Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
LAPORAN KEUANGAN PROFORMA 
PT. SEPATU BATA TBK. 
Periode 2008-2012 
Putri Permatasari Husa, SE, M.Buss. 
Disusun oleh: 
Ke...
BAB I 
Gambaran Umum Perusahaan 
2 
A. Profil Perusahaan 
Pada saat ini, industri manufaktur sudah berkembang pesat di Ind...
3 
1. Dewan Komisaris: 
 Marcello Pace 
 Jorge Domingo Carbajal Gutierrez 
 Michael Graham Voisey Middleton 
 Hanafiah...
4 
 Kartini Muljadi & Rekan 
Jalan Gunawarman No. 18, Kebayoran Baru, Jakarta 12110. 
7. Bank: 
 Bank Negara Indonesia T...
yaitu saat izin dagang Bata "dipindahkan" kepada mereka dan PT. Sepatu Bata, 
Tbk menjadi perusahaan PMDM. 
Merek berlisen...
Culture, Perusahaan Bata Memiliki tradisi untuk menjadi perusahaan yang 
berkontribusi untuk kesejahteraan masyarakat dise...
Bagian produksi merupakan bagian yang merealisasikan seluruh planning dan 
konsep yang ingin di hasilkan menjadi suatu pro...
8 
 Human Resources 
Bagian ini merupakan divisi yang berkaitan dengan segala hal mengenai sumber 
daya manusia didalam p...
BAB II 
Latar Belakang Analisis 
Analisis sangat bergantung pada informasi laporan keuangan perusahaan dan 
merupakan sala...
BAB III 
Analisis Laporan Keuangan Proforma 
10 
A. Analisis Rasio 
1. Rasio Likuiditas 
Merupakan rasio yang digunakan un...
2010 295496348 141757440 2,08 
2011 316645577 148822766 2,10 
2012 357373694 168267966 2,12 
Rasio Lancar 
2008 2009 2010 ...
tersebut diakibatkan adanya kenaikan aktiva lancar perusahaan yang diikuti dengan 
penurunan kewajiban lancarnya. Sempat m...
2010 295496348 191217901 141757440 0,74 
2011 316645577 193997433 148822766 0.82 
2012 357373694 221854075 168267966 0.81 ...
ini, rasio cepat perusahaan menurun 4%. Namun perusahaan masih bisa 
mempertahankan eksistensinya, hal ini terbukti pada t...
Rasio Kas 
Grafik 1.3 Grafik Rasio Kas 
0.68 
0.66 
0.64 
0.62 
0.60 
0.58 
0.56 
Berdasarkan analisa laporan keuangan dap...
16 
2. Rasio Aktivitas 
Rasio ini mengukur sejauh mana efektivitas penggunaan aset dengan melihat 
tingkat efektivitas ase...
2012 751449338 
31449167 24 15 
Rasio Perputaran Piutang 
2008 2009 2010 2011 2012 
17 
*dalam ribuan rupiah 
Tabel 2.1 Ra...
piutang. Perusahaan sebaiknya dapat menekan penjualan kreditnya agar rasio 
perputaran piutangnya dapat membaik. Hal ini d...
2011 369611149 
193997433 1.91 192 
2012 400963064 
221854075 1,81 202 
Rasio Perputaran Persediaan 
184 186 
206 
192 
20...
tidak seimbang dengan kenaikan harga pokok penjualannya. Rasio Perputara 
Persediaan yang rendah dapat terjadi karena peru...
2010 644189190 295496348 3,41 
2011 678591535 
316645577 3,39 
2012 751449338 
357373694 3,47 
Rasio Perputaran Aktiva Tet...
2010 hingga 2011 karena aktiva tetap yang dimiliki perusahaan terus meningka t 
meskipun jumlahnya tidak signifikan. Pada ...
2012 751449338 
574107994 1,31 
Rasio Perputaran Total Aktiva 
2008 2009 2010 2011 
23 
*dalam ribuan rupiah 
Tabel 2.4 Ra...
adanya kombinasi dari hal berikut: kenaikan kas yang sebagian besar merupakan 
simpanan dalam deposito berjangka, kenaikan...
2011 56615123 678591535 
0,08 
2012 69343398 751449338 
0,09 
Profit Margin 
0.09 0.09 
2008 2009 2010 2011 2012 
25 
*dal...
stabil hingga tahun 2010. Pada tahun 2011 profit margin perusahaan menurun 1% 
menjadi 0,08. Hal ini disebabkan oleh penur...
ROA 
Grafik 3.2 Return On Total Asset 
Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa perusahaan memiliki ROA yang 
0.45 
0.40 ...
28 
Dapat dihitung dengan formula: 
Laba bersih 
Modal saham 
TAHUN LABA BERSIH* MODAL 
SAHAM* 
RETURN ON 
TATAL 
EQUITY(R...
ROE 
Grafik 3.3 Return On Equity (ROE) 
Berdasarkan grafik di atas, ROE perusahaan pada tahun 2008 sebesar 12,12 
14.00 
1...
30 
4. Rasio Solvabilitas. 
Rasio yang mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemliknya dengan dana 
yang disedia...
Rasio Total Hutang terhadap Total Aset 
Grafik 4.1 Rasio total hutang terhadap total aset 
Berdasarkan grafik di atas dapa...
Rasio TIE 
32 
Dapat dihitung dengan formula: 
Laba sebelum bunga dan pajak 
Bunga 
TAHUN LABA SEBELUM 
BUNGA dan PAJAK* 
...
Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa rasio TIE perusahaan pada 
tahun 2008 adalah 189,46 yang berarti setiap ...
TAHUN EBIT BUNGA 
fixed charge coverage 
31.78 
200.00 
180.00 
160.00 
140.00 
120.00 
100.00 
80.00 
60.00 
40.00 
20.00...
Akan tetapi tahun 2012 rasio menunjukkan angka nol “0” , dikarenakan tidak ada pajak 
bunga yang ditanggung oleh perusahaa...
BAB IV 
KESIMPULAN 
Berdasarkan analisis rasio dan proforma diatas, dapat disimpulkan bahwa PT 
Sepatu Bata Tbk ini mempun...
BAB V 
SARAN 
Dari kelemahan yang dimiliki oleh PT. Sepatu Bata Tbk diatas, sebaiknya 
perusahaan tersebut mengurangi peng...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

analisa laporan keuangan dan proyeksi PT Sepatu Bata 2008-2012/2013-2016

30,311 views

Published on

Pembahasan tentang perhitugan rasio atas laporan keuangan PT sepatu bata tahun 2008-2012 yang diproyeksikan untuk 4 tahun kedepan tahun 2013-2016 sekaligus tuhas akhir kami pada mata kuliah Analisa Laporan keuangan (praktik ) yang diampu oleh ibu Putri Permatasari Husa, SE,M.Buss. D3 Akuntansi Angkatan 2012. FEB-UNS.
#laporanproforma

Published in: Education
  • Be the first to comment

analisa laporan keuangan dan proyeksi PT Sepatu Bata 2008-2012/2013-2016

  1. 1. LAPORAN KEUANGAN PROFORMA PT. SEPATU BATA TBK. Periode 2008-2012 Putri Permatasari Husa, SE, M.Buss. Disusun oleh: Kelompok 5 CAHYA PAMBARAP F3312033 GARNIS NURHIDAYAH F3312064 REBECA ARLINDA PI F3312105 PROGRAM STUDI D3 AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2014 1
  2. 2. BAB I Gambaran Umum Perusahaan 2 A. Profil Perusahaan Pada saat ini, industri manufaktur sudah berkembang pesat di Indonesia. Banyak perusahaan bermunculan dan melakukan suatu kegiatan manufaktur dan proses produksi. Perusahaan-perusahaan tersebut setiap waktu berusaha untuk meningkatkan kualitas hasil produksi. Perusahaan bersaing untuk mendapat pasar yang lebih banyak dan berupaya mendapat perhatian dari para konsumen. Setiap industri dituntut untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi perusahaan untuk mengahdapi persaingan yang ada saat ini. Karena dengan hal ini, perusahanan manufaktur tersebut akan terus mendapat kepercayaan dari konsumen. Disini perusahaan bidang industri manufaktur harus menjaga proses produsksi agar berjalan dalam kondisi operasi yang optimal. Optimal disini berarti dapat memenuhi permintaan konsumen dengan tepat waktu dan berkualitas. Untuk mencapai hal tersebut, banyak faktor yang harus diperhatikan. PT. Sepatu Bata Tbk. merupakan perusahaan industri manufaktur yang menghasilkan produk sepatu dan sandal, baik sepatu resmi dan santai untuk pria maupun wanita. PT. Sepatu Bata Tbk. ini melakukan proses produksi secara terus-menerus dan dituntut untuk menghasilkan produk dengan baik dan tepat waktu. Karena produk sepatu yang dihasilkan ini merupakan salah-satu produk yang diminat i konsumen di Indonesia dari kalangan menengah kebawah sampai kalangan menengah ke atas. Struktur organisasi PT Sepatu Bata Tbk kami sajikan di dalam lampira n. Berikut ini adalah profil perusahaan secara singkat.
  3. 3. 3 1. Dewan Komisaris:  Marcello Pace  Jorge Domingo Carbajal Gutierrez  Michael Graham Voisey Middleton  Hanafiah Djajawinata  Farid Harianto 2. Dewan Direksi:  Alberto Errico  Fabio Bellini  Ricardo Lumalessil  Solaiappan Mariappan 3. Sekretaris Perusahaan:  Is Sugiyono 4. Kantor:  Kantor Pusat Graha Bata Jl. R.A Kartini kav. 28 Cilandak Barat, Jakarta Selatan 12430 Telp. +62 21 750 5353, Fax. +62 21 750 5354  Pabrik Purwakarta Jl. Raya Cibening Kecamatan Campaka Purwakarta 41181 Telp. +62 264 203 870, 203 871, Fax. +62 264 203 860 5. Akuntan Publik:  Kantor Akuntan Purwanto, Suherman & Surja.  Ernst & Young 6. Penasehat Hukum:
  4. 4. 4  Kartini Muljadi & Rekan Jalan Gunawarman No. 18, Kebayoran Baru, Jakarta 12110. 7. Bank:  Bank Negara Indonesia Tbk, Cabang Tebet  The Hongkong Shanghai Banking Co. Ltd (HSBC) 8. Kantor Penunjang Pasar Modal:  PT. Blue Chip Mulia Gedung Bina Mulia I Lt.4, Jl. HR. Rasuna Said kav. 10 Kuningan Jakarta 12950 B. Sejarah Singkat Perusahaan Bata atau T.&A. Bata Shoe Company terdaftar di Zlin, Ceko (Dulu Cekoslovakia) oleh dua bersaudara Tomáš, Anna dan Antonín Bata (1894). Perusahaan sepatu raksasa keluarga ini mengoperasikan empat unit bisnis internasional: Bata Eropa, Bata Asia-Pasifika, Afrika, Bata Amerika Latin dan Bata Amerika Utara. Produk perusahaan ini hadir di lebih dari 50 negara dan memiliki fasilitas produksi di 26 negara. Sepanjang sejarahnya, perusahaan ini telah menjual sebanyak 14 milyar pasang sepatu. Di Indonesia pengoperasian penjualan sepatu Bata dijalankan oleh PT. Sepatu Bata, Tbk. Pabrik perusahaan ini pertama kali berdiri pada tahun 1939, sejauh ini telah menghasilkan capaian 7 juta pasang alas kaki setahun, dan terdiri dari 400 model sepatu, sepatu sandal dan sandal, dari kulit, karet dan plastik. Sebelum tahun 1978, status Bata di Indonesia adalah PMA, sehingga dilarang menjual langsung ke pasar. Bata menjual melalui para penyalur khusus (depot) dengan sistem konsinyasi. Status para penyalur tersebut diubah dan pada 1 Januari 1978,
  5. 5. yaitu saat izin dagang Bata "dipindahkan" kepada mereka dan PT. Sepatu Bata, Tbk menjadi perusahaan PMDM. Merek berlisensi Perusahaan, selain merek Bata utama, termasuk North Star, Power, Bubblegummers, Marie-Claire dan Weinbrenner. Perusahaan ini juga tetap sebagai anggota dari Organisasi Sepatu Bata internasional. Yang berlokasi di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, 12750. Yang didirikan di Indonesia pada tanggal 15 Oktober 1931 dengan akte notaris Adrian Hendrick Van Ophuisjen No. 64, dengan nama Nederlandsch-Indische Schoenhande l Maatschappij Bata, kemudian tanggal 29 Desembar 1931 berubah namanya menjadi PT Sepatu Bata. Perusahaan ini berkantor pusat dulunya di Jalan TMP Kalibata, tetapi sekarang berpindah di daerah jalan T.B Simatupang karena proyek Kalibata City. Pada tahun 1995 pabrik baru di buka di Purwakarta Jawa Barat. Sampai saat ini perusahaan ini adalah pelopor perusahaan alas kaki di Indonesia. Agar tetap dapat bersaing di pasar global, maka semua upaya dilakukan seperti perbaikan teknologi dan efisiensi produksi agar tetap dapat bersaing. Salah satu yang tetap harus dipertahankan adalah kinerja keuangan perusahaan. Kondisi keuangan harus selalu berada dalam standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan PT Sepatu Bata adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri alas kaki dan juga mengacu kepada standar industri sejenis. Corporate initiatives, Menjadikan Bata sebagai lembaga internasional yang memiliki gagasan dan kreativitas yang tinggi serta menciptakan kondisi yang merangsang untuk berfikir secara internasional. Bata Culture menciptakan kesempatan yang sama bagi semua karyawan untuk mendapatkan promosi atau pelatihan dan pendidikan. Dengan mendapatkan training tersebut, diharapkan karyawan memperoleh keahlian yang pada akhirnya bisa mendapatkan promosi untuk level internasional. 5
  6. 6. Culture, Perusahaan Bata Memiliki tradisi untuk menjadi perusahaan yang berkontribusi untuk kesejahteraan masyarakat disekitar kegiatan usaha perusahaan. Bata Bekerja keras untuk membangun hubungan jangka panjang dengan suplier dan distributornya. kegiatan Usaha Bata di seluruh dunia, dipastikan dilaksanakan secara etis. Perkembangan PT. Sepatu Bata Tbk. Di Indonesia dari tahun ke-tahun:  Tahun 1931, didirikan di Indonesia sebagai importir sepatu.  Tahun 1940, produksi dimulai di pabrik Kalibata di Jakarta Selatan.  Tahun 1982, tercatat di Bursa Efek Jakarta pada tanggal 24 Maret.  Tahun 1994, menyelesaikan pembangunan pabrik Purwakarta.  Tahun 2004, memperoleh Lisensi Import dan Distribusi Umum.  Tahun 2008, pabrik tanah Kalibata dijual dan produksi dipindahkan ke 6 Purwakarta.  Tahun 2008, administrasi dan kantor pemasaran dipindahkan ke Graha Bata, Cilandak Barat, Jakarta.  Tahun 2009, pembukaan toko Bata terbesar dan menjadi unggulan di Mall Artha Gading Jakarta, Indonesia.  Tahun 2010, membuka konsep kios baru dengan merek PataPata. Jabatan-jabatan :  Presiden Direktur Jabatan ini memiliki fungsi yang menentukan jalannya perusahaan yang ditinja u dari egala aspek, baik itu menentukan jalannya produksi, pemasaran dan manajemen perusahaan perusahaan secara keseluruhan. Dalam hal ini, Presiden Direktur lain dari departemen-departemen yang ada dalam perusahaan tersebut.  Production
  7. 7. Bagian produksi merupakan bagian yang merealisasikan seluruh planning dan konsep yang ingin di hasilkan menjadi suatu produkjadi yan akan dikeluarkan ke pasaran. Bagian ini bertanggungjawab atas jalannya proses produksi yang dihasilkan dengan memenuhi estimasinya. 7  Purchasing Bagian ini berfungsi dimana melakukan pembelian dan pemesanan. Pembelia n dan pemesana dilakukan bagian purchasing antara lain dalam hal pembelia n material. Bagian purchasing yang melakukan pemesanan material yang dibutuhkan untuk keperluan produksi. Dan tentunya pembelian dan pemesanan yang dilakukan sesuai dengan yang dibutuhkan.  Product Development Support Product Development Support sebagai bagian yang berfungsi untuk merancang dan mengembangkan produk yang udah ada, agar produk tersebut dapat mengikuti perkembangan tren mode terkini. Dimulai dengan membuat konsep hingga menjadi sebuat prototype produk yang dikembangkan. Setelah itu produk diajukan untuk menjadi produk yang akan dibut masal dan dipasarkan.  Marketing Marketing merupakan bagian yang menjalankan tugas pemasaran produ yang telah dihasilkan terhadap konsumen. Bagian marketing juga membuat suatu Production Estimate yang diberikan ke bagian produksi.dimana ddalamnya berisi mengenai berap banyakn jumlah produk yang diestimasikan dalam produksi.  Financial Departemen financial memiliki fungsi sebagai accounting perusahaan ini. Kmudian bagian finansial berfungsi sebagai pemegang pengendalian data, baik hal penjualan maupun pembelia.
  8. 8. 8  Human Resources Bagian ini merupakan divisi yang berkaitan dengan segala hal mengenai sumber daya manusia didalam pabrik. Baik itu hal perekrutan pegawai, kesejahteraan pegawai sampai denga pemberhentisn masa kerja pegawai.  Merchandising Bagian merchandising memiliki tugas untuk menyerap tren pasar untuk diterapkan kedalam produksi. Bagiann ini juga bertugas untuk membuat Sales Report, dimana laporan ini digunakan sebagai dasar pembuatan planning kedepan serta dipakai untuk penyeleki produk-produk yang akan dijual untuk waktu yang akan datang.  Costing Bagian costing berfungsi untuk merincikan jumlah pengeluaran biaya yang dikeluarkan untuk keperluan dalam menghasilkan produk, sebagai contoh biaya-biaya material yang harus dikeluarkan dan hal itu semuanya tentuang didalam costing ticket.
  9. 9. BAB II Latar Belakang Analisis Analisis sangat bergantung pada informasi laporan keuangan perusahaan dan merupakan salah satu sumber informasi yang penting disamping informasi mengenai kondisi industri, seperti bunga pasar perusahaan, kondisi perekonomian, kualitas menajemen dan hal yang lainnya sebagai asumsi lain yang mempengaruhi hasil analisis. Untuk dapat menganalisa kinerja perusahaan dalam kemampuannya memperoleh laba dan kegiatan operasionalnya kita dapat mengukur lewat bergai macam rasio yang dibandingkan dengan perusahaan lain dalam satu industri yang sama. Dewasa ini banyak kita jumpai industri besar salah satunya pada industr i produksi sepatu. Di Indonesia kita banyak menjumpai merk sepatu yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat mulaidari merk local dan internas ional, seperti Ando, Bata, Nevada, New Era, Buccheri dan lain sebagainya. Hari ini banyak sekali merk sepatu lokal yang namanya mulai meredup. Pada makalah kali ini kami ingin menganalisis salah satu produk local yaitu sepatu Bata yang pada tahun 2000-an namanya cukup dikenal. PT sepatu Bata yang berdiri pada tahun 1931 dengan nama NederlandschIndische Schoenhandel Maatschappij Bata ini diperkirakan akan mempunyai pangsa pasar yang potensial di masa yang akan datang. Akan tetapi dari tahun ke tahun terutama pada tahun 2000 ke atas banyak dijumpai merk luar negeri yang merajah pangsa pasar Indonesia , dari makalah ini kami ingin mengetahui seberapa besar pengaruhnya hal tersebut terhadap tren Sepatu Bata ini. Dengan memanfaatkan laporan keuangan yang berupa Laporan Laba/Rugi dan Neraca yang dipublikasikan pada tahun 2008-2012 sebagai modal untuk menghitung rasio yang digunakan untuk menganalisa kondisi keuangan perusahaan, serta untuk memproyeksikan kelangsungan hidup perusahaan 4 tahun kedepan. 9
  10. 10. BAB III Analisis Laporan Keuangan Proforma 10 A. Analisis Rasio 1. Rasio Likuiditas Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajian finansial jangka pendek yang berupa hutang – hutang jangka pendek (short time debt) 1.1. Rasio Lancar Merupakan rasio yang menunjukkan besarnya kas yang dimiliki perusahaan ditambah dengan aset-aset yang bisa berubah menjadi kas dalam waktu satu tahun, relatif terhadap besarnya hutang-hutang yang jatuh tempo dalam waktu dekat (tidak lebih dari satu tahun) atau rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki Dapat dihitung dengan formula: Aktiva Lancar Kewajiban Lancar TAHUN AKTIVA LANCAR* KEWAJIBAN LANCAR* RASIO LANCAR 2008 240302947 110428767 2,18 2009 242294757 103018589 2,35
  11. 11. 2010 295496348 141757440 2,08 2011 316645577 148822766 2,10 2012 357373694 168267966 2,12 Rasio Lancar 2008 2009 2010 2011 2012 11 *dalam ribuan rupiah Tabel 1.1 Rasio lancar 2.35 2.08 Grafik 1.1 Grafik rasio lancar 2.18 2.13 2.12 Berdasarkan grafik di atas , rasio lancar PT Sepatu Bata Tbk. selama 5 tahun 2.40 2.35 2.30 2.25 2.20 2.15 2.10 2.05 2.00 1.95 mulai dari tahun 2008 hingga tahun 2012 menunjukkan jumlah yang cenderung stabil di atas angka 2. Perubahan yang terjadi juga tidak signifikan meskipun perusahaan sempat mengalami kenaikan dan penurunan, rasio masing-mas ing yaitu 2,18 (2008), 2,35 (2009), 2,08 (2010), 2,13 (2011), dan 2,12( 2012). Pada tahun 2008 rasio lancar menunjukkan angka 2,18 berarti setiap Rp 2,18 dari kas dapat menjamin Rp 1 dari hutang lancar. Sehingga masih ada sisa kas bebas Rp 1,18 yang dapat digunakan untuk menjalankan kegiatan operasional perusahaan dan kegiatan lainnya. Pada tahun 2009 rasionya naik 17% menjadi 2,35. Hal
  12. 12. tersebut diakibatkan adanya kenaikan aktiva lancar perusahaan yang diikuti dengan penurunan kewajiban lancarnya. Sempat mengalami penurunan pada tahun 2010 sebesar 27%, nyatanya perusahaan berhasil menaikkan rasionya pada tahun 2011 sebesar 5% menjadi 2,13. Akan tetapi perusahaan harus kembali mengalami penurunan pada tahun 2012 meskipun jumlahnya sangat kecil yaitu 1%. Secara umum, salah satu hal penting yang berpengaruh terhadap rasio lancar perusahaan yaitu aktiva lancar selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun akan tetapi hal tersebut tidak seimbang dengan kenaikan kewajiban lancarnya sehingga pada tahun 2010 dan 2012 rasio lancar perusahaan harus mengalami penurunan. 12 1.2. Rasio Cepat Merupakan angka perbandingan antara jumlah uang kas bank, piutang dagang, dan sekuritas yang mudah dijual terhadap jumlah utang lancar. Rasio ini di pakai sebagai ukuran kemampuan perusahaan untuk membayar dengan segera utang lancamya. Persediaan tidak termasuk di dalamnya karena persediaan dianggap memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat direalisasikan menjadi kas. Dapat dihitung dengan formula: Aktiva lancar – persediaan Kewajiban lancar TAHUN Aktiva Lancar* Persediaan* Kewajiban Lancar* RASIO CEPAT 2008 240302947 151761143 110428767 0,80 2009 242294757 164290195 103018589 0,76
  13. 13. 2010 295496348 191217901 141757440 0,74 2011 316645577 193997433 148822766 0.82 2012 357373694 221854075 168267966 0.81 Rasio Cepat 13 *dalam ribuan rupiah Tabel 1.2 Rasio cepat 0.76 0.74 Grafik 1.2 Rasio cepat 0.80 0.82 0.84 0.82 0.80 0.78 0.76 0.74 0.72 0.70 Berdasarkan grafik di atas, terungkap bahwa terjadi penurunan rasio cepat perusahaan dari 0,80 (2008) menjadi 0,76 (2009). Penyebab penurunan rasio tersebut karena adanya kenaikan persediaan barang yang dimiliki perusahaan sebesar 8,25% yang melebihi kenaikan aktiva lancarnya. Penurunan juga masih terjadi di tahun 2010, di mana pada tahun ini seluruh komponen yang mempengaruhi rasio cepat perusahaan mengalami kenaikan. Akan tetapi besarnya kenaikan aktiva lancar yang hanya 21% tidak bisa mengimbangi kenaikan persediaan sebesar 16% dan kewajiban lancar sebesar 37%. Sehingga pada tahun 0.81 0.68 2008 2009 2010 2011 2012
  14. 14. ini, rasio cepat perusahaan menurun 4%. Namun perusahaan masih bisa mempertahankan eksistensinya, hal ini terbukti pada tahun 2011 rasio cepatnya meningkat cukup signifikan dari 0,74 (2010) menjadi 0,82 (2011). Pada tahun 2012, rasio cepat perusahaan mengalami sedikit penurunan sebesar 1% yang disebabkan adanya kenaikan sebesar 13% pada kewajiban lancarnya. 14 1.3. Rasio Kas Menunjukkan aktiva lancar yang paling likuid (mudah dicairkan/diuangkan) dan dapat digunakan segera untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Dapat dihitung dengan formula: Aktiva lancar – persediaan – piutang usaha Kewajiban lancar TAHUN AKTIVA LANCAR* PERSEDIAAN* PIUTANG USAHA* KEWAJIBAN LANCAR* RASIO KAS 2008 240302947 151761143 14722762 110428767 0,67 2009 242294757 164290195 13732316 103018589 0,62 2010 295496348 191217901 20460201 141757440 0,59 2011 316645577 193997433 27259760 148822766 0,64 2012 357373694 221854075 31449167 168267966 0,62 *dalam ribuan rupiah Tabel 1.3 Rasio kas
  15. 15. Rasio Kas Grafik 1.3 Grafik Rasio Kas 0.68 0.66 0.64 0.62 0.60 0.58 0.56 Berdasarkan analisa laporan keuangan dapat diketahui pada tahun 2008, rasio kas perusahaan menunjukkan angka 0,67. Hal tersebut berarti setiap Rp 1,00 kewajiban lancar perusahaan dijamin dengan Rp 0,67 aktiva lancar setelah dikurang persediaan dan piutang usaha. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa perusahaan belum cukup likuid dalam membiayai kewajiban lancarnya karena aset yang dimiliki belum mampu menutup kewajiban lancarnya. Jika perusahaan dihadapkan pada kondisi dimana ia harus melunasi piutang lancarnya pada saat yang bersamaan tahun itu juga perusahaan harus menjual atau mengubah aset lain menjadi kas atau dengan penukaran. Pada tahun 2009 dan 2010 terjadi penurunan rasio kas perusahaan masing- masing sebesar 5% dan 3%. Hal tersebut diakibatkan adanya kenaikan persediaan yang dimiliki perusahaan sebesar 8% di tahun 2009 dan pada tahun 2010 kenaikan aktiva lancar perusahaan tidak mampu mengimbangi kenaikan persediaan, piutang usaha, dan kewajiban lancarnya. Meskipun sempat mengalami kenaikan sebesar 5% pada tahun 2011 namun tidak demikian dengan tahun berikutnya karena pada tahun 2012 rasio kas perusahaan menurun sebesar 2%. 15 0.67 0.62 0.59 0.64 0.62 0.54 2008 2009 2010 2011 2012
  16. 16. 16 2. Rasio Aktivitas Rasio ini mengukur sejauh mana efektivitas penggunaan aset dengan melihat tingkat efektivitas aset. Rasio ini melihat pada beberapa aset kemudian tingkat aktivitas aktiva tersebut pada tingkat kegiatan tertentu. 2.1. Rasio Perputaran Piutang Rasio ini memberikan analisa mengenai frekuensi piutang dapat berubah menjadi bentuk uang tuai kemudian berubah kembali menjdi bentuk piutang. Dapat dihitung dengan formula: Perputaran piutang = Penjualan Piutang Rata-rata umur piutang = 365 Perputaran piutang TAHUN PENJUALAN* PIUTANG * PERPUTARAN PIUTANG RATA-RATA UMUR PIUTANG 2008 539762355 14722762 37 10 2009 598466433 13732316 44 8 2010 644189190 20460201 31 12 2011 678591535 27259760 25 15
  17. 17. 2012 751449338 31449167 24 15 Rasio Perputaran Piutang 2008 2009 2010 2011 2012 17 *dalam ribuan rupiah Tabel 2.1 Rasio perputaran piutang 43.58 11.59 31.48 14.66 15.28 24.89 23.89 8.38 18.00 16.00 14.00 12.00 10.00 8.00 6.00 4.00 2.00 0.00 Grafik 2.1 Grafik Rasio perputaran piutang 36.66 9.96 Perputaran Piutang Rata-rata umur piutang Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa rasio perputaran perusahaan 50.00 45.00 40.00 35.00 30.00 25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 pada tahun 2008 sebesar 37 kali atau piutang rata-rata baru dapat tertagih setelah 10 hari. Rasio ini mengalami peningkatan pada tahun 2009 menjadi 44 kali atau piutang rata-rata dapat tertagih hanya dalam waktu 8 hari saja. Namun perolehan ini tidak bisa dipertahankan oleh perusahaan karena pada tahun 2010 hingga 2012 rasio perputaran piutangnya justru terus mengalami penurunan yang mengakibatkan semakin lamanya piutang perusahaan baru dapat tertagih. Semakin rendah tingkat perputaran piutang perusahaan menunjukkan terlalu besarnya modal kerja yang ditanamkan dalam bentuk
  18. 18. piutang. Perusahaan sebaiknya dapat menekan penjualan kreditnya agar rasio perputaran piutangnya dapat membaik. Hal ini dapat dicapai melalui peningkata n motivasi SDM bagian penagihan, dengan cara memberikan reward atau bonus bagi SDM penagihan yang kinerjanya baik (mampu melakukan penagihan piutang dengan cepat). 2.2. Rasio Perputaran Persediaan Rasio ini menunjukkan berapa kali persediaan barang berputar selama satu periode tertentu 18 Dapat dihitung dengan formula: Perputaran persediaan = Harga Pokok Penjualan Persediaan Rata-rata umur persediaan = 365 Perputaran persediaan TAHUN HARGA POKOK PENJUALAN* PERSEDIAAN* PERPUTARAN PERSEDIAAN RATA-RATA UMUR PERSEDIAAN 2008 301240031 151761143 1,98 184 2009 322782390 164290195 1,96 186 2010 337998532 191217901 1,77 206
  19. 19. 2011 369611149 193997433 1.91 192 2012 400963064 221854075 1,81 202 Rasio Perputaran Persediaan 184 186 206 192 202 1.98 1.96 1.77 1.91 1.81 2008 2009 2010 2011 19 *Dalam ribuan rupiah Tabel 2.2 Rasio Perputaran persediaan Grafik 2.2 Rasio perputaran persediaan 250.00 200.00 150.00 100.00 50.00 Rata-rata umur persediaan Perputaran Persediaan Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa tingkat perputaran 0.00 persediaan pada tahun 2008 sebesar 1,98 kali atau barang dagangan rata-rata baru dapat terjual setelah tersimpan di dalam gudang selama 184 hari.Rasio ini mengalami penurunan selama 4 tahun berturut-turut mulai tahun 2009 hingga tahun 2012. Penurunan ini disebabkan karena kenaikan jumlah persediaan yang dimiliki perusahaan
  20. 20. tidak seimbang dengan kenaikan harga pokok penjualannya. Rasio Perputara Persediaan yang rendah dapat terjadi karena perusahaan melalukan over investment dalam persediaannya, hal ini mengindikasikan pengendalian persediaan yang dimiliki perusahaan kurang efektif sehingga persediaan harus menunggu dalam waktu yang cukup lama baru dapat terjual. Hal lain yang mempengaruhi perputaran persediaan ini dimungkinkan produk sepatu ini bukan merupakan fast moving product atau produk yang cepat terjual, umumnya konsumen membeli sepatu sesuai kebutuhannya. Jadi angka 184 masih tergolong wajar. 2.3. Rasio Perputaran Aktiva Tetap Rasio ini mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjuala n berdasarkan aktiva tetap yang dimiliki perusahaan, 20 Dapat dihitung dengan formula: Perputaran Aktiva Tetap = Penjualan Aktiva Tetap TAHUN PENJUALAN* AKTIVA TETAP* RASIO PERPUTARAN AKTIVA TETAP 2008 539762355 161597632 3,34 2009 598466433 174384380 3,43
  21. 21. 2010 644189190 295496348 3,41 2011 678591535 316645577 3,39 2012 751449338 357373694 3,47 Rasio Perputaran Aktiva Tetap 2008 2009 2010 2011 2012 21 *Dalam ribuan rupiah Tabel 2.3 Rasio Perputaran Aktiva Tetap 3.43 3.41 3.39 3.47 Grafik 2.3 Rasio Perputaran Aktiva Tetap 3.34 Rasio Perputaran Aktiva Tetap Rasio perputaran aktiva tetap perusahaan pada tahun 2008 sebesar 3,34. Hal ini 3.48 3.46 3.44 3.42 3.40 3.38 3.36 3.34 3.32 3.30 3.28 3.26 berarti setiap Rp 1,00 aktiva tetap mampu menghasilkan Rp 3,34 penjualan netto.Pada tahun 2009 rasio perputaran aktiva tetapnya meningkat menjadi 3,43. Hal itu disebabkan danya peningkatan penjualan yang melebihi peningkatan aktiva tetap perusahaan. Namun rasio ini harus mengalami penurunan selama 2 tahun mulai tahun
  22. 22. 2010 hingga 2011 karena aktiva tetap yang dimiliki perusahaan terus meningka t meskipun jumlahnya tidak signifikan. Pada tahun 2012 perusahaan berhasil menaikka n penjualannya sebesar 10% sehingga rasio perputaran aktiva tetap perusahaan ikut meningkat menjadi 3,47. Perusahaan diharapkan mampu mengurangi aktiva tetapnya yng sudah tidak produktif lagi agar penggunaan aktiva tetapnya dapat lebih efektif lagi. 2.4. Rasio Perputaran Total Aktiva Rasio ini mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjuala n berdasarkan total aktiva yang dimiliki perusahaan, 22 Dapat dihitung dengan formula: Perputaran Aktiva Tetap = Penjualan Total Aktiva TAHUN PENJUALAN* TOTAL AKTIVA* RASIO PERPUTARAN TOTAL AKTIVA 2008 539762355 401900579 1,34 2009 598466433 416679137 1,44 2010 644189190 484261555 1,33 2011 678591535 516651305 1,31
  23. 23. 2012 751449338 574107994 1,31 Rasio Perputaran Total Aktiva 2008 2009 2010 2011 23 *dalam ribuan rupiah Tabel 2.4 Rasio Perputaran Total Aktiva 1.44 1.33 1.31 1.31 Grafik 2.4 Rasio perputaran total aktiva 1.34 Rasio Perputaran Total Aktiva Dari hasil analisis, dapat diketahui bahwa perputaran total aktiva pada tahun 1.45 1.40 1.35 1.30 1.25 1.20 2008 sebesar 1,34 kali. Artinya setiap Rp 1,00 aktiva dapat menghasilkan Rp 1,34 penjualan . Kondisi perusahaan dapat dikatakan membaik karena terjadi peningkata n rasio dari tahun 2008 ke 2009 sebesar 0,11 hal ini terjadi karena adanyta penjuala n aktiva yang cukup banyak. Namun perusahaan kembali mengalami penurunan rasio pada tahun 2010 hingga 2011 yang disebabkan adanya kenaikan pada total aktiva . Pada tahun 2012 rasionya stabil pada angka 1,31. Perusahaan diharapkan mampu meningkatkan lagi penjualannya atau mengurangi sebagian aktiva yang kurang produktif agar rasionya dapat terus meningkat. Kenaikan rasio ini terjadi karena
  24. 24. adanya kombinasi dari hal berikut: kenaikan kas yang sebagian besar merupakan simpanan dalam deposito berjangka, kenaikan piutang dagang terutama karena kenaikan tagihan ke franchise, kenaikan persediaan menggambarkan pengaruh dari kenaikan penjualan sejalan dengan bunyi hukum permintaan dan penawaran dimana penawaran akan meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan, kenaikan dalam aktiva lancar lain-lain umumnya merupakn bagian dari kenaikan dari sewa yang dibayar dimuka untuk masa jangka panjang. 24 3. Rasio Profitabilitas Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (profit) pada tingkat penjualan, aset, modal saham tertentu 3.1. Profit Margin Rasio ini digunakan untuk menghitung kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu Dapat dihitung dengan formula: Laba bersih Penjualan TAHUN LABA BERSIH* Penjualan* PROFIT MARGIN 2008 157562668 539762355 0,29 2009 52980646 598466433 0,09 2010 60975070 644189190 0,09
  25. 25. 2011 56615123 678591535 0,08 2012 69343398 751449338 0,09 Profit Margin 0.09 0.09 2008 2009 2010 2011 2012 25 *dalam ribuan rupiah Tabel 3.1 Profit Margin Grafik 3.1 Profit Margin 0.29 0.08 0.09 Profit Margin Berdasarkan analisa pada grafik di atas, dapat diketahui bahwa profit margin 0.35 0.30 0.25 0.20 0.15 0.10 0.05 0.00 perusahaan cenderung tinggi di tahun 2008 dan stabil di tahun 2009 hingga 2012. Pada tahun2008 profit margin perusahaan berada pada angka 0,29 yang berarti setiap Rp 1,00 penjulan bersih perusahaan mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp 0,29.Namun di tahun 2009, profit margin perusahaan menurun hingga 20%, ini sekali lagi disebabkan karena adanya penjualan aktiva yang cukup banyak sehingga dapat menghasilkan laba diluar usaha yang cukup banyak pula. Meskipun begitu, rasio ini
  26. 26. stabil hingga tahun 2010. Pada tahun 2011 profit margin perusahaan menurun 1% menjadi 0,08. Hal ini disebabkan oleh penurunan laba perusahaan dari Rp60.975.070.000,00 menjadi Rp 56.615.123.000, 00. Namun pada tahun 2012 profit margin perusahaan kembali naik 1% menjadi 0,09. 3.2. Return on Total Asset (ROA) Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aset tertentu. 26 Dapat dihitung dengan formula: Laba bersih Total Aset TAHUN LABA BERSIH* TOTAL ASET* RETURN ON TOTAL ASSET(ROA) 2008 157562668 401900579 0,39 2009 52980646 416679137 0.13 2010 60975070 484261555 0,13 2011 56615123 516651305 0,11 2012 69343398 574107994 0,12 *dalam ribuan rupiah Tabel 3.2 Return On Total Asset (ROA)
  27. 27. ROA Grafik 3.2 Return On Total Asset Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa perusahaan memiliki ROA yang 0.45 0.40 0.35 0.30 0.25 0.20 0.15 0.10 0.05 tinggi pada tahun 2008 dan cenderung stabil pada tahun 2009 hingga 2012 meskupun jumlahnya sering mengalami kenaikan dan penurunan. Pada tahun 2008 ROA perusahaan menunjukkan angka 0,39 yang berarti setiap Rp 1,00 total aktiva bersih yang dimiliki perusahaan mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp 0,39. Pada tahun 2009 ROA perusahaan menurun drastis dari 0,39 menjadi 0,13. Hal ini disebabkan karena laba yang dimiliki perusahaan menurun 66%. Penurunan laba perusahaan terjadi karena naiknya beban usaha yang harus ditanggung perusahaan. Namun angka ini stabil hingga tahun 2010 . Pada tahun ROA perusahaan menurun 2% dikarenakan ada penurunan laba bersih perusahaan yang diikuti dengan kenaikan total asetnya. ROA perusahaan kembali naik pada tahun 2012 meskipun hanya 1% menjadi 0,12. 3.3. Return on Total Equity (ROE) Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan modal saham yang dimiliki 27 0.39 0.13 0.13 0.11 0.12 0.00 2008 2009 2010 2011 2012 ROA
  28. 28. 28 Dapat dihitung dengan formula: Laba bersih Modal saham TAHUN LABA BERSIH* MODAL SAHAM* RETURN ON TATAL EQUITY(ROE) 2008 157562668 13000000 12,12 2009 52980646 13000000 4,08 2010 60975070 13000000 4,69 2011 56615123 13000000 4,36 2012 69343398 13000000 5,33 *dalam ribuan rupiah Tabel 3.3 Return On Equity (ROE)
  29. 29. ROE Grafik 3.3 Return On Equity (ROE) Berdasarkan grafik di atas, ROE perusahaan pada tahun 2008 sebesar 12,12 14.00 12.00 10.00 8.00 6.00 4.00 2.00 yang berarti setiap Rp 1,00 saham mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp 12,12. Hal ini disebabkan karena perusahaan berhasil memperoleh laba yang tinggi pada tahun tersebut. Sayangnya, perusahaan tidak mampu mempertahankan perolehan labanya sehingga pada tahun 2009 ROE nya menurun drastis hingga 65% menjadi 4,08. ROE perusahaan sempat mengalami kenaikan pada tahun 2010 dari 4,08 menjadi 4,69 yang disebabkan adanya peningkatan laba perusahaan. Meskipun begitu, pada tahun 2011 ROE perusahaan harus kembali mengalami penurunan meskipun jumlahnya tidak signifikan. Pada tahun 2012 terjadi peningkatan ROE sebesar 22% yang disebabkan laba perusahaan naik dari Rp 56.615.123.000,00 menjadi Rp 69.343.398.000,00. 29 12.12 4.08 4.69 4.36 5.33 0.00 2008 2009 2010 2011 2012 ROE
  30. 30. 30 4. Rasio Solvabilitas. Rasio yang mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemliknya dengan dana yang disediakan oleh guru,dipinjam dari kreditur 4.1. Rasio Total Hutang terjadap Total Aset Rasio ini menghitung seberapa jauh dana disediakan oleh kreditur Dapat dihitung dengan formula: Total Hutang Total Aset TAHUN TOTAL HUTANG* TOTAL ASET* RASIO TOTAL HUTANG terhadap TOTAL ASET 2008 128782339 401900579 0,32 2009 115335252 416679137 028 2010 152752590 484261555 0,32 2011 162171217 516651305 0,31 2012 186619508 574107994 0,33 *dalam ribuan rupiah Tabel 4.1 Rasio total hutang terhadap total aset
  31. 31. Rasio Total Hutang terhadap Total Aset Grafik 4.1 Rasio total hutang terhadap total aset Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui bahwa rasio total hutang terhadap 0.33 0.32 0.31 0.30 0.29 0.28 0.27 0.26 total aset perusahaan selama tahun 2008 hingga 2012 cukup stabil kendati selalu mengalami kenaikan dan penurunan .Pada tahun 2008, rasionya berada pada angka 0,32 yang berarti setiap Rp 0,32 hutang perusahaan dijamin oleh Rp 1,00 aset. Pada tahun 2009, rasionya menurun 4% menjadi 0,28 dikarenakan perusahaan mampu meningkatkan jumlah aset dan menurunkan jumlah kewajibannya. Pada tahun 2010, rasio total hutang terhadap total aset perusahaan kembali naik di angka 0,32 yang disebabkan peningkatan total kewajibannya menjadi 32% sementara total asetnya hanya meningkat sebesar 16%. Di tahun 2011 rasio perusahaan sempat kembali menurun meskipun jmlahnya tidak terlalu signifikan yaitu sebesar 1%. Perusahaan kembali mengalami peningkatan rasio pada tahun 2012 sebesar 2% karena adanya peningkatan total aset perusahaan. 4.2. Rasio TIE (Time Interest Earned Ratio) Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan membayar hutang dengan laba sebelum bunga pajak 31 0.32 0.28 0.32 0.31 0.33 0.25 2008 2009 2010 2011 2012 Rasio Total Hutang terhadap Total Aset
  32. 32. Rasio TIE 32 Dapat dihitung dengan formula: Laba sebelum bunga dan pajak Bunga TAHUN LABA SEBELUM BUNGA dan PAJAK* BUNGA* RASIO TIE 2008 229967590 1213804 189,46 2009 76658249 4980268 15,39 2010 88957670 4390307 20,26 2011 81127717 2554959 31,87 2012 100163879 0 0 *dalam ribuan rupiah Tabel 4.2 Rasio TIE Grafik 4.2 Rasio TIE 189.46 15.39 20.26 31.78 200.00 150.00 100.00 50.00 0.00 0.00 2008 2009 2010 2011 2012 Rasio TIE
  33. 33. Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa rasio TIE perusahaan pada tahun 2008 adalah 189,46 yang berarti setiap Rp 1,00 beban sebelum bunga dan pajak dijamin dengan 189,46 laba sebelum bunga dan pajak. Hal tersebut menunjukka n bahwa laba yang dimiliki perusahaan sebelum bunga dan pajak sangat mencukupi untuk menutup beban operasional dan hutangnya dikarenakan pada tahun tersebut laba yang dimiliki cukup tinggi. Namun, pada tahun 2009 rasionya mengalami penurunan drastis hingga 91%. Hal tersebut disebabkan karena ada kenaikan harga pokok penjualan serta beban usaha perusahaan yang melebihi kenaikan penjualannya. Pada tahun 2010 hingga tahun 2011, rasio TIE perusahaan mengalami kenaikan yang disebabkan kenaikan laba sebelum bunga dan pajak yang diikuti dengan penurunan beban bunganya. Pada tahun 2012 bunga menunjukkan angka nol dikarenakan terjadi pelunasan hutang bunga di tahun 2011 sehingga pada tahun ini beban bunga perusahaan nol. 33 4.3. Fixed Charge Coverage Rasio ini menghitung kemampuan perusahaan membayar beban tetap total termasuk biaya sewa. Rasio ini memperhitungka sewa, karena meskipun sewa bukan hutang tetapi sewa merupakan beban tetap dan mengurangi kemampuan hutang perusahaan. Beban tetap tersebut mempunyai efek yang sama dengan beban bunga 푓푖푥푒푑 푐ℎ푎푟푔푒 푐표푣푒푟푎푔푒 = 퐸퐵퐼푇 퐵푢푛푔푎
  34. 34. TAHUN EBIT BUNGA fixed charge coverage 31.78 200.00 180.00 160.00 140.00 120.00 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00 0.00 2008 2009 2010 2011 2012 34 FIXED CHARGE COVERAGE 2008 229967590 1213804 189,4602 2009 76658249 4980268 15,39239 2010 88957670 4390307 20,26229 2011 81185836 2554959 31,77579 2012 99147385 0 0 *dalam ribuan rupiah Tabel 4.3 Fixed Charge Coverage 189.46 15.39 20.26 fixed charge coverage Grafik 4.3 Fixed Charge Coverage Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa rasio Fixed Charge Coverage, pada tahun 2008 menunjukkan angka 189,46 ini berarti setiap Rp 1 laba sebelum pajak dan bunga dapat menjamin Rp 189,46 beban tetap. Tapi angka ini menurun drastis pada tahun 2009 mencapai 15,39 karena ternyata pada tahun 2008 PT. Sepatu Bata . Tbk.menjual sebagian besar aset tetapnya, sehingga terdapat kenaikan laba yang cukup besar. Seterusnya pada tahun 2009 hingga tahun 2011 relatif stabil.
  35. 35. Akan tetapi tahun 2012 rasio menunjukkan angka nol “0” , dikarenakan tidak ada pajak bunga yang ditanggung oleh perusahaan sebab pada tahun 2011 perusahaan dapat melunasi hutang sehingga beban bunga dapat ditekan dan perbaikan sistem komunikas i on line dengan bank yang telah memperbaiki proses cashflow management. 35 B. Analisis Keuangan Proforma Penjualan rata-rata PT Sepatu Bata dari tahun 2008 hingga 2012 meningkat 9%, maka diproyeksikan kedepan perusahaan akan mengalami peningkatan yang sama dengan tahun sebelumnya. Peningkatan penjualan ini diiringi dengan peningkatan HPP 7% dan biaya usaha 8% beban lain-lain mencapai angka 509% sehingga laba turun tiap tahunnya 9% dari laba tahun lalu. Tapi jika dilihat secara nominal dalam proyeksi 5 tahun kedepan laba perusahaan masih cukup konstan hampir menyentuh angka 70 Milyar. Dari sini perusahaan diharapkan dapat mempertahankan atau menaikan penjualannya dan mempertahankan atau menurunkan biaya operasionalnya agar laba yang dicapai dapat stabil dan akan lebih baik lagi jika perusahaan dapat menaikkan labanya.
  36. 36. BAB IV KESIMPULAN Berdasarkan analisis rasio dan proforma diatas, dapat disimpulkan bahwa PT Sepatu Bata Tbk ini mempunyai beberapa kelemahan diantaranya perusahaan ini mempunyai jumlah aktiva tetap yang terlalu tinggi sehingga penggunaannya kurang efektif. Dilihat dari rasio likuiditas maka perusahaan dapat dikatakan cukup likuid meskipun dari jumlah rasio lancar jika dibanding dengan rasio cepat maka persediaan turut andil kisaran 65%nya. Jika dilihat dari rasio aktivitas, perusahaan kurang dapat memaksimalkan penggunaan aktiva tetap yang dimilikinya dan rasio yang dimilikinya masih berada di bawah rata-rata rasio industri. Pada rasio profitabilitas margin laba , ROA, ROE cenderung stabil dari tahun ke tahun, pengecualian pada tahun 2008 dimana terdapat penjualan asset yang mengakibatkan kenaikan laba yang signifikan. Pada rasio solvabilitas perusahaan dikatakan solvable hal ini dibuktikan dengan terlunasinya utang jangka panjang yang dimiliki, bahkan pada tahun 2011 PT Sepatu Bata Tbk mampu melunas i Biaya bunga yang menjadi kewajibannya. 36
  37. 37. BAB V SARAN Dari kelemahan yang dimiliki oleh PT. Sepatu Bata Tbk diatas, sebaiknya perusahaan tersebut mengurangi penggunaan aktiva tetap, sehingga ROA dapat meningkat. Selanjutnya perusahaan diharapkan lebih berinovasi lagi dalam hal desain produk, agar lebih dapat meiningkatkan daya beli konsumen. Selain itu strategi pemasaran perusahaan dipandang kurang efektif dan efisien, kurang memanfaatkan media elektronik, rasio yang dimiliki PT. Sepatu Bata Tbk masih berada di bawah rata-rata rasio industrinya. 37

×