Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

7

159 views

Published on

  • Login to see the comments

  • Be the first to like this

7

  1. 1. Dongkrak Nilai Jual Singkongdengan Teknologi Pengolahan Gula CairSelain sebagai bahan pangan, setidaknya singkong mempunyai nilai tambah lain, yaitu diolah menjaditepung gula dan gula cair. Teknologi pengolahannya pun sudah tersedia, demikian dinyatakan Nur Richana,peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen). Lebihlanjut dinyatakan bahwa teknologi tersebut dapat memberikan peluang usaha untuk meningkatkan nilai jualsingkong. Banyak industri makanan seperti permen, kembang gula, minuman, biskuit, dan ice creammemanfaatkan gula cair ini, karena rasanya lebih manis dari gula tebu.Mudah tumbuhnya singkong (ubi kayu) merupakan anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa bagi buminusantara. Melalui batangnya (stek) yang ditancapkan ke dalam tanah, dalam kurun waktu sembilan bulan,dapat dihasilkan umbi sebagai penghasil pangan. Kendati demikian, masih banyak anggapan bahwa bilamenanam bahkan mengkonsumsi singkong identik dengan kemelaratan, nelangsa dan kekuranganpangan. Pandangan ini yang perlu diluruskan. Apalagi pada saat kekeringan di musim kemarau, singkongmasih dapat tumbuh dengan baik walaupun dengan sedikit air. Lain halnya dengan tanaman padi yangtergantung pada ketersediaan air.Karena pandangan yang kurang tepat itulah, banyak petani di berbagai daerah kurang tertarikmembudidayakan singkong sebagai komoditas unggulan. Di samping itu nilai jual singkong yang relatifrendah dibandingkan dengan komoditas lain turut berperan dalam keengganan petani menanam singkong.Memang banyak wilayah lain yang membudidayakan singkong, tetapi bukan merupakan komoditas utama.Lampung sebagai daerah penghasil singkong terbesar, masih banyak dijumpai belum secara intensif dalammembudidayakannya. Hasil yang dicapai oleh petani tersebut rata-rata masih 11-17 ton/ha. Padahal dalamskala penelitian, budidaya singkong bila dilakukan secara intensif dengan memberikan pupuk kandang danpupuk an-organik dengan sistem tanam double row dapat mencapai hasil 50 – 60 ton/ha.Untuk mendongkrak nilai jual singkong pada saat panen raya, serta meningkatkan prestise komoditastersebut, teknologi pengolahan singkong menjadi gula cair dalam skala pedesaan telah tersedia. Teknologiini bahkan dapat dioperasikan oleh kelompok tani dengan mudah. Bahan baku untuk pengolahan gula cairtersebut berasal dari tepung tapioka kering, bahkan dapat diolah dari pati yang basah sekalipun, setelahmelalui proses enzimatis. Bioreaktor sederhana skala 100 liter mampu mengkonversi 40 kg pati basah(kadar air 40%) menjadi 21-25 kg gula cair dalam 3 hari proses. Semakin besar kapasitas peralatan,semakin ekonomis biaya produksinya.Paling tidak bila usaha pengolahan gula cair dari singkong ini dapat beroperasi dan berkembang di sentra-sentra penghasil singkong, dapat mengurangi impor gula cair. Harapan yang lebih luas lagi dapat memasokindustri makanan dan minuman. Yang menjadi catatan, petani tebu tak perlu khawatir tergeser, karena gulapasir mempunyai segmen tersendiri, bahkan tidak dapat tergantikan dengan gula cair bila untuk minum tehdan kopi panas.

×