Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
Menelusuri Orchad Road Menghitung Kehebatan Singapura

Oleh:
Marjohan. M.Pd
(Guru Berprestasi Indonesia)

1
DAFTAR ISI
I. Melintasi Selat Malaka
A. Sebuah Kesempatan
B. Menyusuri Bumi Malaysia
C. Lebih Dekat Dengan Malaysia
II. Si...
KATA PENGANTAR
Singapura adalah kota dan sekaligus sebuah negara yang sangat populer.
Luas negara ini sangat kecil, hanya ...
I.
Melintasi
Selat
Malaka

4
A. Sebuah Kesempatan
1. Persiapan Dokumen
Aku tidak memikirkan kalau aku harus ikut studi banding, suatu hari
Bapak H. Ros...
menjadi guru pembimbing. Saat itu semua peserta mengisi blanko yang diminta
oleh Kantor Imigrasi dan dibutuhkan tiga lemba...
biasa saja, namun terlihat cukup bersih. Pengunjung yang datang, ada orang-orang
desa, mereka datang untuk mengurus paspor...
dan dari biro perjalanan JAP (Jalur Angkasa Prima). Mereka merasa perlu untuk
memberi pembekalan pengalaman bagaimana dan ...
Internasional Minangkabau dan bandara kedatangan Malaysia. Atau pasport
distempel oleh pihak imigrasi saat keluar dan saat...
Biasanya orang yang telah pergi ke luar negeri akan punya banyak cerita
menarik yang akan bisa menjadi pengalaman bagi ora...
hampir pukul 14.00, karena harus menyelesaikan akuan naskah ujian Bahasa
Inggris untuk kelas XI. Kabupaten Tanah Datar (se...
adalah ketua pelaksana studi banding siswa berprestasi ke Singapura dan
Malaysia.
Dikatakan bahwa kegiatan studi banding t...
Ada beberapa pengarahan yang kami peroleh. Bapak Yasman, S.Ag dari
komisi I, anggota DPRD Kabupaten Tanah Datar juga menya...
bukanlah kabupaten yang kaya, namun bisa menyediakan anggaran Rp. 580 juta
untuk mendukung acara studi banding tersebut, s...
Pagaruyung. Rasa ketupat gulai nangka cukup lezat (mungkin perut lapar). Aku
juga melahap goreng tahu dan kerupuk, aku mem...
Anak-anak peserta studi banding ini tentu saja anak-anak pilihan di
sekolah atau di Kecamatan mereka. Mereka amat mudah te...
memejamkan mata, tidak merasa rugi untuk melihat pemandangan apalagi
pemandangan yang akan dilihat sudah bisa dilalui sepa...
bandara sebagai beranda Sumatera Barat sudah sangat bagus dan terawat dengan
baik. Tiang-tiang listrik dengan simbol Minan...
B. Menyusuri Bumi Malaysia
1. Bandara Internasional Minangkabau.
Perjalana menuju negara tentanggi ini, kami awali dari Ba...
memberi kesejukan bagi warga yang berada di bumi. Jauh di atas juga ada awan
tipis menghiasi angkasa yang lebih tinggi lag...
aku melihat papan billboard menggunakan empat bahasa yaitu bahasa Arab,
Bahasa Melayu, Bahasa China dan Bahasa Inggris. Ak...
“Ya sesuai petunjuk buku perjalanan bahwa tanggal 17 November Rute
kami Padang- Kuala Lumpur. Rombongan pertama berkumpul ...
“Pantaslah moto parawista Kerajaan Malaysia adalah Malaysia the truly
Asia. Semua icon yang ada di asia terbentang dalam k...
cabe. Tentu saja masakanya rasa citarasa masakan Padang karena juru masaknya
berasal dari Sumatera Barat.
Siang tadi kami ...
sopir bis di kota Kuala Lumpur sangat menghargai pejalan kaki sesuai dengan
pesan yang pernah terlihat di bandara antar ba...
Petugas travel memberi petunjuk cara mengoperasikan lift untuk menuju
kamar 428 “tekan tombol menjadi angka empat, tutup p...
Iseng-iseng aku masuk ke kamar lain, ada siswa yang bernama “Amru”
(Amru Mufid dari SMPN 5 Batusangkar), cukup pendiam, ia...
Batusangkar” tentang tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh siswa selama aku
berada di Malaysia dan Singapura.
Malam itu...
Apalagi sepak bola adalah olah raga yang cukup bergengsi. Namun moga moga
kita bisa koreksi diri untuk kemajuan sepakbola ...
“Wah mengapa aku tidur, lebih baik aku terus menyelesaikan tulisan
tentang perjalanan ini”, bisikku dalam hati.
Dibawah, d...
Juice nanas

RM 12 (Rp. 36.000)

“Oh ya.....harga di hotel jadi mahal karena meliputi pajak 6%, dan 10%
untuk harga …., in...
C. Lebih Dekat Dengan Malaysia
1. Wisata Pendidikan
Hari berikutnya kami punya agenda untuk melakukan wisata pendidikan,
k...
Masih ada sedikit waktu dalam bis sebelum berangkat, aku masih punya
sedikit ide untuk menulis. Iwan, peserta dari MTsN Ta...
Pemandu wisata kami menceritakan bahwa dahulu etnis Cina banyak yang
kaya, namun sekarang etnis Cina ada yang kaya, tetapi...
Promosi keluar negeri sangat penting, apalagi untuk meyakinkan dan
sekaligus untuk menarik mahasiswa untuk datang kesana. ...
jebol”, namun persyaratan beasiswa 100%, 50%. 25% tentu lebih ketat, misalnya
nilai rata-rata 85 dan TOEFL dengan skor yan...
“Ya kami dipandu berkeliling oleh pemandu yang kurang dalam
komunikasi dan kecuali ia masih muda dan berwajah cantik”.
Yan...
tinggal bersama orang tua, keluarga di kampung sendiri dan juga karena biaya beli
rumah yang cukup tinggi di Kuala Lumpur....
tinggi. Dalam memandu kami dalam bus, guide memajang peta Malaysia pada
kaca depan bus. Jadi saat itu kami hanya berada di...
Kami disambut oleh ketua pengurus Istana Sri Menanti. Kami diberitahu
tentang sejarah hubungan negeri Sembilan dengan Mina...
bahwa (begitu juga di restoran) yaitu menyuguhkan minuman sirup. Aku fikir
bahwa minum sirup lebih sering berbahaya bagi k...
juga harus check out dan berkemas untuk keluar hotel. Agar dari Genting
Highland bisa ke Johor.
“Dalam buku petunjuk bahwa...
Oh ya,..aku masih teringat tentang pernyataan yang dilontarkan oleh
peserta tour tentang syarat menjadi attase atau bekerj...
turis dalam berbagai ras/ bangsa berfoto-foto. Untuk mencapai tempat ini kami
melalui kawasan bukit Bintang yang berlokasi...
setting pabrik ini telah membuat tempat ini menjadi destinasi wisata, tentu saja ia
melengkapi fasilitas layanan seperti a...
Tidak ada orang yang parkir kendaraan dengan bebas untuk istirahatmakan makan dan menebarkan sampah seenaknya. Atau orang ...
(mushalla/ praying room) terpisah antara surau pria dan surau wanita. Dekat surau
hanya ada fasilitas untuk berwuduk semen...
Ternyata kami tidak perlu membeli karcis untuk naik kereta kabel karena
pihak travel biro JAP (Jalur Angkasa Prima) sudah ...
meluncur tiba tiba angin kencang datang dan kereta terhenti dan kami berayunayun di udara. Penumpang yang phobi ketinggian...
Kesempatan untuk pergi ke Genting Highland tentu saja amat langka,
maka aku sempat mengambil video dan beberapa foto denga...
Aku berjalan untuk mengenal lokasi seputar trestoran. Rupanya ada
penjaja buah yang sudah dipotong-potong dan dibungkus da...
II.
Singapura
Sekilas
Pandang

52
A. Geografi dan Sejarah Singapura
Sebelum merangkak menuju Singapura, aku berusaha untuk mencari info
atau sejarah Singapu...
Johor, terpisah oleh Selat Johor, dan dihubungkan oleh sebuah jembatan yang
bernama jembatan Johor.
Republik Singapura mer...
kenikmatan duniawi) kecuali bila telah berhasil menaklukkan Nusantara
(termasuk daerah Tumasik atau Singapura)…ya sebagaim...
bahkan dari negeri-negeri jauh seperti Amerika Serikat dan Timur Tengah. Di
tahun 1824, hanya lima tahun setelah pendirian...
penting di Asia Tenggara. Maka dari itu, pada tahun 1818 Gubernur Jendral
Inggris di India memerintahkan kepada Sir Thomas...
dengan Indonesia, terkait dengan perebutan Borneo Utara yang bergabung dengan
Malaysia. Keadaan konflik ini dimanfaatkan o...
B. Dari Johor Baru Menuju Singapura
1. Aku tidak Mau Dibilang Kampungan
Untuk bisa mencapai negara Singapura, maka kami ti...
Oh ya ...bahwa tata cara masuk kamar hotel di Johor ini sedikit berbeda
dengan hotel yang di Kuala Lumpur. Begitu sampai d...
selanjutnya rombongan melanjutkan perjalanan ke Melaka, ya….kami hanya
bermalam dalam mobil saja”.
Pagi hari, kami masih b...
mata seperti “patung atau gambar Merlion”, ya kita sudah dipandang sehebat
selebriti tingkat lokal yang telah melancong ja...
tengah distrik utama Singapore. Jangan buang tiket bus 170 itu. Kita akan turun
naik bus 3x dan terkadang tiket itu diperi...
“Ya tentu saya mau ke Singapore…tidak mungkin saya mau ke Jakarta ?”
Jawabku sedikit bercanda boleh tidak begitu kaku dan ...
C. Harga Akomodasi
1) Check Out dari Hotel
Rupanya kami tidak lama berada di tropical inn. Kami semua harus
berkemas- berk...
“Ya apakah berencana mau menetap di Singapura untuk kuliah atau
sekolah? Masih bingung mencari tempat tinggal, beradaptasi...
kota) seperti di daerah Toa Payoh, Tampines, Clementi, maka harga sewa kamar
untuk satu orang berkisar dari SGD 500-800 pe...
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura

2,954 views

Published on

Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura

  1. 1. Menelusuri Orchad Road Menghitung Kehebatan Singapura Oleh: Marjohan. M.Pd (Guru Berprestasi Indonesia) 1
  2. 2. DAFTAR ISI I. Melintasi Selat Malaka A. Sebuah Kesempatan B. Menyusuri Bumi Malaysia C. Lebih Dekat Dengan Malaysia II. Singapura Sekilas Pandang A. Geografi dan Sejarah Singapura B. Dari Johor Baru Menuju Singapura C. Harga Akomodasi D. Pemandu Wisata Singapura E. Makna Setetes Air III. Menelusuri Singapura A. Menginjak Bumi Singapura B. Lebih Dekat Dengan Singapura C. Apa Guna Pendidikan (?) D. Memaksimalkan Potensi Sekolah E. Sekolah Nyaman Bikin Siswa Pintar F. Posisi Kualitas Pendidikan Singapura G. Naik MRT IV. Mereka Menjadi Hebat A. Pengalaman Menjadi Mahasiswa Singapura B.Profesi Guru Cukup Bergengsi C. Parenting- Orang Tua Sebagai Guru D. Dilarang Membuang Sampah ! E. Learning Centre Yang Mencerdaskan F. Restoran Singapura dan Anti Mubazir Makanan G. Agama Islam di Kota Merlion H. Ikut Pergi Shopping V. Kebiasan Positif Di Singapura A. No Smoking and No Littering B. Suka Kerja Keras C. Budaya Antri D. Budaya Suka Membaca. VI. Good Bye Singapore A. Melaju Ke Luar Singapura B. Menuju Malaka C. Kembali Ke Sumatera 2
  3. 3. KATA PENGANTAR Singapura adalah kota dan sekaligus sebuah negara yang sangat populer. Luas negara ini sangat kecil, hanya bisa dikelilingi dalam waktu beberapa menit saja. Ukuran yang kecil tidak membuat ia tak berdaya atau lemah. Singapura selalu memacu untuk membangun infrastrukturnya. Kini Singapura merupakan negara yang terhebat dan disegani di dunia. Dan banyak bangsa belajar darinya. Penulis merasa beruntung bisa berkunjung ke negara kecil nan tertib ini. Kunjungan ini dalam rangka pemberian reward bagi penulis dan juga buat warga yang berprestasi oleh Pemda Kab. Tanah Datar dalam bentuk program studi banding ke negara Singapura dan Malaysia. Tentu saja kunjungan tersebut amat berharga dan sebagai seorang guru, penulis tertarik untuk melihat langsung bukti bukti keberhasilannya, negara kota ini memang sangat bersih, rapi dan disiplin. Hasil pengamatan langsung dan informasi dari berbagai sumber (dari orang dan cyber/internet) semua dirangkum ke dalam buku catatan perjalanan. Selanjutnya catatan tersebut diolah menjadi naskah buku dengan judul: Menelusuri Orchad Road- Menghitung Kehebatan Singapura. Buku kecil ini diharapkan bisa memberi motivasi pada generasi muda, pelajar, para guru dan orang tua dan bagi siapa saja. Sebagaimana kata pepatah bahwa tiada gading yang tidak retak. Maka saran dan kritikan yang membangun dari pembaca dapat disampaikan melalui email: marjohanusman@yahoo.com. Atas kebaikan hati pembaca maka kami ucapkan terima kasih. Batusangkar, September, 2013 Marjohan, M.Pd 3
  4. 4. I. Melintasi Selat Malaka 4
  5. 5. A. Sebuah Kesempatan 1. Persiapan Dokumen Aku tidak memikirkan kalau aku harus ikut studi banding, suatu hari Bapak H. Rosfairil (Kepala SMA Negeri 3 Batusangkar) memberi sinyal kalau sudah waktu bagiku untuk tahu apakah aku berangkat atau tidak. Maka Bapak H. Rosfairil melakukan kontak telepon ke kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar. Namun saat itu ada sinyal buatku untuk bergabung, namun belum lagi diumumkan secara resmi, baru sebatas info dari mulut ke mulut (tidak resmi). Kemudian, suatu hari secara tiba-tiba, aku diminta untuk melengkapi bahan yang diperlukan oleh kantor imigrasi seperti “kartu nikah, KTP, kartu keluarga, ijazah, akta kelahiran, surat izin dari istri dan juga materai Rp. 6.000 (tiga lembar)”. Semua bahan dokumen ini diserahkan ke Kantor Dinas Pendidikan di Pagaruyung. Di sana aku juga berjumpa dengan beberapa orang guru yang juga mau berangkat studi banding. “Setiap dokumen yang asli harus ada fotocopinya”. Aku dan dan juga perlu tahu tentang persyaratan membuat dokumen menuju luar negeri. Setelah melengkapi dan menyerahkan dokumen maka kami harus menunggu proses selanjutnya. Ya terasa cukup lama dan setelah dua atau tiga minggu, ada perintah untuk pengumpulan bahan dokumen- untuk verifikasi. Panitia studi banding mengirim pesan melalui SMS kepada semua peserta. Hingga semua peserta comparative study (studi banding) berkumpul di aula Dinas Pendidikan di Pagaruyung- Batusangkar. Untuk memudahkan manajemen maka panitia studi banding membagi peserta atas 6 kelompok. Aku sendiri berada dalam kelompok 3 dan sekaligus 5
  6. 6. menjadi guru pembimbing. Saat itu semua peserta mengisi blanko yang diminta oleh Kantor Imigrasi dan dibutuhkan tiga lembar materai untuk di tempel pada dokumen aslinya. Di antara peserta tentu saja sudah mulai bersosialisasi- saling berkenalan. Aku saat itu baru mengenal beberapa orang anggota rombongan. Bersamanya juga ada dua orang siswanya sendiri (dari SMA Negeri 3 Batusangkar) yaitu Fauzi. Ia ikut pergi ke negara jiran sebagai reward- penghargaan atas prestasi sebagai siswa jago Kimia tingkat Sumbar. Kemudian Mayang Berliana, ia juga memperoleh reward atas prestasinya sebagai juara umum di SMAN 3 Batusangkar. Yang lain adalah “Fitria Rahmadani” juga ikut, namun ia telah memiliki passport. 2. Menuju Imigrasi Bukittinggi Suatu hari kami memperoleh SMS bahwa semua peserta grup 3 diminta untuk hadir jam 8.00 wib di Kantor Dinas Pendidikan. Mereka akan berangkat menuju kantor Imigrasi di Bukit Tinggi menggunakan bus Pemda Tanah Datar untuk menggurus penerbitan pass port secara kolektif. Saat itu peserta sudah mulai terlihat jelas “siapa saja dan dari mana saja”. Mereka adalah siswa yang berasal dari juara umum Kecamatan untuk siswa SD, terus dari MTsN, SMP, SMK, MA dan SMA di Kabupaten Tanah Datar. Juga ada guru berprestasi lainnya, siswa yang masih dibawah umur 17 tahun, musti didampingi oleh orang tua mereka. Setelah satu jam dari Batusangkar, akhirnya bus Pemda tiba di Kantor Imigrasi, Di Belakang Balok Bukittinggi. Gedung kantor imigrasi terlihat biasa- 6
  7. 7. biasa saja, namun terlihat cukup bersih. Pengunjung yang datang, ada orang-orang desa, mereka datang untuk mengurus pasport buat pergi umrah ke Mekkah, juga ada rombongan anak-anak pramuka dari Pesantren Al-Hira (Padang Panjang) jumlah mereka cukup banyak. Mereka akan mengikuti kegiatan pramuka di Malaysia dan setiap peserta membayar seribu dollar (apakah Dollar Amerika, Australia atau Dollar Singapura). By the way ikut kegiatan pramuka punya manfaat. Rombongan dari Tanah Datar (peserta Comparative study) juga cukup banyak di gedung tersebut. Saat rombongan kami tiba belum banyak aktivitas di kantor tersebut, namun kami datang lebih cepat dan berharap bisa urusan cepat selesai. Pertama kami antrian menunggu panggilan untuk pengambilan dokumen asli, setelah itu membayar biaya pembuatan paspor pada loket kasir. Kami harus menunggu beberapa saat untuk proses selanjutnya. Biaya pembuatan pasport ditanggung oleh Pemda Tanah Datar, masingmasing memperoleh Rp. 270.000, dengan rincian untuk biaya pembuatan pasport Rp. 255.000, dan sisanya buat beli minuman. Satu per satu anggota rombongan kami dipanggil untuk pemotretan dan setelah semua selsai rombongan mencari kuliner untuk mengisi perut yang lapar dan setelah itu kami kembali berangkat menuju Batusangkar. Katanya bahwa urusan passport dan dokumen lainnya sudah selesai. Kami semua kembali ke Batusangkar. Kami kembali berkumpul untuk memperoleh pembekalan pengalaman tentang keimigrasian dan melancong ke luar negeri. Pada umumnya peserta studi banding (guru dan siswa) belum pernah melakukan kunjungan ke Malaysia dan Singapore. Penyelenggara kegiatan ini adalah dari Dinas Pendidikan Tanah Datar 7
  8. 8. dan dari biro perjalanan JAP (Jalur Angkasa Prima). Mereka merasa perlu untuk memberi pembekalan pengalaman bagaimana dan mengapa dengan negara Malaysia dan Singapura- bagaimana kultur, politik dan budaya mereka. Bapak Mardalius, kepala sub bidang Dinas Pendidikan Tanah Datar, mengatakan bahwa Pemda Tanah Datar menyediakan anggaran sekitar Rp. 500 juta untuk membiaya studi comparative siswa dan guru berprestasi tersebut. Mereka terdiri dari anak-anak juara umum di Kecamatan, dan juara umum di sekolah bagi siswa tingkat SLTP dan SLTA dan juga guru-guru pilihan atau guru berprestasi. Dana yang dianggarkan tersebut merupakan reward bagi warga Tanah Datar dari segi pendidikan, tentu saja penganggaran ini telah disetujui oleh DPRD dan Pemerintah Tanah Datar. Dapat dikatakan bahwa dalam kegiatan tersebut guru-guru juga berfungsi sebagai unsur pembimbing dan mereka perlu memberikan perhatian atas keselamatan dan kesehatan siswa. Oleh karena ini dalam rombongan sekarang (studi banding yang ke 5) juga ikut seorang dokter yang berprestasi (Dr. Susi Julianti, dari Dinas Kesehatan Kecamatan Limo Kaum) untuk tingkat Sumatera Barat. 3. Menunggu Waktu Kegiatan studi banding kali ini, pada mulanya direncanakan sebelum lebaran haji yang jatuh tanggal 6 November, namun diundur menjadi tanggal 17 November. Dikatakan bahwa semua pasport sudah selesai dan siap dibagikan. Passport adalah sebagai dokumen atau identitas seseorang yang ingin berpergian ke negara lain dan paspor akan distempel di bahagian keimigrasian di Bandara 8
  9. 9. Internasional Minangkabau dan bandara kedatangan Malaysia. Atau pasport distempel oleh pihak imigrasi saat keluar dan saat masuk suatu negara. Penanggung jawab kegiatan ini memberi pesan pada kami bahwa selama berada di luar negeri, paspor musti ada pada diri kita. Kalau paspor kita hilang (dokumen penting ini) maka kita tidak bisa meninggalkan suatu negara, kita malah akan ditahan oleh pihak imigrasi dan polisi dan dianggap sebagai warga illegal. Dewasa ini negara Malaysia sudah maju, dan Singapura lebih maju lagi. Orang-orang di negara tersebut lebih teliti dan disiplin. Fenomena teliti tersebut bisa cenderung menjadi karakter pencuriga. Kadang-kadang karakter curiga sering dijumpai pada petugas imigrasi di bandara terhadap orang-orang yang membawa barang/tentengan yang berlebihan. “Mereka bisa dicurigai, misalnya memperoleh titipan drug atau narkoba dari seseorang”. Untuk itu disarankan agar siapa saja yang berkunjung ke luar negeri dan melewati kantor atau petugas immigrasi agar tidak mudah menerima titipan tas/barang dari seseorang sebelum masuk bandara, karena dikhawatirkan akan menjadi titipan narkoba oleh pengedarnya. Sebab penerima titipan akan bisa terlibat kasus dan ikut berurusan dengan imigrasi dan polisi. “sekali lagi diingatkan bahwa JANGAN MENERIMA BARANG TITIPAN DI BANDARA”. Demikian pesan Pemda kepada kami semua. Merokok dilarang di Singapura, untuk itu jangan merokok selama berada di Singapura. Juga diingatkan bahwa bila kita pergi keluar negeri dalam bentuk grup maka kita harus memperhatikan keselamatan dan kesehatan anggotagrup. Terutama kesehatan dan keselamatan diri pribadi. 9
  10. 10. Biasanya orang yang telah pergi ke luar negeri akan punya banyak cerita menarik yang akan bisa menjadi pengalaman bagi orang lain. Misalnya orang yang bernama “Salman dan Imam” bisa ditahan dan diinterogasi di Bandara Singapura. Alasannya bahwa nama tersebut mirip dengan nama Salman Rusdie, penulis buku The Satamic Verses (ayat-ayat setan) dan Imam Samudra, gembong teroris yang ikut meledakkan bom di pulau Bali. Ditambahkan bahwa keberangkatan rombongan tidak sekaligus, namun dipecah menjadi dua kali dengan pesawat Air Asia yang terbang dari bandara Padang menuju Kuala Lumpur. Juga dinyatakan lagi bahwa di Sumatera Barat program reward studi banding bagi warga yang berprestasi hanya ada di Kabupaten Tanah Datar. Warga yang berprestasi di Tanah Datar akan diberi reward oleh Pemerintah. Bagiku perjalanan menuju negara tetangga (Malaysia dan Singapura) juga sangat dinanti- nanti apalagi bila sudah mengunjungi negara Singapura. Sejak kecil aku sudah mendengar kata Singapura melalui siaran radio berbahasa Melayu dan bahasa Inggris. Apalagi beberapa tahun lalu aku amat rajin mengikuti program RSI- Radio Singapura Internasional. Aku sempat dua kali memperoleh hadiah- kaus oblong RSI- karena suratku terpilih sebagai surat pembaca yang terbaik. Kini aku ingin menulis memori/ pengalaman dan menulis sebuah buku yang judulnya “Kita Bisa Sehebat Singapura- Sebuah Catatan Perjalanan”. 4. Keberangkatan Tanggal 16 November kami berkumpul di Aula Islamic Centre, pukul 13.00 siang peserta sudah datang dari seluruh kecamatan. Aku sendiri tiba di Aula 10
  11. 11. hampir pukul 14.00, karena harus menyelesaikan akuan naskah ujian Bahasa Inggris untuk kelas XI. Kabupaten Tanah Datar (semester 1 tahun 2011/2012) dan ada sedikit problem dengan editing ukuran margin kertas ujian. Alhamdulillah akhirnya aku bisa merampungkan penulsian dan pengaturan ukuran kertas ujian sesuai dengan ukuran standar. Ia kemudian harus menuju Griya Alam Segar –rumahnya- untuk shalat zuhur dan menyiapkan travelling bagnya. Ia sempat menitipkan pesan pada anak laki-lakinya (Muhammad Fachrul Anshar) untuk berkumpul di Islamic Center Pagaruyung dan seterusnya terbang menuju Kuala Lumpur. Aku bergabung dengan peserta studi banding yang lain, setelah ditelpon oleh beberapa orang tua siswa peserta studi banding.Aku menyusup dalam kerumunan orang tua yang mau melepas keberangkatan anaknya. Dalam aula di gedung Islamic Center telah terpajang pamflet “Selamat Jalan rombongan Studi Banding Internasional Siswa/Siswi, guru, pengawas dan UPTD berprestasi Tanah Datar ke Malaysia dan Singapura, 17 sampai 22 November 2011, Penghargaan bagi yang berprestasi”. Semua peserta menunggu kedatangan Bupati Tanah Datar, Bapak Shadiq Pasadigoe, jam 15.15 sore. Aku dan juga orang-orang lain menghilangkan ringtone phone cell, khawatir kalau mengganggu kekhidmatan acara di ruangan tersebut. Kami semua memberikan applause (tepuk tangan) dan Bupati begitu juga rombongan telah datang. Mereka bergegas dan melangkah menuju deretan kursi paling depan untuk memberikan arahan dan juga melepaskan keberangkatan kami secara formal. Kepala Dinas Pendidikan Tanah Datar, Bapak Drs. H. Darisman, 11
  12. 12. adalah ketua pelaksana studi banding siswa berprestasi ke Singapura dan Malaysia. Dikatakan bahwa kegiatan studi banding telah menjadi kegiatan rutin sejak tahun 2006. Tanah Datar merupakan satu-satunya kabupaten di Sumatera Barat yang memberikan reward buat warga yang berprestasi, tentu saja sebagai cara terbaik dalam memotivasi warga. Program tersebut juga sangat bermanfaat untuk menambah wawasan peseta tentang budaya, etos belajar dan etos kerja masyarakat Malaysia dan Singapura yang negara mereka sudah maju tersebut. Jumlah peserta ada 137 guru, 107 siswa dan 30 orang guru pembimbing. Bapak Darisman memperkenalkan peserta per grup, mereka berdiri dan memperoleh applause. “Oh, sungguh memberi semangat dan keceriaan bagi semua peserta”. Ada dua kloter penerbagangan, peserta nomor 1-95 ditambah dengan nomor 136, dan 137 musti bermalam di Islamic Centre. Mereka akan berangkat menuju BIM (Bandara Internasional Minangkabau) pada pukul 3.00 dini hari. Kemudian kloter kedua adalah nomor 96-135. Seterusnya, Bapak Darisman menjelaskan bahwa rencana perjalanan adalah pada tanggal 17-22 November. Esok hari kami terbang dari padang menuju Kuala Lmpur dan melakukan city tour, mengunjungi Putra Jaya dan masjid Negara. Thanks bahwa studi banding ini bisa terlaksana karena dukungan dana APBD (Anggaran Pengeluaran Belanja Daerah) tahun 2011. Ternyata jaket berwarna hitam dan bertulisan “peseta studi banding internasional Malaysia dan Singapura” yang kami pakai adalah sumbangan dari BPD (Bank Nagari) Batusangkar. 12
  13. 13. Ada beberapa pengarahan yang kami peroleh. Bapak Yasman, S.Ag dari komisi I, anggota DPRD Kabupaten Tanah Datar juga menyampaikan beberapa arahan. Ia mengatakan bahwa Tanah Datar tidak memiliki pabrik dan tambang, maka SDM yang bagus juga merupakan aset berharga yang perlu untuk ditingkatkan. Di Kabupaten Tanah Datar, motto ajaran Islam yang berbunyi “Man Jadda wa jadda” yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil diwujudkan oleh pemerintah. “Pemerintah memberikan respon dalam bentuk program yaitu reward studi banding internasional ke Malaysia dan Singapura”. Tentu saja harapan dari program ini adalah pulang dari Malaysia dan Singapura, maka etos kerja dan etos belajar mereka menjadi lebih baiklagi”. Rombongan yang jumlahnya 137 orang ini bisa memberi citra Tanah Datar, andai kami punya citra yang jelek, maka tentu orang akan berfikir “o… begini ya, karakter orang Batusangkar”. Oleh sebab itu kami perlu selalu menjadi warga yang sopan santun selama berpergian. Bupati Tanah Datar, Bapak Shodiq Pasadigoe, mengatakan bahwa 60% dari APBD tersedot buat kebutuhan belanja pegawai. Anggaran studi banding juga termasuk ke dalam APBD, dimana setiap peserta diberi dana Rp. 3,7 juta, termasuk uang saku. Ia mengatakan tour ke luar negeri berbeda dengan tour dalam negeri, misalnya tour ke Jakarta. Tentu saja tour ke Jakarta tanpa pemeriksaan imigrasi, sementara tour ke Singapura dan Malaysia tentu melalui pemeriksaan. Melalui program studi banding ke luar negeri tentu saja akan ada pembelajaran yang bisa diperoleh. Harapan dari pemerintah “agar guru pembimbing memberi pengalaman buat siswa secara langsung”. Tanah Datar 13
  14. 14. bukanlah kabupaten yang kaya, namun bisa menyediakan anggaran Rp. 580 juta untuk mendukung acara studi banding tersebut, sebuah doa agar siswa yang berprestasi bisa kuliah di Singapura dan Malaysia. “Dengan Bismillah, rombongan studi banding Sayas lepas” ucap Bapak Bupati sambil memberikan ketukan tiga kali. Dan kami semua memberikan tepuk tangan, beberapa saat kemudian acara pelepasan rombongan studi banding ini pun berakhir. 5. Bermalam di Islamic Centre Pagaruyung- Batusangkar Setelah Bupati meninggalkan aula Islamic Centre, kegiatan masih ada yaitu penyelesaian administrasi. Pembagian (pendistribusian) kokarde, pasport, buku petunjuk dan yang paling penting adalah penyerahan uang saku buat siswa dan guru pembimbing. Kami kemudian pergi ke lantai atas untuk mencari kamar, rupanya hanya ada dua kamar yang luas buat grup pria dan grup wanita. Aku menuju ruangan 4, kamar besar buat grup pria. Ternyata bermalam bersama peserta studi banding di Islamic Centre juga asyik. Kami semua shalat di Masjid Nurul Amal yang terletak di samping Islamic Centre. Dinding masjid dicat putih, ruangannya luas dan bersih. Habis shalat kami merebahkan diri dan terasa sangat rileks, anak-anak lain saling berkenalan dan berbagi cerita. Aku dan beberapa teman berfikir kalau panitia studi banding menyediakan makan malam ternyata tidak. Untuk mengatasi perut yang terasa keroncongan kami mencari makan dan susah sekali mencari warung malam itu. Aku dan Febrianto (guru SMAN 3 Batusangkar) berjalan ke luar untuk mencari warung. Kami bisa membeli ketupat gulai nangka yang terletak persis di depan Istano Basa 14
  15. 15. Pagaruyung. Rasa ketupat gulai nangka cukup lezat (mungkin perut lapar). Aku juga melahap goreng tahu dan kerupuk, aku memperkirakan harganya sama dengan hargama makanan di pasar, ternyata harganya cukup murah, yaitu separo harga pasar. Menjelang tidur aku duduk di antara siswa peserta, aku berbagi cerita tentang cara belajar, tentang motivasi dan tentang kepribadian. Aku juga membuat kalimat-kalimat lelucon, ternyata siswa peserta senang dan tampak rileks, mereka makin ramai. “Wah kita jam 3.00 dini hari harus bangun dan bertolak menuju Bandara Internasional Minangkabau di Padang, untuk itu harus tidur”, kata aku. Mereka harus tidur dan ternyata tidur yang mudah adalah dikamar sendiri, dirumah sendiri. Namun aku melihat bahwa sebagian masih sibuk dengan kebiasaan sendiri, otak atik HP, mendengar MP3, sampai ada membaca komik dan berbagi cerita. Aku fikir bahwa sebagian besar peserta tidak tidur bisa dengan pulas, kecuali hanya sebagian, “oh..ternyata bagi anggota kloter 2 yang akan berangkat jam 3 sore dan fikiran mereka rileks hingga bisa tertidur”. Anak-anak pasti sibuk dengan pikiran mereka. Mereka tentu berfikir tentang bagaimana kegiatan selanjutnya, aku sendiri juga tidak tidur dengan pulas, telinga dengan jelas mendengar percakapan demi percakapan orang-orang yang berada dalam ruangan tidur besar tersebut. Aku sengajat menutup mata agak lama agar bisa memperoleh rasa istirahat yang lebih lama, meskipun tidak tertidur lelap. Paling kurang melalui cara tersebut aku masih bisa memperoleh tidur atau istirahat yang lebih berkualitas. 15
  16. 16. Anak-anak peserta studi banding ini tentu saja anak-anak pilihan di sekolah atau di Kecamatan mereka. Mereka amat mudah termotivasi untuk melakukan hal-hal positif, saat aku berada di dalam aula Islamic Centre kemaren, aku sibuk menuliskan pengalaman pada buku catatan dan sambil berbagi cerita pada anak-anak yang duduk dekatku bahwa “menuliskan pengalaman adalah cara yang terbak buat menyelesaikan pengalaman”. Lagi pula nanti setelah acara “comparative study” selesai maka kita akan diminta untuk menulis laporan. Tentu saja kita akan dengan mudah dapat menyelesaikan laporan perjalanan. Mendengar penjelasan ini maka dengan serta merta beberapa siswa pergi ke luar ruangan Islamic Centre untuk mendapatkan (membeli) buku catatan dan pulpen. “Betapa mudah memotivasi anak-anak pilihat buat berhasil dalam hidup mereka, tinggal lagi kualitas pemberian motivasi dan mengarahkan mereka untuk melakukan aktivitas selanjutnya untuk menggenjot SDM (Sumber Daya Manusia) mereka”. Siswa peserta ternyata mampu mengurus diri dalam memanfaatkan waktu. Islamic Centre hanya memiliki dua kamar mandi, namun semua peserta mampu membersihkan diri. Di malamm itu (dini hari) aku turun agak lambat dan ternyata orang-orang sudah siap berpakaian rapi. Mereka bisa mandi meski kamar mandi hanya dua, tidak sebanding dengan jumlah peserta yang lebih dari seratus orang. Perjalanan menuju Padang pada waktu dini, pukul 3.00 pagi terasa nyaman, mobil melaju dengan mulus. Tidak ada kendaraan dan transportasi lain yang mengganggu perjalanan kami. Cuaca pagi dini hari juga sejuk membuat semua penumpang ingin untuk menikmati tidur, apalagi mata pun masih mengantuk. Aku sendiri juga enggan membuka mata, lebih enak untuk 16
  17. 17. memejamkan mata, tidak merasa rugi untuk melihat pemandangan apalagi pemandangan yang akan dilihat sudah bisa dilalui sepanjang waktu. Hanya perjalanan sedikit terganggu setelah melewati pasar Sicincin. Terlihat polisi mengatur arus lalu lintas, ada sebuah mobil pecah ban, namun juga ada pemeriksaan terhadap mobil travel, khawatir kalau mobil travel yang lewat saat dini hari membawa barang-barang yang dicurigai polisi. Tak lama kemudian, ada kumandang azan subuh, rombongan mobil Pemda berhenti pada sebuah masjid di pinggir jalan di Kayu Tanam. Kami shalat subuh, dan rombongan kami segera membuat jamaah masjid menjadi ramai pada pagi subuh itu. Aku tidak ingin berlama-lama duduk dalam masjid, ia lebih memilih duduk segera dalam bus deretan nomor dua dari depan, tentu saja kami selanjutnya menuju Padang Airport- BIM (Bandara Internasional Minangkabau). Mata kami tidak lagi mengantuk. Hari juga sudah mulai menyingsing, berkas sinar matahari mulai membersit di cakrawala. Memang masih terasa letih rasanya. Aku menikmati pemandangan menuju BIM kembali. Dalam mobil yang aku tumpangi, terdapat dua grup, yaitu grup 5 dan 6. Aku sendiri menjadi grup pembimbing untuk grup 5 aku duduk bersebelahan dengan seorang siswa asal Lintau, dia tinggal di Ujung Tanah, Tepi Selo. Aku mengajak ia untuk bertukar fikiran dan melihat bagaimana gaya dan pola berfikir. Tentu saja namanya anak-anak pikiran mereka masih dangkal. Namun untuk selanjutnya mereka perlu melatih diri lewat menulis, bertukar fikiran dan membaca untuk memiliki fikiran yang dalam dan berkualitas. Akhirnya rombongan mobil kami sampai pada jalan fly over dekat nagari Duku- Kabupaten Padang Pariaman dan terus menuju Bandara. Jalan raya menuju 17
  18. 18. bandara sebagai beranda Sumatera Barat sudah sangat bagus dan terawat dengan baik. Tiang-tiang listrik dengan simbol Minangkabau memberi keanggunan tersendiri. Pada pos memasuki bandara juga ada jalan kecil yang disediakan buat sepeda motor atau ojek. Namun mereka hanya berada pada pinggiran hamparan halaman bandara. Ojek tentu saja kurang bagus berkeliaran di seputar Bandara, apalagi ini kan bandara standar Internasional. Kami semua turun, aku sendiri membantu menurunkan bagasi para penumpang. Kami selanjutnya harus cek in, direncanakan kami akan terbang menuju Kuala Lumpur dengan pesawat Air Asia pukul 8.30 wib. Kami duduk-duduk sesaat. Ada yang menggunakan waktu ini untuk mengobrol ringan, juga untuk mengambil foto buat sweet memory nanti. Kami kemudian cek in, pemeriksaan barang-barang “Tentu saja itu sebuah pengalaman yang baru dan menarik bagi anak-anak untuk menjadi warga internasional”. Beberapa anak laki-laki barangkal belum memiliki valuta asing (ringgit Malaysia dan Singapura Dolar), mereka berdiri di depan money changer, “Oh masih pagi, tentu saja belum buka untuk money changer”. Akhirnya money changer, pukul 7.15 wib sudah open, namun peserta studi banding tampak bengong – mau tukar uang apa-. Apalagi pada billboard tidak ada tertulis mata uang Malaysia. Aku mengambil inisiatif dan mulai menukar uang, pada mulanya mau beli 200 ringgit dan harganya lebih dari Rp. 500.000,- “Wah kalau begitu 100 ringgit saja, dan aku harus bayar Rp. 295.000,-. Setelah itu anakanak juga tertarik mengikutiku, mereka juga menukarkan mata uang Rupiah dengan Ringgit Malaysia atau Dollar Singapura. 18
  19. 19. B. Menyusuri Bumi Malaysia 1. Bandara Internasional Minangkabau. Perjalana menuju negara tentanggi ini, kami awali dari Bandara Internasional Minangkabau. Saat ini kami lagi di depan ruangan immigrasi dan rombongan kami cukup banyak, jadi kami agak lama berada di depan pemeriksaan imigrasi untuk terbang menuju Kuala Lumpur. Hingga akhirnya pihak travel biro menyerahkan tiket dan kartu keberangkatan. Antri adalah budaya yang terbaik dan kami semua juga harus antri. Pihak biro perjalanan menyerahkan kartu ini pada petugas imigrasi, kami masuk dan ada lagi pemeriksaan terakhir. Tubuh kita harus dilepaskan dari benda-benda logam untuk pemeriksaan metal detector. Ya akhirnya kami berada di ruangan tunggu pesawat. Di belakangku duduk ada satu grup warga asing, mereka ngobrol tentang Mentawai. Agaknya Mentawai menjadi tempat favorite bagi warga asing untuk berlibur. Pemerhati wisata perlu berfikir untuk mengembangkan pariwisata Mentawai yang juga memiliki ombak tinggi seperti ombak di Hawaii. Maklum ada ombak dari samudera lepas- Samudera Hindia yang sangat luas Aku duduk pada bangku 16 F Pesawat Air Asia, AK 1371 dekat jendela, jadi dapat melihat pemandangan. Tentu saja terbang ke Kuala Lumpur, berarti kami melewati Sumatara Barat menuju timur. Aku bisa melihat danau Singkarak dari ketinggian, begitu pula dengan Gunung Sago.....atau mungkin juga gunung yang lain “Wah aku tidak kenal gunungnya”. Matahari berada di sebelah kanan (jendela) aku dan cuaca cerah. Samudra awan terbentang di bawah pesawat. Hamparan samudra awan di angkasa tentu 19
  20. 20. memberi kesejukan bagi warga yang berada di bumi. Jauh di atas juga ada awan tipis menghiasi angkasa yang lebih tinggi lagi. Wah aku ingat dengan pelajaran geografi. Pesawat Air Asia memiliki attentant flight berusia muda dengan wajah dan penampilan ganteng. Juga ada seorang attendant flight wanita berwajah India. Peswat Air Asia yang kami tumpangi adalah jenis pesawat air bus. Aku duduk pas pada bagian sayap atau bagian pinggang. Penumpang lain mencari kesibukan seperti membaca majalah yang mereka ambil dari kantong kursi, seperti majalah sky shop dan high flying fashion. Aku mengintip pemandangan dan sekali-sekali memotret ke arah luar jendela. Flight attendant menginformasikan bahwa suhu mendekati kuala lumpur 290 C. Pesawat kami terbang melewati daerah Riau dan terus selat Malaka. Lautan awan tampak agak tipis. Itu berarti cuaca memang agak panas di kawasan tersebut, ketinggian pesawat berpengaruh pada telingaku karena saraf-saraf pendengaranku sedikit sakit dan begitu pula dengan lobang telinga. Akhirnya pesawat turun, berarti kami akan mendarat di Kuala Lumpur. Menjelang mendarat aku sempat melihat lalu lintas kapal di Selat Malaka. 2. Kuala Lumpur Air Port Daratan Malaysia terlihat jelas. Tidak banyak terlihat hutan, kecuali perkebunan dan lahan-lahan yang terhampar untuk dijadikan industri. Terus terang bahwa aku lebih suka melihat kota yang banyak hutan atau tamannya. Pesawat Air Asia AK 1371 akhirnya mendarat, kami turun dan harus berjalan melalui koridor yang cukup panjang. Mataku liar menatap kesana dan kemari dan 20
  21. 21. aku melihat papan billboard menggunakan empat bahasa yaitu bahasa Arab, Bahasa Melayu, Bahasa China dan Bahasa Inggris. Aku jadi teringat dengan bandara di kampungku. “Wah idealnya Bandara Internasional Minangkabau (BIM) juga demikian, musti menggunakan banyak bahasa, karena warga yang datang akan senang kalau melihat bahasa mereka juga dipakai pada billboard- munghkin nanti ada aksara China, Jepang, Thailand, India, Arab...dan lain-lain untuk mewujudkan bandaya yang benar benbar untuk banyak warga dunia”. Pekerja pada bandara antar bangsa Kuala Lumpur umumnya berwajah Melayu dan India. Kami pergi ke tumpukan barang-barang. Masing-masing menemui koper. Akhirnya kami bergerak menuju pintu exit. Suasana di luar bandara hampir mirip dengan suasana pada BIM Padang, aku juga menemui ada warga yang merokok dan mobil-mobil keluaran tahun-tahun lalu. Hanya saja suasana bahasa, tentu saja bahasa Melayu dan juga mungkin bahasa Tamil, China dan bahasa Eropa. Kami sudah ditunggu oleh armada mobil pariwisata yang dipesan oleh biro perjalanan. Mereka menyebutnya dengan “Bas Pesiaran”. Rombongan kami masih pada urutan mobil nomor 2, namun mobil ini untuk gurp 4, 5 dan 6. Bisnya cukup panjang dan besar. Setelah beberapa menit akhirnya bis pun bergerak. Pemandu kami bercerita panjang lebar tentang Malaysia, pendidikan, sosial dan budaya. Aku juga merekam suara pemandu dan akan mendengarnya nanti lagi. Seperti dikatakan bahwa hari pertama kami adalah berada di Kuala Lumpur adalah acara untuk sight seeing city tour dengan rute kota Putra Jaya dan Kuala Lumpur. 21
  22. 22. “Ya sesuai petunjuk buku perjalanan bahwa tanggal 17 November Rute kami Padang- Kuala Lumpur. Rombongan pertama berkumpul di BIM jam 06.00 WIB, rombongan ke dua jam 13.00 WIB untuk penerbangan ke Kuala Lumpur. Tiba di Malaysia, rombongan akan langsung melaksanakan City Tour ke Putra Jaya, Dataran Merdeka, Mesjid Negara, kemudian check in di hotel agar peseta studi banding bisa bersitirahat”. Aku menangkap pemahaman dari cerita pemandu bahwa Putra Jaya adalah sebuah Kota Baru. Dahulu merupakan desa penuh belukar, ide membuka wilayah ini menjadi Kota Baru, yang diberi nama dengan Putra Jaya atau cyber Jaya, oleh Perdana Menteri Dr. Mahatir Muhammad, sekarang Putra Jaya merupakan kota pusat pemerintahan, sementara Kuala Lumpur adalah ibu kota Malaysia. Aku berfikir bahwa Putra Jaya akan merupakan kota satelit, atau kota penyangga dari Kota Kuala Lumpur. Putra Jaya merupakan kota dengan taman yang begitu luas, memiliki banyak pekerja taman untuk merawat taman setiap saat. Dibanding dengan daerah Tanah Datar atau Batusangkar, geografi Putra jaya tidak begitu menarik, gersang. Namun Batusangkar di lereng gunung, dikelilingi oleh bukit-bukit dan gunung, hamparan sawah dan kebun serta belantara tampak lebih cantik. Namun penata kota Putra Jaya membangun perkantoran pada tumpukan bukit kecil dan meniru gedung populer di dunia. Untuk bangunan gedung di kota ini, misalnya ada bangunan mirip Taj Mahal, ada bangunan mirip gedung di Australia, Eropa, Arab, Iran, Jepang, China. Begitu pula dengan jembatan, ada jembatan yang dibangun mirip dengan jembatan golden gate di Amerika Serikat, jembatan di Perancis dan di Australia. Akhirnya kota Baru ini bisa menjadi turis destination. 22
  23. 23. “Pantaslah moto parawista Kerajaan Malaysia adalah Malaysia the truly Asia. Semua icon yang ada di asia terbentang dalam kota Putra Jaya”. Aku melihat kota Putra Jaya hanya ibarat kota dengan banyak perumahan elit. Gedungnya banyak namun kendaraan pada sepi, tentu saja kendaraan yang begini bisa membuat nyaman bagi banyak penumpang, karena kita tidak terjebak ke dalam kemacetan lalu lintas. Selama berada di Kota Putra Jaya, aku tidak pernah menemui pohon kelapa sebagai ciri khas pohon di daerah tropis, yang terlihat hanyalah hamparan pohon kelapa sawit di pinggir kota. Dalam acara keliling kota, kami berhenti di depan Masjid negara Malaysia. Mesjidnya sangat besar dan megah. Masjid ini dirancang menyerupai masjid yang berada di Iran. Dikatakan bahwa tinggi masjid tersebut adalah 200 kaki dan menampung jamaah sebanyak 8.000 orang. Ruang tempat berwudhu ada pada ruang bawah tanah dan disana dekat gerbang halaman masjid. Di sana juga ada kulkas sistem koin untuk beli minuman. Aku melaksanakan shalat jamak zuhur dan ashar. Usai shalat aku mengambil rekaman kamera dan juga ngobrol dengan Yusuf, seorang wistawan warga Saudi Arabia yang kuliah dan menuntut ilmu di Australia. Masjid tersebut selain tempat untuk shalat, juga menjadi tourist destination. Aku meminta brochure tentang dakwah Islam dalam bahasa Inggris dan beberapa bahasa Eropa lain kepada pengurus masjid tersebut. Aku tampak asyik dan selalu terlambat hadir kembali ke mobil wisata nomor dua. Kami kemudian dibawa ke sebuah restoran dengan masakan Malaysia. Tetapi cita rasanya mirip dengan masakan Padang karena di sana juga dengan 23
  24. 24. cabe. Tentu saja masakanya rasa citarasa masakan Padang karena juru masaknya berasal dari Sumatera Barat. Siang tadi kami makan siang dengan hidangan dan sup serta goreng ikan. Usai makan siang tour kami terus menuju Kuala Lumpur. Kuala Lumpur ya langsung bersebelahan dengan kota Putra Jaya. Aku melihat Ternyata Kuala Lumpur adalah bertetangga dengan Putra Jaya. Memang terlihat kondisi kedua kota juga berbeda, seperti kebersihan kota dan traffic jam sedikit ada di Kuala Lumpur. Di kota Kuala Lumpur ada jalur kereta api bawah tanah dan jalur di atas fly over (jalan jalur atas) sehingga bahaya tabrakan atau kecelakaan kereta api hampir tidak ada terdengar. Juga di Kuala Lumpur hampir tidak terlihat pengamen, anak jalanan dan pengemis. Begitu pula dengan ojek seperti yang ada di Tanah Air juga tidak ada. Gedung-gedung di Kuala Lumpur sebagian juga terlihat sudah tua. Barangkali kami tadi lewat melalui wilayah kota tua dan sebelumnya kami berhenti di lapangan kota Kuala Lumpur sambil mengambil foto-foto. Di sana aku dibantu mengambilkan foto oleh warga Kuala Lumpur yang cukup ramah. Orang-orang (penduduk Kuala Lumpur) hidup cukup rileks, tidak terburuburu. Aku fikir bahwa kota Palembang mungkin lebih sibuk dari Kuala Lumpur. Perbandingan ini terasa karena aku sendiri pernah tinggal di Palembang selama 10 hari. Namun pada beberapa bagian kota Kuala Lumpur ada yang terlihat gedung megah dan pada beberapa tempat tampak lain lagi corak gedungnya. Akhirnya rombongan bis pesiar kami menuju Grand Hotel Pasific, sebagai tempat menginap kami. Bis melewati jalan-jalan sempit dan kami turun. Sopir- 24
  25. 25. sopir bis di kota Kuala Lumpur sangat menghargai pejalan kaki sesuai dengan pesan yang pernah terlihat di bandara antar bangsa “Beri Laluan Buat Pejalan Kaki”. Bis pesiar berhenti, kami semua turun. Kami masuk dan berkumpul ke lobi hotel Grand Pasifik. Personalia hotel ini sebagian berwajah India. Dalam bis, pemandu sempat menceritakan bahwa penduduk Melayu dianggap penduduk asli atau disebut sebagai “bumi putra”. Mereka memperoleh perlakuan istimewa dari negara. Misal discount diberikan oleh Bank 20% untuk warga Melayu, sementara untuk keturunan Cina dan India tidak begitu, sehingga kedua etnis ini melalui politik (parlemen) meminta hak-hak persamaan. Pemerintah takut kalau ini menjadi perpecahan, maka pemerintah segera membentuk semboyan “one Malaysia for China, Melayu and India”.Atau juga ada semboyan untuk persatuan yang berbunyi “world under one roof atau dunia dibawah satu atap” Salah seornag rombongan kami berbisik “kita tidur di hotel kelas Melati ya…”katanya, karena hotel Grand Pacific dari luar terlihat kecil, tidak punya halaman parker. Maklum karena hotel berlokasi persis di persimpangan jalan besar, aku juga berfikir demikian. Akhirnya pihak travel biro membagi kami untuk tidur per kamar, group wanita berpisah dengan grup pria, aku memperoleh teman grup rombongan anak 3 orang, yaitu David (David Al Azis dari SMPN 1 Batipuh, Raihan (Rayhan Fajar Matheza dari SMPN 1 Batusangkar dan Syandi (Shandi Alfajar dari SMPN 1 Tanjung Emas) ya mereka sekolah di SMP semuanya. Kami memperoleh kamar 428, kami segera menuju pintu lift. 25
  26. 26. Petugas travel memberi petunjuk cara mengoperasikan lift untuk menuju kamar 428 “tekan tombol menjadi angka empat, tutup pintu, nanti lift menuju lantai empat. Kalau sampai di lantai 4 maka tekan tombol buka. Begitu pula kalau mau turun. Ya cukup praktis”. Anak anak dan aku sendiri memperoleh pengalaman internasional dan sangat berharga yaitu bagaimana tinggal di hotel dan memanfaatkan fasilitas publik. Anak-anak yang satu grup dengan aku cukup percaya diri untuk mencoba mengoperasikan tombol lift, dan aku memberi pujian “kamu cukup pintar ya, tidak sia-sia satu grup dengan Mr. Joe” dan yang lain tentu saja tertawa dan juga jadi termotivasi. Ternyata Hotel Grand Pacifik bukan hotel kelas melati seperti yangh kami fikirkan sebelumnya. Karena begitu sampai di lantai 4 terlihat susunan kamar hotel yang begitu rapi dan bersih, lantai hotel dilapisi dengan karpet, ruang cukup terang dan juga sejuk oleh Air Conditioner. Kami terus masuk ke kamar 428, kamarnya cukup luas. Juga ada TV set dengan 4 tempat tidur bersih. “Oh nyamannya..!” Kami langsung bersosialisasi satu sama lain. Teman kecil aku yang bernama David membeli kartu Malaysia dan menukar kartu dengan kartu phone Indonesia. Namun ia merasa gagal karena kurang mengerti dalam mengoperasikannya. Lagi lagi phonecell tidak punya baterai lagi dan setiap orang ingin mencharge baterai HP, tetapi susah karena charge outlet listrik pada dinding butuh socket listrik kaki tiga. Aku berfikir bagaimana untuk mencari alat un tuk charger baterai. 26
  27. 27. Iseng-iseng aku masuk ke kamar lain, ada siswa yang bernama “Amru” (Amru Mufid dari SMPN 5 Batusangkar), cukup pendiam, ia sibuk sendirian dengan HPnya, “oo…lagi main internet ya.., bagaimana kamu main internet, kan mahal harga pulsa disini?’ “Tidak Mister, saya menggunakan WiFi, tadi aku minta password yaitu “grand hotel pacifik” Kata Amru Mufid. “Ya…bantu…dong…!!!” Akhirnya aku juga bisa main facebook. Aku bisa mengupload 3 foto dan juga membalas SMS teman lewat facebook. Aku mohon maaf tidak bisa membalas SMS atau telepon langsung karena biaya roaming yang sangat mahal antara “my maxis dengan telkomsel” soalnya begitu masuk Kuala Lumpur kartu HP kita spontan berganti menjadi my maxis. “Aku menerima SMS dari teman di Batusangkar dan aku membalas SMS. Kemudia aku cek biaya kirim ya ampun satu SMS biayanya Rp. 4.600,. Aku juga pernah menerima telefon dari orang tua siswa peserta studi banding, ya ampun biayanya Rp. 24.000. Jadi untuk biaya SMS sampai 400 %, mahal amat....biaya roaming mahal- so jangan telefon aku...jangan SMS aku...nanti kita dua-duanya rugi”. Aku ingat dengan David yang masih kesulitan dalam mengoperasikan kartu baru Malaysianya. Aku mengantarkannya ke kamar Amru, seorang siswa yang pendiam, namun ternyata cerdas dalam otak atik HP. Amru pun membantu David “Hei…akhirnya bisa, dan David pun senang, ia akhirnya bisa membalas SMS semua- orang tuanya dan familinya, dengan harga standar. Aku pun nanti juga akan minta SMSnya untuk mengirim kabar ke sekolah aku “SMAN 3 27
  28. 28. Batusangkar” tentang tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh siswa selama aku berada di Malaysia dan Singapura. Malam itu TV di ruangan kamar hotel kami menyala “ohh…ada pertandingan sepak bola dalam Sea Game Jakarta-Palembang”. Aku sendiri langsung percaya diri bahwa TIMNAS (tim nasional bolakaki Indonesia) bakal menang karena penampilan pemainnya cukup gagah dibanding pemain yang cukup bersahaja dari tim Malaysia. Apalagi komentar penonton TIMNAS yang cukup emosional, meniru ucapan Bung Karno “Ganyang Malaysia”- padahal ungkapan ini tidak perlu dipakai lagi karena bisa mengeruhkan suasana hubungan Indonesia dan Malaysia. Aku menyaksikan kalimat dari spanduk illegal supporter TIMNAS yang disorot oleh TV 2 Malaysia. Dalam hati aku yang menonton acara ini dari kamar hotel di Kuala Lumpur menjadi malu “wah supporter TIMNAS kita terlalu emosional dan kekanak-kanakan”. Namun komentar dari komentator TV 2 Malaysia cukup bersahaja dan tersenyum ringan (Maaf bukan maksud merendahkan bangsa sendiri, namun demi perbaikan karakter segelintir dari bangsa kita). Dalam babak pertama tim sepakbola Malaysia dengan mudah menang 1-0. Aku menjadi enggan untuk mengikuti kelanjutan acara Sea Games ini dan berfikir bahwa ini gerangan akibat supporter TIMNAS kita yang cukup takabur alias sombong. “ya, doa orang sombong tidak didengar oleh Allah, bisa membuat kalah meskipun pemain timnas kita sudah menjadi pemain pilihan. Meskipun Indonesia memimpin perolehan medali, namun kalau tim sepak bola gagal, ya cukup sia-sia. 28
  29. 29. Apalagi sepak bola adalah olah raga yang cukup bergengsi. Namun moga moga kita bisa koreksi diri untuk kemajuan sepakbola kita. 3. Bermalam di Kuala Lumpur Malam pun tiba. Perut kami sudah terasa keroncongan dan untuk makan malam, buat hari pertama diantar oleh pihak travel biro dalam bentuk makanan box ke hotel tempat kami menginap. Kami segera turun melalui lift dan kami memperoleh empat box makanan dan juga empat botol air mineral untuk anggota grup kami. Aku ingin mengetahui hal- hal kecil yang ada dalam kamar hotel, rupanya ada kopi, gula dan kream dalam kantong-kantong kecil dalam laci meja. Anakanak dari grupku juga ikut meniru ku akhirnya mereka punya inisiatif untuk memanaskan air dan membuatkan kopi panas buatku. Kopinya masih panas, aku menunda minum dan memutuskan untuk membals email lewat facebook. Mata terasa mengantuk dan kepala terasa berat, namun aku masih punya kopi, dan mubazir kalau tidak diminum. Astaga, aku menjadi sedikit susah tidur setelah minum kopi setelah jam 10.00 malam> aku jadi cemburu karena anak-anak meski mereka juga minum kopi namun bisa tertidur pulas namun aku tidak- ya…..gara-gara minum kopi mungkin. Aku ingin juga untuk tidur, karena tidur adalah bentuk istirahat yang paling bagus. Aku mengosongkan fikiran agar bisa tidur. Pada waktu dini hari aku terbangun. Di luar terdengar hingar bingar raungan musik. Mungkin ada suara karaoke dari klub malam. Aku berfikir kalaukalau waktu subuh sudah masuk, “ooh… ternyata baru jam 2.00 dini hari”. 29
  30. 30. “Wah mengapa aku tidur, lebih baik aku terus menyelesaikan tulisan tentang perjalanan ini”, bisikku dalam hati. Dibawah, dari balik jendela, terlihat jalan-jalan Kuala Lumpur yang cukup sepi, tidak ramai seperti di Jakarta. Antrian pada persimpangan jalan juga tidak begitu lama seperti di Jakarta, jadi Kuala Lumpur terlihat biasa-biasa saja. Hari pertama di Kuala Lumpur, aku belum melakukan shopping yang berarti, kecuali baru dalam bentuk membeli cenderamata yaitu satu box miniatur “twin tower” sebagai ciri khas kota Kuala Lumpur yang harganya RM 30 (atau 30 x Rp. 2.900), atau hampir Rp. 90.000,- yang aku beli dari sebuah kedai di komplek Masjid Negara di Putra Jaya. Mungkin termasuk mahal untuk ukuran cendera mata. “Ya…makanya aku hati-hati untuk shopping di Malaysia”, ini cenderamata dibeli cukup penting sebagai simbol bahwa kita sudah kembali dari Malaysia. Aku juga membeli tabloid, berbahasa Inggris “STAR, the people’s paper” atau korannya masyarakat, yang harganya sangat murah hanya hampir dua ringgit, sementara tabloid tersebut terdiri atas 72 halaman, ya murah sekali. Hal lain yang terasa, karena perubahan situasi adalah aku merasa sulit untuk buang air besar, dalam hati aku berfikir untuk membeli buah-buahan, kalau memesan buah-buahan atau juice lewat hotel terasa sangat mahal. Water melon RM 8 (Rp. 24.000) Honey RM 8 (Rp. 24.000) Papaya RM 8 (Rp. 24.000) Malah harga juice jauh lebih mahal lagi, seperti dalam daftar Orange/Mango RM 10 (Rp. 30.000) 30
  31. 31. Juice nanas RM 12 (Rp. 36.000) “Oh ya.....harga di hotel jadi mahal karena meliputi pajak 6%, dan 10% untuk harga …., ini tertulis dalam daftar menu service, bagaimana harga diluar ya, lebih baik aku beli di open place nanti”. Jam 4.00 pagi dini, bisa jadi jam 5.00 pagi karena aku lupa mengubah waktu WIB menjadi waktu Malaysia. Ada suara ringtone dari intercome, ya pihak hotel membangunkan kami, ya masih dini hari, aku menjawab “good morning”, tapi masih pagi dan istirahat dulu sebentar. Kesanku terhadap orang Kuala Lumpur, mereka sangat ramah, tanpa bertanya, mereka sudah duluan berbicara. Kemaren ketika di restoran, wanita pemilik restoran berkata bahwa juru masak direstorannya adalah orang Indonesia. Saat berada di taman kota- lapangan terbuka- di Kuala Lumpur, seorang wanita Malaysia keturunan India juga menawarkan diri untuk memotretku, begitu juga dengan orang-orang yang aku temui di hotel atau dalam box lift juga dengan mudah berbicara lebih duluan. Jadi berada di Kuala Lumpur ya seperti berada di kampung halaman sendiri. Aku terbangun jam 2.00 dini hari, memutuskan tidak tidur, ya buat apa tidur, sebab datang ke Kuala Lumpur adalah untuk studi banding dan aku merasa rugi kalau buang-buang waktu. Lebih baik memanfaatkan waktu buat menulis, menulis apa yang dilihat dan apa yang dirasakan selama berada di Malaysia dan Kuala Lumpur, bukankah menulis yang terbaik sesuai dengan kondisi dan tempat kita berada. Apalagi kalau ditunda untuk menulis, memori perjalanan saat tiba kembali di Batusangkar maka tentu ada banyak hal penting tidak tercover oleh kapasitas memori kita, maka “jangan menunda waktu dalam menulis”. 31
  32. 32. C. Lebih Dekat Dengan Malaysia 1. Wisata Pendidikan Hari berikutnya kami punya agenda untuk melakukan wisata pendidikan, kami berencana untuk mengunjungi Nilai College- sebuah perguruan tinggi dan juga pergi ke Istana Sri Menanti yang terletak di Seremban, di daerah Negara Bagian Negeri Sembilan. Negeri ini punya hubungan budaya dengan Kerajaan Pagaruyung di Batusangkar. Hari kedua di Kuala Lumpur, aku bangun lebih cepat jam dua pagi, tidak buang-buang waktu untuk tidur, tetapi untuk menulis. Aku menulis dari jam 2 pagi sampai subuh, kemudian jam 5.00 waktu Kuala Lumpur, habis shalat subuh, aku membangunkan anka-anak juga mencari channel berita yang menarik, tidak ada channel yang menarik. Anak-anak juga bangun, shalat dan mengurus diri sendiri. Oh…ternayta tidak begitu kami turun ke lantai bawah, orang-orang sudah pada selesai sarapan, namun kami belum. Mereka sudah siap naik bis melanjutkan perjalanan tour. Aku menyempatkan diri untuk sarapan. Aku mengambil sedikit sarapan dan aku butuh makan papaya, oh…juga orange juice. Orange juice dan pepaya sangat bagus untuk kesehatan perut, membuat BAB jadi lancar. David, salah seorang anak di kamarku masih tertinggal, entah apa yang diurusnya, ya…kami naik lagi kelantai atas. Dia sedang merapikan tempat tidur, namun dia harus segera turun, karena hanya dia saja yang ditunggu. Aku membantu mengambil roti dan selai, David butuh waktu kalau menikmati sarapannya, maka ia membawa sarapannya ke mobil, karena waktu buat berangkat melanjutkan tour sudah datang. 32
  33. 33. Masih ada sedikit waktu dalam bis sebelum berangkat, aku masih punya sedikit ide untuk menulis. Iwan, peserta dari MTsN Tanjugn Barulak melihat aku dalam menulis, ya…sambil bertukar pengalaman cara menulis dan belajar bahasa. Bis berangkat, pemandu kami bernama Azam. Ia berbicara tenrang Kuala Lumpur yang terletak di Selangor, wilayahnya cukup kecil, umumnya Malaysia memmpunyai 13 sultan, kecuali Sabah, Sarawak, Malaka dan Penang yaitu hanya gubernur. Nama “Kuala Lumpur...?” Kuala yaitu sungai bertemu sungai, kalau muara, sungai bertemu laut. Di Malaysia ada beberapa kota menggunakan kata “Kuala” seperti Kuala trengganu, Kuala Lumpur dan mungkin ada yang lain. Aku masih ingat dengan kota “Putra Jaya” yang sekarang merupakan kawasan baru yang dibuka pada tahun 1999 atas ide Mahatir Mahmud. Saat itu kantor-kantor pemerintah dipindahkan ke Putra Jaya. Dengan demikian kemacetan di Kuala Lumpur bisa diatasi. Jarak Putra Jaya ke Kuala Lumpur hanya 25 km. Pemandu wisata kami berganti dan pemandu kami yang kedua ini terlihat lebih cerdas. Ia berbicara tentang banyak hal seperti koin, nama kota, asal usul kota. Contoh Selangor berasal dari kata “seekor langor”. Wah terlalu banyak untuk dicatat dan untuk didengar dari pemandu yang kedua ini, namanya Azam. Azam menambahkan tentang hal lain. Jalan tol, dalam bahasa Melayu “Lebuh Raya”, pusing berarti berputar, tetapi pusing dalam bahasa Indonesia berarti pening. 33
  34. 34. Pemandu wisata kami menceritakan bahwa dahulu etnis Cina banyak yang kaya, namun sekarang etnis Cina ada yang kaya, tetapi juga banyak yang miskin, sudah seperti etnis India dan etnis Melayu. “dalam buku paduan bahwa tanggal 18 November, rute kami adalah Kuala Kumpur dan beberapa kunjungan. Setelah sarapan pagi rombongan melakukan kunjungan ke tempat yang telah ditentukan seperti Nilai University sampai selesai, mengunuungi Istana Sri Menanti sampai selesai, shalat Jum’at di masjid Tuanku Ja’far, setelah itu langsung menuju Keduataan Besar Indonesia di Kuala Lumpur, Bukit Bintang, makan malam dan kembali ke hotel dan istirahat”. 2. Nilai College University Kunjungan pertama di hari kedua di bumi Malaysia adalah berkunjung ke “Nilai Colloege Universiti”. Niilai adalah nama sebuah kota dekat Selangor. Jaraknya 70 km dari Kuala Lumpur. Universitas college di Kota Nilai ini adalah Universitas swasta, lokasinya berada di kawasan yang sepi. Aku berfikir bahwa pasti universitas ini akan kekurangan mahasiswa. Apalagi mengingat jumlah pepulasi Malaysia yang juga relatif kecil yaitu hanya 27 juta orang. Namun universitas swasta ini mampu membawa lembaga ini menjadi universitas populer dan bertaraf internasional. Ia menjual program universitas ini ke luar negeri dan mengundang mahasiswa asing untuk menjadi mahasiswanya. Universitas terasa sepi karena saat kedatangan kami disana mungkin lagi liburan. Dan saat itu kami dipandu atau dilayani oleh mahasiswa Nilai College university asal Kenya. 34
  35. 35. Promosi keluar negeri sangat penting, apalagi untuk meyakinkan dan sekaligus untuk menarik mahasiswa untuk datang kesana. Sebagai kawasan internasional, maka disana hanya dipakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Ini terjadi karena mahasiswa nya adalah multi bangsa dan secara tidak langsung bahasa Inggris menjadsi bahasa penghubung. Kemudian rekruitmen atau penerimaan mahasiwa juga menekankan penggunaan bahasa Inggris, wawancara dalam penerimaan bahasa Inggris. Aku merasa, saat berada di lingkungan kampus Universitas Nilai College ini biasa-biasa saja. Mahasiswanya juga terkesan tidak begitu menonjol, ya biasa biasa saja. Yang diterima sebagai mahasiswa di sana mungkin tingkat kecerdasan mahasiswa asing yang juga biasa-biasa saja. Malah mahasiswa yang kuliah di Indonesia seperti di UI, ITB, UNPAD dan lain-lain terkesan lebih cerdas. Aku merasakan bahwa agar bisa diterima di Universitas Indonesia di ITB atau di UNPAD terkesan lebih sulit dan ada persaingan, malah lebih terasa bergengsi. Di Universitas Nilai terasa biasa-biasa saja. Itu karena ia tidak menekankan persyaratan pada standar nilai UAN (Ujian Akhir Nasional). Ia mengatakan bahwa nilai UAN (atau UN) hanya untuk sistem pendidikan nasional di Indonesia. Jadi masuk Universitas Nilai College itu mudah- kalau punya banyak uang ya...selesai urusan untuk jadi mahasiswa di sana. Universitas Nilai College hanya menekankan pada nilai raport saja. Persyaratan penerimaan mahasiswa di Universitas ini begitu mudah, nilai rata-rata rapor paling rendah 7.00, bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Sekali lagi, aku berfikir bahwa itu adalah universitas internasonal untuk level mahasiswa biasa-biasa saja, asal bisa berbahasa Inggris, ada uang….ya langsung 35
  36. 36. jebol”, namun persyaratan beasiswa 100%, 50%. 25% tentu lebih ketat, misalnya nilai rata-rata 85 dan TOEFL dengan skor yang lebih tinggi. Kunjungan kami di Nilai Universitas College disambut dalam ruangan kuliah umum oleh seorang wanita muda, berwajah Cina. Ia berkomunikasi dengan lincah dalam bahasa Melayu bercampur aksen Indonesia. Sebagaimana ia mengatakan bahwa ia pernah beberapa kali tinggal di Semarang. Pada mulanya aku berfikir kalau ia adalah seorang dosen atau stake holder. Kemudian aku tahu bahwa ia adalah tenaga khusus dalam bidang promosi kampus untuk internasional. Untuk informasi lebih lanjut, kami diberi buku panduan atau buku promosi dan juga kami diberi formulir pendaftaran dan mengisinya. Setelah itu mengumpulkannya kembali. Aku berfikir bahwa formulir itu berguna sebagai angket untuk melihat gambaran kami terhadap universitas tersebut. Universitas Nilai College memang luas kompleksnya dan terlihat rapi serta megah. Kompleknya dibangun pada kawasan seluas 14 kali lapangan bola kaki, lokasinya jauh di luar ibu kota negeri Selangor, 70 km dari Seremban. Untuk kerapian dan perawatan, Universitas ini merekrut banyak tenaga wanita mulai dari sekuriti depan, penjaga kebun, dan untuk kebersihan. Kebanyakan yang direkrut adalah wanita keturunan India. Aku berasumsi bahwa wanita dalam bekerja lebih tekun dan lebih amanah dibanding laki-laki, tentu saja itu tergantung pada kualitas wanitanya. Sebelum mengakhiri kegiatan di kampus ini, kami diajak berjalan melihatlihat kampus namun ada komplain dari rombongan kami, “Wah kenapa pemandunya diam-diam saja”. Tidak ada cerita-cerita yang disampaikan oleh pendamping yang bernama “Elvie” berwajah Cina dan usianya sekitar 20 tahun. 36
  37. 37. “Ya kami dipandu berkeliling oleh pemandu yang kurang dalam komunikasi dan kecuali ia masih muda dan berwajah cantik”. Yang sedikit mengesankan bahwa kami pergi ke bengkel perawatan pesawat. Di dalamnya ada satu pesawat kecil, ternyata rombongan kami datang untuk berfoto-foto, dan aku menghampiri salah satu staf. Ternyata ia adalah dosen disana. Aku bertanya jawab dengannya, ia menjelaskan bahwa bengkel itu untuk latihan perawatan pesawat. Universitas tersebut merujuk pada standar Eropa. Tidak banyak yang kami lihat di Universitas Nilai ini kecuali hanya sekedar melihat luasnya komplek dan bagusnya gedung, padahal yang perlu kami lihat adalah suasana pendidikan dan ruangna belajar yang ada disana. Namun kami tetap berterima kasih atas sambutan mereka yang cukup ramah. Rombongan kami melanjutkan perjalanan menuju Istana Seri Menanti. Dalam fikiran aku bahwa Seri Menanti itu apa (?). Ternyata seri Menanti adalah nama daerah yang pada mulanya nama dari seorang Raja Melayu. Dalam perjalanan guide kami bercerita apa-apa saja yang terlintas dalam fikirannya. Ia juga menjelaskan tentang populasi Kuala Lumpur yang luasnya 430 km persegi, penduduk 1,6 juta jiwa dan mobil yang beredar di jalan raya sebanyak 2 juta mobil. Dikatakan saat kami melewati daerah Nilai bahwa disana juga banyak dihuni oleh warga keturunan Minangkabau, orang-orang yang bekerja di Kuala Lumpur juga banyak yang tinggal di luar ibukota (Kuala Lumpur) yang jaraknya mungkin dua jam perjalanan, seperti di Kota Selangor, Ipoh, Pahang dan Perak. Alasan mereka bekerja dan bola-balik ke Kuala Lumpur adalah alasan lebih enak 37
  38. 38. tinggal bersama orang tua, keluarga di kampung sendiri dan juga karena biaya beli rumah yang cukup tinggi di Kuala Lumpur. Di kawasan kota Nilai juga terdapat perumahan atau perkampungan warga keturunan Eropa, berkulit putih. Kalau di Indonesia, orang kulit putih disebut dengan bule, tetapi orang Melayu (Malaysia) menyebut orang berkulit putih dengan “Mat Saleh”. Asal kata “Mat Saleh” adalah “Mad Sailor” atau “Pelaut yang Gila”, dahulu kala dikatakan bahwa pelaut asal Eropa, mendarat di Melaka dan mereka memperkenalkan diri sebagai “Mad Sailor” atau pelaut yang gila, kata Mad Sailor disesuaikan dengan lidah orang Melayu menjadi “Mat saleh”. Namun sebutan ini juga memberi kesan sebagai karakter yang baik yaitu “Mat Saleh juga dapat diterjemahkan menjadi “Mak yang sholeh, atau Mak yang taat”. 3.Istana Seri Menanti Aku melihat bahwa daerah Malaysia sudah sangat maju, jalan-jalan tol menghubungkan antar state (propinsi) cukup panjang dan lebar. Kedua sisi jalan diberi pagar, dan tentu saja sopir perlu membayar sesuai dengan standar mobil dan jarak jalan yang ditempuh. Penerangan jalan sangat memadai, kebutuhan listrik Malaysia menggunakan energi gas yang dikelola oleh Petronas, ya semacam Pertamina untuk Indonesia. Sekali lagi, pemandu kami juga menjelaskan asal kata “Selangor” yaitu “Seekor Langau” atau seekor lalat. Tentu saja ia menjelaskan anecdote yang cukup lucu buat menghibur kami semua. Terlihat bahwa untuk menjadi guide perlu memiliki wawasan luas, komunikasi, anecdote dan juga rasa humoris yang 38
  39. 39. tinggi. Dalam memandu kami dalam bus, guide memajang peta Malaysia pada kaca depan bus. Jadi saat itu kami hanya berada di negara bagian Selangor dan sekitarnya (negeri Sembilan, Selangor dan juga Johor Baru). Terkesan bahwa daerah perkotaan dan juga perbukitan seputar ibu kota telah direkayasa, dan ditanam dengan pohon sawit, pohon akasia. Itulah mengapa alam Malaysia terasa monoton. Burung-burung jarang terlihat, dan setelah memasuki state Negeri Sembilan, yang warganya keturunan Minangkabau suasana terasa seperti di Sumatera Barat, hutan yang masih asli, rumah penduduk seperti penduduk Minang. Setelah duduk dalam kendaraan agak lama, mungkin dua atau tiga jam kami sampai pada persimpangan jalan. Di sana ada gerbang dengan ciri Minangkabau. “Ohh…ternyata jalan menuju Istana Seri Menanti”. Aku merasa mengantuk, namun enggan untuk tidur karena merasa rugi untuk melewati suasana Minang di Negeri Sembilan. Di daerah ini memang ditemukan pohon-pohon kelapa sebagai ciri khas yang banyak tumbuh di daerah panas. Disamping itu juga ada daerah pertanian sawah, pematang sawah terlihat bersih dan rapi. Mobil kami memasuki komplek istana Sri Menanti. Kami turun dan merasa terpesona melihat museum Sri Menanti. Namun museum ini tidak bercorak rumah Minang, namun lebih bercorak rumah adat Melayu Riau. Museum ini dicat hitam dan di depannya terdapat replika (duplikat) batu basurek dan juga batu kasur seperti yang terdapat di kota Batusangkar. Halaman yang luas terhampar di depan komplek istana dan museum ini. 39
  40. 40. Kami disambut oleh ketua pengurus Istana Sri Menanti. Kami diberitahu tentang sejarah hubungan negeri Sembilan dengan Minangkabau. Terasa bahwa sistem raja masih dipelihara di Negeri Sembilan, malah kerajaan menguasai militer dan juga agama, sementara di Batusangkar, kerajaan Pagaruyung hanya tinggal nama saja lagi, rajanya sendiri entah dimana lagi. Pihak Istana Sri Menanti, mengizinkan kami untuk berfoto-foto, kecuali di dalam museum tidak boleh, kami kemudian diizinkan untuk memasuki gedung tempat penobatan raja, istananya megah dengan hamparan karpet persia dan kursikursi untuk tamu. Pada beberapa dinding terdapat potret keluarga raja. Aku dan juga beberapa peserta studi banding memotret momen dalam istana, kita tidak boleh memasuki lantai yang dekat kursi tahta raja, disana terdapat tali pembatas. Kami dijanjikan untuk makan siang di sana setelah shalat jumat, usai dari ruang ini kami disuguhi tas kertas, ya tas promosi wisata Negeri Sembilan dengan gambar cantik. Di dalamnya ada kue besar, seperti martabak ambon, sebotol air, buku atau brochure wisata, kartu-kartu pos, gelas dengan tadah keramik, terasa kami diberi pemanjaan. Tadinya perut terasa lapar dan bisa jadi kenyang setelah melahap bika ambon. Tiba-tiba hujan cukup lebat turun, walau hanya sesaat, namun kami batal untuk shalat jumat dan kami ganti dengan sholat Zohor yang dijamak dengan sholat Ashar, ya kamikan semua musafir di negeri Jiran. Para wanita pekerja dapur sudah menyuguhkan makan berjamba dalam ruang luas, namun terasa sempit karena jumlah kami cukup ramai yaitu 140 orang. Kami makan duduk dihamparan, yang datang dulu ya makan dulu, yang datang belakangan cari tempat untuk duduk. Di sana ada ciri khas dalam makan, 40
  41. 41. bahwa (begitu juga di restoran) yaitu menyuguhkan minuman sirup. Aku fikir bahwa minum sirup lebih sering berbahaya bagi kesehatan ginjal karena sirup punya zat pewarna dan zat penyadap”. Usai makan kami turun, masih sempat berfoto-foto, dalam beberapa menit kemudian kami sampai di komplek masjid, aku melihat ada dua masjid, o… ternyata bangunan sebelah kiri yang mirip masjid adalah tempat makam (kuburan) raja, di depan (dalam ruang berbentuk masjid) juga ada tiga calon tempat kuburan buat raja-raja berikutnya kalau mangkat. Kami pun berlalu meninggalkan kompleks kerajaan Sri Menanti dan perut terasa kenyang, karena aku menghabiskan kue bika (martabak) ambon yang berukuran jumbo ditambah pula dengan makan siang di kompleks istana. Aku mencoba menikmati cita rasa masakan Melayu Negeri Sembilan, gulainya terasa bumbu sereh (sarai). Terasa agak manis dan kurang pas dalam lidah Padang, sementara ada rendang bada, tetapi terlalu asin, hanya satu yang cocok untuk lidah Padang aku yaitu “sambalado”. Kami kembali dan meninggalkan daerah Sri Menanti. Selanjutnya Kami menuju kota Kuala Lumpur, hari mulai gelap dan aku memejamkan mata, karena tidak merasa penting lagi untuk melihat pemandangan, o…ternyata kami harus menuju kompleks KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia). 4. Melaju ke Genting Highland Hari ketiga dalam travelling, atau hari kedua di Kuala Lumpur, kami punya acara untuk mengunjungi objek wisata Genting Highland. Namun kami 41
  42. 42. juga harus check out dan berkemas untuk keluar hotel. Agar dari Genting Highland bisa ke Johor. “Dalam buku petunjuk bahwa rute kami pada tanggal 19 November adalah Kuala Lumpur- Genting Highland dan Johor Baru. Perinciannya bahwa setelah sarapan rombongan check out hotel langsung menuju Istana Negara, Menara Kembar (Twin Tower), Batu Chave, Genting Highland dengan cable car, rombongan menuju puncak ke cloud city sampai selesai. Sore hari rombongan melanjutkan perjalanan menuju Johor Baru, makan malam dan check in di hotel buat istirahat”. Kami berkemas dan berharap agar tidak ada yang tertinggal, apalagi kalaukalau sampai tertinggal atau hilang paspor ya akan bermasalah di imigrasi. Aku sejak kemaren sudah kehabisan batterai pada kamera dan phone cell, aku menuju front desk untuk meminjam kaki tiga untuk colokan charge HP dan kamera. Lagi-lagi sarapan pagi tidak begitu cocok untuk lidah aku dan tentu saja bagi lidah anggota studi tour yang lain. Aku hanya mengambil nasi goreng, pake sup dan yang paling penting juga ada buah, aku tidak melupakan kesempatan untuk minum juice jeruk, karena makan buah dan minum juice sangat bagus untuk kesehatan perut. Lupa mengkonsumsi buah untuk beberapa hari bisa membuat seseorang menjadi demam atau paling tidak terkena sariawan. Mobil wisata kami cukup lama berdiri di depan Hotel Grand Pacifik untuk memuat barang kami semua, akhirnya kami berangkat. Sebelum bergerak menuju Genting Highland, kami melakukan tour kota dan sight seeing atau lihat-lihat pemandangan. 42
  43. 43. Oh ya,..aku masih teringat tentang pernyataan yang dilontarkan oleh peserta tour tentang syarat menjadi attase atau bekerja di KBRI, bahwa Sarjana Sosial seperti lulusan Ekonomi, Hukum, Politik, Komunikasi dan Hubungan Internasional bisa mendaftar di Departemen Luar Negeri, dengan syarat memiliki pribadi yang menarik, fasih berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan kalau boleh juga menguasai bahasa lain sebagai nilai plus. Informasi tentang Deplu dapat diakses pada www.deplu.org . Ditambahkan bahwa studi banding merupakan ajang memotivasi diri untuk menjadi lebih berkualitas, oh ya…persyaratan untuk mendaftar di Departemen Luar Negeri adalah usia maksimal 28 tahun dan semua applikasi dilakukan melalui internet. Tentu saja yang dibutuhkan adalah sarjana yang punya banyak prestasi, salah satu usaha yang dilakukan oleh KBRI agar orang asing mencintai Indonesia adalah melalui mengajar mereka seni dan bahasa Indonesia dan nanti mereka akan terbiata mengatakan “selamat pagi”. Rute pertama kami adalah mengunjungi istana Negara. Sepanjang jalan terlihat pemukiman penduduk, mereka umumnya tinggal dalam apartemen, bagi yang punya rumah tingkat satu terlihat mereka menggunakan antene parabol ukuran kecil. Dikatakan oleh pemandu kami bahwa istana negara dijaga oleh 2 penjaga berkuda untuk raja, yang dipertuan Agung. Raja diganti sekali dalam 5 tahun dan dipilih dari kerjaaan di negara bagian yang berjumlah 13 kerajaan, kecuali untuk Sabah, Sarawak, Penang dan Malaka yang tidak punya raja kecuali gubernur. Istana negara juga menjadi destinasi wisata dalam kota karena aku melihat banyak 43
  44. 44. turis dalam berbagai ras/ bangsa berfoto-foto. Untuk mencapai tempat ini kami melalui kawasan bukit Bintang yang berlokasi dalam kota. Dalam kota Kuala Lumpur kami masih bisa menjumpai bangunan tua, Kubah bangunan tua mirip dengan bawang sementara bangunan lam tidak. Daerah China Town dimonopoli oleh gedung-gedung tua, namun mereka tidak boleh merenovasi sesuka hati, harus ada izin dari pemerintah. Armada mobil kami (Bis Pesiar atau Bis Wisata) berhenti di depan pabrik coklat “Berly’s chocolat kingdom” dan sekaligus sebagai butik coklat (atau toko coklat). Satpam butik coklat ini dijaga oleh satpam asal India, ia hanya bisa sedikit bahasa Inggris. Sebagaiman dikatakan oleh Azam, pemandu wisata kami, bahwa di Malaysia warga Melayu adalah warga kelas satu, ini terlihat dari perlakuan pemerintah seperti memberi potongan sampai 20% buat mereka sementara buat keturunan Cina dan India, potongan hanya 10%, penghargaan demikian membuat mereka punya harga diri, namun kedua suku bangsa yang lain juga menuntut persamaan hak layanan. Aku berfikit “mengapa pabrik coklat ini bisa jadi populer, padahal di kampung aku juga tumbuh ribuan atau jutaan batang coklat, seharusnya juga ada pabrik coklat yang hebat. Ya Indonesia juga harus pabrik coklat dengan cita rasa Indonesia dan populer di dunia, atau paling kurang di Asia Tenggara. Kunci untuk ini adalah SDM....SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas, punya inovasi dan kreasi. Pelayanan dari pihak butik coklat terhadap pengunjung, apakah mau beli atau tidak memberikan kepuasan pada kami sebagai pengunjung. Pelayanan dan 44
  45. 45. setting pabrik ini telah membuat tempat ini menjadi destinasi wisata, tentu saja ia melengkapi fasilitas layanan seperti ada pohon coklat tumbuh dua batang di depan, ada patung sapi frisian, dan patung buah coklat. Juga pelayanan informasi cara membuat coklat, nah..ini juga bisa ditiru oleh perusahaan industri rumah tangga di Batusangkar/Tanah Datar, seperti “Kawa Daun, Pisang Selai, Keripik Balado…” dan pelayanan pada pengunjung seperti menempelkan nomor atau tempel kertas berisi ucapan “selamat datang dan terima kasih” bisa membuat pengunjung jadi tersanjung. Coklat yang tumbuh di daerah panas (tropis) namun mengapa produksinya bisa dikuasai oleh orang Eropa (seperti Berly) ya pastilah ia memiliki karakter inovasi dan kreativitas. Oleh sebab itu kita perlu mengembangkan karakter positif: memiliki inovasi dan kreativitas generasi kita, misal mengajak mereka mengunjungi pabrik seperti ini. “Sangat penting anak didik kita berlomba memiliki jiwa (karakter) inovasi dan kreativitas, jadi tidak berlomba sekedar membuat skor/nilai yang tinggi dengan harapan ingin menjadi pegawai atau buruh”. Sepanjang perjalanan menuju Genting Highland aku juga membaca banyak pesan buat publik, salah satu pesan buat warga adalah “Love Kuala Lumpur”. Ini bisa kita sadur menjadi “Love Batusangkar, Love your School, love your library”. Ini ditulis pada billboard untuk menanamkan karakter cinta lingkungan. Jalan-jalan antar kota, antar desa dan juga antar provinsi (negara bagian/ state) sudah dihubungi dengan jalan tol. Kita tidak melihat lagi rumah penduduk terpencar-pencar, kecuali sudah dalam bentuk kumpulan apartemen. 45
  46. 46. Tidak ada orang yang parkir kendaraan dengan bebas untuk istirahatmakan makan dan menebarkan sampah seenaknya. Atau orang yang menjajakan dagangan sepanjang jalan tol yang begitu banyak dan begitu panjang. Sepanjang jalan aku melihat banyak baliho iklan dan juga baliho “rambu-rambu lalu lintas” yang memberi pesan yang penting bagi pengguna jalan. Baliho tersebut tidak sekedar lambang, tetapi juga diikuti oleh maksud yang harus dipahami oleh pengguna jalan seperti: dilarang memarkirkan mobil, dilarang membuang sampah, dilarang, memotong/mendahului mobil lain, truk berat harus berjalan pada jalur kiri”. Pesan tersebut ditulis dalam bahasa Melayu, bahasa Inggris dan bahasa lain, sehingga ada kesan bahwa pesan tersebut adalah buat warga internasaional. Di restoran juga ada pesan atau peringatan “dilarang merokok sembarangan (kecuali pada smooking corner), dilarang menjual rokok pada anak dibawah umur 18 tahun”. Sementara di kampung aku warung dekat sekolah menjual rokoh pada pelajar atau pak guru minta tolong beli rokok pada siswa. Moga-moga ini bisa ditertibkan. Belum sampai di Genting highland, kami berhenti di desa Genting Sempah untuk makan siang di sebuah resto atau mall resto. Mall resto terdiri dari beberapa warung yang menjual aneka food and drink. Di sana ada dijual minuman dan makanan cita rasa India, Arab dan Melayu. Umumnya rombongan kami harus beradaptasi dengan cita rasa makanan yang sangat asing dengan lidah, Namun cukup banyak makanan yang mubazir atau terbuang percuma (ini tidak boleh menurut syariat Islam). Resto dilengkapi dengan Tandas (toilet) buat pria dan wanita, terpisah, yang sangat bersih untuk standar internasional, begitu juga tersedia surau 46
  47. 47. (mushalla/ praying room) terpisah antara surau pria dan surau wanita. Dekat surau hanya ada fasilitas untuk berwuduk sementara untuk toilet letaknya terpisah, mengapa fasilitas surau, toilet dan resto berskala internasional, ya karena berlokasi menuju Genting Highland, sebuah tour destination maka kawasan menuju kesana juga berkualitas standar internasional. Hal yang sama untuk di Batusangkar bahwa kalau Istano Basa Pagaruyung, Danau Singkarak atau Lembah Anai adalah sebagai tourist destination skala internasional, maka jalan-jalan di sana (seperti jalan Sutan Alam Bagagarsyah yang berasal di pasar Batusangkar sampai ke ujung di Nagari Saruaso) harus disulap menjadi jalan internasional pula. Warung-warung dan fasilitas umum harus ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dan karena Batusangkar adalah pusat budaya Melayu juga harus menggunakan huruf Arab Melayu. Akhirnya rombongan kami tiba di Area Genting Highland, sebelumnya kam melewati wilayah lembah dan berbukit dengan jalan tol yang panjang. Pintu tol banyak menggunakan tenaga perempuan, mungkin perempuan lebih rajin (yang dipilih yang rajin). Pinggang bukit sepanjang jalan tidak dibiarkan terjal tetapi dibuat miring dan diberi terrace/ sengkedan dan tempat peluncuran air untuk mencegah longsor dan erosi. Hutan-hutan yang gundul segera ditanami pohon yang mudah tumbuh seperti pohon akasia. Ternyata sampah Malaysia dibuang di isolased area. Sebelum dihancurkan dipisahkan antara sampah organik dan organik, ada kalanya sampah dibakar dan ditimbun. Tong sampahnya cukup kokoh, bukan terbuat dari plastik atau dari materi yang cepat hancur. 47
  48. 48. Ternyata kami tidak perlu membeli karcis untuk naik kereta kabel karena pihak travel biro JAP (Jalur Angkasa Prima) sudah membooking buat program kami. Kami dibagi atas empat grup, sesuai dengan grup mobil. Kami naik escalator untuk menuju tempat antrian cable car (kereta kabel). Kami ikt antrian cukup lama untuk mencapai counter kereta kabel. Antriannya tidak dalam bentuk deretan lurus, tetapi kami harus memasuki handrail (susunan) berliku-liku agar antrian tidak panjang garisnya. Dalam antrian kami tidak hanya terlihat orang Melayu, namun juga etnik India, Cina, Arab, Iran dan Eropa, aku mendengar banyak orang berbicara dalam berbagai bahasa. Akhirnya kami sampai pada counter/ terminal kereta kabel. Masing-masing kereta kabel memuat enam orang yaitu tiga dimuka dan tiga dibelakang, pintunya terbuka atau tertutup secara otomatis bila ingin lepas dan saat mau berhenti. Di objek wisata Genting Highland terdapat komplek hotel, plaza dan juga sarana perjudian casino ala Las Vegas (Amerika Serikat) yang disediakan buat penggemar judi. Ini berlaku untuk wisatawan dan orang Malaysia yang beragama Islam dilarang untuk masuk. Kereta kabel kami melintasi ketinggian sekitar 2000 meter di atas permukaan laut dan panjangnya sekitar 13 km, dan jarak tempuh 20 menit. Kami bisa melihat lembah dan puncak puncak pepohonan terbentang di bawah. Jalan jalan yang ada dekat tiang tali kereta bukan untuk diakses oleh umum, tetapi diakses untuk perawatan dan keselamatan tiang. Menurut pemandu bahwa tiap bulan selama 4 hari kereta kabel berhenti untuk beroperasi, karena butuh perawatan dan pemeriksaan kondisi demi keselamatan operasionalnya. Saat kami 48
  49. 49. meluncur tiba tiba angin kencang datang dan kereta terhenti dan kami berayunayun di udara. Penumpang yang phobi ketinggian tentu akan menjerit ketakutan. Kami sampai pada ujung stasiun kereta kabel. Kami melihat lokasi hotel memang tinggi, makanya genting juga disebut “negeri diatas awan – country above the cloud”. Akhirnya semua rombongan turun dari kereta kabel. Tentu saja rombongan kami menggunakan 26 kereta kabel, karena jumlah kami 137 orang dan muatan per-kereta adalah 6 orang. Sebagian rombongan berpencar, namun kami diberi waktu untuk explorer selama dua jam. Aku tidak tertarik untuk melihat apa dan bagaimana itu kasino. Aku dan teman (dalam rombongan kecil) hanya jalan berputar-utar untuk menelusuri kompleks plaza dan hotel. Tentu saja harga makanan dan minuman mahal dan juga banyak yang tidak halal. Untuk itu ada baiknya membawa makan sendiri, atau cari makanan yang kita yakini itu adalah halal. Di sana terlihat berbagai karakter orang. Ada yang tampak kesepian, yang sedang lagi dilanda asmara, anak-anak, ada pengunjung yang tertutup purdah (tertutup wajah), dan juga ada yang memakai pakaian sangat minim dan seksi, wah…di Genting Highland tidak terasa suasana Melayu yang Islam. Anak-anak yang sudah terbiasa dengan suasana heterogen dan suasana internasional terlihat santai, ceria dan menikmati suasana, sementara rombongan kami yang baru pertama kali datang belajar untuk beradaptasi dalam mengenal situasi. “ada yang cemas dan takut hilang dalam keramaian). Di sana ada banyak tulisan dalam aksara Melayu, China, English dan India. 49
  50. 50. Kesempatan untuk pergi ke Genting Highland tentu saja amat langka, maka aku sempat mengambil video dan beberapa foto dengan HP. Rasa ingin tahu bagaimana kereta kabel datang, pintunya terbuka dan tertutup secara otomatis juga aku abadikan lewat video dan sudah dapat ditonton lewat youtube dengan alamat Youtube di: marjohanusman@gmail.com .Sebelum kembali pulang, aku mencari dimana lokasi toilet umum. Akhirnya kami kembali keterminal awal menggunakan kereta kabel lagi. Kali ini rasa takut kami tidak begitu besar atau malah sudah hilang karena kami sudah mengenal dan mencoba berayun dalam rute datang tadi. Selain datang dengan kereta kabel, ternyata untuk datang ke lokasi hotel juga bisa menggunakan mobil carteran melalui jalan berkeliling. Tentu saja tidak semua mobil boleh masuk, publik menggunakan armada transpor yang juga dikelola oleh pihak perusahaan industri wisata Genting Highland. “Good bye Genting Highland. Bis pesiar kami meluncur menuju Johor Baru lagi, kami meninggalkan Genting Highland yang terletak dalam kawasan Gunung Ulu Kali”. Kami melaju turun. Mobil melaju menuju negara bagian Johor Baru. Perut sudah terasa keroncongan dan mobil pesiar kami berhenti di rumah makan Melayu “Wakomo” yang berada di daerah Muar. Makan di daerah ini agak cocok dengan selera kami, namun masih terasa bumbu yang agak manis (daging ayam dipotong agak besar, tapi banyak anak-anak tidak menghabiskan makanan mereka). Air syrup menjadi ciri khas minuman pada banyak restoran. Sebagai catatan bahwa mengkonsumsi sirup lebih sering tidak bagus untuk kesehatan karena sirup punya zat pewarna dan penyedap. 50
  51. 51. Aku berjalan untuk mengenal lokasi seputar trestoran. Rupanya ada penjaja buah yang sudah dipotong-potong dan dibungkus dalam plastic. Aku membeli guava (jambu biji), karena buah-buahan berguna untuk kesegaran dan kesehatan perut. Salah seorang anak (rombongan kami) dari sekolah satu atap di Kecamatan Lintau susah beradaptasi dengan makanan yang ada dalam perjalanan. Ia cenderung tidak mengkonsumsi makanan dan mengalami mual sepanjang jalan, praktis ia tidak merasakan indahnya pengalaman studi banding internasional Malaysia dan Singapura. Adalah penting untuk bisa beradaptasi dengan jenis makanan yang ada di internasional, selagi halal, untuk menjadi warga internasional. Semua orang naik bis pesiar. Mobil kami melaju lagi di atas jalan yang mulus. Kami dalam bus cukup lama mungkin sekitar dua atau tiga jam, kami melewati jalan yang gelap gulita, “ya...lebih baik tidur saja). Pemandu (Bapak Azam) membangunkan kami “oke....cik abang....cik gu.., cik adek....semua boleh buka mata”, katanya dalam bahasa Malaysia. Karena kami telah berada dalam kota Johor Baru, kota terbesar keemapt di Malaysia. Kotanya tidak seramai kota-kota di Indonesia, kami tidur malam itu dihotel Tropical Inn, menjelang tidur dan mimpi indah kami shalat lagi, arah kiblat tertera pada loteng kamar. 51
  52. 52. II. Singapura Sekilas Pandang 52
  53. 53. A. Geografi dan Sejarah Singapura Sebelum merangkak menuju Singapura, aku berusaha untuk mencari info atau sejarah Singapura (selayang pandang tentang Singapura). Ini berguna agar saat sudah berada di Singapura fikiran dan emosiku bisa menyatu dengannya.1. 1. Letak Geografis dan Sejarah Singapura Saat aku berdiri dari kamar di sebuah hotel di Johor Baru, aku dapat melihat susunan hutan hutan beton di pulau Singapura. Setelah aku cari tahu ternyata Singapura terletak tepat di ujung pantai selatan Semenanjung Melayu. Pulau ini tentu saja terpisah dari dataran Semenanjung Malaysia- persihnya daerah 1 http://ajiraksa.blogspot.com/2012/06/perkembangan-terakhir-islam-di.html 53
  54. 54. Johor, terpisah oleh Selat Johor, dan dihubungkan oleh sebuah jembatan yang bernama jembatan Johor. Republik Singapura merupakan sebuah negara pulau. Nama lain dari Singapura adalah Temasek. Ternyata negara Singapura juga memiliki pulau pulau yang amat kecil, jumlahnya sekita 54 pulau-pulau kecil, termasuk pulau-pulau karang. Dengan demikian negara kecil ini memiliki luas wilayahnya sekitar 621,4 km2 dan jumlah penduduk sebanyak 2, 8 juta jiwa, dengan kepadatan penduduk 4.590 orang/ km. 2. Asal Usul Nama Singapura Asal usul nama Singapura mungkin dapat ditelusuri nari naskah Pararaton yang sudah ada pada abad ke- 15 dari kerajaan Majapahit. Pararaton2, nama lain lainya adalah Kitab Para Raja, Kitab Para Ratu atau juga Kitab Para Datu. Pararaton ditulis pada tahun saka atau sekitar tahun 1613 M, ditulis dalam bahasa Kawi -Jawa Kuno, dan identitas pengarang tidak diketahui (Pararaton (Ken Arok) dari het boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit, diteliti oleh ahli Belanda bernama DR JLA Brandes. Dalam buku tersebut dinyatakan bahwa Tumasik 3 (atau Singapura) merupakan daerah idola yang ingin ditaklukan oleh Majapahit melalui sumpah Palapa- daerah lainnya adalah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, dan Palembang. Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang berisi bahwa ia akan menikmati palapa atau rempah-rempah (yang diartikan 2 3 http://menguaktabirsejarah.blogspot.com/2012/04/teks-naskah-pararaton.html http://id.wikipedia.org/wiki/Gajah_Mada 54
  55. 55. kenikmatan duniawi) kecuali bila telah berhasil menaklukkan Nusantara (termasuk daerah Tumasik atau Singapura)…ya sebagaimana tercatat dalam kitab Pararaton. Juga dalam naskah Negarakertagama disebutkan pula bahwa Temasek (Tumasik) sebagai kota-kota yang masuk dalam jajahan kerajaan Majapahit yang bermarkas di Pulau Jawa. 3. Terbentuknya Negara Singapura Di abad ke 14, Singapura menjadi bagian dari kerajaan besar Sriwijaya, dan dikenal sebagai Temasek4 (“Kota Laut”). Terletak di titik pertemuan jalur perjalanan laut di ujung Semenanjung Malaya, Singapura telah lama dikunjungi berbagai kapal, mulai dari junk China, kapal dagang India, dhow Arab, kapalkapal perang Portugis sampai kapal layar Bugis. Selama abad ke 14, pulau kecil namun berlokasi strategis ini mendapat nama baru – “Singa Pura” (“Kota Singa”). Menurut legenda, seorang pangeran Sriwijaya yang datang melihat seekor hewan yang ia kira singa, dan lahirlah nama modern Singapura ini (“Singapore” dalam bahasa Inggris). Inggris mengisi bagian penting berikutnya dalam kisah Singapura ini. Selama abad ke 18, mereka melihat perlunya sebuah “rumah singgah” strategis untuk memperbaiki, mengisi bahan makanan, dan melindungi armada kerajaan mereka yang semakin besar, serta untuk menahan kemajuan bangsa Belanda di wilayah ini. Dengan latar belakang politik seperti inilah Sir Stamford Raffles mendirikan Singapura atau Singapore, sebagai tempat perdagangan. Kebijakan perdagangan bebas berhasil menarik para pedagang dari seluruh penjuru Asia, 4 http://tugaskuliahdansekolah.blogspot.com/2012/04/biografi-negara-singapura-sejarah.html 55
  56. 56. bahkan dari negeri-negeri jauh seperti Amerika Serikat dan Timur Tengah. Di tahun 1824, hanya lima tahun setelah pendirian Singapura modern, populasi bertumbuh pesat dari hanya 150 menjadi 10.000. Di tahun 1832, Singapura menjadi pusat pemerintahan Straits Settlements (Wilayah Pemukiman Teluk) untuk daerah Penang, Malaka dan Singapura. Pembukaan Terusan Suez di tahun 1869 dan penemuan telegraf dan kapal uap memperbesar peran penting Singapura sebagai pusat perdagangan yang semakin meningkat antara Timur dan Barat. Sejak akhir abad ke- 14 sampai pada tahun 1511 M, Singapura menjadi wilayah bagian dari kerajaan Malaka. Parameswara- yaitu keturunan diraja Srivijaya/ Sriwijaya yang menubuhkan kerajaan Melaka- yang semula beragama Hindu, yang diusir oleh Majapahit dari Tumasik, kemudian mendirikan kerajaan di Malaka (1396 – 1414) dan merebut kembali daerah Tumasik (Singapura) ini. Akibat hubungan yang intim dengan pedagang-pedagang Muslim. Parameswara5 menyadari bahawa usaha untuk memajukan Melaka adalah dengan mengembangkan agama Islam karena hubungan perdagang dari Gujarat , India dan pedagang Arab dari Timur Tengah yang ramai berdagang di Nusantara. Parameswara akhirnya juga memeluk agama Islam dan bergelar Sultan Iskandar Syah. Namun pada abad ke- 18 Singapura berada dibawah wilayah kekuasaan kesultanan Johor, dengan seorang temunggung sebagai kepala pemerintahannya. Pada abad ke-19, Singapura sudah menjadi pelabuhan transit yang sangat penting karena jalurnya yang sangat penting. Oleh karena itu, akhirnya Inggris mengambil langkah untuk menciptakan Singapura sebagai pusat kota perdagangan yang 5 http://ms.wikipedia.org/wiki/Parameswara 56
  57. 57. penting di Asia Tenggara. Maka dari itu, pada tahun 1818 Gubernur Jendral Inggris di India memerintahkan kepada Sir Thomas Stamford Raffles, untuk bisa merebut dan mengusai Singapura dan wilayah-wilayah penting lainya yang berada di daerah kawasan Melayu tersebut. Pada tanggal 28 Januari 1819 Raffles berhasil mendaratkan armadanya untuk kemudian mengadakan perundingan dengan Sultan Husain dari Johor dan tumenggungnya di Singapura Abdul Rahman, untuk mengadakan aliansi dalam penguasaan Singapura. Perjanjian ini terwujud pada tanggal 30 Januari 1819 untuk menjadikan Singapura sebagai wilayah yang bisa diatur bersama dalam satu sistem. Kemudian pada tahun 1824, Sultan Johor dan Tumenggung Abdul Rahman menyerahkan wilayah tersebut kepada Inggris dengan mendapatkan imbalan ganti rugi. Sejak tahun 1826 Singapura berubah statusnya menjadi bagian dari Straits-Settlements (pendudukan daerah selat) bersama-sama dengan Penang, Malaka dan Welleslay sebagi wilayah jajahan Inggris. Singapura menjadi koloni Inggris sampai tahun 1946, karena StraitsSettlements dibubarkan, kemudian Singapura berdiri sendiri yang bergabung dalam British-Commonwealth. Tahun 1959 konstitusi Singapura terbentuk dengan pemerintahan sendiri dengan gubernurnya Sir William Goode, dengan Perdana Mentri yang pertamanya yang diangkat pada tanggal 5 Juni 1959 adalah yaitu Lee Kuan Yew. Tahun 1961 Perdana Mentri Malaysia Tun Abdul Rahman, membuat gagasan untuk membentuk Negara Malaysia yang terdiri dari federasi Malaya, yaitu Singapura, Serawak, Borneo Utara, dan Brunai, karena ia khawatir jikalau Singapura menjadi basis komunis. Akan tetapi hal ini menimbulkan konflik 57
  58. 58. dengan Indonesia, terkait dengan perebutan Borneo Utara yang bergabung dengan Malaysia. Keadaan konflik ini dimanfaatkan oleh Lee Kuan Yew pada tanggal 9 Agustus 1965 untuk memisahkan Singapura dari Malaysia, dan terbentuklah Negara baru ditengah-tengah kebudayaan dan etnik Melayu secara umum. Sejak itulah Singapura menjadi negara yang paling heterogen dari segi etnik, yang terdiri dari etnik (suku) Melayu, China, India, dan sedikit Arab serta keturunan Eropa. Kini Singapura Menggunaka empat bahasa yaitu bahasa Malaysia, bahasa Inggris, bahasa Cina dan bahasa Tamil. 58
  59. 59. B. Dari Johor Baru Menuju Singapura 1. Aku tidak Mau Dibilang Kampungan Untuk bisa mencapai negara Singapura, maka kami tidak langsung terbang dari Bandara Internasional Minangkabau (Padang) ke kota- negara ini, karena tidak ada penerbang langsung ke sini. Penerbangan langsung yang ada hanya menuju ke Kuala Lumpur. Setelah mendarat di Kuala Lumpur ya ….kami mengikuti skedul untuk jalan- jalan seputar kota Kuala Lumpur, juga mengunjungi Genting High Land dan kemudian menuju Negara Bagian Johor. Hampir malam bis wisata kami mencapai daerah Johor dan akhir bis berhenti di depan sebuah hotel. Semua rombongan wisata turun mobil dan semua ingin mengetahui dimana kamar mereka. Kami berempat, penulis sebagai guru pembimbing dan anak-anak (David, Raihan dan Syandi) memperoleh kamar 2206, yang berarti kami harus naik lift mencapai lantai 22 di hotel Tropical Inn. Sekarang kami sudah sangat mahir dalam menggunakan lift hotel. Tadi dalam perjalanan pemandu kami sempat menjelaskan bahwa Negara Bagian “Johor” berasal dari kata “Jauhar atau permata”. Ibukota Johor adalah Johor Baru, yang merupakan sebuah kota besar. Negara Singapura terlihat jelas dari hotel kami karena jarak Singapura dan Johor hanya kira-kira satu kilometer saja, dihubungi oleh sebuah selat sempit yang dilintasi oleh jembatan panjang. Ketika kami sampai di kota ini, terlihat sudah lewat tengah malam, namun kota Johor Baru masih terlihat ramai oleh arus lalu lintas. Tentu saja kami semua harus tidur, walau tidak lama lagi kami harus bangun untuk shalat subuh. Setelah itu kami boleh tidur lagi hingga pukul 9.00 pagi karena kami harus bertolak ke Singapura jam 10.00 pagi. 59
  60. 60. Oh ya ...bahwa tata cara masuk kamar hotel di Johor ini sedikit berbeda dengan hotel yang di Kuala Lumpur. Begitu sampai dini hari tadi kami diberi kartu. Aku tidak mengerti tentang kartu apa itu sehingga aku minta kunci buat masuk kamar hotel. “Boleh saya minta kunci untuk masuk kamar ?” Tanyaku dengan polosnya. “Kartu itu adalah kunci untuk masuk kamar hotel”.Jawab petugas dengan mantap. Wah aku masih ketinggalan info tentang teknologi, ya…kartu tersebut ternyata berfungsi untuk kunci pintu kamar yang harus diselipkan pada kunci pintu. Kartu tersebut juga berguna untuk diselipkan untuk menghidupkan lampu kamar. Wah aku tidak mau disebut sebagai orang kampungan. Yakebetulan belum punya pengalaman. Dan saat kami berada dalam kamar maka salah seorang teman mencabut kartu tersebut dari socket lampu dan ternyata lamu kamar jadi mati semua. Haa….haaa…haaa. 2. Meluncur Ke Singapura Menurut jadwal perjalanan bahwa tanggal 20 November rute kami adalah menuju Johor Baru- Singapura- Malaka. Setelah sarapan pagi rombongan checkout hotel dan berkumpul ke dalam bis dan kami langsung bergerak untuk masuk nergara Singapura. Pemandu menjelaskan bahwa setelah melewati pemeriksaan di imigrasi, maka rombongan akan mengikuti Singapore City Tour- mengunjungi The Merlion Park, Rafless, Singapore Science Centre, melewati KBRI di Singapura, menaiki kereta api bawah tanah, terakhir shopping di Mustafa Center, Orchad dan 60
  61. 61. selanjutnya rombongan melanjutkan perjalanan ke Melaka, ya….kami hanya bermalam dalam mobil saja”. Pagi hari, kami masih berada di Tropical Inn hotel di Johor Baru.Kami punya sedikit waktu untuk bersenang-senang. Aku sebagai Penulis (ha haaa) melepaskan pandangan jauh ke Pulau Singapore melalui jendela kamar hotel dan sempat mengabil foto buat menambah inspirasi dalam menulis. Atau request dari ketua biro perjalanan bahwa kami semua harus segera turun untuk sarapan. Aku agak ragu untuk masuk ke ruangan makan karena disana ada satu grup pelajar-pelajar SD dari Singapura. Aku berfikir apakah itu masih jam sarapan buat grup anak-anak di Singapura, hingga salah seorang pemandu menyuruh kami segera untuk bergabung untuk sarapan. “Ayo semuanya ikut sarapan…sarapan ini buat semua tamu hotel…ya boleh untuk kita dari Indonesia, dari Malaysia, dari Singapura dan tamu hotel dari mana saja”. Aku berfikir bahwa pelajar-pelajar Singapura yang berlokasi dekat dengan Johor Baru, tentu mereka selalu pergi ke Johor Baru untuk pergi rekreasi, sementara orang Singapura yang berlokasi dekat ke Batam juga sering pergi ke Batam. Pastilah sebagai sebuah negara kota, semua warga Singapura memiliki pasport buat ke Johor Baru atau ke Batam. Tentu bahwa untuk pergi ke Singapura musti melewati Johor6. Kata temanku di Pekanbaru bahwa sekarang kita sudah amat mudah buat berpergian ke Malaysia- melewati Johor dan terus ke Singapur. Kalau sepuluh tahun lalu bila kita bisapergi ke Singapore itu sudah merupakan merupakan hal yang sangat hebat. Apalagi apabila kalau kita pulang dari Singapura bisa membawa cendera 6 http://horizonwatcher.blogdetik.com/2012/11/13/jasa-penunjuk-jalan-guide-wisata-ke-singapore 61
  62. 62. mata seperti “patung atau gambar Merlion”, ya kita sudah dipandang sehebat selebriti tingkat lokal yang telah melancong jauh ke mancanegara. “Kini setelah penerbangan mematok tarif paling murah, seperti dari Padang ke Kuala Lumpur, maka maka Singapore menjadi destinasi wisata paling mudah dijangkau dari indonesia. Siapapun bisa datang ke Singapura buat berlibur”. Guru guru dan orang orang dari Kab. Tanah Datar juga sudah banyak yang berkunjung ke negara tetangga dan termasuk ke Thailand. Ada romobongan kecil orang Tanah Datar yang menyempatkan diri untuk melancong ke Singapore melewati border darat Johor Baru untuk masuk ke Singapore. Bagi orang-orang yang kebetulan berkunjung/ berlibur ke negara jiran secara mandiri- tidak lewat biro perjalanan- juga dapat merancang perjalanan mereka. Kalau mereka ingin berkunjung ke Singapura maka mereka bisa naik bus. Bus ke Johor Baru. Harga tiket sekitar 31 RM dan nsewanya sama saja dengan bus super executive seat 1-2 yang nyaman. Perjalanan sepanjang hampir 400 kilometer hanya ditempuh selama kurang lebih 4 jam saja. “Orang orang yang datang dari arah Riau- setelah berlayar melintasi selat Malaka- mendarat di Melaka. Di sana juga ada Transport Melaka- Johor Baru, dari Larkin,kita dapat menggunakan bus di platform ujung kanan untuk masuk ke Singapore. Agak ribet memang. Mula-mula kita tunggu bus no 170,jangan salah pilih,pake bus 170 dgn tulisan Queen street. Ada satu bus lagi dengan nomor sama tetapi hanya bertuliskan Larkin-Kranji7. Bus ini akan mencharge 2,20 RM untuk full route Terminal Larkin di Johor Bahru Sentral ke Bugis yang letaknya di 7 http://causewaylink.com.my/singapore-bus 62
  63. 63. tengah distrik utama Singapore. Jangan buang tiket bus 170 itu. Kita akan turun naik bus 3x dan terkadang tiket itu diperiksa oleh supir di bus lanjutannya.” Bus akan melaju ke Bangunan Sultan Iskandar Checkpoint,dimana kita akan keluar dari Malaysia. Di ujung bus lane,semua penumpang turun untuk berjalan melewati Keimmigrasian Malaysia dan turun kembali ke bus lane dan naik kembali ke bus 170. Bangunan Sultan Iskandar, Imigrasi Johor Bahru, Setelah melewati jembatan antar negara lagi-lagi kita akan disuruh turun melewati Woodlands Checkpoint, Keimigrasian Singapore. Nah,masalah ternyata datang disana. Mengapa ? Kita mungkin bisa dicurigai sebagai mata-mata negara lain atau pendatang illegal yang bakal mengganggu di Singapura. Setelah officer di imigrasi melihat kita dengan tatapan tajam dan mesra, maka dia menyuruh kita untuk duduk di belakangnya. Ini gaya pelayanan di immigrasi Singapore. Banyak cerita tentang melintasi keimmigrasian Singapura. Ada yang bercerita bahwa seseorang pernah disuruh duduk di kantor imigrasi. Menunggu bersama beberapa orang dengan muka-muka mencurigakan…namun ternyata mengasyikkan. Mereka dipanggili satu persatu ke dalam ruangan lain sementara yang lain dibiarkan ngupil dan menunggu tanpa ada menu buffet yang dijanjikan. Akhirnya akan ada wawancara antara petugas immigrasi dan kalau aku pakai identitasku mungkin akan terjadi seperti berikut dan tentu kita boleh bercanda: “Mister Marjohan Usman ?” Seorang officer memanggilku. “Kamu ingin mau kemana?” 63
  64. 64. “Ya tentu saya mau ke Singapore…tidak mungkin saya mau ke Jakarta ?” Jawabku sedikit bercanda boleh tidak begitu kaku dan juga melatih keberanian. “Apa tujuan anda ke Singapore?” “….mmmm…kasih tau gak yaa..” Fikirku dalam hati. “Kamu sering bepergian? Dan kamu nggak kerja?” “ Ini kerjaan saya, berdagang…..guru dan juga penulis …..ha ha … makanya saya banyak cap di paspor akhir-akhir ini”. Kemudian officer immigrasi akan minta kita untuk membuka dompet dan melihat-lihat isinya. Akhirnya kita dilepas begitu saja setelah lebih dari satu jam tertahan dan diinterogasi beberapa pertanyaan. Seorang officer akhirnya mencap paspor kita dan kita dipersilakan kembali antrian untuk dapat memasuki wilayah Singapore. Tentu kita merasa agak dongkol, karena waktu yang terbatas untuk mengunjungi Singapore masih harus disunat dengan kejadian seperti ini lagi. Kalau kitacari tahu lewat literature maka kita akan tahu bahwa memang negara ini ketat sekali memfilter siapa saja yang hendak masuk ke dalamnya. 64
  65. 65. C. Harga Akomodasi 1) Check Out dari Hotel Rupanya kami tidak lama berada di tropical inn. Kami semua harus berkemas- berkemas dan harus check out dari hotel. Semua koper dan bagasi lain tidak mungkin kapi tenteng ke Singapura karena kami hanya berada selama satu hari saja di Singapura. Namun waktu satu hari di Singapura akan bermakna sangat besar bagiku. Rugi kalau aku tidak manfaatkan waktu selama di Singapura untuk menambah pengalaman dan wawasan. Maka pemandu dan juga tour leader kami meminta kami untuk menitipkan bagasi pada salah satu gudang di hotel tersebut, souvenir yang dibeli di Kuala Lumpur juga dititip. Jadi hotel ini hanya sebagain tempat transit dan menitip barang-barang...bagus juga ya manajemen biro perjalanan JAP ini. Karena jarak Singapura dari pinggir pantai cuma terpisah kira-kira 2 km, sementara jarak atau panjang jembatan penghubung Johor dan Singapura hanya 1 km. Mengapa kami tidak menetap atau bermalam di Singapura dan mengapa harus nginap di hotel Johor Baru ? Alasannya tentu saja biaya akomodasi di Malaysia lebih enteng ketimbang di Singapura. Namun tak rugi kalau kita ingin mencari tahu seperti apa akomodasi di Singapura itu 8 (?). Mana tahu ada tetangga atau kaum kerabatku ada yang pengen studi dan menetap di negara ini. 2) Mau Tinggal di Singapura ? Mengingat bahwa negara Singapura memiliki kualitas pendidikan dan kualitas tempat yang bagus maka tentu banyak orang ingin tinggal atau menetap untuk belajar di sana. 8 http://ppisingapura.org/living-in-singapore 65
  66. 66. “Ya apakah berencana mau menetap di Singapura untuk kuliah atau sekolah? Masih bingung mencari tempat tinggal, beradaptasi dengan kebudayaan dan lifestyle Singapura? Jangan bimbang, kami disini akan membantu temanteman semua yang membutuhkan informasi mengenai kehidupan di Singapura” Ya mungkin kata iklan kepada kita semua. Semua itu bisa jadi cukup membantu dan kita ketahui bahwa berbeda dengan Indonesia, kebanyakan tempat tinggal yang ditawarkan di Singapura adalah berupa apartemen. Itu memang aku lihat saat melewati pusat perumahan di sana. Di sana terdapat dua tipe apartemen yaitu : a) HDB Flats (milik pemerintah), HDB adalah singkatan dari “House Development Board”. Flat ini dirancang dengan harga lebih terjangkau namun tidak memiliki fasilitas khusus. Hanya tersedia coffee-shop (foodcourt) di bawah blok. b) Condominium atau private apartment, harganya lebih mahal namun terdapat berbagai macam fasilitas khusus penghuni yang lengkap seperti kolam renang, BBQ pit (maksudnya dari singkatan barbeque- dan ia adalah hidangan daging yang dibakar di atas griller9, dengan menggunakan arang), gymnasium (ruangan buat fitness), dan lain-lain. Kita dapat dapat menyewa satu kamar, sharing kamar dengan roomate lain, atau menyewa satu unit yang biasa terdiri dari 2-3 kamar. Harganya dapat disesuaikan dengan lokasi dan ukuran kamar, menurut observasi semakin jauh dari city area maka lebih murah harga sewanya. Sebagai patokan bagi kita, harga sewa satu kamar untuk satu orang di apartemen sekitar Orchard/Somerset adalah sekitar SGD 1000-1500. Apabila kita menyewa kamar di daerah suburbs (di luar 9 http://akomodasi-perhotelan.blogspot.com/2012/11/pengertian-barbeque-party.html 66
  67. 67. kota) seperti di daerah Toa Payoh, Tampines, Clementi, maka harga sewa kamar untuk satu orang berkisar dari SGD 500-800 per bulannya. Tentu saja setiap orang yang lagi tinggal di rantau orng, tentu mereka ingin mendapatka tempat kost yang ideal. Maka inilah tips untuk mencari akomodasi yang tepat : a) Tinggallah dekat dengan sekolah/kampus karena biaya transportasi bisa jadi murah dan kita bisa menghemat banyak waktu. b) Carilah informasi- bisa melalui internet/ koran- tentang kamar-kamar yang disewakan. c) Jika memungkinkan, mari kita kontak agen rumah supaya lebih murah dan mudahdan juga lebih jelas informasinya. d) Carilah tempat yang mudah diakses oleh bus, MRT, dan juga dekat dengan tempat makan / supermarket. Bahwa ada beberapa alasan mengapa banyak orang (termasuk orang asing) senang tinggal di Singapura10. Yaitu karena kemudahan gaya hidup dengan pilihan adanya pekerja rumah tangga, faktor keamanan, standar pendidikan tinggi, dan faktor multi-budaya tampaknya menjadi tema umum. Satu hal lagi faktor cuaca (iklim tropis) juga membuat orang suka di kota ini. 10 http://internasional.kompas.com/read/2011/08/08/16150759/5.Alasan.Ekspatriat.Suka.Singapura 67

×