Pacaran menurut islam tugas agama new

9,035 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
9,035
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
188
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pacaran menurut islam tugas agama new

  1. 1. TUGAS AGAMA “PACARAN MENURUT ISLAM” KELOMPOK 3 1.Ratih Kusuma dewi 2.Ahmad Syafiq 3.Mahanani P.T.
  2. 2.   Alasan Judul  Mengapa saya memilih judul tentang PACARAN karena ini sangat penting untuk kalangan anak muda zaman sekarang.Karena pacaran zaman sekarang sudah sangat luar biyasa bukan hanya pacaran saja tetapi menuju ke hal2 yang tidak baek kita lakukan di usia yg sangat belia ini,seharusnya pacaran yang baik tidak di bumbui dengan hal yang berbau dengan seks.Karena zaman sekarang kalau tidak mengenal seks tidak gaul,tapii menurut saya gaul bukan seperti itu.  Jadi hal ini sangat penting untuk dibahas secara mendalam agar kaum muda sekarang mengerti pacaran yang baik seperti apa,dan hal2 apa saja yg tidak boleh dilakukan dalam hal pacaran.Dan bagi kaum wanita tidak mudahnya memberi mahkota suci kita kepadam kau pria yang tidak bertanggung jawab.Jagalah mahkota suci kita dengan baik,kita boleh memberi mahkota suci kita kalau kita dah sah sebagai istri dari suami kita kelak.
  3. 3. MATERI  Pacaran adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap memiliki hubungan berdasarkan cinta kasih. Berpacaran adalah bercintaan, berkasih-kasihan. Memacari adalah mengencani, menjadikan ia sebagai pacar.Kata pacar sendiri berasal dari nama sejenis tanaman hias yang cepat layu dan mudah disemaikan kembali. Tanaman ini tidak bernialai ekonomis (murahan) sehingga tidak diperjual belikan. Hal ini sebagai simbol bahwa pacaran adalah perilaku yang tidak bernilai. Jika suatu waktu puas dengan pacarnya, maka ia akan mudah beralih pada pacarnya yang baru. Pacaran sendiri dapat diartikan ajang saling mengenal agar mengetahui karakter masing-masing. Kenyataanya justru bukanya saling mengenal, tapi upaya melampiaskan nafsu birahi.
  4. 4. MATERI : PACARAN MENURUT PANDANGAN ISLAM Rumusan Masalah :  Pacaran Menurut Hadist.  Pacaran Menurut Al-Qur‟an  Pacaran Menurut Ulama “PACARAN MENURUT ISLAM”
  5. 5. RUMUSAN MASALAH  Pacaran Menurut Hadist  Kebanyakan ulama sepakat menetapkan bahwa dari segi sanad (periwayatan), derajat hadits yang paling tinggi (paling shahih) adalah yang dimuat di Shahih Bukhari dan sekaligus Shahih Muslim. (Peringkat kedua adalah yang dimuat di Shahih Bukhari, tetapi tidak dimuat di Shahih Muslim. Peringkat ketiga adalah yang dimuat di Shahih Muslim, tetapi tidak dimuat di Shahih Bukhari.) Jadi, keshahihan hadits tersebut amat sangat meyakinkan dan tidak meragukan sama sekali.  Lantas, apakah dengan shahihnya hadits tersebut, engkau boleh berduaan dengan pacarmu sebebas- bebasnya? Tidak! Imam Bukhari mengatakan secara tersirat (dari judul bab yang memuat hadits tersebut) bahwa berduaan itu boleh dengan syarat “di dekat orang-orang”.
  6. 6.  Jadi, kalau engkau berduaan dengan pacarmu (atau pun lawan-jenis non-muhrim lainnya), pastikanlah bahwa kalian berada dalam keadaan terawasi (di dekat orang lain). Adapun ketika kita melihat seseorang berduaan dengan pacarnya (atau pun lawan-jenis non-muhrim lainnya), seharusnya di antara kita ada yang mengawasi mereka supaya mereka tidak berzina. Jangan malah pura-pura tak tahu atau pun melarang mereka berduaan!  Di Simpulkan: Kita boleh berduaan dengan non- muhrim bila terawasi, yaitu dalam keadaan yang manakala terlihat tanda-tanda zina, yang „kecil‟ sekalipun, akan ada orang lain yang menaruh perhatian dan cenderung mencegah terjadinya zina.
  7. 7. Pacaran Menurut Al-Qur‟an  "Diriwayatkan daripada Abu Hurairah (ra) katanya: Nabi saw bersabda: Allah SWT telah mencatat bahwa anak Adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi, dimana dia akan melakukan zina mata dalam bentuk pandanga, zina mulut dalam bentuk pertuturan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya hingga kemaluan ikut memastikan perzinaan itu." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Ahmad) Akibat zina (perasaan) cinta ini, maka banyak muncul perilaku yang telah dihasut syetan, malah menjadi kebanggaan tersendiri dalam masyarakat. Perilaku ikhtilah dan khalwat (berdua-duaan) menjadi hal yang lumrah. Perilaku ini dalam masyarakat dinamakan pacaran. Masalah cinta yang manusiawi menjadi tameng dan melenakan para wanita. Padahal, 'cinta'nya para pria, tentu saja lebih dari sekedar cinta yang diinginkan para wanita yang berpacaran.
  8. 8.  Menjadi hal yang klasik, munculnya budaya pacaran yang sesungguhnya bukan pacaran melainkan perzinaan yang disebutkan dalam hadist di atas. Jika pacaran yang disebutkan awalnya untuk saling mengenal, berubah menjadi ajang pelampiasan nafsu bagi masing-masing insan manusia yang tentunya sudah digoda syetan. Hal ini yang membuat pacaran tidak murni lagi. Islam, tidak menganjurkan pacaran, melainkan ta'aruf yang dapat menjaga izzah (nilai) masing-masing insan manusia hingga terjaga dari godaan syetan, mulai dari taraf perkenalan hingga di ijab qabul dalam pernikahan. InsyaAllah terlepas dari godaan syetan yang maha dahsyat itu.
  9. 9.  Pacaran Menurut Ulama  Adapun manusia masa kini menganggapnya halal dengan berbagai dalih dan alasan, misalnya: untuk saling mengenal kepribadian atau untuk penjajakan dan lainnya. Itu sih menurut manusia awam. Kepada kita yang mengetahui keharamannya, maka hendaklah kita menasihati anak, isteri, keluarga dan saudara-saudari kita dalam Islam agar menjauhi perkara yang merusak ini.  TTM adalah awalnya, kemudian berlanjut kepada pacaran, kemudian berlanjut lagi kepada tunangan, jika berjalan baik dan mulus, kemungkinan akan terjadi perkawinan, namun jika berjalan buruk atau mungkin sudah bosan atau terjadi perselingkuhan, maka hubungan itu pun akan putus. Maka dapatlah kita hitung berapa besar dosa zina yang terjadi selama 3 periode itu. Sudah sepantasnyalah jika seluruh ulama mengatakan TTM, pacaran dan tunangan adalah HARAM.  Ketiga perbuatan itu tidak pernah ada pada zaman Nabi, tidak pernah pula diajarkan, bahkan sudah diharamkan sejak zaman Nabi.
  10. 10. KESIMPULAN  Dari sudut bahasa sudah nampak bahwa pacaran adalah hubungan cinta kasih antara lawan jenis diluar nikah, tidak bernilai dan mengandung unsur-unsur yang membahayakan masa depan kedua pasangan tersebut. Baik dunia maupun akhirat.  Menurut Ulama‟ hukum pacaran adalah haram namun, ada tiga pendapat atau padangan yang bertolak belakang mengenai pacaran, yakni pacaran suatu keharusan (wajib) pacaran sebagai sunnah (mandub) dan pacaran sebagai suatu yang haram (mahrum).  Pacaran dalam pandangan islam adalah hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta, malah cinta diantara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan, karena kalau keduanya telah merasakan kenikmatan dan cinta rasa tidak boleh tidak akan timbul keinginan lain yang tidak di peroleh sebelumnya.

×