa disebut sebagai masyarakat bodoh dan barbar. Kata Jahiliyah sendiri muncul beberapa kali dalam al-Qur’an (Q.S. 3:154, 5: 50, 33:33, 48: 26). (Philip K. Hitti, 2002: 108) Periode Jahiliyah berakhir sejak kelahiran Islam hingga masa sekarang, periode ini dalam konteks sejarah Arab disebut sebagai periode Islam. Periode Islam sendiri terbagi menjadi beberapa sub periode. Dimulai dengan periode permulaan Islam atau yang sering disebut sebagai masa kerasulan Muhammad yang dibagi menjadi dua periode sejarah.Pertama, periode Makkah yang terhitung sejak Muhammad menerima wahyu pertama sampai beliau hijrah dari Makkah ke Madinah.Kedua, periode Madinah yaitu sejak beliau hijrah dari Madinah sampai wafat. Pembahasana mengenai periodesasi Islam pada masa permulaan menjadi sangat menarik karena kelahiran Islam sebagai agama tidak hanya mengatur hubungan para pemeluknya dengan Tuhan.Akan tetapi lebih dari itu Islam hadir sebagai solusi dari setiap permasalahan yang ada. Hal ini menjadi pembeda mutlak antara Islam dengan agama- agama lain. Islam sebagai ad-din tidak asing dengan konsep pembangunan dan kemajuan.Tentu hal ini bertentangan dengan anggapan bahwa agama adalah penghalang kemajuan, sehingga modernitas dan agama merupakan dua hal yang terpisah atau bahkan bertentangan.Hal itu yang menyebabkan pembangunan peradaban barat yang secara penuh dibangun berdasarkan modernitas yang mengesampingkan agama. Selain alasan di atas, pembahasan mengenai sejarah Islam juga menarik untuk dibahas karena dalam sejarahnya Islam dianggap sangat sukses dan dengan kecepatan yang luar biasa mampu melakukan ekspansi militer dan politik.Pembahasan mengenai periode permulaan Islam ini tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok Muhammad sebagai pembawa risalah yang juga diangkat sebagai kepala Negara. B. Biografi Muhammad Sekitar 571 M., seorang bayi keturunan Quraisy lahir di Mekah. Hingga saat ini, tidak diketahui secara pasti apa nama yang diberikan oleh ibunya kepada bayi itu. Bangsa Quraisy memberinya julukan al-amin (yang terpercaya)- sebuah gelar yang cukup terhormat. Sedangkan Al-Qur’an (Q.S. 3:144; 33:40; 48:29; 47:2) menyebutnya Muhammad, dan nama Ahmad hanya satu kali disebutkan (Q.S. 61:6). Nama yang seterusnya ia sandang adalah Muhammad (yang terpuji)-satu nama yang paling banyak digunakan oleh anak laki-laki Islam. Ayah bayi itu, ‘Abdullah, meninggal saat ia masih dalam kandungan. Dan Ibunya, Aminah, meninggal saat ia berusia enam tahun. Karena itu, ia kemudian diasuh oleh kakeknya, ‘Abd al-Muththolib, dan setelah kakeknya
  3. 3. meninggal, kewajiban itu diserahkan kepada pamannya, Abu Thalib. (Philip K. Hitti, Ibid: 139) Nasabnya adalah Muhammad bin Abdullah bin Adbul Muththalib (namanya Syaibatul Hamd) bin Hisyam bin Abdi Manaf (namanya al-Mughirah) bin Qushayyi (namanya Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Mu’iddu bin Adnan. Itulah batas nasab Rasullah yang telah disepakati.Selebihnya dari yang telah disebutkan masih diperselisihkan. Tetapi, hal yang sudah tidak diperselisihkan lagi adalah, bahwa Adnan termasuk anak Ismail bin Ibrahim. Dan bahwa Allah telah memilih Muhammad dari kabilah yang paling suci bersih, keturunan yang paling suci dan utama.Tak sedikitpun karat-karat Jahiliyah menyusup ke dalam nasabnya. (Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy, 1999: 29) C. Peran Muhammad sebagai Pemimpin Agama dan Politik Periodesasi Muhammad sebagai pempimpin agama dan negarawan dibagi menjadi dua.Pertama, periode Makkah dimana periode ini dimulai ketika Muhammad menerima wahyu pertama sampai hijrah ke Madinah.Kedua, periode Madinah, terhitung dari hijrahnya Muhammad ke Madinah sampai wafatnya Muhammad. 1. Muhammad Periode Makkah Kemunculan Islam di Arab tentu memiiki alasan tersendiri. Kemerosotan moral yang tercermin dalam keidupan bangsa Arab, seperti kemusyrikan, penindasan, fanatisme kesukuan, prostitusi, perzinahan, bias gender dan lain sebagainya merupakan sedikit dan sekian banyak alasan kedatangan Islam. Penerimaan wahyu pertama Muhammad di goa Hira, sebuah gua kecil yang terletak pada bukit di luar kota Mekah. Wahyu pertama turun ketika Muhammad sedang diliputi kegelisahan, keraguan dan arapan akan kebenaran. Di dalam gua itu terdengar suara yang memerintahnya, “Bacalah !Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan,” dan seterusnya. Penerimaan wahu tersebut dikenal sebagai “Malam Penuh Keagungan” (laylah al-qadr), yang menurut riwayat terjadi ketika menjelang akhir bulan Ramadhan.Pasca diterinanya wahyu pertama tersebut terjadi masa kekosongan. Ketika Muhammad diliputi rasa gelisah dan beban emosi yang menghimpit ia memutuskan untuk pulang ke rumah dan meminta untuk diselimuti oleh istrinya. Saat itulah turun wahyu kedua yang berbunyi, “Wahai kamu yang berselimut!Bangkitlah dan berilah peringatan.” Setelah mendapat wahyu yang memerintahkan Muhammad untuk berdakwah kepada kerabat dekatnya (al-Syu’ara [26] 214), Muhammad mejalankan dakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun. Dakwah ini dilaksanakan mula-mula kepada Khadijah yang merupakan istrinya, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar yang merupakan sahabat Muhammad dan Zaid, bekas budak Muhammad. Selain orang- orang tersebut terdapat pula beberapa orang yang menyatakan keislamannya melalui perantara Abu Bakar yang terkenal dengan julukan Assabiqunal Awwalun (orang- orang yang terdahulu masuk Islam). Orang-orang tersebut adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdur Rahman bin ‘Auf, Thalhah bin
  4. 4. ‘Ubadillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Al-Arqom bin Abil Arqam, yang kemudian rumahnya menjadi markas dakwah. Setelah Muhammad melaksanakan dakwah secara sembunyi-sembunyi dan terhimpunlah pengikut sebanyak tiga puluh orang, maka turunlah perintah untuk berdakwah secara terang-terangan (al-Hijr [15]: 94), Muhammad melaksanakan dakwah di setiap tempat di Makkah. Dakwah secara terang-terangan ini juga menjadi babak baru dalam perjalanan dakwah, yaitu babak penyiksaan, penghinaan, dan pelecehan oleh kaum musyrik terhadap Islam dan juga Muhammad sebagai nabi. Babak tersebut terjadi karena beberapa factor, yaitu sebagai berikut (Samsul Munir Amin, 2016: 66) : a. Kafir Quraisy tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. b. Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara tuan dan budak c. Pemimpin Quraisy tidak mau percaya dan mengakui serta tidak mau menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat. d. Takid kepada nenek moyang yang dilakukan oleh kafir Quraisy menyebabkan mereka berat untuk meninggalkan agama nenek moyangnya. e. Islam dipandang sebagai penghambat dan penghalang rezeki bagi pemahat dan penjual patung. Berbagai tantangan tersebut dihadapai Muhammad dengan taktik dan strategi yang betul-betul matang (Rezim Aizid, 2014: 546).Taktik yang dilakukan adalah dengan menjalankan dakwah secara sembunyi-sembunyi ketika pengikutnya masih sedikit atau belum ada power. Kemudian setelah jumlah pengikut bertambah maka Muhammad menjaankan dakwah secara terang-terangan sehingga akan semakin kuat dan banyak dalam menghadapi terror dari musuh. Babak penindasan dan penganiayaan tersebut mencapai puncaknya pada pertengahan tahun kelima setelah kenabian.Melihat penderitaan sahabatnya Muhammad menganjurkan mereka untuk hijrah ke Habsyah. Sehingga pada bulan Rajab tahun kelima, para sahabat akhirnya hijrah dalam satu rombongan yang dipinpin oleh Utsman bin Affan dan istrinya, Ruqayyah binti Muhammad. Romongan ini terdiri dari dua belas laki-laki dan emat perempuan (Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, 2014: 29-30), (Rezim Aizid, Ibid: 547). Pada tahun yang sama para sahabat yang hijrah ke Habsyah mendengar kabar keislaman kaum Quraisy, sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke Mekah. Setelah sampai di Mekah dan mengetahui bahwa kabar yang diterima adalah palsu maka beberapa dari mereka memutuskan untuk kembali ke Habsyah. Sekembalinya ke Mekah pemeluk Islam tetap saja mendapatkan cemoohan, cacimakian, dan siksaan dari kafir Quraisy sehingga Muhammad mengizinkan pengikutnya untuk yang keduakalinya hijrah ke Habsyah. Pada hijrah kedua ini, rombongan terdiri dari delapan puluh tiga laki-laki dan sebelas perempuan yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib. Hijrah kedua yang dilakukan oleh pengikut Muhammad tidak menjadikan kafir Quraisy berhenti dalam melakukan penindasan.Kafir Quraisy berupaya agar pengikut Muhammad terusir dari Habsyah.Mereka mengutus ‘Amr ibn al-Ash dan Abdullah ibn Abi Rabi’ah untuk menemui dan membujuk Raja Habsyah agar
  5. 5. memenuhi permintaan mereka. Setelah terjadi dialog antara kedua kubu dan Raja Habsyah, bukan mengusir pengikut Muhammad, Raja Habsyah justru memutuskan untuk masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Pada tahun keenam setelah kenabian, Hamzah ibn Abi Muthollib, yang merupakan paman nabi memutuskan untuk masuk Islam. Selisih tiga hari setelah keislaman Hamzah, pemuda yang dimuliakan dalam suku Quraisy dan berwatak keras tersebut Umar bin Khaththab juga masuk Islam. Dengan keislaman dua tokoh tersebut tentu menimbulkan guncangan bagi kaum musyrik. Islamnya Umar bin Khaththab menjadi jaminam bagi pengikut Muhammad untuk menjalankan ibadah di sekitar ka’bah dan melakukan diskusi disana. Setelah keislaman Hamzah dan Umar, selain menggunakan cara kekerasan kafir Quraisy menawarkan jabatan kekuasaan dan kepemimpinan kepada Muhammad agar ia menghentikan dakwah. Bujukan kepada Abu Thalib agar menarik dukungan juga dilakukan oleh kafir Quraisy, akan tetapi kedua cara tersebut gagal. Sehingga kafir Quraisy memutuskan memakai caa yang baru, yaitu boikot dan pemutusan hubungan. Boikot dan pemutusan hubungan tersebut dilakukan oleh kafir Quraisy kepada Bani Hasyim dan Munthalib yang membela dan melindungi Muhammad, baik yang beragama Islam maupun tidak.Setelah tiga tahun perjalanan boikot, rasa kesukuan dan kesetiaan dari beberapa Quraisy muncul sehingga menghentikan pemboikotan tersebut.Tidak lama setelah penghentian pemboikotan, Muhammad ditinggal oleh dua orang sandarannya, yakni Abu Thalib dan Kadijah. Wafatnya dua orang yang menjadi sandaran Muhammad ini dikenal dengan tahun duka cita (‘Am al- Huzn). Setelah wafatnya Khadijah, Muhammad menikahi sawdah bint Zazm’ah dan mengikat Aisyah dengan akad nikah. Pada tahun kesepuluh setelah kenabian, Muhammad memutuskan untuk pergi mencari daerah baru dengan harapanakan memperoleh pertolongan dan tambahan pengikut. Ditemani oleh Zaid bin Haritsah, Muhammad hijrah ke Bani Tsaqif yang berada di Tha’if. Selama sepuluh hari tinggal di Tha’if, hanya satu orang yang masuk Islam, bahkan selama di Tha’if Muhammad menerima cacimakian dan lemparan batu. Ditinjau dari segi taktik dan strategi dakwah, hijrah ke Tha’if ini menunjukkan kemauan yang kuat untuk meneruskan dakwah, dengan tidak mengenal putus asa, selalu mencari medan dakwah. Mengalirnya darah dari kaki Muhammad menunjukkan bahwa setiap perjuangan pasti dihadapkan pada pengorbanan, bahkan sampai mengancam keselamatan diri pembawa dakwah.(Rezim Aizid, Ibid) Setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah serta penderitaan dan kesulitan yang dialami Muhammad ketika berdakwah di Tha’if, Allah swt., dengan kebesaran- Nya mengisrakan Muhammad dan memperlihatkan kebesarannya. Prof. al-Nadwi mengatakan bahwa perjalanan isra’ bukan hanya sekedar perjalanan spiritual, bukan pula perjalanan yang hanya dimaksudkan untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya, akan tetapi lebih dari itu isra’ mengandung makna-makna tersembunyi dan isyarat-isyarat yang jauh jangkauannya.Kisah isra’ mengisyaratkan bahwa Muhammad adalah nabi dua kiblat, pemimpin timur dan barat, penerus nabi terdahulu dan pemimpin generasi sesudahnya.Dalam diri Muhammad dan perjalanan
  6. 6. isra’nya terjadi pertalian antara Makah dan al-Quds, Baitul Haram dengan Masjidil Aqsa dan Muhammad mengimami shalat para nabi.Semua hal tersebut menunjukkan bahwa risalah yang dibawanya berisifat universal, kepemimpinannya yang abadi serta humanitas dan keberlakuan ajarannya sepanjang zaman di setiap ruang dan waktu.Kisah-kisah tersebut tercacat dala al-Quran (Al-Isra’ dan al-Najm).Surah tersebut juga mendefinisikan kpribadian Muhammad, menggambarkan kepribadiannya, menetapkan kedudukan umatnya dan memperjelas risalahnya mencakup semua umat manusia. Berbeda dengan isra’ yang merupakan perjalanan Muhammad dari Makkah ke Masjidil Aqsa, Mi’raj merupakan perjalanan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha.Dalam Mi’raj inilah Muhammad menerima kewajiban shalat lima waktu, melihat syurga dan neraka dengan mata telanjang. Pengalaman Tha’if tidak menyurutkan dakwah Muhammad saw. Pada tahun kesebelas kerasulan, Muhammad mengajak enam pemuda dari suku Khazraj untuk memeluk Islam.Kemudian pada tahun keduabelas sebanyak dua belas orang masuk Islam dari penduduk Yatsrib. Masuknya kedua belas pemuda Yatsrib tersebut (sepuluh dari Khazraj dan dua dari suku Aus) dikenal dengan Bait ‘Aqabah Pertama (Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, Ibid: 37). Di tahun berikutnya atau pada tahun ketiga belas kerasulan sebanyak tujuh puluh tiga orang dari Yatsrib juga memutuskan untuk masuk Islam dan bersumpah setia kepada Muhammad. Peristiwa sumpah oleh tujuh puluh tiga orang ini dikenal dengan sebutan bait ‘Aqobah kedua. 2. Muhammad Periode Madinah Perjanjian pada peristiwa bait ‘Aqobah kedua merupakan awal periode baru dalam kehidupan Muhammad dalam dakwahnya. Perjanjian tersebut disertai dengan undangan untuk melakukan hijrah ke Yatsrib.Hijrah yang dilakukan oleh seluruh umat Islam tersebt tersebut terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama sejumlah 200 orang, dan gelombang kedua yang terdiri dari Muhammad Rasulullah, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar beserta beberapa orang yang dilarang untuk hijrah pada gelombang pertama. Terlepas dari rencana pembunuhan yang akan dilakukan oleh kafir Quraisy, hijrah yang dilakukan oleh kaum Muslimin-pengikut Muhammad- hijrah ke Yatsrib telah melalui rencana yang sangat matang dan cermat. Dalam rencananya tersebut, Muhammad telah mengatur dan menetukan peran setiap orang dengan tepat. Peran tersebut antara lain(Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, Ibid: 42-42): a. Pergi ke rumah Abu Bakar pada siang hari, dan ini merupakan hal tabu yang beliau lakukan; b. Melakukan penyamaran saat beliau keluar; c. Keluar dari rumah Abu Bakar melalui pintu belakang dan pada saat malam hari; d. Meminta Ali bin Abi Thalib untuk bertahan sebentar di Makkah untuk mengecoh kaum kafir dan kemudian menyusul beliau; e. Muhammad dan Abu Bakar membuat kesepakatan dengan Abdullah bin Urayqith agar keduanya ditemui di Gua Tsur setelah tiga hari.
  7. 7. f. Mengutus Abdullah bin Abu Bakar pergi ke Makkah pada saat fajar sehingga kaum Quraisy mengira ia bermalam bersamanya, dan kembali ke Gua Tsur pada malam hari untuk menyampaikan informasi yang didapatnya; g. Memberikan tugas mengirim makanan dan minuman ke Gua Tsur kepada Asma’ bint Abu Bakar; h. Memberi tugas kepada mengembala kambing untuk menghapus jejak kaki Abdullah bin Abu Bakar dan Asma’ serta mengirimkan daging dan susu untuk Nabi Muhammad dan Abu Bakar kepada ‘Amir bin Fahirah yang merupakan bekas budak Abu Bakar; i. Nabi dan Abu Bakar tinggal selama tiga hari di Gua Tsur agar kaum Quraisy mengira keduanya telah sampai ke Yatsrib. Setelah situasi aman tersebut keduanya baru melanjutkan hijrahnya; j. Perjalanan menuju Yatsrib mengambil rute Yaman dan ini bertujuan untuk menyesatkan kaum Quraisy yang mengejar. Setelah Muhammad sampai di Yatsrib, untuk menghormati beliau nama Yatsrib kemudian di rumah menjadi Madinah. Kata madinah secara etiomologi berasal dari akar kata yang sama dengan perkataan madaniyyah dan tamaddun, yang artinya peradaban. Sebelum kedatangan Muhammad Madinah sebelumnya tidak memiliki pemimpin dan belum berbentuk negara.Pasca kedatangannya Muhammad memilih sebidang tanah untuk dibeli dari Bani Najar, akan tetapi tanah tersebut kemudian diterimanya secara cuma-cuma. Di atas tanah tersebutlah Muhammad membangun rumah dan masjid (Rendra Khaldun, Ibid: 50). Dalam periode Madinah ini, Islam telah tumbuh dan berkembang di berbagai bidang, antara lain (Rezim Aizid, Ibid: 548): a. Sistem sosial kemasyarakatan System social kemasyarakatan yang berhasil dicapai oleh Muhammad dalam periode ini adalah: 1) Pembangunan Masjid Nabawi Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa setelah sampai di Madinah, Muhammad memilih sebuah tempat untuk kemudian dibangn di atasnya sebuah Masjid dan rumah untuk beliau.Masjid yang dibangun tersebut menjadi tempat bagi selruh kaum muslimin melakukan berbagai aktifitas, baik beribadah, belajar, memutskan perkara, mengadakan perayaan dan lain sebagainya.Masjid ini pulalah yang menjadi salah satu factor pemersatu ikatan antara kaum Muhajirin dan Anshor. 2) Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshor Madinah sebagai negara yang baru dibangu tersebut, Muhammad mengukhkan ikatan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshor, antar suku Aus dan Khazraj yang keduanya telah lama bermusuhan dan bersaing.Persaudaraan yang terjalin berhasil meleyapkan persaingan antar suku, cinta kepada diri sendiri yang berlebihan, menghidupkan semangat saling membantu, bekerjasama dan cinta kepada Allah swt. 3) Kesepakatan untuk saling membantu antara kaum muslimin dan non-muslimin
  8. 8. Pasca pembentukan Madinah sebagai negara, tidak dapat dipungkiri bahwa di Madinah terdapat tiga golongan penduduknya.Yakni kaum muslimin, kaum non-muslim dan orang-orang Yahudi dari Bani Nadhir, Bani Quraidzah dan Bani Qainuqa’.Muhammad berhasil mengadakan sebuah kesepakatan dengan mereka.Kesepakatan ini bertujuan untuk melahirkan sebuah suasana yang saling membantu dan terjaminnya keamanan dan kedamaian serta toleransi di antara golongan tersebut. b. Bidang politik Pencapaian dalam bidang politik Muhammad pada periode Madinah ini adalah dengan terbentuknya perjanjian yang mengikat bagi seluruh penduduk Madinah. Perjanjian yang oleh Ibnu Hasyim disebut sebagai Undang-Undang Dasar Negara Islam (Daulah Islamiyah) pertama, yang berisikan: 1) Adanya pengakuanatas hak pribadi keagamaan dan politik; 2) Adanya jaminan akan kebebasan beragama untuk semua umat; 3) Adanya kewajiban bagi seluruh penduduk Madinah baik Muslim maupun non- muslin untuk saling membantu baik secara moril maupun materiil dalam menangkis serangan dari luar Madinah; 4) Muhammad Rasulullah secara umum adalah pemimpin bagi penduduk Madinah, sehingga kepada beliaulah dibawa perkara dan perselesihan untuk diselesaikan. c. Bidang militer Peperangan-peperangan yang terjadi dalam periode ini menegaskan bahwa kekuatan militer yang dimiliki oleh umat Islam di bawah kepemimpinan Muhammad semakin kuat.Berbagai peperangan yang terjadi dikelompokkan menjadi dua, yakni ghazwah, yang merupakan peperangan yang langusng dipimpin oleh Muhammad sebanyak 27 kali dan sariyah, peperangan yang dipimpin oleh sahabat sebanyak 38 kali. Peperangan-peperangan tersebut mempunyai nilai dan arti yang terkandung di dalamnya, antara lain: 1) Peperangan untuk menentukan yang hak dan batil seperti dalam perang badar; 2) Peperangan untuk membela diri, seperti perang Khandaq; 3) Peperangan untuk perdamaian, seperti perjanjian Hudaibiyah; 4) Peperangan untuk kewaspadaan, seperti perang Mu’tah; 5) Peperangan sebagai taktik untuk menakut-nakuti, seperti Fathu Makkah; 6) Peperangan untuk penyiaran agama Islam, seperti perang Hunain; 7) Peperangan dengan maksud konsolidasi agar negara menjadi bersatu dan kuat, seperti Thaif; 8) Peperangan sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan, seperti perang Tabuk. Dengan demikian peperangan yang terjadi memiliki tujuan untuk melindungi dan mengamankan dakwah Islam dari ganguan orang-orang kafir serta untuk melindungi dan mempertahankan serta membentuk masyarakat Islami. d. Bidang dakwah Dalam melakukan aktivitas dakwahnya, Muhammad telah menggunkan berbagai media untuk menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam. Dilihat dari segi
  9. 9. isinya, surat sebagai media yang digunakan oleh Muhammad dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni: 1) Surat-surat yang berisi seruan untuk masuk Islam. Surat-surat ini ditujuan baik kepada penguasa wilayah diberbagai daerah maupun kepada individu. Surat- surat tersebut ditujukan antara lain kepada: a) Heraclius, Kaisar Romawi. b) Kisra Persi. c) Negus, Maharaja Habasyah. d) Maqauqis, Gubernur Jenderal Romawin untuk wilayah Mesir. e) Hamzah ibnu Ali al-Hanafi, Amir negeri Yamamah. f) Al-Harits ibnu Abi Syamr, Amir Ghassan. g) Al-Mundzir ibnu Sawi, Amir Ghassan. h) Jifar dan Ibad. 2) Surat-surat yang berisi aturan-aturan dalam Islam. Surat-surat ini ditujukan kepada kaum muslimin yang masih memerlukan penjelasan Muhammad sebagai nabi, misalnya berisi tentang zakat, sedekah dan lain-lain. 3) Surat-surat yang berisi beberapa hal yang wajib dikerjakan oleh orang-orang non-muslim terhadap pemerintahan Islam. Surat ini ditujukan kepada orang- orang non-muslim yang telah membuat perjanjian damai, yang berisi misalnya tentang jizyah (iuran keamanan). e. Sistem ekonomidan pendapatan negara Islam sebagai agama dan negara baru di Madinah tentu berada dalam keadaan ekonomi yang lemah.Sehingga kebijakan perekonomian yang diambil Muhammad menjadi sebuah langkah yang spektakuler.System ekonomi yang diterapkan oleh Muhammad bersumber pada prinsip-prinsip yang terkandung dalam al-Qur’an.Prinsip yang mendasar adalah bahwa kekuasaan tertinggi adalah milik Allah dan manusia sebagai khalifah-Nya.Kehidupan ruhiyah dan jasmaniah merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. Adapun sumber-sumber pendapatan Madinah saat itu adalah sebagai berikut: 1) Uang tebusan untuk tawanan perang; 2) Pinjaman-pinjaman; 3) Khums dan rikaz; 4) Amwal fadillah, harta yang berasal dari kaum muslimin yang meninggal tanpa ahli waris atau berasal dari barang-barang kaum muslim yang meninggalkan negerinya; 5) Wakaf; 6) Nawaib, pajak khusus dari kaum muslimin yang kaya raya untuk menutupi pengeluaran negara selama masa darurat; 7) Zakat fitrah; 8) Sedekah, hewan kurban dan kafarat; 9) Ushr, bea impor dan pungutan dari kafir dzimmi yang melewati perbatasan; 10) Jizyah;
  10. 10. 11) Kharaj, pajak tanah yang dipungut dari non-muslim ketika wilayah khaibar ditakhlukkan; 12) Ghanimah, harta rampasan perang; 13) Fai’, harta rampasan yang diperoleh tanpa peperangan. f. Terbangunnya umat yang berideologi Islam Muhammad mengajari bangsa Arab untuk meninggalkan fanatisme terhadap golongan atau kabilah. Bangsa Arab sudah harus bersatu dan mencari perlindungan yang satu, yakni Allah swt., dengan datangnya Muhammad seluruh kabilah-kabilah yang ada seolah-olah diminta untuk memilih menjadi kabilah Allah atau kabilah selain-Nya. Dengan mengubah kesetiaan kepada keluarga dan kelompok menjadi kesetiaan kepada Allah swt., rasul-Nya dan kaum muslim tentu menjadi sebuah reformasi yang berhasil dilakukan oleh Muhammad dalam membangun masyarakat pada periode Madinah ini. D. Kesimpulan Periodesasi Islam pada masa Muhammad terbagi menjadi dua, yakni periode Mekkah dan periode Madinah.Periode Mekkah yang diawali dengan penerimaan wahyu dan berkahir ketika Muhammad memutuskan untuk hijrah ke Yatsrib. Sementara periode Madinah ditandai dengan sampainya Muhammad di Yatsrib yang kemudian berubah nama menjadi Madinah untuk menghormati kedatangannya. Pada periode Mekkah, Muhammad berdakwah menyebarkan agama Islam dalam situasi Mekkah yang taklid kepada ajaran nenek moyang dengan kuatnya.Taklid dan fanatisme golongan menjadi kendala besar Muhammad dalam menjalankan dakwahnya.Hal ini dikarenakan ajaran baru yang dibawa oleh Muhammad dianggap mengancam kedudukan mereka.Setelah menerima hinaan, cacimakian, ancaman dan perlawana, Muhammad memasuki periode kedua, yakni bermula ketika orang-orang Yatsrib memutuskan untuk memeluk Islam dan mengundang Muhammad untuk pindah ke wilayahnya.Kepindahan Muhammad ke Yatsrib atau yang dikenal dengan hijrah ini menjadi babak baru dalam perjalan dakwah Muhammad.Muhammad yang dibaiat menjadi pemimpin Madinah berhasil melakuan reformasi dan perubahan yang spektakuler. Sebelum kedatangan Muhammad, Yatsrib meruapakan sebuah wilayah tanpa pempimpin dan negara. Sehingga kedatangan Muhammad tidak hanya menyebarkan ajaran Islam akan tetapi juga berhasil membentuk negara Islam yang memiliki Undang- Undang untuk pertama kalinya. Sebagai negara yang penduduknya tidak hanya berisi umat Islam, Muhammad telah berhasil mendamaikan dan mempersaudaran antara penduduknya. Keberhasilan Muhammad dalam meletakkan asas-asas masyarakat Islam mampu melahirkan sebuah peradaban yang baru dalam dunia.
  11. 11. E. Daftar Pustaka Aizid, Rizem (2014), Kitab Sejarah Terlengkap Peradaban-Peradaban Besar Dunia: dari sebelum Masehi hingga Modern, Jakarta: Laksana. Al Ghazaly, Muhammad Nuh (2008), Sirah Nabawiyah: Perjalanan Hidup Rasulullah saw., Surabaya: Arkola Al-Buthy, Muhammad Sa’id Ramadhan (1999).Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw.Terj. Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. Jakarta: Robbani Press. Amin, Samsum Munir (2016), Sejarah Peradaban Islam, Cet. 6. Jakarta: Amzah. Esha, Muhammad In’am (2011), Percikan Filsafat: Sejarah dan Peradaban Islam,Malang: UIN-Maliki Press Hitti, K. Philip (2013).History of the Arabs.Edisi ke 10.Diterjemahkan oleh R. cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta. Ibrahim, Qasim A dan Muhammad A. Saleh (2014), Buku Pintar Sejarah Islam: Jejak Langkah Peradaban Islam dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, Cet. 2. terj. Zainal Arifin. Jakarta: Zaman. Khalid, Amr (2009), Jejak Rasul: Membedah Kebijakan dan Stategi Politik dan Perang, Jogjakarta: A+Plus Books. Yatim, Badri (2000), Sejarah Peradaban Islam, Cet. 11, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Jurnal Khaldun, Rendra (2014), Muhamad sebagai Nabi dan Negarawan, Komunitas Vol. 6, No.1 Juni, Hal: 41-58

×