Skripsi lengkap

10,288 views

Published on

0 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
10,288
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
173
Comments
0
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Skripsi lengkap

  1. 1. PENGARUH KOMBINASI PENYUNTIKAN OVAPRIMDAN PROSTAGLANDIN F2 α (PGF2 α) TERHADAPFERTILITAS, DAYA TETAS DAN KELULUSHIDUPANLARVA IKAN SELAIS (Ompok hypopthalmus)OLEHHADRA FI AHLINAFAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTANUNIVERSITAS RIAUPEKANBARU2011
  2. 2. PENGARUH KOMBINASI PENYUNTIKAN OVAPRIMDAN PROSTAGLANDIN F2 α (PGF2 α) TERHADAPFERTILITAS, DAYA TETAS DAN KELULUSHIDUPANLARVA IKAN SELAIS (Ompok hypopthalmus)SKRIPSIDALAM BIDANG BUDIDAYA PERAIRANDiajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menempuh Gelar SarjanaPada Fakultas Perikanan dan Ilmu KelautanUniversitas RiauOLEHHADRA FI AHLINATim Penguji:1. Prof. Dr. Ir. Sukendi, MS2. Ir. Hamdan Alawi, M.Sc3. Ir. Nuraini, MS4. Dr. Ir. Netti Aryani, MS5. Ir. Ridwan Manda Putra, M.SiFAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTANUNIVERSITAS RIAUPEKANBARU2011
  3. 3. LEMBARAN PENGESAHAN SKRIPSIJUDUL PENELITIAN : PENGARUH KOMBINASI PENYUNTIKANOVAPRIM DAN PROSTAGLANDIN F2 α(PGF2 α) TERHADAP FERTILITAS, DAYATETAS DAN KELULUSHIDUPAN LARVAIKAN SELAIS (Ompok hypopthalmus)NAMA MAHASISWA : HADRA FI AHLINANOMOR MAHASISWA : 0604113469JURUSAN : BUDIDAYA PERAIRANFAKULTAS : PERIKANAN DAN ILMU KELAUTANDISETUJUI OLEHDekan, Dosen Pembimbing I,Prof. Dr. Bustari Hasan, M. Sc Prof. Dr. Ir. Sukendi, MSNIP. 195910241986031004 NIP.196210131989031001Dosen Pembimbing II,Ir. Hamdan Alawi, M.ScNIP.195510201982111001Tanggal Lulus Ujian: 25 Juli 2011KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONALUNIVERSITAS RIAUFAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTANJURUSAN BUDIDAYA PERAIRANJl. Bina Widya KM 12,5 Pekanbaru Telp. (0761) 63274, 63275 Fax. (0761) 63275
  4. 4. RIWAYAT HIDUPHADRA FI AHLINA, anak kedua dari enam bersaudaraini adalah putri kandung dari pasangan bapak Drs. M. HusniThamrin dan ibu Rahmawati, S.Pd. Lahir di Air Tiris padatanggal 26 September 1987. Dan saat ini penulis dankeluarga menetap di Pekanbaru. Penulis lahir dandibesarkan ditengah lingkungan keluarga yang menomorsatukan agama danpendidikan, berikut riwayat pendidikan penulis:Tahun 1994 – 2000 : SD Negeri 005 Bukit Raya (kelas 1-5)SD Negeri 034 Tenayan Raya (kelas 6).Tahun 2000 – 2003 : SLTP Negeri 09 Tenayan RayaTahun 2003 – 2006 : SUPM Internasional Prov. Riau di DumaiKelas I PKL di BBAT Rumbai selama 1 bulan.Kelas II PKL di BBAT Sukabumi (2 bulan) dan BBPBAP Jepara (2 bulan).Kelas III PKL di Balai Budidaya Udang Vannamei Banyuwangi selama 3bulan.Tahun 2006 – 2011 : Melalui (SPMB) diterima di Jur. BDP FAPERIKA UNRI.Melakukan Praktek Umum di Desa Kandangan Kec. Pematang Bandar Kab.Simalungun Prov. Sumut pada September 2009 dengan nilai SangatMemuaskan.Melakukan KUKERTA di Desa Pulau Padang Kec. Singingi Kab. KuantanSingingi Prov. Riau dari Juni - Agustus 2009 dengan nilai SangatMemuaskan.Melakukan Penelitian dengan judul Pengaruh Kombinasi PenyuntikanOvaprim dan PGF2a terhadap Fertilitas, Daya Tetas dan KelulushidupanLarva Ikan Selais (Ompok hypopthalmus) tahun 2010 dan dinyatakan LULUSpada tahun 2011 dengan predikat nilai Sangat Memuaskan.
  5. 5. THE EFFECT OF COMBINATION OF OVAPRIM ANDPROSTAGLANDIN F2 α (PG F2 α) ON FERTILIZATION RATE,HATCHING RATE AND SURVIVAL RATE OF Ompok hypopthalmusByHadra Fi Ahlina1, Sukendi2, and Hamdan Alawi2AbstractThe aims of the research was to study the effect of Combination ofOvaprim and Prostaglandin F2 α on fertilization rate, hatching rate and survivalrate of Ompok hypopthalmus. In this experiment, the treatments were applied as :P1= 50% Ovaprim + 50% PGF2 α (0,45 ml Ovaprim + 1250 µg PGF2 α/kg ofbody weight), P2 = 75% Ovaprim + 25% PGF2 α (0,67 ml Ovaprim + 625 µgPGF2 α/kg of body weight), P3= 25% Ovaprim + 75% PGF2 α (0,22 ml Ovaprim+ 1875 µg PGF2 α/kg of body weight), P4 = 100% PGF2 α (2500µg PGF2 α/kg ofbody weight), dan P5 = 100% Ovaprim/kg (0,9 ml Ovaprim/kg of body weight).Ovaprim and prostaglandin injection were significantly affect thefertilization rate, hatching rate and survival rate of the fish. The best result wasobtained from treatment P2 fertilization rate of (75,33 %) hatching rate (76,03 %)and survival rate (52,76 %).Keywords: Ovaprim, Prostaglandin F2 α, Ompok hypopthalmus, Fertilization rate,hatching rate, Survival Rate1Student of Faculty of Fishery and Merine Science, Riau University2Lecture of Faculty of Fishery and Merine Science, Riau University
  6. 6. RINGKASANHADRA FI AHLINA (0604113469) Pengaruh Kombinasi PenyuntikanOvaprim dan Prostaglandin F2α (PGF2 α) Terhadap Fertilitas, Daya Tetasdan Kelulushidupan Larva Ikan Selais (Ompok hypopthalmus) DibawahBimbingan Prof. Dr. Ir. Sukendi, MS dan Ir. Hamdan Alawi, M.Sc.Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2010 – Maret 2011, diLaboratorium Pembenihan dan Pemuliaan Ikan Fakultas Perikanan dan IlmuKelautan Universitas Riau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhkombinasi penyuntikan ovaprim dan PGF2 α terhadap fertilitas, daya tetas dankelulushidupan larva ikan Selais (Ompok hypopthalmus).Ikan uji yang digunakan adalah induk ikan Selais yang beratnya berkisar45-50 gram dengan jumlah keseluruhan 15 ekor betina dan 10 ekor jantan yangberasal dari langgam. Induk ikan tersebut dipelihara dikolam percobaan sebelumdilakukan penyuntikan. Hormon yang digunakan adalah ovaprim danprostaglandin F2 α.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodeeksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuandan 3 kali ulangan. P1: 50% ovaprim + 50 % PGF2 α (0,45 ml ovaprim + 1250 µgPGF2 α/kg bobot tubuh), P2: 75% ovaprim + 25 % PGF2 α (0,67 ml ovaprim +625 µg PGF2 α/kg bobot tubuh), P3: 25% ovaprim + 75 % PGF2 α (0,22 mlovaprim + 1875 µg PGF2 α/kg bobot tubuh), P4: 100% PGF2 α (2500 µg PGF2α/kg bobot tubuh) dan P5: 100% Ovaprim (0,9 ml ovaprim/kg bobot tubuh).Hasil penelitian yang diperoleh bahwa kombinasi penyuntikan ovaprimdan PGF2 α diperoleh perlakuan terbaik pada perlakuan P2 dengan kombinasi
  7. 7. penyuntikan 75% ovaprim + 25 % PGF2 α (0,67ml ovaprim + 625 µg PGF2 α/kgbobot tubuh) menghasilkan tingkat pembuahan 75,33 %, tingkat penetasan 76,03% dan kelulushidupan 52,76 % dibandingkan dengan P5 yakni kombinasipenyuntikan 100 % ovaprim yang menghasilkan tingkat pembuahan 72,69 %,tingkat penetasan 71,05 % dan kelulushidupan 40,12 %.Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian adalah suhu berkisarantara 27 - 280C, pH 6 -7.
  8. 8. Barang siapa yang hari ini seperti kemarin, sesungguhnya iamerugi. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari harikemarin, sesungguhnya ia celaka. Barang siapa yang hari inilebih baik daripada hari kemarin, maka dia adalah orang yangberuntung. Siapa merintis jalan mencari ilmu, Allahmemudahkan jalannya ke Surga (HR. Muslim)Hidup akan sangat berarti ketika ilmu terus bertambah dariwaktu ke waktu. Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim.(HR. Ibnu Majah)Karena perintah-Mu ya Allah… Hamba ingin menjadikanhidup ini lebih berarti. Berkat rahmat dan izin dari-Mu hambadapatkan kesempatan ini. Sujud syukur hamba pada-Mu yaAllah… ya Rahman… ya Rahim…Dengan mengucapkan Basmalah seraya penuh harap akantercurahnya nikmat dan hidayah dari Allah SWT, kupersembahkan tulisan ini sebagai ucapan terimakasihku untukAyahanda Tercinta (Drs. M. Husni Thamrin) danIbunda Tercinta (Rahmawati, S.Pd), harapan yang telahAyah Ibu gantungkan perlahan menjadi kenyataan, atas restudan untaian do’a yang panjang melambung, menerangi setiapjejak langkah kakiku. Dan kini aku datang bersama satukemenangan, buah peluh kerap kau curahkan dengansimbahan air mata diantara lafaz Allahuakbar dikala sujudbersama tasbih, tahmid dan tahlil.Untukmu, kemenangan dari semua itu…Your Lovely: ‘Na
  9. 9. KATA PENGANTARAlhamdulillahirobbil‟alamin, puji syukur penulis haturkan sebagai tandaterimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan, kesehatanjasmani dan rohani, serta semangat yang tiada tara, sehingga penulis dapatmenyelesaikan studi yang berakhir dengan pembuktian didepan tim penguji.Semoga dengan ini penulis bisa lebih semangat untuk mengejar impian dan cita-cita kelak. Amin.Skripsi ini membahas tentang Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Ovaprimdan Prostaglandin F2a, untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh dilakukanpenelitian dan pengamatan pada ikan Selais melalui tingkat pembuahan, tingkatpenetasan serta kelulushidupan larva Ikan Selais (Ompok hypopthalmus).Keliru besar bila saya tidak mengucapkan terimakasih pada banyak orangyang telah membantu melewati proses panjang lahirnya skripsi ini:1. Bapak Prof. Dr. Ir. Bustari Hasan, M.Sc selaku Dekan Fakultas Perikanandan Ilmu Kelautan Universitas Riau beserta staf.2. Bapak Ir. Mulyadi, M.Phil selaku Ketua Jurusan Budidaya Perairanbeserta staf.3. Bapak Prof. Dr. Ir. Sukendi, MS dan Bapak Ir. Hamdan Alawi, M.Sc yangtelah membimbing dengan jenius, memotifasi dan mengarahkan ke arahyang terbaik.4. Tim penguji yang telah memberikan kritik dan saran yang membangunagar skripsi ini layak dijadikan pedoman untuk penelitian-penelitianberikutnya.5. Bapak Prof. Dr. Ir. Syafriadiman, M.Sc selaku Penasehat Akademik yangtelah memberikan pelajaran-pelajaran berharga.6. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda Drs. M. Husni Thamrin dan IbundaRahmawati, S.Pd yang selama ini menjadi kekuatan hati, entahbagaimana „Na bisa melakukannya tanpa nasehat bijak ayah danpenghiburan ibu dikala sedih. Terimakasih yang tak terhingga atas usahadan do‟a ayah ibu…
  10. 10. 7. Buat keluarga tersayang, kakak ku Hadra Fi Magfirah. S.Sos dan bg.Ilham Hidayatullah, ST… terimakasih, walopun motivasi yang diberikangag sesuai dengan yang diharapkan…  dan makasih jugag atas kasihsayang yang telah dicurahkan kepada adikmu ini… semoga „Na bisa jaditeladan buatt yang lainn… Sii Kembar Hadra Fi Kharisma dan AnugrahGanda Putra, cepad2lah sarjana, waktunya qta bahagiakan ibu danayah… Anugrah Firasat Putra‟n Anugrah Qodrat Ramadhan Putra,belajar yang rajinn iaa sayangg… karena, tak mudah untuk menjadikandiri kita ini untuk sedikit lebih diperhatikan oleh orang lain…8. Terimaksih „Na untuk keluarga besar RFC… semoga selalu berada dalamlindungan Allah SWT, amin… rasanya ada yang mengganjal dihati bila„Na gag ngucappiinn terimakasih kepada mereka semua, terutama untukNenek tercinta Hj. Rafi’ah yang selalu mengingatkan „Na untuk lebihjrajin sholat, lebih rajin makan, lebih rajin belajar, dan banyak-banyakberdo‟a supaya kelak apa yang diinginkan dapat tercapaii…   9. Teman-teman seperjuangan yang sejak 8 tahun lalu bersama… berawaldari MPK, kita saling tau dan saling menyatu, keluarga kecilku AlumniSUPM yang sampai saat ini masih melangkah bersama menggapai cita-cita… Lisa, Rita, Eka, Yani, Lidya, Zuhdi, semoga kita masih tetapdiberi kesempatan untuk sama-sama berjuang meraih apa yang ingin kitaraih… juga bwad Iing, Dewe „n Nana, tetap semangat iaa… ^_^ jugabwad junior ku yang baik, kadir „n yongki, makassii… Juga bwad 2sahabat terbaik sejak eSDe hingga saat ini, Sylvia Novianty, S.Pd danCitra Riana, makassii yaa sayyaaanggg, atas penghiburannya dikalakeBeTean menyerangg…  semoga persahabatan ini berjalan hinggaselamanyaa…10. Dan „Na jugag bersyukur berada dilingkaran orang-orang hebat ini, teman-teman seangkatan BDP ’06 yang selalu memberikan senyuman tulus sertamenyalurkan semangat belajarnya, sungguh beruntung “Hadra”menemukan Xan disini… Fatima, Ariev, Syafriel, Wahyu, Haviz,Ajenk, Nuri, Elda, Werlyn, Amran „n Destriman, terimakasih udahbwad hari-hari Hadra jadi lebih berwarna dari pada gambar anak TK…
  11. 11. teman-teman se Lab, Fikri, Hardy, Adiet, Mahfudh, Rodhie, Heru „nNetti, terimakasih atas kebersamaan kita yang singkat inii, walau singkattapi cukup berkesan untuk di kenang… Xan adalah teman terhebatsepanjang masa… wish u all the best…11. Terimakasih juga untuk Mass Herrii yang terlalu banyak sekali membantumulai dari awal penelitian hingga dalam penyusunan skripsi ini, juga bwadabg-abg yang selalu bisa menghibur disaat „dra mulai jenuh denganpenelitiann yang gag kunjung selesaii. Bg.Donii, Bg.Riri, Bg.Dodot,Bg.Deni, Bg.Ridwan, Yudhis dan Oka… Makkassiiii… Juga bwadBg.Dahir, Bg.Aleq, Bg,Aal, Kaq Eni untuk info dan kerjasamanyaa…makassii iaa…12. Dan ucapan terimakasih terhangatku tercipta untuk someone special, Mr. Jyang rela dijadikan tempat pelampiasan emosi sesaat ku, yang luar biasatabah dalam menjalani proses lama yang menyiksa ini, orang lain mungkinsudah membiarkan aku terhempas sendiri, tapi dya… Terimakasih telahmempertahankan aku Mr… walopun akhirnya qta tetap pada koridormasing-masing… tappii percayalah, semua TIDAK sia-sia… ada hasil danhikmah yang dapat qta ambil dari semua itu…Akhirnya proses panjang yang menyiksa ini selesai sudah… semogaskripsi ini dapat bermanfaat untukku dan bagi semua orang… Amin yaarobbal‟alamin.Wassalamu‟alaikumwarahmatullahiwabarakatuh.Pekanbaru, Juli 2011Hadra Fi Ahlina, S.Pi
  12. 12. DAFTAR ISIIsi HalamanDAFTAR TABEL ......................................................................................... iDAFTAR GAMBAR..................................................................................... iiiDAFTAR LAMPIRAN................................................................................. ivI. PENDAHULUAN .................................................................................. 11.1. Latar Belakang ................................................................................ 11.2. Perumusan Masalah ........................................................................ 31.3. Tujuan dan Manfaat ........................................................................ 31.4. Hipotesis Penelitian......................................................................... 4II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 52.1. Biologi Ikan Selais (Ompok hypopthalmus)..................................... 52.2. Pemijahan Buatan............................................................................. 62.3. Ovaprim............................................................................................ 72.4. Prostaglandin F2 α............................................................................. 82.5. Fertilisasi dan Penetasan .................................................................. 92.6. Kualitas Air....................................................................................... 11III. BAHAN DAN METODE ..................................................................... 133.1. Waktu dan Tempat............................................................................ 133.2. Bahan dan Alat ................................................................................. 133.2.1. Ikan Uji .................................................................................. 133.2.2. Hormon .................................................................................. 133.2.3. Wadah Peralatan..................................................................... 133.2.4. Air dan Pengukuran Kualitas Air........................................... 143.3..Metode Penelitian............................................................................. 143.3.1. Rancangan Percobaan ............................................................ 143.3.2. Peubah yang diukur................................................................ 163.3.3. Asumsi ................................................................................... 173.3.4. Analisa Data........................................................................... 173.4..Prosedur Penelitian........................................................................... 173.4.1. Persiapan Wadah ................................................................... 173.4.2. Persiapan Ikan Uji ................................................................. 183.4.3. Penyuntikan dan Pengurutan ................................................. 183.4.4. Fertilisasi dan Penetasan Telur.............................................. 203.4.5. Pengelolaan Kualitas Air....................................................... 21
  13. 13. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................................. 224.1. Hasil .................................................................................. 224.1.1. Tingkat Pembuahan, Penetasan dan Kelulushidupan............ 224.1.2. Kualitas Air............................................................................ 244.2. Pembahasan .................................................................................. 254.2.1. Fertilitas................................................................................. 254.2.2. Daya Tetas ............................................................................. 284.2.3. Kelulushidupan Larva............................................................ 304.2.4. Kualitas Air............................................................................ 31V. KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................. 325.1. Kesimpulan .................................................................................. 325.2. Saran .................................................................................. 32DAFTAR PUSTAKALAMPIRAN
  14. 14. DAFTAR TABELTabel Halaman1. Perlakuan yang akan diberikan .............................................................. 152. Nilai Fertilitas, Daya Tetas an Kelulushidupan Larva Ikan Selais (%) . 223. Parameter Kualitas Air selama Penelitian ............................................. 25
  15. 15. DAFTAR GAMBARGambar Halaman1. Ikan Selais (Ompok hypopthalmus)........................................................ 52. Penyuntikan Induk Betina Ikan Selais (Ompok hypopthalmus) ............. 193. Stripping / Pengurutan Induk Betina Ikan Selais (Ompokhypopthalmus)......................................................................................... 194. Pencampuran Sel Sperma dan Sel Telur................................................. 205. Histogram Tingkat Fertilitas, Daya Tetas dan Kelulushidupan LarvaIkan Selais............................................................................................... 236. Pembuahan Telur Ikan Selais (Ompok hypopthalmus)........................... 257. Penetasan Telur Ikan Selais (Ompok hypopthalmus) ............................. 28
  16. 16. DAFTAR LAMPIRANLampiran Halaman1. Dokumentasi Penelitian.......................................................................... 372. Tabel Data Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Ovaprim dan PGF2 αTerhadap Fertilitas Telur Ikan Selais (Ompok hypopthalmus)............... 413. Tabel Analisis Variansi (Anava) satu arah (one way) KombinasiPenyuntikan Ovaprim dan PGF2 α Terhadap Fertilitas Telur IkanSelais (Ompok hypopthalmus)................................................................. 424. Tabel Data Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Ovaprim dan PGF2 αTerhadap Daya Tetas Telur Ikan Selais (Ompok hypopthalmus). .......... 435. Tabel Analisis Variansi (Anava) satu arah (one way) KombinasiPenyuntikan Ovaprim dan PGF2 α Terhadap Daya Tetas Telur IkanSelais (Ompok hypopthalmus)................................................................. 446. Tabel Data Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Ovaprim dan PGF2α Terhadap Kelulushidupan Larva Ikan Selais (Ompokhypopthalmus)......................................................................................... 457. Analis Variansi (Anava) satu arah (one way) Kombinasipenyuntikan Ovaprim dan PGF2 α terhadap KelulushidupanLarva Ikan Selais (Ompok hypopthalmus).............................................. 46
  17. 17. I. PENDAHULUAN1.1. Latar BelakangIkan selais (Ompok hypopthalmus) merupakan salah satu jenis ikan yangbanyak dijumpai di perairan sungai yang ada di Propinsi Riau. Tingginya nilaiekonomis ikan selais dan rasa dagingnya yang disukai oleh masyarakat, telahmenggolongkan ikan ini kedalam jajaran ikan-ikan air tawar kelas satu.Sebagaimana telah dikemukakan oleh Pulungan et al. (1985) bahwa ikan selaistergolong sebagai jenis ikan air tawar yang bernilai ekonomis tinggi khususnya diRiau. Akan tetapi persediaannya di alam sangatlah terbatas, hal ini disebabkankarena ikan selais yang ada merupakan hasil tangkapan nelayan dari alam.Kelestarian ikan selais di alam perlu dijaga, namun kebutuhan masyarakatterhadap ikan ini perlu pula dipenuhi. Salah satu cara yang dapat dilakukan agarkebutuhan masyarakat tehadap ikan terpenuhi dan kelestariannya dialam tetapterjaga dengan mencoba melakukan pembenihan ikan melalui pemijahan buatan.Pemijahan buatan pada umumnya ditujukan pada spesies ikan yangmengalami kesulitan untuk berkembang biak dengan sempurna pada lingkunganbuatan. Selain itu juga bertujuan untuk memperoleh benih ikan diluar musimpemijahan.Secara umum untuk meningkatkan produksi benih ikan selais dapatdilakukan pemijahan buatan dengan menggunakan hormon, baik hormon sintesismaupun hormon yang diekstrak dari hipofisa. Hormon atau zat perangsang yangdapat digunakan untuk merangsang ovulasi pada ikan adalah (1) Antitestosteron,(2) Gonadotropin Releasing Hormon (GnRH), (3) Dopamin Antagonis, (4)Gonadotropin, (5) Steroid dan (6) Prostaglandin (Hoar et al, 1983 dalam Sukendi,2006).
  18. 18. Penggunaan hormon sintetis sebagai pengganti kelenjar hipofisa untukpemijahan sudah banyak dilakukan. Dalam hal ini penggunaan hormon sintetismempunyai beberapa keuntungan yaitu: 1. Selalu tersedia dalam kemasan mantapdan terukur, 2. Tersimpan dengan baik dan aman, 3. Mencegah pembunuhan ikansebagai donor, 4. Mengurangi proses koleksi (penggerusan dalam penggunaanhipofisa ikan), 5. Biaya, waktu dan tempat dapat lebih hemat (Ernawati, 1990).Oleh karena itu penelitian tentang pemberian rangsangan hormonal terhadap jenis-jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi sangat perlu dilakukan untukmemperoleh benih yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.Salah satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan produksi benih ikanselais yang semakin menurun adalah dengan memberikan rangsangan hormonalyakni ovaprim dan prostaglandin F2 α. Ovaprim dan prostaglandin F2 α (PGF2 α)merupakan hormon yang apabila dilihat dari fisilogis dalam proses reproduksipada ikan saling bekerjasama dalam memacu terjadinya ovulasi dan pemijahanpada ikan. Menurut Natalia (2011), ovaprim dapat memberikan daya rangsangpemijahan lebih tinggi, menghasilkan waktu laten yang lebih singkat terhadapikan selais. Sedangkan menurut Sukendi (2001), ovaprim dan prostaglandin dapatmerangsang pembuahan, penetasan dan menghasilkan kelulushidupan yang tinggipada ikan baung. Oleh karena itu perlu juga dilakukan untuk mengetahui perananovaprim dan prostaglandin F2 α (PGF2 α) terhadap keberhasilan pembuahan danpenetasan ikan selais. Berdasarkan hal tersebut penulis melakukan penelitian inimelalui teknik pemijahan buatan.
  19. 19. 1.2. Perumusan MasalahPenggunaan ovaprim secara tunggal maupun kombinasi denganprostaglandin F2 α (PGF2 α) pada dosis yang tepat sangat menentukankeberhasilan dalam pemijahan buatan. Ovaprim adalah campuran analog salmonGonadotropin Releasing Hormon (sGnRH-a) dan anti dopamine. Dalam prosesreproduksi pada ikan GnRH-a berperan merangsang hipofisa untuk melepaskanGonadotropin Hormon, pada kondisi alamiah sekresi gonadotropin dihambat olehdopamine dan bila dopamine dihalangi oleh antagonisnya maka peranan dopamineakan terhenti sehingga sekresi gonadotropin akan semakin meningkat yangselanjutnya disekresikan kedalam darah dan merangsang pematangan gonad.Sedangkan PGF2 α berperan untuk merangsang pecahnya folikel dan pengeluaranoosit yang telah matang pada ikan betina dan pada ikan jantan berperan untukmengeluarkan seluruh sel-sel spermatozoa yang terdapat didalam tubulussemeniferi testis.Dalam hal ini, masalah yang sangat terlihat dalam memproduksi benihikan selais selain pemilihan induk yang baik, ketelitian pada saat penyuntikan,suhu serta kualitas air, dosis hormon yang disuntikkan juga harus tepat.Berdasarkan hal tersebut, maka pemijahan buatan dalam penelitian ini dilakukandengan menggunakan kombinasi Ovaprim dan Prostaglandin (PGF2 α).1.3. Tujuan dan ManfaatPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasipenyuntikan ovaprim dan PGF2 α terhadap fertilitas, daya tetas dankelulushidupan larva ikan Selais (Ompok hypophthalmus).Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi tentangkombinasi penyuntikan ovaprim dan PGF2 α terbaik untuk menghasilkan nilai
  20. 20. fertilitas, daya tetas dan kelulushidupan ikan Selais (Ompok hypophthalmus)dalam usaha pembenihan.1.4. Hipotesis PenelitianHipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada pengaruhkombinasi penyuntikan ovaprim dan PGF2 α terhadap fertilitas, daya tetas dankelulushidupan larva ikan selais (Ompok hypophthalmus).
  21. 21. II. TINJAUAN PUSTAKA2.1. Biologi Ikan Selais (Ompok hypopthalmus)Gambar 1: Ikan Selais (Ompok hypopthalmus)Ikan selais termasuk dalam family Siluridae, sub ordo Siluroidea, ordoOstariophysi, genus Ompok dan spesies Ompok hypopthalmus (Saanin, 1984).Ikan selais (Ompok hypopthalmus) mempunyai ciri-ciri bentuk tubuh sebagaiberikut: memiliki 10 – 11 tulang tambahan tutup insang, sirip anus 72 – 88, siripekor bercagak, bagian atas sedikit lebih panjang dari pada bagian bawah. Siripperut pendek, sirip dada jauh lebih panjang dari pada kepala, sirip punggungtereduksi, sungut rahang atas hampir mencapai sirip dubur, propel punggungmencembung seperti propel tengkuknya, gigi pada tulang mata bajak satu tumpuk.Berisirip perut 6 – 14, sirip dubur sangat panjang dan berakhir dekat sirip ekor.Mata besar, warna agak gelap, daerah penyebarannya adalah di Sumatera,Malaysia, Indocina (Kottelat et al, 1993).
  22. 22. Pulungan et al, (1985) ikan selais termasuk ikan air tawar yang tergolongfamily Siluridae. Jenis ikan ini sudah dikenal oleh sebagian masyarakat terutamasekali masyarakat yang berada di kawasan Sunda, akan tetapi nama yangdiberikan terhadap ikan selais ini sesuai dengan daerah asal dimana ikan ini didapat. Jenis ikan famili Siluridae pada umumnya berada pada perairan sungaimaupun danau serta danau yang berukuran kecil, dan ikan ini juga senangbersembunyi di sela-sela tanaman air di tempat hidupnya. Ikan selais juga banyakditemukan di aliran sungai dan anak sungai yang airnya jernih dan dasarnyaberpasir campur batu-batuan ukuran kecil, kecerahan air berkisar 44 – 75 cm,suhu berkisar 26 – 290C dan nilai derajat keasamannya berkisar antara 5 – 6.Ikan selais tergolong sebagai ikan karnivora, tetapi tidak tergolong sebagaiikan dasar. Hal ini sesuai dengan bentuk tubuhnya yang pipih memanjang dantidak mempunyai sisik dan ikan ini lebih senang bergerombolan daripada sendiri-sendiri dalam perairan (Pulungan et al, 1985).Nuraini (2004) menyatakan bahwa ciri-ciri seksual sekunder pada ikanselais jantan yaitu bentuk kepala melebar, lubang pelepasan (papilla genital)lancip, warna punggung cerah. Sedangkan ciri-ciri seksual sekunder dari selaisbetina adalah bentuk ujung kepala agak membulat dan lubang pelepasan tumpul.Induk ikan selais betina yang telah matang gonad dapat dilihat dari bentukperutnya yang relatif membesar dan permukaan kulitnya sangat lembut atau dapatjuga dengan melihat lubang genitalnya berwarna kemerahan, maka induk dalamkondisi siap memijah. Sedangkan untuk ikan selais jantan kematangan gonadnyadapat diketahui dengan mengurut sedikit perutnya, bila keluar cairan berwarnaputih susu maka induk jantan siap untuk dipijahkan.
  23. 23. 2.2. Pemijahan BuatanPemijahan buatan dilakukan dengan cara penyuntikan ekstrak kelenjarhipofisa ikan terhadap ikan lain yang ingin dipijahkan. Teknik ini telah dikenalsejak Houssey pada tahun 1931, yang selanjutnya dikembangkan oleh Von Heringdi Brazilia dan dikenal dengan istilah hipofisasi (Matty, 1985). Hipofisasi adalahteknik yang dipakai untuk merangsang ikan yang matang kelamin untuk memijahatau ovulasi dengan suntikan ekstrak kelenjar hipofisa (Hardjamulia danAtmawinata, 1980). Namun menurut Hardjamulia (1975) teknik hipofisasimemiliki beberapa kelemahan, antara lain: (1) hilangnya ikan donor karenadiambil hipofisanya, (2) standarisasi ekstrak kelenjar hipofisa ikan sebagai bahansuntikan untuk induksi ovulasi atau pematangan gonad pada ikan sukar dilakukan,(3) tidak diketahui dengan pasti hormone mana yang sebenarnya berpotensi untukovulasi dan kematangan gonad dan (4) penyakit dapat menular dengan mudah dariikan donor ke ikan resipien.Dalam pemijahan buatan lebih sering digunakan hormon sintetis daripadaekstrak hipofisa, kelebihan penggunaan hormone sintetis antara lain : (1) selalutersedia dalam kemasan yang mantap dan terukur; (2) tersimpan dengan baik danaman, perubahannya apat diusahakan seminimal mungkin; (3) uniform danuniversal; (4) mencegah pembunuhan ikan sebagai donor; (5) mengurangi proseskoleksi dan (6) biaya, waktu dan tenaga dapat lebih dihemat.2.3. OvaprimOvaprim adalah kombinasi dari analog salmon gonadotropin RealesingHormone (sGnRH-a) dengan anti dopamine. Setiap 1 ml ovaprim mengandung 20µg sGnRH-a (D-Arg6, Trp7, Leu8, Pro9-NET)- LHRH dan 10 mg anti dopamine(Nandeesha et al., 1990 dan Harker, 1992 dalam Sukendi, 2001).
  24. 24. Dosis ovaprim yang dipakai untuk merangsang ovulasi pada ikan betinaadalah 0,5 ml/kg bobot tubuh sedangkan untuk merangsang spermiasi pada ikanjantan adalah 0,10 – 0,20 ml/kg bobot tubuh (Harker, 1992 dalam Sukendi 2001).Nandeesha et al, (1990 dan 1991) menyatakan dosis yang dapat digunakan untukbeberapa spesies ikan adalah : Catla : 0,40 – 0,50 ml/kg bobot tubuh, Rohu : 0,30-0,40 ml/kg bobot tubuh, Mrigal : 0,25 – 0,30 ml/kg bobot tubuh, Silver carp :0,50 – 0,70 ml/kg bobot tubuh, Grass Carp : 0,50 -0,70 ml/kg bobot tubuh, BigHad Carp : 0,50 ml/kg bobot tubuh, Bata : 0,50 ml/kg bobot tubuh dan FringeLippe Carp : 0,50 ml/kg bobot tubuh. Sedangkan dosis yang terbaik untukmenghasilkan nilai fertilisasi dan daya tetas telur ikan Sumatra (Puntius tetrazonaBlrk) adalah 1,00 ml/kg bobot tubuh (Sukendi, 1997).Pemakaian ovaprim memiliki beberapa kelebihan dibandingkan denganekstrak hipofisa, yaitu : (1) memberi daya rangsang pemijahan yang lebih baik;(2) menghasilkan telur dengan diameter lebih besar; (3) menghasilkan wakru latenlebih singkat dan angka mortalitas lebih kecil ( Nandeesha et el., 1990 dan 1991dalam Sukendi, 2001).2.4. Prostaglandin F2 α (PGF2 α)Prostaglandin merupakan derivate dari struktur asam prostanoat danberasal dari asam lemak esensial melalui seleksi dan oksidasi (Tunner danBagnara, 1988 dalam Sukendi, 2001). Prostaglandin berperan dalammempercepat ovulasi dan mengatur singkronisasi tingkah laku memijah (Shilodan Sarig, 1982) yang telah dicobakan pada ikan rainbow trout (Jalabert dalamHoar et al., 1983), Goldfish betina (Stancy dan Petter dalam Hoar et al., 1983)dengan dosis 10 μg/kg bobot tubuh dan pada ikan catfish (Heteropnenstes fossilis)
  25. 25. dengan dosis 10 μg/kg bobot tubuh antara 41 – 47 gram. Pada ikan lele dumbo(Clarias gariepinus Burcheel) dengan dosis 2500 μg/kg bobot tubuh (Ernawati,1990 dalam Sukendi 2001). PGF2 α berperan dalam pecahnya folikel danpengeluaran oosit yang telah matang (Stancy dan Goetz, 1989 dalam Sukendi2001) serta menstrimulasi inti sel yang berbeda dalam germinal vesikulabermigrasi ke bagian pinggir (Downs dan Langgo 1983 dalam Sukendi 2001).2.5. Fertilisasi dan PenetasanFertilisasi atau pembuahan adalah penggabungan antara inti sel spermadan inti sel telur sehingga membentuk zigot yang kemudian mengalamipembelahan (Lagler, 1972; Sumantadinata, 1983). Telur dan spermatozoa yangbaru dikeluarkan dari tubuh induk ikan akan mengeluarkan zat kimia yangberguna dalam proses pembuahan. Zat yang dikeluarkan tersebut dinamakangamon, dimana gamon yang berasal dari telur disebut ginamon I dan ginamon II,sedangkan gamon yang berasal dari spermatozoa disebut androgamon I danandrogamon II. Ginamon I berperan untuk mempercepat pergerakan dan menarikspermatozoa dari spesies yang sama secara kemotaxis, ginamon II berperanmengumpulkan dan menahan spermatozoa pada permukaan telur. Sedangkanfungsi androgamon I adalah menekan aktifitas spermatozoa ketika masih beradadi dalam saluran genital ikan jantan dan androgamon II berperan untuk membuatpermukaan korion menjadi lembut sebagai lawan dari peran ginamon II.Proses pembuahan pada ikan teleostei bersifat monospermik, yaitu hanyasatu spermatozoa yang akan melewati mikrofil dan membuahi sel telur (Lagler,1972). Pada proses pembuahan hanya kepala spermatozoa yang dapat masukkedalam sel telur, sedangkan ekornya tertinggal diluar, sitoplasma dan chorion
  26. 26. merenggang dan semacam sumbat segera menutupi mikrofil untuk menghalangimasuknya spermatozoa yang lain. Menurut Sumantadinata (1983) menyatakanbahwa setelah memasuki telur inti spermatozoa mulai membesar dankromosomnya mengalami perubahan sehingga memungkinkan untuk bersatudengan kromosom dari sel telur sebagai fase awal pembelahan. Setelah terjadinyafertilisasi, diikuti dengan proses penetrasi yang akan menghasilkan (1) masuknyaspermatozoa melalui perubahan kondisi didalam sel telur, (2) penggabunganmateri inti spermatozoa dan sel telur, (3) pembelahan dari satu sel zigot menjadisuatu embrio yang banyak sel dan (4) organisasi dari multiseluler menjadijaringan organ dan sistem yang memberi bentuk dan fungsi pada embrio (Lagler,1972). Perkembangan embrio terus menjadi mulai dari proses pembuahan hinggaikan mendapat makanan dari luar, perkembangan ini menurut Nikolsky (1963)dibedakan menjadi periode telur (perkembangan yang terjadi dalam membran)dan periode pra larva (perkembangan yang terjadi diluar membran).Penetasan terjadi karena menurunnya kekerasan korion yang disebabkanoleh substansi enzim khorionase yang bersifat mereduksi. Disamping itu dapatpula disebabkan oleh gerakan–gerakan akibat peningkatan suhu intensitas cahayaatau penyerapan tekanan oksigen (Blaxter, 1969). Effendie (1985) menyatakanbahwa pada proses penetasan yang dikeluarkan terlebih dahulu dari cangkangtelur adalah bagian ekor embrio, kemudian yang terakhir adalah bagian kepala,karena ukurannya lebih besar dari bagian tubuh yang lain. Embrio yang keluardari cangkang telur akan memasuki stadia pra larva, dengan ciri-ciri adalah masihmempunyai kuning telur, tubuh transparan, sirip dada dan sirip ekor sudah adatetapi belum sempurna. Menurut Woynarovich dan Horvath (1980) larva yangbaru menetas akan menggerakkan bagian ekor kekiri dan kekanan dengan gerakan
  27. 27. lambat dan lebih banyak istirahat karena tidak dapat mempertahankankeseimbangan untuk posisi tegak.2.6. Kualitas AirLesmana (2002) bagi biota air, terutama ikan air berfungsi sebagai media,baik media internal maupun eksternal. Sebagai media internal, air berfungsisebagai bahan baku untuk reaksi di dalam tubuh, pengangkut bahan makanan keseluruh tubuh, pengangkut sisa metabolisme untuk dikeluarkan dari dalam tubuh,pengangkut sisa metabolisme untuk dikeluarkan dari dalam tubuh, dan pengaturatau penyangga suhu tubuh. Sementara sebagai media eksternal, air berfungsisebagai habitatnya. Oleh karena peran air sangat penting atau essensial dalamkehidupan biota air maka kualitas air dan kuantitasnya pun harus dijaga sesuaikebutuhan ikan.Kualitas air yang ideal bagi kehidupan larva ikan pada umumnya adalahkualitas air yang menunjang kehidupan larva ikan itu sendiri untuk menyelesaikandaur hidupnya, serta mendukung kehidupan organisme-organisme makanan ikanyang diperlukan dalam menyelesaikan daur hidupnya tersebut (Wardoyo, 1981).Suhu air merupakan satu faktor yang penting untuk media hidup ikan.Suhu air akan sangat berpengaruh terhadap aktifitas, pergerakan, makan ikan,pertumbuhan, dan perkembangbiakan. Secara umum suhu yang sesuai untuksemua ikan yang berada di kawasan tropis adalah 23,8 – 32,20C. Suhu air jugasangat berpengaruh terhadap jumlah oksigen terlarut, karbondioksida, nitrogendan yang lainnya di dalam air. Semakin rendah suhu maka semakin banyakkandungan gas yang dapat larut di dalam air, suhu juga memegang perananpenting dalam stratifikasi termal (Affiadi dan Prahara dalam Nusirhan, 2009).
  28. 28. Afrianto dan Liviawaty (1992) menyatakan umumnya ikan dapatberadaptasi pada lingkungan perairan yang mempunyai derajat keasaman (pH)berkisar antara 5 – 9, sebagai besar spesies ikan air tawar pH yang cocok adalahdiantara 6,5 – 7,5.
  29. 29. III. BAHAN DAN METODE3.1. Waktu dan Tempat PenelitianPenelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2010 - sampai Maret2011 di Laboratorium Pembenihan Ikan Jurusan Budidaya Perairan FakultasPerikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau Pekanbaru.3.2. Bahan dan Alat3.2.1. Ikan UjiIkan uji yang digunakan adalah induk ikan Selais (Ompok hypopthalmus)yang berasal dari penangkapan di alam yang telah diadaptasikan dalam kerambayang terletak di sungai Kampar Kiri Desa Langgam (Lampiran 1. a). Jumlahinduk yang digunakan dalam penelitian ini adalah 15 ekor induk betina dan 10ekor induk jantan yang ukurannya berkisar antara 45-50 gr dengan panjang 14-18cm.3.2.2. HormonHormon sebagai obat perangsang yang digunakan adalah ovaprim danprostaglandin F2 α, alkohol 75% untuk mensterilkan alat, dan kaliumpermanganate (PK) untuk menghilangkan bakteri pembawa penyakit pada wadah(Lampiran. 1. b).3.2.3. Wadah dan PeralatanWadah yang digunakan untuk ikan uji adalah akuarium sebanyak 15 unitdengan ukuran 40x40x40 cm3dan satu buah bak ukuran 200 x 100 x 75 cm3untukpenampungan induk sebelum digunakan sebagai ikan uji. Setiap wadah dilengkapidengan sistem aerasi sebagai penyuplai oksigen.
  30. 30. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat suntik volume 1ml untuk penyuntikan ikan, 1 buah tangguk yang digunakan untuk menangkapinduk ikan selais, 1 buah timbangan ohaus untuk mengukur berat ikan, 15 buahmangkuk kecil untuk menampung telur hasil stripping, 15 buah petridisk untukmenampung sampel telur, 15 buah tapisan santan sebagai tempat telur menempel,1 buah keteter Canula untuk mengambil sampel telur, alat tulis untuk mencatatsetiap perubahan dan 1 unit camera digital untuk dokumentasi selama penelitian(Lampiran. 1. b).3.2.4. Air dan pengukuran Kualitas AirAir yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari air sumur bor yangtelah diendapkan dalam bak penampungan dan diaerasi. Pengukuran kualitas airuntuk pengukuran suhu dilakukan setiap hari pada setiap akuarium percobaansedangkan untuk mengukur pH dilakukan dua kali yakni awal dan akhirpenelitian. Untuk pengukuran kualitas air digunakan thermometer untukmengukur suhu dan Indicator Universal untuk mengukur pH.3.3. Metode Penelitian3.3.1. Rancangan PercobaanMetode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodeeksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuandan 3 kali ulangan. Perlakuan yang diberikan dapat dilihat pada Tabel 1:
  31. 31. Tabel 1: Perlakuan yang diberikanNo WadahPerlakuanKetOvaprim PGF2 α1. P1 50% 50% 0,45 ml ovaprim + 1250 µg PGF2 α /kgbobot tubuh2. P2 75% 25% 0,67 ml ovaprim + 625 µg PGF2 α /kgbobot tubuh3. P3 25% 75% 0,22 ml ovaprim + 1875 µg PGF2 α /kgbobot tubuh4. P4 100% 2500 PGF2 α /kg bobot tubuh5. P5 100% 0,9 ml ovaprim/kg bobot tubuhPersentase masing-masing dosis ditentukan berdasarkan pemakaianovaprim maupun PGF2 α yang dilakukan oleh Sukendi (2001) terhadap ikanBaung (Mystus nemurus) dan ikan selais (Ompok hypopthalmus) yaitu 0,9 mlovaprim/kg bobot tubuh. Sedangkan PGF2 α 2500 µg PGF2 α/kg bobot tubuhpada ikan baung (Mystus nemurus CV) (Sukendi, 2001). Dosis PGF2 α 2500 µgPGF2 α/kg bobot tubuh didapatkan melalui perhitungan sebagai berikut:1 ampul PGF2 α berisi 10 ml = 50.000 µg PGF2 α, yang berarti dalam 1 ml berisi5.000 µg PGF2 α. Dosis untuk 100 % PGF2 α yang digunakan adalah 2.500 µgPGF2 α, jadi ( 2.500 µg / 5.000 µg ) x 1 ml = 0,5 ml/kg bobot tubuh.Satuan percobaan yang digunakan adalah induk ikan selais sebanyak 5ekor betina dan 3 ekor jantan dengan kisaran berat 45 – 50 gram untuk indukbetina yang dimasukkan kedalam akuarium berukuran 60 x 40 x 40 cm3dengankedalaman 20 cm. Penempatan percobaan dilakukan secara acak (Lampiran 1).Model rancangan yang digunakan dalam penelitian ini menurut Sudjana(1989) yaitu:Yij = μ + σi + єij
  32. 32. Dimana :i = Perlakuanj = UlanganYij = Hasil pengamatan individu yang menerima perlakuan ke-I ulangan ke-jμ = Rata-rata umumσi = Pengaruh perlakuan ke-iєij = Pengaruh galat dari perlakuan ke-i3.3.2. Peubah yang DiukurPeubah yang diukur dalam penelitian ini adalah fertilitas, daya tetas, dankelulushidupan larva ikan uji (%). Rumus dari peubah tersebut adalah:a. FertilitasNilai fertilitas ditentukan dengan menggunakan rumus yang dikemukakanoleh Suseno dan Kholik (1982) yaitu:b. Daya tetasDaya tetas ditentukan dengan menggunakan rumus yang dikemukakanoleh Suseno dan Kholik (1982) yaitu:c. Persentase Angka Kelulushidupan Larva / Survival Rate (SR)Kelulushidupan larva ikan selais menurut Effendi (1979) dapat dihitungmenggunakan rumus yaitu:Fertilitas (%) =Jumlah telur yang dibuahix 100Jumlah telur sampelDaya tetas (%) =Jumlah telur yang menetasx 100Jumlah telur dibuahi
  33. 33. Dimana:SR = Tingkat kelulushidupan (%)NO = Jumlah larva pada awal penelitian (ekor)NT = Jumlah larva pada akhir penelitian (ekor)3.3.3. AsumsiAsumsi yang diajukan pada penelitian ini adalah:1. Kondisi induk setiap ikan uji dianggap sama2. Tingkat kematangan gonad ikan uji dianggap sama3. Tingkat ketelitian peneliti dianggap sama3.3.4. Analisis DataData yang diperoleh dari hasil pengukuran akan dilakukan uji normalitasdan homogenitas. Selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis variansi(ANAVA). Bila hasil uji ANAVA menunjukkan perbedaan nyata diantaramasing-masing perlakuan, akan dilanjutkan dengan uji rentang Newman Keuls.3.4. Prosedur Penelitian3.4.1. Persiapan WadahAquarium sebelum digunakan terlebih dahulu dicuci kemudian direndammenggunakan PK (KMnO4) dengan dosis 0,5 ppm selama 24 jam. Setelah ituaquarium dikeringkan dan diisi dengan air sumur bor yang telah diendapkanselama 24 jam setinggi 20 cm masing-masing wadah dan diberi aerasi.SR (%) =NTx 100NO
  34. 34. 3.4.2. Persiapan Ikan UjiSebelum dilakukan penyuntikan terlebih dahulu dilakukan pengambilansampel telur untuk mengetahui diameter dan kematangannya. Ikan uji yangdigunakan adalah ikan matang kelamin yang siap untuk dipijahkan (Lampiran 1.b). Ikan ditimbang dengan menggunakan timbangan ohaus dan dicatat beratnyasebelum dilakukan penyuntikan (Lampiran 1. d). Setelah ditimbang ikan ujidimasukkan kedalam wadah-wadah uji yang telah diberi kode perlakuan secaraacak, selanjutnya dilakukan perhitungan dosis ovaprim, prostaglandin F2 αmaupun kombinasi antara keduanya yang akan diberikan.3.4.3. Penyuntikan dan PengurutanSebelum dilakukan penyuntikan ikan dipuasakan terlebih dahulu. Hal inibertujuan agar hormon yang disuntikkan memberi efek yang lebih baik dan untukmengosongkan perut sehingga sedikit berbentuk feses yang mungkin mengganggupada saat pengeluaran telur (Huet, 1971).Penyuntikan dilakukan dua kali dengan cara intra-muskuler, yaitu jarumsuntik ditusukkan kedalam otot punggung diatas gurat sisi dan dibawah sirippunggung bagian depan dengan selang waktu suntikan pertama dengan keduaberjarak 6 jam (Woynarovich dan Harvath, 1980). Hormon ovaprim disuntikkanpada penyuntikan pertama baik untuk yang tunggal maupun yang kombinasikecuali PGF2 α tunggal. Sedangkan PGF2 α disuntikkan pada penyuntikan keduauntuk kombinasi, untuk tunggal tetap diberikan hormon yang sama denganpenyuntikan pertama. Hal ini diperkuat oleh Potaros dan Sitasit (1976),penyuntikan pertama menggunakan ovaprim dan penyuntikan keduamenggunakan PGF2 α. Untuk perlakuan masing-masing diberikan dosis yang telah
  35. 35. ditentukan, sedangkan pengamatan yang dilakukan terhadap peubah yang diukurdilakukan 7 jam setelah penyuntikan kedua.Gambar 2: Penyuntikan Induk Betina Ikan Selais (Ompok hypopthalmus)Sebelum disuntikkan, hormon ovaprim diencerkan terlebih dahulu denganmenggunakan akuades 1:1 atau 1 ml ovaprim = 1 ml akuades sesuai dengan yangdijelaskan Soeseno dalam Ernawati (1990) yakni sebelum ikan disuntikkankepada ikan uji sesuai dengan dosis perlakuan, hormon yang diberikan diencerkandengan aquabides dengan perbandingan 1 : 1 fungsinya mengurangi rasa sakitpada organ dalam ikan saat ovaprim dan PGF2 α di injeksikan kedalam tubuh.Gambar 3: Stripping / Pengurutan Induk Betina Ikan Selais (Ompokhypopthalmus)Pengurutan dilakukan 7 jam setelah penyuntikan kedua, sesuai yangdilakukan Nuraini (1998), Amniati (1999) dan Pulungan (2002) bahwa
  36. 36. pengurutan dapat dilakukan pada selang 6-8 jam setelah penyuntikan kedua. Ikanuji dinyatakan ovulasi saat telur keluar melalui lubang genitalnya. Pengurutandihentikan apabila telur yang dikeluarkan bercampur dengan darah.Selanjutnya bila ikan uji pada pengurutan pertama tidak menunjukkantanda-tanda ovulasi maka pengurutan berikutnya dilakukan setiap satu jam sekalisampai terjadi ovulasi (Nuraini et al, 1998).3.4.4. Fertilisasi dan Penetasan TelurPengambilan sperma induk ikan jantan dilakukan dengan cara dibedah(Lampiran 1. f). Induk jantan dibedah dan diambil spermanya denganmenggunakan pisau dan gunting bedah. Sperma tersebut kemudian diletakkandidalam mangkok kecil kemudian ditambahkan larutan fisiologis.Gambar 4 : Pencampuran Sel Sperma dan Sel TelurSetelah diperoleh telur dan sperma kemudian dilakukan pembuahan yaknidengan cara mencampurkan telur yang telah ditambahkan dua tetes larutanpembuahan dan sperma didalam mangkok kecil dan diaduk dengan bantuan buluayam agar sperma dapat membuahi seluruh telur yang ada. Setelah itu, telur yangtelah dicampur dengan sperma ditebar didalam tapisan santan dalam wadahaquarium (Lampiran 1. g).
  37. 37. Penghitungan jumlah telur yang terbuahi dilakukan dengan cara manualsaja yakni menghitung langsung telur yang berwarna kecoklatan dan transparanyang dilakukan 12 jam setelah fertilisasi. Sedangkan telur yang tidak terbuahiyang berwarna putih keruh dibuang dengan menggunakan pipet tetes sambildihitung jumlahnya.Penghitungan jumlah telur yang menetas dilakukan setelah larva berumur10 jam dengan cara mengambil larva tersebut dengan menggunakan mangkokkecil dan dipindahkan kewadah lain sambil dihitung jumlahnya. Kelulushidupanlarva ikan selais ditentukan dengan cara menghitung jumlah mortalitasnya.3.4.5. Pengelolaan Kualitas AirParameter kualitas air yang akan di ukur selama penelitian adalah suhu danpH. Untuk membersihkan kotoran pada wadah, dilakukan penyiponan dua kalisehari yaitu pada pagi dan sore hari.
  38. 38. BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN4.1. Hasil4.1.1.Tingkat Pembuahan, Tingkat Penetasan dan KelulushidupanData tingkat pembuahan, tingkat penetasan dan kelulushidupan larva ikanselais selama penelitian dari masing-masing perlakuan disajikan pada Tabel 2.Tabel 2: Nilai fertilitas, daya tetas dan kelulushidupan larva ikan selais (%)Perlakuan Tingkat Pembuahan(rata-rata / SD)Tingkat Penetasan(rata-rata / SD)Kelulushidupan(rata-rata / SD)P1 66,04b± 2,42 56,47c± 3,69 30,02d± ,66P2 75,33a± 1,46 76,03e± 1,88 52,76c± 1,80P3 56,79c± 2,33 35,23b± 4,00 32,67d± 1,68P4 0,00d± ,00 0,00a± ,00 0,00a± ,00P5 72,69a± 1,04 71,05d± 1,52 40,12b± 4,43Keterangan:1. P1 :Perlakuan 50% Ovaprim + 50% PGF2 α (0,45 ml ovaprim + 1250 µg PGF2 α/kg bobot tubuh)2. P2 : Perlakuan 75% Ovaprim + 25% PGF2 α (0,67ml ovaprim + 625 µg PGF2 α/kg bobot tubuh).3. P3: Perlakuan 25% Ovaprim + 75% PGF2 α (0,22 ml ovaprim + 1875 µg PGF2 α/kg bobot tubuh).4. P4 : Perlakuan 100% µg PGF2 α (2500 µg PGF2 α/kg bobot tubuh)5. P5 : Perlakuan 100% Ovaprim (0,9 ml ovaprim/kg bobot tubuh)6. Huruf yang sama pada kolom yang sama “tidak berbeda nyata” (P ≤ 0.05)Dari Tabel 2 menunjukkan bahwa kombinasi penyuntikan ovaprim danprostaglandin F2α (PGF2 α) yang digunakan selama penelitian memberikanperbedaan terhadap pembuahan. Tingkat pembuahan tertinggi terdapat pada P2 =kombinasi 75 % Ovaprim + 25 % PGF2α / kg bobot tubuh (0,67 ml ovaprim +625 µg PGF2α / kg bobot tubuh) dengan rata-rata pembuahan 75,40 %, diikutidengan P5 = 100 % ovaprim / kg bobot tubuh ( 0,9 ml/kg bobot tubuh) denganrata-rata 72,73 %, P1 = kombinasi 50 % Ovaprim + 50 % PGF2α / bobot tubuh(0,45 ml ovaprim + 1250 µg PGF2 α/kg bobot tubuh) dengan rata-rata 66,16 %, P3= 25 % Ovaprim + 75 % PGF2α / kg bobot tubuh (0,22 ml ovaprim + 1875 µg
  39. 39. PGF2α / kg bobot tubuh) dengan rata-rata 56,89 %, P4 = 100 % PGF2α / kg bobottubuh (2500 µg PGF2α / kg bobot tubuh) dengan rata-rata 0 %.Tingkat penetasan tertinggi terdapat pada P2 dengan nilai penetasan 74,14%, diikuti oleh P5 = 71,11 %, P1 = 56,72 %, P3 = 35,26 % dan terakhir P4 dengan0 %Sedangkan kelulushidupan larva ikan selais tertinggi juga terdapat padaperlakuan 2 = 75 % Ovaprim + 25 % PGF2α / kg bobot tubuh (0,67 ml ovaprim +625 µg PGF2α / kg bobot tubuh) sebesar 52,88 %, dan terendah terdapat pada P 1dan P 4 masing-masing sebesar 30,06 % dan 0 %. Untuk lebih jelasnya dapatdilihat pada Gambar 2.Gambar 5: Histogram Nilai fertilitas, daya tetas dan kelulushidupan larvaikan selais (%)Dari hasil ANAVA, kombinasi penyuntikan kedua hormon tersebutterhadap pembuahan, penetasan dan kelulushidupan pada setiap perlakuan yangdiberikan menunjukkan pengaruh yang nyata, yang ditandai dengan F hitung lebihbesar dari F tabel.01020304050607080P1 P2 P3 P4 P5TingkatPembuahan (%)TingkatPenetasan (%)Kelulushidupan(%)
  40. 40. Berdasarkan uji lanjut Neuman Keuls terhadap pembuahan, penetasan dankelulushidupan menunjukkan bahwa P2 memberikan tingkat pembuahan,penetasan dan kelulushidupan tertinggi kemudian diikuti oleh perlakuan lainnyamenurut tinggi nilai rata-rata. Sebelumnya Natalia (2011) mengemukakan bahwakombinasi penyuntikan ovaprim dan prostaglandin pada perlakuan 75 % Ovaprim+ 25 % PGF2α / kg bobot tubuh (0,67 ml ovaprim + 625 µg PGF2α / kg bobottubuh) menghasilkan jumlah telur ovulasi terbaik.Perbandingan setiap perlakuan yang diberikan terhadap pembuahan yaituP2 menunjukkan perbedaan yang nyata dengan tiga perlakuan lainnya (P1, P3 danP4), tetapi tidak berbeda nyata dengan P5. Selanjutnya perbandingan setiapperlakuan yang diberikan terhadap penetasan yaitu P2 menunjukkan perbedaanyang nyata dengan keempat perlakuan lainnya (P5, P1, P3 dan P4). Sedangkanperbandingan setiap perlakuan terhadap kelulushidupan yaitu P2 menunjukkanperbedaan yang nyata dengan keempat pelakuan lainnya (P5, P1, P3 dan P4). Halini disebabkan oleh jumlah larva pada P2 yang berhasil hidup sampai penelitianselesai lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan lainnya yang mencapai 52,76%, namun pada P3 dengan P1 tidak memberikan perbedaan yang nyata karenajumlah larva yang berhasil hidup menunjukkan perbedaan yang tidak terlalu jauhyakni 32,67 % dan 30,02 %.4.1.2. Kualitas AirAir merupakan salah satu faktor penting bagi kelangsungan hidup ikan danharus tersedia dalam kualitas yang baik. Hasil pengukuran parameter kualitas airselama penelitian disajikan pada Tabel 3.
  41. 41. Tabel 3. Parameter Kualitas Air Selama penelitianNo Parameter Rata-rata1. Suhu 27 - 280C2.3.pHDO6 – 76 - 6,5Kualitas air wadah penetasan masih berada pada batas toleransi yang baiksehingga baik pula untuk dilakukan pemijahan buatan.4.2. Pembahasan4.2.1. FertilitasKeberhasilan fertilisasi bukan saja ditentukan oleh kualitas telur, tetapiditentukan juga oleh kualitas spermatozoa. Tingginya nilai fertilitas telur yangdiperoleh pada perlakuan 2 yaitu sebesar 75,4 % disebabkan karena dipengaruhioleh kematangan telur yang diperoleh diameter telur sebelum disuntik yakni 1,0mm.Gambar 6 : Pembuahan Telur Ikan Selais (Ompok hypopthalmus)Pada Gambar 6a & 6b diatas, merupakan fase morulla. Pada fase ini terjadipembelahan sel ke 8 – 32, fase morula berakhir dengan dihasilkannya blastomer.Sel tersebut memadat untuk menjadi blastodik kecil membentuk dua lapis sel
  42. 42. (Gambar 6c). Kemudian sel memasuki stadia blastula. Terlihatnya dua lapisanyang sangat nyata dari sel-sel datar yang membentuk blastocoel (Gambar.6d &6e), dan blastodik yang berada di lubang vagetal berpindah menutupi sebagianbesar kuning telur (Gambar. 6f). Pada saat ini tropoblas terletak diantara kuningtelur dan sel-sel blastoderm dan mulai membungkus kuning telur tersebut. Faseketiga adalah stadia gastrula, dimana pada fase ini terbentuk ektoderm, mesodermdan endoderm. Terjadi perpindahan ektoderm, mesoderm, endoderm dannotocorda menuju tempat definitif. (Gambar 6g & 6h).Berdasarkan hasil rata-rata persentase pembuahan pada penelitian ini agaktinggi dibandingkan hasil penelitian (Maifitri, 2004) dimana penyuntikan selaisdanau dengan menggunakan hormon ovaprim secara tunggal dosis 0,9 ml/kg beratbadan ikan yang menghasilkan persentase pembuahan rata-rata sebesar 54,26 %yang menurutnya disebabkan oleh dosis ovaprim yang tinggi dimanamenyebabkan proses pematangan telur dan ovulasi berlangsung lebih cepat.Menurut Yusrizal (2000) menggunakan rangsangan ovaprim dan prostaglandindosis 75 % ovaprim + 25 % PGF2 α terhadap ikan Baung menghasilkan tingkatpembuahan 92%. Hasil tersebut bila dibandingkan dengan hasil penelitian inimaka mendapat hasil yang rendah. Penyebab rendahnya tingkat pembuahan dalamhal ini karena penangan yang kurang hati-hati, banyaknya goncangan membuattelur pada masa ini stress dan mati.Pada P 2 terlihat jumlah telur yang terbuahi menunjukkan bahwakombinasi ovaprim dan PGF2α yang berbeda mempunyai potensi yang berbedauntuk meningkatkan jumlah telur yang dibuahi pada ikan yang diujikan.Sedangkan pada P 4, tingkat fertilitas ikan selais tidak dapat ditentukan karena
  43. 43. telur yang dibuahi tidak ada. Semua telur yang ovulasi baik pada pengulangan 1, 2dan 3 mati dan berjamur. Hal ini disebabkan oleh hormon perangsang kematangangonad tidak bekerja karena memang hormon yang bertugas untuk pematangangonad dalam hal ini adalah ovaprim tidak disuntikkan ketubuh ikan selais.Sehingga telur yang dihasilkan pun tidak baik. Seperti yang dikemukakan olehNandeesha et al (1990) bahwa ovaprim sangat berperan dalam pemasakan gonaddimana GnRH analog yang terkandung dalam ovaprim berperan merangsanghipofisa untuk melepaskan gonadotropin. Hormon yang disuntikkan ketubuh ikanselais pada P 4 ini hanyalah hormon yang berperan dalam mempercepat ovulasi.Dari hasil penelitian ternyata penggunaan kombinasi ovaprim dan PGF2 αmenghasilkan jumlah telur yang terbuahi lebih tinggi dibandingkan denganpenggunaan ovaprim dan PGF2 α secara tunggal, kombinasi yang terbaik adalah75% ovaprim + 25% PGF2 α/kg bobot tubuh (0,67 ml ovaprim + 1875 µg PGF2α/kg bobot tubuh). Hal ini juga dibuktikan oleh Sukendi (2001) pada ikan baungdengan menghasilkan nilai fertilitas tertinggi 91,80 %. Kenyataan ini disebabkankarena PGF2 α juga berperan penting didalam sistem reproduksi untukmerangsang terjadinya ovulasi pada ikan. Jadi dari hasil penelitian terbuktiwalaupun jumlah ovaprim yang diberikan sudah mencukupi namun bila tidakdibantu dengan PGF2 α maka rangsangan terhadap jumlah telur yang diovulasikanyang diperoleh akan lebih kecil. Hal ini sesuai dengan pendapat Sukendi (2001)yang menyatakan bahwa akibat pemberian perlakuan kombinasi penyuntikanovaprim 75 % dan PGF2 α 25 % bukan saja dapat meningkatkan jumlah teluryang diovulasikan tetapi sekaligus akan dapat meningkatkan pertambahandiameter telur, kematangan telur dan meningkatkan indeks kematangan gonad,
  44. 44. sehingga kualitas telur yang baik akan menghasilkan nilai fertilitas yang baikpula, karna keberhasilan nilai fertilitas ditentukan oleh kualitas telur disampingkualitas spermatozoa yang digunakan. Hal yang sama juga dikemukakan olehNandesha (1990) bahwa kelebihan pemakaian ovaprim bila dibandingkan denganekstrak hipofisa adalah memberikan daya rangsang pemijahan lebih tinggi,diameter telur lebih besar, waktu laten lebih singkat dan angka mortalitas lebihrendah.4.2.2. Daya TetasGambar 7 : Penetasan Telur Ikan Selais (Ompok hypopthalmus)Menetas merupakan saat terakhir pada masa inkubasi, yaitu hasil daribeberapa proses sehingga embrio keluar dari cangkangnya (Effendie, 1978).Jumlah telur yang terbuahi pada P 2 menunjukkan bahwa kombinasi ovaprim danPGF2α yang berbeda mempunyai potensi yang berbeda untuk meningkatkanjumlah telur yang dibuahi pada ikan yang diujikan. Kenyataan ini disebabkankarena telur yang menetas berasal dari telur yang telah dibuahi sebelumnya,
  45. 45. sehingga semakin besar nilai fertilitas selalu diikuti dengan meningkatnya nilaidaya tetas telur. Namun nilai daya tetas selalu lebih kecil dari nilai fertilitas,karena tidak semua telur yang dibuahi akan menetas. Seperti yang dikemukakanoleh Nurasiah (2003) bahwa tingginya nilai persentase telur yang ditetaskan erathubungannya dengan telur yang dibuahi, walaupun telur yang dibuahi belum tentudapat menjamin penetasan. Namun semakin banyak telur yang dibuahi makasemakin besar peluang telur untuk menetas.Dari hasil penelitian ternyata penggunaan kombinasi ovaprim dan PGF2 αmenghasilkan jumlah telur yang terbuahi lebih tinggi dibandingkan denganpenggunaan ovaprim dan PGF2 α secara tunggal. Kombinasi yang terbaikterdapat pada P2 yakni 75% ovaprim + 25% PGF2 α/kg bobot tubuh (0,67 mlovaprim + 1875 µg PGF2 α/kg bobot tubuh) sebesar 74,14 %. Nilai daya tetastelur yang diperoleh pada penelitian ini lebih besar dari penelitian Muflikhah et al(1993) yaitu 34,5 % yang disuntik empat dosis hipofisis ikan Mas dan penelitianMaifitri (2004) dengan persentase 44,33 % yang disuntik dengan hormon ovaprimsecara tunggal.Kombinasi hormon pada P4 yakni 100% PGF2 α (2500 µg PGF2 α/bobottubuh) tidak memberikan hasil, karena telur-telur yang ovulasi tidak terbuahi,semua mati dan akhirnya ditumbuhi jamur. Menurut Maifitri (2004), tingginyapersentase penetasan telur selais erat hubungannya dengan jumlah telur yangterbuahi, tetapi walupun jumlah telur yang dibuahi tinggi belum tentu dapatmenjamin penetasannya. Woynarovich dan Horvarth (1980) menyatakan bahwakematian telur selama masa pengeraman disebabkan oleh kekurangan oksigenterlarut, temperature yang tidak cocok, telur tidak terbuahi, gangguan mekanik
  46. 46. seperti goncangan dan gesekan atau pergeseran serta serangan parasit sepertibakteri, fungi, larva insekta dan binatang lainnya. Secara mikroskopis seranganjamur dapat dilihat dengan jelas, yaitu berbentuk kapas dan gumpalan benangkusut disekeliling permukaan telur. Segumpalan benang putih tersebut merupakanfilament jamur yang panjangnya beberapa centimeter. Hoffman dalam Irawati danMasrizal (1996).4.2.3. KelulushidupanMasa paling kritis dalam daur hidup ikan terdapat pada tahap larva.Banyak faktor yang menyebabkan mortalitas larva ikan selain dari predator danpenyakit juga faktor biotik yang berhubungan langsung dengan larva ikan itusendiri. Masa kritis itu terletak pada saat sebelum dan sesudah penghisapankuning telur dan masa transisi mulai mengambil makanan dari luar. Sehubungandari pergerakan larva atau tingkah laku larva untuk mendapatkan makanan jugakepadatan persediaan makanan yang baik merupakan factor yang mempengaruhikeberhasilan hidup larva ikan tersebut (Djarijah, 1995).Pada penelitian ini kelulushidupan larva dihitung pada hari ke 14 (SR14),yang ditentukan dengan menghitung jumlah larva yang masih bertahan hidupsampai hari yang ditentukan. Kematian larva bukan saja disebabkan oleh kualitasair yang tidak cocok. Pada umumnya kematian larva disebabkan oleh factor luarseperti kompetisi antara larva, ruang gerak dan penanganan yang kasar (Effendie,1978). Selanjutnya dikatakan bahwa kematian larva dapat disebabkan faktordalam tubuh ikan itu sendiri, seperti umur dan kemampuan menyesuaikan diridengan lingkungan.
  47. 47. Kombinasi hormon ovaprim dan PGF2 α memberikan pengaruh terhadapkelulushidupan larva, hal ini disebabkan kombinasi hormon ini memberikanpengaruh terhadap diameter telur. Semakin besar diameter telur maka kandungankuning telur sebagai cadangan makanan akan semakin besar sehingga waktu larvauntuk beradaptasi dengan pakan alami yang diberikan akan lebih besar dan larvaakan semakin kuat untuk menghadapi masa kritisnya yaitu masa habisnya kuningtelur. Sehingga larva yang dihasilkan ukurannya akan bervariasi dan tingkatkekuatannya dalam bertahan hiduppun akan bervariasi. (Yusrizal, 2000).4.2.6 Kualitas AirPerkembangan telur dan embrio serta pertumbuhan larva ikan dipengaruhioleh suhu perairan, sisa metabolisme, oksigen terlarut, intensitas cahaya dangoncangan mekanik (Lagler et al, 1972). Selain itu faktor lain yangmempengaruhi perkembangan embrio adalah pH. Kisaran nilai-nilai parameterkualitas air diawal penelitian mengindikasikan bahwa air yang digunakan layakuntuk kegiatan pembenihan ikan. Pengukuran air pada setiap wadah selamarentang waktu penelitian tidak adanya perbedaan pada tingkat pH dan suhu untukmasing-masing perlakuan.
  48. 48. V. KESIMPULAN DAN DAN SARAN5.1. KesimpulanDari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kombinasi penyuntikanovaprim dan prostaglandin F2 α (PGF2α) terhadap ikan selais (Ompokhypopthalmus) memberi pengaruh terhadap fertilitas, daya tetas dankelulushidupan larva 14 hari. Perlakuan yang dianggap memberikan pengaruhterbaik adalah perlakuan kombinasi 75% ovaprim + 25 % PGF2α / kg bobot tubuhyang menghasilkan tingkat pembuahan, daya tetas serta kelulushidupan lebihtinggi.5.2. SaranSaran penulis untuk rekan-rekan mahasiswa lainnya perlu adanyapenelitian lanjutan tentang perawatan larva ikan selais, sehingga akan dapatmemberikan informasi yang lengkap tentang ikan selais. Sedangkan untukpembudidaya ikan, sebaiknya menggunakan kombinasi ovaprim danprostaglandin dengan dosis 75 % ovaprim dan 25 % PGF2α / kg bobot tubuhdalam pemijahan ikan selais khususnya agar tingkat pembuahan, penetasan sertakelulushidupannya menjadi lebih meningkat.
  49. 49. DAFTAR PUSTAKAAfrianto dan Liviawaty, E., 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. PenerbitKanisius. Yogyakarta. 89 hal.Amniati, 1999. Penggunaan Ovaprim dengan Dosis yang Berbeda untuk OvulasiIkan Kapiek (Barbodes schwanafeldi Blkr). Skripsi FakultasPerikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau. Pekanbaru. 23 hal(tidak diterbitkan.Blaxter, J. H. S. 1969. Developments of eggs and larvae. In W. S. Hoar, D. J.Randall and E. M. Donaldson, ed. Fish Physiology, Volume III.Academic Press, New York.Effendi, M.I., 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri, Bogor. 112hal.-----------------, 1985. Penilaian perkembangan gonad ikan belanak, Liza subviridisValenciences, di perairan sungai Cimanuk. Disertasi FakultasPascasarjana IPB, Bogor.Ernawati, Y. 1990. Penggunaan Prostaglandin Sebagai Induksi Ovulasi Ikan LeleDumbo (clarias gariepinus). Lembaga Penelitian Universitas Riau.Pekanbaru. 46 hal (tidak diterbitkan).Hadjamulia, A. 1975. Budidaya Perikanan. SUPM Bogor. Badan PendidikanLatihan dan Penyuluhan Pertanian. Departemen Pertanian.--------------, A. dan S. Atmawinata. 1980. Teknik Hipofisasi beberapa jenis ikanair tawar. Prosiding lokakarya nasional teknologi tepat guna bagipengembangan perikanan budidaya air tawar. Bogor.Hoar, W. S., D. J. Randall, and E. M. Donaldson 1983. Fish physiology, volumeIX. Reproduction. Part B. Behavior and fertility control. AcademicPress., New York.Kottelat, M. A. J. Whitten., S. N. Kartikasari dan S. Wirjoatmodjo. 1993. Ikan airtawar Indonesia bagian Barat dan Sulawesi., Periplus Editions.Lagler, K. F. 1972. Freshwater fishery biology, second edition, W. M. C. BrownCompany Publishers, Dubuque Iowa.Lesmana, 2002. Kualitas Air Untuk Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya.Jakarta. 80 hal.Maifitri, R., 2004. Pengaruh Penyuntikan Ovaprim dengan Dosis BerbedaTerhadap Ovulasi dan Penetasan Telur Ikan Selais (Krytopterus iau.
  50. 50. Limpok). Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UniversitasRiau. Pekanbaru. (tidak diterbitkan).Matty, A. J. 1985. Fish endocrinology. Leaper and Gard. Ltd., London.Natalia, 2010. Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Ovaprim dan Prostaglandin F2 α(PGF2 α) Terhadap Fertilitas, Daya Tetas dan Kelulushidupan LarvaIkan Selais (Ompok hypopthalmus). Skripsi Fakultas Perikanan danIlmu Kelautan, Universitas Riau. Pekanbaru. 70 hal. (tidakditerbitkan).Nandeesha, M. C. K. G. Rao. R. Jayanna. N. C. Parker. T. j. Varghese. P.Keshavanah and H. P. C. Shetty. 1990. Induced Spawning of IndianMayor Carps Through Single Aplication of Ovaprim, in Hirano andI. Hanyu, eds The Second Asian Fisheries Society. Indian Branch.Mangalore, India.Nandeesha, M. C., Ramacharya and T. J. Vorghese, 1991. Further observation onbreeding of carps with ovaprim. Special Publication No.6. asianFisheriesSociety. Indian Branch, Mangalore, India.Nikolsky, G. V. 1963. The ecology of fishes. Academic Press. New York.Nuraini., 2004. Pengaruh Dosis Human Chorionoc Gonadotropin (HCG)Terhadap Ovulasi dan Daya Tetas Telur Ikan Selais Danau(Kryptopterus limpok). Proyek peningkatan Kualitas SumberdayaManusia Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Fakultas Perikanandan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. (tidak diterbitkan).dan N. A. Pamungkas, 1998. Pengaruh Dosis Ovaprim yang BerbedaTerhadap Ovulasi Ikan Kapiek (Barbodes schwanafeldi Blkr).Lembaga idak diterbitkan)Nurasiah, 2003. Penyuntikan Kombinasi Ekstrak Hypofisa Ikan Mas, HCG dan17α Hidroksi Progesteron Terhadap Keberhasilan Ovulasi IkanKapiek (Barbodes schwanafeldi Blkr). Tesis Program PascasarjanaIPB Bogor. 58 hal (tidak diterbitkan).Nursihan, T.S.E., 2009. Pengaruh Jenis Bahan Pakan Pasta Yang BerbedaTerhadap Pertumbuhan dan Kelulushidupan Larva Ikan Selais(Ompok hypophtalmus). Skripsi. Fakultas Perikanan dan IlmuKelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 50 hal (tidak diterbitkan).Potaros M, and Sitasit, 1976. Induced Spawning of Pangasius SutchiFowler byHormones Injection. Island Fisher. Divisi on Depart. Of Fish.Bangkok. 24 p.Pulungan, C.P. M., Ahmad, Y., I. Siregar., A. Ma‟maoen dan H. Alawai., 1985.Morphometrik Ikan Selais Siluiroidae Dari Perairan Kecamatan
  51. 51. Kampar Kiri, Kabupaten Kampar Riau. Unri Press. Pekanbaru (tidakditerbitkan)Saanin, H., 1984. Taksonomi dan Kunci Indentifikasi Ikan 1 dan 2. Bina Cipta.Bogor. 753 hal.Shilo, M. dan S. Sarig. 1982. Fish culture in warm water system. Problema andtrend. Boca Raton. Florida. 567 p.Sukendi., 2007. Fisiologi Reproduksi Ikan. CV. Mina Mandiri. MM Press. EdisiPertama. Pekanbaru. 130 hal.. 2006. Vitelogenesis dan Manipulasi Fertilisasi pada Ikan. BahanAjar Biologi Reproduksi Ikan. Fakultas Perikanan dan Ilmu KelautanUniversitas Riau. Pekanbaru. 111 hal (tidak diterbitkan).2001. Biologi Reproduksi dan Pengendaliannya dalam UpayaPembenihan Ikan Baung (Mystus nemurus CV) dari Perairan SungaiKampar Riau. Disertasi Program Pascasarjana IPB ( tidakditerbitkan)., 1997. Pengaruh penyuntikan ovaprim terhadap fertilitas dan dayatetas telur ikan sumatera (Puntius tetrazona Blkr). LembagaPenelitian Universitas Riau. pekanbaru.Sumantadinata, K. 1983. Pengembangbiakan ikan-ikan peliharaan di Indonesia.PT. Sutra Hudaya. Jakarta.Suseno, D., and F. Cholik. 1982. Effect of aeration of hatching rates of somevarities of the common carp. Pewarta LPPD, 1 (3) : 77-80.Wardoyo, S.T.H., 1981. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian danPerikanan. PPLH-PUSDI-PLS. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 27hal (tidak diterbitkan).Woynarovich, E. and Horvath. Sl. 1980. The Artifical Propagration of WarmWater Fin Fish A Mannual for Extention. FAO. Fisheries TehnicalPaper No. 20/FIR/T.20.Yusrizal, M., 2000. Perbandingan Nilai Fertilitas, Daya Tetas dan KelulushidupanLarva Ikan Baung (Mystus nemurus.C.V) yang Diperoleh dariPerairan Alam dengan yang Dimatangkan di Kolam AkibatPenyuntikan Kombinasi Hormon Ovaprim dan Prostaglandin F2 α(PGF2 α). Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UniversitasRiau. Pekanbaru. Hal. (tidak diterbitkan)
  52. 52. LAMPIRAN
  53. 53. Lampiran 1 : Dokumentasi Penelitiana. Seleksi Induk b. Adaptasi di wadah baruc.Wadah, Alat dan Bahan yang digunakand. Pengukuran panjang dan berat tubuh induk ikan selais
  54. 54. e. Penyuntikan Induk Ikan selaisf. Pembedahan induk Jantang. Penebaran Telur ke Wadah
  55. 55. h. Telur yang telah ditebar dalam wadah akuariumi. Telur yang tidak berhasil dibuahij. Pakan Artemia dan Tubifex
  56. 56. Lampiran 2: Tabel Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Ovaprim dan PGF2 αTerhadap Fertilitas Telur Ikan Selais (Ompok hypopthalmus)DATA FERTILITAS TELUR IKAN SELAISPerlakuan UlanganFertilitas Ikan SelaisJumlah (%)Telur Ovulasi Telur Terbuahi11 156 104 66,662 142 90 63,383 163 111 68,10Jumlah 461 305Rata-rata 66,1621 288 221 76,732 256 189 73,823 273 206 75,46Jumlah 817 616Rata-rata 75,4031 106 58 54,712 118 70 59,323 110 62 56,36Jumlah 334 190Rata-rata 56,8941 88 0 02 82 0 03 97 0 0Jumlah 267 0Rata-rata 051 232 171 73,702 215 154 71,623 224 163 72,77Jumlah 671 488Rata-rata 72,73
  57. 57. Lampiran 3. Analisis Variansi (Anava) satu arah (one way) KombinasiPenyuntikan Ovaprim dan PGF2 terhadap Fertilitas TelurIkan Selais (Ompok hypopthalmus)NormalitasDescriptive StatisticsN Minimum Maximum Mean Std. Deviation SkewnessStatistic Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Std. ErrorFertilitas 15 .00 76.73 54.1753 28.84672 -1.045 .580Valid N (listwise) 15AnavaDescriptivesFertilitasN Mean Std. Deviation Std. Error95% Confidence Interval for MeanMinimum MaximumLower Bound Upper Bound1.00 3 66.0467 2.41904 1.39663 60.0374 72.0559 63.38 68.102.00 3 75.3367 1.45892 .84231 71.7125 78.9608 73.82 76.733.00 3 56.7967 2.33582 1.34858 50.9942 62.5992 54.71 59.324.00 3 .0000 .00000 .00000 .0000 .0000 .00 .005.00 3 72.6967 1.04194 .60156 70.1084 75.2850 71.62 73.70Total 15 54.1753 28.84672 7.44819 38.2005 70.1501 .00 76.73Test of Homogeneity of VariancesFertilitasLevene Statistic df1 df2 Sig.2.488 4 10 .111ANOVAFertilitasSum of Squares df Mean Square F Sig.Between Groups (Combined) 11620.826 4 2905.206 1000.289 .000LinearTermContrast 1154.564 1 1154.564 397.527 .000Deviation 10466.261 3 3488.754 1201.210 .000Within Groups 29.044 10 2.904Total 11649.869 14Uji LanjutFertilitasStudent-Newman-KeulsaPerlakuan NSubset for alpha = 0.051 2 3 44.00 3 .00003.00 3 56.79671.00 3 66.04675.00 3 72.69672.00 3 75.3367Sig. 1.000 1.000 1.000 .087Means for groups in homogeneous subsets are displayed.a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3,000.
  58. 58. Lampiran 4: Tabel Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Ovaprim dan PGF2 αTerhadap Daya Tetas Telur Ikan Selais (Ompok hypopthalmus)DAYA TETAS TELUR IKAN SELAISPerlakuan UlanganDaya Tetas Telur Ikan Selais Jumlah(%)Telur Terbuahi Telur Menetas11 104 61 58,652 90 47 52,223 111 65 58,56Jumlah 305 173Rata-rata 56,7221 221 172 77,822 189 140 74,073 206 157 76,21Jumlah 616 469Rata-rata 76,1431 58 22 37,932 70 26 37,143 62 19 30,64Jumlah 190 67Rata-rata 35,2641 0 0 02 0 0 03 0 0 0Jumlah 0 0Rata-rata 0 0 051 171 124 72,512 154 107 69,483 163 116 71,16Jumlah 488 347Rata-rata 71,11
  59. 59. Lampiran 5. Analisis Variansi (Anava) satu arah (one way) KombinasiPenyuntikan Ovaprim dan PGF2 terhadap Daya Tetas TelurIkan Selais (Ompok hypopthalmus)NormalitasDescriptive StatisticsN Minimum Maximum Mean Std. Deviation SkewnessStatistic Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Std. ErrorDaya Tetas Telur 15 .00 77.82 47.7593 28.83176 -.773 .580Valid N (listwise) 15AnavaDescriptivesDaya Tetas TelurN Mean Std. Deviation Std. Error95% Confidence Interval forMeanMinimum MaximumLower Bound Upper Bound1.00 3 56.4767 3.68666 2.12849 47.3185 65.6348 52.22 58.652.00 3 76.0333 1.88123 1.08613 71.3601 80.7066 74.07 77.823.00 3 35.2367 4.00038 2.30962 25.2992 45.1742 30.64 37.934.00 3 .0000 .00000 .00000 .0000 .0000 .00 .005.00 3 71.0500 1.51799 .87641 67.2791 74.8209 69.48 72.51Total 15 47.7593 28.83176 7.44433 31.7928 63.7258 .00 77.82Test of Homogeneity of VariancesDaya Tetas TelurLevene Statistic df1 df2 Sig.4.903 4 10 .089ANOVADaya Tetas TelurSum of Squares df Mean Square F Sig.Between Groups (Combined) 11566.912 4 2891.728 408.000 .000LinearTermContrast 659.508 1 659.508 93.051 .000Deviation 10907.404 3 3635.801 512.983 .000Within Groups 70.876 10 7.088Total 11637.787 14Post Hoc TestsDaya Tetas TelurStudent-Newman-KeulsaPerlakuan NSubset for alpha = 0.051 2 3 4 54.00 3 .00003.00 3 35.23671.00 3 56.47675.00 3 71.05002.00 3 76.0333Sig. 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
  60. 60. Lampiran 6: Tabel Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Ovaprim dan PGF2 αTerhadap Kelulushidupan Larva Ikan Selais (Ompokhypopthalmus)KELULUSHIDUPAN IKAN SELAISPerlakuan UlanganJumlah Telur yang HidupJumlah (%)Awal Akhir11 61 18 29,512 47 14 29,793 65 20 30,77Jumlah 173 52Rata-rata 30,0621 172 93 54,072 140 71 50,713 157 84 53,50Jumlah 469 248Rata-rata 52,8831 22 7 31,822 26 9 34,613 19 6 31,58Jumlah 67 22Rata-rata 32,8441 0 0 02 0 0 03 0 0 0Jumlah 0 0Rata-rata 051 124 55 44,352 107 38 35,513 116 47 40,52Jumlah 347 140Rata-rata 40,35
  61. 61. Lampiran 7. Analisis Variansi (Anava) satu arah (one way) KombinasiPenyuntikan Ovaprim dan PGF2 terhadap KelulushidupanLarva Ikan Selais (Ompok hypopthalmus)NormalitasDescriptive StatisticsN Minimum Maximum Mean Std. Deviation SkewnessStatistic Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Std. ErrorKelulushidupan 15 .00 54.07 31.1160 18.15947 -.775 .580Valid N (listwise) 15AnavaDescriptivesKelulushidupanN Mean Std. Deviation Std. Error95% Confidence Interval forMeanMinimum MaximumLower Bound Upper Bound1.00 3 30.0233 .66161 .38198 28.3798 31.6669 29.51 30.772.00 3 52.7600 1.79808 1.03812 48.2933 57.2267 50.71 54.073.00 3 32.6700 1.68437 .97247 28.4858 36.8542 31.58 34.614.00 3 .0000 .00000 .00000 .0000 .0000 .00 .005.00 3 40.1267 4.43311 2.55946 29.1142 51.1391 35.51 44.35Total 15 31.1160 18.15947 4.68875 21.0596 41.1724 .00 54.07Test of Homogeneity of VariancesKelulushidupanLevene Statistic df1 df2 Sig.3.281 4 10 .058ANOVAKelulushidupanSum of Squares df Mean Square F Sig.Between Groups (Combined) 4564.407 4 1141.102 218.097 .000LinearTermContrast 317.916 1 317.916 60.763 .000Deviation 4246.492 3 1415.497 270.542 .000Within Groups 52.321 10 5.232Total 4616.728 14Post Hoc TestsKelulushidupanStudent-Newman-KeulsaPerlakuan NSubset for alpha = 0.051 2 3 44.00 3 .00001.00 3 30.02333.00 3 32.67005.00 3 40.12672.00 3 52.7600Sig. 1.000 .187 1.000 1.000Means for groups in homogeneous subsets are displayed.a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3,000.

×