Studi spektrum frek utk maritim 2011

1,613 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,613
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
70
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Studi spektrum frek utk maritim 2011

  1. 1. iPENGGUNAAN SPEKTRUMFREKUENSI UNTUKKEPERLUANDINAS MARITIM
  2. 2. iiPENGGUNAANSPEKTRUM FREKUENSIUNTUK KEPERLUANDINAS MARITIM
  3. 3. iiiPENGGUNAANSPEKTRUM FREKUENSIUNTUK KEPERLUANDINAS MARITIMPENGGUNAAN
  4. 4. ivPENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSIUNTUK KEPERLUANDINAS MARITIM@ Hak Cipta Dilindungi Undang – Undang. Dilarang memperbanyak sebagianatau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronik maupunmekanik, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan sistem penyimpananlainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.Diterbitkan oleh Puslitbang SDPPI, Badan Penelitian dan PengembanganSumber Daya Manusia – Kementerian Komunikasi dan InformatikaCetakan PertamaDesember 2011
  5. 5. iSAMBUTANKEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGANSUMBER DAYA MANUSIAKEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKAPuji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telahmelimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga buku “Penggunaan SpektrumFrekuensi untuk Keperluan Dinas Maritim” dapat diterbitkan.Penerbitan buku ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenaipenggunaan spektrum frekuensi khususnya untuk keperluan dinas maritim.Sebagaimana kita ketahui, spektrum frekuensi merupakan salah satu sumber dayaterbatas, sangat vital dan merupakan aset nasional yang memerlukan kehati-hatiandalam mengaturnya. Untuk itu diperlukan suatu kegiatan manajemen spektrumfrekuensi dari suatu tahapan perencanaan hingga pendistribusian ketersediaan untukkeperluan penyelenggaraan komunikasi maritim yang dalam implementasinyadiperlukan koordinasi dengan instansi terkat lainnya serta perlu dicermatiharmonisasi terkait peraturan yang dikeluarkan instansi terkait.Alokasi spektrum frekuensi untuk keperluan dinas maritim dapat dimanfaatkansecara maksimal oleh pengguna frekuensi maritim terutama perusahaan-perusahaanpelayaran, nelayan kecil atau pelayaran rakyat sehingga dapat mendukung saranakeselamatan dan komunikasi serta kegiatan ekonomi di maritim.Besar harapan kami buku ini dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan danpengetahuan masyarakat, kalangan akademisi, dunia usaha dan para pembacatentang penggunaan spektrum frekuensi khususnya untuk keperluan dinas maritim.Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada Menteri Komunikasi danInformatika yang telah memberikan kepercayaan dan arahan kepada kami dalampenerbitan buku ini dan kepada Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber DayaPerangkat Pos dan Informatika yang telah menerbitkan buku ini dan seluruh pihakyang telah mendukung serta membantu penyelesaian buku “Penggunaan SpektrumFrekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim”.Jakarta, Desember 2011KEPALA BADAN LITBANG SDMAIZIRMAN DJUSAN
  6. 6. iiKATA PENGANTARPuji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahanrahmat dan karunia-Nya, sehingga Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber DayaPerangkat Pos dan Informatika – Badan Litbang SDM dapat menyusun danmenerbitkan buku “Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan DinasMaritim”.Buku ini merupakan naskah publikasi dari Studi Penggunaan Spektrum FrekuensiUntuk Keperluan Dinas Maritim yang telah dilaksanakan oleh Pusat Penelitian danPengembangan Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika – Badan Litbang SDMbekerjasama dengan PT IMT Mitra Solusi.Buku ini terdiri dari 4 (empat) bagian yaitu gambaran umum, pengumpulan data,pembahasan, kesimpulan dan saran.Besar harapan kami buku ini dapat menambah wawasan dan pengetahuanmasyarakat pada umumnya dan para pembaca khususnya. Kami menyadari bahwabuku ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan masukanyang konstruktif dari berbagai pihak.Pada kesempatan ini, tak lupa kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Menteri Komunikasi dan Informatika, Kepala Badan Penelitian danPengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika, Para DirekturJenderal, Para Staf Ahli dan Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika yangtelah memberikan kepercayaan dan arahan kepada kami dalam penerbitan buku ini.Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telahmendukung serta membantu penyelesaian buku Penggunaan Spektrum FrekuensiUntuk Keperluan Dinas Maritim”.Jakarta, Desember 2011KEPALA PUSAT PENELITIAN DANPENGEMBANGAN PERANGKAT POSDAN INFORMATIKABARINGIN BATUBARA
  7. 7. iiiDAFTAR ISISAMBUTAN.................................................................................................................iKATA PENGANTAR ................................................................................................. iiDAFTAR ISI............................................................................................................... iiiDAFTAR GAMBAR....................................................................................................vDAFTAR TABEL........................................................................................................viDAFTAR ISTILAH................................................................................................... viiBAB I GAMBARAN UMUM......................................................................................11.1 Transportasi Maritim di Indonesia..................................................11.2 Pelayaran Rakyat ............................................................................31.3 Telekomunikasi Pelayaran..............................................................71.4 Global Maritime Distress Safety System (GMDSS) ....................101.5 Global Maritime Distress and Safety System (GMDSS) untukStasiun Radio Pantai (SROP) .......................................................281.6 Spektrum Frekuensi Radio............................................................311.7 Sistem Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio. ..........................311.8 Pengaturan Penggunaan Spektrum Frekuensi Maritim BerdasarkanRadio Regulation ITU...................................................................331.9 Spektrum Frekuensi di Indonesia .................................................331.10 Kebijakan-Kebijakan Pemerintah dalam Penggunaan SpektrumFrekuensi untuk Keperluan Maritim.............................................371.11 PNBP untuk Pengguan Spektrum Frekuensi Radio pada DinasMaritim .........................................................................................40BAB II HASIL PENGUMPULAN DATA ................................................................452.1 Hasil In depth Interview ...............................................................452.2 Hasil FGD.....................................................................................572.2.1 Hasil FGD di Jakarta.....................................................................572.2.2 Hasil FGD di Medan.....................................................................592.2.3 Hasil FGD di Surabaya.................................................................602.3 Hasil Quesioner Kualitas Pelayanan Maritim...............................62BAB III ANALISIS....................................................................................................653.1 Pembahasan Hasil FGD................................................................653.2 Pembahasan Hasil In Depth Interview..........................................673.3 Pembahasan Permasalahan ...........................................................72
  8. 8. iv3.3.1 Evaluasi Terhadap Implementasi Kebijakan-kebijakan PemerintahTerkait Penggunaan Frekuensi untuk Keperluan Dinas Maritim .733.3.1.1 Kebijakan dari Kementrian Perhubungan.....................................743.3.1.2 Kebijakan dari Kementrian Komunikasi dan Informasi...............753.3.2 Persepsi Pengguna Frekuensi Maritim terhadap Layanan yangDiberikan oleh Pemerintah ...........................................................803.3.2.1 Persepsi Pengguna frekuensi Maritim dilihat dari tiap Dimensiuntuk (Importance Performance Anlysis).....................................893.3.2.2 Persepsi Pengguna Frekuensi Maritim dilihat dari Indikator perDimensi.........................................................................................933.3.2.3 Analisa Importance Performance Analysis Perindikator dalamdimensi..........................................................................................973.3.3 Koordinasi antara Pemerintah dan Pemangku KepentinganPenggunaan Frekuensi Radio......................................................1023.3.4 Harmonisasi Peraturan Terkait dengan Telekomunikasi Maritim1043.3.5 Penerapan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) PenggunaanSpektrum Frekuensi Radio untuk Dinas Maritim.......................1053.3.6 Pengawasan dan Pengendalian Frekuensi untuk Dinas Maritim(Ditjen SDPPI Kementerian Komunikasi dan Informatika maupunDitjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan sertaKementerian Kelautan dan Perikanan)Error! Bookmark not defined.3.3.7 Optimalisasi Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan OrbitSatelit ..........................................................................................1103.3.8 Pemanfaatan Frekuensi Lain untuk Mendukung Kegiatan DinasMaritim .......................................................................................111BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN..................................................................1134.1 Kesimpulan .................................................................................1134.2 Saran/ Rekomendasi ...................................................................116DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................120
  9. 9. vDAFTAR GAMBARGambar 1-1. Sistem Komunikasi Maritim.......................................................... 8Gambar 1-2. Masterplan VTS dan INDOSREP................................................. 9Gambar 1-3. Konfigurasi Ship Reporting System di Indonesia ........................ 10Gambar 1-4. Lokasi Stasiun Radio Pantai GMDSS di Indonesia..................... 29Gambar 1-5. GMDSS Coverage Area A1 ........................................................ 30Gambar 1-6. GMDSS Coverage Area A2 ........................................................ 30Gambar 1-7. Spektrum frekuensi Radio ........................................................... 31Gambar 1-8. Sistem Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio .......................... 32Gambar 1-9. Komposisi Penggunaan Frekuensi menurut Service danSubservice-nya tahun 2010. ......................................................... 37Gambar 1-10. Peraturan-peraturan terkait dengan Spektrum Frekuensi Radio.. 39Gambar 1-11. Data Historis Realisasi PNBP bidang Postel 2005-2010............. 41Gambar 1-12. Proses Perijinan Maritim ............................................................. 44Gambar 2-1. Scatter Diagram FGD Jakarta ..................................................... 58Gambar 2-2. Scatter Diagram FGD Medan...................................................... 60Gambar 2-3. Scatter Diagram FGD Surabaya.................................................. 62Gambar 3-1. Gambaran umum Keterkaitan antara Pemerintah dan PenggunaSpektrum Frekuensi Maritim....................................................... 72Gambar 3-2. Gambaran Evaluasi Implementasi Kebijakan Pemerintah terkaitdengan Penggunaan Frekuensi untuk Keperluan Dinas Maritim 73Gambar 3-3. Triangulasi dengan tiga teknik pengumpulan data ...................... 76Gambar 3-4. Proses Permohonan Izin Frekuensi Radio Maritim....................... 77Gambar 3-5. Penyebaran Anggota INSA berdasarkan Provinsi....................... 81Gambar 3-6. Populasi INSA Daerah Penelitian................................................ 81Gambar 3-7. Jumlah Sampel Daerah penelitian................................................ 82Gambar 3-8. Dimensi Assurance ...................................................................... 83Gambar 3-9. Dimensi Emphaty......................................................................... 84Gambar 3-10. Dimensi Reliability ...................................................................... 85Gambar 3-11. Dimensi Responsiveness.............................................................. 87Gambar 3-12. Dimensi Tangible......................................................................... 88Gambar 3-13. Diagram Kartesius Dimensi Kualitas Layanan Frekuensi untukKeperluan Dinas Maritim ............................................................ 92Gambar 3-14. Diagram Kartesius ....................................................................... 93Gambar 3-15. Analisa Kuadran pada Dimensi Assurance.................................. 97Gambar 3-16. Analisa Kuadran pada Dimensi Empahty.................................... 98Gambar 3-17. Analisa Kuadran pada Dimensi Reliability.................................. 99Gambar 3-18. Analisa Kuadran pada Dimensi Responsiveness ....................... 100Gambar 3-19. Analisa Kuadran pada Dimensi Tangible.................................. 101Gambar 3-20. Hubungan antara Pemerintah dan Pemangku KepentinganPenggunaan Frekuensi Radio..................................................... 102Gambar 3-21. Koordinasi yang terkait dengan Pengawasan PenggunaanSpektrum frekuensi radio Maritim............................................. 103Gambar 3-22. Koordinasi antara Hubla dan SDPPI ......................................... 104
  10. 10. viDAFTAR TABELTabel 1-1. Jumlah Kapal Berdasarkan Jenis Pelayarannya............................. 2Tabel 1-2. Jumlah Armada Angkutan Laut Menurut Jenis Pelayaran ............ 5Tabel 1-3. Jumlah Perusahaan Angkutan Laut menurut Jenis Pelayaran ....... 5Tabel 1-4. Jumlah Perusahaan Pelayaran menurut Provinsi ........................... 6Tabel 1-5. Produksi Angkutan Laut di Indonesia ........................................... 6Tabel 1-6. Kanal Maritim di Pita MF............................................................ 13Tabel 1-7. Kanal Maritim di Pita HF ............................................................ 14Tabel 1-8. Kanal Maritim di Pita VHF ......................................................... 23Tabel 1-9. Jumlah Penggunaan Frekuensi (ISR) berdasarkan pita Frekuensi33Tabel 1-10. Penggunaan Pita Frekuensi per Provinsi pada tahun 2010.......... 34Tabel 1-11. Jumlah penggunaan kanal frekuensi menurut service 2008–2010..................................................................................................... 35Tabel 1-12. Pengguna Pita Frekuensi per Propinsi Tahun 2010..................... 36Tabel 1-13. Realisasi PNBP Bidang Pos dan Telekomunikasi 2005- 2010.... 41Tabel 2-1. Hasil In depth Interview di Jakarta ............................................. 46Tabel 2-2. Hasil In depth Interview di Medan .............................................. 48Tabel 2-3. Hasil In depth Interview di Surabaya........................................... 50Tabel 2-4. Hasil In depth Interview di Makassar .......................................... 52Tabel 2-5. Hasil In depth Interview di Manado ............................................ 53Tabel 2-6. Hasil In depth intervew dengan Ir. Tulus Rahardjo (DirekturPengendalian SDPPI, Ditjen Sumberdaya Perangkat Pos danInformatika, Kementerian Kominfo) ........................................... 55Tabel 2-7. Matrik Penilaian Pengaruh dan Ketergantungan FGD Jakarta.... 57Tabel 2-8. Matrik Klasifikasi Faktor FGD Jakarta ....................................... 58Tabel 2-9. Matrik Penilaian Pengaruh dan Ketergantungan FGD Medan .... 59Tabel 2-10. Matrik Klasifikasi Faktor FGD Medan........................................ 59Tabel 2-11. Matrik Penilaian Pengaruh dan Ketergantungan FGD Surabaya 61Tabel 2-12. Matrik Klasifikasi Faktor FGD Surabaya.................................... 61Tabel 2-13. Rata-rata Kepentingan dan Kinerja Pelayanan ............................ 63Tabel 3-1. Resume Faktor-faktor yang berpengaruh pada pemanfaatanSpektrum Frekuensi Radio Maritim dari Hasil FGD................... 65Tabel 3-2. Daftar Peraturan-peraturan pemerintah dari Kemenhub danKemenkominfo terkait dengan Spektrum Frekuensi Maritim ..... 74Tabel 3-3. Nilai Rata-rata Persepsi, Harapan, dan Kesenjangan KualitasPelayanan..................................................................................... 90Tabel 3-4. Tingkat Kesesuaian Antara Persepsi dan Harapan Dimensi........ 91Tabel 3-5. Rata-rata Kepentingan dan Kinerja Pelayanan Untuk Kuadran I 94Tabel 3-6. Rata-rata Kepentingan dan Kinerja Pelayanan Untuk Kuadran II94Tabel 3-7. Rata-rata Kepentingan dan Kinerja Pelayanan Untuk Kuadran III..................................................................................................... 95Tabel 3-8. Rata-rata Kepentingan dan Kinerja Pelayanan Untuk Kuadran IV..................................................................................................... 96Tabel 3-9. Penggunaan Kanal Frekuensi radio Maritim untuk Komersial . 106
  11. 11. viiDAFTAR ISTILAHADSL : Asynchronuos Digital Subscriber Lineadalah sebuah teknologi interkoneksi data yang hanya menggunakankabel telepon biasa dengan kecepatan maximum Dowstream Up To 8Mbps dengan jarak maksimal sekitar 1.820 Meter, dan kecepatanmaximum Upstream Up To 640 Kbps.AOC : Aeronautical Operational Controladalah komunikasiyang mendukungkeselamatandanketeraturanpenerbanganyang biasanyaterjadi antarapesawatdanoperatorAPC : Aeronautical Passenger Communication (a class of communicationwhich supports passenger communication)AAC :Aeronautical Administrative Communication (a class ofcommunication which supports administrative communication)ARE : Approved Radio EngineerARC : Approved Radio CertifierBHP : Biaya Hak Penggunaan Frekuensiadalah bentuk kewajiban bagi pengguna spektrum frekuensi radioBSS : Broadcast Satellite ServicesBroadcasting Satellite Services (BSS) or Direct-broadcast SatelliteService (DBS) networks transmit broadcast and television signalsfrom a large central Earth station, via a satellite to relatively simplereceive-only Earth stations.BTS : Base Transceiver Systemadalah perangkat dalam suatu jaringan telekomunikasi seluler yangberbentuk sebuah tower dengan ketinggian tertentu lengkap denganantena pemancar dan penerima serta perangkat telekomunikasi didalam suatu shelternya.BWA : Broadband Wireless Accessrefers to technology that provides high-speed wirelessInternet accessor computer networking access over a wide area.CAGR : Compound Average Growth Rateis a business and investing specific term for the smoothed annualizedgain of an investment over a given time periodCDMA : Code Division Multiple Accessadalah sebuah bentuk pemultipleksan dan sebuah metode aksessecara bersama yang membagi kanal tidak berdasarkan waktu ataufrekuensi, namun dengan cara mengkodekan data dengan sebuahkode khusus yang diasosiasikan dengan tiap kanal yang ada dan
  12. 12. viiimenggunakan sifat-sifat interferensi konstruktif dari kode-kodekhusus itu untuk melakukan pemultipleksan.DIMRS : Digital Integrated Mobile Radio SystemDitjen Hubla : Direktorat Jenderal Perhubungan LautDitjen Hubud : Direktorat Jenderal Perhubungan UdaraDSC : Digital Selective Callingis a standard for sending pre-defined digital messages via themedium frequency (MF), high frequency (HF) and very highfrequency (VHF) maritime radio systems. It is a core part of theGlobal Maritime Distress Safety System (GMDSS).EDACS : Enhance Digital Access Communication Systemis a radio communications protocol that held significant marketshare.EHF : Extremely High Frequencyis the highest radio frequencyband with a range of 30,000 to 300,000megahertz.ELT : Emergency Locator Transmitteradalah sebuah alat pemancar kecil yang dilengkapi antena dan akanmemancar secara terus menerus jika alat tersebut basah terkena airlaut atau hempasan dan benturan yang cukup kuat (G Switch) danmerupakan perlengkapan emergency pada setiap pesawat udaradengan berbagai tipe pesawat dengan ukuran badan pesawat sepertiBoeing 737- 400.FSS : Fixed Satellite Servicesis the official classification (used chiefly in North America) forgeostationarycommunications satellites used for broadcast feeds fortelevision stations and radio stations and broadcast networks, aswell as for telephony, telecommunications and data communications.FWA : Fixed Wireless Accessadalah jaringan telepon tetap, yang tidak menggunakan kabel yangjuga dikenal dengan Radio in the Local Loop (RLL) atau WirelessLocal Loop (WLL)digunakan sebagi pengganti kawat tembaga atausebagian bagian local loop pada jaringan telepon.GMDSS : Global Maritime Distress and Safety Servicesadalah sistem telekomunikasi marabahaya dan keselamatan secaramenyeluruh dalam dunia pelayaran yang berlaku di dunia denganmenggunakan jaringan radio terestrial maupun satelit.
  13. 13. ixGSM : Global System for Mobileis a standard set developed by the European TelecommunicationsStandards Institute (ETSI) to describe technologies for secondgeneration (or "2G") digital cellular networks.HF : High Frequencyis radio frequencies band with a range of 3 and 30 MHz.ICAO : International Civil Aviation Organizationadalah sebuah lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yangmengembangkan teknik dan prinsip-prinsip navigasi udarainternasional serta membantu perkembangan perencanaan danpengembangan angkutan udara internasional untuk memastikanpertumbuhannya terencana dan aman.IDRA : Integrated Digital RadioIEEE : Institute of Electrical Engineeringis the world’s largest professional association dedicated toadvancing technological innovation and excellence for the benefit ofhumanity.ILS : Instrument Landing Systemis a ground-based instrument approach system that providesprecision guidance to an aircraft approaching and landing on arunway, using a combination of radio signals and, in many cases,high-intensity lighting arrays to enable a safe landing duringinstrument meteorological conditions (IMC), such as low ceilings orreduced visibility due to fog, rain, or blowing snow.IMO : International Maritime Organizationadalah merupakan salah satu Badan Khusus Perserikatan BangsaBangsa (PBB) yang menangani masalah-masalah kemaritiman.IMSIP : Internet Protocol Multimedia Subsystemsadalah arsitektur jaringan telekomunikasi yang berbasis padamultimedia IP (internet protocol).INMARSAT : International Maritime SatelliteIPSFR :Izin Pita Spektrum Frekuensi RadioIPP : Izin Penyelenggaraan PenyiaranISR : Ijin Stasiun RadioITU : International Telecommunication Uniondalah sebuah organisasi internasional yang didirikan untukmembakukan dan meregulasi radio internasional dan telekomunikasi.KRAP : Komunikasi Radio Antar Penduduk
  14. 14. xLF : Low Frequencyrefers to radio frequencies (RF) in the range of 30 kHz–300 kHz.LTE : Long Term Evolutionis a 4G wireless broadband technology developed by the ThirdGeneration Partnership Project (3GPP), an industry trade group.MF : Medium Frequencyrefers to radio frequencies (RF) in the range of 300 kHz to 3 MHz.MSI : Maritime Safety Informationis information that is broadcast to mariners by official agencies fortheir safety.MSS : Mobile Satellite Servicesrefers to networks of communications satellites intended for use withmobile and portable wireless telephones.NAVTEX : Navigational Telexis an international automated medium frequency direct-printingservice for delivery of navigational and meteorological warnings andforecasts, as well as urgent marine safety information to ships.NBDP : Narrow Band Direct Printingis an automated direct printing service similar to NAVTEX, but doesnot offer all of the same functionality such as avoiding repeatedmessages.NGN : Next Generation Networkis a broad term used to describe key architectural evolutions intelecommunicationcore and access networks.NKRI : Negara Kesatuan Republik IndonesiaPermen :Peraturan MenteriPM :Peraturan MenteriPK : Penyedia KontenPS : Penyedia Program SiaranPDCA : Plan Do Check Actis an iterative four-step management process typically used inbusiness, also known as the Deming circle/cycle/wheel, Shewhartcycle, control circle/cycle, or plan–do–study–act (PDSA).PMx : Penyedia MultiplexingPM : Penyedia MenaraPNBP : Pendapatan Nasional Bukan Pajak
  15. 15. xiRR : Radio Regulationis an intergovernmental treaty text of the InternationalTelecommunication Union (ITU), the Geneva-based specialisedagency of the United Nations which coordinates and standardises theoperation of telecommunication networks and services and advancesthe development of communications technology.SOLAS : Safety of Life at Seais an international maritime safety treaty.SAR : Search and Rescueis the search for and provision of aid to people who are in distress orimminent danger.SART : Search And Rescue Transponderis a self contained, waterproof radartransponder intended foremergency use at sea.SHF : Super High Frequencymerupakan gelombang elektromagnetik dengan frekuensi antara 300MHz sampai dengan 3 GHz (3.000 MHz).STM : Syncronuous Transmission ModeProses pengirim dan penerima diatur sedemikian rupa agar memilikipengaturan yang sama, sehingga dapat dikirimkan dan diterimadengan baik antar alat tersebut.TASFRI : Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio IndonesiaTEDS : TETRA Enhance Data ServicesTETRA :Terresterial Trunked Radiois a digital trunked mobile radio standard developed to meet theneeds of traditional Professional Mobile Radio (PMR) userorganisations for their Mission Critical Communications.TIK : Teknologi Informasi dan KomunikasiTKDN : Tingkat Kandungan Dalam NegeriUHF : Ultra High Frequencyis the band extending from 300 MHz to 3 GHz.UMTS : Universal Mobile Telephone Servicesis a third-generation (3G) broadband, packet-based transmission oftext, digitized voice, video, and multimedia at data rates up to 2megabits per second (Mbps).UPT : Unit Pelaksana Teknis
  16. 16. xiiVLF : Very Low Frequencyrefers to radio frequencies (RF) in the range of 3 kHz to 30 kHz.VHF : Very High Frequencyis the radio frequency range from 30 MHz to 300 MHz.WiMAX : Worldwide Interoperability for Microwaves Accessmerupakan teknologi akses nirkabel pita lebar (broadband wirelessaccess atau disingkat BWA) yang memiliki kecepatan akses yangtinggi dengan jangkauan yang luas.WLAN : Wireless Local Area Networkis one in which a mobile user can connect to a local area network(LAN) through a wireless (radio) connection.
  17. 17. 1BAB I GAMBARAN UMUM1.1 Transportasi Maritim di IndonesiaPelayaran adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan angkutan di perairan,kepelabuhanan, serta keamanan dan keselamatannya. Secara garis besar pelayarandibagimenjadi dua, yaitu Pelayaran Niaga (yang terkait dengan kegiatan komersial)dan Pelayaran Non-Niaga (yang terkait dengan kegiatan non-komersial, sepertipemerintahandan bela-negara).Angkutan di Perairan (disepadankan dengan Transportasi Maritim) adalahkegiatan pengangkutan penumpang, dan atau barang, dan atau hewan, melalui suatuwilayah perairan (laut, sungai dan danau, penyeberangan) dan teritori tertentu (dalamnegeri atau luar negeri), dengan menggunakan kapal, untuk layanan khusus danumum.Wilayah Perairan terbagi menjadi:1) Perairan Laut: wilayah perairan laut2) Perairan Sungai dan Danau: wilayah perairan pedalaman, yaitu: sungai,danau,waduk, rawa, banjir, kanal dan terusan.3) Perairan Penyeberangan: wilayah perairan yang memutuskan jaringan jalanataujalur kereta api. Angkutan penyeberangan berfungsi sebagai jembatanbergerak,penghubung jalur.Indonesia sebagai Negara kepulauan menciptakan berbagai usaha pelayaran.Berdasarkan luas wilayah operasinya, pelayaran dapat dibedakan sebagai berikut :1. Pelayaran LokalPelayaran yang bergerak dalam propinsi atau beberapa propinsi yangberbatasan. Biasanya luas wilayah operasi perusahaan pelayaran lokalIndonesia tidak melebihi radius 200 mil dan kapal berkapasitass lebih kurang200 DWT.2. Pelayaran Nusantara (Antar Pulau atau Interinsular)Wilayah operasi perusahaan pelayaran meliputi seluruh wilayah perairanRepublik Indonesia. Usaha pelayaran Nusantara ini pada umumnyamenggunakan kapal berukuran 1000 s/d 3000 DWT. Dalam pengertianpelayaran nusantara ini tercakup di dalamnya jenis pelayaran rakyat yaitupelayaran dalam bentuk yanglebih sederhana dari pelayaran samudera denganwilayah operasi seluruh territorial Indonesia. Ukuran kapal yang dipakaidalam pelayaran rakyat relatif lebih kecil daripada kapal pelayaran nusantara,jumlahnya lebih banyak sehingga disebut armada semut.3. Pelayaran SamuderaJenis pelayaran yang beroperasi di perairan internasional dan bergerak antarsatu negara ke negara lain dan harus memperhatikan hukum serta konvensiinternasional yang berlaku.
  18. 18. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim2Pada tabel berikut tertera data perkembangan jumlah kapal di Indonesia dari tahun2005-2009 menurut jenis – jenis pelayarannya.Tabel 1-1. Jumlah Kapal Berdasarkan Jenis PelayarannyaNo Uraian (Description) Satuan(Unit)2005 2006 2007 2008 20091 Pelayaran Nasional(Domestic Shipping)Perusahaan(company)1269 1380 1432 1620 17542 Pelayaran Rakyat(Prahus)Perusahaan(company)485 507 560 583 5953 Non Pelayaran(Special Shipping)Perusahaan(company)317 326 334 367 382Jumlah/Total 2071 2213 2326 2570 2731Sumber : Direktorat Lalu Lintas Angkutan Laut, Ditjen HublaAdapun untuk jenis angkutan laut berdasarkan UU no 17 tahun 2008 tentangpelayaran, terdiri atas :a. angkutan laut dalam negeri;b. angkutan laut luar negeri;c. angkutan laut khusus, yang diselenggarakan hanya untuk melayanikepentingan sendiri sebagai penunjang usaha pokok dan tidak melayanikepentingan umum, di wilayahperairan laut, dan sungai dan danau, olehperusahaan yang memperoleh ijin operasi untuk hal tersebut.d. angkutan laut pelayaran-rakyatangkutan laut pelayaran-rakyat dapat melayari angkutan sungai dan danausepanjang memenuhi persyaratan alur dan kedalamansungai dan danau.Berikut ini jenis-jenis kapal sebagai angkutan di perairan Indonesia diklasifikasikanberdasarkan:a. Berdasarkan tenaga penggerak : Kapal bertenaga manusia (Pendayung),Kapal layar, Kapal uap, Kapal diesel atau Kapal motor, dan Kapal nuklir.b. Berdasarkan jenis pelayarannya : Kapal permukaan, Kapal selam, Kapalmengambang, dan Kapal bantalan udara.c. Berdasarkan fungsinya :Kapal Perang, Kapal penumpang, Kapal barang,Kapal tanker, Kapal feri, Kapal pemecah es, Kapal tunda, Kapal pandu,Tongkang, Kapal tender, Kapal Ro-Ro, Kapal dingin beku, Kapal keruk,Kapal peti kemas / Kapal kontainer, dan Kapal pukat harimau.Sesuai dengan peraturan SOLAS 1974 seluruh kapal harus dilengkapi denganperlengkapan Radio, yaitu radio telephony (untuk kapal dibawah 300 GRT)sedangkan untuk kapal GRT 300 keatas harus dilengkapi dengan sistim radioGMDSS (Global Marine Distress Signal Systim). Sesuai dengan peraturanInternasional SOLAS 1974 dan Colreg (collison regulation 1972) seluruh kapalharus dilengkapi dengan peralatan Navigasi sebagai berikut :1. Lampu Navigasi2. Kompas magnet3. Peralatan Navigasi lainnya
  19. 19. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim34. Perlengkapan Radio/ GMDSS5. Echo sounder6. GPS, fax dan Navtex7. Radar kapal dan Inmarsat8. Engine Telegraph, telepon internal dan sistim pengeras suara1.2 Pelayaran RakyatPelayaran-Rakyat atau disebut juga sebagai Pelra adalah usaha rakyat yangbersifat tradisional dan mempunyai karakteristik tersendiri untuk melaksanakanangkutan di perairan dengan menggunakan kapal layar termasuk Pinisi, kapal layarbermotor, dan/atau kapal motor sederhana berbendera Indonesia dengan ukurantertentu. Pelayaran rakyat mengandung nilai-nilai budaya bangsa yang tidak hanyaterdapat pada cara pengelolaan usaha serta pengelolanya misalnya mengenaihubungan kerja antara pemilik kapal dengan awak kapal, tetapi juga pada jenis danbentuk kapal yang digunakan.Peran pelayaran rakyat semakin surut dan memprihatinkan sejalan denganperkembangan tehnologi kapal yang mengarah kepada kapal yang lebih cepat danlebih besar yang pada gilirannya lebih ekonomis. Pelayaran rakyat hanya sesuaiuntuk angkutan dengan demand yang kecil, menghubungkan pulau-pulau yangjumlah penduduknya masih rendah, ataupun pada angkutan pedalaman gunamemenuhi kebutuhan masyarakat didaerah aliran sungai-sungai khususnya diKalimantan, Sumatera dan Papua. Permasalahan yang ditemukan pada angkutansungai adalah pendangkalan terutama pada musim kemarau. Untuk mengatasipendangkalan perlu dilakukan pengelolaan daerah aliran sungai, pengerukan,termasuk pemasangan lock.Pengembangan pelayaran rakyat tetap didorong oleh pemerintah untuk:1. meningkatkan pelayanan ke daerah pedalaman dan/atau perairan yangmemiliki alur dengan kedalaman terbatas termasuk sungai dan danau;2. meningkatkan kemampuannya sebagai lapangan usaha angkutan laut nasionaldan lapangan kerja; dan3. meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dan kewiraswastaan dalambidang usaha angkutan laut dan angkutan pedalaman nasional.Pelayaran rakyat yang juga dikenal sebagai armada semut sebagai penyediaangkutan di laut dalam menghubungkan antar pulau di Nusantara dan usaha yangdilakukan oleh masyarakat ekonomi kecil - menengah yang sudah sejak lamaberkembang ini telah dilakukan secara turun temurun serta kesan tradisionalnyamasih dominan.Kapal-kapal pelayaran rakyat mempunyai kemampuan berlayar ke tempatyang tidak dapat dilayari kapal-kapal pelayaran konvesional. Adapun tipe kapalunggulan yang berukuran besar dengan fungsi angkut barang, penumpang danhewan yang digunakan di pelayaran rakyat antara lain:1. PINISITipe ini berasal dari Sulawesi Selatan, dan pada umumnya berukuran sekitar 750sampai dengan 450 ton. Tipe ini di eropa dikenal dengan istilah "SCHOONER",
  20. 20. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim4dan mempunyai dua tiang serta tujuh lembar layar. Di tiang belakang terdapatdua lembar layar; bagian atasnya disebut TAPSERE atau JIB, tiang depan terdiriatas dua lembar layar sama dengan tiang belakang, ditambah tiga lembar layardidepan, yang disebut "COCORO" atau corong-corong.2. LAMBOTipe ini berasal dari Sulawesi Tenggara (BUTON), tapi ada juga yang berasaldari Sulawesi Selatan, berukuran sekitar 50 sampai dengan 150 ton. Di Eropa danUSA jenis kapal ini dikenal dengan istilah "SLOOP". jenis ini memiliki satu tiangdengan dua lembar layar yaitu satu corong-corong dan satu layar utama (mainsail).3. LETETipe ini berasal dari Madura dengan ukuran mulai 5 sampai dengan 150 ton. tipeini terdiri dari satu tiang pendek dan hanya memiliki satu layar utama, tetapikadang- kadang juga ditambahkan layar kecil di depannya.4. NADETipe ini berasal dari Sumatera, terutama dari daerah Sumatera bagian Timur,Riau dan Sumatera Selatan; ukurannya sekitar 5 sampai dengan 100 ton. Padaumumnya tipe ini bertiang satu dan layar tengahnya berbentuk segitiga.Data Satatistik Kementerian Perhubungan yang terkait dengan Pelayarandapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini. Dari tabel-tabel tersebut dapat kita lihatpekembangan atau pertumbuhan jumlah kapal baik pelayaran nasional, nonpelayaran maupun pelayaran rakyat mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Halini berarti menambah pengguna frekuensi di dinas maritim. Untuk itu perlupengaturan yang efektif agar penggunaan frekuensi radio untuk dinas maritim inidapat optimal.
  21. 21. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim5Tabel 1-2. Jumlah Armada Angkutan Laut Menurut Jenis PelayaranTabel 1-3. Jumlah Perusahaan Angkutan Laut menurut Jenis Pelayaran
  22. 22. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim6Tabel 1-4. Jumlah Perusahaan Pelayaran menurut ProvinsiTabel 1-5. Produksi Angkutan Laut di Indonesia
  23. 23. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim7Kondisi pelayaran rakyatKondisi pelayaran rakyat (Pelra) kian memprihatinkan. Kapal-kapal kayuyang saat ini beroperasi sudah usang. Di sisi lain, kapal baru tidak dapat dibuatkarena sulit mendapatkan bahan baku. Jika tidak segera mendapat perhatian senuspemerintah, lima tahun mendatang kapal tradisional yang mampu menembus daerahterisolasi ini akan mati.Permasalahan-permasalahan yang timbul di pelayaran rakyat disebabkan olehberbagai hal. Salah satu permasalahan yang ada di pelayaran rakyat yakni pelakupelayaran rakyat kesulitan karena ketidaktahuan mereka akan Undang-UndangNomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. Keterbatasan kualitas sumber dayamanusia membuat mereka tidak dapat berkutik ketika dianggap melanggar peraturan.Pengamat Transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata DjokoSetijowarno mengatakan, perlindungan pemerintah pada pelaku Pelra selama inimasih sangat kurang. Hal itu tampak dari minimnya sosialisasi mengenai UU Nomor17 Tahun 2008 kepada para pelaku pelayaran, terutama Pelra.Keterbatasan SDM menjadi kendala utama. Dalam hal ini, pemerintahseharusnya melakukan pembinaan, termasuk bagaimana meningkatkan kualitaskapal, atau bagaimana seharusnya kapal-kapal itu melengkapi dokumen-dokumenmereka.Program Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)untuk mendukung pengadaan pelayaran rakyat periode 2012-2015dari pemerintahdiharapkan dapat membantu pelayaran rakyat untuk bangkit dari keadaan yangsekarang ini memprihatinkan.Tidak hanya regulasi terkait pelayaran rakyat, pemerintah juga dimintamelindungi pelayaran rakyat sehingga keberlangsungannya tetap terjaga.1.3 Telekomunikasi PelayaranMenurut PM 26 tahun 2011 tentang Telekomunikasi pelayaran, saranantelekomunikasi pelayaran terdiri atas :a. Stasiun Radio Pantai; danb. Vessel Traffic Services (VTS).Gambaran sistem komunikasi maritim terlihat pada gambar berikut ini.
  24. 24. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim8Gambar 1-1. Sistem Komunikasi MaritimSedangkan Jenis Telekomunikasi-Pelayaran terdiri atas:a. Global Maritime Distress and Safety System (GMDSS);b. Vessel Traffic Services (VTS);c. Ship Reporting System (SRS); dand. Long Range Identification and Tracking of Ships (LRIT).Fungsi Telekomunikasi-Pelayaran adalah sebagai berikut :I. Global Maritime Distress and Safety System (GMDSS),berfungsi untuk:a. pemberitahuan tentang adanya musibah marabahaya (alerting);b. komunikasi untuk koordinasi SAR;c. komunikasi di lokasi musibah;d. tanda untuk memudahkan penentuan lokasi;e. pemberitahuan informasi mengenai keselamatan pelayaran;f. komunikasi radio umum; dang. komunikasi antar anjungan kapal.II. Vessel Traffic Services (VTS), berfungsi untuk:a. memonitor lalu lintas pelayaran dan alur lalu lintas pelayaran;b. meningkatkan keamanan lalu lintas pelayaran;c. meningkatkan efisiensi bernavigasi;d. perlindungan lingkungan;e. pengamatan, pendeteksian, dan penjejakan kapal di wilayah cakupan VTS;f. pengaturan informasi umum;g. pengaturan informasi khusus; danh. membantu kapal-kapal yang memerlukan bantuan khusus.
  25. 25. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim9Masterplan VTS dan IndoSREP di indonesia dapat dilihat pada gambar berikutini.Gambar 1-2. Masterplan VTS dan INDOSREPIII. Ship Reporting System (SRS) berfungsi untuk:a. menyediakan informasi yang up to date atas gerakan kapal;b. mengurangi interval waktu kontak dengan kapal;c. menentukan lokasi dengan cepat, saat kapal dalam bahaya yang tidakdiketahui posisinya; dand. meningkatkan keamanan dan keselamatan jiwa dan harta benda di laut.Pada gambar berikut ini terlihat konfigurasi Ship Reporting System (SRS) diIndonesia.MASTERPLAN VTS DAN INDOSREP
  26. 26. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim10Gambar 1-3. Konfigurasi Ship Reporting System di IndonesiaIV. Long Range Identification and Tracking of Ships (LRIT) berfungsi untuk:a. mendeteksi kapal secara dini;b. memonitor pergerakan kapal, sehingga apabila terjadi sesuatu musibahdapat diambil tindakan atau diantisipasi; danc. membantu dalam operasi SAR.Ketentuan LRIT ini diterapkan bagi Kapal-Kapal yang akan melakukanpelayaran Internasional antara lain:1) passenger ships, including high-speed passenger craft;2) cargo ships, including high-speed craft, of 300 gross tonnage andupwards;3) mobile offshore drilling units.1.4 Global Maritime Distress Safety System (GMDSS)Global Maritime Distress Safety System (GMDSS) merupakan konvensiinternasional mengenai prosedur keselamatan, ragam perangkat, dan protokolkomunikasi dalam meningkatkan keselamatan navigasi dan kemudahanpenyelematan (Search and Rescue) armada laut dan udara. Perangkat minimumGMDSS antara lain:INT E RNE TiMac iMaciMac iMaciMacMonitor Room at DGSC HqsiMac iMac iMacBelawan (1)iMac iMac iMacJakarta (1)iMac iMac iMacBitung (1) forExample )Cilacap (2)TualTernateLembarTapaktuanBalikpapan (2)Surabaya (1)Banjarmasin (2)Semarang (2)Makassar (1)TarakanAmbon (1)PontianakBenoa (3)KetapangDumai (1)KendariBau-bauSampitBatuAmparPangkal BalamNatunaSamarindaSei Kolak KijangTeluk Bayur (2)Palembang (1)Sabang (2)BimaSananaSaumlakiCom3Com3iMacSDSDESCDLTPROLIANT8000Ambon (1)Kupang (2)Sorong (2)Jayapura (1)Ambon (1)Ambon (1)AISReportingby DSC/NBDPEndeManokwariFak-fakMeraukeAgatsBiakCom3Com3iMacPantoloan3rdClass Coastal StationRelay of ReportReportingby DSC/NBDPManokwariFak-fakMeraukeCom3iMacSDSDESCDLTPROLIA NT8000iMacScreen-typeDisplayWork-StationType PCPC & ServerAISTransponderDSC / NBDPTx/RxExistingSHIP REPORTING CENTERJAKARTAKONFIGURASI SHIP REPORTING SYSTEMDI INDONESIASatelli
  27. 27. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim111. EPIRB (Emergency Position Indicating Radio Beacon) 406 MHz atau 1.6 GHz2. NAVTEX (Navigational Telex)3. Inmarsat Receiver (jika beroperasi di cakupan Inmarsat dan penggunaanNAVTEX maupun HF NBDP tidak dimungkinkan)4. SART (Search And Rescue Transponder) 1 untuk <300 GRT, 2 untuk 300 < GRT<500, 3 untuk > 500 GRT5. DSC (Digital Selective Calling) Transceiver mampu mengakomodasi DSC channel 6,13,16,70 2 portable VHF transceiver (<500 GRT), 3 VHF transceiver (>500GRT) di perahu daruratKanal maritim di pita MF banyak ditujukan untuk daftar stasiun pantai dan keperluanDistress, Safety, & Calling.GMDSS area terbagi menjadi :1. Area A1 radius 20-30 nautical mile dari stasiun pantai (Coast Station) berada dalam jangkauan VHF stasiun pantai2. Area A2 di luar area A1, dan tidak melebihi jarak 100-150 nautical mile berada dalam jangkauan MF stasiun pantai3. Area A3 di luar area A1 dan A2, dan berada dalam cakupan satelit GEO Inmarsat. cakupan satelit GEO Inmarsat = 70⁰ LU hingga 70 ⁰ LS4. Area A4 di luar area A1,A2,dan A3 daerah kutub utara/selatan dengan latitude >70 ⁰Adapun perangkat GMDSS per area terdiri dari :a. Perangkat untuk area A1 antara lain:Armada yang beroperasi di daerah A1 diperbolehkan untuk mengganti 406MHz EPIRB menjadi VHF DSC EPIRBb. Perangkat untuk area A2, Armada yang beroperasi di daerah A2 diharuskanuntuk melengkapi diri dengan perangkat minimum dan tambahan:
  28. 28. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim12 1 set Radio MF yang mampu TX/RX di frekuensi 2187.5 KHzmenggunakan DSC dan 2182 KHz menggunakan radio teleponi 1 Receiverpemantauan DSC di 2187.5 KHz 1 406 MHz EPIRB 1 set Radio HF yang beroperasi di pita frekuensi maritim antara 1605-27500 KHz untuk keperluan TX/RX komunikasi radio pada umumnyaatau kebutuhan telegrafc. Perangkat untuk area A3 antara lain: Armada yang beroperasi di daerah A3 diharuskan untuk melengkapi diridengan perangkat minimum dan tambahan set pilihan: 1 set perangkat stasiun kapal Inmarsat C 1 set Radio MF 1 Receiver pemantauan DSC di 2187.5 KHz 1 406 MHz EPIRB 1 set Radio HF yang beroperasi di pita frekuensi maritim antara 1605-27500 KHz untuk keperluan TX/RX komunikasi radio pada umumnyaatau kebutuhan telegrafAtau: 1 set radio MF/HF yang mampu TX/RX di frekuensi distress & safetypita maritim 1605-27500 KHz menggunakan DSC, radio teleponi,NBDP (Narrowband Direct Printing) 1 Receiver MF/HF DSC yang mampu memantau terus di 2187.5 KHz,8414.5 KHz, dan setidaknya 1 dari frekuensi distress DSC 4,207.5kHz, 6,312 kHz, 12,577 kHz or 16,804.5 kHz kapan pun. 1 406 MHz EPIRB 1 set perangkat stasiun kapal Inmarsat Cd. Perangkat untuk area A4 antara lain: Armada yang beroperasi di daerah A4 diharuskan untuk melengkapi diridengan perangkat minimum dan tambahan: 1 set radio MF/HF yang mampu TX/RX di frekuensi distress & safetypita maritim 1605-27500 KHz menggunakan DSC, radio teleponi,NBDP (Narrowband Direct Printing) 1 Receiver MF/HF DSC yang mampu memantau terus di 2187.5 KHz,8414.5 KHz, dan setidaknya 1 dari frekuensi distress DSC 4,207.5kHz, 6,312 kHz, 12,577 kHz or 16,804.5 kHz kapan pun. 1 406 MHz EPIRB 1 set Radio HF yang beroperasi di pita frekuensi maritim antara 1605-27500 KHz untuk keperluan TX/RX komunikasi radio pada umumnyaatau kebutuhan telegraf
  29. 29. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim13Adapun detail alokasi kanal frekuensi untuk Maritim terdapat pada tabel-tabelberikut.Tabel 1-6. Kanal Maritim di Pita MFFrekuensiMFKode Keterangan490.0 KHz MSI Digunakan eksklusif untuk Tx MSI (Maritime SafetyInformation) yang mencakup informasi meteorologi, daninformasi darurat dari stasiun penjaga pantai ke kapalmenggunakan media telegraph NBDP.518.0 KHz MSI Digunakan eksklusif untuk sistem NAVTEX internasional2174.5 KHz NBDP-COMDigunakan untuk keperluan trafik komunikasi marabahayamenggunakan media telegraph NBDP2182.0 KHz RTP-COM Digunakan untuk keperluan trafik komunikasi marabahayamenggunakan media radio telepon. Kelas emisi J3E.Frekuensi MFGMDSSAlokasiTASFRIKeterangan TASFRI490.0 KHz 415-495KHzBergerak Maritim. Radionavigasi Penerbangan5.79: Penggunaan pita frekuensi 415-495 kHz dan 505-526.5kHz oleh maritim terbatas hanya untuk telegrafi radio.5.79A: Pada saat mendirikan stasiun pantai dalam layananNAVTEX pada frekuensi 490 kHz, 518 kHz dan 4209.5 kHz,sangat dianjurkan untuk mengkoordinasikan operasionalnyalihat Resolusi 339.518.0 KHz 505-526.5KHzBeergerak Maritim. Radionavigasi Penerbangan. BergerakPenerbangan. Bergerak darat5.79, 5.79A (lihat 490.0 KHz)5.84: Syarat-syarat penggunaan frekuensi 518 kHz oleh dinasbergerak maritim diuraikan dalam Artikel 31 dan 52.2174.5 KHz2182.0 KHz2187.5 KHz2173.5-2190.5KHzBergerak (marabahaya dan panggilan)5.108: Frekuensi pembawa gelombang 2182 kHz digunakanuntuk teleponi radio secara internasional guna keperluanmarabahaya dan frekuensi panggilan.5.109: Frekuensi 2187.5 kHz, 4207.5 kHz, 6312 kHz, 8414.5kHz, 12577 kHz, dan 16804.5 kHz merupakan frekuensimarabahaya internasional bagi panggilan selektif digital.5.110: Frekuensi 2174.5 kHz, 4117.5 kHz, 6268 kHz, 8376.5kHz, 12520 kHz, dan 16695 kHz adalah frekuensi marabahayainternasional bagi telegrafi cetak langsung berpita sempit.5.111: Frekuensi pembawa 2182 kHz, 3023 kHz, 5680 kHz,8364 kHz, dan frekuensi 121.5 MHz, 156.525 MHz, 156.8MHz, dan 243 MHz dapat juga digunakan, berdasarkanprosedur yang berlaku bagi dinas komunikasiradio terestrial,untuk operasi SAR yang terkait dengan kendaraan angkasaberawak.Sumber : Kajian Regulasi Komunikasi Radio Maritim Indonesia. Ditjen Postel Kominfo 2010
  30. 30. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim14Tabel 1-7. Kanal Maritim di Pita HFSumber : Kajian Regulasi Komunikasi Radio Maritim Indonesia. Ditjen Postel Kominfo 2010ChannelNoF (KHz)ShipF (KHz)CoastRemarks1-21 4000-406021 Channels, 3 KHz spacing# Sub-SectionC-1 #Simplex shipto ship HF frequencies, shared withfixed services C-1.for supplementing ship-to-shore channels for duplex operation in Sub-SectionA;for intership simplex (single-frequency) and cross-band operation;for cross-band working withcoast stations Sub-Section C-2for duplex operation withcoast stations working in the band 4438-4650 kHz;for duplex operation withChannel Nos. 428 and 4294063-4065(4063.3-4064.8)6 Channles, 0.3 KHz spacingFrequencies assignable toship stations for oceanographic data transmission401-427 4065-4146(4066.4-4144.4)4357-4438(4358.4-4436.4)Duplex. Frequencies assignable to stations for telephonyChannel 421: 4125/4417 is for Calling, Distress, and Safety27 Channel, 3 KHz spacing4284294146-4152 (4146 & 4149) Simplex. Frequencies assignable toship stations and coast stations for telephony, simplex operation4146, 4149# Sub-SectionB #4351, 4354 Coast station frequencies may be paired with a ship station frequency from the Table of simplexfrequencies for ship and coast stations (see Sub-Section B) or with a frequency from the band 4 000-4063 kHz (see Sub-SectionC-1) to be selectedby the administration concerned.4152-4172 (4154-4170)5 Channel, 4 KHz spacing.Frequencies assignable to ship stations for wide-band telegraphy, facsimile and special transmissionsystems4172-4181.75 (4172.5-4181.5)18 Channel, 0.5 KHz spacing4209.25-4219.25 (4210.5-4219)18 Channel, 0.5 KHz spacingFrequencies (paired) assignable to stations for NBDP and data transmission systems, at speeds notexceeding 100 Bdfor FSKand 200 Bd for PSK. 4209.5 exclusive NAVTEX type information transmission4181.75-4186.75 (4182-4186.5)5 Group, 10 Channels, 0.5 KHz spacingCalling frequencies assignable toship stations for A1A or A1B Morse telegraphyCommonChannel : 4184 & 4184.5 KHz4186.75-4202.25 (4187-4202)31 Channel, 0.5 KHz spacingWorking frequencies assignable toship stations for A1A or A1B Morse telegraphy4202.25-4207.25 (4202.5-4207)10 Channel, 0.5 KHz spacingFrequencies (non paired) assignable to ship stations for NBDP telegraphy and data transmissionsystems at speeds not exceeding 100 Bd for FSK and 200 Bd for PSK and for A1A or A1B Morsetelegraphy(working)4207.25-4209.25 (4207.5-4209)4 Channel, 0.5 KHz spacing4219.25-4221 (4219.5-4220.5)3 Channel, 0.5 KHz spacingFrequencies assignable tostations for digital selective calling4221-4351 Frequencies assignable tocoast stations for wide-band and A1A or A1B Morse telegraphy, facsimile,special anddata transmissionsystems and direct-printing telegraphy systems
  31. 31. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim15Sumber : Kajian Regulasi Komunikasi Radio Maritim Indonesia. Ditjen Postel Kominfo 2010ChannelnumberF (KHz)ShipF (KHz)CoastRemarks601-608 6200-6224(6201.4-6222.4)6501-6525(6502.4-6523.4)Duplex. Frequencies assignable to stations for telephonyChannel 606: 6215/6516 is for Calling, Distress, and Safety8 Channel, 3 KHz spacing6224-6233(6225.4, 6228.4, 6231.4)3 Channel, 3 KHz spacingSimplex. Frequencies assignable toship stations and coast stations for telephony6233-6261(6235-6259)7 Channel, 4 KHz spacing.Frequencies assignable to ship stations for wide-band telegraphy, facsimile and special transmissionsystems6261-6262.75(6261.3-6262.5)5 Channels, 0.3 KHz spacingFrequencies assignable toship stations for oceanographic data transmission6262.75-6275.75(6263-6275.5)6280.75-6284.75(6281-6284.5)34 Channel0.5 KHz spacing6313.75-6330.75(6314-6330.5)34 Channel0.5 KHz spacingFrequencies (paired) assignable to stations for NBDP and data transmission systems, at speeds notexceeding 100 Bdfor FSKand 200 Bd for PSK6275.75-6280.75(6276-6280.5)5 Group, 10 Channels, 0.5 KHz spacingCalling frequencies assignable toship stations for A1A or A1B Morse telegraphyCommonChannel : 6276 & 6276.5 KHz6284.75-6300.25(6285-6300)31 Channel, 0.5 KHz spacingWorking frequencies assignable toship stations for A1A or A1B Morse telegraphy6300.25-6311.75(6300.5-6311.5)23 Channel, 0.5 KHz spacingFrequencies (non paired) assignable to ship stations for NBDP telegraphy and data transmissionsystems at speeds not exceeding 100 Bd for FSK and 200 Bd for PSK and for A1A or A1B Morsetelegraphy(working)6311.75-6313.75(6312.5-6313.5)4 Channel0.5 KHz spacing6330.75-6332.5(6331-6332)3 Channel0.5 KHz spacingFrequencies assignable tostations for digital selective calling6332.5-6501 Frequencies assignable tocoast stations for wide-band and A1A or A1B Morse telegraphy, facsimile,special anddata transmissionsystems and direct-printing telegraphy systems
  32. 32. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim16Sumber : Kajian Regulasi Komunikasi Radio Maritim Indonesia. Ditjen Postel Kominfo 2010ChannelnumberF (KHz)ShipF (KHz)CoastRemarks1-31 8101-819131 Channels, 3 KHz spacing# Sub-SectionC-2 #Simplex shipto ship HF frequencies, shared withfixed services C-1.for supplementing ship-to-shore channels for duplex operation in Sub-SectionA;for intership simplex (single-frequency) and cross-band operation;for cross-band working withcoast stations Sub-Section C-2For ship-to-shore or shore-to-ship simplex operations.for duplex operation withChannel Nos. 834,835, 836 and 837801-832 8195-8290(8196.4-8289.4)8719-8815(8720.4-8813.4)Duplex. Frequencies assignable to stations for telephonyChannel 821: 8255/8779 is for Calling32 Channel, 3 KHz spacing833 8291 Simplex.Channel 833: 8255/8779 is for Calling834-837 8294, 8297# Sub-SectionB #8707, 8710, 8713, 87164 ChannelsCoast station frequencies may be paired with a ship station frequency from the Table of simplexfrequencies for ship and coast stations (see Sub-Section B) or with a frequency from the band 8100-8195 kHz (see Sub-SectionC-2) to be selectedby the administrationconcerned.8294-8300, (8295.4, 8298.4)2 Channel, 3 KHz spacingSimplex. Frequencies assignable toship stations and coast stations for telephony8300-8340, (8302-8338)10 Channel, 4 KHz spacing.Frequencies assignable to ship stations for wide-band telegraphy, facsimile and special transmissionsystems8340-8341.75, (8340.3-8341.5)5 Channels, 0.3 KHz spacingFrequencies assignable toship stations for oceanographic data transmission8341.75-8365.75, (8342-8365.5)8370.75-8376.25, (8371-8376)59 Channel, 0.5 KHz spacingWorking frequencies assignable toship stations for A1A or A1B Morse telegraphy8365.75-8370.75, (8366-8370.5)5 Group, 10 Channels, 0.5 KHz spacingCalling frequencies assignable toship stations for A1A or A1B Morse telegraphyCommonChannel : 8368 & 8369 KHz8376.25-8396.25(8376.5-8396)40 Channel, 0.5 KHz spacing8376.5,8416.25-8436.25(8417-8436)40 Channel, 0.5 KHz spacingFrequencies (paired) assignable to stations for NBDP and data transmission systems, at speeds notexceeding 100 Bdfor FSKand 200 Bd for PSK8396.25-8414.25, (8396.5-8414)36 Channel, 0.5 KHz spacingFrequencies (non paired) assignable to ship stations for NBDP telegraphy and data transmissionsystems at speeds not exceeding 100 Bd for FSK and 200 Bd for PSK and for A1A or A1B Morsetelegraphy(working)8414.25-8416.25, (8414.5-8416)4 Channel, 0.5 KHz spacing8436.25-8438, (8436.5-8437.5)3 Channel, 0.5 KHz spacingFrequencies assignable tostations for digital selective calling8438-8707 Frequencies assignable tocoast stations for wide-band and A1A or A1B Morse telegraphy, facsimile,special anddata transmissionsystems and direct-printing telegraphy systems
  33. 33. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim17Sumber : Kajian Regulasi Komunikasi Radio Maritim Indonesia. Ditjen Postel Kominfo 2010ChannelnumberF (KHz)ShipF (KHz)CoastRemarks1201-124112230-12353(12231.4-12351.4)13077-13200(13078.4-13198.4)Duplex. Frequencies assignable to stations for telephonyChannel 1221: 12290/13137 is for Calling, Distress, and Safety41 Channel, 3 KHz spacing12353-12368(12354.4 - 12366.4)5 Channel, 3 KHz spacingSimplex. Frequencies assignable toship stations and coast stations for telephony12368-12420(12370-12418)13 Channel, 4 KHz spacing.Frequencies assignable to ship stations for wide-band telegraphy, facsimile and special transmissionsystems12420-12421.75(12420.3-12421.5)5 Channels, 0.3 KHz spacingFrequencies assignable toship stations for oceanographic data transmission12421.75-12476.75(12422-12476.5)110 Channel, 0.5 KHz spacingWorking frequencies assignable toship stations for A1A or A1B Morse telegraphy12476.75-12549.75(12477-12549.5)12554.75-12559.75(12555-12559.5)156 Channel0.5 KHz spacing12578.75-12656,75(12579-12656.5)156 Channel0.5 KHz spacingFrequencies (paired) assignable to stations for NBDP and data transmission systems, at speeds notexceeding 100 Bdfor FSKand 200 Bd for PSK12549.75-12554.75(12550-12554.5)5 Group, 10 Channels, 0.5 KHz spacingCalling frequencies assignable toship stations for A1A or A1B Morse telegraphyCommonChannel : 12552 & 12553.5 KHz12559.75-12576.75(12560-12576.5)34 Channel, 0.5 KHz spacingFrequencies (non paired) assignable to ship stations for NBDP telegraphy and data transmissionsystems at speeds not exceeding 100 Bd for FSK and 200 Bd for PSK and for A1A or A1B Morsetelegraphy(working)12576.75-12578.75(12577-12578.5)4 Channel0.5 KHz spacing12656.75-12658.5(12657-12658)3 Channel0.5 KHz spacingFrequencies assignable tostations for digital selective calling12658.5-13077 Frequencies assignable tocoast stations for wide-band and A1A or A1B Morse telegraphy, facsimile,special anddata transmissionsystems and direct-printing telegraphy systems
  34. 34. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim18Sumber : Kajian Regulasi Komunikasi Radio Maritim Indonesia. Ditjen Postel Kominfo 2010ChannelnumberF (KHz)ShipF (KHz)CoastRemarks1601-165616360-16528(16361.4-16526.4)17242-17410(17243.4-17408.4)Duplex. Frequencies assignable to stations for telephonyChannel 1621: 16420/17302 is for Calling, Distress, and Safety56 Channel, 3 KHz spacing16528-16549(16529.4 – 16547.4)7 Channel, 3 KHz spacingSimplex. Frequencies assignable toship stations and coast stations for telephony16549-16617(16551-16615)17 Channel, 4 KHz spacing.Frequencies assignable to ship stations for wide-band telegraphy, facsimile and special transmissionsystems16617-16618.75(16617.3-16618.5)5 Channels, 0.3 KHz spacingFrequencies assignable toship stations for oceanographic data transmission16618.75-16683.25(16619-16683)129 Channel, 0.5 KHz spacingWorking frequencies assignable toship stations for A1A or A1B Morse telegraphy16683.25-16733.75(16683.5-16733.5)16738.75-16784.75(16739-16784.5)193 Channel0.5 KHz spacing16806.25-16902,75(16806.5-16902.5)193 Channel0.5 KHz spacingFrequencies (paired) assignable to stations for NBDP and data transmission systems, at speeds notexceeding 100 Bdfor FSKand 200 Bd for PSK16733.75-16738.75(16734-16738.5)5 Group, 10 Channels, 0.5 KHz spacingCalling frequencies assignable toship stations for A1A or A1B Morse telegraphyCommonChannel : 16736 & 16738 KHz16784.75-16804.25(16785-16804)39 Channel, 0.5 KHz spacingFrequencies (non paired) assignable to ship stations for NBDP telegraphy and data transmissionsystems at speeds not exceeding 100 Bd for FSK and 200 Bd for PSK and for A1A or A1B Morsetelegraphy(working)16804.25-16806.25(16804.5-16806)4 Channel0.5 KHz spacing16902.75-16904.5(16903-16904)3 Channel0.5 KHz spacingFrequencies assignable tostations for digital selective calling16904.5-17242 Frequencies assignable tocoast stations for wide-band and A1A or A1B Morse telegraphy, facsimile,special anddata transmissionsystems and direct-printing telegraphy systems
  35. 35. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim19Sumber : Kajian Regulasi Komunikasi Radio Maritim Indonesia. Ditjen Postel Kominfo 2010ChannelnumberF(KHz)ShipF(KHz)CoastRemarks1801-181518870-18825(18781.4-18823.4)19755-19800(19756.4-19798.4)Duplex. Frequencies assignable tostations fortelephonyChannel 1806: 18795/19770 is for Calling15 Channel, 3 KHz spacing18825-18846(18826.4 – 18844.4)7 Channel, 3 KHz spacingSimplex. Frequenciesassignable toshipstationsandcoaststationsfor telephony18846-18870(18848-18868)6 Channel, 4 KHz spacing.Frequencies assignable to ship stations for wide-band telegraphy, facsimile andspecialtransmission systems18870-18892.75(18870.5-18892.5)45 Channel0.5 KHz spacing19680.25-19703,25(19681-19703.5)45 Channel0.5 KHz spacingFrequencies (paired) assignable to stations for NBDP and data transmission systems,atspeeds notexceeding100Bd for FSK and 200 Bd for PSK18892.75-18898.25(18893-18898)11 Channel, 0.5 KHz spacingFrequencies (non paired) assignable to ship stations for NBDP telegraphy and datatransmission systems at speeds not exceeding 100 Bd for FSK and 200 Bd for PSK andforA1A or A1B Morse telegraphy (working)18898.25-18899.75(18898.5-18899.5)3 Channel0.5 KHz spacing19703.25-19705(19703.5-19704.5)3 Channel0.5 KHz spacingFrequencies assignable tostations fordigitalselective calling19705-19755 Frequenciesassignable tocoaststationsforwide-bandandA1A or A1B Morsetelegraphy, facsimile, specialanddatatransmissionsystemsanddirect-printingtelegraphy systems
  36. 36. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim20Sumber : Kajian Regulasi Komunikasi Radio Maritim Indonesia. Ditjen Postel Kominfo 2010ChannelnumberF (KHz)ShipF (KHz)CoastRemarks2201-225322000-22159(22001.4-22157.4)22696-22855(22697.4-22853.4)Duplex. Frequencies assignable to stations for telephonyChannel 2221: 22060/22756 is for Calling53 Channel, 3 KHz spacing22159-22180(22160.4 – 22178.4)7 Channel, 3 KHz spacingSimplex. Frequencies assignable toship stations and coast stations fortelephony22180-22240(22182-22238)15 Channel, 4 KHz spacing.Frequencies assignable to ship stations for wide-band telegraphy, facsimile and special transmissionsystems22240-22241.75(22240.3-22241.5)5 Channels, 0.3 KHz spacingFrequencies assignable toship stations for oceanographic data transmission22241.75-22279.25(22242-22279)75 Channel, 0.5 KHz spacingWorking frequencies assignable toship stations for A1A or A1B Morse telegraphy22279.25-22284.25(22279.5-22284)5 Group, 10 Channels, 0.5 KHz spacingCalling frequencies assignable toship stations for A1A or A1B Morse telegraphyCommonChannel :22280.5 &22281 KHz22284.25-22351.75(22284.5-22351.5)135 Channel0.5 KHz spacing22375.75-22443,75(22376-22443.5)135 Channel0.5 KHz spacingFrequencies (paired) assignable to stations for NBDP and data transmission systems, at speeds notexceeding 100 Bdfor FSKand 200 Bd for PSK22351.75-22374.25(22352-22374)45 Channel, 0.5 KHz spacingFrequencies (non paired) assignable to ship stations for NBDP telegraphy and data transmissionsystems at speeds not exceeding 100 Bd for FSK and 200 Bd for PSK and for A1A or A1B Morsetelegraphy(working)22374.25-22375.75(22374.5-22375.5)3 Channel0.5 KHz spacing22443.75-22445.5(22444-22445)3 Channel0.5 KHz spacingFrequencies assignable tostations for digital selective calling22445.5-22696 Frequencies assignable tocoast stations for wide-band and A1A or A1B Morse telegraphy, facsimile,special anddata transmissionsystems and direct-printing telegraphy systems
  37. 37. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim21Sumber : Kajian Regulasi Komunikasi Radio Maritim Indonesia. Ditjen Postel Kominfo 2010ChannelnumberF (KHz)ShipF (KHz)CoastRemarks2501-251025070-25100(25071.4-25098.4)26145-26175(26146.4-26173.4)Duplex.Frequencies assignable to stations for telephonyChannel 2510: 25097/26172 is for Calling10 Channel, 3 KHz spacing25100-25121(25101.4 – 25119.4)7 Channel, 3 KHz spacingSimplex. Frequencies assignable to ship stations and coast stations for telephony25121-25161.25(25123-25159)10 Channel, 4 KHz spacing.Frequencies assignable to ship stations for wide-band telegraphy, facsimile and specialtransmission systems26161.25-25171.25(26161.5-25171)20 Channel, 0.5 KHz spacingWorking frequencies assignable to ship stations for A1A or A1B Morse telegraphy25171.25-25172.75Section IV – Morse telegraphy (calling) 0.5 KHz spacingCalling frequencies assignable to ship stations for A1A or A1B Morse telegraphy25172.75-25192.75(25173.5-25192.5)40 Channel0.5 KHz spacing26100.25-26120,75(26100.5-26120.5)40 Channel0.5 KHz spacingFrequencies (paired) assignable to stations for NBDP and data transmission systems, atspeeds not exceeding 100 Bd for FSK and 200 Bd for PSK25192.75-25208.25(25193-25208)31 Channel, 0.5 KHz spacingFrequencies (non paired) assignable to ship stations for NBDP telegraphy and datatransmission systems at speeds not exceeding 100 Bd for FSK and 200 Bd for PSK and for A1Aor A1B Morse telegraphy (working)25208.25-25210(25208.5-25209.5)3 Channel0.5 KHz spacing26120.75-26122.5(26121-26122)3 Channel0.5 KHz spacingFrequencies assignable to stations for digital selective calling26122.5-26145 Frequenciesassignable to coast stations for wide-band and A1A or A1B Morse telegraphy,facsimile, special and data transmission systems and direct-printing telegraphy systems
  38. 38. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim22PitaHFITU-RR TASFRILower Offset Upper Offset Lower Offset Upper Offset4 MHz 4000.00 KHz 4438.00 KHz 4000.00 KHz 4438.00 KHz6 MHz 6200.00 KHz 6525.00 KHz 6200.00 KHz 6525.00 KHz8 MHz 8101.00 KHz 8815.00 KHz 8100.00 KHz 8815.00 KHz12 MHz 12230.00KHz 13200.00KHz 12230.00KHz 13200.00KHz16 MHz 16360.00KHz 17410.00KHz 16360.00KHz 17410.00KHz18/19 MHz 18780.00KHz 19800.00KHz 18780.00KHz 19800.00KHz22 MHz 22000.00KHz 22855.00KHz 22000.00KHz 22855.00KHz25/26 MHz 25070.00KHz26100.25KHz25210.00KHz26175.00KHz25070.00KHz26100.00KHz25210.00KHz26175.00KHz
  39. 39. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim23Tabel 1-8. Kanal Maritim di Pita VHFSumber : Kajian Regulasi Komunikasi Radio Maritim Indonesia. Ditjen Postel Kominfo 2010ChannelnumberF (MHz) Ship F (MHz)CoastUnited Kingdom United States Australia0UK, 156.000 160.600 Private, coast guard Ⓐ1US, 156.050 156.050 Port Operations and Commercial, VTS.Available only in New Orleans/LowerMississippi area.1UK,AU,ITU 156.050 160.650 Duplex Seaphone-based2UK,AU,ITU 156.100 160.700 Duplex Seaphone-based3UK,AU,ITU 156.150 160.750 Duplex Seaphone-based4UK,AU,ITU 156.200 160.800 Duplex Seaphone-based5US 156.250 156.250 Port Operations or VTS in the Houston, NewOrleans andSeattle areas.5UK,AU,ITU 156.250 160.850 Duplex Seaphone-based6US,UK,AU,ITU 156.300 156.300 Simplex, Ship-to-ship+ Ship-to-Air IntershipSafetyMessages, SAR messages toCoast Guardship/aircraft.Simplex, Rescue. International Co-OrdinatedAir to Sea Rescue Frequency. Ship & AircraftSAR7US,AU 156.350 156.350 Commercial Seaphone-based7UK,ITU 156.350 160.950 Duplex8US,UK,AU,ITU 156.400 156.400 Simplex, Ship-to-shipⒶ Commercial (Intershiponly) Port Ops. Tug & Pilot Boat Services,Commerical ShipTo Ship9US,UK,AU,ITU 156.450 156.450 Simplex, Ship-to-shipⒶ BoaterCalling. Commercial andNon-Commercial.Port Ops. First Preffered Aircraft To ShipOrCoast StationChannel10US,UK,AU,ITU 156.500 156.500 Simplex, Ship-to-shipⒶ Commercial Port Ops between Ship& Shore11US,UK,AU,ITU 156.550 156.550 Simplex Commercial. VTS inselectedareas. Port Ops between Ship& Shore12US,UK,AU,ITU 156.600 156.600 Simplex Port Operations. VTS in selectedareas. Harbor Control. Port Ops between Ship&Shore13US,UK,AU,ITU 156.650 156.650 Simplex, Ship-to-shipⒶ IntershipNavigationSafety(Bridge-to-bridge).Ships >20m lengthmaintaina listening watchonthis channel in US waters.International Shipping NavigationChannel14US,UK,AU,ITU 156.700 156.700 Simplex Port Operations. VTS in selectedareas. ShipToShore/Shore To Ship15US,UK,AU,ITU 156.750 156.750 Simplex, Ship-to-shipⒶ Environmental (Receive only). Usedby Class CEPIRBs.Spills, Shipping Accidents-OceanEnvironmentProtection. Onboard communication power nomore than 1W
  40. 40. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim24Sumber : Kajian Regulasi Komunikasi Radio Maritim Indonesia. Ditjen Postel Kominfo 2010ChannelnumberF (MHz) Ship F (MHz)CoastUnited Kingdom United States Australia16US,UK,AU,ITU 156.800 156.800 Simplex.International distress, safety and calling. Used for initial contact - then select a Working Channel.International Distress, Safety and Calling. Ships required to carry radio, USCG, andmost coast stations maintaina listening watchon thischannel.International Marine VHF Calling Channel17US,UK,AU,ITU 156.850 156.850 Simplex, Ship-to-shipⒶ State Control InlandWaterways Control-State Govt Based.Onboard communication power no more than1W18US,AU 156.900 156.900 Commercial Communicationbeing navigation related andthe output transmissionpower limitedto 1watt or less to avoid harmful interference toChannel 16.18UK,AU,ITU 156.900 161.500 Duplex Public Use. Non-Commercial Boaters19US 156.950 156.950 Commercial19UK,AU,ITU 156.950 161.550 Duplex Public Use. Non-Commercial Boaters20US 157.000 157.000 Port Operations20UK, AU,ITU 157.000 161.600 Duplex Port Operations (duplex) Port Ops21US 157.050 157.050 U.S. Coast Guardonly21UK,AU,ITU 157.050 161.650 Duplex AustralianVolunteer Coast Guard [AVCG]22US 157.100 157.100 Coast GuardLiaison and Maritime SafetyInformationBroadcasts. Broadcastsannounced on channel 16.22UK,AU,ITU 157.100 161.700 Duplex AustralianVolunteer Coast Guard [AVCG]23US 157.150 157.150 U.S. Coast Guardonly23UK,AU,ITU 157.150 161.750 Duplex Seaphone-based24US,UK,AU,ITU 157.200 161.800 Duplex Public Correspondence (Marine Operator) Seaphone-based25US,UK,AU,ITU 157.250 161.850 Duplex Public Correspondence (Marine Operator) Seaphone-based26US,UK,AU,ITU 157.300 161.900 Duplex Public Correspondence (Marine Operator) Seaphone-based27US,UK,AU,ITU 157.350 161.950 Duplex Public Correspondence (Marine Operator) Seaphone-based28US,UK,AU,ITU 157.400 162.000 Duplex Public Correspondence (Marine Operator) Seaphone-based
  41. 41. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim25Sumber : Kajian Regulasi Komunikasi Radio Maritim Indonesia. Ditjen Postel Kominfo 2010ChannelnumberF (MHz) Ship F (MHz)CoastUnited Kingdom United States Australia29-36 Private37UK 157.850 157,850 Private. UsedBy UKMarinas & Yacht Clubs38-59 Private60UK,AU,ITU 156.025 160.625 Duplex Seaphone-based61UK,AU,ITU 156.075 160.675 Duplex Seaphone-based62UK,AU,ITU 156.125 160.725 Duplex Seaphone-based63US 156.175 156.175 Port Operations and Commercial, VTS.Available only in New Orleans/LowerMississippi area.63UK,AU,ITU 156.175 160.775 Duplex Seaphone-based64UK,AU,ITU 156.225 160.825 Duplex Seaphone-based65US 156.275 156.275 Port Operations65UK,AU,ITU 156.275 160.875 Duplex Port Ops66US 156.325 156.325 Port Operations66UK,AU,ITU 156.325 160.925 Duplex Seaphone67US,UK,AU,ITU 156.375 156.375 Simplex, Intership. HM Coastguard Search&RescueCommercial. UsedforBridge-to-bridgecommunications inlower Mississippi River.Intershiponly.Marine Weather Broadcast 4 times daily fromVMF555. Distress (supplementary)68US,UK,AU,ITU 156.425 156.425 Simplex Non-Commercial Simplex, Port Ops69US,UK,AU,ITU 156.475 156.475 Simplex, Ship-to-Ship Non-Commercial AustralianNavyOperations70US,UK,AU,ITU 156.525 156.525 Simplex. Digital Selective Calling (voice communications not allowed)71US,UK,AU,ITU 156.575 156.575 Simplex Non-Commercial Professional Fishing Trawlers etc &RegdBoatClubs72US,UK,AU,ITU 156.625 156.625 Simplex. Ship-to-shipⒶ Non-Commercial (Intershiponly) Simplex, Port Ops. Second Preffered Aircraft ToShipOr Coast StationChannel73US,UK,AU,ITU 156.675 156.675 Simplex. Ship-to-shipⒶ Port Operations Simplex, Intership. Third Preffered Aircraft ToShipOr Coast StationChannel74US,UK,AU,ITU 156.725 156.725 Simplex Port Operations Simplex, Port Ops75US,UK,AU,ITU 156.775 156.775 Simplex Simplex, Intership. Ship To ShipCommuncations Only (1 watt)76UK,AU,ITU 156.825 156.825 Simplex Simplex, Intership. Ship To ShipCommuncations Only (1 watt)
  42. 42. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim26Sumber : Kajian Regulasi Komunikasi Radio Maritim Indonesia. Ditjen Postel Kominfo 2010ChannelnumberF (MHz) Ship F (MHz)CoastUnited Kingdom United States Australia77US,UK,AU,ITU 156.875 156.875 Simplex. Ship-to-shipⒶ Port Operations (Intership only) AustralianVolunteer Coast Guard [AVCG]78US 156.925 156.925 Non-Commercial78UK,AU,ITU 156.925 161.525 Duplex Non-commercial Ⓐ Non-commercial Calling &Working79US 156.975 156.975 Commercial. Non-Commercial inGreat Lakesonly79UK,AU,ITU 156.975 161.575 Duplex Port Ops80US 157.025 157.025 Commercial. Non-Commercial inGreat Lakesonly80UK,AU,ITU 157.025 161.625 Duplex. UKMarinas Only Safety&Shipping Movements81US 157.075 157.075 U.S. Government only - Environmentalprotection operations.81UK,AU,ITU 157.075 161.675 Duplex Safety&Shipping Movements82US,AU 157.125 157.125 U.S. Government only Communicationbeing navigation related andthe output transmissionpower limitedto 1watt or less to avoid harmful interference toChannel 16.82UK,AU,ITU 157.125 161.725 Duplex Govt SafetyBodys Only-Police, Fire, MarineAuthetc.83US 157.175 157.175 U.S. Coast Guardonly83UK,AU,ITU 157.175 161.775 Duplex Seaphone-based84US,UK,AU,ITU 157.225 161.825 Duplex Public Correspondence (Marine Operator) Seaphone-based85US,UK,AU,ITU 157.275 161.875 Duplex Public Correspondence (Marine Operator) Seaphone-based86AU 157.325 157.325 Communicationbeing navigation related andthe output transmissionpower limitedto 1watt orless to avoid harmful interference toChannel 16.86US,UK,AU,ITU 157.325 161.925 Duplex Public Correspondence (Marine Operator) Seaphone-based87US,UK,AU,ITU 157.375 157.375 Simplex Public Correspondence (Marine Operator) Automatic ShipIdentification & SurviellanceSystem87AU 157.375 161.975 Automatic ShipIdentification & SurviellanceSystem88US,UK,ITU 157.425 157.425 Simplex Commercial, Intershiponly.88AU 157.425 162.025 Seaphone-based
  43. 43. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim27GMDSS – Kelas Perangkat DSC terbagi menjadi : Kelas AMencakup semua kemampuan di Annex 1, sesuai dengan standar persyarataninstalasi MF/HF dan/atau VHF IMO GMDSS. Perangkat juga disarankanmendukung fitur tambahan semi-otomatis/otomatis sesuai rekomendasi ITU-R M.689, ITU-R M.1082 dan Tables 4.10.1 & 4.10.2 Kelas B (MF dan/atau VHF)Menyediakan kemampuan minimum bagi kapal yang tidak diharuskanmenggunakan Kelas A, sesuai dengan standar persyaratan instalasi MF/VHFIMO GMDSS. Perangkat juga disarankan mendukung fitur tambahan semi-otomatis/otomatis sesuai rekomendasi ITU-R M.689, ITU-R M.1082 danTabel 4.10.1 & 4.10.2 Kelas D (VHF)Menyediakan kemampuan minimum untuk keperluan distress, urgency,safety via VHF DSC termasuk pula panggilan/penerimaan rutin, tidakdiharuskan sesuai dengan standar instalasi VHF IMO GMDSS. Dapatmendukung layanan tambahan semi-otomatis/otomatis. Kelas E (MF dan/atau HF)Serupa dengan Kelas D, untuk MF/HF DSCGMDSS – Kategori EPIRB Kelas A. Analog 121.5/243 MHZ, Float-free, aktif otomatis, terdeteksi olehpesawat, jangkauan terbatas. Tidak diperkenankan lagi untuk digunakan. Kelas B. Analog 121.5/243 MHZ. Versi aktif manual dari Kelas A. Tidakdiperkenankan lagi untuk digunakan. Kelas C. Analog VHF ch15/16. Aktif manual, beroperasi hanya pada kanalmaritim sehingga tidak terdeteksi oleh satelit maupun pesawat padaumumnya. Tidak diperkenankan lagi untuk digunakan. Kelas S. Analog 121.5/243 MHZ. Serupa dengan Kelas B tetapi mengapungatau menjadi bagian dari perahu darurat. Tidak diperkenankan lagi untukdigunakan. Kategori I. Digital 406/121.5 MHZ. Float-free, aktif otomatis, terdeteksioleh satelit di dunia. Dikenal dan digunakan oleh GMDSS saat ini. Kategori II. Serupa dengan Kategori I, kecuali aktif manual. Beberapa modelwater-activated. Inmarsat-E. 1646 MHz, Float-free, aktif otomatis, terdeteksi oleh satelitGEO Inmarsat. Tidak lagi digunakan terhitung sejak 1 Desember 2006.GMDSS – Analog & Digital EPIRB Analog EPIRB (121.5 MHz) tidak dapat dideteksi oleh satelit GEO (GEOmencakup hingga 85% belahan bumi).
  44. 44. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim28 Digital EPIRB (406 MHz) dan Analog EPIRB dapat bekerja dengan satelitLEO, namun Digital EPIRB bekerja lebih baik. Analog EPIRB hanya memancarkan sinyal di 121.5 MHz. Digital EPIRBselain memancarkan sinyal 121.5 MHz berdaya rendah, juga mengirimkankode identifikasi digital di 406 MHz. Mayoritas kesalahan alert dari EPIRB 406 MHz dapat diselesaikan denganmudah via panggilan telepon. Lain hal dengan EPIRB 121.5 MHz dimanasetiap kesalahan alert harus dicek ke sumber menggunakan perangkatdirection finding. Dengan demikian, EPIRB 406 MHz akan menghematwaktu SAR. Penerimaan alert oleh satelit Cospas-Sarsat dari EPIRB 121.5 MHz hanyadilakukan hingga 1 Februari 2009. Lewat tanggal tersebut, satelit hanyamenerima dari EPIRB 406 MHz, seiring dengan perubahan transmisi analogmenjadi digital. Informasi lokasi yang diterima dari EPIRB 406 MHz jauh lebih akurat, dansinyal yang dikirim pun membawa informasi registrasi. Dari informasiregistrasi tersebut, jika registrasi dilakukan dengan tepat, dapat diketahuiinformasi kontak pemilik, informasi kontak darurat, dan karakteristikpengenal dari armada bersangkutan.GMDSS – MMSIMaritime Mobile Service Identity (MMSI) merupakan 9 digit nomor yangmengidentifikasikan perangkat VHF. Bagian kiri dari MMSI menandakan negaradan jenis stasiun. Kapal (MIDXXXXXX) 232,233,234,235 : Inggris -> contoh: 232003556 525 : Indonesia Stasiun Pantai (00MIDXXXX) Contoh : 002320011 ->Solent Coastguard, Inggris Grup Stasiun (0MIDXXXXX) Contoh : 023207823 Perangkat DSC Portable Contoh Inggris : 2359 -> 2359004981.5 Global Maritime Distress and Safety System (GMDSS) untuk StasiunRadio Pantai (SROP)Persyaratan dan standar peralatan Global Maritime Distress and SafetySystem (GMDSS) yang digunakan oleh Stasiun Radio Pantai (SROP), wajib memilikiperalatan telekomunikasi-pelayaran:a. Radio VHF DSC menggunakan perangkat radio VHF yang mampumelakukan komunikasi pada frekuensi bahaya channel 16 (156,800 MHz)
  45. 45. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim29dan VHF DSC pada channel 70 (156,525 MHz) di pita frekuensi (band) 156– 174 MHz. (sesuai artikel 52 dan appendix 18);b. Radio MF DSC menggunakan perangkat radio MF DSC yang mampumelakukan komunikasi pada frekuensi bahaya 2182 KHz dan DSC padafrekuensi 2187,5 KHz di pita frekuensi (band) 1605 – 4000 KHz.(sesuaiartikel 52 dan Appendix 25);c. Radio HF DSC menggunakan perangkat radio HF DSC yang mampumelakukan komunikasi pada frekuensi bahaya 4125 KHz dan/atau 6215KHzdan/atau 8291 KHz dan/atau 12290 KHz dan/atau 16240 KHz dan DSC padafrekuensi 4207,5 KHz dan/atau 6312 KHz dan/atau 8414,5 KHz dan/atau12577 KHz dan/atau 16804,5 KHz di pita frekuensi (band) 4000 – 27500KHz (sesuai artikel 52 dan Appendix 25);d. Media komunikasi meliputi radio link, dan/atau kabel, dan/atau serat optikdan/atau nirkabel; dane. komunikasi data, internet dan saluran telepon melalui jaringankomunikasiumum.Jumlah Stasiun Radio Pantai GMDSS di Indonesia sesuai lampiran KM 30 sampaidengan tahun 2011, telah terpasang Stasiun Radio Pantai GMDSS sebagai berikut : 66 SROP dengan Area A1 54 SROP dengan Area A2 12 SROP dengan Area A3 4 SROP transmit Maritime Savety Information (MSI-NAVTEX)Adapun penyebaran lokasi Stasiun Radio Pantai GMDSS dan coverage area A1 danA2 di Indonesia dapat dilihat pada gambar-gambar berikut ini.Gambar 1-4. Lokasi Stasiun Radio Pantai GMDSS di Indonesia
  46. 46. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim30Gambar 1-5. GMDSS Coverage Area A1Gambar 1-6. GMDSS Coverage Area A2
  47. 47. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim311.6 Spektrum Frekuensi RadioAlokasi spektrum frekuensi radio mengacu pada alokasi tabel alokasispektrum frekuensi yang dikeluarkan secara resmi oleh Himpunan TelekomunikasiInternasional (International Telecommunication Union (ITU)) pada Peraturan RadioEdisi 2008 (Radio Regulations, edition 0f 2008) yang juga menjadi acuan baginegara-negara lain di dunia. Alokasi spektrum frekuensi radio tersebut dapat dilihatpada gambar berikut.Gambar 1-7. Spektrum frekuensi RadioSumber : ITU Handbook of National Spectrum Mangement,1995Dengan banyaknya kebutuhan akan spektrum frekuensi sedangkan sumber daya alamini terbatas maka harus dikelola dengan cara bijaksana dan tepat.1.7 Sistem Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio.Pengelolaan Spektrum Frekuensi Radio terdiri dari sejumlah fungsi-fungsiyang bekerja secara sinergis untuk menghasilkan suatu kinerja dimana prosesperizinan spektrum frekuensi dapat dilayani dengan cepat dan selanjutnyapenggunaan spektrum frekuensi akan efektif dan efisien dan pada saat bersamaankondisi gangguan frekuensi (interferensi) adalah minimal.Pengertian dari Gelombang Radio atau Gelombang Hertzian adalahgelombang elektromagnetik dengan frekuensi yang lebih rendah dari 3000 GHz,yang merambat dalam ruang angkasa tanpa sarana penghantar buatan. Spektrumfrekuensi merupakan salah satu sumber daya terbatas,sangat vital dan merupakanaset nasional yang memerlukan kehati-hatian dalam mengaturnya. Adapun sistempengelolaan spektrum frekuensi radio dapat dilihat pada gambar berikut.
  48. 48. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim32Gambar 1-8. Sistem Pengelolaan Spektrum Frekuensi RadioSumber : ITU Handbook of National Spectrum Mangement,1995Fungsi-fungsi tersebut adalah:(1) Fungsi penataan dan perencanaan spektrum (spectrum planning andallocation).(2) Fungsi penetapan frekuensi dalam proses perizinan (licensing, assignment andbilling).(3) Fungsi koordinasi agar penggunaan spektrum frekuensi di suatu wilayahmenjadi harmonis (frequency coordination and notification).(4) Fungsi rekayasa frekuensi yang menghasilkan perencanaan dan alokasifrekuensi secara efisien (spectrum engineering).(5) Fungsi inspeksi stasiun radio yang beroperasi untuk menjaga ketaatan terhadapaturan pengoperasian perangkat radio (inspectrion of radio installation).(6) Fungsi penegakan hukum (law enforcement) adalah untuk memastikanpenggunaan perangkat radio mengikuti standar yang ditetapkan, serta untukmenindak pelanggaran-pelanggaran penggunaan spektrum yang tidak sesuaidengan perizinannya.(7) Fungsi aturan, regulasi dan standar (rules, regulation and associated standards)yang memberi penguatan terhadap pengaturan-pengaturan yang diperlukan.(8) Fungsi monitor spektrum (spectrum monitoring) akan melakukan pengawasanterhadap pancaran-pancaran frekuensi radio melalui infrastruktur SistemMonitor Spektrum Frekuensi RadioUntuk melaksanakan semua fungsi pengelolaan spektrum frekuensi radiotersebut di atas, maka dalam mencapai tujuannya yaitu maximize spectrum efficiencyand minimize interference, maka pengelolaan sumber daya spektrum frekuensi radioini berada di Kementrian Komunikasi dan Informatika, Ditjen SDPPI.
  49. 49. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim331.8 Pengaturan Penggunaan Spektrum Frekuensi Maritim BerdasarkanRadio Regulation ITUPengaturan penggunaan spektrum frekuensi khusus untuk maritim secarainternasional terdapat pada Radio Regulation ITU, dengan artikel-artikel yangberhubungan dengan frekuensi maritim sebagai berikut : Article 5 -Frequency allocations Article 51 -Conditions to be observed in the maritime services Article 52 -Special rules relating to the use of frequencies in MaritimeServices Appendix 13 -Distress and safety communication Non-GMDSS Appendix 15 -Frequencies for distress and safety communications for theGlobal Maritime Distress and Safety System (GMDSS) Appendix 17 -Frequencies and channel arrangement in the high frequencybands for maritime mobile services Appendix 18 - Table of transmitting frequencies in the VHF maritimemobileband Appendix 25 -Provisions and associated frequency allotment Plan coastradiotelephone stations operating in the maritime mobile bandsbetween 4 000 kHz and 27 500 kHz1.9 Spektrum Frekuensi di IndonesiaPada saat ini permintaan ijin ISR radio microwave mengalami kenaikan yangsangat tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai gambaran jumlah penggunaanFrekuensi (ISR) berdasarkan pita frekuensi dapat dilihat pada tabel berikut.Tabel 1-9. Jumlah Penggunaan Frekuensi (ISR) berdasarkan pita FrekuensiSumber : Data Statistik Ditjen Postel 2010
  50. 50. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim34Peningkatan ijin ISR yang paling besar terjadi pada spektrum SHF yangdiakibatkan oleh peningkatan kebutuhan radio Microwave. Untuk mengetahuipenggunaan pita frekuensi per provinsi pada posisi tahun 2010, dapat dilihat padatabel berikut :Tabel 1-10.Penggunaan Pita Frekuensi per Provinsi pada tahun 2010Sumber: Statistik Ditjen POSTEl 2010
  51. 51. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim35Penggunaan Spektrum frekuensi berdasarkan servisnya yang terdiri dari : Aeronautical/Penerbangan Broadcasting (TV & Radio) Fixed Services Land Mobile (Private) Land Mobile (Public) Maritim SatelliteTabel 1-11. Jumlah penggunaan kanal frekuensi menurut service 2008–2010Sumber: Statistik Ditjen POSTEl 2010Berdasarkan pada tabel di atas, penggunaan frekuensi urutan ke 3 terbesarsejak tahun 2008 adalah untuk Fixed Services, Land Mobile (Public) dan LandMobile (Provate) sejak dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2010.Gambaran secara detil penggunaan frekuensi per provinsi dapat dilihat pada tabelberikut.
  52. 52. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim36Tabel 1-12. Pengguna Pita Frekuensi per Propinsi Tahun 2010Sumber: Statistik Ditjen POSTEl 2010Penggunaan menurut subservice yang cukup tinggi terjadi pada kelompokservice land mobile (public) : sub service GSM/DCS dan pada kelompok service landmobile (private) : sub service standard. Penggunaan sub service GSM/DCS yangtinggi ini sejalan dengan semakin berkembangnya industri telekomunikasi selulerdengan semakin banyaknya oeprator dan jangkauan oleh masing-masing operatorsehingga semakin banyak BTS yang dibangun. Namun proporsi untuk penggunaansub service GSM/DCS sampai semester I tahun 2010 masih lebih rendah dariproporsi penggunaanya selama tahun 2009.Proporsi penggunaan frekuensi untuk subservice lainya tergolong kecil danpenggunaan yang paling rendah untuk satelit. Untuk lebih jelasnya mengenaipenggunaan spektrum frekuensi tersebut, dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
  53. 53. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim37Gambar 1-9. Komposisi Penggunaan Frekuensi menurut Service dan Subservice-nya tahun 2010.Sumber: Statistik Ditjen POSTEl 20101.10 Kebijakan-Kebijakan Pemerintah dalam Penggunaan SpektrumFrekuensi untuk Keperluan MaritimDasar Hukum yang digunakan1. UU No. 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi2. UU No 17 tahun 2008 Tentang Pelayaran3. PP No. 53 tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio ...4. PP No. 05tahun 2010 tentang Kenavigasian5. Permen No. 40/2009 tentang TASRI6. Permen No. 26 / 2011 tentang Telekomunikasi Pelayaran7. PP No. 06 tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis PNBP yangBerlaku pada Departemen Perhubungan8. PP No. 07 tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis PNBP yangBerlaku pada Departemen Komunikasi dan Informatika
  54. 54. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim38Regulasi pada saat iniKetentuan regulasi yang terkait dengan frekuensi disebutkan dalam Undang-undangNo 36 tahun 1999 pada pasal 33 dan pasal 34 yaitu :Pasal 33(1) Penggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit wajib mendapatkanizin pemerintah(2) Penggunaan spektrum frekuensi dan orbit satelit harus sesuai denganperuntukannya dan tidak saling mengganggu(3) Pemerintah melakukan pengawasan dan pengendalian penggunaan spektrumfrekuensi radio dan orbit satelit(4) Ketentuan penggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit yangdigunakan dalam penyelenggaraan telekomunikasi diatur dengan PeraturanPemerintah.Pasal 34(1) Pengguna spektrum frekuensi radio wajib membayar biaya penggunaanfrekuensi, yang besaranya didasarkan atas penggunaan jenis dan lebar pitafrekuensi(2) Pengguna orbit satelit wajib membayar biaya hak penggunaan orbit satelit(3) Ketentuan mengenai biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)diatur dengan Peraturan Pemerintah.Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah No 53 tahun 2000 tentang PenggunaanSpektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit, menjelaskan secara lebih detil yangterdiri dari : Pembinaan (pada pasal 2) Spektrum Frekuensi radio yang menjelaskan mengenai perencanaan,Penggunaan, Perizinan, Realokasi Frekuensi radio, Biaya Hak Penggunaan(BHP) Spektrum Frekuensi Radio, dan Biaya Hak Penggunaan (BHP) OrbitSatelit (Pasal 3 ayat (1)) Pengawasan dan Pengendalian (pasal 3 Ayat (2))Dalam ketentuan terkait dengan perencanaan spektrum frekuensi radio, dijelaskandalam Pasal 4 beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :Dalam perencanaan penggunaan spektrum frekuensi radio harus diperhatikan hal-halsebagai berikut :a. mencegah terjadinya saling mengganggu;b. efisien dan ekonomis;c. perkembangan teknologi;d. kebutuhan spektrum frekuensi radio di masa depan; dan/ataue. mendahulukan kepentingan pertahanan keamanan negara, keselamatan danpenanggulangan keadaan marabahaya (Safety and Distress), pencarian danpertolongan(Search and Rescue/SAR), kesejahteraan masyarakat dankepentingan umum.
  55. 55. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim39Dalam hal perencanaan spektrum frekuensi, pemerintah telah merencanakannya dandituangkan dalam tabel alokasi frekuensi radio.Ketentuan dalam regulasi yang ada pada saat ini secara keseluruhan dapatdigambarkan seperti pada gambar di bawah ini.Gambar 1-10. Peraturan-peraturan terkait dengan Spektrum Frekuensi RadioPeraturan-peraturan ini sudah berjalan dalam beberapa tahun sehingga sudahbanyak manfaat yang sudah diperoleh oleh para stakeholder, meskipun ada beberapapermasalahan-permasalahan yang ada. Oleh sebab itu di masa mendatang diharapkansegala permasalahan yang muncul pada saat ini bisa dieliminasi dan bisamengantisipasi permasalahan-permasalahan di masa mendatang, agar di masamendatang kebutuhan dari para stakeholder spektrum frekuensi radio bisa dilayaniUU no. 36/1999 ttgTelekomunikasiPP No. 52/2000 ttgPenyelenggaraanTelekomunikasiPP No. 7/2009 ttgJenis dan Tarif AtasJenis PNBP ...DEPKOMINFOPP No. 38/2007 ttgPembagian UrusanPemerintahan ...Kabupaten/KotaPP No. 53/2000 ttgPenggunaanSpektrumFrekuensi Radiodan Orbit SatelitPermen No.43/2009 ttgPenyelenggaraanPenyiaran ...Penyiaran TelevisiPermen No.3/2006 ttg PeluangUsaha u/PenyelenggaraanJar. Bergerak ...NasionalPerdirjen PostelNo. 96/2008 ttgPpersyaratanTeknis AlatPerangkat ...Frek.2.3 GHzKepdirjen PostelNo. 223/2002 ttgPengelompokanAlat dan PerangkatTelekomunikasi
  56. 56. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim40dengan baik dengan sudah mempertimbangkan segala aspek yang terkait secarakomprehensif.Beberapa kebijakan spektrum frekuensi radio di Indonesia yang melatarbelakangi regulasi yang terkait dengan penggunaan spektrum frekuensi radio,diantaranya adalah : Lisensi Frekuensi Radio diberikan melalui metode first come first served danbeauty contest. Lisensi Frekuensi Radio dipertimbangkan hanya sebagai media untukoperator telekomunikasi (dan broadcasting). Seringkali, Lisensi diberikan tanpa perencanaan spektrum frekuensi yangmencukupi. Hanya ada satu jenis dari Lisensi Radio Spektrum Frekuensi Radio yaituberbasiskan Izin Stasiun Radio (ISR) Kurang Fleksibel, terlalu banyak pekerjaan administrasi, sulit verifikasi Besaran nilai Biaya Hak Pengguna (BHP) frekuensi tahunan ditentukanberdasarkan kepada jenis layanan dan teknologi untuk tiap pemancar (Tx)yang dibangun. Sulit pemeriksaan dan verifikasi. Sulit menghitung besaran indeks pentarifan spektrum untuk teknologi baru.Efek dari adanya kebijakan tersebut diantaranya adalah : Penumpukan Spektrum (Spectrum hoarding) Pengembangan serta roll out dari jaringan menjadi lambat kecuali beberapaoperator saja. Konflik dari standar yang berkompetisi serta perencanaan frekuensi (GSMdan AMPS/ CDMA di 890 MHz, UMTS dan PCS-1900 di 1900 MHz)Kebijakan tersebut di atas sudah mewarnai penggunaan spektrum frekuensiradio di Indonesia pada saat ini, dimana masih ada beberapa kebijakan pengaturanspektrum frekuensi yang harus ditingkatkan agar pemanfaatan sumber daya yangterbatas ini akan dapat bermanfaat secara maksimal bagi masyarakat, pemerintah danpara pengguna sepektrum frekuensi.1.11 PNBP untuk Pengguan Spektrum Frekuensi Radio pada Dinas MaritimSebagai akibat pemanfaatan spektrum frekuensi oleh para stakeholdertelekomunikasi, diperoleh pendapatan dari penggunaan spektrum frekuensi denganmengacu pada ketentuan dalam tarif Biaya Hak Penggunaan (BHP) SpektrumFrekuensi Radio, yang merupakan salah satu komponen dari pendapatan PNBPKemenkominfo.
  57. 57. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim41Tabel 1-13. Realisasi PNBP Bidang Pos dan Telekomunikasi 2005- 2010Sumber: Statistik Ditjen POSTEl 2010Gambar 1-11. Data Historis Realisasi PNBP bidang Postel 2005-2010.Sumber: Statistik Ditjen POSTEl 2010CAGR dari Standarisasi dari tahun 2006 – 2010 paling tinggi dibandingkan denganunsur PNBP lainya, meskipun kontribusinya masih dibawah frekuensi, USO danTelekomunikasi.Dengan melihat proporsi pendapatan di atas, kontribusi pendapatan dariPNBP – Frekuensi adalah paling besar dan hal tersebut menunjukkan bahwapenggunaan spektrum frekuensi oleh para stakeholder mengalami peningkatan yangcukup besar dalam rangka untuk menghasilkan jenis jasa layanan telekomunikasiyang diperlukan oleh masyarakat. Di masa mendatang pengelolaan manajemenspektrum frekuensi harus selalu ditingkatkan kinerjanya sehingga kebutuhan akanspektrum frekuensi akan dapat dilayani dengan baik dalam jangka waktu yang lebihcepat, dalam proses yang lebih sederhana.Pada saat ini kategori non komersial untuk penggunaan frekuensi untukkepentingan seperti Maritim pada kenyataanya menggunakan spektrum frekuensiradio untuk kegiatanya, padahal dalam kenyataanya pemerintah yang dalam hal ini
  58. 58. Penggunaan Spektrum Frekuensi Untuk Keperluan Dinas Maritim42Ditfrek – Ditjen SDPPI menjalankan perannya dalam menjadi Lembaga PengelolaSpektrum Frekuensi Radio yang merupakan sumber daya alam yang terbatas harusdilakukan secara efektif dan efisien, melalui : Perencanaan penggunaan spektrum frekuensi radio yang bersifat dinamisdan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi. Pengelolaan spektrum frekuensi radio secara sistematis dan didukungsistem informasi spektrum frekuensi radio yang akurat dan terkini. Pengawasan dan pengendalian pengunaan spektrum frekuensi radio yangkonsisten dan efektif. Regulasi yang bersifat antisipatif dan memperikan kepastian hukum. Kelembagaan pengelolaan spektrum frekuensi radio yang kuat, didukungoleh sumber daya manusia yang profesional serta prosedur dan saranapengelolaan spektrum frekuensi radio yang memadai.Mengingat kondisi negara Indonesia yang sangat luas dan merupakan negarakepulauan, dimana kebutuhan spektrum frekuensi akan mutlak diperlukan dalamrangka untuk membangun penyebaran jasa layanan telekomunikasi yang mengarahke broadband, oleh sebab itu semua pengguna frekuensi seharusnya tidakdimasukkan dalam kategori non komersial akan tetapi di masa mendatang, semuapengguna frekuensi harus dikenakan biaya agar dari masing-masing pengguna akandapat meningkatkanefisiensipenggunaanya dan dari pemerintah selaku LembagaPengelola Spektrum Frekuensi Radio akan mendapatkan pendapatan daripenggunaan resource ini. Dalam prakteknya, bisa saja instansi-instansi penggunafrekuensi tertentu tidak harus membayar dengan menggunakan pola subsidi atau polayang cocok. Dengan pola ini maka akan dapat diketahui besarnya pendapatan yangdiperoleh oleh Ditfrek selama 1 tahun dalam mengelola spektrum frekuensi danberapa besar dari para instansi yang mendapatkan subsidi dari pemerintah sebagaiakibat penggunaan spektrum frekuensi dan selanjutnya akan bisa mengoptimalkanpenggunaanya dalam rangka untuk memenuhi kebutuhannya unuku memberikanpelayanan kepada masyarakat.Komunikasi radio untuk kepentingan maritim dan penerbangan merupakankomunikasi radio yang berhubungann dengan keselamatan transportasi laut danudara. Dalam Radio Regulation ITU-R alokasi frekuensi untuk kepentingan inimeliputi Aerotautical Mobile Services, Maritime Mobile Services, Radio Navigationservices, Redio Determination Services, Radio Location Service baik untuk ServicesTerresterial dan satelit. Pengaturan dan penentuan kanal frekuensi untuk kepentingankomunikasi ini dilakukan secara bersama-sama antara Ditjen Postel dengan DitjenHubla dan Ditjen Hubud.Hubungan komunikasi radio maritim internasionaldikoordinasikan melalui ITU, IMO dan INMARSAT, sedangkan untuk hubungankomunikasi radio penerbangan internasional dikoordinasikan melalui ITU dan ICAO.

×