Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Hukum taqlifi

894 views

Published on

hukum taqlifi agama islam. menerangkan semua hukum-hukum islam dalam satu powerpoint. semoga bermanfaat bagi kalian yang mendownloadnya terima kasih :)

Published in: Science
  • Be the first to comment

Hukum taqlifi

  1. 1. HUKUM TAQLIFI
  2. 2. NAMA KELOMPOK : Erika Renka Wiandra (13) Genta Antariksa (18) Hanifa Rizky Rahmawati (19) Ilham Yusuf Bachtiar (20) Miga Hetty Mulia Sari (22) Ridha Agustina K.N. (25) Anindia Sanditiara (04) Yoga Herlambang (34)
  3. 3. Hukum Taklifi Hukum taklifi adalah khitab (titah) Allah swt. atau sabda Nabi Muhammad SAW yang mengandung tuntunan, baik perintah melakukan atau larangan.
  4. 4. Hukum taklifi terbagi menjadi : Wajib (Fardlu) Sunnah (Mandhub) Haram (Tahrim) Makruh (Karahah) Mubah (Al-Ibahah)
  5. 5. A. Wajib Wajib merupakan suatu hal yang wajib atau harus dilakukan atas diri setiap muslim mukallaf (akil dan baligh) baik laki- laki atau perempuan. Wajib atau Fardhu ialah suatu hukum yang apabila dilakukan mendapat pahala atau balasan baik dari Allah dan jika ditinggalkan maka akan berdosa dan mendapat ganjaran siksaan di akhirat. Para ulama’ Ushul Fiqh mengemukakan bahwa hukum wajib itu bisa dibagi dari berbagai segi, yaitu dilihat dari segi waktunya, wajib dibagi menjadi dua, yaitu:
  6. 6.  Wajib Muthlaq, yaitu sesuatu yang dituntut syar’i untuk dilaksanakan oleh mukallaf tanpa ditentukan waktunya. Mislanya, kewajiban membayar kafarat sebagai hukuman bagi orang yang melanggar sumpahnya.  Wajib Muwaqqat, yaitu kewajiban yang harus dilaksanakan orang mukallaf pada waktu-waktu tertentu, seperti shalat dan puasa Ramadhan. Shalat wajib dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Demikian halnya puasa Ramadhan, sehingga apabila belum masuk waktunya, kewajiban itu belum ada.
  7. 7. Kemudian wajib Muwaqqat dibagi lagi menjadi tiga macam, yaitu :  Wajib Muwassa’ (kewajiban yang mempunyai batas waktu lapang), yaitu waktu yang tersedia untuk melaksanakan perbuatan yang diwajibkan itu lebih luas dari pada waktu mengerjakan kewajiban itu. Umpamanya, waktu shalat Dzuhur lebih luas dari pada waktu mengerjakan shalat Dzuhur.  Wajib Mudhayyaq (kewajiban yang memunyai batas waktu sempit), yaitu kewajiban yang waktunya secara khusus diperuntukkan bagi suatu amalan, dan waktunya itu tidak bisa digunakan untuk kewajiban lain yang sejenis. Maksudnya, waktu yang tersedia persis sama dengan waktu mengerjakan kewajiban itu, seperti puasa bulan Ramadhan.
  8. 8.  Wajib Dzu Asy-Syibhaini, yaitu kewajiban yang mempunyai waktu yang lapang, tetapi tidak bisa digunakan untuk melakukan amalan sejenis secara berulang-ulang. Misalnya, waktu haji itu cukup lapang dan seseorang bisa melaksankan beberapa amalan haji pada waktu itu berkali-kali, tetapi yang diperhitungkan syara’ hanya satu saja. Akan tetapi ulama’ syafi’iyyah berpendapat bahwa untuk ibadah haji, termasuk dalam wajib muthlaq, karena seseorang boleh melaksanakannya kapanpun ia mau selama hidupnya. Juga dalam pembahasan wajib Muwaqqat, ulama’ syafi’iyyah mengemukakan tentang persoalan ‘Ada’, I’adah dan Qadha .
  9. 9.  ‘Ada’ menurut Ibnu Hajib adalah melaksanakan suatu amalan untuk pertama kalinya pada waktu yang diitentukan syara’. I’adah adalah suautu amalan yang diekrjakan untuk kedua kalinya untuk waktu yang telah ditentukan, karena amalan yang dikerjakan pertama kali tidak sah atau mengandung uzur. Qadha’, adalah suatu amalan yang dikerjakan dluar waktu yang telah ditentukan dan sifatnya sebagai pengganti. Seperti puasa ramadhan tidak bisa dikerjakan oleh wanita yang haid pada bulan ramadha itu, tetapi harus menggantinya pada waktu lainnya.
  10. 10. Chaerul Uman, menjelaskan pembagian wajib dari segi waktunya menjadi dua, yaitu: wajib alal faur dan wajib alat tarakhir.  Wajib ‘Alal Faur adalah apabila telah tercapai semua syarat, wajib segera dilaksanakan tanpa menunda. Seperti, melaksanakan zakat wajib segera dikueluarkan apabila haul dan nisab sudah terpenuhi.  Wajib ‘Alat Tarakhi adalah pelaksanaan kewajiabn itu masih dapat ditunda selama syarat wajibnya tidak akan hilang dari diri orang yang diwajibkan untuk melakukan perbuatan itu. Seperti haji.
  11. 11. Wajib dilihat dari segi orang yang dibebani kewajiban hukum, dibagi menjadi dua, yaitu :  Wajib Aini, yaitu kewajiban yang dibebankan kepada setiap orang yang sudah baligh berakal (mukallaf), tanpa kecuali. Misalnya, shalat fardhu lima waktu.  Ulama’ ushul fiqh membagi hal itu menjadi tiga kategori : Pertama, yang berhubungan dengan harta, seperti kewajiban membayar zakat atau kewajiban mengembalikan titipan orang lain kepada pemiliknya. Kewajiban seperti ini disepakati pelaksanaanya bisa digantikan orang lain. Kedua, kewajiban dalam bentuk ibadah Mahdhah, seperti Shalat dan Puasa. Kewajiban seperti ini, disepakati tidak bisa digantikan oleh orang lain. Ketiga, kewajiban yang mempnyai dua dimensi, yaitu dimensi ibadah fisik dan dimensi harta. Dalam hal ini ulama’ berbeda pendapat. Ada yang berpendapat tidak sah digantikan orang lain, dan yang lainnya yaitu mayoritas ulama’ berpendapat Haji sah digantikan orang lain .
  12. 12.  Wajib kifayah yaitu perbuatan yang dapat dilaksanakan secara kolektif. Ditinjau dari segi kuantitasnya 1. Wajib Muhaddad yaitu kewajiban yang ditentukkan batas kadarnya (jumlahnya). 2. Wajib Qhairu Muhaddad yaitu kewajiban yang tidak ditentukkan batas kadarnya. Ditinjau dari segi kandungan perintah 1. Wajib Mu’ayyan yaitu suatu kewajiban yang objeknya adalah tertentu tanpa ada pilihan lain. Seperti membayar zakat. 2. Wajib Mukhayyar yaitu kewajiban yang objeknya dapat dipilih dari alternative yang ada. Seperti, membayar kafarat, boleh dengan member makan sepuluh orang miskin, atau memberi pakaian, atau memerdekakan budak.
  13. 13. B. SUNNAH Sunnah menurut bahasa yaitu “jalan yang dilalui“ ( jalan yang ditempuh ) Sunnah adalah segala yang datang dari Rasulullah SAW, baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan (testimonial ) yang bisa dijadikan dasar penetapan hukum syara’ Macam-macamnya yaitu:  Sunnah dapat dibagi menjadi beberapa macam:  Sunnah Mu’akkadah yaitu perbuatan tidak wajib yang selalu dikerjakan oleh Rasul. Seperti, shalat sunnah qobliyah dan ba’diyah yang mengiringi shalat fardhu lima waktu.  Sunnah Ghairu Mu’akkadah yaitu segala perbuatan tidak wajib kadang- kadang dikerjakan oleh rasul, kadang-kadang saja ditinggalkan. Seperti, puasa setiap hari senin dan kamis.  Sunnah al-Zawaid yaitu mengikuti kebiasaan sehari-hari Rasul sebagai manusia. Seperti, cara makan, cara tidur, dan cara berpakaian rasul .
  14. 14. C. Tahrim (haram), yakni tututan yang pasti untuk meninggalkan sesuatu, apabila dikerjakan oleh seorang mukallaf maka mendapatkan dosa, namun bila ditinggalkan mendapatkan pahala. Contohnya seperti minum khamr, berzina dan lain sebagainya. Istilah haram juga kadang menggunakan istilah Mahdzur (terlarang), Maksiat dan al-danb (berdosa) menurut para ulama’ Ushul Fiqh antara lain Abdul Karim Zaidan, membagi haram kepada beberapa macam, yaitu:  Haram Li Dzatihi, yaitu sesuatu yang diharamkan oleh syariat karena esensinya mengandung kemudharatan bagi kehidupan manusia, dan kemudharatan itu tidak dapat terpisah dari zatnya. Misalnya, larangan meminum khamr.  Haram Lighairihi, yaitu sesuatu yang dilarang bukan karena esensinya karena secara esensial tidak mengandung kemudharaatan, namun dalam kondisi tertentu sesuatu itu dilarang karena ada pertimbangan eksternal yang membawa pada sesuatu yang dilarang C. HARAM
  15. 15. arti makruh secara bahasa adalah dibenci. “Suatu ketentuan larangan yang lebih baik tidak dikerjakan dari pada dilakukan”. Atau “meninggalkannya lebih baik dari pada melakukannya“. Sebagaimana Imam Syafi’I jika mengatakan : “ saya menganggap hal ini makruh “ maksudnya adalah haram . Sikap seperti ini didasarkan kepada kehati-hatian di dalam mengistinbatkan suatu hukum, karena Allah berfirman : ََ‫ل‬ َ‫و‬َ‫وا‬ُ‫ل‬‫و‬ُ‫ق‬َ‫ت‬‫ا‬َ‫م‬ِ‫ل‬َُ‫ف‬ ِ‫ص‬َ‫ت‬َُ‫م‬ُ‫ك‬ُ‫ت‬َ‫ن‬ِ‫س‬‫ل‬َ‫أ‬ََ‫ِب‬‫ذ‬َ‫ك‬‫ال‬‫ا‬َ‫ذ‬‫َـ‬‫ه‬َ‫ل‬َ‫ال‬َ‫ح‬‫ا‬َ‫ذ‬‫َـ‬‫ه‬ َ‫و‬ََ‫ح‬َ‫ام‬ َ‫ر‬َ‫وا‬ُ‫ر‬َ‫ت‬‫ف‬َ‫ت‬ِ‫ل‬‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬َِ‫الل‬ََ‫ِب‬‫ذ‬َ‫ك‬‫ال‬َ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ال‬ََ‫ِين‬‫ذ‬ََ‫ون‬ُ‫ر‬َ‫ت‬‫ف‬َ‫ي‬‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬َِ‫الل‬ ََ‫ِب‬‫ذ‬َ‫ك‬‫ال‬ََ‫ل‬ََ‫ون‬ُ‫ح‬ِ‫ل‬‫ف‬ُ‫ي‬ “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada- adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” ( QS An Nahl : 116 ) D. MAKRUH
  16. 16. macam-macamnya yaitu:  Makruh Tanzih ialah perbuatan yang terlarang bila ditinggalkan akan diberi pahala tetapi bila dilakukan tidak berdosa dan tidak dikenakan siksa. Seperti memakan daging kuda dan meminum susunya dikala sangat butuh diwaktu peperangan.  Makruh Tahrim ialah perbuatan yang dilakukan namun dasar hukukmnya tidak pasti. Seperti, larangan mengkhitbah wanita yang sedang dalam khitbahan orang lain .
  17. 17. Pembagian mubah menurut Abu Ishaq Asy-Syatibi dalam kitabnya al-Muwafaqat membagi Mubah kepada tiga macam, yaitu:  Mubah yang berfungsi mengantarkan seseorang pada sesuatu hal yang wajib dilakukan. Misalnya, makan dan minum merupakan suatu hal yang mubah, namun berfungsi mengantarkan seseorang sampai ia mampu mengerjakan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan kepadanya. Seperti, shalat. Demikian Abu Ishaq Asy- Syatibi dalam menjelaskan, hanya dianggap mubah dalam hal memilih makanan halal mana yang akan dimakan. E. IBAHAH
  18. 18.  Akan tetapi seseorang tidak diberi kebebasan untuk memilih antara makan atau tidak, karena meninggalkan makan samasekali dalam hal ini akan membahayakan dirinya.  Sesuatu baru dianggap Mubah hukumnya bilamana dilakukan sekali-kali, tetapi haram hukumnya bila dilakukan setiap waktu. Seperti, bermain atau mendengarkan nyanyian hukumnya adalah mubah bila dilakukan sekali-kali, tetapi haram hukumnya menghabiskan waktu hanya untuk bermain atau mendengarkan nyanyian.  Sesuatu yang mubah yang berfungsi sebagai sarana untuk mencapai sesuatu yang mubah pula. Mislanya, membeli perabot rumah tangga hanya untuk kepentingan kesenangan (tersier) .
  19. 19.  Mubah bisa diketahui dengan tiga cara :  1/ Ada nash dari syara’ yang menyebutkan bahwa hal itu tidak dosa, jika dikerjakan. Sebagaimana firman Allah :  ubah bisa diketahui dengan tiga cara :  1/ Ada nash dari syara’ yang menyebutkan bahwa hal itu tidak dosa, jika dikerjakan. Sebagaimana firman Allah : ََ‫ن‬‫ك‬َ‫َأ‬‫و‬َ‫اءَأ‬َ‫س‬ِ‫َالن‬ِ‫ة‬َ‫ب‬‫ط‬ ِ‫َخ‬‫ن‬ِ‫َم‬ِ‫ه‬ِ‫ب‬َ‫م‬ُ‫ت‬‫ض‬‫ر‬َ‫ع‬َ‫ا‬َ‫م‬‫ي‬ِ‫ف‬َ‫م‬ُ‫ك‬‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ََ‫ح‬‫َا‬‫ن‬ُ‫ج‬ََ‫ل‬ َ‫و‬َ‫م‬ُ‫ك‬ِ‫س‬ُ‫ف‬‫ف‬َ‫َأ‬ ِ‫ف‬َ‫م‬ُ‫ت‬‫ن‬  Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu ( QS Al Baqarah : 231 ) .  2/ Tidak disebutkan larangan di dalam syara’. Ini menunjukkan bahwa sesuatu tersebut mubah, dalilnya adalah kaedah « al- baroah al ashliyah « ( pada asalnya segala sesuatu itu halal, seperti hukum merekam tilawah Al Qur’an dan pengajian dengan tape, USB, atau handycam, dakwah lewat internet dsb.
  20. 20.  3/ Ada nash yang menyebutkan bahwa hal tersebut adalah mubah, atau halal. َِ‫ل‬َ‫ن‬ُ‫ه‬َ‫م‬ُ‫ك‬ِ‫ئ‬‫آ‬َ‫س‬ِ‫ف‬َ‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬َُ‫ث‬َ‫ف‬‫َالر‬ِ‫ام‬َ‫ي‬ ِ‫َالص‬َ‫ة‬َ‫ل‬‫ي‬َ‫ل‬َ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬َ‫ل‬ ِ‫ح‬ُ‫أ‬َ‫ن‬ُ‫ه‬‫َل‬‫اس‬َ‫ب‬ِ‫ل‬َ‫م‬ُ‫ت‬‫ف‬َ‫أ‬ َ‫َو‬‫م‬ُ‫ك‬‫َل‬‫اس‬َ‫ب‬  “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” ( QS Al Baqarah : 187 )  Yang perlu digaris bahwahi disni bahwa sesuatu yang mubah, jika ditinjau hakikatnya , bukanlah sesuatu yang dibebankan kepada mukallaf, artinya mubah bukanlah sesuatu yang harus dikerjakan, atau sesuatu yang wajib.
  21. 21. ` Demikian macam-macam hukum Taklifi serta pembagiannya menurut mayoritas Fuqahah’. Namun demikian, sebagai bandingan saja, kami sampaikan bentuk-bentuk hukum taklifi menurut ulama’ Hanafiyah sebagai berikut:  1. Iftiradh.  2. Ijab.  3. Ibahah.  4. Karahah Tanziyyah.  5. Karahah Tahrimiyyah.  6. Tahrim. KESIMPULAN

×