iLAPORAN AKHIRKAJIAN PERSEPSI MASYARAKATTERHADAP UU ITE DAN UU KIPPUSLITBANG APTEL SKDIBADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN S...
iTim Personil PenelitianKAJIAN PERSEPSI MASYARAKATTERHADAP UU ITE DAN UU KIPPengarah : Kepala Badan Penelitian Dan Pengemb...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP
iiKATA PENGANTARDisahkannya Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan TransaksiElektronik (UU ITE) merupakan n...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIPiiiDAFTAR ISITim Personil Penelitian.....................................
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIPiv2.1 Anatomi (struktur) Undang-Undang ITE dan Undang-Undang KIP.........
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIPvDAFTAR TABELTabel 3.1 Jenis kelamin.....................................
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIPviTabel 3.25 Kehadiran UU KIP untuk......................................
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIPviiABSTRAKSIPenelitian ini memberikan gambaran tentang tingkat pengeta...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP11. BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangUndang-Undang No. 11 Tahun 2008 ...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP2Daerah selambat-lambatnya April 2010, penetapan pejabat pelayanan inf...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP3berkembang tidak lagi banyak mengundang kontroversi di berbagai kompo...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP41.2 PermasalahanPermasalahan pokok dalam kajian Persepsi Masyarakat t...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP5seseorang, yaitu bagaimana seseorang individu melakukan proses pemaha...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP6hal.5Dalam konteks kajian ini, pengetahuan tentang UU ITE dan UU KIP ...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP7atau informasi yang diterima melalui indera penglihat dan indera pend...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP8Sementara itu kajian persepsi dalam konteks kegiatan ini lebih memfok...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP9(3) Situasi. Persepsi harus dilihat secara kontekstual yag berarti da...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP10Dari uraian tentang pengertian dan proses persepsi di atas, maka dit...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP111.6.2 Metode PenelitianPenelitian ini merupakan penelitian kebijakan...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP12informasi seperti akademisi, mahasiswa, pendidik, pegawai negeri sip...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP1318) Industri/Perusahaan Swasta.19) KPI/KPID20) WarnetCatatan :Target...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP141.7 Waktu PenelitianProposal penelitian diajukan pada penyusunan pro...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP151.8.2 Konsep Operasionala. Profil RespondenProfil responden menggamb...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP161.9 Teknik Pengolahan dan Analisis DataSeluruh data diperoleh dari k...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP17Laporan ini merupakan hasil penyempurnaan dari draft laporan sementa...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP189. UU nomor 32/2003 tentang Otonomi Daerah10. UU nomor 11/2008 tenta...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP19Sistem informasi secara teknis dan fungsional adalah keterpaduan sis...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP20Sedangkan asas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP21Melanggar pasal 32 tentang mengubah, menambah, mengurangi, merusak,m...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP223 Pasal awal tentang Ketentuan Umum Atau Peristilahan, Azas dan Tuju...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP232.2 Wacana tentang Undang-Undang ITE dan Undang-Undang KIPKetika und...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP24“Aliansi Nasional Reformasi Hukum Telematika Indonesia dalam jumpa p...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP25Iwan Piliang selaku Pemohon Perkara No. 50/PUU-VII/2008 dan Perhimpu...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP26(4) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/a...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP273.BAB IIIHASIL PENELITIANDari hasil pengumpulan data lapangan, maka ...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP28total 475 responden. Berarti responden laki-laki lebih dari dua kali...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP29masyarakat yang dijadikan sampel penelitian, didapatkan gambaran rii...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP30Tabel 3.4 Pekerjaan respondenFrequency PercentValidPercentCumulative...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP31adalah kalangan profesional seperti dokter, pengacara, wartawan dan ...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP32Sumber informasi merupakan penjelasan yang diperoleh responden menge...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP33Kepada responden dimintai pendapatnya tentang media mana yang menjad...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP343.2 Pengetahuan Responden terhadap Undang-Undang No. 11 Tahun 2008te...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP35Kegiatan transaksielektronik saja42 8.6 9.0 13.4Kegiatanhacking,tran...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP36Tidak memiliki kekuatanhukum yang sama karenasesuai dengan e-ASEANFr...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP37Ya benar diatur namadomain, HAKI, danPerlindungan Hak Pribadi252 51....
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP38UU ITE tidakmemberikan sanksi .Sanksi diberlakukantetapi melalui huk...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP39Valid Hanya dikenai sanksipenjara paling lama 6tahun33 6.7 7.0 7.0Ha...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP40Tidak tahu 143 29.2 30.7 99.84 1 .2 .2 100.0Total 466 95.1 100.0Miss...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP41Tidak tahu 47 9.6 10.0 100.0Total 472 96.3 100.0Missing 9 18 3.7Tota...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP42Tidak tahu 86 17.6 18.3 99.44 3 .6 .6 100.0Total 470 95.9 100.0Missi...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP435. Sangat tidak setuju = 1Dalam kuesioner, pertanyaan tentang persep...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP44Tidak yakin 48 9.8 10.2 97.0Sangat tidak yakin 14 2.9 3.0 100.0Total...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP45Missing 9 20 4.1Total 490 100.0Persepsi responden Kisaran Nilai Ting...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP46Frequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Sangat sependapa...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP47Valid Sangat sependapat 129 26.3 27.4 27.4Sependapat 290 59.2 61.6 8...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP48Frequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Sangat setuju 62...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP49Frequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Sangat sependapa...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP50UU ITE Membatasi Hak Publikakan Informasi di Internet, pemblokiran s...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP51Uji Materil melalui MK Solusi MerevisiPasal Bermasalah dlm UU ITEFre...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP52Sebagaimana analisis data yang dilakukan pada tingkat pengetahuan re...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP53Frequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Untuk meningkatk...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP54Tabel 3.26 Sumber dana Badan Publik yang berkaitan Penyelenggaraan N...
Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP55APBD. Jawaban ini salah. Sedangkan yang menjawab benar sebanyak 150 ...
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Studi uu ite dan uu kip 2009
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Studi uu ite dan uu kip 2009

2,154 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,154
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
223
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Studi uu ite dan uu kip 2009

  1. 1. iLAPORAN AKHIRKAJIAN PERSEPSI MASYARAKATTERHADAP UU ITE DAN UU KIPPUSLITBANG APTEL SKDIBADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SDMDEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKATAHUN 2009
  2. 2. iTim Personil PenelitianKAJIAN PERSEPSI MASYARAKATTERHADAP UU ITE DAN UU KIPPengarah : Kepala Badan Penelitian Dan PengembanganSumber Daya Manusia DepkominfoPenanggung Jawab : Kapuslitbang Aptel SKDI, Balitbang SDM DepkominfoPeneliti Utama : Dede DrajatPeneliti : Kanti Waluyo IstidjabMoedjionoParwokoDjoko WaluyoS. ArifiantoYan Andriariza ASAhmad Budi SetiawanDewi HernikawatiJakarta, November 2009Kapuslitbang Aptel, SKDIAkmam Amir
  3. 3. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP
  4. 4. iiKATA PENGANTARDisahkannya Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan TransaksiElektronik (UU ITE) merupakan nilai tambah bagi Indonesia, berarti negara kita dapatdisejajarkan dengan negara-negara lain yang telah mengintegrasikan regulasi yang terkaitdengan pemanfaatan teknologi informasi ke dalam hukum positif nasional. Demikian jugadengan kehadiran Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan InformasiPublik (UU KIP) yang memberikan keleluasaan bagi masyarakat untuk memperolehinformasi publik sesuai yang dibutuhkan untuk kepentingan masing-masing.Dengan diimplementasikannya kedua undang-undang tersebut, tentu denganharapan agar dapat membangun suatu kesadaran masyarakat untuk berprilaku baik dantertib dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Demikian juga denganterbukanya kran informasi seluas-luasnya dari lembaga-lembaga publik diharapkanmasyarakat mampu memanfaatkan bagi kepentingan mereka.Atas selesainya laporan penelitian tentang persepsi masyarakat terhadap UU ITEdan UU KIP, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat mulai dariperencanaan penelitian, pengumpulan bahan melalui serangkaian kegiatan penelitianhingga penulisan laporan hasil penelitian ini.Bagi para narasumber yang banyak memberikan masukan bagi peningkatankualitas hasil penelitian ini, tak lupa pula kami ucapkan terima kasih.Kami menyadari bahwa penelitian ini masih banyak celah kelemahannya, olehkarena itu kami terbuka terhadap adanya koreksi, kritik dan saran dari pembaca untukperbaikan hasil penelitian ini.Jakarta, November 2009Kapuslitbang Aptel, SKDIAkmam Amir
  5. 5. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIPiiiDAFTAR ISITim Personil Penelitian......................................................................................................... iKATA PENGANTAR............................................................................................................iiiDAFTAR ISI ...................................................................................................................... iiiDAFTAR TABEL ................................................................................................................ vABSTRAKSI ...................................................................................................................... viiBAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... 11.1 Latar Belakang............................................................................................... 11.2 Permasalahan................................................................................................ 41.3 Tujuan dan Kegunaan.................................................................................... 41.4 Kerangka Pemikiran....................................................................................... 41.4.1 Konsepsi pengetahuan........................................................................ 51.4.2 Konsepsi Persepsi............................................................................... 61.5 Pola Pikir...................................................................................................... 101.6 Metodologi Penelitian................................................................................... 101.6.1 Paradigma Penelitian ........................................................................ 101.6.2 Metode Penelitian.............................................................................. 111.6.3 Tipe penelitian................................................................................... 111.6.4 Populasi dan Sampel Penelitian........................................................ 111.6.5 Teknik Pengumpulan Data ................................................................ 121.6.6 Lokasi Penelitian ............................................................................... 131.7 Waktu Penelitian .......................................................................................... 141.8 Definisi dan Konsep Operasional................................................................. 141.8.1 Definisi............................................................................................... 141.8.2 Konsep Operasional.......................................................................... 151.9 Teknik Pengolahan dan Analisis Data.......................................................... 161.10 Pelaksana dan Biaya Kegiatan .................................................................... 161.11 Sistem Pelaporan......................................................................................... 16BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG UU ITE DAN UU KIP......................................... 17
  6. 6. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIPiv2.1 Anatomi (struktur) Undang-Undang ITE dan Undang-Undang KIP.............. 172.1.1 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan TransaksiElektronik........................................................................................... 182.1.2 Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan InformasiPublik (KIP) ....................................................................................... 212.2 Wacana tentang Undang-Undang ITE dan Undang-Undang KIP ................ 23BAB III HASIL PENELITIAN .............................................................................................. 273.1 Karakteristik Responden .............................................................................. 273.2 Pengetahuan Responden terhadap Undang-Undang No. 11 Tahun 2008tentang ITE .................................................................................................. 343.3 Persepsi Responden terhadap Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentangITE ............................................................................................................... 423.4 Pengetahuan Responden terhadap UU No. 14 tahun 2008 tentangKeterbukaan Informasi Publik (UU KIP)....................................................... 513.5 Persepsi Responden terhadap Undang-Undang No. 14 tahun 2008 tentangKeterbukaan Informasi Publik (UU KIP)....................................................... 593.6 Pembahasan Persepsi Responden Terhadap UU ITE dan UU KIP............. 653.7 Data Kualitatif............................................................................................... 683.8 Analisis kualitatif........................................................................................... 903.9 Analisis FGD tentang UU ITE dan KIP....................................................... 105BAB IV P E N U T U P..................................................................................................... 1094.1 Kesimpulan ................................................................................................ 1094.2 Saran ......................................................................................................... 1114.3 Keterbatasan dan Prospek Penelitian Lanjutan ......................................... 111DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 113
  7. 7. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIPvDAFTAR TABELTabel 3.1 Jenis kelamin..................................................................................................... 27Tabel 3.2 Usia responden ................................................................................................. 28Tabel 3.3 Tingkat pendidikan............................................................................................. 29Tabel 3.4 Pekerjaan responden......................................................................................... 30Tabel 3.5 Penggunaan Alat Komunikasi............................................................................ 31Tabel 3.6 Sumber Informasi tentang UU ITE dan UU KIP................................................. 32Tabel 3.7 Pilihan Pertama Untuk Sosialisasi UU ITE dan UU KIP..................................... 33Tabel 3.8 UU ITE Mengatur tentang.................................................................................. 34Tabel 3.9 Tandatangan Elektronik Memiliki Kekuatan Hukum .......................................... 35Tabel 3.10 Bab VI UU ITE berisi tentang Nama domain, Hak dan Perlindungan HakPribadi............................................................................................................. 36Tabel 3.11 UU ITE Mengatur Sanksi Bagi Pelaku Usaha Terkait Produk yang Ditawarkan........................................................................................................................ 37Tabel 3.12 Pasal 27 ayat (1) tentang Sanksi Pelanggaran Kesusilaan ............................. 38Tabel 3.13 Pasal 27 ayat (1) UU ITE tentang kategori orang yang mentrasmisikan ........ 39Tabel 3.14 Kehadiran UU ITE dalam upaya : .................................................................... 40Tabel 3.15 Peran Masyarakat terhadap Peningkatan Pemanfaatan TIK........................... 41Tabel 3.16 Keyakinan terhadap UU ITE untuk melindungi kepentingan masyarakat ........ 43Tabel 3.17 UU ITE Memberi Perlindungan hukum pada Aktivitas Pemanfaatan TIK ....... 44Tabel 3.18 UU ITE Menjamin Kepastian Hukum ............................................................... 45Tabel 3.19 Peran Pemerintah Memfasilitasi Pemanfaatan TIK sesuai Ketentuan danPeraturan........................................................................................................ 45Tabel 3.20 Kejahatan Penyalahgunaan Melalui TIK Semakin Meningkat ......................... 46Tabel 3.21 UU ITE Meminimalisir Kejahatan Melalui Internet ........................................... 47Tabel 3.22 Informasi, Dokumentasi, dan Hasil Cetak Elektronik merupakan alat buktihukum yang sah ............................................................................................. 48Tabel 3.23 UU ITE Membatasi Hak Publik akan Informasi di Internet, pemblokiran situs 49Tabel 3.24 Uji Materil melalui MK Solusi Merevisi............................................................. 50
  8. 8. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIPviTabel 3.25 Kehadiran UU KIP untuk.................................................................................. 52Tabel 3.26 Sumber dana Badan Publik yang berkaitan Penyelenggaraan Negara........... 54Tabel 3.27 Sumber dana Badan Publik Non Pemerintah .................................................. 54Tabel 3.28 Pengertian Informasi Publik............................................................................. 55Tabel 3.29 Informasi Publik disebarluaskan dan diperuntukkan bagi................................ 56Tabel 3.30 Informasi Publik ............................................................................................... 57Tabel 3.31 Setiap orang berhak untuk :............................................................................. 58Tabel 3.32 Informasi Publik tidak bersifat terbuka tetapi dapat diakses ............................ 59Tabel 3.33 UU KIP untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik..................... 60Tabel 3.34 UU KIP untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengambilankebijakan publik .............................................................................................. 61Tabel 3.35 Badan Publik harus menyediakan informasi yang akurat, benar dan tdkmenyesatkan .................................................................................................. 62Tabel 3.36 Pencantuman Sumber Perolehan Informasi Publik ......................................... 63Tabel 3.37 Sanksi Pidana satu tahun penjara (denda lima juta rupiah) akibatpenyalahgunaan informasi publik ................................................................... 64
  9. 9. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIPviiABSTRAKSIPenelitian ini memberikan gambaran tentang tingkat pengetahuan dan persepsimasyarakat terhadap Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi danTransaksi Elektronik (UU ITE) dan Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentangKeterbukaan Informasi Publik (UU KIP). Secara umum tingkat pengetahuan respondententang UU ITE dalam kisaran kategori sedang. Sedangkan terhadap UU KIP tingkatpengetahuan responden ternyata agak beragam, yakni dalam kisaran kategori rendah,sedang dan tinggi. Persepsi responden terhadap UU ITE secara umum positif, namun adajuga yang berpersepsi negatif terhadap keyakinan bahwa UU ITE dapat melindungikepentingan masyarakat. Artinya responden menyangsikan kehadiran UU ITE dapatmemberikan perlindungan optimal terhadap kejahatan transaksi elektronik. Sedangkanpersepsi responden terhadap UU KIP, secara umum dalam kategori positif. Artinyaresponden menginginkan Badan Publik wajib menyediakan informasi publik yang akurat,benar dan tidak menyesatkan.Secara kualitatif, peserta diskusi (FGD) lebih cenderung menyoroti aspek jaminankeamanan ketika melakukan transaksi elektronik. Peserta diskusi masih meyakini bahwadalam dunia maya, verifikasi terhadap identitas seseorang bisa menjadi kabur. Hal inidapat menyebabkan seseorang sangat mudah ditipu. Secara umum peserta diskusimenyepakati bahwa agar masyarakat lebih memahami kedua undang-undang tersebutmaka sosialisasi perlu terus dilanjutkan secara berkesinambungan hingga sampai padalevel pemerintahan terkecil (kelurahan/desa). Peserta FGD mengharapkan agarpemerintah segera menerbitkan PP (Peraturan Pemerintah) sebagai acuan bagi parapenyelanggara layanan informasi publik. PP harus tegas dan rinci, sehingga tidakmenimbulkan multi intepretasi dari aturan-aturan yang termuat didalamnya.Kesadaran masyarakat perlu dibangun, tidak hanya konteks pemahaman terhadapundang-undang tersebut, tetapi pada bagaimana pembentukan perilaku dalammenggunakan teknologi informasi dan komunikasi.Kata Kunci : Persepsi, Undang-Undang No. 11 Tahun 2008, Undang-Undang No. 14Tahun 2008
  10. 10. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP11. BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangUndang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik(UU ITE) hadir untuk melindungi kepentingan masyarakat baik secara perorangan,properti/bisnis, maupun pemerintahan. Demikian juga Undang-undang No. 14 Tahun 2008tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) yang memberikan keleluasaanmasyarakat untuk memperoleh informasi publik sesuai yang dibutuhkan untuk kepentinganmasing-masing. Peran pemerintah adalah untuk memfasilitasi implementasi keduaundang-undang tersebut. Menteri Komunikasi dan Informatika, M. Nuh, mengatakanbahwa :“... UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE adalah wujud dari tanggung jawab yangharus diemban oleh negara untuk memberikan perlindungan maksimal pada seluruhaktivitas pemanfaatan TIK dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kepastianhukum yang kuat akan membuat seluruh aktivitas pemanfaatan TIK di dalam negeriterlindungi dengan baik dari potensi kejahatan dan penyalahgunaan teknologi.” 1Sebenarnya dengan telah disahkan UU ITE ini merupakan nilai tambah bagi Indonesia,mengingat negara kita dapat disejajarkan dengan negara-negara lain seperti Singapura,Malaysia, India atau negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara UniEropa yang telah secara serius mengintegrasikan regulasi yang terkait denganpemanfaatan teknologi informasi ke dalam hukum positif (existing law) nasionalnya.Demikian juga Undang-Undang KIP telah disahkan meski baru akan diimplementasikanpada tahun tahun 2010. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepadapemerintah, dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika untuk menyiapkansegala sesuatu yang diamanatkan oleh undang-undang ini, antara lain pembentukanKomisi Informasi Pusat (telah terbentuk akhir Februari kemarin) dan Komisi Informasi1Sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika, dalam buku “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik”, Depkominfo, Direktorat Jenderal AplikasiTelematika, Cetakan kedua : September 2008, hal. iv.
  11. 11. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP2Daerah selambat-lambatnya April 2010, penetapan pejabat pelayanan informasi dandokumentasi di masing-masing badan publik, sistem pelayanan informasi badan publik dansosialisasi UU KIP ke masyarakat. Dalam konteks tersebut, terutama pada kewajibanBadan Publik, bagi Depkominfo diharapkan mampu mempersiapkan standar atau panduankapasitas atau kualitas SDM seorang pejabat pelayanan badan publik, demikian juga untuktata kelola dokumentasi yang baik sehingga badan publik mampu memberikan layananyang optimal pada masyarakat yang memerlukan informasi publik. Sedangkan yang urgendalam konteks ini adalah Depkominfo harus mempersiapkan peraturan pemerintah sebagaipelaksanaan UU KIP.Tentu bagi pemerintah, khususnya Depkominfo tidak mungkin dapat bekerja sendiritanpa partisipasi dari segenap stakeholder. Khalayak juga harus berperan dalamimplementasi kedua Undang-Undang tersebut. Demikian pula kalangan akademisi harusmemberikan kontribusi yang signifikan. Selama ini, Depkominfo melalui Badan InformasiPublik telah melakukan sosialisasi baik melalui forum-forum diskusi maupun dialoginteraktif seperti yang dilaksanakan di studio TVRI Pontianak, Kalbar pada 13 Oktober2008, di Radio Bomantara, Singkawang, Kalbar pada 14 Oktober atau yangdiselenggarakan pada beberapa daerah di Sulawesi Utara, Sumatera Barat dan lain-lain.Kesimpulan dari Forum diskusi maupun dialog interaktif tersebut adalah bahwa KesiapanBadan Publik untuk melaksanakan UU KIP merupakan keniscayaan yang tidak bisaditawar-tawar lagi. Perbaikan sistem, struktur dan manajemen informasi dalam badanpublik harus dilakukan sesegera mungkin. Bersamaan dengan itu, sarana akses terhadapinformasi publik juga harus disediakan secara memadai. Semua itu dilakukan untukmenjamin terlaksananya prinsip-prinsip transparansi, keterbukaan, dan partisipasimasyarakat, sebagaimana diamanatkan UU KIP.2Berangkat dari wacana yangberkembang dalam masyarakat (baik pada pemerhati maupun praktisi telematika), dari sisikepentingan studi kebijakan ini, tentu disadari betul bahwa proses implementasi keduaUndang-undang tersebut tentu masih memerlukan banyak masukan baik itu melaluiberbagai bentuk kajian maupun penelitian sehingga ke depan diharapkan wacana yang2Depkominfo, Opini Publik Seputar UU KIP, Dialog Interaktif dan Wawancara, Badan Informasi Publik,Jakarta, tahun 2008, hal 89.
  12. 12. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP3berkembang tidak lagi banyak mengundang kontroversi di berbagai komponenmasyarakat.Sesuai dengan judul studi ini Kajian Persepsi Masyarakat terhadap Undang-undangITE dan Undang-undang KIP, pada dasarnya merupakan dua undang-undang yangsangat jauh berbeda baik dari sisi subtansi maupun sasaran khalayak penggunanya.Demikian juga bagi komunitas atau kalangan pemerhati kedua undang-undang tersebut,tentu akan sangat berbeda. Kalau UU ITE lebih mengarah pada kegiatan hacking,transaksi via sistem elektronik, hingga soal hak kekayaan intelektual. Sedangkan UU KIPmenjamin hak masyarakat guna memperoleh informasi publik. UU KIP juga menjelaskantentang kewajiban bagi badan publik diminta atau tidak diminta untuk menyediakaninformasi yang dibutuhkan masyarakat. Komunitas pengguna TIK maupun masyarakatpada dasarnya juga membutuhkan informasi publik yang memang harus disediakansecara memadai oleh Badan-badan publik. Fungsi penting dalam kegiatan layananinformasi publik adalah penyampaian informasi baik dari pemerintah ke masyarakatataupun sebaliknya dari masyarakat ke pemerintah.Dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik,Bab I, pasal 1 ayat (2) menjelaskan informasi publik adalah informasi yang dihasilkan,disimpan, dikelola, dikirim, dan atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitandengan penyelenggaraan dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara danpenyelenggara badan publik lainnya yang sesuai dengan UU ini serta informasi lain yangberkaitan dengan kepentingan publik. Sedangkan Badan Publik adalah mencakuplembaga negara, baik eksekutif, legislatif, yudikatif, dan lainnya, serta lembaga non-pemerintah yang sebagian maupun seluruh dananya berasal dari APBN maupun APBD.Dalam hal ini, termasuk LSM maupun partai politik. Terkait dengan Kajian PersepsiMasyarakat terhadap Undang-undang ITE dan Undang-undang KIP, jika mengacu padateori komunikasi, maka kecenderungan dari proses komunikasi yang terjadi dilihat dari sisipandang dari receiver (khalayak), yaitu individu-individu yang diterpa pesan baik secaraantarpersona maupun melalui media massa. Tentunya, akan menimbulkan sejumlahpertanyaan penting : bagaimana seseorang menerima dan memproses informasi ataupesan?, bagaimana seseorang memaknai pesan yang diterima?, kemudian faktor-faktorapa saja yang mempengaruhi pemahaman terhadap makna pesan?
  13. 13. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP41.2 PermasalahanPermasalahan pokok dalam kajian Persepsi Masyarakat terhadap Undang-UndangITE dan Undang-Undang KIP adalah : "Bagaimana pengetahuan dan persepsi masyarakatterhadap UU ITE dan UU KIP?”Rincian masalahnya adalah sebagai berikut :1. Bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat terhadap UU ITE dan UU KIP.2. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap UU ITE dan UU KIP.1.3 Tujuan dan KegunaanTujuan:Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dan informasi tentang tingkatpengetahuan seseorang tentang UU ITE dan UU KIP dan bagaimana persepsinyaterhadap kedua undang-undang tersebut.Kegunaan:Melalui kesimpulan dan rekomendasi penelitian ini akan memberikan informasitentang tingkat pengetahuan dan persepsi masyarakat terhadap Undang-Undang ITE danUndang-Undang KIP, berdasarkan informasi tersebut diharapkan dapat memberikanmanfaat nyata bagi Departemen Komunikasi dan Informatika dalam melaksanakan tugasmenyosialisasikan kedua produk undang-undang tersebut. Manfaat praktis lain yangdiperoleh adalah tersajinya data terolah dari beragam komponen masyarakat sasaranstudi ini yang menyikapi UU ITE dan UU KIP. Kemudian dari sisi akademisi, diharapkanpenggunaan riset tentang persepsi yang mengacu pada teori persepsi dapat memberikannilai tambah bagi kajian ini sesuai dengan hasil akhir yang diharapkan sebagai suatupenelitian kebijakan (policy research).1.4 Kerangka PemikiranUntuk membahas bagaimana tingkat pengetahuan dan persepsi masyarakatterhadap adanya UU ITE dan UU KIP ditinjau kerangka pemikiran melalui proses persepsi
  14. 14. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP5seseorang, yaitu bagaimana seseorang individu melakukan proses pemahaman atasinformasi yang mereka terima kemudian memberikan persepsinya terhadap respon yangditerima tersebut. Dalam konteks ini, maka diasumsikan bahwa tingkat pengetahuanseseorang akan mempengaruhi persepsinya terhadap pesan yang diterimanya.Sedangkan dari sisi komunikator (pemerintah) menginginkan agar masyarakat menaruhperhatian pada pesan yang disampaikan, yaitu UU ITE dan UU KIP.1.4.1 Konsepsi pengetahuanPengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera dan atau akal budinyauntuk mengenali sesuatu benda atau peristiwa tertentu yang belum diketahuinya. Berartipengetahuan merupakan berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melaluipengamatan inderawi.3Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan danpengalaman inderawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori.Pengetahuan ini bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dan observasi yangdilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapatberkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan danmenggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut.Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yangterjadi berulangkali. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasidengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi.4Dr. Lawrence Kincaid dan Wilbur Schramm mengatakan bahwa pengetahuanmerupakan wujud dari kenyataan atau kebenaran, informasi dan prinsip-prinsip yangdimiliki umat manusia. Seseorang mengetahui berarti ia mengamati secara langsung,memiliki pengalaman, mengenali atau sudah biasa terhadap sesuatu hal, menginsyafikesamaan, meyakini, atau merasa pasti serta menyadari kebenaran tentang sesuatu3Dikutip dari Yahoo! Answer Indonesia4Wikipedia, referensi dari Meliono, Irmayanti, dkk. 2007. MPKT Modul 1. Jakarta: Lembaga PenerbitanFEUI.
  15. 15. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP6hal.5Dalam konteks kajian ini, pengetahuan tentang UU ITE dan UU KIP merupakanpemahaman seseorang tentang maksud dan tujuan kehadiran UU ITE dan UU KIPsehingga dengan didasarkan dengan pengetahuannya itu, menyebabkan seseorang dapatmenyampaikan pendapat atau tanggapannya (persepsi) terhadap kedua undang-undangtersebut. Untuk mengetahui pemahaman seseorang dapat dilihat dari frekuensi atauterpaan media yang menyajikan sosialisasi tentang kedua undang-undang tersebut, baikmelalui media ataupun secara tatap muka. Pengetahuan seseorang dipengaruhi olehbeberapa faktor, diantaranya:(1) PendidikanPendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata lakuseseorang/sekelompok orang dan memberikan pengertian tentang sesuatu melaluiupaya pengajaran dan pelatihan. Intinya pendidikan merupakan upayamencerdaskan manusia.(2) Media (terpaan media)Media secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luasseperti media komunikasi massa (radio, televisi, suratkabar/majalah) dan mediabaru : internet. Media mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam pembentukankoginisi seseorang. Melalui fungsinya, media memberikan informasi danpengetahuan.1.4.2 Konsepsi PersepsiPersepsi merupakan proses kognitif yang dialami setiap individu ketika memahamiinformasi tentang situasi lingkungannya melalui indrawi. Menurut Lahlry (1991) persepsididefinisikan sebagai “ as the process by which we interpret sensory data” 6artinyapersepsi merupakan proses yang berkaitan dengan bagaimana seseorang memaknai data5Rachmat Kriyantono, S.Sos., M.Si., ”Teknik Praktis Riset Komunikasi”, Kencana Prenada Media Group,Jakarta, 2008, hal.380.6Werner J. Severin dan James W. Tankard, Communication Theories, Origins, Methods, and Uses in themass Media, 1997, Penerbit : Logman Inc, New York, page 73).
  16. 16. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP7atau informasi yang diterima melalui indera penglihat dan indera pendengar. Berelson danSteiner juga memberikan pengertian persepsi sebagai ” ...is the „complex process bywhich people select, organize and interpret sensory stimulation into a meaning andcoherent picture of the world” 7(persepsi merupakan suatu proses yang kompleks di manaorang-orang menyeleksi, mengorganisir, menafsirkan rangsangan indrawi ke dalam artiyang bertalian dengan gambaran keadaan saat ini. Sedangkan Jalaluddin Rakhmatmengatakan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.(Rakhmat, 2003 : 51). Onong Uchjana Effendy juga memberikan pengertian tentangpersepsi sebagai penginderaan terhadap suatu kesan yang timbul dalam lingkungannya;penginderaan itu dipengaruhi oleh pengalaman, kebiasaan dan kebutuhan. (UchjanaEffendi, 1977).Menurut Mulyana (1999), inti dari proses komunikasi adalah persepsi, yaitu prosesinternal dengan mana manusia memilih, mengevaluasi, mengorganisasikan danmenafsirkan rangsangan dari sekitarnya. Persepsi adalah pengalaman tentang obyek,peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi danmenafsirkan pesan. Jadi penafsiran (interprestasi) adalah inti dari persepsi. Persepsi diberipengertian sebagai kemampuan seseorang untuk menafsirkan atau menyimpulkansesuatu pesan. Menafsirkan atau menyimpulkan sesuatu pesan berarti memberikanpendapat, tanggapan atau penilaian terhadap pesan atau informasi yang diterimanya. Jadipersepsi masyarakat terhadap UU ITE dan UU KIP adalah pendapat seseorang tentangUU ITE dan UU KIP. Persepsi dipengaruhi tingkat pengetahuan atau pemahamanseseorang terhadap pesan tersebut.Dalam penelitian tentang persepsi, terdapat dua tipe pengaruh terhadap persepsi,yaitu structural influences dan functional influences. Pengaruh struktural atas persepsiberasal dari aspek-aspek fisik (berkaitan dengan alat indera individu) yang mempengaruhipersepsi individu terhadap stimuli yang menerpanya. Sedangkan pengaruh fungsional ataspersepsi berasal dari faktor-faktor psikologis individu yang mempengaruhi persepsimereka terhadap stimuli, artinya proses ini lebih banyak melibatkan subyektivitas individu.7Berelson, B. and G.A. Steiner, Human Behavior : An Inventory of Scientific Findings, New York, Harcourt,Brace & World, p. 88
  17. 17. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP8Sementara itu kajian persepsi dalam konteks kegiatan ini lebih memfokuskan perhatianpada pengaruh fungsional, yakni mengkaji bagaimana faktor-faktor psikologis dalam diriindividu mempengaruhi persepsi mereka terhadap pesan-pesan dalam UU ITE dan UUKIP. Faktor-faktor psikologis itu dapat dikategorikan dalam lima kelompok antara lain :(1) Assumption : Asumsi awal yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu isu, akanmempengaruhi persepsinya.(2) Cultural Expectation : nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat lingkunganakan mempengaruhi persepsi seseorang.(3) Motivation : motivasi adalah kepenting-kepentingan yang dimiliki seseorangindividu terhadap misalnya sebuah isu atau wacana akan meningkatkanperhatiannya sehingga akan mempengaruhi persepsi.(4) Mood merupakan kondisi psikologis seperti perasaan bahagia, nyaman.(5) Attitude : sikap awal terhadap sesuatu isu, misalnya a priori terhadap sesuatuisu tertentu, maka akan mempengaruhi persepsi. 8Dalam mengkaji persepsi juga dikenal konsep selective perception. Konsep inimenunjukkan bahwa persepsi seseorang individu senantiasa dipengaruhi faktor-faktorseperti keinginan, kebutuhan, sikap maupun unsur psikologis lainnya. Selectiveperception berarti bahwa individu-individu yang berbeda dapat mempersepsi pesan yangsama secara berbeda. Perbedaan persepsi tersebut lebih pada permasalahan ”receiverinterpretation” , yaitu bagaimana suatu pesan diterima dan diinterprestasi oleh individudengan dipengaruhi faktor-faktor psikologis dalam diri individu tersebut. Menurut Robbin(1991) ada tiga faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang, yaitu :(1) Perciever merupakan ciri-ciri orang yang bersangkutan. Ketika seseorangmenafsirkan tentang apa yang dilihatnya, ia dipengaruhi oleh karakteristikindividu seperti sikap, motif, kepentingan, minat, pengalaman dan harapannya.(2) Target. Persepsi seseorang akan tergantung pada sasaran yang dilihat olehorang tersebut. Target dapat berupa orang, benda, atau peristiwa. Sifat-sifatdari sasaran juga mempengaruhi persepsi seseorang yang melihatnya.8Werner J. Severin dan James W. Tankard, Communication Theories, Origins, Methods, and Uses in themass Media, 1997, Penerbit : Logman Inc, New York, page 73).
  18. 18. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP9(3) Situasi. Persepsi harus dilihat secara kontekstual yag berarti dalam situasimana persepsi itu timbul perlu pula memperoleh perhatian. Situasi merupakanfaktor yang turut berperan serta dalam pertumbuhan persepsi seseorang.9Sedangkan menurut Gibson (1985), ada enam faktor pembentuk persepsi sebagaiberikut :(1) Meniru (stereotyping) merupakan suatu kesatuan pemikiran dan kepercayaanterhadap karakteristik seseorang dalam kelompok tertentu yangdigeneralisasikaan pada semua orang dalam kelompok yang sama dan lebihbesar. Stereotipe sudah melekat kuat dalam konsep pemikiran masyarakatsaat ini.(2) Memilih (selectivity) artinya ketika seseorang menerima begitu banyakinformasi dan data dari media. Sebagai konsekuensinya mereka biasanyacenderung menyeleksi informasi yang menurutnya sesuai atau mendukungapa yang menjadi sudut pandangnya. Sebaliknya, bila dirasa informasimembuat mereka tidak nyaman, mereka akan mengabaikan informasitersebut.(3) Gambaran diri sendiri (self concept). Setiap individu memiliki gambaran diritentang siapa mereka masing-masing. Konsep diri ini mengandung pengertiantentang siapa seseorang tersebut dan ingin menjadi apa seseorang itu.(4) Situasi (situation) mengandung arti di mana seseorang itu berada danbersama dengan siapa, sedang apa dan kondisi saat itu.(5) Kebutuhan (needs). Seseorang melihat sesuatu apa yang mereka inginkan.(6) Emosi (emotion). Saat orang mengalami emosi negatif yang kuat, dia akanmemandang orang lain dengan pandangan negatif juga.109Sumber : Buletin Studi Ekonomi, vol. 1 tahun 2006. Stephen Robbins, Organizational Behaviour, FifthEdition, New Jersey: Prentice Haal, Englewood Cliff, 1991, page 126 -128.10Dikutip dari http://digilib.petra.ac.id, “ Persepsi Perempuan Surabaya terhadap Tayangan Cek & Ricekdi RCTI”., dengan perubahan seperlunya dari penulis.
  19. 19. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP10Dari uraian tentang pengertian dan proses persepsi di atas, maka ditarik suatu kerangkapemikiran sebagai berikut :1.5 Pola Pikir1.6 Metodologi Penelitian1.6.1 Paradigma PenelitianParadigma penelitian adalah positivis. Dalam penelitian positivis menempatkankriteria kebenaran kualitas penelitian tergantung pada aspek validitas (ditinjau secarainternal dan eksternal), realibilitas dan aspek obyektivitas. 11Validitas internal dilihat dariketepatan alat ukur atau instrumen penelitian yang digunakan sejauhmana memiliki kaitanlangsung dengan temuan di lapangan (isomorphism of finding). Artinya, kegiatanpenelitian yang sama dapat dilakukan di tempat lain dengan hasil yang sama pula (dapatdigeneralisir), hal ini mendukung validitas eksternal. Aspek reliabiltas terutama untukmenjaga tingkat stabilitas dan konsistensi instrumen penelitian. Pada paradigma inipeneliti harus bersifat obyektif dalam menjaga jarak dengan obyek penelitiannya.11Lihat Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Tiara Wacana Yogyakarta, 2001, hal. 77.UU ITEUU KIPPersepsi MasyarakatTerhadap UU ITEdan UU KIP3 Faktor yangmempengaruhi Persepsi(Robbin, 1991) :1. Perceiver2. Target3. SituasiTingkat PengetahuanMasyarakat terhadap UUITE dan UU KIP
  20. 20. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP111.6.2 Metode PenelitianPenelitian ini merupakan penelitian kebijakan (policy research), artinya hasil-hasilproduk dari kajian ini diharapkan dapat mendukung suatu kebijakan atau kebijakan hadirkarena dukungan dari suatu riset. Adapun prosedur penelitian kebijakan tetap mengacupada standar metodologi penelitian yang sudah baku. Metode penelitiannya adalah surveiyang meneliti populasi yang relatif luas dengan cara menentukan sampel yang mewakili(representatif) dari populasi yang diteliti (Singarimbun, 1995 : 9). Menurut Wimmer danDominic, pemakaian metode survei memiliki beberapa keuntungan antara lain : (1)memungkinkan peneliti untuk melakukan investigasi permasalahan dalam setting sosialyang realistis, (2) besarnya biaya penelitian sangat beralasan mengingat besarnyajangkauan informasi dan banyaknya data yang dapat diperoleh, (3) data dalam jumlahbesar dan bervariasi dapat dikumpulkan dengan mudah. Berarti metode ini memilikikemampuan menggali data yang heterogen, (4) data sekunder untuk pendukung penelitianmetode ini relatif sangat mudah dan tersedia seperti data BPS, juga data dari berbagaimedia radio, tv, suratkabar, dan lain-lain. 121.6.3 Tipe penelitianTipe penelitian adalah survei deskriptif. Jenis riset ini untuk menggambarkan(mendeskripsikan) populasi yang sedang diteliti. Fokus riset ini adalah perilaku yangsedang terjadi (what exist at the moment). Dalam riset yang menggunakan analisisdeskritif, hipotesis (dugaan sementara) yang diajukan bukan untuk dilakukan uji atauuntuk dibuktikan.1.6.4 Populasi dan Sampel PenelitianDengan pertimbangan ketersediaan biaya penelitian, maka populasi penelitian UUITE dan UU KIP dibatasi menjadi populasi target atau populasi sasaran. Populasi targetadalah masyarakat yang berkepentingan dengan adanya UU ITE dan UU KIP, yaituanggota Mastel (pemerhati telematika), pemerhati Teknologi Informasi dan komunikasidari perguruan tinggi, komunitas pengguna komputer, APJII, masyarakat pengguna12Roger D. Wimmer dan Joseph R. Dominic, Mass Media Research : An Introduction, Wadsworth PublishingCompany , Belmont, 1997, p.137-138
  21. 21. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP12informasi seperti akademisi, mahasiswa, pendidik, pegawai negeri sipil, karyawan swasta,termasuk pejabat pelayanan informasi dan dokumentasi pada Badan-badan Publik baikinstansi pemerintah maupun swasta.Untuk sampel responden menggunakan teknik non probabilitas, dengan sampelterpilih didasarkan pada pertimbangan (purposif), yaitu sebagai (stakeholder) pemangkukepentingan kedua UU tersebut baik secara institusi (badan publik) maupun tugaskeseharian responden. Jumlah sampel responden secara kuota berjumlah 70 orang perlokasi. Karena lokasi penelitian ini dilakukan pada 7 (tujuh) kota, maka jumlah keseluruhanresponden adalah 490 responden.1.6.5 Teknik Pengumpulan DataPengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan sebagai berikut :a) Pengumpulan data primer, dilakukan dengan kuesioner yang telah disiapkansebelumnya, berupa daftar pertanyaan tertutup. Kuesioner berjumlah 70 disebarkankepada target institusi (units of analysis) sebagai berikut :1) Anggota Mastel (Masyarakat Telematika)2) APJII (Assosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia) :3) Perbankan (Bank Mandiri/BNI 46/BRI)4) Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (propinsi) /KantorInfokom/Pusat Data Elektonik (kota/kab)5) Kantor pajak setempat6) Institusi Kepolisian7) Institusi Kejaksaan8) Perguruan Tinggi (Fakultas Ilmu Komputer)9) TVRI10) RRI11) PRRSSNI/Radio Lokal12) PWI/suratkabar setempat13) Persatuan Periklanan Indonesia14) Legislatif : anggota DPR/DPRD15) IT worker : Operator IT (Satelindo, Indosat, telkomsel, dan lain-lain)16) IT Development (pembuat perangkat lunak / Software House)17) Content Provider (IMOCA : Indonesia Mobile online Content ProviderAssociation)
  22. 22. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP1318) Industri/Perusahaan Swasta.19) KPI/KPID20) WarnetCatatan :Target institusi berjumlah 20 kategori, maka kuesioner disebarkan (wawancaradilakukan) antara 3 hingga 4 responden untuk setiap kategori (institusi), disesuaikandengan pertimbangan kondisi lokasi penelitian. Hal ini dilakukan untuk memenuhipenyebaran kuota 70 kuesioner (responden) secara seimbang.13b) Pengumpulan data sekunder, dilakukan melalui teknik observasi kepustakaan, yaknidengan mencari informasi yang berkaitan dengan obyek penelitian melalui buku-bukuteks, penelitian-penelitian senada yang pernah ada, browsing (cari data) di internet,dan juga berbagai data yang berkaitan dengan masalah penelitian.c) Sebagai dukungan untuk analisis data, digunakan juga data kualitatif yang diperolehdari hasil Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan di 7 (tujuh) lokasipenelitian dengan mengundang 12 peserta diskusi terdiri dari 2 (dua) orangnarasumber, 10 orang peserta yang antara lain perwakilan dari Badan Publik sepertiDinas Komunikasi dan Informatika, TVRI, RRI, suratkabar lokal, PWI, APJII, LembagaSwadaya Masyarakat, Radio lokal atau PRSSNI.1.6.6 Lokasi PenelitianDengan pertimbangan ketersediaan biaya, maka lokasi penelitian hanya dilakukanpada 7 (tujuh) kota, meliputi : (1) Medan, (2) DKI Jakarta, (3) Bandung, (4) Semarang, (5)DI Yogyakarta, (6) Surabaya, dan (7) Makassar. Kota-kota tersebut terpilih didasarkanpada asumsi antara lain sebagai kota besar masyarakatnya dianggap relatif lebih familiarterhadap TIK dan arus transaksi elektronik di kota-kota tersebut relatif cukup tinggi.13Kondisi ini merupakan konsekuensi dari kelemahan menggunakan teknik pengumpulan data secara nonprobabilitas (tidak acak). Teknik ini digunakan sebagai alternatif pilihan dengan alasan ketersediaanbiaya, waktu pengumpulan data yang relatif singkat (5 hari 4 malam sesuai surat perintah tugas) dankemampuan tenaga pelaksana pengumpulan data.
  23. 23. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP141.7 Waktu PenelitianProposal penelitian diajukan pada penyusunan program penelitian swakelola padatahun 2008. Adapun Kerangka waktu bagi pelaksanaan kajian ditetapkan selama 5 bulan,dengan tahapan kegiatan sebagai berikut:1. Tahap Penyusunan Riset Desain dan Instrumen (1 bulan)2. Tahap Pengumpulan Data (1 bulan)3. Tahap Pengolahan Data (1 bulan)4. Tahap Penyusunan Laporan Sementara (1 bulan)5. Tahap Presentasi, Seminar dan Laporan Akhir (1 bulan)1.8 Definisi dan Konsep Operasional1.8.1 Definisia. Undang-Undang ITE adalah Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentangInformasi dan Transaksi Elektronik yang terdiri dari 12 Bab, 54 pasal dantercantum pada Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 No. 58.b. Undang-Undang KIP adalah Undang-undang No. 14 Tahun 2008 tentangKeterbukaan Informasi Publik yang terdiri dari 13 Bab, 62 pasal dan tercantumpada Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 No. 4846.c. Pengetahuan merupakan pemahaman seseorang tentang UU ITE dan UU KIPsehingga dengan didasarkan pada pengetahuannya itu, menyebabkanseseorang dapat menyampaikan pendapat atau tanggapannya (persepsi)terhadap kedua undang-undang tersebut.d. Persepsi masyarakat terhadap UU ITE dan UU KIP adalah pendapatseseorang tentang UU ITE dan UU KIP. Persepsi dipengaruhi tingkatpengetahuan atau pemahaman seseorang terhadap pesan (subtansi) yangterkandung dalam kedua undang-undang tersebut.
  24. 24. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP151.8.2 Konsep Operasionala. Profil RespondenProfil responden menggambarkan keadaan atau karakteristik responden,diukur melalui :1) Jenis kelamin (skala nominal)2) Usia3) Tingkat pendidikan4) Pekerjaan/Profesib. Tingkat pengetahuan masyarakat terhadap UU ITE dan UU KIP adalahpenilaian terhadap jawaban yang benar dari materi seputar UU KIP yangditanyakan. Tingkat pengetahuan dibagi 3 (tiga) : tinggi, sedang, rendahberdasarkan pada skala ordinal.Untuk mengukur tingkat pengetahuan digunakan skala GutmanJika jawaban benar diberi skor 3.Jika jawaban salah diberi skor 1.Jika jawaban tidak tahu skor 0.c. Persepsi masyarakat terhadap UU ITE dan UU KIP dalam kajian inidimaksudkan sebagai pendapat mereka mengenai UU ITE dan UU KIP yangakan diukur dengan skala Likert :1. Sangat setuju = 52. Setuju = 43. Kurang setuju = 34. Tidak setuju = 25. Sangat tidak setuju = 1Dari level operasionalisasi di atas, maka dirumuskan suatu asumsi (dugaan), 14sebagai berikut : ”Skor tingkat pengetahuan masyarakat akan mempengaruhipersepsi mereka terhadap UU ITE dan UU KIP ”14Asumsi ini bukan dalam tataran hipotesis karena tidak dilakukan uji statistik. Dalam tipe penelitiandeskritif, hiptesis boleh diajukan tetapi tidak untuk diuji melainkan sebagai dasar asumsi saja.
  25. 25. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP161.9 Teknik Pengolahan dan Analisis DataSeluruh data diperoleh dari kuesioner dan dianggap layak diolah denganmemanfaat program SPSS ver 17 (Statistical Package for the Social Sciences) dengandianalisis secara deskritif. Sedangkan data kualitatif sebagai dukungan data yangmenggambarkan pendapat para peserta FGD dianalisis dengan menggunakan teknikanalisis dan interprestasi data dari Matt Holland. 151.10 Pelaksana dan Biaya KegiatanKegiatan Penelitian Persepsi Masyarakat Terhadap UU ITE dan UU KIP dilakukansecara Swakelola oleh Tim Peneliti dari Pusat Litbang Aptel, SKDI, dengan biayapelaksanaannya dibebankan pada Anggaran Pusat Litbang Aptel dan SKDI BadanPenelitian dan Pengembangan SDM Departemen Komunikasi dan Informatika DIPATahun 2009.1.11 Sistem PelaporanProduk kegiatan hasil dari penelitian ini terdiri dari beberapa laporan sebagaiberikut :1. Laporan Pendahuluan/AwalLaporan pendahuluan berisi rancangan penelitian, strategi pengumpulan data(instrumen penelitian dan prosedur pengumpulan data lapangan), metodologipenelitian yang digunakan.2. Laporan SementaraLaporan ini berisi draf hasil hasil penelitian yang didasarkan pada olahan datadari hasil lapangan, hasil kajian literatur, dan analisis data, kemudiankesimpulan dan rekomendasi sementara.3. Laporan Akhir (Final Report)15Daymon Christine dan Immy Holloway, “Riset Kualitatif dalam Public Relations & MarketingCommunication”, PT Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2008.
  26. 26. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP17Laporan ini merupakan hasil penyempurnaan dari draft laporan sementarasetelah dilakukan pembahasan bersama pejabat/pakar, dan para penelititerkait, dan masukan dan atau evaluasi melalui suatu kegiatan seminar/ujisahih.2. BAB IIGAMBARAN UMUM TENTANGUU ITE DAN UU KIP2.1 Anatomi (struktur) Undang-Undang ITE dan Undang-Undang KIPDalam konteks struktur hukum dasar di Indonesia pertama adalah Undang-UndangDasar 1945 sebagai sumber hukum, kemudian Undang-Undang (UU), PeraturanPemerintah (PP), Peraturan Daerah (Perda), dan terakhir adalah Kode Etik seperti kodeetik jurnalistik, kode etik kedokteran dan lain-lain. Dari sisi hukum dan implikasinya, hukumdibuat untuk mengatur perilaku manusia dalam bermasyarakat yang bersifat memaksadan dikenakan sanksi apabila melanggarnya. Maka, dalam konteks ini, hukummemerlukan proses dan prosedur tertentu yang tentu akan melibatkan aparat penegakhukum terkait dengan tindak pidana/perdata seperti kepolisian, jaksa, dan hakim.Undang-undang yang terkait dengan Komunikasi dan Informatika antara lain adalah :1. UU nomor 8/1992 tentang Perfilman2. UU nomor 5/1999 tentang Larangan praktek Monopoli dan Persaingan Usaha tidaksehat3. UU nomor 8/1999 tentang Perlindungan konsumen4. UU nomor 36/1999 tentang Telekomunikasi5. UU nomor 39/1999 tentang HAM6. UU nomor 40/1999 tentang Pers7. UU nomor 19/2002 tentang Hak Cipta8. UU nomor 32/2002 tentang Penyiaran
  27. 27. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP189. UU nomor 32/2003 tentang Otonomi Daerah10. UU nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik11. UU nomor 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik2.1.1 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi ElektronikLatar belakang lahirnya Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi danTranssaksi Elektronik adalah antara lain :Pemanfaatan Teknologi Informasi, media, dan komunikasi telah mengubah, baikperilaku maupun peradaban manusia secara global.Perkembangan ICT menyebabkan hubungan dunia menjadi tanpa batas (borderless)dan mengubah sosial, ekonomi, dan budaya secara signifikan dan cepat.ICT menjadi pedang bermata dua karena selain memberikan kontribusi bagipeningkatan kesejahteraan, kemajuan, dan peradaban manusia, sekaligus menjadisarana efektif perbuatan melawan hukum.Cyber law, istilah internasional yang terkait dengan pemanfaatan teknologi informasidan komunikasi.Hukum telematika wujud dari konvergensi hukum telekomunikasi,hukum media, dan hukum informatika. Istilah lain hukum teknologi informasi (law ofinformation technology), hukum dunia maya (virtual world law), dan hukum mayantara.Permasalahan hukum dihadapi, ketika terkait dengan penyampaian informasi,komunikasi, dan/atau transaksi secara elektronik, khususnya dalam pembuktian danterkait dengan perbuatan hukum yang dilaksanakan melalui sistem elektronik (sistemkomputer dalam arti luas).Seperti : kegiatan yang tidak lagi dibatasi oleh teritori suatu negara, mudah diakseskapan pun dan dari mana pun. Kerugian terjadi baik pada pelaku transaksi maupunpada orang lain yang tidak pernah melakukan transaksi, misalnya pencurian dana kartukredit melalui pembelanjaan di Internet.
  28. 28. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP19Sistem informasi secara teknis dan fungsional adalah keterpaduan sistem antaramanusia dan mesin mencakup komponen perangkat keras, perangkat lunak, prosedur,sumber daya manusia, dan substansi informasi yang dalam pemanfaatannyamencakup fungsi input, process, output, storage, dan communication .Kegiatan e-commerce antara lain dikenal adanya dokumen elektronik yangkedudukannya disetarakan dengan dokumen yang dibuat di atas kertas.Terdapat tiga pendekatan untuk menjaga keamanan di cyber space, yaitu aspekhukum, aspek teknologi, aspek sosial, budaya, dan etika.Untuk mengatasi gangguan keamanan dalam penyelenggaraan sistem secaraelektronik, pendekatan hukum bersifat mutlak karena tanpa kepastian hukum,persoalan pemanfaatan teknologi informasi menjadi tidak optimal.Struktur Undang-Undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan TransaksiElektronika yang mulai berlaku 21 April 2008, terdiri dari 13 Bab dan 54 pasal, sbb :4 Pasal awal tentang Ketentuan Umum, Azas dan Tujuan, pasal 1 - 4.8 Pasal tentang Informasi, Dokumen dan Tandatangan Elektronik, pasal 5 - 12.4 Pasal tentang Penyelenggaraan Sertifikasi Elektronik dan Sistem Elektronik pasal 13- 166 Pasal tentang Transaksi Elektronik, pasal 17 - 224 Pasal tentang Nama Domain, Hak Atas Kekayaan Intelektual dan Perlindungan HakPribadi, pasal 23 - 26.11 Pasal tentang Perbuatan Yang Dilarang, pasal 27 - 372 Pasal tentang Penyelesaian Sengketa, pasal 38 - 392 Pasal tentang Peran Pemerintah dan Peran Masyarakat, pasal 40 - 413 Pasal tentang Penyidikan, pasal 42 - 448 Pasal tentang Ketentuan Pidana, pasal 45 - 521 Pasal tentang Ketentuan Peralihan, pasal 531 Pasal tentang Ketentuan Penutup, pasal 54.
  29. 29. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP20Sedangkan asas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi danTransaksi Elektronik : Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronikdilaksanakan berdasarkan asas kepastian hukum, manfaat, kehati-hatian, iktikad baik, dankebebasan memilih teknologi atau netral teknologi. Adapun tujuan undang-undang iniadalah :a. Mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia;b. Mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangkameningkatkan kesejahteraan masyarakat;c. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik;d. Membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap Orang untuk memajukanpemikiran dan kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan TeknologiInformasi seoptimal mungkin dan bertanggung jawab; dane. Memberikan rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi pengguna danpenyelenggara Teknologi Informasi.Pasal-pasal yang terkait dengan ketentuan pidana adalah :Melanggar pasal 27 tentang: Kesusilaan, Perjudian, Pencemaran nama baik,pemerasan/ancaman dipidana maksimal penjara 6 tahun dan atau denda 1 milyarMelanggar pasal 28 tentang: berita bohong yang merugikan konsumen, SARAdipidana maksimal penjara 6 tahun dan atau denda 1 milyarMelanggar pasal 29 tentang ancaman kekerasan dan menakut-nakuti dipidanamaksimal penjara 12 tahun dan atau denda 12 milyarMelanggar pasal 30 ayat 1 tentang mengakses milik orang lain dipidana maksimalpenjara 6 tahun dan atau denda 600 jutaMelanggar pasal 30 ayat 2 tentang mengakses untuk memperoleh milik orang laindipidana maksimal penjara 7 tahun dan atau denda 700 jutaMelanggar pasal 30 ayat 3 tentang mengakses milik orang lain denganmelanggar/menjebol dipidana maksimal penjara 8 tahun dan atau denda 800 jutaMelanggar pasal 31 tentang penyadapan, transmisi informasi/penghilangan dipidanamaksimal penjara 10 tahun dan atau denda 800 juta kecuali untuk penegakan hukum
  30. 30. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP21Melanggar pasal 32 tentang mengubah, menambah, mengurangi, merusak,memindahkan, menyembunyikan dokumen elektronik milik orang lain yang bersifatrahasia dipidana maksimal penjara 8 tahun dan atau denda 2 milyarMelanggar pasal 33 tentang perusakan sistem elektronik baik hardware ataupunsoftware dipidana maksimal penjara 10 tahun dan atau denda 10 milyarMelanggar pasal 34 tentang menjual, mendistribusikan hardware/software/kodeakses untuk kejahatan dipidana maksimal penjara 10 tahun dan atau denda 10 milyarMelanggar pasal 35 tentang manipulasi/penciptaan informasi elektronik dipidanamaksimal penjara 12 tahun dan atau denda 12 milyarMelanggar pasal 36 tentang merugikan orang lain dipidana maksimal penjara 12tahun dan atau denda 12 milyar2.1.2 Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP)Maksud dan tujuan Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang KeterbukaanInformasi Publik adalah :Dalam rangka mewujudkan kehidupan demokrasi dengan cirinya adalahketerbukaanMenjamin hak warga negara tentang kebijakan publik;Mendorong Partisipasi dan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan Badanpublik;Mewujudkan penyelenggaraan negara yang transparan, efektif dan efisien,akuntabel dan dapat dipertanggung jawabkan ;Mengetahui alasan kebijakan publik yang terkait dengan hajat hidup orang banyak;Mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencerdaskan bangsa;Meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informasi yang berkualitas dari BadanPublik.Struktur Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi PublikTerdiri dari 14 bab dan 64 pasal dan mulai berlaku 30 April 2010
  31. 31. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP223 Pasal awal tentang Ketentuan Umum Atau Peristilahan, Azas dan Tujuan, pasal1 - 35 Pasal tentang Hak dan Kewajiban Pengguna Informasi (Konsumen) Serta BadanPublik Sebagai Penyedia Informasi (Produsen), pasal 4 - 811 Pasal tentang Content/Isi/Materi Informasi (Yang Boleh dan Tidak Boleh), pasal9 - 202 Pasal tentang Mekanisme Memperoleh Informasi, pasal 21 - 2212 Pasal tentang Komisi Informasi, pasal 23 - 345 Pasal tentang Keberatan dan Penyelesaian Sengketa Melalui Komisi Informasi,pasal 35 - 397 Pasal tentang Hukum Acara Komisi, pasal 40 - 464 Pasal tentang Gugatan ke Pengadilan dan Kasasi, pasal 47 - 507 Pasal tentang Ketentuan Pidana, pasal 51 - 571 Pasal tentang Ketentuan Lain-Lain, pasal 584 Pasal tentang Ketentuan Peralihan, pasal 59 - 622 Pasal tentang Ketentuan Penutup, pasal 63 - 6411 Pasal tentang content/Isi/Materi informasi :- Informasi wajib disediakan dan diumumkan secara berkala dan serta merta.- Informasi wajib tersedia setiap saat (menunjuk pejabat khusus, memiliki sistemlayanan informasi standar, Komponen informasi yang wajib tersedia olehBUMN/D, Parpol, organisasi non pemerintah ).- Informasi yang dikecualikan :(1) Menghambat proses hukum,(2) Mengganggu kepentingan HAKI dan persaingan usaha(3) Membahayakan pertahanan dan keamanan negara,(4) Kekayaan alam Indonesia,(5) Merugikan ketahanan ekonomi nasional,(6) Merugikan kepentingan hubungan luar negeri,(7) Bersifat pribadi/rahasia pribadi atau wasiat,(8) Memorandum atau surat yang sifatnya dirahasiakan.
  32. 32. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP232.2 Wacana tentang Undang-Undang ITE dan Undang-Undang KIPKetika undang-undang ini diberlakukan timbul pro dan kontra dari beberapakomponen masyarakat yang menyikapi beberapa pasal yang dianggap masihbermasalahan. Sebenarnya kehadiran UU ITE dan UU KIP dalam konteks pendekatanhukum adalah dalam bentuk tersedianya hukum positif sudah barang tentu akan memberijaminan adanya kepastian hukum dan sebagai landasan penegakan hukum (lawenforcement) jika terjadi pelanggaran. Salah satu pasal yang ditanggapi adalah sebagaiberikut :“Pasal 9 Undang-undang Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menegaskanbahwa Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik harusmenyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak,produsen, dan produk yang ditawarkan. Pasal tersebut menegaskan bahwa pelaku usahaharus memberikan informasi yang benar mengenai produk yang ditawarkan. Pembelianbarang melalui dunia maya atau e-commerce memang tidak dipungkiri lagi memungkinkanterjadinya tidak sesuainya barang yang diterima oleh pembeli dengan informasi yangdiberikan oleh penjual atau pelaku usaha itu sendiri. Undang-undang Tentang Informasidan Transaksi Elektronik tidak menjelaskan sanksi yang diberikan seandainya pelakuusaha melakukan pelanggaran dengan memberikan informasi yang tidak benar atasbarangnya. Akan tetapi bukan berarti pelaku usaha tersebut tidak dapat dikenai sanksi danlolos dari jeratan hukum apabila ternyata pembeli tersebut telah membeli barang daripelaku usaha dan tidak sesuai dengan informasi yang diberikan pelaku usaha yangnotabene-nya telah terjadi perjanjian jual beli diantara keduanya. Peraturan perundang-undangan hukum acara yang sudah lama berlaku masih dapat memidana pelaku usahatersebut. Di dalam hukum acara pidana, pelaku usaha yang melakukan hal tersebut masihdapat dipidana dengan Pasal 378 KUHP mengenai penipuan.” 16Pasal lain yang cukup banyak mengundang polemik di kalangan pemerhatitelematika adalah sebagaimana yang dikutip dari Kompas Cybermedia, Kamis 4 Desember2008 dengan judul “Undang-Undang No 11/2008 Rawan Disalahgunakan” sebagai berikut:16Sumber dikutip dari Asrini Juwita Sari (asrini_j_sari@yahoo.com/ atau http://asrini.wordpress.com)
  33. 33. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP24“Aliansi Nasional Reformasi Hukum Telematika Indonesia dalam jumpa pers, Rabu (3/12),menyatakan, dua pasal, yaitu Pasal 27 dan Pasal 28, berpotensi menjadi pasal karet.Koordinator aliansi tersebut, Anggara, mengatakan, polisi telah memanggil lima orang danmenjadikan mereka sebagai tersangka. Mereka diduga telah melanggar pasal tersebut.Sebagai contoh, Narliswandi Piliang, wartawan yang kerap menulis dalam situspresstalk.com, dilaporkan kepada polisi oleh anggota DPR, Alvin Lie. Pelaporan itu terkaittulisan Narliswandi berjudul Hoyak Tabuik Adaro dan Soekanto. Untuk tulisan yang sama,Alvin Lie yang berasal dari PAN itu juga melaporkan moderator milis Forum PembacaKompas, Agus Hamonangan, ke polisi. Agus dilaporkan telah mencemarkan nama baiksebab memuat tulisan Narliswandi itu. Tentang tindak pidana dalam ketentuan itu, Pasal 27Ayat 3 menyatakan, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/ataudokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.Menurut Anggara, terminologi memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran namabaik dinilai sangat luas. Selain itu, tentang penghinaan dan pencemaran nama baik dinilaitelah melanggar konsep hukum pidana sebagaimana ada dalam Kitab Undang-undangHukum Pidana (KUHP). ”Dalam KUHP, bentuk penghinaan dijelaskan dengan beberapakategori dan ancaman yang berbeda. Dalam UU No 11 tidak demikian, selain tanpakategori, ancamannya pun jauh lebih berat, yaitu hukuman penjara selama 6 tahun dandenda Rp 1 miliar,” kata Anggara. Tidak mengherankan aliansi itu menilai UU No 11/2008memiliki cacat besar dan berpotensi disalahgunakan. Untuk itu, Koordinator Hukum ElsamSupriyadi Widodo yang juga menjadi anggota aliansi itu mengatakan, selayaknyapemerintah merevisi ketentuan tersebut. (JOS) 17. Berita yang paling mutakhir adalah yangdatang dari Mahkamah Konstitusi yang menggelar sidang lanjutan uji materi pasal 27 ayat(3) pada Kamis, 19 Maret 2009, dengan agenda mendengarkan saksi ahli pemohon dandari pihak pemerintah.17http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/12/04/ 0035065/undang- undang.no. 11/2008.rawan.disalahgunakan
  34. 34. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP25Iwan Piliang selaku Pemohon Perkara No. 50/PUU-VII/2008 dan PerhimpunanBantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) danLembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers) selaku Pemohon Perkara No. 2/PUU-II/2009mendatangkan tiga ahli yakni Prof. Soetandyo Wignyosoebroto, ahli linguistik DedeOetomo dan Ahli Hukum Teknik Informasi Ronny Wuisan. Sedangkan Pemerintahmendatangkan ahli Hukum Pidana Mudzakkir. Untuk saksi, pemerintah mendatangkanArief Muliawan dari Kejaksaan Agung, Sarah dan Rahma Azhari sebagai korbanpencemaran nama baik melalui internet (informasi elektronik). Menurut pemohon pasal 27ayat (3) merupakan pasal yang multi tafsir. Dengan demikian, pasal tersebut dapatmenimbulkan ketidakpastian hukum, apakah yang dimaksud penyebaran informasi ituadalah pernyataan pendapat, kritik atau bahkan penghinaan terhadap Presiden ataupejabat publik. Sedangkan dari pihak ahli dari pemerintah berpendapat bahwa ketentuanhukum pidana yang terkait dengan UU ITE semakin mempertegas kepastian hukum bagipelaku pencemaran nama baik melalui informasi elektronik.18Selengkapnya bunyi pasal27, terutama ayat (1) dan (3) UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan TransaksiElektronik yang mengandung polemik tersebut adalah sebagai berikut : Misalnya dalamBab VII, tentang perbuatan yang dilarang (pasal 27 ayat : 1,2,3,4) menyebutkan bahwa :(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/ataumentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronikdan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggarkesusilaan.(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/ataumentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronikdan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian.(3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/ataumentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronikdan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/ataupencemaran nama baik.18Lengkapnya lihat www. mahkamah konstitusi.go.id. Dokumen Humas MK/Andhini FS
  35. 35. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP26(4) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/ataumentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronikdan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/ataupengancaman. 19Masih terkait dengan pencemaran nama baik adalah kasus yang menimpa Prita Mulyasari,seorang ibu rumahtangga, karena menulis keluhan mengenai pelayanan RS OmniInternasional dikenai hukuman penjara walaupun pada akhirnya ditangguhkanpenahanannya. Hal yang menarik di sini adalah spontansitas dukungan dari masyarakatdunia maya (facebooker) dan penerapan sanksi pasal 27 ayat 3 dari Undang-Undangmengenai ITE ini oleh jaksa di mana penerapan pasal tersebut oleh sebagian kalangandianggap tidak tepat.19Sumber : Depkominfo, Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika, “Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik”, Cetakan kedua : September 2008
  36. 36. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP273.BAB IIIHASIL PENELITIANDari hasil pengumpulan data lapangan, maka pada bab ini akan dibahas analisisdata penelitian yang dipaparkan secara deskriptif, yang kemudian dilakukan komparasiuntuk dianalisis.3.1 Karakteristik Responden1. Jenis kelaminDilihat dari dari sisi karakteristik responden dari sampel penelitian ini tampakberagam, jumlah sampel dasar yang diharapkan sebanyak 490 responden, tetapi setelahdilakukan editing data hanya 475 responden yang bisa dianalisis. Kurangnya sampelpenelitian tersebut tidak akan mempengaruhi hasil yang didapatkan. Selanjutnyakarakteristik responden penelitian tersebut dapat dilihat dalam tabel 3.1 berikut.Tabel 3.1 Jenis kelaminFrequency Percent Valid PercentCumulativePercentValid Laki-laki 337 68.8 70.9 70.9Perempuan 138 28.2 29.1 100.0Total 475 96.9 100.0Missing 9 15 3.1Total 490 100.0Dari tabel 3.1 diketahui bahwa dari jumlah keseluruhan responden 490 orangterdapat 15 kuesioner (3,1%) yang invalid. Sedangkan jumlah responden berjenis kelaminlaki-laki sebanyak 337 orang (70,9%), untuk perempuan sebanyak 138 orang (29,1%) dari
  37. 37. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP28total 475 responden. Berarti responden laki-laki lebih dari dua kali lipat respondenperempuan.2. Usia respondenDari aspek usia responden relatif cukup beragam, terbanyak berusia antara 36-45tahun sebanyak 154 orang (32,4%), kemudian 46 – 55 tahun sebanyak 133 orang (28%),diikuti 26 – 35 tahun sebanyak 128 orang (26,9%). Terkecil adalah di bawah 25 tahunsebanyak 55 orang (11,6%) dan lebih dari 56 tahun sebanyak 5 orang (1,1%).Keseluruhan responden masih dalam usia produktif. Untuk lebih jelasnya seperti dapatdilihat pada Tabel 3.2 berikut.Tabel 3.2 Usia respondenFrequency Percent Valid PercentCumulativePercentValid Di bawah 25tahun55 11.2 11.6 11.626 - 35 tahun 128 26.1 26.9 38.536 - 45 tahun 154 31.4 32.4 70.946 - 55 tahun 133 27.1 28.0 98.9Lebih dari 56tahun5 1.0 1.1 100.0Total 475 96.9 100.0Missing 9 15 3.1Total 490 100.03. Tingkat pendidikanDalam sebuah penelitian kuantitatif, tingkat pendidikan responden menjadi indikatorpenting untuk melihat pengetahuan mereka. Karena dari karakteristik tingkat pendidikan
  38. 38. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP29masyarakat yang dijadikan sampel penelitian, didapatkan gambaran riil secara miniatursejumlah populasi penelitian, seperti kita lihat dalam tabel 3.3 berikut.Tabel 3.3 Tingkat pendidikanFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid SLTA/sederajat 75 15.3 15.8 15.8Diploma (D1, D2, D3) 270 55.1 56.8 72.6Sarjana (S1) 110 22.4 23.2 95.8PascaSarjana/magister (S2)20 4.1 4.2 100.0Total 475 96.9 100.0Missing 9 15 3.1Total 490 100.0Jika dilihat dari tingkat pendidikan ternyata yang terbanyak adalah mereka yangberpendidikan Diploma (D1, D2, D3) sebanyak 270 orang (56,8%), kemudianberpendidikan Sarjana (S1) sebanyak 110 orang (23,2%), SLTA sebanyak 75 orang(15,8%) dan Pasca Sarjana (S2) sebanyak 20 orang (4,2%). Untuk lebih detailnya dapatdilihat pada tabel 3.34. Pekerjaan respondenPekerjaan responden juga menjadi indikator penting dalam penelitian kuantitatif.Dari latar belakang pekerjaan responden dapat dianalisis posisi secara kumulatif daripotensi populasi penelitian. Potensi itu dapat dilihat pada tabel 3.4 berikut ini.
  39. 39. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP30Tabel 3.4 Pekerjaan respondenFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Wiraswasta 30 6.1 6.3 6.3Pedagang 5 1.0 1.1 7.4Pegawai Negeri Sipil 174 35.5 36.7 44.1Karyawan BUMN 31 6.3 6.5 50.6Karyawan swasta 134 27.3 28.3 78.9Profesi: dokter,pengacara, rohaniawan,dosen, wartawan,peneliti, guru, arsitek, danlain-lain59 12.0 12.4 91.4Lainnya : 41 8.4 8.6 100.0Total 474 96.7 100.0Missing 9 16 3.3Total 490 100.0Dari tabel 3.4 tersebut tergambar bahwa pekerjaan terbanyak responden penelitianini yang dominan adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 174 orang (36,7%).Kondisi ini sejalan dengan target responden, yaitu dari beragam institusi pemerintahantara lain perbankan (Mandiri/BNI 46/BRI), Dinas Perhubungan, Komunikasi danInformatika (tingkat propinsi)/Kantor Infokom/Pusat Data Elektronik (kabupaten/kota),Kantor Pajak setempat, Kepolisian, Kejaksaan, TVRI dan RRI. Untuk kedua terbanyakadalah karyawan swasta sebanyak 134 orang (28,3%). Kondisi ini juga sejalan dengantarget responden, yaitu PRSSNI/radio lokal, PWI/suratkabar setempat, PersatuanPeriklanan Indonesia, anggota legislatif, IT worker : operator IT, IT Development, contentprovider, perusahaan swasta/industri, KPI/KPID dan Warnet. Sedang lainnya berturut-turut
  40. 40. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP31adalah kalangan profesional seperti dokter, pengacara, wartawan dan lain-lain sebanyak59 orang (12,4%), karyawan BUMN/BUMD 31 orang (6,5%), dan wiraswsta 30 orang(6,3%).5. Penggunaan Alat KomunikasiPenggunaan alat komunikasi diartikan sebagai aktivitas keseharian respondenmemanfaatkan media komunikasi seperti handphone, komputer/laptop, atau teleponrumah untuk berkomunikasi baik lisan atau pun tertulis. Pertanyaan diajukan denganjawaban lebih dari satu sehingga jawaban yang masuk total berjumlah 490 jawaban (tabel3.5 berikut.Tabel 3.5 Penggunaan Alat KomunikasiFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Personalcomputer/laptop101 20.6 21.3 21.3Handpone 357 72.9 75.2 96.4Telepon rumah 11 2.2 2.3 98.7Lainnya 2 .4 .4 99.25 4 .8 .8 100.0Total 475 96.9 100.0Missing 9 15 3.1Total 490 100.0Dari tabel 3.5 tergambar bahwa handphone atau biasa disebut telepon seluler(ponsel) menjadi alternatif utama responden ketika melakukan aktivitas berkomunikasi,yaitu sebanyak 357 orang (75,2%). Alternatif berikutnya adalah penggunaankomputer/laptop sebanyak 101 orang (21,3%).6. Sumber Informasi tentang UU ITE dan UU KIP
  41. 41. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP32Sumber informasi merupakan penjelasan yang diperoleh responden mengenai UUITE dan UU KIP dari beragam media komunikasi. Jawaban yang diperoleh lebih dari satujawaban (multi respons). Dari perolehan informasi tersebut menjadi pengetahuanseseorang tentang UU ITE dan UU KIP yang merupakan dasar seseorang dapatmenyampaikan pendapat atau tanggapannya (persepsi) terhadap kedua undang-undangtersebut.Tabel 3.6 Sumber Informasi tentang UU ITE dan UU KIPn = 490Frequency PercentValid Televisi 326 40Radio 57 7Sosialisasi 74 9,2Buku, Leaflet, Booklet 67 8,2Internet 246 30,4Lainnya 38 4,7Total Jawaban 808 100Dari tabel 3.6 terlihat bahwa televisi dan internet merupakan sumber terbanyakyang diakui responden untuk perolehan informasi tentang UU ITE dan UU KIP. Televisisebanyak 326 orang (40%) dan Internet sebanyak 246 orang (30,4%). Menyusul cukupsignifikan adalah sosialisasi yang dilakukan berbagai institusi seperti Depkominfo,Depkumham sebanyak 74 orang (9,2%). Sedang sumber lainnya seperti buku, leaflet,booklet sebanyak 67 orang (8,2%) dan radio sebayak 57 orang (7%).7. Pilihan Sumber Informasi
  42. 42. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP33Kepada responden dimintai pendapatnya tentang media mana yang menjadi pilihanpertama untuk menyosialisasikan UU ITE dan KIP. Gambaran pilihan pertama respondendapat dilihat pada tabel 3.7 berikut ini.Tabel 3.7 Pilihan Pertama Untuk Sosialisasi UU ITE dan UU KIPFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Televisi 196 40.0 41.5 41.5Radio 11 2.2 2.3 43.9Sosialisasi 53 10.8 11.2 55.1Buku, Leaflet,Booklet18 3.7 3.8 58.9Internet 170 34.7 36.0 94.9Lainnya 24 4.9 5.1 100.0Total 472 96.3 100.0Missing 9 18 3.7Total 490 100.0Dari tabel 3.7 tersebut dapat digambarkan bahwa pilihan pertama responden untukmenyosialisasikan kedua uu tersebut adalah media televisi meraih 196 orang (41,5%).Pilihan ini mungkin dilihat dari sifat audio-visual sehingga memudahkan dalam prosespembelajaran. Kedua adalah internet sebanyak 170 orang (36%). Sebagai media baru,internet disamping sifatnya audio visual juga memiliki kelebihan, yaitu pesan (message)dapat di-copy atau diunduh. Kemudian pilihan lainnya adalah bentuk sosialisasi yangselama ini dilakukan institusi pemerintah juga mendapat porsi relatif signifikan, yaitu 53orang (11,2%).
  43. 43. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP343.2 Pengetahuan Responden terhadap Undang-Undang No. 11 Tahun 2008tentang ITEUntuk mengetahui tingkat pengetahuan responden terhadap undang-undangtersebut, maka jawaban responden diberi nilai (skor) sebagai berikut :1. Benar mendapat nilai : 32. Salah mendapat nilai : 13. Tidak tahu mendapat nilai : 0Dalam kuesioner, pertanyaan tentang pengetahuan terdiri dari 8 pertanyaan dengan 3pilihan jawaban. Ditentukan nilai terendah adalah 8 dan nilai tertinggi adalah 24. Nilaitertinggi – nilai terendah : 24 - 8 = 16. Interval untuk dua kategori (variabel) = 16 : 2 = 8Kategori tingkat pengetahuan rendah : 1 – 8 (475 x 8) = 475 - 3800 rendahKategori tingkat pengetahuan sedang : 9 – 16 (475x 16)= 4275 – 7600 sedangKategori tingkat pengetahuan tinggi : 17 – 25 (475x25) = 8075-11.875 tinggiCatatan :1x475 = 475 dan 8x475 = 3800 : pengetahuan rendah dalam kisaran 475-38009 x 475= 4275 dan 16 x 475 = 7600 : pengetahuan sedang dalam kisaran 4275–760017 x 475 = 8075 dan 25 x 475 = 11.875 : pengetahuan tinggi kisaran 8075–11.875Kriteria ini untuk satu pertanyaan dan satu jawaban responden3 x jumlah jawaban (benar) x 8 pertanyaan = ....... , dilihat posisi pada kisaran tersebut.1 x jumlah jawaban salah x 8 pertanyaan = .........., dilihat posisi pada kisaran tersebut.0 x jumlah yang tdk menjawaban x 8 pertanyaan = ..., dilihat posisi pada kisaran tersebut.1. Undang-Undang ITE mengatur dan Memberikan sanksi pada kegiatanTabel 3.8 UU ITE Mengatur tentangFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Kegiatan yang mengarahpada hacking,tandatangan elektroniksaja21 4.3 4.5 4.5
  44. 44. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP35Kegiatan transaksielektronik saja42 8.6 9.0 13.4Kegiatanhacking,transaksi dantandatangan elektronik,hak kekayaan intelektual308 62.9 65.7 79.1Tidak tahu 98 20.0 20.9 100.0Total 469 95.7 100.0Missing 9 21 4.3Total 490 100.0Jawaban responden Benar Salah NilaiKegiatan yang mengarah pada hacking,tandatangan elektronik saja- 21Kegiatan transaksi elektronik saja - 42Kegiatan hacking,transaksi dan tandatanganelektronik, hak kekayaan intelektual308 - 7392(sedang)Tidak tahu - 98Dari tabel 3.8 ternyata sebagian besar responden menjawab UU ITE mengaturkegiatan hacking, transaksi elektronik, tanda tangan elektronik hingga hak kekayaanintelektual sebanyak 308 orang (65,7%). Jawaban ini benar dan mendapat skor (3 x 308 x8) = 7392. Berdasarkan perhitungan maka skor terbanyak untuk tingkat pengetahuanresponden pada pertanyaan no. 1 adalah dalam kisaran kategori sedang (7392 beradadalam kisaran 4275 – 7600).2. Tanda tangan elektronik Memiliki kekuatan hukum.Tabel 3.9 Tandatangan Elektronik Memiliki Kekuatan HukumFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Ya memiliki kekuatanhukum yang samadengan tandatangakonvensional (tinta basahdan bermeterai)190 38.8 40.3 40.3
  45. 45. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP36Tidak memiliki kekuatanhukum yang sama karenasesuai dengan e-ASEANFramework144 29.4 30.6 70.9Tidak tahu 136 27.8 28.9 99.84 1 .2 .2 100.0Total 471 96.1 100.0Missing 9 19 3.9Total 490 100.0Jawaban responden Benar Salah NilaiYa, memiliki kekuatan hukum yang samadengan tandatangan konvensional (tinta basahdan bermeterai)190 - 4560(sedang)Tidak memiliki kekuatan hukum yang samakarena sesuai dengan e-Asean Framework- 144 -Tidak tahu 136Dari tabel 3.9 diketahui bahwa sekitar 190 responden (40,3%) yang menjawabbenar bahwa tandatangan elektronik memiliki kekuatan hukum yang sama dengan tandatangan konvensional (tinta basah dan bermeterai). Berarti tingkat pengetahuan responden(mendapat skor : 3 x 190 x 8 = 4560) dalam kisaran kategori sedang.3. Bab VI UU ITE mengatur Nama Domain, HAKI dan Perlindungan Hak PribadiTabel 3.10 Bab VI UU ITE berisi tentang Nama domain,Hak dan Perlindungan Hak PribadiFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Yang benar hanya diaturtentang nama domainsaja34 6.9 7.2 7.2
  46. 46. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP37Ya benar diatur namadomain, HAKI, danPerlindungan Hak Pribadi252 51.4 53.5 60.7Tidak tahu 185 37.8 39.3 100.0Total 471 96.1 100.0Missing 9 19 3.9Total 490 100.0Jawaban responden Benar Salah NilaiYang benar hanya diatur tetang nama Domainsaja34Ya benar diatur nama domain, HAKI danPerlindungan Hak Pribadi252 - 6048sedangTidak tahu - 185 -Dari tabel 3.10 tergambar bahwa yang benar menyebutkan bahwa Bab VI itumengatur tentang nama domain, Haki dan Perlindungan Hak Pribadi seseorang, sebanyak252 orang (53,5%). Berarti tingkat pengetahuan responden (mendapat skor : 3 x 252 x 8 =6048) dalam kisaran kategori sedang.4. UU ITE Mengatur Sanksi Bagi Pelaku Usaha Terkait Produk yang DitawarkanTabel 3.11 UU ITE Mengatur Sanksi Bagi Pelaku Usaha Terkait Produk yangDitawarkanFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid UU ITE MemberikanSanksi yang tegas113 23.1 23.9 23.9
  47. 47. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP38UU ITE tidakmemberikan sanksi .Sanksi diberlakukantetapi melalui hukumpositif169 34.5 35.8 59.7Tidak tahu 186 38.0 39.4 99.24 4 .8 .8 100.0Total 472 96.3 100.0Missing 9 18 3.7Total 490 100.0Jawaban responden Benar Salah NilaiUU ITE memberikan sanksi yang tegas - 113 -U ITE tidak memberikan sanksi tetapi melaluihukum positif169 - 4056sedangTidak tahu - 186 -Dari tabel 3.11 diketahui bahwa sebagian responden masih ragu, apakah UU ITEmemberikan sanksi atau tidak. Tetapi dalam konteks pertanyaan : Dalam UU ITEmenyebutkan pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik harusmenyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak,produsen, dan produk yang ditawarkan. Pembelian barang melalui dunia maya, bisa sajatidak sesuai antara barang yang diterima oleh pembeli dengan informasi yang diberikanoleh penjual. Menurut anda, apakah sanksi untuk persoalan tersebut telah diatur UU ITE?Jawaban benar 169 responden (35,8%) Berarti tingkat pengetahuan responden (mendapatskor : 3 x 169 x 8 = 4056) dalam kisaran kategori sedang.5. UU ITE Bab VII tentang Perbuatan yang Dilarang : SanksiTabel 3.12Pasal 27 ayat (1) tentang Sanksi Pelanggaran KesusilaanFrequency Percent Valid PercentCumulativePercent
  48. 48. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP39Valid Hanya dikenai sanksipenjara paling lama 6tahun33 6.7 7.0 7.0Hanya dikenai dendasebanyak satu milyarrupiah12 2.4 2.5 9.6Dikenai dua-duanya :penjara dan denda252 51.4 53.5 63.1Tidak tahu 172 35.1 36.5 99.65 2 .4 .4 100.0Total 471 96.1 100.0Missing 9 19 3.9Total 490 100.0Jawaban responden Benar Salah NilaiHanya dikenai sanksi penjara laing lama 6 tahun 33Hanya dikenai denda sebanyak satu milyar rupiah 12Dikenai dua-duanya :penjara dan denda 252 - 6048sedangTidak tahu - 172 -Dari tabel 3.12 diketahui bahwa sebagian besar responden mengetahui bahwa jikamelanggar pasal 27 ayat (1) dikenai sanksi dan denda, sebanyak 252 responden (53,5%).Berarti tingkat pengetahuan responden (mendapat skor : 3 x 252 x 8 = 6048) dalamkisaran kategori sedang.6. UU ITE Bab VII tentang Perbuatan yang Dilarang : Kategori orangTabel 3.13 Pasal 27 ayat (1) UU ITE tentang kategori orang yang mentrasmisikanFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Pengusaha Warnet 27 5.5 5.8 5.8Orang yang men-download-informasiyang melanggarkesusilaan danmendistribusikan295 60.2 63.3 69.1
  49. 49. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP40Tidak tahu 143 29.2 30.7 99.84 1 .2 .2 100.0Total 466 95.1 100.0Missing 9 24 4.9Total 490 100.0Jawaban responden Benar Salah NilaiPengusaha Warnet - 27 -Orang yang men-dowload informasi yangmelanggar kesusilaan dan mendistribusikan295 - 7080sedangTidak tahu - 143 -Dari tabel 3.13 menggambarkan bahwa sebagian besar responden menjawabbenar, sebanyak 295 orang (63,3%). Berarti tingkat pengetahuan responden (mendapatskor : 3 x 295 x 8 = 7080) dalam kisaran kategori sedang.7. Kehadiran UU ITETabel 3.14 Kehadiran UU ITE dalam upaya :Frequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Melindungikepentingankomunitas penggunainternet14 2.9 3.0 3.0Melindungikepentingan umumdari penyalahgunaaninformasi dantransaksi elektronik411 83.9 87.1 90.0
  50. 50. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP41Tidak tahu 47 9.6 10.0 100.0Total 472 96.3 100.0Missing 9 18 3.7Total 490 100.0Jawaban responden Benar Salah NilaiMelindungi kepentingan komunitas penggunainternet- 14 -Melindungi kepentingan umum daripenyalahgunaan informasi dan transaksielektronik411 - 9864tinggiTidak tahu - 47 -Pada tabel 3.14 sebagian besar responden, 411 orang (87,1%) mengakui bahwaUU ITE hadir untuk melindungi kepentingan umum dari penyalahgunaan informasi dantransaksi elektronik. Dari aspek tingkat pegetahuan, berarti tingkat pengetahuanresponden (mendapat skor : 3 x 411 x 8 = 9864) dalam kisaran kategori tinggi.8. Peran Masyarakat Terhadap TIKTabel 3.15 Peran Masyarakat terhadap Peningkatan Pemanfaatan TIKFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Melalui Pembentukanlembaga yangmemiliki fungsikonsultansi danmediasi284 58.0 60.4 60.4Melalui pembentukankomunitas-komunitasjaringan sosial97 19.8 20.6 81.1
  51. 51. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP42Tidak tahu 86 17.6 18.3 99.44 3 .6 .6 100.0Total 470 95.9 100.0Missing 9 20 4.1Total 490 100.0Jawaban responden Benar Salah NilaiMelalui pembentukan lembaga yang memilikifungsi konsultansi dan mediasi284 - 6816sedangMelalui pembentukan komunitas-komunitasjaringan sosial- 97 -Tidak tahu - 86 -Dari tabel 3.15 diketahui sebagian besar responden, yaitu sebesar 284 (58%)responden menyadari bahwa peran masyarakat dalam upaya peningkatan pemanfaatanTIK adalah melalui pembentukan lembaga-lembaga yang memiliki fungsi konsultansi danmediasi. Dari aspek tingkat pegetahuan, berarti tingkat pengetahuan responden(mendapat skor : 3 x 284 x 8 = 6816) dalam kisaran kategori sedang.3.3 Persepsi Responden terhadap Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentangITEUntuk mengetahui tingkat persepsi (pendapat) responden terhadap undang-undangtersebut, maka jawaban responden diberi nilai (skor) sebagai berikut :1. Sangat setuju = 52. Setuju = 43. Kurang setuju = 34. Tidak setuju = 2
  52. 52. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP435. Sangat tidak setuju = 1Dalam kuesioner, pertanyaan tentang persepsi terdiri dari 9 pertanyaan dengan 5 pilihanjawaban. Ditentukan nilai terendah adalah 9 dan nilai tertinggi adalah 45.Nilai tertinggi – nilai terendah : 45 - 9 = 36.Interval untuk dua kategori (variabel) = 36 : 2 = 18Kategori tingkat persepsi rendah : 1 – 18 (475 x 18) = 475 – 8.550 rendahKategori tingkat persepsi sedang : 19 – 37 (475x 37) = 9.025 – 17.575 sedangKategori tingkat persepsi tinggi : 38 – 55 (475x 55) = 18.050 -26.125 tinggiCatatan :Jika terbanyak responden memiliki kisaran persepsinya dalam kategori tinggi makadisimpulkan persepsi responden sangat positif, jika sedang persepsinya positif, dan jikarendah persepsinya negatif.1. UU ITE Untuk Melindungi MasyarakatTabel 3.16 Keyakinan terhadap UU ITE untuk melindungi kepentingan masyarakatFrequency Percent Valid PercentCumulativePercentValid Sangat yakin 61 12.4 13.0 13.0Yakin 183 37.3 38.9 51.8Kurang yakin 165 33.7 35.0 86.8
  53. 53. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP44Tidak yakin 48 9.8 10.2 97.0Sangat tidak yakin 14 2.9 3.0 100.0Total 471 96.1 100.0Missing 9 19 3.9Total 490 100.0Persepsi responden Kisaran Nilai Tingkat PersepsiSangat yakin 5 x 9 x 61 = 2745 RendahYakin 4 x 9 x 183 = 6588 RendahKurang Yakin 3 x 9 x 165 = 4455 RendahTidak yakin 2 x 9 x 48 = 864 RendahSangat tidak yakin 1 x 9 x 14 = 126 RendahTabel 3.16 menunjukkan persepsi responden terhadap keyakinan bahwa UU ITEdapat melindungi Kepentingan masyarakat adalah dalam kisaran kategori rendah (negatif).Namun terdapat 61 responden (13%) yang “Sangat yakin” dan 183 responden (38,9%)berpendapat “Yakin” bahwa UU ITE akan melindungi kepentingan masyarakat.2. Kesetujuan terhadap UU ITE Memberi Perlindungan HukumTabel 3.17 menunjukkan persepsi terbesar responden terhadap kesetujuan bahwaUU ITE akan memberi kepastian terhadap perlindungan hukum bagi aktivitas pemanfaatanTIK adalah dalam kisaran kategori sedang (positif), yaitu 308 orang (65,5%) Sedangkanresponden yang “Sangat setuju” relatif sedikit, yaitu 80 orang (17%).Tabel 3.17 UU ITE Memberi Perlindungan hukum pada Aktivitas Pemanfaatan TIKFrequency Percent Valid PercentCumulativePercentValid Sangat setuju 80 16.3 17.0 17.0Setuju 308 62.9 65.5 82.6Kurang setuju 48 9.8 10.2 92.8Tidak setuju 21 4.3 4.5 97.2Sangat tidak setuju 13 2.7 2.8 100.0Total 470 95.9 100.0
  54. 54. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP45Missing 9 20 4.1Total 490 100.0Persepsi responden Kisaran Nilai Tingkat PersepsiSangat setuju 5 x 9 x 80 = 3600 RendahSetuju 4 x 9 x 308 = 11088 SedangKurang setuju 3 x 9 x 48 = 1296 RendahTidak setuju 2 x 9 x 21 = 378 RendahSangat tidak setuju 1 x 9 x 13 = 117 Rendah3. UU ITE Menjamin Kepastian HukumTabel 3.18 UU ITE Menjamin Kepastian HukumFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Sangat sependapat 60 12.2 12.7 12.7Sependapat 284 58.0 60.3 73.0Kurang sependapat 96 19.6 20.4 93.4Tidak sependapat 20 4.1 4.2 97.7Sangat tidaksependapat9 1.8 1.9 99.66 2 .4 .4 100.0Total 471 96.1 100.0Missing 9 19 3.9Total 490 100.0Persepsi responden Kisaran Nilai Tingkat PersepsiSangat sependapat 5 x 9 x 60 = 2700 RendahSependapat 4 x 9 x 284 = 10.224 SedangKurang sependapat 3 x 9 x 96 = 2592 RendahTidak sependapat 2 x 9 x 20 = 360 RendahSangat tidak sependapat 1 x 9 x 9 = 81 RendahTabel 3.18 menggambarkan bahwa sebagian besar responden, yaitu 284 orang(60,3%) menyatakan sependapat bahwa UU ITE menjamin kepastian hukum. Persepsiresponden ini berada dalam kisaran sedang (positif).4. Peran Pemerintah Memfasilitasi TIKTabel 3.19 Peran Pemerintah Memfasilitasi Pemanfaatan TIKsesuai Ketentuan dan Peraturan
  55. 55. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP46Frequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Sangat sependapat 85 17.3 18.0 18.0Sependapat 285 58.2 60.5 78.6Kurang sependapat 75 15.3 15.9 94.5Tidak sependapat 15 3.1 3.2 97.7Sangat tidaksependapat9 1.8 1.9 99.66 2 .4 .4 100.0Total 471 96.1 100.0Missing 9 19 3.9Total 490 100.0Persepsi responden Kisaran Nilai Tingkat PersepsiSangat sependapat 5 x 9 x 85 = 3825 RendahSependapat 4 x 9 x 285 = 10.260 SedangKurang sependapat 3 x 9 x 75 = 2025 RendahTidak sependapat 2 x 9 x 15 = 270 RendahSangat tidak sependapat 1 x 9 x 9 = 81 RendahSebagian besar responden 285 orang (58,2%) sependapat bahwa pemerintahmemfasilitasi pemanfaatan TIK sesuai ketentuan dan peraturan yang ada. Persepsiresponden ini dalam kisaran sedang (positif).5. Pendapat terhadap Kejahatan Penyalahgunaan Melalui TIK Semakin MeningkatTabel 3.20 Kejahatan Penyalahgunaan Melalui TIK Semakin MeningkatFrequency PercentValidPercentCumulativePercent
  56. 56. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP47Valid Sangat sependapat 129 26.3 27.4 27.4Sependapat 290 59.2 61.6 89.0Kurang Sependapat 36 7.3 7.6 96.6Tidak sependapat 8 1.6 1.7 98.3Sangat tidaksependapat8 1.6 1.7 100.0Total 471 96.1 100.0Missing 9 19 3.9Total 490 100.0Persepsi responden Kisaran Nilai Tingkat PersepsiSangat sependapat 5 x 9 x 129 = 5805 SedangSependapat 4 x 9 x 290 = 10.440 SedangKurang sependapat 3 x 9 x 36 = 972 RendahTidak sependapat 2 x 9 x 8 = 144 RendahSangat tidak sependapat 1 x 9 x 8 = 72 RendahDari tabel 3.20 menunjukkan bahwa sebagian besar responden sependapat, bahwakejahatan penyalahgunaan TIK semakin meningkat, yaitu “sangat sependapat”, sebanyak129 orang (27,4%) dan “Sependapat” sebanyak 290 orang (61,6%). Persepsi respondenini berada dalam kisaran sedang (positif).6. UU ITE Meminimalisir Kejahatan Melalui InternetTabel 3.21 UU ITE Meminimalisir Kejahatan Melalui Internet
  57. 57. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP48Frequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Sangat setuju 62 12.7 13.2 13.2Setuju 325 66.3 69.0 82.2Kurang setuju 59 12.0 12.5 94.7Tidak setuju 18 3.7 3.8 98.5Sangat tidak setuju 7 1.4 1.5 100.0Total 471 96.1 100.0Missing 9 19 3.9Total 490 100.0Persepsi responden Kisaran Nilai Tingkat PersepsiSangat setuju 5 x 9 x 62 = 2790 RendahSetuju 4 x 9 x 325 = 11.700 SedangKurang setuju 3 x 9 x 59 = 1593 RendahTidak setuju 2 x 9 x 18 = 324 RendahSangat tidak setuju 1 x 9 x 7 = 63 RendahDari tabel 3.21 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (325 orang, 69%)menyatakan kesetujuannya bahwa UU ITE dapat meminimalisir kejahatan yangmenggunakan fasilitas internet. Dilihat pada aspek kisaran persepsi responden beradapada kategori sedang (positif).7. Informasi, Doumentasi, dan Hasil Cetak Elektronik Merupakan Bukti Hukum SahTabel 3.22Informasi, Dokumentasi, dan Hasil Cetak Elektronikmerupakan alat bukti hukum yang sah
  58. 58. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP49Frequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Sangat sependapat 70 14.3 14.9 14.9Sependapat 280 57.1 59.7 74.6Kurang sependapat 88 18.0 18.8 93.4Tidak sependapat 19 3.9 4.1 97.4Sangat tidaksependapat12 2.4 2.6 100.0Total 469 95.7 100.0Missing 9 21 4.3Total 490 100.0Persepsi responden Kisaran Nilai Tingkat PersepsiSangat sependapat 5 x 9 x 70 = 3150 RendahSependapat 4 x 9 x 280 = 10.080 SedangKurang sependapat 3 x 9 x 88 = 2376 RendahTidak sependapat 2 x 9 x 19 = 342 RendahSangat tidak sependapat 1 x 9 x 12 = 108 RendahPada tabel 3.22 menggambarkan bahwa sebagian besar (280 orang atau 57,1%)responden sependapat bahwa informasi elektronik dan/atau dokumentasi elektronik danatau hasil cetak merupakan alat bukti hukum yang sah, sebagaimana yang tertuang dalamUU ITE pasal 5 ayat (1). Dilihat pada aspek kisaran persepsi responden berada padakategori sedang (positif).8. Pendapat tentang Pembatasan Hak publikTabel 3.23
  59. 59. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP50UU ITE Membatasi Hak Publikakan Informasi di Internet, pemblokiran situsFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Sangat setuju 66 13.5 14.1 14.1Setuju 189 38.6 40.3 54.4Kurang setuju 130 26.5 27.7 82.1Tidak setuju 58 11.8 12.4 94.5Sangat tidak setuju 26 5.3 5.5 100.0Total 469 95.7 100.0Missing 9 21 4.3Total 490 100.0Persepsi responden Kisaran Nilai Tingkat PersepsiSangat sependapat 5 x 9 x 66 = 27970 RendahSependapat 4 x 9 x 189 = 6804 RendahKurang sependapat 3 x 9 x 130 = 3510 RendahTidak sependapat 2 x 9 x 58 = 1044 RendahSangat tidak sependapat 1 x 9 x 26 = 234 RendahPro dan kontra dari masyarakat terhadap UU ITE, lebih dititik beratkan padakemungkinan akan digunakan pemerintah untuk membatasi hak publik akan informasi diinternet, pemblokiran situs Youtube, media blog, dan lain-lain. Dalam konteks pertanyaanini, seperti terlihat dari tabel 3.23 diketahui bahwa persepsi responden sangat rendah(negatif). Kondisi ini mengisyaratkan bahwa sebagian besar responden tidak setujuapabila UU ITE akan membatasi informasi dari internet atau dilakukan pemblokiranterhadap situs-situs tertentu.9. Solusi Pasal Bermasalah Melalui Uji Materil di Mahkaman KonstitusiTabel 3.24
  60. 60. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP51Uji Materil melalui MK Solusi MerevisiPasal Bermasalah dlm UU ITEFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Sangat sependapat 115 23.5 24.5 24.5Sependapat 295 60.2 62.9 87.4Kurang sependapat 44 9.0 9.4 96.8Tidak sependapat 10 2.0 2.1 98.9Sangat tidaksependapat5 1.0 1.1 100.0Total 469 95.7 100.0Missing 9 21 4.3Total 490 100.0Persepsi responden Kisaran Nilai Tingkat PersepsiSangat sependapat 5 x 9 x 115 = 5175 RendahSependapat 4 x 9 x 295 = 10.620 SedangKurang sependapat 3 x 9 x 44 = 1188 RendahTidak sependapat 2 x 9 x 10 = 180 RendahSangat tidak sependapat 1 x 9 x 5 = 45 RendahDari tabel 3.24 ternyata diketahui bahwa sebagian besar responden (295 orangatau 62,9%) menyatakan tingkat kesetujuannya terhadap solusi pasal-pasal bermasalahdalam UU ITE melalui uji materil pada Mahkamah Konstitusi. Dilihat pada aspek kisaranpersepsi responden berada pada kategori sedang (positif).3.4 Pengetahuan Responden terhadap UU No. 14 tahun 2008 tentangKeterbukaan Informasi Publik (UU KIP)
  61. 61. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP52Sebagaimana analisis data yang dilakukan pada tingkat pengetahuan respondenterhadap UU ITE, maka untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden terhadapundang-undang KIP juga diberlakukan hal yang sama sebagai berikut :Jawaban responden terhadap pertanyaan dari kuesioner diberi nilai (skor) :1. Benar mendapat nilai : 32. Salah mendapat nilai : 13. Tidak tahu mendapat nilai : 0Dalam kuesioner, pertanyaan tentang pengetahuan terdiri dari 7 pertanyaan dengan 3pilihan jawaban. Ditentukan nilai terendah adalah 7 dan nilai tertinggi adalah 21.Nilai tertinggi – nilai terendah : 21 - 7 = 14.Interval untuk dua kategori (variabel) = 14 : 2 = 7Kategori tingkat pengetahuan rendah : 1 – 7 (475 x 7) = 475 - 3325 rendahKategori tingkat pengetahuan sedang : 8 – 15 (475x 16)= 3800 – 7125 sedangKategori tingkat pengetahuan tinggi : 16 – 23 (475x23) = 7600 -10.925 tinggi1. Kegunaan UU KIPTabel 3.25 Kehadiran UU KIP untukFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Untuk meningkatkankemampuan BadanPublik pemerintah/nonpemerintah dlmmemberikan layananinformasi public251 51.2 53.3 53.3Untuk mencerdaskanmasyarakat dlmkehidupan berbangsada bernegara132 26.9 28.0 81.3Tidak tahu 87 17.8 18.5 99.811 1 .2 .2 100.0Total 471 96.1 100.0Missing 9 19 3.9Total 490 100.0Jawaban responden Benar Salah NilaiUntuk meningkatkan kemampuan BadanPublik pemerintah/non pemerintah dlm251 - 5271sedang
  62. 62. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP53Frequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Untuk meningkatkankemampuan BadanPublik pemerintah/nonpemerintah dlmmemberikan layananinformasi public251 51.2 53.3 53.3Untuk mencerdaskanmasyarakat dlmkehidupan berbangsada bernegara132 26.9 28.0 81.3Tidak tahu 87 17.8 18.5 99.811 1 .2 .2 100.0Total 471 96.1 100.0Missing 9 19 3.9memberikan layanan informasi publikUntuk mencerdaskan masyarakat dlamkehidupan berbangsa dan bernegara- 132 -Tidak tahu 87Dari tabel 3.25 ternyata sebagian besar (251 orang atau 53,3%) respondenmenjawab bahwa kehadiran UU KIP adalah untuk meningkatkan kemampuan BadanPublik pemerintah/non pemerintah dlm memberikan layanan informasi publik. Jawaban inibenar dan mendapat skor (3 x 251 x 7) = 5271. Berdasarkan perhitungan maka skorterbanyak untuk tingkat pengetahuan responden pada pertanyaan no. 26 dalam kuesioneradalah dalam kisaran kategori sedang (5271 berada dalam kisaran 3800 – 7125 ).2. Sumber Dana Badan Publik Pemerintah/Penyelenggaraan NegaraDari tabel 3.26 menunjukkan sebagian besar (381 orang atau 80,9%) respondenberpendapat bahwa sumber dana Badan publik yang berkaitan dengan penyelenggaraannegara adalah dari APBN atau APBD. Jawaban ini benar dan mendapat skor (3 x 382 x 7)= 8022. Berdasarkan perhitungan maka skor terbanyak untuk tingkat pengetahuanresponden pada pertanyaan no. 27 dalam kuesioner adalah dalam kisaran kategori tinggi(8022 berada dalam kisaran 3800 – 7125 ).
  63. 63. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP54Tabel 3.26 Sumber dana Badan Publik yang berkaitan Penyelenggaraan NegaraFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Dari APBN atau APBD 381 77.8 80.9 80.9Negara asing sebagaidonatur tidak mengikat17 3.5 3.6 84.5Tidak tahu 73 14.9 15.5 100.0Total 471 96.1 100.0Missing 9 19 3.9Total 490 100.0Jawaban responden Benar Salah NilaiDari APBN atau APBD 381 - 8022tinggiNegara asing sebagai donatur tidak mengikat - 17 -Tidak tahu 733. Sumber Dana Badan Publik Non PemerintahTabel 3.27 Sumber dana Badan Publik Non PemerintahFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Dari APBN dan APBD 210 42.9 44.6 44.6Sumbanganmasyarakat/negaraasing150 30.6 31.8 76.4Tidak tahu 111 22.7 23.6 100.0Total 471 96.1 100.0Missing 9 19 3.9Total 490 100.0Jawaban responden Benar Salah NilaiDari APBN atau APBD 210Sumbangan masyarakat/negara asing 150 - 3150rendahTidak tahu 111Dari tabel 3.27 menunjukkan sebagian besar (210 orang atau 44,6%) respondenberpendapat bahwa sumber dana Badan publik non Pemerintah berasal dari APBN atau
  64. 64. Kajian Persepsi Masyarakat terhadapUU ITE dan UU KIP55APBD. Jawaban ini salah. Sedangkan yang menjawab benar sebanyak 150 responden(31,8%) dan mendapat skor (3 x 150 x 7) = 3150. Berdasarkan perhitungan maka skorterbanyak untuk tingkat pengetahuan responden berada pada kisaran kategori rendah(3150 berada dalam kisaran 475 - 3325).4. Pengertian Informasi PublikTabel 3.28 Pengertian Informasi PublikFrequency PercentValidPercentCumulativePercentValid Informasi dari danuntuk masyarakat,dikelola masyarakat92 18.8 19.5 19.5Informasi yangdihasilkan, disimpan,dikelola, dikirim danditerima dandisebarluaskan olehBadan Publik337 68.8 71.5 91.1Tidak tahu 42 8.6 8.9 100.0Total 471 96.1 100.0Missing 9 19 3.9Total 490 100.0Jawaban responden Benar Salah NilaiInformasi dari dan untuk masyarakat,dikelaoa masyarakat- 92 -Informasi yang dihasilkan, disimpan,dikelola, dikirim, diterima, dandisebarluaskan oleh Badan Publik337 - 7077sedangTidak tahu - 42 -Dari tabel 3.28 menunjukkan sebagian besar (337 orang atau 71,5%) respondenmenjawab bahwa informasi publik merupakan informasi yang dihasilkan, disimpan,dikelola, dikirim, diterima dan disebarluaskan oleh Badan Publik. Jawaban ini benar danmendapat skor (3 x 337 x 7) = 7077. Berdasarkan perhitungan maka skor terbanyak untuk

×