STRONG  CORPORATE GOVERNANCE AND AUDIT FIRM ROTATION: EFFECTS ON JUDGES’ INDEPENDENCE PERCEPTIONS AND LITIGATION JUDGMENTS...
Pendahuluan <ul><li>The Sarbanes-Oxley Act 2002 menyediakan berbagai inisiatif yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualita...
<ul><li>Berkaitan dengan auditor, penetapan undang-undang tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan independensi dalam fakta...
<ul><li>Puncaknya, SOX memandatkan level minimal baru mengenai independensi dan keahlian dewan komisaris seperti halnya ke...
Struktur Artikel <ul><li>Bagian pertama: Pendahuluan </li></ul><ul><li>Bagian Kedua : Latar Belakang Informasi dan Pengemb...
Latar Belakang dan Pengembangan Hipotesis <ul><li>Pentingnya independensi auditor, baik aktual maupun yang dipersepsikan o...
<ul><li>Tantangan hukum terbesar yang dihadapi auditor adalah argumen penggugat (dalam hal terjadi litigasi/tuntutan hukum...
<ul><li>Sehingga….. </li></ul><ul><li>Penilaian independensi secara legal harus didasarkan pada persepsi hakim (atau juri)...
Keputusan Hakim <ul><li>Hakim sangat berpengalaman dalam seni mengevaluasi bukti. Hakim secara normatif harus memutuskan k...
<ul><li>Keyakinan dan sikap mempengaruhi keputusan karena individu sering mengabaikan informasi yang relevan untuk menduku...
<ul><li>Persepsi mengenai independensi auditor dan  liability judgments  dipengaruhi oleh kekuatan  corporate governance. ...
<ul><li>Penelitian sebelumnya telah menunjukkan korelasi langsung antara kualitas pelaporan keuangan dan: </li></ul><ul><l...
Rotasi Kantor Akuntan <ul><li>Banyak penelitian yang menyatakan bahwa rotasi kantor akuntan membuat auditor nampak lebih i...
<ul><li>Peneliti mempertimbangkan persepsi hakim yang berhubungan dengan situasi dengan dan tanpa rotasi kantor akuntan. <...
Hipotesis <ul><li>H1: Hakim akan mempersepsikan tingkat independensi auditor lebih tinggi dalam kondisi  corporate governa...
Kewajiban Auditor <ul><li>Setelah memperoleh persepsi partisipan mengenai independensi auditor dan kredibilitas laporan ke...
<ul><li>Dalam konteks audit yang gagal, hakim akan merekonstruksi skenario atas kesalahan auditor pada lingkungan pengenda...
Reseach Questions <ul><li>Selanjutnya untuk audit yang gagal dalam mengidentifikasi kecurangan laporan keuangan, apakah pe...
Metode <ul><li>Participants </li></ul><ul><li>Eksperimen dilakukan selama program training pelatihan berkelanjutan di Nati...
<ul><li>Research Task and Dependent Variables </li></ul><ul><li>Hakim diberi materi eksperimen yang mendiskripsikan skenar...
<ul><li>Sejauh mana anda meyakini bahwa auditor eksternal, K&L, independen? </li></ul>
<ul><li>Selanjutnya, partisipan diberi informasi bahwa laba bersih tahun berjalan salah saji. Peneliti meminta pandangan h...
<ul><li>Sejauh mana anda meyakini bahwa auditor berkewajiban secara legal dan investor yang menggugat seharusnya diijinkan...
Independen Variables <ul><li>Struktur Corporate Governance </li></ul><ul><li>Level Rendah : Kepatuhan Minimal terhadap per...
Independen Variables <ul><li>Rotasi Auditor </li></ul><ul><li>Variabel ini memiliki dua level:rotasi patner dan rotasi kan...
<ul><li>Manipulation Cheks </li></ul><ul><li>Prosentase subjek yang salah dalam dalam merespon manipulasi di-drop (9 dari ...
Hasil
<ul><li>Hipotesis 1 didukung, artinya rata-rata penilaian independensi dalam kondisi corporate governance yang kuat lebih ...
 
Hipotesis 3 dan RQ
<ul><li>Dalam kondisi rotasi kantor akuntan, hakim mempersepsikan bahwa auditor memiliki kewajiban yang lebih rendah diban...
 
Diskusi <ul><li>Keterbatasan penelitian ini: </li></ul><ul><li>1. hanya meneliti dua level dari dua variabel (corporate go...
Judges Vs Jurists as Subjects <ul><li>Lebih mudah. </li></ul><ul><li>Juri eksperimental mungkin belum pernah dipilih sebag...
Implikasi <ul><li>Penelitian ini berimplikasi pada profesi auditor dan pasar modal US. </li></ul><ul><li>Persepsi hakim at...
<ul><li>Terima Kasih </li></ul>
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Strong Corporate Governance And Audit Firm Rotation

1,916 views

Published on

Published in: Business, Economy & Finance
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,916
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
12
Actions
Shares
0
Downloads
45
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Strong Corporate Governance And Audit Firm Rotation

  1. 1. STRONG CORPORATE GOVERNANCE AND AUDIT FIRM ROTATION: EFFECTS ON JUDGES’ INDEPENDENCE PERCEPTIONS AND LITIGATION JUDGMENTS Dipresentasikan Oleh: Nasyiah Hasanah P Khoirul Aswar CORPORATE GOVERNANCE YANG KUAT DAN ROTASI KANTOR AKUNTAN: PENGARUH TERHADAP PERSEPSI INDEPENDENSI HAKIM DAN JUDGMENT LITIGASI Marianne Moody Jennings, Kurt J Pany, and Philip, and Philip M. J. Reckers
  2. 2. Pendahuluan <ul><li>The Sarbanes-Oxley Act 2002 menyediakan berbagai inisiatif yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas audit dan mengembalikan kepercayaan investor pada pasar modal. </li></ul>
  3. 3. <ul><li>Berkaitan dengan auditor, penetapan undang-undang tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan independensi dalam fakta (independence in fact) dan dalam penampilan (independence in appearance). </li></ul><ul><li>1. SOX mereformasi hubungan antara dewan komisaris dan auditor eksternal. </li></ul><ul><li>Legislator mempertimbangkan rotasi patner audit dan kantor akuntan (audit firm) secara mandatori </li></ul><ul><li>Dengan membatasi durasi hubungan auditor-klien, maka dorongan ekonomi yang terkait dengan independensi yang dapat dikompromikan bisa dikurangi. </li></ul>
  4. 4. <ul><li>Puncaknya, SOX memandatkan level minimal baru mengenai independensi dan keahlian dewan komisaris seperti halnya keterlibatan dan review rotasi partner, tapi tidak mengharuskan kantor akuntan dirotasi. </li></ul><ul><li>Perusahaan tertarik untuk memenuhi standar governance SOX, tapi tetap resisten pada kebijakan rotasi kantor akuntan. </li></ul><ul><li>Pemerintah dan business press meyakini bahwa hubungan jangka panjang antara auditor dan manajemen akan mengurangi persepsi masyarakat atas independensi auditor dan kualitas audit. </li></ul>
  5. 5. Struktur Artikel <ul><li>Bagian pertama: Pendahuluan </li></ul><ul><li>Bagian Kedua : Latar Belakang Informasi dan Pengembangan hipotesis </li></ul><ul><li>Bagian Ketiga : Metode Penelitian </li></ul><ul><li>Bagian Keempat : Hasil Penelitian </li></ul><ul><li>Bagian Kelima : Diskusi </li></ul>
  6. 6. Latar Belakang dan Pengembangan Hipotesis <ul><li>Pentingnya independensi auditor, baik aktual maupun yang dipersepsikan orang lain telah diterima dalam teori dan oleh regulator. </li></ul><ul><li>De Angelo (1981a,1981b) mendefinisikan kualitas audit sebagai probabilitas bahwa auditor akan menemukan pelanggaran dalam sistem akuntansi dan melaporkan pelanggaran itu. </li></ul><ul><li>Auditor yang memiliki kepentingan ekonomi terhadap kliennya cenderung tidak melaporkan pelanggaran tsb atau kurang melakukan usaha untuk menemukan pelanggaran yang lain. </li></ul><ul><li>Potensi keuntungan jangka panjang akan mengakibatkan independensi profesional auditor dan atau independensi yang dipersepsikan orang lain hilang. </li></ul>
  7. 7. <ul><li>Tantangan hukum terbesar yang dihadapi auditor adalah argumen penggugat (dalam hal terjadi litigasi/tuntutan hukum) bahwa laporan audit yang tidak tepat telah diterbitkan untuk audit yang tidak sesuai standar dan/atau pelaporan terkait dengan independensi yang rusak. </li></ul><ul><li>Hilangnya independensi aktual berarti hilangnya objektivitas dalam mempertimbangkan bukti audit atau hilangnya objektivitas dalam pelaporan. </li></ul><ul><li>Hilangnya independensi aktual bersifat unobservable. </li></ul>
  8. 8. <ul><li>Sehingga….. </li></ul><ul><li>Penilaian independensi secara legal harus didasarkan pada persepsi hakim (atau juri) atas independensi auditor. </li></ul><ul><li>Standar SEC untuk independensi auditor juga didasarkan pada persepsi. </li></ul><ul><li>Pada thn 2000, SEC menyatakan bahwa tekanan yang menghalangi independensi bersifat tersembunyi dan sulit didokumentasikan, tapi merusak judgment. </li></ul><ul><li>SEC menegaskan the”appearance standard ” yang diterapkan untuk masalah yang berkaitan dengan pengaturan dan masalah litigasi. </li></ul><ul><li>SOX mendaftar larangan dalam aktivitas auditor dan konflik kepentingan yang melengkapi the appearance standard . </li></ul><ul><li>Dalam eksperimen ini, peneliti memanipulasi dua faktor yang terkait dengan independensi auditor- corporate governance dan rotasi auditor. </li></ul>
  9. 9. Keputusan Hakim <ul><li>Hakim sangat berpengalaman dalam seni mengevaluasi bukti. Hakim secara normatif harus memutuskan kasus secara tegas berdasarkan fakta dan hukum. </li></ul><ul><li>Tetapi penelitian menyatakan bahwa objektivitas hakim dapat dikompromikan. </li></ul><ul><li>Guthrie et al (2001) menyatakan bahwa sarjana hukum yang menampilkan beragam school of thought berpendapat bahwa hakim tidak menemukan fakta atau menerapkan prinsip hukum dalam keadaan yang sangat akurat dan tidak bias. </li></ul>
  10. 10. <ul><li>Keyakinan dan sikap mempengaruhi keputusan karena individu sering mengabaikan informasi yang relevan untuk mendukung keyakinan awalnya. (Mahoney 1976, Lord et al 1979 dll) </li></ul><ul><li>Secara historis, sikap hakim dan keputusannya berkorelasi sangat signifikan (Champagne et al,1981; Danelski,1966; dan Robbennolt,2005) </li></ul><ul><li>Di bidang akuntansi, eksperimen laboratorium menemukan bahwa sikap hakim dan judgment mereka terhadap tanggung jawab auditor berhubungan secara langsung dan interaktif dengan faktor lingkungan yang lain (Jennings et al.1991a,1991b, 1993; Anderson et al.1997) </li></ul>
  11. 11. <ul><li>Persepsi mengenai independensi auditor dan liability judgments dipengaruhi oleh kekuatan corporate governance. </li></ul><ul><li>SOX mereformasi hubungan antara dewan komisaris dengan auditor eksternal. Tingkat independensi dan keahlian anggota dewan komisaris mengurangi tekanan manajemen terhadap auditor. </li></ul><ul><li>Meski ada reformasi SOX, fleksibilitas masih tetap ada, misalnya: </li></ul><ul><li>- Pimpinan dewan komisaris bisa independen dari manajemen atau bagian dari manajemen. </li></ul><ul><li>- Proporsi direktur independen dalam dewan komisaris bisa bervariasi. </li></ul><ul><li>- Tingkat keahlian keuangan anggota dewan bisa bervariasi. </li></ul><ul><li>- Tingkat keahlian anggota komite audit bisa bervariasi. </li></ul><ul><li>- Ketekunan komite audit bisa bervariasi (mis: jumlah pertemuan dalam satu tahun, aktivitas yang dilakukan dll). </li></ul>Corporate Governance
  12. 12. <ul><li>Penelitian sebelumnya telah menunjukkan korelasi langsung antara kualitas pelaporan keuangan dan: </li></ul><ul><li>Independensi dewan komisaris dan komite audit </li></ul><ul><li>Keahlian keuangan,dan </li></ul><ul><li>Audit committee diligence (Ketekunan komite audit) </li></ul><ul><li>Peneliti menginvestigasi pengaruh peningkatan corporate governance (sesuai persyaratan minimal SOX) terhadap persepsi hakim mengenai independensi auditor dan kewajiban (auditor liabiliy) . </li></ul>
  13. 13. Rotasi Kantor Akuntan <ul><li>Banyak penelitian yang menyatakan bahwa rotasi kantor akuntan membuat auditor nampak lebih independen (Arel et al 2005, Brody and Moscove 1998 dll) </li></ul><ul><li>Masa kerja yang panjang akan membatasi kemampuan auditor untuk menerapkan objektivitas dan mengarahkan pada kualitas audit yang buruk dan kesalahan audit. </li></ul>
  14. 14. <ul><li>Peneliti mempertimbangkan persepsi hakim yang berhubungan dengan situasi dengan dan tanpa rotasi kantor akuntan. </li></ul><ul><li>Regulator dan badan nonregulator menyatakan perlunya rotasi kantor akuntan. </li></ul><ul><li>Lynn Turner (2002) menyatakan bahwa perlindungan terhadap independensi dan integritas audit harus dilakukan dengan cara rotasi kantor akuntan secara mandatori. </li></ul><ul><li>Namun penelitian GAO (2003) menyatakan bahwa perlu analisis lebih mendalam untuk menentukan keuntungan rotasi mandatori karena keuntungan rotasi lebih sulit diprediksi dan dikuantifikasi dibandingkan tambahan biayanya. </li></ul><ul><li>Penelitian ini mengkaji pengaruh rotasi kantor akuntan terhadap persepsi hakim mengenai independensi auditor dan kewajiban auditor (auditor liability). </li></ul><ul><li>Peneliti menggunakan eksperiman yang memanipulasi (1) kepatuhan minimal vs corporate governance yang kuat dan (2) rotasi kantor vs rotasi partner. </li></ul>
  15. 15. Hipotesis <ul><li>H1: Hakim akan mempersepsikan tingkat independensi auditor lebih tinggi dalam kondisi corporate governance yang lebih kuat. </li></ul><ul><li>H2: Hakim akan mempersepsikan tingkat independensi auditor lebih tinggi dalam kondisi rotasi auditor yang lebih tinggi. </li></ul>
  16. 16. Kewajiban Auditor <ul><li>Setelah memperoleh persepsi partisipan mengenai independensi auditor dan kredibilitas laporan keuangan, peneliti memberikan informasi kepada partisipan bahwa laporan keuangan tersebut salah saji. Selanjutnya peneliti meminta partisipan menilai kewajiban auditor (auditor liability). </li></ul><ul><li>Pengetahuan mengenai salah saji akan membatasi kemampuan hakim untuk mengevaluasi kinerja auditor secara objektif. </li></ul><ul><li>Hakim (juri) memproses informasi dari given outcome menjadi kondisi anteseden. Individu memfokuskan perhatiannya pada given outcome dan mencoba menjelaskan kejadian tersebut dengan menciptakan hubungan kausal dengan kejadian sebelumnya. </li></ul><ul><li>Kasus Arthur Anderson telah meningkatkan skeptisme publik terhadap independensi auditor. </li></ul>
  17. 17. <ul><li>Dalam konteks audit yang gagal, hakim akan merekonstruksi skenario atas kesalahan auditor pada lingkungan pengendalian yang lemah, misalnya rotasi kantor akuntan. </li></ul><ul><li>Materi kasus tsb tidak menyediakan informasi eksplisit bahwa perusahaan kehilangan independensi. Tapi, kondisi rotasi kantor akuntan menunjukkan usaha yang lebih tinggi untuk menjaga tingkat independensi dibanding hanya rotasi partner. </li></ul><ul><li>Rotasi patner saja, masih menunjukkan adanya “status quo” yang memunculkan kondisi di mana independensi auditor bisa dikompromikan untuk mencapai keuntungan personal. </li></ul><ul><li>Sehingga, hipotesis yang diajukan: </li></ul><ul><li>H3: untuk audit yang gagal mengidentifikasi kecurangan, hakim akan mempersepsikan kewajiban auditor yang lebih rendah dalam kondisi rotasi kantor akuntan. </li></ul>
  18. 18. Reseach Questions <ul><li>Selanjutnya untuk audit yang gagal dalam mengidentifikasi kecurangan laporan keuangan, apakah persepsi hakim mengenai kewajiban auditor merupakan hasil gabungan dari kekuatan corporate governance dan rotasi auditor? bila iya, bagaimana sifat interaksi tersebut? </li></ul>
  19. 19. Metode <ul><li>Participants </li></ul><ul><li>Eksperimen dilakukan selama program training pelatihan berkelanjutan di National Judicial College. </li></ul>
  20. 20. <ul><li>Research Task and Dependent Variables </li></ul><ul><li>Hakim diberi materi eksperimen yang mendiskripsikan skenario audit. Materi itu mencakup latar belakang informasi mengenai perusahaan klien audit yang memproduksi berbagai macam produk industri. </li></ul><ul><li>Setelah menerima informasi umum dan manipulasi rotasi audit dan corporate governance, hakim diminta menjawab pertanyaan berikut ini yang memungkinkan penilaian resepsi mereka terhadap independensi auditor: </li></ul>
  21. 21. <ul><li>Sejauh mana anda meyakini bahwa auditor eksternal, K&L, independen? </li></ul>
  22. 22. <ul><li>Selanjutnya, partisipan diberi informasi bahwa laba bersih tahun berjalan salah saji. Peneliti meminta pandangan hakim atas tanggung jawab auditor. Seorang karyawan yang tidak puas menggungkapkan bahwa penipuan yang melibatkan laba yang terlalu tinggi dipengaruhi oleh pengakuan pendapatan penjualan yang terlalu cepat dan tidak tepat. Tuntutan hukum diajukan ketika harga saham perusahaan turun setelah pengungkapan kecurangan. Materi eksperimen menginformasikan bahwa lemahnya internal control telah mengakibatkan kecurangan. Auditor telah diberitahu sebelumnya oleh komite audit mengenai lemahnya pengendalian intern. Respon hakim untuk pertanyaan berikutnya : </li></ul>
  23. 23. <ul><li>Sejauh mana anda meyakini bahwa auditor berkewajiban secara legal dan investor yang menggugat seharusnya diijinkan untuk medapatkan ganti rugi? </li></ul>
  24. 24. Independen Variables <ul><li>Struktur Corporate Governance </li></ul><ul><li>Level Rendah : Kepatuhan Minimal terhadap persyaratan corporate governance SOX </li></ul><ul><li>Level Tinggi (Kuat) </li></ul>
  25. 25. Independen Variables <ul><li>Rotasi Auditor </li></ul><ul><li>Variabel ini memiliki dua level:rotasi patner dan rotasi kantor akuntan. </li></ul><ul><li>Rotasi partner seperti yang disyaratkan SOX dikatagorikan sebagai kondisi independensi lemah dan rotasi kantor akuntan menunjukkan independensi yang lebih tinggi/kuat. </li></ul>
  26. 26. <ul><li>Manipulation Cheks </li></ul><ul><li>Prosentase subjek yang salah dalam dalam merespon manipulasi di-drop (9 dari 58). Jumlah sampel yang bisa digunakan 49. </li></ul><ul><li>Desain Eksperimental </li></ul><ul><li>Subjek secara random ditempatkan ke dalam satu dari empat bentuk kuesioner dalam desain between-subject 2 x 2 yang memanipulasi rotasi auditor mandatory (rotasi patner vs rotasi kantor akuntan) dan corporate governance (minimally compliant vs strong). </li></ul>
  27. 27. Hasil
  28. 28. <ul><li>Hipotesis 1 didukung, artinya rata-rata penilaian independensi dalam kondisi corporate governance yang kuat lebih besar secara siginifikan dari rata-rata pada kondisi minimally compliant . </li></ul><ul><li>Hipotesis 2 didukung, artinya rotasi kantor akuntan juga meningkatkan persepsi atas independensi. </li></ul>
  29. 30. Hipotesis 3 dan RQ
  30. 31. <ul><li>Dalam kondisi rotasi kantor akuntan, hakim mempersepsikan bahwa auditor memiliki kewajiban yang lebih rendah dibanding dalam kondisi rotasi patner. </li></ul><ul><li>Temuan ini mendukung Hipotesis 3. </li></ul><ul><li>Dari Figure 3, pengaruh rotasi berbeda tergantung pada level corporate governance </li></ul><ul><li>Dalam kondisi governance minimum, rotasi kantor akuntan mengarah pada judgment kewajiban yang lebih rendah dibanding rotasi patner. </li></ul><ul><li>Dalam kondisi corporate governance kuat, perbedaan rata-rata antara rotasi patner dan rotasi kantor akuntan tidak signifikan secara statistis. Ini yang menyebabkan interaksi antara manipulasi rotasi dan corporate governance signifikan. </li></ul>
  31. 33. Diskusi <ul><li>Keterbatasan penelitian ini: </li></ul><ul><li>1. hanya meneliti dua level dari dua variabel (corporate governance dan rotasi audit). </li></ul><ul><li>2. hanya meneliti satu kelompok stakeholder: hakim </li></ul>
  32. 34. Judges Vs Jurists as Subjects <ul><li>Lebih mudah. </li></ul><ul><li>Juri eksperimental mungkin belum pernah dipilih sebagai anggota juri. </li></ul><ul><li>Keputusan juri bersifat kolektif, bukan individual. </li></ul><ul><li>Juri lebih banyak mengabulkan gugatan dan lebih mudah menerima argumen kerugian ekonomi penggugat. </li></ul><ul><li>Jarang, karena mengunakan hakim sebagai subjek lebih sulit. </li></ul><ul><li>Hakim mungkin memiliki pengalaman langsung dengan kasus dalam penelitian ini. </li></ul><ul><li>Hakim lebih familiar dengan hukum. </li></ul><ul><li>Hakim lebih baik dari juri, khususnya dalam hal gugatan malpraktik profesional. </li></ul>Jurists Judges
  33. 35. Implikasi <ul><li>Penelitian ini berimplikasi pada profesi auditor dan pasar modal US. </li></ul><ul><li>Persepsi hakim atas independensi auditor dapat diperbaiki dengan memperkuat dewan komisaris dan rotasi kantor akuntan. </li></ul>
  34. 36. <ul><li>Terima Kasih </li></ul>

×