Successfully reported this slideshow.

Studi smart card 2008

3,067 views

Published on

  • Be the first to comment

Studi smart card 2008

  1. 1. LAPORANSTUDI PENYUSUNAN KEBIJAKAN PEMERINTAHMENGENAI KERANGKA KERJA (FRAMEWORK)PENERAPAN KARTU PINTAR (SMART CARD)DI INDONESIAPUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN APTELSKDIBADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SDM2008DepkominfoDepkominfoDEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKABADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SDMPUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN APLIKASI TELEMATIKA
  2. 2. iTIM PENYUSUNSTUDI PENYUSUNAN KEBIJAKAN PEMERINTAH MENGENAIKERANGKA KERJA (FRAMEWORK) PENERAPAN KARTUPINTAR (SMART CARD) DI INDONESIAPusat Litbang APTEL SKDIPeneliti/Penulis:1. Dr Kanti W Istidjab, M.Sc2. Dr Moedjiono, M.Sc3. Drs. Akmam Amir, MKOM4. Drs. Dede Drajat5. Drs. Parwoko6. Drs. Paraden L Sidauruk7. Drs. Djoko Waluyo8. Drs. Heru Pudjo Buntoro, MA9. Atjih Ratnawati, BA10.Gantyo Witarso, BA11.Yan Andriariza AS, S.KomPenerbit:Pusat Penelitian dan Pengembangan APTEL SKDIBadan Litbang SDMDepkominfoJl Medan Merdeka Barat No 9 Jakarta PusatJakarta, Desember 2008Kapuslitbang APTEL SKDIAkmam Amir
  3. 3. iiKATA PENGANTARDengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, telahmendorong pemanfaatan teknologi pendukung seperti smart card untuk dapatdiintegrasikan dalam penerapan luas di kehidupan sehari-hari.Dalam prakteknya, penerapan smart card dan teknologi derivatifnya memilikinilai yang sangat startegis menyangkut identifikasi dan nilai suatu transaksi.Dengan manfaat atas fungsi yang dimiliki oleh smart card beserta aplikasinyamaka perlu dilakukan pengkajian atas teknologi, model penerapan danstandar yang berlaku atas penggunaan smart card. Hal ini bertujuan sebagailandasan penyusunan suatu kerangka regulasi yang bertujuan melidungipengguna smart card sekaligus mendorong perkembangan industri dalamnegeri dalam mendukung pengembangan dan implementasi smart card.Studi ini merupakan upaya mengidentifikasi kondisi dan permasalahan diIndonesia saat ini, dalam rangka implementasi smart card. Perspektif bisnis,teknologi, dan regulasi menjadi pokok bahasan dalam studi ini yang hasilakhirnya adalah disusunnya suatu kerangka kerja penerapan kartu pintar diIndonesia. Hal ini menjadi isu penting bagi studi ini karena merupakan bagiandari roadmap IT yang dikeluarkan Dirjen Aptel Depkominfo.Yang diharapkan adalah, adanya suatu model penerapan dan kerangkaregulasi yang sesuai dengan pengembangan smart card dan teknologiderivatifnya dalam berbagai aplikasi di Indonesia. Dengan demikian makakerangka kerja yang disusun akan menjadi acuan atau pedoman bagipengambil kebijakan.Jakarta, November 2008.Tim PengkajianAkmam Amir
  4. 4. iiiEXECUTIVE SUMMARYSebagai salah satu bentuk penerapan langsung dari teknologimikroelektronika untuk media komunikasi data yang sangat bersifat personalmengikuti trend perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diera informasi ini, pemanfaatan smart card semakin menunjukkan peningkatanyang pesat. Kalau kita lihat contoh penerapannya, pihak yang paling palingbanyak menggunakan smart card adalah operator telefon seluler, sertakalangan perbankan untuk Kartu Kredit maupun Kartu Debit / Kartu ATM.Tidak hanya sebatas itu, potensi pemanfaatan smart card juga meluas keberbagai mode penggunaan lainnya, yang semakin mempermudah hidupmanusia. Ke depannya, perkembangan penggunaan smart card akanmengarah pada kartu multi fungsi sehingga mampu memenuhi kebutuhanpengguna.Dalam beberapa tahun terakhir ini, beberapa institusi di Indonesia telahmencoba menggunakan smart card meskipun dalam skala yang masihterbatas, misalnya Pemerintah Kabupaten Jembrana yang menerapkanpenggunaan Smart Card ke dalam Kartu Pegawai yang juga diintegrasikandengan kartu bank yang masih berbasiskan pada strip magnetis. Penggunaanini akan semakin meluas akibat berkembangnya teknologi, meningkatnyatuntutan masyarakat maupun karena dorongan dari pelaku bisnis baik yangbersifat nasional maupun global. Beberapa institusi lain juga sudahmerencanakan untuk menggunakan Smart Card misalnya Kartu Tol, KartuSubsidi BBM, dan lain-lainnya, walaupun untuk penggunaan dalam skalalebih luas (komunitas terbuka), masih banyak permasalahan non-teknis yangharus diatasi untuk mendapatkan hasil penerapan yang optimal dan berhasilbaik.Dengan semakin meluasnya penerapan smart card baik dari aspekaplikasi maupun pihak yang akan menerapkannya, tanpa adanya kebijakanyang memandu penerapan tersebut khususnya untuk penerapan di kalanganpemerintah (baik pusat maupun daerah), maka akan dapat menimbulkan
  5. 5. ivmasalah seputar interoperabilitas atau standar keamanan. Karenanyadiperlukan suatu studi untuk melahirkan kerangka kerja bagi penerapan smartcard sebagaimana diamanatkan dalam roadmap pengembangan ICT yangtelah disusun Depkominfo. Dengan adanya kerangka kerja tersebut makaPemerintah bisa membuat aturan teknis ataupun standarisasi teknis yangefisien karena memiliki interoperabilitas, lebih mampu melindungi kepentingannegara dan masyarakat luas, bisa melindungi industri dalam negeri, dan lain-lain.Kerangka Kerja tersebut meliputi bagian pokok dan uraian, dimanabagian pokok dimulai dari tinjauan umum yaitu seluruh aspek yang mendasarikerangka kerja sebagai dasar untuk menentukan arah pengembangan danpenerapan smart card di indonesia. Beberapa poin yang disajikan dalamtinjauan umum adalah visi dan misi dalam penerapan smart card, manfaatyang diharapkan, dan praktek terbaik dan kode etik.Yang berikutnya dari kerangka kerja tersebut adalah tinjauan bisnisyang lebih mengarah kepada metode apa yang akan diterapkan untukmenjaga keberhasilan penerapan smart card di Indonesia. Beberapa poinyang termasuk dalam bagian ini adalah regulasi yang mendukung penerapansmart card, badan regulasi dan pengawas sebaga pelaksana, skemapenerapan berikut road map penerapan dan pengembangan, dan modelbisnis yang dapat diterapkan.Sedangkan tinjauan teknis lebih mengarah kepada penetapan jenisteknologi yang diterapkan berikut parameter-parameter teknis yang menjadiacuan dalam rangka penerapan smart card. Poin yang termasuk dalambagian ini adalah standar teknologin, standar aplikasi, dan standar keamanan.Uraian dari kerangka kerja yang merupakan pedoman utama daripenerapan smart card terdiri atas Buku Pegangan Smart Card (handbook),Spesifikasi Implementasi Teknis, Pedoman Desain Proyek, dan ModelImplementasi.Disamping perlunya kerangka kerja, juga masih diperlukan perangkatregulasi yang mendukung penerapan smart card sehingga dapat tumbuhberkembang dengan baik. Dari survey yang dilakukan, sesungguhnya
  6. 6. vmasyarakat menyambut positif penerapan smart card ini, hanya sajamengharapkan agar dibuat aturan yang menjamin penggunaannya dapatberjalan dengan baik. UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan TransaksiElektronik (UU ITE), masih perlu dilengkapi dengan aturan dibawahnyaseperti Peraturan Pemerintah (PP). Smart Card atau aspek penerapannyadiharapkan juga dapat termuat di dalam PP yang menjadi bagian aturan dibawah UU-ITE.Mengingat betapa luasnya wilayah Indonesia serta besarnya populasiIndonesia, maka pada saat implementasi smart card, bisa dilakukan dalamarea atau komunitas terbatas misalnya untuk Kartu PNS, Kartu Haji maupunKartu TKI. Dengan berbasis pada model penerapan dalam ruang lingkupyang sempit terlebih dahulu, akan dapat memudahkan pengendalian masalahdan proses penyempurnaan sistem sebelum dilterapkan secara meluas.Secara bertahap pemakaiannya diperluas hingga menjadi kartu identitasnasional, misalnya. Dari sisi konten atau aplikasi juga dapat semakindiiperkaya, misalnya yang pada awalnya dimulai dengan satu aplikasi saja,jika satu aplikasi sudah matang pelaksanaannya dan memberikan dampakefisiensi maupun kemudahan bagi masyarakat, maka selanjutnyaditambahkan dengan kemampuan multifungsi, yaitu misalnya diisi denganaplikasi asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, asuransi tenaga kerja,kartu debit maupun kartu pembayaran.
  7. 7. viDAFTAR ISIKATA PENGANTAR ................................................................................................ iiEXECUTIVE SUMMARY ....................................................................................... iiiDAFTAR ISI.................................................................................................................viDAFTAR GAMBAR........................................................................................ viiDAFTAR TABEL ............................................................................................viiiBAB 1. PENDAHULUAN..................................................................................11.1 LATAR BELAKANG.................................................................................21.2 BATASAN PEMBAHASAN .......................................................................61.3 IDENTIFIKASI PERMASALAHAN....................................................................81.4 TUJUAN DAN SASARAN ........................................................................8BAB 2 GAMBARAN UMUM TEKNOLOGI SMART CARD ................................92.1 SEJARAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI SMART CARD..................92.2 JENIS KARTU SMART CARD..............................................................122.3 STANDARISASI....................................................................................172.4 SPESIFIKASI FISIK DAN ELEKTRONIK..............................................202.5 STRUKTUR INFORMASI DIDALAM SMART CARD ............................222.6 SISTEM OPERASI DAN TRANSMISI SMART CARD ..........................232.7 KEAMANAN, JAMINAN KUALITAS DAN PENGUJIAN SMART CARD 252.8 SIKLUS HIDUP SMART CARD .............................................................262.9 PERANGKAT TERMINAL PEMBACA SMART CARD...........................28BAB 3 PERKEMBANGAN PEMANFAATAN SMART CARD.............................303.1 PEMANFAATAN SMART CARD DI BEBERAPA NEGARA...................303.2 PEMANFAATAN SMART CARD DI NEGARA LAIN..............................313.3 PEMANFAATAN SMART CARD DI INDONESIA ..................................323.4 TINJAUAN MANFAAT DAN RESIKO PENERAPAN SMART CARD.....54BAB 4 TINJAUAN ASPEK REGULASI TENTANGPENERAPAN SMART CARD .................................................................................60BAB 5 TINJAUAN MODEL BISNIS PEMANFAATAN SMART CARD ...........655.1 PEMANFAATAN SMART CARD PADA LAYANAN MASYARAKAT DINEGARA LAIN...............................................................................................655.2 POTENSI PENGEMBANGAN MODEL BISNIS PENERAPAN SMARTCARD DI INDONESIA ...................................................................................735.3 FRAMEWORK PEMANFAATAN SMART CARD DI NEGARA LAIN ......76BAB 6 TINJAUAN HASIL STUDI LAPANGAN PENERAPAN SMART CARDDI INDONESIA ..........................................................................................................806.1 METODOLOGI DAN RENCANA STUDI LAPANGAN ............................806.2 HASIL KUESIONER ...............................................................................81BAB 7 KESIMPULAN PENELITIAN ...................................................................87BAB 8 REKOMENDASI ........................................................................................908.1 KERANGKA KERJA PENERAPAN SMART CARD DI INDONESIA......90DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................95
  8. 8. viiDAFTAR GAMBARGambar 1 Contoh Penerapan Smart Card Dalam Kehidupan Sehari-hari.......3Gambar 2 Teknologi Smart Card Dalam Batasan Pembahasan......................6Gambar 3 Kategori Smart card dengan Chips ...............................................12Gambar 4 Gambar Arsitektur Smarta Card Jenis Memory card ....................13Gambar 5 Ilustrasi Arsitektur Smart Card Jenis Microprosessor Card...........14Gambar 6 Ilustrasi Arsitektur Smart Card Jenis Contactless .........................15Gambar 7 Gambaran Aplikasi Smart Card Sesuai Kemampuan Teknologinya.......................................................................................................................16Gambar 8 Ukuran relatif dari format ID-1, ID-00 dan ID-000 .........................20Gambar 9 Contoh kartu telefon format ID-1, yang dapat diubah menjadi kartuID-000............................................................................................................21Gambar 10 Pembagian secara elektrik dan penomoran kontak smart card,berdasarkan ISO 7816-2................................................................................21Gambar 11 „Stack‟ (arsitektur sistem file) teknologi smart card .....................23Gambar 12 skematik dari perkembangan sistem operasi smart card ............24Gambar 13 OS model untuk komunikasi antara smart card dan terminal......24Gambar 14 Siklus hidup smart card berdasarkan pada model fase daristandar ISO 10202-1......................................................................................28Gambar 15 Fungsi Pelayanan Masyarakat....................................................74Gambar 16 Ilustrasi Solusi Pemanfaatan Smart Card ...................................74Gambar 17. Ilustrasi bisnis model pemanfaatan smart card ..........................75Gambar 18 Respons terhadap penggunaan Smart Card...............................84Gambar 19 Alasan Positif ..............................................................................84Gambar 20 Faktor-Faktor Negatif ..................................................................86Gambar 21 Model Kerangka Kerja Penerapan Smart card di Indonesia .......90
  9. 9. viiiDAFTAR TABELTable 1 Fungsi kontak smart card berdasarkan ISO 7816-2..........................21Table 2 Beberapa contoh dari sistem operasi smart card dari berbagaiprodusen kartu...............................................................................................24Table 3 Rangkuman dari fase siklus hidup individual berdasarkan padastandar ISO 10202-1......................................................................................27Table 4 Daftar Negara Pengguna Smart Card...............................................30Table 5 Contoh implementasi smart card yang telah berjala .........................35Table 6 Rencana implementasi smart card skala luas...................................45Table 7 Data Pengguna Smart Dalam Tahun 2007 .......................................56Table 8 Jenis Infrastruktur APMK ..................................................................56Table 9 Data Transaksi Kartu Kredit..............................................................57Table 10 Penerapan Smart Card Dinegara Lain............................................69
  10. 10. 1BAB 1. PENDAHULUANPerkembangan teknologi smart card beserta derivatifnya adalahsebuah jawaban atas meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk dapatmemanfaatkan perkembangan teknologi informasi secara maksimal dalamkehidupan sehari-hari. Kesederhanaan dan keamanan bertransaksi menjadiperhatian utama masyarakat dalam memanfaatkan teknologi smart card. Saatini smart card mampu menyajikan jenis jasa dan aplikasi baik untuk bidangtelekomunikasi, perbankan dan keuangan, kesehatan hingga pemerintahan.Kemampuan untuk penyajian berbagai jenis jasa dan aplikasi baruterpadu ini diantisipasikan akan sangat besar dampaknya terhadaplingkungan operasional seperti penggunaannya, lingkungan pasar, modelbisnis serta sisi regulasinya yang selanjutnya akan memicu perubahanmasyarakat dalam hal belajar, bekerja dan bermain yang pada akhirnya akanmenaikkan tingkat hidup masyarakat secara sosial, ekonomi dan kultural.Hingga saat ini belum ada regulasi yang komprehensif mengaturpemanfaatan smart card secara nasional baik dari sisi teknologi, model bisnismaupun standar yang tepat untuk diterapkan di Indonesia. Demi kepentingannasional perlu dibuat pentahapan dari kondisi saat ini menuju ke arahpenerapan smart card secara nasional, disertai regulasi yang mendukungindustri agar dapat berperan dalam setiap tahap produksi dan implementasi.Hasil prestasi industri perangkat dalam negeri yang menyamaikemampuan industri luar negeri dalam pengembangan perangkat smart carddan derivatifnya, khususnya piranti lunak (software) yang mempunyai nilaitambah yang tinggi, akan dapat menjadi kekuatan ekonomi luar biasa apabiladapat segera ditangani secara nasional dengan keterpaduan antara industriperangkat, industri layanan, lembaga penelitian dan pengembangan, sertapara pakar yang tersebar di universitas dan industri.Peran serta pemerintah dalam mendorong untuk tumbuh danberkembangnya industri ini, baik dalam bentuk fasilitas maupun kebijakansehingga industri lokal mampu berkompetisi dengan industri luar, merupakanfaktor penting dalam menciptakan lingkungan bisnis yang sehat.
  11. 11. 21.1 LATAR BELAKANGPesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di bidangelektronika membawa umat manusia memasuki pola kehidupan masyarakatinformasi, dimana kebutuhan akan divais-divais elektronika yang berfungsitinggi menjadi semakin meningkat untuk menyeimbangi kecepatanpertumbuhan perangkat lunak. Kalau kita meninjau, beberapa perkembanganteknologi yang memicu pesatnya perkembangan teknologi informasibelakangan ini dimulai dari penemuan transistor di Amerika pada tahun 1950-an yang membuka jalan bagi berkembangnya komputer, dengan teknologipendukung seperti IC (Integrated Circuit) serta VLSI (Very Large ScaleIntegrated Circuit) atau yang lebih dikenal sebagai chip komputerSebagai salah satu perkembangan pemanfaatan dari chip ini adalahkartu elektronik atau yang lazim disebut smart card (kartu pintar), dimanapada hakekatnya merupakan aplikasi teknologi yang menerapkan langsungkeunggulan yang dimiliki oleh chip semikonduktor yang berisi ribuan – bahkanjutaan divais elektronik dalam skala sangat kecil, dalam hal kecilnya ukurandan kepadatan data yang dimilikinya.Dalam penerapan pada aspek kehidupan di masyarakat,pengembangan smart card itu sendiri maupun aplikasinya mempunyaiprospek dan tingkat kebutuhan yang sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat daripenggunaan smart card (SIM card) yang digunakan telephon genggam.Aplikasi dari smart card yang mempunyai fungsi lebih unggul jugadirasakan dalam bidang perbankan, kartu identifikasi multi fungsi ataupununtuk otomatisasi pembayaran penggunaan jalan tol. Pengembangan aplikasilainnya adalah seperti pada : alat komunikasi bergerak, kartu pengenalbarang di bandara atau pelabuhan, pengukur kecepatan di kendaraan sertaaplikasi lainnya seperti penerapan sistem smart card pada Universitas,Rumah Sakit, Militer dan lain-lain, sebagaimana ditunjukkan pada gambarberikut ini.
  12. 12. 3Gambar 1 Contoh Penerapan Smart Card Dalam Kehidupan Sehari-hariDalam rangka penguatan sistem pemerintahan maupun pengelolaankehidupan masyarakat yang lebih baik lagi, sistem aplikasi smart carddiharapkan berperan untuk membentuk pola pengelolaan maupun pola hidupyang lebih tertata dan lebih cerdas, serta meningkatkan peransertamasyarakat secara aktif untuk mengontrol informasi pribadi dirinya dalamberbagai keperluan baik yang menyangkut pelayanan publik oleh pemerintahatau pusat pemberi layanan lainnya. Jika selama ini kartu identitas yang adahanya merupakan alat pengenal manual dan merupakan tanda pengesahidentitas diri saja, dengan kemampuan elektronis yang dimiliki oleh smart cardkita akan dapat mendayagunakan kartu identitas tersebut dalam ruanglingkup yang lebih luas dan bervariasi, dengan mengoptimalkan penggunaandata lebih kompleks yang bisa disimpan secara elektronik di dalam kartu dandapat dipertukarkan jika diperlukan. Atau kita dapat memanfaatkan informasitersebut untuk hal-hal yang urgen seperti otentikasi hak memilih dan hakasasi lainnya, maupun untuk keselamatan diri jika misalnya smart card itu kitagabungkan dengan fungsi asuransi dan rumah sakit.Dengan berkembangnya sistem pemerintahan berbasis elektronik (e-government), makin dirasakan kebutuhan akan tanda pengenal identitas diriyang lebih dari sekarang ini, dimana dalam hal ini smart card merupakanalternatif yang relevan sesuai dengan sifatnya yang dapat diprogram, yaituselain dapat memuat tidak hanya informasi sederhana melainkan data yanglebih kompleks, juga dapat dipadukan dengan sistem pengaman yang lebihbaik, dan lain-lain.
  13. 13. 4Panduan dari Bank Indonesia yang memicu migrasi penggunaan alatpembayaran menggunakan kartu (APMK) dari yang konvensional menuju kearah kartu chip (smart card) juga memerlukan waktu yang lebih lanjut untukmenguraikan tahapan penerapannya, dimana salah satu hal yang membuatkelambatan migrasi ini terletak pada masih sedikitnya pengetahuan yangdimiliki oleh lembaga keuangan terhadap berbagai aspek yang berhubungandengan penerapan smart card ini, selain masih minimnya panduan ataukebijakan pemerintah terkait dengan hal ini.Dengan tren pemanfaatan smart card ini secara lebih luas di dunia,maka dirasakan adanya kebutuhan untuk melakukan kajian mengenaipenerapannya di Indonesia, baik dari aspek teknis maupun dari kebijakanyang seharusnya ditempuh oleh pemerintah maupun regulasi yang perludikeluarkan. Melalui pengkajian penggunaan aplikasi smart card bagiIndonesia ini, kita akan dapat mengetahui bagaimana agar keunggulan yangdimiliki oleh smart card ini dapat membuat smart card ini menjadi pilihanutama yang handal sebagai pengganti berbagai macam kartu yang sudah dansedang dipakai sekarang ini. Tidak hanya itu saja, kita akan juga dapatmenyiapkan antisipasi terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi di dalamsuatu penerapan aplikasi smart card, khususnya yang berkaitan denganpemerintahan, melalui studi komparasi berbagai langkah kebijakan yangditempuh oleh negara lain yang telah terlebih dahulu memiliki visi penerapansmart card yang jelas.Yang penting bagi implementasi smart card adalah seberapa besarkeuntungan, baik keuntungan materi maupun non-materi, yang ditimbulkanterhadap pengguna maupun terhadap sistem seperti pengembangan sistemaplikasi smart card untuk pemerintahan membutuhkan integrasi sistemaplikasi pada model pelaksanaan lainnya, yang mana memungkinkanpenggunaan satu smart card secara multifungsi, yaitu dapat digunakan padabeberapa macam aplikasi. Hal ini berkaitan dengan biaya pengembangan danimplementasi yang besar dibandingkan dengan sistem yang sudah ada,selain keunggulan dari smart card itu sendiri yang terletak padakemampuannya untuk mewujudkan aplikasi multiguna.
  14. 14. 5Untuk itu keunggulan multiguna dari smart card ini sangat perludioptimalkan, yang memungkinkan smart card dalam kasus ini dapat dipakaitidak hanya sebagai kartu identitas, namun juga bisa digabungkan sebagaikartu SIM misalnya, atau asuransi kesehatan, puskesmas dan lain-lain.Sehingga untuk penerapannya, daya tarik dari penerapan smart card padasistem penunjang e-government membutuhkan kesiapan akan penggunaanyang lebih fleksibel dari smart card itu sendiri. Selain itu, perlu dipersiapkanjuga infrastruktur lainnya yang berkaitan dengan sistem pengamanan datapribadi untuk penduduk.Lebih jauh lagi, dari model pemanfaatan smart card secara nirkabelyang merupakan bentuk yang lebih fleksibel dan sesuai denganperkembangan jaman, kita mendapatkan berbagai kemudahan yang jugamembuka jalan bagi berkembangnya model pemanfaatan yang lebih luas lagi.Salah satu yang perlu dicermati adalah RFID (radio frequencyidentification), yang dapat dipandang sebagai sebuah bentukpenyederhanaan fitur chip dari contactless smart card. Berbagai contohaplikasi RFID yang telah berjalan diantaranya adalah : paspor (Malaysia,sejak 1998), pembayaran sarana transportasi, penelusuran produk (producttracking), identifikasi hewan, sistem inventarisasi, perpustakaan, pemantauanpelajar sekolah, dll. Dengan fleksibilitas yang dimilikinya, RFID memilikipeluang untuk diterapkan secara lebih luas dan berbagai sektor. Diantaranyaadalah sebagai pengganti barcode, pengukuran jarak jauh (telemetry),identifikasi pasien, dll. Diperkirakan penetrasi RFID akan lebih cepatberkembang dibandingkan dengan smart card biasa, sehingga segera perludilakukan kajian mengenai berbagai aspek penerapan dan implikasi teknologiini, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang mungkin timbul.Hal-hal inilah yang perlu digali lebih dalam untuk dapat membantuberbagai pihak mulai dari pemerintah sendiri (pusat ataupun daerah),lembaga perbankan maupun pihak terkait lainnya dalam menentukankebijakan yang perlu diambil dan mengelola penerapan smart card maupunturunannya secara sistematis.
  15. 15. 61.2 BATASAN PEMBAHASANDalam kajian ini jenis teknologi yang akan menjadi bahasan adalahkartu pintar atau smart card dan derivatifnya berupa kartu smart cardberteknologi RFID sebagaimana disajikan dalam gambar berikut iniGambar 2 Teknologi Smart Card Dalam Batasan PembahasanDalam ilustrasi dijelaskan bahwa jenis kartu yang akan menjadi bahanpembahasan adalah dari jenis smart card dengan micro processor yangtertanam pada kartunya dan dimanfaatkan dengan cara disentuh pada pirantipembaca kartu (contact), serta jenis smart card dengan antena bagi RFID dandimanfaatkan dengan cara didekatkan pada piranti pembaca namun tidakperlu disentuh (contactless). Teknologi RFID lain maupun jenis kartu lain yangtidak memiliki spesifikasi sebagaimana disebutkan diatas tidak termasukdalam lingkup kegiatan ini.Untuk mencapai Tujuan dan Sasaran, studi tentang KebijaksanaanPemerintah dalam implementasi smart card di Indonesia, dibatasi pada ruanglingkup sebagai berikut:1. Inventarisasi Kebijakan Maupun Peraturan Perundang-UndanganTentang Smart Card Dan DerivatifnyaInventarisasi dari Kebijakan serta Regulasi tentang smart carddan transaksi elektronik akan diperlukan untuk menelaah sampaisejauh mana regulasi nasional yang ada menunjang pembangunansmart card di Indonesia.AntennaRange: 0 – 10 cmFreq: 13.56 MhzContactlessMicroprocessorContact
  16. 16. 7Inventarisasi akan dilakukan mulai dari pengumpulan regulasiyang ada (UU, PP, Kepres, Kepmen, Kepdirjen), dan akan dipetakandalam suatu matrik yang akan ditinjau dari 3 (tiga) prespektif yaitu G2B(Perlindungan Usaha, baik bagi operator maupun manufakturnasional), B2B (Interkoneksi & Interoperability antar operator), danB2C (Service Level Garanty kepada konsumen dan price yangaffordable). Inventarisasi regulasi internasional, melalui studi literatur,hasil seminar workshop internasional, akan dilakukan untukmensinerjikan kebijakan nasional yang akan direkomendasikan.2. Inventarisasi Rencana/Program Implementasi Smart Card DiIndonesiaInventarisasi Rencana dan Program pengembangan smart cardakan dilakukan, melalui survai di 7 (tujuh) kota di Indonesia.Diharapkan hasil dari survai tersebut dapat melihat rencanapengembangan smart card, serta harapan dari pihak-pihak tersebut diatas kepada pemerintah, dan akan digunakan sebagai bahan masukandalam studi ini.3. Analisa Permasalahan Dan Evaluasi Implementasi Smart Card DiIndonesiaberbagai permasalahan yang harus dianalisis, baik dari segiteknis bisnis, trend teknologi dan Regulasi yang perlu dianalisa dengancermat. Perkembangan teknologi smart card tentunya akan lebihterbuka variasi layanan yang bisa diberikan oleh pengguna akan makinbanyak sehingga kompleksitas teknologi juga akan semakinbertambah. Standarisasi akan menjadi isue yang harus dihadapi.
  17. 17. 81.3 IDENTIFIKASI PERMASALAHANAdapun Permasalahan yang dikemukakan dalam Kerangka Acuanadalah seperti tercantum di bawah ini.Belum memadainya kebijakan pemerintah berkaitan dengan smartcard dan RFID serta penerapannya, secara khusus dipemerintahanMasih kurangnya pemahaman terhadap penerapan fungsimultiguna smart card yang efektif dan jelas interoperabilitasnyaPerlunya penjabaran pola penggunaan smart card untukperbankan, khususnya dari aspek kebijakan penerapan smart cardPerlunya antisipasi terhadap permasalahan yang mungkin timbuldalam penerapan smart card dan RFID secara meluas baik dipemerintahan maupun di sektor lain seperti perbankan1.4 TUJUAN DAN SASARANTujuan dari Kegiatan ini adalah :“Memberikan kerangka kerja bagi pemerintah dalam menghasilkankebijakan dan panduan mengenai pemanfaatan smart card dan RFIDyang optimal dalam berbagai layanan.”Sasaran dari Kegiatan ini adalah :Diperolehnya data dan informasi tentang kemungkinan / potensipenerapan smart card di IndonesiaTersusunnya rekomendasi bagi pimpinan dalam pembuatan kebijakanpenetapan frekuensi RFID bagi penerapan smart cardDiperolehnya Informasi mengenai contoh kebijakan pemerintahberbagai negara tentang Framework penerapan smart cardDiperolehnya model penerapan smart card yang sesuai dengankarakteristik IndonesiaDiperolehnya Framework penerapan smart card di LembagaPemerintah di IndonesiaDiperolehnya konsep interoperabilitas sistem aplikasi multiguna smartcard
  18. 18. 9BAB 2 GAMBARAN UMUM TEKNOLOGI SMART CARD2.1 SEJARAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI SMART CARDPemanfaatan kartu plastik dimulai di Amerika Serikat pada awal tahun1950an. Harga Plastik PVC yang murah telah memungkinkan untukmemproduksi kartu yang kuat dan handal hingga dapat dimanfaatkan untukpenggunaan sehari-hari dibandingkan dengan kartu yang berbahan kertasmaupun karton.Kartu plastik sebagai alat pembayaran pertama kali dikeluarkan olehDiners Club pada tahun 1950. Kartu tersebut ditujukan untuk kelas individutertentu menjadikannya sebagai suatu simbol status, memberikan pelayananpembayaran atas dasar “nama baik” dan bukan uang tunai. Pada awalnyahanya hotel dan restoran tertentu saja yang menerima model pembayaranseperti itu, sehingga jenis kartu tersebut dikenal dengan sebutan „travel andentertainment‟ card.Dengan masuknya Visa dan MasterCard kedalam bisnis kartu plastiktelah mendorong penggunaan yang sangat cepat dari „Uang plastik” sebagaibentuk dari kartu kredit. Peristiwa ini terjadi pertama di Amerika Serikatkemudian menyebar ke eropa dan seluruh dunia dalam beberapa tahunkemudian.Pertama kali fungsi kartu sangat sederhana. Kartu berfungsi sebagaimedia penyimpanan data yang dirasakan aman untuk mencegah pemalsuandan penyalah gunaan. Informasi umum seperti penerbit kartu dicetak padakartu dan nama pengguna serta nomor kartu diembos. Banyak kartu memilikipanel tanda tangan untuk membubuhkan tanda tangan.Dengan fasilitas yang dimiliki dan berkembangnya pemanfaatan kartuplastik secara meluas, telah mendorong tindak kriminal dan penyalahgunaanhingga menyebabkan kerugian yang sangat besar. Hal ini mendorong upayauntuk memanfaatkan teknologi yang dapat mendukung dan meningkatkansistem keamanan pada kartu plastik.Penyempurnaan pertama adalah dengan menerapkan pita magnetikdibelakang kartu yang berfungsi untuk menyimpan data digital yang dapatdibaca dengan perangkat khusus sebagai tambahan fasilitas pada informasivisual yang tertera pada kartu plastik.
  19. 19. 10Dengan penerapan pita magnetik pada kartu dan pembacaan denganperangkat khusus telah mendorong pengembangan sistem otorisasi denganelektronik hingga mengubah skema proses bisnis dari yang berbasis kertasmenjadi elektronis. Hal ini telah berperan besar untuk meningkatkan aspekkeamanan dalam rangka pemanfaatan kartu plastik sebagai kartu kredit.Sejalan dengan perubahan proses bisnis yang memanfaatkan transaksielektronik juga diterapkan sistem Personal Identification Number (PIN)sebagai kata kunci untuk dapat mengakses sistem otorisasi kartu kredit.Namun dalam perkembangannya penerapan kartu magnetik memilikikekurangan yanitu dapat dihapus atau diganti dengan informasi lain bilamanaseseorang memiliki perangkat yang dapat menembus, membaca dan menulisinformasi yang tertanam di dalam pita magnetik kartu kredit. Untukmenghindari hal tersebut informasi pin tidak disimpan di dalam kartumelainkan pada server penerbit kartu di didalam lingkungan yang terjaga.Pengembangan kartu pintar (smart card) adalah sebagai hasil dari kombinasiantara teknologi kartu dengan sistem proses data elektronis (electronic dataprocessing systems), telah menciptakan peluang baru untuk menerapkanteknologi tersebut.Perkembangan yang sangat cepat dari microelectronics ditahun1970an telah memungkinkan untuk mengintegrasikan penyimpanan data danproses lojik kedalam sebuah chip silikon dalam ukuran beberapa millimetres.Ide untuk memasukan sirkuit terintegrasi (integrated circuit) ke dalam kartuidentifikasi telah dipatenkan oleh peneliti Jerman J¨urgen Dethloff and HelmutGr¨otrupp pada awal 1968. Paten tersebut diikuti pada tahun 1970 olehseorang penemu Kunitaka Arimura di Jepang.Namun perkembangan nyata pertama dalam pengembangan smartcard dilakukan saat Roland Moreno mendaftarkan paten smart card diperancis pada tahun 1974. Dimana pada saat itulah industri semiconductordapat menyediakan integrated circuits yang dibutuhkan pada harga yangwajar.
  20. 20. 11Penemuan teknologi smart card yang berasal dari Jerman danPerancis, sehingga tidak mengejutkan bahwa kedua negara memimpin dalampengembangan dan pemasaran smart cards. Terobosan terbesar dilakukanpada tahun 1984, saat French PTT (postal and telecommunications servicesagency) perusahaan telekomunikasi perancis berhasil melakukan uji cobalapangan dengan telepon kartu. Segera smart card dapat membuktikan untukmemenuhi seluruh harapan yang tinggi terhadap kehandalan dan keamanansmart card.Sebuah pilot project dilakukan di Jerman pada tahun 1984–85,menggunakan kartu telepon yang berdasar kepada beberapa teknologi yaituMagnetic-stripe cards, optical-storage (holographic) cards dan smart cards,dimana pada saat pengujian smart card terbukti sebagai pemenang dari ujicoba tersebut.Pengembangan selanjutnya memperlihatkan kesuksesan uji coba kartutelepon berbasis smarct card di perancis dan kemudian di Jerman dengankecepatan yang mengejutkan. Pada tahun 1986, beberapa juta kartudidistribusikan di Perancis hingga mencapai total 60 ditahun 1990, danakhirnya ratusan juta kartu diseluruh dunia pada 1997.Untuk alasan teknis pengguna telepon kabel relatif lebih kecil jikadibandingkan dengan pengguna telepon nirkabel, hal ini menyebabkanperkembangan smart card menjadi lebih cepat pada implementasi teknologitelepon seluler. Keputusan ini telah menjadi keputusan yang sangatmenentukan untuk mengenalkan smart card ke jaringan telepon GSM digital.Jaringan tersebut diterapkan di eropa pada tahun 1991dan berkembanghingga keseluruh dunia dengan lebih dari 1 milyar pengguna di 170 negara.Perkembangan yang lebih lambat terjadi di lingkungan perbankansebagai akibat dari kompleksitas proses dan permasalahan yang dihadapi.The French banks adalah yang pertama mengenalkan teknologi ini padatahun 1984, dan mengikuti uji coba 60,000 kartu pada tahun 1982–83.dibutuhkan 10 tahun sebeleum seluruh bank di Perancis mengunakanteknologi tersebut.
  21. 21. 12Batu loncatan terpenting dalam pengunaan mendunia smart cardsebagai alat pembayaran adalah selesainya spesifikasi EMV yang merupakanupaya bersama Europay, MasterCard and Visa. Versi pertama spesifikasiyang diterbitkan pada tahun 1994. Spesifikasi itu berisi penjelasan detailmengenai kartu kredit yang memanfaatkan microprocessor chips, danmenjamin kompatibilitas diantara ketiga penerbit kartu terbesar tersebut.Bagaimana pun masalah yang berkaitan dengan pembayaran dalamjumlah kecil secara aman melalui internet belum terecahkan secaramemuaskan. Smart cards dapat berperan untuk memberikan jawaban denganmemperkenalkan teknologi electronic signatures. Beberapa negara di eropatelah melakukan inisiatif untuk meregulasi penggunakan electronic signaturespada tahun 1999. Sebagai akibatnya hampir seluruh warga Jerman memilikismart card.2.2 JENIS KARTU SMART CARDJenis-jenis kartu smart card sangatlah beragam, untuk mengetahuijenis-jenis smart card dapat dijelaskan dalam gambar berikut ini:Gambar 3 Kategori Smart card dengan Chips
  22. 22. 13Berdasarkan kepada penjelasan dalam gambar tersebut maka smartcard dapat dikategorikan dalam 3 golongan besar yaitu:1. Memory cardsSmart card pertama yang dipergunakan dalam jumlah besar adalahmemory cards untuk aplikasi telepon. Kartu ini adalah kartu prabayar, denganjumlah yang tersimpan secara elektronik di dalam chip yang menurun sesuaidengan jumlah panggilan yang dilakukan.Gambaran arsitektur jenis kartu ini disajikan dalam gambar berikut ini:Gambar 4 Gambar Arsitektur Smart Card Jenis Memory cardPenggunaan dari kartu jenis ini juga dilakukan bukan hanya untukpanggilan telepon tetapi juga terhadap barang ataupun jasa yang dibeli ataudipergunakan dengan cara prabayar. Sebagai contoh adalah tiket kendaraanumum, tiket kereta api, vending machine, karcis masuk taman hiburan,maupun parkir. Kerugian yang dihadapi adalah bahwa kartu tersebut setelahdipakai tidak dapat dipergunakan kembali sehingga dibuang atau berakhirsebagai koleksi.
  23. 23. 14Penggunaan lain untuk kartu jenis ini adalah di bidang kesehatanseperti pada German health insurance card, dimana sejak dikeluarkan padatahun 1994 kepada semua orang yang yang terdaftar pada program asuransinasional. Informasi yang pada mulanya tersimpan pada kartu pasien, saat initelah dapat disimpan pada chip dan tercetak atau terukir denganmenggunakan laser pada kartu. Menggunakan chip untuk penyimpanan datamembuat kartu dapat dibaca oleh mesin menggunakan perangkat sederhana.Kesimpulannya, memory-type smart cards memiliki fungsi yangterbatas dan cocok untuk dipergunakan sebagai kartu prabayar atau kartuidentitas didalam sistem dimana biaya yang murah menjadi penentu utama.2. Microprocessor cardsSejak microprocessor yang ditanamkan langsung di dalam kartu dapatdengan mudah diprogram, daya guna dari microprocessor cards terbatashanya kepada ketersediaan ruang penyimpanan dan kapasitas dariprosessor. Batasan imajinasi perancang pada saat menerapkan sistem smartcard adalah bersifat teknologi dan terus berkembang sejalan denganperkembangan generasi terbaru integrated circuits.Ilustrasi atas arsitektur Microprocessor Cards tersaji dalam gambarberikut ini:Gambar 5 Ilustrasi Arsitektur Smart Card Jenis Microprosessor Card
  24. 24. 15Mengikuti penurunan secara drastis biaya produksi smart cards di awal1990 akibat produksi massal, aplikasi baru terus diperkenalkan tahun demitahun. Penggunaan smart cards pada telepon genggam khususnya sangatlahpenting dalam rangka pengakuan secara internasional.3. Contactless cardsContactless cards, dimana data dan energi ditransmisikan tanpakontak elektronik diantara kartu dan terminal, telah memperoleh statusproduksi komersial dalam beberapa tahun belakangan ini.Ilustrasi arsitektur kartu jenis ini tersaji dalam gambar berikut ini:Gambar 6 Ilustrasi Arsitektur Smart Card Jenis ContactlessSaat ini kedua jenis kartu baik memory cards dan microprocessorcards telah tersedia dalam bentuk contactless cards. Walaupun contactlessmicroprocessor cards dapat bekerja pada jarak hanya beberapa senti dariterminal, contactless memory cards dapat dipergunakan pada jarak hinggabeberapa meter dari terminal pembaca/penulis. Hal ini berarti bahwa untukkartu jenis ini tidak perlu dipegang oleh tangan pengguna saat penggunaantetapi dapat tetap disimpan di dompet atau tas pengguna.Contactless cards biasanya cocok untuk dipergunakan pada aplikasidimana seseorang ataupun obyek harus dapat diidentifikasi secara cepat,seperti : access control, Transportasi publik, Pass masuk, Tiket penerbanganatau Identifikasi bagasi.
  25. 25. 16Bagaimanapun, terdapat permasalahan dimana pengoperasian darijarak jauh seperti ini dapat menimbulkan beberapa persoalan baru lainnya,sehingga memerlukan antisipasi terhadap kemungkinan buruk yang bisa sajaterjadi. Sebagai contoh adalah aplikasi dompet elektronik dimana memuatdata yang sangat pribadi yang diperlukan dalam rangka melakukan transaksikeuangan, yang memerlukan pengamanan ekstra.Dengan contactless card, pengenalan identitas dan transaksi dilakukandengan memasukan kartu pada terminal dan mengkonfirmasi jumlahtransaksi menggunakan keypad. Jika pembayaran contactless dilakukan padajarak yang cukup jauh, sangat dimungkinkan bagi pencuri untuk mencuri uangdari jarak jauh tanpa sepengetahuan pemilik kartu.Dual-interface cards (kadang disebut „combicards‟) menawarkan solusikepada masalah ini. Kartu tersebut mengkombinasikan antarmuka contactand contactless dalam satu kartu. Kartu yang dapat berkomunikasi denganterminal dengan antarmuka. Ada kemudahan yang dapat dirasakan untukpenggunaan contactless cards diareal transportasi publik.Kelebihan utama dari microprocessor cards adalah kapasitaspenyimpanan data yang besar, kemampuan untuk menyimpan data yangbersifat rahasia dan kemampuan untuk mengeksekusi aloritma cryptographic.Kelebihan ini telah memungkinkan untuk penerapan pada aplikasi baru yanglebih luas. Sebagai tambahan terhadap aplikasi kartu bank tradisional.Potensi pemanfaatan smart card masih dimungkinkan sejalan denganperkembangan teknologi semiconductor.Gambar 7 Gambaran Aplikasi Smart Card Sesuai Kemampuan Teknologinya
  26. 26. 172.3 STANDARISASI2.3.1 Apa yang dimaksud dengan standar ?Definsi standar menurut ISO/IEC: “Standar: sebuah dokumen yangdihasilkan oleh sebuah konsensus dan diadopsi oleh organisasi yang diakui,dan dimana, untuk penerapan secara umum dan berkelanutan, menetapkanaturan, pedoman atau fitur untuk aktifitas atau hasilnya, dengan tujuan untukmencapai tingkat yang optimum dalam konteks yang diberikan”.Catatan: Standard seharusnya berdasar kepada hasil yang terbangundari sains, teknologi dan pengalaman, dan tujuannya harus dipromosikanuntuk memberikan manfaat secara optimum kepada masyarakat. StandarInternational seharusnya membuat hidup lebih baik dan meningkatkankehandalan dan manfaat dari produk dan jasa.Untuk mencegah kebingungan, ISO/IEC juga telah menetapkan artikata „konsensus‟ sebagai berikut persetujuan bersama, dengan karakteristiktidak adanya keberatan yang terus menerus terhadap elemen esensial padasebagaian dari bagian yang signifikan dari pihak terkait, dan mencapai sesuaidengan prosedur yang berupaya untuk mengakui pandangan dari pihak yangrelevan dan mengarahkan seluruh argumen yang bertentangan. (Catatan:Konsensus tidak berarti suatu kesepakatan yang mutlak).2.3.2 Gambaran umum mengenai standar yang ada selama iniGambaran umum dari beberapa standar yang terkait dengan smartcard ditunjukkan di bawah ini sebagai gambaran mengenai upaya yang telahdilakukan selama ini dalam melakukan standardisasi teknologi smart card danpenggunaannya, khususnya oleh Amerika Serikat dalam Smart CardHandbook yang dikeluarkan oleh GSA.Government Smart Card Interoperability Specification version 2.1 (GSC-IS v2.1, juga dikenal sebagai NIST Interagency Report 6887 – 2003edition)International Standards Organization (ISO) / International ElectrotechnicalCommission (IEC) Standards.
  27. 27. 18Standar utama yang terkait dengan smart card adalah ISO/IEC 7816,ISO/IEC 14443, ISO/IEC 10536, ISO/IEC 15693 dan ISO/IEC 7501.ISO/IEC 7816 Dibagi menjadi sebelas bagian. Bagian 1 menjelaskanmengenai spesifikasi untuk karakteristik fisik dari ICcard dengan permukaan kontak. Bagian 2 menetapkandimensi dan lokasi dari area kontak. Bagian 3menjelaskan mengenai sinyal elektronik dan modeswitching. Bagian 4 menjelaskan mengenai protokoltransmisi antara kartu dan divais antarmukanya(misalnya reader).ISO/IEC14443Menjelaskan mengenai standar untuk kartu “proximity”(kartu yang bekerja hanya dengan didekatkan saja kereader atau pembaca kartu). Khususnya mengenaistandar untuk karakteristik fisik, daya RF dan antarmukasinyal, serta protokol transmisi dan anticollision untukkartu proximity yang beroperasi dalam jarak kurang dari10 cm (3,94 inches).ISO/IEC10536Menjelaskan standar untuk kartu “close-coupled”.Khususnya mengenai standar untuk karakteristik pisik,dimensi dan lokasi dari area kontak, serta mengenaisinyal elektronik dan prosedur reset.ISO/IEC15693Menjelaskan standar untuk kartu “vicinity” (kartu yangbekerja dalam jarak dekat dari reader atau pembacakartu). Khususnya mengenai standar untuk karakteristikfisik, daya RF dan antarmuka sinyal, serta protokoltransmisi dan anticollision untuk kartu vicinity yangberoperasi dalam jarak kurang dari 1 m.ISO/IEC 7501 Menjelaskan standar untuk dokumen perjalanan yangdapat dibaca oleh mesin, dan membuat rekomendasiyang jelas mengenai smart card topology.
  28. 28. 19American National Standards Institute (ANSI) Standards.Security Equipment Integration Working Group (SEIWG) Specification012. Spesifikasi ini menunjukkan permintaan terhadap kinerja, disain,manufaktur, tes dan penerimaan untuk Magnetic Stripe Credential (MSC).Meskipun awalnya ditujukan untuk kartu magnetik, namun denganperkembangan teknologi smart card maka spesifikasi ini berlaku denganbaik juga untuk smart card.Standar Biometric. Biometric Application Program Interface (BioAPI)menyediakan model autentifikasi generic biometric tingkat tinggi.Kemudian BioAPI v1.1 menjadi standar ANSI, yaitu ANSI INCITS 358-2002.Federal Information Processing Standar (FIPS). FIPS dikembangkan olehNIST, khususnya di Computer Security Division di dalam NIST, yangdidisain untuk melindungi sistem komputer dan telekomunikasi Federal.Standar FIPS yang diterapkan untuk teknologi smart card adalahberkaitan dengan standar digital signatures, standar advanced encryption,dan security requirements for cryptographic modules.Global Platform (dahulu dikenal dengan Open Platform). Adalah asosiasismart card internasional dan non-profit.Common criteria (CC). CC berlaku pada evaluasi untuk produk dansistem TI, yang mempunyai tujuan untuk menyediakan cara umum atauyang terstandardisasi untuk mengevaluasi produk dan layanan TI, yangakhirnya memberikan level jaminan keyakinan terhadap produk atausistem tersebut.International Airline and Transportation Association (IATA). IATAmengembangkan standar untuk rekomendasi kepada perusahaanpenerbangan dan industri transportasi. Upaya yang berkaitan dengan iniadalah pembentukan kelompok kerja untuk mengembangkan standarinteroprabilitas dari tiket elektronik.G-8 Health Standards
  29. 29. 20Global System for Mobile Communication (GSM) Standards. Spesifikasiyang dibuat menghubungkan nomor telefon ke smart card yang dikenaldengan nama Subscriber Identification Module (SIM) atau User IdentifiyModule (UIM), dan bukan ke pesawat. SIM dimasukkan ke pesawat untukmengaktifkannya.EMV 2000 Specifications. Untuk mendorong penerbitan smart card yangdapat dioperasikan secara global, Europay, MasterCard dan Visa (EMV)menerbitkan versi pertama dari spesifikasi dari kartu standar dan terminaltransaksi di tahun 1995, yang dibangun sebagai pengembangan daristandar ISO/IEC 7816 untuk mengakomodasi transaksi kartu debit dankartu kredit, yang kemudian versi 4.0 nya diterbitkan Desember 2000.2.4 SPESIFIKASI FISIK DAN ELEKTRONIKPada awalnya ISO menggunakan nama Integrated Circuit Card (ICC)untuk menyatakan kartu elektronik yang dikenal dengan ID-1, yangkompatibel dengan kartu magnetik yang telah ada selama ini. Spesifikasi inidinyatakan dalam standar ISO 7810.Dalam perkembangannya, seiring dengan keringkasan teknologi smartcard serta penerapannya yang merambah ke dunia telekomunikasi nirkabel,menuntut penyesuaian terhadap spesifikasi fisik dari smart card ini menjadilebih kecil dan ringkas. Sehingga dalam perjalanannya, smart card memilikibeberapa standar yang digunakan secara simultan, dan diaplikasikan padapenggunaan yang berbeda yang ditunjukkan dalam format ID-1, ID-00 dan ID-000 di bawah ini.Gambar 8 Ukuran relatif dari format ID-1, ID-00 dan ID-000
  30. 30. 21Gambar 9 Contoh kartu telefon format ID-1, yang dapat diubah menjadi kartu ID-000Smart card memiliki 8 kontak di sisi depan, yang membentukantarmuka elektrik antara terminal (pembaca) dan mikrokontroler yang beradadi dalam smart card. Sinyal elektrik dilewatkan melalui kontak antarakeduanya. Namun berdasarkan pada ISO/IEC 7816-2, dua dari 8 kontak yangada (C4 dan C8) disiapkan untuk auxiliary contacts AUX1 dan AUX2, yangdapat digunakan dalam antarmuka di masa depan seperti USB. Dewasa inibeberapa modul smart card hanya memiliki 6 kontak saja untuk efisiensi,namun tetap mempertahankan fungsinalitas yang ada.Gambar 10 Pembagian secara elektrik dan penomoran kontak smart card, berdasarkanISO 7816-2Table 1 Fungsi kontak smart card berdasarkan ISO 7816-2
  31. 31. 222.5 STRUKTUR INFORMASI DIDALAM SMART CARDElemen utama dari smart card dengan kemampuan multifungsi adalahsebagai berikut.Central processing unit (CPU) atau „prosesor‟ yang merupakan inti darimikrokontroler.Read only memory (ROM) untuk membawa sistem operasi (OS) danbuilt-in program yang disimpan di saat pembuatan chip dari kartu.Electrically Erasable Programming Read Only Memory (EEPROM)yaitu memori tak rentan (non-volatile memory) yang digunakan untukmenyimpan data dan aplikasi kartu.Writable memory (RAM) yaitu memori yang rentan sehingga hanyadapat digunakan untuk menyimpan sementara (tidak digunakan untukpenyimpanan jangka panjang atau permanen). Pada umumnya datadan aplikasi disimpan di EEPROM, dimana untuk aplikasi tertentu hasilpersonalisasi disimpan di dalam ROM.Card Operating System untuk mengontrol eksekusi software aplikasi,untuk loading file program aplikasi yang baru, untuk membaca danmenulis data ke memori, dan untuk fungsi level rendah yang umumseperti power on dan power off.File system yang mengelola tentang bagaimana di simpan danbagaimana program di kartu (maupun divais eksternal seperti pembacakartu) dapat membaca maupun menuliskannya di EEPROM.Communication interfaces adalah cara bagaimana smart cardberinteraksi dengan dunia luar melalui pertukaran sinyal elektrikdengan pembaca kartu. Secara umum ada dua tipe antarmuka, yaitutipe contact dan tipe contactless.Software aplikasi (menjalankan business rules) yang berjalan di CPUdari smart card, dan yang menghasilkan perbedaan fungsional denganaplikasi smart card lainnya. Pada hakekatnya serupa dengan softwaredi PC, kecuali perbedaannya yaitu smart card memiliki kapasitasmemori yang kecil dan kapabilitas input/output yang terbatas.
  32. 32. 23Special-purpose hardware dibangun ke dalam berbagai smart cardyang lebih canggih untuk memberikan fungsi tertentu yang lebih amanatau lebih efisien. Misalnya co-processor termasuk di sini, yangmemberikan enkripsi asimetris, otentikasi dan layanan pembuatankunci kepada software yang berjalan di kartu.Smart card kemudian terbangun dalam „stack‟ teknology yangberurutan, terdiri dari layer yang relatif terpisah, dimana masing-masinghanya berinteraksi dengan layer tetangga terdekatnya melalui antarmukaformal dan terstandardisasi, sebagaimana di bawah ini.Gambar 11 ‘Stack’ (arsitektur sistem file) teknologi smart card2.6 SISTEM OPERASI DAN TRANSMISI SMART CARDMeskipun dibangun di dalam keterbatasan kapasitas dari smart carddibandingkan dengan sistem operasi di komputer yang lazim kita kenalseperti PC atau Work Station, namun ditengok dari fungsinya, tetap sajasmart card dapat dikatakan memiliki sebuah sistem operasi untukmengendalikan dan memonitor eksekusi program. Dan mengiringiperkembangan kapasitas prosesor smart card, maka sistem operasi smartcard pun semakin mendekati sempurna dan betul-betul memliki fungsi yangmemang semakin sempurna untuk sebuah sistem operasi. Berikut ini adalahcontoh dari sistem operasi yang ada.
  33. 33. 24Table 2 Beberapa contoh dari sistem operasi smart card dari berbagai produsen kartuBerikut ini gambaran skematik dari perkembangan sistem operasismart card. Sampai sekitar tahun 1991, sistem operasi yang dikembangkanadalah berpolakan library-based. Kemudian perlahan-lahan sistem operasiseperti itu digantikan oleh sistem operasi monolithic sampai sekitar tahun1998. Sistem operasi monolithic kemudian dewasa ini digantikan oleh sistemoperasi berlapis (layered operating system).Gambar 12 skematik dari perkembangan sistem operasi smart cardKeseluruhan prosedur untuk transmisi data digambarkanmenggunakan model lapisan OSI sebagaimana di bawah ini.Gambar 13 OSI model untuk komunikasi antara smart card dan terminal
  34. 34. 252.7 KEAMANAN, JAMINAN KUALITAS DAN PENGUJIAN SMART CARDPada bagian ini khususnya membicarakan fitur keamanan logika(logical security) dari smart card, khususnya yang berkaitan denganperlindungan keamanan yang dilakukan menggunakan kemampuanpemrosesan yang dimiliki oleh chip yang berada di smart card.Meskipun teknologi kartu plastik juga memiliki masalah juga dalam halkeamanan seperti hologram, microprinting dll, namun bukan itu yangdimaksud di dalam keamanan di sini karena tidak menyangkut masalahkeamanan logika.Berlawanan dengan kartu magnetik, atau teknologi otentikasi lainnya,smart card multifungsi yang lebih canggih dewasa ini memliki fiturpengamanan yang luas. Fungsi pengamanan ini ini dapat memiliki aturanpengendalian akses yang lebih kompleks, seperti PIN, kunci simetris,biometrik dll seperti berikut.Akses kartu yang terlindungi PINVerifikasi pemegang kartuVerifikasi kartu dan terminalKriptografiPengamanan divaisAnti gangguanBiometrikManajemen identifikasiWalaupun begitu, potensi kelemahan keamanan tetap perludiperhitungkan, karena tidak ada pengamanan yang sempurna. Sebagaimanajuga komponen pengamanan lainnya, smart card juga memiliki kelemahannyasendiri. Lebih jauh lagi, smart card hanyalah salah atu komponen dariberbagai sistem informasi yang ada, yaitu keamanan end-to-end yangtergantung dari banyak faktor. Untuk itu, implementasi smart card perlumemperhitungkan ancaman yang mungkin timbul dan melakukan kajianresiko secara khusus terhadap lokasi implementasi.
  35. 35. 26Kelemahan utama adalahDirect probing, dengan misalnya menggunakan scanning electronmicroscope (SEM) dapat memotong kontak yang secara prinsipdapat digunakan untuk membongkar isi dari memori. Kodepemrograman juga dapat menjadi obyek ancaman melalui carareverse-engineering lainnnya.„Side channel‟ attacks menggunakan sinyal yang tak sengajadipancarkan oleh sistem melalui jalurnya yang memberikaninformasi kritis kepada penyerang. Beberapa side channel attacksyang terkenal pada hardware smart card adalah :o Differential power analysiso Timing attackso The „Belcore attack‟Cryptanalysis adalah praktek pencarian kelemahan mendasarpada algoritma yang dibuka secara publik.Quantum computing dikenal sebagai ancaman serius terhadapkriptografi saat ini yang dikembangkan dengan pendekatan teoribilangan, karena memiliki arsitektur yang berbeda drastis danmemungkinkan metode kriptografi saat ini menjadi ketinggalanjaman.2.8 SIKLUS HIDUP SMART CARDPada dasarnya smart card terdiri dari dua komponen yang sama sekaliberbeda. Komponen pertama adalah badan kartu dengan printing (cetakan)nya, kemudian fitur pengamanan serta jika memungkinkan dilengkapi denganstrip magnet. Komponen kedua, yang membuat badan kartu itu dapat menjadismart card yang sesuai, adalah modul yang terdapat di dalam chip.Pembagian kartu menjadi dua komponen ini berlaku baik bagi memory cardsmaupun microcontroller cards.
  36. 36. 27Cara transfer data juga mempengaruhi struktur dari kartu itu sendiri.Smart card bertipe kontak membuat koneksi elektrik kepada terminal melaluilempengan kontak eksternal yang memiliki enam atau delapan titik kontak.Sementara itu smart card bertipe kontak berisikan koil di dalam badan kartuyang tersambungkan kepada modul chip yang juga tertanam di dalam badankartu. Struktur ini secara alami memiliki efek signifikan kepada prosespembuatan dari kartu tipe ini.Proses manufaktur juga tergantung kepada elemen lainnya dari kartuseperti material, metode pemberian teks pada kartu maupun fiturpengamanannya. Dan lebih jelas terkait lagi adalah optimasi biaya, dimanaproses pembuatan kartu adalah proses produksi masal, yang perlu dihitungdengan cermat untuk menjamin unsur efektifitas dalam produksi kartu.Selain proses manufaktur, siklus hidup dari smart card tergantungpada aplikasi yang digunakannya. Sebagai contohnya, smart card untukkomunikasi GSM memiliki karier yang berbeda setelah dibuat dibandingkandengan kartu kredit yang memiliki chip.Table 3 Rangkuman dari fase siklus hidup individual berdasarkan padastandar ISO 10202-1
  37. 37. 28Standar ISO 10202-1 mencoba mendefinisikan siklus hidup yangberlaku sama untuk semua metode manufaktur dan berbagai aplikasi.Standar ini sangat berorientasi pada aplikasi transaksi finansial dan teknologiinformasi yang digunakan pada aplikasinya, dibandingkan dengan produksiaktual dari badan kartu dan kartunya.Gambar 14 Siklus hidup smart card berdasarkan pada model fase daristandar ISO 10202-12.9 PERANGKAT TERMINAL PEMBACA SMART CARDPembaca (reader) smart card menghubungkan kartu dengankomputer, yang memungkinkan mereka untuk berkomunikasi, dan kemudianmelakukan interoperasi di level ujung dari kartu. Secara umum, ada duakeluarga pembaca smart card, mengikuti dua tipe komunikasi antarmukayang telah dibicarakan sebelumnya, yaitu komunikasi secara contact (kontak)dan secara contactless (nirkontak).Secara khusus, pembaca smart card memliki fitur mekanismekeamanan yang berbeda sesuai dengan harganya. Pembaca smart card yangpaling sederhana memiliki mekanisme yang hanya berbeda tipis dari sekedarmembawa sinyal asli dari kartu ke port I/O komputer. Kondisi seperti ini rawanterhadap intersepsi termasuk meliputi informasi keamanan seperti PIN danpassword.
  38. 38. 29Pembaca smart card dapat diklasifikasikan dalam beberapa carasebagai berikut.Contact vs contactless (Kontak dan nirkontak)Slide contact vs landed contact (Kontak geser dan kontak mendarat)Dumb readers vs intelligent readers (pembaca bodoh dan pembacapintar)Pembaca dengan security access modules (modul akses keamanan)Hand-held readers (pembaca jinjing)
  39. 39. 30BAB 3 PERKEMBANGAN PEMANFAATAN SMART CARD3.1 PEMANFAATAN SMART CARD DI BEBERAPA NEGARAPemanfaatan smart card telah dilakukan di beberapa negera.Meskipun penggunaannya masih terbatas untuk e-government namundengan implementasi tersebut maka manfaatnya sudah dapat dirasakan.Beberapa negara bahkan sudah menerapkan smart card pada tahun 1990-an. Dengan demikian sesungguhnya smart card sudah dapatdiimplementasikan dengan lebih baik. Berdasarkan sumber dari Card Tech2001, diperoleh data sebagai berikut :Table 4 Daftar Negara Pengguna Smart CardN e g a r a D e s k r i p s i P r o j e c t V o l u m e s L a u n c h i n gJerman Health care 70 juta 1993Belgia Health care 10 juta 1997Spanyol TASS benefit card & PKI 2 juta 1997Republik Czech Medi health & benefit card 30.000 1997Perancis Sesam-Vitale health care 40 juta 1998Slovenia ZZZS health insurance card 2 juta 1998Rusia Regional health & benefit card 3 juta 1998Polandia Health card 500.000 1998Argentina Driver’s license 2 juta 1998El Savador Driver’s license NA 1998India Driver’s license 720.000 1998Finlandia FINEID for online authentication 6.000 1999United Kingdom Southampton multi function city card 25.000 1999Kanada Health card 9.000 1999Brazil Government employee id 30.000 2000USA Department of defense id 4 juta 2000China Health card 10.000 2000Brunei National id card 300.000 2000Taiwan Health card 24 juta 2001Malaysia Government multi purpose card 2 juta 2001Afrika Selatan National id card 30 juta 2001
  40. 40. 313.2 PEMANFAATAN SMART CARD DI NEGARA LAINTeknologi informasi dan komunikasi berkembang semakin pesat didorongoleh Internet Protocol (IP), berbagai aplikasi baru dan beragam layananmultimedia. Salah satu bidang yang berkembang adalah pemanfaatan kartusebagai salah satu media yang memiliki beragam fungsi. Dengankemampuan multifungsi seperti ini, sejak periode 2000-an perkembanganpemanfaatan smart card di berbagai negara tampak semakin pesat. Jika kitamengacu kepada Asia Pacific Smart Card Association yang merupakanorganisasi yang aktif menghimpun aktifitas smart card di kawasan ini, makakita dapat mengetahui kondisi terkini dari pemanfaatan smart card.Paparan Greg Pote, Chairman dari Asia Pacific Smart Card Associationyang berjudul “The Future of Smart Card” dalam GBDe Summit di Jepang, 9Nopember 2007, memuat beberapa perkembangan terkini. Di dalam paparantersebut disebutkan bahwa smart card sekarang telah diterima di sektor publikseperti kartu identitas nasional di beberapa negara Asia. Malaysia, Brunei,Hongkong, Macau,China, Thailand telah meluncurkan program kartu identitasnasionalya, sementara negara-negara lain seperti Korea Selatan, India,Indonesia, Filipina maupun yang lainnya juga telah mulai merencanakanuntuk menerapkannya. Tujuan utama dari pemanfaatan smart card di negara-negara ini adalah untuk mengelola identitas nasional, dimana beberapanegara menambahkan aplikasi e-government lainnya. Hal itu dapat dilihatmisalnya dari Malaysia yang telah memiliki 7 aplikasi pada kartu identitasnasionalnya.Sementara itu, untuk negara-negara Eropa, diungkapkan bahwa Belgia,Italia, Spanyol, dan Estonia telah melakukan langkah-langkah implementasismart card sebagai kartu identitas nasional mereka. Inggris dan Perancisberada dalam tahapan perencanaan skema nasional kartu identitasnasionalnya. Tidak hanya itu saja, banyak negara sudah menerbitkankartuID/paspor berdasarkan standar ICAO.
  41. 41. 32Selain negara Eropa, negara-negara teluk seperti Oman, Qatar, Kuwaitdan lainnya sudah merencanakan untuk penerapan smart card, dan jugamelakukan penelitian untuk penerapan tersebut. Dalam pemanfaatannya kedepan, Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Co-Operation Council) telahmengusulkan interoperabilitas dari aplikasi smart card tersebut. Selain itu,Maroko juga akan menerbitkan kartu identitas nasional berbasis smart cardnirkontak yang pertama kalinya. Program kartu identitas nasional yangdirencanakan oleh negara-negara di kawasan ini sebagian besarmemasukkan biometrik sebagai alat otentikasinya.Dalam paparan yang sama, selain pemanfaatan smart card untuk kartuidentitas nasional, juga disebutkan mengenai pemanfaatannya untuk kartukesehatan dan pengaman sosial, yang disadari bahwa aplikasi ini merupakanaplikasi nasional utama setelah kartu identitas. Upaya yang besar berkaitandengan ini adalah program kartu pengaman sosial di China yang pilot projectnya dimulai di Shanghai yang kemudian diikuti oleh kota-kota lain. Taiwanjuga telah menerbitkan 24 juta kartu asuransi kesehatan.Beberapa negara Eropa telah juga mencanangkan program pemanfaatansmart card di dalam area ini. Misalnya Jerman telah menerbitkan 80 jutakartu, Perancis telah menerbitkan 50 juta kartu penduduk ditambah dengansetengah juta kartu profesional kesehatan. Belgia menerbitkan kartu identitassosial sebanyak 10 juta kartu. Austria menerbitkan kartu elektronik asuransisosial sebanyak 8 juta. Slovenia menerbitkan 2 juta kartu asuransi kesehatandan 70 ribu kartu profesional. Selain negara-negara tersebut, Inggris,Finlandia, Italia, Ceko juga mencanangkan pilot project mereka.3.3 PEMANFAATAN SMART CARD DI INDONESIADalam memetakan pemanfaatan smart card di Indonesia ini, selainmengandalkan pada penelusuran informasi dari berbagai literatur yang ada,juga memerlukan pendalaman melalui survei atau forum diskusi agar dapatmemberikan gambaran yang nyata mengenai kondisi pemanfaatan smartcard di Indonesia.
  42. 42. 33Secara umum, kita dapat membagi pemanfaatan smart card menjadi duabagian besar, yaitu pemanfaatan yang terkait dengan telekomunikasi nirkabel(GSM), yang tidak terkait dengannya. Hal ini dikarenakan pemanfaatan dalamdunia GSM sangatlah besar, seiring dengan terus meningkatnya penggunatelefon selular di Indonesia.Jika hendak dikaitkan dengan studi yang diadakan kali ini menyangkutframework smart card untuk keperluan pemerintah, maka kita perlumemfokuskan jenis smat card kepada tipe kartu non GSM.Dari tipe smart card non GSM, kita dapat membaginya menjadi aplikasipemerintah dan non-pemerintah. Dimana yang menjadi fokus dari studi inisecara khusus adalah yang berkaitan dengan pemerintah, sehingga aplikasinon-pemerintah akan menjadi referensi yang memberikan gambaranperkembangan pemanfaatan smart card di Indonesia.Berikut ini akan diberikan gambaran pemanfaatan smart card dariberbagai pihak di Indonesia, yang memiliki pendekatan yang berbeda-bedapula. Jika upaya pemanfaatan dari pemerintah lebih memiliki dimensi layananpublik atau berkaitan dengan e-government, maka pemanfaatan darikalangan dunia usaha lebih mengedepankan faktor bisnis. Tetap saja hal iniakan dapat memberikan gambaran mengenai potensi dan permasalahanyang perlu diantisipasi dalam berbagai kebijakan pemerintah berkaitandengan smart card yang menjadi keinginan dari studi ini.Perkembangan smart card di Indonesia telah mulai menapak perlahan-lahan di pertengahan akhir di era 1990-an, yang kemudian tersapu olehgelombang krisis multidimensi yang melanda Indonesia. Meskipun secaraglobal perkembangan teknologi smart card memasuki masa yang matangsejak tahun 2000-an, namun perkembangan penerapan di Indonesia belumberanjak dari masa surut sejak krisis yang lalu.Namun demikian, sejak tahun 2004 mulai terasa angin segar penerapansmart card seiring dengan semakin memulihnya kondisi perekonomianIndonesia dan mulai tercapainya stabilitas politik di Indonesia. Hal ini jugaditopang oleh beberapa pengembang teknologi smart card yang masih setia
  43. 43. 34menekuni pengembangan berbagai aplikasi maupun mencari terobosanmodel bisnis yang paling menarik untuk dijalani, seperti halnya Telkom yangkemudian menelurkan unit bisnis Finnet yang memfokuskan ke dalampenerapan smart card dengan dukungan kompetensi yang telah terbinaselama ini.Yang tidak boleh dilupakan adalah keinginan dari dunia akademis diIndonesia yang ingin mengadopsi kemudahan dan kecanggihan yang diusungoleh smart card dalam pengelolaan sumber daya manusia maupun pelanggan(dalam hal ini mahasiswa) yang berada dan memiliki rasa salingketergantungan di dalam komunitas tertutup namun besar yang bernamaperguruan tinggi. Hal ini yang mendorong maraknya penerapan smart card dikalangan kampus-kampus ternama di tanah air.1. Upaya pemanfaatan smart card oleh PemerintahPemerintah pusat telah berupaya untuk mengimplementasikan smart carddalam berbagai sendi kehidupan masyarakat. Namun upaya untukmenjangkau kalangan yang lebih luas merupakan sesuatu yang sangat riskanuntuk sebuah aplikasi sistem informasi. Untuk itu pendekatan yang dilakukanberbagai kalangan pemerintah mengalami perubahan yang berusahamengalihkannya ke kalangan internal karyawan di lingkungan kantorpemerintah pusat.Untuk hal ini, upaya tersebut tidak hanya dilakukan oleh pemerintahpusat, melainkan juga telah menarik minat pemerintah daerah sepertiKabupaten Jembrana untuk mencoba memanfaatkan fifur multiguna smartcard untuk menambah panjang daftar aplikasi TIK yang telah dimilikinya.
  44. 44. 35Table 5 Contoh implementasi smart card yang telah berjalanInstitusi Nama Proyek Status Teknologi Deskripsi ProyekPemerintahKabupatenJembranaKartu pegawaiKabupaten(terintegrasi dengankartu BankPembangunan DaerahBali)Implementasitahun 200816kb +biometrik (sidikjari)Latar BelakangKewajiban penggunaan chip pada APMK (AlatPembayaran Menggunakan Kartu – Kartu ATM, KartuDebit, Kartu Kredit, Kartu Prabayar), sarana serta sistempemroses transaksi (chip enable) - (Sumber : BankIndonesia). Pencetakan Kartu Pegawai Multi Fungsi yangdisebut dengan J-Smart ini dapat dilakukan berkat adanyakerjasama antara Bank Pembangunan Daerah Balidengan Pemerintah Kabupaten Jembrana, yang dalam halteknis pelaksanaannya difasilitasi oleh BPPT.Alasan Pengaturan (Bank Indonesia)Saat ini magnetic stripes dianggap kurang amanTrend di berbagai negara yang mengkombinasikan magnetic stripes dengan chip.Keterbatasan magnetic stripes untuk pengembangan ke depan.Penerapan prinsip liability shift oleh Visa International.Mencegah terjadinya migrasi kejahatan kartu kredit dari negara lain yang telahmenerapkan chip ke Indonesia.Meningkatkan efisiensi.Integrasi dengan fungsi lain, misalnya ID cards, berbagai smart cards dan mobilepayments.Kewenangan BI dlm mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.Mempromosikan peningkatan penggunaan instrumen non tunai.Penggunaan APMK selalu meningkat dari tahun ke tahun.Berkembangnya modus operandi kejahatan APMK.Memastikan penerapan prinsip payment system regulation, prudential regulationdan consumer protection.Manfaat :
  45. 45. 361. Pembuatan kartu ATM bagi nasabah BPD-Bali berbasis chip wajib dilaksanakan.2. Penggantian Kartu ATM bagi pegawai Kabupaten Jembrana yang berjumlah lebihkurang 5.000 orang dari kartu ATM mag.stripe tanpa chip menjadi kartu ATMmag.stripe yang ada chipnya (smart card) dapat dilaksanakan lebih awal dimanaproses migrasi tersebut akan didampingi oleh BPPT.3. Penggantian ini tidak mempengaruhi operasional ATM BPD karena masih tetapmenggunakan kartu ATM berbasis magnetic Stripe. Adapun penggantian kartuATM bagi pegawai Kabupaten Jembrana sudah sangat dibutuhkan dari sisipemanfaatan chipnya bagi aplikasi-aplikasi kesehatan dan identitas pegawai,sehingga pegawai cukup mempunyai satu kartu dengan banyak fungsi.4. Ketika BPD akan migrasi ke kartu ATM berbasis chip sesuai aturan BankIndonesia, maka hanya diperlukan modifikasi pada chip untuk keperluanperbankan karena digunakan kartu chip sesuai standard EMV yaitu ISO 7816.Pengembangan perangkat lunak aplikasi data kesehatan dan data pegawai.1. Pengumpulan data mengenai kebutuhan-kebutuhan pengguna2. pengembangan perangkat lunak3. Ujicoba sistem secara menyeluruhKebutuhan Perangkat Keras (Hardware)Pemanfaatan smart card yang berfungsi sebagai ATM dan sebagai ID card,diperlukan kartu Smart Card (mag.stripe dan chip) 16 kb standard ISO 7816 sesuai jumlahyang dibutuhkan.Adapun pemanfaatan chip untuk keperluan aplikasi data kesehatan dan data identitaspegawai dibutuhkan komputer PC, Alat reader/writer yang berpengaman sidik jari sertasistem software manajemen smart card (umumnya sudah termasuk dalam paket kartu smartcardnya). Jumlahnya disesuikan dengan kebutuhan.Berkaitan dengan adanya 3 kartu yang dimiliki oleh masyarakat dalam kaitan denganpelayanan kesehatan , Pemerintah Kabupaten Jembrana memandang perlu adanyaintegrasi dari 3 kartu tersebut termasuk system informasi yang mendukung, sehinggamenjadi satu kesatuan
  46. 46. 37Sistem Apalikasi Kesehatan dengan Smart CardSmart Card Reader/writerCard Management :Card TestingMembaca dan menyimpan data dari PC ke smart cardIntegrasi dengan Sistim Informasi Rumah Sakit : Informasi Finansial, On sitediagnostic, Ruangan, Service charge, apotik, dan lain-lain.Alur Pasien :Pasien masuk dan menuju resepsionistKartu diakses smart card reader.Otorisasi personal , Memasukkan sidik jariData pasien bisa dilihat dikomputerInformasi Smart Card Kesehatan :
  47. 47. 38Informasi Data PasienInformasi Rekam MedisInformasi KesehatanInformasi PembayaranInformasi Data Untuk Transformasi Rujukan Antar Rumah Sakit(www.jembranakab.go.id)BKN (BadanKepegawaianNegara)Kartu PNS Elektronik Akhir 2008 –awal 2009Kesepakatan kerjasama telah ditandatangani pada Januari 2006 antara IRIS dan PT.Superintending Company of Indonesia (SUCOFINDO) dan PT. Data Aksara Matra (DAM).Sucofindo telah memperoleh kontrak bernilai 20 juta dolar amerika dengan BadanKepegawaian Negara (BKN) untuk proyek Kartu PNS Elektronik (KPE).BKN merencanakan untuk melakukan registrasi kurang lebih 4 juta pegawai negeri sipilIndonesia dengan menggunakan sistem KPE ini. Uji kelayakan dan uji pendahuluan (pilotproject) mulai diselenggarakan di tahun 2006 dimana untuk implementasi secara nasionaldiperkirakan selesai selama 3 tahun. KPE adalah kartu chip yang memuat fitur multiaplikasi.Dengan menggabungkannya bersama verifikasi biometrik sidik jari, sistem ini menawarkanmetode yang lebih efektif untuk melakukan identifikasi dan otentikasi pegawai negeri sipil.Sistem KPE ini juga didisain untuk memfasilitasi pembayaran dan transaksi yang dilakukandengan PT. Asuransi Kesehatan Idonesia (ASKES) untuk asuransi kesehatan, BadanPertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (BAPERTARUM) untuk subsidiperumahan, dan PT. TASPEN untuk dana pensiun dll. KPE juga diharapkan akan dapatdiintegrasikan dengan e-wallet dan layanan pembayaran debit, melalui kerjasama denganlembaga keuangan di Indonesia.IRIS, SUCOFINDO dan DAM juga secara kolektif dipercayai oleh pemerintah Indonesiauntuk menjalankan proyek ini berlandaskan model Build Operate Transfer (BOT) denganmasa konsesi selama 10 tahun. Proyek senilai 20 juta dolar amerika akan didanai olehlembaga keuangan dan dana yang telah dikeluarkan akan dikembalikan dalam bentukpenerimaan yang dihasilkan dari sistem KPE selama masa konsesi.(www.dam.co.id)DepartemenPertanianUji coba penerapansmart card untukpendistribusian pupukdi Indonesia2008 Kartu chipsmart cardDepartemen Pertanian mempunyai visi fully paperless atau pelaksanaan kegiatanpemerintahan yang memanfaatkan perangkat elektronik sebagai medium pendukung kinerja.Tidak main-main, sejumlah aktivitas mulai disiapkan. Targetnya, 10 tahun lagi Deptan akanfully paperless.Menurut Sekjen Deptan Hasanuddin Ibrahim, pihaknya menargetkan pada 10 tahun kedepan, aktivitas di lingkungan Deptan sudah menggunakan teknologi sebagai alatpendukung kinerja. “Dukungan itu nantinya akan menghasilkan kecepatan dalam memberilayanan informasi kepada masyarakat,” jelasnya saat ditemui dalam rangka penjurian tahapII Warta Ekonomi e-Government Award 2008. Deptan masuk sebagai salah satu pesertayang lolos dalam pengujian tahap I. Dalan pengujian tahap II ini, dilakukan kunjungan secara
  48. 48. 39langsung ke instansi terkait guna melihat secara langsung penerapan e-Government dalamproses kegiatan pemerintahan.Sekjen Deptan menambahkan, penerapan e-Gov di lingkungan Deptan sangat besardukungannya dalam meningkatkan kinerja sekaligus memberikan layanan kepada publiksecara lebih mudah, cepat, dan terjangkau.Deptan sendiri sampai saat ini terus berbenah dalam meningkatkan kualitas layanan melaluipenggunaan perangkat elektronik. Sejumlah aplikasi telah disiapkan. Diantaranya, sisteminformasi kepegawaian atau Simpeg, yaitu sistem pengelolaan data dan kinerjakepegawaian di lingkungan Deptan. “Simpeg ini akan menjadi sangat vital, karena pegawaiadalah darah bagi organisasi, dan tanpa pengelolaan yang komprehensif tentang pegawai,kinerja yang maksimal tidak akan didapatkan,” jelas Hasanuddin.Selain Simpeg, Deptan juga telah memperluas uji coba penerapan Smart Card untukpendistribusian pupuk di Indonesia. Uji coba yang semula dilaksanakan di enam kota diIndonesia, pada 2009 nanti akan ditambah sembilan kota lagi. Smart Card pupuk yangdiciptakan oleh Deptan memakan biaya sebanyak Rp18 miliar pada 2008. Anggarantersebut dipergunakan untuk pengadaan 400 perangkat EDC (Electronic Data Capture) dan4.800 kartu chip Smart Card.Target awal Deptan untuk pelaksanaan e-Government dalam waktu dekat ini, adalahpenerapan pengadaan barang dan jasa di lingkungan Deptan menggunakan e-Procurement.“2009 nanti sudah harus jalan,” ungkap Hasanuddin. Deptan sendiri menunjukkankeseriusannya dalam mengejar visi paperless dengan telah membentuk tim khusus yangbertugas mengembangkan TIK di lingkungan Deptan. “Payung hukumnya sudah dibuatmelalui Kepmen pada tahun 2007 lalu,” imbuhnya. (http://wartaegov.com)Transjakarta JakCard Oktober 2007 Contactless JakCard adalah smart card multi fungsi yang diterbitkan oleh Bank DKI dan dapat digunakanuntuk alat pembayaran secara elektronik.(www.suaratransjakarta.org)UniversitasIndonesiaUI-SMaRT 2006 Javacard64KBMicroprocessor based singlechip dual-interfaceUI-SMaRT Infrastructure Building Blocks v1.0Gambar ini adalah desain master plan infrastruktur dasar dalam implementasi SmartCard di
  49. 49. 40(combo card)Mifarecompatible,emulated 1-8KBStandard JavaCard 2.2.1GlobalPlatform 2.1.1Universitas Indonesia. Seluruh elemen Sistem Informasi akan dapat terintegrasi dengan baikdengan konsep Open Platform.Dalam desain ini terdapat 4 bagian:HardwareFrameworkApplicationExternal EntityHardwareDesain yang dibuat adalah dapat bersifat Hardware Independent dan OS Independent, yaitudapat menggunakan segala macam merk Hardware maupun Sistem Operasi. Dengandemikian diharapkan UI dapat memiliki pilihan untuk tidak bergantung terhadap vendor-vendor tertentu.FrameworkUniversitas Indonesia membangun sistem komunikasi intra & extra sistem menggunakanteknologi SOA, atau dalam kata lain adalah menggunakan web service. Dalam pelaksanaanweb service ini, UI menggunakan konsep middleware sebagai BUS antara sistem satudengan lainnya. Aplikasi-aplikasi Smartcard UI akan menggunakan modul InternalCommunication untuk berkomunikasi dengan komponen-komponen yang ber-relasididalam lingkup SmartCard UI. Adapun modul External Interoperability digunakan apabilaaplikasi-aplikasi Smartcard UI akan berinteraksi dengan sistem lain yang berbeda platform,sebagai contoh adalah dengan sistem Akademik dan Directory Service UniversitasIndonesia.Core System dari Framework SmartCard UI terdiri dari Card Management dan SistemIdentitas/Biometrik, dimana kedua entitas ini akan menjadi sistem produksi, verifikasi, danproses sekuriti lainnya.UI Card Bundle Library adalah sebuah bundel yang dibuat khusus oleh Direktorat PPSI -Universitas Indonesia sebagai platform pengembangan bagi aplikasi-aplikasi on card(berhubungan dengan kartu). Library ini berlisensi GPL (Open Source) dan dapat digunakanoleh siapa saja untuk pengembangan aplikasi SmartCard, dimana source code nya jugaakan ditempatkan di sourceforge.
  50. 50. 41ApplicationSaat ini Universitas Indonesia sudah menyelesaikan beberapa aplikasi yang siap di deploysebagai layanan tambahan bagi sivitas akademika UI. Penjelasan spesifik mengenaiaplikasi-aplikasi yang dibuat dapat dilihat pada link berikut ini.External EntitySistem yang berada diluar SMaRT Infrastructure dapat memiliki platform yang berbeda-beda, baik itu konsepnya, desain aplikasinya, desain databasenya, dll. Seluruh ExternalEntity akan berkomunikasi dengan SMaRT Infrastructure menggunakan standard SOA.Konsep-konsep yang diadopsi dalam SmartCard UI :- EMV personalization (CPS 1.0)- Peraturan Bank Indonesia Nomor : 7/52/PBI/2005Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu- Sekuriti bertingkatKerjasama UI- 2006 : PT. Telkom Indonesia- 2007 : PT Bank DKI(http://smartcard.ui.edu)InstitutTeknologiBandung (ITB)Kartu Multiguna ITB September2004Java card 8KBKartu Multiguna ITB yang menggunakan teknologi Smart Card hasil kerjasama antara InstitutTeknologi Bandung (ITB), TELKOM dan Bank BNI secara resmi diluncurkan penggunaannyaoleh Rektor ITB, Kusmayadi Kadiman. Hadir dalam acara yang berlangsung di SasanaBudaya Ganesha - ITB tersebut Dirut TELKOM Kristiono, Direktur Bisnis Jasa TELKOMSuryatin Seiawan, Kapus R & D Center – TELKOMRisTI Taufik Hasan dan Dirut Bank BNISigit Pramono.Pada kesempatan itu dilakukan juga demo pemakaian fasilitas Internet Protocol (IP-Phone)yang dikembangkan TELKOMRisTI dengan menggunakan Kartu Multiguna oleh Rektor ITByang terhubung langsung dengan Istana Kepresidenan di Jakarta. “Kerjasama ITB, TELKOMdan Bank BNI ini adalah bagian dari program ITB Smart Campus, yang berupaya untukmenjadikan kampus ITB sebagai kampus yang sarat ICT,”ungkap Syaiful RahimSoenaria, Engineer di Lab. Solusi TI – TELKOMRisTI, yang menangani pengembangan
  51. 51. 42Smart Campus di beberapa perguruan tinggi di Indonesia.TELKOMRisTI sebagai product owner layanan Smart Campus, pada kegiatan ini terlibatdalam penyusunan dokumen Master Plan/Blue Print ITB Smart Campus yang tertuangdalam Surat Keputusan Pembentukan Standing Committee Program ITB Smart Campusyaitu sebagai Ketua Management Committee, Sekretariat, anggota Sub Committee Plan &Integration, anggota Sub Committee Business and Services dan anggota Sub CommitteeAcademic Service. Dalam kerjasama ini, TELKOMRisTI juga akan menggelar 80 unitterminal IP-Phone di lingkungan Kampus ITB. Terminal ini dapat dipergunakan untuk dualayanan yakni komunikasi Voice over Internet Protocol (VoIP) baik untuk SambunganLangsung Jarak Jauh, Sambungan Langsung Internasional dan Seluler serta layananprepaid internet access. “Dua layanan ini akan menggunakan Kartu Multiguna ITB sebagaimedia akses dan media pembayarannya,”jelas Syaiful.“Hal yang sangat menarik dari penggunaan teknologi Smart Card untuk layanan kampus iniadalah selalu tersedianya Value Added Services baru yang bisa kami kembangkan, dan bisadiperoleh mahasiswa untuk kelancaran dan kemudahan proses studimereka,”tambah Syaiful. Dicontohkannya, bekerjasama dengan Bank BNI saat iniTELKOMRisTI mengembangkan layanan feature Voice over Internet Protocol (VoIP) yangdimasukkan pada Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) berbagi perguruan tinggi di seluruhIndonesia yang disponsori Bank BNI sejumlah 1.000.000 KTM.Lebih dari 4000 mahasiswa baru ITB akan menggunakan kartu ini sebagai kartu mahasiswa.Teknologi smartcard menyimpan identitas digital (digital ID), sehingga pemakai dapatmenggunakan berbagai fasilitas teknologi informasi di kampus. Kartu hasil kerjasamadengan TELKOM dan Bank BNI ini juga dapat digunakan untuk melakukan layanan telepondigital, akses internet, serta layanan perbankan, seperti ATM dan kartu debet.Kartu dengan teknologi Java ini juga memiliki memori 8 kbytes sehingga cukup untukaplikasi telepon digital dari TELKOM. TELKOM dan ITB mengembangkan layanan telepondigital komunitas, yang menyalurkan layanan telepon di atas infrastruktur internet ITB.Dengan menggunakan IP-PBX buatan ITB, jaringan serat optik ITB yang selama inidigunakan untuk internet dapat digunakan juga untuk telepon TELKOM. Selain kualitaslayanan yang lebih baik dan lengkap, integrasi ini memudahkan pemeliharaan jaringan.Kartu ini memungkinkan telepon digital di ITB memiliki layanan telepon TELKOM. Selain itukartu ini memudahkan sistem pembayaran pulsa. Kerjasama ITB, TELKOM, dan Bank BNIini adalah bagian dari program ITB Smart Campus ntuk membangun infrastruktur IT danmenyiapkan komunitas ITB agar siap masuk ke dalam era ekonomi pengetahuan(Knowledge Economy).Kerjasama dengan ITB merupakan pengembangan Smart Campus kedua yang digarapTELKOMRisTI, setelah yang pertama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
  52. 52. 43Beberapa perguruan tinggi lain yang tengah menjajaki implementasi Smart Card untuklayanan Kampus dalam waktu dekat, menurut Syaiful adalah Universitas Padjadjaran-Bandung, Universitas Pasundan-Bandung, Universitas Islam Bandung, UniversitasParahyangan-Bandung, Universitas Maranatha-Bandung, Institut Teknologi Nasional (Itenas-Bandung) dan UNS – Solo serta tiga perguruan tinggi di Surabaya yakni Institut TeknologiSurabaya (ITS), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan Universitas Narotama.“Sedangkan di luar Pulau Jawa, pengembangan Smart Campus telah dilakukan diUniversitas Riau (UNRI) dan dalam waktu dekat akan dilakukan di Makassar,”kata Syaiful.(www.ristinet.com)BCA BCA Flazz 2008 Kartu chip &RFIDKartu FLAZZ BCADompet Elektronik MultifungsiKartu Flazz BCA merupakan alat pembayaran multifungsi tercepat pertama di Indonesiauntuk kenyamanan hidup Anda. Menggunakan teknologi chip dan RFID (Radio FrequencyIdentification), Kartu Flazz pantas untuk disebut sebagai kartu prabayar multifungsi denganteknologi terkini. Kartu Flazz berbeda dengan kartu kredit dan kartu debit. Bila otorisasitransaksi pembayaran kartu kredit dan debit dilakukan secara online di pusat data bank,otorisasi transaksi untuk kartu Flazz dilakukan langsung di chip di kartu Flazz itu sendiri.Pengisian ulang saldo (top up) pun mudah, cukup membawa Kartu Paspor dan Kartu Flazzke ATM Non-tunai BCA serta merchant-merchant berlogo Flazz Isi Ulang. Minimum top upRp 100.000, dan maksimum saldo yang dapat tersimpan di kartu maksimum Rp 1 juta.Kartu Flazz menawarkan kecepatan, kemudahan, kepraktisan bertransaksi. Cepat, karenatransaksi pembayaran diselesaikan dalam hitungan detik dengan proses kerja contactless(tidak perlu digesek seperti kartu kredit, cukup diletakkan di mesin reader). Mudah, karenatidak perlu menginput PIN. Praktis, karena tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlahbesar, juga tidak perlu menyimpan uang receh lagi. Selain itu, murah, karena tanpa biayatransaksi. Keuntungan lain, terhindar dari risiko kesalahan hitung dan uang palsu karenatidak terjadi transaksi tunai. Kemudahan bagi merchant, tidak perlu sedia uang kembalian,mempercepat layanan karena tidak perlu mengecek keaslian uang dan menghitung uang
  53. 53. 44saat transaksi, pula tidak perlu menyimpan uang dalam jumlah besar.(http://www.klikbca.com/individual/silver/product.html?s=69)Mandiri E-Payment Gaz Card 2007 Contactlesssmart cardBank Mandiri dukung Pertamina dalam peluncuran kartu pra bayar Bahan Bakar Minyak(BBM) pertama di Indonesia yang berbasis smart card . Kartu Pra Bayar BBM Pertaminayang juga disebut “E-Payment Gaz Card” akan dapat dinikmati mulai Oktober 2007 secarabertahap sampai akhir Desember 2007 oleh para pelanggan Stasiun Pengisian Bahan BakarUmum (SPBU) Pertamina di Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogya, Medan,Pekanbaru.”E-Payment Gaz Card ini adalah terobosan pertama dalam transaksi pembelian BBM diIndonesia. Dengan terpilihnya Bank Mandiri sebagai salah satu mitra Pertamina dalammensukseskan sistem transaksi baru ini membuktikan kepercayaan Pertamina kepadakinerja Bank Mandiri” ungkap Budi G Sadikin Direktur Micro and Retail Banking Bank Mandiridisela-sela acara uji coba e-Payment Gaz Card di SPBU Pertamina Jalan Gatot Subrotoyang juga dihadiri oleh A Faisal Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina.Untuk memastikan kepuasan pelanggan dalam menggunakan E-Payment Gaz Card ini,Bank Mandiri dan Pertamina telah menjadwalkan sosialisasi kepada para karyawannya di 20SPBU Pertamina Pasti Pas Jabotabek sejak tanggal 16 Agustus lalu hingga 16 Oktober2007.“Saat ini Bank Mandiri bermitra dengan 2.145 SPBU atau sekitar 61% dari total 3.500 SPBUPertamina dengan omzet penjualan sebesar Rp114 triliun/tahun yang melingkupi penjualansolar, bensin dan pertamax”, lanjut Budi G. Sadikin. Dengan menggunakan E-Payment GazCard Pertamina, pelanggan BBM dapat memilih gaz card dengan nilai uang maksimumsesuai ketentuan Bank Indonesia sebesar Rp1 juta tersimpan pada chip kartu, sementarakartu perdana dijual dengan denominasi Rp100ribu dan Rp200ribu.E-Payment Gaz Card Pertamina adalah layanan sistem pembayaran BBM di SPBUPertamina dengan menggunakan kartu prabayar contactless (nir sentuh) berbasis smartcard. Kelebihannya, transaksi pembelian BBM menjadi lebih cepat dan praktis karenatransaksi dilakukan secara offline mengurangi nilai uang pada kartu. Carapenggunaannyapun cukup mudah, kartu tinggal disentuhkan pada reader Electronic DataCapture (EDC) dan dalam 3 detik transaksi telah selesai.Gaz Card Pertamina dapat diisi ulang melalui reader EDC Bank Mandiri dengan kartu DebitMandiri. Selain itu juga dapat dilihat nilai saldo dan mutasi rekeningnya, Dijelaskan BudiSadikin bahwa selain dapat digunakan untuk pembelian BBM, nantinya isi ulang juga dapatdilakukan melalui electronic channel Bank Mandiri, seperti ATM, SMS, Internet Banking danCall Mandiri dan Gaz Card ini juga akan dapat digunakan di beberapa merchant micropayment lainnya seperti perparkiran dan pembayaran Tol.
  54. 54. 45Tentang Bank MandiriBank Mandiri adalah salah satu bank terkemuka di Indonesia dengan memberikanpelayanan kepada nasabah yang meliputi segmen usaha Corporate, Commercial, Micro &Retail, Consumer Finance dan Treasury & International. Bank Mandiri juga menawarkan jasadan layanan pasar modal, perbankan syariah dan asuransi melalui Mandiri Sekuritas, BankSyariah Mandiri dan AXA Mandiri.Sampai dengan triwulan II/2007 Bank Mandiri berhasil membukukan laba bersih sebesarRp2.140 miliar, meningkat 163% dari pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya.Peningkatan laba tersebut didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih,pertumbuhan fee based income dan pengendalian biaya operasional. Pertumbuhanpendapatan bunga bersih mencapai 38,0% yaitu dari sebesar Rp4,9 triliun di triwulan II/2006menjadi Rp6,7 triliun di triwulan II/2007, pertumbuhan fee based income dari sebesar Rp1,3triliun menjadi Rp1,8 triliun atau tumbuh 35,5%.Bank Mandiri dalam project e-Payment Gaz Card ini berperan sebagai penerbit kartu gazcard, penyedia mesin EDC berikut reader kartu contactless, settlement Bank danmemasarkan kartu Gaz Card Pertamina.(www.bankmandiri.co.id)Table 6 Rencana implementasi smart card skala luasInstitusi Nama Proyek Status Teknologi Deskripsi ProyekRENCANABadanPengelola Hilir(BPH) MigasKartu kendali BBM Rencana th2008 – ditundaKonsorsium Sucofindo (bekerjasama dengan PT.DAM dan IRIS)Permasalahan non-teknis dalam penerapan smart card skala luas menyangkut parapengguna kendaraan bermotor menyebabkan penerapannya menjadi masalah nasional.Pembatasan penerapan dengan pengalihan rencana uji coba pada daerah tertutup (di Balidan Batam) menjadi tidak jelas setelah kedua daerah menolak dijadikan area uji coba.Jasa Marga Kartu pembayaran tol Januari 2009di tiga ruas tol:- TolContactlesssmart card (e-toll card)Jasa Marga dan Tiga Operator Tol Lain Kerja Sama E-Payment dengan Bank MandiriJakarta, 31 Oktober 2008 – Sebagai komitmen terhadap peningkatan pelayanan kepadapara pengguna jalan tol, PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan 3 (tiga) operator jalan tol lainnyayaitu PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), PT Bintaro Serpong Damai (BSD)dan PT Marga Mandalasakti (MMS), menandatangani perjanjian kerjasama pengembangansistem e-payment untuk pembayaran tol dengan Bank Mandiri. Hal ini merupakan sinergiantara Jasa Marga dan ketiga operator tol lainnya dengan bank terbesar di Indonesiatersebut, yang bertujuan untuk meningkatkan kemudahan layanan kepada para penggunatol. Teknologi yang digunakan untuk pembayaran e-payment ini menggunakan kartu
  55. 55. 46dalamkotaJakarta- Padalarang –Cileunyi- Cikupa –MerakAkhir 2009 :- PondokAren –Serpongprabayar contactless smart card yang disebut e-toll card.Manfaat yang diperoleh dengan penerapan e-toll card ini salah satunya adalah waktutransaksi di gardu tol akan lebih cepat. Jika transaksi di gardu tol dengan sistem terbukadibutuhkan waktu sekitar 7 detik, maka dengan menggunakan e-toll card ini bisa kurang dari4 detik. “Dengan waktu transaksi yang lebih cepat, maka akan mengurangi panjang antriandi gerbang tol,” kata Frans S Sunito, Direktur Utama Jasa Marga.Pada tahap awal, pembayaran tol dengan e-toll card akan dilaksanakan pada bulan Januari2009 di tiga ruas tol, yaitu Tol Dalam Kota Jakarta, Padalarang – Cileunyi dan Cikupa –Merak. Sedang untuk Ruas Pondok Aren – Serpong yang dioperasikan oleh PT BintaroSerpong Damai, pengoperasiannya akan dilakukan pada akhir tahun 2009. “Sedang untukruas tol lainnya yang dioperasikan Jasa Marga akan dilakukan pada Triwulan IV tahun2009,” jelas Adityawarman, Direktur Operasi Jasa Marga pada acara yang sama.Ruas tol lainnya yang sistem transaksi tolnya bisa menggunakan e-toll card adalah JakartaOuter Ring Road (JORR), Jakarta – Tangerang, Jagorawi dan Jakarta – Cikampek. “Kamisedang melakukan persiapan untuk dapat menerapkan system tersebut di ruas-ruas toltersebut. Diantaranya adalah menyiapkan peralatan yang dapat mendukung teknologi itu,”jelas Adit.Dengan layanan ini para pelanggan tol tidak perlu lagi membawa uang tunai namun cukupmenempelkan kartunya (e-toll card) untuk membayar tarif tol. ”Ini merupakan komitmen kamidalam melakukan modernisasi perusahaan di bidang operasional,” ujar Frans sambilmenambahkan bahwa modernisasi di bidang operasional lainnya adalah denganmemberikan informasi realtime melalui pemasangan Variable Messages Sign/VMS (rambuelektronik) dan pemasangan CCTV di seluruh jalan tol di Pulau Jawa yang dapat dipantaudari Jakarta. “Kami berharap layanan e-payment tol yang sudah lama ditunggu-tunggu inidapat menambah kenyamanan para pengguna dalam melakukan pembayaran tol.””Untuk menambah kenyamanan pengguna, ke depannya e-toll card ini akan juga dapatdigunakan untuk pembayaran SPBU dan retailer di rest area tol, parking dan merchanttransportasi lainnya”, jelas Frans.”Kerjasama pembayaran e-toll card dengan 4 operator tol ini sangat strategis dan menjadimomentum penting dalam mensukseskan less cash society di Indonesia” kata AgusMartowardojo, Direktur Utama Bank Mandiri. ”Dengan teknologi micro payment yang dimilikiBank Mandiri dan pengalaman pengelolaan transaksi tol oleh operator, kami yakin e-Payment ini akan sukses dan diminati masyarakat luas”, tambah Agus.Dalam kerjasama ini 4 operator tol berperan sebagai merchant dan pemilik brand e-toll card.Sedangkan Bank Mandiri berperan sebagai issuing bank, acquiring bank, settlement bankdan penyedia sarana isi ulang kartu.(www.jasamarga.com/content/view/156/89/lang,en/)Pemda DKIJakartaElectronic RoadPricingBelum jelas
  56. 56. 47KantorImigrasiBatamSmart Card WNI keSingapuraTahappembahasanrencanabersamadenganpemerintahSingapura(2008)
  57. 57. 48Rangkuman1. Pendekatan yang dilakukan masih bersifat sporadis dan bersifatsektoral, walaupun sebagian besar sudah memahami kegunaan smartcard secara multi fungsi (multi aplikasi).2. Potensi masalah yang mungkin terjadi dalam contoh penerapan diIndonesia adalah seperti inisiatif penerapan smart card di PemkabJembrana yang digunakan untuk kartu pegawai Kabupaten, dimanasetelah program ini dimulai ternyata ada inisiatif penerapan smart carduntuk kartu pegawai negeri sipil (KPE : Kartu PNS Elektronik) yangdigagas oleh BKN. Skema penerapan di Jembrana yang didukung olehBPD Bali memiliki perbedaan dengan skema penerapan KPE yangbelum jelas didukung oleh lembaga keuangan yang mana.3. Strategi penerapan ada yang melakukannya secara berhati-hati melaluiskema uji coba, seperti kalangan perguruan tinggi (ITB, UI) atau pihakDepartemen Pertanian yang melakukan uji coba penerapan smart carduntuk pendistribusian pupuk.4. Belum ada upaya sistematis untuk merangkum kerangka kerja(framework) kebijakan penerapan smart card yang dapat dijadikandasar dan panduan bagi penerapan smart card di berbagai tempat daninstitusi. Hal ini tidak lepas dari baru dibangunnya kelembagaan dipemerintah yang menangani masalah TIK di Indonesia, yaituDepartemen Komunikasi dan Informatika, yang baru saja dibentuk danmasih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan dalammempersiapkan berbagai fondasi TIK di Indonesia.5. Pembelajaran dari negara lain (negara tetangga) masih belum terlaluoptimal dimanfaatkan untuk mengembangkan secara mandiri konsepatau rancangan pengembangan sistem smart card pada areapenerapan yang diinginkan. Tampaknya penerapan di Indonesia masihcenderung meng-copy model penerapan yang sudah sukses berjalandi negara lain, dan belum disediakan cukup waktu maupun skemauntuk menerapkan model uji coba sebelum penerapan yangsesungguhnya diterapkan secara luas.6. Upaya penerapan smart card yang digerakkan oleh pemerintah masihtampak terbatas pada area tertentu atau komunitas tertutup (dengan
  58. 58. 49contoh Pemkab Jembrana, atau KPE dari BKN). Sedangkan kebijakanyang menyangkut pengguna yang lebih luas seperti kartu kendali BBM(menyangkut pengguna kendaraan di Indonesia yang mencapai jutaanunit) atau jalan tol belum sampai pada tahapan untukdiimplementasikan, dan masih mengundang kontroversi masalahkesiapan ataupun masalah non-teknis yang menyelimutinya, sepertikartu kendali BBM.7. Beberapa topik yang memerlukan pembahasan dalam rangkapenyusunan kerangka kerja kebijakan penerapan smart card adalahsebagai berikut. Biaya penerapan smart card sedapat mungkin tidak dibebankan kepengguna akhir Interoperabilitas antar berbagai kartu untuk menjamin kepastiankemampuan multifungsi dari smart card Otoritas penerbit kartu perlu memiliki sistem pengelolaan kartuyang handalSehingga dalam beberapa kasus, pada akhirnya perlu melibatkanpihak lembaga keuangan (perbankan).
  59. 59. 502. Riset Smart Card oleh TELKOMPenggunaan smart card di lingkungan Telkom dimulai pada tahun 1994(sudah lebih dari sebelas tahun yang lalu), ketika Telkom meluncurkanlayanan Telepon Umum Kartu Chip. Pada saat itu smart card yang digunakanadalah smart card memori dengan security logic.Smart card tersebut menyimpan sejumlah unit pulsa didalam memorinyaselain data lainnya seperti authentication key, serial number, card issuer dandata lainnya. Dengan membawa kartu telpon ini pelanggan dapat melakukanpercakapan via telepon umum smart. Sebelum melakukan percakapan, kartusmart card akan diotentikasi terlebih dahulu oleh SAM (secure accessmodule) yang berada didalam CCU (cardphone connection unit), disinilahdilakukan active dan pasif authentication. Random number akan dikirimkanoleh SAM kepada smart card untuk perhitungan digital signature edancertificate-nya.Bilamana sukses maka proses komunikasi dilanjutkan dengan menekanB number. Sampai dengan penggelarannya sudah diterbitkan lebih dari 5 jutakartu telepon umum chip, dimana proses pembuatan card image file-nya(CIF) sebagai data yang siap di-encode kedalam kartu telpon chip dilakukandi TELKOM R & D.Layanan lainnya adalah penggunaan smart card sebagai SIM Card GSMyang dimulai Telkom malalui anak perusahaannya Telkomsel pada tahun1995. SIM Card GSM berfungsi sebagai identifikasi pelanggan, yang sudahakan aktif ketika power on handset karena akan dilakukan proses authentikasiaktif dengan HLR (home location registry) untuk pembukaan channelkomunikasi. Ketika network GSM mengetahui adanya pelanggan yangmengaktifkan handphone-nya, maka random number akan dikirimkan untukselanjutnya dihasilkan nilai SRES dan Kc dari algoritma yang dimiliki oleh SIMCard. Nilai ini yang kemudian akan dibandingkan dengan hasil perhitungannetwork GSM.

×