Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
PELANGGARAN HAM di INDONESIA 
Bom Bali I ( 12 Oktober 2002 ) 
Bom Bali terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002 di ...
Pelaku Bom Bali I 
* Abdul Goni, didakwa seumur hidup 
* Abdul Hamid (kelompok Solo) 
* Abdul Rauf (kelompok Serang) 
* Ab...
Kasus Pelanggaran HAM yang terjadi di TIBET 
Sejumlah organisasi masyarakat sipil di Jakarta mengutuk kekerasan yang terja...
dan perdamaian telah dilanggarnya. 
Berdasarkan kenyataan tersebut, mereka mengutuk tindakan represif yang dilakukan oleh ...
Barang-barang milik negara ini ada di mana-mana dan murah. Mulai dari hal-hal sederhana 
hingga teknologi tinggi, China su...
Barat dan Eropa, terutama Amerika Serikat, harus memotori pertemuan ini. Tidak melulu 
campur tangan di wilayah Timur Teng...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Bom bali

952 views

Published on

bom bali

Published in: Data & Analytics
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Bom bali

  1. 1. PELANGGARAN HAM di INDONESIA Bom Bali I ( 12 Oktober 2002 ) Bom Bali terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002 di kota kecamatan Kuta di pulau Bali, Indonesia, mengorbankan 202 orang dan mencederakan 209 yang lain, kebanyakan merupakan wisatawan asing. Peristiwa ini sering dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia. Beberapa orang Indonesia telah dijatuhi hukuman mati karena peranan mereka dalam pengeboman tersebut. Abu Bakar Baashir, yang diduga sebagai salah satu yang terlibat dalam memimpin pengeboman ini, dinyatakan tidak bersalah pada Maret 2005 atas konspirasi serangan bom ini, dan hanya divonis atas pelanggaran keimigrasian. Korban Bom Bali I * Australia 88 * Indonesia 38 (kebanyakan suku Bali) * Britania Raya 26 * Amerika Serikat 7 * Jerman 6 * Swedia 5 * Belanda 4 * Perancis 4 * Denmark 3 * Selandia Baru 3 * Swiss 3 * Brasil 2 * Kanada 2 * Jepang 2 * Afrika Selatan 2 * Korea Selatan 2 * Ekuador 1 * Yunani 1 * Italia 1 * Polandia 1 * Portugal 1 * Taiwan 1
  2. 2. Pelaku Bom Bali I * Abdul Goni, didakwa seumur hidup * Abdul Hamid (kelompok Solo) * Abdul Rauf (kelompok Serang) * Abdul Aziz alias Imam Samudra, terpidana mati * Achmad Roichan * Ali Ghufron alias Mukhlas, terpidana mati * Ali Imron alias Alik, didakwa seumur hidup * Amrozi bin Nurhasyim alias Amrozi, terpidana mati * Andi Hidayat (kelompok Serang) * Andi Oktavia (kelompok Serang) * Arnasan alias Jimi, tewas * Bambang Setiono (kelompok Solo) * Budi Wibowo (kelompok Solo) * Dr Azahari alias Alan (tewas dalam penyergapan oleh polisi di Kota Batu tanggal 9 November 2005) * Dulmatin * Feri alias Isa, meninggal dunia * Herlambang (kelompok Solo) * Hernianto (kelompok Solo) * Idris alias Johni Hendrawan * Junaedi (kelompok Serang) * Makmuri (kelompok Solo) * Mohammad Musafak (kelompok Solo) * Mohammad Najib Nawawi (kelompok Solo) * Umar Kecil alias Patek * Utomo Pamungkas alias Mubarok, didakwa seumur hidup * Zulkarnaen . Komentar: seharusnya tempat wisatawan berkunjung mendapat pengawasan
  3. 3. Kasus Pelanggaran HAM yang terjadi di TIBET Sejumlah organisasi masyarakat sipil di Jakarta mengutuk kekerasan yang terjadi di Lhasa Tibet. Baginya China tidak layak menggelar Olimpiade jika kondisi HAM-nya masih buruk. Insiden kekerasan yang terjadi di Lhasa, Tibet pada pekan lalu yang menewaskan ratusan jiwa manusia tak berdosa adalah sebuah pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang berat. Karena itu, penguasa China harus segera membebaskan rakyat Tibet dari segala bentuk penindasan sebelum pelaksanaan Olimpiade Beijing 2008. Komunitas internasional dan para pemimpin dunia juga didesak untuk segera menekan rejim komunis China supaya memperbaiki catatan HAM-nya yang buruk di Tibet maupun di Daratan China. Demikian pernyataan sikap yang dikeluarkan oleh Masyarakat Indonesia Untuk Pembebasan Tibet yang menggelar aksi solidaritas di Depan Kedubes China Jakarta pada Rabu (19/3). Aksi damai ini diikuti oleh sekitar 50 orang yang terdiri dari sejumlah lembaga antara lain dari Yayasan Atap Dunia, Solidamor, The Coalition to Investigate the Persecution of Falun Gong (CIPFG) perwakilan Indonesia LBH Jakarta, Hikmah Budhi, Pemuda PGI dll. Dalam aksi ini, perwakilan sejumlah lembaga memberikan kecamannya atas kekerasan yang masih terjadi di Tibet. Mereka menganggap pemerintah China tidak layak menyelenggarakan Olimpiade karena tindakannya yang semakin represif menjelang Olimpiade. “Kalau kondisi HAM di China semakin buruk, kita harus menolak pesta olah raga dunia itu dilangsungkan di China,” tandas Muhammad Gatot, Perwakilan CIPFG Indonesia. Menurut Masyarakat Indonesia Untuk Kebebasan Tibet, sikap tersebut perlu dilakukan mengingat sejak 1959, rakyat Tibet berada di bawah pendudukan rejim Beijing. Sebelumnya ribuan rakyat dan biksu tewas dalam peristiwa pengambilalihan wilayah ini. Tempat-tempat ibadah banyak yang dirusak. Sebagian besar tokoh Tibetan masih meringkuk di tahanan. Rakyat Tibet diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Budaya setempat dihancurkan—pemimpin spiritual Dalai Lama menyebutnya sebagai ‘genosida budaya’. Pahitnya keadaan ini tak menyurutkan perjuangan Dalai Lama dan para pengikutnya di Dharamsala, India untuk menuntut otonomi lebih luas, serta membebaskan rakyat Tibet dari cengkraman militer China. Disebutkan, tindakan represif justru semakin intensif dilakukan oleh penguasa China menjelang dilangsungkannya Olimpiade Beijing 2008. Tekanan terhadap kegiatan keagamaan di kuil Tibet semakin meningkat sejak akhir 20007 lalu. Selain Tibet, sasaran tembaknya adalah kelompok-kelompok yang dianggapnya potensial menggagalkan pesta olah raga dunia itu. Mereka adalah aktivis HAM dan lingkungan, pengacara pembela rakyat yang tergusur, pengikut Falun Gong, penganut Kristen-Katolik, muslim Uighur. Apa yang terjadi di Tibet, semakin memperburuk catatan hak asasi manusia di China yang sebentar lagi akan menggelar Olimpiade. “Di luar itu, penguasa China juga terbukti melakukan pelanggaran HAM berat terhadap rakyatnya yang menuntut kebebasan berkeyakinan (pluralisme) dan demokrasi,” demikian bunyi siaran pers mereka. Sebagai contoh, kasus pengambilan organ tubuh praktisi Falun Gong dalam keadaan hidup di kamp-kamp konsentrasi China yang sempat menjadi perhatian dunia, dimana sampai sekarang masih terjadi. Merujuk pada laporan Amnesty International pada tahun 2007 ditunjukan adanya peningkatan pelanggaran HAM di negeri Tirai Bambu ini. “Itu berarti penguasa China telah mengingkari janjinya pada tahun 2001 untuk memperbaiki kondisi HAM-nya jika terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade. Piagam Olimpiade yang memberi penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan
  4. 4. dan perdamaian telah dilanggarnya. Berdasarkan kenyataan tersebut, mereka mengutuk tindakan represif yang dilakukan oleh aparat keamanan China terhadap rakyat Tibet yang mengadakan aksi damai, yang telah menelan korban ratusan orang. Mereka juga mendesak kepada Komisi HAM PBB dan organisasi hak asasi internasional lainnya agar melakukan penyelidikan independen atas kerusuhan yang terjadi di Lhasa. Selain itu, mendesak kepada penguasa China untuk segera mengakhiri kekerasan di Tibet, serta bentuk pelanggaran HAM lain yang terjadi di China selama ini. Tak ketinggalan, mereka juga menyerukan kepada para pemimpin dunia termasuk pemerintah Indonesia, dan Panitia Olimpiade internasional untuk menggunakan pengaruhnya– menekan penguasa China supaya segera memperbaiki keadaan HAM-nya yang buruk. Mereka mengajak masyarakat Indonesia dan komunitas internasional untuk memberikan solidaritasnya terhadap para korban pelanggaran HAM yang terjadi di Tibet dan China. Berlanjut dan meluasnya protes antiCina mengenai masalah Tibet, memberi satu indikasi penting bahwa dunia internasional harus menaruh perhatian serius. Sebab, hingga pekan di awal bulan ini, demonstrasi anti Cina sudah meluas ke beberapa negara dan juga belum berhenti. Malah menjadi sebuah momentum yang makin besar terutama setelah isyu Tibet ini dikaitkan dengan boikot Olimpiade Cina 2008. Surat kabar memberitakan, sejumlah aktivis Tibet antarnegara merancang sebuah obor perdamaian, sebagai tandingan dan mengaraknya ke sejumlah negara yang juga menjadi rute obor olimpiade. Tentu saja usaha tersebut adalah bagian dari kampanye internasional masyarakat Tibet yang mencoba mencari simpati dunia. Terdapat beberapa alasan penting untuk itu. Tetapi yang paling signifikan adalah sikap ambivalensi Barat yang ’’masa bodo’’ terhadap pelanggaran HAM di Tibet. Pada saat ini, kemerdekaan sudah menjadi bagian dari hak azasi manusia. Penindasan, dalam bentuk apa pun, merupakan pelanggaran atas nilai-nilai universal HAM. Kesadaran politik masyarakat dunia juga sudah semakin mengglobal. Isu dan usaha penegakan HAM sudah tidak lagi bersifat personal atau eksklusif tetapi menjadi perjuangan bersama. Pada waktu Cina menduduki Tibet di tahun 50-an, hingga sekarang, pelenggaran-pelenggaran berat HAM oleh aparat militer Cina dalam memberangus gerakan perlawanan Tibet, sudah bukan rahasia umum lagi. Ribuan bahkan jutaan nyawa sudah melayang dalam berbagai serbuan dan tindakan militer terhadap para pembangkang. Bahkan dalam kejadian yang berlangsung bulan lalu, sejumlah pemrotes Tibet, kembali mati sia-sia di tangan militer Cina yang menghadapi mereka dengan kekerasan.Yang menjadi pertanyaan kita adalah, ketika masalah pelanggaran HAM seperti ini terjadi di negara dunia ketiga yang amat bergantung pada Barat dan Eropa, maka dalam hitungan dua puluh empat jam, kejadian tersebut sudah menjadi milik dunia dan menimbulkan reaksi politik cukup besar. Masih ingat insiden penembakan di Liquisa Timor Timur yang menimbulkan korban jiwa? Indonesia berada di dalam tekanan politik yang sangat besar. Sekarang, mari kita bandingkan. Dari segi isu, strategi dan korban, apa yang berlangsung puluhan tahun di Cina, justru tidak tersentuh sama sekali oleh Barat. Terlihat sangat tidak adil menyaksikan tanggapan Barat dan Eropa yang seolah menutup mata atas sejumlah pelanggaran HAM berat di negara bambu kuning tersebut. Mengapa? Cina adalah sebuah negara yang sedang tumbuh menjadi sebuah raksasa ekonomi di dalam banyak hal. Coba kita pergi jalan-jalan ke pasar. Mulai dari pasar kaki lima hingga ke super market atau hyper market. Kita akan dengan mudah menjumpai produk- produk yang made in China.
  5. 5. Barang-barang milik negara ini ada di mana-mana dan murah. Mulai dari hal-hal sederhana hingga teknologi tinggi, China sudah tampil sebagai sebuah kekuatan yang tak tertandingi, yang jika diusik secara politik, pasti akan membawa perubahan tatanan global. Beberapa waktu lalu, Amerika Serikat sempat gusar karena terjadi ketidakseimbangan neraca dagang dengan China. Barang-barang China lebih banyak masuk ke negara itu sehingga ’’mematikan’’ pengusaha dalam negeri. Itu sebabnya beberapa waktu lalu muncul sebuah black campaign terhadap produk China yang dihembuskan oleh Barat, bahwa produk- produk tersebut menggunakan zat-zat beracun yang sangat berbahaya. Tetapi toh semua itu tidak menghambat ekspansi pemasaran berbagai produk China ke dunia internasional. Seolah-olah, negara ini sedang mempraktikkan salah satu filosofi China yang sangat terkenal yakni, jika hendak menguasai sebuah negara, maka kuasailah ekonominya. China memang sedang tumbuh besar menjadi negara adidaya baru yang dapat menyalip hegemoni Barat. Kekuatan ekonomi China semakin lama semakin kokoh. Anggaran belanja negaranya sangat besar dan terjamin. Kemampuan militer dan persenjataannya juga semakin dahsyat tetapi tersembunyi. China adalah sebuah raksasa yang sedang menggeliat. Dalam kancah politik internasional pun, kita menyaksikan bagaimana China mampu mengimbangi politik global yang dikotomi antara demokratis vs komunis menjadi Amerika Eropa vs Asia (baca: China). Delegasi- delegasi China di PBB menjadi pemain baru yang patut diperhitungkan negara-negara Barat. Dengan demikian, China menjadi sebuah negara yang susah diatur atau didikte. Hal inilah yang kemudian menjadikan negara-negara pejuang HAM kelas berat seperti Amerika Serikat dan Eropa, tidak mampu menekan China dengan kebijakan politik atau ekonomi dan menghasilkan sikap ambivalensi. Justru sebaliknya, China dapat setiap saat mengguncang ekonomi Barat. Salah satu contoh terkini adalah seruan Presiden Perancis Sarkozy untuk memboikot Olimpiade China, tidak mendapat tanggapan serius dari kolega-koleganya di Barat. Satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalah Tibet adalah menjadikannya sebagai isu internasional dan membawa masalah ini sebagai masalah antar-bangsa. Bukan lagi sekadar masalah dalam negeri China seperti yang selama ini didengungdengungkan oleh pemerintah China di kancah internasional. Perhatian dunia yang lebih serius harus tertuju ke sana. Jika tidak, maka pelanggaran HAM yang lebih berat akan terus terjadi. Aneksasi China di Tibet harus diakhiri dan pemerintahan di wilayah itu harus dikembalikan ke dalam situasi seperti sebelum tahun 1951. Sekalipun tetap menjadi wilayah otonomi khusus China, pemerintah negara tirai bambu ini harus membiarkan Tibet sebagai negara atap dunia yang unik dan khas, dalam pemerintahan sipil Dalai Lama. Seperti Aceh di negara kita, diberikan otonomi khusus dengan hak-hak istimewa yang berbeda dari propinsi lain, karena kekhasannya. Tekanan internasional harus diarahkan kepada pemerintah China. Bukan justru sebaliknya menangkapi para pemrotes Tibet atau memenjarakan mereka atas permintaan pemerintah China. Tokoh-tokoh negara tirai bambu ini harus ditekan dan didesak oleh kekuatan politi k dunia untuk duduk membicarakan masalah ini dalam jalur politik. Sebuah solusi yang selama ini dihindari oleh China, terutama jika mereka harus duduk semeja dengan Dalai Lama. Soalnya, dengan duduk di meja perundingan, maka mau tidak mau China akan mengakui keberadaan Dalai Lama di hadapan dunia, sesuatu yang tidak dikehendaki China selama ini, sama seperti sikap mereka pada Taiwan. Tapi itulah China, seperti anak yang keras kepala. Hanya mau tunduk jika dipukul pantatnya.
  6. 6. Barat dan Eropa, terutama Amerika Serikat, harus memotori pertemuan ini. Tidak melulu campur tangan di wilayah Timur Tengah. Sambil menunggu keputusan-keputusan politik, maka wilayah Tibet dapat dinyatakan sebagai status quo internasional dengan penempatan pasukan atau pengawas perdamaian. Seruan Presiden Perancis Sarkozy sepertinya sebuah ide yang sangat menarik. isu Olimpiade ini dapat dijadikan batu pijakan untuk memaksa China duduk di meja perundingan dengan Dalai Lama, pengikutnya dan negara-negara Barat pejuang HAM. Jika tidak, maka angkatan muda Tibet, yang paradigma politiknya berbeda dengan para pendahulunya, dapat melakukan hal-hal yang akan mengejutkan kita semua .

×