Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
1. JUDUL PENELITIANANALISIS KETERSEDIAAN TENAGA KERJA PADASEKTOR UNGGULANDI KABUPATEN KULON PROGO TAHUN 2006 –2009(Menguna...
pendidikan g) penanggulangan masalah sosial h) pelayanan bidang ketenagakerjaan i)fasilitasi pengembangan koperasi, usaha ...
penduduk usia kerja menurut Survei Angkatan kerja Nasional(sakernas) adalahpenduduk usia 15 tahun ke atas yang dirinci men...
Ekonomi Sektoral Propinsi Jawa Tengah Tahun1993 – 2000 “, yang berisiperhitungan untuk menentukan potensi ekonomi daerah k...
SektorPerdagangan, Hotel, dan Restoran; (iv) Sektor Keuangan.Kabupaten Bantulmemiliki basisperekonomian pada: (i) Sektor P...
11. 1. Sektor Industri Pengolahan pada sub.sektor industri bukan migas padakelompok sub. Industri tekstil, barang dari kul...
minuman dan tembakau, sub.sektor Industri pupuk, kimia dan barang dari karet,kemudian Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa ...
kebijaksanaan – kebijaksanaa harga, seperti nilai kurs, tingkat suku bunga, upah,pengaturan pajak, atau subsidi yang semua...
regional dan pertumbuhan ekonomi nasional juga mempunyai ciri yang sama, yaitumemberi tekanan pada unsur waktu yang merupa...
mereka yang datang dari luar perekonomian yang bersangkutan. Dengan demikiansektor basis berperan sebagai faktor penggerak...
Teori ini memberi dua konsep dalam pembanguna ekonomi daerah yaitukeseimbangan dan mobilitas faktor produksi. Artinya syst...
Xit = jumlah tenaga kerja total dari keseluruhan sektor produksi di wilayah kabupatenke-i Xtj = jumlah tenaga kerja total ...
25. deskripsi naratif, bagan, flow chart, matriks maupun gambar-gambar yang bisadimengerti dan pahami oleh orang lain. Ana...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

1

191 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

1

  1. 1. 1. JUDUL PENELITIANANALISIS KETERSEDIAAN TENAGA KERJA PADASEKTOR UNGGULANDI KABUPATEN KULON PROGO TAHUN 2006 –2009(Mengunakan Metode Employment Surplus Index, Location Quotient and ShiftShare)DALAM BAHASA INGGRISAVAILABILITY ANALYSIS OF LABOR INLEADING SECTORIN THE DISTRICT OF KULONPROGO 2006 -2009(APPROACH USING EMPLOYMENT SURPLUS INDEX, LOCATIONQUOTIENT ANDSHIFT SHARE ANALYSIS )LATAR BELAKANG Pelaksanaanotonomi daerah merupakan titik fokus penting dalam rangkamemperbaikikesejahteraan masyarakat. Pengembangan suatu daerah dapatdisesuaikan oleh pemerintahdaerah dengan potensi dan kekhasan daerah masing-masing. Ini merupakan kesempatan yangsangat baik bagi pemerintah daerah untukmembuktikan kemampuannya dalam melaksanakankewenangan yang menjadi hakdaerah. Maju atau tidaknya suatu daerah sangat ditentukan olehkemampuan dankemauan pemerintah daerah. Pemerintah daerah bisa lebih mudahuntukmengembangkan diri dalam rangka membangun daerahnya, tentu saja dengantidak melanggarketentuan perundang-undangan. Pelaksanaan otonomi daerah, sebagaipenerapan (implementasi) tuntutan globalisasi yangsudah seharusnya lebihmemberdayakan daerah dengan cara diberikan kewenangan yang lebihluas, lebihnyata dan bertanggung jawab. Terutama dalam mengatur, memanfaatkan danmenggalisumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing. Tujuan utamadikeluarkannya kebijakan otonomi daerah antara lain adalah membantupemerintahpusat untuk beban-beban yang tidak perlu dalam menangani urusan daerah.Dengandemikian pusat berkesempatan mempelajari, memahami, merespon berbagaikecenderungan 12. global dan mengambil manfaat daripadanya. Pada saat yang sama pemerintah pusatdiharapkanlebih mampu berkonsentrasi pada perumusan kebijakan makro (luas atauyang bersifat umumdan mendasar) nasional yang bersifat strategis. Di lain pihak,dengan desentralisasi daerah akanmengalami proses pemberdayaan yang optimal.Kemampuan prakarsa dan kreativitas pemerintahdaerah akan terpacu, sehinggakemampuannya dalam mengatasi berbagai masalah yang terjadi didaerah akansemakin kuat. Didalam UU No. 32 Tahun 2004 Kewenangan provinsi menurut pasal13 dapat diuraikansebagai berikut :Urusan wajib yang menjadi kewenanganpemerintahan daerah propinsi meliputi : a) perencanaan dan pengendalianpembangunan b) perencanaan, pemanfaatan, dan pengwasan tata ruang c)penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat d) penyediaan saranadan prasarana umum e) penanganan bidang kesehatan f) penyelenggaraan pendidikandan alokasi sumber daya manusia potensial g) penanggulangan masalah sosial lintaskabupaten/kota h) pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/ kota i)fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah termasuk lintaskabupaten/kota j) pengendalian lingkungan hidup k) pelayanan pertanahan termasuklintas kabupaten/ kota l) pelayanan kependudukan, dan catatan sipil m) pelayananadministrasi umum pemerintahan n) pelayanan administrasi penanaman modal,termasuk lintas kabupaten/kota o) penyelenggraan pelayanan dasar lainnya yangbelum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/ kota, dan p) urusan wajib lainnya yangdiamanatkan oleh peraturan perundang-undangan 23. Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004 Kewenangan kabupaten/kota diatur dalampasal 14yang dapat diuraikan sebagai berikut : a) perencanaan dan pengendalianpembangunan b) perencanaan, pemanfaatan, dan pengwasan tata ruang c)penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat d) penyediaansarana dan prasarana umum e) penanganan bidang kesehatan f) penyelenggaraan
  2. 2. pendidikan g) penanggulangan masalah sosial h) pelayanan bidang ketenagakerjaan i)fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah j) pengendalianlingkungan hidup k) pelayanan pertanahan l) pelayanan kependudukan, dan catatansipil m) pelayanan administrasi umum pemerintahan n) pelayanan administrasipenanaman modal, o) penyelenggraan pelayanan dasar lainnya dan p) urusan wajiblainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan Berdasarkan uaraianKewenangan pemerintah Provinsi dan pemerintah Kabupaten yangtercantum dalamUU No. 32 Tahun 2004 di atas, ada beberapa kewenangan yang berhubungandenganperencanaan dan pengendalian pembangunan dan pelayanan dibidangketenagakerjaan,penanggulangan masalah sosial dan penyelenggaraan pendidikan danalokasi sumber dayamanusia potensial. Pertumbuhan ekonomi daerah sangatdipengaruhi oleh kuantitas maupun kualitassumberdaya yang dimilikinya, baiksumberdaya fisik (kekayaan alam) maupun sumberdayamanusia. Sumberdayamanusia tidak hanya jumlah penduduk dan tingkat pendidikannya, namun 34. juga pandangan hidup mereka, tingkat kebudayaan, sikap atau penilaian merekaterhadappekerjaan dan besar kecilnya keinginan untuk memperbaiki diri secara kreatifdan otonom(Todaro, 2000, 46). Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatankerja secara tradisional dianggapsebagai faktor yang positif dalam memacupertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yanglebih besar berarti menambah jumlahtenaga produktif dan pertumbuhan penduduk yang lebihbesar berarti makin besarukuran pasar domestiknya. Namun demikian, pertumbuhan pendudukbaik positifmaupun negatif bagi pembangunan ekonomi tergantung pada kemampuansistemperekonomian yang bersangkutan untuk menyerap dan secara produktifmemanfaatkan tambahantenaga kerja tersebut. Oleh karena itu, informasi mengenaikesempatan kerja secara sektoralsangat diperlukan dalam menyusun perencanaanpembangunan ekonomi daerah (Purwanti,2009,PIRAMIDA Vol V No. 1) JumlahPenduduk Kabupaten Kulon Progo tahun 2009 menurut Hasil ProyeksiSurveiPenduduk Antar Sensus (SUPAS 2005) sebanyak 374.921 jiwa, terdiri daripenduduk laki-laki183.892 jiwa (49,05 persen) dan penduduk perempuan 191.029jiwa (50,95 persen). Berdasarkan Hasil Sensus Penduduk 1980, jumlah pendudukKabupaten Kulon Progotercatat sebesar 380.685 jiwa. Sex rasio sebesar 95, yangartinya terdapat 95 penduduk laki-lakidi setiap 100 penduduk perempuan. Denganluas wilayah 58.627,54 km2, maka kepadatanpenduduk Kabupaten Kulon Progotahun 1980 sebesar 649 jiwa per km2. Pada Sensus Penduduk 1990 pendudukKabupaten Kulon Progo turun menjadi 372.309jiwa dengan laju pertumbuhanpenduduk -0,22. Rasio jenis kelamin tercatat 96 dan kepadatanpenduduknya menjadi635 jiwa per km2. Dengan laju pertumbuhan -0,04, penduduk KabupatenKulon Progomenurut Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000 tercatat sebanyak 370.944 jiwa. Sexrasiosebesar 97 dan kepadatan penduduknya mencapai 633 jiwa per km2. 45. Penduduk merupakan modal penting dalam pelaksanaan pembangunan. Namun bilalajupertumbuhan pertumbuhan tidak terkendali, akan menimbulkan berbagaipersoalan. Oleh karenaitu, masalah pengendalian laju pertumbuhan penduduk menjadiperhatian pemerintah. Keterlibatan penduduk dalam kegiatan ekonomi diukur denganjumlah penduduk yangmasuk dalam pasar kerja. Jumlah pencari kerja baru pada tahun2009 sebanyak 6.912 orangdengan tingkat pendidikan SD sebanyak 508 orang (4,75persen), setingkat SLTP 1.153 orang(10,78 persen), SLTA sederajat 5.467 orang(51,12 persen), Diploma 1.823 orang (17,05 persen),dan sarjana 1.744 orang (16,31persen). Secara total, jumlah pencari kerja baru pada tahun 2009ini mengalamipeningkatan cukup drastis sebesar 54,73 persen pada tahun sebelumnya(jumlahpencari kerja tahun 2008 hanya sebesar 6.912 orang). Yang dimaksud dengan
  3. 3. penduduk usia kerja menurut Survei Angkatan kerja Nasional(sakernas) adalahpenduduk usia 15 tahun ke atas yang dirinci menjadi penduduk yangtermasukangkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Pada tahun 2009 jumlah pendudukusia kerja sebesar303.722 orang yang dirinci sebanyak 146.381 penduduk laki-lakidan 157.341 pendudukperempuan. Di antara penduduk usia kerja tersebut, merekayang tergolong sebagai angkatankerja tercatat 222.551 orang, 212.963 orang denganstatus bekerja dan 9.588 orang merupakanpengangguran. Dari jumlah penduduk yangbekerja (212.963 orang) sebanyak 46,01 persenbekerja pada sektor pertanian, 18,99persen penduduk usia bekerja bekerja pada sektorperdagangan, hotel dan restoran,12,01 persen bekerja pada sektor industri, sebanyak 22,99persen penduduk usia kerjatersebar pada enam sektor yang lain yaitu sektor pertambangan danpenggalian, sektorlistrik, gas dan air bersih, sektor konstruksi,sektor pengangkutan dankomunikasi,sektor lembaga keuangan dan sektor jasa-jasa. Dari latar belakang ini peneliti akanmenganalisis lebih dalam tentang analisisketersediaan tenaga kerja pada sektorunggulan di Kabupaten Kulon Progo dengan mengangkatjudul:“ANALISISKETERSEDIAAN TENAGA KERJA PADA SEKTOR UNGGULANDIKABUPATEN KULON PROGO TAHUN 2006 – 2009 “ 56. (Mengunakan Metode Employment Surplus Index, Location Quotient and ShiftShare)LATAR BELAKANG PENELITIAN 1. Permasalahan Berdasarkan uraian diatas maka rumusan masalah yang dapat diberikan adalah : a. Berapakah kesempatankerja nyata di Kabupaten Kulon Progo yang dipengaruhi oleh laju pertumbuhankesempatan kerja di Provinsi DIY, bauran industri dan keunggulan kompetitif yangdimiliki? b. Sektor-sektor manakah sebagai sektor basis atau sektor unggulan diKabupaten Kulon Progo? c. Berapakah kekurangan atau kelebihan tenaga kerja yangada pada sektor-sektor Unggulan di Kabupaten Kulon Progo? d. Sektor-sektor apakahyang masih kurang potensial dalam perekonomian Kab.Kulon Progo dihitungberdasarkan jumlah tenaga kerja yang tersedia? e. Strategi apakah yang harus diambiluntuk meningkatkan sector perekonomian yang masih kurang potensial? 2. KeaslianPenelitian Penelitian ini dibuat dengan sungguh-sungguh dan belum ada peneliti yangmenggunakan judul peneliatian ini. Penelitian ini sangat berbeda dengan penelitian-penelitian lainnya karena penelitian ini menyajikan hasil analisis yang diolahmenggunakan beberapa metode analisis yang dipadukan dan berdasarkan dataketenagakerjaan Kabupaten Kulon Progo tahun 2006-2009. 3. Faedah yangDiharapkan a. Sebagai bahan informasi kepada pemerintah daerah Kabupaten KulonProgo untuk dijadikan bahan pertimbangan untuk menyusun rencana pembangunandan kebijakan dalam bidang ketenagakerjaan dalam rangka pelaksanaan otonomidaerah. b. Sebagai bahan informasi untuk peneliti lain ataupun pembaca maupunpihak yang berkepentingan dalam permasalahan yang berhubungan dengan penelitianini. 67. TUJUAN PENELITIANTujuan Penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui besarkesempatan kerja nyata di Kabupaten Kulon Progo yang dipengaruhi oleh lajupertumbuhan kesempatan kerja di Provinsi DIY, bauran industri dan keunggulankompetitif Kabupaten Kulon Progo. 2. Untuk mengetahui sektor- sektor basis atausektor unggulan di Kabupaten Kulon Progo. 3. Untuk mengetahui kekurangan ataukelebihan tenaga kerja yang ada pada sektor-sektor Unggulan di Kabupaten KulonProgo 4. Untuk mengetahui sektor yang masih kurang potensial dalam perekonomianKab.Kulon Progo dihitung berdasarkan jumlah tenaga kerja yang tersedia 5. Untukmengetahui Strategi apakah yang harus diambil untuk meningkatkan sectorperekonomian yang masih kurang potensial.TINJAUAN PUSTAKAPenelitianTerdahulu1. PURI WURYANDARI (2003) Penelitian berjudul “ Analisis Potensi
  4. 4. Ekonomi Sektoral Propinsi Jawa Tengah Tahun1993 – 2000 “, yang berisiperhitungan untuk menentukan potensi ekonomi daerah khususnyadaerah JawaTengah yang menggunakan data sekunder dengan runtut waktu ( time series )mulaitahun 1993 sampai dengan tahun 2000. Adapun data yang digunakan adalahProduk Domestik Bruto ( PDB ), ProdukDomestik Regional Bruto ( PDRB ), datatenaga kerja di Jawa Tengah dan data tenaga kerja diIndonesia. Penggunaan dua jenisdata PDRB dan tenaga kerja dalam perhitungan potensiekonomi daerah ditujukanuntuk melihat potensi sektor di Propinsi Jawa Tengah ditinjau dari sisiPDRB dantenaga kerjanya. Dari data yang diperoleh dianalisis dengan alat analisisLocationalQuotient ( LQ ) dan Shift Share ( SSA ) yang kemudian keduanyadigabungkan. 78. Hasil penelitian tersebut menuujukkan bahwa yang menjadi sektor basis diJawaTengah ditinjau dari sisi PDRB adalah Pertanian, Industri Pengolahan,Perdagangan,hotel danrestoran, jasa- jasa, sementara jika ditinjau dari sisi tenagakerja maka yang menjadi sektor basisadalah Industri Pengolahan, Perdagangan,hoteldan restoran serta sektor Jasa-jasa. Berdasarkan hasil analisis data, saran-saran yangdapat digunakan adalah karena sektorpertanian semakin lama kontribusinya semakinkecil baik dari sisi PDRB maupun tenaga kerjamaka diperlukan perhatian yang seriusdan diperlukan pembenahan terutama dalam hal teknologiyang berkaitan dengansektor pertanian, sementara sektor Industri Pengolahan semakin lamakontribusinyasemakin meningkat terutama dalam hal penyerapan tenaga kerjanya. Halinimenunjukkan bahwa Propinsi Jawa Tengah mulai beralih dari masyarakat agrarismenujumasyarakat industri.( http://diligib.uns.ac.id/upload/dokumen)2. HandayaniAstuti Dengan judul penelitian Analisis potensi sektor ekonomi kota dan kabupaten dipropinsidaerah Istimewa Yogyakarta dalam pelaksanaan pembangunan di era otonomidaerah. Tujuandari penelitian ini yang pertama adalah untuk mengetahui gambarankontribusi sektoral terhadapPDRB dan laju pertumbuhan PDRB secara sektoral daritahun 1998-2001, yang kedua untukmengetahui sektor-sektor yang menjadi basisperekonomian di masing-masing kota dankabupaten di Propinsi Daerah IstimewaYogyakarta dalam melaksanakan pembangunan di eraotonomi daerah ditinjau dariPDRB, dan yang ketiga untuk mengetahui sektor-sektor ekonomipotensial, agarmampu dikembangkan menjadi sector basis oleh masing-masing kota dankabupatendi Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan kegunaan dari penelitian iniyaituselain agar dapat dijadikan sebagai sumbangan pikiran dan bahan pertimbangandalampengambilan keputusan oleh instansi-instansi terkait, juga diharapkan dapatdijadikan bahanperbandingan untuk penelitian-penelitian selanjutnya. Dari hasilanalisis data diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi sektoral Kota YogyakartadanKabupaten Sleman mendapat kontribusi terbesar dari Sektor Pedagangan, Hotel,danRestoran, dan laju pertumbuhan tertinggi di Sektor Industri Pengolahan.Kontribusi terbesarKabupaten Bantul berasal dari Sektor Pertanian, sedangkan lajupertumbuhan sektoral tertinggiberada di Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih.Kabupaten Gunung Kidul mendapat kontribusi 89. terbesar dari Sektor Pertanian, dan laju pertumbuhan sektoral tertinggi berada diSektor Jasa-jasa.Kontribusi terbesar Kabupaten Kulon Progo diperoleh dari SektorPertanian, dan lajupertumbuhan sektoral tertinggi berada di Sektor IndustriPengolahan. Menjawab permasalahankedua diketahui bahwa Kota Yogyakartamemiliki basis perekonomian pada: (i) Sektor Listrik,Gas, dan Air Bersih; (ii) SektorPerdagangan, Hotel dan Restoran; (iii) Sektor Pengangkutan danKomunikasi; (iv)Sektor Keuangan; (v) Sektor Jasa-jasa. Kabupaten Sleman memilikibasisperekonomian pada: (i) Sektor Industri Pengolahan; (ii) Sektor Bangunan; (iii)
  5. 5. SektorPerdagangan, Hotel, dan Restoran; (iv) Sektor Keuangan.Kabupaten Bantulmemiliki basisperekonomian pada: (i) Sektor Pertanian; (ii) Sektor IndustriPengolahan, (iii) Sektor Bangunan;(iv) Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran.Kabupaten Gunung Kidul memiliki basisperekonomian pada: (i) Sektor Pertanian; (ii)Sektor Pertambangan dan Galian; (iii) SektorBangunan. Kabupaten Kulon Progomemiliki basis perekonomian pada Sektor Pertanian danSektor Jasa-jasa. Sedangkansektor-sektor potensial yang dapat dikembangkan di KotaYogyakarta adalah SektorIndustri Pengolahan dan Sektor Bangunan. Sektor-sektor potensial diKabupatenSleman adalah : (i) Sektor Pertanian; (ii) Sektor Jasa-jasa; (iii) Sektor Listrik, Gas,danAir Bersih; (iv) Sektor Pengangkutan dan Komunikasi; (v) Sektor Pertambangan danGalian.Sektor potensial Kabupaten Bantul berada di (i) Sektor Pertambangan danGalian; (ii) SektorJasa-jasa; (iii) Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih; (iv) SektorPengangkutan dan Komunikasi;(v) Sektor Keuangan. Sektor-sektor potensial yangdapat dikembangkan di Kabupaten GunungKidul adalah : (i) Sektor IndustriPengolahan; (ii) Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih; (iii) SektorPerdagangan, Hotel,dan Restoran; (iv) Sektor Pengangkutan dan Komunikasi; (v) SektorKeuangan, (vi)Sektor Jasa-jasa. Sektor-sektor potensial yang ada di Kabupaten Kulon Progoadalah :(i) Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih, (ii) Sektor Perdagangan, Hotel, danRestoran;(iii) Sektor Pengangkutan dan Komunikasi; (iv) Sektor Keuangan. Saranyang dapat diberikan guna tercapainya tujuan pembangunan di kota dan kabupatendiPropinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu: pengoptimalisasian pengembangansektor-sektorpotensia tanpa mengabaikan sektor basis yang telah ada, keduamempromosikan potensi masing-masing daerah guna menarik investor baik dari luarnegeri ataupun dari luar daerah, yang ketigaadalah penerangan dan penyuluhankepada masyarakat tentang pembangunan di era otonomidaerah, dan mengarahkanmasyarkat untuk lebih aktif dalam usaha- usaha yang berada di lingkup 910. sektor basis dan sektor potensial, dan yang kekempat yaitu perlu adanya penelitianyang lebihlengkap dengan analisis yang lebih canggih.(digilib.uns.ac.id/abstrak.pdf.)3. Ike Yuli Andjani & Adi Irawan (2011) Dengan Judul“ Perbandingan Analisis Potensi Ekonomi Kabupaten Bantu denganKabupaten KulonProgo Tahun 2006-2009” Menggunakan pendekatan Analisis Shift Share,LocationQuotient dan Tipologi Klasen. Tujuan Penelitian ini adalah 1) perkembangan potensiekonomi kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo. 2) Sektor-sektor unggulanantara kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo. 3) Sektor-sektor perekonomianyang masih kurang potensial untuk lebih ditingkatkan. 4) perbandingan potensiekonomi antara Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Kulon Progo. Data yangdigunakan adalah Produk Domestik Bruto ( PDB ), Produk Domestik RegionalBruto (PDRB ) Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo dan Provinsi DIY. PenggunaandataPDRB ketiga daerah dalam perhitungan potensi ekonomi daerah ditujukan untukmelihat potensisektor di Kabupaten Bantul dan Kulon Progo ditinjau dari sisi PDRB.Dari data yang diperolehdianalisis dengan alat analisis Locational Quotient ( LQ ) danShift Share ( SSA ) dan TipologiKlasen yang kemudian digabungkan. Dari penelitianini kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:1. Perkembangan potensiekonomi di Kabupaten Bantul maupun Kabupaten Kulon Progo dari tahun ketahunterus meningkat, namun tidak pada semua sektor ataupun sub sektor,2. Sektorunggulan Kabupaten Bantul dan Kabuparen Kulon Progo a. Metode Shift Share Darihasil analisis menggunakan metode Shift Share di Kabupaten Bantul dan KabupatenKulon Progo menunjukkan sektor yang memiliki keunggulan/daya saing palingcompetitive adalah: Kabupaten Bantul 10
  6. 6. 11. 1. Sektor Industri Pengolahan pada sub.sektor industri bukan migas padakelompok sub. Industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki serta sub. Industri kayudan barang kayu lainya. 2. Sektor Perdagangan, hotel dan restoran pada sub.sektorrestoran . 3. Sektor Pengangkutan dan komunikasi pada sub.sektor pengangkutansub.angkutan jalan raya nilai 4. Sektor Pertanian pada sub.sektor tanaman bahanpangan serta sub.sektor peternakan dan hasil-hasilnya Kabupaten Kulon Progo: 1.Sektor Pertanian pada sub.sektor tanaman bahan pangan 2. Sektor IndustriPengolahan pada sub. Industri kayu dan barang kayu lainya.b. Metode LocationQuotient Dari hasil analisis menggunakan metode Location Quotient menunjukkanbahwa : Kabupaten Bantul memiliki sub.sektor basis pada beberapa sektor yang ada.Dari sektor pertanian sub.sektor yang merupakan sektor basis adalah sub.sektortanaman bahan makanan, tanaman perkebunan serta peternakan dan hasil-hasilnya.Pada Sektor Pertambangan dan penggalian sub.sektor penggalian yang merupakansub.sektor basis. Untuk sektor Industri bukan migas sub.sektor yang merupakansub.sektor basis paling tinggi adalah sub.sektor tekstil, barang dari kulit dan alas kaki,kemudian disusul sub.sektor makanan, minuman dan tembakau, selanjutnya ada subsektor pupuk, kimia dan barang dari karet, Semen dan barang galian bukan logam danyang terakhir adalah kayu dan barang dari kayu lainnya. Selanjutnya sektor kontruksipun merupakan sektor basis di Kabupaten Kulon Progo. Pada sektor perdagangan,hotel dan restoran hanya sub.sektor perdagangan besar dan eceran yang merupakansektor basis di Kabupaten Bantul. Serta sektor keuangan, persewaan dan jasapenunjang pada sub.sektor lembaga keuangan bukan bank. Pada Kabupaten KulonProgo dari hasil analisis menggunakan metode Location Quotient sub.sektor yangberada pada sektor pertanian semuanya merupakan sektor basis. Sub. Sektorpenggalian pun menjadi sektor basis di Kabupaten Kulon Progo. Kemudian 1112. pada Sektor Insudri pengalahan yang merupaka sektor basis adalah makananminuman dan tembakau, Kayu dan barang dari kayu lainnya, pupuk kimia dan barangdari karet, Semen dan barang galian bukan logam, serta alat angkutan mesin danperalatannya. Pada sekteor perdagangan, hotel dan restoran hanya sub.sektorperdagangan besar dan eceran yang merupakan sektor basis. Untuk sektorpengangkutan dan komunikasi yang merupakan sub.sektor basis di Kabupaten KulonProgo adalah Angkutan jalan rel dan jasa penunjang komunikasi. Sektor keuangan,persewaan dan jasa penunjang pada sub.sektor bank, serta sektor jasa-jasa padasub.sektor administrasi pemerintah dan pertahanan, jasa pemerintah lainnya. c.Metode Tipologi Klassen Dari analisis menggunakan metode Tipologi Klassen dapatdisimpulkan bahwa sub.sektor yang maju dan dapat berkembang dengan pesat adalahsub.sektor peternakan dan hasil- hasilnya (sektor pertanian), sub.sektor tekstil, barangdari kulit dan alas kaki, sub.sektor kayu dan barang dari kayu lainnya (sektor IndustriPengolahan). Kemudian ada sektor kontruksi yang juga merupakan sektor maju dantumbuh dengan pesat di Kabupaten Bantul serta sub.sektor lembaga keuangan bukanbank. Pada Kabupaten Kulon Progo sub.sektor yang merupakan sub.sektor maju dantumbuh dengan pesat adalah tanaman bahan makanan, tanaman perkebunan,peternakan dan hasil- hasilnya, Kehutanan (sektor pertanian), penggalian (sektorpertambangan dan penggalian), kayu dan barang dari kayu lainnya, pupuk kimiadanbarang dari karet, semen dan barang galian bukan logam, alat angkutan mesin danperalatannya (sektor industri pengolahan), dan yang terakhir adalah sub.sektorangkutan jalan raya.3. Sektor-sektor perekonomian yang masih kurang potensial darikedua kabupaten tersebut adalah: a. Metode Analisis Shift Share Dari analisismenggunakan metode shift share pada Kabupaten Bantul sektor - sektor yang kurangkompetitive adalah Sektor Industri Pengolahan pada sub.sektro Industri makanan,
  7. 7. minuman dan tembakau, sub.sektor Industri pupuk, kimia dan barang dari karet,kemudian Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 1213. Untuk Kabupaten Kulon Progo sektor sektor yang kurang kompetitive adalahSektor Industri Pengolahan pada sub.sektor Industri makanan, minuman dantembakau dan sub.sektor Industri pupuk, kimia dan barang dari karet, kemudiansektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, serta sektor Jasa-jasa.b. MetodeAnalisis Location Quotient Hasil analisis menggunakan metode Location Quotient diKabupaten Bantul yang merupakan sub.sektor non basis adalah sub.sektor Kehutanan,perikanan (Sektor pertanian), Kertas dan barang cetakan, alat angkutan mesin danperalatannya, barang lainnya (sektor industri pengolahan), air bersih (sektor listrik,gas dan air bersih), hotel, restoran (sektor perdagangan, hotel dan terstoran) kemudiansektor pengangkutan dan komunikasi di Kabupaten Bantul bukan merupakan sektorbasis. Sektor Keuangan, persewaan dan jasa penunjang serta sektor jasa jasa jugamerupaka sektor non basis di kabupaten bantul. Pada Kabupaten Kulon Progomenunjukkan sub.sektor non basis antara lain tekstil barang dari kulit dan alas kaki,kertas dan barang cetakan, barang lainnya (sektor Industri Pengolahan), sektor Listrik,gas dan air bersih, sektor kontruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran padasub.sektor hotel dan restoran, kemudian sektor pengangkutan dan komunikasi padasub.sektor angkutan rel, jasa penunjang angkutan dan pos dan telekomunikasi. Sektorkeuangan, persewaan dan jasa perusahaan pada sub.sektor lembaga keuangan bukanbank, jasa penunjang keuangan, real estat, jasa perusahaan. Sektor jasa-jasa pada jasasosial dan kemasyarakatan, jasa hiburan dan rekreasi, jasa perorangan dan rumahtangga.c. Metode Analisis Tipologi Klassen Hari hasil menggunakan analisis tipologiklassen sub.sektor yang relatif masih tertinggal di Kabupaten Bantul adalah sub.sektorkertas dan barang cetakan, barang lainnya, listrik, hotel, restoran, pos dantelekomunikasi, bank, real estat, serta jasa hiburan dan rekreasi. Pada kabupatenKulon Progo sektor yang berada pada Kuadran IV yaitu sub.sektor yang relatiftertinggal adalah sektor kontruksi, sub.sektor restoran, Jasa penunjang angkutan, posdan telekomunikasi, serta jasa perusahaan. 1314. 4. Perbandingan potensi ekonomi antara Kabupaten Bantul dengan KabupatenKulon Progo menggunakan tiga metode yaitu metode dapat disimpulkan bahwa sektorunggulan Kabupaten Bantul adalah sektor industri pengolahan dan sektor Pertanian.Sedangkan untuk Kabupaten Kulon Progo adalah sektor pertanian dan industripengolahan. Untuk sektor yang bukan merupakan sektor unggulan di KabupatenBantul adalah sektor Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta sektor jasa-jasa.Untuk kabupaten Kulon Progo adalah sektor kontruksi.LANDASAN TEORIA.Pembangunan Pembangunan Ekonomi1.Proses Pembangunan Ekonomi Prosespembangunan ekonomi dibagi menjadi 4 (empat) tahap sebagai berikut ( Arsyad,1997: 24 ) : Tahap pertama adalah proses perencanaan (ekonomi). Ditetapkan danditerjemahkan kedalam target kuantitatif untuk pertumbuhan, penciptaan kesempatankerja, distribusi pendapatan, pengurangan kemiskinan, dan lainnya. Tahap keduaadalah mengukur ketersediaan sumber daya yang langka selama periode perencanaantersebut, misalnya: tabungan, bantuan luar negeri, penerimaan pemerintah,penerimaan eksport, tenaga kerja yang terlatih, dan lainnya. Kesemuanya itu bersamaketerbatasan administrasi dan organisasi, merupakan kendala (constraints) yangmengendalai kemampuan perekonomian tersebut untuk mencapai target – targetnya.Tahap ketiga, hampir semua dari upaya ekonomi ditujukan untuk memilih berbagaicara (kegiatan dan alat) yang bisa digunakan untuk mencapai tujuan nasional. Padatahap ini ditetapkan proyek – proyek investasi, seperti jalan raya, jaringan irigasi,pabrik – pabrik, pusat – pusat kesehatan. Yang termasuk perencanaan nasional :
  8. 8. kebijaksanaan – kebijaksanaa harga, seperti nilai kurs, tingkat suku bunga, upah,pengaturan pajak, atau subsidi yang semuanya ini merangsang perusahaan–perusahaan swasta untuk mengembangkan tujuan– tujuan pembangunan nasional, danperubahan keuangan (perbankan) atau penataan kembali sektor pertanian, yang bisamengurang hambatan – hambatan untuk mengubah dan mendukung kegiatan–kegiatan pembangunan lainnya. Tahap keempat, perencanaan mengerjakan prosespemilihan kegiatan–kegiatan yang mungkin dan penting untuk mencapai tujuannasional (welfare function) tanpa terganggu 1415. oleh adanya kendala– kendala sumber daya dan organisasional. Hasil dari prosesini adalah strategi pembangunan (development strategy) atau rencana yang mengaturkegiatan–kegiatan yang akan dilakukan selama beberapa tahun (biasanya 5 tahun).(Arsyad, 1997: 24)2. Pembangunan Ekonomi dan Pertumbuhan Ekonomi Pengertianpembangunan ekonomi sangat luas, bukan hanya sekedar bagaimana menaikan GNPper tahun saja. Pembangunan ekonomi dapat diartikan sebagai kegiatan – kegiatanyang dilakukan suatu negara untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan tarafhidup masyarakat. Berdasarkan batasan tersebut maka pembangunan ekonomi dapatdidefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduksuatu negara dapat meningkat dalam jangka panjang. Maka dari definisi tersebut,pembangunan ekonomi mempunyai 3 sifat penting, yaitu bahwa pembangunanekonomi merupakan : 1. Suatu proses, yang berarti merupakan perubahan yang terjaditerus menerus. 2. Usaha untuk menaikkan tingkat pendapatan per – kapita. 3.Kenaikan pendapatan per – kapita itu harus terus berlangsung dalam jangka panjang.Jadi pembangunan ekonomi harus dipandang sebagai proses agar saling berkaitan dansaling mempengaruhi antara faktor–faktor yang menghasilkan pembangunan ekonomisehingga dapat dilihat dan dianalisis. Dengan cara tersebut bisa diketahui deretanperistiwa yang timbul dan akan mewujudkan peningkatan kegiatan ekonomi dan tarafkesejahteraan masyarakat dari satu tahap ke tahap berikutnya (Arsyad, 1997:11).Pertumbuhan ekonomi merupakan bagian dari pembangunan ekonomi, karenapertumbuhan hanya meliputi kenaikan output produksi yang menyebabkan kenaikanpada pendapatan, tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecildaripada tingkat pertambahan penduduk, atau apakah perubahan dalam strukturekonomi berlaku atau tidak. Jadi pembangunan selalu dibarengi dengan adanyapertumbuhan, sedangkan pertumbuhan belum tentu disertai dengan pembangunan.Dengan demikian suatu perekonomian dapat dikatakan sedang berkembang apabilapendapatan per–kapita menunjukkan kecenderungan (trend) jangka panjang yangmeningkat. Namun demikian tidak berarti bahwa pendapatan per – kapita akanmengalami kenaikan terus menerus. Adanya 1516. resesi ekonomi, kekacauan politik, dan penurunan ekspor misalnya, dapatmengakibatkan suatu perekonomian mengalami penurunan tingkat kegiatanekonominya. Jika keadaan demikian hanya bersifat sementara, dan kegiatan ekonomisecara rata – rata meningkat dari tahun ke tahun, maka masyarakat tersebut dapatdikatakan mengalami pembangunan ekonomi. Pengertian pembangunan ekonomisecara tidak langsung menyatakan bahwa untuk melihat laju pembangunan suatunegara dan perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakatnya, maka tingkatpertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan salah satu syaratutama.3. Pertumbuhan dan Perubahan Struktur Ekonomi 1. Teori – teori PertumbuhanEkonomi Daerah Dalam pertumbuhan regional tidaklah semua sama dengan apa yangdikemukakan pada pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini di sebabkan pada analisapertumbuhan ekonomi regional lebih ditekankan pada pengaruh perbedaankarakteristik daerah terhadap pertumbuhan ekonomi. Tetapi pertumbuhan ekonomi
  9. 9. regional dan pertumbuhan ekonomi nasional juga mempunyai ciri yang sama, yaitumemberi tekanan pada unsur waktu yang merupakan faktor penting dalam analisapertumbuhan ekonomi. Pada pembangunan ekonomi regional memberikan tekananpada unsur region, maka faktor-faktor yang mejadi perhatian juga berbeda dengan apayang ada pada pertumbuhan ekonomi nasional. Pada teori pertumbuhan ekonominasional faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah modal, lapangan pekerjaan dankemajuan teknologi. Akan tetapi pada teori pertumbuhan ekonomi regional faktor-faktor yang mendapat perhatian utama adalah keuntungan lokasi, aglomerasi dan aruslalu lintas modal antar wilayah. Karena perbedaan faktor-faktor tersebut maka analisapertumbuhan ekonomi regional berbeda dengan teori-teori dalammenganalisaatumbuhan ekonomi nasional. Teori-teori yang dapat digunakan dalammenganalisis pertumbuhan ekonomi regional diantaranya adalah sebagai berikut : a.Teori lokasi Terdapat tiga kelompok dalam pemaparan tentang teori lokasi. Kelompokpertama sering dinamakan sebagai pembela prinsip-prinsip Least Cost Theory, yang1617. menekankan analisa pada aspek produksi dan mengabaikan unsur pasar danpermintaan. Analisa dari aliran Least Cost Theory didasarkan pada asumsi pokokantara lain : a) lokasi pasar dan sumber bahan baku telah tertentu, b) sebagai bahanbaku adalah Localized materials, c) tidak terjadi perubahan teknologi, d) ongkostransport tetap untuk setiap kesatuan produksi dan jarak. Kelompok kedua dinamakanMarket Area Theory dimana faktor permintaan lebih penting artinya dalam pemilihanlokasi. Teori ini disusun atas dasar beberapa asumsi utama yaitu: a) konsumentersebar secara merata ke seluruh tempat, b) bentuk persamaan permintaan dianggapsama, c) ongkos angkut untuk setiap kesatuan produksi dan jarak adalah sama.Kelompok yang ketiga dinamakan Bid Rent Theory, dimana pemilihan lokasiperusahaan industri lebih banyak ditentukan oleh kemampuan perusahaan untukmenyewa tanah. Teori ini lebih banyak berlaku di daerah perkotaan yang harga sewadan tanah sangat tinggi. Teori ini juga disusun atas dasar beberapa asumsi tertentuyaitu : a) terdapat seluas tanah yang dapat dimanfaatkan dan tingkat kesuburan yangsama, b) ditengah tanah tersebut terdapat sebuah pusat produksi dan konsumsi, c)ongkos angkut sama untuk setiap kesatuan jarak produksi, d) harga barang produksijuga sama untuk setiap jenis produksi, e) tidak terjadi perubahan teknologi (Esmara,1985 : 327 ). Teori lokasi ini pada intinya mengemukakan tentang pemilihan lokasiyang dapat meminimumkan beaya. Lokasi optimum dari suatu perusahaan industripada umumnya terletak di mana permintaan terkonsentrasi (pasar) atau padasumberbahan baku. Alasan ini adalah bila suatu perusahaan industri memilih lokasipada salah satu kedua tempat tersebut, maka ongkos angkut untuk bahan baku atauhasil produksi akan dapat diminimumkan dan keuntungan aglomerasi yang timbuldari adanya konsentrasi perusahaan pada suatu lokasi akan dapat dirasakanmanfaatnya (Arysad,1999:117 ).b. Teori Basis Ekonomi Teori ini didasari dari sudutteori lokasi, yaitu bahwa pertumbuhan ekonomi suatu daerah akan banyak ditentukanoleh jenis keuntungan lokasi yang selanjutnya dapat digunakan oleh daerah tersebutsebagai kekuatan ekspor. Keuntungan lokasi tersebut umumnya berbeda-beda setiapdaerah tergantung pada letak geografis daerah 1718. yang bersangkutan. Hal ini berarti untuk dapat meningkatkan pertumbuhansuatudaerah, strategi pembangunannya harus disesuaikan dengan keuntungan lokasiyangdimilikinya dan tidak harus dengan strategi pembangunan pada tingkat nasional.Model basis ekonomi menyederhanakan perekonomian menjadi dua sektor,yaitusektor basis dan bukan basis. Kegiatan sektor basis adalah kegiatan yangmengeksporbarang dan jasa keluar perekonomian atau memasarkan barang dan jasakepada
  10. 10. mereka yang datang dari luar perekonomian yang bersangkutan. Dengan demikiansektor basis berperan sebagai faktor penggerak utama,dimana setiap perubahan yangterjadi dalam aktivitas ekonomi tersebut akanmenimbulkan dampak multiplierterhadap pertumbuhan perekonomian suatu wilayah.Disisi lain sektor non basis adalahkegiatan sektor yang menyediakan barang ataujasa yang dibutuhkan aleh masyarakatatau oleh sektor ekonomi basis yang beradadalam batas perekonomian wilayah.Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah menurut model basis ekonomiditentukan olehkemampuan suatu daerah tersebut melakukan ekspor berupa barangatau jasa termasuktenaga kerja. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan maju mundurnya sektorbasis.Kemajuan antara lain disebabkan oleh perkembangan jaringantransportasi,perkembangan permintaan dan pendapatan dari wilayah lain,perkembanganteknologi dan prasarana lainnya. Sedangkan kemunduran sektor basisdisebabkanoleh perubahan permintaan dari luar wilayah, habisnya cadangan sumberdaya alamyang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan dari perkembangan teknologi(Yasri,1994: 9 ). Strategi pembangunan yang dapat dilaksanakan adalah penekananterhadaparti penting bantuan kepada dunia usaha yang mempunyai pasar secaranasionalmaupun internasional. Kebijakannya mencakup pengurangan hambatan danbatasanterhadap perusahaan-perusahaan yang beorientasi ekspor yang ada dan akandidirikandi daerah tersebut. Faktor-faktor penentu utama dalam pertumbuhanekonomi regional adalahberhubungan langsung dengan permintaan akan barang danjasa dari luar daerah.Pertumbuhan industri-industri yang menggunakan sumber dayalokal, termasuk 1819. tenaga kerja dan bahan baku untuk diekspor akan menghasilkan kekayaan daerahdan penciptaan peluang kerja (Arsyad, 1999 : 116 ).c. Teori Tempat Sentral Teoritempat sentral menganggap bahwa ada semacam hirarki tempat. Setiap tempat sentraldidukung oleh sejumlah tempat yang lebih kecil yang memyediakan sumberdaya(industri dan bahan baku). Tempat sentral tersebut merupakan suatu pemukiman yangmenyediakan jasa-jasa bagi penduduk daerah yang mendukungnya. Teori tempatsentral ini bisa diterapkan pada pembangunan ekonomi daerah, baik didaerahperkotaan maupun didaerah pedesaan (Arysad, 1999 : 117 ). Dampak dari adanyatempat sentral ini adalah aglomerasi industri. Keuntungan dari adanya aglomerasiindustri ini adalah : pertama yaitu semacam keuntungan yang dapat timbul karenapusat pengembangan memungkinkan perusahaan industri yang tergabung di dalamnyaberoperasi dengan skala besar, karena adanya jaminan sumber bahan baku dan pasar.Kedua, yaitu adanya saling keterkaitan antar industri sehingga kebutuhan bahan bakudan pemasaran dapat di penuhi dengan mengeluarkan ongkos angkut yang minimum.Ketiga, yaitu timbulnya fasilitas sosial dan ekonomi dapat digunakan secara bersama-sama sehingga pembebanan ongkos untuk masing-masing perusahaan industri dapatdilakukan serendah mungkin (Esmara,1985:336 ). Untuk mempelajari apakah suatusektor ekonomi merupakan sektor basis atau non basis dalam suatu wilayah dapatdigunakan metode pengukuran langsung metode pengukuran tidak langsung (Glasson, 1974 dalam Yasri, 1994 : 9 ). Metode pengukuran langsung dilakukanmelalui survey secara langsung dalam mengidentifikasi sektor mana yang basis danmana yang non basis. Melalui pendekatan ini dapat ditentukan sektor basis maupunnon basis secara tepat, tetapi dalam pelaksanaannya memerlukan dana dan sumberdaya yang besar. Atas dasar ini para pakar ekonomi regional merekomendasikanpenggunaan metode pengukuran tidak langsung yaitu menggunakan kuosien lokasi (Locational Quotient ).d. Teori Ekonomi Neo Klasik 1920. Peranan teori ekonomi Neo Klasik tidak terlalu besar dalam menganalisispembangunan daerah, karena teori ini tidak memiliki dimensi spesial yang signifikan.
  11. 11. Teori ini memberi dua konsep dalam pembanguna ekonomi daerah yaitukeseimbangan dan mobilitas faktor produksi. Artinya system perekonomian akanmencapai keseimbangan alamiah jika modal bisa mengalir tanpa pembatasan. Olehkarena itu, modal akan mengalir dari daerah yang tinggi menuju ke daerah yangberupak rendah (Arysad, 1999 ; 116 ). e. Teori Kausasi Kumulatif Kondisi daerah-daerah sekitar kota yang semakin buruk menunjukkan konsep dasar dari tesis kausasikumulatif ini. Kekuatan-kekuatan pasar cenderung memperparah kesenjangan antardaerah-daerah tersebut. Daerah yang maju mengalami akumulasi keunggulankompetitif dibanding daerah-daerah lain (Arysad,1999:117 ). f. Model Daya TarikTeori daya tarik industri adalah model pembangunan ekonomi yang paling banyakdigunakan oleh masyarakat. Teori ekonomi yang mendasarinya adalah suatumasyarakat dapat memperbaiki posisi pasarnya terhadap industrialisasi melaluipemberian subsidi dan intensif (Arsyad, 1999 : 188 ).B. Metode Analisi Shift ShareTeknik analisis ini adalah teknik analisis kuantitatif yang biasa digunakan untukmenganalisis perubahan struktur ekonomi daerah relatif terhadap struktur ekonomiwilayah administrative yang lebih tinggi sebagai pembanding. Dalam teknik initerdapat 3 komponen: Pertama, pertumbuhan ekonomi referensi propinsi atau nasionalyang menunjukkan bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi nasional terhadapperekonomian daerah. Kedua, pergeseran proporsional, yang menunjukkan perubahanrelatif kinerja suatu sektor di daerah tertentu terhadap sektor yang sama di referensipropinsi atau nasional. Ketiga, pergeseran diferensial yang memberikan informasidalam menentukan seberapa jauh daya saing industri daerah dengan perekonomianyang dijadikan referensi. 2021. Ketiga hubungan komponen tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut ShiftShare Analysis (SSA) SSA = (Xtt(1) /Xtt(0) – 1) + (Xtj(1) /Xtj(0) – Xtt(1) /Xtt(0) ) +(Xij(1) /Xij(0) – Xtj(1) /Xtj(0)) a b c Keterangan : SSA = Shift Share Analysis a =komponen share (menyatakan laju pertumbuhan total wilayah pada dua titik waktuyang menunjuk-kan dinamika) b = komponen proportional shift (menyatakan pertum-buhan total aktivitas tertentu secara relatif dibandingkan dengan pertumbuhan secaraumum dalam total wilayah yang menunjukkan dinamika sektor/aktivitas total dalamwilayah c = komponen differential shift (menjelaskan bagaimana daya kompetisisuatu aktivitas tertentu dibandingkan dengan total sektor atau aktivitas dalam wilayah.Komponen ini menggambarkan dinamika (keung-gulan atau ketidakunggulan) suatusektor atau aktivitas tertentu di sub wilayah tertentu terhadap aktivitas tersebut diwilayah lain. Xij(1) = jumlah tenaga kerja dari sektor produksi j di wilayah kabupatenke-i pada tahun akhir Xij(0) = jumlah tenaga kerja dari sektor produksi j di wilayahKabupaten ke-i pada tahun awal Xtj(1) = jumlah tenaga kerja total dari sektorproduksi j di wilayah Provinsi pada tahun akhir Xtj(0 )= jumlah tenaga kerja total darisektor produksi j di wilayah Provinsi pada tahun awal 2122. Xtt(1) = jumlah tenaga kerja total dari keseluruhan sektor produksi di wilayahProvinsi pada tahun akhir Xtt(0) = jumlah tenaga kerja total dari keseluruhan sektorproduksi di wilayah Provinsi pada tahun awal.C. Metode Analysis Location Quotient( L Q ) Pada dasarnya metode ini menyajikan perbandingan relatif antara kemampuansektor di daerah yang diamati dengan kemampuan sektor yang sama di daerah yanglebih luas (tingkat nasional). Variabel yang digunakan dalam analisis ini berupa nilaitambah serta jumlah tenaga kerja. Adapun dalam analisis ini dicoba memahamiLocation Quotient (LQ) dengan menggunakan nilai tambah bruto sebagai variabelyang ada dalam PDRB menurut harga konstan. Secara matematis Location Quotient(LQ) dirumuskan sebagai berikut LQ = Xij/Xit Xtj/Xtt Keterangan : LQ = LocationQuotient Xij = jumlah tenaga kerja dari sektor produksi j di wilayah kabupaten ke-i
  12. 12. Xit = jumlah tenaga kerja total dari keseluruhan sektor produksi di wilayah kabupatenke-i Xtj = jumlah tenaga kerja total dari sektor produksi j di wilayah Provinsi Xtt =jumlah tenaga kerja total dari keseluruhan sektor produksi di wilayah Provinsi LQ < 1berarti sektor yang bersangkutan produksinya belum dapat memenuhi kebutuhandaerah sendiri, disebabkan oleh kurangnya peranan sektor tersebut dalamperekonomian daerah karena tidak mempunyai keunggulan komparatif dandikategorikan sektor non basis. LQ > 1 atau LQ = 1 Berarti sektor yang bersangkutanproduksinya sudah dapat memenuhi kebutuhan daerah tersebut bahkan mengekspor.Oleh karena itu daerah 2223. tersebut diakatakan mempunyai keunggulan komparatif di sektor tersebut dandikatakan sebagai sektor basis. (http://diligib.uns.ac.id/upload/dokumen)D.Employment Surplus Index (ESI) ESIa = Xij – (Xit/Xtt)Xtj (Keterangan : ESIa = ESImodel absolut) ESIr = [Xij – (Xit/Xtt) Xtj] / Xit x 100 % (Keterangan : ESIr = ESImodel relatif) Keterangan: Xij = jumlah tenaga kerja dari sektor produksi j di wilayahKabupaten ke-i Xit = jumlah tenaga kerja total dari keseluruhan sektor produksi diwilayah Kabupaten ke-i Xtj = jumlah tenaga kerja total dari sektor produksi j diwilayah Provinsi Xtt = jumlah tenaga kerja total dari keseluruhan sektor produksi diwilayah ProvinsiE. Otonomi Daerah 1. Hakekat Otonomi Daerah Otonomi daerahadalah Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untukmengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakatsetempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. ( UU No.32 Tahun 2004) 2.Pelaksanaan Otonomi daaerah Pelaksanaan otonomi daerah merupakan titik fokuspenting dalam rangka memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Pengembangan suatudaerah dapat disesuaikan oleh pemerintah daerah dengan potensi dan kekhasan daerahmasing- masing. Ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi pemerintah daerahuntuk membuktikan kemampuannya dalam melaksanakan kewenangan yang menjadihak daerah. Maju atau tidaknya suatu daerah sangat ditentukan oleh kemampuan dankemauan pemerintah daerah. Pemerintah daerah bebas berkreasi dan berekspresi 2324. dalam rangka membangun daerahnya, tentu saja dengan tidak melanggarketentuan perundang-undanganCARA PENELITIAN 1. Bahan atau Materi PenelitianMateri utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Data Produk DomestikRegional Bruto tahun 2006-2009 dan data ketenaga kerjaan pada Kabupaten KulonProgo. Kemudian data-data tersebut dianalisis menggunakan Pendekatan Shift Share,Employement Surplus Index, dan Loqatiouent Quotion 2. Alat Alat bantu yangdigunakan untuk menganalisis data penelitian adalah software Microsoft Exel.Software ini digunakan untuk menganalisa data statistik agar dapat diolah,ditampilkan, sehingga dapat menyajikan suatu informasi sesuai yang diharapkanpengguna. 3. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan cara menganalisisdata-data Produk Domestik Regional Bruto dan data ketenaga kerjaan KabupatenKulon Progo, pengolahan data nya untuk mencari sektor-sektor potensial dilakukandengan membandingkan PDRB kabupaten tersebut dengan PDRB PropinsiYogyakarta. Data tersebut dianalisis menggunakan pendekatan analisis Shift Share,LQ, dan Employment Surplus Index. Setelah data-data tersebut dianalisis maka akanmenghasilkan suatu kesimpulan yaitu sektor-sektor unggulan dari kedua Kabupatentersebut. 4. Analisis Hasil Untuk mengetahui hasil penelitian potensi ekonomiKabupaten Kulon Progo peneliti menggunakan analisis data kuantitatif dan kulalitatif.Analisis data Kualitatif adalah proses yang meliputi mencatat, mengorganisasikan,mengelompokkan dan mensintesiskan data dan selanjutnya memaknai setiap kategoridata, mencari dan menemukan pola, hubungan hubungan dan memaparkan temuan-temuan dalam bentuk 24
  13. 13. 25. deskripsi naratif, bagan, flow chart, matriks maupun gambar-gambar yang bisadimengerti dan pahami oleh orang lain. Analisis Data kuantitatif adalah prosesmenghitung data yang ada menggunakan rumus atau metode analisis yang sesuaidengan kebutuhan penelitian. JADWAL PENELITIAN Bulan Ke Tahap Kegiatan 1 23 4 5 6Persiapan 1. Pengumpulan dataPelaksanaan 1. Pengolahan data 2. Analisis data3. Pengambilan kesimpulan dan hasil penelitianPenyelesaian 1. Penyusunan laporandraf 2. Penyusunan laporan akhir 2526. PERSONALIA PENELITIAN 1. Peneliti I a. Nama Lengkap : Dra. Ike YuliAndjani b. NIP : 19650716 199003 2 001 c. Pangkat/Golongan : III/b d. JabatanSekarang : Asisten Ahli e. Tempat penelitian/alamat : Kabupaten Kulon Progo f.Waktu yang disediakan : 2 jam/ hari 2. Peneliti II a. Nama Lengkap : Adi Irawan b.NIP :- c. Pangkat/Golongan :- d. Jabatan Sekarang :- e. Tempat Penelitian/alamat :Kabupaten Kulon Progo f. Waktu yang disediakan : 2 jam/hari 3. Pembantu Peneliti :1 orang 2627. DAFTAR PUSTAKABadan Pusat Statistik Provinsi Yogyakarta. 2010. Jogjsdalam Angka 2010. BPS: Provinsi DIYBadan Pusat Statistik Kabupaten Kulon Progo.2010. Kulon Progo dalam Angka 2010. BPS: Kulon Progo.Lincolin Arsyad. 1993.Pengantar Perencanaan Ekonomi. PT. Media Widya Mandala: Yogyakarta.LincolinArsyad. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. BPFEUGM: Yogyakarta.Hendra Esmara. 1985. Memelihara Momentum Pembangunan.Gramedia: Jakarta 27

×