Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
Materi Perkuliahan :
1. Pendahuluan sistem komunikasi ( Review and Introduce )
2...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
BAB 1.
PENDAHULUAN.
Terestrial berasal dari kata terra : bumi, yang berarti terj...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
DEFINISI SELULER :
Sistem komunikasi yang digunakan untuk memberikan layanan jas...
Sentra
l
Lokal
MD
F
D
P
D
P
Keterangan :
MDF = Main Distribution Frame
DP = Distribution Point
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas ...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
Teknologi JARLOKAR mempunyai kompleksitas yg sangat tinggi dan satu sama lain
da...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
Dalam 1 time slot terdiri dari 32 bit Sinkronisasi (s-field) dan 388 bit data
(D...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
DRA 1900 memiliki beberapa unit :
1. Radio Node Controller (RNC)
2. DECT Access ...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
2.4 Alokasi Frekuensi Untuk Sistem Bergerak
Definisi : Sistem komunikasi yang di...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
1. Nilai level daya yg relatif kecil untuk unit MS (telepon genggam), sebab unit...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
Seluler bergerak melalui interface, yaitu satu unit gateway
(GMSC=gateway mobile...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
oleh BS di sekitarnya.
3. Kemudian dari BS di kirim ke BSC (base station control...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
• MSC Mengendalikan semua aktivitas hubungan lewat BTS.
• MS Berhubungan dgn MSC...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
Jaringan seluler atau PLMN (public land mobile network) terdiri dari sejumlah mo...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
1). BTS (base transceiver station)
Merupakan satu unit atau lebih sistem pemanca...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
Mengadakan pemetaan nomor panggilan yang datang bagi setiap MS yang
bersangkutan...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
Gambar 2.6 Diagram blok dimana OMC berada
LUP (location update)
LUP terjadi wakt...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
memberikan konfirmasi ke BSC untuk diteruskan ke hp yang menyatakan bahwa hp
ber...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
Handoff atau disebut juga dengan handover, adalah satu proses pemindahan
penanga...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
layanan. Pada Gbr-3.1 nampak, bahwa dua sel dengan frekuensi kerja yang sama,
F1...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
Indonesia dengan operator di luar negeri tersebut. Kalau tidak, sambungan dianta...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
(1). CC (Country Code)
Merupakan kode negara dimana pelanggan seluler tersebut t...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
Karena MSRN merupakan nomor yang digunakan untuk re-routing satu panggilan,
maka...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
MCC (Mobile Country Code),
Merupakan kode negara dimana pelanggan seluler terseb...
Bab.1 Pendahuluan
Fakultas Teknik Elektro
Merupakan nomor tersendiri yang dimiliki tiap-tiap pelanggan telepon
seluler ber...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Bab 1.-pendahuluan-fakultas-teknik-elektro

814 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
814
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
23
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab 1.-pendahuluan-fakultas-teknik-elektro

  1. 1. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro Materi Perkuliahan : 1. Pendahuluan sistem komunikasi ( Review and Introduce ) 2. Pengenalan pada Sistem Seluler 3. Antena pada Sistem Seluler 4. Perambatan Gelombang (link budget), 5. Interferensi Saluran Bersama (Co channel Interference) 6. Perhitugan Daya Terima 7. Perencanaan Sistem Seluler (Frequency planning) 8. Modulasi pada Sistem Kominikasi Bergerak 9. Sistem GSM, GPRS dan EDGE 10. Sistem CDMA One 11. Sistem CDMA 2000 dan WCDMA Daftar Pustaka 1. Roger L. reeman, Radio System Design for Telecomunication, John Wiley & SONS, INC New Yoek, 1997 2. Roger L. reeman, Telekomunication System Engineering, John Wiley & SONS, INC New Yoek, 1980 3. Mischa Schwartz, Transmisi Informasi, Modulasi dan Bising, Erlangga Jakarta, 1986 4. D C Green, Transmission system, Pitman Publishing New Zealand, Wellington, 1982 5. Dennis Roddy, John Coolen, Komunikasi Elektronika, Erlangga 1997 6. Ir. Tiur LH Simanjuntak, Dasar-dasar telekomunikasi, alumini Bandung, 1993 7. PT Telkom, Pedoman Penerapan Jaringan Lokal Akses Radio (JARLOKAR), 1998 8. Seeichi Sampei, Application of digital wireless technologies to global wireless communication, printice hall, 1997 9. Lee, William C.Y. Mobile Cellular Telecomunication system Mc –Grraw Hill singapore 1982 10. Gunawan wibisono, Konsep Teknologi Seluler, Informatika Bandug, 2008 PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 1
  2. 2. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro BAB 1. PENDAHULUAN. Terestrial berasal dari kata terra : bumi, yang berarti terjadi di permukaan bumi. Dalam Sistem Telekomunikasi, teresterial sistem akan berarti sistem telekomunikasi yg menggunakan gelombang Radio (RF, Radio Frequency) maksudnya adalah sistem pemancaran radio atau televisi,sistem komunikasi microwave, Sistem komunikasi point-to-point., dan termasuk juga sistem komunikasi seluler, baik yg fixed ataupun bergerak (mobile). Media Transmisi Non Fisik Terestrial adalah media transmisi dalam bentuk gelombang radio yang perambatannya. tidak jauh atau seolah-olah sejajar dengan bumi (tidak termasuk transmisi satelit). Pemakaian gelombang radio sebagai media transmisi biasanya ditentukan berdasarkan frekuensi/panjang gelombang Frekuensi adalah banyaknya getaran yang melewati titik tertentu dalam suatu interval waktu yang berlainan. Satuan frekuensi disebut : Heartz sesuai penemu gelombang elektromagnetik : Heinrich Hertz ( Jerman). Frekuensi ini berbanding terbalik dengan panjang gelombang. Pada mata kuliah ini, pembahasan yang di berikan berkaitan dengan sistem komunikasi seluler bergerak, yang kita kenal populer sebagai sistem telepon Genggam atau hp (handphone), yang sebelumnya di namai sebagai SKTB (sistem komunikasi telepon bergerak). Klasifikasi WIRELESS PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 2 Wireless Communication Fixed Wireless Mobile Wireless Non Cellular Cellular Non Cellular Cellular point to point communication, infra red communication, LMDS, Microwave communication contoh : contoh : contoh : contoh : paging system (ERMES, NTT, NEC) , dispatching system, PAMR (Public Access Mobile Radio) dsb PHS, CT2, PACS, DCS1800, DECT GSM, CDMA/IS-95, AMPS, UMTS, PHS, DCS1800, NMT450, TACS, C-450, dsb
  3. 3. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro DEFINISI SELULER : Sistem komunikasi yang digunakan untuk memberikan layanan jasa telekomunikasi bagi pelanggan bergerak. Disebut sistem cellular karena daerah layanannya dibagi-bagi menjadi daerah yang kecil-kecil yang disebut CELL. SIFAT : Pelanggan mampu bergerak secara bebas di dalam area layanan sambil berkomunikasi tanpa terjadi pemutusan hubungan. JENIS FREKUENSI : 1. Middle Frekuensi (MF) : 300 – 3.000 KHz , 2. High Frekuensi (HF) : 3 – 30 MHz, 3. Very High Frekeunsi (VHF) : 30 – 300 MHz, 4. Ultra High Frekuensi (UHF) : 300 – 3.000 MHz, 5. Super High Frekuensi (SFH) : 3 – 30 GHz, 6. Extremely High Frekuensi (EHF) : 30 – 300 GHz Besaran masing-masing jenis frekeunsi radio disebut Spektrum Frekuensi Radio MF (Middle Frekuensi) disebut dengan radio dengan panjang gelombang sedang. Banyak digunakan dalam radio siaran swasta niaga HF (High Frekuensi) Disebut sistem radio gelombang pendek, yang banyak dipakai untuk hubungan ke tempat yang jauh/ terpencil. VHF dan UHF Disebut sistem gelombang sangat pendek, banyak digunakan untuk kepentingan hubungan jarak dekat. SHF dan EHF Disebut dengan sistem gelombang mikro. Di Indonesia dipakai oleh Telkom untuk tererstrial dan satelit PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 3
  4. 4. Sentra l Lokal MD F D P D P Keterangan : MDF = Main Distribution Frame DP = Distribution Point Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro BAB II. PENGENALAN SISTEM SELULER. 2.1 Tinjauan Umum Sistem komunikasi radio adalah suatu proses pertukaran informasi yang menghubungkan TX dan Rx Dimana sebagaian atau seluruhnya melalui udara sebagai media transmisinya. Teknologi akses radio Sangat bervariasi, masing-masing memberika sejumlah layanan dan di optimalkan untuk aplikasi terntentu. Pemilihan teknologi dan jenis layanan tergantung pada kondisi geografis dan kebutuhan pelanggan. 2.1.1. Jaringan Lokal Akses Pelanggan Jaringan lokal adalah jaringan yang menghubungkan antara sentral lokal dgn pesawat pelangggan. Jenis jaringan : 2.1.1.1. Jaringan Lokal akses tembaga. 2.1.1.2. Jaringan Lokal Akses Radio (JARLOKAR/ WIRELESS LOCAL LOOP). 2.2 Teknologi JARLOKAR PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 4 Pelanggan Sentra l lokal Radio Base station anten a
  5. 5. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro Teknologi JARLOKAR mempunyai kompleksitas yg sangat tinggi dan satu sama lain dapat memiliki karakteristik dan kondisi ideal untuk lingkungan yg berbeda. Secara umum JARLOKAR yg di gunakan Oleh PT Telkom di bagi dalam 5 golongan. a. Cordless Digital b. Cellular Digital c. Digital Microwave Point to Point d. Point to Multi Point (PMP) e. Satelit 2.3 DECT ( Digital Enhanced Cordless Telecommunication) Sistem DECT merupakan salah satu jenis sistem telekomunikasi tanpa kabel yg teknologinya berbasis cordless, Sistem ini merupakan teknoligi piko selluler digital yg menyediakan jaringan tetap di daerah dgn Kerapatan tinggi. Sistem DECT menyediakan pelayanan telefoni suara,data dan ISDN. DECT sangat Effektif jika di implementasikan sebagai cordless telepon pada daerah perumahan ataupun sebagai system yg menyediakan pelayanan telepon di suatu pusat kota. DECT memiliki parameter – parameter sebagai berikut : Rentang requensi : 1880 – 1900 MHz Lebar pita frekuensi pembawa : 1,728 MHz Bit rate : 1152 Kbps Jumlah Kanal : 120 Jumlah carrier : 10 Panjang Frame : 10ms Jumlah time slot per frame : 24 Speech coding : 32 Kbps ADPCM Metode akses : TDMA/TDD Tipe Modulasi : GMSK Daya pengiriman : 250mW Struktur Frame DECT Frame DECT terbagi menjadi 12 time slot duplex atau 24 time slot simplex selama 10ms. Ini berarti bahwa Selama 5ms di gunakan untuk hubungan dari base ke portable dan dari portable ke base selama 5ms. Setiap pembicaraan hanya menempati salah satu dari deretan slot-slot waktu tersebut. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 5
  6. 6. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro Dalam 1 time slot terdiri dari 32 bit Sinkronisasi (s-field) dan 388 bit data (D-field) selama 417µs yang terdiri dari : 364.6 jalur transmisi dan 52.1 guard time Atau waktu cadangan utk mencegah Adanya overlapping. Gambar : 2.1. Standard struktur frame DECT Pada D-field terbagi lagi menjadi A-field (64 bit) yang di gunakan untuk kontrol dan pensinyalan Serta B-field (324 bit) untuk data. Serta 4 bit di gunakan untuk deteksi / pengecekan adanya interferensi. Sistem DECT memiliki karaktereristik utama yaitu 1. Dynamic Channel Selection (DCS), yaitu suatu mekasnisme perencanaan frekuensi otomatis, untuk memilih kanal dgn interferensi terkecil dari suatu sel atau sektor bersebelahan saat membutuhkan hubungan. 2. DCA ( Dynamic Channel Allocation), yaitu kemampuan berpindah dari kanal yang diduduki ke kanal lain, apabila kanal yg di duduki tersebut kualitasnya menurun. Dalam hal ini satu BS (base station) melayani satu kawasan yg di sebut sel. Terdapat beberapa sistem yg di terapkan pada sistem JARLOKAR ini, yaitu sistem Single Cell dan Multi Cell. Tiap BS di rancang dapat memnpunyai pelanggan sampai 10.000 user per Km2 ,dimana umumnya satu sel Mempunyai radius sampai mencapai 5 Km dengan daya puncak sebesar 250mW. Salah satu produk WLL adalah DRA 1900 ( DECT Radio Acess) buatan Ericcson. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 6
  7. 7. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro DRA 1900 memiliki beberapa unit : 1. Radio Node Controller (RNC) 2. DECT Access Node (DAN) 3. RLL Sub Network Manager (RSNM) 4. Fixed Access Unit (FAU) Gambar: 2.2 1. RNC berfungsi meneruskan rute panggilan telepon (switching) dari sentral ke DAN dan sebaliknya. RNC mengubah 64 Kbit/s PCM dari LE menjadi 32 Kbit/s ADPCM atau sebaliknya. 2. RLLL Sub Network Manager (RSNM) di gunakan hanya utk pengawasan dan pemeliharaan jarigan juga bertindak sebagai sistem manajemen pada jaringan akses. Secara umum RSNM melakukan Fault Management (Loop Back Test : Speech / Voice), mengatur konfigurasi fault (misalnya menentukan time slot), sebagai Inisialisasi FAU, mengatur sekuriti, dan pengukur performance. 3. DAN (DECT Access Node) merupakan radio base stasiun (RBS) dan sebagai interface antara FAU dan RNC (melalui transmisi 2 Mbit/s) 4. FAU (Fixed Access Unit adalah perangkat terminal pelanggan pada DRA 1900 yg memiliki fungsi sebagai transceiver yang merubah antar muka DAN ke dalam satu hubungan pesawat telephone tetap. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 7
  8. 8. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro 2.4 Alokasi Frekuensi Untuk Sistem Bergerak Definisi : Sistem komunikasi yang digunakan untuk memberikan layanan jasa telekomunikasi bagi pelanggan bergerak. Disebut sistem cellular karena daerah layanannya dibagi-bagi menjadi daerah yang kecil-kecil yang disebut CELL. SIFAT : Pelanggan mampu bergerak secara bebas di dalam area layanan sambil berkomunikasi tanpa terjadi pemutusan hubungan. Alokasi frekuensi yg berarti penyediaan pita frekuensi untuk sistem layanan komunikasi terntentu, Di lakukan oleh ITU dan disosialisasikan sebelum di terapkan dalam satu negara oleh administrator Masing-masing negara anggota ITU tersebut. Di Indonesia adalah Direktorat Jenderal Pos danTelekomunikasi, departermen komunikasi dan informatika. Untuk sistem komunikasi yg bergerak yg termasuk layanan komunikasi bergerak darat (PLMN, Public Land Mobile Network), pita frekuensi yg di sediakan tersebar pada beberapa alokasi pita frekuensi Yg di muat dalam seri buku RR (radio Regulation). Beberapa penggunaan pita tersebut di kutib dan Di tabulasikan pada tabel.1 Persyaratan sistem komunikasi seluler menggunakan konsep sel : PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 8
  9. 9. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro 1. Nilai level daya yg relatif kecil untuk unit MS (telepon genggam), sebab unit ms harus ringan dan ringkas (handy) dan ini tidak mungkin mempunyai daya yg besar guna berkomunikasi dengan base-station –nya. 2. Kemampuan menggunakan dan memanfatkan frekuensi karena harus menampung jumlah pelanggan yang banyak dan dalam bentuk komunikasi full duplex. Dalam hal ini di lakukan penghematan frekuensi Dengan jalan pengulangan penggunaan frekuensi yang sama (cochannel) sedemikian rupa, sehingga dapat menampung sejumlah pelanggan tersebut. 3. Derajat layanan (grade of service, GOS) yang tinggi, yaitu pelanggan tidak boleh lama mengalami waiting list, termasuk tidak terjadi pemutusan sambungan bila MS melampuai / keluar dari daerah layanannya. 2.5 CELL. DEFINISI : Area Cakupan (coverage area) dari Radio Base Station Macam-macam : Omni Cell , Sectored Cell Ukuran : Makrocell (>5km), Microcell (3-<5km),Picocell (<1km) Sel menunjukkan cakupan sinyal, Sel berbentuk heksagonal ( atau bentuk yang lain ) , hanya digunakan untuk mempermudah penggambaran pada layout perencanaan. Konsep Sel Beberapa sel yang membentuk area lebih luas : Secara diagram blok, sistem komunikasi telepon bergerak terdiri dari 3 Bagian besar. 1. Mobil Switching Centre (Mobile telephone exchange = MSC/MTX) 2. Base Station (BS) 3. Mobile Station (MS) PSTN merupakan sistem di luar (external) yg terhubung ke sistem telepon PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 9 SEL IDEAL SEL REAL SEL MODEL
  10. 10. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro Seluler bergerak melalui interface, yaitu satu unit gateway (GMSC=gateway mobile switching center) Gambar 2.3. Covarege Cell Di gambarkan satu MS berada dalam jangkauan dua BS yg berada pada masing2 satu MSC yg mengontol Dua BS tersebut pada satu area layanan tertentu. MSCH = yg berarti “Home”, dan MSCV = “Visited”. Kedua MSC terhubung melalui interface spt di atas, Ke sentral telepon umum/tetap (PSTN) yg memungkinkan satu MS dpt berhubungan dgn pelanggan telepon PSTN. Di rumah-rumah tinggal atau luar negeri yg terbentuk oleh sistem komunikasi satelit. Gambar 2.4. Hubungan PSTN sampai pelanggan. 2.6. Konfigurasi satu sistem komunikasi Telepon bergerak : Komunikasi berlangsung : 1. Satu MS dengan MS lain dalam area layanan MSCV 2. MS dlm area Layanan MSCH aktif dan mengirim sinyal kemua arah dan di terima PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 10
  11. 11. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro oleh BS di sekitarnya. 3. Kemudian dari BS di kirim ke BSC (base station controller) sinyal yg terkuat di pilih BSC. 4. BSC menentukan satu BS tertentu untuk melayani MS berdasarkan data kuat medan tersebut. Konseptnya sambungan telah terbentuk oleh BS terntentu. Gambar.2.5 . Konfigurasi satu sistem komunikasi telepon bergerak (BSS – NSS) 5. Selanjutnya MS melakukan dial nnomor MS di lokasi MSCV. MSCH akan menganalisa nomor yg di panggil - Ada dua kemungkinan Telpon : MS atau Rumah 6. Karena Tujuan adalah MS dlm area MSCV, maka sinyal di teruskan ke MSCV. 7. Melalui Komunikasi awal antara MSCV dgn beberapa BS di sekitar MS yg di tuju melalui BSC-nya - yaitu utk memilih sinyal terkuat MS dari beberapa BS tersebut. Sehingga jalur bebas di berikan untuk sambungan yg di minta MS pada lokasi MSCH SAMBUNGAN BERLANGSUNG. 8. Bila kemudian sambungan telepon yg di kehendaki adalah Telepon rumah, maka sambungan akan di teruskan ke PSTN melalui GMSC. Kesimpulan Sistem Komunikasi Telepon Bergerak • MSC INTI SYS. CELLULAR • MSC di hubungkan dengan PSTN. • Area di bagi-bagi dalam cell kecil (1 – 12 KM) • Komponen dasar cellular: CELL, MSC DAN Unit bergerak(MS). PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 11
  12. 12. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro • MSC Mengendalikan semua aktivitas hubungan lewat BTS. • MS Berhubungan dgn MSC melalui BTS yg terdekat (BAIK SECARA TETAP ATAU BERGERAK). • Pelanggan dapat berpindah dgn bebas dari satu cell ke cell ya lain. • Pada perpindahan harus terjadi proses han over. • PELANGGAN DAPAT DICARI ( ROAMING ) MELALUI KOORDINASI ANTARA MSC – BTS ATAU MSC – MSC. 2.7 Bagian – Bagian Sistem Komunikasi Seluler Bergerak Berdasarkan pada konfigurasi satu siskom seluler bergerak termasuk Sistem GSM. Terdiri dari tiga kelompok subsistem : MS (Mobile Station), BSS (base station subsystem), dan NSS (network Switching subsystem). Sementara di dalam masing2 sbsistem tersebut terdapat lagi unit2 Yg merupakan subsub-sistemnya. Disistem sendiri dapat berhubungan Dengan jaringan lain di luar sistem menggunakan PSTN dan PLMN. PSTN ( Public Switching Telephone Network) ◊ Jaringan telp tetap PLMN (Public Land Mobile Network) ◊ Sistem Komunikasi seluler lain PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 12
  13. 13. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro Jaringan seluler atau PLMN (public land mobile network) terdiri dari sejumlah mobile station (MS) yang dihubungkan dengan jaringan radio ke infrastruktur perangkat switching yang berinterkoneksi dengan sistem lain seperti PSTN A). MS (mobile station) Merupakan unit/pesawat telepon yang bergerak/dibawa yang digunakan oleh pelanggan untuk mendapatkan layanan jaringan. Unit itu dilengkapi dengan transceiver yang dapat bekerja dengan frekuensi tertentu dalam pita yang dialokasikan untuk sistem komunikasi ini. Di dalam MS dilengkapi beberapa identitas yang memungkinkan unit tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan/mengakses jaringan. Beberapa identitas tersebut adalah : 1) IMEI (International Mobile Equipment Identity) Merupakan kode digital yang ditempatkan pada setiap MS secara individual dan permanen (seperti nomor mesin pada kendaraan bermotor) yang berkaitan dengan jaringan siskom seluler bergerak. IMEI satu MS tetap sama walaupun kartu SIM diganti (nomor pelanggan berubah). Tersusun atas 15 digit angka, yang terdiri dari, TAC (type approval code), FAC (final assembly code), SNR (serial number), dan sp (spare for future use). 2). IMSI (International Mobile Subscriber Identity) Merupakan identitas yang menandai pelanggan secara internasional dalam layanan siskom seluler bergerak. IMSI dengan format 15 digit angka dimiliki oleh setiap pelanggan, tetapi tidak diketahui oleh pelanggan bersangkutan. 3). SIM (Subscriber Identity Module) Setiap pelanggan siskom seluler bergerak dapat mengakses jaringan bila telah memasukkan kartu SIM-nya kedalam unit MS yang telah memenuhi spesifikasi (lulus uji tipe). Jadi di dalam unit MS, MS sendiri memiliki IMEI sedangkan pelanggan sebagai pemegang kartu SIM mempunyai IMSI. B). BSS (base station subsystem) Dalam satu wilayah layanan yang dinamakan sel, BSS merupakan sistem pemancar dan penerima yang dilengkapi unit pengatur/pengendali proses handoff. BSS mempunyai dua bagian yang masing-masing berfungsi sebagai berikut. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 13
  14. 14. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro 1). BTS (base transceiver station) Merupakan satu unit atau lebih sistem pemancar dan penerima, yang tergantung dari kebutuhan kepadatan lalu lintas sambungan/traffic. BTS merupakan penghubung antara MS dengan jaringan siskom seluler bergerak, yang dapat mencakup wilayah satu sel. 2). BSC (base station controller) Merupakan sistem yang berfungsi menjaga/mengatur agar proses perpindahan hubungan antar sel (handoff) dapat berjalan dengan baik. Pengaturan tersebut. C). NSS (network switching subsystem) Merupakan sistem penyambungan utama sistem telepon seluler bergerak yang mengatur hubungan komunikasi antar pelanggan maupun antara pelanggan dengan pelanggan jaringan telekomunikasi lainnya. Di dalam NSS terdapat lima fungsi pokok, yaitu : 1). MSC (mobile switching centre) Merupakan satu sistem yang mempunyai fungsi : # Membangun hubungan jaringan antara satu sistem telepon seluler bergerak (STSB) dengan jaringan STSB yang lain atau jaringan telekomunikasi lainnya seperti PSTN. Antarmuka yang memungkinkan hubungan tersebut adalah GMSC (gateway MSC). # Melakukan akses atau pengambilan data HLR dan VLR pelanggan. # Melakukan fungsi pemindahan hubungan antar sel (handoff) maupun antar jaringan operator STSB yang lain (roaming). # Mengatur lalu lintas hubungan/trafik # Melakukan fungsi pentaripan dan pensinyalan. Khusus pensinyalan akan diuraikan tersendiri. 2). HLR (home location register) Merupakan satu sistem yang mempunyai fungsi : # Menyimpan data posisi/lokasi dimana pelanggan tercatat/berdomisili # Meyimpan dua nomor identitas pelanggan, yaitu IMSI (15 digit) dan MSISDN (12 digit). # Memutakhirkan data lokasi MS yang mengembara ke lokasi kawasan layanan MSC yang lain. # Memberikan data pelanggan yang diperlukan VLR. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 14
  15. 15. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro Mengadakan pemetaan nomor panggilan yang datang bagi setiap MS yang bersangkutan. # Memberikan informasi pencarian jalur, ke GMSC untuk panggilan yang diminta (terminating call). 3). VLR (visitor location register) Merupakan satu sistem yang mempunyai fungsi : # Menyimpan data dan informasi pelanggan yang bersifat dinamis yang selalu disesuaikan dengan posisi/lokasi pelanggan yang berpindah ke kawasan layanan MSC lain. # Mengambil data pelanggan dari HLR karena pelanggan tersebut berada di wilayahnya. # Memberikan data yang diperlukan HLR (nomor MSRN, 12 digit) dan MSC, untuk membangun hubungan telepon. # Melakukan layanan tambahan, seperti memindahkan atau meneruskan panggilan ke satu nomor pelanggan tertentu yang lain (call forwarding) apabila pelanggan yang dihubungi tidak standby pada nomor tersebut. 4). AuC (authentication centre) Merupakan satu sistem yang mempunyai fungsi : # Menyimpan semua informasi yang hanya diketahui oleh jaringan untuk memeriksa keabsahan pelanggan. # Mencegah pihak ketiga secara tidak sah menyadap pembicaraan pelanggan. 5). EIR (equipment identity register) Merupakan satu sistem yang digunakan oleh MSC untuk memeriksa keabsahan identitas MS pelanggan dengan cara memeriksa IMEI (International Mobile Equipment Identity) pesawat pelanggan, apakah termasuk pelanggan yang berhak atau tidak Untuk memberikan gambaran hubungan bagian-bagian sistem cellular-phone tersebut di atas, berikut ini diberikan uraian tahapan proses yang terjadi dalam komunikasi, yaitu, diantaranya proses LUP dan proses MOC. Disamping semua bagian sistem mobile telephone tersebut, terdapat satu sistem atau unit kerja satu lagi yang berfungsi memonitor proses yang terjadi di dalam sistem keseluruhan (network). Unit ini yang namanya adalah OMC (operations and maintenance center) bekerja selama 24 jam terus-menerus. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 15
  16. 16. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro Gambar 2.6 Diagram blok dimana OMC berada LUP (location update) LUP terjadi waktu hp di on kan pertama kali atau saat terjadi proses handoff karena sinyal sel yang aktif sudah mulai melemah. Pada proses handoff, hp akan otomatis pindah penangannya oleh sel yang sinyal-nya lebih kuat. Handoff yang baik terjadi secara real-time dan juga tidak memutuskan call yang sedang terjadi seperti akan diuraikan nanti. Proses LUP dijelaskan melalui ilustrasi Gbr-2.8. Gbr-2.8 Tahapan proses penyambungan pada mode Proses-1, hp dihidupkan dan terjadi interaksi dengan BTS terdekat yang kemudian diteruskan ke BSC. Proses-2, BSC akan meneruskan permintaan akses jaringan ke MSC dimana VLR berada. Dilanjutkan dengan proses-3, yaitu, MSC akan memeriksa IMSI dari SIM-card dan mencari IMSI tersebut berada di HLR mana (worldwide database). Proses-4, MSC mengirimkan permintaan ke HLR bersangkutan, yang dilanjutkan dengan proses-5, yaitu HLR menjawab dengan mengirim ke MSC keterangan lengkap mengenai IMSI tersebut (MSISDN, dsb). Pada proses-6, MSC PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 16
  17. 17. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro memberikan konfirmasi ke BSC untuk diteruskan ke hp yang menyatakan bahwa hp bersangkutan dapat memperoleh akses jaringan dengan tanda pada layar hp muncul nama operator (LUP confirmed). Keseluruhan proses dalam keadaan jaringan normal, berlangsung sekitar 10 detik, tetapi kalau dalam keadaan jaringan sangat padat, permintaan akses ini kemungkinan berlangsung dalam order menit. MOC (mobile originating call) Bahasa Indonesianya adalah, panggilan keluar, yang dalam contoh ini adalah panggilan dari hp ke telpon rumah. Dengan bantuan ilustrasi Gbr-11, urutan proses adalah sebagai berikut. Gbr-2.9 Tahapan proses penyambungan pada mode MOC (mobile originating call). Proses-1, MS mengirim sinyal yang isinya adalah called party address (CdpA) atau nomor yang ditelpon, Proses-2, BSC memulai process call setup ke arah MSC, Proses-3, MSC akan akan memeriksa apakah nomor ini dapat menggunakan jaringan yang ada di MSC. Bila nomor pra-bayar, MSC juga akan memeriksa dulu jumlah pulsa tersisa, bila OK, MSC akan cari jalur yang tepat untuk meneruskan panggilan ini ke nomor tujuan, Proses-4, MSC akan mengirim IAM (Initial Address Message) ke nomor tujuan, Proses-5, Nomor tujuan akan mengirim balik ACM (Address Complete Message) dimana pada tahap ini, nomor tujuan sudah berdering, Proses-6, Pada waktu telpon tujuan diangkat, akan terkirim sinyal ANM (Answer Message) ke MSC, dan komunikasipun dapat berlangsung, Mekanisme Handoff PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 17
  18. 18. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro Handoff atau disebut juga dengan handover, adalah satu proses pemindahan penanganan MS diantara dua BS dari satu frekuensi kanal ke frekuensi kanal yang lain. Terdapat dua jenis handoff, yaitu, a). dari satu sel ke sel yang lain, b). di dalam satu area layanan, yaitu antara MSC yang satu ke MSC yang lain. Mengapa proses handoff diterapkan pada sistem sel ini ? Karena area layanan masing-masing sel terbatas hanya pada wilayah selnya saja, maka pada batas sel, kuat medan yang diterima oleh MS maupun sebaliknya menjadi melemah sampai nilai ambang batas, yaitu sekitar -100 dBm. Pada kondisi ini, komunikasi sudah pada tingkat yang jelek dan tidak dapat digunakan, atau dengan kata lain, komunikasi telah terputus. Sementara diperlukan kontinyuitas komunikasi. Dari situasi tersebut, maka diperlukan proses pengalihan (handoff) oleh BS terdekat yang tentunya mempunyai level kuat medan diatas -100 dBm (level syarat handoff), di lokasi MS. Gbr-3.0 Posisi MS dimana proses handoff terjadi. Handoff diperlukan pada dua kondisi dimana BS menerima sinyal yang lemah dari MS, yaitu, (1). MS berada pada batas wilayah sel dengan level penerimaan -100 dBm dengan tingkat noise yang terbatas, (2). bila MS berada pada daerah tertutup (hole) walaupun masih dalam wilayah sel. Untuk lebih mudah menjelaskan mekanisme handoff, diilustrasikan peta sel dalam satu dimensi/garis seperti ditunjukkan pada Gbr-13, walaupun keadaan sesungguhnya adalah dalam konfigurasi dua dimensi yang mencakup satu area PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 18
  19. 19. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro layanan. Pada Gbr-3.1 nampak, bahwa dua sel dengan frekuensi kerja yang sama, F1, dirancang terpisah dengan jarak D. Radius sel R dan jarak D mempunyai ratio q = D/R yang dapat menentukan tingkat interferensi yang terjadi. Ruang diantara dua sel cochannel diisi dengan sel pada frekuensi kanal yang lain seperti F2, F3, dan F4 untuk dapat melayani seluruh area. Frekuensi kanal F2, F3, dan F4 juga diatur dengan pola yang sama. Gbr-3.1 Peta sel -1dimensi utk menjelaskan proses handoff. Melalui Gbr-3.1, proses handoff dapat dijelaskan misalnya saat satu MS mulai melakukan hubungan di dalam area sel C1 dan bergerak menuju sel C2. Sel C1 bekerja dengan frekuensi F1, sementara sel C2 dengan F2. Hubungan yang sedang berlangsung tidak terputus karena pada saat MS bergerak melintasi perbatasan sel, terjadi perubahan kanal frekuensi dari F1 ke F2. Perubahan frekuensi berlangsung secara otomatis oleh sistem tanpa sepengetahuan pelanggan MS, sehingga unit MS tersebut kemudian telah bekerja dengan frekuensi kanal yang baru, F2. Demikian seterusnya, bila MS terus bergerak dari area sel yang satu ke area sel yang lain. Dengan kemampuan mekanisme handoff tersebut, maka sistem komunikasi bergerak dengan pola sel dapat mempunyai area layanan yang relatif luas dan dapat memberikan layanan yang relatif memuaskan. Oleh karena itu, kemampuan handoff merupakan hal yang sangat penting pada sistem komunikasi bergerak yang sukses. Bila proses handoff terjadi karena MS melintasi daerah layanan MSC-nya s, maka dikatakan MS melakukan 'roaming' (pengembaraan). Dilihat dari wilayah roaming, maka proses tersebut dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu national roaming, dan international roaming. Proses roaming yang terjadi secara internasional dapat berlangsung karena dilakukan semacam perjanjian kerja diantara operator PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 19
  20. 20. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro Indonesia dengan operator di luar negeri tersebut. Kalau tidak, sambungan diantara dua MS tersebut tidak dapat berlangsung. Melalui sistem penomoran tertentu (yang diatur secara internasional), kedua telepon seluler tersebut dapat saling berhubungan. Sistem Penomoran Setiap pelanggan telepon seluler bergerak mempunyai nomor tertentu yang tercatat dalam database di semua BS maupun MSC pada sistem seluler bersangkutan. Penomoran tersebut mengikuti satu cara penomoran internasional untuk sistem seluler khususnya dan sistem telefoni pada umumnya. Pengaturan tersebut dapat dikategorikan atas tiga kelompok seperti berikut ini. Satu contoh misalnya kode untuk negara, akan digunakan kode yang sama pada sistem penomoran telepon internasional yang ditempatkan pada digit-digit pertama. Misalnya kode untuk Indonesia adalah angka 62. 2.8. MSISDN (Mobile Station International Subscriber Directory Number) MSISDN merupakan nomor yang diberikan untuk setiap pelanggan telepon seluler bergerak dan tercatat dalam buku panduan nomor telepon. Nomor ini dapat digunakan oleh pelanggan PSTN maupun PLMN (public land mobile network) untuk menghubunginya. Pada MSISDN ini diantaranya memuat alamat HLR (home location register) tujuan yang menunjukkan lokasi MSC dimana pelanggan tersebut terdaftar. Panjang maksimum penomoran ini adalah 12 dijit, yang mempunyai struktur selengkapnya seperti ditunjukkan oleh Gbr-14. Digit CC mengikuti rekomendasi ITU-T E.164. Gbr-3.2 Format 12 digit MSISDN Satu contoh penomoran yang mengikuti struktur MSISDN di Indonesia ditunjukkan dalam Tabel-2 berikut : PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 20
  21. 21. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro (1). CC (Country Code) Merupakan kode negara dimana pelanggan seluler tersebut tercatat atau bertempat tinggal. Untuk Indonesia adalah 62. (2). NMN (National Mobile Number) Merupakan nomor pelanggan telepon bergerak secara nasional yang terdiri dari dua bagian, yaitu, a. NDC (National Destination Code) Merupakan kode tujuan secara nasional yang digunakan untuk membedakan satu jaringan seluler bergerak dengan jaringan seluler bergerak yang lain. NDC untuk jaringan seluler bergerak GSM di Indonesia diantaranya adalah 811, diperuntukkan bagi sistem GSM Telkomsel. b. SN (Subscriber number) Merupakan sederetan angka yang mengidentifikasi pelanggan seluler bergerak dalam satu jaringan tertentu yang terdiri dari, - HLR-ID (Home Location Register Identity) Merupakan identitas pelanggan seluler bergerak tertentu yang menunjukkan lokasi pelanggan tersebut tercatat. Misalnya angka 70, adalah untuk jaringan GSM Telkomsel di Batam. - Subscriber Number Merupakan nomor tersendiri yang dimiliki tiap-tiap pelanggan telepon seluler bergerak. MSRN (Mobile Station Roaming Number) Adalah sistem penomoran sementara yang diberikan kepada pelanggan seluler bergerak untuk mengalihkan jalur panggilan kepada pelanggan tersebut ketika ia sedang mengembara (roaming) meninggalkan wilayah jangkauan jaringan induknya (home PLMN). PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 21
  22. 22. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro Karena MSRN merupakan nomor yang digunakan untuk re-routing satu panggilan, maka strukturnya tidak berbeda dengan struktur MSISDN. Dengan demikian satu MS yang akan menghubunginya, cukup men-dial MSISDN-nya saja. Bila MS yang dipanggil ternyata sedang 'roaming', maka MSC secara otomatis menset '0' pada digit Roaming-ID nomor pelanggan. Struktur nomor pelanggan dalam bentuk MSRN ditunjukkan pada Tabel-3. Pada Tabel-3 nampak, bahwa NMSI (National Mobile Subscriber Identity) berbeda dengan NMN pada struktur MSISDN hanya pada digit roaming-ID, sehingga jum lah digit pada struktur MSRN berjumlah 12. Pada posisi roaming, digit roaming-ID tersebut di-set pada digit '0'. IMSI (International Mobile Subscriber Identity) Merupakan nomor identifikasi pelanggan telepon seluler bergerak secara international dalam wilayah layanan jaringan. IMSI dimiliki oleh setiap pelanggan yang tercatat oleh sistem jaringan, akan tetapi pelanggan tidak perlu mengetahuinya. Nomor ini digunakan sebagai perlindungan konsumen terhadap penggunaan yang bukan pemiliknya. Panjang maksimum penomoran IMSI adalah 15 dijit seperti ditunjukkan pada Gbr-A, dan tersimpan di SIM card. Tabel-4 menunjukkan struktur IMSI di Indonesia. Gbr-A Format 15 digit IMSI PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 22
  23. 23. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro MCC (Mobile Country Code), Merupakan kode negara dimana pelanggan seluler tersebut tercatat atau bertempat tinggal. Di Indonesia untuk jaringan GSM, MCC adalah 510 (ITU-T Recommendation E.212). NMSI (National Mobile Subscriber Identity) Merupakan nomor pelanggan telepon bergerak secara nasional yang terdiri dari dua bagian, yaitu, a. MNC (Mobile Network Code) Merupakan kode identifikasi jaringan GSM dimana pelanggan berada. Bila terdapat lebih dari satu operator dalam satu negara, maka setiap operator tersebut mempunyai MNC tersendiri yang terdiri dari dua dijit. MNC untuk jaringan GSM Telkomsel adalah 10. b. MSIN (Mobile Subscriber Identity Number) Merupakan nomor urut berlangganan pada HLR (home location register), yaitu yang terdaftar pada MSC dimana pelanggan tersebut bertempat tinggal. MSIN digunakan untuk mengidentifikasi pelanggan tersebut, yang terdiri dari, - HLR-ID (Home Location Register Identity) Merupakan identitas pelanggan seluler bergerak tertentu yang menunjukkan lokasi pelanggan tersebut tercatat. Misalnya angka 70, adalah untuk jaringan GSM Telkomsel di Batam. Sementara untuk operator Indosat, 91, adalah jaringan GSM di wilayah Jakarta. Dan 99 adalah untuk jaringan Indosat untuk sistem CDMA (MNC 03) untuk wilayah Jakarta juga. - Subscriber Number PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 23
  24. 24. Bab.1 Pendahuluan Fakultas Teknik Elektro Merupakan nomor tersendiri yang dimiliki tiap-tiap pelanggan telepon seluler bergerak. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Agung Yoke B, ST PERENCANAAN SISTEM TERSENTERIAL 24

×