SlideShare a Scribd company logo

Bahan tayang pemetaan tematik-ddrtp 2016

H
hadiarnowo

Dasar - dasar pengukuran dan pemetaan pertanahan

1 of 101
Download to read offline
SURVEI PENGUKURAN DAN
PEMETAAN
Diklat Dasar Tata Ruang dan
Pertanahan
Angkatan I
Tahun 2016
Tujuan Pembelajaran
Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta
mampu memahami penyelenggaraan
pemetaan tematik.
Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta
mampu :
• Pengertian Dasar Pemetaan Tematik
• Pemanfaatan Citra Satelit Dalam Pemetaan
Tematik
• Survei Pemetaan Tematik
JENIS PETA
Berdasarkan jenis, peta terbagi atas :
1. Peta dasar
Peta yang menampilkan unsur alam dan unsur
buatan. Unsur alam antara lain : gunung, sungai,
danau, vegetasi. Unsur buatan antara lain : gardu
PLN, tugu batas, gedung.
Contoh peta dasar : peta RBI, peta bidang tanah,
peta topografi
2. Peta tematik
Peta yang menampilkan unsur tema tertentu di
atas peta dasar. Contoh peta tematik : peta tempat
wisata, peta komoditi pertanian, peta rawan bencana
alam, peta penggunaan tanah, dan lain – lain
Peta Tematik
Peta yang menggambarkan atau menyajikan tema-
tema tertentu.
TUJUAN PEMETAAN TEMATIK
Melayani kebutuhan informasi spasial bagi internal maupun
eksternal BPN, peta tematik yang dibuat harus tersedia dalam
satuan regional maupun satuan bidang tanah
peta tematik satuan
regional
peta tematik dalam satuan
bidang tanah
skala kecil dan
menengah
bagian penting dalam
perencanaan wilayah
dan kebijakan
pertanahan
secara umum
skala
besar
sebagai kendali
kebijakan pelayanan
pertanahan dan
perencanaan wilayah
tingkat detail
Evaluasi
Ketahanan
Pangan
Arahan Lokasi
Pembangunan
Sektoral
(pendidikan,
kesehatan, dll
Pengembang
an daerah
potensi
wisata
Perencanaan
pembangunan
daerah terpencil/
perbatasan
negara
Pembangunan
wilayah
pesisir
Rencana
pembangunan
infrastruktur
Potensi
komoditi
pertanian/
perkebunan
Evaluasi
kerusakan
lingkungan
hidup
Peta
Tematik
Inventarisasi
Tanah Aset
Pemerintah
Penataan
Kawasan
Kumuh
Penyusunan
dan Evaluasi
Tata Ruang
Rehabilitasi
Lahan Kritis

Recommended

More Related Content

What's hot

Pemanfaatan Citra Satelit Medium Resolution Untuk Pemetaan Urban FootPrint
Pemanfaatan Citra Satelit Medium Resolution Untuk Pemetaan Urban FootPrintPemanfaatan Citra Satelit Medium Resolution Untuk Pemetaan Urban FootPrint
Pemanfaatan Citra Satelit Medium Resolution Untuk Pemetaan Urban FootPrintbramantiyo marjuki
 
Bab 3 pemetaan planimetrik sederhana
Bab 3 pemetaan planimetrik sederhanaBab 3 pemetaan planimetrik sederhana
Bab 3 pemetaan planimetrik sederhanaHendra Supriyanto
 
Rangkuman Mata Kuliah Sistem Referensi Geospasial
Rangkuman Mata Kuliah Sistem Referensi GeospasialRangkuman Mata Kuliah Sistem Referensi Geospasial
Rangkuman Mata Kuliah Sistem Referensi GeospasialFaisal Widodo Bancin
 
Tutorial agisoft metashape pengolahan data drone - edi supriyanto, st
Tutorial agisoft metashape   pengolahan data drone - edi supriyanto, stTutorial agisoft metashape   pengolahan data drone - edi supriyanto, st
Tutorial agisoft metashape pengolahan data drone - edi supriyanto, stProjectEngineer5
 
PENGENALAN ArcMAP dan PENGANTAR ArcCATALOG pada ARCGIS 10.0
PENGENALAN ArcMAP dan PENGANTAR ArcCATALOG pada ARCGIS 10.0PENGENALAN ArcMAP dan PENGANTAR ArcCATALOG pada ARCGIS 10.0
PENGENALAN ArcMAP dan PENGANTAR ArcCATALOG pada ARCGIS 10.0oriza steva andra
 
Sistem sistem satelit di bidang geodesi satelit
Sistem sistem satelit di bidang geodesi satelitSistem sistem satelit di bidang geodesi satelit
Sistem sistem satelit di bidang geodesi satelitRetno Pratiwi
 
GEOREFERENCING pada ARCGIS 10.0
GEOREFERENCING pada ARCGIS 10.0GEOREFERENCING pada ARCGIS 10.0
GEOREFERENCING pada ARCGIS 10.0oriza steva andra
 
Materi Kuliah Penginderaan Jauh Dasar (Sejarah Perkembangan Teknologi Pengind...
Materi Kuliah Penginderaan Jauh Dasar (Sejarah Perkembangan Teknologi Pengind...Materi Kuliah Penginderaan Jauh Dasar (Sejarah Perkembangan Teknologi Pengind...
Materi Kuliah Penginderaan Jauh Dasar (Sejarah Perkembangan Teknologi Pengind...Nurul Afdal Haris
 
Pengikatan ke muka & belakang
Pengikatan ke muka & belakangPengikatan ke muka & belakang
Pengikatan ke muka & belakangTutus Kusuma
 
Tiga Cara Memotong file Raster Sesuai Batas Polygon Menggunakan ArcGIS
Tiga Cara Memotong file Raster Sesuai Batas Polygon Menggunakan ArcGISTiga Cara Memotong file Raster Sesuai Batas Polygon Menggunakan ArcGIS
Tiga Cara Memotong file Raster Sesuai Batas Polygon Menggunakan ArcGISbramantiyo marjuki
 
Perka BIG No. 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa
Perka BIG No. 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta DesaPerka BIG No. 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa
Perka BIG No. 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta DesaJaringan Kerja Pemetaan Partisipatif
 
Tutorial ASTER Imagery Orthorectification Using ENVI Software
Tutorial ASTER Imagery Orthorectification Using ENVI SoftwareTutorial ASTER Imagery Orthorectification Using ENVI Software
Tutorial ASTER Imagery Orthorectification Using ENVI Softwarebramantiyo marjuki
 
Laporan Pembuatan Peta Tematik
Laporan Pembuatan Peta TematikLaporan Pembuatan Peta Tematik
Laporan Pembuatan Peta TematikSally Indah N
 
Gd fisik2013 lab2_jawaban 10 soal
Gd fisik2013 lab2_jawaban 10 soalGd fisik2013 lab2_jawaban 10 soal
Gd fisik2013 lab2_jawaban 10 soalTaufiq Rifai
 
Peran data dan informasi geospasial dalam penataan ruang
Peran data dan informasi geospasial dalam penataan ruangPeran data dan informasi geospasial dalam penataan ruang
Peran data dan informasi geospasial dalam penataan ruangArya Pinandita
 
Tutorial Singkat Agisoft Photoscan Basic
Tutorial Singkat Agisoft Photoscan BasicTutorial Singkat Agisoft Photoscan Basic
Tutorial Singkat Agisoft Photoscan Basicbramantiyo marjuki
 

What's hot (20)

Kesalahan Bias Ionosfer dan Troposfer
Kesalahan Bias Ionosfer dan TroposferKesalahan Bias Ionosfer dan Troposfer
Kesalahan Bias Ionosfer dan Troposfer
 
Pemanfaatan Citra Satelit Medium Resolution Untuk Pemetaan Urban FootPrint
Pemanfaatan Citra Satelit Medium Resolution Untuk Pemetaan Urban FootPrintPemanfaatan Citra Satelit Medium Resolution Untuk Pemetaan Urban FootPrint
Pemanfaatan Citra Satelit Medium Resolution Untuk Pemetaan Urban FootPrint
 
Bab 3 pemetaan planimetrik sederhana
Bab 3 pemetaan planimetrik sederhanaBab 3 pemetaan planimetrik sederhana
Bab 3 pemetaan planimetrik sederhana
 
DIGITASI
DIGITASIDIGITASI
DIGITASI
 
Rangkuman Mata Kuliah Sistem Referensi Geospasial
Rangkuman Mata Kuliah Sistem Referensi GeospasialRangkuman Mata Kuliah Sistem Referensi Geospasial
Rangkuman Mata Kuliah Sistem Referensi Geospasial
 
Laporan Praktikum ArcGis
Laporan Praktikum ArcGisLaporan Praktikum ArcGis
Laporan Praktikum ArcGis
 
Tutorial agisoft metashape pengolahan data drone - edi supriyanto, st
Tutorial agisoft metashape   pengolahan data drone - edi supriyanto, stTutorial agisoft metashape   pengolahan data drone - edi supriyanto, st
Tutorial agisoft metashape pengolahan data drone - edi supriyanto, st
 
PENGENALAN ArcMAP dan PENGANTAR ArcCATALOG pada ARCGIS 10.0
PENGENALAN ArcMAP dan PENGANTAR ArcCATALOG pada ARCGIS 10.0PENGENALAN ArcMAP dan PENGANTAR ArcCATALOG pada ARCGIS 10.0
PENGENALAN ArcMAP dan PENGANTAR ArcCATALOG pada ARCGIS 10.0
 
Sistem sistem satelit di bidang geodesi satelit
Sistem sistem satelit di bidang geodesi satelitSistem sistem satelit di bidang geodesi satelit
Sistem sistem satelit di bidang geodesi satelit
 
Transformasi Datum
Transformasi DatumTransformasi Datum
Transformasi Datum
 
GEOREFERENCING pada ARCGIS 10.0
GEOREFERENCING pada ARCGIS 10.0GEOREFERENCING pada ARCGIS 10.0
GEOREFERENCING pada ARCGIS 10.0
 
Materi Kuliah Penginderaan Jauh Dasar (Sejarah Perkembangan Teknologi Pengind...
Materi Kuliah Penginderaan Jauh Dasar (Sejarah Perkembangan Teknologi Pengind...Materi Kuliah Penginderaan Jauh Dasar (Sejarah Perkembangan Teknologi Pengind...
Materi Kuliah Penginderaan Jauh Dasar (Sejarah Perkembangan Teknologi Pengind...
 
Pengikatan ke muka & belakang
Pengikatan ke muka & belakangPengikatan ke muka & belakang
Pengikatan ke muka & belakang
 
Tiga Cara Memotong file Raster Sesuai Batas Polygon Menggunakan ArcGIS
Tiga Cara Memotong file Raster Sesuai Batas Polygon Menggunakan ArcGISTiga Cara Memotong file Raster Sesuai Batas Polygon Menggunakan ArcGIS
Tiga Cara Memotong file Raster Sesuai Batas Polygon Menggunakan ArcGIS
 
Perka BIG No. 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa
Perka BIG No. 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta DesaPerka BIG No. 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa
Perka BIG No. 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa
 
Tutorial ASTER Imagery Orthorectification Using ENVI Software
Tutorial ASTER Imagery Orthorectification Using ENVI SoftwareTutorial ASTER Imagery Orthorectification Using ENVI Software
Tutorial ASTER Imagery Orthorectification Using ENVI Software
 
Laporan Pembuatan Peta Tematik
Laporan Pembuatan Peta TematikLaporan Pembuatan Peta Tematik
Laporan Pembuatan Peta Tematik
 
Gd fisik2013 lab2_jawaban 10 soal
Gd fisik2013 lab2_jawaban 10 soalGd fisik2013 lab2_jawaban 10 soal
Gd fisik2013 lab2_jawaban 10 soal
 
Peran data dan informasi geospasial dalam penataan ruang
Peran data dan informasi geospasial dalam penataan ruangPeran data dan informasi geospasial dalam penataan ruang
Peran data dan informasi geospasial dalam penataan ruang
 
Tutorial Singkat Agisoft Photoscan Basic
Tutorial Singkat Agisoft Photoscan BasicTutorial Singkat Agisoft Photoscan Basic
Tutorial Singkat Agisoft Photoscan Basic
 

Similar to Bahan tayang pemetaan tematik-ddrtp 2016

Bab 2. Teknik Survei Tanah dan Lahan 2014
Bab 2. Teknik Survei Tanah dan Lahan 2014Bab 2. Teknik Survei Tanah dan Lahan 2014
Bab 2. Teknik Survei Tanah dan Lahan 2014Purwandaru Widyasunu
 
Pemanfaatan INDRAJA (Pengindraan jauh)
Pemanfaatan INDRAJA (Pengindraan jauh)Pemanfaatan INDRAJA (Pengindraan jauh)
Pemanfaatan INDRAJA (Pengindraan jauh)January YunGky
 
iv-penginderaan-jauh.pptx
iv-penginderaan-jauh.pptxiv-penginderaan-jauh.pptx
iv-penginderaan-jauh.pptxrioprayogo2
 
Peran penginderaan jauh dalam perencanaan pembangunan zamria
Peran penginderaan jauh dalam perencanaan pembangunan zamriaPeran penginderaan jauh dalam perencanaan pembangunan zamria
Peran penginderaan jauh dalam perencanaan pembangunan zamriaOperator Warnet Vast Raha
 
Dasar dasar perpetaan
Dasar dasar perpetaanDasar dasar perpetaan
Dasar dasar perpetaanZia Ul Maksum
 
Kelompok3_MPD_sumber data DTM.pptx
Kelompok3_MPD_sumber data DTM.pptxKelompok3_MPD_sumber data DTM.pptx
Kelompok3_MPD_sumber data DTM.pptxkarlossare1
 
Penginderaan Jauh - Prinsip Dasar Penginderaan Jauh (By. Pratiwi)
Penginderaan Jauh - Prinsip Dasar Penginderaan Jauh (By. Pratiwi)Penginderaan Jauh - Prinsip Dasar Penginderaan Jauh (By. Pratiwi)
Penginderaan Jauh - Prinsip Dasar Penginderaan Jauh (By. Pratiwi)Luhur Moekti Prayogo
 
7307-20465-1-SM.pptx
7307-20465-1-SM.pptx7307-20465-1-SM.pptx
7307-20465-1-SM.pptxRoni568572
 
Pengantar_SIG.PPT
Pengantar_SIG.PPTPengantar_SIG.PPT
Pengantar_SIG.PPTYulliaPuTri
 
SIG dan Pemetaan Pertemuan ke III (Konsep Dasar Penginderaan Jauh)
SIG dan Pemetaan Pertemuan ke III (Konsep Dasar Penginderaan Jauh)SIG dan Pemetaan Pertemuan ke III (Konsep Dasar Penginderaan Jauh)
SIG dan Pemetaan Pertemuan ke III (Konsep Dasar Penginderaan Jauh)Amos Pangkatana
 
Remote Sensing For Geomorphology, Image Processing, Short Tutorial Using ArcG...
Remote Sensing For Geomorphology, Image Processing, Short Tutorial Using ArcG...Remote Sensing For Geomorphology, Image Processing, Short Tutorial Using ArcG...
Remote Sensing For Geomorphology, Image Processing, Short Tutorial Using ArcG...bramantiyo marjuki
 
LASER SCANNING, SATELIT IFSAR, SATELIT RESOLUSI TINGGI, SENSOR CCD
LASER SCANNING, SATELIT IFSAR, SATELIT RESOLUSI TINGGI, SENSOR CCDLASER SCANNING, SATELIT IFSAR, SATELIT RESOLUSI TINGGI, SENSOR CCD
LASER SCANNING, SATELIT IFSAR, SATELIT RESOLUSI TINGGI, SENSOR CCDNational Cheng Kung University
 
PENGINDERAAN JAUH UNTUK TATA GUNA LAHAN DAN TRANSPORTASI
PENGINDERAAN JAUH UNTUK TATA GUNA LAHAN DAN TRANSPORTASIPENGINDERAAN JAUH UNTUK TATA GUNA LAHAN DAN TRANSPORTASI
PENGINDERAAN JAUH UNTUK TATA GUNA LAHAN DAN TRANSPORTASINesha Mutiara
 
Teknik navigasi darat
Teknik navigasi daratTeknik navigasi darat
Teknik navigasi daratarifbogor
 
96144 makalah-fotogrametri
96144 makalah-fotogrametri96144 makalah-fotogrametri
96144 makalah-fotogrametriridhooo9898
 

Similar to Bahan tayang pemetaan tematik-ddrtp 2016 (20)

Bab 2. Teknik Survei Tanah dan Lahan 2014
Bab 2. Teknik Survei Tanah dan Lahan 2014Bab 2. Teknik Survei Tanah dan Lahan 2014
Bab 2. Teknik Survei Tanah dan Lahan 2014
 
Pemanfaatan INDRAJA (Pengindraan jauh)
Pemanfaatan INDRAJA (Pengindraan jauh)Pemanfaatan INDRAJA (Pengindraan jauh)
Pemanfaatan INDRAJA (Pengindraan jauh)
 
iv-penginderaan-jauh.pptx
iv-penginderaan-jauh.pptxiv-penginderaan-jauh.pptx
iv-penginderaan-jauh.pptx
 
Peran penginderaan jauh dalam perencanaan pembangunan zamria
Peran penginderaan jauh dalam perencanaan pembangunan zamriaPeran penginderaan jauh dalam perencanaan pembangunan zamria
Peran penginderaan jauh dalam perencanaan pembangunan zamria
 
Dasar dasar perpetaan
Dasar dasar perpetaanDasar dasar perpetaan
Dasar dasar perpetaan
 
Kelompok3_MPD_sumber data DTM.pptx
Kelompok3_MPD_sumber data DTM.pptxKelompok3_MPD_sumber data DTM.pptx
Kelompok3_MPD_sumber data DTM.pptx
 
Penginderaan jauh
Penginderaan jauhPenginderaan jauh
Penginderaan jauh
 
Survey dan Pemetaan
Survey dan PemetaanSurvey dan Pemetaan
Survey dan Pemetaan
 
Metode peta
Metode petaMetode peta
Metode peta
 
Penginderaan Jauh - Prinsip Dasar Penginderaan Jauh (By. Pratiwi)
Penginderaan Jauh - Prinsip Dasar Penginderaan Jauh (By. Pratiwi)Penginderaan Jauh - Prinsip Dasar Penginderaan Jauh (By. Pratiwi)
Penginderaan Jauh - Prinsip Dasar Penginderaan Jauh (By. Pratiwi)
 
7307-20465-1-SM.pptx
7307-20465-1-SM.pptx7307-20465-1-SM.pptx
7307-20465-1-SM.pptx
 
Pengantar_SIG.PPT
Pengantar_SIG.PPTPengantar_SIG.PPT
Pengantar_SIG.PPT
 
SIG dan Pemetaan Pertemuan ke III (Konsep Dasar Penginderaan Jauh)
SIG dan Pemetaan Pertemuan ke III (Konsep Dasar Penginderaan Jauh)SIG dan Pemetaan Pertemuan ke III (Konsep Dasar Penginderaan Jauh)
SIG dan Pemetaan Pertemuan ke III (Konsep Dasar Penginderaan Jauh)
 
118 343-3-pb
118 343-3-pb118 343-3-pb
118 343-3-pb
 
Remote Sensing For Geomorphology, Image Processing, Short Tutorial Using ArcG...
Remote Sensing For Geomorphology, Image Processing, Short Tutorial Using ArcG...Remote Sensing For Geomorphology, Image Processing, Short Tutorial Using ArcG...
Remote Sensing For Geomorphology, Image Processing, Short Tutorial Using ArcG...
 
LASER SCANNING, SATELIT IFSAR, SATELIT RESOLUSI TINGGI, SENSOR CCD
LASER SCANNING, SATELIT IFSAR, SATELIT RESOLUSI TINGGI, SENSOR CCDLASER SCANNING, SATELIT IFSAR, SATELIT RESOLUSI TINGGI, SENSOR CCD
LASER SCANNING, SATELIT IFSAR, SATELIT RESOLUSI TINGGI, SENSOR CCD
 
PENGINDERAAN JAUH UNTUK TATA GUNA LAHAN DAN TRANSPORTASI
PENGINDERAAN JAUH UNTUK TATA GUNA LAHAN DAN TRANSPORTASIPENGINDERAAN JAUH UNTUK TATA GUNA LAHAN DAN TRANSPORTASI
PENGINDERAAN JAUH UNTUK TATA GUNA LAHAN DAN TRANSPORTASI
 
Teknik navigasi darat
Teknik navigasi daratTeknik navigasi darat
Teknik navigasi darat
 
96144 makalah-fotogrametri
96144 makalah-fotogrametri96144 makalah-fotogrametri
96144 makalah-fotogrametri
 
Makalah geomatika
Makalah geomatika Makalah geomatika
Makalah geomatika
 

More from hadiarnowo

Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018hadiarnowo
 
Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018hadiarnowo
 
Bahan tayang diklatsar-penjelasan aktualisasi-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-penjelasan aktualisasi-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-penjelasan aktualisasi-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-penjelasan aktualisasi-gol iii-2018hadiarnowo
 
Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018hadiarnowo
 
Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018hadiarnowo
 
Bahan tayang diklatsar-dinamika kelompok-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-dinamika kelompok-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-dinamika kelompok-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-dinamika kelompok-gol iii-2018hadiarnowo
 
Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018hadiarnowo
 
Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018hadiarnowo
 
Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018hadiarnowo
 
Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018hadiarnowo
 
Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018hadiarnowo
 
Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018hadiarnowo
 
Bahan tayang pwp3 wt-ddrtp 2016
Bahan tayang pwp3 wt-ddrtp 2016Bahan tayang pwp3 wt-ddrtp 2016
Bahan tayang pwp3 wt-ddrtp 2016hadiarnowo
 
Bahan tayang penatagunaan tanah-ddrtp 2016
Bahan tayang penatagunaan tanah-ddrtp 2016Bahan tayang penatagunaan tanah-ddrtp 2016
Bahan tayang penatagunaan tanah-ddrtp 2016hadiarnowo
 
Bahan tayang pim3-strategi inovasi-2016
Bahan tayang pim3-strategi inovasi-2016Bahan tayang pim3-strategi inovasi-2016
Bahan tayang pim3-strategi inovasi-2016hadiarnowo
 
Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016
Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016
Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016hadiarnowo
 
Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016
Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016
Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016hadiarnowo
 
Bahan tayang pim3-wawasan kebangsaan-2016
Bahan tayang pim3-wawasan kebangsaan-2016Bahan tayang pim3-wawasan kebangsaan-2016
Bahan tayang pim3-wawasan kebangsaan-2016hadiarnowo
 
Nasionalisme gol iii-part ii
Nasionalisme gol iii-part iiNasionalisme gol iii-part ii
Nasionalisme gol iii-part iihadiarnowo
 
Nasionalisme gol iii-part i
Nasionalisme gol iii-part iNasionalisme gol iii-part i
Nasionalisme gol iii-part ihadiarnowo
 

More from hadiarnowo (20)

Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018
 
Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018
 
Bahan tayang diklatsar-penjelasan aktualisasi-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-penjelasan aktualisasi-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-penjelasan aktualisasi-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-penjelasan aktualisasi-gol iii-2018
 
Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018
 
Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018
 
Bahan tayang diklatsar-dinamika kelompok-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-dinamika kelompok-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-dinamika kelompok-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-dinamika kelompok-gol iii-2018
 
Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018
 
Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-whole government-gol iii-2018
 
Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-konsepsi aktualisasi-gol iii-2018
 
Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-analisis isu kontemporer-gol iii-2018
 
Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-wasbang-gol iii-2018
 
Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018
Bahan tayang diklatsar-nasionalisme-gol iii-2018
 
Bahan tayang pwp3 wt-ddrtp 2016
Bahan tayang pwp3 wt-ddrtp 2016Bahan tayang pwp3 wt-ddrtp 2016
Bahan tayang pwp3 wt-ddrtp 2016
 
Bahan tayang penatagunaan tanah-ddrtp 2016
Bahan tayang penatagunaan tanah-ddrtp 2016Bahan tayang penatagunaan tanah-ddrtp 2016
Bahan tayang penatagunaan tanah-ddrtp 2016
 
Bahan tayang pim3-strategi inovasi-2016
Bahan tayang pim3-strategi inovasi-2016Bahan tayang pim3-strategi inovasi-2016
Bahan tayang pim3-strategi inovasi-2016
 
Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016
Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016
Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016
 
Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016
Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016
Bahan tayang pim3-konsep inovasi-2016
 
Bahan tayang pim3-wawasan kebangsaan-2016
Bahan tayang pim3-wawasan kebangsaan-2016Bahan tayang pim3-wawasan kebangsaan-2016
Bahan tayang pim3-wawasan kebangsaan-2016
 
Nasionalisme gol iii-part ii
Nasionalisme gol iii-part iiNasionalisme gol iii-part ii
Nasionalisme gol iii-part ii
 
Nasionalisme gol iii-part i
Nasionalisme gol iii-part iNasionalisme gol iii-part i
Nasionalisme gol iii-part i
 

Bahan tayang pemetaan tematik-ddrtp 2016

  • 1. SURVEI PENGUKURAN DAN PEMETAAN Diklat Dasar Tata Ruang dan Pertanahan Angkatan I Tahun 2016
  • 2. Tujuan Pembelajaran Kompetensi Dasar Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta mampu memahami penyelenggaraan pemetaan tematik. Indikator Keberhasilan Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta mampu : • Pengertian Dasar Pemetaan Tematik • Pemanfaatan Citra Satelit Dalam Pemetaan Tematik • Survei Pemetaan Tematik
  • 3. JENIS PETA Berdasarkan jenis, peta terbagi atas : 1. Peta dasar Peta yang menampilkan unsur alam dan unsur buatan. Unsur alam antara lain : gunung, sungai, danau, vegetasi. Unsur buatan antara lain : gardu PLN, tugu batas, gedung. Contoh peta dasar : peta RBI, peta bidang tanah, peta topografi 2. Peta tematik Peta yang menampilkan unsur tema tertentu di atas peta dasar. Contoh peta tematik : peta tempat wisata, peta komoditi pertanian, peta rawan bencana alam, peta penggunaan tanah, dan lain – lain
  • 4. Peta Tematik Peta yang menggambarkan atau menyajikan tema- tema tertentu.
  • 5. TUJUAN PEMETAAN TEMATIK Melayani kebutuhan informasi spasial bagi internal maupun eksternal BPN, peta tematik yang dibuat harus tersedia dalam satuan regional maupun satuan bidang tanah peta tematik satuan regional peta tematik dalam satuan bidang tanah skala kecil dan menengah bagian penting dalam perencanaan wilayah dan kebijakan pertanahan secara umum skala besar sebagai kendali kebijakan pelayanan pertanahan dan perencanaan wilayah tingkat detail
  • 6. Evaluasi Ketahanan Pangan Arahan Lokasi Pembangunan Sektoral (pendidikan, kesehatan, dll Pengembang an daerah potensi wisata Perencanaan pembangunan daerah terpencil/ perbatasan negara Pembangunan wilayah pesisir Rencana pembangunan infrastruktur Potensi komoditi pertanian/ perkebunan Evaluasi kerusakan lingkungan hidup Peta Tematik Inventarisasi Tanah Aset Pemerintah Penataan Kawasan Kumuh Penyusunan dan Evaluasi Tata Ruang Rehabilitasi Lahan Kritis
  • 7. PETA PENGGUNAAN TANAH a. Pengertian : memetakan tutupan permukaan bumi baik yang merupakan bentukan alami maupun buatan manusia b. Landasan hukum : Pasal 15 UUPA dan PP No. 16/ 2004 tentang Penatagunaan Tanah c. Output kegiatan : peta dalam bentuk digital dengan skala - Perkotaan : 1: 5.000 – 1 : 10.000 - Perdesaan : 1 : 10.000 – 1 : 25.000 d. Data input : foto udara dan citra satelit e. Metode survei : groundcheck
  • 8. PETA GAMBARAN UMUM PENGUASAAN TANAH a. Pengertian : memetakan blok persil tanah berdasarkan jenis penguasaan tanah yang meliputi : tanah millik bersertipikat, tanah milik belum bersertipikat, tanah negara telah diperuntukkan dan tanah negara belum diperuntukkan b. Landasan hukum : Pasal 3,4, dan 6 UUPA c. Output kegiatan : peta dalam bentuk digital dengan skala - Perkotaan : 1: 5.000 - Perdesaan : 1 : 10.000 d. Data input : foto udara dan citra satelit, peta bidang tanah, peta pendaftaran tanah peta persil tanah (PBB), peta kawasan hutan, pertambangan, peta tanah HGU e. Metode survei : sistem sampling dan groundcheck
  • 9. PETA KEMAMPUAN TANAH a. Pengertian : pengelompokkan karakteristik fisik tanah yang meliputi : lereng, kedalaman efektif tanah, tekstur tanah, faktor erosi, drainase, faktor pembatas b. Landasan hukum : Pasal 15 UUPA dan PP No. 16/ 2004 tentang Penatagunaan Tanah c. Output kegiatan : peta dalam bentuk digital dengan skala 1 : 10.000 – 1 : 25.000 hanya untuk wilayah perdesaan d. Data input : Citra satelit beresolusi, peta RBI e. Metode survei : plotting data sekunder pada peta kemampuan tanah
  • 10. PETA INFRASTRUKTUR WILAYAH a. Pengertian : menggambarkan jaringan dan fasilitas vital di suatu wilayah meliputi : jaringan jalan, jaringan listrik dan bangunan penunjang, jaringan telepon dan bangunan penunjang, jaringan gas dan bangunan penunjang, jaringan PDAM, jaringan drainase dan kanal banjir, jaringan irigasi dan bangunan penunjang serta sarana transportasi b. Landasan hukum : Pasal 15 UUPA dan PP No. 16/ 2004 tentang Penatagunaan Tanah c. Output kegiatan : peta dalam bentuk digital dengan skala 1 : 5.000 untuk perkotaan dan1 : 10.000 untuk perdesaan d. Data input : Foto udara dan citra satelit, peta jalan, peta jaringan listrik, gas, telepon, air minum
  • 11. PETA MASALAH PERTANAHAN a. Pengertian : menggambarkan masalah pertanahan berdasarkan kelas : sengketa prosedur penetapan hak dan pendaftaran tanah, sengketa batas/letak bidang tanah, sengketa ganti rugi tanah ex partikelir, sengketa tanah ulayat, sengketa tanah obyek landreform, sengketa pengadaan tanah dan sengketa pelaksanaan putusan pengadilan b. Landasan hukum : Pasal 3, 4 dan 6 UUPA c. Output kegiatan : peta dalam bentuk digital dalam satuan blad dan satuan wilayah. Peta dalam satuan blad dimaksudkan untuk memperoleh posisi lokasi sedangkan dalam satuan wilayah untuk memperoleh penyebarannya. d. Data input : • Foto udara dan citra satelit, peta bidang tanah, data masalah pertanahan e. Metode survei : plotting data sekunder
  • 12. Peta indikasi tanah terlantar a. Pengertian : tanah yang diterlantarkan oleh pemegang hak atas tanah, Hak Pengelolaan atau pihak yang telah memperoleh dasar penguasaan atas tanah tetapi belum memperoleh hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang – undangan yang berlaku b. Landasan hukum : Pasal 3, 4 dan 6 UUPA, PP 36/ 1998 c. Output kegiatan : peta dalam bentuk digital dalam satuan blad dan satuan wilayah. Peta dalam satuan blad dimaksudkan untuk memperoleh posisi lokasi sedangkan dalam satuan wilayah untuk memperoleh penyebarannya. d. Data input : foto udara dan citra satelit, peta bidang tanah, data tanah yang diindikasikan terlantar e. Metode survei : survei dan plotting data sekunder
  • 13. TUGAS KELOMPOK • Setiap kelompok mendapat 1 jenis peta tematik • Sebutkan layer – layer yang harus ada di peta tematik • Sebutkan kelas – kelas tematik untuk peta tematik yang dipilih • Sebutkan pilihan simbol (titik/ garis/ poligon)
  • 15. Pengertian Penginderaan Jauh Penggunaan sensor radiasi elektromagnetik untuk merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diinterpretasikan sehingga menghasilkan informasi yang berguna. Curran (1985) Ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah atau fenomena yang dikaji. Lillesand dan Kiefer (1979)
  • 17. Landsat 1 Landsat 8 SPOT5 SPOT7 Aster CSIR
  • 18. FOTOGRAMMETRI Citra fotografik adalah foto udara yang diperoleh dari pemotretan dari udara yang menggunakan pesawat terbang atau wahana terbang lainnya. Hasil dari proses fotogrametri adalah berupa peta foto atau peta garis.
  • 19. FOTO UDARA (FOTOGRAMETRI 1. Lebih sederhana sistem operasionalnya 2. Tingkat kedetilan dapat disesuaikan dengan kebutuhan 3. Resolusi spasial lebih baik
  • 20. CITRA SATELIT Landsat (Amerika Serikat) Ikonos (Amerika Serikat+Jepang) Quickbird (Amerika Serikat) SPOT (Perancis ) NOAA (Amerika Serikat ) IRS (India) Aster (Amerika Serikat ), dll. 1. Biaya relatif lebih murah 2. Kontinyu 3. Mudah didapat
  • 23. Band 1 (0.45-0.52 _m; biru) : membedakan kejernihan air dan antara tanah dengan tanaman Band 2 (0.52-0.60 _m; hijau) : mendeteksi tanaman. Band 3 (0.63-0.69 _m; merah) : membedakan tipe tanaman, lebih daripada band 1 dan 2 Band 4 (0.76-0.90 _m; reflected IR) : meneliti biomas tanaman, dan membedakan batas tanah-tanaman dan daratan-air. Band 5 (1.55-1.75 _m; reflected IR) : menunjukkan kandungan air tanaman dan tanah, untuk membedakan tipe dan kesehatan tanaman, dan untuk membedakan antara awan, salju dan es Band 6 (10.4-12.5 _m; thermal IR) : berguna untuk mencari lokasi kegiatan geothermal, mengukur tingkat stress tanaman, kebakaran, dan kelembaban tanah Band 7 (2.08-2.35 _m; reflected IR) : berhubungan dengan mineral; ratio antara band 5 dan 7 berguna untuk mendeteksi batuan dan deposit mineral
  • 24. Kombinasi Band Band 3,2,1 Band 5,4,2 Band 4,3,2
  • 25. Sistem Penginderaan Jauh Penginderaan Jauh Pasif • Panchromatic imaging system • Multispectral imaging system • Super spectral Imaging System • Hyper spectral Imaging System Penginderaan Jauh Aktif • RADAR System • LiDAR System
  • 27. Panchromatic Imaging System • Single channel sensor yang digunakan • Visual pada citra tampak dalam bentuk gradasi hitam putih • Mempunyai keunggulan resolusi spasial
  • 28. Multispectral Imaging System • Menggunakan multi kanal detektor dimana setiap kanal memiliki band warna tertentu • Mempunyai keragaman warna dan kecerahan yang lebih baik
  • 29. Super Spectral Imaging System Fitur pada citra menampilkan detail spektral dan spasial yang sangat baik • Contoh : satelit WorldView-3
  • 30. - Menggunakan kanal gelombang elektromagnetik yang banyak dengan spektrum sempit - Menghasilkan celah perbedaan warna yang banyak (lebih dari 100) - Cocok untuk aplikasi pertanian, pertambangan, geologi Hyper Spectral Imaging System
  • 32. Penginderaan Jauh Pasif Penginderaan jauh pasif menggunakan teknologi optical remote sensing. Cara kerjanya yaitu dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang berasal dari radiasi matahari dan dipantulkan dari obyek di atas permukaan bumi lalu diterima sensor untuk membentuk citra (image). Merupakan sistem penginderaan jauh yang paling umum penggunaannya dan yang paling luas cakupan wilayahnya. Sensor pankromatik hanya menggunakan 1 band, sedangkan sensor multispektral menggunakan lebih dari 2 band
  • 33. RADAR (Radio Detection And Ranging) System Sensor memancarkan gelombang mikro yang diarahkan ke permukaan bumi, dan hasil pantulannya diterima kembali Keuntungan sistem Radar : - Siang dan malam - Dapat menembus awan/ tak tergantung cuaca - Penetrasi permukaan bumi dan vegetasi - Dapat membentuk DEM (untuk model 3D)
  • 34. RADAR
  • 35. RADAR
  • 36. LiDAR (Light Detection And Ranging) System Sensor mengirim pulsa sinar laser yang mengenai dan memantul dari permukaan bumi
  • 38. 1) Resolusi spasial mengacu pada pada ketajaman citra untuk mengukur elemen terkecil yang dapat dibedakan dan dikenali dari suatu citra. Pada umumnya apabila orang berbicara mengenai resolusi dimaksudkan sebagai resolusi spasial. DATA CITRA SATELIT Resolusi : -Pankromatik : < 1m -Multispektral : 1,3 – 5 m -Near InfraRed : 30 m -ShortWave Infra Red :30 m Kemampuan sensor dalam mendefinisikan objek di permukaan bumi yang diwakili oleh pixel (picture element)
  • 39. 30 x 30 meter 4 x 4 meter 1 x 1 meter
  • 40. 2) Resolusi spektral merupakan kerincian spektrum elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh suatu sistem penginderaan jauh. Jenis resolusi ini dihubungkan dengan jumlah saluran (band) yang tersedia. Semakin banyak band yang tersedia akan semakin baik penyajian warna dari suatu citra. DATA CITRA SATELIT Jumlah band dalam Satelit Landsat 8 : 5 band visible light 1 band NIR 2 band SWIR 2 band TIR 1 band Cirrus
  • 41. 3) Resolusi radiometrik menunjukkan kepekaan sistem sensor terhadap perbedaan terkecil kekuatan sinyal yang dinyatakan oleh gradasi nilai tone. Konsep resolusi radiometrik sering digabungkan dengan resolusi spektral dikaitkan dengan penyajian gradasi warna. DATA CITRA SATELIT
  • 42. 4) Resolusi temporal merupakan frekuensi perekaman ulang bagi daerah yang sama. DATA CITRA SATELIT Landsat : 16 hari SPOT : 1 hari Ikonos : + 3 hari Quikbird : 2 – 6 hari NOAA : 24 jam Sampai lokasi yang sama pada x hari
  • 43. Satelit Resolusi Spasial Jumlah Band Revisited Time Cakupan Landsat-8 Pankromatik 15 m Multispektral 30 m 11 16 hari 185x185 km2 SPOT-7 Pankromatik 1,5 m Multispektral 6 m 5 1 hari 60x60 km2 Ikonos Pankromatik 0,82 m Multispektral 3,2 m 5 3 hari 11,3x11,3 km2 Quickbird Pankromatik 0,61 m Multispektral 2,44 m 6 2-6 hari 16,3x16,3 km2 WorldView-3 Pankromatik 0,31 m Multispektral 1,24 m 29 1-4 hari 13,1x13,1 km2 GeoEye-2 (WorldView-4) Pankromatik 0,34 m Multispektral 1,36 m 5 1 hari 14,5x14,5 km2 ALOS Pankromatik 2,5 m Multispektral 10 m 5 4-6 hari 35-70x35-70 km2 Kompsat-3A Pankromatik 0,7 m Multispektral 2,8 m 6 2-5 hari 12x12 km2 Orbview-3 Pankromatik 1 m Multispektral 4 m 5 3 hari 8x8 km2 KARAKTERISTIK CITRA SATELIT
  • 44. Skala Resolusi Satelit Akurasi 1 : 100.000 30 m 50 m 1 : 50.000 20 m 25 m 1 : 25.000 10 m 12,5 m 1 : 10.000 2,5 m 5 m 1 : 5.000 1 m 2,5 m 1 : 3.000 0,61 m 1,5 m 1 : 2.500 0, 5 m 1 m Perbandingan Tingkat Resolusi Satellit Dengan Skala Peta
  • 45. Apa untung rugi dari masing – masing platform penginderaan jauh ? Platform Penginderaan Jauh
  • 51. INTERPRETASI CITRA Secara umum proses citra dapat dibedakan menjadi proses awal (preprocessing) dan pemrosesan citra (image processing). Data acquisition Data collection Data preprocessingImage processing
  • 52. Data preprocessing 1) Koreksi rotasi Bumi. Untuk mendapatkan posisi obyek muka bumi dengan baik pada waktu lokal yang relatip sama, sehingga posisi citra yang direkam berada pada arah utara - selatan yang tepat. 2) Pengurangan bising (noise). Kesalahan yang bisa timbul dari berbagai tahapan penggunaan alat elektronik yang merekam sinyal pada sensor hingga alat elektronik yang digunakan oleh pemakai.  Kesalahan acak (random) disebabkan instrumen sensor yang tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat dikurangi hingga relatip kecil  Kesalahan sistimatis, yang dapat dihilangkan pada proses awal. satu citra
  • 53. Data preprocessing 3) Koreksi radiometrik. Bias yang disebabkan karena adanya perbedaan dalam ketinggian matahari, yang tergantung dari tahun, berbeda dalam jumlah hamburan dan penyerapan atmosfer, dan juga karena perbedaan liputan di suatu daerah 4) Koreksi Atmosfer. Pendekatan yang sering digunakan adalah metode darkest pixel (nilai pixel terendah).Metode ini menghitung pengaruh penghamburan molekul di udara melalui rasio dari pengaruh penghamburan aerosol di infra merah dekat terhadap penghamburan aerosol pada panjang gelombang lainnya.
  • 54. 5) Koreksi Geometris. Cara pertama dengan menghitung pengaruh ketelitian lokasi, ketinggian dan arah perekaman satelit lalu mentransfer koordinat citra ke proyeksi peta yang digunakan. Cara kedua adalah adalah dengan perhitungan berdasarkan pada titik yang koordinatnya diketahui (ground control point) dalam satu citra. CITRA LANDSAT SEBELUM KOREKSI GEOMETRI CITRA LANDSAT SESUDAH KOREKSI GEOMETRI
  • 55. Rektifikasi Citra Terhadap Citra Geographic Lat/Lon UTM 47 27 24 N, 123 53 15 W 432950, 5256434 meters Proses konversi koordinat dari suatu citra berdasarkan referensi koordinat suatu citra
  • 56. CONTOH PEMOTONGAN CITRA CITRA LANDSAT SEBELUM DIPOTONG CITRA LANDSAT SESUDAH DIPOTONG
  • 57. Salah satu tahap pemrosesan citra adalah penajaman citra. Penajaman citra mencakup berbagai tehnik untuk memperbaiki penampilan citra dan kemudian menginterpretasinya. Jenis pekerjaan interpretasi citra lebih banyak berupa interpretasi secara visual. Sedangkan ekstraksi informasi merupakan cara untuk mengartikan informasi dari citra digital asli dengan bantuan proses komputer, baik dalam bentuk citra, peta, maupun tabel serta data lainnya yang diperlukan. Pemrosesan Citra
  • 58. Interpretasi Visual melakukan interpretasi suatu kenampakan atau obyek melalui mata terhadap citra yang ditampilakan melalui screen monitor atau pada hasil cetakan citra ? ? ? ?
  • 59. 1. TONE / RONA TONE/RONA: Tone/rona mengacu pada kecerahan atau warna relatif suatu obyek dalam image. Secara umum, rona merupakan elemen yang mendasar dalam pembedaan target. Rona akan lebih mudah diinterpretasikan bila bervariasi dengan elemen bentuk, tekstur, dan pola obyek Tanaman tua Tanaman muda
  • 60. 2. BENTUK Bentuk, mengacu pada struktur dan outline obyek individu BENTUK : ?
  • 61. 3. UKURAN UKURAN : Ukuran obyek dalam image merupakan fungsi skala. Contoh : Ukuran antara bangunan sebagai tempat tinggal dengan bangunan sebagai bangunan komersial. ? ?
  • 62. 4. POLA Pola, mengacu pada susunan kenampakan spasial obyek. Pola perkebunan yang dikembangkan Oleh perusahaan akan terlihat teratur dibandingkan dengan pola pertanian yang alami ? ?
  • 63. 5. TEKSTUR Tekstur, mengacu pada susunan dan frekuensi rona suatu obyek, yang nampak pada kenampakan kasar atau halusnya permukaan obyek. Contoh adalah : perbedaan hutan alam dengan hutan tanaman industri, yang relatif punya keseragaman dalam kanopi. ? ?
  • 64. 6. BAYANGAN Bayangan memberikan ide dalam membedakan profil atau ketinggian suatu obyek tanpa bayangan dengan bayangan
  • 65. 7. ASOSIASI Asosiasi berkaitan dengan hubungan antara obyek terhadap obyek yang lain. mangrove Contoh pantai dimana terdapat vegetasi pada wilayah muara sungai, mungkin dapat diasosiasikan dengan mangrove
  • 66. Penggolongan informasi spektral atau informasi spasial dari suatu citra menjadi beberapa klas yang berbeda dan mempunyai arti terhadap obyeknya. Cara untuk melakukan klasifikasi yaitu : 1. Teknik klasifikasi terbimbing (supervised) 2. Teknik klasifikasi tak terbimbing (unsupervised) Klasifikasi terbimbing tergantung banyak dipengaruhi oleh pengetahuan pada daerah yang di analisis. Operator memasukkan nilai pixel pada citra yang mewakili satu kelompok liputan lahan di lapang. Selanjutnya komputer akan mencari pixel yang mempunyai karakteristik spektral yang sama. Daerah yang diinformasikan pada komputer tersebut disebut training area /training sample Klasifikasi Citra
  • 67. Klasifikasi tak terbimbing tidak memerlukan pengetahuan tentang pixel pada citra, tetapi hanya didasarkan pada nilai digital tiap pixel secara mutlak. Pada prinsipnya, nilai digital untuk tiap pixel pada tiap panjang gelombang diuji, dan citra tersebut kemudian dibagi menjadi sejumlah kelas
  • 68. PENGGUNAAN GPS HANDHELD Antena Connector Tombol –tombol Fungsi Tombol Besar berfungsi sebagai Mouse, menggeser pointer (atas,bawah,kanan, kiri) IN=Untuk mengecilkan cakupan Peta sehingga objek lebih jelas OUT=Untuk memperbesar cakupan Peta FIND = Untuk mencari posisi objek yang kita inginkan misal (titik, kota dll) ENTER=Menyimpan posisi titik hasil pengamatan supaya tersimpan dalam memory PAGE= Untuk mengganti ke depan halaman-halaman tampilan di LCD QUIT=Untuk mengganti ke belakang halaman-halaman tampilan di LCD GPS MENU= Untuk menampilkan menu yang ada pada setiap tampilan halaman LCD GPS MONITOR/LCD GPS POWER=On/Off TAMPAK DEPAN
  • 69. PRINSIP PENGOPERASIAN GPS HANDHELD Satelit GPS Receiver GPS Persil Target N Pengamat Tampilan Jl. Sudirman
  • 70. No Skala peta Ukuran panjang 1/2cm di lapang Ukuran luas ½ x ½ cm2 di lapang 1 : 250.000 1.250 meter 156,25 Ha 1 : 100.000 500 meter 25 Ha 1 : 50.000 250 meter 6,25 Ha 1 : 25.000 125 meter 1,56 Ha 1 : 10.000 50 meter 0,25 Ha 1 : 5.000 25 meter 0,0625 Ha 1 : 2.500 12,5 meter 0,0156 Ha 1 : 1.000 5 meter 0,0025 Ha Tabel 1. Ukuran Tingkat Ketelitian Pemetaan (Minimal Unit Pemetaan)Tabel 1. Ukuran Tingkat Ketelitian Pemetaan (Minimal Unit Pemetaan) Tabel Ukuran Tingkat Ketelitian Pemetaan
  • 72. Penyajian data merupakan finishing dari seluruhnya dalam bentuk layout peta. Persiapan : penyiapan dokumen administrasi, bahan kerja dan peralatan teknis, serta perlengkapan lapang Pengolahan data adalah entri data hasil kegiatan lapang, plotting data, pengeditan, pembuatan topologi hingga kontrol kualitas. Pengambilan data lapang meliputi pengukuran, survei lapang, pengambilan sampel serta pengamatan sesuai dengan metodologi pada masing – masing tema peta.
  • 73. Persiapan Pemetaan Tematik A. Persiapan administrasi. meliputi : • Penyiapan dokumen administrasi • Koordinasi dengan pihak pemberi pekerjaan • Persiapan personil pelaksana, meliputi : koordinator- koordinator, tenaga administrasi, operator, surveior • Perencanaan waktu pelaksanaan dan tenaga pelaksananya • Pembuatan laporan pendahuluan B. Persiapan teknis meliputi • Mobilisasi tenaga pelaksana dan atau peralatan yang akan dipergunakan untuk penyelesaian pekerjaan • Persiapan peralatan termasuk pengujian dan pengaturan kembali (adjustment) alat-alat sebelum
  • 74. Pembuatan peta kerja ditujukan untuk mempersiapkan bahan dalam rangka kegiatan selanjutnya yaitu kegiatan survei lapang dalam rangka pengecekan antara data hasil interpretasi dengan kondisi eksisting dilapangan. Pembuatan peta kerja ini untuk 2 tema yang perlu disiapkan, yaitu tema penggunaan tanah dan penguasaan tanah skala besar. Unsur dalam peta kerja adalah : - Peta dasar. Sesuai dengan UU No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial, peta dasar yang digunakan adalah Peta Rupabumi Indonesia - Citra satelit. Digunakan sebagai petunjuk awal data penggunaan tanah berdasarkan interpretasi - Keterangan lain baik spasial maupun tekstual yang berasal dari sumber lain
  • 75. Peta dasar Citra satelit Keterangan lain Unsur dasar : jalan, sungai, batas administrasi, tempat2 penting Diproses terlebih dahulu sebelum ditampilkan. Digunakan sbg petunjuk awal penggunaan tanah. Sangat membantu dalam pekerjaan di lapang
  • 76. Langkah pertama harus dilakukan adalah mencari titik pasti di lapang sesuai dengan yang tampak pada peta kerja dan merupakan titik awal pengamatan menjelajah lapangan. Contoh simpang jalan, jembatan, mercusuar dan lainnya yang terlihat nyata khas. Perjalanan survei sesuai rencana jalur jelajah pengamatan. Jangan lupa cantumkan dan berikan simbol klasifikasi penggunaan tanah pada peta kerja sesuai dengan klasifikasi yang telah ditentukan Survei Pemetaan Penggunaan Tanah
  • 77. – Semua poligon penggunaan tanah yang masuk dalam tingkat ketelitian sebagai ukuran minimal unit pemetaan, seperti tercantum pada tabel ukuran tingkat ketelitian pemetaan (minimal unit pemetaan) di atas. – Jaringan jalan, rel, yang didasarkan pada kwalitas, nilai dan fungsi dari aksesnya, contoh: jalan aspal, jalan berbatu, jalan tanah; jalan penghubung kampung dengan sawah, tegalan, kebun, rel kereta api, rel lori. – Saluran pengairan/sungai, yang didasarkan pada kualitas, nilai dan fungsi dari saluran, contoh: sungai, irigasi, drainase, bendungan, terowongan air, waduk, situ, embung dengan mencantumkan namanya bila ada. – Batas administrasi.
  • 78. Pekerjaan survei pemetaan penguasaan tanah menyangkut pekerjaan inventarisasi data dari berbagai sumber. Jenis – jenis data yang dikumpulkan antara lain : • BPN : Peta Bidang Tanah, Peta Pendaftaran Tanah. • Pajak Bumi dan Bangunan : Peta Persil Tanah. • Kehutanan : Peta Kawasan Hutan,dll Setelah memperoleh data – data penguasaan tanah dari berbagai instansi, lakukan ploting data di atas peta kerja yang telah disiapkan. Untuk mempermudah pekerjaan terlebih dahulu tarik poligon untuk tanah kawasan hutan, tanah bersertifikat berskala besar, tanah bersertifikat lainnya dalam satu blok persil, dan sebagainya sehingga semua wilayah terbagi habis dalam kriteria gambaran umum penguasaan tanah. Survei Pemetaan Penguasaan Tanah
  • 79. Penarikan batas lereng pada peta dasar / lapang. Batas lereng dibuat dengan mengukur jarak transis kontur pada peta topografi : C I x 100 d = ----------------------------- x 1000 mm L x S D = jarak antara garis kontur C1 = interval kontur (m) L = lereng (dalam %) S = besaran skala (contoh : untuk skala 1 : 5000, maka S = 5000) Untuk transisi yang padat dihitung selisih antara 5 kontur, sedang yang jarang dihitung selisih antara 2 kontur, contoh : Menghitung jarak transis pada peta topografi skala 1 : 5.000 dan interval kontur 2,5 m. Survei Pemetaan Kemampuan Tanah
  • 80. Rencana jalur pengamatan ditentukan oleh skala peta, pola aliran dan bentuk wilayah. Untuk skala 1 : 25.000, 1 : 50.000 dan 1 : 100.000 pengamatan utamanya adalah jalur aliran sungai utama pada blad yang dipetakan atau jalur khayal tegak lurus dengan garis kontur. Jarak antara jalur pengamatan pada skala 1 : 100.000 = 2 Km, skala 1 : 50.000 = 1 Km dan 1 : 25.000 = 500 m. Sedangkan untuk skala lebih besar dari skala 1 : 25.000 jarak jalur pengamatan adalah 200 m. Penentuan titik awal pemetaan dimulai dari tanda alam yang relatif permanen berupa : a.Tugu trianggulasi. b.Persimpangan atau lekukan sungai. c.Persimpangan jalan yang kedudukannya telah diyakini. d.Tanda alam lainnya. Bahan dan peralatan adalah segala sesuatu yang diperlukan khusus untuk keperluan pengambilan data kemampuan tanah adalah : a.Abney hand level : untuk pengukuran lereng. b.Altimeter : untuk pengukuran ketinggian tempat. c.Bor tanah : untuk pengukuran kedalaman efektif tanah. d.Bor gambut : untuk pengukuran gambut. e.Munsell soil color chart : untuk mengamati jenis tanah. f.GPS receiver : untuk penentuan lokasi.
  • 81. Pengamatan unsur – unsur kemampuan tanah sebagai berikut : a. Lereng yang sudah ditarik berdasarkan peta topografi, diamati kembali di lapang dengan menggunakan clynometer/abney level (alat pengukur lereng)
  • 82. b. Kedalaman efektif tanah diamati dengan menggunakan bor tanah yang berbentuk spiral. Pengeboran dilakukan pada lokasi tanah asli, bukan pada tanah timbunan dan tegak lurus dengan permukaan tanah. Batas kedalaman efektif tanah diperoleh bila mata bor tanah telah menemui bahan induk, lapisan pasir yang tebal, cat-clay yang berbau seperti telur busuk yang menyengat, lapisan keras (padas) atau lapisan kedap air.
  • 83. c. Drainase diamati pada permukaan hanya pada wilayah yang berlereng 0 – 2 % saja. Tanda-tanda adanya genangan di lapang dilihat beberapa indikator di sekitar daerah pengamatan. Untuk mengetahui lamanya genangan masih diperlukan informasi dari penduduk setempat. d. Tekstur tanah diamati di lapang pada kondisi kelembaban tanah kapasitas lapang. Dengan mengambil contoh tanah pada keadaan tanah 20 – 30 cm dilakukan pengamatan tekstur
  • 84. Penyajian Peta Tematik Peta kerja hasil survei lapang Pengolahan data melalui program SIG Layout petaPelaporan dan penyimpanan data
  • 85. Jenis Data Data raster : data yang tersusun atas grid – grid teratur yang disebut piksel (pixels). Data vektor : : data yang tersusun atas garis - garis yang terhubung dan titik. Terdiri dari titik, garis dan area (polygon)
  • 87. Data Raster Data raster adalah data yang terbagi atas unit – unit terkecil dalam satuan pixel. Satu pixel merupakan satu unit bujur sangkar yang menyimpan informasi warna (color) dan kepekatan (tone). Contoh data raster adalah data grafis seperti hasil scan dan hasil pemotretan serta citra satelit/ foto udara. File data raster dinyatakan dalam *.jpg, *.bmp, *.gif, *.wmf. *.tiff, *.geotiff, dan sebagainya. File dengan extention *.jpg, *.bmp, *.gif, *.wmf hanya sebatas gambar. Sedangkan file dengan extention *.tiff dan *.geotiff dapat menyimpan geokoordinat yang umumnya adalah citra satelit.
  • 88. Data spasial digambarkan dalam bentuk piksel Peta dengan format raster Peta dengan format raster digabungkan dengan data vektor
  • 89. Data Vektor Fitur/ obyek titik umumnya untuk lokasi di bawah minimal unit tetapi penting untuk ditonjolkan. Contoh : tempat ATM, kantor desa, sekolah, ibukota provinsi, dsb. Fitur garis umumnya untuk obyek alam atau jaringan utilitas yang lebarnya tidak masuk minimal unit tetapi penting untuk ditonjolkan. Contoh : jalan, sungai, saluran irigasi, jaringan telepon, listrik, dan sebagainya. Termasuk di dalamnya adalah garis khayal untuk suatu batas interval seperti : garis kontur, garis curah hujan/ iklim, garis lereng, dsb. Fitur area umumnya untuk batasan wilayah/ daerah yang mempunyai ciri kelas tersendiri. Contoh : area penggunaan tanah sawah, kebun campur, hutan; area penguasaan tanah HGU, tanah kehutanan, dsb.
  • 91. Apa keuntungan dan kerugian data raster dan data vektor ?
  • 92. Langkah – langkah pembuatan peta digital sebagai berikut : • Rektifikasi citra • Registrasi/ kalibrasi peta • Digitasi/ entri/ inputting data • Pengisian struktur data • Editing • Edgematching/ korelasi • Transformasi • Labelling • Annotasi • Layout • Pembuatan metadata
  • 93. Rektifikasi : proses pengaturan posisi letak citra atau data raster lainnya sehingga sesuai dengan letak di permukaan bumi (georeferenced) Registrasi/ kalibrasi : proses penentuan batas area pekerjaan digitasi/entri/inputting Digitasi/ entri data/ inputting data : proses pemasukan data ke dalam komputer yang dilakukan melalui meja digitizer atau melalui on display pada komputer Editing : proses koreksi hasil digitasi akibat dari human error. Kesalahan digitasi tersebut menyebabkan tidak terbentuknya topologi (hubungan antar komponen data digital)
  • 94. Pembuatan struktur data sesuai dengan NSPK Pemetaan Tematik
  • 95. Standar Kartografi Standar pembuatan peta mengacu pada NSPK Survei dan Pemetaan Tematik. Hal – hal yang distandarkan : -Penggunaan simbol -Penggunaan warna serta pola arsir dan garis -Annotasi teks dalam muka peta -Layout peta Hasil akhir peta digital dibuat dengan program ArcView/ArcGIS dan dalam format *.shp. Seluruh bentuk simbol, pola arsir dan garis bersumber dari katalog ArcGIS. Standar simbol dibuat untuk unsur titik, garis dan poligon. Rumus warna menggunakan RGB untuk tampilan di komputer sedangkan CMYK untuk kepentingan cetak/ hardcopy.
  • 96. Layer yang ditampil- kan : 1. Poligon - Tematik 2. Garis (line) - Sungai - Jalan - Batas administrasi 3. Titik - Ibukota administrasi pemerintahan
  • 97. Standar simbol garis dan poin Standar simbol poligon
  • 99. Standar Kontrol Kualitas Hasil tabulasi data yang sudah sesuai dengan standar Hasil editing data sudah sesuai dengan kondisi dan informasi data eksisting dilapangan Ketersambungan antara batas geometri dan fungsionalnya sudah sesuai sebagai hasil dari kegiatan edge matching
  • 100. -Hasil akhir pekerjaan berupa peta tematik digital -Informasi peta tidak boleh diubah (digeneralisir), informasi peta ditampilkan sesuai dengan skala input -Pencetakan peta (sebagai sampel) dalam kertas glosy dengan ukuran A0 dengan skala menyesuaikan untuk seluruh tema per Kabupaten dan dijilid dalam satu kesatuan sebanyak 1 exsemplar dengan sampul HardCover dan design disesuaikan -Semua data dan hasil pekejaan disimpan dalam Alat Perekam Data berupa eksternal hard disk -Catat dan rekam dalam SIMAK BMN sesuai prosedur yang berlaku