Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



                                     BAB IV

                          ...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



Hasil pengukuran terhadap variabel penalaran formal siswa pada pelajara...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



        Distribusi frekuensi data penalaran formal siswa pada pelajaran...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



                        Gambar 4.1 Histogram Penalaran Formal Siswa pad...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



      Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Data Penalaran formal pada Pelajar...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



                 Gambar 4.2 Histogram Penalaran Formal Siswa pada
     ...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



       Tabel 4.5 Klasisfikasi Kemampuan Menulis Karya Ilmiah Siswa pada...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



       Hasil Pengukuran variabel kemampuan menulis karya ilmiah siswa p...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



yang mengikuti model pembelajaran inkuiri, sebanyak 34,15% siswa memper...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



2) Data Kemampuan Menulis Karya Ilmiah pada Pelajaran Sains Siswa yang
...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



         Tabel 4.8 memperlihatkan bahwa sebanyak 26,83% siswa memperole...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



4.2 Pengujian Persyaratan Analisis

1) Uji Normalitas

       Uji norma...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajara...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



               Tabel 4.10 Rekapitulasi Hasil Uji Multivariat

Efek     ...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



4.3.2.1 Uji Hipotesis 1

       Hasil multivariate test tentang penalar...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



4.3.2.2 Uji Hipotesis 2

       Tabel 4.12 Pengaruh Model pembelajaran ...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



                                      (Hasil analisis dalam lampiran 25...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



dari 0,05 dan ∆ µ lebih besar dari LSD, berarti penalaran formal siswa ...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



              Tabel 4.16 Nilai Rata-rata Terestimasi dan Simpangan Baku...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



         Tabel 4.17 Signifikansi Perbedaan Kemampuan Menulis Karya Ilmi...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



       Dalam membelajarkan siswa untuk menguasai sains bukan pada

bany...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



pada pelajaran sains dan dalam usaha meningkatkan kemampuan menulis kar...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



belajar mengajar, baik yang dilakukan secara individu maupun secara kel...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



       Bagi siswa     yang mengikuti pembelajaran langsung,         pad...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



sebelumnya dan melatih keterampilan mereka bekerja berdasarkan konsep k...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



hari, dimana orientasinya lebih kepada kejadian dan pengalamannya sehar...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



peneliti. Untuk itu, diharapkan kepada peneliti lain untuk mengadakan p...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



                                      BAB V

                   SIMPULA...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



uji F melalui Manova. Hasil multivariate test tentang penalaran formal ...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



∆ µ = 1,463 dengan angka signifikansi 0,005. Angka signifikansi tersebu...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



5.2 Implikasi

       Hasil penelitian ini berimplikasi terhadap: (1) P...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



       Implikasi terhadap perencanaan dan pengembangan model pembelajar...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



yang akan menjadi calon pendidik. Demikian juga kelebihan, kekuatan dan...
Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com



teman-temannya. Guru kurang memanfaatkan lingkungan sekolah. Oleh karen...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Bab Iv Penerapan Model Inquiri Thdp Penalaran Formal Dan Penulisan Karya Ilmiah

8,684 views

Published on

Published in: Entertainment & Humor, Sports
1 Comment
2 Likes
Statistics
Notes
  • wah menarik sekali nich bab IV nya tentang pembelajaran inquiry terhadap penalaran formal,bisa bantu untuk mendapatkan bab II nya,makasih banget-pasca sarjana UNS
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total views
8,684
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
332
Comments
1
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab Iv Penerapan Model Inquiri Thdp Penalaran Formal Dan Penulisan Karya Ilmiah

  1. 1. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Deskripsi Data Data yang dideskripsikan dalam penelitian ini adalah penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains sebagai hasil perlakuan antara penerapan model pembelajaran inkuiri dan model pembelajaran langsung. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen pre-test post-test kelompok kontrol tanpa acak dengan menggunakan Manova sebagai alat analisis datanya. Oleh karena itu, data penelitian ini dideskripsikan berdasarkan kelompok data sebagai berikut. 4.1.1 Deskripsi Data Penalaran Formal Siswa pada Pelajaran Sains Variabel penalaran formal siswa pada pelajaran sains diukur dengan kuesioner penalaran formal dengan jumlah pertanyaan 30 butir soal, dengan skor minimum ideal = 0 dan skor maksimum ideal = 30, sehingga diperoleh rata-rata ideal = 15, dan standar deviasi ideal = 5. Berdasarkan rata-rata ideal dan standar deviasi ideal tersebut, skor penalaran formal siswa pada pelajaran sains dapat diklasifikasikan sebagai tertera dalam Tabel 4.1 Tabel 4.1 Klasifikasi Penalaran Formal siswa pada pelajaran sains No Kriteria Interval Kualifikasi 1 > (Mi + 1,5 SDi) >22,50 Sangat Tinggi 2 (Mi + 0,5 SDi) s/d (Mi + 1,5 SDi ) 17,50 – 22,50 Tinggi 3 (Mi - 0,5 SDi) s/d (Mi + 0,5 SDi ) 14,75 –17,49 Sedang 4 (Mi - 1,5 SDi) s/d (Mi - 0,5 SDi ) 7,50 – 14,74 Rendah 5 < (Mi - 1,5 SDi) <7,50 Sangat Rendah 75
  2. 2. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Hasil pengukuran terhadap variabel penalaran formal siswa pada pelajaran sains memberikan hasil seperti dalam Tabel 4.2. Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Penalaran Formal Siswa pada Pelajaran Sains Statistik Model Pembelajaran Inkuiri Pembelajaran Langsung N 41 41 X 19,804 18,488 SD 2,064 2,063 SD2 4,260 4,256 Hasil pengukuran penalaran formal siswa pada pelajaran sains, untuk kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri mempunyai rata–rata 19,804, sedangkan untuk kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran langsung mempunyai rata-rata 18,488. Hal ini berarti rata-rata penalaran formal siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran inkuiri dan model pembelajaran langsung tergolong tinggi. Hasil Pengukuran variabel penalaran formal siswa pada pelajaran sains untuk setiap kelompok data dapat dideskripsikan sebagai berikut. 1) Data Penalaran Formal pada Pelajaran Sains Siswa yang mengikuti Model Pembelajaran Inkuiri Hasil pengukuran penalaran formal siswa pada pelajaran sains, untuk kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri mempunyai rata-rata 19,804 dan simpangan baku 2,064. Hal ini berarti rata-rata penalaran formal siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran inkuiri tergolong tinggi, dengan variasi perolehan skor pada kelompoknya sebesar 4,260. 76
  3. 3. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Distribusi frekuensi data penalaran formal siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran inkuiri dapat disajikan pada Tabel 4.3 di bawah ini. Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Data Penalaran Formal pada Pelajaran Sains Siswa yang Mengikuti Model Pembelajaran Inkuiri No Kelas Interval Nilai tengah Frekuensi Absolut Relatif 1 14 –15 14,5 1 2,44 2 16 –17 16,5 3 7,31 3 18 –19 18,5 12 29,27 4 20 - 21 20,5 20 48,78 5 22 - 23 22,5 3 7,32 6 24 -25 24,5 2 4,88 Jumlah 41 100,00 Tabel 4.3 memperlihatkan bahwa sebanyak 48,78% siswa memperoleh skor sekitar rata-rata dalam penalaran formal pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran inkuiri, sebanyak 39,02% siswa memperoleh skor di bawah rata-rata, dan sebanyak 12,20% siswa memperoleh skor di atas rata-rata. Agar tampak jelas maka data dalam Tabel 4.3 disajikan dalam bentuk gambar (histogram) seperti berikut. 77
  4. 4. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Gambar 4.1 Histogram Penalaran Formal Siswa pada Pelajaran Sains yang Mengikuti Model Pembelajaran Inkuiri 20 19 18 17 16 15 14 13 12 11 FREKUENSI 10 9 8 FREK.ABSOLUT 7 6 5 4 3 2 1 0 14,5 16,5 18,5 20,5 22,5 24,5 INTERVAL Dari histogram penalaran formal siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran inkuiri, tampak bahwa frekuensi tertinggi terletak pada rentangan skor 19,5 –21,5. Sedangkan frekuensi terendah terletak pada rentangan skor 13,5 – 15,5. 2) Data Penalaran Formal pada Pelajaran Sains Siswa yang Mengikuti Model Pembelajaran Langsung Hasil pengukuran penalaran formal siswa pada pelajaran sains, untuk kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran langsung mempunyai rata rata 18,488 dan simpangan baku 2,063. Hal ini berarti rata-rata penalaran formal siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran langsung tergolong tinggi, dengan variasi perolehan skor pada kelompoknya sebesar 4,256. Distribusi frekuensi data penalaran formal siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran langsung dapat disajikan pada Tabel 4.4 di bawah ini. 78
  5. 5. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Data Penalaran formal pada Pelajaran Sains Siswa yang Mengikuti Model Pembelajaran Langsung No Kelas Interval Nilai tengah Frekuensi Absolut Relatif 1 13 - 14 13,5 1 2,44 2 15 - 16 15,5 4 9,76 3 17 - 18 17,5 19 46,34 4 19 - 20 19,5 12 29,27 5 21 -22 21,5 3 7,31 6 23 – 24 23,5 2 4,88 Jumlah 41 100,00 Tabel 4.4 memperlihatkan bahwa sebanyak 29,27% siswa memperoleh skor sekitar rata-rata dalam penalaran formal pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran langsung, sebanyak 58,542% siswa memperoleh skor di bawah rata-rata, dan sebanyak 12,19% siswa memperoleh skor di atas rata-rata. Agar tampak lebih jelas maka data dalam Tabel 4.4 disajikan dalam bentuk gambar (histogram) seperti berikut. 79
  6. 6. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Gambar 4.2 Histogram Penalaran Formal Siswa pada Pelajaran Sains yang Mengikuti Model Pembelajaran Langsung 19 18 17 16 15 14 13 12 11 FREKUENSI 10 9 8 7 FREK.ABSOLUT 6 5 4 3 2 1 0 13,5 15,5 17,5 19,5 21,5 23,5 INTERVAL Dari histogram penalaran formal siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran langsung, tampak bahwa frekuensi tertinggi terletak pada rentangan skor 16,5 – 18,5. Sedangkan frekuensi terendah terletak pada rentangan skor 12,5 – 14,5. 4.1.2 Deskripsi Data Menulis Karya Ilmiah Siswa pada Pelajaran Sains Variabel kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains diukur dengan penilaian proyek, dengan skor maksimum ideal = 32 dan skor minimum ideal = 8, sehingga diperoleh rata-rata ideal = 20, dan standar deviasi ideal = 4. Berdasarkan rata-rata ideal dan standar deviasi ideal tersebut, skor kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains dapat diklasifikasikan sebagai tertera dalam Tabel 4.5. 80
  7. 7. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Tabel 4.5 Klasisfikasi Kemampuan Menulis Karya Ilmiah Siswa pada Pelajaran Sains No Kriteria Interval Kualifikasi 1 > (Mi + 1,5 SDi) > 26 Sangat Baik 2 (Mi + 0,5 SDi) s/d (Mi + 1,5 SDi ) 22 –26 Baik 3 (Mi - 0,5 SDi) s/d (Mi + 0,5 SDi ) 18 – 22 Cukup 4 (Mi - 1,5 SDi) s/d (Mi - 0,5 SDi ) 14 – 18 Kurang 5 < (Mi - 1,5 SDi) <14 Sangat Kurang Baik Hasil pengukuran terhadap variabel kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains memberikan hasil seperti dalam Tabel 4.6 Tabel 4.6 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Skor Kemampuan Menulis Karya Ilmiah Siswa pada Pelajaran Sains Statistik Model Pembelajaran Inkuiri Pembelajaran Langsung N 41 41 X 20,61 19,15 SD 2,33 2,29 Hasil pengukuran kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains, untuk kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri mempunyai rata-rata 20,61 sedangkan untuk kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran langsung mempunyai rata-rata 19,15. Hal ini berarti rata-rata kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran inkuiri dan model pembelajaran langsung tergolong cukup. 81
  8. 8. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Hasil Pengukuran variabel kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains untuk setiap kelompok data dapat dideskripsikan sebagai berikut. 1) Data Kemampuan Menulis Karya Ilmiah pada Pelajaran Sains Siswa yang Mengikuti Model Pembelajaran Inkuiri Hasil pengukuran kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains, untuk kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri mempunyai rata-rata 20,61 dan simpangan baku 2,33. Hal ini berarti rata-rata kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran inkuiri tergolong cukup, dengan variasi perolehan skor pada kelompoknya sebesar 5,43. Distribusi frekuensi data kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran inkuiri dapat disajikan pada Tabel 4.7di bawah ini. Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Menulis Karya Imiah pada Pelajaran Sains Siswa yang Mengikuti Model Pembelajaran Inkuiri No Kelas Interval Nilai tengah Frekuensi Absolut Relatif 1 15 –16 15,5 2 4,88 2 17 – 18 17,5 7 17,07 3 19 – 20 19,5 5 12,20 4 21 –22 21,5 19 46,34 5 23 –24 23,5 7 17,07 6 25 - 26 25,5 1 2,44 Jumlah 41 100,00 Tabel 4.7 memperlihatkan bahwa sebanyak 46,34% siswa memperoleh skor sekitar rata-rata dalam kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains 82
  9. 9. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com yang mengikuti model pembelajaran inkuiri, sebanyak 34,15% siswa memperoleh skor di bawah rata-rata, dan sebanyak 19,51% siswa memperoleh skor di atas rata- rata. Agar tampak jelas maka data dalam Tabel 4.7 disajikan dalam bentuk gambar (histogram) seperti berikut. Gambar 4.3 Histogram Kemampuan Menulis Karya ILmiah Siswa pada Pelajaran Sains yang Mengikuti Model Pembelajaran Inkuiri 19 18 17 16 15 14 13 12 11 10 FREKUENSI 9 8 FREK.ABSOLUT 7 6 5 4 3 2 1 0 15,5 17,5 19,5 21,5 23,5 25,5 INTERVAL Dari histogram kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran inkuiri, tampak bahwa frekuensi tertinggi terletak pada rentangan skor 20,5 – 22,5. Sedangkan frekuensi terendah terletak pada rentangan skor 24,5 – 26,5. 83
  10. 10. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 2) Data Kemampuan Menulis Karya Ilmiah pada Pelajaran Sains Siswa yang Mengikuti Model Pembelajaran Langsung Hasil pengukuran kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains, untuk kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran langsung mempunyai rata rata 19,15 dan simpangan baku 2,29. Hal ini berarti rata-rata kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran langsung tergolong cukup, dengan variasi perolehan skor pada kelompoknya sebesar 5,24. Distribusi frekuensi data kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran langsung dapat disajikan pada Tabel 4.8 di bawah ini. Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Menulis Karya Ilmiah pada Pelajaran Sains Siswa yang Mengikuti Model Pembelajaran Langsung No Kelas Interval Nilai tengah Frekuensi Absolut Relatif 1 14 -15 14,5 1 2,44 2 16 - 17 16,5 9 21,94 3 18 - 19 18,5 14 34,15 4 20 - 21 20,5 11 26,83 5 22 - 23 22,5 4 9,76 6 24 - 25 24,5 2 4,88 Jumlah 41 100,00 84
  11. 11. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Tabel 4.8 memperlihatkan bahwa sebanyak 26,83% siswa memperoleh skor sekitar rata-rata dalam kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran langsung, sebanyak 58,53 siswa memperoleh skor di bawah rata-rata, dan sebanyak 14,64 siswa memperoleh skor di atas rata- rata. Agar tampak lebih jelas maka data dalam Tabel 4.8 disajikan dalam bentuk gambar (histogram) seperti berikut. Gambar 4.4 Histogram Kemampuan Menulis Karya ILmiah Siswa pada Pelajaran Sains yang Mengikuti Model Pembelajaran Langsung 14 13 12 11 10 9 8 FREKUENSI 7 6 FREK.ABSOLUT 5 4 3 2 1 0 14,5 16,5 18,5 20,5 22,5 24,5 INTERVAL Dari histogram kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran langsung, terlihat bahwa frekuensi tertinggi terletak pada rentangan skor 17,5 – 19,5. Sedangkan, untuk frekuensi terendah terletak pada rentangan 13,5 – 15,5. 85
  12. 12. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 4.2 Pengujian Persyaratan Analisis 1) Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan terhadap kelompok data penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains, yang diajarkan dengan model pembelajaran inkuiri dan model pembelajaran langsung. Hasil uji normalitas disajikan pada Tabel 4.9. Tabel 4.9 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Uji Normalitas Data Penalaran Formal dan Kemampuan Menulis Karya Ilmiah Siswa pada Pelajaran Sains Kelompok Data Shapiro-Wilk df Sig A1 0.966 41 0.395 A2 0.947 41 0.085 A3 0.956 41 0.214 A4 0.914 41 0.060 Keterangan: A1 = Data Penalaran Formal pada pelajaran sains untuk kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri A2 = Data Penalaran Formal pada pelajaran sains untuk kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung A3 = Data Kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains untuk kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri A4= Data Kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains untuk kelompok siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung Hasil pengujian normalitas seperti tertera dalam Tabel 4.9 menunjukkan bahwa nilai-nilai statistik Shapiro-Wilk semua menunjukkan angka signifikansi yang lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, secara keseluruhan sebaran data 86
  13. 13. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains berdistribusi normal. 2) Uji Homogenitas Uji homogenitas ini dimaksudkan untuk menguji bahwa setiap kelompok yang akan dibandingkan memiliki variansi yang sama. Dengan demikian perbedaan yang terjadi dalam uji hipotesis benar-benar berasal dari perbedaan antara kelompok, bukan akibat dari perbedaan yang terjadi di dalam kelompok. Uji homogenitas dilakukan terhadap kelompok data penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains baik secara bersama- sama menggunakan uji Box’M menghasilkan angka signifikansi = 0,996 dan secara sendiri-sendiri dengan uji Levene Test menghasilkan angka signifikansi = 0,889 untuk variabel penalaran formal siswa pada pelajaran sains, dan angka signifikansi = 0,997 untuk variabel kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains. Hasil analisis selengkapnya disajikan dalam Lampiran 24 halaman 279. Tampak bahwa angka signifikansi yang dihasilkan baik secara bersama- sama maupun secara sendiri-sendiri lebih besar dari 0,05. Dengan demikian berarti bahwa matrik varians-kovarians pada variabel penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains adalah homogen. 4.3 Hasil Manova dan Pengujian Hipotesis 4.3.1 Hasil Manova Uji multivariat adalah untuk meneliti pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara bersama-sama. Hasil analisis dengan Manova dapat disajikan dalam Tabel 4.10 87
  14. 14. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Tabel 4.10 Rekapitulasi Hasil Uji Multivariat Efek Statistik F Sig. Model Pillai’s Trace 5,542 0,006 Pembelajaran Wilks’ Lambda 5,542 0,006 Hotelling’s Trace 5,542 0,006 Roy’s Largest Root 5,542 0,006 ( Hasil analisis dalam Lampiran 25 halaman 280) Sedangkan uji pengaruh antar subjek adalah untuk meneliti pengaruh variabel independent terhadap variabel dependen secara sendiri-sendiri. Hasil analisis dengan manova dapat disajikan dalam Tabel 4.11 Tabel 4.11 Rekapitulasi Hasil Uji Pengaruh antar Subjek Source Dependent Variabel F Sig Model Pembelajaran Penalaran formal 8,351 0,005 Kemampuan menulis Karya ilmiah 8,228 0,005 ( Hasil analisis dalam lampiran 25 halaman 281) 4.3.2 Pengujian Hipotesis Ada tiga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini. Untuk pengujian ketiga hipotesis penelitian didasarkan pada hasil analisis Manova 88
  15. 15. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 4.3.2.1 Uji Hipotesis 1 Hasil multivariate test tentang penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains antara siswa yang diajar dengan model inkuiri dengan model pembelajaran langsung menghasilkan angka signifikansi = 0,006 pada nilai F Pillai’s Trace, Wilks’Lambda, Hotelling’s Trace, dan Roy’s Largest Root = 5,542. Karena angka signifikansi lebih kecil dari 0,05, dapat disimpulkan bahwa: hipotesis nol ditolak dan menerima hipotesis penelitian. Analisis deskriptif tentang penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains menunjukkan: 1) rata-rata penalaran formal pada pelajaran sains siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri sebesar 19,80 lebih besar dari pada rata-rata penalaran formal siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung yakni sebesar 18,48. Demikian juga untuk rata-rata kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains siswa yang diajar dengan model pembelajaran Inkuiri sebesar 20,61 lebih besar dari pada rata-rata kemampuan menulis karya ilmiah siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung yakni sebesar 19,15. Jadi, dari rata-rata yang dihasilkan menunjukkan bahwa dengan pengajaran yang dilakukan dengan model inkuiri lebih baik dibandingkan dengan yang dilakukan dengan model pembelajaran langsung terhadap penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa. Dengan demikian hipotesis nol ditolak dan menerima hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa “ penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri lebih baik dari pada yang diajar dengan model pembelajaran langsung”. 89
  16. 16. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 4.3.2.2 Uji Hipotesis 2 Tabel 4.12 Pengaruh Model pembelajaran terhadap Penalaran Formal Dependent Sum of df Mean F Sig. Variable Squares Square P.FORMAL Contrast 35.561 1 35.561 8.351 .005 Error 340.683 80 4.259 Berdasarkan hasil analisis pengaruh model pembelajaran terhadap penalaran formal siswa pada pelajaran sains diperoleh nilai statistik F = 8,351 dengan angka signifikansi 0,005. Angka signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian hipotesis nol yang menyatakan tidak terdapat perbedaan penalaran formal pada pelajaran sains siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung, ditolak. Dengan kata lain, bahwa terdapat perbedaan penalaran formal siswa pada pelajaran sains yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Selanjutnya untuk menganalisis signifikansi perbedaan penalaran formal siswa pada pelajaran sains yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri dan yang diajar dengan model pembelajaran langsung, disajikan nilai rata-rata ( µ ) dan simpangan baku (SB) penalaran formal siswa pada pelajaran sains dalam Tabel 4.12. Tabel 4.13 Nilai Rata-rata Terestimasi dan Simpangan Baku Penalaran Formal Siswa pada Pelajaran Sains Variabel Model µ SB Intervensi Konvidensi 95% Devendent Pembelajaran Terendah Tertinggi Penalaran 1.00 19,805 0,322 19,164 20,446 Formal 2.00 18,488 0,322 17,846 19,129 90
  17. 17. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com (Hasil analisis dalam lampiran 25 halaman 281) Selanjutnya berdasarkan data nilai-rata-rata terestimasi dan simpangan baku dalam Tabel 4.12, dapat dianalisis signifikansi perbedaan penalaran formal siswa pada pelajaran sains antara yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri dan yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Signifikansi perbedaan nilai- rata-rata pasangan tersebut diuji dengan metode least significant difference ( LSD). Untuk jumlah kelompok model a = 2, jumlah sampel masing-masing kelompok n = 41, jumlah sampel seluruhnya N = 82, dan pada taraf signifikansi α = 0,05 diperoleh nilai statistik t tabel = t ( 0,025:60) = 2,00. Dengan menggunakan nilai t tabel tersebut dan nilai MSε = 4,259 untuk variabel terikat penalaran formal siswa pada pelajaran sains, diperoleh batas penolakan LSD = 0,456. Kriteria, penalaran formal siswa pada pelajaran sains berbeda secara signifikan apabila ∆µ > LSD. Rangkuman hasil uji signifikansi perbedaan penalaran formal siswa pada pelajaran sains disajikan dalam Tabel 4.13. Tabel 4.14 Signifikansi Perbedaan Penalaran Formal Siswa pada Pelajaran Sains Variabel (I) (J) µ (I) - µ (J) SB Sig dependent Model Model ∆µ Penalaran 1.00 2.00 1,317 0,456 0.005 Formal 2.00 1.00 -1,317 0,456 0.005 (Hasil analisis dalam lampiran 25 halaman 281) Berdasarkan Tabel 4.13 harga mutlak ∆ µ = 1,317 dengan simpangan baku 0,456 dan angka signifikansi 0,005. Angka signifikansi tersebut lebih kecil 91
  18. 18. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com dari 0,05 dan ∆ µ lebih besar dari LSD, berarti penalaran formal siswa pada pelajaran sains yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri lebih tinggi dibandingkan dengan yang diajar dengan model pembelajaran langsung 4.3.2.3 Uji Hipotesis 3 Tabel 4.15 Pengaruh Model pembelajaran terhadap Kemampuan Menulis Karya Ilmiah Siswa Dependent Sum of df Mean F Sig. Variable Squares Square K.M.KI Contrast 43.902 1 43.902 8.228 .005 Error 426.878 80 5.336 Berdasarkan hasil analisis pengaruh model pembelajaran terhadap kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains diperoleh nilai statistik F = 8,228 dengan angka signifikansi 0,005. Angka signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian hipotesis nol yang menyatakan tidak terdapat perbedaan kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung, ditolak. Dengan kata lain, bahwa terdapat perbedaan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri dan siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Selanjutnya untuk menganalisis signifikansi perbedaan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri dan yang diajar dengan model pembelajaran langsung, disajikan nilai rata-rata ( µ ) dan simpangan baku (SB) penalaran formal siswa pada pelajaran sains dalam Tabel 4.13. 92
  19. 19. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Tabel 4.16 Nilai Rata-rata Terestimasi dan Simpangan Baku Kemampuan Menulis Karya Ilmiah Siswa pada Pelajaran Sains Variabel Model Intervensi Konvidensi Devendent Pembelajaran µ SB 95% Terendah Tertinggi Kemampuan 1.00 20,610 0,361 19,892 21,328 menulis Karya 2.00 19,146 0,361 18,428 19,864 Ilmiah (Hasil analisis dalam lampiran 25 halaman 281) Selanjutnya berdasarkan data nilai-rata-rata terestimasi dan simpangan baku dalam Tabel 4.14, dapat dianalisis signifikansi perbedaan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains antara yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri dan yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Signifikansi perbedaan nilai rata-rata pasangan tersebut diuji dengan metode least significant difference ( LSD). Untuk jumlah kelompok model a = 2, jumlah sampel masing-masing kelompok n = 41, jumlah sampel seluruhnya N = 82, dan pada taraf signifikansi α = 0,05 diperoleh nilai statistik t tabel = t ( 0,025:60) = 2,00. Dengan menggunakan nilai t tabel tersebut dan nilai MSε = 5,336 untuk variabel terikat kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains, diperoleh batas penolakan LSD = 0,51. Kriteria kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains berbeda secara signifikan apabila ∆µ > LSD. Rangkuman hasil uji signifikansi perbedaan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains disajikan dalam Tabel 4.14. 93
  20. 20. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Tabel 4.17 Signifikansi Perbedaan Kemampuan Menulis Karya Ilmiah Siswa pada Pelajaran Sains Variabel dependent (I) (J) µ (I) - µ (J) SB Sig Model Model ∆µ Kemampuan menulis Karya 1.00 2.00 1,463 0,510 0,005 Ilmiah 2.00 1.00 -1,463 0,510 0,005 (Hasil analisis dalam lampiran 25 halaman 281) Berdasarkan Tabel 4.15 harga mutlak ∆ µ = 1,463 dengan simpangan baku 0,510 dan angka signifikansi 0,005. Angka signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05 dan ∆ µ lebih besar dari LSD, berarti kemampuan menulis karya ilmiah siswa siswa pada pelajaran sains yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri lebih tinggi dibandingkan dengan yang diajar dengan model pembelajaran langsung. 4.4 Pembahasan Hasil Penelitian Hasil analisis data pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri dengan siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Secara keseluruhan kemampuan penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa yang menggunakan model pembelajaran inkuiri lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan model pembelajaran langsung. Temuan ini membuktikan bahwa model pembelajaran yang diterapkan guru sains dalam proses belajar mengajar, utamanya model inkuiri dapat meningkatkan kemampuan penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah. 94
  21. 21. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Dalam membelajarkan siswa untuk menguasai sains bukan pada banyaknya konsep yang harus dihapal, tetapi lebih kepada bagaimana agar siswa berlatih menemukan konsep-konsep sains melalui metode ilmiah dan sikap ilmiah, dan siswa dapat melakukan kerja ilmiah mulai dari merumuskan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Merumuskan masalah merupakan suatu pertanyaan yang jawabannya dicari melalui pengumpulan data. Melakukan eksperimen merupakan kegiatan dengan menerapkan berbagai keterampilan proses yang dilandasi oleh sikap ilmiah untuk menemukan atau mengklarifikasi atau menemukan pengetahuan baru. Menginterpretasikan data merupakan kegiatan yang meliputi membuat prediksi, membuat hipotesis berdasarkan data yang diperoleh. Menarik kesimpulan merupakan kegiatan merumuskan penjelasan yang paling mungkin terhadap suatu hasil pengamatan.Terkait dengan model inkuiri, keuntungan yang bisa didapatkan adalah siswa memiliki kesempatan untuk mengemukakan ide atau gagasan yang dimilikinya, sehingga hal itu akan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karya ilmiah. Di samping itu juga, dengan model inkuiri siswa sudah mulai diajarkan untuk menganalisa dan mencari kebenaran dari suatu masalah yang sedang dibahas, telah mampu berpikir sistematis, terarah dan mempunyai tujuan yang jelas, disamping mampu berpikir induktif, deduktif, dan empiris rasional sehingga hal ini akan menyebabkan siswa memiliki kemampuan dalam penalaran formal yang baik. Kaitannya dengan hasil penelitian ini, perlu disadari bahwa tidak semua pokok bahasan dalam pelajaran sains dapat diajarkan dengan model pembelajaran yang sama, terutama kaitannya dengan mengembangkan penalaran formal siswa 95
  22. 22. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com pada pelajaran sains dan dalam usaha meningkatkan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains. Pemilihan model pembelajaran yang tepat untuk suatu pokok bahasan tertentu akan dapat mengembangkan penalaran formal siswa pada pelajaran sains. Model pembelajaran inkuiri merupakan model yang tepat diterapkan guru dalam proses pembelajaran sains dalam rangka meningkatkan penalaran formal siswa. Hal ini didasarkan atas hasil penelitian Lawson (dalam Putrayasa, 2005) yang menunjukkan bahwa perkuliahan biologi yang berorientasi inkuiri lebih berhasil meningkatkan penalaran formal siswa. Pengalaman belajar yang didapatkan siswa dalam pembelajaran inkuiri akibat diberikan siswa kesempatan untuk mengemukakan gagasan, diberikan kesempatan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri terhadap permasalahan yang diberikan, memberikan dampak terhadap kemampuan siswa untuk dapat berpikir dengan pola penetapan kemungkinan untuk dapat menemukan kenyataan. Hal yang sama terhadap pembelajaran model inkuiri seperti diungkapkan oleh Bruner (1978) bahwa keuntungan atau keunggulan model inkuiri salah satunya adalah dapat meningkatkan potensi intelektual siswa. Sejalan dengan Bruner, Dahar (1998: 126) menyatakan kebaikan pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan adalah dapat meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas. Pada kegiatan pembelajaran dengan inkuiri peran guru adalah sebagai pemimpin, pembimbing dan fasilitator. Dalam pembelajaran sains dengan inkuiri yang paling utama adalah memberikan kondisi yang seluas-luasnya kepada siswa untuk memperoleh pengalaman bagaimana mengkonstruksi pengetahuan itu sendiri. Oleh karena itu siswa ditempatkan sebagai pusat dalam proses kegiatan 96
  23. 23. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com belajar mengajar, baik yang dilakukan secara individu maupun secara kelompok. Melalui implementasi model inkuiri dapat memberikan kepada siswa kesempatan untuk bekerja sebagai ilmuan yaitu menemukan masalah, selanjutnya merumuskan hipotesis, mengujinya melalui eksperimen dan menginformasikan hasil penyelidikan dan penelitiannya. Oleh karena itu melalui impelementasi model inkuiri, penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains diharapkan dapat meningkat. Model pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran yang didasarkan pada behaviorisme. Paradigma behaviorisme memandang belajar sebagai perubahan tingkah laku yang didasarkan kepada unsur stimulus-respon (S-R). Oleh karena itu, teori ini juga disebut teori stimulus-respon (Burns, 1995: 102). Aspek yang mendorong S-R adalah kebutuhan dan stimulus kemudian muncul respon. Unsur yang paling penting adalah reinforcement atau penguatan. Penguatan berfungsi untuk memotivasi mahasiswa agar ia merasakan adanya kebutuhan untuk melakukan tugas pelajaran melalui respons yang diberikan dalam tugas itu. Guru dalam model pembelajaran ini lebih dominan dalam rangka membantu siswa memperoleh pengetahuan deklaratif. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan yang terstruktur dengan baik. Oleh karena itu siswa akan dapat mempelajari selangkah demi selangkah, misalnya dalam menghafal nama- nama bagian dari suatu alat. Syarat penting yang perlu diperhatikan agar pembelajaran efektif adalah perencanaan dan pelaksanaan yang ekstra hati- hati dari guru, karena model ini berpusat pada guru. Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa. 97
  24. 24. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Bagi siswa yang mengikuti pembelajaran langsung, pada awal pembelajarannya terpaksa harus melakukan transfer of knowledge, yakni berupa konsep-konsep sesuai dengan materi yang diajarkan. Siswa dengan terpaksa memahami konsep-konsep sains secara formal. Apabila timbul keraguan maka dia bertanya hanya kepada guru, padahal konsep-konsep dalam sains dirumuskan dan didefinisikan oleh ahli atau pakar dalam sains. Akibat pembelajaran langsung, siswa tidak mendapat pengalaman untuk memahami konsep secara konkret, dan jika terdapat keragu-raguan dalam memahami konsep secara formal, siswa tidak akan bisa melakukan akomodasi dengan konsep-konsep yang bersifat konkret. Efek langsung dari peristiwa ini, siswa terpaksa harus menghapal konsep-konsep. Secara empiris dalam penelitian ini adalah: terdapat perbedaan penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains secara bersama-sama antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri dengan siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Kedua, penalaran formal pada pelajaran sains siswa yang diajar dengan model inkuiri lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Hal ini disebabkan oleh model pembelajaran inkuiri mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Dengan mengikuti langkah-langkah pembelajaran yang telah ditetapkan, keterlibatan siswa mendapat porsi yang jelas. Misalnya, siswa dihadapkan terhadap suatu masalah, kemudian siswa diminta sendiri memecahkan masalah melakukan pencarian data dan eksperimentasi dalam rangka membuktikan kajian data yang mengarah pada penemuan konsep-konsep yang sedang dipelajari, dan lain-lain. Dalam satu unit pembelajaran, siswa mendapat kesempatan untuk menggunakan pengetahuan yang dimiliki 98
  25. 25. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com sebelumnya dan melatih keterampilan mereka bekerja berdasarkan konsep kerja ilmiah. Ketiga, kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains siswa yang diajar dengan model inkuiri lebih baik daripada siswa yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Hal ini disebabkan oleh rangkaian kegiatan pembelajaran sains dengan inkuiri, sebagian besar, dilakukan sendiri oleh siswa baik secara individu maupun berkelompok. Keadaan ini akan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa dalam mengembangkan kemampuan untuk berpikir dan berbuat. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini untuk kerja proyek pada pembelajaran inkuiri, ternyata pada aspek pembuatan map/diagram terhadap topik yang akan diinvestigasi, dan format laporan sangat baik. Sedangkan pada aspek pembuatan rincian terhadap proses dengan hasil baik. Aspek pemilihan topik, monitoring kerja proyek, deskripsi temuan, pembahasan, kesimpulan hasilnya kurang baik.(lampiran 17 halaman 180-181). Pada pembelajaran langsung, aspek pembuatan map/diagram terhadap topik yang akan diinvestigasi, dan format laporan sangat baik. Sedangkan pada aspek pembuatan rincian terhadap proses dengan hasil baik. Aspek pemilihan topik, monitoring kerja proyek, deskripsi temuan, pembahasan, kesimpulan hasilnya kurang baik.(lampiran 17 halaman 181). Hal ini mengindikasikan bahwa pada aspek-aspek yang belum menyentuh pada penalaran tinggi diperoleh hasil yang baik, sedangkan aspek yang menyentuh penalaran tinggi hasilnya kurang baik. Pembelajaran sains akan menjadi lebih bermakna karena apa yang dipelajari dari awal sampai akhir proses menyentuh bidang kehidupannya sehari- 99
  26. 26. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com hari, dimana orientasinya lebih kepada kejadian dan pengalamannya sehari-hari selama berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Melalui proses asimilasi dan akomodasi yang terjadi selama siswa berinteraksi dengan lingkungan belajarnya siswa secara individual membangun pengetahuannya berupa perumusan konsep- konsep sains yang menjadi tujuan pembelajaran untuk ditemukan. Siswa dalam pembelajaran inkuiri telah memiliki konsep awal terhadap kejadian-kejadian alam yang berkaitan dengan konsep yang mereka pelajari. Konsep inilah yang nantinya akan dirubah menjadi konsep ilmiah melalui proses asimilasi dan akomodasi. Akibatnya siswa akan memiliki pengalaman dan menguasai metode ilmiah, yaitu prosedur-prosedur penemuan yang bermanfaat dan berkemampuan untuk menggeneralisasikannya ke dalam situasi baru. Karena pengetahuan diperoleh dari pengalaman, maka hasil belajar akan terpendam lama dalam ingatan siswa. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran yang diimplementasikan guru akan sangat mempengaruhi penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains. 4.5 Keterbatasan Penelitian Berbagai upaya telah dilakukan dalam penelitian ini untuk dapat mencapai hasil yang optimal. Namun demikian, penelitian ini tetap memiliki berbagai keterbatasan yang sekaligus merupakan kelemahan penelitian ini. Keterbatasan- keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, variabel yang mempengaruhi penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains dalam penelitian ini hanya model pembelajaran. Variabel lain seperti: intelegensi, sikap, prestasi, minat, motivasi, gaya kognitif, dan lain-lain tidak dilibatkan karena keterbatasan kemampuan 100
  27. 27. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com peneliti. Untuk itu, diharapkan kepada peneliti lain untuk mengadakan penelitian sejenis dengan menggunakan rancangan eksperimen yang lebih kompleks, sehingga dapat mengendalikan pengaruh variabel lain secara statistik. Kedua, materi pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah materi sains kelas VIII semester ganjil hanya pada pokok bahasan suhu, pemuaian, dan kalor. Dengan demikian, hasil yang diperoleh dalam penelitian ini belum tentu akan sama dengan hasil penelitian terhadap pelajaran sains secara keseluruhan. Oleh karena itu, perlu ada peneliti lain dengan melibatkan semua pokok bahasan pada pelajaran sains, sehingga dapat mencerminkan besarnya pengaruh model pembelajaran inkuiri dan model pembelajaran langsung terhadap penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains secara keseluruhan. 101
  28. 28. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN 5.1 Simpulan Hasil pengukuran penalaran formal siswa pada pelajaran sains, untuk kelompok yang mengikuti model pembelajaran inkuiri mempunyai rata-rata 19,804. Sedangkan untuk kelompok yang mengikuti model pembelajaran langsung mempunyai rata-rata 18,44. Dalam tabel klasifikasi, interval 19,804 dan 18,44 termasuk dalam kualifikasi tinggi. Hal ini berarti rata-rata penalaran formal siswa pada pelajaran sains yang mengikuti model pembelajaran inkuiri dan model pembelajaran langsung tergolong tinggi. Data dari hasil pengukuran kemampuan menulis karya ilmiah siswa untuk kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri dan siswa yang mengikuti model pembelajaran langsung tergolong dalam kualifikasi cukup. Dalam tabel klasifikasi, rata-rata kemampuan menulis karya ilmiah siswa yang mengikuti pembelajaran inkuiri sebesar 20,61, untuk kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran langsung mempunyai rata-rata 19,15. Angka 20,61 dan 19,15 ini dalam termasuk dalam kualifikasi cukup. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran inkuiri berpengaruh terhadap penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains. Secara rinci dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri lebih baik daripada yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Ini dibuktikan dengan 102
  29. 29. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com uji F melalui Manova. Hasil multivariate test tentang penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains antara siswa yang diajar dengan model inkuiri dengan model pembelajaran langsung menghasilkan angka signifikansi= 0,006 pada nilai F Pillai’s Trace, Wilks’Lambda, Hotelling’s Trace, dan Roy’s Largest Root = 5,542. Karena angka signifikansinya lebih kecil dari 0,05, dengan demikian berarti bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran sains bisa menghasilkan kemampuan penalaran formal yang lebih tinggi dan kemampuan menulis karya ilmiah yang lebih baik dibandingkan dengan pengaruh penerapan model pembelajaran langsung. Kedua, penalaran formal siswa pada pelajaran sains yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri lebih tinggi daripada yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Kesimpulan ini didapat dengan menggunakan uji metode least significant difference ( LSD) yang menghasilkan harga mutlak ∆ µ = 1,317 dan dengan angka signifikansi 0,005. Angka signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 dan ∆ µ lebih besar dari LSD (0,456), berarti penalaran formal siswa pada pelajaran sains yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri lebih tinggi dibandingkan dengan yang diajar dengan model pembelajaran langsung Dengan demikian berarti penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran sains bisa menghasilkan penalaran formal yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengaruh penerapan model pembelajaran langsung. Ketiga, kemampuan menulis karya ilmiah siswa pada pelajaran sains yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri lebih baik daripada yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Kesimpulan ini didapat dengan menggunakan uji metode least significant difference (LSD) yang menghasilkan harga mutlak 103
  30. 30. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com ∆ µ = 1,463 dengan angka signifikansi 0,005. Angka signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05 dan ∆ µ lebih besar dari LSD (0,51). Ini berarti kemampuan menulis karya ilmiah siswa siswa pada pelajaran sains yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri lebih tinggi dibandingkan dengan yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Dengan demikian berarti bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran sains bisa menghasilkan kemampuan menulis karya ilmiah yang lebih baik dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran langsung. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini untuk kerja proyek pada pembelajaran inkuiri, ternyata pada aspek pembuatan map/diagram terhadap topik yang akan diinvestigasi, dan format laporan sangat baik. Sedangkan pada aspek pembuatan rincian terhadap proses dengan hasil sedang, monitoring kerja proyek dengan hasil kurang baik. Aspek pemilihan topik, aspek deskripsi temuan, pembahasan, kesimpulan hasilnya sangat kurang baik. Pada pembelajaran langsung pembuatan map/diagram terhadap topik yang akan diinvestigasi, dan format laporan hasilnya sangat baik. Sedangkan aspek pembuatan rincian terhadap proses hasilnya cukup. Aspek pemilihan topik, aspek deskripsi temuan, monitoring kerja proyek, pembahasan, kesimpulan hasilnya sangat kurang baik. Hal ini mengindikasikan bahwa pada aspek-aspek yang belum menyentuh pada penalaran tinggi diperoleh hasil yang baik, sedangkan aspek yang menyentuh penalaran tinggi hasilnya kurang baik. 104
  31. 31. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com 5.2 Implikasi Hasil penelitian ini berimplikasi terhadap: (1) Peran guru sains dalam pembelajaran, (2) perencanaan dan pengembangan model pembelajaran sains, (3) lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). 1) Implikasi terhadap Peran Guru Sains Penerapan model inkuiri dalam pembelajaran sains menuntut banyak perubahan pada guru sains khususnya dalam manajemen kelas. Dalam upaya menumbuhkan dan mengaktifkan situasi belajar, guru berperan sebagai pembimbing untuk menuntun siswa memulai proses, memimpin siswa agar hasil dalam proses belajar sesuai dengan tujuan pengajaran serta sebagai fasilitator dalam mempersiapkan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Semestinya dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri siswa akan lebih tertarik dan lebih memudahkannya memahami konsep-konsep sains. Karena siswa dituntut untuk tetap aktif dan memungkinkan siswa menemukan konsep-konsep yang baru. Aplikasi dari model inkuiri menuntut seorang guru yang memiliki kemampuan dalam melaksanakan tahapan-tahapan pembelajaran sesuai dengan harapan pembelajaran yang mengacu pada kurikulum yang berbasis kompetensi. 2) Implikasi terhadap Perencanaan dan Pengembangan Model Pembelajaran Sains Temuan bahwa penalaran formal dan kemampuan menulis karya ilmiah pada pelajaran sains siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri lebih baik daripada model pembelajaran langsung memberikan petunjuk bahwa model pembelajaran inkuiri dibandingkan dengan pengajaran langsung memberikan dampak yang signifikan dibandingkan dengan pengajaran langsung . 105
  32. 32. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com Implikasi terhadap perencanaan dan pengembangan model pembelajaran sains meliputi: (1) pengaturan desain awal pembelajaran, (2) orientasi pembelajaran (3) penyesuaian materi pembelajaran. a) Pengaturan Desain Awal Pembelajaran Desain materi pembelajaran disusun dengan struktur yang dapat mendukung pelaksanaan model pembelajaran inkuiri. Orientasi pembelajaran dengan model ini bertumpu pada pengetahuan awal yang dimiliki siswa yang dapat mengemukakan kejadian-kejadian alam yang biasa dialaminya. b) Orientasi Pembelajaran Pembelajaran sains dengan model inkuiri berorientasi pada kemampuan siswa untuk mengemukakan argumentasi dan mengorganisasikan pengalamannya, serta mengaitkan dengan prinsip-prinsip, teori atau hukum dengan objek atau kejadian-kejadian alam yang berupa fakta dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dengan model inkuiri ini memungkinkan ditemukan konsep baru. c) Penyesuaian materi Pembelajaran Materi pembelajaran disesuaikan dengan permasalahan yang ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, pokok bahasan suhu, kalor, gaya dan takanan, cahaya, listrik dan magnet yang kiranya cocok diajarkan dengan model inkuiri. Sedangkan materi pencernaan, sumber daya alam, dan sebagainya yang sifatnya pengetahuan deklaratif lebih cocok diajarkan dengan model pembelajaran langsung. 3) Implikasi terhadap lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Model-model pembelajaran yang telah diujicobakan melalui penelitian maupun dari hasil pengembangan diupayakan untuk diajarkan kepada mahasiswa 106
  33. 33. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com yang akan menjadi calon pendidik. Demikian juga kelebihan, kekuatan dan kekurangan dari masing-masing model pembelajaran, sehingga calon guru sains akan memiliki pengetahuan dan kemampuan awal yang lebih baik mengenai model-model pembelajaran untuk dapat diterapkan setelah menjadi pendidik. 5.3 Saran Beberapa saran yang diajukan terkait dengan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Kepada guru mata pelajaran sains, hendaknya memasukkan penulisan karya ilmiah dalam pengalaman belajar siswa. Karena dalam kurikulum mata pelajaran sains SMP, salah satu tujuan yang diharapkan adalah melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir anak. Apabila menerapkan penulisan karya ilmiah dalam pengalaman belajar, langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) Berikan kepada siswa wawasan terlebih dahulu tentang karya tulis ilmiah, (2) Memberikan tugas kepada siswa berkelompok mencari topik sains dalam kehidupan sehari-hari yang dianggap menarik untuk diteliti, (3) Siswa ditugaskan melakukan penelitian lapangan maupun eksperimen di laboratorium, (4) Melaporkan hasil penelitiannya dalam bentuk laporan tertulis (karya tulis), (5) Melakukan seminar terhadap laporan penelitian siswa di kelas. Berdasarkan temuan dalam pelaksanaan penelitian ternyata masih adanya keterbatasan yaitu masih ada siswa yang kurang mampu melakukan kegiatan yang diharapkan guru, seperti mengamati, dan menarik kesimpulan . Kemampuan guru, secara umum masih menunjukkan keterbatasan, seperti masih suka mendikte siswa untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh guru maupun oleh 107
  34. 34. Authorized by: www.forumpenelitian.blogspot.com teman-temannya. Guru kurang memanfaatkan lingkungan sekolah. Oleh karena itu guru diharapkan mampu membangkitkan semangat belajar siswa untuk memecahkan masalah, menunjukkan rasa tanggung jawab yang tinggi, menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi, berkomunikasi dengan baik, terbuka terhadap pengalaman baru, dan mampu mengekplorasi hal-hal yang ada dihadapannya. 108

×