Idda

2,593 views

Published on

Published in: Education, News & Politics
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,593
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
31
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • Dalam konteks perjuangan penduduk di wilayah Indonesia melawan kolonialisme bangsa Barat/Belanda, periode ini (abad 20) memperlihatkan perbedaan yang mendasar jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Aspek yang membedakan adalah: tujuan, ideologi,kepemimpinan, skala dan bentuk-bentuknya. Dalam konteks perjuangan penduduk di wilayah Indonesia melawan kolonialisme bangsa Barat/Belanda, periode ini (abad 20) memperlihatkan perbedaan yang mendasar jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Aspek yang membedakan adalah: tujuan, ideologi,kepemimpinan, skala dan bentuk-bentuknya. Dalam konteks perjuangan penduduk di wilayah Indonesia melawan kolonialisme bangsa Barat/Belanda, periode ini (abad 20) memperlihatkan perbedaan yang mendasar jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Aspek yang membedakan adalah: tujuan, ideologi,kepemimpinan, skala dan bentuk-bentuknya.
  • FAKTOR-FAKTOR PERTUMBUHAN NASIONALISME a.l.: Suatu wilayah yang berada di bawah kekuasaan Belanda/Hindia Belanda Tradisi masa lalu, kekuasaan kerajaan yang kuat dan besar yaitu Sriwijaya dan Majapahit Penduduk yang mayoritas beragama Islam. Islam memberikan motivasi bagi perjuangan dalam bentuk semangat perang melawan orang kafir. Peranan bahasa Melayu sebagai lingua franca, yang digunakan oleh hampir sebagian besar penduduk sebagai bahasa pengantar (kelak menjadi Bahasa Nasional)
  • Landasan: gagasan/ide nasional bukan kedaerahan Kelompok elit yang menggerakkan kegiatan lahir dari sistim pendidikan bara
  • RADIKALISME DALAM PERGERAKAN NASIONAL
  • Rusia memandang agama Islam dapat digunakan sebagai alat propaganda untuk menarik simpati rakyat yang beragama Islam.
  • MASA BERTAHAN
  • MASA BERTAHAN
  • Masa Pendudukan Jepang
  • KEDATANGAN JEPANG
  • Idda

    1. 1. Ida Humaida Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa PGSD 1C 10 015 091
    2. 2. SEJARAH PERJUANGAN KEMERDEKAAN <ul><li>INDONESIA </li></ul>
    3. 3. <ul><li>M embahas tentang perjuangan bangsa Indonesia menentang penjajahan bangsa asing (Belanda dan Jepang) sejak awal abad ke-20 hingga tahun 1949. </li></ul><ul><li>Meliputi: </li></ul><ul><li>Masa Pergerakan Nasional (1900-1941) </li></ul><ul><li>Masa Pendudukan Jepang (1942-1945) </li></ul><ul><li>Masa Perang Kemerdekaan (1945-1949) </li></ul>
    4. 4. KEBANGKITAN DAN PERTUMBUHAN NASIONALISME INDONESIA Dalam konteks perjuangan penduduk di wilayah Indonesia melawan kolonialisme bangsa Barat/Belanda, periode ini (abad 20) memperlihatkan perbedaan yang mendasar jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Aspek yang membedakan adalah: tujuan, ideologi,kepemimpinan, skala dan bentuk-bentuknya. Kelima aspek tersebut dilandasi oleh kesadaran dan semangat nasionalisme atau kebangsaan. Bangsa ( nation ): sekelompok manusia yang merasa bahwa mereka terpaut satu sama lain, dalam arti karena mereka memiliki warisan sejarah bersama yang mendalam atau karena memiliki tujuan yang sama (Emmerson; 1960)
    5. 5. Warisan sejarah: pengalaman hidup bersama di wilayah nusantara yang berada dibawah penjajahan Belanda. Tujuan bersama: membebaskan diri dari belenggu penjajahan/ Indonesia merdeka. Nasionalisme: Paham yang memberikan perhatian yang besar terhadap kecintaan bangsa/nasionalisme. Hans Kohn: Nasionalisme adalah suatu paham yang menyebut bahwa kesetiaan ( loyality ) setiap individu harus diberikan kepada negara bangsa ( Nation-State ).
    6. 6. <ul><li>FAKTOR-FAKTOR PERTUMBUHAN NASIONALISME: </li></ul><ul><li>Suatu wilayah yang berada di bawah kekuasaan Belanda/Hindia Belanda </li></ul><ul><li>Tradisi masa lalu, kekuasaan kerajaan yang kuat dan besar yaitu Sriwijaya dan Majapahit </li></ul><ul><li>Penduduk yang mayoritas beragama Islam. Islam memberikan motivasi bagi perjuangan dalam bentuk semangat perang melawan orang kafir. </li></ul><ul><li>Peranan bahasa Melayu sebagai lingua franca, yang digunakan oleh hampir sebagian besar penduduk sebagai bahasa pengantar (kelak menjadi Bahasa Nasional) </li></ul><ul><li>Volksraad (Badan Penasehat bagi Pem. HB, didirikan1917) menjadi wadah yang dapat mempertemukan dan membentuk gagasan nasionalisme Indonesia. </li></ul><ul><li>Peranan komunikasi sosial memberi andil bagi penyebaran nasionalisme (perangkat keras: surat kabar, majalah, transportasi, dll) (perangkat lunak: tulisan, berita, dll) </li></ul>
    7. 7. <ul><li>POLITIK ETIKA DAN LAHIRNYA GERAKAN NASIONAL INDONESIA: </li></ul><ul><li>Politik etis/etika: </li></ul><ul><ul><li>Protes kelompok etisi/moral/gereja thd eksploitasi (van deventer, dkk)---politik balas budi---Pidato Ratu Wilhemina 1901---politik etis/etische politiek (irigasi, emigrasi, Edukasi) </li></ul></ul><ul><ul><li>Dibukanya sekolah-sekolah bagi rakyat pribumi dari kalangan tertentu---elit modern---memiliki keahlian strategis tertentu untuk memajukan nasib bangsanya (nasionalis sekuler); Pesantren, Madrasah (nasionalis Islam) ; Taman Siswa (faktor Internal) </li></ul></ul><ul><ul><li>Pan Islamisme (faktor Eksternal) </li></ul></ul><ul><ul><li>Kemenangan Jepang atas Rusia (faktor eksternal) </li></ul></ul>
    8. 8. <ul><li>Gerakan Nasional Indonesia </li></ul><ul><ul><li>Landasan: gagasan nasional bukan kedaerahan </li></ul></ul><ul><ul><li>Kelompok elit yang menggerakkan kegiatan lahir dari sistim pendidikan barat (disamping unsur pendidikan lainnya) </li></ul></ul>
    9. 9. <ul><li>MASA AWAL PERTUMBUHAN </li></ul><ul><li>Budi Utomo </li></ul><ul><li>Jong Java </li></ul><ul><li>Jong Sumatranen Bond </li></ul><ul><li>Sarekat Dagang Islam </li></ul><ul><li>Indische Partij </li></ul><ul><li>dll </li></ul>
    10. 10. <ul><li>RADIKALISME DALAM PERGERAKAN NASIONAL </li></ul><ul><li>HJFM Sneevliet membawa paham sosialisme ke HB th 1914. Sneevliet memimpin organisasi SDAP ( Sociale Democratische Arbeiders Partij) di Belanda. di HB ia mendirikan ISDV ( Indische Sociale Democratische Vereeniging ) dalam upayanya menyebarkan ideologi sosialisme di HB. Cara: “Block Within”. Ada anggota orgnss lain yang menjadi anggota ISDV antara lain dari SI (Semaun, Darsono, dll) </li></ul><ul><li>Revolusi Rusia 1917 membawa pengaruh besar. Sebagian anggota ISDV menjadi radikal, mengakibatkan pecahnya organisasi tsb. Yang moderat keluar dari ISDV dan membentuk cabang SDAP di Jakarta. Sedangkan lainnya tetap di ISDV----yang kelak berubah menjadi Perserikatan Komunis Hindia--- menjadi anggota Partai Komunis Internasional di bawah pimp. Rusia.----PKH berubah menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) th 1920. </li></ul><ul><li>Setelah Komintern terbentuk th 1919, pengaruhnya sangat terasa di Indonesia, keputusan-keputusan Komintern banyak ditentukan oleh pandangan Partai Komunis Rusia. </li></ul>
    11. 11. <ul><li>Rusia memandang agama Islam dapat digunakan sebagai alat propaganda untuk menarik simpati rakyat yang beragama Islam. Walaupun Rusia menentang pembentukan Pan Islamisme, karena dianggap bersifat ke-nasional-an dan ke-agama-an, hal mana bertentangan dengan kepentingan Komintern (internasionalis). </li></ul><ul><li>Garis politik untuk Asia (Lenin): politik Komintern harus mendekati dan bekerjasama dengan kaum borjuis nasional dan mempergunakan organisasi rakyat terjajah. </li></ul><ul><li>Kongres Komintern ke-2 th 1920, sneevliet hadir sbg wakil dari Ind/HB dengan nama samaran Maring. Taktik ISDV bekerja sama dengan SI disetujui Komintern. </li></ul><ul><li>garis politik Komintern mempengaruhi organisasi-organisasi di HB. </li></ul>
    12. 12. <ul><li>MASA RADIKAL </li></ul><ul><li>Sarekat Indonesia </li></ul><ul><li>Partai Nasional Indonesia </li></ul><ul><li>Partai Komunis Indonesia </li></ul><ul><li>Perhimpunan Indonesia </li></ul><ul><li>dll </li></ul>
    13. 13. <ul><li>ISDV/PKI; SI Merah/Sarekat Rakyat; SI Putih; Sarekat Hindia (Insulinde). </li></ul><ul><li>Organisasi nasionalis Ind. Di Belanda jg smkn aktif dan berpengaruh di HB: Indische Vereeniging---Indonesische V---PI. (nama orgnss, judul majalah, azas orgnss). </li></ul><ul><li>yang mendpt pengaruh: ASC (Algemeene Studie Club); PNI (Perserikatan Nasional Ind---Partai Nasional Ind); gab. Orgnss PPPKI; kongres-kongres pemuda dan wanita </li></ul>
    14. 14. <ul><li>MASA BERTAHAN </li></ul><ul><li>Kata kunci: </li></ul><ul><li>kooperatif </li></ul><ul><li>represif </li></ul><ul><li>depresi ekonomi </li></ul><ul><li>nasionalis sekuler </li></ul><ul><li>nasionalis agama </li></ul><ul><li>identitas nasional Indonesia (tdk ada unsur keagamaan dan kedaerahan) </li></ul><ul><li>Bahasa Nasional “Indonesia” semakin kuat dan meluas. </li></ul><ul><li>Renaisance Asia </li></ul><ul><li>bayang-bayang perang di Eropa dan Pasifik </li></ul>
    15. 15. <ul><li>PARTAI-PARTAI MASA BERTAHAN </li></ul><ul><li>Partindo </li></ul><ul><li>Parindra </li></ul><ul><li>PNI Baru </li></ul><ul><li>Fraksi Nasional </li></ul><ul><li>GAPI </li></ul><ul><li>Gerindo </li></ul><ul><li>MIAI </li></ul><ul><li>dll </li></ul>
    16. 16. <ul><li>MASA PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA (1942-1945) </li></ul><ul><li>Sebelum Pendudukan </li></ul><ul><ul><li>Kemenangan Jepang atas Rusia </li></ul></ul><ul><ul><li>Propaganda Jepang </li></ul></ul><ul><ul><li>Dominasi ekonomi </li></ul></ul><ul><ul><li>kegiatan mata-mata </li></ul></ul><ul><ul><li>bayang-bayang perang di Eropa dan </li></ul></ul><ul><ul><li>Pasifik </li></ul></ul>
    17. 17. <ul><li>Kedatangan Jepang </li></ul><ul><ul><li>Tujuan kedatangan </li></ul></ul><ul><ul><li>Serangan Jepang---kekalahan Belanda </li></ul></ul><ul><ul><li>reaksi bangsa Indonesia </li></ul></ul><ul><ul><li>pendekatan kepada kelompok Islam dan nasionalis </li></ul></ul><ul><ul><li>perlakuan terhadap orang Belanda </li></ul></ul><ul><ul><li>Minshin haku (Bendera, lagu Ind.Raya, dll) </li></ul></ul>
    18. 18. <ul><li>Masa Pendudukan Jepang </li></ul><ul><ul><li>Gerk.3A Poetera Jawa Hokokai </li></ul></ul><ul><ul><li>Kelp.Nasionalis dan pemuda </li></ul></ul><ul><ul><li>Ekonomi Ekonomi perang </li></ul></ul><ul><ul><li>Sosial mobilisasi dan kontrol </li></ul></ul><ul><ul><li>Budaya media, pendidikan, seni, film, dll </li></ul></ul><ul><ul><li>Militer pelatihan fisik dan mental, perekrutan tenaga milt. </li></ul></ul>
    19. 19. <ul><li>Masa akhir Pendudukan Jepang </li></ul><ul><ul><li>Pemuda dan mahasiswa </li></ul></ul><ul><ul><li>Perlawanan---terbuka dan tertutup </li></ul></ul><ul><ul><li>rencana kemerdekaan Birma dan Philp.--- </li></ul></ul><ul><li>Janji Koiso </li></ul><ul><ul><li>Minshin Haku---Sanyo, chuo sangi in, BPUPKI, dll </li></ul></ul><ul><ul><li>Kekalahan Jepang---Gentlemen Agreement </li></ul></ul><ul><ul><li>Rengasdengklok </li></ul></ul><ul><ul><li>Proklamasi Kemerdekaan Indonesia </li></ul></ul>
    20. 20. MASUK DAN BERKEMBANGNYA AGAMA HINDU-BUDHA DI INDONESIA <ul><li>Berdasarkan beberapa pendapat, diperkirakan bahwa Agama Hindu pertamakalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. Dilembah sungai inilah para Resi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda. Dari lembah sungai sindhu, ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia, yaitu ke India Belakang, Asia Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia. </li></ul>
    21. 21. <ul><li>Krom (ahli - Belanda), dengan teori Waisya. Dalam bukunya yang berjudul &quot;Hindu Javanesche Geschiedenis&quot;, menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang(waisya) India </li></ul><ul><li>Mookerjee (ahli - India tahun 1912). Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar. Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya. Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India. Kontak yang berlangsung sangat lama ini, maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia </li></ul><ul><li>Moens dan Bosch (ahli - Belanda) Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia. </li></ul>
    22. 22. AGAMA HINDU DI INDONESIA <ul><li>Masuknya agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: &quot;Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman&quot;. Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan &quot;Vaprakeswara&quot;. </li></ul><ul><li>Masuknya agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar, misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun, Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa . </li></ul>
    23. 23. Data Peninggalan Sejarah di Indonesia. <ul><li>Data peninggalan sejarah disebutkan Resi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali, yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia, melalui sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu, maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti: </li></ul><ul><li>Prasasti Dinoyo (Jawa Timur): Prasasti ini bertahun Caka 628, dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Resi Agastya, dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau. </li></ul><ul><li>Prasasti Porong (Jawa Tengah) Prasasti yang bertahun Caka 785, juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau, diantaranya adalah: Agastya Yatra, artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Pita Segara, artinya bapak dari lautan, karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma. </li></ul>
    24. 24. <ul><li>Dari prasasti-prasasti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa &quot;Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki dewa Wisnu </li></ul><ul><li>Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi </li></ul><ul><li>Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala berbunyi: &quot;Sruti indriya rasa&quot;, Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Syiwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti. </li></ul>
    25. 25. <ul><li>Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping itu, agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dewa Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur. </li></ul><ul><li>Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia. </li></ul><ul><li>Setelah dinasti Isyana Wangsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab Bharatayudha, Kitab Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal, candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari. </li></ul>
    26. 26. <ul><li>Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran, yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama. </li></ul><ul><li>Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8. Hal ini disamping dapat dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur, yang berasal dari abad ke-8 . </li></ul>
    27. 27. <ul><li>Menurut uraian lontar-lontar di Bali, bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2, yakni pada masa pemerintahan Udayana. Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar. Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Khayangan Jagad, sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang. Beliau Moksa di Pura Silayukti. </li></ul>
    28. 28. Perkembangan agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada masa Dalem Waturenggong, kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra, agama, arsitektur. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci, seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung
    29. 29. <ul><li>setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran. </li></ul><ul><li>Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta tahun1925 di SIngaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja, Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. </li></ul>
    30. 30. Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan 1964 (7 s.d 10 Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali ,yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia.
    31. 31. THANK YOU FOR YOUR ATENTION <ul><li>See You </li></ul><ul><li>Next Time </li></ul><ul><li>Bye_bye </li></ul>

    ×