Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
1.Teori belajar kognitif        Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupanmanusia. Belajar me...
Dalam dua tahun pertama kehidupan bayi ini, dia dapat se dikit memahamilingkungannya dengan jalan melihat, meraba atau mem...
sebuah penyimpangan. Penyimpangan yang dimaksud adalah terjadinya perbedaancara dalam memperoleh sebuah struktur yang sama...
Berikut adalah 5 mode yang diutarakan oleh Biggs dan Collis:       1. Mode Sensorimotor        Focus perhatian pada mode i...
Berikut adalah tahapan respon berpikir berdasar taksonomi SOLO;1. Tahap Pre-Structural.Pada tahap ini siswa hanya memiliki...
itu, yang dirumuskan dalam disertasinya, diperoleh dari kegiatan tanya jawab danpengamatan.          Menurut Van Hiele, ti...
Postulat dalam pembuktian segitiga yang sama dan sebangun, seperti postulatsudut-sudut-sudut, sisi-sisi-sisi atau sudut-si...
y   Berikan peluang agar siswa belajar sesuai bertahap       y   Di dalam kelas, siswa hendaknya diberi pelua ng untuk sal...
akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikur angi/dihilangkan (negativereinforcement) maka respon juga semakin kuat.Be...
3. Dasar Teori KonstruktivismeTeori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif,yaitu tinda...
mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anakberpikir melalui gerakan atau perbuatan.Selanjutny...
Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yangberlangsung secara interaktif antara fakt...
Tujuan    utama    para    pendidik   adalah   membantu   si   siswa   untukmengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-m...
anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangann ya sebagai seorang       individu, seperti siswa yang lain.   8. Dia men...
5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya   sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan men...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

52942980 teori-belajar-kognitif

6,781 views

Published on

  • Be the first to comment

52942980 teori-belajar-kognitif

  1. 1. 1.Teori belajar kognitif Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupanmanusia. Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang palingpenting dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Dalamdunia pendidikan belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelenggaraan prosesbelajar-mengajar. Melalui belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yangbaru, dan atau mengalami perubahan tingkah laku, sikap,dan ketrampilan. Pada dasarnya terdapat dua pend apat tentang teori belajar yaitu teoribelajar aliran behavioristik dan teori belajar kognitif. Teori belajar behavioristikmenekankan pada pengertian belajar merupakan perubahan tingkah laku, sehinggahasil belajar adalah sesuatu yang dapat diamati dengan indra manusia langsungtertuangkan dalam tingkah laku. Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi danSupriono (1991: 121) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukanindividu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secarakeseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi denganlingkungannya´. Sedangkan teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakansuatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan olehWinkel (1996: 53) bahwa ³Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yangberlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkanperubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap.Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas´. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatuproses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusiasebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperolehsuatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku,ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas. Sesuai dengan karakteristik matematika maka belajar matematika lebihcenderung termasuk ke dalam aliran belajar kognitif yang proses dan hasil nya tidakdapat dilihat langsung dalam konteks perubahan tingkah laku. Berikut adalahbeberapa teori belajar kognitif menurut beberapa pakar teori belajar kognitif:Teori Belajar Piaget Jean Piaget adalah seorang ilmuwan perilaku dari Swiss, ilmuwan yangsangat terkenal dalam penelitian mengenai perkembangan berpikir khususnyaproses berpikir pada anak. Menurut Piaget setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnyamenurut tahap yang teratur. Pada satu tahap perkembangan tertentu akan munculskema atau struktur tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amatbergantung pada tahap sebelumnya. Adapun tahapan -tahapan tersebut adalah:a. Tahap Sensori Motor(dari lahir sampai kurang lebih umur 2 tahun)
  2. 2. Dalam dua tahun pertama kehidupan bayi ini, dia dapat se dikit memahamilingkungannya dengan jalan melihat, meraba atau memegang, mengecap, menciumdan menggerakan. Dengan kata lain mereka mengandalkan kemampuan sensorikserta motoriknya. Beberapa kemampuan kognitif yang penting muncul pada saat ini.Anak tersebut mengetahui bahwa perilaku yang tertentu menimbulkan akibattertentu pula bagi dirinya. Misalnya dengan menendang -nendang dia tahu bahwaselimutnya akan bergeser darinya.b. Tahap Pra-operasional ( kurang lebih umur 2 tahun hingga 7 tahun) Dalam tahap ini sangat menonjol sekali kecenderungan anak -anak itu untukselalu mengandalkan dirinya pada persepsinya mengenai realitas. Dengan adanyaperkembangan bahasa dan ingatan anakpun mampu mengingat banyak hal tentanglingkungannya. Intelek anak dibatasi oleh eg osentrisnya yaitu ia tidak menyadariorang lain mempunyai pandangan yang berbeda dengannya.c. Tahap Operasi Konkrit (kurang lebih 7 sampai 11 tahun) Dalam tahap ini anak-anak sudah mengembangkan pikiran logis. Dalamupaya mengerti tentang alam sekelilingn ya mereka tidak terlalu menggantungkan diripada informasi yang datang dari pancaindra. Anak -anak yang sudah mampu berpikirsecara operasi konkrit sudah menguasai sebuah pelajaran yang penting yaitu bahwaciri yang ditangkap oleh pancaindra seperti besar d an bentuk sesuatu, dapat sajaberbeda tanpa harus mempengaruhi misalnya kuantitas. Anak -anak sering kali dapatmengikuti logika atau penalaran, tetapi jarang mengetahui bila membuat kesalahan.d. Tahap Operasi Formal (kurang lebih umur 11 tahun sampai 15 t ahun) Selama tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak yaitu berpikirmengenai gagasan. Anak dengan operasi formal ini sudah dapat memikirkanbeberapa alternatif pemecahan masalah. Mereka dapat mengembangkan hukum -hukum yang berlaku umum dan pertimbangan ilmiah. Pemikirannya tidak jauhkarena selalu terikat kepada hal-hal yang besifat konkrit, mereka dapat membuathipotesis dan membuat kaidah mengenai hal -hal yang bersifat abstrak. Berdasarkan uraian diatas, Piaget membagi tahapan perkembangankemampuan kognitif anak menjadi empat tahap yang didasarkan pada usia anaktesebut.Taxonomy SOLO Teori belajar Piaget memberikan pengaruh yang luar biasa terhadapperkembangan teori pembelajaran kognitif. Hal ini terbukti dengan banyaknyapeneliti yang tertarik mela kukan analisis serta memperluas teori tersebut. salah satukritik yang cukup tajam terhadap teori Piaget adalah berkenaan dengan asumsibahwa pengertian akan suatu struktur yang sama akan diperoleh pada usia yangsama dalam berbagai domain intelektual. Imp likasi dari hal ini adalah ketika seoranganak sudah dapat mengawetkan besaran suatu unsur dengan mengenali bahwabesaran dari benda tersebut sama terlepas dari bentuknya anak secara rasionaldapat diduga akan mengawetkan konsep berat, karena struktur anta ra konsepbesaran dan berat sama. Ternyata bersadar pada studi eksperimental yangdilakukan oleh para peneliti hal ini tidak sepenuhnya benar. Hal ini dianggap sebagai
  3. 3. sebuah penyimpangan. Penyimpangan yang dimaksud adalah terjadinya perbedaancara dalam memperoleh sebuah struktur yang sama oleh seorang individu. Daribeberapa hasil pengembangan penelitian dalam teori ini ternyata penyimpangan inilazim terjadi sebagaimana diungkapkan oleh Biggs dan Collis (1982). Fakta inimemicu sebuah pengembangan teori dari teori Piaget yang dikenal dengan neo-Piagetian theories. Biggs dan Collis adalah peneliti yang turut melakukan dan analisis teoribelajar Piaget. Salah satu isu utama yang dikaji oleh kedua peneliti ini berkaitandengan struktur kognitif. Teori mereka dikenal dengan Structure of ObservedLearning Outcomes (SOLO). Biggs dan Collis (1982: 22) membedakan antara³generalized cognitive structure´ atau struktur kognitif umum anak dengan ³actualrespon´ atau respon langsung anak ketika diberikan perintah -perintah. Merekamenerima kebeadaan konsep struktur kognitif umum namun mereka menyakinibahwa hal tersebut tidak dapat diukur langsung sehingga perlu mengacu padasebuah ³hypothesized cognitive structure´ (HCS) atau struktur kognitif hipotesis.Menurut mereka HCS ini relative lebih stabil dari waktu ke waktu serta bebas daripengaruh pembelajaran disaat anak diukur menggunakan taxonomi SOLO dalammenyelesaikan suatu tugas tertentu. Penekan pada suatu tugas tertentu sangatpenting seperti yang diasumsikan dalam taksonomi SOLO bahwa penampilanseseorang sangatlah beragam dalam menyelesaikan satu tugas dengan tugaslainnya, hal ini berkaitan erat dengan logika yang mendasarinya, selanjutnya asumsiini juga meliputi penyimpangan yang dalam model ini dikatakan: Siswa dapat saja berada pada awal level formal dalam matematika namunberada pada level awal konkrit dalam sejarah, atau bahkan dapat terjadi, suatu harisiswa berada pada level formal di matematika namun dilain hari dia masih beradapada level yang konkrit pada topik yyang berbeda. Hasil observasi seperti ini tidakdapat mengindikasikan terdapatnya ³pertukaran´ dalam perkembangan kognitif yangberlangsung, tetapi sedikit pertukaran terjadi pada konstruksi yang lebih proximal ,pembelajaran, penampilan atau motivasi. Biggs & Collis (1991:60) Dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa teori tersebut lebihmenekankan pada analisis terhadap kualitas respon anak. Untuk melihat responanak diperlukan butir-butir rangsangan. Dan butir-butir rangsangan dalam konteks initidak difokuskan untuk melihat kebenaran dari jawaban saja melainkan lebih padamelihat struktur alamiah dari respon siswa dan perubahannya dari waktu ke waktu. Untuk menjelaskan konsep ³pertukaran´ yang terjadi dalam pertumbuhankognitif yang tidak biasa diantara anak-anak sekolah, Biggs & Collis (1991:60)menyediakan suatu level tersendiri yang diberi nama ³ post formal mode´.Bagaimanapun juga terdapat satu perbedaan penting dari teori yang dikemukakanPiaget yaitu ketika mode atau level baru mulai muncul, ini tidak akan menggantikanlevel yang lama begitu saja melainkan dapat berkembang bersamaan. Oleh karenaitu mode-model tersebut tumbuh sejak lahir hingga dewasa. Level terakhir adalahbatas tertinggi dari proses abstraksi yang dapat ditunju kkan anak, bukan seluruhpenampilan yang harus menyesuaikan dengan level -nya. Secara khusus, ketikasemakin banyak mode yang memungkinkan maka multi-modal fungsioning menjadinormanya.
  4. 4. Berikut adalah 5 mode yang diutarakan oleh Biggs dan Collis: 1. Mode Sensorimotor Focus perhatian pada mode ini adalah lingkungan fisik sekitar anak. Anakmembangun kemampuan untuk melakukan koordinasi dan mengatur interaksinyadengan lingkungan sekitar. Perkembangan yang berkelanjutan pada mode iniditunjukkan oleh kegiatan -kegiatan fisik ketika diperolehnya tacit knowledge. 2. Mode Iconic Pada mode ini symbol-simbol dan gambar digunakan untukmerepresentasikan elemen-elemen yang diperolehnya pada mode sensorimotor.Tanda-tanda tersebut digunakan sebagai peran pengganti dari komunikasi oral.Cirri-ciri dari anak yang berada pada mode ini antara lain sering menggunakanstrategi menebak, senang menggunakan alat peraga dan senang membuatgambaran-gambaran mental. Mode sensorimotor dan iconic adalah mode -modealamiah dari seorang manusia yang berkembang secara alamiah juga. Sedangkantarget pertama dari sekolah formal ada pada mode concrete symbolic. 3. Mode Concrete Symbolic Pada mode ini anak mengalami ³pertukaran´ dalam proses abstraksi.Mereka mulai merepresentasikan dunia fisik melalui bahasa oral ke dalam bentuktulisan, yaitu sebuah system symbol yang akan mereka gunakan dalamkehidupannya di dunia. Sebuah system symbol memiliki tingkatan dan logika internal yang dapatmemfasilitasi sebuah hubungan antara sistem simbol dan li ngkungan fisik disekitarnya. Sistem symbol yang digunakan di sekolah antara lain adalah matematikadan bahasa. Mode concrete symbolic adalah mode terbesar sebagai target darimatematika sekolah. Karena dalam matematika anak menggambarkan danmengoperasikan objek-objek yang berada di sekitarnya. 4. Mode Formal Pada mode ini titik berat kemampuan sesorang adalah pada kemampuanmengkonstruksi teori tanpa bantuan contoh benda konkrit. Kemampuan berpikirpada tahap ini meliputi membuat formula hipotesis dan mem buat penalaran yangproporsional. Oleh karena itu kemampuan ini dituntut pada mahasiswa -mahasiswadi Perguruan Tinggi. 5. Mode Post Formal Keberadaan mode ini lebih menekankan pada pembuatan hipotesis secaradeduktif dari pada penyusunan teori berdasarkan bukti-bukti empiris. Karakteristikterpenting dari mode ini adalah kemampuan untuk bertanya tentang prinsip -prinsipmendasar dari sesuatu hal. Taksonomi SOLO ini terdiri dari lima tahap yang dapat menggambarkanperkembangan kemampuan berpikir kompleks pada siswa dan dapat diterapkan diberbagai bidang.
  5. 5. Berikut adalah tahapan respon berpikir berdasar taksonomi SOLO;1. Tahap Pre-Structural.Pada tahap ini siswa hanya memiliki sangat sedikit sekali informasi yang bahkantidak saling berhubungan, sehingga tida k membentuk sebuah kesatuan konsepsama sekali dan tidak mempunyai makna apapun.2. Tahap Uni-Structural.Pada tahap ini terlihat adanya hubungan yang jelas dan sederhana antara satukonsep dengan konsep lainnya tetapi inti konsep tersebut secara luas belu mdipahami. Beberapa kata kerja yang dapat mengindikasi aktivitas pada tahap iniadalah; mengindentifikasikan, mengingat dan melakukan prosedur sederhana.3. Tahap Multi-Structural.Pada tahap ini siswa sudah memahami beberapa komponen namun hal ini masihbersifat terpisah satu sama lain sehingga belum membentuk pemahaman secarakomprehensif. Beberapa koneksi sederhana sudah terbentuk namun demikiankemampuan meta-kognisi belum tampak pada tahap ini. Adapun beberapa katakerja yang mendeskripsikan kemampuan siswa pada tahap ini antara lain;membilang atau mencacah, mengurutkan, mengklasifikasikan, menjelaskan,membuat daftar, menggabungkan dan melakukan algoritma.4. Tahap relational.Pada tahap ini siswa dapat menghubungkan antara fakta dengan teori sertatindakan dan tujuan. Pada tahap ini siswa dapat menunjukan pemahaman beberapakomponen dari satu kesatuan konsep, memahami peran bagian -bagian bagikeseluruhan serta telah dapat mengaplikasikan sebuah konsep pada keadaan -keadaan yang serupa. Adapun kata kerja yang mengidikasikan kemampuan padatahap ini antara lain; membandingkan, membedakan, menjelaskan hubungan sebabakibat, menggabungkan, menganalisis, mengaplikasikan, menghubungkan.5. Tahap Extended Abstract Pada tahap ini siswa melakukan koneksi tidak hanya sebatas pada konsep- konsep yang sudah diberikan saja melainkan dengan konsep -konsep diluar itu. Dapat membuat generalisasi serta dapat melakukan sebuah perumpamaan-perumpamaan pada situasi-situasi spesifik. Kata-kerja yang merefleksikan kemampuan pada tahap ini antara lain, membuat suatu teori, membuat hipotesis, membuat generalisasi, melakukan refleksi serta membangun suatu konsep.Teori Belajar Van Hiele Dalam belajar pengajaran geometri terdapat teori belajar yangdikemukakan oleh Van Hiele (1954), yang menguraikan tahap -tahap perkembanganmental anak dalam belajar geometri. Van Hiele adalah seorang guru bangsaBelanda yang mengadakan penelitian dalam peg ajaran geometri. Hasil penelitiannya
  6. 6. itu, yang dirumuskan dalam disertasinya, diperoleh dari kegiatan tanya jawab danpengamatan. Menurut Van Hiele, tiga unsur utama dalam pengajaran geometri yaituwaktu, materi pengajaran dan metode pengajaran yang ditera pkan, jika ditata secaraterpadu akan dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak kepada tingkatanberpikir yang lebih tinggi. Van Hiele menyatakan bahwa terdapat lima tahapan berpikir dalam belajargeometri yaitu;a.Tahap PengenalanDalam tahap ini anak mu lai belajar mengenali suatu bentuk geometri secarakeseluruhan, namun belum mampu mengetahui adanya sifat -sifat dari bentukgeometri yang dilihatnya itu. Sebagai contoh jika kepada seorang anak diperlihatkansebuah kubus, ia belum mengetahui sifat-sifat atau keteraturan yang dimiliki olehkubus itu. Ia belum menyadari bahwa kubus mempunyai sisi -sisi yang berupa bujursangkar, bahwa sisinya ada 6 buah.b.Tahap AnalisisPada tahap ini anak sudah mulai dapat mengenal sifat -sifat yang dimiliki bendageomeri yang diamatinya. Ia sudah mampu menyebutkan keteraturan yang terdapatpada benda geometri tersebut. Misalnya disaat dia mengamati persegi panjang, iatelah mengetahui bahwa terdapat dua pasang sisi yang berhadapan, dan keduapasang sisi tersebut saling sejaja r. Dalam tahap ini anak belum mampu mengetahuihubungan yang terkait antara suatu benda geometri dengan benda geometri lainnya.Misalnya, anak belum mengetahui bahwa bujur sangkar adalah persegi panjang,bahwa bujur sangkar adalah belah ketupat dan sebagai nya.c.Tahap PengurutanPada tahap ini anak telah mampu melaksanakan penarikan kesimpulan, yangdikenal dengan sebutan berpikir deduktif, namun kemapuan ini belum berkembangsecara penuh. Pada tahap ini anak telah mulai mampu mengurutkan. Misalnya iasudah mulai mengenali bahwa bujur sangkar adalah jajargenjang, bahwa belahketupat adalah layang -layang. Demikian pula dalam pengenalan benda -bendaruang, anak-anak memahami bahwa kubus adalah balok juga, dengankeistimewaannya, yaitu bahwa semua sisinya berben tuk bujursangkar. Pola pikiranak pada tahap ini masih belum mampu menerangkan mengapa diagonal suatupersegi panjang itu sama panjang. Anak mungkin belum memahami bahwa belahketupat dapat dibentuk dari dua segitiga yang kongruen.d.Tahap DeduksiDalam tahap ini anak sudah mampu menarik kesimpulan secara deduktif, yaknipenarikan kesimpulan dari hal-hal yang umum menuju hal-hal yang bersifat khusus.Mereka juga telah mengerti peranan unsur -unsur yang tidak didefinisikan, disamping unsur-unsur yang telah didefinisiskan. Misalnya anak telah mampumemahami dalil. Selain itu, pada tahap ini anak telah mampu menggunakan postulatatau aksioma yang digunakan dalam pembuktian.
  7. 7. Postulat dalam pembuktian segitiga yang sama dan sebangun, seperti postulatsudut-sudut-sudut, sisi-sisi-sisi atau sudut-sisi-sudut, dapat dipahaminya, namunbelum mengerti mengapa postulat tersebut benar dan mengapa dapat dijadikansebagai postulat dalam cara -cara pebuktian dua segitiga yang sama dansebangun(kongruen).e.Tahap AkurasiDalam tahap ini anak telah mulai menyadari betapa pentingnya ketepatan dariprinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Misalnya ia mengetahuipentingnya aksioma -aksioma atau postulat-postulat dari geometri Euclid. Tahapakurasi merupakan tahap berpikir yang tinggi, rumit dan kompleks. Oleh karena itutidak mengherankan jika tidak semua anak, meskipun sudah duduk dibangkusekolah lanjutan atas, masih belum sampai pada tahap berpikir ini.Paparan di atas baru beberapa teori pembelajaran kognitif, selai n itu masih banyakteori belajar konitif yang diungkapkan oleh beberapa pakar seperti Bruner, Bloom,Freudenthal dan lain -lain. Aplikasi Teori Belajar Kognitif Teori belajar kognitif bisa di aplikasikan kedalam konsentrasi belajar apa sajakarena sebenarnya dasar dari teori tersebut ada 3 hal yaitu : y Belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik y Peserta didik hendaknya di beri kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyakan tilikan dari guru y Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada perserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan Implikasi dalam belajar y Bahasa dan cara berfikir siswa berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir siswa y Siswa ± siswa akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan yang baik. Guru harus membantu siswa agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik baiknya y Bahan yang harus dipalajari siswa hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing
  8. 8. y Berikan peluang agar siswa belajar sesuai bertahap y Di dalam kelas, siswa hendaknya diberi pelua ng untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman ± temanya2.Teori belajar behavioristikTeori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh gage danberlier tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini laluberkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arahpengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenalsebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yangtampak sebagai hasil belajar.Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkanorang yang belajar sebagai individu yang pasif . Respon atau perilaku tertentudengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnyaperilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang biladikenai hukuman.Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin,2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkanperubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah inputyang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa sajayang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atautanggapan pebelajar terhada p stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Prosesyang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karenatidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus danrespon, oleh karena itu apa yang diberik an oleh guru (stimulus) dan apa yangditerima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori inimengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untukmelihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan(reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon
  9. 9. akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikur angi/dihilangkan (negativereinforcement) maka respon juga semakin kuat.Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi:(1) Reinforcement and Punishment;(2) Primary and Secondary Reinforcement;(3) Schedules of Reinforcement;(4) Contingency Management;(5) Stimulus Control in Operant Learning;(6) The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, ClarkHull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliranbehavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon.Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran,perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkanrespon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pulaberupa pikiran, perasaan, atau ge rakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibatkegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrityaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakanpengukuran, tetapi tidak dapat menjela skan bagaimana cara mengukur tingkah lakuyang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teorikoneksionisme (Slavin, 2000).Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni(1) hukum efek;(2) hukum latihan dan(3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991).Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal -hal tertentu dapat memperkuat resp onAplikasi teori belajar behaviouristik
  10. 10. 3. Dasar Teori KonstruktivismeTeori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif,yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivismesebenarnya bukan merupakangagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupankita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demipengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadilebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umumseperti: 1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada. 2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka. 3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. 4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada. 5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah. 6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik m iknat pelajar.Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajarkonstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa jugadisebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teoribelajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar yang dikemasdalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahapperkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri -ciri tertentu dalam
  11. 11. mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anakberpikir melalui gerakan atau perbuatan.Selanjutnya, Piaget menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalampikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapaninformasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembalistruktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebutmempunyai tempat atau ruang. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalahproses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok denganransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok denganrangsangan itu.Vygotsky berpendapat tidak jauh dengan Piaget, bahwa tiap siswa membentukpengetahuan sebagai hasil dari pemikiran dan kegiatan siswa itu sen diri melaluibahasa. Teori Vygotsky lebih menekankan pada aspek social dari pembelajaran.Menurutnya, proses pembelajaran akan terjadi bila anak beekrja atau menanganitugas yang belum dipelajari, namun tugas tersebut masih dalam jangkauan anakyang disebut dengan zone of proximal development (daerah tingkat perkembangansedikit di atas aerah perkembangan seseorang sendiri. Vygotsky yakin bahwa fungsimental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan dan kerjasamaantar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap dalam individutersebut.Rutherford dan Ahlgren berpendapat bahawa murid mempunyai ide mereka sendiritentang semua hal, di mana ada yang betul dan ada yang salah. Jika pemahamandan miskonsepsi ini diabaikan atau tidak di tangani dengan baik, pemahaman ataukepercayaan asal mereka itu akan tetap kekal walaupun dalam pemeriksaan merekamungkin memberi jawapan seperti yang dikehendaki oleh guru.John Dewey menguatkan lagi teori konstruktivisme ini dengan mengatakan bahawapendidik yang cakap harus melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagaiproses menyusun atau membina pengalaman secara lanjut/kontinyu. Beliau jugamenekankan kepentingan penyertaan murid di dalam setiap aktivitas pengajarandan pembelajaran.
  12. 12. Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yangberlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktorekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah laku. Olehkarenanya, seorang guru ha rus memahami maksud dan tujuan siswa belajar,selanjutnya guru juga mampu mengarahkan siswa untuk memfungsikan hasilpengetahuan yang diperolehnya.Aplikasi tentang teor i belajar kontruktifismeGuru menyampaikan pengantar materi pada siswa di dalam kelas. guru mengajaksiswa untuk keluar kelas dan menuju lab sekolah.Di dalam lab, guru menegaskandasar pengertian hambatan, fungsi, dan berbagai penjelasan tentang hambatan.Guru selanjutnya menyuruh siswa untuk tetap berada di lab dan mengintruksikanagar siswa mencari solusi apa saja yang dapat mencegah panasnya hambatan(resistor) seperti yang mereka rasakan di lapangan (Discovery).Siswa diajak kembalike kelas dan disuruh membacakan hasil pemikirannya satu per satu mengenai solusipanas dan mengintruksikan agar siswa lain mencatat solusi yang belum ditulisnya(Asimilasi).Guru menyimpulkan hasil pengamatan siswa, kemudian siswa disuruhmerangkum hasil pembelajaran materi tersebut sesuai yang dipahaminya.Gurumemberikan kesempatan pada siswa untuk menanyakan s ecara kritis berkenaandengan hasil pengamatannya.Pada kegiatan penutup guru mengintruksikan agarsetiap siswa mendemonstrasikan hasil penelitian tadi kepada warga sekitar danmencatat respon warga tersebut sebagai tugas di rumah (Akomodasi).4.Teori belajar humanistik Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakanmanusia. proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannyadan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaunia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar iniberusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan darisudut pandang pengamatnya.
  13. 13. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untukmengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenaldiri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkanpotensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanyadua bagian pada proses belajar, ialah : 1. Proses pemerolehan informasi baru, 2. Personalia informasi ini pada individu. Implikasi Teori Belajar Humanistik a. Guru Sebagai Fasilitator Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yangberikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kem udahan belajar dan berbagaikualitas sifasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapaguidenes(petunjuk): 1. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas 2. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan -tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan -tujuan kelompok yang bersifat umum. 3. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing -masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebaga i kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi. 4. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber -sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka. 5. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok. 6. Di dalam menanggapi ungkapan -ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap -sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok 7. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur -sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang
  14. 14. anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangann ya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain. 8. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunak an atau ditolak oleh siswa 9. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan -ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar 10. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan -keterbatasannya sendiri.Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama prosespembelajaran yang mewarnai metode -metode yang diterapkan. Peran guru dalampembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan gurumemberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa.Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untukmemperoleh tujuan pembelajaran. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknaiproses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri ,mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yangbersifat negatif. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar.Adapun proses yang umumnya dilalui adalah : 1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas 2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif. 3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri 4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
  15. 15. 5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswaPembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan padamateri-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani,perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator darikeberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatifdalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku d an sikap atas kemauansendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat olehpendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawabtanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplinatau etika yang berlaku.

×