LAPORAN AKHIRSTUDI EFEKTIVITAS DISEMINASI INFORMASIPENGURANGAN RESIKO BENCANADI DAERAH RAWAN BENCANAPUSLITBANG APTEL SKDIB...
iTim Personil PenelitianEFEKTIVITAS DISEMINASI INFORMASIPENGURANGAN RESIKO BENCANADI DERAH RAWAN BENCANAPengarah : Kepala ...
iiAnwarFitri WidyaningsihSekretariat : Mohan Rifqo VirhaniSri Ngarep ManaluNoviyana MaulidyaJakarta, November 2009Kapuslit...
iiiKATA SAMBUTANBencana alam yang terjadi di Indonesia merupakan peristiwa nasional yangbanyak mendapatkan perhatian masya...
ivkeberhasilan atau tidaknya “diseminasi informasi pengurangan resiko bencana didaerah rawan bencana”. Tetapi karena adany...
vKATA PENGANTARDalam kurun waktu lima tahun terakhir ini secara beruntun berbagai wilayah diIndonesia dilanda berbagai jen...
viDAFTAR ISITIM PERSONIL PENELITIAN..................................................................................... i...
viiBAB IV P E N U T U P..................................................................................... 1114.1 Kesimp...
viiiABSTRAKTingginya intensitas bencana alam telah membuka pola pandang danpemahaman masyarakat terhadap kerentaan kondisi...
11.BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangTingginya intensitas bencana alam dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhirtelah memb...
2berapi aktif di dunia. Secara realitas dari beberapa kali terjadi bencana alam telahbanyak menelan korban. Gempa tektonik...
3budaya lokal sendiri. Maka ketika ada diseminasi informasi pengurangan resikobencana perlu penyesuaian dengan tata nilai ...
4kepanikan warga masyarakat. Kepanikan itu terjadi karena mereka tidak memilikidasar pengetahuan tentang bagaimana mereka ...
5bencana itu terjadi. Mereka hanya terfokus pada pekerjaan rutin sehari hari.Pemahaman terhadap informasi pengurangan resi...
6pengurangan resiko bencana yang disampaikan oleh diseminaor, dan melalui mediamassa. Tetapi hasilnya masih belum banyak d...
71.4 Tinjauan PustakaKajian ilmiah baik berupa penelitian maupun kertas kerja yang melakukanpembahasan masalah kebencanaan...
8tempat tinggal akibat gempa, sehingga fungsinya melakukan diseminasi informasikepada masyarakat Kabupaten Bantul menjadi ...
9penduduk(masyarakat) mempunyai pemahaman/ pengetahuan tentang pelestarianlingkungan hidup disekitar mereka. Demikian juga...
10melakukan kajian dari sisi yang berbeda agar bisa ikut memberikan konstribusi untukmasalah kebencanaan yang sering melan...
11Penerima pesan dalam konteks penelitian ini adalah komunitas masyarakat didaerah rawan bencana yang menjadi obyek peneli...
12(4). Model komunikasi yang dikembangkan Wilbur Schramm (1973) lebihmenekankan pada peran pengalaman dalam proses komunik...
13Efektivitas KomunikatorDalam ethos komunikator menurut pandangan Aristoteles (1954), sepertidikutip Hamidi (2007: 71) me...
14komunikan akan merasa memperoleh sesuatu yang bermanfaat pada dirinya. Pesankomunikasi yang ditransformasikan memiliki n...
15pelaksanaan program penyampaian pesan komunikasi (diseminasi informasi) yangdimaksud tidak sampai bertolak belakang atau...
16kerangka konsep seperti itu empat variabel yang digunakan untuk menganalisispenelitian ini, jika divisualisasikan akan t...
17Pemahaman pengetahuan tentang apa yang dibicarakan, atau dilihatnyaakan mempengaruhi pesan komunikasi yang disampaikan. ...
18memperjelas batasan-batasan yang diukur dalam sebuah variabel penelitian.Dengan melihat operasionalisasi konsep peneliti...
19(5) Variabel: Efektivitas diseminasi informasi pengurangan resiko bencanadioperasionalkan dalam bentuk pengukuran dari h...
20Group Discussion (FGD) berupa laporan deskriptif kualitatif tentang (pendapat,pengalaman, pengetahuan, penerapan pola ko...
21kebutuhan penelitian. Responden yang dipilih adalah orang yang ”dianggap memilikipengetahuan” terhadap masalah penanggul...
222.BAB IIGAMBARAN UMUM KEBIJAKAN,JENIS BENCANA ALAM, DAN LOKASI PENELITIANDilihat dari sudut pandang meningkatnya bencana...
23kemungkinan terjadinya bancana alam perlu ditumbuh kembangkan.Tindakanpencegahan akan lebih baik daripada menjadi korban...
24Antara bencana alam dan bencana sosial keduanya memperlihatkan baiksecara langsung maupun tidak langsung saling kait men...
25sosial dan budaya lokal maupun jenis bencana alam di masing masing lokasipenelitian.2.1 Ragam dan Jenis Bencana Alam*Ben...
26hampir 90% sarana dan prasarana yang ada kawasan pantai pesisir Aceh(Kompas,27/12/2004).Sementara di wilayah Kabupaten P...
27membawa kompas, tetapi membaca bintang di langit untuk menentukan arah,kemana perahu mereka harus dikemudikan untuk pula...
28Secara umum pihak pemerintah juga telah mengeluarkan himbauan melaluiDepkominfo bersama media massa. Sebelum Tsunami mas...
29warga masyarakat jika sewaktu waktu terjadi bencana gelombang tsunami yangsesungguhnya. Uji petik semacam ini untuk mene...
30Banyaknya gunung berapi yang masih aktif (Krakatau,Merapi, Kelud, Semerudi Jawa, G.Agung di Bali, G.Tambora di Sulawesi)...
31pengungsian bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana kadang kalamengalami hambatan, meski bencana mengancam ...
32menyelamatkan diri, tetapi juga terhadap rehabilitasi pemukiman. Dalam konteksrehabilitasi pemukiman, desain rumah di bu...
33Aktivitas DAS yang menyebabkan perubahan tata ruang misalnya, perubahan tatalahan, di daerah hulu yang akan berdampak pa...
34tetapi masih banyak sungai di pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi kondisinya tidakjauh berbeda. Fenomena ini memberikan ...
35mendapatkan kayu, kaleng, bermacam macam plastik dan sejenisnya. Barang-barang itu menjadi mata pencaharian mereka sehar...
362.2 Lokasi Penelitian*Topografi Lokasi Penelitian di Manado Sulawesi Utara12: KelurahanKomo Luar Kecamatan Wenang Kabupa...
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Studi diseminasi bencana 2009
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Studi diseminasi bencana 2009

1,978 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,978
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
50
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Studi diseminasi bencana 2009

  1. 1. LAPORAN AKHIRSTUDI EFEKTIVITAS DISEMINASI INFORMASIPENGURANGAN RESIKO BENCANADI DAERAH RAWAN BENCANAPUSLITBANG APTEL SKDIBADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SDMDEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKATAHUN 2009
  2. 2. iTim Personil PenelitianEFEKTIVITAS DISEMINASI INFORMASIPENGURANGAN RESIKO BENCANADI DERAH RAWAN BENCANAPengarah : Kepala Badan Penelitian Dan PengembanganSumber Daya Manusia DepkominfoPenanggung Jawab : Kapuslitbang Aptel SKDI, Balitbang SDMDepkominfoKoordinator : Budi SantosoPeneliti Utama : S. ArifiantoAnggota Peneliti : Kanti Waluyo IstidjabMoedjionoParwokoDjoko WaluyoHeru Pudjo BuntoroParaden L. SidaurukSumarsonoDede DrajatAtjih RatnawatiGantyo WitarsoAsisten Peneliti : Agus HaryonoBudi SantosoRiyadi FitriYan Andriariza ASAhmad Budi SetiawanDewi Hernikawati
  3. 3. iiAnwarFitri WidyaningsihSekretariat : Mohan Rifqo VirhaniSri Ngarep ManaluNoviyana MaulidyaJakarta, November 2009Kapuslitbang Aptel, SKDIAkmam Amir
  4. 4. iiiKATA SAMBUTANBencana alam yang terjadi di Indonesia merupakan peristiwa nasional yangbanyak mendapatkan perhatian masyarakat maupun media massa. Tingginyaintensitas bencana alam telah membuka paradigma baru dan pemahamanmasyarakat terhadap kondisi alam dan lingkungannya. Jika dalam kurun waktusebelumnya tidak disadari bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia hidup diwilayah rawan bencana, namun sejalan dengan munculnya berbagai bencana alamdan gencarnya informasi, pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadappermasalahan bencana alam mulai muncul. Berkembangnya pemahaman dankesadaran dari masyarakat di daerah rawan bencana, terhadap kondisi wilayahnyamenjadi isu yang sangat penting. Maka dari itu diperlukan pemantauan terhadappola-pola penyikapan masyarakat di daerah rawan bencana. Pola yang dimaksudadalah pengenalan dan pemahaman terhadap fenomena bencana alam, sampaipada sikap dan perilaku masyarakat terhadap bencana alam itu sendiri. Dengandemikian “diseminasi informasi pengurangan resiko bencana” merupakan kebijakanyang strategis. Meski telah dianggap penting sampai sejauh ini upaya untukmemahami karakteristik masyarakat terkait dengan kejadian bencana alam masihrelatif rendah, padahal potensi bencana itu berada di Indonesia karena Indonesiamerupakan kawasan kepulauan yang terletak di daerah lingkaran api (ring of fire).Semua bencana, baik yang diakibatkan alam atau kesalahan manusia itu telahmengakibatkan ribuan manusia hilang atau meninggal dunia. Banyaknya korbandisebabkan minimnya pengetahuan masyarakat tentang bencana. Minimnyapengetahuan masyarakat terhadap informasi bencana itu disebabkan banyak faktor,misalnya faktor pendidikan, lingkungan, sosial, budaya, ekonomi dan lainnya.Demikian juga masih terdapatnya disinformasi kebencanaan dan perbedaan budayapada komunitas masyarakat lokal di daerah rawan bencana.Sehubungan dengan hal tersebut, Pusat Litbang APTEL & SKDI, telahmelaksanakan penelitian “Efektivitas Diseminasi Informasi Pengurangan ResikoBencana di Daerah Rawan Bencana” pada tahun 2009. Hasil penelitian ini akanmemberikan informasi baru berupa hasil kajian tentang pola penyikapan masyarakatterhadap bencana alam. Persoalan tersebut dianggap penting karena menjadi kunci
  5. 5. ivkeberhasilan atau tidaknya “diseminasi informasi pengurangan resiko bencana didaerah rawan bencana”. Tetapi karena adanya keterbatasan pengetahuanmasyarakat, sistem itu bisa juga diterapkan dengan pendekatan budaya lokalmereka sendiri, maka peran budaya lokal setempat sangat penting termasukbagaimana mereka berkomunikasi dengan warganya, ketika akan dan sedangterjadi bencana alam. Evaluasi terhadap “diseminasi informasi pengurangan resikobencana” di daerah rawan bencana dari hasil penelitian ini diharapkan menjadiinformasi penting bagi semua pihak dan para pemangku kebijakan yang bertautandengan kebencanaan. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yangtelah memberikan konstribusinya dalam penelitian ini.Semoga informasi hasil penelitian ini ada guna dan manfaatnya, baik untukkepentingan pemerintah, masyarakat dan dunia ilmu pengetahuan.Jakarta, November 2009Kepala Badan Litbang SDMCahyana Ahmadjayadi
  6. 6. vKATA PENGANTARDalam kurun waktu lima tahun terakhir ini secara beruntun berbagai wilayah diIndonesia dilanda berbagai jenis bencana alam. Baik bencana yang disebabkan alam,maupun bencana yang disebabkan oleh ulah manusia sama-sama menelan banyakkorban. Kini masyarakat mulai berpikir bahwa Indonesia secara geografis beradadiwilayah rawan bencana alam. Sayangnya kesadaran itu muncul setelah bencana alammenalan banyak korban.Selama lima tahun terakhir sudah ribuan orang meninggal dan hilang akibatbencana alam. Demikian juga insfrastruktur, fasilitas umum, rumah tinggal dan lainnyamenjadi korban keganasan alam tersebut. Budaya masyarakat Indonesia akan bereaksi,jika sudah ada aksi.Dalam konteks ini mereka sadar ketika sudah banyak korban berjatuhan.Persoalan mendasar adalah bagaimana memberikan pemahaman agar masyarakat didaerah rawan bencana mempunyai pengetahuan tentang kebencanaan.Sebenarnya untuk memahamkan masyarakat terhadap masalah kebencanaansudah di lakukan baik secara formal atau informal. Secara formal sudah sering di lakukanprogram diseminasi pengurangan resiko bencana oleh Pemerintah, atau lembaga lainyang berkompetan. Sedangkan secara nonformal juga dilakukan oleh komunitasmasyarakat lokal itu sendiri dengan pendekatan kearifan lokal di masing masing daerah.Tetapi program dan kegiatan yang bersangkutan belum pernah dilakukan evaluasi.Padahal kegiatan evaluasi semacam itu penting untuk mengetahui apakah diseminasiinformasi yang dilaksanakan selama ini efektif atau sebaliknya.Kajian penelitian yang disajikan ini untuk mengevaluasi permasalahan tersebut.Dengan demikian hasilnya diharapkan dapat memberikan masukan terhadap programdiseminasi kebencanaan di berbagai daerah rawan bencana. Semoga hasil rekomendasipenelitian ini menjadi bagian dari sumbangan pemikiran mencari solusi permasalahanbencana alam di Indonesia.Jakarta, Nopember 2009Kepala Puslitbang APTEL SKDIAkmam Amir
  7. 7. viDAFTAR ISITIM PERSONIL PENELITIAN..................................................................................... iKATA SAMBUTAN................................................................................................... iiiiiKATA PENGANTAR................................................................................................... vDAFTAR ISI ...............................................................................................................viABSTRAK .............................................................................................................viiviiiBAB I PENDAHULUAN............................................................................................. 11.1 Latar Belakang............................................................................................. 11.2 Permasalahan.............................................................................................. 51.3 Manfaat Penelitian ....................................................................................... 61.4 Tinjauan Pustaka ......................................................................................... 71.5 Kerangka Konsep ...................................................................................... 101.6 Operasionalisasi Konsep ........................................................................... 181.7 Metode Penelitian ...................................................................................... 19BAB II GAMBARAN UMUM KEBIJAKAN, JENIS BENCANA ALAM, DAN LOKASIPENELITIAN ............................................................................................................ 222.1 Ragam dan Jenis Bencana Alam............................................................... 252.2 Lokasi Penelitian........................................................................................ 36BAB III HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN...................................................... 943.1 Karakteristik Responden............................................................................ 943.2 Pesan Komunikasi Yang Menimbulkan Kebutuhkan.................................. 953.3 Daya Tarik Pesan Komunikasi................................................................... 963.4 Simbol-Simbol Komunikasi Yang Dipahami............................................... 973.5 Cara Memperoleh Pesan Komunikasi........................................................ 983.6 Interpretasi Hasil Penelitian ....................................................................... 993.7 Peran Media Massa ................................................................................. 1023.8 Rendahnya Tingkat Kesadaran Masyarakat ............................................ 107
  8. 8. viiBAB IV P E N U T U P..................................................................................... 1114.1 Kesimpulan .............................................................................................. 1114.2 Rekomendasi........................................................................................... 112Daftar Pustaka ....................................................................................................... 115LAMPIRAN............................................................................................................. 117
  9. 9. viiiABSTRAKTingginya intensitas bencana alam telah membuka pola pandang danpemahaman masyarakat terhadap kerentaan kondisi wilayah penghunian selama ini.Sebagian besar masyarakat di negeri ini belum menyadari sepenuhnya jikasebenarnya kita tinggal di kawasan rawan bencana alam. Tetapi dengan gencarnyainformasi tentang kebencanaan yang telah menelan banyak korban, kesadaranterhadap persoalan bencana alam mulai muncul dipermukaan. Maka dari itudiperlukan pola-pola penyikapan dari masyarakat di daerah rawan bencana.pola itumenyangkut pengenalan terhadap pemahaman fenomena bencana alam, sertabagaimana perilaku masyarakat terhadap bencana alam itu sen`diri.Penelitian ini dilaksanakan untuk menjawab permasalahan : (a). Apakahdiseminasi informasi pengurangan resiko bencana berjalan efektif dan masihmenjadi kebutuhan masyarakat di daerah rawan bencana?. (b). Apakah diseminasiinformasi pengurangan resiko bencana masih mempunyai daya tarik bagimasyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana?. (c).Apakah simbol-simbolkomunikasi dalam diseminasi informasi pengurangan resiko bencana dapatdipahami oleh masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana? (d). Bagaimanamasyarakat di daerah rawan bencana memperoleh informasi tentang permasalahanbencana alam di daerahnya?Kerangka analisis penelitian ini menggunakan teori efektivitas pesankomunikasi Wilbur Shramm (1973), dimana komunikasi akan berjalan efektif jikamenimbulkan kebutuhan, mempunyai daya tarik, simbol-simbol pesan komuni kasimudah dipahami, dan terdapat kemudahan dalam memperoleh informasi (pesankomunikasi). Dari kempat komsep tersebut kemudian diturunkan menjadi variabeluntuk mengukur tingkat efektivitas “diseminasi informasi pengurangan resikobencana di daerah rawan bencana”.Penelitian ini menggunakan metode trianggulasi(penggabungan metode kuantitatif dan kualitatif). Data penelitian dikumpulkanmenggunakan teknik, observasi, wawancara mendalam, FGD, dan penyebarankuesioner kepada responden terpilih di lokasi penelitian.Metode ini dipilih karenapenelitian ini mengandung permasalahan yang bersifat komplek, dan terdapatkekhususan, sehingga tidak bisa dipecahkan hanya dengan menggunakan metodekuantitatif saja.Hasil penelitian menunjukkan bahwa,: (1).Diseminasi pengurangan resikobencana masih dibutuhkan oleh komunitas masyarakat di daerah rawan bencana.(2).Diseminasi pengurangan resiko bencana masih memiliki daya tarik, tetapi dalamimplementasinya masih terjadi inkonsistensi.(3).Simbol-simbol diseminasipengurangan resiko bencana (formal)bisa dipahami dengan baik oleh masya rakat didaerah rawan bencana. Demikian juga tanda-tanda alam di komunitas lokal. (4).Media televisi paling banyak digunakan untuk mencari dan menyalur kan informasitentang bencana alam. Kemudian media interpersonal dan media tradisional**
  10. 10. 11.BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangTingginya intensitas bencana alam dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhirtelah membuka pola pandang dan pemahaman masyarakat Indonesia terhadapkerentanan kondisi wilayah alam yang ditempatinya selama ini. Jika dalam kurunwaktu sebelumnya tidak banyak yang membayangkan dan menyadari bahwa kita,masyarakat di negeri ini hidup di wilayah rawan bencana. Tetapi kini sejalan denganmunculnya berbagai bencana dan gencarnya informasi pemahaman dan kesadaranmasyarakat terhadap persoalan bencana mulai muncul dipermukaan.Berkembangnya pemahaman dan kesadaran dari masyarakat di daerah rawanbencana, terhadap kondisi wilayahnya menjadi sangat penting. Tetapi akan tidakkondusif jika berkembangnya tingkat kesadaran masyarakat itu karena akibatkejadian bencana alam. Idealnya bangkitnya pemahaman dan kesadaran terhadapbencana diposisikan sebagai suatu “sebab” dibanding sebagai suatu “akibat”(Bastian, 2009). Maka dari itu diperlukan pemantauan terhadap pola-polapenyikapan masyarakat. Pola yang dimaksud adalah pengenalan dan pemahamanterhadap fenomena bencana alam, sampai pada sikap dan perilaku masyarakatterhadap bencana itu sendiri. Oleh sebab itu diseminasi informasi penguranganresiko bencana masih dianggap sebagai kebijakan yang sangat strategis. Meskidianggap strategis dan penting sampai sejauh ini upaya untuk memahamikarakteristik masyarakat terkait dengan kejadian bencana alam masih relatif rendah.Pada hal potensi bencana itu lebih dominan berada di Indonesia. Karena Indonesiamerupakan kawasan kepulauan yang rawan bencana alam.Dari data Direktorat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG)Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan ada 28 wilayahdi Indnesia yang dinyatakan rawan gempa dan tsnunami. Misalnya, Aceh,SumatraUtara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jateng dan Yogyakarta Selatan,Jatim Selatan, Bali, NTB, NTT, Sulut, Sulsel, Sulteng, Maluku, Biak, Yapen. Papuadan Kaltim (ACO, 25 Juni 2009). Disamping dikelilingi tiga lempeng tektonikdunia,Indonesia juga merupakan jalur cincin api pasifik, dan jalur rangkaian gunung
  11. 11. 2berapi aktif di dunia. Secara realitas dari beberapa kali terjadi bencana alam telahbanyak menelan korban. Gempa tektonik dan Tsunami,26-12-2004 berkekuatan 9SR di Aceh itu telah menelan korban, 150.000 orang meninggal dunia(Koran,Tempo,28/12/2004). Gempa tektonik tanggal 28-3-2005 yangmenghancurkan Pulau Nias, dengan korban meninggal sebanyak 1.300 orangmeninggal (voanews 30/5/2006). Gempa bumi 5,9 SR, dengan korban 5.400 orangmeninggal di Yogyakarta dan Jateng bagian Selatan tanggal 27-5-20061, dan gempabumi tanggal,17-7-2006 di pantai Pangandaran Jawa Barat dengan korban 500orang meninggal dunia (Pikiran Rakyat,19/7/2006). Banjir Bandang di Manado,Gorontalo, Mataram, dan Bali tahun 2007. Bencana jebolnya waduk Situ GintungBogor, 27-3-2009 merupakan bencana alam yang tidak bisa di hindari (tempoInteraktif,1/4/2009). Semua bencana alam, baik yang diakibatkan oleh alam ataukesalahan manusia telah banyak membawa korban ribuan manusia hilang ataumeninggal dunia. Banyaknya korban disebabkan karena ketidak tahuan masyarakatdi daerah rawan bencana terhadap prosedur penyelamatan diri ketika akan dansedang terjadi bencana. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap informasipengurangan resiko bencana di sebabkan banyak faktor. Misalnya rendahnyapendidikan formal, pengetahuan masyarakat pada bencana diasumsikan menjadifaktor yang dianggap paling dominan.Demikian juga masih adanya disinformasi kebencanaan di daerah rawanbencana dan perbedaan budaya lokal di masyarakat daerah rawan bencana.Persoalan disinformasi dan struktur sosial budaya masyarakat lokal seperti itumenjadi kunci keberhasilan atau tidaknya kebijakan diseminasi informasipengurangan resiko bencana di daerah rawan bencana. Tetapi karena keterbatasanpengetahuan yang mereka miliki, sistem itu bisa diterapkan dengan pendekatan1Pukul 05,58 pagi itu bumi daratan di Yogyakarta sontak gonjang-ganjing seakan tidak mau lagidipijak manusia. Bersamaan dengan itu bunyi gemuruh sekitar satu menit mengatasi segala macambunyi dan merasuk hingga perut kita. Serta merta Yogya jadi luar biasa,nyaris separo rumah di Yogyahilang dari pandangan mata. Orang orang kebingungan dan tidak tahu apa yang sedang terjadi, danapa yang harus mereka lakukan sebalum menjerit jerit kepanikan.Listrik padam,telepun putus,suararadio dan televisi tidak terdengar lagi,kepanikan terus berlangsung hingga pukul 08 pagi dengan isutsunami, orang orang lari meninggalkan semua hartanya di rumah, bahkan ada sebagian hartapenduduk yang dicuri perampok yang membawa mobil. Mobil,motor, hp berserakan di jalanan. Mayatmayat bergelimpangan tertimbun reruntuhan tembok dan sejumlah bangunan lainnya. Masyarakatsemua panik tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan, korban meninggal diperkirakan mencapai5.400-an (Kedaulatan Rakyat,28 Mei 2006).
  12. 12. 3budaya lokal sendiri. Maka ketika ada diseminasi informasi pengurangan resikobencana perlu penyesuaian dengan tata nilai sosial dan budaya lokal setempat.Tatanilai sosial dan budaya lokal itulah yang mereka jadikan pijakan untuk bertindakdalam berbagai hal. Termasuk bagaimana mereka berkomunikasi dengan warganya,ketika akan dan sedang terjadi bencana alam. Program desiminasi penguranganresiko bencana ketika tidak seiring dengan kondisi sosial budaya di lingkunganmasyarakat di daerah rawan bencana akan mengalami masalah dalamimlementasinya. Secara implementatif sistem peringatan dini sebagai upaya untukmengurangi resiko bencana di daerah rawan bencana telah di diseminasikanpemerintah (Depkominfo). Kebijakan ini dilaksanakan untuk mengurangi resikobencana (disaster) di daerah rawan bencana. Dengan sistem peringatan dini, adabencana yang bisa direduksi, tetapi juga ada bencana yang tidak bisa direduksi.Bencana yang bisa direduksi memiliki ciri khas terdapatnya tenggang waktu darideteksi bahaya untuk melakukan evakuasi, contohnya bencana tsunami, banjir,kebakaran hutan, wabah penyakit, tanah longsor dan sebagainya. Bencana yangtidak bisa direduksi bercirikhas, tidak adanya selang waktu dari deteksi bahayauntuk evakuasi penduduk.Contohnya gempa bumi volkanik, dan tektonik secara langsung. Disampingitu sistem informasi peringatan dini dapat dibagi menjadi dua tindakan yakni:(1) Tindakan preventif, (2) Tindakan operasional diseminasi informasi bencana.Tindakan preventif lebih mengarah pada sosialisasi, pendidikan, avokasi antisipasibencana di masyarakat. Tindakan operasional diseminasi informasi bencana,menuntut terciptanya diseminasi informasi peringatan dini (DIPD). Layanan mediacenter (tindakan evakuasi masyarakat, penanggulangan pengungsi dan rehabilitasi).Ketika terjadi bencana, penyampaian informasi yang tepat kepada masyarakat didaerah rawan bencana menjadi penting. Hal lain yang sama pentingnya adalahpengambilan keputusan untuk menyatakan bahaya kepada masyarakat di daerahrawan bencana. Kondisi-kondisi seperti itu perlu dilakukan evaluasi untukmengetahui efekfif tidaknya sebuah diseminasi informasi pengurangan resikobencana di daerah rawan bencana. Dengan penelitian evaluasi di daerah rawanbencana, potensi yang menjadi rawan permasalahan kebencanaan bisa di deteksisejak dini. Data seperti itu menjadi penting untuk memetakan kondisi masyarakatyang tinggal di daerah rawan bencana. Ketika terjadi bencana yang muncul adalah
  13. 13. 4kepanikan warga masyarakat. Kepanikan itu terjadi karena mereka tidak memilikidasar pengetahuan tentang bagaimana mereka harus bertindak jika terjadi bencanaalam. Semua tindakan tersebut perlu diawali dengan melihat gejala yang munculsebelum terjadi bencana. Gejala itu sendiri berbeda beda ragamnya, tergantung darijenis bencana apa yang terjadi. Disamping itu masing-masing jenis bencanamempunyai keragaman penanggulangannya. Maka dari itu bagi warga masyarakatdi daerah rawan mencana, perlu sejak dini mengenali jenis bencanadilingkungannya. Pengetahuan itulah yang harus mereka pelajari, dan terapkan.Dengan demikian diseminasi informasi pengurangan resiko bencana bagimasyarakat di daerah rawan bencana bisa diketahui kondisinya. Akhirnya program“diseminasi informasi pengurangan resiko bencana di daerah rawan bencana”menjadi salah satu program rutin pemerintah. Program ini dilaksanakan secara lintassektoral, termasuk keterlibatan media penyiaran. Misalnya informasi penguranganresiko bencana, ataupun sistem peringatan dini tentang bencana di wajibkan bagidunia penyiaran di Indonesia (ps,17 PP No:50/2005 tentang LPS). Sebagai tindaklanjut kewajiban penyiaran bencana alam bagi media penyiaran tersebut dituangkandalam Permen Kominfo No:20/2006/tentang Peringatan Dini Tsunami atau Bencanalainnya melalui lembaga penyiaran di seluruh Indonesia.Jasa penyiaran radio dan televisi yang diselenggarakan oleh LPS,LPP,LPB di seluruh Indonesia wajib menyiarkan informasi potensiterjadinya bencana sebagai “stop press”.Informasi gempa bumi yang berpotensi menimbulkan tsunami ataubencana lain yang mengancam jiwa manusia yang ditetapkan olehBMKG yang disampaikan secara khusus ke lembaga penyiaran untukdisiarkan.Permen Kominfo No: 20/2006 menjadi dasar untuk dilaksanakan diseminasiinformasi pengurangan resiko bencana melalui media penyiaran dan media lainnyabersama institusi lainnya.Karena lembaga penyiaran di Indonesia diwajikanmenayangkan atau menyiarkan “peringatan dini sesingkat-singkatnya tanpa ditundasejak informasi diterima dari BMKG sebagai “stop press”. Artinya semua acara radiodan televisi yang sedang berlangsung harus dihentikan sementara untukmemberikan perhatian kepda masyarakat, khususnya di daerah rawan bencana.Karena selama ini yang sering terjadi perhatian masyarakat terhadap suatubencana, ketika bencana itu telah terjadi. Bukan penanggulangannya sebelum
  14. 14. 5bencana itu terjadi. Mereka hanya terfokus pada pekerjaan rutin sehari hari.Pemahaman terhadap informasi pengurangan resiko bencana relatif rendah (baikuntuk bencana alam atau yang di akibatkan ulah manusia). Kesadaran masyarakatdi daerah rawan bencana terhadap kelestarian alam dan lingkungan masih rendah.Pada hal bencana alam (banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan) terkaitdengan masalah lingkungan. Jenis bencana tersebut cenderung disebabkan karenaulah manusia yang tidak peka terhadap kelestarian lingkungannya. Banyaknyabencana tanah longsor dan banjir bandang di-berbagai daerah di Indonesia yangtelah banyak menelan korban, merupakan potret buram pengelolaan lingkunganhidup yang tidak kondusif dan seimbang. Dalam konteks penelitian ini, kesadaranmasyarakat untuk mengurangi resiko bencana di daerah rawan bencana mempunyaiarti yang sangat penting. Mereka selain menjadi subyek juga sekaligus menjadiobyek upaya pengurangan resiko bencana. Maka dari itu program “diseminasiinformasi pengurangan resiko bencana di daerah rawan bencana tidak bisa lepasdari manajemen lingkungan yang berbasis sosial dan budaya lokal di masyarakat.Bahkan tidak salah jika program ini berupaya mengadopsi kearifan lokal (localwisdom), dan pengetahuan tradisional (traditional of knowledge) yang berkembangdi komunitas masyarakat. Kedua aspek ini diasumsikan menjadi faktor berpengaruhdalam “diseminasi informasi pengurangan resiko bencana di daerah rawan bencana”di Indonesia. Dari pemaparan latar belakang permasalahan tersebut, perludievaluasi bagaimana ”efektifitas” diseminasi informasi pengurangan resiko bencanadi daerah rawan bencana yang telah berjalan selama ini, melalui suatu kajianpenelitian.1.2 PermasalahanBerangkat dari latar belakang penelitian ini, bahwa Indonesia terdiri darikepulauan yang di batasi oleh tiga lempeng besar cenderung mengakibatkanterjadinya rawan gempa tektonik. Sementara banyaknya gunung berapi yang masihaktif berpotensi terhadap kerawanan terjadinya gempa volkanik. Serta permasalahanlain tentang ekologi yang mengakibatkan terjadinya bencana tanah longsor, banjirbandang, dan kebakaran hutan. Pada sisi yang lain minimnya pengetahuanmasyarakat di daerah rawan bencana, terhadap potensi bencana alam yangmengancamnya masih menjadi persoalan tersendiri. Sudah banyak informasi
  15. 15. 6pengurangan resiko bencana yang disampaikan oleh diseminaor, dan melalui mediamassa. Tetapi hasilnya masih belum banyak diketahui, apakah diseminasi tersebutmencapai sasaran atau justru sebaliknya. Pada saat yang bersamaan pemerintahtelah mengambil langkah kebijakan berupa program diseminasi informasipengurangan resiko bencana bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawanbencana. Program tersebut telah di laksanakan oleh pemerintah dan lembaga lainyang berkompeten. Tetapi hasilnya seperti apa masih perlu dilakukan kajianevaluasi, sehingga memunculkan permasalahan yang perlu di kaji dalam penelitianini. Permasalahan yang dianggap penting untuk dikaji dalam penelitian ini adalah,”bagaimana efektivitas diseminasi informasi pengurangan resiko bencana di daerahrawan bencana”.Permasalahan tersebut masih bersifat umum sehingga perlu di rumuskansecara lebih spesifik lagi. Perumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :(1) Apakah ”diseminasi informasi pengurangan resiko bencana berjalan efektif danmenjadi kebutuhan” masyarakat di daerah rawan bencana? (2) Apakah ”diseminasiinformasi pengurangan resiko bencana mempunyai daya tarik” bagi masyarakatyang tinggal di daerah rawan bencana? (3) Apakah simbol-simbol komunikasi dalamprogram (diseminasi informasi pengurangan resiko bencana) dapat dipahami olehmasyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana? (4) Bagaimana masyarakat didaerah rawan bencana memperoleh informasi pengurangan resiko bencana?1.3 Manfaat PenelitianHasil penelitian ini secara substansi di harapkan bisa di jadikan bahanmasukan untuk penyusunan tentang kebijakan “diseminasi informasi penguranganresiko bencana di daerah rawan bencana yang dilakukan pemerintah, khususnyabagi (Departemen Komunikasi dan Informatika), maupun oleh lembaga lain yangberkompeten dibidang kebencanaan. Sedangkan secara akademik dari kajianpenelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadapperkembangan ilmu komunikasi, khususnya komunikasi yang bertautan denganpermasalahan pengurangan resiko bencana yang telah berkembang selama ini.Secara internal memjadikan tantangan baru bagi peneliti, untuk mencari metodaatau pola diseminasi informasi dan sosialisasi yang tepat bagi program-programkebijakan pemerintahan lainnya.
  16. 16. 71.4 Tinjauan PustakaKajian ilmiah baik berupa penelitian maupun kertas kerja yang melakukanpembahasan masalah kebencanaan dan sejenisnya semacam ini sudah seringdilakukan oleh berbagai pihak. Semakin banyak kajian tentang mitigasikebencanaan semakin banyak pula konstribusi pengetahuan dan pemahamanterhadap masalah tersebut. Kajian tentang “Sistem Peringatan Dini (EWS) danPenanggulangan Bencana Alam” pernah dilakukan Puslitbang Aptel SKDI (BalitbangSDM, Kominfo, 2008:87-90). Hasil kajian penelitian tersebut menunjukkan bahwa,Bakornas PB merupakan peran kunci efektivitas masalah penanggulangan bencanadi Indonesia. Sedangkan alat pengeras suara di surau-surau dan masjidberdasarkan hasil kajian tersebut menjadi alat komunikasi tradisional yang palingdominan untuk peringatan dini tentang bencana alam yang terjadi di masyarakat.Kajian yang dilakukan Eniarti Djohan (2007: 6) Peneliti dari LIPI Jakartadengan judul: “Mengapa Kajian Bencana” menyimpulkan jika peristiwa bencanaalam mampu mengubah kehidupan manusia dari yang mapan menjadi tidakmapan.Perbedaan status sosial itu menurut kesimpulan penelitian ini ”berpengaruhterhadap akses informasi tentang kebencanaan”di masyarakat. PenelitianP.M.Laksono (2007 : 41) dari Pusat Studi Asia Fasifik UGM Yogyakarta yangbertajuk,”Visualisasi Gempa Yogya 27 Mei 2006” dengan pendekatan visualisasimedia cetak (surat kabar) mendiskripsikan bahwa,”betapa pentingya fungsi mediauntuk penyebaran informasi bencana gempa bumi (2006) di Yogyakarta”. Dalampenelitiannya Laksono mevisualisasikan pelayatan masal diseluruh Yogyakarta yangsedang berduka. Siapapun yang masuk Yogyakarta ketika itu akan menyaksikansesak kedukaan yang se-olah olah tidak mau cepat berlalu seperti biasanyakedukaan pada masyarakat Jawa. Diskripsi yang disajikan secara naratif itusekaligus memberikan makna bahwa “media massa” memiliki kelebihan tertentuuntuk melakukan diseminasi informasi kepada khalayak masyarakat di daerahbencana di Yogyakarta. Kajian penelitian Barbara Hatley (2007:54) dari University ofTasmania dengan judul penelitiannya “Theatre and Local Cultural Revital After The2006 Yogyakarta Earthquake” melihat bahwa dampak gempa Yogyakarta 2006terhadap para pelaku seni pertunjukan (media tradisional) di Bantul. Karena banyakpara seniman yang dianggap sebagai elemen kunci diseminasi informasikebencanaan lokal untuk membangkitkan kembali masyarakat Bantul kehilangan
  17. 17. 8tempat tinggal akibat gempa, sehingga fungsinya melakukan diseminasi informasikepada masyarakat Kabupaten Bantul menjadi terganggu. Dalam kajian tersebutBarbara (2007) menggambarkan proses bagaimana pertunjukan seni budaya (mediatradisional) mendukung semangat komunitas, menganalisis dan memperlihatkanberbagai bentuk budaya lokal selama terjadi krisis sosial akibat bencana alam.Meski dalam akhir kesimpulan penelitiannya Barbara justru tampak kurang percayadiri dan mempertanyakan “apakah hal tersebut bisa berlanjut ketika kondisi sudahnormal kembali dalam bentuk ”relentless change” dan pengaruh media global, yangmasih harus diperhatikan.Penelitian Nursyirwan Effendi (2007:93) dari Universitas Andalas, tentang“Bencana : Pengalaman dan Nilai Budaya Orang Minangkabau” lebih melihatbencana alam dari perspektif budaya. Bencana alam merupakan rutinitasmasyarakat lokal Indonesia. Bahkan potensi kerusakan akibat bencana alammenurut hasil penelitian ini “dipahami sebagai suatu peristiwa alam yang tidak bisadihindari. Dimana dalam konteks tersebut rusaknya lingkungan dan sistem sosialakibat bencana, sama pentingnya dengan mencari pengetahuan tentang penyebabbencana alam itu sendiri. Tingkat kesadaran sosial terhadap bencana alam terlihatjelas pada tingkatan masyarakat lokal, dimana penglaman bencana bagi merekaakan memberikan ”efektivitas penciptaan pengetahuan lokal tentang bencana danalam”. Bencana yang dialami masyarakat lokal dapat membangun pemahamantentang realitas secara lebih konprehensif. Beberapa pemahaman masyarakat lokalterhadap bencana itu diantaranya, (a) Bencana dilingkupi oleh gagasan tentangalam dan Tuhan, (b) Bencana dimaknai sebagai pelajaran sosial tentang eksistensimanusia ketika berhubungan dengan alam, (c) Bencana dialami sebagai kekuatanpembentuk baru (reproduksi) sosial dan budaya, karena didalamnya berlangsungpengalaman sosial dan nilai-nilai. Penelitian Mita Noveria (2007:116-117) penelitiLIPI Jakarta, yang bertajuk “Bencana Alam Dari Sisi Kependudukan:Penyabab danDampaknya” menyim pulkan bahwa, bencana alam tidak bisa terpisahkan darikonteks masyarakat. Karena masyarakat disamping menjadi korban sekaligusmenjadi pelaku bencana dan penyebab bencana, khususnya bencana banjir dantanah longsor. Perbedaannya jika bencana geologi tidak dapat diprediksikejadiannya, tetapi bencana akibat ulah manusia dapat diprediksi sekaligusdihindari. Bencana alam akibat ulah manusia dapat dihindari jika
  18. 18. 9penduduk(masyarakat) mempunyai pemahaman/ pengetahuan tentang pelestarianlingkungan hidup disekitar mereka. Demikian juga terhadap karakteristik jenisbencana alam disekitar mereka. Kesimpulan akhir peneliti lebih menekankan padaedukasi (diseminasi) terhadap masalah bencana dan lingkungan sebagai solusi dansarannya.Kajian Wijajanti M.Santoso (2007:138) peneliti LIPI Jakarta yang berjudul :Bencana Dari Perspektif Sosiologi Feminis” ini lebih bernuansa jender. Dalampaparannya Wijajanti melihat baik perspektif jender maupun bencana alam,merupakan sebuah elemen konstruksi sosial yang dapat dilihat dari bagaimanamasyarakat bereaksi, baik terhadap keberadaan kesetaraan jender maupunbencana itu sendiri. Dimana dalam penanganan sebuah bencana alam dapatmemperlihatkan bagaimana masyarakat memosisikan dan merepresentasikanperempuan. Posisi perempuan yang masih dianggap tradisional denganmenempatkan pada ruang public menurut Wijajanti (2007), memberikan gambaranbahwa masyarakat kurang mengakui eksistensi perempuan. Maka dari itu analisistentang perempuan dan bencana dapat dilihat dari proses netralisasi, baik dari unsurjender maupun bencana itu sendiri. Netralitas pengetahuan akan bersikukuh bahwabencana mengakibatkan penderitaan terhadap semua orang, baik laki-laki maupunperempuan. Tetapi data penelitian dilapangan menunjukkan bahwa korbanmeninggal akibat bencana alam masih didominasi oleh kaum perempuan,dan anakanak. Bahkan penanganan bencana gempa di Yogya (2006) memperlihatkan bahwaelemen jender belum menjadi preoritas penting yang tampak didalam bantuan yangtidak sensitif pada jender. Merujuk pada beberapa penelitian atau kajian tentangbencana alam yang sudah dilaksanakan oleh para peneliti tersebut, ”efektivitasdiseminasi informasi pengurangan resiko bencana” menurut pengamatan penulisbelum pernah disinggung. Padahal dalam konteks meminimalisasi kurban bencanaalam tidak serta merta dilihat dari bagaimana kecepatan dan ketepatan petugaslapangan dalam mengevakuasi kurban dengan dukungan peralatan modern. Tetapibisa dilihat seberapa intenkah pengetahuan, pemahaman dan pengalamanmasyarakat terhadap bencana itu sendiri. Maka dari itu diseminasi informasipengurangan resiko bencana bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawanbencana masih dianggap sangat penting. Karena masalah ini belum pernahdilakukan kajian secara konprehensif. Berangkat dari permasalahan itulah peneliti
  19. 19. 10melakukan kajian dari sisi yang berbeda agar bisa ikut memberikan konstribusi untukmasalah kebencanaan yang sering melanda masyarakat di negeri ini.1.5 Kerangka KonsepProgram diseminasi informasi pengurangan resiko bencana dikatakan efektifjika ia mampu mencapai tujuan yang ditargetkan. Baik secara langsung maupuntidak langsung target diseminasi informasi pengurangan resiko bencana, agarmasyarakat di daerah rawan bencana: (a) memiliki pengetahuan tentangpermasalahan bencana alam di lingkungannya, (b) mengimplementasikanpengetahuan kebencanaan yang dimiliki ketika terjadi bencana, dan (c) bisamembuahkan hasil berupa meminimalisasi korban bencana itu sendiri. Target itubisa tercapai jika semua persyaratan diseminasi informasi pengurangan resikobencana bisa terpenuhi. Dalam konteks ilmu komunikasi, diseminasi bertautanlangsung dengan “penyampaian pesan” kepada khalayak atau masyarakat. Secarateoritis ada beberapa model komunikasi “tradisional” yang masih dianggap relevanuntuk penyampaian pesan komunikasi (diseminasi) dalam penelitian ini. Beberapamodel komunikasi tradisional yang dimaksud dalam penelitian ini diantaranya :(1). Model komunikasi Harold Lasswel (1948) dalam Fiske (2006:46) dimanapesan komunikasi akan dianggap efektif jika memenuhi lima unsur sebagai berikut(who, says what, in which channel, with what effect) yakni, siapa, mengatakan apa,dalam media apa, dan apa efeknya. Pertama makna “siapa” (who) dalampertanyaan tersebut menunjuk pada inisiator, yaitu orang yang mengambil inisiatifuntuk memulai komunikasi. Inisiator bisa berupa individu, kelompok atau organisasi.Kedua makna “apa yang dikatakan” (says what) bertautan dengan isi pesan yangdisampaikan dalam komunikasi yang bersangkutan. Ketiga makna (in whichchannel) dengan media apa, yang merujuk pada penggunaan media, karena tidaksemua media cocok untuk komunikasi. Ke-empat makna (to whom) menanyakantentang siapa penerima pesan komunikasi. Kelima makna (what effect) yakni apadampak atau efeknya dari komunikasi tersebut. Model komunikasi ini masih tetaplinier, dengan melihat komunikasi sebagai transmisi pesan. Model komunikasi inilebih mengedepankan pengungkapan tentang isu “efek” bukan makna. Efek itusendiri secara tidak langsung menunjukkan adanya perubahan yang bisa diukur(dampak dari diseminasi informasi), dan diamati pada penerima pesan komunikasi.
  20. 20. 11Penerima pesan dalam konteks penelitian ini adalah komunitas masyarakat didaerah rawan bencana yang menjadi obyek penelitian.(2) Model komunikasi Shannon & Weaver 1949, dalam Fiske (2006:14) yangberbeda dengan model Lasswel, karena Shannon Wever lebih memilih transmitter.Pilihan transmitter ini sangat tergantung pada jenis komunikasi yang digunakan.Dalam konteks ini ada dua komunikasi yakni komunikasi interpersonal, dankomunikasi massa. Jika dalam komunikasi interpersonal transmitternya lebihmengandalkan organ tubuh dan bahasa non verbal, sedangkan dalam komunikasimassa adalah alat itu sendiri misalnya berupa: (hp, radio, televisi, foto, dan film)yang sudah banyak dikenal. Model dasar komunikasi yang mereka kembangkan inilebih bersifat linier dan sangat sederhana. Shannon & Weaver (1949) dalam teorinyamengidentivikasi tiga level masalah dalam komunikasi. (a). Level A (masalah teknik),bagaimana simbol-simbol komunikasi dapat ditransmisikan secara akurat. (b). LevelB (Masalah semantik) bagaimana simbol-simbol komunikasi yang ditransmisikansecara persis menyam paikan makna yang diharapkan. (c). Level C (masalahkeefektifan) bagaimana makna yang diterima secara efektif mempengaruhi tingkahlaku dengan cara yang diharapkan. Shannon & Weaver mengklaim bahwa ketigalevel tersebut tidak terbantahkan, tetapi saling berhubungan dan salingketergantungan satu sama lainnya, meski asal usulnya di level A berfungsi samabaiknya di tiga level tersebut (Fiske, 2006 : 15).(3) Model komunikasi yang dikembangkan David Berlo (1960),2yang hanyamemperlihatkan komunikasi satu arah. Ia terdiri dari empat komponen, yaknisumber, pesan, saluran dan penerima, tetapi pada masing-masing komponenterdapat faktor kontrol. Dalam teorinya Berlo (1960) menekankan pada faktorketrampilan, sikap, pengetahuan, kebudayaan, dan sistem sosial, sumber atauorang yang mengirim pesan merupakan faktor penting penentuan isi pesan. Dimanafaktor tersebut akan berpengaruh pada penerima pesan dalam menginterpretasikanisi pesan yang di sampaikan. Interpretasi pesan akan sangat tergantung dari “isipesan” yang ditafsir oleh pengirim pesan atau penerima pesan.2Lihat tulisan Yahya Nursidik,tentang Model-model komunikasi sebagai warisan peradapankomunikasi, dalam :http://apadefinisinya.blogspot.com/2007/12/komunikasi.html, diakses Senin,7September 2009.
  21. 21. 12(4). Model komunikasi yang dikembangkan Wilbur Schramm (1973) lebihmenekankan pada peran pengalaman dalam proses komunikasi. Dalam hal iniSchramm melihat apakah pesan yang dikirimkan diterima oleh sipenerima sesuaidengan apa yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. Artinya jika tidak adakesamaan dalam bidang pengalaman (bahasa yang sama, latar belakang yangsama,kebudayaan yang sama, struktur sosial yang sama) maka kecil kemungkinanpesan yang diterima diinterprestasikan dengan benar dan baik sesuai dengan tujuankomunikasi yang ingin dicapainya. Jika konsep komunikasi yang sarankan Schramm(1973) itu terpenuhi, besar kemungkinan proses diseminasi informasi akan berjalansecara efektif. Untuk melihat efektivitas komunikasi perlu dilakukan pengujian.Efektivitas diseminasi informasi berarti berfokus pada pengukuran efektif tidaknyasebuah pesan komunikasi yang dikomunikasikan dalam diseminasi informasi yangbersangkutan.Pesan komunikasi dapat dikatagorikan efektif jika bisa mencapai tujuan atausasaran komunikasi yang diharapkan oleh komunikan. Tujuan diseminasikomunikasi kepada komunikan adalah agar komunikan mendapatkan pemahamanpengetahuan baru tentang persoalan yang diinginkan komunikator. Pada dasarnyatujuan diseminasi informasi lebih dititikberatkan pada “memberi tahu” (information)atau paling tidak dengan informasi tersebut komunikan dapat berubah sikap(attitude) karena menda patkan pengetahuan, pengalaman serta pola hidup “budayabaru” di komunitasnya. Misalnya komunitas masyarakat yang mendapatkandiseminasi informasi tertentu, bisa berubah sikap dan perilakunya menjadi lebihkooperatif untuk mencapai tujuan komunikasi yang bersifat informatif dan partisifasif(Effendi,2002). Sementara Rogers & Kincaid (1983) melihat bahwa komunikasimerupakan suatu proses. Dimana partisipan membuat berbagai informasi satu samalain untuk mencapai saling pengertian. Pada tataran tersebut antara komunikatordan komunikan saling menjalin hubungan komunikasi untuk mencapai suatu tujuanatau keselarasan dalam upaya menumbuhkan kesepahaman. Dalam pandanganYoseph Devito (1989) komunikasi merupakan proses pembentukan, penyampaian,penerimaan, pengelolaan pesan yang terjadi pada diri seseorang atau diantara duaorang lebih dengan tujuan tertentu.
  22. 22. 13Efektivitas KomunikatorDalam ethos komunikator menurut pandangan Aristoteles (1954), sepertidikutip Hamidi (2007: 71) mengkatagorikan bahwa efektivitas komunikatorditentukan oleh 3 (tiga) faktor. (1) Pikiran yang jernih (good sence), ideologykomunikator dalam konteks ini harus dilandasi tujuan yang baik untukmentransfomasikan pengetahuan barunya kepada komunikan. (2) Akhlak yang baik(good moral character), artinya karakteristik komunikator menjadikan taruan berhasiltidaknya sebuah transformasi informasi kepada komunikan. Kredibilitas dankapabelitas komunikator dalam konteks ini menjadi sangat penting, bahkan menjadipenentu proses keberhasilan sebuah diseminasi informasi. (3) Maksud yang baik(good will), artinya penyampaian pesan komunikasi harus di landasi oleh maksuddan tujuan yang baik, agar persoalan yang ditransformasikan bisa diterima sesuaidengan harapan komunikator.Ketiga ethos itu menjadi kunci bagi seorang komunikator untuk menjalankanperannya. Pada sisi yang berbeda Hovland & Weiss (1951) dalam Hamidi (2007:72)juga melihat bahwa ethos dengan kredibilitas komunikator terdiri dari “komunikatoryang mempunyai keahlian dan dapat dipercaya (axpertise and trustworthness).Kedua ethos karakteristik komunikator tersebut menjadi sangat penting untukmenentukan keberhasilan penyampaian pesan komunikasi. SelanjutnyaChaiken,S,(1979) dalam Hamidi (2007:74) juga memberikan katagorisasi bahwademensi lain dari seorang komunikator harus memiliki daya tarik komunikator(source of attractiveness) atau kekuasaan komunikator (source of power).Efektivitas KomunikanDi lihat dari sudut pandang komunikan, sebuah penyampaian pesankomunikasi yang efektif terjadi menurut Kelman (1975) dalam Hamidi (2007:74) jikakomunikan mengalami internalisasi (internalization), identivikasi diri (selfidentification) dan ketundukan (compliance). Artinya penjabaran kerangka teoritersebut mengindikasikan bahwa dalam proses penyampaian pesan (diseminasiinformasi) pihak komunikan akan mengalami internalisasi, ketika komunikanmenerima pesan (diseminasi informasi) yang sesuai dengan sistem nilai yangdianut. Sistem nilai itu bisa berupa, budaya lokal (local cultural), adat istiadat, norma-norma sosial, agama dan lainnya. Jika terjadi kesepahaman semacam itu
  23. 23. 14komunikan akan merasa memperoleh sesuatu yang bermanfaat pada dirinya. Pesankomunikasi yang ditransformasikan memiliki nilai rasionalitas yang dapat diterima.Proses penyampaian pesan komunikasi (diseminasi informasi) tersebut menjadiefektif jika ada keseimbangan atau kesepahaman antara komunikator di satu sisidan komunikan disisi yang lain. Keberhasilan pesan komunikasi juga sangatditentukan kredibilitas komunikatornya.Laswell (1979) menyampaikan bahwa efektivitas pesan komunikasi tidakhanya ditentukan oleh isi pesan, tetapi siapa yang menjadi komunikatornya.Pada sisikomunikan efektivitas penyampaian pesan komunikasi (diseminasi informasi) dapatdikatagorikan berhasil, ketika identivikasi tersebut terjadi pada pihak komunikan.Misalnya pihak komunikan merasa puas dengan meniru, mengunakan pengetahuan,mengambil pemikiran komunikator (Rogers,1983). Baik secara individu maupun ataukelembagaan organisasi sebagai penyampai pesan haruslah mereka yangberkompeten dan memiliki keahlian di bidangnya. Dengan melihat beberapakerangka konsep tersebut didapatkan pemahaman jika mengharapkan efektivitasdalam penyampaian suatu informasi tertentu, haruslah ada titik keseimbanganantara komunikator dan komunikan dalam konteks “transformasi informasi tertentu”yang di selaraskan dengan kebutuhan komunikan.Efektivitas Pesan komunikasiSebuah penyampaian pesan komunikasi (diseminasi informasi) dapat dikatagorikan efektif jika, (1) pesan yang disampaikan dapat dipahami olehkomunikan, (2) komunikan bersikap atau berperilaku seperti apa yang dikehendakioleh komu nikator, dan (3) adanya kesesuaian antar komponen WilburShramm,1973) dalam Hamidi (2007:72). Selanjutnya efektivitas penyampaian pesankomunikasi ini berasumsi bahwa: “jika komunikasi diharapkan efektif maka pesandidalamnya perlu dikemas yang lebih menarik sesuai dengan kebutuhankomunikan”. Dalam pandangan ini materi pesan komunikasi (diseminasi informasi)merupakan hal yang baru atau bersifat sangat spesifik. Informasi yang berbentuksimbol-simbol atau bahasa yang digunakan harus mudah dipahami komunikan.Misalnya, jika komunikator menganjurkan suatu program dalam bentuk kebijakantertentu, informasi itu harus dikemas sedemikian rupa sehingga mudah dipahami,mudah didapat, mudah diterapkan dengan sistem yang sangat sederhana. Sistem
  24. 24. 15pelaksanaan program penyampaian pesan komunikasi (diseminasi informasi) yangdimaksud tidak sampai bertolak belakang atau bertentangan dengan kearifan lokalmasyarakat. Dalam konteks penelitian ini yang akan diukur adalah, efektivitasdiseminasi informasi pengurangan resiko bencana di daerah rawan bencana, yangdikaitkan dengan implementasinya.Pada hakekatnya setiap ragam bencana alam mempunyai karakteristik yangberbeda-beda satu sama lainnya. Misalnya bencana alam, berupa gempa tektonik,volkanik, tsunami, tanah longsor, banjir bandang, angin puyuh, kebakaran hutan danberbagai jenis bencana alam lainnya. Masing jenis bencana alam tersebut memilikikarakteristik budaya komunikasi yang beragam. Perbedaan karakteristik dan budayakomunikasi seperti itu akan berimplikasi pada kebutuhan ”isi pesan komunikasi”yang di diseminasikan kepada masyarakat di daerah rawan bencana. Misalnyamasyarakat pantai akan lebih paham dan pamilier dengan ”informasi penguranganresiko bencana” gelombang laut. Masyarakat di sekitar lereng gunung berapi akanlebih paham dengan ”informasi pengurangan resiko bencana” tanda tanda gunungberapi. Masyarakat yang tinggal di sepanjang tepian sungai mereka lebih pahamdengan ”informasi pengurangan resiko bencana” yang terkait denganpenanggulangan banjir. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan lebihpaham dengan ”informasi pengurangan resiko bencana” kebakaran hutan, danlainnya. Perbedaan karakteristik jenis bencana alam itu baik secara langsungmaupun tidak langsung dipengaruhi nilai sosial dan budaya lokal (local cultural) di-masing masing daerah. Perbedaan budaya lokal berpengaruh pada pola komunikasimasyarakat di-masing masing daerah rawan bencana. Jika merujuk pada kerangkakonsep Wilbur Shramm dalam bukunya ”Men Message and Media” Haper and Raw :New York, (1973) seperti dikutip Hamidi (2007:73), maka yang di ukur efektivitasnyadalam penelitian ini adalah penyampaian pesan komunikasi pengurangan resikobencana secara universal. Artinya program ”diseminasi informasi penguranganresiko bencana di daerah rawan bencana” itu diasumsikan bisa diterima semuamasyarakat di daerah rawan bencana. Tanpa membedakan jenis bencana,karakteristik budaya dan pola-pola komunikasi di masing-masing daerah rawanbencana. Diseminasi pengurangan resiko bencana sifatnya hanya preventif. Hanyauntuk meminimalisasi jatuhnya korban jika bencana alam itu terjadi. Berangkat dari
  25. 25. 16kerangka konsep seperti itu empat variabel yang digunakan untuk menganalisispenelitian ini, jika divisualisasikan akan terlihat model komunikasi berikut ini.Sumber : Model pesan komunikasi, Wilbur Shramm,(1973).Konsep dasar yang melatairi ”kebutuhan informasi” berangkat dari teoriinformasi berasal dari Shannon & Weaver dalam The Mathematical Theory ofCommunication. Menurut teori ini informasi adalah jumlah ketidak pastian yangdapat diukur dengan cara mereduksikan sejumlah alternatif pilihan yang tersedia.Informasi itu sendiri terkait dengan situasi yang tidak pasti. Semakin banyak yangtidak pasti semakin banyak alternatif informasi yang digunakan secara terusmenerus untuk mengurangi ketidak pastian (Sendjaya,1998: 84). Sedangkan ”dayatarik pesan komunikasi” tidak lepas dari kognisi atau pemahaman terhadapinformasi. Dalam proses komunikasi kognisi sering dilihat sebagai hasil akhir atautujuan terpenting. Dalam hal ini Kincaid & Shramm (1987: 115) menyatakan jikakognisi merupakan wujud dari kenyataan atau kebenaran informasi dari prinsip-prinsip yang dimiliki manusia. Logikanya seorang mengetahui berarti ia mengamatisecara langsung, memiliki pengalaman, mengenali atau setidaknya sudah terbiasadengan suatu hal yang mereka ketahui. Mereka merasakan dan menyadari akansuatu hal yang mereka ketahui tersebut.Pesan komunikasi yangmenimbulkan kebutuhanCara memperoleh pesankomunikasiSimbol-simbol pesankomunikasi yang dipahamiDaya tarik pesan komunikasiEffektivitas pesan Komunikasi
  26. 26. 17Pemahaman pengetahuan tentang apa yang dibicarakan, atau dilihatnyaakan mempengaruhi pesan komunikasi yang disampaikan. Artinya seseorang tentutidak bisa mengomunikasikan apa yang tidak ia ketahui. Seorang tidak bisaberkomunikasi secara efektif dengan apa yang tidak ia mengerti. Maka kognisidalam proses komunikasi dapat juga mempengaruhi perilaku sumber (masyarakat).Pemahaman terhadap ”simbol komunikasi” lebih berakar pada budaya komunikasimasyarakat. Charles Sanders Pierce (1914) dikutip Pawito (2008: 158) membagilambang (sign) menjadi tiga katagori (genre). Yaitu ikon, index dan simbol. Ikonadalah lambang yang ditentukan (cara pemaknaannya) oleh obyek yang dinamiskarena sifat-sifat internal yang ada. Index adalah lambang yang cara pemaknaannyamenunjuk pada obyek dinamis, yang ada keterkaitan nyata dengannya. Simboladalah suatu lambang yang ditentukan oleh obyek dinamisnya dalam arti ia harus diinterpretasi. Interpretasi merupakan salah satu pemaknaan terhadap lambangsimbolik yang melibatkan proses belajar dan pengalaman dalam budayamasyarakat. Cara memperoleh ”pesan komunikasi” (sumber informasi) dilakukanmelalui berbagai alternatif. Pada hakekatnya informasi dapat diperoleh daripengamatan individual, percakapan dengan orang lain,dari media massa, danlainnya. Sumber informasi di masyarakat dibagi menjadi dua, yaitu sumber informasidari saluran interpersonal, dan sumber informasi dari saluran media massa.Terdapat beberapa pertimbangan seorang menggunakan sumber informasi. Salahsatu diantaranya sikap terhadap karakteristik sumber informasi yang bersangkutan.Karakteristik sumber informasi ini oleh Alexis & Tan (1981) disebut : (a) Kredibilitassumber informasi tergantung dari keahlian dan kejujuran. (b) Daya tarik penerimainformasi lebih tertarik pada sumber yang memiliki kesamaan, keakrapan dan yangdisukai secara fisik. (c) Kekuasaan sumber informasi efektif mengubah perilakupenerima informasi, karena ia memiliki kemampuan mengubah kontrol, kemampuanmemperhatikan penerima informasi apakah ia tunduk atau tidak,dan kemampuanmeneliti apakah penerima informasi tunduk atau tidak (Tan, 1981:104).Dari ke-empat model pesan komunikasi Wilbur Shramm (1973) tersebutselanjutnya digunakan sebagai variabel untuk melihat efektifivitas pesan ”komunikasidalam program diseminasi informasi pengurangan resiko bencana di-daerah rawanbencana”. Tetapi keempat variabel tersebut masih bersifat universal, sehingga perludioperasionalkan. Pada hakekatnya opersionalisasi konsep variabel ditujukan untuk
  27. 27. 18memperjelas batasan-batasan yang diukur dalam sebuah variabel penelitian.Dengan melihat operasionalisasi konsep peneliti tidak akan keluar dari kerangkakonsep yang telah dipilih untuk menganalisis temuan penelitian yang bersangkutan.Dalam penelitian ini efektifitas ”diseminasi informasi pengurangan resiko bencana didaerah rawan bencana” diukur dari pengoperasionalisasi ke-empat variabel tersebut.1.6 Operasionalisasi KonsepKerangka konsep yang divisualisasikan dalam bentuk variabel pesankomunikasi yang efektif tersebut, masih bersifat umum, sehinggadioperasionalisasikan sebagai berikut.(1) Variabel : Pesan komunikasi yang menimbulkan kebutuhan, dioperasional kandalam bentuk ”rasa keingin tahuan responden terhadap program diseminasiinformasi pengurangan resiko bencana” yang diwujudkan dalam pengetahuan,respon positif (tingkat kebutuhan), dan arti pentingnya program diseminasiinformasi pengurangan resiko bencana bagi masyarakat di daerah rawanbencana.(2) Variabel : Daya tarik pesan komunikasi, dioperasionalkan dalam bentukpemahaman, penggunaan sebagai pedoman dan penerapan tentangdiseminasi informasi pengurangan resiko bencana bagi masayarakat yangtinggal di daerah rawan bencana.(3) Variabel : Simbol-simbol pesan komunikasi yang dipahami, dioperasional kandalam bentuk pemahaman masyarakat terhadap makna bahasa, istilah, kode,sandi-sandi, pertanda, yang mengandung informasi tentang diseminasipengurangan resiko bencana bagi masyarakat di daerah rawan bencana.Kebiasaan masyarakat membaca tanda tanda alam, dan tindakanpenyelamatan diri jika terjadi bencana alam.(4) Variabel : Cara memperoleh pesan komunikasi, dioperasionalkan dalam bentukpemilihan sumber informasi (media) yang digunakan untuk memperolehinformasi tentang pengurangan resiko bencana bagi responden yang tinggal didaerah rawan bencana, skaligus alasan mengapa responden memilih sumberinformasi (media) yang bersangkutan.
  28. 28. 19(5) Variabel: Efektivitas diseminasi informasi pengurangan resiko bencanadioperasionalkan dalam bentuk pengukuran dari hasil rangkaian prosespenjabaran variabel 1, variabel 2, variabel 3 dan variabel 4. di kaitkan dengansasaran yang hendak dicapai dari program diseminasi pengurangan resikobencana ini.Informasi ”pengurangan resiko bencana” adalah semua informasi yang berisimakna pengetahuan yang bertautan dengan persoalan untuk menghindari resikoterkecil yang diakibatkan oleh bencana alam. Informasi pengurangan resiko bencanaini tidak terbatas pada ”diseminasi, sosialisasi atau penyuluhan” yang disampaikansecara formal melalui media interpersonal (rapat, seminar, loka karya, diskusi,saresehan, temu warga dan sejenisnya). Tetapi juga yang di sampaikan melaluimedia (radio, televisi, media cetak, internet, media tradisional). Semua variabel yangsudah diturunkan menjadi indikator-indikator untuk penyusunan kuesionerberstruktur sebagai instrumen pengumpulan data kuantitatif dari responden terpilih dilokasi penelitian.1.7 Metode PenelitianData penelitian survey ini di kumpulkan melalui 3 (tiga ) cara (trianggulasi)yakni, data primer di kumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam/FGD danpenyebaran kuesioner. Metode trianggulasi dipilih karena masalah yang ditelitibersifat komplek, serta mengandung katagori khusus baik dilihat dari data kuantitatifdan kualitatif hasil pendalamanya (Patton,2002:555). Data sekunder di kumpulkanmelalui studi pustaka, dokumen, kliping surat kabar/majalah, internet dan lainnyayang sesuai dengan kebutuhan penelitian. Pengumpulan data dengan observasiadalah untuk memotret seting sosial masyarakat di-lokasi penelitian. SedangkanFucus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam untuk menggalipermasalahan dan mendalami materi penelitian yang tidak bisa dijaring secarakuantitatif. Kuesioner untuk menjaring data kuantitatif berupa pendapat, aspirasi dansikap responden terhadap obyek penelitian. Hasil pengumpulan data observasi dilokasi penelitian berupa laporan deskripsi kuantitatif atau kualitatif tentang (kondisi,struktur, potensi, budaya lokal, dan pola komunikasi yang terkait dengan tujuanpenelitian) sebelum dan sesudah dilakukan diseminasi informasi penguranganresiko bencana di daerah rawan bencana. Hasil wawancara mendalam dan Focus
  29. 29. 20Group Discussion (FGD) berupa laporan deskriptif kualitatif tentang (pendapat,pengalaman, pengetahuan, penerapan pola komunikasi, kritik, usulan, harapan danlainnya) dari tokoh formal dan atau non formal yang berpengaruh di lokasi penelitian.Tokoh formal yang berpengaruh bisa pejabat pemerintah setempat (diKabupaten/Kota, Kecamatan, Kelurahan). Sedangkan tokoh informal adalahpembentuk opini (opinion leader), bisa tokoh masyarakat setempat yang palingberpengaruh (di Kabupaten/Kota, Kecamatan, Kelurahan). Hasil pengumpulan datamelalui penyebaran kuesioner berupa, ”isian lengkap” dari daftar pertanyaanterstruktur yang diedarkan (diwawancarakan) kepada responden terpilih di lokasipenelitian. Sedangkan data studi pustaka berupa telaah terhadap buku-bukuliteratur, dokumen, artikel, kliping, browsing internet, dan tulisan lain yang bisadikatagorikan sebagai data pendukung terkait dengan tujuan yang ingin dicapaidalam penelitian.Populasi dan Sampling PenelitianDengan pertimbangan keterbatasan tenaga, waktu, dan finansial sampelwilayah ditetapkan secara purposive 10 (sepuluh) lokasi wilayah penelitian. Adapunkota provinsi yang dipilih adalah: Banda Aceh, Padang, Bengkulu, Jakarta, Bandung,Yogyakarta, Denpasar, Mataram, Gorontalo, dan Manado. Jumlah responden secarakeseluruan sebanyak 700 orang yang tersebar di 10 wilayah provinsi terpilih. Darikota provinsi tersebut kemudian diturunkan pada wilayah (kabupaten/kota,kecamatan, desa/kelurahan yang menjadi sasaran penelitian masing-masing, satulokasi). Wilayah yang bersangkutan adalah daerah/lokasi rawan bencana alam atas(gelombang laut, gunung berapi, banjir bandang, tanah longsor, gempa tektonik,kebakaran hutan) dan pernah dilakukan “program diseminasi informasipengurangan resiko bencana” oleh unsur pemerintah atau lembaga lain yangberkompeten.Populasi penelitian ini adalah seluruh komunitas masyarakat yang tinggal disepuluhlokasi penelitian Kabupaten dan Kota, yang kemudian diturunkan pada tingkatKecamatan dan Desa terpilih (lokasi terpilih dalam penelitian adalah ”kelurahan/desarawan bencana”. Sedangkan untuk menentukan sampling responden terpilihdigunakan “teknik purposive sampling”, yakni dengan menentukan wilayah samplingterlebih dahulu, kemudian menentukan responden terpilih yang disesuaikan dengan
  30. 30. 21kebutuhan penelitian. Responden yang dipilih adalah orang yang ”dianggap memilikipengetahuan” terhadap masalah penanggulangan kebencanaan diwilayahnya.Pemilihan secara purposive dilakukan untuk menentukan lokasi penelitian danresponden, karena penelitian ini mempunyai spesifikasi yang bersifaf khusus, yakni”masyarakat daerah rawan bencana”. Kekhususan tersebut diasumsikan tidakdimiliki oleh daerah lainnya yang berada diluar yang terpilih sebagai lokasipenelitian. Sedangkan responden untuk masing masing wilayah lokasi penelitian ditentukan sebanyak 70 orang responden, (dibagi secara merata dari populasi karenakekhususan tersebut). Data kuantitatif yang sudah terkumpul dari isian kuesionerdilakukan koding dan editing data untuk kemudian ditabulasi. Data berupa hasilpenelitian yang sudah tertabulasi itu kemudian dianalisis sesuai denganpermasalahan dan kerangka konsep yang digunakan. Analisis data penelitian inihanya sebatas menggambarkan suatu gejala atau fenomena sosial yang sedangterjadi, ketika data penelitian lapangan selesai dilakukan editing, dan klasifikasi.Sedangkan analisis data kualitatif hanya berfungsi sebagai alat pendukung untukmenjelaskan secara substansial segala permasalahan atau temuan yang tidak bisadijelaskan secara kuantitatif. Laporan hasil penelitian yang berupa draf laporansementara diseminarkan untuk mencari masukan, dan pengkayaan pengetahuanyang terkait dengan substansi penelitian. Masukan dari hasil seminar yang secarasubstansial signifikan dengan konsep penelitian yang telah ditentukan digunakansebagai bahan revisi draf penelitian.
  31. 31. 222.BAB IIGAMBARAN UMUM KEBIJAKAN,JENIS BENCANA ALAM, DAN LOKASI PENELITIANDilihat dari sudut pandang meningkatnya bencana alam yang terjadi diIndonesia dalam lima tahun terakhir ini, pemerintah (negara) dirasa perlu melakukantindakan atau kebijakan pengurangan resiko bencana. Anderson (1984:5) melihatkebijakan negara yang harus dilakukan adalah, ”apa yang dipilih pemerintah untukdilakukan atau tidak dilakukan”. Karena kebijakan negara tersebut merupakantindakan politis mengenai kehendak, tujuan, sasaran serta alasan bagi perlunyapencapaian tujuan. Misalnya dalam hal bencana alam berupa gempa bumi diYogyakarta dan Jawa Tengah (2006), Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan,Kepres No: 09/2006 tentang Tim Koordinasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi WilayahPascabencana Gempa Bumi di DIY, dan Jateng. Pada dasarnya tujuan dankehendak pemerintah untuk melakukan kebijakan tersebut adalah untukmengantisipasi, menangani korban dan membangun kembali kondisi wilayah pascabencana di kedua Provinsi tersebut. Kondisi seperti itulah yang di-istilahkan olehAnderson(1984: 5) sebagai ”langkah yang dipilih pemerintah untuk menanganikondisi pasca bencana. Sedangkan Bromley (1989) dalam Sri Mulatsih (2007:59)3menyatakan bahwa kebijakan itu bagaikan suatu herarki yang terdiri atas tigatingkatan atau level. Level tersebut adalah, (1) policy level, (2) organizational level,(3) operational level. Hasil kajian Sri Mulatsih, untuk penyusunan kebijakan menurutherarki pada policy level diwakili oleh lembaga eksekutif. Maka dari itu pada tataraneksekutif dikeluarkan kebijakan berupa Kepres No: 09/2006 tentang Tim KoordinasiRehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pascabencana dikedua Provinsi DIY danJateng tahun 2006. Kebijakan serupa baik yang bersifat formal maupun non formal,baik dalam wilayah yang pernah mengalami bancana maupun daerah rawanbencana perlu disosialisasikan dan mendapat perhatian secara khusus sebelumbencana yang lebih bsar lagi datang. Kewaspadaan masyarakat terhadap3Artikel Sri Mulatsih,Peneliti LIPI, dengan judul : Kajian Kebijakan Pemerintah Pasca BencanaGempa Bumi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Masyarakat Indonesia,Majalah Ilmu IlmuSosial Indonesia, Jilid 33,Vol2 2007 , Penerbit Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, halaman 56
  32. 32. 23kemungkinan terjadinya bancana alam perlu ditumbuh kembangkan.Tindakanpencegahan akan lebih baik daripada menjadi korban ketika bencana itu telahterjadi. Pada umumnya pemerintah dan masyarakat akan bereaksi ketika bencanaitu sudah terjadi. Baru sebagian kecil bagaimana memiliki pengetahuan tentangsistem penyelamatan diri ketika bencana terjadi. Dari berbagai observasi yangpenulis lakukan di daerah rawan bencana tersebut, masih relatif kecil masyarakatyang mau belajar tentang sistem penyalamatan diri dari bencana. Sebagian besarmereka masih menggantungkan pada petugas, atau pemerintah jika seandainyaterjadi bencana alam apapun bentuknya.Tentu kondisi tersebut sangat memprihatin kan, karena sebagian besarmasyarakat Indonesia tinggal dikawasan rawan bencana alam. Dalam kurun waktukurang lebih 10 tahun Indonesia dilanda berbagai bentuk bencana alam. Bencanaalam itu sendiri akhirnya menjadi bencana sosial yang berdampak luas terhadapkehidupan masyarakat, khususnya bagi mereka yang tinggal didaerah rawanbencana. Bencana alam dalam kurun 10 tahun terakhir di Indonesia tersebut,”diawali bencana badai El-Nino tahun 1997, banjir bandang diberbagai daerah tahun2001, banjir ditengah kekeringan (La-Nina) tahun 2002 -2003, tsunami Aceh tahun2004, gempa Nias, tahun 2005, gempa Jogyakarta tahun 2006, gempa bengkulutahun 2007, gempa Sumatra Barat tahun 2007, gempa NTB tahun 2007, banjirJakarta tahun 2007”4Berbagai peristiwa bencana alam tersebut telah menelankorban yang tidak sedikit. Korban terbanyak diantaranya masyarakat kurang mampuyang tinggal dikawasan rawan bencana. Bencana alam yang tidak mengenal waktudan tidak bisa diprediksi oleh ilmuwan itu lebih disebabkan akibat pemanasan global.Pertemuan Internasional di Bali,3 Desember 2007 dengan tajuk,: The InternationalPanel on Climate Change (IPCC) memberikan rekomendasi bahwa ”kaum buruhtani, masyarakat adat sekitar hutan dan penduduk dipesisir pantai merupakangolongan yang paling rentan atas dampak perubahan iklim tersebut”54Lihat artikel Erniati.B.Djohan, Peneliti LIPI, dalam pengantar Mengapa Kajian Bencana,Bentukbencana alam ini bermacam macam,gelombang air pasang, gempa bumi, gunung meletus, badai,kekeringan, kebakaran hutan, kebocoran sumber daya alam seperti gas bumi, dimuat dalamMasyarakat Indonesia, Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia, Penerbit LIPI Jilid 33, Vol.2 tahun 2007halaman 15Laporan selanjutnya lebih lengkap dapat dibaca di Harian Kompas Edisi penerbitan tanggal 03Desember 2007. Bencana alam tersebut telah memicu bencana sosial dengan tumbuhnya angka
  33. 33. 24Antara bencana alam dan bencana sosial keduanya memperlihatkan baiksecara langsung maupun tidak langsung saling kait mengkait. Misalkan eksploitasialam yang dilakukan manusia secara berlebihan tanpa kendali akan berdampakterhadap terjadinya banjir bandang dan tanah longsor diberbagai daerah rawanbencana. Pada sisi yang lain, peristiwa bencana alam disamping berdampak negatifterhadap kehidupan manusia dan lingkungan, juga berdampak positif untukkelangsungan hidup masyarakat tempat terjadinya bencana alam. Letusan gunungberapi selain berdampak, mematikan manusia, hewan, tanaman, menimbulkanbanjir lava, juga bermanfaat bagi kesuburan tanah, sumberdaya energi dan airpanas (belerang) yang digunakan untuk pengobatan, dan pembentukan air hujandisekitarnya (Soemarwoto,1989:69). Peristiwa terjadinya bencana alam tersebutseringkali dianggap sebagai kesalahan dan tanggung jawab pihak pemerintah, baikditingkat pusat maupun lokal. Pandangan itu tentu tidak salah, karena Negaramempunyai tanggung jawab untuk melindungi dan memberikan layanan umumkepada semua warga masyarakat.6Persoalan mendasar seperti yang dievaluasidalam penelitian ini, adalah capaian diseminasi informasi pengurangan resikobencana di daerah rawan bencana. Diseminasi informasi tentang penguranganresiko bencana itu dikatakan berhasil jika mampu mengubah sikap dan perilaku(pola pikir) masyarakat untuk sadar akan resiko bencana alam. Sadar akan bencanadapat dimaknai mereka memiliki pengetahuan tentang pengurangan resiko bencanajika terjadi bencana. Yang kemudian pengetahuan itu mereka implementasikanbersama warga masyarakat lain untuk mengurangi resiko bencana di daerah rawanbencana. Hasil observasi di 10 lokasi penelitian memberikan gambaran bahwakesadaran masyarakat di daerah rawan bencana, terhadap pengurangan resikobencana masih tampak beragam. Keragaman itu lebih dipengaruhi oleh kondisikemiskinan dan pengangguran yang tidak terkendali, karena kasus PHK di berbagai perusahaanbesar menengah dan kecil.Dengan alasan mengalami kerugian dan kebangkrutan PHK masal terjadidimana mana.6Lihat dan perhatikan bunyi ayat (3) pasal 34, Undang Undang Dasar Negara 1945, dimana : Negarabertanggung jawab atas penyadiaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umumyang layak.Dengan demikian maka korban bencana alam, dan pencegahan dini berupa pemberianpenyuluhan terhadap pengurangan resiko bencana bagi masyarakat di daerah rawan bencanamenjadi tanggung jawab pihak Negara dalam hal ini pemerintah baik di pusat maupun pemerintahlokal.
  34. 34. 25sosial dan budaya lokal maupun jenis bencana alam di masing masing lokasipenelitian.2.1 Ragam dan Jenis Bencana Alam*Bencana Gelombang Tsunami : Istilah yang di import dari negeri Sakura itumempunyai makna”gelombang pelabuhan”.Dalam kamus bahasa Indonesia,tsunamiadalah sebuah rangkaian gelombang yang terjadi dikawasan pesisirpantai.Gelombang air laut yang datangnya secara ”silih berganti” itu semakinmembesar, sehingga bisa mencapai kecepatan sekitar 800 Km/jam (Data BMKG,2005). Gelombang tsunami biasanya diawali oleh gempa tektonik berskala besaryang terletak di bawah laut. Jenis gempa tektonik didasar laut yang diikutigelombang tsunami ini sangat membahayakan pemukiman yang berada dikawasanpesisir pantai. Dari pengakuan dan pengalaman beberapa responden jika adagempa, dan ditandai dengan turunnya air laut di pantai secara tiba-tiba, menurutmereka itu merupakan suatu gejala,”gelombang tsunami akan datang menyapupesisir kawasan tersebut. Pertanda lain akan datangnya gelombang tsunami jikapasca gempa muncul buih buih air laut secara mendadak, di ikuti dengan hempasanangin yang cukup kencang kearah pantai secara tiba tiba, juga dianggap sebagaipertanda akan munculnya tsunami (Arie Priambodo,2009:52).Gejala gelombang tsunami yang paling gampang dideteksi jika ada suaragemuruh, yang diikuti warna air laut yang semakin gelap dan keruh, hal itumerupakan pertanda gelombang tsunami dahsyat akan terjadi. Dengan melihatgejala alam tersebut masyarakat sudah bersikap waspada, dan menjaga segalakemungkinan yang bisa terjadi di wilayahnya. Berbagai gejala alam akan terjadinyagelombang pasang (tsunami) tersebut sudah dipahami oleh sebagian besarkomunitas masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai yang juga termasukrawan bencana. Mereka mempunyai pengetahuan tentang bahaya gelombangpasang seperti itu dengan kebiasaan. Artinya mereka menandai akan terjadinyagelombang pasang dengan membaca tanda tanda alam disekitar mereka.Gelombang tsunami biasanya berkecepatan tinggi dan berlangsung sekitar 10 menit.Misalnya gelombang tsunasi yang memporak porandakan kawasan pesisir Aceh(NAD) 26/12/2004 telah menelan korban lebih dari 150.000 jiwa, dan merusak
  35. 35. 26hampir 90% sarana dan prasarana yang ada kawasan pantai pesisir Aceh(Kompas,27/12/2004).Sementara di wilayah Kabupaten Padang Pariaman merupakan zone gempa,menurut Setiadi (1962)7dari daerah Sungai Limau hingga Tiku utara perbatasandengan Sungai Geringging dan pesisir barat merupakan daerah rawan gempa.Namun demikian realitasnya sebagian besar kawasan pantai masih dijadikan tempatpemukiman. Mereka yang bermukim di kawasan pesisir itu pada umumnyamasyarakat nelayan, atau mereka yang mata pencahariannya berkaitan dengan laut.Komunitas mereka itu dikenal dengan masyarakat pesisir yang matapencahariannya sebagai nelayan (masyarakat nelayan). Bagi masyarakat nelayanyang bermukim di kawasan pantai perasaan takut itu hanya terjadi sesaat. Merekatakut melaut ketika baru saja terjadi bencana alam. Untuk selanjutnya mereka akanmelaut lagi, karena terkait dengan tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga. Agak sulitmereka mengalihkan pekerjaannya dengan pekerjaan lain yang resikonya lebihkecil.Jika resikonya kecil kata mereka hasilnya juga kecil, begitu sebaliknya. Merekaitu dari satu generasi ke generasi nelayan, yang bermukim di pesisir pantai. Bahayagelombang tsunami yang di bayangkan oleh orang lain paling menakutkan itu, bagimereka merupakan suatu hal yang lumrah atau biasa. Bahkan mereka berasumsijika ada korban bencana alam tersapu gelombang merupakan resiko bagi seorangnelayan. Resiko itu mereka terima dengan ketabahan demi untuk mempertahankannasib keluargany (Kompas, 29/12/2004). Masyarakat pantai umumnya melaut ataumenangkap ikan dengan peralatan konvensional. Mereka menggunakan jenisperahu tongkang dari kayu dengan bekal secukupnya untuk persediaan di tengahlaut.Ada diantara nelayan yang membawa bekal makanan dan minuman yang disediakan dari rumah mereka.Tetapi sebagian diantara mereka ada yang membawaalat masak,di gunakan di tengah laut sewaktu di perlukan. Nelayan tradisional itumempunyai banyak pengetahuan tentang kelautan dan masalah perikanan.Merekabisa membaca tanda tanda dimana ikan ikan itu sedang berada. Mereka juga tidakmeresa kebingungan untuk menentukan arah ketika malam hari. Mereka tidak7Menerut Setiadi (1962) jika dilihat dari peta zone gempa di Indonesia daerah tersebut merupakanzone gempa dengan sklala intensitas menempati zone VII dan VIII dengan episentrum yangrelative dangkal.Meski sampai sekarang masih belum pernah menimbulkan kerusakan yangparah.http//www.padangpariamankab.go.id/cetak 1.php? cid=55 diakses 19/5/2009.
  36. 36. 27membawa kompas, tetapi membaca bintang di langit untuk menentukan arah,kemana perahu mereka harus dikemudikan untuk pulang. Ketika pagi hari sampai didaratan keluarga mereka sudah menyambutnya, untuk membersihkan ikan ikanuntuk kemudian menjualnya.Hasilnyapun tidak menentu, kalau lagi baik dapat untung, tetapi kalau lagi sialhasil penjualan ikan tidak bisa untuk menutup pembelian bahan bakar. Apalagi jikaharga bahan bakar solar naik seperti tahun kemarin, nelayan banyak yang tidakmelaut. Setting sosial ini merepresentasikan kehidupan sebagian besar masyarakatyang bermukim dikawasan pesisir pantai yang masuk dalam katagori rawanbencana tsunami. Kehidupan mereka senantiasa berhadapan dengan maut, jikagelombang tsunami sudah tidak ramah lagi dengan perkampungan mereka. Tetapisebenarnya resiko ditengah laut akan lebih besar dibandingkan dengan di pesisirpantai. Kawasan pantai yang dikatagorikan rawan gempa tsunami diantaranya :pesisir pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Bali, Lombok, Maluku dan Papua.Atas resiko seperti itu pemerintah menggulirkan kebijakan berupa diseminasi,(sosialisasi, penyuluhan) tentang tata cara bagaimana pengurangan resiko bencanadi daerah rawan bencana. Program itu berupa tutorial yang sasarannya adalahkomunitas masyarakat yang bermukim di daerah rawan bencana, termasuk kawasanpantai. Materi yang disosialisasikan berupa, bagaimana warga masyarakat harusbersikap/ bertindak, sebelum, saat dan pasca tsunami di wilayahnya. Misalnya diBali tanggal 26 Desember 2006, dijadikan tempat pelaksanaan latihanpenanggulangan bencana tsunami nasional. Simulasi penanggulangan bencanatsunami tersebut dilakukan di kawasan pantai ”Kuta” 8Di daerah lain PemerintahProvinsi Sulawesi Utara,disamping menyusun peta bencana alam aparatur juga dibekali manajemen kebencanaan dengan menggelar bimbingan teknis9.8Latihan simulasi penanggulangan bencana tsunami secara nasional itu di laksanakan di pantai Kuta,Bali pada tanggal 26 Desember 2006, yang di saksikan Diputi Menteri Riset dan Teknologi DR.IkwanSukardi, bersama ahli gempa tsunami Prof.DR.Gede Wdiyatnyana, beserta Gubernur danBupati/Walikota se Bali (Bali Post, edisi 27/6/2006).9Pemprov Sulut telah mengambil langkah antisipasif sebelum terjadi bencana alam termasuk gempatsunami, dengan menggelar bimbingan teknis manajemen peta rawan bencana (Suara Manado. 24Juli 2006)
  37. 37. 28Secara umum pihak pemerintah juga telah mengeluarkan himbauan melaluiDepkominfo bersama media massa. Sebelum Tsunami masyarakat di kawasanrawan bencana di anjurkan untuk menghindari tinggal di kawasan pesisir pantaiyang landai kurang dari 10 meter dari permukaan laut. Karena kreteria tersebutmerupakan kawasan sangat berbahaya jika terjadi gelombang tsunami. Mereka dihimbau untuk mengenali lokasi yang dapat digunakan untuk menyelamatkan diri dariterjangan gelombang tsunami (pohon, bukit, bangunan tinggi, dan lain-lain).Membuat rute jalan untuk rencana evakuasi warga serta lokasi tempat pengungsianyang aman. Melakukan reboisasi penanaman pohon pantai untuk menghadanggelombang laut. Mematuhi tata guna lahan yang ditetapkan oleh pemerintah daerahsetempat. Merancang bangunan bertingkat dengan ruang yang dianggap amandibagian atas, dan dinding rumah di usahakan tidak sejajar dengan garis pantai(BIP,2008:22). Sosialisasi tata cara pengurangan resiko bencana disalurkan melaluiberbagai jenis media massa (televisi, radio, media cetak, internet, media tradisionaldan media interpersonal).Pada Saat terjadi Tsunami, jika sedang berada dikawasan pantai segerapanjat pohon, bangunan yang posisinya tinggi dan paling dekat dengan andaberada. Jika sedang berlari kejaran gelombang tsunami hanya kurang dari 20 menit.Kalau berpegangan pohon saat ada gelombang tsunami, disarankan tidakmembelakangi arah laut, agar terhindar dari benturan benda keras yang dibawagelombang laut. Ketika sedang berada diatas kapal di tengah laut, segera pacukapal atau perahu menuju laut yang lebih dalam. Selamatkan diri anda, bukanbarang bawaan anda. Jika terseret gelombang tsunami carilah benda apung yangsekiranya dapat digunakan sebagai rakit. Selamatkan diri melalui jalur evakuasiyang sudah ditentukan bersama dan aman. Dan tetaplah bertahan ditempat yanglokasinya lebih tinggi dari permukaan laut, sampai situasi di nyatakan aman. Setelahtsunami tindakan yang disarankan : hindari instalasi listrik bertegangan tinggi, danjika menemukan kerusakan instalasi yang bersangkutan segera laporkan pada pihakPLN terdekat. Hindari memasuki daerah kerusakan, kecuali sudah di nyatakan amandan jauhi dari bekas reruntuhan gedung atau bangunan lain yang membahayakan.Berbagai cara pemahaman terhadap pengurangan resiko bencanagelombang tsunami sudah sering di lakukan simulasi oleh petugas keamananterpadu di kawasan pantai. Kegiatan ini untuk melakukan uji petik terhadap kesiapan
  38. 38. 29warga masyarakat jika sewaktu waktu terjadi bencana gelombang tsunami yangsesungguhnya. Uji petik semacam ini untuk menevaluasi persiapan fisik, mental dankecepatan dalam mengambil keputusan bagi warga masyarakat yang tinggal didaerah rawan bencana.Sementara kegiatan lain yang dianjurkan diantaranya”membentuk kelompok masyarakat siaga tsunami” dan mengadakan pertemuanrutin sesama anggota. Pertemuan dimaksud untuk mendiskusikan persoalan pentingyang terkait dengan tsunami. Misalnya tata cara evakuasi dan mengenal teleponpenting yang harus dihubungi jika terjadi bencana. Mengembangkan sistemperingatan dini diwilayah masing masing (radio panggil, kentongan, pengeras suara)guna memberikan peringatan dini sewaktu ada bencana gelombang tsunami.Pengelolaan manajemen kebencanaan memang memerlukan kecermatan, danketelitian bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Karena mengorganisir orangsaat terjadi bencana adalah mengelola orang panik, dan bisa jadi kehilangankesadarannya. Maka dari itu persiapan sedini mungkin menjadi taruannya apakahmisi tersebut berhasil atau justru sebaliknya. Keberhasilan suatu daerah mengelolamanajemen bancana alam sangat tergantung dari kebijakan daerah yang di motorioleh pimpinan daerahnya. Semua itu tidak lepas dari sejauhmana pengelolaanmanajemen kebencanaan mendapatkan perhatian secara spesifik dari pemerintah didaerah, dan apresiasi masyarakatnya.*Bencana Gempa Bumi : Bencana alam berupa gempa bumi, bisadisebabkan letupan volkanik gunung berapi, atau gempa tektonik akibat pergeseranpatahan lapisan batuan yang terkandung dalam perut bumi. Gempa bumi lazimnyatidak terjadi hanya sekali, tetapi diawali dari gempa awal (kecil) yang kemudiandisusul dengan gempa lanjutan yang lebih dahsyat. Dalam gempa susulan inibiasanya terjadi kerusakan dimuka bumi, jika kekuatannya diatas 6 sklala Richter. DiIndonesia di samping gempa tektonik, juga rawan terhadap gempa volkanik, yangdisebabkan meletusnya gunung berapi. Wilayah Indonesia oleh Andersen (1990:3)dimasukkan dalam katagori lingkaran Cincin Api Dunia10. Dimana wilayah rawangempa itu berada di sepanjang Himalaya, Sumatra, Jawa, Mediterania dan Atlantik.10Lihat Artikel Andersen (1990) Crystallink.com, bahwa 90 % gempa bumi di dunia terjadi di wilayahcicin api dunia, dan 80 % dari gempa termasuk gempa berkekuatan besar.Cincin Api Dunia yangdimaksud Andersen tersebut termasuk melingkari wilayah kepulauan di
  39. 39. 30Banyaknya gunung berapi yang masih aktif (Krakatau,Merapi, Kelud, Semerudi Jawa, G.Agung di Bali, G.Tambora di Sulawesi) masih menjadi ancaman bencanabagi masyarakat yang berdomisili di kawasan pegunungan tersebut. LetusanGunung Krakatau (1883) tercatat dalam The Guiness Book of Records sebagailedakan terhebat yang pernah terekam sejarah dan saat terjadinya ledakan itudisebut sebagai” ketika dunia meledak” (Haris Firdaus,2008:6) Demikian juga gempatektonik tidak kalah dahsyatnya menjadi ancaman masyarakat. Jika gempa volkanikmudah dipetakan karena disebabkan meletusnya gunung berapi, gempa tektoniksebaliknya. Gempa tektonik sulit diprediksikan, karena pergeseran atau patahankerak bumi itu kedalamannya dan lokasinya tidak menentu. Dampak akibat gempabumi tektonik biasanya korban tertimpa reruntuhan bangunan rumah, gedung,jembatan atau pepohonan yang tumbang. Bahaya paling mengancam kehidupanumat manusia jika pada saat yang sama aliran listri masih aktif. Akibat yang di deritaoleh masyarakat banyak tanah longsor, retak, bangunan runtuh, jembatan putus dansejenisnya. Misalnya gempa bumi tektonikdi patahan Opak terjadi di Yogyakarta, 27Mei 2006,pukul 05,58 dengan korban sekitar 5.400.orang meninggal dunia, dikawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Korban manusia meninggal terbanyakakibat tertimpa bangunan rumah atau gedung. Mereka panik dan kehilangan akalkemana harus menyelamatkan diri. Kondisi masyrakat seperti itu karena tidakmemiliki pengetahuan tentang bagaimana mnyelamatkan diri jika terjadi bencanagempa bumi. Terjadi paradok di masyarakat, menyelamatkan harta atau nyawa.Jikamereka harus menyelamatkan nyawa, hartanya tidak terjaga. Tetapi sebaliknya jikamempertahankan harta nyawanya kemungkinan tidak terselamatkan. Pilihan itumenjadikan beban bagi sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah rawanbencana gempa bumi.Pada hal dalam berbagai pelatihan dan simulasi telah di sosialisasikan bahwapenyelematan nyawa menjadi preoritas utama. Menenamkan kesadaran padamasyarakat di daerah rawan bencana berarti mengubah budaya masyarakat yangbersangkutan. Mereka akan mengikuti perubahan itu jika budaya baru itu mampumemberikan keyakinan pada mereka. Tetapi keyakinan saja tentu tidak cukup jikatidak bisa memberikan jaminan kepada mereka. Itulah sebabnya evakuasiIndonesia.http://io.ppi.jepang.org Email :redaksi @ io. Ppi.jepang. org/cetak.php?id=205, diakses19/5/2009.
  40. 40. 31pengungsian bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana kadang kalamengalami hambatan, meski bencana mengancam kehidupan mereka. Lantas apayang harus di lakukan untuk mengantisipasi atau penanggulangan bencana alam.Ada tindakan dini yang harus di sosialisasikan kepada mereka yang tinggal didaerah rawan bencana. Sosialisasi itu terkait dengan suatu langkah sebelum, ketikadan sesudah bencana gempa bumi terjadi.Sebelum Gempa Bumi:Terdapat beberapa informasi yang selaludisosialisasikan kepada masyarakat yang tinggal di kawasan rawan gempa olehpemerintah. Mereka dianjurkan : (1) Untuk mengenali lingkungan, diantaranyamenen tukan tempat aman untuk berlindung. Melakukan praktik pertolongankecelakaan, penggunaan peralatan penyelamatan kecelakaan, mencatat nomorpenting yang harus dihubungi ketika terjadi bencana gempa bumi dan lainnya. (2)Membentuk forum diskusi antar warga untuk sosialisasi pengetahuan tata carapenyelamatan diri jika terjadi bencana gempa bumi. (3) Dianjurkan menyiapkanruangan yang aman untuk berlindung keluarga di dalam rumah jika sewaktu waktuterjadi gempa bumi. (4) Menjauhkan barang-barang yang mudah terbakar,mematikan saluran gas, air, listrik jika memang tidak digunakan dan lainnya.Saat terjadi Gempa : (1) Perhatikan perilaku binatang piaraan anda, atausuara burung di malam hari yang tidak lazim sebagai pertanda bencana alam. (2)Perhatikan goyangan air di gekas atau tempat penampungan air. (3) Jangan berlarikeluar rumah saat bangunan rumah sedang digoyang gempa. (4) Mencari tempataman yang jauh dari dinding, lemari, listrik dan benda berat lain yang kemungkinanbisa menimpa. (5) Jika sedang berada dalam gedung tinggi, jauhi penggunaan lift,elevator, dan tembok yang sekiranya membahayakan. (6) Jika berada diluarruangan carilah tempat tanah lapang yang tidak ada bangunan dan pohon. (7) Jikaberada dalam kendaraan gunakan sabuk pengaman dan pastikan tidak berhenti dibawah jembatan atau dibawah pohon. Setelah Gempa : (1) Rawat luka diri sendiri,dan tolong orang lain, dahulukan orang tua, anak anak, ibu hamil, orang cacat danusia lanjut. (2) Membantu korban yang terjebak dalam reruntuhan bangunan. (3)Hindari dari tempat yang mudah terbakar, dan sengatan listrik, gas dan lain-lain.Pasca gempa masyarakat diharapkan harus selalu waspada terhadap gempasusulan yang kemungkinan terjadi. Kewaspadaan bukan saja ditujukan untuk
  41. 41. 32menyelamatkan diri, tetapi juga terhadap rehabilitasi pemukiman. Dalam konteksrehabilitasi pemukiman, desain rumah di buat sedemikian rupa agar tahan gempa.Mungkin saja bentuk bangunan terasa asing dan tidak lazim, tetapi hal tersebutuntuk jangka panjang dimungkinkan relatif aman. Kewaspadaan perizinan bangunanseperti itu diwajibkan bagi daerah rawan gempa (misalnya di Kecamatan Pundong,Kabupaten Bantul Yogyakarta) yang secara geografis berada pada patahan opaksampai Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Dengan dimilikinya pengetahuan tentanglangkah dan tata cara pengurangan resiko bencana tersebut, warga masyarakatyang tinggal di daerah rawan bencana sudah mempunyai kesiapan yang cukup.Bagimereka kesiapan itu sangat penting, karena menyangkut pengambilan keputusanketika bencana alam itu benar benar terjadi. Dalam suasana kepanikan biasanyaorang kehilangan kesadarannya untuk pengambilan keputusan penyelamatan diridari bencana. Lebih sulit lagi jika harus mengkoordinir sekelompok wargamasyarakat. Tetapi jika mereka telah memiliki pengetahuan atau pengalamantentang tata cara penyelematan diri dari resiko bencana kesulitan itu akan sedikitteratasi. Apalagi bencana gempa bumi tektonik (patahan kerakbumi) gejalanya tidakmudah terdeteksi. Kondisinya sangat berbeda dengan gempa bumi volkanik yangdisebabkan gunung berapi. Gejala gunung berapi lebih mudah terdeteksi, misalnyamunculnya suara gemuruh, timbulnya asap bercampur debu, naiknya suhu di sekitarpegunungan, larinya binatang dan unggas dari habitatnya dan lainnya. Bagimasyarakat yang sudah memiliki pengetahuan tentang pengurangan resiko bencanaakan lebih mudah mengambil keputusan untuk menghindari bahaya. Sebaliknyamereka yang masih belum mempunyai pengetahuan dan pengalaman banyak halpertimbangan untuk melakukan penyelamatan diri dari bahaya. Pengetahuan itutidak harus datang dari pihak pemerintan atau lembaga lain yang berkompeten.Pengetahuan itu bisa tumbuh dari kesadaran lokal, atau tradisi budaya yang telahmereka kembangkan di masing masing daerah. Meski mungkin yang merekalakukan lebih berorientasi pada mithos, dan kepercayaan yang bersifattradisional.Apapun namanya mereka telah berusaha untuk mempelajari gejala alamdan cara menghindar dari bencana alam yang mungkin terjadi sewaktu waktu didaerahnya.*Bencana Banjir : Ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan bagianyang amat penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap DAS itu sendiri.
  42. 42. 33Aktivitas DAS yang menyebabkan perubahan tata ruang misalnya, perubahan tatalahan, di daerah hulu yang akan berdampak pada daerah hilir. Jika terjadi ketidakseimbangan akan terjadi erosi dan banjir (Suripin,2004: 183). Meluapnya air sungaiyang menyebabkan banjir, biasanya di awali dengan hujan deras yangmenyebabkan erosi tanah di kawasan pegunungan yang terbawa sampai melebihikapasitas sehingga menyebabkan banjir bandang yang menerjang kawasanpemukiman penduduk. Di kawasan perkotaan biasanya banjir disebabkanpemeliharaan lingkungan yang kurang baik. Bencana banjir juga bisa di akibatnyaoleh naiknya air laut pasang, sehingga kawasan pemukiman di pesisir pantaimenjadi tergenang. Air laut bisa naik kedaratan akibat perubahan suhu udara, ataupemanasan global yang menjadi issue lingkungan dewasa ini. Baik air bah maupunbencana tanah longsor dan banjir bandang semuanya telah banyak membawakorban manusia. Banyaknya korban itu salah satu diantaranya pengetahuanmasyarakat untuk menghindari bahaya banjir sejak dini dianggap sangat minim.Misalnya warga masyarakat Jakarta yang tinggal di Kampung Melayu, Bukit Duri,tepian sungai Ciliwung setiap musim hujan masyarakat selalu dihadapkan padamasalah banjir rutin. Pada musim penghujan masalah banjir sudah mereka anggapsebagai kegiatan yang bersifat rutin.Bahaya banjir bukan lagi mereka anggapsebagai suatu hal yang paling menakutkan. Jauh hari sebelum bencana banjirdatang mereka telah mempersiapkan diri. Misalnya membangun rumah panggungberlantai dua, atau menaikkan stop kontak aliran listrik agar tidak tergenang air,menyiapkan rakit, tali tambang dan sejenisnya (Ahimsa,1985).Kondisi yang hapir sama juga di alami oleh warga masyarakat yang tinggal disepanjang aliran sungai Bengawan Solo. Mulai dari Solo, Karanganyar, Sragen,Ngawi, Bloro bagian Cepu, Bojonegoro, Tuban, Lamongan Jawa Timur. Dalam banjirtahun 2008 yang lalu daerah tersebut termasuk yang terparah.Menurut Elfaridpengelola Balai Sumber Daya Air dan Jasa Tirta banjir sungai Bangawan Solo, banjirbesar yang terjadi akhir tahun 2007 merupakan siklus tahunan11. Bukan hanya itu11Elfarid : Siklus banjir besar di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo dapat di runutkebelakang berdasarkan data curah hujan yang ada.Misalnya banjir besar seperti tahun 2007 jugaterjadi pada tahun 1965.Siklus banjir 40 tahunan itu dapat di prediksi berdasarkan data klimatologiyang ada.Banjir itu juga disebabkan pengelolaan lingkungan yang kurang baik.Banyak lahan di tepianBangawan Solo yang sudah beralih fungsi.Pada hal dalam pendekatan DAS antara daerah hulu,tengah dan hilir merupakan kesatuan ekologi.Sumber :http://elfarid.multiply.com/journal/item/404,diakses 28/05/2009.
  43. 43. 34tetapi masih banyak sungai di pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi kondisinya tidakjauh berbeda. Fenomena ini memberikan gambaran jika manajemen daerah aliransungai (DAS) di Indonesia kurang baikpengelolaanya. Kondisi seperti itumengakibatkan bencana banjir setiap musim penghujan tidak dapat di hindari.Penanggulangan banjir diperlukan kebijakan secara terpadu dan lintas sektoral,dengan dukungan dana yang cukup memadai Itupun dirasakan belum cukup, peranmasyarakat dalam ikut memelihara kebersian lingkungan (dalam arti luas) yangdianggap paling berpengaruh.Dari berbagai kajian penelitian ”bencana banjirbandang” cenderung di sebabkan ulah manusia. Hal itu mengakibatkan timbulnyaketidak seimbangan konservasi lingkungan. Meski banjir di katagorikan sebagaibencana musiman secara rutin, tetapi tidak sedikit korban karena ketidak siapanmereka. Bahkan bisa jadi mereka tidak memiliki pengetahuan tentang tata carapengurangan resiko bencana banjir tersebut. Misalnya sebelum banjir masyarakat disarankan : (1) Sejak dini masyarakat di kawasan rawan bencana banjir idealnya dibekali pengetahuan atau tindakan pencegahan. (2) Menaikkan panel panel listriklebih tinggi dari jangkauan air di setiap rumah yang menjadi langganan banjir. (3)Mengaktifkan gerakan pembuatan sumur sumur resapan di kawasan yangbersangkutan. (4) Membentuk forum masyarakat peduli banjir. (5) Membangunsistem peringatan dini bahaya banjir, baik secara tradisional, atau modern. Beberapapengetahuan semacam itu mereka anggap penting, karena untuk bekal persiapanbagi mereka secara darurat. Meski banjir luapan sungai oleh sementara pihak dianggap berbahaya, bagi mereka yang berdomisili di daerah tepian sungai atauwaduk menganggapnya sebagai kejadian biasa.Banjir tampaknya sudah akrap dengan kehidupan mereka,sehari hari. Banjiroleh mereka tidak perlu disikapi secara berlebihan (BPPI Jogja, 2008). Dari hasilobservasi menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat yang berdomisili ditepian bantaran sungai yang rawan banjir sudah mempersiapkan diri jika sewaktuwaktu terjadi banjir. Misalnya masyarakat tepian Bengawan Solo,sudah memahamibetul apa resiko yang mungkin terjadi terhadap musibah banjir bandang diwilayahnya. Tidak semua resiko itu mereka pandang sebagai bencana yangmenakutkan atau membahayakan. Sebagian mereka mendapatkan hikmah daribencana banjir semacam itu. Mereka yang berprofesi mencari barang-barang bekasketika banjir bandang mengaku justru mendapatkan rezeki. Mereka bisa
  44. 44. 35mendapatkan kayu, kaleng, bermacam macam plastik dan sejenisnya. Barang-barang itu menjadi mata pencaharian mereka sehari hari. Maka terjadi paradokdalam melihat banjir dalam perspektif masyarakat di tepian sungai Bengawan Solo,dengan perspektif Pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Pihak pemerintahselalu melihat bahwa ”banjir bandang pada masyarakat di tepian sungai merupakanbahaya, yang bisa menimbulkan musibah besar. Maka mereka perlu mendapatkanperlindungan, pertolongan dan sekaligus bantuan dan jika perlu di evakuasi untuk dipindahkan ke pemukiman baru. Hal semacam itu menurut mereka memang sudahmenjadi kuwajiban pemerintah daerah terhadap warga masyarakatnya yang kenamisibah, mereka tidak akan menolaknya. Tetapi untuk mengalihkan budaya lokalyang sudah menjiwai masyarakat yang tinggal di tepian sungai tidak semudah,memindahkan bangunan fisik.Bangunan sosial budaya terkait dengan lingkungan sosial yang sudah merekajadikan pola dasar kehidupan bertahun tahun selama ini. Ada keterikatan hubungansosial,budaya dan ekonomi yang tidak mudah mereka tinggalkan. Hubungan itutelah mengakar di komunitas masyarakat yang tinggal di bantaransungai.Kekerabatan yang mereka bangun masih menjadi pengikat jika mereka harusdi relokasi ke tempat yang lebih aman.Bagi mereka pemisahan kekerabatan adalahbencana sosial yang tidak pernah terbayangkan. Jika mereka harus terpisah dengankekerabatan sosial dan budaya di tempat baru (relokasi) bangunan sosial itu akanmereka mulai dari awal lagi.Meeka melihat bukan dari sisi pandang hukumsebagaimana peraturan formal pemerintah. Dengan membayar iuranwarga,listrik,jasa keamanan menurut persepsi mereka sudah syah bertempat tinggaldi bantaran sungai tersebut. Tanpa melihat siapa yang salah dalam kontekstersebut,permasalahan ”penghunian ilegal di bantaran sungai” telah menjadifenomena sosial di Indonesia yang masih belum mendapatkan solusi.Karenapendekatan yang umumnya dilakukan adalah penggusuaran yang bernuansakekerasan, bukan pendekatan sosial budaya, sesuai dengan kultur mereka dimasing masing daerah.
  45. 45. 362.2 Lokasi Penelitian*Topografi Lokasi Penelitian di Manado Sulawesi Utara12: KelurahanKomo Luar Kecamatan Wenang Kabupaten Kota Manado,merupakan sebuah desayang terletak di sepanjang hamparan sungai Tondano dan Sawangan. Sebelummengalir ke hilir dan masuk menuju laut, kedua sungai tersebut bertemu di desaKomo Luar Kecamatan Wenang. Karena lokasinya yang landai tempat pertemuankedua sungai tersebut menjadi daerah rawan banjir jika musim penghujan.Banjirrutin di wilayah Kelurahan ini sudah dimaklumi masyarakat setempat.Ketidakkhawatiaran warga terhadap banjir karena mereka mengenalnya sejak lama iatinggal. Tanda tanda alam jika akan banjir itu bisa dibaca dari cuaca yang terjadidikawasan hulu sekitar Pegunungan Tondano. Jika di kawasan pegununganTondano yang lokasinya lebih tinggi itu sedang terjadi hujan deras dan secara terusmenerus, kedua anak sungai tersebut (sungai Tondano dan sungai Bawang) meluapkepermukiman penduduk. Luapan itu akan lama surutnya jika pada saat itu jugaterjadi air laut pasang. Berbeda dengan kelurahan lainnya yang lokasinya lebih tinggidari Komo Luar. Secara geografis Kelurahan Komo Luar mempunyai wilayah seluas5,1 Ha, sebelau utara dibatasi Kelurahan Karang. Sebelah selatan berbatasandengan Kelurahan Tikala Kumalaha, sebelah barat berbatasan denga akelurahanPinaesaan, dan berbatasan dengan Kelurahan Tikala Ares. Meski letaknya beradadihamparan sungai Tondano, dan sungai Bawang Kelurahan Komo Luar termasukpemukiman yang padat penduduknya. Mereka bermukim di Komo Luar karenalokasinya berada di tengah kota dan dianggap mudah untuk mencari pekerjaan.Jarak dengan kota kecamatan hanya sekitar 8 Km, ke kantor Kabupaten hanya 2Km, sedangkan jika ke kantor Gubernur hanya sekitar 7 Km saja.Dari 5,1 ha luas12Diskripsi penelitian di kota Manado ini merupakan pengembangan hasilobservasi,wawancara mendalam dan FGD yang dilakukan S.Arifianto & AhmadBudi Setiawan,tanggal,21-27 Juli 2009. Observasi dan wawancara mendalamdilakukan dilokasi penelitian, yaitu di komunitas masyarakat yang tinggal di daerahrawan bencana di Kelurahan Komo Luar,Kecamatan Wenang Kota Manado.Wargamasyarakat yang diteliti adalah mereka yang bermukim dibantaran Sungai Tondanodan Sungai Bawang yang setiap musim hujan wilayah itu terendam air bah darikedua sungai tersebut. Mereka tidak mau direlokasi ketempat yang dianggap amankarena kepentingan ekonomi, dan masalah sosial budaya yang sudah mendarahdaging dilokasi tersebut.

×