L ima disiplin

788 views

Published on

Model pembelajaran cara berpikir individu dalam organisasi

Published in: Education
  • Be the first to like this

L ima disiplin

  1. 1. Strategi dan Alat untuk membangun Organisasi Pembelajaran Peter Singe Interaksara, 2002 Penyunting Drs. FX. Sudirman,MPd.
  2. 2. Keahlian Pribadi Model Mental Visi Bersama Pembelaja ran Tim Pemikiran Sistem
  3. 3. Learning Organization Team Learning Dialog Asumsi,Kesetaraan, PokokeLatihan CollectiveintelL- igencealign- ment Building share vision Hologram & commitment Vision Process&Currentreality Commonalityofpropose& partnership Mental models Espouse X theory in use, ladder of Reference, Balance inquiry & advocacy Loveoftruth&Openness DatafromabstractionXdata,test assumption,Lefthandcolumn Personal Mastary Vision, creative X emotional tension, sub-concious Clarifyingpersonalvision,holdingcreativetension,choice Being,generativeness,connectedness Holism,interconnectedness Structure influences behavior, policy resistance, leverage Causalloop,systemarchetype,simulation System thingking DISIPLIN PRINSIP PRAKTEK ESENSI
  4. 4.  Berpikir sistemik merupakan disiplin yang mengintegrasikan keempat disiplin lainnya.  Sistem merupakan suatu keseluruhan yang dirasakan,yang unsur-unsurnya “tergantung bersama” karena terus menerus saling mempengaruhi dan beroperasi menuju tujuan.  Bisakah anda memberikan contoh?
  5. 5.  Memandang sesuatu secara keseluruhan.  Saling keterkaitan.
  6. 6.  Struktur mempengaruhi perilaku.  Penolakan terhadap kebijakan (dogma)  Pengungkit (aspek dominan)
  7. 7.  Lop sebab akibat.  Archetype menghambat pengamatan.  Simulasi
  8. 8.  Adalah disiplin yang terus menerus memperjelas dan memperdalam visi pribadi.  Bukan kondisi yang kita miliki saat ini  Adalah proses selalu belajar.  Sudahkah anda punya visi pribadi ?
  9. 9.  Keberadaan dalam organisasi harus memberi makna, memiliki kesadaran bahwa dirinya terkait dengan dunia luar.  Kemampuan menghasilkan, dengan membangkitkan orang lain.  Keterkaitan dengan dunia luar.
  10. 10.  Memiliki visi  Rasa ketidak berdayaan mewujutkan visi  Kemampuan menyelesaikan masalah dengan tenang.
  11. 11.  Kejelasan visi pribadi.  Kreatif  Membuat pilihan
  12. 12.  Merupakan gambaran, asumsi, dan kisah dalam benak kita tentang diri sendiri, orang lain dan setiap aspek dari dunia ini.  Dua keahlian yang diperlukan perenungan (membentuk model kita sendiri)  Penyelidikan (memahami asumsi orang lain)  Apa bedanya dengan pengertian paradigma ?
  13. 13.  Cinta kebenaran (Love of truth)  Keterbukaan (Openess)
  14. 14.  Kesamaan antara teori yang diucapkan (Espoused theory) dengan teori yang digunakan (Theory in use)  Tangga inferensi / tahap-tahap pengambilan keputusan (Ladder of reference)  Keseimbangan antara mencari tahu dengan memberi tahu (balancing inquiry and advocacy)
  15. 15.  Membedakan data atas dasar abstraksi dengan data.  Menguji asumsi  Menyamakan antara apa yang diucapkan dengan apa yang dipikirkan.
  16. 16.  Apa yang ingin diwujutkan di masa depan.  Visi sebagai kebutuhan (internalisasi).  Visi perlu disebarkan pada semua anggota.  Apa perbedaan proses dan hasil yang dicapai oleh organisasi yang membangun visi bersama dengan yang tidak?
  17. 17.  Tujuan bersama  Kemitraan
  18. 18.  Visi bersama  Komitmen
  19. 19.  Proses mengandung saling mendengarkan dan kebebasan berpendapat.  Kondisi saat ini sebagai pijakan.
  20. 20.  Berangkat dari keterbatasan individu.  Belajar bersama lebih bermakna.  Ada ketergantungan.  Mengapa diperlukan pembelajaran tim dalam organisasi?
  21. 21.  Kecendikiaan bersama  Kesetaraan
  22. 22.  Dialog  Diskusi  Waspada terhadap sikap berdalih
  23. 23.  Menunda asumsi sendiri  Sebagai kolega / mitra  Mengemukakan pendapat sendiri tapi menghindari “pokoke”  Terus berlatih

×