TESIS PENDIDIKAN AGAMA

45,480 views

Published on

Published in: Education, Technology, Business
9 Comments
26 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
45,480
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
8
Actions
Shares
0
Downloads
1,772
Comments
9
Likes
26
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

TESIS PENDIDIKAN AGAMA

  1. 1. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat dewasa ini menuntut moralitas dan paham kebangsaan yang tinggi, sebab ilmu dan pengetahuan yang tidak dibarengi dengan tingkat keimanan dan moralitas yang tinggi menyebabkan pendidikan kehilangan esensinya sebagai wahana memanusiakan manusia. Banyak orang memiliki kecerdasan yang luar biasa dan prestasi yang gemilang secara akademik namun tidak memberikan manfaat yang berarti dalam lingkungan masyarakatnya, bahkan menjadi racun yang sangat membahayakan bagi eksistensi budaya dan nilai-nilai kemanusiaan karena iman dan moralitasnya rendah. Tidak sedikit kasus amoral terjadi yang dilakukan oleh anak-anak usia sekolah maupun oleh para ilmuwan, baik melalui layar televisi maupun media masa. Bagaimana seorang anak SMP memperkosa rekannya sendiri, membunuh, kecanduan obat-obat terlarang, minum-minuman keras, bunuh diri dan lain sebagainya. Hal ini menggambarkan bahwa pendidikan yang dilakukan selama ini belum menyentuh ranah kesadaran siswa. Pelajaran Agama dan PPKn serta pesan-pesan moral yang disampaikan oleh guru di depan kelas, tidak mampu menjiwai setiap gerak langkah siswa dalam kehidupan masyarakatnya. Hal ini tentunya, disebabkan oleh keringnya pembelajaran yang dirasakan siswa, materi-materi pelajaran agama dan PPKn dianggap sebagai pelajaran tambahan yang harus dihapal, kemudian ditagih disaat
  2. 2. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 2 ujian. Setelah ujian selesai, materi itupun segera menghilang tanpa bekas. Yang lebih parah lagi, sekolah kita selama ini terkesan sebagai lembaga pengekangan, tidak ubahnya seperti penjara, dimana anak-anak didik dikekang dengan aturan yang serba ketat dan materi pelajaran yang begitu padat. Hampir tidak ada gagasan ataupun ide yang berasal dari siswa dapat berkembang dan menjadi perhatian. Dampaknya, ketika anak-anak selesai ujian nasional, mereka ramai- ramai mencoret baju, berteriak dijalanan dan ngebut-ngebutan. Seolah-olah mereka mau mengatakan “hore… kita sudah bebas dan lepas dari semua pengekangan”. Inilah sebenarnya cerminan pendidikan kita dewasa ini. Apabila situasi ini dibiarkan, maka bisa jadi masyarakat kita akan menjadi masyarakat yang rusak, masyarakat yang tidak memiliki nilai-nilai budaya yang harus dijunjung tinggi, masyarakat yang melupakan jati dirinya sendiri. Masyarakat yang cerdas dari sisi keilmuan, namun tidak memiliki kemampuan untuk mengerti dan memahami orang lain bahkan masyarakat yang tidak tahu dari mana asalnya. Di sinilah kita akan melihat masyarakat kita pada kondisi yang sangat memperihatinkan, karena jauh dari nilai-nilai agama dan budaya yang ada. Untuk itu, peranan guru sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai Ilahiah dan moralitas itu sedini mungkin, tentunya melalui pembelajaran yang memberikan ruang gerak yang lebih luas kepada siswa untuk mampu memahami diri dan orang lain disekitarnya serta mampu memahami dan menjiwai ajaran- ajaran agama yang sifatnya doktrinal secara baik dan benar. Guru hendaknya mampu berperan sebagai pembimbing untuk menuntun siswa memulai proses belajar, memimpin siswa agar hasil proses belajar sesuai dengan tujuan pengajaran, serta sebagai fasilitator dalam mempersiapkan kondisi
  3. 3. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 3 yang memungkinkan siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Hal ini dapat dilakukan oleh para guru mulai dari pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi pendidikan Agama dan PPKn serta karakteristik pebelajar, dan pemilihan strategi yang tepat dalam menimplementasikan pembelajaran Agama dan PPKn di Kelas. Terdapat semacam sinyalemen, bahwa harapan tumbuhnya sifat kreatif dan antisipatif para guru Agama dan PPKn dalam praktek pembelajaran untuk pemahaman siswa dewasa ini masih belum optimal. Hal ini, tampak terjadi mulai dari bangku pendidikan formal yang paling rendah hingga perguruan tinggi. Semua ini diduga sebagai salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas dan kuantitas proses dan produk pembelajaran Agama dan PPKn. Kualitas proses pembelajaran Agama dan PPKn dapat dilihat dari pelaksanaan pembelajaran yang tidak lebih dari kegiatan pembelajaran yang bersifat rutinitas, dimana materi pembelajaran tidak sampai menyentuh kesadaran siswa, melainkan hanya sekadar sebagai syarat kelulusan ujian sekolah yang materi ajarannya harus dihafal sesuai dengan buku teks. Hasil pembelajaran ini, jelas tidak memberikan arti apa-apa dalam pembangunan moral dan mental siswa sebagaimana yang diharapkan dalam tujuan pembelajaran. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, faktor proses merupakan inti dari proses pendidikan formal di sekolah yang di dalamnya terjadi interaksi antara berbagai komponen pengajaran. Komponen-komponen itu dapat dikelompokkan dalam tiga kategori utama yaitu: guru, isi materi, dan siswa. Interaksi antara ketiga komponen utama tersebut melibatkan sarana dan prasarana seperti: model dan metode pembelajaran yang digunakan, media, dan penataan
  4. 4. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 4 lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi belajar mengajar yang memungkinkan tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Rendahnya prestasi belajar siswa dalam bidang Agama dan PPKn yang ditunjukkan oleh NUAS/NUAN siswa yang mengindikasikan bahwa pengelolaan pembelajaran Agama dan PPKn belum optimal sehingga menyebabkan rendahnya prestasi belajar pada bidang pelajaran dimaksud. Selama ini pengajaran Agama dan PPKn berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke pikiran siswa. Dengan asumsi itu para guru memfokuskan diri pada upaya mentransfer pengetahuan ke dalam kepala para siswanya (Sadia, 1997:1). Berdasarkan hasil survey dan wawancara dengan beberapa orang guru yang mengajar Agama dan PPKn di sekolah mengengah pertama (SMP) kecamatan Suralaga kabupaten Lombok Timur, diperoleh informasi bahwa pembelajaran Agama dan PPKn selama ini pada umumnya lebih banyak dilakukan dengan metode ceramah. Ada dua hipotesis yang dapat diutarakan sebagai penyebabnya. Pertama, fasilitas pembelajaran Agama dan PPKn yang ada di sekolah sangat terbatas, dan kedua pemahaman guru terhadap materi pendidikan Agama dan PPKn serta pembelajarannya masih rendah. Guru memahami pendidikan Agama dan PPKn hanya sebagai bidang ilmu yang dibukukan (body of knowledge), sehingga mereka mengajarkan pendidikan Agama dan PPKn dengan bercerita tentang isi buku Agama dan PPKn. Penggunaan metode ceramah pada pembelajaran Agama dan PPKn di SMP menduduki rangking pertama dari delapan metode yang digunakan: ceramah, tanya jawab, diskusi, eksperimen, karya wisata, bermain peran, demonstrasi, dan
  5. 5. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 5 proyek (Subagia, 2001). Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran Agama dan PPKn sangat diperlukan penerapan berbagai metode pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Mengajar dalam prakteknya merupakan suatu proses penciptaan lingkungan, baik dilakukan guru maupun siswa agar terjadi proses belajar mengajar yang kondusif (Joyce & Weil, 1980). Agar penciptaan lingkungan ini mencapai hasil yang optimal, guru harus memahami berbagai konsep dan teori yang bertalian dengan proses belajar mengajar, dan selanjutnya pemahaman tentang hal ini dapat dipraktekkan dalam kegiatan praktis yaitu mengajar (Ali, 2000). Setiap proses belajar mengajar menuntut upaya pencapaian suatu tujuan tertentu. Setiap tujuan menuntut pula suatu model bimbingan untuk terciptanya situasi belajar tertentu. Menurut Arends (1997) dalam suatu proses belajar mengajar, tidak ada suatu model ataupun metode pembelajaran yang paling baik. Untuk itu, guru hendaknya perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai model dan metode pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Dengan kemampuan ini guru dapat memilih metode yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Pemberian tugas (resitasi) merupakan salah satu metode pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Dengan padatnya isi materi pelajaran akan sangat menyita waktu siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tersebut. Untuk mengatasi keadaan tersebut guru perlu memberikan tugas-tugas di luar jam pelajaran. Disebabkan, bila hanya menggunakan seluruh jam pelajaran yang ada untuk tiap mata pelajaran, hal itu tidak akan mencukupi tuntutan luasnya pelajaran yang
  6. 6. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 6 diharuskan, seperti yang tercantum dalam kurikulum. Dengan demikian perlu diberikan tugas-tugas, sebagai selingan untuk variasi teknik penyajian ataupun dapat berupa pekerjaan rumah. (Roestiyah N.K., 2001: 132). Langkah-langkah dalam menyusun penugasan yaitu: 1) mengidentifikasi pengetahuan & keterampilan yang harus dimiliki, dengan cara menentukan (a) jenis pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan; (b) pengetahuan dan keterampilan bernilai tinggi yang harus dipelajari; dan (c) cara menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari dalam kehidupan nyata di masyarakat; 2) merancang tugas-tugas untuk assesmen kinerja, dengan cara menentukan: (a) jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas; (b) kompleksitas tugas yang diberikan; (c) kesesuaian tugas-tugas yang diberikan dengan kemampuan kognitif, sosial dan afektif yang hendak dicapai; dan (d) jenis tugas yang berkaitan langsung dengan upaya perbaikan mutu; dan 3) menyusun kriteria keberhasilan (Setiyono, 2006 dalam Tirta dan Gani, 2007; 96). Pembelajaran dengan metode ceramah bermedia merupakan cara belajar yang paling tradisional, cara mengajar dengan ceramah dapat dikatakan juga sebagai teknik kuliah, merupakan suatu cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan (Ahmadi dan Prasetya, 1997:137). Guru biasanya belum merasa puas manakala dalam proses pengelolaan pembelajaran tidak melakukan ceramah. Demikian juga dengan siswa, mereka akan belajar manakala ada guru yang memberikan materi pelajaran melalui ceramah, sehingga guru ada yang berceramah berarti ada proses belajar dan tidak ada guru berarti tidak ada belajar (Sanjaya, 2006:148).
  7. 7. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 7 Pembelajaran dengan metode ceramah dapat juga dikatakan pengajaran yang sebenarnya bersifat teacher center, pengajaran ini menuntut guru untuk menjadi model yang baik bagi siswanya (Kardi, 2000). Metode ceramah dirancang secara khusus untuk mengembangkan cara belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan deklaratif dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam menggunakan metode ceramah adalah: 1) Tahap persiapan, pada tahap ini guru merumuskan tujuan yang ingin dicapai, menentukan pokok-pokok materi yang akan diceramahkan, dan mempersiapkan alat bantu; 2) Tahap pelaksanaan, pada tahap ini ada tiga langkah yang dilakukan yaitu: langkah pembukaan, penyajian, dan mengakhiri/menutup ceramah. Berdasarkan uraian di atas akan diungkapkan dampak penerapan metode pemberian tugas dan metode ceramah bermedia terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Agama dan PPKn di SMPN 1 Suralaga dan SMPN 1 Sukamulia kabupaten Lombok Timur. B. Identifikasi Masalah Proses dan hasil pembelajaran Agama dan PPKn dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal siswa meliputi kondisi fisiologis dan kondisi psikologis. Faktor kondisi fisiologis meliputi kesehatan jasmani dan kebugaran fisik, dan kondisi panca indera, sedangkan aspek psikologis meliputi intelegensi, bakat, minat, sikap, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif. Faktor eksternal siswa dapat berupa faktor keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan sosial lainnya. Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas muncul beberapa masalah yang dapat diidentifikasi.
  8. 8. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 8 1. Kemampuan guru dalam menggunakan berbagai macam metode pembelajaran di kelas masih sangat terbatas. 2. Pemahaman warga sekolah (kepala sekolah, guru, dan siswa) mengenai perubahan kurikulum masih rendah. 3. Sosialisasi dinas P dan K kabupaten mengenai kurikulum tingkat satuan pendidikan masih kurang. 4. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Agama dan PPKn belum bisa dijadikan tolok ukur mengenai sikap dan perilaku siswa di luar sekolah/lingkungan masyarakatnya. 5. Kesadaran masyarakat dan sekolah tentang pentingnya pelajaran Agama dan PPKn dalam menciptakan manusia yang bermoral dan cerdas secara akademik dan spiritual masih lemah. 6. Kemampuan ekonomi masyarakat untuk mendukung proses pembelajaran yang bermutu/berkualitas dari segi fasilitas dan sumber daya sangat minim. C. Batasan Masalah Mengingat faktor-faktor yang terkait dalam proses belajar mengajar sangat kompleks, serta adanya kendala-kendala lain berupa: keterbatasan waktu, biaya dan kemampuan peneliti, maka penelitian ini dibatasi pada perbedaan hasil belajar Agama dan PPKn sebagai akibat penerapan metode pemberian tugas dan metode ceramah bermedia. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
  9. 9. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 9 1. Apakah metode pembelajaran pemberian tugas dan ceramah bermedia berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran PPKn dan Agama di SMPN 1 Suralaga dan SMPN 1 Sukamulia? 2. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Agama dan PPKn antara yang diajar dengan metode pemberian tugas dan yang diajar dengan metode ceramah bermedia? E. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data empiris tentang perbedaan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Agama dan PPKn karena pengaruh metode pembelajaran yang digunakan. Secara operasional tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. 1. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode pembelajaran pemberian tugas dan ceramah bermedia terhadap hasil belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran PPKn dan Agama di SMPN 1 Suralaga dan SMPN 1 Sukamulia 2. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Agama dan PPKn antara yang diajar dengan metode pemberian tugas dan yang diajar dengan metode ceramah bermedia. F. Manfaat/Kegunaan Penelitian Secara umum ada dua manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini. Pertama manfaat langsung yang memberikan dampak langsung pada
  10. 10. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 10 pembelajaran. Kedua, adalah manfaat teoretik yang memiliki akses jangka panjang dalam pengembangan teori pembelajaran. F.1 Manfaat praktik Hasil pembelajaran dengan menggunakan metode penugasan dan metode ceramah bermedia yang teruji secara empirik keunggulan dan kelayakannya akan memberikan manfaat besar sebagai metode pembelajaran sains yang berorientasi perubahan mental. Manfaat lain yang diharapkan secara praktik dalam penelitian ini adalah memberikan ruang kepada siswa untuk melakukan perubahan sekaligus menilai kebiasaan mereka belajar di sekolah. Selama ini, mereka belajar di sekolah lebih mendominasi aktivitas mendengar dan mencatat akibat dari metode yang diterapkan guru berupa “tutur dan kapur”. Namun belajar dengan fasilitas metode penugasan akan melibatkan aktivitas-aktivitas membaca, diskusi, pemecahan masalah secara kolaboratif, berpikir kritis dan kreatif, mengaitkan konsep dengan fenomena dunia nyata dan mengintegrasikannya ke dalam pengetahuan yang telah dimiliki. Dengan demikian terjadi perubahan tanggung jawab belajar dari dominasi guru, menjadi sepenuhnya pada diri siswa. F.2 Manfaat teoretik Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pijakan teoretik pemecahan masalah belajar Agama dan PPKn yang dialami siswa SMP di sekolah. Masalah tersebut berupa fakta empiris rendahnya kemampuan siswa dalam menganalisis dan memahami situasi dan kondisi sosial lingkungan hidup mereka sehari-hari sebagai akibat dari tidak tersentuhnya kesadaran pribadi dan kolektif siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Hal ini juga berakibat pada kurangnya rasa
  11. 11. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 11 kebersamaan dalam ikatan persaudaraan/kebangsaan dan lemahnya nilai-nilai agama dalam praktek kehidupan sehari-hari siswa. Penerapan metode penugasan diharapkan dapat memberikan ruang gerak bagi siswa untuk dapat memahami lingkungan sosial mereka baik dalam lingkup yang kecil (keluarga) dan pada lingkup yang lebih luas (masyarakat dan negara). Ternyata metode ceramah belum bisa menjawab secara optimal persoalan- persoalan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan serangkaian metode yang disimulasikan yang dapat diterapkan sebagai metode alternatif dalam pencapaian pemahaman, dan hasil belajar yang optimal. Manfaat teoretis/kegunaan hasil penelitian ini secara teoretik diharapkan dapat berguna bagi guru khususnya guru Agama dan PPKn di SMP dalam mengelola proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada keterlibatan siswa secara penuh dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan sebelumnya dalam kurikulum pembelajaran. G. Asumsi Penelitian Dari beberapa teori (das sein) dan kenyataan yang terjadi di lapangan (sekolah-das sollen) selama ini, menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran Agama dan PPKn dengan menggunakan media elektronik dan non elektronik masih terbatas, sehingga pembelajaran cenderung lebih monoton (satu arah) atau dapat dikatakan pembelajaran Agama dan PPKn yang dilakukan oleh guru selama ini sifatnya masih teacher centered (berpusat
  12. 12. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 12 pada guru) siswa hanya duduk, diam, mencatat lalu mengulang-ulang kembali pelajaran tersebut di saat ujian sekolah. Padahal bila dilihat dari sisi siswa sendiri, mereka (siswa) sebenarnya sudah memiliki kemampuan awal sebagai dasar pijakan mereka dalam mengungkap masalah-masalah pembelajaran yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari. Artinya, siswa dengan kehidupan sosial dan keagamaannya tinggal dikembangkan oleh guru sesuai dengan materi/bahan ajar yang diberikan di kelas, dengan demikian siswa lebih mudah/lebih cepat memahami materi pelajaran karena dikaitkan dengan kondisi nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa. Tentunya, kemampuan awal dan hasil belajar siswa juga sangat beragam tergantung pada konteks lingkungan sosial yang tempatinya, keberagaman ini juga akan menentukan tingkat penguasaan bahan ajaran. Namun, bukan berarti siswa yang memiliki kemampuan lebih akan memiliki kesempatan yang lebih besar dalam proses belajar mengajar daripada siswa yang memiliki kemampuan rendah. Semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri dan memperoleh hasil belajar yang tinggi. H. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian Penelitian yang akan dilakukan ini mencakup proses dan hasil belajar mengajar dengan penerapan metode pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran Agama dan PPKn di kelas. Penggunaan metode pembelajaran dibatasi pada metode penugasan dan metode ceramah bermedia pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Suralaga dan SMP Negeri 1 Sukamulia. Penerapan kedua metode inilah yang akan dilihat hasil/pengaruhnya dalam menunjang keberhasilan belajar Agama dan PPKn siswa.
  13. 13. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 13 I. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Untuk menghindari terjadinya kesalahan penafsiran terhadap variabel- variabel penelitian yang terlibat dalam penelitian ini, maka berikut diuraikan variabel penelitian dan definisi operasional variabel-variabel yang dimaksud. I.1 Variabel Penelitian Pada penelitian eksperimen ini melibatkan beberapa variabel yang dapat dikelompokkan sebagai berikut. 1) Variabel Terikat Variabel terikat pada penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada mata pelajaran Agama Islam (Y1) dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn (Y2) 2) Variabel Bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode penugasan yang dikenakan pada kelompok eksperimen I sedangkan pada kelompok eksperimen II menggunakan metode ceramah bermedia. I.2 Definisi Operasional Definisi operasional masing-masing variabel penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Metode Penugasan Penugasan atau assignment sebagaimana yang diharapkan dalam kurikulum berbasis kompetensi dan kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah yang bersifat divergent. Yaitu suatu tugas yang dapat dikerjakan dengan menggunakan berbagai aletrnatif jawaban, atau tidak hanya mengandalkan pada satu jawaban benar saja. Langkah-langkah dalam menyusun penugasan yaitu: 1) mengidentifikasi pengetahuan & keterampilan yang harus dimiliki, dengan cara menentukan (a)
  14. 14. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 14 jenis pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan; (b) pengetahuan dan keterampilan bernilai tinggi yang harus dipelajari; dan (c) cara menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari dalam kehidupan nyata di masyarakat; 2) merancang tugas-tugas untuk assesmen kinerja, dengan cara menentukan: (a) jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas; (b) kompleksitas tugas yang diberikan; (c) kesesuaian tugas-tugas yang diberikan dengan kemampuan kognitif, sosial dan afektif yang hendak dicapai; dan (d) jenis tugas yang berkaitan langsung dengan upaya perbaikan mutu; dan 3) menyusun kriteria keberhasilan. 2. Metode Ceramah Bermedia Metode ceramah bermedia yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah metode pembelajaran yang lebih menitikberatkan kepada keberadaan guru sebagai pentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa didik, namun dalam hal ini dibarengi dengan penggunaan alat bantu (media) pembelajaran berupa gambar atau slide yang telah disiapkan oleh guru sebelumnya. Tahapan yang dilakukan dalam pembelajaran dengan metode ceramah bermedia adalah: 1) menyampaikan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa, 2) mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan, 3) membimbing pelatihan, mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, 4) memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapannya. 3. Hasil Belajar Agama Islam
  15. 15. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 15 Hasil belajar agama Islam adalah hasil/prestasi belajar yang ditunjukkan dengan satuan nilai yang diperoleh siswa selama proses pembelajaran Agama Islam sekaligus merupakan performance kerja siswa dalam kurun waktu tertentu. Hasil belajar ini akan diukur dengan menggunakan tes awal dan tes akhir yang dibuat sendiri oleh peneliti. 4. Hasil Belajar PPKn Hasil belajar PPKn adalah tingkat penguasaan kognitif siswa terhadap materi pelajaran PPKn yang dinyatakan oleh skor yang diperoleh siswa dalam tes akhir (post test) yang diukur dengan tes prestasi belajar sains, dan data yang diperoleh berupa data interval.
  16. 16. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 16 BAB II LANDASAN TEORETIK A. Hakikat Belajar Mengajar Sumantri dan Permana (1999) menyatakan mengajar adalah kegiatan penyampaian pesan berupa pengetahuan, keterampilan dan penanaman sikap- sikap tertentu dari guru kepada peserta didik. Raka Joni (1986: 3) merumuskan pengertian mengajar sebagai pencipta suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan dalam proses belajar akan saling mempengaruhi antar komponen seperti tujuan instruksional yang ingin dicapai, guru dan peserta didik yang memainkan peranan senada dalam hubungan sosial tertentu, materi yang diajarkan, bentuk kegiatan yang dilaksanakan serta sarana dan prasarana belajar mengajar yang tersedia. Sementara itu, Davis (dalam Sumantri dan Permana, 1999) mengungkapkan bahwa pengertian mengajar sebagai suatu aktivitas profesional yang memerlukan keterampilan tingkat tinggi dan mencakup pengambilan keputusan. Jadi mengajar adalah suatu aktivitas profesional yang melibatkan berbagai komponen dalam menyampaikan pesan tertentu dari guru kepada peserta didik. Dalam menyampaikan pesan tertentu kepada peserta didik, seorang guru dapat mengembangkan belajar anak dengan menyediakan lingkungan belajar untuk memfasilitasi temuan si anak. Menurut filsafat konstruktivisme, siswa memahami dunianya dengan cara menghubungkan antara pengetahuan dan pengalamannya dengan apa yang sedang dipelajarinya. Mereka membangun makna ketika guru memberikan permasalahan
  17. 17. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 17 yang relevan, mendorong inkuiri, menyusun kegiatan pembelajaran dari konsep- konsep utama, menghargai sudut pandang siswa, dan menilai hasil belajar siswa, (McLaughin dan Vogt, dalam Dantes, 2004). Selanjutnya, Von Glaserfield (1989) menyatakan bahwa konstruksi makna adalah proses adaptasi dimana tidak melibatkan penemuan dari realitas ontologi. Oleh karena itu, kerangka belajar kontruktivisme adalah suatu kegiatan aktif yang berlangsung secara kontinyu dimana pebelajar menggunakan informasi yang berasal dari lingkungannya untuk mengkonstruksi interpretasi pribadinya dan makna-makna berdasarkan pengetahuan awal dan pengalamannya, Driver & Bell (dalam Kariasa dan Suastra, 2005). Salah satu sasaran pembelajaran agama dan PPKn adalah membangun gagasan moralitas dan kebangsaan setelah peserta didik berinteraksi dengan lingkungan, peristiwa, dan informasi dari sekitarnya. Pandangan konstruktivisme sebagai filosofi pendidikan mutakhir menganggap semua peserta didik mulai dari usia TK sampai dengan perguruan tinggi memiliki gagasan atau pengetahuan sendiri tentang lingkungan dan peristiwa atau gejala alam di sekitarnya, meskipun gagasan atau pengetahuan ini naif atau kadang-kadang salah. Mereka mempertahankan gagasan atau pengetahuan naif ini secara kokoh sebagai kebenaran. Hal ini terkait dengan pengetahuan awal yang sudah terbangun dalam wujud “schemata” (struktur kognitif) dalam benak siswa (Depdiknas, 2002). Para ahli pendidikan berpendapat bahwa inti kegiatan pendidikan adalah memulai pelajaran dari “apa yang diketahui siswa”. Guru tidak dapat mendoktrinasi gagasan yang ada di dalam pikirannya supaya peserta didik mau mengganti dan memodifikasi gagasan mereka sesuai dengan keinginan sang guru.
  18. 18. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 18 Dengan demikian, arsitek peubah gagasan peserta didik adalah peserta didik itu sendiri. Sejalan dengan itu (Nurahdi, 2003) dalam pandangan kontruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan (1) membuat informasi bermakna dan relevan bagi siswa, (2) memberi kesempatan kepada siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, (3) menyadarkan agar siswa menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. Selanjutnya Zahorik (dalam Nurahdi, 2003) menekankan bahwa dalam praktek pembelajaran kontruktivisme ada 5 unsur pokok yang harus diperhatikan, yaitu: (1) pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, (2) pemerolehan pengetahuan dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, baru kemudian memperhatikan detailnya, (3) pemahaman pengetahuan dengan cara menyusun konsep sementara (hipotesis), melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu konsep tersebut direvisi dan dikembangkan, (4) mempraktekkan pengalaman tersebut, dan (5) melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut. Sementara itu, kondisi belajar yang sesuai dengan filosofi kontruktivisme antara lain; (1) diskusi yang menyediakan kesempatan agar semua peserta didik mau mengungkapkan gagasan, (2) pengujian, dan penelitian sederhana, (3) demonstrasi, dan peragaan prosedur ilmiah, (4) kegiatan praktis lain yang memberi peluang, peserta didik untuk mempertanyakan, memodifikasi dan mempertajam gagasannya (Depdiknas, 2002).
  19. 19. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 19 Menurut Suparno (1997: 66), agar peran dan tugas guru dapat berjalan optimal, diperlukan beberapa kegiatan yang perlu dikerjakan dan juga beberapa pemikiran yang perlu disadari oleh guru, antara lain: 1. Guru perlu banyak berinteraksi dengan siswa untuk lebih mengerti apa yang sudah mereka ketahui dan pikirkan 2. Tujuan dan apa yang akan dibuat di kelas sebaiknya dibicarakan bersama sehingga siswa sungguh terlibat 3. Guru perlu mengerti pengalaman belajar mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa 4. Diperlukan keterlibatan dengan siswa yang sedang berjuang dan kepercayaan terhadap siswa bahwa mereka dapat belajar 5. Guru perlu mempunyai pemikiran yang fleksibel untuk dapat mengerti dan menghargai pemikiran siswa, karena kadang siswa berpikir berdasarkan pengandaian yang tidak diterima guru. Karena murid harus membangun sendiri pengetahuan mereka, seorang guru harus melihat mereka bukan sebagai lembaran kertas putih kosong atau tabula rasa. Bahkan anak SD kelas 1 pun telah hidup beberapa tahun dan menemukan suatu cara yang berlaku dalam berhadapan dengan lingkungan hidup mereka. Mereka sudah membawa “pengetahuan awal”. Pengetahuan yang mereka punya adalah dasar untuk membangun pengetahuan selanjutnya. Guru kontruktivisme tidak pernah akan membenarkan ajarannya dengan mengklaim bahwa” ini satu-satunya yang benar”. Di dalam kehidupan sosial mereka tidak dapat berkata lebih daripada “ ini adalah jalan terbaik untuk situasi ini, ini adalah jalan terefektif untuk soal ini sekarang” Von Glasersfeld (dalam Suparno, 1997). Ciri mengajar konstruktivisme adalah sebagai berikut: Driver dan oldham dalam Matthew yang dipaparkan oleh Suparno (1997) 1) Orientasi. Murid diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu topik.Murid diberi kesempatan untuk mengadakan observasi terhadap topik yang hendak dipelajari.
  20. 20. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 20 2) Elicitasi. Murid dibantu untuk mengungkapakan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis, membuat poster, dan lain-lain. Murid diberi kesempatan untuk mendiskusikan apa yang diobservasikan, dalam wujud tulisan, gambar, ataupun poster. 3) Restrukturisasi ide. Dalam hal ini ada tiga hal a) Klarifikasi ide yang dikontraskan dengan ide-ide orang lain atau teman lewat diskusi ataupun lewat pengumpulan ide. Berhadapan denga ide-ide lain, seseorang dapat terangsang untuk merekonstruksi gagasannya kalau tidak cocok atau sebaliknya, menjadi lebih yakin bila gagasannya cocok. b) Membangun ide yang baru. Ini terjadi bila dalam diskusi itu idenya bertentangan dengan ide lain atau idenya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan teman-teman. c) Mengevaluasi ide barunya dengan eksperimen. Kalau dimungkinkan, ada baiknya bila gagasan yang baru dibentuk itu diuji dengan suatu percoban atau persoalan yang baru. 4) Penggunaan ide dalam banyak situasi. Ide atau pengetahuan yang telah dibentuk oleh siswa perlu diaplikasikan pada bermacam-macam situasi yang dihadapi. Hal ini akan membuat pengetahuan murid lebih lengkap bahkan lebih rinci dengan segala macam pengecualiannya. 5) Review, bagaimana ide itu berubah. Dapat terjadi bahwa dalam aplikasi pengetahuannya pada situasi yang dihadapi sehari-hari, seseorang perlu merevisi gagasannya entah dengan menambahkan suatu keterangan ataupun mungkin dengan mengubahnya menjadi lebih lengkap. Terkait dengan hakikat belajar mengajar, pada dasarnya semua peserta didik memiliki gagasan atau pengetahuan awal yang sudah terbangun dalam wujud skemata. Dari pengetahuan awal dan pengalaman yang ada peserta didik menggunakan informasi yang berasal dari lingkungannya dalam rangka mengkonstruksi interpretasi pribadinya serta makna-makna. Makna ini dibangun ketika guru memberikan permasalahan yang relevan dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah ada sebelumnya, mendorong inkuiri untuk memberi kesempatan kepada siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri. Untuk membangun makna tersebut, proses belajar mengajar berpusat pada siswa.
  21. 21. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 21 B. Metode Penugasan dalam Pembelajaran Terdapat beberapa definisi mengenai metode pembelajaran. Joyce dan Weil (1986:1) mendefinisikan metode pembelajaran sebagai suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman melaksanakan pembelajaran di kelas. Sedangkan Udin (1997: 78) menyatakan, metode pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasi pengalaman belajar untuk mencapai tingkat belajar tertentu. Lebih lanjut, Mulyana dan Permana (1999: 42) mendefinisikan metode pembelajaran sebagai suatu rencana atau pola yang dapat digunakan membentuk kurikulum, merancang bahan-bahan pengajaran dan membimbing pengajaran di kelas. Dari ketiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Penugasan atau assignment sebagaimana yang diharapkan dalam kurikulum berbasis kompetensi dan kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah yang bersifat divergent. Yaitu suatu tugas yang dapat dikerjakan dengan menggunakan berbagai aletrnatif jawaban, atau tidak hanya mengandalkan pada satu jawaban benar saja. Langkah-langkah dalam menyusun penugasan yaitu: 1) mengidentifikasi pengetahuan & keterampilan yang harus dimiliki, dengan cara menentukan (a) jenis pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan; (b) pengetahuan dan keterampilan bernilai tinggi yang harus dipelajari; dan (c) cara menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari dalam kehidupan nyata di
  22. 22. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 22 masyarakat; 2) merancang tugas-tugas untuk assesmen kinerja, dengan cara menentukan: (a) jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas; (b) kompleksitas tugas yang diberikan; (c) kesesuaian tugas-tugas yang diberikan dengan kemampuan kognitif, sosial dan afektif yang hendak dicapai; dan (d) jenis tugas yang berkaitan langsung dengan upaya perbaikan mutu; dan 3) menyusun kriteria keberhasilan (Setiyono, 2006 dalam Tirta dan Gani, 2007; 96). Metode penugasan ini dapat berbentuk tugas di kelas (lembar kerja), tugas proyek, tugas portofolio, tugas rumah dan lain-lain. Penugasan yang bersifat divergent ini akan mendorong peserta didik untuk berpikir kreatif. Hanya sayangnya penugasan seperti ini belum banyak dirancang oleh para guru. Sebagai akibatnya para lulusan kurang luwes dalam menyikapi berbagai persoalan, karena seolah-olah segala persoalan yang ada hanya bisa didekati dengan satu penyelesaian saja. 1. Tugas Kelas Tugas kelas dapat diberikan dalam berbagai bentuk, misalnya dalam bentuk Lembar Kerja Siswa (LKS), quiz dan tugas-tugas lainnya. Melalui tugas ini diharapkan guru bisa mengetahui sejauh mana para siswa telah menguasai suatu kompetensi tertentu. Tugas kelas sekaligus dapat dijadikan sebagai feedback bagi para siswa, sebab dengan mengerjakan tugas, mereka bisa menunjukkan kemampuan maupun ketidakmampuan terhadap persoalan yang dihadapi. Pada saat inilah sebenarnya peran guru sebagai motivator dan direktor akan nampak.
  23. 23. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 23 2. Tugas Proyek Tugas proyek adalah sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Tugas ini harus diselesaikan di luar kelas, dan bila memungkinkan bisa diselesaikan di dalam kelas (bila hal-hal yang pokok telah disiapkan di rumah sebelumnya). Tugas proyek ini bisa dilakukan dalam berbagai bentuk bisa membuat makalah, melakukan penelitian sederhana, membuat metode dan lain-lain. 3. Tugas Rumah Tugas rumah atau dikenal sebagai pekerjaan rumah (PR). Tugas rumah ini biasanya merupakan pengayaan dari pelajaran yang telah diajarkan pada satu kali tatap muka, yang berupa beberapa soal sebagai latihan. Tugas rumah biasanya membahas tentang materi-materi yang secara umum telah dibahas pada pertemuan sebelumnya, untuk dikumpulkan dan dibahas pada pertemuan yang akan datang. 4. Tugas Portofolio Tugas portofolio merupakan salah satu bentuk metode penugasan nonformal yang dapat digunakan untuk kegiatan assesmen. Kegiatannya yaitu berupa pengumpulan berkas atau dokumen dari masing-masing karya peserta didik, baik dalam bentuk CD, cassette, print-out, file, metode, foto dan lain- lain yang disimpan dalam file atau folder. Karena kemampuan tugas portofolio ini dalam mendokumentasikan proses maupun produk peserta didik, maka teknik portofolio dipandang sebagai assesmen yang bersifat othentik penilaian yang paling sesuai.
  24. 24. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 24 Jenis-jenis Portofolio Setidaknya dalam metode penugasan portofolio menurut O’Malley & Pierce yang dapat dikembangkan yaitu: a) portofolio pameran, b) portofolio koleksi, dan c) portofolio penilaian (Setiyono, 2004 dalam Tirta dan Gani, 2007; 101). Harapannya dengan mengenal metode-mode ini para guru bisa memilih dan mengembangkan metode portofolio yang sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan. Portofolio Pameran Portofolio jenis ini berupa sekumpulan hasil karya peserta didik yang dianggap paling baik terbagus untuk dipamerkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan kemajuan belajar peserta didik, seperti kepala seolah, orang tua, masyarakat atau komite pendidikan, dewan pendidikan atau pemerhati pendidikan. Fungsi portofolio pameran layaknya sebagai barang pajangan untuk dipamerkan kepada publik. Di negara maju seperti Inggris dan Amerika kegiatan pameran seperti ini biasanya secara rutin diselenggarakan diakhir waktu tertentu (akhir semester). Pada saat pameran para siswa diberi kepercayaan untuk menampilkan karya terbaik mereka, baik dalam bentuk karya seni dan sastra, maupun dalam bentuk karya-karya ilmiah lainnya. Para tamu biasanya dipandu oleh anak-anak untuk mendapatkan keterangan tentang karya terbaik yang telah berhasil mereka buat. Portofolio pameran biasanya cenderung berupa produk akhir. Diadakannya pameran karya para siswa tersebut sekaligus juga berfungsi sebagai reinforcement yang selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan self- esteem para peserta didik.
  25. 25. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 25 Portofolio Koleksi Portofolio koleksi berisi kumpulan hasil karya siswa yang terkait dengan tugas-tugas harian. Untuk itu, portofolio jenis ini lebih bersifat formatif. Sekaligus portofolio koleksi dapat difungsikan sebagai fungsi diagnostik. Mengingat fungsi dan sifatnya yang spesifik tersebut, maka guru dapat menggunakan portofolio ini untuk mengamati proses kemajuan pembelajaran anak. Agar portofolio ini benar-benar memberikan hasil yang otentik, guru harus memonitor perkembangan tugas-tugas siswa melalui konferensi dan observasi. Portofolio koleksi disebut juga dengan working folders karena isinya menunjukkan proses perkembangan draft awal dari suatu karya, outline, karya belum jadi, dan produk akhir. Portofolio Penilaian Berbeda dengan dua jenis portofolio sebelumnya, portofolio penilaian merupakan seleksi dari sekumpulan karya siswa terbaik untuk diases. Portofolio jenis ini tidak saja memfokuskan pada refleksi proses tetapi juga produk pembelajaran. Agar diperoleh gambaran tentang kemajuan suatu siswa, maka portofolio ini harus berisi produk akhir yang dilengkapi dengan sekumpulan bukti proses, penilaian sendiri oleh siswa, penilaian guru, dan kesimpulan tentang proses dan hasil karya siswa. Dengan demikian portofolio penilaian dapat digunakan oleh guru sebagai alat penilaian (sebagai fungsi sumatif) dan sekaligus juga dapat digunakan untuk membantu siswa dalam merefleksikan apa yang telah mereka pelajari.
  26. 26. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 26 Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa metode penugasan akan memberikan dampak instruksional berupa strategi di dalam melakukan penalaran aktif. Sedangkan dampak pengiring yang didapat dari metode ini berupa keterampilan proses keilmuan, memunculkan semangat kreatif, adanya kemandirian atau otonomi dalam belajar, serta toleransi terhadap ketidaktentuan. Dengan demikian metode penugasan tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan keterampilan. C. Metode Ceramah Bermedia Metode ceramah merupakan salah satu metode yang umumnya digunakan oleh guru dalam pembelajaran, metode ini juga termasuk dalam lingkup pembelajaran langsung yang menitikberatkan diri pada teori pembelajaran behavioristik. Pembelajaran langsung dalam hal ini metode ceramah merupakan pembelajaran yang terpusat pada guru (teacher center). Dalam pembelajaran ini peran guru sangat dominan. Guru dituntut agar dapat menjelaskan materi ajar dengan baik dan memberi petunjuk mengenai hal-hal yang akan dilakukan oleh siswa dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran langsung didasarkan atas teori belajar behavioristik. Paradigma behaviorisme memandang belajar sebagai perubahan tingkah laku yang didasarkan kepada unsur stimulus–respon (S-R). Aspek yang mendorong S-R adalah kebutuhan dan stimulus kemudian muncul respon. Unsur yang paling penting adalah reinforcement atau penguatan. Penguatan berfungsi untuk
  27. 27. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 27 memotivasi siswa agar ia merasakan adanya kebutuhan untuk melakukan tugas pelajaran melalui respons yang diberikan dalam tugas itu. Proses S-R dapat bertahap-tahap hingga perilaku itu terjadi. S R Hubungan langsung (koneksi) (Dantes, 1999) Proses stimulus-stimulus ini terdiri dari beberapa unsur. Pertama, unsur dorongan, siswa merasakan adanya kebutuhan sesuatu dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan ini. Kedua, unsur stimulus, siswa diberikan stimulus yang selanjutnya akan dapat menyebabkan siswa memberikan respons. Ketiga, unsur respon, siswa memberikan suatu reaksi (respons) terhadap stimulus yang diterimanya dengan jalan melakukan suatu tindakan yang dapat dilihat. Keempat, unsur penguatan (reinforcement), unsur ini diberikan kepada siswa agar siswa merasakan adanya kebutuhan untuk memberikan respons lagi. Demikian selanjutnya sehingga siswa dirangsang terhadap setimulus tertentu untuk menimbulkan respons. Beberapa prinsip yang melandasi teori prilaku adalah (1) Konsekuensi- konsekuensi; bahwa prilaku berubah menurut konsekuensi-konsekuensi langsung. Prilaku menyenangkan akan memperkuat, sedangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan akan melemahkan. Konsekuensi yang menyenangkan biasanya disebut reinforser, sedangkan yang melemahkan disebut hukuman (Punishers). (2) Kesegeraan (immediacy); bahwa konsekuensi-konsekuensi yang mengikuti perilaku akan lebih mempengaruhi perilaku dari pada konsekuensi-konsekuensi
  28. 28. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 28 yang lambat datangnya. (3) Pembentukan (shaping); bahwa dalam mengajarkan keterampilan-keterampilan baru atau perilaku-perilaku dengan memberikan reinforsemen pada para siswa dalam mendekati perilaku akhir yang diinginkan (Dahar, 1988: 30-32). Dalam pendidikan, prinsip-prinsip teori behaviorisme sebagaimana dinyatakan Hartley dan Davies (dalam Soekamto, 1997: 19) banyak dipakai, di antaranya: (1) materi pelajaran dibentuk dalam unit-unit kecil dan diatur berdasarkan urutan yang logis sehingga siswa mudah mempelajarinya, (2) dalam proses belajar siswa ikut berpartisipasi aktif di dalamnya, (3) tiap-tiap respons perlu diberi umpan balik secara langsung sehingga siswa dapat segera mengetahui apakah respons yang diberikan telah benar atau belum, (4) setiap kali siswa memberikan respons yang benar maka ia perlu diberi penguatan. Dalam metode ceramah tugas guru adalah membantu siswa memperoleh pengetahuan secara deklaratif. Pengetahuan deklaratif menyatakan pengetahuan tentang sesuatu, misalnya dalam mengkaji masalah-masalah sosial. Metode pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan deklaratif. Fase pembelajaran pada metode pembelajaran langsung antara lain, guru mengawali pelajaran dengan tujuan dan latar belakang pembelajaran serta memotivasi siswa untuk menerima penjelasan yang diberikan oleh guru secara langsung. Fase persiapan dan motivasi yang diikuti dengan presentasi materi ajar atau demonstrasi tentang keterampilan tertentu yang diberikan oleh guru. Pelajaran ini termasuk juga pemberian kesempatan kepada siswa untuk melakukan pelatihan dan pemberian umpan balik (feed back) terhadap keberhasilan yang telah dilakukan. Guru memberikan
  29. 29. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 29 kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang telah dipelajari (Arends, 1997: 67). Ada beberapa alasan mengapa metode ceramah sering digunakan oleh para guru maupun instruktur diantaranya. 1) Ceramah merupakan metode yang ’murah’ dan ’mudah’ untuk dilakukan. Murah dalam hal ini dimaksudkan proses ceramah tidak memerlukan peralatan-peralatan yang lengkap, berbeda dengan metode yang lain seperti demonstrasi atau peragaan. Sedangkan mudah, memang ceramah hanya mengandalkan suara guru, dengan demikian tidak terlalu memerlukan persiapan yang rumit. 2) Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas. Artinya, materi pelajaran yang banyak dapat dirangkum atau dijelaskan pokok- pokoknya oleh guru dalam waktu yang singkat. 3) Ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan. Artinya, guru dapat mengatur pokok-pokok materi yang mana perlu ditekankan sesuai kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. 4) Melalui ceramah, guru dapat mengontrol keadaan kelas, oleh karena sepenuhnya kelas merupakan tanggung jawab guru yang memberikan ceramah. 5) Organisasi kelas dengan menggunakan ceramah dapat diatur menjadi lebih sederhana. (Sanjaya, 2001:148) Kaitannya dengan hal tersebut di atas, metode pembelajan ceramah bermedia dapat diterjemahkan sebagai metode pembelajaran yang menuntut guru untuk menjelaskan materi ajar dengan baik dan memberi petunjuk mengenai hal- hal yang akan dilakukan oleh siswa dalam proses pembelajaran dengan menggunakan alat bantu (media) sebagai penunjang pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Dalam suatu proses komunikasi selalu melibatkan tiga komponen pokok, yaitu komponen pengirim pesan (guru), komponen penerima pesan (siswa), dan komponen pesan itu sendiri yang biasanya berupa materi pelajaran. Kadang-kadang dalam proses pembelajaran terjadi kegagalan komunikasi. Artinya, materi pelajaran atau pesan
  30. 30. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 30 yang disampaikan guru tidak dapat diterima oleh siswa dengan optimal, artinya tidak seluruh materi pelajaran dapat dipahami dengan baik oleh siswa; lebih para lagi siswa sebagai penerima pesan salah menangkap isi pesan yang disampaikan. Untuk menghindari semua itu, maka guru dapat menyusun strategi pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar. Rossi dan Breidle (1966 dalam Sanjaya, 2001:163) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya. Namun demikian, media bukan hanya berupa alat atau bahan saja, akan tetapi hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan. Gerlach dan Ely (1980, dalam Sanjaya, 2001:163) menyatakan: ”A medium conceived is any person, material or event that establishs condition wich enable the learner to acquire knowledge, skill, and attitude”. Jadi menurut Gerlach dan Ely, secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dengan demikian, media dalam pengertian ini media bukan hanya alat perantara seperti tv, radio, slide, bahan cetakan, tetapi meliputi orang atau manusia sebagai sumber belajar atau juga berupa kegiatan semacam diskusi, seminar, karya wisata, simulasi, dan lain sebagainya, yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, mengubah sikap siswa, atau untuk menambah keterampilan. Untuk memahami peranan media dalam proses mendapatkan pengalaman belajar bagi siswa, Edgar dan Dale melukiskannya dalam sebuah krucut yang
  31. 31. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 31 kemudian dinamakan kerucut pengalaman (cone of experience) sebagaimana digambarkan berikut ini. Abstrak Verbal Lambang Visual Visual Radio Film Televisi Televisi Konkrit Karyawisata Demonstrasi Pengalaman melalui Drama Pengalaman melalui Benda Tiruan Pengalaman langsung Bagan 1: Kerucut pengalaman Edgar Dale (Sanjaya, 2001:166) Kerucut pengalaman yang dikemukakan oleh Edgar Dale itu memberikan gambaran bahwa pengalaman belajar yang diperoleh siswa dapat melalui proses perbuatan atau mengalami sendiri apa yang dipelajari, proses mengamati dan mendengarkan melalui media tertentu dan proses mendengarkan melalui bahasa. Semakin konkrit siswa mempelajari bahan pengajaran, contohnya melalui pengalaman langsung, maka semakin banyaklah pengalaman yang diperoleh siswa. Sebaliknya, semakin abstrak siswa memperoleh pengalaman, contohnya hanya mengandalkan bahasa verbal, maka semakin sedikit pengalaman yang akan diperoleh siswa.
  32. 32. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 32 Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan komponen media pengajaran dalam sistem proses belajar mengajar mempunyai fungsi yang sangat penting, sebab tidak semua pengalaman belajar dapat diperoleh secara langsung. Dalam keadaan ini ceramah bermedia dapat digunakan agar lebih memberikan pengetahuan yang konkret dan tepat serta mudah dipahami. Kekuatan yang paling penting dalam pengajaran menggunakan metode ceramah bermedia adalah reinforcement yang berfungsi memotivasi siswa agar dapat merasakan adanya kebutuhan untuk melakukan tugas pelajaran melalui respon yang diberikan dalam tugas itu. D. Prestasi Belajar Salah satu tugas dari seorang guru adalah mengadakan evaluasi. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa, salah satunya adalah prestasi belajar siswa. Informasi ini sangat berguna untuk memperjelas sasaran dalam pembelajaran Prestasi belajar adalah suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan tes. Raka Joni (1977:26) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah kegiatan belajar siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap serta nilai-nilai. Sedangkan menurut Bloom (1971:7), prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah yaitu: kognitif, afektifm dan psikomotor. Pendapat lain mengemukakan bahwa prestasi belajar mencerminkan sejauhmana siswa telah dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada setiap bidang studi. Gambaran prestasi belajar siswa dapat dinyatakan dengan angka dari 0 sampai dengan 10 (Suharsimi Arikunto, 1988:62). Prestasi belajar merupakan hasi dari suatu usaha, kemampuan, dan sikap siswa
  33. 33. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 33 dalam menyelesaikan suatu hal di bidang pendidikan (Zainal Arifin, 1989:40). Di samping itu prestasi belajar dapat dioperasionalisasikan dalam bentuk indikator- indikator berupa nilai rapor, indeks prestasi studi, angka kelulusan, dan predikat keberhasilan (Saifuddin Azwar, 1996:44). Dari definisi tersebut di atas, tidak ada kontradiksi makna, bahkan pengertiannya satu dengan yang lain saling melengkapi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa prestasi belajar merupakan kemampuan aktual yang dapat diukur dan berwujud penguasaan ilmu pengetahuan, sikap, keterampilan, dan nilai-nilai yang dicapai oleh siswa sebagai hasil dari proses belajar di sekolah. Dalam penelitian ini, prestasi belajar diartikan sebagai tes prestasi terbatas pada ranah kognitif saja. Menurut Benjamin S.Bloom, ranah kognitif terdiri dari: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Hasil belajar yang berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta nilai-nilai dapat diukur tinggi rendahnya dengan jalan memberi tugas-tugas kepada siswa yang relevan dengan sasaran yang diinginkan. Hasil belajar yang diperoleh siswa dalam suatu mata pelajaran dinyatakan dalam bentuk nilai yang disebut prestasi belajar. E. Kerangka Berpikir Sebagaimana telah diuraikan dalam deskripsi teoretis, prestasi belajar siswa pada pelajaran Agama dan PPKn merupakan tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan dalam pembelajaran Agama dan PPKn. Prestasi belajar siswa merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran. Prestasi belajar juga merupakan indikator tercapai tidaknya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Itu sebabnya prestasi belajar menjadi bagian tidak terpisahkan dari proses pembelajaran.
  34. 34. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 34 Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Agama Islam dan PPKn dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti: interaksi yang terjadi di dalam kelas, model dan metode pembelajaran serta media yang digunakan guru, sarana dan prasarana yang tersedia, kemampuan siswa, dan sebagainya. Ini berarti bahwa model dan metode pembelajaran dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Agama Islam dan PPKn. Model dan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi ajar dan situasi kelas memungkinkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Sehubungan dengan itu seorang guru selalu berusaha agar prestasi belajar siswanya meningkat, sehingga guru mencoba menerapkan berbagai model dan metode pembelajaran dalam mengajar. Metode pemberian tugas merupakan salah satu bentuk intensifikasi dari pendekatan keterampilan proses dengan mengetengahkan gejala sosial yang terjadi dilingkungan masyarakat siswa sebagai bahan atau materi ajar yang disesuaikan dengan materi ajar yang ada dalam buku teks. Metode pemberian tugas memberikan kondisi kepada siswa sebagai pebelajar untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri sehingga menemukan suatu konsep yang harus mereka pelajari melalui suatu proses tahap-tahap baik yang dilakukan secara individual maupun secara berkelompok. Proses atau tahapan-tahapan yang dilalui dalam pembelajaran dengan metode pemberian tugas adalah: 1) mengidentifikasi pengetahuan & keterampilan yang harus dimiliki, dengan cara menentukan (a) jenis pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan; (b) pengetahuan dan keterampilan bernilai tinggi yang harus dipelajari; dan (c) cara menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari dalam kehidupan nyata di masyarakat; 2) merancang tugas-tugas
  35. 35. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 35 untuk assesmen kinerja, dengan cara menentukan: (a) jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas; (b) kompleksitas tugas yang diberikan; (c) kesesuaian tugas-tugas yang diberikan dengan kemampuan kognitif, sosial dan afektif yang hendak dicapai; dan (d) jenis tugas yang berkaitan langsung dengan upaya perbaikan mutu; dan 3) menyusun kriteria keberhasilan. Metode pembelajaran ini memberikan dua kelebihan pokok. Pertama, pembelajaran Agama dan PPKn dikaitkan langsung dengan pengalaman anak sehari-hari. Hal tersebut dapat membuat materi pelajaran menjadi lebih bermakna karena anak menemukan hubungan antara pengetahuan yang dipelajari di sekolah dengan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, pembelajaran Agama dan PPKn yang dilakukan sesuai dengan mengkaji gejala dan masalah- masalah sosial sesuai dengan tujuan pembelajaran, yaitu menjadikan manusia pebelajar yang memiliki tingkat intelegensi dan moralitas yang tinggi. Dalam metode pembelajaran ceramah bermedia guru lebih menekankan bagaimana seorang guru agar dapat menjelaskan materi ajar dengan baik dan dapat memberi petunjuk mengenai hal yang harus dilakukan oleh siswanya. Pada metode pembelajaran ini kurang memperhatikan gagasan-gagasan yang dimiliki siswa sebelumnya. Dalam hal ini guru hanya berusaha menyajikan atau mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilannya langkah demi langkah agar dapat dipahami oleh siswa. Hal ini mengakibatkan gagasan-gagasan yang dimiliki siswa tidak berkembang. Pembelajaran yang hanya berorientasi pada menirukan petunjuk dari seorang guru cenderung mematikan kreatifitas siswa sehingga banyak ide-ide cemerlang dari siswa yang tidak tersalurkan.
  36. 36. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 36 Dari kedua metode pembelajaran tersebut, tentunya akan mendapatkan hasil belajar yang berbeda karena prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku dari apa yang diajarkan. Berdasarkan uraian di atas, diduga prestasi belajar siswa yang mengikuti metode pembelajaran pemberian tugas lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan menggunakan metode ceramah bermedia. F. Hipotesis Berdasarkan permasalahan dan kerangka berpikir yang didasari deskripsi teori serta didukung oleh kajian empirik yang relevan, hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. 1. Terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Agama dan PPKn antara yang diajar dengan metode pemberian tugas dan yang diajar dengan metode ceramah bermedia 2. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn yang diajar dengan metode pemberian tugas lebih baik dibandingkan dengan siswa diajar dengan metode ceramah bermedia. 3. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Agama yang diajar dengan metode pemberian tugas lebih baik dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan metode ceramah bermedia. Berdasarkan hipotesis penelitian di atas, hipotesis statistiknya dirumuskan sebagai berikut. H 0 : µM1 = µM 2 1. H1 : µ M 1 ≠ µ M 2 H 0 : µ PPKn 1 ≤ µ PPKn 2 2. H 1 : µ PPkn1 φ µ PPKn 2
  37. 37. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 37 H 0 : µ Agama1 ≤ µ Agama 2 3. H 1 : µ Agama1 φ µ Agama 2 Keterangan: µM1 = Rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran Agama dan PPKn yang diajar dengan metode pemberian tugas. µM 2 = Rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran Agama dan PPKn yang diajar dengan metode ceramah bermedia µ PPKn1 = Rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn yang diajar dengan metode pemberian tugas µ PPKn 2 = Rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn yang diajar dengan metode ceramah bermedia µ Agama1 = Rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn yang diajar dengan metode pemberian tugas µ Agama2 = Rata-rata hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn yang diajar dengan metode ceramah bermedia
  38. 38. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 38 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan eksperimen semu (quasi), dengan rancangan eksperimen tes awal tes akhir kelompok kontrol tanpa acak. Rancangan ini dilakukan pada subyek kelompok tidak dilakukan acak (Sudjana dan Ibrahim, 2001: 44). Rancangan ini dipilih karena eksperimen dilakukan di kelas tertentu dengan kelas yang telah ada. Dalam menentukan subyek untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak memungkinkan mengubah kelas yang telah ada. Dengan demikian randomisasi tidak bisa dilakukan. Dalam menetapkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan secara acak terhadap kelas yang ada. Rancangan eksperimen ditunjukkan seperti Gambar 3.1 Kelompok Pretes Ubahan Bebas Postes Eksperimen T1 X T2 Kontrol T1 _ T2 Rancangan Tes awal Tes akhir Kelompok kontrol tanpa acak Dimana T1 = Tes awal, T2 = Tes akhir, dan X = Perlakuan. Pretes digunakan untuk melihat apakah kedua kelompok yang dijadikan sampel penelitian sebelum perlakuan setara atau tidak. Untuk menguji hal ini digunakan uji-t. Sementara itu, penggunaan metode pembelajaran yang dibedakan atas penggunaan metode penugasan untuk kelompok eksperimen dan metode ceramah
  39. 39. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 39 bermedia untuk kelompok kontrol. Kegiatan guru dan siswa untuk kedua metode pembelajaran yang digunakan diiktisarkan dalam Tabel 3.1 dan Tabel 3.2 berikut. Tabel 3.1 Kegiatan Guru dan Siswa dalam Pelaksanaan Perlakuan Metode Pemberian Tugas No Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa 1 Mengidentifika 1. Menentukan jenis pengetahuan 1. Menuliskan jenis si pengetahuan dan keterampilan yang pengetahuan dan & keterampilan diharapkan keterampilan yang yang harus 2. Menentukan dan akan dipelajari dimiliki menyampaikan pengetahuan 2. Menuliskan prosedur dan keterampilan bernilai tinggi yang diberikan guru yang harus dipelajari 3. Menjawab 3. Menjelaskan cara menerapkan pertanyaan guru pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan yang dipelajari dalam pengetahuan awal kehidupan nyata di masyarakat yang mereka miliki 4. Menyajikan situasi yang saling bertentangan. 5. Mengemukakan pertanyaan/ masalah yang dapat memotivasi siswa untuk mengemukakan pendapatnya 2 Merancang 1. Menentukan jumlah waktu yang 1. Bertanya kepada tugas-tugas dibutuhkan untuk guru untuk untuk assesmen menyelesaikan tugas menggali informasi kinerja 2. Menyampaikan kompleksitas 2. Melakukan diskusi tugas yang diberikan untuk merumuskan 3. Menyampaikan kesesuaian langkah-langkah tugas-tugas yang diberikan penyelesaian dengan kemampuan kognitif, masalah berkenaan sosial dan afektif yang hendak dengan tugas yang dicapai diberikan guru 4. Meminta siswa berusaha untuk 3. Menyampaikan mengumpulkan data informasi langkah-langkah sebanyak-sebanyaknya tentang penyelesaian masalah yang mereka hadapi berkenaan dengan 5. Menyiapkan informasi yang tugas yang diberikan dibutuhkan siswa guru. 6. Memeriksa tampilnya masalah 7. Menjawab pertanyaan siswa 8. Menetapkan langkah-langkah penyelesaian masalah dari jawaban siswa untuk dikaji lebih lanjut 3 Menyusun 1. Membimbing dan mengarahkan 1. Siswa kriteria siswa dalam menyusun kriteria mendiskusikan apa
  40. 40. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 40 keberhasilan keberhasilan yang akan dicapai yang disampaikan melalui proses pembelajaran guru berdasarkan 2. Meminta siswa untuk pengalaman awal menyiapkan alat/bahan untuk yang dimiliki. mengerjakan tugas yang 2. Menulis kriteria- diberikan sesuai dengan kriteria keberhasilan masalah sosial dan agama yang yang akan dicapai diberikan dalam buku dalam tugas yang panduan/praktikum. diberikan 3. Menyampaikan kriteria 3. Menyiapkan alat dan keberhasilan yang telah bahan secara disepakati bersama siswa. berkelompok 4. Secara berkelompok melakukan langkah- langkah penyelesaian masalah yang diberikan dalam tugas 5. Bertanya seputar masalah dan proses penyelesaian masalah sosial dan keagamaan yang dilakukan. 6. Menganalisis kesesuaian langkah penyelesaian masalah dengan kriteria yang telah ditetapkan. Tabel 3.2 Kegiatan Guru dan Siswa dalam Pelaksanaan Perlakuan Metode Ceramah Bermedia No Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa 1 Penyampaian Mempersiapkan siswa untuk Mendengarkan penjelasan guru Tujuan belajar dan memotivasi siswa. tentang materi pelajaran. Pembelajaran Hal ini dilakukan dengan Dilanjutkan dengan mencatat memberi penjelasan tentang tujuan pembelajaran materi pelajaran 2. Demontrasi Mendemonstrasikan bahan Memperhatikan Demonstrasi Pengetahuan pelajaran sesuai dengan yang dilakukan guru dan
  41. 41. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 41 atau petunjuk dalam buku teks mempelajari buku teks keterampilan 3. Membimbing Membimbing pelatihan kepada Masing-masing kelompok latihan dan masing-masing kelompok dan berdiskusi dan menanyakan pemberian mengulang penyampaian kepada guru apabila ada umpan balik mengenai materi pelajaran langkah-langkah yang belum apabila ada kelompok yang dipahami belum paham 4. Memberikan Menyuruh masing-masing Masing-masing kelompok kesempatan kelompok untuk mengerjakan mengerjakan tugas yang sudah kepada siswa tugas latihan. disiapkan oleh guru/yang untuk mencoba sudah ada di buku teks. latihan tugas Kemudian mendengarkan sesuai buku penjelasan guru yang teks, untuk dilanjutkan dengan membuat melihat tingkat tugas secara individu. pemahaman siswa Sebelum menerapkan metode penugasan dan metode ceramah bermedia, guru yang mengajar di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol diberikan pelatihan tentang pembelajaran dengan menggunakan metode penugasan dan metode ceramah bermedia. Pelaksanaan pembelajaran disesuaikan dengan jadwal pelajaran yang ada di sekolah tempat pelaksanaan perlakuan. Untuk meyakinkan bahwa rancangan penelitian layak untuk pengujian hipotesis dilakukan pengontrolan validitas internal. Pengontrolan validitas internal ini dilaksanakan agar hasil belajar Pendidikan Agama Islam dan hasil belajar PPKn siswa dapat dinyatakan sebagai hasil perlakuan eksperiman dan hasil eksperimen dapat digeneralisasikan pada kondisi yang sama di luar perlakuan. Pengontrolan validitas internal meliputi: (1) karakteristik subyek, (2) mortalitas (3) lokasi, (4) instrumen, (5) pengukuran, (6) sejarah, (7) kematangan, (8) sikap, (9) regresi, dan implementasi (Fraenkel and Wallen, 1993: 222-230).
  42. 42. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 42 1. Karakteristik Subjek Kelompok yang dijadikan subjek penelitian merupakan kelompok yang setara dalam hal penyebaran siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah secara merata. 2. Mortalitas Mortalitas atau kehilangan anggota sampel yang menjadi peserta eksperimen akibat alasan tertentu. Mortalitas dikontrol dengan absen yang ketat selama perlakuan berlangsung. 3. Lokasi Lokasi tempat eksperimen dan fasilitas penunjang lainnya dapat mempengaruhi hasil penelitian. Lokasi ini terkontrol karena jumlah siswa untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama, demikian juga fasilitas pembelajaran yang ada di kelas relatif sama. 4. Instrumentasi Pengaruh instrumentasi dikontrol dengan menggunakan alat pengumpul data yang valid dan reliabel 5. Pengukuran Perbedaan prilaku yang ditunjukkan oleh tes awal dan tes akhir dapat diakibatkan oleh kejadian di luar perlakuan. Tes awal dapat membuat siswa sadar tentang apa yang akan dipelajari, membuat siswa lebih sensitif dan responsif terhadap materi yang dipelajari. Pengaruh perbedaan prilaku ini dikontrol dengan hanya membandingkan tes akhir dari masing-masing kelompok. Tes awal dilaksanakan untuk melihat kesetaraan kedua kelompok sebelum perlakuan dan menggunakan tes yang berbeda dengan tes akhir.
  43. 43. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 43 6. Sejarah Sejarah adalah kejadian-kejadian khusus yang bukan disebabkan oleh perlakuan eksperimen tetapi dapat mempengaruhi respon subjek, dalam hal ini hasil belajar pendidikan agama Islam dan hasil belajar PPKn siswa. Faktor sejarah dikontrol dengan pemilihan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol secara acak. 7. Kematangan Kematangan terjadi karena perubahan subjek penelitian sesuai dengan perjalanan waktu. Faktor kematangan dikontrol dengan pemberian perlakuan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama tetapi masih memenuhi persyaratan penelitian. Dengan demikian, subjek penelitian tidak sampai mengalami perubahan fisik maupun mental yang dapat mempengaruhi hasil belajar pendidikan agama Islam dan PPKn siswa. 8. Regresi Regresi statistik muncul karena adanya skor-skor yang ekstrem dalam penelitian. Pengaruh regresi statistik dikontrol dengan menguji kesetaraan secara statistik terhadap kedua kelompok sebelum perlakuan dimulai melalui tes kesetaraan kelompok. 9. Implementasi Pengaruh implementasi adalah kejadian tidak terduga yang dapat menguntungkan salah satu kelompok. Pengaruh implementasi dikontrol dengan menggunakan pengajar yang setara untuk kedua kelompok baik dari segi pendidikan maupun pengalamannya. Untuk meminimalisasi bias yang terjadi
  44. 44. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 44 akibat perlakuan guru dikontrol dengan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah disusun. B. Populasi dan Sampel Penelitian ini dilaksanakan di SMPN I Suralaga dan SMPN 1 Sukamulia Kabupaten Lombok Timur. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII yang ada di SMPN 1 Suralaga dan SMPN 1 Sukamulia Kabupaten Lombok Timur, tahun ajaran 2007/2008. Pengambilan sampelnya menggunakan teknik random sampling. Langkah- langkah penentuan sampel adalah sebagai berikut: pertama, dari ...... kelas VIII yang ada di SMPN 1 Suralaga dan SMPN 1 Sukamulia, dipilih dua kelas secara random sebagai kelompok eksperimen dan kontrol. Kedua, dari dua kelas tersebut dirandom lagi untuk mendapatkan mana kelompok yang akan dijadikan sebagai kelompok eksperimen (kelas yang diajar dengan menggunakan metode penugasan) dan mana kelompok yang akan dijadikan sebagai kelompok kontrol (kelas yang diajarkan dengan menggunakan metode ceramah bermedia). Dari hasil undian yang menjadi kelompok eksperimen adalah Kelas .....dan yang menjadi kontrol adalah kelas ......
  45. 45. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 45 Untuk mengetahui kesetaraan kedua kelompok yang terpilih digunakan instrumen tes kesetaraan kelompok. Selanjutnya untuk menguji ada tidaknya perbedaan rata-rata skor hasil tes kesetaraan kelompok digunakan uji-t (Sudjana, 2002) dengan rumus: − − t= x1 − x 2 1 1 S + n n 1 2 2 2 (n1 − 1). s1 + (n2 − 1). s 2 S2 = n +n1 2 −2 Keterangan: _ X 1 = rata-rata skor hasil tes pada kelompok eksperimen _ X 2 = rata-rata skor hasil tes pada kelompok kontrol S = simpangan baku gabungan skor hasil tes kedua kelompok S1= simpangan baku skor hasil tes kelompok eksperimen S2 = simpangan baku skor hasil tes kelompok kontrol n1 = jumlah siswa kelompok eksperimen n2 = jumlah siswa kelompok kontrol Kriteria pengujian: jika t-hitung < t-tabel pada derajat kebebasan n1 + n2 -2 dan taraf signifikansi 5%, maka kelompok dinyatakan setara (tidak berbeda secara signifikan). C. Metode Pengumpulan Data dan Instrumen Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam menjawab permasalahan yang telah diajukan, maka dilakukan pengumpulan data dengan instrumen.
  46. 46. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 46 Metode pengumpulan data dan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. C.1 Metode Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi: (1) hasil belajar pendidikan agama Islam dan (2) hasil belajar PPKn yang dikumpulkan dengan metode tes. C.2 Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data sebelumnya dilakukan uji coba instrumen untuk menguji validitas item dan menghitung reliabilitas alat ukur. Uji coba dilakukan dengan melibatkan siswa kelas VIII sebanyak 160 siswa di SMPN 1 Selong. 1) Validitas Butir Tes Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam dan PPKn Untuk mengetahui validitas butir tes hasil belajar digunakan korelasi point biserial ( rpbis ) dengan rumus sebagai berikut. ( Xp − Xt ) p rpbis = SDt q Keterangan : Xp = rata-rata testee yang menjawab butir soal dengan benar Xt = rata-rata skor total untuk semua testee SDt = simpangan baku total semua testee p = proporsi testee yang dapat menjawab benar butir soal yang bersangkutan q = 1-p
  47. 47. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 47 Kriteria butir soal dalam kategori valid jika r pbis hitung > r pbis tabel pada taraf signifikansi 5%. Tes hasil belajar diujicobakan terhadap 160 siswa kelas VIII di SMPN 1 Selong. Setelah itu dianalisis dengan program Microsoft Excel 2) Reliabilitas Tes Hasil Belajar Reliabilitas tes hasil belajar dihitung dengan rumus Kuder- Richardson 20 (K-20), dengan rumus sebagai berikut.  k   SDt − ∑ ( pq )  2 KR – 20 =     k − 1  2  SDt   Keterangan: k = banyaknya butir soal P = proporsi peserta tes yang menjawab benar q = 1-p Semua butir tes hasil belajar pendidikan agama Islam dan PPKn siswa yang valid selanjutnya dihitung Reliabilitasnya dengan menggunakan rumus Kuder-Richardson 20 (KR-20) melalui program Microsoft Excel. D. Metode Analisis Data Data hasil pengukuran dianalisis secara bertahap sesuai dengan variabel masing-masing untuk menjawab permasalahan penelitian. D.1 Deskripsi Data Untuk mendeskripsikan kualitas hasil belajar siswa, maka digunakan analisis univariat. Kualifikasi dideskripsikan atas dasar skor rerata ideal (Mi) dan simpangan baku ideal (SDi). Dengan menggunakan lima jenjang kualifikasi, maka kriterianya dapat disusun seperti Tabel 3.1 di bawah ini.
  48. 48. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 48 Tabel 3.3 Pedoman Konversi Kecendrungan Data Hasil Belajar siswa pada Pelajaran Agama dan PPKn No Kriteria Kualifikasi 1 > (Mi + 1,5 Sdi) Sangat Tinggi 2 (Mi + 0,5 SDi) s/d (Mi + 1,5 SDi) Tinggi 3 (Mi – 0,5 SDi) s/d (Mi + 0,5 SDi) Sedang 4 (Mi – 1,5 SDi) s/d (Mi – 0,5 SDi) Rendah 5 < (Mi – 1,5 Sdi) Sangat Rendah Keterangan : Mi = rata-rata ideal = 1 2 ( skor maksimum ideal + skor minimum ideal ) SDi = simpangan baku ideal = 1 6 ( skor maksimum ideal – skor minimum ideal ) D.2 Uji Persyaratan Analisis Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa hasil belajar Agama (Y1) dan hasil belajar PPKn (Y2) tidak berkorelasi secara signifikan. Selanjutnya dilakukan pengujian asumsi untuk mengetahui apakah data yang tersedia dapat dianalisis dengan statisitik parametrik atau tidak. Berkaitan dengan statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian ini maka uji asumsi yang dilakukan meliputi uji normalitas, uji linieritas, uji homogenitas dan uji korelasi antar variabel tergantung (Nurosis, 1990:72). 1) Pengujian Normalitas
  49. 49. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 49 Pengujian normalitas dilakukan untuk meyakinkan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal, sehingga uji hipotesis dengan statistik dapat dilakukan. Uji normalitas sebaran data menggunakan bantuan SPSS-10 for Windows melalui Steam and leaf plot (Nurosis, 1990:74-75) dan uji Kolmogorov- Smirnov. Kriteria pengujian data berdistribusi normal jika angka signifikansi yang diperoleh dalam Kolmogorov-Smirnov lebih dari 0,05 dan dalam hal lain sebaran data tidak berdistribusi normal. 2) Pengujian Homogenitas Uji homogenitas dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa dua atau lebih kelompok data sampel berasal dari populasi yang memiliki variansi yang sama. Pengujian homogenitas dilakukan dengan uji kesamaan varian-kovarian menggunakan SPSS-10 for windows melalui uji Box’s M untuk uji homogenitas secara bersama-sama dan dengan uji Levene’s untuk uji homogenitas secara terpisah (Hair, at.all, 1998: 375). Keriteria pengujian: data memiliki matriks varians-kovarian yang sama (homogen) jika signifikansi yang dihasilkan dalam uji Box’s M dan uji Levene’s lebih dari 0,05 dan data tidak berasal dari populasi yang homogen jika signifikansi yang dihasilkan dalam uji Box’ M dan uji Levene’s kurang dari 0,05. 3) Pengujian Linieritas dan Korelasi Sebelum dilakukan uji korelasi terlebih dahulu dilakukan uji linieritas dan uji regresi linier. Pengujian linieritas adalah untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel dependent (terikat) dan idependent (bebas). Linieritas diuji melalui uji F, dengan menggunakan lajur Deviation from Linierity, sedangkan untuk
  50. 50. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 50 melihat keberartian arah regresinya melalui lajur Linierity. Kriteria pengujian adalah: (a) uji linieritas pada lajur Deviation from Linierity, jika angka signifikansi yang dihasilkan lebih besar dari 0,05 maka dinyatakan bentuk regresinya linier, (b) uji keberartian arah regresi pada lajur Linierity, jika signifikansi yang dihasilkan lebih kecil dari 0,05 maka dinyatakan arah regresi berarti. Analisisnya dilakukan dengan bantuan program SPSS10 for Windows. Uji regresi dilakukan melalui uji regresi linier sederhana melalui uji F. ∧ Persamaan regresi adalah Y = a + bX dengan: a = konstanta ∧ Y = prestasi belajar siswa pada pelajaran Agama Islam dan PPKn b = arah regresi X = metode pembelajaran Kriteria pengujian: metode regresi bisa dipakai untuk menguji prestasi belajar siswa pada pelajaran Agama Islam dan PPKn jika angka signifikansi yang dihasilkan lebih kecil dari 0,05. Analisisnya dilakukan dengan bantuan program SPSS10 for Windows. Pengujian korelasi metode pembelajaran dengan hasil belajar siswa pada pelajaran agama Islam dan PPKn dilakukan menggunakan bantuan SPSS10 for Windows melalui uji korelasi Pearson. Kriteria pengujian: data berkorelasi jika angka signifikansi yang dihasilkan kurang dari 0,05. 4) Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan dengan uji analisis varian (ANAVA) 2 x 2 faktorial (satu jalur). Desain uji hipotesis yang akan dilakukan mengikuti tabel berikut.
  51. 51. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 51 Tabel 3.4: Rancangan ANAVA 1 Jalur (Faktorial 2 x 2) Mata Pelajaran (A) A1 A2 (AGAMA ISLAM) (PPKn) Metode Belajar (B) Pemberian Tugas A1B1 A2B1 (B1) Ceramah Bermedia A1B2 A2B2 (B2) Keterangan: A = Mata Pelajaran (A1 = Agama Islam; A2 = PPKn) B = Metode Belajar (B1 = Pemberian Tugas; B2 = Ceramah Bermedia) Y = Hasil Belajar Data yang dihasilkan dalam penelitian tersebut kemudian dihitung menggunakan program SPSS10 for Windows. Tabel Ringkasan Anava 1 Jalur (2x2 faktorial) SV JK Db MK Fh Ftab 5% 1% Antar A (∑ X ) − (∑ X ) 2 2 ….. ….. ….. …… ….. ∑ nA A N tot ( X ) − (∑ X ) ∑∑ Antar B 2 2 ….. ….. ….. …… ….. B tot nB N ( X ) − (∑ X ) ∑∑ Inter AB 2 2 ….. ….. ….. …… ….. AB tot − JK A − JK B n AB N Dalam (∑ X ) 2 ….. ….. ….. …… ….. ∑ X tot −∑ 2 AB n AB Total (∑ X ) 2 ….. ….. ….. …… ….. ∑X − 2 tot tot N Kriteria pengambilan keputusan: Jika F hitung > F tabel, dengan derajat kebebasan (dk = a-1, N-a) dan taraf signifikansi 5% maka H0 ditolak dan H1 diterima. Jika hasil uji ANAVA signifikan, artinya hipotesis pertama sudah terjawab bahwa terdapat perbedaan, selanjutnya dilakukan uji lanjut dengan uji t-Scheffe untuk menguji hipotesis kedua dan ketiga, rumus yang digunakan adalah:
  52. 52. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 52 − − Xi− X j ti− j = , dimana db t = db dalam 2 xMK d n Kriteria pengambilan keputusan: Tolak H0 jika t hitung > t tabel dengan taraf kebebasan (dk = db dalam) dan taraf signifikansi 5%. Sebaliknya terima H0 jika t hitung < t tabel dengan taraf kebebasan (dk = db dalam) dan taraf signifikansi 5%. Hasil perhitungan dengan cara manual ini akan disandingkan dengan hasil pengujian menggunakan bantuan program SPSS10 for windows.
  53. 53. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 53 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. DESKRIPSI DATA Data yang dideskripsikan dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada pelajaran PPKn sebagai hasil perlakuan antara penerapan metode ceramah bermedia dan metode pemberian tugas. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen pre-test post-test kelompok kontrol tanpa acak dengan menggunakan Anova satu jalur (2x2 faktorial) sebagai alat analisis datanya. Oleh karena itu, data penelitian ini dideskripsikan berdasarkan kelompok data sebagai berikut. 1 Deskripsi Data hasil belajar siswa pada pelajaran PPKn dan Agama di SMPN 1 Suralaga Tabel 4.1: Data Penelitian di SMPN 1 Suralaga Kelompok A1 Kelompok A2 No Y1 Y2 Y1 Y2 1 18 18 17 16 2 21 19 18 17 3 24 23 23 19 4 20 21 19 20 5 21 23 19 19 6 20 23 18 22 7 21 22 20 24 8 17 21 17 20 9 21 20 18 19 10 23 22 20 18 11 17 19 16 17 12 20 18 20 18 13 18 21 17 20 14 15 18 14 17 15 23 24 20 20 16 20 22 18 21 17 20 21 20 20 18 19 21 18 18 19 18 15 16 14 20 21 21 20 18 21 20 21 18 22 22 19 21 17 19 23 21 17 18 17
  54. 54. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 54 24 19 23 18 21 25 21 18 20 16 26 18 17 15 18 27 20 21 17 20 28 25 26 24 24 29 20 21 18 19 30 18 22 21 21 31 20 21 18 19 32 18 20 19 18 33 21 21 20 19 34 18 16 19 16 N 34 34 34 34 Rata- rata 19.85294 20.5 18.52941 19 SD 2.061661 2.36451 2.01863 2.201928 Varian 4.250446 5.590909 4.074866 4.848485 Keterangan: A1 : Metode Pemberian Tugas A2 : Metode Ceramah Bermedia Y1 : Hasil Belajar PPKn Y2 : Hasil Belajar Agama 2. Data Hasil Penelitian di SMPN 1 Sukamulia Kelompok A1 Kelompok A2 No Y1 Y2 Y1 Y2 1 17 20 16 19 2 20 20 18 17 3 21 24 20 20 4 23 23 21 21 5 19 23 16 20 6 15 23 15 19 7 16 25 15 23 8 23 22 19 20 9 20 20 16 19 10 16 22 15 20 11 17 19 15 17 12 20 18 20 18 13 18 21 15 20 14 15 18 14 17 15 22 24 20 20 16 20 22 18 21
  55. 55. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 55 17 20 21 20 20 18 15 21 14 18 19 16 15 14 14 20 16 21 15 18 21 23 21 18 22 22 21 21 17 19 23 20 17 18 17 24 16 23 18 21 25 19 18 16 16 26 17 17 15 18 27 16 21 15 20 28 18 26 15 24 29 20 21 19 19 30 16 22 15 21 31 20 21 20 19 32 19 20 18 18 33 23 21 20 19 34 24 16 20 16 N 34 34 34 34 Rata- rata 18.85294 20.79412 17.05882 19.11765 SD 2.687032 2.495808 2.228482 2.04146 Varian 7.220143 6.229055 4.966132 4.167558 B. Analisis Data 1. Analisis Data SMPN 1 Suralaga Variabel hasil belajar siswa pada pelajaran PPKn diukur dengan tes dengan jumlah pertanyaan 26 butir soal, dengan skor minimum ideal = 0 dan skor maksimum ideal = 26, sehingga diperoleh rata-rata ideal = 13, dan standar deviasi ideal = 4.33. Berdasarkan rata-rata ideal dan standar deviasi ideal tersebut, skor hasil belajar siswa pada pelajaran PPKn dapat diklasifikasikan sebagai tertera dalam Tabel 4.2 Tabel 4.2 Klasifikasi Hasil belajar siswa pada pelajaran PPKn No Kriteria Interval Kualifikasi 1 > (Mi + 1,5 SDi) >19.49 Sangat Tinggi 2 (Mi + 0,5 SDi) s/d (Mi + 1,5 SDi ) 15,16 – 19,49 Tinggi
  56. 56. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 56 3 (Mi - 0,5 SDi) s/d (Mi + 0,5 SDi ) 10,83 –15,16 Sedang 4 (Mi - 1,5 SDi) s/d (Mi - 0,5 SDi ) 6,51 – 10,83 Rendah 5 < (Mi - 1,5 SDi) <6,51 Sangat Rendah Hasil pengukuran terhadap variabel hasil belajar siswa pada pelajaran PPKn memberikan hasil seperti dalam Tabel 4.3. Tabel 4.3 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor hasil belajar Siswa pada Pelajaran PPKn Statistik Metode Pembelajaran Pemberian Tugas Ceramah Bermedia N 34 34 X 19.85 18.53 SD 2.06 2.02 SD2 4.25 4.07 Pengukuran hasil belajar siswa pada pelajaran PPKn, untuk kelompok siswa yang mengikuti metode pemberian tugas mempunyai rata–rata 19,85, sedangkan untuk kelompok siswa yang mengikuti metode ceramah bermedia mempunyai rata-rata 18,53. Hal ini berarti rata-rata hasil belajar siswa pada pelajaran PPKn yang mengikuti metode pemberian tugas sangat tinggi dan rata- rata hasil belajar siswa yang menggunakan metode ceramah bermedia tergolong tinggi. Hasil Pengukuran variabel hasil belajar siswa pada pelajaran PPKn untuk setiap kelompok data dapat dideskripsikan sebagai berikut. 1) Data hasil belajar pada Pelajaran PPKn Siswa yang mengikuti Metode Pemberian Tugas dan Ceramah bermedia
  57. 57. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 57 Pengukuran hasil belajar siswa pada pelajaran PPKn, untuk kelompok siswa yang mengikuti metode pemberian tugas mempunyai rata-rata 19,85 dan simpangan baku 2,06. Hal ini berarti rata-rata hasil belajar siswa pada pelajaran PPKn yang mengikuti metode pemberian tugas tergolong sangat tinggi, dengan variasi perolehan skor pada kelompoknya sebesar 4,25. 2. Analisis Data SMPN 1 Sukamulia Pengukuran hasil belajar siswa pada pelajaran PPKn, untuk kelompok siswa yang mengikuti metode pemberian tugas adalah 18,75 dengan simpangan baku 2.68 sedangkan hasil belajar siswa yang menggunakan metode ceramah bermedia mempunyai rata rata 17,05 dan simpangan baku 2,23. Hal ini berarti rata-rata hasil belajar siswa pada pelajaran PPKn yang mengikuti metode pemberian tugas dan metode ceramah bermedia tergolong tinggi, dengan variasi perolehan skor pada kelompoknya sebesar 7,22 dan 4,96. Sedangkan hasil belajar siswa pada pelajaran Agama, untuk kelompok siswa yang mengikuti metode pemberian tugas adalah 20,79 dengan simpangan baku 2.49 sedangkan hasil belajar siswa yang menggunakan metode ceramah bermedia mempunyai rata rata 19,11 dan simpangan baku 2,04. Hal ini berarti rata-rata hasil belajar siswa pada pelajaran Agama yang mengikuti metode pemberian tugas dan metode ceramah bermedia tergolong tinggi, dengan variasi perolehan skor pada kelompoknya sebesar 6,23 dan 4,17.

×