PENGARUH PENGAPURAN DAN PEMUPUKAN FOSFATTERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIJIKEDELAI (Glycine max (L) Merril)SKRIPSIOLEHF...
SKRIPSIPENGARUH PENGAPURAN DAN PEMUPUKAN FOSFATTERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIJIKEDELAI (Glycine max (L) Merril)Disus...
PERNYATAANYang bertanda tangan dibawah ini :NAMA : FITRI HADIRAHNPM : 080 1000 505PRODI : AgroteknologiFAKULTAS : PERTANIA...
RIWAYAT HIDUPFitri hadirah, dilahirkan di Aceh Tengah padatanggal 5 september 1987, merupakan anakpertama dari 2 (dua) ber...
RINGKASANFitri Hadirah. ”Pengaruh Pengapuran dan Pemupukan Fosfatterhadap Pertumbuhan dan Produksi Biji Kedelai (Glycine m...
tanah liat. Hasil yang terbaik di jumpai pada perlakuan D3 (2 ton/Ha = 200gram/plot)Pemupukan fosfat berpengaruh sangat ny...
PRAKATASyukur Alhamdulillah penulis haturkan kehadirat Allah SWT. Ataslimpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan l...
3. Ibu Hairunnas. SP selaku Pembimbing Pendamping yang telahmembimbing pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi inihi...
DAFTAR ISIHalamanLEMBAR PENGESAHAN.................................................................. iPERNYATAAN.............
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN................................................ 32A. Pengaruh Pengapuran.........................
DAFTAR TABELTabel 1. Ringkasan unsur hara di dalam tanah (Anion dan Kation)...... 21Table 2. Kombinasi perlakuan dosis Pen...
DAFTAR LAMPIRANTabel Lampiran 1. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai PadaUmur 15 Hari Setelah Tanam (cm)........................
I. PENDAHULUANA. Latar BelakangKedelai (Glycine max (L) Merril) merupakan bahan pangan sumberprotein nabati yang paling mu...
hidup didunia sangat memerlukan tanah. Akan tetapi arti yang penting inikadang diabaikan oleh manusia, sehingga tanah tida...
Tanaman kedelai sudah mulai di kembangkan di daerah AcehTengah, khususnya di Kecamatan Linge seperti di Kampung PantanNang...
dalam tanah lebih giat, dan menurunkan kelarutan zat-zat yang sifatnyameracuni tanamanRosmarkam dan Yuwono (2002) menyebut...
Pemupukan adalah material yang ditambahkan pada mediatanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanamansehingg...
tanah harus stabil dan tahan terhadap pukulan air hujan,sehingga erosidapat ditahan.Oleh karena itu peningkatan produksi h...
3. Untuk mengetahui ada tidaknya interaksi antara pengapuran danpemupukan fosfat terhadap pertumbuhan dan produksi biji ke...
II. TINJAUAN PUSTAKAA. Botani Tanaman Kedelai1. Klasifikasi Tanaman KedelaiKedelai termasuk Family Leguminosae (kacang-kac...
2. Morfologi Tanaman Kedelaia. Akar. Kedelai berakar tunggang, pertumbuhan akar tungganglurus masuk kedalam tanah dan memp...
bunga. Namun sebagian besar bunga rontok, hanya beberapa yang dapatmembentuk polong (Anonymous, 1989).e. Buah. Buah kedela...
2. TanahKedelai dapat tumbuh disetiap macam tanah, namun tidak 100 %bisa, tanaman itu tumbuh namun hasilnya tidak selalu m...
C. Penyebab dan Masalah Kemasaman TanahKeasaman tanah dientukan dengan kepekatan ion hidrogen yanberada dalam tanah terseb...
bahan organik, bereaksi asam hingga sangat masam, keracunan Al danMn, tingginya fiksasi fosfat (P), defisiensi unsur hara ...
yang mudah didapat di apotik. Kemasaman tanah dapat dinyatakandengan pH 1- 8 (Rismundar, 1974).Pada umumnya tanah yang sud...
terjadi apabila di dalam tanah terdapat Fe (Rosmarkam danYuwono, 2002).Menurut Sutanto (2005) keasaman tanah di sebabkan o...
Banyak bukti yang menunjukkan bahwa pH kotoran tanah lebih netral daripada tanah habitatnya (Hanafiah, dkk, 2007).D. Peran...
digunakan, karena relatif murah dan mudah didapat. Bahan tersebut selaindapat memperbaiki sifat fisik tanah juga tidak men...
Menurut Sanchez dan Salinaz (1981) dalam Amiruddin (2008)menjelaskan bahwa unsur Ca di perlukan untuk memperkokohpertumbuh...
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengaruh pengapuran berkaitanerat dengan perubahan pH, yang selanjutnya mempengaruhi...
3. Dolomit (CaMgCO3) mengandung kalsium oksida dan magnesiumoksida 47% serta kalsium karbonat dan magnesium karbonatnya85%...
Tabel 1. Ringkasan unsur hara di dalam tanah (Anion dan Kation)UnsurBentukIon yangDiserapSumberUtamaKandungan diDalam Tana...
Kedelai memerlukan P (fosfor) dalam jumlah relatif banyak,walaupun jumlahnya tidak sebanyak Nitrogen dan Kalium, unsur ini...
Fungsi P yang lain adalah mendorong pertumbuhan akar tanaman,yang dibedakan menjadi 3 fase yakni :1. Perubahan P anorganik...
Phosphate) fluor apatit diasamkan dengan asam Fosfat (Rosmarkam danYuwono, 2002).Pupuk fosfat banyak terdapat di pasaran d...
III. BAHAN DAN METODE PENELITIANA. Waktu Dan Tempat PenelitianPenelitian ini dilaksanakan di Kampung Isaq, Kecamatan Linge...
P3 = TSP 22,5 gram/plotDari 12 kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali, jumlah unitplot 12 x 3 = 36 plot perlakuan, uk...
Di : Pengaruh dari perlakuan pengapuran pada taraf ke-iPj : Pengaruh dari pemupukan fofat dari taraf ke-j(DP)ij : Interaks...
perangsang bakteri Rhyzobium yang berfungsi merangsang akar supayadapat menyimpan unsur Nitrogen dalam bintil akar, yaitu ...
Pemupukan di lakukan sekali yaitu pada saat kedelai di tanam, diawali dengan pemberian pupuk Urea sebanyak 50 kg/ha (5 gra...
memotong batang tanaman secara hati-hati agar biji tidak terpelantingkeluar, dengan menggunakan sabit bergerigi yang tajam...
IV. HASIL DAN PEMBAHASANA. Pengaruh Pengapuran7. Tinggi TanamanHasil Uji F pada Analisis Sidik Ragam (Tabel Lampiran 2, 4,...
Menurut hasil penelitian Clarkson (1965) di dalam Hakim (1986)berhasil menunjukan bahwa keracunan Al akan menghambat pembe...
sebagian besar P terikat oleh unsur-unsur logam seperti Al dan Fesehingga P tidak tersedia di dalam tanah untuk pertumbuha...
D2D317,78 b18,35 b284,51 b293,57 b14,28 b15,74 cBNJ 0,05 0,73 11,63 0,97Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang ti...
Tisdale et al (1985) dalam Amiruddin (2008) juga menjelaskanpeningkatan pH tanah akibat pengaruh utama pemberian kapur did...
B. Pengaruh Pemupukan Fosfat1. Tinggi TanamanHasil pengamatan terhadap tinggi tanaman Kedelai untuk masing-masing kombinas...
dengan perlakuan 15 gram/plot (P2). Namun berbeda sangat nyata padaumur 60 hari setelah tanam. Hal ini disebabkan pemberia...
Menurut Morard (1970) dalam Rosmarkam dan Yuwono (2002)menerangkan setelah P diserap oleh akar, P mula-mula di angkut ke d...
Tabel 6. Rata-Rata Berat Biji Kering (g) Produksi Tanaman KedelaiAkibat Pengaruh Pemupukan FosfatPemupukanFosfatBerat Biji...
Hara fosfor dihisap tanaman sepanjang masa pertumbuhannya,periode terbesar penggunaan fosfat dimulai pada masa pembentukan...
V. KESIMPULAN DAN SARANA. KesimpulanDari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :3. Pengapuran berpengaruh sangat nyata ...
DAFTAR PUSTAKAAdisarwanto. T. dan Rini Wudianto., 2002. Meningkatkan Hasil PanenKedelai Di Lahan Sawah - Kering - Pasang S...
Widyawati. E., 2007. Pengaruh_Pemupukan_dan_Pengapuran.pdfhttp://eprints.umm.ac.id/9444/1/Yitnosumarto. S.,1991. Percobaan...
LAMPIRANTabel Lampiran 1. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai Pada Umur 15 HariSetelah Tanam (cm)PerlakuanBlok/UlanganJumlah ...
Tabel Lampiran 3. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai Pada Umur 30 HariSetelah Tanam (cm)PerlakuanBlok/UlanganJumlah Rata-rat...
Tabel Lampiran 5. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai Pada Umur 45 HariSetelah Tanam (cm)PerlakuanBlok/UlanganJumlah Rata-rat...
Tabel Lampiran 7. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai Pada Umur 60 HariSetelah Tanam (cm)PerlakuanBlok/UlanganJumlah Rata-rat...
Tabel Lampiran 9. Rata-Rata Berat Biji Kering Pertanaman (g)PerlakuanBlok/UlanganJumlah Rata-rataI II IIIP1 D0 14.98 14.99...
Tabel Lampiran 11. Rata-Rata Berat Biji Kering Perplot (g)PerlakuanBlok/UlanganJumlah Rata-rataI II IIIP1 D0 239.70 239.90...
Tabel Lampiran 13. Rata-Rata Berat 100 Biji Kering (g)PerlakuanBlok/UlanganJumlah Rata-rataI II IIIP1 D0 11.46 12.43 11.29...
Lampiran 16. Deskripsi Kedelai Varietas AnjasmoroNama Varietas : AnjasmoroKategori : Varietas unggul nasional (released va...
Lampiran 18. Data Hasil Pengamatan pH Tanah9. Perlakuan kontrol tanpa dolomit(D0)1 4.52 53 5.24 55 4.56 4.77 58 4.89 4.6Ju...
Lampiran 19DOKUMENTASI PENELITIANGambar 1. Lokasi PenelitianGambar 2. Plot-plot PenelitianGambar 3. Kapur (Dolomit) dan ta...
Gambar 4. Pengamatan pada saat tanaman berumur 30 hstGambar 5. Tanaman kedelai pada saat berumur 45 hstGambar 6. Tanaman p...
Gambar 7. Tanaman per-plot pada saat berumur 60 hstGambar 8. Produksi kedelai per-tanamanGambar 9. Produksi kedelai per-pl...
Gambar 10. Produksi kedelai per-plot setelah penjemuranGambar 11. Penjemuran dan sampah kedelai setelah pengulitan(pengupa...
Pengaruh pemupukan posfat dan pengapuran terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai di desa isaq kec., linge (fitri...
Pengaruh pemupukan posfat dan pengapuran terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai di desa isaq kec., linge (fitri...
Pengaruh pemupukan posfat dan pengapuran terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai di desa isaq kec., linge (fitri...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Pengaruh pemupukan posfat dan pengapuran terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai di desa isaq kec., linge (fitri hadirah)

6,710 views

Published on

  • Be the first to comment

Pengaruh pemupukan posfat dan pengapuran terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai di desa isaq kec., linge (fitri hadirah)

  1. 1. PENGARUH PENGAPURAN DAN PEMUPUKAN FOSFATTERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIJIKEDELAI (Glycine max (L) Merril)SKRIPSIOLEHFITRI HADIRAHNPM. 0801000505Untuk Memenuhi Sebahagian Persyaratan MencapaiGelar Sarjana S1 pada Program Studi AgroteknologiFakultas Pertanian Universitas Gajah PutihTakengonPROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGIFAKULTAS PERTANIANUNIVERSITAS GAJAH PUTIHTAKENGON 2011
  2. 2. SKRIPSIPENGARUH PENGAPURAN DAN PEMUPUKAN FOSFATTERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BIJIKEDELAI (Glycine max (L) Merril)Disusun OlehFITRI HADIRAHNPM. 0801000505Telah Dipertahankan Di depan DewanKomisi Penguji pada Tanggal 16 Juli 2011Dan Dinyatakan Telah Lulus Memenuhi SyaratMenyetujuiKomisi Pembimbing,PembimbingKetuaIr. MASNA MANURUNG. MPNIDN. 0114116701PembimbingAnggotaHAIRUNNAS. SPNIDN. 010202671Mengetahui KetuaProgram Studi AgroteknologiFakultas Pertanian Universitas Gajah PutihTakengonIr. MASNA MANURUNG. MPNIDN. 0114116701
  3. 3. PERNYATAANYang bertanda tangan dibawah ini :NAMA : FITRI HADIRAHNPM : 080 1000 505PRODI : AgroteknologiFAKULTAS : PERTANIANDengan ini saya menyatakan bahwa dalam Skripsi yang berjudulPengaruh Pengapuran dan Pemupukan Fosfat terhadap pertumbuhan danProduksi biji Kedelai (Glycine max (L) Merril) tidak terdapat karya yangpernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruantinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya ataupendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yangsecara diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam Daftar Pustaka.Surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan apabilapernyataan ini tidak benar saya bersedia mendapatkan sangsi dari pihakakademis.Takengon, Juli 2011F I T R I H A D I R A HNPM . 080 1000 505
  4. 4. RIWAYAT HIDUPFitri hadirah, dilahirkan di Aceh Tengah padatanggal 5 september 1987, merupakan anakpertama dari 2 (dua) bersaudara, dari PasanganBapak Yakup dan Ibu Djaimah, Beragama Islam.Penulis tamat Sekolah Dasar Negeri di MerahMege Kecamatan Atu Lintang pada tahun 2000,kemudian menyelesaikan Sekolah LanjutanTingkat Pertama di SMP Negeri 20 Takengon Kecamatan Atu Lintang padatahun 2003, menyelesaikan Sekolah Menengah Umum di SMK Negeri 2Takengon Kecamatan Pegasing pada tahun 2006, dan pada tahun itu jugapenulis meneruskan pendidikan program Strata Satu di JurusanAgroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih Takengon AcehTengah.
  5. 5. RINGKASANFitri Hadirah. ”Pengaruh Pengapuran dan Pemupukan Fosfatterhadap Pertumbuhan dan Produksi Biji Kedelai (Glycine max (L) Merril)”,penelitian ini dibimbing oleh Masna Manurung sebagai pembimbing ketuadan Hairunnas sebagai pembimbing anggota.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruhpengapuran dan pemupukan fosfat serta interaksi antara pengapuran danpemupukan fosfat terhadap pertumbuhan dan produksi biji kedelai.Penelitian ini dilakukan di Kampung Isaq, Kecamatan Linge,Kabupaten Aceh Tengah pada Tanggal 13 Oktober 2010 sampai 16Februari 2011.Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial berdasarkanRancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktorpertama adalah level dosis pengapuran (D) terdiri dari 4 taraf : D0 ; kontrol,D1 ; 1 ton/Ha = 100 gram/plot, D2 ; 1.5 ton/Ha = 150 gram/plot, D3 ; 2 ton/Ha= 200 gram/plot. Faktor kedua adalah level pemupukan fosfat (P) terdiridari 3 taraf : P1 ; 75 Kg/Ha = 7.5 gram/plot, P2 ; 150 Kg/plot = 15 gram/plotdan P3 ; 225 Kg/plot = 22,5 gram/plot.Hasil uji F pada analisis sidik ragam pengapuran berpengaruhsangat nyata terhadap produksi biji kedelai. Namun, tidak berpengaruhnyata terhadap pertumbuhan tanaman, hal ini disebabkan kurangnya dosiskapur pada pH yang sangat rendah dan sulit terjadi reaksi kapur pada
  6. 6. tanah liat. Hasil yang terbaik di jumpai pada perlakuan D3 (2 ton/Ha = 200gram/plot)Pemupukan fosfat berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhanpada umur 30 hst, 45 hst dan 60 hst. Namun, tidak berpengaruh nyatapada umur 15 hst, hal ini disebabkan belum terjadi reaksi pupuk fosfatsecara sempurna pada umur 15 hst, serta berpengaruh sangat nyataterhadap produksi biji kedelai. Hasil yang terbaik dijumpai pada perlakuanP3 (225 Kg/Ha = 22.5 gram/plot).Tidak terdapat interaksi yang nyata antara pengapuran danpemupukan fosfat terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai
  7. 7. PRAKATASyukur Alhamdulillah penulis haturkan kehadirat Allah SWT. Ataslimpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulisan laporan penelitiandengan judul “Pengaruh Pengapuran dan Pemupukan Fosfat terhadapPertumbuhan dan Produksi Biji Kedelai (Glycine max (L) Merril)”,dapat terselesaikan.Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satusyarat untuk mencapai gelar Sarjana Pertanian Jurusan AgroteknologiFakultas Pertanian Universitas Gajah Putih Takengon.Penulis juga menyadari adanya bantuan dan bimbingan serta kerjasama penulis dengan berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai padapenyusunan skripsi ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi inidengan baik. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:1. Ayah dan Ibunda tercinta yang telah mendoakan membiayai,mendidik dan atas kasih sayangnya. Keponakanku Loly yangmemberikan dorongan dan semangat, beserta seluruh keluargayang telah memberikan dukungan serta motivasi dalampenyusunan skripsi ini hingga selesai.2. Ibu Ir. Masna Manurung. MP selaku Pembimbing utama yangtelah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untukmengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini hinggaselesai.
  8. 8. 3. Ibu Hairunnas. SP selaku Pembimbing Pendamping yang telahmembimbing pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi inihingga selesai.4. Dosen Penguji, terimakasih karena telah berkenan menguji danmemberikan kesempatan penulis untuk mempertahankanargumen dan juga memberikan banyak koreksi sehingga SarjanaPertanian yang penulis sandang menjadi pantas dibanggakan.5. Civitas Akademika Jurusan Agronomi Fakultas PertanianUniversitas Gajah Putih.Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagiyang memerlukan.Takengon, Juli 2011Penulis
  9. 9. DAFTAR ISIHalamanLEMBAR PENGESAHAN.................................................................. iPERNYATAAN................................................................................... iiRIWAYAT HIDUP .............................................................................. iiiRINGKASAN....................................................................................... ivPRAKATA........................................................................................... viiDAFTAR ISI........................................................................................ viiiDAFTAR TABEL................................................................................. xDAFTAR LAMPIRAN......................................................................... xiBAB I PENDAHULUAN................................................................... 1A. Latar Belakang................................................................ 1B. Tujuan Penelitian............................................................ 5C. Hipotesa........................................................................... 6BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................... 7A. Botani Tanaman Kedelai............................................... 7B. Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai................................ 9C. Penyebab dan Masalah Keasaman Tanah................... 11D. Peran pengapuran.......................................................... 15E. Jenis-jenis Kapur Pertanian.......................................... 17F. Unsur Hara Dalam Tanah dan Peran Pupuk FosfatBagi Tanaman................................................................ 18BAB III BAHAN METODE PENELITIAN........................................... 25A. Waktu dan Tempat Penelitian....................................... 25B. Bahan dan Alat............................................................... 25C. Metode Penelitian........................................................... 25D. Pelaksanaan penelitian................................................. 27
  10. 10. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN................................................ 32A. Pengaruh Pengapuran.................................................... 32B. Pengaruh Pemupukan Fosfat........................................ 37C. Pengaruh Interaksi Antara Pemupukan Fosfat danPengapuran..................................................................... 42BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN................................................ 43A. Kesimpulan...................................................................... 43B. Saran................................................................................ 43DAFTAR PUSTAKA........................................................................... 44LAMPIRAN
  11. 11. DAFTAR TABELTabel 1. Ringkasan unsur hara di dalam tanah (Anion dan Kation)...... 21Table 2. Kombinasi perlakuan dosis Pengapuran dan PemupukanFosfat........................................................................................ 26Tabel 3. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai Akibat PengaruhPengapuran (cm)...................................................................... 32Tabel 4. Rata-Rata Berat Biji Kering (g) Produksi Tanaman KedelaiAkibat Pengaruh Pengapuran................................................. 35Tabel 5. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai Akibat PengaruhPemupukan Fosfat (cm).......................................................... 37Tabel 6. Rata-Rata Berat Biji kering (g) Produksi Tanaman KedelaiAkibat Pengaruh Pemupukan Fosfat .................................... 40
  12. 12. DAFTAR LAMPIRANTabel Lampiran 1. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai PadaUmur 15 Hari Setelah Tanam (cm)........................ 46Tabel Lampiran 2. Analisis Sidik Ragam Tinggi Tanaman KedelaiPada Umur 15 Hari Setelah Tanam....................... 46Tabel Lampiran 3. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai PadaUmur 30 Hari Setelah Tanam (cm)........................ 47Tabel Lampiran 4. Analisis Sidik Ragam Tinggi Tanaman PadaUmur 30 Hari Setelah Tanam................................ 47Tabel Lampiran 5. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai PadaUmur 45 Hari Setelah Tanam (cm)........................ 48Tabel Lampiran 6. Analisis Sidik Ragam Tinggi Tanaman PadaUmur 45 Hari Setelah Tanam................................ 48Tabel Lampiran 7. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai PadaUmur 60 Hari Setelah Tanam (cm)........................ 49Tabel Lampiran 8. Analisiss Sidik Ragam Tinggi Tanaman PadaUmur 60 Hari Setelah Tanam................................ 49Tabel Lampiran 9. Rata-Rata Berat Biji Kering Pertanaman (g)......... 50Tabel Lampiran 10. Analisis Sidik Ragam Berat Biji KeringPertanaman........................................................... 50Tabel Lampiran 11. Rata-Rata Berat Biji Kering Perplot (g)................. 51Tabel Lampiran 12. Analisis Sidik Ragam Berat Biji Kering Perplot..... 51Tabel Lampiran 13. Rata-Rata Berat 100 Biji Kering (g) ...................... 52Tabel Lampiran 14. Tabel Analisis Sidik Ragam Berat 100 Biji Kering.. 52Lampiran 15. Bagan Percobaan.................................................. 53Lampiran 16. Deskripsi Kedelai Varietas Anjasmoro.................. 54Lampiran 17. Jadwal Kegiatan Penelitian .................................. 55Lampiran 18. Data Hasil Pengamatan pH Tanah........................ 56Lampiran 19. Dokumentasi Kegiatan Penelitian ........................ 57
  13. 13. I. PENDAHULUANA. Latar BelakangKedelai (Glycine max (L) Merril) merupakan bahan pangan sumberprotein nabati yang paling murah dan cukup untuk kebutuhan, bahanmakanan ini adalah komoditas penting di Indonesia karena merupakansumber protein, di samping sebagai sumber lemak, vitamin dan mineralbagi masyarakat, kedelai juga merupakan bahan baku bagi berbagaiindustri dan bahan baku pakan ternak (Anonymous, 1991).Kedelai merupakan sumber protein nabati yang efesien, untukmendapatkan 2.100 kalori + 55 gram protein per kapital per hari, diperlukan 44 gram kacang-kacangan per kapital per hari. Anjuran konsumsi44 gram kacang-kacangan per hari tidak lah sulit di penuhi mengingatbesarnya keragaman penggunaan kacang dalam menu seperti tahu,tempe, sayuran, kacang goreng dan bubur kacang (Anonymous, 1990).Tanaman kedelai di Indonesia setiap tahunnya memerlukan suplaitambahan yang harus di impor karena produksi kedelai di dalam negeribelum dapat mencukupi kebutuhan. Terlepas dari penting dan tingginyapermintaan akan kedelai, produksi kedelai di Indonesia sangat kurangkompetitif bila dibandingkan dengan tanaman pangan lainya, meskipunhasil per hektar dan areal tanaman terus meningkat produksi total ternyatabelum mencukupi kebutuhan nasional (Sumarno, dkk, 1990).Tanah sangat penting artinya bagi usaha pertanian karenakehidupan dan perkembangan tumbuh-tumbuhan dan segala mahkluk
  14. 14. hidup didunia sangat memerlukan tanah. Akan tetapi arti yang penting inikadang diabaikan oleh manusia, sehingga tanah tidak berfungsi lagisebagaimana mestinya. Tanah menjadi gersang dan dapat menimbulkanberbagai bencana, tidak lagi menjadi sumber bagi segala kehidupan(Sutedjo, 2002).Upaya meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri sebenarnyatelah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu melalui beberapa pendekatanantara lain program pengapuran, supra insus, Opsus kedelai, dan programGema palagung melalui salah satu cara dengan peningkatan IndekPertanaman (IP) menuju Swasembada kedelai pada tahun 2001(Adisarwanto dan Wudianto, 2002)Kedelai berperan penting dalam usahatani di daerah Istimewa Aceh,peranan tersebut terlihat dari luas areal panen kedelai yang menempatiurutan kedua setelah tanaman padi ( Soenarjo, 1994).Kedelai merupakan salah satu komoditas unggulan di ProvinsiNAD, khususnya daerah pantai utara. Potensi lahan untuk pengembangankedelai cukup luas yang terdiri dari lahan kering tegalan dan lahan sawahsetelah tanam padi. Sejak era 80-an Propinsi Aceh dikenal sebagai salahsatu sumber produksi kedelai untuk pemenuhan kebutuhan kedelainasional. Awal pengembangan, kedelai di Propinsi Aceh mampuberproduksi sampai 2 ton/ha. Akan tetapi lambat laun produksi terusmenurun, rata-rata produktivitas secara regional hanya mencapai ± 1, 2ton/ha. Hal ini disebabkan berbagai hal, salah satunya adalah tingkatkesuburan lahan turun.
  15. 15. Tanaman kedelai sudah mulai di kembangkan di daerah AcehTengah, khususnya di Kecamatan Linge seperti di Kampung PantanNangka namun produksinya masih jauh mencukupi kebutuhan daerah,semakin meningkatnya kebutuhan kedelai, intensifikasi yang dilakukanuntuk meningkatkan produktifitas, seperti penggunaan pupuk yang sesuaidosis, penggunaan benih unggul dan diperlukan pengoptimalisasian sertaperlakuan perbaikan tanah yang sesuai sehingga produksi dapat maksimal.Dalam membudidayakan kedelai agar tumbuh sempurna apabilamemenuhi syarat tumbuh yang cocok untuk bercocok tanam, banyak faktoryang dapat menurunkan produksi kedelai salah satunya adalah keasamantanah dan miskin hara di dalam tanah. Untuk mengubah semua itu dapatdilakukan beberapa usaha untuk dapat memenuhi syarat tumbuh yangdiinginkan tanaman kedelai.Pada tanah bekas di tanami padi masih terkandung unsur-unsurhara yang bisa dimanfaatkan oleh kedelai. Namun, kadang-kadangkeasaman tanah sawah dan tegalan tinggi sehingga hasil tanaman kedelaipun berkurang, upaya mengurangi keasaman tanah tersebut perlu di berikapur, pengapuran dilakukan pada saat pengolahan tanah, yakni sebulansebelum kedelai ditanam (Anonymous, 1989).Pengapuran merupakan salah satu cara untuk memperbaiki tanahyang bereaksi asam atau basa. Tujuan dari pengapuran adalah untukmenaikkan pH tanah sehingga karenanya unsur-unsur hara menjadi lebihtersedia, memperbaiki struktur tanahnya sehingga kehidupan organisme
  16. 16. dalam tanah lebih giat, dan menurunkan kelarutan zat-zat yang sifatnyameracuni tanamanRosmarkam dan Yuwono (2002) menyebutkan bahwa di Indonesia,banyak tanah yang asam terutama terdapat di kawasan pantai landaiSumatra, Kalimantan, Irian jaya, dan pulau kecil lainnya yang sebagianbesar pH tanah disebabkan oleh adanya asam sulfat di dalam tanah, makinbanyak kadar asam sulfatnya, maka makin rendah pH tanahnya. Sepertiyang kita ketahui bahwa asam sulfat merupakan asam kuat :H2SO4 → 2H++ SO4=Di Aceh Tengah khususnya di Kecamatan Linge banyak lahan yangtidak pernah di olah oleh petani untuk lahan pertanian karena lahantersebut terlalu asam yang ber pH rendah dan kekurangan unsur harasehingga hanya dapat di tumbuhi oleh alang-alang.Lahan alang-alang adalah tipe tutupan lahan kering yang didominasioleh rumput alang-alang (Imperata. sp). Lahan alang-alang adalah salahsatu ciri dari kondisi lahan yang telah mengalami degradasi danmerosotnya status kesuburan tanah. Sebagian besar lahan alang-alangmemiliki potensi rendah sampai sedang.Untuk mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman kedelaimenghendaki pH tanah yang netral, upaya untuk menaikkan pH yaitudengan Pengapuran, Pengapuran dapat menaikkan pH tanah,meningkatkan aktivitas bakteri bintil akar, serta dapat mengatasi keracunanAl dan Fe (Anonymous, 1991).
  17. 17. Pemupukan adalah material yang ditambahkan pada mediatanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanamansehingga berproduksi dengan baik.Pemberian pupuk fosfat dapat juga menaikkan hasil panen terutamapada tanah yang kekurangan unsur tersebut, kedelai menunjukkan responterhadap pemupukan, terutama pada tanah miskin akan hara tanaman.Hara fosfor dihisap tanaman sepanjang masa pertumbuhannya,kekurangan P (fosfor) pada kebanyakan tanaman terjadi sewaktu tanamanmasih muda, oleh karena belum adanya kemampuan dalam penyerapanyang seimbang antara P (fosfor) oleh akar dan P (fosfor) yang dibutuhkan.Fungsi unsur fosfat antara lain merangsang perkembangan akar, sehinggatanaman akan lebih tahan terhadap kekeringan, mempercepat masa panendan menambah nilai gizi dari biji (Suprapto, 2002).Pada tanah yang cukup subur, pupuk Urea, TSP, dan ZK umumnyatidak menaikkan hasil kedelai. Namun pada tanah-tanah yang miskin harafosfor dan ber-pH rendah, pemupukan dengan TSP disertai pengapuransering dapat meningkatkan hasil kedelai (Anonymous, 1990).Pemupukan dilakukan karena tidak semua tanah baik untukpertumbuhan tanaman. Pada umumnya tanah-tanah pertanian tidakmenyediakan semua hara tanaman yang dibutuhkan dalam waktu cepatdan jumlah yang cukup untuk dapat mencapai pertumbuhan optimal. Tanahyang baik adalah tanah yang dapat memberikan atau menyediakan unsur-unsur pokok yang dibutuhkan sebagai makanan tanaman, cukup poros(gembur) yang memungkinkan air cepat masuk kedalam tanah, struktur
  18. 18. tanah harus stabil dan tahan terhadap pukulan air hujan,sehingga erosidapat ditahan.Oleh karena itu peningkatan produksi hanya dapat dicapai jika diberitambahan hara tanaman untuk pertumbuhan yang optimal, baik itupengapuran maupun pemupukan. Di samping itu, pupuk akan berguna bagitanaman karena dapat mempercepat pertumbuhan tanaman danmemperkuat akarnya. Bahkan dengan pemupukan dapat juga menambahdaya tahan tanaman tahan terhadap hama dan penyakit tertentu. Pupukmerupakan makanan bagi tanaman. Oleh karena itu agar tanaman dapattumbuh dengan baik harus diberikan apa yang dibutuhkan oleh tanamantersebut.Ketersediaan unsur hara P pada tanah Ultiol (asam) yang sangatrendah menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan produksi tanamanyang akan diusahakan. Maka, upaya peningkatan nilai pH, dan kebutuhanunsur fosfat yang dibutuhkan tanaman kedelai, diperlukan jumlah kapurdan pupuk fosfat yang tepat sehingga perlu adanya suatu kajian tentang.“Pengaruh Pengapuran dan Pemberian Pupuk Fosfat terhadapPertumbuhan dan Produksi Biji Kedelai (Glycine max (L) Merril)”.B. Tujuan Penelitian1. Untuk mengetahui pengaruh pengapuran terhadap pertumbuhan danproduksi biji kedelai.2. Untuk mengetahui pengaruh pemupukan fosfat terhadap pertumbuhandan produksi biji kedelai.
  19. 19. 3. Untuk mengetahui ada tidaknya interaksi antara pengapuran danpemupukan fosfat terhadap pertumbuhan dan produksi biji kedelai.C. Hipotesa1. Diduga pengapuran berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan danproduksi biji kedelai.2. Diduga pupuk Fosfat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan danproduksi biji kedelai.3. Diduga terdapat Interaksi antara perlakuan dosis pengapuran danpemberian pupuk fosfat terhadap pertumbuhan dan produksi bijikedelai.
  20. 20. II. TINJAUAN PUSTAKAA. Botani Tanaman Kedelai1. Klasifikasi Tanaman KedelaiKedelai termasuk Family Leguminosae (kacang-kacangan)klasifikasi tanaman kedelai lebih lengkapnya adalah sebagai berikut :- Divisi : Spermatophyta- Subdivisi : Angiospemae- Kelas : Dikotiledone- Ordo : Polypetates- Family : Leguminosae- Subfamily : Papilionoideae- Genus : Glycine- Species : Max- Nama ilmiah : Glycine max (L) MerrilKedelai mempunyai susunan genom, diploid (2n), dengankromosom sebanyak 20 pasang. Beberapa kedelai jenis liar jugamempunyai kromosom 20 pasang, diperkirakan kedelai yang kita tanamsekarang berasal dari jenis liar, Glycine soja G ururiensis. Glycine sojamempunyai bentuk polong dan biji yang hampir sama dengan kedelaibiasa, tetapi Glycine soja dapat disilangkan dengan kedelai biasa(Anonymous, 1990).8
  21. 21. 2. Morfologi Tanaman Kedelaia. Akar. Kedelai berakar tunggang, pertumbuhan akar tungganglurus masuk kedalam tanah dan mempunyai banyak akar cabang, padaakar-akar cabang terdapat bintil-bintil akar berisi bakteri RhizobiumJafonicum, yang mempunyai kemampuan mengikat zat lemas bebas (N2)dari udara yang kemudian dipergunakan untuk menyuburkan tanah.(Anonymous, 1989).b. Batang. Kedelai berbatang semak, dengan tinggi batang antar30-100 cm. Setiap batang dapat membentuk 3-6 cabang, batang kedelaimemiliki bulu yang akan menjadi tempat tumbuhnya bunga, batang kedelaitersebut berwarna ungu atau hijau. Bila jarak tanam dalam barisan terlalurapat, cabang menjadi berkurang atau tidak bercabang sama sekali(Suprapto, 2002).c. Daun. Daun kedelai merupakan daun majemuk yang terdiri dari 3helai anak daun dan umumnnya berwarna hijau muda atau hijau kekuning-kuningan, bentuk daun ada yang oval ada juga segi tiga. Pada saattanaman kedelai sudah tua, maka daun-daunnya mulai rontok(Anonymous, 1989).d. Bunga. Bunga kedelai termasuk bunga sempurna, artinya dalamsetiap bunga terdapat alat kelamin jantan dan betina, penyerbukan terjadipada saat mahkota bunga masih tertutup, bunga terletak pada ruas-ruasbatang, berwarna ungu muda atau putih bersih (Suprapto, 2002).Bunga tumbuh pada ketiak daun dan berkembang dari bawah lalumenuju keatas, pada setiap ketiak daun biasanya terdapat 3-15 kuntum
  22. 22. bunga. Namun sebagian besar bunga rontok, hanya beberapa yang dapatmembentuk polong (Anonymous, 1989).e. Buah. Buah kedelai berbentuk polong, setiap polong berisi 1-4biji, polong kedelai mempunyai bulu, berwarna kuning kecoklatan ataukeabu-abuan. Polong yang sudah masak berwarna lebih tua, warna hijauberubah menjadi kehitaman, keputihan, atau berbintik-bintik kecoklatan.Bila polong telah tua akan mudah pecah dan biji-bijinya melanting keluar.Satu batang kedelai dapat menghasilkan 100-125 polong pada tanah subur(Suprapto, 2002).B. Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai1. IklimIndonesia beriklim tropis yang cocok untuk pertumbuhan kedelai,karena kedelai menghendaki suhu yang cukup panas, di tempat yangterbuka dan curah hujan yang di kehendaki antara 1.200-3.000 mm/tahun,dengan rata-rata curah hujan bulanan antara 100-400 mm3/bulan.Tanaman kedelai dapat tumbuh baik sampai pada ketinggian 1.500meter dari permukaan laut (dpl), tetapi yang paling baik sampai 650 meterdpl, karena berpengaruh terhadap umur tanaman. Untuk dataran tinggiumur tanaman kedelai menjadi lebih panjang. Suhu udara yang baik untukpertumbuhan kedelai adalah 23-30 0C dan kelembaban antara 60-70 %.Jadi tanaman kedelai akan tumbuh baik jika ditanam di daerah beriklimkering, yaitu pada musim tanam yang tepat adalah awal musim penghujansekitar bulan Oktober-November (Anonymous, 1990).
  23. 23. 2. TanahKedelai dapat tumbuh disetiap macam tanah, namun tidak 100 %bisa, tanaman itu tumbuh namun hasilnya tidak selalu memuaskan, tanahyang baik adalah jenis tanah alluvial, regosol, grumosol, latosol, danandosol. Dan yang terpenting adalah tanah gembur atau yang dapat digemburkan, pada umumnya tanah yang baik untuk tanaman jagung baikpula untuk tanaman kedelai. Dinyatakan bahwa tanah-tanah yang banyakmengandung kapur dapat menghasilkan kedelai yang baik(Rismunandar, 1974).Kedelai dapat tumbuh pada tanah yang agak masam akan tetapipada pH yang terlalu rendah dapat menimbulkan keracunan Al dan Fe nilaipH yang cocok berkisar antara 5,8-7,0, pada tanah ber pH tinggi (diatas 7)kedelai sering memperlihatkan gejala chlorosis yakni tanaman kerdil dandaun menguning, sebaliknya pada tanah masam (pH kurang dari 5),kedelai juga tumbuh namun pertumbuhanya tidak normal (kerdil).Keracunan Al dan Fe sehingga proses nitrifikasi akan berjalan kurang baik(Suprapto, 2002).Tanah merupakan medium alam untuk pertumbuhan tanaman,tanah menyediakan unsur-unsur hara sebagai makanan tanaman untukpertumbuhannya, selanjutnya unsur diserap oleh akar tanaman dan melaluidaun dirubah menjadi persenyawaan organik seperti karbohidrat, protein,lemak dan lain-lain yang amat berguna bagi kehidupan manusia danhewan.
  24. 24. C. Penyebab dan Masalah Kemasaman TanahKeasaman tanah dientukan dengan kepekatan ion hidrogen yanberada dalam tanah tersebut. Bila kepekatan ion hidrogen dalam tanahtinggi, maka tanah tersebut disebut asam, bila kepekatan ion hidrogenterlalu rendah maka tanah tersebut dalam kondisi basa (Yusuf, 2009).Reaksi tanah (pH) perlu diketahui karena tiap tanaman memerlukanlingkungan pH tertentu. Ada tanaman yang toleran terhadap goncangan pHyang panjang, tetapi ada pula tanaman yang tidak toleran terhadapgoncangan pH.Pada kebanyakan tanah ditemukan bahwa pertukaran kationberubah dengan berubahnya pH tanah, pada pH rendah hanya muatanpermanen liat, dan sebagian muatan koloid organik memegang ion yangdapat digantikan melalui pertukaran kation. Dengan demikian KTK relatifrendah. Hal ini disebabkan kebanyakan tempat pertukaran kation koloidorganik dan beberapa fraksi liat, H mungkin hidroksi-Al terikat kuat,sehingga sukar dipertukarkan.Menurut Theng (1980), dalam Amiruddin (2008), komponenmineralogis asam biasanya didominasi oleh mineral liat dan oksidasi hidratdari Al dan Fe, Hardjowigeno (1993), dalam Amiruddin (2008), jugamenjelaskan bahwa tanah ini berkembang dari bahan induk tua sepertibatuan liat atau batuan vulkanik masam, sehingga mempunyai tingkatkesuburan tanah yang rendah, dan Sanchez (1976) dalam Amiruddin(2008), juga menerangkan tanah ini memiliki faktor pembatas ganda bagipertumbuhan tanaman yaitu terbatasnya ketersediaan air, kelangkaan
  25. 25. bahan organik, bereaksi asam hingga sangat masam, keracunan Al danMn, tingginya fiksasi fosfat (P), defisiensi unsur hara N, K, Ca, Mg dan Mo,kapasitas tukar kation (KTK) rendah, kapasitas tukar anion (KTA) tinggi,dan stabilitas agregat yang rendah sehingga mudah tererosi.Terjadinya penurunan pH akibatnya tanah menjadi asam, yaituseperti proses-proses yang terjadi pada tanah : Reaksi tanah masam, curah hujan tinggi sehingga basa-basatercuci. Pencucian (leaching) dan penyerapan ion-ion basa (K, Ca, Mg,Na) oleh tanaman. Cara penggunaan tanah. Penggunaan varietas-varietas / jenis-jenis tanaman yangmenyerap basa dalam jumlah besar. Produksi CO2 dalam tanah. Dekomposisi bahan organik. Respirasi akar, CO2 + H2O à H2CO3 à H++ HCO3- Proses pembebasan dan penimbunan ion-ion masamContoh : Si, Al, Fe4. Hidrolisis AL3+; Al3++ 3 H2O à Al(OH)3 + 3H+Tanah dapat dinyatakan masam, sedikit masam dan tidak masam.Bila ingin mengetahui kemasaman tanah untuk pengukuran secara kasardapat dilaksanakan dengan kertas lakmus atau kertas “Universal Indicator”,
  26. 26. yang mudah didapat di apotik. Kemasaman tanah dapat dinyatakandengan pH 1- 8 (Rismundar, 1974).Pada umumnya tanah yang sudah berkembang lanjut, semakinlanjut usia semakin rendah pH nya, tanah yang di dalamnya terdapat akartanaman sering menyebabkan turunnya pH walaupun dalam skala kecil,penurunan pH ini di sebabkan oleh akar tanaman yang melakukan prosespernapasan pengeluaran gas CO2, makin banyak akar baik volumemaupun panjang maka makin tinggi kecendrungan penurunan pH. Selainitu pula Pemupukan dengan pupuk yang mempunyai reaksi fisiologis asam,misal ZA ([NH4]2SO42+), menyebabkan menurunnya pH, penurunan iniberjalan selama pupuk tersebut selalu digunakan.Tanah yang berasal dari bahan induk yang kaya SiO2 menyebabkanterjadinya tanah asam. Sedangkan tanah yang berasal dari bahan indukkapur atau kaya dengan kapur umumnya terbentuk tanah-tanah netral atautanah yang bereaksi sedikit alkalis sampai alkalis.Tanah yang mengandung ion Al3+dan Fe3+menyebabkan tanahmempunyai pH yang rendah, hal ini disebabkan karena dalam larutantanah terjadi keseimbangan berikut :Al(H2O)+++→ Al(H2O)5+++H+Al(H2O)+++→Al(OH)3+++ 3H+Dengan pelepasan H+ini, maka tanah relatif menjadi asam. Sampaitingkat keasaman tertentu, Al tertukar (exchangeable) dianggap kationyang dominan pengaruhnya terhadap keasaman tanah. Reaksi serupa juga
  27. 27. terjadi apabila di dalam tanah terdapat Fe (Rosmarkam danYuwono, 2002).Menurut Sutanto (2005) keasaman tanah di sebabkan oleh ion H+yang dihasilkan pada saat terjadi pelindian kation-kation dalam tanah.Keadaan pH tanah mineral dipengaruhi oleh kandungan kation dalambatuan induk, kation dilepaskan pada saat terjadi pelapukan dan KTK darikoloit tanah dijenuhi oleh kation sampai konsentrasi tertentu. Faktor lainseperti iklim, perkembangan tanah dan lain-lain juga akan berpengaruhpada pH tanah.Ion H+dapat berasal dari CO2 yang dihasilkan melalui respirasiorganisme tanah dan perakaran tanaman, yaitu CO2 + H2O ↔ HCO3-+ H+udara tanah mempunyai kandungan CO2 yang cukup tinggi sehinggamampu menurunkan pH tanah yang mempunyai daya sangga rendah.Keasaman (pH) tanah mempunyai pengaruh yang cukup besarterhadap proses kimia, fisika dan biologi di dalam tanah dan juga terhadapsifat tanah yang lain.a. Gatra Pedologi ; Keasaman (pH) mempengaruhi prosespembentukan dan pengembangan tanah di tinjau dari alih rupa mineral danbahan organik dan selanjutnya proses perkembangan tanah.b. Gatra Ekologi ; pengaruh pH cukup besar terhadap persediaanunsur hara di dalam tanah.Kemasaman tanah sangat mempengaruhi populasi dan aktifitascacing sehingga menjadi faktor pembatas penyebaran dan perkembanganspeciesnya, umumnya cacing tanah tumbuh baik pada pH sekitar 7,0.
  28. 28. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa pH kotoran tanah lebih netral daripada tanah habitatnya (Hanafiah, dkk, 2007).D. Peran PengapuranPengapuran lahan masam ditujukan untuk mencapai tiga hal yakni :1). Meningkatkan pH tanah pada taraf yang dikehendaki, 2). Menurunkankandungan hara yang meracuni tanaman (Al) dalam larutan tanah, dan 3).Menaikkan kandungan hara Ca dan Mg (Anonymous, 2011).Dalam hal ini pengapuran di samping memperkaya tanah akankalsium dan magnesium juga meningkatkan pH tanah, persediaan haradalam tanaman dalam keadaan yang relatif seimbamg terletak antara pH6,0-7,0. Disamping itu peningkatan pH dapat menaikan tingkat persediaanmolibdenun yang berperan penting untuk produksi kedelai dan golongankacang-kacangan karena erat hubungannya dengan perkembangan bintilakar (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).Untuk menaikkan pH tanah, kapur dapat diberikan dengan caramenyebar dipermukaan tanah kemudian dicampur sedalam lapisan olahtanah, Pengapuran dapat dilakukan sebulan sebelum tanam, denganharapan kapur sudah bereaksi dengan tanah dan pada waktu musimtanam, butiran yang halus memberikan reaksi lebih cepat dari pada kapurkasar, sebagai sumber kapur yang digunakan seperti batu kapur, Dolomit,dan kapur tembok (Suprapto, 2002).Pengapuran dapat meningkatkan kalsium (Ca) dan pH tanah melaluihidrolisis asam lemah. Kalsit dan dolomit merupakan bahan yang banyak
  29. 29. digunakan, karena relatif murah dan mudah didapat. Bahan tersebut selaindapat memperbaiki sifat fisik tanah juga tidak meninggalkan residu yangmerugikan dalam tanah (Widyawati, 2007).Tanah masam umumnya tidak produktif. Untuk meningkatkanproduktifitas tanah tersebut, pemberian kapur adalah cara yang tepat.Beberapa keuntungan dari pengapuran pada tanah masam, adalahsebagai berikut :• Meningkatkan pH tanah sehingga mendekati netral• Menambah unsur Ca dan Mg• Menambah ketersediaan unsur hara, contoh N,P• Mengurangi keracunan Al, Fe dan Mn• Memperbaiki kehidupan mikroorganisme.Uehara dan Gillman (1981) dalam Amiruddin (2008). Pemberiankapur pada beberapa tanah mineral masam mampu untuk meningkatkanpH dan P-tersedia tanah pada dosis tertentu, senyawa kapur ini jugamampu untuk meningkatkan KTK tanah, namun sejalan dengan ituketersedian kation K dan Mg makin berkurang, hal ini terjadi karenameningkatnya adsorpsi Ca++pada permukaan koloit tanah, sehinggamuatan positif makin meningkat. Reaksi kapur dalam tanah dapatdijelaskan sebagai berikut :CaCo3 ↔ Ca2++ Co32-Co32-+ H2o ↔ HCo3-OH-M - OH]o+ OH -↔ M – O] –H2O
  30. 30. Menurut Sanchez dan Salinaz (1981) dalam Amiruddin (2008)menjelaskan bahwa unsur Ca di perlukan untuk memperkokohpertumbuhan tanaman, sedangkan Mg merupakan penyusun terpentingbutir hijau daun. Unsur Ca dan Mg di dalam tanah berperangai sebagai iondan mempunyai peranan sebagai pemasok hara tanaman kedua unsurtersebut mempengaruhi dan mengatur basa yang ada dalam tanah,menentukan kemudahan unsur lain terserap tanaman, mempengaruhi pHtanah, menangkal bahaya keracunan, menghindarkan unsur P diikat olehAl dan Fe, di samping itu menetapkan struktur tanah sehingga tidak mudahhancur karena gaya erosi.Kapur merupakan salah satu bahan mineral yang dihasilkan melaluiproses pelapukan dan pelarutan dari batu-batuan yang terdapat dari dalamtanah. Mineral utama penyusun kapur adalah kalsit dan dolomit yangtergolong dalam mineral sekunder. Kapur menurut susunan kimia adalahCaO, tetapi istilah kapur adalah senyawa bentuk karbonat kapur denganCaCO3 dan MgCO3 sebagai komponen utarna. Bentuk oksidanya yaituCaO, dapat dihasilkan dengan memanaskan kalsium karbonat danmenghilangkan karbondioksidanya. Bentuk hidroksidanya dapat terbentukdengan membasahi atau menambahkan air pada bentuk oksidanya.Hakim (1986) juga menjelaskan masukan kapur jelas akanmenaikkan pH tanah. Pada tanah-tanah yang bermuatan tergantung pH,seperti tanah kaya montmorillonit atau koloid organik, maka KTK akanmeningkat dengan pengapuran. Di lain pihak pemberian pupuk-pupuktertentu dapat menurunkan pH tanah, sejalan dengan hal itu akan turun.
  31. 31. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengaruh pengapuran berkaitanerat dengan perubahan pH, yang selanjutnya mempengaruhi KTK tanah.E. Jenis-jenis Kapur PertanianYusup (2009) menjelaskan kapur pertanian adalah kapur yangberasal dari batuan kapur, yang banyak dijumpai di Indonesia. Batuankapur ini banyak mengandung kalsium dan magnesium yang sifatnyamampu menetralkan aluminium. Kapur pertanian merupakan mineral yangberasal dari alam yang merupakan sumber hara kalsium. Kapur pertanianyang mempunyai reaksi basa dapat menaikkan pH tanah. Kapur pertanianyang umum banyak digunakan dalam pertanian. Di pasaran dapat dijumpai3 macam jenis kapur yaitu :4. Kapur tohor (oksida) yaitu jenis kapur yang pembuatannya melaluiproses pembakaran. Kapur ini sering disebut dengan kapurpertanian. Secara ilmiah kapur ini disebut calsium oksida(CaO)5. Kapur tembok (hidroksida). Merupakan jenis kapur hasilpembakaran pada kapur tohor, yang kemudian ditambahkan denganair pada kapur oksida (tohor) yang dalam bahasa kimianya disebutcalsium hidroksida (Ca(OH)2).6. Kapur karbonat. Merupakan kapur yang bukan melaui prosespembakaran tetapi digiling langsung, kapur karbonat ini ada duamacam, yaitu kalsit dan dolomit.2. Kalsit (CaCO3) mengandung kalsium oksida 47%, dan kalsiumkarbonatnya 85%.
  32. 32. 3. Dolomit (CaMgCO3) mengandung kalsium oksida dan magnesiumoksida 47% serta kalsium karbonat dan magnesium karbonatnya85%.F. Unsur Hara Dalam Tanah dan Peran Pupuk Fosfat Bagi tanamanKedelaiSutanto (2005) menyebutkan bahwa tanaman menyerap hara darilarutan tanah, tetapi jumlah total hara yang tersedia untuk tanaman padaperiode tertentu tidak dapat diduga berdasarkan kuantitas yang dikandunglarutan tanah pada waktu tersebut. Unsur hara di ambil dari larutan tanahdan penggantiannya berasal dari sumber yang tidak segera tersedia.Dengan menggunakan hara, tanaman dapat memenuhi siklushidupnya. Fungsi hara tanaman tidak dapat digantikan oleh unsur lain danapabila tidak terdapat suatu hara tanaman, maka kegiatan metabolismeakan terganggu atau berhenti sama sekali. Di samping itu, umumnyatanaman yang kekurangan atau ketiadaan suatu hara akan menampakkangejala pada suatu organ tertentu yang spesifik, gejala ini akan hilangapabila hara tanaman ditambahkan kedalam tanah atau diberikan lewatdaun (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).Unsur hara yang diperlukan tanaman adalah : Karbon (C), Hidrogen(H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Sulfur (S), Kalsium(Ca), Magnesium (Mg), Seng (Zn), Besi (Fe), Mangan (Mn), Tembaga (Cu),Molibden (Mo), Boron (B), Klor (Cl), Natrium (Na), Kobal (Co), dan Silikon(Si).
  33. 33. Tabel 1. Ringkasan unsur hara di dalam tanah (Anion dan Kation)UnsurBentukIon yangDiserapSumberUtamaKandungan diDalam TanahUnsur hara makro :Nitrogen (N)Fosfor (P)Sulfur (S)Kalium (K)Kalsium (Ca)Unsur hara mikro :Magnesium (Mg),Boron (B)Molibden (Mo)Klorida (Cl)Besi (Fe)Mangan (Mn)Seng (Zn)Tembaga (Cu)NO3-NH4+H2PO4-HPO4-2(PO4-3)SO4-2K+Ca+2Mg++H2BO3-(HBO3-2)(H[OH]4-)MoO4-2Cl-FeFe+3Mn+2(Mn+3)Zn+2Cu+2(Cu+)Bahan Organik, N2 atmosferCa-, Al-, Fe-fosfatFe-sulfida, Fe-sulfatMika, illit, K-feldsparCa-feldspar, augit, hornblendeCaCO3, CaSO4Augit, hornblende, olivineTurmalin, ikutan dalam silikatmineral garamUnsur ikutan dalam silikatmineral, Fe- dan Al-oksida danhidroksidaBermacam-macam kloridaAugit, hornblende, biotitOlivin, Fe-oksida dan hidroksidaManganit, pirolusit, ikutan dalamdilikat mineralZn-fosfat, ZnCO3, Zn-hidroksida,ikutan mineral silikatCu-sulfit, Cu-sulfat, karbonatikutan mineral silikat0,03% - 0,3%0,01% - 0,1%0,01% - 0,1%0,2% - 3,0%0,2% - 1,5%0,1 – 1,0%5 – 100 ppm0,5 – 5 ppm50->1000 ppm0,5 – 4,0%0,5–4000 ppm10 – 300 ppm5 – 100 ppmSumber : Sutanto (2005)Cadangan hara terikat kuat dalam mineral dan bahan organik, danhanya terlepas dalam periode yang cukup lama melalui pelapukan danmineralisasi.Mengenai unsur fosfor (Rosmarkam dan Yuwono, 2002)menyatakan bahwa fosfor (P) merupakan unsur yang diperlukan dalamjumlah besar (hara makro), jumlah fosfor dalam tanaman lebih kecildibandingkan dengan nitrogen dan kalium. Tetapi, fosfor dianggap sebagaikunci kehidupan (key of life).
  34. 34. Kedelai memerlukan P (fosfor) dalam jumlah relatif banyak,walaupun jumlahnya tidak sebanyak Nitrogen dan Kalium, unsur initerutama diserap tanaman dalam bentuk ion orto fosfat primer H2 Po4-dansekunder HPO42-. Penyebaran kedua dalam bentuk ion ini pada tanamandipengaruhi oleh pH di sekitar perakaran. P (fosfor) dihisap tanamansepanjang masa pertumbuhannya. Priode terbesar penggunaan fosfordimulai pada masa pembentukan polong sampai kira-kira 10 hari sebelumbiji berkembang penuh (Suprapto, 2002).Suprapto (2000) dalam Nazariah (2010) menyatakan bahwa Fosformerupakan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.Pada tanaman yang tercukupi kebutuhan fosfatnya mendorongpembentukan bunga lebih banyak dan pembentukan biji lebih sempurna.Kekurangan P (fosfor) pada kebanyakan tanaman, terjadi sewaktutanaman masih muda, oleh karena belum adanya kemampuan yangseimbang antara penyebaran fosfor oleh akar dan fosfor yang dibutuhkan.Fosfor yang dihisap oleh akar kemudian disebarkan kedaun, batang,tangkai dan biji.Tisdale et al (1985) dalam Amiruddin (2008) menyebutkan bahwakekurangan unsur P dalam tanah dapat disebabkan oleh 2 (dua) hal yaitu :E. Unsur P tidak terdapat dalam bahan induk tanah, danF. P yang tersedia ataupun ditambahkan untuk tanaman dengansegera diserap oleh bentuk-bentuk Fe dan Al yang terdapat dalamjumlah besar pada tanah Ultisol.
  35. 35. Fungsi P yang lain adalah mendorong pertumbuhan akar tanaman,yang dibedakan menjadi 3 fase yakni :1. Perubahan P anorganik yang baru diserap tanaman menjadi bentuksenyawa organik.2. Perubahan P dari ATP (Adenosin Trifosfat) menjadi ADP (AdenosinDifosfat) dan3. Pemecahan dari pirofosfat atau fosfat secara hidrolisis.Kekurangan unsur P umumnya menyebabkan volume jaringantanaman menjadi lebih kecil dan warna daun menjadi lebih gelap. Kadang-kadang kadar nitrat dalam tanaman menjadi lebih tinggi karena prosesperubahan nitrat selanjutnya terhambat.Fosfor dapat merangsang pertumbuhan akar tanaman muda, sertamerangsang perkembangan akar sehingga tanaman akan lebih tahanterhadap kekeringan mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, bijiatau gabah selain itu juga menambah nilai gizi (lemak dan protein).Fosfor yang diserap oleh tanaman dalam bentuk ion anorganik cepatberubah menjadi senyawa fosfor organik. Fosfor ini mobil atau mudahbergerak antar jaringan tanaman. Kadar optimal fosfor dalam tanamanpada saat pertumbuhan vegetatif adalah 0,3% - 0,5% dari berat keringtanaman.Kadar fosfor dalam bentuk pupuk dinyatakan dalam bentuk P2O5,Pupuk TSP mengandung Fosfor sebesar 46% P2O5, Sifat umum pupukTripel Superfosfat (TSP) sama dengan pupuk DS, Pembuatan pupuk TSPmenggunakan sistem wet proses, dalam proses ini batuan alam (Rock
  36. 36. Phosphate) fluor apatit diasamkan dengan asam Fosfat (Rosmarkam danYuwono, 2002).Pupuk fosfat banyak terdapat di pasaran dan mudah dipergunakanantara lain Super Phosfhate mengandung 16-18% P2O5, Dooble SuperPhosfhate mengandung 32% P2O5, dan Triple Super Phosfhatemengandung 45-48% P2O5 (Suprapto, 2002).
  37. 37. III. BAHAN DAN METODE PENELITIANA. Waktu Dan Tempat PenelitianPenelitian ini dilaksanakan di Kampung Isaq, Kecamatan Linge.dengan ketinggian tempat ± 900 dpl, pH tanah 4,5-5,0 dan dimulai Tanggal13 Oktober 2010 sampai 16 Februari 2011.B. Bahan Dan Alat1. Bahan. Bahan yang digunakan didalam penelitian ini adalah Benihkedelai, Kapur (Dolomite (CaMgCO3)), Pupuk (TSP, Urea dan KCL),2. Alat. Alat-alat yang di perlukan didalam penelitian ini adalah, pengukurpH tanah (Soil tester), Cangkul, Handsprayer, Meteran, Timbangan,Ember/Timba, Alat tulis, Kalkulator dan alat pembuatan pagar.C. Metode PenelitianMetode penelitian yang digunakan adalah metode Rancangan AcakKelompok (RAK), pola faktorial dengan 2 faktor, masing-masing terdiri dari,4 level dosis pengapuran (D) dan terdiri dari 3 level pemupukan fosfat (P).5. Level Dosis Pengapuran (D)Do= Tanpa Dolomit (Kontrol)D1 = Dolomit 100 gram/plotD2 = Dolomit 150 gram/plotD3 = Dolomit 200 gram/plot6. Level Pemupukan Fosfat (P)P1 = TSP 7,5 gram /plotP2 = TSP 15 gram/plot
  38. 38. P3 = TSP 22,5 gram/plotDari 12 kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali, jumlah unitplot 12 x 3 = 36 plot perlakuan, ukuran plot 100 cm x 100 cm dan jarakantar plot 50 cm.Kombinasi perlakuan antara dosis pengapuran dan pemupukanFosfat di sajikan pada Tabel 2 di bawah ini :Table 2. Kombinasi perlakuan dosis Pengapuran dan Pemupukan Fosfatkg/ha gram/plot kg/ha gram/plot1 P1 D0 75 7,5 kontrol kontrol2 P1 D1 75 7,5 1000 1003 P1 D2 75 7,5 1500 1504 P1 D3 75 7,5 2000 2005 P2 D0 150 15 kontrol kontrol6 P2 D1 150 15 1000 1007 P2 D2 150 15 1500 1508 P2 D3 150 15 2000 2009 P3 D0 225 22,5 kontrol kontrol10 P3 D1 225 22,5 1000 10011 P3 D2 225 22,5 1500 15012 P3 D3 225 22,5 2000 200Kombinasi PerlakuanNo.PengapuranPemupukanModel Matematika yang dipakai adalah Model Linier RancanganAcak Kelompok (RAK) (Yitnosumarto, 1991). Adalah sebagai berikut :Yijk = µ + Di + Pj + (DP)ij + ΣijkDimana :Yijk : Hasil pengamatan dari ulangan ke-i pengaruh pengapuranpada taraf ke-j, dan pengaruh pemupukan fosfat ke-kµ : Nilai tengah
  39. 39. Di : Pengaruh dari perlakuan pengapuran pada taraf ke-iPj : Pengaruh dari pemupukan fofat dari taraf ke-j(DP)ij : Interaksi dari perlakuan pengapuran pada taraf ke-i danpemupukan fosfat pada taraf ke-jΣijk : Pengaruh galat dari perlakuan (Pengapuran) ke-i, (PemupukanFosfat) ke-j dan ulangan ke-k. Pelaksanaan Penelitian1. Pengolahan TanahPengolahan tanah di lokasi yang digunakan untuk penelitian initerlebih dahulu dibersihkan dari gulma dan sampah lainnya yangmerupakan sisa tanaman baik akar tanaman maupun bebatuan kemudiandicangkul sedalam 50 cm dan di buat plot seluas 1 m x 1 m sebanyak 36plot dengan jarak antara satu plot dengan plot yang lain seluas 50 cm,setelah plot selesai tiap plotnya di lakukan pengapuran sesuai dosis yangtelah di tentukan. Agar pemberian kapur merata di dalam tanah, kapur disebar kemudian di aduk rata dengan cangkul, dan di diamkan selama 1bulan sebelum tanam.2. Persiapan BenihDi dalam penelitian ini jenis varietas kedelai yang dugunakan adalahVarietas Anjasmoro.Sebelum benih ditanam terlebih dahulu di lakukan penularan bakteriRhyzobium, penularan bakteri dilakukan dengan mencampur zat
  40. 40. perangsang bakteri Rhyzobium yang berfungsi merangsang akar supayadapat menyimpan unsur Nitrogen dalam bintil akar, yaitu dengan caramencampur biji kedelai dengan tanah yang telah ditanami tanaman kedelaiterlebih dahulu.Sumber tanah tersebut yang dipakai untuk merangsang bakteriRhyzobium adalah diambil dari lahan yang telah ditanami oleh tanamankedelai sebelumnya yaitu diperoleh dari Kampung Pantan Nangka, karenadi Kampung tersebut banyak petani yang membudidayakan tanamankedelai.3. PenanamanPada saat akan menjelang masa penanaman di buat lubang tanammemakai tugal dengan kedalaman ± 3 cm. Setiap lubang tanam di isisebanyak 4 biji kedelai diharapkan dapat tumbuh 3 biji (pengurangan bibitdilakukan setelah tanaman tumbuh yaitu pada saat tanaman berumur 6hst), kemudian bibit di tutup dengan tanah subur yang halus, jarak tanamyang di pakai adalah 25 cm x 25 cm.4. Pemeliharaan7. Pemupukan. Hal yang perlu di perhatikan dalam pemupukantanaman kedelai yaitu pemilihan jenis pupuk, dosis dan waktu pemupukan,Pemupukan di lakukan dengan di tempatkan dalam lubang sedalam 5-7 cmdi sebelah kiri tanaman dengan jarak 5-7 cm dari lubang tanam atautanaman, pupuk ini kemudian di tutup dengan tanah.
  41. 41. Pemupukan di lakukan sekali yaitu pada saat kedelai di tanam, diawali dengan pemberian pupuk Urea sebanyak 50 kg/ha (5 gram/plot),KCL sebanyak 75 kg/ha (7,5 gram/plot) dan TSP dengan dosis sesuaiperlakuan yang dilakukan.b. Pengairan. Stadia tumbuh tanaman kedelai yang sangatmemerlukan air, yaitu stadia perkecambahan (3-4 hst), stadia vegetatif (20-30 hst), stadia pembungaan (35-45 hst) dan stadia pemasakan biji (60-70hst). Tanaman kedelai sangat membutuhkan air dari awal pertumbuhansampai masa polong mulai mengisi. Bila polong sudah tampak masakpenyiraman dihentikan. Penyiraman dilakukan sekali sehari apabila musimhujan tidak perlu penyiraman.c. Penyulaman. Kedelai mulai tumbuh kira-kira pada umur 5-6 harisetelah tanam, apabila banyak yang tidak tumbuh atau tumbuh tidaknormal, maka perlu diganti atau di sulami dengan benih baru. Di anjurkanbenih dengan jenis yang sama, dan sebelumnya di campur dengan tanahyang diambil dari lahan tanaman kedelai sebelumnya.d. Penyiangan. Penyiangan dilakukan apabila sudah terdapatgulma di sekeliling tanaman dan segera di bersihkan. Penyiangandilakukan dengan menggunakan cangkul pada pinggir-pinggir plot dandengan cara dicabut pada selah-selah tanaman kedelai.5. PemanenanPemanenan dilakukan apabila tanaman telah masak, polong dandaunnya telah berwarna kuning dan mulai rontok. Panen dilakukan dengan
  42. 42. memotong batang tanaman secara hati-hati agar biji tidak terpelantingkeluar, dengan menggunakan sabit bergerigi yang tajam, dan kemudian dijemur di bawah terik matahari selama 4 hari hingga biji kedelai benar-benarkering.6. PengamatanPeubah atau variabel pada 8 sampel tanaman yang diamati adalah:B. Tinggi tanaman pada umur 15, 30, 45 dan 60 hari setelah tanam.Rata-rata tinggi tanaman yang dipilih secara acak denganmengukur dari pangkal batang sampai titik tumbuh yang tertinggi.C. Berat biji kering per tanaman, yaitu menimbang masing-masingper tanaman, saat tanaman telah selesai dipanen yaitu padaumur 85 hst.D. Berat biji per plot, yaitu dengan menimbang masing-masingperlakuan per plot.E. Berat 100 (seratus) biji kering, yaitu dengan cara menghitungsebanyak 100 (seratus) biji kering pada 8 sampel yang diamati.
  43. 43. IV. HASIL DAN PEMBAHASANA. Pengaruh Pengapuran7. Tinggi TanamanHasil Uji F pada Analisis Sidik Ragam (Tabel Lampiran 2, 4, 6 dan 8)menunjukkan bahwa pengapuran tidak berpengaruh nyata terhadap tinggitanaman pada umur 15, 30, 45 dan 60 hari setelah tanam. Rata-rata tinggitanaman kedelai dapat dijabarkan pada tabel 3.Tabel 3. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai Akibat Pengapuran (cm)Pengapuran(Dolomit)Tinggi Tanaman15 HST 30 HST 45 HST 60 HSTDoD1D2D316,55 a17,11 a16,80 a16,73 a27,64 a27,98 a27,65 a27,58 a38,02 a38,57 a38,50 a38,31 a44,34 a46,00 a46,70 a45,80 aBNJ 0,05 - - - -Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada lajuryang sama tidak berbeda pada taraf peluang 5 % uji (BNJ).Dari tabel 3 diatas menjelaskan bahwa pengapuran tidakberpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman kedelai, hal ini disebabkan karena pengapuran pada tanaman kedelai tidak mempengaruhipertumbuhan tanaman kedelai.Rendahnya pH tanah akibat tingginya kandungan Al dalam tanahmerupakan faktor yang sangat potensial dalam menurunkan kesuburantanah, sehingga menghambat perkembangan dan pertumbuhan tanaman.
  44. 44. Menurut hasil penelitian Clarkson (1965) di dalam Hakim (1986)berhasil menunjukan bahwa keracunan Al akan menghambat pembelahansel, hambatan tersebut dapat diatasi dengan menganti larutan tanpa Al,nyatalah bahwa Al berpengaruh langsung terhadap fisiologis akar,keracunan Al tidak saja menghambat pembelahan sel, tetapi jugamenghambat sintesis DNA di dalam akar.Nilai pH yang respon terhadap kapur yang diberikan pada tanah,untuk tanaman kedelai yaitu (rendah 5,0) dan (tinggi 6,0) Hakim (1986). Iniberarti pada keasaman tanah di bawah 5,0 dan diatas 6,0 pH tidak responterhadap kapur.Hakim (1986) Juga menyatakan pada tanah yang semakin tinggikandungan liat dan bahan organik tanah, maka makin banyak puladiperlukan kapur untuk menaikkan pH, artinya pada tanah liat sangat sulitterjadi reaksi antara kapur dengan tanah.Di samping berpengaruh langsung terhadap tanaman, pH jugamempengaruhi faktor lain, misalnya ketersediaan unsur. Kelarutan Al danFe juga dipengaruhi oleh pH tanah. Pada pH asam kelarutan Al dan Fetinggi, akibatnya pada pH sangat rendah pertumbuhan tanaman tidaknormal karena suasana (pH) tidak sesuai, kelarutan beberapa unsurmenurun, ditambah lagi dengan adanya keracunan Al dan Fe (Rosmarkamdan Yuwono, 2002).Di antara beberapa kendala yang ada pada tanah asam, kekahatanP merupakan kendala yang penting dan utama, kekahatan P tidak hanyadisebabkan oleh kandungan P tanah yang rendah akan tetapi juga karena
  45. 45. sebagian besar P terikat oleh unsur-unsur logam seperti Al dan Fesehingga P tidak tersedia di dalam tanah untuk pertumbuhan tanaman(Amiruddin, 2011).Pengapuran dengan menggunakan kapur dolomit sangat sulitbereaksi dengan tanah dengan jangka waktu yang singkat, semakin halusbahan kapur semakin banyak jumlah yang bereaksi. Hakim (1986)menyebutkan dibanding dolomit dan kalsit, kalsit lebih cepat bereaksi daripada dolomit dengan kecepatan reaksi selama 3 bulan dicampur dengantanah, mutu bahan kapur berdasarkan kehalusan akan menentukan cepatlambatnya reaksi kapur dalam tanah.8. Berat Biji KeringHasil pengamatan terhadap berat biji kering pertanaman,berat bijikering perplot dan 100 biji kering untuk masing-masing kombinasiperlakuan tertera pada (Tabel Lampiran 9, 11 dan 13). BerdasarkanAnalisis Sidik Ragam (Tabel Lampiran 10, 12 dan 14), ternyata bahwapengapuran berpengaruh sangat nyata terhadap produksi biji kedelai.Rata-rata berat biji kering pertanaman, berat biji kering perplot dan 100 bijikering akibat pengaruh pengapuran tertera pada Tabel 4.Tabel 4 : Rata-Rata Berat Biji Kering (g) Produksi Tanaman Kedelai AkibatPengaruh PengapuranPengapuran(Dolomit)Berat Biji KeringPertanaman Perplot 100 BijiDoD116,39 a16,97 a262,31 a271,55 a13,04 a13,03 a
  46. 46. D2D317,78 b18,35 b284,51 b293,57 b14,28 b15,74 cBNJ 0,05 0,73 11,63 0,97Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada lajuryang sama berbeda pada taraf peluang 5 % uji (BNJ).Dari Tabel 4 dapat dilihat dari rata-rata berat biji kering pertanamandan berat biji perplot akibat perlakuan pengapuran pada tanaman kedelai,bahwa perlakuan dengan dosis 200 gram/plot (D3) dan perlakuan dengandosis 150 gram/plot (D2) tidak berbeda nyata, tetapi berbeda nyata denganperlakuan dosis 100 gram/plot (D1) dan kontrol (Do) yang masing-masingperlakuan tidak saling berbeda nyata. Sedangkan pada berat 100 biji keringakibat pengapuran pada tanaman kedelai dengan dosis 200 gram/plot (D3)berbeda nyata dengan perlakuan lainya, yang diikuti dengan perlakuan 150gram/plot (D2).Amiruddin (2008) menjelaskan kendala lain yang membuat tanahasam adalah rendahnya kandungan bahan organik dan muatan-muatannegatif yang rendah pada tanah. Usaha-usaha yang dilakukan untukmeningkatkan ketersediaan P tanah asam adalah dengan cara merubahbentuk P dari bentuk-bentuk P yang terikat kepada fase padat menjadibentuk P tersedia yang dapat tersedia di dalam tanah dengan caramenaikkan pH tanah, meningkatkan muatan-muatan negatif padapermukaan koloid-koloid tanah dan mineralisasi bahan-bahan organik yangmenghasilkan asam-asam organik.
  47. 47. Tisdale et al (1985) dalam Amiruddin (2008) juga menjelaskanpeningkatan pH tanah akibat pengaruh utama pemberian kapur didugaterjadi karena penguraian bentuk ion-ion Ca2+, Mg2+dan CO32-yang berasaldari kapur, dimana ion CO32-merupakan asam lemah (ionisasi lemah) yangcenderung terurai menjadi H2O dan CO2 sehingga akan mengalamihidrolisa dengan menghasilkan ion hidroksida.Berdasarkan hasil penelitian ternyata pengapuran berpengaruhsangat nyata terhadap produksi biji kedelai yaitu berat biji keringpertanaman, berat biji kering perplot dan berat 100 biji kering tanamankedelai. Dari berbagai dosis pengapuran yang diteliti, produksi biji tanamankedelai yang terbaik dijumpai pada perlakuan 200 gram/plot (D3) dari hasilpengamatan pH tanah, setelah 1 bulan pengapuran yaitu dengan pH rata-rata 5,9 dari pH tanah sebelum dilakukan pengapuran rata-rata 4,5.Ini disebabkan karena penambahan dosis kapur pada tanah asamakan terjadi penguraian bentuk ion-ion Ca, CO dan Mg, dimana ion COmerupakan asam lemah yang cenderung terurai menjadi H2O sehinggaakan mudah mengalami hidrolisa.Hasil yang diperoleh ini sesuai dengan anjuran dari beberapapustaka salah satunya adalah Anonymous (1990), yang menganjurkanpengapuran sebanyak 2 – 3 ton/Ha. banyak pustaka yang mengatakanbahwa kedelai menghendaki persyaratan tingkat keasaman yang netraluntuk pertumbuhannya, dengan pemberian kapur yang sesuai dosis padalarikan bersamaan dengan tanam cukup efektif untuk meningkatkan hasil.
  48. 48. B. Pengaruh Pemupukan Fosfat1. Tinggi TanamanHasil pengamatan terhadap tinggi tanaman Kedelai untuk masing-masing kombinasi perlakuan pada umur 15, 30,45 dan 60 hari setelahtanam, tertera pada (Tabel Lampiran 1, 3, 5 dan 7).Berdasarkan hasil Uji F pada Analisis Sidik Ragam (Lampiran 2, 4, 6dan 8) menunjukkan bahwa pemberian pupuk fosfat tidak berpengaruhnyata terhadap tinggi tanaman kedelai pada umur 15 Hari setelah tanam,tetapi berpengaruh sangat nyata pada umur 30, 45 dan 60 Hari setelahtanam. Rata-rata tinggi tanaman kedelai akibat pemupukan fosfat di sajikanpada Tabel 5.Tabel 5. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai Akibat Pengaruh PemupukanFosfat (cm)Pemupukan FosfatTinggi Tanaman15 HST 30 HST 45 HST 60 HSTP1P2P316,20 a16,94 a17,24 a26,67 a27,24 a29,23 b37,33 a37,70 a40,01 b42,70 a44,31 b50,12 cBNJ 0,05 - 0,71 0,67 0,90Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada lajuryang sama berbeda pada taraf peluang 5 % uji (BNJ).Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa rata-rata tinggi tanaman padaumur 15 hari setelah tanam tidak terdapat perbedaan yang nyata antaraperlakuan yang satu dengan perlakuan lainnya. Sedangkan pengamatanpada umur 30, 45 dan 60 Hari setelah tanam, tertinggi di peroleh padaperlakuan pemupukan fosfat dengan dosis 22,5 gram/plot yaitu perlakuan(P3), tinggi tanaman terendah akibat perlakuan beberapa dosis pemupukanfosfat, terlihat pada perlakuan 7,5 gram/plot (P1) yang tidak berbeda
  49. 49. dengan perlakuan 15 gram/plot (P2). Namun berbeda sangat nyata padaumur 60 hari setelah tanam. Hal ini disebabkan pemberian pupuk fosfatdalam dosis tinggi akan mempercepat penguraian unsur hara dalam tanahyang miskin akan hara serta merangsang pertumbuhan akar dan tanamanmuda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk fosfatberpengaruh sangat nyata terhadap semua peubah yang diamati, yaitutinggi tanaman pada umur 30, 45 dan 60 hari setelah tanam, kecualiterhadap tanaman pada umur 15 Hari setelah tanam.Tinggi tanaman semakin meningkat dengan meningkatkan dosispupuk fosfat, kenyataan ini berkaitan dengan fungsi unsur hara fosfatdalam pembelahan sel dan juga untuk perkembangan jaringan meristem.Kekurangan dan kelebihan unsur hara tidak baik untuk pertumbuhantanaman kedelai, oleh karena itu untuk memperoleh produksi yang tinggi,unsur hara yang tersedia harus dalam jumlah yang cukup selamapertumbuhan tanaman dan dalam keadaan seimbang, kelebihan unsurhara P di dalam tanah akan menyebabkan tanaman keracunan (Suprapto,2002).Kemudian Leiwakabessy (1988) dalam Nazariah (2010) jugamenyatakan bahwa semakin banyak unsur P yang diberikan pada suatutanaman, maka semakin cepat pertumbuhan tanaman, tetapi pertumbuhantanaman tidak selalu berbanding lurus dengan unsur yang diberikan.Pertumbuhan akan bertambah hingga mencapai dosis tertentu dankemudian akan tidak respon pada dosis lebih besar dari itu.
  50. 50. Menurut Morard (1970) dalam Rosmarkam dan Yuwono (2002)menerangkan setelah P diserap oleh akar, P mula-mula di angkut ke daunmuda, kemudian di pindahkan ke daun yang lebih tua, selain itu P jugabanyak terdapat pada jaringan organ floem, sehingga banyak yangberanggapan bahwa P mempunyai fungsi translokasi unsur hara tanaman.Kedelai menunjukkan respon terhadap pemupukan, terutama padatanah yang miskin akan hara tanaman, fungsi unsur fosfor antara lainmerangsang perkembangan akar, fosfor yang dihisap oleh akar kemudiandisebarkan ke daun, batang, tangkai, dan biji. Namun kekurangan unsurfosfor pada kebanyakan tanaman terjadi sewaktu tanaman masih mudaoleh karena belum adanya kemampuan yang seimbang antara penyebaranfosfor oleh akar dan fosfor yang dibutuhkan (Suprapto, 2002)Menurut Widyawati (2007) pemberian pupuk K dan P terbukti dapatmeningkatkan hasil dari tinggi tanaman, jumlah polong isi, jumlah polonghampa, berat kering biji, berat kering brangkasan dan berat kering akar.2. Berat Biji KeringHasil pengamatan terhadap berat biji kering pertanaman, berat bijiperplot dan berat 100 biji kering tanaman kedelai untuk masing-masingperlakuan tertera pada (Tabel Lampiran 9, 11 dan 13). Hasil Uji F padaAnalisis Sidik Ragam (Tabel Lampiran 10, 12 dan 14), menunjukkan bahwapemupukan fosfat berpengaruh sangat nyata terhadap berat biji keringpertanaman, berat biji perplot dan berat 100 biji kering tanaman kedelaiRata-rata berat produksi biji kering tanaman kedelai di sajikan pada Tabel6.
  51. 51. Tabel 6. Rata-Rata Berat Biji Kering (g) Produksi Tanaman KedelaiAkibat Pengaruh Pemupukan FosfatPemupukanFosfatBerat Biji KeringPertanaman Perplot 100 BijiP1P2P316,25 a17,58 b18,28 c260,07 a281,36 b292,53 c13,01 a14,36 b14,70 cBNJ 0,05 0,57 9,10 0,76Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada lajuryang sama berbeda pada taraf peluang 5 % uji (BNJ).Tabel 6 di atas menunjukkan bahwa berat biji kering pertanaman,berat biji kering perplot dan berat 100 biji kering tanaman kedelai, terberatdijumpai pada perlakuan pemupukan 22,5 gram/plot (P3) yang berbedanyata dengan berat biji kering pada perlakuan (P1) dan (P2). Hal inimemperlihatkan respon yang baik dari tanaman kedelai terhadap unsurfosfor.Dari hasil peubah yang diamati dapat dilihat bahwa semakinmeningkatnya dosis pupuk fosfat yang diberikan, maka semakin meningkatpula berat produksi biji kedelai yang dihasilkan, hal ini terlihat jelas padapengamatan berat biji kering pertanaman, berat biji kering perplot dan berat100 biji kering hasil produksi tanaman kedelai.Hal ini disebabkan dengan penambahan dosis pupuk fosfat yanglebih tinggi akan menpermudah penyebaran unsur P keseluruh tanamandalam bentuk ion-ion ke seluruh tubuh tanaman mulai dari pembentukanperakaran hingga pembentukan biji.
  52. 52. Hara fosfor dihisap tanaman sepanjang masa pertumbuhannya,periode terbesar penggunaan fosfat dimulai pada masa pembentukanpolong sampai kira-kira 10 Hari sebelum biji berkembang penuh (Suprapto,2002).Reaksi tanah yang masam dan rendahnya keterediaan Pmerupakan faktor pembatas utama bagi tanaman, sehingga efesiensipemberian pupuk sangat rendah, efesiensi pupuk fosfat berkisar antara 8hingga 15 % disebabkan tingkat kemasaman tanah yang tinggi, sehinggadapat menyebabkan terjadinya pengikatan oleh unsur Al, Fe dan Mn didalam tanah, sehingga bentuk P akan terikat kuat oleh Fe dan Al (Sutanto,2005).C. Pengaruh Interaksi Antara Pemupukan Fosfat dan PengapuranHasil Uji F pada Analisis Sidik Ragam (Tabel Lampiran 2, 4, 6, 8,10, dan 12) menunjukkan tidak terdapat Interaksi yang nyata antarapemupukan fosfat dengan pengapuran terhadap semua peubah yangdiamati. Hal ini berarti perbedaan respon pertumbuhan dan produksi bijikedelai akibat perbedaan dosis pemupukan fosfat dan tidak tergantungpada pengapuran, begitu juga sebaliknya.
  53. 53. V. KESIMPULAN DAN SARANA. KesimpulanDari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :3. Pengapuran berpengaruh sangat nyata terhadap produksi biji kedelai(berat biji kering pertanaman, berat biji kering perplot dan berat 100 bijikering). Dosis kapur dolomit terbaik terdapat pada dosis 2 ton/Ha, yaitupada perlakuan dengan dosis 200 gram/plot (D3).4. Pemupukan fosfat berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanamandan produksi biji kedelai yaitu berat biji kering pertanaman, berat bijikering perplot dan berat 100 biji kering. Perlakuan pemupukan fosfatterbaik terdapat pada dosis 225 kg/Ha, yaitu pada perlakuan dengandosis 22,5 gram/plot (P3).5. Tidak terdapat Interaksi yang nyata antara pengapuran denganpemupukan fosfat terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi bijikedelai.B. SARANBerdasarkan pengalaman yang diperoleh selama proses penelitiandapat disarankan bahwa penelitian ini dapat dicobakan denganmenggunakan dosis kapur dan pemupukan fosfat yang lebih tinggi padatanah masam di kampung Isaq, Kecamatan Linge, Kabupaten AcehTengah.
  54. 54. DAFTAR PUSTAKAAdisarwanto. T. dan Rini Wudianto., 2002. Meningkatkan Hasil PanenKedelai Di Lahan Sawah - Kering - Pasang Surut. PenebarSwadaya, Jakarta.Adisarwanto. T., 2008. Budidaya Kedelai Tropika. Penebar Swadaya,Jakarta.Amiruddin., 2008. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3954/1/02012718.pdfAnonymous., 1989. Kedelai. Kanisius, Yogyakarta.----------------, 1990. Kedelai dan Cara Bercocok Tanam. Jakarta.----------------, 1991. Deptan. Pengembangan Kedelai Potensi, Kendala danPeluang. Risalah Lokakarya Bogor,13 Desember 1990.Budi. A., 2007. Penuntun Pengolahan Kedelai, Ricardo, Jakarta.Hakim. N, dkk., 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit UniversitasLampung, Jakarta.Hanafiah. K. A., Napoleon, Ghofar Nuni., 2007. Biologi Tanah Ekologi &Makrobiologi Tanah. PT Rajografindo Persoda, Jakarta.Nazariah., 2010. Pemupukan Tanaman Kedelai Pada Lahan Tegalan. http//www.google.com (pdf).Rismundar., 1974. Bertanam Kedelai. Terate, Bandung.Rosmarkam, A. dan Yuwono, N. W., 2002. Ilmu Kesuburan Tanah.Kanisius, Yogyakarta.Soenarjo. E., 1994. Risalah Seminar, Balai Penelitian Tanaman Pangan,Sukarami.Sumarno., dkk, 1990. Kedelai dan cara Budidayanya. CV Jasaguna,Jakarta selatan.Suprapto. Hs., 2002. Tanaman Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta.Sutanto. R., 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah (Konsep Kenyataannya).Kanisius, Yogyakarta.Sutedjo. M. M., 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.44
  55. 55. Widyawati. E., 2007. Pengaruh_Pemupukan_dan_Pengapuran.pdfhttp://eprints.umm.ac.id/9444/1/Yitnosumarto. S.,1991. Percobaan Perancangan, Analisis DanInterprestasinya, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.Yusup. T., 2009. Kapur-Pertanian-dan-pH-tanah/ http://tohariyusuf.wordpress.com/2009/04/04/
  56. 56. LAMPIRANTabel Lampiran 1. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai Pada Umur 15 HariSetelah Tanam (cm)PerlakuanBlok/UlanganJumlah Rata-rataI II IIIP1 D0 15.75 15.53 15.98 47.25 15.75P1 D1 16.74 17.09 15.64 49.47 16.49P1 D2 16.21 17.26 15.86 49.34 16.45P1 D3 15.47 16.36 16.58 48.40 16.13P1 D0 16.24 17.39 16.87 50.50 16.83P2 D1 17.45 16.37 16.87 50.70 16.90P2 D2 17.54 17.41 16.54 51.50 17.16P2 D3 15.46 17.54 17.63 50.63 16.88P3 D0 18.39 15.38 17.42 51.18 17.06P3 D1 16.47 18.54 18.87 53.88 17.96P3 D2 18.65 15.49 16.24 50.39 16.80P3 D3 17.84 17.38 16.27 51.50 17.17Total 202.21 201.74 200.76 604.71 -Ý = 16.80Tabel Lampiran 2. Analisis Sidik Ragam Tinggi Tanaman Kedelai PadaUmur 15 Hari Setelah TanamSumberKeragamanDB JK KT F. hitF. Tabel0,05 0,01Ulangan 2 0.092 0.046 0.045 3,44 5,72D 3 1.515 0.505 0.491 tn3,05 4,82P 2 6.873 3.436 3.342 tn3,44 5,72D.P 6 1.996 0.333 0.324 tn2,55 3,76Galat 22 22.621 1.028 - - -Jumlah 35 - - -KK (%)= 6.04Keterangan :** = Sangat nyata* = Nyatatn = Tidak nyata
  57. 57. Tabel Lampiran 3. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai Pada Umur 30 HariSetelah Tanam (cm)PerlakuanBlok/UlanganJumlah Rata-rataI II IIIP1 D0 25.88 27.09 25.88 78.84 26.28P1 D1 24.68 27.43 28.03 80.13 26.71P1 D2 27 26.84 26.88 80.71 26.90P1 D3 27.28 26.49 26.55 80.31 26.77P1 D0 27.86 27.41 27.35 82.63 27.54P2 D1 28.8 27.84 26.88 83.51 27.84P2 D2 26.9 27.11 26.93 80.94 26.98P2 D3 26.93 26.50 26.44 79.86 26.62P3 D0 29.00 28.80 29.49 87.29 29.10P3 D1 29.51 29.05 29.65 88.21 29.40P3 D2 28.95 29.34 28.91 87.20 29.07P3 D3 29.10 29.59 29.38 88.06 29.35Total 331.88 333.48 332.34 997.69 -Ý = 27.71Tabel Lampiran 4. Analisis Sidik Ragam Tinggi Tanaman Pada Umur 30Hari Setelah TanamSumberKeragamanDB JK KT F.hitF.Tabel0,05 0,01Ulangan 2 0.113 0.056 0.118 3,44 5,72D 3 0.897 0.299 0.627 tn3,05 4,82P 2 43.418 21.709 45.480 **3,44 5,72D.P 6 2.729 0.455 0.953 tn2,55 3,76Galat 22 10.501 0.477 - - -Jumlah 35 - - -KK (%) = 2.49Keterangan :** = Sangat nyata* = Nyatatn = Tidak nyata
  58. 58. Tabel Lampiran 5. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai Pada Umur 45 HariSetelah Tanam (cm)PerlakuanBlok/UlanganJumlah Rata-rataI II IIIP1 D0 37.98 36.20 36.84 111.01 37.00P1 D1 36.43 38.15 38.15 112.73 37.58P1 D2 37.58 37.91 37.59 113.08 37.69P1 D3 36.83 37.01 37.33 111.16 37.05P1 D0 36.95 37.69 37.91 112.55 37.52P2 D1 37.85 38.69 37.95 114.49 38.16P2 D2 37.95 38.25 37.76 113.96 37.99P2 D3 36.96 37.33 37.14 111.43 37.14P3 D0 38.93 39.51 40.21 118.65 39.55P3 D1 39.76 39.75 40.38 119.89 39.96P3 D2 40.93 38.83 39.73 119.48 39.83P3 D3 41.56 40.60 40.01 122.18 40.73Total 459.69 459.91 460.99 1380.59 -Ý = 38.35Tabel Lampiran 6. Analisis Sidik Ragam Tinggi Tanaman Pada Umur 45Hari Setelah TanamSumberKeragamanDB JK KT F.hitF.Tabel0,05 0,01Ulangan 2 0.08 0.04 0.09 3,44 5,72D 3 1.60 0.53 1.26 tn3,05 4,82P 2 50.78 25.39 59.66 ** 3,44 5,72D.P 6 3.72 0.62 1.46 tn2,55 3,76Galat 22 9.36 0.43 - - -Jumlah 35 - - -KK (%)= 1.70Keterangan :** = Sangat nyata* = Nyatatn = Tidak nyata
  59. 59. Tabel Lampiran 7. Rata-Rata Tinggi Tanaman Kedelai Pada Umur 60 HariSetelah Tanam (cm)PerlakuanBlok/UlanganJumlah Rata-rataI II IIIP1 D0 41.12 43.98 41.64 126.74 42.25P1 D1 44.64 45.10 41.31 131.05 43.68P1 D2 41.75 43.53 42.64 127.92 42.64P1 D3 40.10 43.73 42.82 126.65 42.22P1 D0 43.08 40.43 44.24 127.74 42.58P2 D1 47.48 44.31 43.88 135.66 45.22P2 D2 47.40 45.96 43.30 136.66 45.55P2 D3 46.06 39.97 45.67 131.71 43.90P3 D0 49.35 48.41 46.83 144.59 48.20P3 D1 49.38 50.05 47.89 147.32 49.11P3 D2 52.99 51.83 50.93 155.74 51.91P3 D3 50.11 52.16 51.54 153.81 51.27Total 553.45 549.45 542.68 1645.58 -Ý = 45.71Tabel Lampiran 8. Analisis Sidik Ragam Tinggi Tanaman Pada Umur 60Hari Setelah TanamSumberKeragamanDB JK KT F.hitF.Tabel0,05 0,01Ulangan 2 4.94 2.47 0.73 3,44 5,72D 3 26.56 8.85 2.62 tn3,05 4,82P 2 365.95 182.98 54.23 ** 3,44 5,72D.P 6 22.07 3.68 1.09 tn2,55 3,76Galat 22 74.23 3.37 - - -Jumlah 35 - - -KK (%)= 4.02Keterangan :** = Sangat nyata* = Nyatatn = Tidak nyata
  60. 60. Tabel Lampiran 9. Rata-Rata Berat Biji Kering Pertanaman (g)PerlakuanBlok/UlanganJumlah Rata-rataI II IIIP1 D0 14.98 14.99 15.03 45.00 15.00P1 D1 15.24 15.61 16.44 47.29 15.76P1 D2 16.07 17.24 16.91 50.21 16.74P1 D3 17.61 17.40 17.54 52.55 17.52P1 D0 16.72 17.13 16.25 50.10 16.70P2 D1 17.51 17.28 17.93 52.72 17.57P2 D2 17.56 17.96 18.15 53.67 17.89P2 D3 17.95 18.15 18.43 54.53 18.18P3 D0 18.06 18.06 16.33 52.45 17.48P3 D1 18.34 16.46 17.94 52.74 17.58P3 D2 19.03 18.41 18.72 56.16 18.72P3 D3 19.64 19.14 19.26 58.05 19.35Total 208.71 207.83 208.92 625.47 -Ý = 17.37Tabel Lampiran 10. Analisis Sidik Ragam Berat Biji Kering PertanamanSumberKeragamanDB JK KT F.hitF.Tabel0,05 0,01Ulangan 2 0.056 0.023 0.09 3,44 5,72D 3 20.12 6.71 22.13 ** 3,05 4,82P 2 25.50 12.75 42.07 ** 3,44 5,72D.P 6 1.86 0.31 1.02 tn2,55 3,76Galat 22 6.67 0.30 - - -Jumlah 35 - - -KK (%)= 3,17Keterangan :** = Sangat nyata* = Nyatatn = Tidak nyata
  61. 61. Tabel Lampiran 11. Rata-Rata Berat Biji Kering Perplot (g)PerlakuanBlok/UlanganJumlah Rata-rataI II IIIP1 D0 239.70 239.90 240.40 720.00 240.00P1 D1 243.90 249.70 263.00 756.60 252.20P1 D2 257.10 275.80 270.50 803.40 267.80P1 D3 281.70 278.40 280.70 840.80 280.27P1 D0 267.50 274.10 260.00 801.60 267.20P2 D1 280.13 276.53 286.83 843.49 281.16P2 D2 280.90 287.40 290.40 858.70 286.23P2 D3 287.20 290.40 294.90 872.50 290.83P3 D0 289.00 289.00 261.20 839.20 279.73P3 D1 293.50 263.30 287.10 843.90 281.30P3 D2 304.50 294.50 299.50 898.50 299.50P3 D3 314.30 306.30 308.20 928.80 309.60Total 3339.43 3325.33 3342.73 10007.49 -Ý = 277.99Tabel Lampiran 12. Analisis Sidik Ragam Berat Biji Kering PerplotSumberKeragamanDB JK KT F.hitF.Tabel0,05 0,01Ulangan 2 14.24 7.12 0.09 3,44 5,72D 3 5151.61 1717.20 22.13 ** 3,05 4,82P 2 6529.13 3264.57 42.07 ** 3,44 5,72D.P 6 477.20 79.53 1.02 tn2,55 3,76Galat 22 1707.24 77.60 - - -Jumlah 35 - - -KK (%) = 3,17Keterangan :** = Sangat nyata* = Nyatatn = Tidak nyata
  62. 62. Tabel Lampiran 13. Rata-Rata Berat 100 Biji Kering (g)PerlakuanBlok/UlanganJumlah Rata-rataI II IIIP1 D0 11.46 12.43 11.29 35.18 11.73P1 D1 12.39 12.95 11.49 36.82 12.27P1 D2 12.38 13.69 12.55 38.62 12.87P1 D3 14.63 15.37 15.48 45.49 15.16P1 D0 13.27 12.47 14.28 40.03 13.34P2 D1 12.39 13.98 13.54 39.90 13.30P2 D2 14.75 13.65 16.26 44.66 14.89P2 D3 15.37 15.93 16.39 47.69 15.90P3 D0 14.39 14.48 13.26 42.14 14.05P3 D1 12.57 14.37 13.59 40.54 13.51P3 D2 14.46 15.38 15.38 45.22 15.07P3 D3 16.37 15.74 16.38 48.50 16.17Total 164.44 170.44 169.91 504.79Ý = 14.02Tabel Lampiran 14. Tabel Analisis Sidik Ragam Berat 100 Biji KeringSumberKeragamanDB JK KT F.hitF.Tabel0,05 0,01Ulangan 2 1.84 0.92 1.72 3,44 5,72D 3 44.77 14.92 27.82 **3,05 4,82P 2 19.17 9.59 17.87 **3,44 5,72D.P 6 2.51 0.42 0.78 tn2,55 3,76Galat 22 11.80 0.54Jumlah 35KK(%) = 5.22Keterangan :** = Sangat nyata* = Nyatatn = Tidak nyata
  63. 63. Lampiran 16. Deskripsi Kedelai Varietas AnjasmoroNama Varietas : AnjasmoroKategori : Varietas unggul nasional (released variety)SK : 537/Kpts/TP.240/10/2001 tanggal 22 Oktober 2001Tahun : 2001Tetua : Seleksi massa dari populasi galur murni MANSURIAPotensi hasil : 2,25 – 2,30 ton/haPemulia : Takashi Sanbuichi, Nagaaki Sekiya, Jamaludin M,Susanto, Darman M. Arsyad, Muchlis AdieNomor Galur : MANSURIA 359 – 49 – 4Warna Hipokotil : UnguWarna epikotil : UnguWarna daun : HijauWarna bulu : PutihWarna bunga : UnguWarna polong masak : Coklat mudaWarna kulit biji : KuningWarna Hilum : kuning kecoklatanTipe tumbuh : DeterminateBentuk daun : OvalUkuran daun : LebarPerkecambahan : 76-78 %Tinggi tanaman : 64-68 cmUmur berbunga : 35,7-39,4 HariUmur masak : 82,5-92,5 HariBobot 100 biji : 14,8-15,3 gramKandungan protein biji : 41,78-42,05 %Kandungan lemak : 17,12-18,60 %Ketahanan terhadap rebah : Tahan rebahKetahanan terhadap karat daun : SedangKetahanan terhadap pecah polong : Tahan
  64. 64. Lampiran 18. Data Hasil Pengamatan pH Tanah9. Perlakuan kontrol tanpa dolomit(D0)1 4.52 53 5.24 55 4.56 4.77 58 4.89 4.6Jumlah 43.3Rata-rata 4.8pH sesudah (1 bulan)pengapuranPerlakukan3. Perlakuan dolomite 150 gr/plot(D2)1 5.72 4.93 54 4.75 5.26 6.27 5.88 6.19 5.4Jumlah 49Rata-rata 5.4pH sesudah (1 bulan)pengapuranPerlakukan10. Perlakuan dolomite 100 gr/plot(D1)1 52 4.13 54 55 5.16 6.47 5.88 5.39 5.3Jumlah 47Rata-rata 5.2pH sesudah (1 bulan)pengapuranPerlakukan4. Perlakuan dolomite 200 gr/plot (D3)1 6.22 5.73 6.34 6.55 5.66 5.97 5.98 69 5.4Jumlah 53.5Rata-rata 5.9pH sesudah (1 bulan)pengapuranPerlakukan
  65. 65. Lampiran 19DOKUMENTASI PENELITIANGambar 1. Lokasi PenelitianGambar 2. Plot-plot PenelitianGambar 3. Kapur (Dolomit) dan tanah yang telah dicampur dengan kapur
  66. 66. Gambar 4. Pengamatan pada saat tanaman berumur 30 hstGambar 5. Tanaman kedelai pada saat berumur 45 hstGambar 6. Tanaman per-batang pada saat berumur 60 hst
  67. 67. Gambar 7. Tanaman per-plot pada saat berumur 60 hstGambar 8. Produksi kedelai per-tanamanGambar 9. Produksi kedelai per-plot setelah panen
  68. 68. Gambar 10. Produksi kedelai per-plot setelah penjemuranGambar 11. Penjemuran dan sampah kedelai setelah pengulitan(pengupasan biji)Gambar 12. Produksi polong dan biji kering tanaman kedelai

×