1PENGARUH FASCIOLOPSIS BUSKI TERHADAP ANEMIA         DI DESA KALUMPANG DALAM            Diajukan sebagai Tugas Akhir Semes...
2                                       BAB I                                    Latar belakang    Penyakit adalah suatu p...
3    a. Lapisan Masyarakat dan masalah penyakit akibat cacing buski     Masyarakat senantiasa terdiri dari berbagai lapisa...
4        Fasciolopsis Buski berdasarkan literature   hanya ada hidup di kawasan AsiaSetalan yakni perairan rawa sebarannya...
5cacing dewasa dalam waktu 3 bulan. Pada infeksi ringan gejala penyakit tidak begitujelas. Cacing dewasa hidup dalam duode...
6     Warga Kalimantan Selatan tepatnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara di desaKalumpang Dalam, terserang penyakit cacing b...
7   a. Letak Geografis, Iklim, dan Curah Hujan      Ditinjau secara geografis, Kabupaten Hulu Sungai Utara terletak pada k...
8        Luas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah ± 892,7 km² atau hanya ±2,38 persen dibandingkan dengan luas wila...
9yang tersebar di 219 kelurahan/desa. Kabupaten dengan luas wilayah 892,70 km² inimemiliki kepadatan penduduk (population ...
10         Desa Kalumpang Dalam terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantanselatan,yang merupakan daerah yang sang...
11akan tetap berada didanau dan tidak larut .Sehingga karena Higiene lingkungan yangdisebabkan pencemaran tanah / debu ole...
12         Siklus langsung, yaitu setelah 2- 3 hari di tanah, larva r habditiform akan berubahmenjadi larva filariform seb...
13menguntungkan cacing Strongyloides sehingga terjadi daur hidup yang tidak langsung.Tanah yang baik untuk pertumbuhan lar...
14Kesimpulan        Desa Kalumpang Dalam berada di daerah rawa dimana air rawa tergenang tidakmengalir, hampir sepanjang t...
15f. Pemeriksaan cacing secara rutin 6 bulan sekali dan pengobatan                              DAFTAR PUSTAKA
161. Laporan Departemen Kesehatan RI, Badan Penelitian dan Pengembangan   Kalimantan Selatan, 20082. Situs resmi pemerinta...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Pengaruh fasciolopsis buski terhadap anemi di desa kalumpang dalam

3,267 views

Published on

Published in: Health & Medicine
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,267
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
46
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pengaruh fasciolopsis buski terhadap anemi di desa kalumpang dalam

  1. 1. 1PENGARUH FASCIOLOPSIS BUSKI TERHADAP ANEMIA DI DESA KALUMPANG DALAM Diajukan sebagai Tugas Akhir Semester Mata kuliah Sosiologi Kesehatan Dosen Pengampu : Dra.VG.Tinuk Istiarti,M.Kes Disusun Oleh : Nana Noviana No Absen : 22 PROGRAM STUDI MAGISTER PROMOSI KESEHATAN KONSENTRASI KESEHATAN REPRODUKSI DAN HIV-AIDS UNIVERSITAS DIPONEGORO 2010
  2. 2. 2 BAB I Latar belakang Penyakit adalah suatu penyimpangan biologis pada tubuh manusia yang dimasukibioorganisme atau agen lain yang juga dipengaruhi prinsip dan prosesbiologis.Kerentanan terhadap penyakit berbeda-beda disetiap lapisan sosialmasyarakat. Dari angka statistik dapat disimpulkan bahwa banyak penderita penyakitdari lapisan masyarakat social ekonomi rendah. Penyakit merupakan suatu fenomena yang kompleks yang berpengaruh negatif.Namun sebenarnya masyarakat sendiri yang menjadi sebab atau menimbulkanpenyebab suatu penyakit. Masyarakat lapisan bawah menghadapi tekanan stress,lingkungan fisik yang kurang mendukung kesehatan serta lingkungan social.Seterusnya bagi kita harus jelas hubungan sebab akibatnnya, apakah penyakitmenyebabkan kemiskinan ataukah kemiskinan menyebabkan penyakit, karenakeduanya saling menyebabkan. Pada umumnya kita beranggapan bahwa kesehatan manusia dipengaruhi olehfactor biologis, factor lingkungan dan factor prilaku manusia. Ditinjau dari segikemasyarakatan , keadaan sakit dianggap sebagai penyimpangan prilaku dari keadaansocial yang normative. Meskipun ilmu tan tekhnologi telah berkembang pesat danberhasil memperbaiki mutu hidup dan menaikkan usia harapan hidup, tetapi tetapditemukan kesenjangan morbiditas dan mortalitas pada lapisan masyarakat. Jadi penyakit bukanlah semata-mata hal tidak berfungsinya salah satu organ tubuhatau keseluruh tubuh kita, melainkan ketidak berfungsinya dengan baik manusia,masyarakat didalam seluruh lingkungan hidup dan lingkungan budaya. BAB II TINJAUAN TEORI
  3. 3. 3 a. Lapisan Masyarakat dan masalah penyakit akibat cacing buski Masyarakat senantiasa terdiri dari berbagai lapisan sosial dengan banyakfaktor yang menyebabkan perbedaan antara semua lapisan sosial masyarakat.Lapisan masyarakat sosial ekonomi rendah lebih tinggi menderita suatupenyakit, mungkin ini dikarenakan lingkungan fisik yang kurang mendukung ,serta lingkungan sosial yang sangat rendah bahkan kalangan masyrakat inijuga mengalami stress yang lebih tinggi. Hal tersebut mengakibatkankerentanan masyarakat sosial ekonomi rendah lebih sering terserang penyakit. Selain menjadikan masyarakat sebagai suatu objek telaah tentangpenyakit, masyarakat juga harus dijadikan subjek dalam menanggulangipenyakit. Seperti halnya kekurang tahuan kita mengenai penyakit yangdisebabkan cacing buski yang terjadi di kalimantan selatan tepatnya di desakalumpang dalam, penanggulangannya setidaknya melibatkan peran serta aktifmasyarakat .Dengan cara demikian , penyakit yang disebabkan cacing buskimendapatkan perhatian untuk ditanggulangi dengan melibatkan masyarakat . Masalah kesehatan ini tidak hanya di atasi dengan perbaikan fasilitas danpelayanan kesehatan,namun juga perlu berbagai tindakan pencegahan danpengikut sertaan masyarakat dalam menanggulanginya.Dan untuk terlaksanakegiatan ini diperlukan pemahaman akan berbagai faktor lingkungan terutamasecara etiologis berkaitan dengan berbagai jenis penyakit.Bahwa masyarakatlapisan sosial ekonomi rendah ini memiliki mortalitas dan morniditas yang tinggijustru dalam berbagai jenis penyakit infeksi dan infestasi parasit seperti cacingbuski.b. Mengenal cacing buski
  4. 4. 4 Fasciolopsis Buski berdasarkan literature hanya ada hidup di kawasan AsiaSetalan yakni perairan rawa sebarannya wilayah Banglades, Kamboja, China Tengahdan China Selatan, Vietnam, Malaysia, Thailand, Pakistan, dan Vietnam disampingIndonesia. Cacing ini bukan saja bisa menyerang manusia, juga bisa menyerang babi,anjing, dan kelinci. Cacing buski dewasa bisa sepanjang 75 mm, atau 3 inci dan lebar20 mm atau 1 inci. Berdasarkan literartur tersebut, cacing buski tidak hidup di hati, melainkanbiasanya hidup diarea teratas usus kecil, dalam jumlah sangat banyak, dan dapat pulahidup di area bawah usus dan di dalam perut, tetapi tak pernah ditemukan di bagiantubuh lain. Dalam tubuh individu yang terserang cacing buski setiap cacing buskidewasa dapat memproduksi sedikitnya 25 ribu telur per hari, dan terus berkembangbiak. F. buski merupakan salah satu parasit trematoda terbesar dengan ukuran panjang2- 7.5 cm, lebar 0.8- 2 cm dan tebal ± 3 mm. Menginfeksi manusia karena beradadalam lumen usus. Siklus hidup cacing ini dimulai dengan menghasilkan telur,selanjutnya menetas menjadi mirasidium, keluar mencari dan menginfeksi spesieskeong/siput (hospes perantara). Di dalam keong, mirasidium berubah bentuk menjadisporokista, redia, dan terakhir serkaria. Serkaria akan mengadakan enkistasi padatumbuhan air, tahan dengan kondisi temperatur air yang dingin (10-2 0ºC) namun tidaktahan terhadap kekeringan F. buski hidup dan berkembang biak di dalam usus manusia atau hewan (kerbau,sapi, kambing, kucing, anjing, dan babi hutan), berbentuk pipih seperti lintah (pacat)dan berwarna putih. Cacing ini menghisap darah se hingga orang yang mengandungcacing ini akan sakit dan mengalami anemia. Fasciolopsiasis mudah menular danapabila sudah berada dalam usus akan bertelur dalam jumlah ribuan, berkembang biakdan dapat mengeluarkan ribuan telur tersebut bersamaan dengan kotoran. Manusiaterinfeksi cacing ini dikarenakan memakan tumbuhan air yang mentah atau yang tidakdimasak dengan baik yang berisi metaserkaria. Metaserkaria akan mengadakanenkistasi, melekat pada mukosa duodenum atau jejunum dan berkembang menjadi
  5. 5. 5cacing dewasa dalam waktu 3 bulan. Pada infeksi ringan gejala penyakit tidak begitujelas. Cacing dewasa hidup dalam duodenum dan jejenum , mampu hidup sampai 12bulan. Namun pada infeksi berat cacing dapat ditemukan di lambung dan bagian ususlainnya, jumlah tinja sangat banyak dan berisi banyak makanan yang belum dicernadan hal ini menunjukkan terjadinya proses malabsorbsi. Jumlah cacing yang banyakpada penderita dapat mengakibatkan kematian Tahap awal kehidupan cacing buski dimulai dalam bentuk telur tidak bere mbrioyang keluar dari usus melalui tinja dan berada di air. Embrionisasi akan terjadi selama3- 7 minggu tergantung suhu air yang ideal antara 18- 35ºC (Faust et al., 1970;Miyazaki, 1991; Garcia et al., 1996). Setelah fase ini dilalui, telur akan menetas d anberubah menjadi mirasidium yang mencari keong/siput air untuk melalui suatu faseperubahan bentuk menjadi sporokista, redia dan serkaria. Selanjutnya serkaria akanmencari tanaman air untuk mengadakan enkistasi pada batang/umbi/daun yangbersentuhan den gan air. Di dalam tanaman air ini serkaria akan berubah menjadimetaserkaria. Manusia terinfeksi jika menkonsumsi tanaman air yang mengandung metaserkariasecara mentah. Di dalam usus halus ( duodenum atau jejenum ) metaserkariamengadakan enkistasi dan selanjutnya akan berkembang menjadi cacing dewasasetelah 3 bulan dengan masa hidup tidak melebihi dari 6 bulan (Garcia et al., 1996).Siklus hidup parasit cacing dari golongan trematoda usus cukup kompleks karenamemerlukan berbagai tahap kehidupan, memerluka n hospes perantara yang spesifikyaitu keong/siput air tawar untuk perkembangannya dan adanya media baik berbentuktanaman air/ikan/keong sebagai tempat enkistasi. Pada cacing buski, tanaman air merupakan tempat enkistasi yang potensial untukmenimbulkan infeksi bagi manusia yang mengkonsumsinya secara mentah. Jika dalamsatu tahap (fase) kehidupan kondisi fisik lingkungan yang tidak memungkinkan atautidak adanya kondisi biologis yang mendukung (tersedianya hospes perantara), makaotomatis siklus akan terp utus.
  6. 6. 6 Warga Kalimantan Selatan tepatnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara di desaKalumpang Dalam, terserang penyakit cacing buski, dan jumlah tersebut relatifmenurun dibanding tahun 1999. Penyakit cacing buski memiliki kemiripan sepertipenyakit cacing perut lainnya, tetapi lebih ganas .Selain penderita akan mengalamikurang gizi akibat parasit cacing buski, perut penderita juga membesar dan rambutkepala rontok akhirnya penderita plontos. Belum diketahui penyebab penyakit tersebutendemis di beberapa desa kawasan berawa-rawa HSU, padahal serangan penyakit ituhampir jarang ditemukan di dunia, dan di Indonesia juga . Para penderita penyakit tersebut umumnya adalah anak-anak, dan belum pernahditemukan kasus serangan terhadap orang dewasa. Karena anak-anak biasanya sukabermain di air rawa-rawa kawasan desa tersebut kemudian memakan apa saja yangada di rawa seperti buah teratai, umbi-umbian, dan buah tanaman rawa lainnya tanpa dimasak lebih dahulu. Seperti yang terjadi di Desa-desa endemis Kecamatan SungaiPandan, Kecamatan Babirik, dan Kecamatan Danau Panggang Kabupaten HSU yangketiga wilayah itu merupakan kawasan yang sebagian besar adalah rawa monotan. BAB III TINJAUAN KASUS
  7. 7. 7 a. Letak Geografis, Iklim, dan Curah Hujan Ditinjau secara geografis, Kabupaten Hulu Sungai Utara terletak pada koordinatantara 2º sampai 3º lintang selatan dan 115º sampai 116º bujur timur. WilayahKabupaten Hulu Sungai Utara terletak di daerah dataran rendah dengan ketinggianberkisar antara 0 m sampai dengan 7 m di atas permukaan air laut dan dengankemiringan berkisar antara 0 persen sampai dengan 2 persen. Curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim,keadaan geografi dan perputaran/pertemuan arus udara. Jumlah curah hujan terbanyakdi tahun 2005 terjadi pada bulan Februari yang mencapai 359 mm dan pada bulan Aprilyang mencapai 351 mm dengan jumlah hari hujan masing-masing 14 dan 19. Data penggunaan tanah pada tahun 2005 di wilayah Kabupaten Hulu SungaiUtara yaitu untuk Kampung seluas 4.283 Ha, Sawah seluas 23.853 Ha, KebunCampuran 1.859 Ha, Hutan Rawa 29.711 Ha, Rumput Rawa 22.768 Ha dan Danauseluas 1.800 Ha serta penggunaan lainnya yang tak dapat dirinci seluas 1.224 Ha. b. Luas Wilayah
  8. 8. 8 Luas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah ± 892,7 km² atau hanya ±2,38 persen dibandingkan dengan luas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan. Dengan luas wilayah sebesar 892,7 km² ini, sebagian besar terdiri atas dataranrendah yang digenangi oleh lahan rawa baik yang tergenang secara monoton maupunyang tergenang secara periodik. Kurang lebih 570 km² adalah merupakan lahan rawadan sebagian besar belum termanfaatkan secara optimal. c. Batas Wilayah Batas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah sebagai berikut:Utara Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten TabalongSelatan Kabupaten Hulu Sungai TengahBarat Provinsi Kalimantan TengahTimur Kabupaten Balangan d. Administrasi Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara terdiri dari 10 (sepuluh) kecamatan setelahterbentuknya Kabupaten Balangan dengan jumlah desa/kelurahan yang tersebarsebanyak 219 desa/kelurahan. Selain itu, desa/kelurahan di Kabupaten Hulu SungaiUtara dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kategori, antara lain Desa Swadayasebanyak 3 (di Kecamatan Banjang), Desa Swakarya ada 1 (di Kecamatan Banjang),dan Desa Swasembada sebanyak 215 desa. e. Kependudukan Jumlah penduduk Kabupaten Hulu Sungai Utara berdasarkan hasil proyeksi2008 adalah 216.181 orang dengan jumlah rumah tangga tercatatsebanyak 51.582
  9. 9. 9yang tersebar di 219 kelurahan/desa. Kabupaten dengan luas wilayah 892,70 km² inimemiliki kepadatan penduduk (population density) 240 jiwa per km² dan rata-rata setiapkeluarga terdiri dari 4 orang. Secara umum, dalam kurun 2004-2007 perkembanganpendudukmengalami pertambahan. Pada tahun 2007 jumlah penduduk bertambah 1,78persen dibandingkan tahun sebelumnya. f. Lain-lain Di kabupaten ini terkenal dengan dengan fauna khasnya, yaitu Itik Mamar atauitik Alabio dan kerbau rawa (Latin:bubalus bubalis) di kecamatan Danau Panggangdan kecamatan Paminggir. g. KASUS Kasus serangan cacing buski pernah diderita seorang anak kecil Kecamatan Babirikdesa Kalumpang Dalam, anak itu menderita perut membesar tetapi kurus kering,kemudian dimulut keluar binatang aneh seperti lintah darat, bewarna merah danjumlahnya ribuan ekor, selain dimulut juga keluar binatang itu saat buang air besar,sehingga warga setempat tadinya mengira anak tersebut terkena guna-guna. Penyakit itu dianggap aneh, karena biasanya kalau diserang penyakit cacingpaling dikenal hanya cacing gelang atau cacing kremi belum pernah ada cacing sepertiitu, yakni pendek hanya sekitar ibu jari. BAB IV PEMBAHASAN
  10. 10. 10 Desa Kalumpang Dalam terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantanselatan,yang merupakan daerah yang sangat terpencil. Terletak di tengah danau yangdapat dijangkau dengan naik perahu motor atau bias juga dengan perahudayung.Didaerah desa kalumpang dalam ini juga masih percaya dengan adanya ilmuhitam ( santet ) sehingga sewaktu ditemuka kasus anak yang mengeluarkan cacing baikdari mulut maupun saat bung air besar, semua masyarakat kalumpang dalammenanggap bahwa anak tersebut terkena ilmu hitam ( santet ) tersebut. Sehingga orang tua dari anak tersebut mengobati anaknya dengan mencariorang yang “pinter” ( dukun ) yang bias mengobati anaknya. Namun ternyata anaktersebut setelah diberikan pengobatan oleh orang “pinter” tetap saja mengeluarkancacing baik dari mulutnya dan juga saat buang air besar. Setelah kejadian tersebutmaka turunlah petugas kesehatan untuk meneliti penyakit tersebut, kemudian barudiketahui bahwa penyakit itu adalah Fasciolopsis buski, dan bila anak diketahuidiserang penyakit itu oleh petugas kesehatan segera diobati sehingga tidak sampaiparah. Desa Kalumpang Dalam merupakan daerah endemis fasciolopsiosis, yaitu suatupenyakit yang disebabkan oleh parasit berbentuk cacing yang disebut fasciolosis buskiyang menghuni lumen usus penderita. Berdasarkan hasil survey 1990, prevalensi fasciolopsiosis di kabupaten tersebutberkisar antara 5,18%-27%. Penderita adalah umumnya anak sekolah dan pendudukusia produktif, yaitu 16-35 tahun. Pada 2002, telah dilakukan penelitian epidemiologiyang meliputi aspek parasitologi, biologi, sosioantropologi tentang fasciolopsiosis dikabupaten tersebut. Tidak di daerah sub-tropis sampai daerah tropis, penyakit ini menyebar,inikarena hygiene lingkungan yang kurang baik seperti kebiasaan membuang kotoran.Masyarakat Desa Kalumpang Dalam memang mempunyai kebiasaan membuangsemua sampah dan membuang kotoran di danau, yang mana danu tersebut bukandanau yang mengalir airnya sehingga semua kotoran yang dibuang ke danau otomatis
  11. 11. 11akan tetap berada didanau dan tidak larut .Sehingga karena Higiene lingkungan yangdisebabkan pencemaran tanah / debu oleh telor dan atau larva cacing atau Penyakitparasit usus banyak ditemukan tersebar luas protozoa yang berasal dari tinja penderita,karena tidak tersedianya jamban yang memenuhi persyaratan. Pada kasus di Desa Kalumpang Dalam ini dimungkinkan karena terjadipergantian kondisi lingkungan dalam setiap pergantian musim yaitu pada musim hujanterjadi genangan air rawa sampai pada kedalaman tinggi, dan pada musim kemarausecara bertahap air menjadi surut sampai akhirnya kering. Menjelang musim kemaraupenduduk mulai bercocok tanam padi dan palawija. Kontak dengan tanah akanmembukakan port de entry bagi telur infektif sehingga akhirnya ikut tertelan lewattangan atau pada makanan/minuman yang telah terkontaminasi. Sejak telur matangtertelan sampai menjadi cacing dewasa yang siap bertelur diperlukan waktu sekitar 2bulan. Dalam jumlah yang banyak, cacing tersebut dapat bergumpal dalam usus sepertibola (bolus) menyebabkan sakit perut dan pada anak- anak hal ini sangatmembahayakan, sehingga harus dilakukan tindakan operatif untuk mengatasinya Namun karena cacing ini sifatnya mengisap darah walaupun sangat sedikit(0,002 ml/hari per cacing) maka prevalensinya patut mendapat perhatian.S. stercoralis merupakan nematoda usus yang utamanya terdapat di daerah tropik dansubtropik, jarang ditemukan di daerah yang beriklim dingin. Diketahui hanya cacingdewasa betina yang hidup sebagai parasit di vilus duodenum dan jejenum . Cacingbetina berbentuk filariform, halus, tidak berwarna dan panjangnya ± 2 mm. Caraberkembang biaknya diduga secara partenogenesis . Telur bentuk parasitik diletakkandi mukosa usus, kemudian telur tersebut menetas menjadi larva rhabditiform yangmasuk ke rongga usus serta dikeluarkan bersama tinja. Larva S.stercoralis berkembanglebih cepat daripada larva cacing tambang, dalam waktu 34-48 jam terbentuk larvafilariform yang infektif. Larva ini mempunyai kelangsungan hidup yang pendek di tanahkira- kira 1 -2 minggu. Parasit ini mempunyai 3 macam daur hidup, yaitu : sikluslangsung, siklus tidak langsung, dan autoinfeksi.
  12. 12. 12 Siklus langsung, yaitu setelah 2- 3 hari di tanah, larva r habditiform akan berubahmenjadi larva filariform sebagai bentuk yang infektif. Jika larva f ilariform menembuskulit manusia, maka larva akan tumbuh, masuk ke dalam peredaran darah vena dankemudian melalui jantung kanan sampai ke paru. Dari paru, parasit yang mulai menjadi dewasa akan menembus alveolus , masuktrakhea dan laring , sehingga akan terjadi refleks batuk yang menyebabkan parasittertelan, kemudian sampai di usus halus bagian atas dan menjadi dewasa. Cacingbetina dewasa ditemukan 28 hari sesudah infeksi. Siklus tidak langsung, yaitu larvarhabditiform di tanah berubah menjadi cacing jantan dan betina dalam bentuk bebas.Sesudah pembuahan, cacing betina menghasilkan telur yang menetas menjadi larvarhabditiform . Larva rhabditiform dalam waktu beberapa hari dapat menjadi larvafilariform yang infektif dan masuk ke dalam hospes baru, atau larva rhabditiformtersebut dapat juga mengulangi fase hidup bebas. Siklus bentuk bebas ini terusmenerus menghasilkan bentuk infektif sehingga perkembangan bentuk bebas di tanahdapat mencapai endemisitas tinggi. Siklus tidak langsung ini terjadi apabila keadaan lingkungan sekitarnya optimum,sesuai dengan habitat yang dibutuhkan untuk kehidupan bebas parasit ini, yaitu daerahtropik beriklim lembab. Sebaliknya, siklus langsung sering terjadi di daerah yang lebihdingin dengan keadaan lingkungan yang kurang menguntungkan untuk parasit tersebut.Autoinfeksi, yaitu larva rhabditiform kadang - kadang menjadi larva filariform di ususatau di daerah sekitar anus, misalnya pada penderita yang mengalami obstipasi lamasehingga bentuk rhabditiform sempat berubah menjadi filariform di dalam usus.Sedangkan pada penderita diare menahun dimana kebersihan kurang diperhatikan,bentuk rh abditiform akan menjadi filariform pada tinja yang masih melekat di sekitardubur. Bila larva filariform menembus mukosa usus atau kulit sekitar anus, maka terjadisuatu daur perkembangan di dalam hospes. Adanya autoinfeksi dapat menyebabkanstrongyloidiasis menahun pada penderita yang hidup di daerah non - endemik. Daerahyang panas dan tingkat kelembaban tinggi, ditambah sanitasi yang kurang, sangat
  13. 13. 13menguntungkan cacing Strongyloides sehingga terjadi daur hidup yang tidak langsung.Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva ialah tanah yang gembur, berpasir,tercampur humus. Pencegahan strongyloidiasis tergantung pada sanitasi pembuangan tinja danmelindungi kulit dari tanah yang terkontaminasi antara lain memakai alas kaki.Penerangan kepada masyarakat mengenai cara penularan dan cara pembuatan sertapemakaian jamban juga penting untuk pencegahan penyakit cacing ini BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
  14. 14. 14Kesimpulan Desa Kalumpang Dalam berada di daerah rawa dimana air rawa tergenang tidakmengalir, hampir sepanjang tahun di kedalaman 1 - 2 meter. Kondisi desa cenderungterisolir dan cukup jauh dengan desa yang lain. Aktifitas masyarakat hampir seluruhnyatergantung pada air rawa tersebut, antara lain buang air, mandi, mencuci pakai an,mencuci bahan masakan, alat makan, bahkan menggosok gigi. Sebagian besarmasyarakat buang air di lokasi yang cukup jauh dari perkampungan, menggunakan(perahu) atau (perahu motor). Namun sebagian masyarakat tampaknya buang air di tempat yang sederhanaberupa undakan yang dipasang di tepi titian, tanpa dinding atau tirai. Sedangkan ditempat tersebut juga dilakukan aktifitas sehari - hari, mandi mencuci pakaian dll,Sehingga dapat dibayangkan bahwa keadaan tersebut mengkondisikan masyarakatberada pada tingkat risiko yang paling tinggi terinfeksi F. buski .Berdasarkan pekerjaan petani merupakan pekerjaan yang paling berisiko terjadinyapenularan kecacingan. Sesuai dengan penelitian Sumarni dan Soeyoko (1998)SaranPenerapan perilaku hidup bersih dan sehat :a. Menghindari makan - makanan mentahb. Mencuci bahan makanan dan memasaknya sampai matangc. Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah melakukan aktivitasd. Memakai alas kakie. Mandi minimal 2 x sehari untuk menghindari infeksi cacing
  15. 15. 15f. Pemeriksaan cacing secara rutin 6 bulan sekali dan pengobatan DAFTAR PUSTAKA
  16. 16. 161. Laporan Departemen Kesehatan RI, Badan Penelitian dan Pengembangan Kalimantan Selatan, 20082. Situs resmi pemerintah kabupaten Hulu Sungai Utara.3. Laporan Puskesmas Babirik, 20084. http://perpus.yarsi.ic.id5. www.kapanlagi.com

×