Sistem sosial budaya indonesia

16,389 views

Published on

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
16,389
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
7
Actions
Shares
0
Downloads
312
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Sistem sosial budaya indonesia

  1. 1. ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS PADJADJARAN SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA
  2. 2. •ASAL KATA SYSTEMA ; KESATUAN KOMPONEN YANG BERHUBUNGAN TERATUR •Suatu kompleksitas dari saling ketergantungan antar bagian-bagian,komponen-komponen, dan proses- proses yang melingkupi aturan-aturan tata hubungan yang dapat dikenali. •Suatu tipe serupa dari saling ketergantungan antar kompleksitas tersebut dengan lingkungan sekitarnya.
  3. 3. DEFINISI SISTEM AHLI DEFINISI LUDWIG VON BARTALANFY Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling terikat dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan ANATOL RAPOROT Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan satu sama lain. Menurut ANATOL RAPOROT Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan satu sama lain. L. ACKOF Sistem adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yang terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama lainnya NANDANG MULYANA Satu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang digunakan untuk mencapai tujuan.
  4. 4. Gambar SISTEM SISTEM HUBUNGAN SALING TERGANTUNG SUB SISTEM
  5. 5. 1. HIMPUNAN BAGIAN-BAGIAN 2. BAGIAN-BAGIAN ITU SALING BERKAITAN 3. SETIAP BAGIAN BEKERJA SECARA MANDIRI DAN BERSAMA DAN SALING MENDUKUNG 4. DITUJUKAN UNTUK MENCAPAI TUJUAN BERSAMA (SISTEM) 5. TERJADI DILINGKUNGAN YANG KOMPLEKS
  6. 6. DEFINISI SOSIAL SEGALA SESUATU YANG BERHUBUNGAN DENGAN SISTEM HIDUP BERSAMA (BERMASYARAKAT) DARI ORANG ATAU KELOMPOK ORANG YANG DIDALAMNYA ADA STRUKTUR SESUATU YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEGIATAN BERSAMA ANTAR MANUSIA
  7. 7. CARA ATAU SIKAP HIDUP MANUSIA DALAM HUBUNGANNYA SECARA TIMBAL BALIK DENGAN ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUPNYA YANG DIDALAMNYA SUDAH TERCAKUP HASIL CIPTA, RASA, KARYA BAIK FISIK MAUPUN PSIKOLOGIS, IDEAL DAN SPIRITUAL SEMUA HASIL CIPTA , RASA, DAN KARSA MANUSIA YANG DIHASILKAN DARI INTERAKSI ANTAR MANUSIA MAUPUN DENGAN LINGKUNGAN SEKITARNYA
  8. 8. DEFINISI MASYARAKAT SEBAGAI SISTEM SOSIAL BUDAYA AHLI DEFINISI MAC IVER DAN PAGE SISTEM KEBIASAAN DAN TATA CARA, WEWENANG DAN KERJA SAMA KELOMPOK, PENGAWASAN TINGKAH LAKU DAN KEBEBASAN RALPH LINTON KELOMPOK MANUSIA YANG HIDUP DAN BEKERJA SAMA CUKUP LAMA SEHINGGA MEREKA MENGATUR DIRI DAN MENGANGGAP MEREKA KESATUAN SOSIAL DENGAN BATAS YANG JELAS SELO SEOMARDJAN ORANG-ORANG YANG HIDUP BERSAMA YANG MENGHASILKAN BUDAYA NANDANG MULYANA SEKELOMPOK ORANG YANG BERINTERAKSI CUKUP LAMA SERTA MEMPUNYAI NORMA YANG MENGATUR HUBUNGAN DIANTARA PARA ANGGOTANYA
  9. 9. SYARAT SISTEM SOSIAL (ALVIN BERTRAND) DUA ORANG/ LEBIH INTERAK SI TUJUAN YANG DICAPAI STRUKTUR SIMBOL HARAPAN JADI PEDOMAN
  10. 10. KARAKTERISTIK SISTEM SOSIAL TALCOTT PARSONS1. DUA ORANG ATAU LEBIH SALING MEMPENGARUHI 2. SETIAP TINDAKAN MEMPERHITUNGKAN TINDAKAN ORANG LAIN 3. KADANG BERTINDAK BERSAMA UNTUK MENCAPAI TUJUAN BERSAMA
  11. 11. EKOLOGI DEMOGRAFI KEBUDAYAANKEPRIBADIAN WAKTU
  12. 12. TERBUKA TERTUTUP SIFAT SISTEM SOSIAL
  13. 13. 1. KOMUNIKASI 2. MEMELIHARA TAPAL BATAS 3. PENJALINAN SISTEM 4. SOSIALISASI 5. PENGAWASAN SOSIAL 6. PELEMBAGAAN 7. PERUBAHAN SOSIAL
  14. 14. DUA PENDEKATAN TEORITIS DALAM MELIHAT SISTEM SOSIAL DAN BUDAYA: STRUKTURAL FUNGSIONAL KONFLIK DIALEKTIKA
  15. 15. ISTILAH LAIN •INTEGRATION APPROACH •ORDER APPROACH •EQUILIBRIUM APPROACH •STRUCTURAL FUNGTIONAL APPROACH TOKOH-TOKOH • PLATO • AUGUSTE COMTE • HERBERT SPENCER • EMILE DURKHEIM • BRANISLAW MALINOWSKI • REDCLIFFE BROWN • TALCOT PARSON
  16. 16. Asumsi Dasar: MASYARAKAT TERINTEGRASI DIDASARKAN ATAS KESEPAKATAN PARA ANGGOTANYA TERHADAP NILAI DASAR KEMASYARAKATAN YANG DIJADIKAN ANUTAN DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT PENDEKATAN TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL
  17. 17. KESEPAKATAN MASYARAKAT DIJADIKAN GENERAL AGREEMENTS yang memiliki kemampuan untuk mengatasi PERBEDAAN-PERBEDAAN (PENDAPAT dan KEPENTINGAN) dari para anggotanya jadi MASYARAKAT SEBAGAI SUATU SISTEM YANG SECARA FUNGSIONAL TERINTEGRASI KEDALAM SUATU BENTUK EQUILIBRIUM PENDEKATAN TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL
  18. 18. ANGGAPAN DASAR  MASYARAKAT SEBAGAI SISTEM YANG TERDIRI DARI SUMSISTEM YANG BERHUBUNGAN  HUBUNGAN BERSIFAT GANDA DAN TIMBAL BALIK (SALING MEMPENGARUHI)  Secara FUNDAMENTAL, SISTEM SOSIAL BERGERAK KEARAH EQUILIBRIUM dan bersifat DINAMIS  DISFUNGSI/KETEGANGAN SOSIAL/ PENYIMPANGAN DENGAN SENDIRINYA TERATASI melalui PENYESUAIAN dan proses INSTITUSIONALISASI PENDEKATAN TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL
  19. 19.  PERUBAHAN SISTEM SOSIAL bersifat GRADUAL melalui PENYESUAIAN. Bukan bersifat REVOLUSIONER  PERUBAHAN terjadi melalui 3 macam kemungkinan: 1. PENYESUAIAN SISTEM SOSIAL terhadap PERUBAHAN DARI LUAR (extra systemic change) 2. PERTUMBUHAN melalui PROSES DIFFERENSIASI STRUKTURAL DAN FUNGSIONAL 3. PENEMUAN BARU oleh ANGGOTA MASYARAKAT  Faktor terpenting dalam INTEGRASI adalah KONSENSUS PENDEKATAN TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL
  20. 20. KRITIK TITIK TEKAN PADA PERANAN UNSUR- UNSUR NORMATIF dari TINGKAH LAKU SOSIAL (pengaturan secara NORMATIF terhadap HASRAT seseorang untuk menjamin STABILITAS SOSIAL) (David Lockwood) PENDEKATAN TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL
  21. 21. Menurut David Lockwood Terdapat SUB STRATUM yang berupa DISPOSISI-DISPOSISI yang mengakibatkan timbulnya PERBEDAAN LIFE CHANCES (kesempatan hidup) dan KEPENTINGAN- KEPENTINGAN YANG TIDAK NORMATIF DALAM SETIAP SITUASI SOSIAL terdapat 2 hal yaitu: TATA TERTIB yang bersifat NORMATIF SUB STRATUM yang melahirkan KONFLIK PENDEKATAN TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL
  22. 22. GAMBARAN SITUASI SOSIAL MENURUT DAVID LOCKWOD SUB STRATUM TATA TERTIB PENDEKATAN TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL
  23. 23. KENYATAAN YANG DIABAIKAN DALAM PENDEKATAN STRUKTURAL FUNGSIONAL 1. Setiap STRUKTUR SOSIAL mengandung KONFLIK dan KONTRADIKSI yang bersifat internal dan menjadi PENYEBAB PERUBAHAN 2. REAKSI suatu SISTEM SOSIAL terhadap PERUBAHAN yang datang dari luar (extra systemic change) tidak selalu bersifat Adjustive/tampak 3. Suatu SISTEM SOSIAL dalam waktu yang panjang dapat mengalami KONFLIK SOSIAL yang bersifat VISIOUS CIRCLE 4. Perubahan-perubahan sosial tidak selalu terjadi secara GRADUAL melalui penyesuaian, tetapi juga dapat terjadi secara REVOLUSIONER PENDEKATAN TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL
  24. 24. PERUBAHAN SOSIAL TERJADI AKIBAT KONFLIK DAN UNTUK MENGATASINYA DIPERLUKAN KOMPROMI DIANTARA YANG BERKONFLIK. AKIBAT KOMPROMI MENGHASILKAN KONDISI YANG BERBEDA DENGAN KONDISI AWAL Tokoh: DAHRENDORF
  25. 25. 1. PERUBAHAN SOSIAL ADALAH HAL YANG MELEKAT PADA SISTEM SOSIAL 2. KONFLIK MERUPAKAN GEJALA YANG MELEKAT PADA SISTEM SOSIAL 3. SETIAP SUBSISTEM MEMBERIKAN SUMBANGAN BAGI TERJADINYA DISINTERGRASI DAN PERUBAHAN SOSIAL 4. MASYARAKAT TERINTEGRASI ATAS DOMINASI DARI SATU KELOMPOK TERHADAP KELOMPOK LAINNYA
  26. 26. UNSUR-UNSUR ATAU SUBSISTEM YANG BERTENTANGAN dalam SUATU SISTEM SOSIAL atau KONTRADIKSI INTERN akibat DARI ADANYA PEMBAGIAN KEWENANGAN/OTORITAS yang TIDAK MERATA ANTAR SUBSISTE,dapat MENYEBABKAN TERJADINYA PERUBAHAN SOSIAL DALAM SISTEM SOSIAL YANG BERSANGKUTAN Contoh: REFORMASI DI INDONESIA
  27. 27. KARENA KEPENTINGAN SETIAP SUBSISTEM SUDAH TERWAKILI DENGAN ADANYA MEKANISME TERTENTU, SEHINGGA ADA KOMPROMI-KOMPROMI YANG DIANGGAP MENGUNTUNGKAN BAGI SETIAP SUBSISTEM YANG ADA DALAM SISTEM SOSIAL TERSEBUT
  28. 28. KEPENTINGAN-KEPENTINGAN YANG MEWAKILI SUBSISTEM DALAM SISTEM SOSIAL TERWAKILI OLEH ADANYA adanya ASSOSIASI TERKOORDINASI secara IMPERATIV (IMPETARATIVELY COORDINATED ASSOCIATIONS/ICA) DALAM SISTEM SOSIAL MASYARAKAT
  29. 29.  Terbentuk atas HUBUNGAN-HUBUNGAN KEKUASAAN antara beberapa KELOMPOK PEMERAN KEKUASAAN YANG ADA DALAM masyarakat  KEKUASAAN menunjukkan adanya faktor “PAKSAAN” oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain. Dalam ICA hubungan kekuasaan menjadi TERLEGITIMASI
  30. 30.  Dalam ICA terdapat RULING dan RULED (pemeran yang berkuasa dan pemeran yang dikuasai)  yang berkuasa berusaha mempertahankan STATUS QUO, yang dikuasai berusaha mendapatkan STATUS QUO  Terdapat DIKOTOMI antara DOMINATOR dan SUB DOMINATOR (DOMINATED GROUP dengan SUBJUGATED GROUP)
  31. 31. KEKUASAAN (POWER) dan OTORITAS (AUTHORITY) merupakan sumber yang langka dan selalu DIPEREBUTKAN dalam sebuah IMPERATIVELY COORDINATED ASSOCIATIONS DIMANA SETIAP ANGGOTA SISTEM SOSIAL AKAN BERUSAHA MENDAPATKAN POWER DAN OTORITAS TERSEBUT
  32. 32. DOMINATED SUBJUGATEDSUBJUGATED SUBJUGATED SUBJUGATED SUBJUGATED MENGUASAI DIKUASAI LEGITIMASI
  33. 33. DAHRENDORF dengan teori KONFLIK berusaha menyempurnakan pendapat KARL MARX mengenai REALITAS SOSIAL
  34. 34. 1. SISTEM SOSIAL selalu berada dalam KONFLIK yang terus menerus (CONTINUAL STATE OF CONFLICT) 2. Konflik tercipta karena KEPENTINGAN yang saling BERTENTANGAN dalam struktur sosial 3. Kepentingan yang saling bertentangan merupakan refleksi dari perbedaan dalam DISTRIBUSI KEKUASAAN antar kelompok yang MENDOMINASI dan TERDOMINASI 4. Kepentingan cenderung mempolarisasi kedalam dua kelompok kepentingan
  35. 35. 5. Konflik bersifat DIALEKTIKA (suatu konflik menciptakan suatu kepentingan yang baru, yang dibawah kondisi tertentu akan menurunkan konflik yang berikutnya) 6. Perubahan sosial adalah ciri/karakter yang selalu berada dimanapun (UBIQUITOUS FEATURE) dalam setiap sistem sosial dan akibat dari konflik. 7. Konflik dapat diatasi oleh kekuasaan yang dihimpun di dalam ICA.  ICA yang dominan dapat meredam konflik
  36. 36. Dalam tinjauan KONFLIK DIALEKTIKA, suatu KEPENTINGAN bisa dinegoisasikan antar kelompok dalam ICA jika sudah menjadi KELOMPOK KEPENTINGAN yang bersifat NYATA Sehingga, Bersatunya INDIVIDU yang memiliki KEPENTINGAN yang SAMA dalam sebuah kelompok yang TERORGANISIR menjadi hal yang penting.
  37. 37. Kepentingan yang SAMA dari beberapa INDIVIDU, jika tidak DIORGANISASI secara FORMAL kedalam suatu KELOMPOK, merupakan KEPENTINGAN SEMU karena tidak ada yang bisa mewakili/mengatasnamakan pemilik kepentingan
  38. 38. 1. KONDISI TEKNIS dari suatu organisasi/ TECHNICAL CONDITIONS OF ORGANIZATIONS (sejumlah orang yang mampu mengorganisasikan dan merumuskan LATENT INTEREST menjadi MANIFEST INTEREST) 2. KONDISI POLITIS dari suatu organisasi/ POLITICAL CONDITIONS OF ORGANIZATION (adanya KEBEBASAN POLITIK untuk berorganisasi yang diberikan oleh masyarakat) 3. KONDISI SOSIAL bagi suatu organisasi/SOCIAL CONDITIONS OF ORGANIZATIONS (adanya SISTEM KOMUNIKASI yang memungkinkan para anggota dari suatu kelompok semu berkomunikasi satu sama lain dengan mudah)
  39. 39. KONDISI TEKNIS KONDISI SOSIAL KONDISI POLITIS KELOMPOK KEPENTINGAN
  40. 40. KONFLIK TIDAK BISA DILENYAPKAN, TETAPI HANYA BISA DI KENDALIKAN AGAR KONFLIK LATENT TIDAK MENJADI MANIFEST DALAM BENTUK VIOLENCE/KEKERASAN
  41. 41. KONSILIASI (CONCILIATION) MEDIASI (MEDIATION) PERWASITAN (ARBITRATION)
  42. 42. TERWUJUD MELALUI LEMBAGA-LEMBAGA TERTENTU YANG MEMUNGKINKAN TUMBUHNYA POLA DISKUSI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN DIANTARA FIHAK- FIHAK YANG BERKONFLIK
  43. 43.  Bersifat OTONOM dengan WEWENANG untuk MENGAMBIL KEPUTUSAN tanpa CAMPUR TANGAN fihak lain  Kedudukan lembaga tersebut dalam masyarakt bersifat MONOPOLISTIS (hanya lembaga tersebut yang berfungsi demikian)  Peran lembaga harus mampu MENGIKAT KELOMPOK KEPENTINGAN yang BERLAWANAN. Termasuk KEPUTUSAN- KEPUTUSAN yang di HASILKAN  Harus bersifat DEMOKRATIS
  44. 44.  Masing-masing kelompok SADAR sedang BERKONFLIK  Kelompok-kelompok yang berkonflik TERORGANISIR secara JELAS  Setiap kelompok yang berkonflik harus PATUH pada RULE OF THE GAMES
  45. 45. Fihak yang berkonflik sepakat menunjuk fihak KETIGA untuk memberi “nasehat- nasehat” penyelesaian konflik MENGURANGI IRASIONALITAS KELOMPOK YANG BERKONFLIK
  46. 46. Dilakukan/terjadi jika fihak yang bersengketa bersepakat untuk menerima atau “terpaksa” menerima hairnya fihak ketiga yang akan memberikan “keputusan-keputusan” tertentu untuk mengurangi konflik
  47. 47. KONFLIK AKAN MENJADI KEKUATAN PENDORONG TERJADINYA PERUBAHAN- PERUBAHAN SOSIAL YANG TERUS BERLANJUT
  48. 48.  ADA SEGMENTASI DALAM KELOMPOK- KELOMPOK DENGAN KEBUDAYAAN BERBEDA  STRUKTUR SOSIAL TERBAGI KE DALAM LEMBAGA-LEMBAGA NONKOMPLEMENTER  KURANG ADANYA KONSENSUS  RELATIF SERING KONFLIK
  49. 49.  INTEGRASI SOSIAL TERCIPTA ATAS PAKSAAN DAN SALING KETERGANTUNGAN DALAM BIDANG EKONOMI  ADANYA DOMINASI POLITIK DARI SATU KELOMPOK TERHADAP KELOMPOK YANG LAIN
  50. 50. MASYARAKAT MAJEMUK TIDAK SAMA DENGAN MASYARAKAT DENGAN UNIT-UNIT KEKERABATAN YANG SEGMENTER MASYARAKAT MAJEMUK TIDAK SAMA DENGAN MASYARAKAT YANG TERDEFERENSIASI ATAU SPESIALISASI TINGGI
  51. 51. Adalah: Suatu masyarakat yang terbagi-bagi ke dalam berbagai kelompok berdasarkan garis keturunan tunggal, tetapi memiliki struktur kelembagaan yang bersifat homogen
  52. 52. Adalah Suatu masyarakat dengan tingkat differensiasi fungsional yang tinggi dengan banyak lembaga- lembaga kemasyarakatan yang saling komplementer dan saling tergantung
  53. 53. SOLIDARITAS MEKANIS DAN SOLIDARITAS ORGANIS sulit di tumbuhkan dalam MASYARAKAT MAJEMUK Karena Pengelompokan yang terjadi bersifat sesaat atas dasar kepentingan praktis
  54. 54.  DENGAN MUNCULNYA KONSENSUS PADA SEBAGIAN BESAR ANGGOTA MASYARAKAT TENTANG NILAI KEMASYARAKATAN YANG FUNDAMENTAL  MUNCULNYA BERBAGAI KESATUAN SOSIAL (cross cutting affiliations) SEHINGGA TERJADI LOYALITAS GANDA (cross cutting loyalities)
  55. 55. KESATUAN SOSIAL MASYARAKAT TERINTEGRASI
  56. 56. TERJADI 2 (dua) TNGKATAN KONFLIK KONFLIK BERSIFAT IDEOLOGIS KONFLIK BERSIFAT POLITIS
  57. 57.  KONFLIK YANG TERJADI ANTARA SISTEM NILAI YANG DIANUT OLEH ANGGOTA MASYARAKAT DAN NILAI TERSEBUT DIJADIKAN IDEOLOGI DARI KESATUAN SOSIAL. HAL INI TERJADI JIKA SETIAP KESATUAN SOSIAL MEMPUNYAI NILAI YANG DIJADIKAN IDEOLOGI DAN SALING BERTENTANGAN
  58. 58.  KONFLIK YANG TERJADI KARENA ADANYA PERTENTANGAN DALAM PEMBAGIAN STATUS KEKAUSAAN DAN SUMBER-SUMBER EKONOMI YANG TERBATAS ADANYA DI DALAM MASYARAKAT
  59. 59. JIKA MASYARAKAT BERADA DALAM SITUASI KONFLIK, MAKA SETIAP ANGGOTA ATAU KESATUAN SOSIAL AKAN BERUSAHA MENGABAIKAN PERBEDAAN GUNA MEMPERKOKOH SOLIDARITAS ANGGOTA, MEMBENTUK ORGANISASI KEMASYARAKATAN untuk KESEJAHTERAAN dan PERTAHANAN BERSAMA
  60. 60.  SEBAGIAN BESAR ANGGOTA MASYARAKAT BERSEPAKAT TENTANG BATAS-BATAS TERITORIAL DARI NEGARA SEBAGAI SUATU KEHIDUPAN POLITIK  SEBAGIAN BESAR ANGGOTA MASYARAKAT BERSEPAKAT MENGENAI STRUKTUR PEMERINTAHAN DAN ATURAN-ATURAN DALAM PROSES POLITIK YANG BERLAKU BAGI SELURUH MASYARAKAT (William Liddle)
  61. 61. STRUKTUR MAJEMUK MASYARAKAT INDONESIA
  62. 62. KARAKTERISTIK MASYARAKAT INDONESIA  MASYARAKAT INDONESIA SANGAT HETEROGEN BAIK SECARA VERTIKAL MAUPUN HORIZONTAL  MASYARAKAT INDONESIA MEMILIKI SUSUNAN DENGAN CIRI PLURALITAS YANG SANGAT TINGGI  AKIBATNYA MASYARAKAT INDONESIA SANGAT RAWAN TERJADI KONFLIK  DENGAN DEMIKIAN MASYARAKAT INDONESIA DIKATEGORIKAN SEBAGAI MASYARAKAT MAJEMUK
  63. 63.  MASYARAKAT MAJEMUK (PLURAL SOCIETIES) YANG TERDIRI ATAS DUA ATAU LEBIH ELEMEN YANG HIDUP SENDIRI-SENDIRI TANPA ADA PEMBARUAN SATU SAMA LAIN DALAM KESATUAN POLITIK (Furnival)  TIDAK ADA PERMINTAAN SOSIAL YANG DIHAYATI ANGGOTA MASYARAKAT YANG MENYEBABKAN MUNCULNYA KARAKTERISTIK PEREKONOMIAN YANG KHAS/BERBEDA
  64. 64.  SETIAP ANGGOTA MASYARAKAT KURANG MEMILIKI LOYALITAS TERHADAP MASYARAKAT SEBAGAI SUATU SISTEM  MASYARAKAT SECARA KESELURUHAN KURANG MEMILIKI HOMOGENITAS KEBUDAYAAN  ANGGOTA MASYARAKAT KURANG MEMILIKI DASAR-DASAR UNTUK SALING MEMAHAMI SATU SAMA LAIN
  65. 65.  MAJEMUK secara HORIZONTAL  MAJEMUK secara VERTIKAL
  66. 66.  MASYARAKAT MAJEMUK INDONESIA DAPAT DIAMATI DENGAN DUA PENDEKATAN YAITU KONFLIK DIALEKTIKA dan STRUKTURAL FUNGSIONAL.  KONFLIK DAN KONSENSUS MERUPAKAN GEJALA YANG SELALU ADA DALAM MASYARAKAT MAJEMUK INDONESIA
  67. 67.  STATUS ADALAH KEDUDUKAN DALAM STRUKTUR SOSIAL YANG MENEMPATKAN INDIVIDU DALAM SISTEM SOSIAL (MASYARAKAT) ASPEK STATIS  PERANAN ADALAH POLA PERILAKU YANG DIHARAPKAN DARI INDIVIDU SESUAI DENGAN STATUS YANG DISANDANGNYA ASPEK DINAMIS
  68. 68. DENGAN DEMIKIAN DALAM SUATU SISTEM SOSIAL, INDIVIDU AKAN MENDUDUKI POSISI TERTENTU (STATUS) DAN JUGA HARUS BERTINDAK (PERAN) SESUAI DENGAN STATUS YANG DISANDANGNYA YANG DIATUR DALAM NORMA ATAUA ATURAN YANG TELAH DISEPAKATI BERSAMA AKIBATNYA MUNCUL DIFERENSIASI SOSIAL DALAM MASYARAKAT
  69. 69.  MUNCUL KARENA ADANYA PERBEDAAN DALAM MASYARAKATSEPERTI PERBEDAAN AGAMA, RAS, ETNIS, CLAN, PEKERJAAN, BUDAYA, J ENIS KELAMIN DAN LAIN SEBAGAINYA  PERBEDAAN YANG ADA TIDAK DIKLASIFIKASIKAN SECARA BERTINGKAT/VERTIKAL  PERBEDAAN YANG ADA BERSIFAT HORIZONTAL  DIFERENSIASI ADALAH KLASIFIKASI TERHADAP PERBEDAAN YANG BIASANYA SAMA (HORISONTAL)
  70. 70.  Ciri Fisik. Misalnya : warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dsb.  Ciri Sosial. karena perbedaan cara pandang dan pola perilaku dalam masyarakat contohnya : pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang karyawan kantor.  Ciri Budaya, berhubungan dengan pandangan hidup, nilai, dan norma, misal religi, sistem kekeluargaan, ketangguhan (etos)
  71. 71.  Diferensiasi Ras. Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawan yang sama. Diferensiasi ras berarti pengelompokan masyarakat berdasarkan ciri- ciri fisiknya, bukan budayanya.  Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis). Menurut Hassan Shadily MA, suku bangsa atau etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis. Diferensiasi suku bangsa merupakan penggologan manusia berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras.  Namun suku bangsa memiliki ciri-ciri paling mendasar yang lain, yaitu adanya kesamaan budaya. Suku bangsa memiliki kesamaan berikut : - ciri fisik - kesenian - bahasa daerah - adat istiadat
  72. 72.  Klen (Clan) sering juga disebut kerabat luas atau keluarga besar. Klen merupakan kesatuan keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adat (tradisi). Klen adalah sistem sosial yang berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang sama umumnya terjadi pada masyarakat unilateral baik melalui garis ayah (patrilineal) maupun garis ibu (matrilineal).
  73. 73.  Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal) antara lain terdapat pada: › Masyarakat Batak (dengan sebutan Marga) › Masyarakat Minahasa (klennya disebut Fam), › Masyarakat Ambon (klennya disebut Fam) › Masyarakat Flores (klennya disebut Fam)  Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal) antara lain terdapat pada masyarakat Minangkabau, Klennya disebut suku yang merupakan gabungan dari kampuang-kampuang.
  74. 74.  Diferensiasi agama merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan agama/kepercayaannya. Komponen-komponen Agama: ・ Emosi keagamaan, yaitu suatu sikap yang tidak rasional yang mampu menggetarkan jiwa, misalnya sikap takut bercampur percaya. ・ Sistem keyakinan, terwujud dalam bentuk pikiran/gagasan manusia seperti keyakinan akan sifat-sifat Tuhan, wujud alam gaib, kosmologi, masa akhirat, cincin sakti, roh nenek moyang, dewa-dewa, dan sebagainya. ・ Upacara keagamaan, yang berupa bentuk ibadah kepada Tuhan, Dewa- dewa dan Roh Nenek Moyang. ・ Tempat ibadah, seperti Mesjid, Gereja, Pura, Wihara, Kuil, Klenteng. ・ Umat, yakni anggota salah satu agama yang merupakan kesatuan sosial.
  75. 75.  Agama dan Masyarakat. Dalam perkembangannya agama mempengaruhi masyarakat dan demikian juga masyarakat mempengaruhi agama atau terjadi interaksi yang dinamis. Di Indonesia, kita mengenal agama Islam, Katolik, Protestan, Budha dan Hindu. Disamping itu berkembang pula agama atau kepercayaan lain, seperti Khong Hu Chu, Aliran Kepercayaan, Kaharingan dan Kepercayaan- kepercayaan asli lainnya.
  76. 76.  Diferensiasi profesi merupakan pengelompokan masyarakat yang didasarkan pada jenis pekerjaan atau profesinya.  Profesi biasanya berkaitan dengan suatu ketrampilan khusus. Misalnya profesi dosen memerlukan ketrampilan khusus, seperti : pandai berbicara, suka membimbing, sabar, dsb.  Berdasarkan perbedaan profesi kita mengenal kelompok masyarakat berprofesi seperti guru, dokter, pedagang, buruh, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.  Perbedaan profesi biasanya juga akan berpengaruh pada perilaku sosialnya. Contohnya, perilaku seorang guru akan berbeda dengan seorang dokter ketika keduanya melaksanakan pekerjaannya.
  77. 77.  Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis).  Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya.  Atas dasar itu, terdapat kelompok masyarakat laki-laki atau pria dan kelompok perempuan atau wanita.
  78. 78.  Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis).  Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya.  Atas dasar itu, terdapat kelompok masyarakat laki-laki atau pria dan kelompok perempuan atau wanita.
  79. 79.  Diferensiasi ini merupakan pengelompokan manusia berdasarkan asal daerah atau tempat tinggalnya, desa atau kota.  Terbagi menjadi: - masyarakat desa : kelompok orang yang tinggal di pedesaan atau berasal dari desa; - masyarakat kota : kelompok orang yang tinggal di perkotaan atau berasal dari kota. Perbedaan orang desa dengan orang kota dapat kita temukan dalam hal-hal berikut ini : perilaku,tutur kata, cara berpakaian, cara menghias rumah, dsb.
  80. 80.  Demi menampung aspirasi masyarakat untuk turut serta mengatur negara/ berkuasa, maka bermunculan banyak sekali partai.  Diferensiasi partai adalah perbedaan masyarakat dalam kegiatannya mengatur kekuasaan negara, yang berupa kesatuan- kesatuan sosial, seazas, seideologi dan sealiran.

×