Asuhan keperawatan pada anak tbc

14,488 views

Published on

0 Comments
7 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
14,488
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
578
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
7
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Asuhan keperawatan pada anak tbc

  1. 1. ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK TBC OLEH: WHENNY YUSVITA P.S S.Kep, Ns TIM PENGAJAR KEPERAWATAN ANAK STIKES MAJAPAHIT-MOJOKERTO
  2. 2. Pengertian <ul><li>Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis </li></ul>
  3. 3. Penyebab <ul><li>Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. </li></ul>
  4. 4. Tanda dan Gejala <ul><li>Gejala umum: 1. Batuk terus menerus lebih dari 4 minggu atau lebih dengan atau tanpa sputum 2. Badan lemah 3. Gejala flu 4. Demam derajat rendah 5. Nyeri dada </li></ul>
  5. 5. <ul><li>Gejala yang sering jumpai: 1. Dahak bercampur darah 2. Batuk darah 3. Sesak nafas dan rasa nyeri dada 4. Badan lemah, nafsu makan menurun </li></ul>
  6. 6. Patogenesis <ul><li>1. Tuberkulosis Primer Penularan terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung ada tidaknya sinar UV ventilasi yang baik dan kelembabab udara. Dalam suasana gelap dan lembab kuman dapat bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru. Kuman dapat juga masuk melalui luka pada kulit atau mukosa tapi hal ini jarang terjadi. </li></ul>
  7. 7. <ul><li>Bila kuman menetap di jaringan paru maka akan membentuk sarang TB pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini dapat terjadi dibagian mana saja jaringan paru. Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis local) dan juga diikuti pembesaran getah bening hilus (limfadenitis regional). Sarang primer + limfangitis local + limfadenitis regional = kompleks primer. </li></ul>
  8. 8. <ul><li>Komplek primer ini selajutnya dapat menjadi : * Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat * Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, kalsifikasi di hilus atau kompleks (sarang) Ghon </li></ul>
  9. 9. <ul><li>* Berkomplikasi dan menyebar secara : a. Per kontinuitatum, yakni menyebar kesekitarnya. b. Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru disebelahnya. Dapat juga kuman tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar keusus. c. Secara limfogen, keorgan tubuh lainnya d. Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya. </li></ul>
  10. 10. <ul><li>2. Tuberkulosis Post Primer Kuman yang dormant pada TB primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi TB dewasa (TB post primer). TB post primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di region atas paru-paru (bagian apical posterior lobus superior atau inferior). Invasinya adalah ke daerah parenkim paru dan tidak ke nodus hiler paru. </li></ul>
  11. 11. <ul><li>Tergantung dari jumlah kuman, virulensi dan imunitas penderita, sarang dini ini dapat menjadi : a. Diresorpsi kembali dan sembuh tanpa cacat b. Sarang yang mula-mula meluas, tapi segera menyembuh dengan sebukan jaringan fibrosis. Ada yang membungkus diri menjadi lebih keras, menimbulkan perkapuran dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran. c. Sarang dini meluas dimana granuloma berkembang menghancurkan jaringan sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis dan menjadi lembek membentuk jaringan keju. Bila jaringan keju dibatukkan keluar akan terjadillah kavitas. Kavitas ini mula-mula berdinding tipis, lama-lama dindingnya menebal karena infiltrasi jaringan fibroblast dalam jumlah besar, sehingga menjadi kavitas sklerotik. </li></ul>
  12. 12. Pemeriksaan Diagnostik <ul><li>1. Reaksi hipersensitivitas : Tes Kulit Tuberkulin a. Tes tuberkulin intradermal (Mantoux) b. Tes tuberkulin dengan suntikan jet c. Tes tuberkulin tusukan majemuk 2. Pemeriksaan radiografik </li></ul>
  13. 13. <ul><li>Gambaran TBC milier berupa bercak-bercak halus tersebar merata pada seluruh lapangan paru. Gambaran radiology lain yang sering menyertai TBC paru adalah penebalan pleura, efusi pleura atau empisema, penumothoraks (bayangan hitam radio lusen dipinggir paru atau pleura). </li></ul>
  14. 14. Pemeriksaan Bakteriologik <ul><li>Pemeriksaan ini penting karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis dapat dipastikan. Kriteria sputum BTA positip adalah sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan. </li></ul>
  15. 15. Penatalaksanaan <ul><li>1. Obat anti TB (OAT) Karena pemakaian obat tunggal banyak terjadi retesistensi karena sebagian besar kuman TB memang dapat dibinasakan tetapi sebagian kecil tidak maka terapi TB dilakukan dengan memakai paduan obat. </li></ul>
  16. 16. <ul><li>nis Obat : • Obat primer - isoniazid = INH - Streptomisin = SM - Rifampisin = RMP - Etambutol - Pita zinamid </li></ul>
  17. 17. <ul><li>• Obat sekunder - Etionamid - P.A.S (Para Amine Saliycylic Acid) - Prorionamid - Tiasetazon - Sikloseren - Viomysin - Kanamisin - Kapremisyn </li></ul>
  18. 18. <ul><li>2. Pembedahan pada TB Paru 3. DOTS 4. Pencegahan • Kemaprofilaksis • Vaksinasi BCG • Program kontrol </li></ul>

×