Environmental Disaster Assessment and Mitigation (EDAM) Farhan Helmy
Outline Presentasi <ul><li>Memahami Penanganan Bencana di KLH </li></ul><ul><li>Isu Lingkungan Pasca Bencana </li></ul><ul...
Kerangka Pengembangan DSS untuk Pengelolaan Lingkungan KLH <ul><li>KELUARAN </li></ul><ul><li>Status Lingkungan Hidup Indo...
Kegiatan UNEP dalam Pemulihan Lingkungan yang terkait dengan EIMS <ul><li>Other Environmental Recovery  Projects </li></ul...
Respon KLH dalam Penanganan Bencana <ul><li>Pengembangan Basis Data Skala Rinci (1:1.000,1:5.000, 1:25.000) </li></ul><ul>...
Tahapan dalam Merespon Bencana melalui REA2 <ul><li>Melaksanakan  Rapid Environmental Assessment (REA)   untuk menghitung ...
Fokus Kegiatan dan Lokasi <ul><li>Disaster Management </li></ul><ul><li>NAD dan Nias (Area 1) </li></ul><ul><li>DI Yogjaka...
Status Kegiatan Assessment setelah Aceh Rekomendasi dan Rencana aksi sudah disampaikan oleh MenLH (31 Juli 2006) kepada: (...
Proof of Concept <ul><li>Kerjasama tim,komunikasi dan pertimbangan yang komprehensif terhadap semua nilai sumberdaya yang ...
Hasil yang dicapai (s/d 19/08/2005) <ul><li>14 staf terlatih dalam GIS dan remote sensing (Arc View, Image Analyst, Spatia...
Hasil yang dicapai (s/d 16/09/2005) <ul><li>Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 4 studi kasus (Banda A...
 
Peta Gempa Jawa 1600-1921 (Dr. Visser, 1922) Gempa Jogyakarta Gempa Muria
Sejarah Gempa Jawa 1840 – 2000 (Dimodifikasi dari Newcomb and McCann, 1987 )
Sejarah Gempa Jawa 1840 – 2000 (Dimodifikasi dari Newcomb and McCann, 1987 )
JOGYAKARTA EARTHQUAKE: DEATHS > 500 NO TSUNAMI  Seaquake MMI>VIII
MMI V - VIII Deep subduction interface earthquake?
M ~ 8.0, not a subduction earthquake (Newcomb and McCann) NO TSUNAMI
M 7.5, SEA WARD FROM THE TRENCH,  WITH TSUNAMI INTRAPLATE EARTHQUAKE, NOT A SUBDUCTION EARTHQUAKE
Status: Database 1:25.000
Seismitas Jawa: 1973 - …
Cumulative strain energy release CSER entire region, all data CSER=∑E i M3 or Mmax Waiting Time TW
CSER model Yogya zone: (a) without, (b) with Bantul earthquake (2 °  cell) (a) (b) M3 = 6.59 M3 = 6.62 Entered strain ener...
Seismic hazard mapping - magnitude  50-year with one-in-ten chance of being exceeded (using Gumbel III)  (a) without epice...
Seismic hazard mapping - peak ground acceleration 50-year with one-in-ten chance of being exceeded (using Gumbel I) (a) be...
Medan pergeseran Horisontal adapted from Wright & Pathier (pers comms) h orizontal displacement field - note small black a...
 
Potensi Dampak Merapi
3 Dimensi  Potensi Aliran Lava Perkiraan Volume Aliran Lava 150.000 – 2.000.000 m3 (BPPTK)
Isu Prioritas Pasca Gempa <ul><li>Baseline Informasi Lingkungan </li></ul><ul><ul><li>peta/citra satelit resolusi tinggi (...
Proposal Pasca REA2 <ul><li>Damage and Loss Assessment: </li></ul><ul><ul><li>Bagian dari kelompok cross sectoral Bappenas...
Pengalaman Pangandaran 5
Keluaran <ul><li>1. PENDAHULUAN   </li></ul><ul><li>2. TEMUAN LAPANGAN DAN HASIL KAJIAN LINGKUNGAN PASCA BENCANA   </li></...
Fokus Kajian <ul><li>Areal Rendaman (inundation mapping) </li></ul><ul><ul><li>Tinggi dan Rendaman  </li></ul></ul><ul><ul...
 
Areal Survey Pangandaran dan Sekitarnya Areal yang terkena Tsunami Bagian Timur Bagian Barat
Survey Rendaman Pangandaran dan Sekitarnya  <ul><li>Temuan Lapangan: </li></ul><ul><ul><li>Watermark yang ditemukan dikawa...
Survey GPS dan Pengukuran Titik Tinggi <ul><li>Pengukuran yang sudah dilakukan: </li></ul><ul><ul><li>Wilayah Timur dari P...
Vegetasi dan Struktur Bangunan
Analisis Struktur Bangunan  (Puslitbangkim PU ) <ul><li>Bangunan gedung dan rumah tinggal yang rusak, umumnya disebabkan k...
Pengamatan Lapangan Ekosistem Pesisir <ul><li>Daerah yang  tidak terpengaruh atau yang rendah pengaruhnya dari gelombang p...
Penataan Ruang Wilayah <ul><li>Dalam RTRW revisi ini diusulkan alokasi sebesar 143.764,09 km2 untuk kawasan lindung dari s...
 
 
 
 
Hasil yang dicapai (s/d 19/08/2005) <ul><li>14 staf terlatih dalam GIS dan remote sensing (Arc View, Image Analyst, Spatia...
Hasil yang dicapai (s/d 16/09/2005) <ul><li>Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 4 studi kasus (Banda A...
Publication (26/12/2005)
Web based information network
Terimakasih Informasi Lebih Jauh [email_address] [email_address]
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Environmental Disaster Assessment And Mitigation 040906

2,571 views

Published on

Published in: Technology
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,571
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
21
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • Environmental Disaster Assessment And Mitigation 040906

    1. 1. Environmental Disaster Assessment and Mitigation (EDAM) Farhan Helmy
    2. 2. Outline Presentasi <ul><li>Memahami Penanganan Bencana di KLH </li></ul><ul><li>Isu Lingkungan Pasca Bencana </li></ul><ul><li>Pengalaman Aceh </li></ul><ul><li>Pengalaman DI Yogjakarta dan Merapi </li></ul><ul><li>Pengalaman Pangandaran </li></ul><ul><li>Diskusi </li></ul>
    3. 3. Kerangka Pengembangan DSS untuk Pengelolaan Lingkungan KLH <ul><li>KELUARAN </li></ul><ul><li>Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) </li></ul><ul><li>Rapid Environmental Assessment and Action </li></ul><ul><li>(REA2) </li></ul><ul><li>Damage and Risk Assessment </li></ul><ul><li>Monitoring dan Evaluasi </li></ul>Sistem Pendukung Keputusan Decision Support Systems (DSS) INSTITUTIONALISASI SDM Teknik DSS Dialog Kebijakan JEJARING Komunitas DSS Infrastruktur ICT BASIS DATA Spatial non-spasial Referensi Metadata TOOLS GIS dan RS Analisis Statistik Modeling Open based Systems POLICY EXERCISE Model Studi Kasus
    4. 4. Kegiatan UNEP dalam Pemulihan Lingkungan yang terkait dengan EIMS <ul><li>Other Environmental Recovery Projects </li></ul><ul><li>Coastal Revegetation </li></ul><ul><li>Eco-friendly Settlements </li></ul><ul><li>Pharmaceutical Waste Management Project </li></ul><ul><li>Environmentally Sustainable Technology and Construction Practices </li></ul><ul><li>Env. Emergency Response - Surabaya </li></ul>Capacity Building in Spatial Planning Environmental Disaster Assessment and Mitigation Environment Impact Assessment (EIA) Tracking Database Environment Monitoring Environment Coordination and Project Supervision EnvironmentInformation for Risk assessment and Early Warning: Case Study Environ. Mgmt on Disaster Risk Reduction
    5. 5. Respon KLH dalam Penanganan Bencana <ul><li>Pengembangan Basis Data Skala Rinci (1:1.000,1:5.000, 1:25.000) </li></ul><ul><ul><li>Pengadaan citra satelit resolusi tinggi menggunakan (Quick Bird, SPOT, Aster)) </li></ul></ul><ul><ul><li>Pemetaan skala rinci untuk relokasi ruang guna meletakan kegiatan pembangunan yang ramah lingkungan dan ramah bencana </li></ul></ul><ul><ul><li>Pemetaan kualitas lingkungan (air, tanah, puing-puing, dan pengelolaan limbah dikawasan pengungsi, perubahan tutupan lahan/tata gunan tanah) </li></ul></ul><ul><li>Damage and Risk Assessment </li></ul><ul><ul><li>Investigasi lapangan dan pemetaan untuk areal yang terkena dampak (kontaminasi) </li></ul></ul><ul><ul><li>Potensi dan prediksi dampak </li></ul></ul><ul><ul><li>Penempatan lokasi yang “aman” </li></ul></ul><ul><ul><li>Integrasi aspek bencana dan resiko dalam pemulihan/penataan kawasan pasca bencana </li></ul></ul><ul><ul><li>Inventarisasi informasi konstruksi bangunan tahan gempa </li></ul></ul><ul><li>Peningkatan kapasitas PPLH Regional dan Bapedalda Propinsi/Kabupaten di lokasi bencana </li></ul><ul><ul><li>Pemantauan dan pemetaan kualitas lingkungan </li></ul></ul><ul><ul><li>Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (GIS, remote sensing, jaringan informasi </li></ul></ul><ul><li>Intervensi Kegiatan Pasca Pasca Bencana </li></ul><ul><ul><li>Penanganan limbah pasca bencana (medis, reruntuhan, puing2, dll). </li></ul></ul><ul><ul><li>Revisi tataruang dengan mempertimbangan aspek bencana dan lingkungan yang berubah </li></ul></ul><ul><ul><li>Revitalisasi AMDAL khususnya pada proyek rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh </li></ul></ul><ul><ul><li>Demoplot untuk pemulihan lingkungan (eco-village, rehabilitasi kawasan pesisir) </li></ul></ul><ul><ul><li>Pengembangan Environmental Disaster Assessment and Mitigation (EDAM) Center khususnya NAD, Regional Sumatra, Jawa) </li></ul></ul>
    6. 6. Tahapan dalam Merespon Bencana melalui REA2 <ul><li>Melaksanakan Rapid Environmental Assessment (REA) untuk menghitung kerusakan dan dampak lingkungan. Metodologi ini dikembangkan oleh UNEP dan telah diterapkan di berbagai Negara yang terkena bencana (Irak, Pakistan, Bangladesh) dan pertama kali diterapkan untuk NAD dan Nias pasca Tsunami (2005). REA dikembangkan oleh KLH menjadi REA2 ( Rapid Environmental Assessment and Actions ) dengan menambahkan aspek bantuan petunjuk teknis di lapangan. REA2 telah diterapkan untuk beberapa areal yang terkena dampak akibat gempa bumi dan Tsunami (Yogjakarta dan Merapi), dan kawasan Pantai Selatan Jawa. Waktu :1-2 minggu, Policy Target : Bappenas, Bakornas PB, Lembaga Donor dan Lembaga sektor terkait di pusat dan daerah. </li></ul><ul><li>Melakukan Expert Briefing dengan mengundang pakar dari dalam dan luar negeri dalam bidang Geodesi, Geologi, Geodinamika, Bangunan, maupun sosial ekonomi untuk memahami dan melengkapi pemahaman ilmiah secara obyektif. </li></ul><ul><li>Melakukan kajian komprehensif ( Comprehensive Environmental Assessment ) , kajian dilakukan untuk menindaklanjuti hasil dari REA2 untuk pemulihan lingkungan pasca bencana. Waktu yang dibutuhkan (1-2 bulan). </li></ul><ul><li>Intervensi Kegiatan/Program Pemulihan Lingkungan Pasca Bencana </li></ul>
    7. 7. Fokus Kegiatan dan Lokasi <ul><li>Disaster Management </li></ul><ul><li>NAD dan Nias (Area 1) </li></ul><ul><li>DI Yogjakarta (Area 2) </li></ul><ul><li>Pangandaran dan sekitarnya (Area 3 ) </li></ul><ul><li>Disaster Preparedness </li></ul><ul><li>Kawasan Merapi (Area 2) </li></ul><ul><li>Sukabumi dan Selat Sunda (Area 4) </li></ul>Area1 Area 4 Area 2 Area 3
    8. 8. Status Kegiatan Assessment setelah Aceh Rekomendasi dan Rencana aksi sudah disampaikan oleh MenLH (31 Juli 2006) kepada: (1). Bappenas (2). Bakornas PB (3). Lembaga Sektoral T <ul><li>Survey Area 2: ( Disaster Risk Reduction dan Disaster Preparedness ) </li></ul><ul><li>Pengadaan Basis Data Digital GIS Skala 1:25.000 dan 1:1.000 di beberapa kawasan yang terkena Tsunami (Pangandaran dan Cilacap) </li></ul><ul><li>Survey GPS untuk pemetaan rendaman tsunami ( inundation mapping ) Investigasi lapangan (survey GPS) dan analisis Vegetasi pasca bencana </li></ul><ul><li>Penaksiran dampak lingkungan dan kerugian ( damage and loss assessment ) </li></ul><ul><li>Penyusunan Rekomendasi dan Rencana Aksi dan Rekomendasi </li></ul>September - Oktober 2006 <ul><li>Survey Area 3: ( Disaster Preparedness ) </li></ul><ul><li>Pengadaan Basis Data Digital GIS Skala 1:25.000 </li></ul><ul><li>Pengolahan Citra Satelit resolusi tinggi di beberapa kawasan (rentan terhadap bencana dan kawasan Industri di Propinsi Banten ( (1:3.000) </li></ul><ul><li>Investigasi lapangan (survey GPS) dan </li></ul><ul><li>Penaksiran dampak bencana </li></ul><ul><li>Penyusunan Rekomendasi dan Rencana Aksi dan Rekomendasi </li></ul>Penataan ruang, pengelolaan limbah, pemulihan lingkungan, dll. Kajian resiko dan dampak bencana secara rinci: debris, limbah B3, pemetaandan pemantauan kualitas lingkungan (udara, air, tanah), penempatan lokasi “aman” <ul><li>Survey Area 1: ( Disaster Risk Reduction dan Disaster Preparedness ) </li></ul><ul><li>Pengadaan Basis Data Digital GIS Skala 1:25.000 </li></ul><ul><li>Pengolahan Citra Satelit resolusi tinggi Klaten dan Bantul (1:3.000) </li></ul><ul><li>Investigasi lapangan (survey GPS) dan </li></ul><ul><li>Penaksiran dampak lingkungan dan kerugian ( damage and loss assessment ) </li></ul><ul><li>Penyusunan Rekomendasi dan Rencana Aksi </li></ul>Fokus Kegiatan ? Post Assessment September - Oktober 2006 Comprehensive Environmental Assessment Rekomendasi dan Rencana aksi sudah disampaikan oleh MenLH (9 Juni 2006) kepada: (1). Bappenas/CGI Meeting (2). Bakornas PB Rapid Environmental Assessment (REA) Status dan Jadwal Tahapan
    9. 9. Proof of Concept <ul><li>Kerjasama tim,komunikasi dan pertimbangan yang komprehensif terhadap semua nilai sumberdaya yang dimiliki. </li></ul><ul><li>Konsultasi sebelum aksi dan shared decision making </li></ul>Alokasi Ruang Optimum Pemodelan Spasial
    10. 10. Hasil yang dicapai (s/d 19/08/2005) <ul><li>14 staf terlatih dalam GIS dan remote sensing (Arc View, Image Analyst, Spatial Analyst) </li></ul><ul><li>Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 6 kabupaten/kota (Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh, Sabang, Sigli and Nias) </li></ul><ul><li>Analisis spasial untuk pengelolaan wilayah pesisir (Meulaboh), kajian dampak lingkungan (road reconstruction), ecocity (Lhok Nga), perencanaan tata ruang (Nias/Sabang) </li></ul><ul><li>Dukungan hardware (komputer, GPS, kamera digital, printer berwarna) </li></ul>
    11. 11. Hasil yang dicapai (s/d 16/09/2005) <ul><li>Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 4 studi kasus (Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh) </li></ul><ul><li>Analisis spasial untuk pengelolaan wilayah pesisir (Meulaboh), kajian dampak lingkungan ( road reconstruction ), ecocity (Lhok Nga), perencanaan tata ruang (Sabang) </li></ul><ul><li>Kajian awal untuk pengembangan kapasitas analisis spasial pengelolaan lingkungan pasca Tsunami dan jaringan informasi (ERP-net) </li></ul>
    12. 13. Peta Gempa Jawa 1600-1921 (Dr. Visser, 1922) Gempa Jogyakarta Gempa Muria
    13. 14. Sejarah Gempa Jawa 1840 – 2000 (Dimodifikasi dari Newcomb and McCann, 1987 )
    14. 15. Sejarah Gempa Jawa 1840 – 2000 (Dimodifikasi dari Newcomb and McCann, 1987 )
    15. 16. JOGYAKARTA EARTHQUAKE: DEATHS > 500 NO TSUNAMI Seaquake MMI>VIII
    16. 17. MMI V - VIII Deep subduction interface earthquake?
    17. 18. M ~ 8.0, not a subduction earthquake (Newcomb and McCann) NO TSUNAMI
    18. 19. M 7.5, SEA WARD FROM THE TRENCH, WITH TSUNAMI INTRAPLATE EARTHQUAKE, NOT A SUBDUCTION EARTHQUAKE
    19. 20. Status: Database 1:25.000
    20. 21. Seismitas Jawa: 1973 - …
    21. 22. Cumulative strain energy release CSER entire region, all data CSER=∑E i M3 or Mmax Waiting Time TW
    22. 23. CSER model Yogya zone: (a) without, (b) with Bantul earthquake (2 ° cell) (a) (b) M3 = 6.59 M3 = 6.62 Entered strain energy accumulation period?
    23. 24. Seismic hazard mapping - magnitude 50-year with one-in-ten chance of being exceeded (using Gumbel III) (a) without epicentres, (b) with epicentres (a) Yogya cell: M = 6.6 STRATEGY: Statistic used is extreme values, Gumbel III: P(M)=exp[-{( ω -M)/( ω -u)} 1/ λ … see Conf Procs Fitted to 2 ° cells Moving by 0.5 ° to form matrix for all Java 50-year magnitude with 90%pnbe forecast, = one in ten chance exceeded in 50-years
    24. 25. Seismic hazard mapping - peak ground acceleration 50-year with one-in-ten chance of being exceeded (using Gumbel I) (a) before and (b) after the Bantul earthquake (a) (b) pga increase 100-199 to 200-300+ cm s -2
    25. 26. Medan pergeseran Horisontal adapted from Wright & Pathier (pers comms) h orizontal displacement field - note small black arrows (ESA’s satellite ENVISAT data analysis by COMET: horizontal displacement field)
    26. 28. Potensi Dampak Merapi
    27. 29. 3 Dimensi Potensi Aliran Lava Perkiraan Volume Aliran Lava 150.000 – 2.000.000 m3 (BPPTK)
    28. 30. Isu Prioritas Pasca Gempa <ul><li>Baseline Informasi Lingkungan </li></ul><ul><ul><li>peta/citra satelit resolusi tinggi (1:5.000) </li></ul></ul><ul><ul><li>kualitas lingkungan (air, tanah, udara,limbah) </li></ul></ul><ul><li>Dampak Lingkungan </li></ul><ul><ul><li>pengelolaan limbah (domestik, bencana,..) </li></ul></ul><ul><ul><li>pemulihan lingkungan dan relokasi kawasan “aman” </li></ul></ul><ul><li>Material Rekonstruksi </li></ul><ul><ul><li>kayu dan material konstruksi (daur ulang?) </li></ul></ul><ul><ul><li>“ building code” </li></ul></ul><ul><li>Governance Pasca Bencana [makro vs. mikro] </li></ul><ul><ul><li>penataan kawasan (kabupaten/kota, desa) </li></ul></ul><ul><ul><li>penguatan kelembagaan pengelolaan lingkungan (Pusreg, Bapedalda) </li></ul></ul><ul><li>Rekayasa Ruang </li></ul><ul><ul><li>demoplot “eco-design/development” </li></ul></ul>
    29. 31. Proposal Pasca REA2 <ul><li>Damage and Loss Assessment: </li></ul><ul><ul><li>Bagian dari kelompok cross sectoral Bappenas </li></ul></ul><ul><li>Comprehensive Environmental Assessment </li></ul><ul><ul><li>Pemetaan sesar permukaan ( surface fault ) skala rinci </li></ul></ul><ul><ul><li>Pemetaan kualitas lingkungan (udara, air, tanah, limbah) </li></ul></ul><ul><li>Post Assessment </li></ul><ul><ul><li>Penataan ruang </li></ul></ul><ul><ul><li>Pengelolaan limbah </li></ul></ul><ul><ul><li>Demoplot “eco-design” </li></ul></ul><ul><ul><li>Penguatan kelembagaan Bapedalda Regional: basis data, pemantauan, assessment </li></ul></ul>
    30. 32. Pengalaman Pangandaran 5
    31. 33. Keluaran <ul><li>1. PENDAHULUAN </li></ul><ul><li>2. TEMUAN LAPANGAN DAN HASIL KAJIAN LINGKUNGAN PASCA BENCANA </li></ul><ul><li>2.1 Gambaran Situasi Umum dan Respon berbagai Lembaga </li></ul><ul><li>2.1.1 Korban dan Kerusakan Fisik </li></ul><ul><li>2.1.2 Respon Lembaga </li></ul><ul><li>2.2 Survey Areal Rendaman Tsunami ( inundation mapping ) </li></ul><ul><li>2.2.1 Tinggi dan Rendaman Tsunami </li></ul><ul><li>2.2.2 Vegetasi di Kawasan Rendaman </li></ul><ul><li>2.2.3 Struktur Bangunan </li></ul><ul><li>2.2.4 Deliniasi Batas Area Rendaman </li></ul><ul><li>2.3 Kondisi Ekositem Pesisir Pasca Tsunami </li></ul><ul><li>2.3.1 Kabupaten Ciamis </li></ul><ul><li>2.3.2 Kabupaten Tasikmalaya </li></ul><ul><li>2.3.3 Kabupaten Garut </li></ul><ul><li>2.3.4 Kesimpulan Umum Kondisi Ekosistem </li></ul><ul><li>2.4 Kondisi Pengungsi dan Sanitasi Lingkungan </li></ul><ul><li>2.5 Pemetaan Kualitas Lingkungan dan Pengelolaan Limbah </li></ul><ul><li>2.5.1 Kualits Air Sumur </li></ul><ul><li>2.5.2 Kualitas Air Sungai </li></ul><ul><li>2.6 Rencana Tata Ruang Wilayah </li></ul><ul><li>2.7 Kapasitas Kelembagaan Pengelolaan Lingkungan </li></ul><ul><li>3. ISU PASCA BENCANA </li></ul><ul><li>4. REKOMENDASI DAN USULAN RENCANA AKSI </li></ul><ul><li>4.1 Pemulihan Lingkungan dan Penataan Kawasan Pasca Bencana </li></ul><ul><li>4.2 Tindak Lanjut Kajian </li></ul><ul><li>LAMPIRAN </li></ul><ul><li>LAMPIRAN 1: TIM YANG TERLIBAT </li></ul><ul><li>LAMPIRAN 2: DAFTAR ORANG YANG DIWAWANCARA </li></ul><ul><li>LAMPIRAN 3: DATA DAN HASIL PENGAMATAN KUALITAS AIR </li></ul><ul><li>LAMPIRAN 4: DATA PENGAMATAN PASANG SURUT </li></ul>
    32. 34. Fokus Kajian <ul><li>Areal Rendaman (inundation mapping) </li></ul><ul><ul><li>Tinggi dan Rendaman </li></ul></ul><ul><ul><li>Vegetasi </li></ul></ul><ul><ul><li>Struktur Bangunan </li></ul></ul><ul><ul><li>Deliniasi Batas Areal Rendaman </li></ul></ul><ul><li>Survey Ekosistem Pesisir </li></ul><ul><li>Pengungsi dan Sanitasi Lingkungan </li></ul><ul><li>Pemetaan Kualitas Lingkungan dan Pengelolaan Limbah </li></ul><ul><li>Rencana Tata Ruang Wilayah </li></ul><ul><li>Kapasitas Kelembagaan Pengelolaan Lingkungan </li></ul>
    33. 36. Areal Survey Pangandaran dan Sekitarnya Areal yang terkena Tsunami Bagian Timur Bagian Barat
    34. 37. Survey Rendaman Pangandaran dan Sekitarnya <ul><li>Temuan Lapangan: </li></ul><ul><ul><li>Watermark yang ditemukan dikawasan pantai Pangandaran : 70 cm – 1.3 m dari permukaan tanah, 20 cm – 8.80 m ditempat lainnya. </li></ul></ul><ul><ul><li>Rendaman tsunami yang antara 200-500 meter dari garis pantai. </li></ul></ul><ul><ul><li>Di kawasan survei, limpasan tsunami melewati perkebunan kelapa dan terhenti di areal persawahan yang ada dibelakangnya. </li></ul></ul><ul><ul><li>Areal persawahan dan tambak masih terendam air laut dan sampah </li></ul></ul><ul><ul><li>Ketetebalan sedimen di bibir pantai Bulak Laut 17 cm </li></ul></ul>Watermark Permukaan awal Pengukuran
    35. 38. Survey GPS dan Pengukuran Titik Tinggi <ul><li>Pengukuran yang sudah dilakukan: </li></ul><ul><ul><li>Wilayah Timur dari Pantai Pangandaran </li></ul></ul><ul><ul><li>Pengikatan titik kontrol GPS (GPS Control Points) ke Jaringan Geodetik ITB. </li></ul></ul><ul><ul><li>Pengukuran real time kinematik GPS batas rendaman air </li></ul></ul><ul><ul><li>Pengukuran point spot height dengan metode stop and go dengan analisis pengolahan data post processing </li></ul></ul><ul><ul><li>Tracking GPS untuk pemetaan jalan sepanjang pantai timur </li></ul></ul>Titik kontrol geodetik Pengukuran titik tinggi
    36. 39. Vegetasi dan Struktur Bangunan
    37. 40. Analisis Struktur Bangunan (Puslitbangkim PU ) <ul><li>Bangunan gedung dan rumah tinggal yang rusak, umumnya disebabkan karena dorongan gelombang air atau Tsunami setinggi kurang lebih 2 hingga 6 meter diseluruh pesisir pantai Selatan sejauh 500 m hingga 1 km dari tepi pantai. </li></ul><ul><li>Untuk bangunan di luar area 500 meter, gempa yang berkekuatan 6,8 SR tidak menyebabkan kerusakan pada bangunan gedung dan rumah tinggal. </li></ul><ul><li>Bangunan bertingkat yang berada di pinggir pantai pangandaran, tidak mengalami kerusakan pada bagian struktur utamanya, kecuali pada bagian non struktural seperti pada dinding dan kusen bagian depan. </li></ul><ul><li>Pada bangunan yang rusak baik runtuh total maupun rusak ringan oleh gelombang Tsunami, terlihat indikasi kualitas struktur bangunan kurang memenuhi persyaratan teknis seperti pada penggunaan dimensi tulangan utama dan sengkang, serta mutu beton yang rendah. </li></ul>
    38. 41. Pengamatan Lapangan Ekosistem Pesisir <ul><li>Daerah yang tidak terpengaruh atau yang rendah pengaruhnya dari gelombang pasang adalah daerah pantai terjal berbatu, daerah yang memiliki vegetasi pesisir rapat , daerah yang memiliki lubang/galian di belakang garis pantai yang berfungsi sebagai atau semacam lahan basah buatan ( man made wetland ) sebagai pengurang atau peredam energi pasang, dan daerah yang memiliki pelindung seperti sea wall atau delta. </li></ul><ul><li>Daerah yang berdampak tinggi terhadap gelombang Tsunami adalah daerah pantai landai, daerah dengan vegetasi jarang. Walaupun cukup luas tetapi secara soliter tidak mampu meredam energi gelombang yang datang, perumahan (bangunan) di pesisir yang terlalu dekat dengan laut. </li></ul><ul><li>Telah terjadi perubahan formasi vegetasi sebelum bencana Tsunami di berbagai kawasan yang dikunjungi. </li></ul><ul><li>Pemanfaatan ruang di wilayah pesisir tidak menerapkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam penataan kawasan pesisir dan pantai sebagaimana ditetapkan dalam Kepres 32/1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung, khususnya sempadan pantai. </li></ul>
    39. 42. Penataan Ruang Wilayah <ul><li>Dalam RTRW revisi ini diusulkan alokasi sebesar 143.764,09 km2 untuk kawasan lindung dari semula 112.280,30 km2. Sedangkan kawasan budidaya diusulkan mengalami pengurangan dari 181.162,00 km2 menjadi 159.066,39. </li></ul><ul><li>Khusus untuk Kawasan Lindung RTRW 2003 telah merencanakan kawasan sempadan pantai seluas 9.442,92 km2 serta kawasan rawan gempa seluas 4.044.72 km2 yang didasarkan kepada Kepress 32 Tahun 1990 mengenai Kawasan Lindung. </li></ul><ul><li>Catatan untuk Kawasan Lindung </li></ul><ul><li>Penerapan kaidah-kaidah Kepres 32/1990 seperti sempadan pantai perlu dikaji ulang mengingat areal rendaman Tsunami mencapai lebih dari 500 m dari pantai dengan ketinggian hampir mencapai 9 meter, Demikian pula dengan penetapan kawasan lindung di wilayah pesisir lainnya. </li></ul><ul><li>Perlu adanya tinjauan ulang terhadap Revisi RTRW 2003 yang belum ditetapkan dengan mempertimbangkan aspek-aspek potensi bencana di kawasan pesisir dan sekitarnya, seperti kawasan Pangandaran. </li></ul>
    40. 47. Hasil yang dicapai (s/d 19/08/2005) <ul><li>14 staf terlatih dalam GIS dan remote sensing (Arc View, Image Analyst, Spatial Analyst) </li></ul><ul><li>Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 6 kabupaten/kota (Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh, Sabang, Sigli and Nias) </li></ul><ul><li>Analisis spasial untuk pengelolaan wilayah pesisir (Meulaboh), kajian dampak lingkungan (road reconstruction), ecocity (Lhok Nga), perencanaan tata ruang (Nias/Sabang) </li></ul><ul><li>Dukungan hardware (komputer, GPS, kamera digital, printer berwarna) </li></ul>
    41. 48. Hasil yang dicapai (s/d 16/09/2005) <ul><li>Basis data spatial dan non-spasial tingkat propinsi dan 4 studi kasus (Banda Aceh, Aceh Besar, Meulaboh) </li></ul><ul><li>Analisis spasial untuk pengelolaan wilayah pesisir (Meulaboh), kajian dampak lingkungan ( road reconstruction ), ecocity (Lhok Nga), perencanaan tata ruang (Sabang) </li></ul><ul><li>Kajian awal untuk pengembangan kapasitas analisis spasial pengelolaan lingkungan pasca Tsunami dan jaringan informasi (ERP-net) </li></ul>
    42. 49. Publication (26/12/2005)
    43. 50. Web based information network
    44. 51. Terimakasih Informasi Lebih Jauh [email_address] [email_address]

    ×