Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Struktur Dasar Algoritma

9,638 views

Published on

Published in: Education

Struktur Dasar Algoritma

  1. 1. LOGIKA DASAR PEMROGRAMAN
  2. 2. PENDAHULUAN  Sebuah program dibangun dari tiga buah logika dasar pemrograman, yaitu : 1. Logika Urut / Runtunan (Sequence) 2. Logika Percabangan / Pemilihan / Penyeleksian Kondisi (Selection) 3. Pengulangan / Looping (Repetition)
  3. 3. LOGIKA URUT    Logika pemrograman yang paling sederhana. Digunakan pada program sederhana yang hanya berupa runtunan satu atau lebih perintah. Konsep logika urut : 1. Tiap perintah dikerjakan satu per satu. 2. Tiap perintah dilaksanakan tepat sekali. 3. Urutan pelaksanaan perintah sama dengan urutan penulisan algoritma/program.
  4. 4. LOGIKA PERCABANGAN   Digunakan jika di dalam program, sebuah perintah dikerjakan jika persyaratan atau kondisi tertentu dipenuhi. Contoh penggunaan :  Menentukan suatu bilangan bulat termasuk genap atau ganjil.  Menentukan siswa yang lulus atau tidak berdasarkan nilai rata-rata yang diperoleh.  Dll.
  5. 5. LOGIKA PERCABANGAN  Jenis-jenis logika percabangan : 1. Percabangan If Tunggal 2. Percabangan If Ganda 3. Percabangan If Majemuk 4. Percabangan If Tersarang 5. Percabangan Case
  6. 6. PERCABANGAN IF TUNGGAL    Digunakan jika pemilihan hanya memberikan satu pilihan yang dilaksakan bila kondisi (persyaratan) dipenuhi (bernilai benar), dan tidak memberikan pilihan lain yang dilaksanakan bila kondisi bernilai salah. Kondisi berupa suatu ekspresi boolean yang menggunakan operator pembanding atau operator logika. Contoh kondisi :  (Bunga < 0.2)  (Nilai >= 90) and (Nilai <= 100)
  7. 7. PERCABANGAN IF TUNGGAL   Notasi Pseudocode : if <Kondisi> then <Pernyataan-1> <Pernyataan-2> ………………… <Pernyataan-n> endif Pernyataan sesudah Then hanya akan dilaksanakan bila <kondisi> bernilai benar (true). Bila <kondisi> bernilai salah (false), maka tidak ada pernyataan yang dilaksanakan.
  8. 8. PERCABANGAN IF TUNGGAL  Notasi Flowchart :
  9. 9. PERCABANGAN IF TUNGGAL   Notasi Delphi jika hanya ada pernyataan yang dilaksanakan : if <Kondisi> then <Pernyataan>; Contoh : if (nilai >= 60) then status = ‘Lulus’; satu
  10. 10. PERCABANGAN IF TUNGGAL  Notasi Delphi jika ada lebih pernyataan yang dilaksanakan : if <Kondisi> then begin <Pernyataan-1>; <Pernyataan-2> ………………… <Pernyataan-n> end; dari satu
  11. 11. PERCABANGAN IF TUNGGAL  Contoh : if (nilai >= 60) then begin status = ‘Lulus’; indeks = ‘C’; end;
  12. 12. PERCABANGAN IF GANDA    Digunakan jika pemilihan memberikan dua alternatif pilihan. Notasi Pseudocode : if <Kondisi> then <Pernyataan-1> else <Pernyataan-2> endif Pernyataan-1 akan dilaksanakan jika kondisi bernilai benar, tetapi jika kondisi bernilai salah, maka Pernyataan-2 yang akan dilaksanakan.
  13. 13. PERCABANGAN IF GANDA  Notasi Flowchart :
  14. 14. PERCABANGAN IF GANDA   Notasi Delphi jika hanya ada satu pernyataan yang dilaksanakan : if <Kondisi> then <Pernyataan-1> else <Pernyataan-2>; Contoh : if (nilai >= 60) then status = ‘Lulus’ else status = ‘Tidak Lulus’;
  15. 15. PERCABANGAN IF GANDA  Notasi Delphi jika ada lebih dari satu Pernyataan yang dilaksanakan : if <Kondisi> then begin <Pernyataan-1>; <Pernyataan-2>; end else begin <Pernyataan-3>; <Pernyataan-4>; end;
  16. 16. PERCABANGAN IF MAJEMUK   Digunakan jika pemilihan memberikan lebih dari dua alternatif pilihan. Notasi Pseudocode (4 pilihan) : if <Kondisi-1> then <Pernyataan-1> else if <Kondisi-2> then <Pernyataan-2> else if <Kondisi-3> then <Pernyataan-3> else <Pernyataan-4> endif
  17. 17. PERCABANGAN IF MAJEMUK  Notasi Flowchart :
  18. 18. PERCABANGAN IF MAJEMUK  Notasi Delphi jika hanya ada pernyataan yang dilaksanakan : if <Kondisi-1> then <Pernyataan-1> else if <Kondisi-2> then <Pernyataan-2> else if <Kondisi-3> then <Pernyataan-3> else <Pernyataan-4>; satu
  19. 19. PERCABANGAN IF MAJEMUK  Notasi Delphi jika ada lebih Pernyataan yang dilaksanakan : if <Kondisi-1> then begin <Pernyataan-1>; <Pernyataan-2>; end else if <Kondisi-2> then begin <Pernyataan-3>; <Pernyataan-4>; end dari satu
  20. 20. PERCABANGAN IF MAJEMUK else if <Kondisi-3> then begin <Pernyataan-5>; <Pernyataan-6>; end else begin <Pernyataan-7>; <Pernyataan-8>; end;
  21. 21. PERCABANGAN CASE    Digunakan sebagai alternatif dari percabangan if majemuk namun strukturnya lebih sederhana. Tidak semua bentuk percabangan if majemuk dapat diubah menjadi percangan case, tetapi semua bentuk percangan case dapat diubah menjadi percabangan if. Hanya dapat digunakan pada penyeleksian kondisi yang hanya tergantung pada satu variabel penyeleksi.
  22. 22. PERCABANGAN CASE     Hanya dapat digunakan pada penyeleksian kondisi yang membandingkan sama atau tidak. Tidak dapat digunakan pada penyeleksian kondisi yang membandingkan <, <=, >, atau >=. Dapat memakai beberapa konstanta dalam sebuah perbandingan. Dapat menyeleksi kondisi yang berupa range (jangkauan nilai).
  23. 23. PERCABANGAN CASE   Notasi (jika hanya ada satu pernyataan yang dilaksanakan) : case (selectorExpression) of caseList_1: statement_1; caseList_2: statement_2; ... caseList_n: statement_n; else statements; end; Ekspresi yang akan dibandingkan (selectorExpression) harus bertipe integer, karakter, atau boolean.
  24. 24. PERCABANGAN CASE  Notasi (jika ada lebih dari satu pernyataan yang dilaksanakan) : case (selectorExpression) of caseList_1: begin statement_11; statement_12; end; caseList_2: begin statement_21; statement_22; end;
  25. 25. PERCABANGAN CASE ... caseList_n: begin statement_n1; statement_n2; end; else begin statements1; statements2; end; end;
  26. 26. PERCABANGAN CASE  Contoh 1 : Case Nilai of ‘A’ : ket := ‘Bagus Sekali’; ‘B’ : ket := ‘Bagus’; ‘C’ : ket := ‘Cukup’; ‘D’ : ket := ‘Kurang’; else ket := ‘Tidak Lulus’; end;
  27. 27. PERCABANGAN CASE  Contoh 2 : Case Nilai of ‘A’ : begin ket := ‘Bagus Sekali’; angka := 4; end; ‘B’ : begin ket := ‘Bagus’; angka := 3; end; ‘C’ : begin ket := ‘Cukup’; angka := 2; end;
  28. 28. PERCABANGAN CASE Case Nilai of ‘D’ : begin ket := ‘Kurang’; angka := 1; end; else begin ket := ‘Tidak Lulus’; angka := 0; end; end;
  29. 29. PERCABANGAN CASE  Contoh 3 : Case Nilai Of ‘A’, ‘B’, ‘C’ : status := ‘Lulus’; ‘D’ : status := ‘Lulus Tapi Wajib Mengulang’; else status := ‘Tidak Lulus’; end;
  30. 30. PERCABANGAN CASE  Contoh 4 : Case skor of 1..5 : ket := ‘Rendah’; 6..9 : ket := ‘Tinggi'; else ket := ‘Skor diluar jangkauan nilai’; end;

×