Laporan fieldtrip pertanian berlanjut

7,410 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
7,410
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1,129
Actions
Shares
0
Downloads
274
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Laporan fieldtrip pertanian berlanjut

  1. 1. LAPORAN FIELDTRIP PRAKTIKUM PERTANIAN BERLANJUT Oleh: 1. Zella Oktaviana 2. Moch. Randika Widiantoro 3. Arif Budhiawan 4. Fina Luthfiyanah 5. M. Guruh Arif Zulfahmi 6. Hadi Purnomo 7. Hafidz Yudha Trinata 8. Himatin Pramitha Sari 9. Prihanti Panditia Kamukten 10. M. Saifullah Mukti (105040201111087) (105040201111088) (105040201111089) (105040201111090) (105040201111091) (105040201111092) (105040201111093) (105040201111094) (105040201111095) (105040201111096) PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
  2. 2. 2012
  3. 3. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada dasarnya pertanian berkelanjutan merupakan upaya pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin. Keberlanjutan yang dimaksud meliputi : penggunaan sumberdaya, kualitas dan kuantitas produksi, serta kualitas lingkungannya. Proses produksi pertanian yang berkelanjutan akan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap lingkungan sehingga dalam pelaksanaannya akan mengarah kepada upaya memperoleh hasil produksi atau produktifitas yang optimal dan tetap memprioritaskan kelestarian lingkungan. Jadi secara umum, sistem pertanian berlanjut merupakan sistem pertanian yang layak secara ekonomi dan ramah lingkungan. Pada tingkat bentang lahan upaya pengelolaannya diarahkan pada upaya menjaga kondisi biofisik yang bagus yaitu dengan pemanfaatan biodiversitas tanaman pertanian untuk mempertahankan keberadaan pollinator, untuk pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit dan mengupayakan kondisi hidrologi (kuantitas dan kualitas air) menjadi baik serta mengurangi emisi karbon. Serta pemanfaatan sumberdaya alam yang tersedia dilahan secara langsung yang dapat digunkan sebagai variable untuk mendukung keberlanjutan suatu system pertanian. Seain itu juga pemanfaatan siklus alam yang tersedia dilahan sebagi contoh pemanfaatan musuh alami sebagai pengendali hama dan penyakit serta peran mikoorganisme pengurai tanah untuk menjaga dan menyehatkan kualitas unsur hara tanah. Dari segi keberlanjutan tersebut diharapkan bisa memperbaiki seluruh system yang ada di lahan. Dan dapat mewujudkan pertanian yang sehat, berlanjut, alami dan tanpa mengurangi kualitas lahan yang tersedia. Banyak macam penggunaan lahan yang tersebar di seluruh bentang lahan, yang mana komposisi dansebarannya beragam tergantung pada beberapa faktor antara lain iklim, topografi, jenis tanah, vegetasi dan kebiasaan serta adat istiadat masyarakat yang ada disekelilingnya. Didalam ruang perkuliahan, mahasiswa mempelajari tentang beberapa indicator kegagalan Pertanian berlanjut baik dari segi biofisik(ekologi), ekonomi dan sosial. Dalam konteks tersebut perlu adanya pengenalan pengelolaan bentang lahan yang terpadu dibentang lahan sangat perlu
  4. 4. dilakukan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap konsep dasar Pertanian Berlanjut di daerah Tropis dan pelaksanaannyadi tingkat lanskap. 1.2. Maksud dan Tujuan  Memperoleh segala informasi yang berkaitan dengan pertanian berlanjut dari aspek ekologi, ekonomi, dan sosial.  Untuk memahami macam-macam tutupan lahan, sebaran tutupan lahan dan interaksi antar tutupan lahan pertanian yang ada di suatu bentang lahan. 1.3 Manfaat Dengan dilaksanakannya fieldtrip mata kuliah Pertanian Berlanjut,I manfaat yang diperoleh antara lain dapat menentukan apakah suatu lansekap yang diamati termasuk dalam kategori pertanian berlanjut atau tidak. Selain itu, dapat mengaplikasikan dasar teori yang diperoleh di perkuliahan ruang yang kemudian dapat menilai keberlanjutan suatu lansekap berdasarkan indikator-indikator pertanian berlanjut melalui pengamatan kondisi karakteristik lansekap, biodiversitas, kualitas air,dan cadangan karbon.
  5. 5. BAB 2 METODOLOGI 2.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan • Pelaksanaan fieldtrip mata kuliah Pertanian Berlanjut diadakan di tiga tempat berbeda, yaitu: Dusun Kekep, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. - Titik Pengamatan pertama yakni titik pengamatan aspek HPT di lahan Kubis lereng rendah di Dusun Kekep Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. - Titik pengamatan kedua yakni titik pengamatan aspek Sosial Ekonomi di lahan Wortel lereng sedang di Dusun Kekep Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. - Titik pengamatan ketiga yakni titik pengamatan aspek Tanah di sekitar sungai di Dusun Kekep Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. - Titik pengamatan terakhir yakni titik pengamatan aspek Budidaya di lahan Kubis lereng rendah di Dusun Kekep Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. • Waktu pelaksanaan fieldtrip mata kuliah Pertanian berlanjut yaitu pada hari Sabtu, 20 Oktober 2012 2.2 Metode Pelaksanaan 2.2.1. Pemahaman Karakteristik Lansekap a. Menentukan lokasi yang representatif untuk dapat melihat lansekap secara keseluruhan. b. Melakukan pengamatan secara menyeluruh terhadap berbagai bentuk penggunaan lahan yang ada. Isikan pada kolom penggunaan lahan, dokumentasi dengan foto kamera. c. Identivikasi jenis vegetasi yang ada, isi hasil identifikasi ke dalam kolom tutupan lahan. d. Melakukan pengamatan secara menyeluruh terhadap berbagai kemiringan lereng yang ada serta tingkat tutupan kanopi dan seresahnya. e. isi hasil pengamatan pada form. tingkat
  6. 6. 2.2.2. Pengukuran Kualitas Air • Pendugaan kualitas air secara fisik (kekeruhan) dilakukan dalam beberapa langkah: - Tuangkan contoh air dalam tabung / botol air mineral samapai ketinggian 45 cm.tabung dapat dibuat dari tiga buah botol air kemasan ukuran 600 ml yang disatukan. - Aduk air secara merata. - Masukkan „secchi disc‟ ke dalam tabung yang berisi air secara perlahanlahan dan amati secara tegak lurus sampai warna hitam-putih pada „secchi disc‟ tidak dapat dibedakan. - Baca berapa sentimeter kedalaman “secchi disc‟ tersebut. - Masukkan data kedalaman yang diperoleh ke dalam persamaan berikut: Konsentrasi sedimen (mg/l) = 9,7611e-0,136D Dimana “D‟ adalah kedalaman “secchi disc‟ dalam cm. • Pengamatan suhu air dilakukan dalam beberapa langkah: - Catat udara sebelum mengukur suhu dalam air. - Masukkan termometer ke dalam air selama 1-2 menit. - Baca suhu saat termometer masih dalam air, atau secepatnya setelah dikeluarkan dari dalam air. - Catat pada form pengamatan. 2.2.3. Pengukuran Biodiversitas 2.2.3.1. Aspek Agronomi Indikator yang digunakan dalam mengukur biodiversitas dari aspek agronomi adalah populasi dan jenis gulma pada lahan. Metode yang digunakan adalah: - Membuat sebuah kerangka persegi berukuran 1m x 1m dari bahan bambu. - kerangka persegi dilempar secara acak ke tempat yang diduga memiliki populasi gulma yang dapat mewakili keseluruhan lahan.
  7. 7. - Catat jumlah dan jenis gulma yang ditemukan dalam kerangka persegi tersebut. Untuk mengetahui jenis gulma dapat menggunakan buku Flora. - Olah semua data yang telah diperoleh dengan bantuan modul fieldtrip mata kuliah Pertanian Berlanjut. Metode yang digunakan untuk mengukur biodiversitas tanaman pangan & tahunan adalah sebagai berikut: - Buatlah jalur transek pada hamparan yang akan dianalisis - Tentukan titik pada jalur (transek) yang mewakili masing-masig tutupan lahan dalam hamparan lanskap - Catat karakteristik tanaman budidaya di setiap tutupan lahan yang telah ditentukan - Hasil pengamatan disajikan dalam bentuk tabel. 2.2.3.2. Aspek Hama Penyakit - Membuat jalur transek pada hamparan yang akan dianalisis - Menentukan titik-titik pengambilan sampel pada jalur (transek) yang mewakili mewakili agroekosistem dalam hamparan - Tangkap serangga ndengan menggunakan sweep net dengan metode yang benar pada agroekosistem yang telah ditentukan - Kumpulkan semua serangga yang tertangkap sweep net dan masukkan kedalam kantong plastik yang telah diberi secarik kertas tissue - Serangga yang telah terkumpu dibunuh dengan memberikan etil asetat. - Semua kantong plastik berisi serangga (sudah mati) dibawa ke Laboratorium Hama. Apabila belum segera diamati hendaknya semua serangga tersebut disimpan dilemari pendingin. - Hasil pengamatan disajikan dalam bentuk tabel. 2.2.4. Identifikasi Keberlanjutan Lahan dari Aspek Sosial Ekonomi Dalam mengevaluasi keberlanjutan dari aspek sosial ekonomi menggunakan indikator-indikator sebagai berikut (dengan melakukan wawancara terhadap petani):
  8. 8. 1. Macam/jenis komoditas yang ditanam 2. Akses terhadap sumber daya pertanian 3. Penguasaan lahan 4. Saprodi 5. Apakah petani mengetahui usahatani yang dilakukan ramah terhadap lingkungan atau tidak 6. Diversifikasi sumber pendapatan 7. Kepemilikan hewan ternak 8. Pengelolaan produk sampingan.
  9. 9. BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil 3.1.1. Kondisi Umum Wilayah Kelerangan: 63% 30° Macam Lanskap: Fragmanted No. Penggunaan Lahan 1. Hutan produksi 2. Kebun campuran 3. 4. Kebun semusim Semak belukar Tutupan Lahan Alpukat, pisang, kopi, mangga, lamtoro, rumput, kayu putih Apel, jeruk, kopi, wortel, pisang, rumput Wortel, rumput Rumput/tan aman lain Manfaat Posisi Lereng Jumlah Spesies Kerapatan C-Stock (ton/ha) Bu, K, Bi, D Arah: Barat Daya Posisi: Atas Tinggi Tinggi 7 Sedang 150 Bu, A, Bi, D Arah:Barat daya Posisi: Tengah Sedang Rendah 6 Sedang 50 A, D Arah: Barat daya Posisi: Bawah Sedang Rendah 2 Sedang 1 Bu, D Posisi: Atas Rendah Rendah 2 Sedang 1 Keterangan: Manfaat: Bu (buah), D (daun), A (akar), Bi (biji), K (kayu) Tingkat Tutupan Kanopi Seresah
  10. 10. Fieldtrip ini dilaksanakan di Dusun Kekep Desa Tulungrejo Kecamatan Batu Kota Batu. Bagian hulu dusun kekep merupakan kawasan hutan perhutani dan bagian hilirnya merupakan kawasan pertanian hortikultura yang sangat intensif dan pemukiman. Dusun ini terletak diwilayah sub DAS mikro bagian DAS sumber Brantas yang dinamai DAS mikro Talun karena di hulu dusun ini terdapat sebuah tempat wisata air terjun coban talun. DAS mikro ini memiliki luas ± 200 ha yang terletak 1200-1500 mdpl. Kondisi biofisik DAS mikro talun hampir seluruhnya merupakan perbukitan vulkanik. Sekitar 90% dari luasan DAS mikro talun adalah kawasan perhutani, sisanya adalah kawasan tahura dibagian hulu dan kawasan milik masyarakat dibagian hilir. DAS mikro talun bermuara di kali Brantas, sebelah selatan dusun kekep. Di bagian hulu dusun kekep terdapat beberapa sumber/mata air bersih bagi warga dusun kekep maupun desa-desa di hilirnya. Namun, beberapa sumber mengalami penurunan debit dan beberapa mata air ada yang mati sejak tahun 2000-an. Karakteristik lansekap tersebut adalah fragmented, yaitu memiliki ekosistem alami 10-60% dari bentang lanskap. Hal ini terlihat dari penggunaan lahan disana yang didominasi lahan pertanian, baik semusim maupun agroforestry. Sedangkan untuk kawasan hutan, sudah merupakan hutan produksi, dimana hanya sebagian kecil saja yang tetinggal dari vegetasi alami. Terkait dengan pertanian berlanjut, karakteristik fragmented tersebut, menandakan bahwa intensifnya alih fungsi lahan dari ekosistem alami menjadi lahan pertanian. 3.1.2.4 Cadangan Karbon 1. Hutan No. 1. Penggunaan Lahan Hutan Tutupan Manfaat Lahan Alpukat, Bu, K, Bi, D pisang, kopi, mangga, lamtoro, rumput, Posisi lereng Arah: Barat Daya Posisi: Atas Tingkat Tutupan Kanopi Seresah T T Jumlah Spesies 7 Kerapatan S C-Stock (ton/ha) 150
  11. 11. kayu putih 2. Agroforestry No. 1. Penggunaan Lahan Agroforestry Tutupan Lahan Apel, jeruk, kopi, wortel, pisang, rumput Manfaat Posisi Lereng Bu, A, Bi, D Arah:Barat daya Posisi: T Tingkat Tutupan Kanopi Seresah S Jumlah Spesies Kerapatan C-Stock (ton/ha) 6 S 50 R 3. Tanaman Semusim No. 1. Penggunaan Tutupa Lahan n Lahan Kebun tanaman semusim Manfaa t Wortel, rumput A, D Posisi Tingkat Tutupan lereng Kanopi Seresah Arah: Barat daya S R Posisi: B Jumlah Spesies Kerapatan 2 C-Stock (ton/ha) S 1 4. Tanaman Semusim dan Pemukiman No. 1. Penggunaan Lahan Keterangan: Manfaat Tutupan Lahan - Manfaat - Posisi lereng - Tingkat Tutupan Kanopi Seresah - : Bu (buah), D (daun), A (akar), Bi (biji), K (kayu) Jumlah Spesies - Kerapatan - C-Stock (ton/ha) -
  12. 12. Posisi Lereng : A (atas), T (tengah), B (bawah) Tingkat tutupan Canopy dan seresah: T (tinggi), S (sedang), R (rendah) Kerapatan : T (tinggi), R (rendah), S (sedang)
  13. 13. Tabel Nilai C-Stock pada berbagai tenis penggunaan lahan dan kerapatan pohon No. Penggunaan Lahan 1. Hutan 2. Agroforestry 3. Tanaman Semusim Kerapatan pohon T S R T S R - Above Ground C-Stock 250 150 100 80 50 20 1
  14. 14. 3.1.2. Indikator Pertanian Berlanjut dari Aspek Biofisik 3.1.2.1. Kualitas Air Terdapat tiga jenis pendugaan kualitas air sungai yaitu fisik (suhu, warna, kekeruhan), kimia (meliputi pH, COD, BOD) dan biologi (dengan memanfaatkan makroinvertebrata). Pendugaan kualitas air sungai ini hanya dilakukan aspek fisik yaitu dengan mengukur tingkat kekeruhan dan suhu air. Mengukur kekeruhan berarti menghitung banyaknya bahan-bahan terlarut dalam air misalnya lumpur, alga, detritus, dan kotoran lokal lainnya. Apabila kondisi air semakin keruh, maka cahaya matahari yang masuk ke air semakin berkurang sehingga mengurangi proses fotosisntesis tumbuhan air. Hal ini berdampak pada suplai oksigen yang diberikan oleh tumbuhan air juga berkurang sehingga jumlah oksigen terlarut dalam air juga berkurang. Metode cepat untuk mengukur kekeruhan di lapangan dapat dilakukan dengan menggunakan ‘Secchi disk’ atau piringan yang berwarna hitam-putih. ‘Secchi disk’ ini digunakan sebagai tanda batas pandangan mata pengamat ke dalam air, semakin keruh air, batas penglihatan mata semakin dangkal. Berikut hasil pengamatan pada stop 3. Parameter Satuan Plot 1 Ulangan 1 2 3 1 Lokasi pengambilan sampel air Plot 2 Plot 3 Ulangan Ulangan 2 3 1 2 3 1 Kelas (PP no. 82 tahun 2001) Plot 4 Ulangan 2 3 Kekeruhan Mg/l 25.61 25.61 25.61 Suhu air derajat 21 21 21 Suhu lingkungan derajat 25 23 22 Pada stop 3 kondisi air tergolong baik karena dari data yang tertera di atas diketahui hasil survey lapang bahwa air yang berada pada plot tiga (sawah) merupakan air kelas 4 yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi
  15. 15. pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Hal tersebut menandakan jika air pada stop tiga tidak tercemar oleh bahan-bahan terlarut. Namun, hal tersebut masih belum menutup kemungkinan untuk pengaruh pengaplikasian pupuk kimia dan pestisida yang belum dilakukan analisa laboratorium. Pengukuran suhu merupakan faktor penting dalam keberlangsungan proses biologi dan kimia yang terjadi dalam di dalam air. Tinggi rendahnya suhu berpengaruh pada kandungan oksigen di dalam air, proses fotosintesis tumbuhan air, laju metabolisme organisme air dan kepekaan organisme terhadap polusi, parasit dan penyakit. Pada stop tiga memiliki suhu 24˚C. Banyaknya jumlah vegetasi air dan organisme akan berpengaruh pada suhu air yang akan mengakibatkan berubah pula.
  16. 16. 3.1.2.2. • Biodiversitas Tanaman dari Aspek Agronomi Biodiversitas tanaman pangan dan tahunan Titik Pengambilan sample tutupan lahan Plot 4 Plot 4 Plot 4 Plot 4 Plot 4 Plot 4 Plot 4 Plot 4 Plot 4 • Semusim/ tahunan/ campuran Tahunan (Alpukat) Tahunan (Alpukat) Tahunan (Alpukat) Tahunan (Alpukat) Tahunan (Alpukat) Tahunan (Alpukat) Tahunan (Alpukat) Tahunan (Pisang) Semusim (Rumput) Informasi tutupan lahan dan tanaman dalam lanskap Jarak Luas Populasi Sebaran tanam 6,5 16 Sedang 7,5 4,7 9,8 8,0 16,5 14,3 26 Sempit 511 Luas Identifikasi dan analisis gulma Nama Lokal Rumput gajah Rumput teki Babadotan Goletrak beuti Kelebatan Gulma Agak lebat Lebat (> 50%) Jarang (<25%) (25%-50%) 35% 65% 10% 5% Keterangan: • Rumput gajah 35% • Rumput Teki 65% • Ageratum conyzoides L. 10% • Richardia brasiliensis Gomez 5%
  17. 17. • Pengamatan Biodiversitas Gulma Nama Lokal Rumput Gajah Rumput Teki Daun tombak /babadotan Goletrak Beuti • Nama Ilmiah Pennisetum purpureum Cyperus rotundus Lokasi sample Stop 1 Stop 1 Jumlah 91 170 Ageratum conyzoides L Stop 1 8 Obat luka, sakit mata, demam Richardia gomez Stop 1 14 Tanaman liar brasiliensis Fungsi Tabulasi Data Kelompok Gulma Tutupan Lahan Teki-tekian (65%) Daun Sempit/rumput Daun Lebar Gulma merupakan tumbuhan yang merugikan dan tumbuh pada tempat yang tidak dikehendaki. Karena sifat merugikan tersebut, maka dimana pun gulma tumbuh selalu dicabut, disiangi, dan bahkan dibakar. Gulma tidak hanya berfungsi sebagai rumput liar, akan tetapi bias juga berfungsi sebagai tanaman obat. Selain itu, bis ajuga sebagai tempat hidup musuh alami sehingga gulma tidak harus disiangi, dibasmi, maupun dibakar, melainkan perlu dikelola supaya lebih bermanfaat. Apabila gulma dikelola dengan benar dan optimal, gulma akan memberikan lingkungan pertanaman yang baik karena dapt menjadi tempat tinggal musuh alami. Pemanfaatan lain dari gulma diantaranya sisa penyiangan gulma dapat menjadi mulsa atau untuk membuat kompos. Berdasarkan data pengamatan gulma di lahan, maka gulma yang ada termasuk banyak, terutama didominasi oleh teki-tekian. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman budidaya jika populasinya terlalu banyak, namun tidak perlu disiangi sampai
  18. 18. bersih, karena akan mengurangi tutupan lahan. Jika disiangi sampai bersih, maka lahan akan menjadi terbuka sehingga rentan terhadap erosi maupun longsor, apalagi dengan kelerengan yang cukup curam. Erosi dapat menyebabkan degradasi lahan sehingga akan mengganggu keberlanjutan pertanian di lanskap tersebut. Untuk itu, perlu dilakukan pengelolaan gulma agar tidak mengganggu tanaman budidaya, dan justru mendukung keberlanjutan lahan pertanian.
  19. 19. 3.1.2.3. Biodiversitas Hama Penyakit Kondisi lahan brokoli yang dijadikan tempat observasi hama dan penyakit Dari lahan ini kita melakukan pengamatan/observasi tentang bagaimana hama, penyakit, musuh alami, dan serangga lain. Untuk tambahan informasi, alat untuk yang digunakan untuk menangkap hama berukuran besar dan bisa terbang yaitu Swipnet. Sedangkan untuk menangkap serangga yang berukuran kecil kita menggunakan Respirator. Dari kegiatan yang kami lakukan, berhasil ditemukan beberapa serangga dengan klasifikasi sebagai berikut. a) Laba-Laba sebagai predator kutu daun, dan wereng. Bagian tubuh : Kepala, cepalotoraks, kaki, abdomen. Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Arachnidae Ordo : Aroneceae
  20. 20. Famili : Lycosidae Genus : Lycosa Spesies : Lycosa sp. Memiliki penglihatan yang tajam, dan 4 pasang tungkai. Tubuhnya terdiri dari caput, abdomen dan thoraknya termodifikasi dengan kepala. Menyerang mangsa dengan sangat cepat. b) Kutu daun (Myzus persicae / Sulz) kingdom : Animalia filum : Arthropoda kelas : Insecta ordo : Hemiptera famili : Aphidhidae genus : Aphid spesies : Myzus persicae. Serangga hama ini dikenal dengan kutu daun persik atau tobacco aphid termasuk ordo Homoptera, famili Aphididae dan mempunyai daerah penyebaran di Indonesia. Nimfa dan serangga dewasa M persicae menyerang per tanaman kubis dengan cara menghisap cairan daun kubis. Lamanya daur hidup berkisar 7-10 hari. Daun kubis yang terserang M. persicae memperlihatkan bercak coklat di sekitar tusukan stiletnya. Bila serangan tinggi akan menurunkan kualitas brokoli. c) Semut Rang-Rang kingdom : Animalia filum : Arthropoda kelas : Insekta ordo : Heminoptera famili : Kamilidae genus : Solenopsis spesies : Solenopsis sp. Bagian : antena, kepala, toraks, abdomen, ekor, kaki
  21. 21. Sebagai predator kutu daun. Morfologi Semut Rang-rang : Secara umum semut terdiri dari tiga bagian yaitu : kepala, dada, dan perut. Kepalasemut dilengkapi oleh sepasang antenna , sepasang rahang, dan mata semut. Dada semut dilengkapi dengan tiga kaki tang kokoh dan sepayang sayap untuk semutjantan.Sedangkan bagian ujung belakang perut dilengkapi dengan sengat sebagai alat perlindungan diri. d) Kumbang Kubah spot M Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Coleoptera Famili : Minochilas Genus : Menochilussexmaculatus Spesies : Menochilussexm aculatus Ciri-ciri specimen : memiliki panjang tubuh 5-6 mm, warna merah dengan bercak-bercak hitam putih dan kuning, merupakan predator tungau dan kutu daun, menangkap mangsa dengan gerak lambat. Mangsa/inang utama : Aphid sp., kutu daun, kebul. e) Kumbang kubah spot Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Coleoptera Suku : Coccilinedae Genus : Epilachna Spesies : Epilachna sparsa Peran : hama Larva mudanya berwarna kelabu, telur berwarna kuning dan panjang 0,5 cm. Pupanya bebentuk segi empat, telur diletakkan 20-50 butir di balik daun. Dalam 4-5 hari akan
  22. 22. menetas dan keluar larva. Larva ini yang sangat rakus dari pada waktu senja bergerak ke permukaan daun. f) Belalang Hijau Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Orthoptera Family : Acrididae MacLeay Genus : Oxya Serville Species : Oxya chinensis Peran : Serangga lain Fase hidup dari telur, limfa, imago. Gejala serangannya daun berlubang dan sobek, pangkal daun mudah patah serta terdapat bekas kotoran disekitar tanaman yang terserang. g) Bekicot Kingdom : Animalia Filum : Molusca Kelas : Gastrhopoda Ordo : Pulmonata Family : Achatinadae Genus : Achatina Spesies : Achatina fulica Peran : Hama. Bersifat lunak yang dilindungi oleh cangkang yang keras. Di bagian ineterior dijumpai 2 pasang antena yang masing-masing ujungnya terdapat mata, pada bagian bawah terdapat alat mulut yang dilengkapi dengan gigi parut. Anus dan lubang pernafasan terdapat di bagian tepi matel tubuh. Bekicot hidup pada daerah yang memiliki kelembaban tinggi.
  23. 23. h) Lebah Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Class : Insecta Ordo :Hymenoptera Family : Apidae Genus : Apis Species : Apis Andreniformis Peran: Polinator (Serangga Lain) Lebah madu membantu penyerbukan tanaman berbunga dengan cara membawa serbuksari dari suatu bunga ke bunga yang lainnya yang menempel di kakinya pada waktu mengambil madu dari bunga tersebut. • Form pengamatan biodiversitas serangga 1 2 Lokasi pengambilan sampel PLOT 1 PLOT 1 3 PLOT 1 4 PLOT 1 5 PLOT 1 6 PLOT 1 7 PLOT 1 Laba-laba Kutu daun Semut rangrang Kumbang Kubah Spot Kumbang kubah spot M Belalang hijau Bekicot 8 PLOT 1 Lebah No. • Jumlah Fungsi (H, MA, SL) Lycosa sp. Myzus persicae. 2 5 MA H Solenopsis sp 3 MA Coccinella septempunctata 3 H Epilachna sparsa 1 MA Oxya chinensis 2 SL Achatina fulica Apis Andreniformis 1 H 1 SL Nama lokal Nama ilmiah Form tabulasi data
  24. 24. No. 1 Lokasi pengembalian sampel PLOT 1 Jumlah individu yang berfungsi sebagai Hama MA SL Total 8 7 3 18 Persentase Hama 44,4% MA 38,89% SL 16,67% Pengamatan untuk faktor hama dilakukan pada waktu pagi. Dari photo lahan terlihat tanaman brokoli masih segar dan hampir tidak ada kerusakan. Kita berhasil menangkap 8 jenis serangga yang masing-masing ada yang bertindak sebagai hama, musuh alami dan serangga lain. Untuk jenis hama kami menemukan kutu daun brokoli (Myzus persicae), dan kumbang kubah spot (Coccinella septempunctata). Jumlah kutu daun yang terlihat sangat banyak, dan ada juga serangga seperti ngengat, akan tetapi tidak berhasil kami tangkap. Sedangkan untuk kumbang kubah spot jumlahnya hanyalah sedikit begitu juga dengan bekicot (Achatina fulica). Secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa intensitas serangan hama pada lahan brokoli yang kami amati sangatlah rendah. Tidak ditemukannya hama penting pada brokoli seperti ulat grayak, ulat krop, dan ulat daun diperkirakan karena pemberian pestisida yang diterapkan petani cukup berhasil. Pembuktiaannya dengan adanya bau pestisida yang menyengat pada lahan tersebut. Musuh alami yang berhasil kita dapatkan ada 3 spesies dengan jumlah keseluruhan sebanyak 7 ekor. Terdapat 2 ekor laba-laba (Lycosa sp.) yang memiliki peran sebagai predator bagi serangga. Disini laba-laba berpotensi memangsa kutu daun yang menyerang tanaman brokoli. Akan tetapi kami menduga peran laba-laba disini tidaklah optimal karena jumlahnya yang sedikit. Selain laba-laba kami juga menemukan kumbang kubah M dan dan semut rangrang yang juga memangsa telor dari hama. Secara keseluruhan dapat di analisa bahwa keberadaan alami pada lahan ini tidak mampu mengendalikan perkembangan hama. Kami juga menemukan beberapa serangga lain yaitu belalang hijau (Oxya chinensis) dan lebah (Apis Andreniformis). Belalang kami temukan pada rerumputan yang terdapat disekitar pematang lahan. Kami menggolongkan belalang hijau sebagai serangga lain karena pada literatur yang kami temukan tidak terdapat pernyataan yang mengatakan belalang hijau sebagai hama. Belalang hijau biasanya menyerang tanaman yang memiliki strukur daun jorong (seperti padi, jagung, rumput, dll). Sedangkan untuk lebah dia memiliki peran sebagai polinator, akan disini tidakdiperlukan karena yang dipanen adalah brokolinya bukan buahnya.
  25. 25. Adapun untuk perbandingan dari masing-masing peran serangga itu dapat diketahui bahwa persentase hama paling besar diantara lainnya (44,4%), melebihi musuh alami (38,89), dan serangga lain (16,67). Akan tetapi jumlah serangga yang kami dapat tidak bisa mewakili kondisi lahan sebenarnya, karena lahan tersebut baru saja dilakukan penyemprotan pestisida yang membasmi hama penting pada brokoli yaitu ulat grayak. Sehingga untuk kesimpulan awalnya kami mengatakan bahwa pertumbuhan hama dapat dikendalikan dengan baik menggunakan pestisida. Peran musuh alami tidak bisa optimal, begitu juga jumlah serangga lain hanya sedikit. Tingkat biodiversitas lahan rendah sehingga perlu dilakukan konservasi.
  26. 26. 3.1.2.4. Cadangan Karbon 1. Hutan No. 1. Penggunaan Lahan Hutan Produksi Tutupan Manfaat Lahan Alpukat, pisang, kopi, mangga, Bu, K, Bi, D lamtoro, rumput, kayu putih Posisi lereng Tingkat Tutupan Kanopi Seresah Arah: Barat Daya Posisi: Atas T Jumlah Spesies Kerapatan C-Stock (ton/ha) 7 S 150 T 2. Agroforestry No. 1. Penggunaan Lahan Agroforestry Tutupan Lahan Apel, jeruk, kopi, wortel, pisang, rumput Manfaat Posisi Lereng Bu, A, Bi, D Arah:Barat daya Posisi: T Tingkat Tutupan Kanopi Seresah S Jumlah Spesies Kerapatan C-Stock (ton/ha) 6 S 50 R 3. Tanaman Semusim No. 1. Penggunaan Tutupa Lahan n Lahan Manfaa t Posisi Tingkat Tutupan lereng Kanopi Seresah Arah: Kebun Barat Wortel, tanaman A, D daya S R rumput semusim Posisi: B 4. Tanaman Semusim dan Pemukiman Jumlah Spesies 2 Kerapatan S C-Stock (ton/ha) 1
  27. 27. No. 1. Penggunaan Lahan - Tutupan Lahan - Manfaat - Posisi lereng - Tingkat Tutupan Kanopi Seresah - Keterangan: Manfaat : Bu (buah), D (daun), A (akar), Bi (biji), K (kayu) Posisi Lereng : A (atas), T (tengah), B (bawah) Tingkat tutupan Canopy dan seresah: T (tinggi), S (sedang), R (rendah) Kerapatan : T (tinggi), R (rendah), S (sedang) Jumlah Spesies - Kerapatan - C-Stock (ton/ha) -
  28. 28. Tabel Nilai C-Stock pada berbagai tenis penggunaan lahan dan kerapatan pohon No. Penggunaan Lahan 1. Hutan 2. Agroforestry 3. Tanaman Semusim Kerapatan pohon T S R T S R - Above Ground C-Stock 250 150 100 80 50 20 1 Peran lansekap dalam menyimpan cadangan karbon bergantung pada besarnya luasan tutupan lahan hutan alami dan lahan pertanian berbasis pepohonan baik tipe campuran atau monokultur. Namun demikian besarnya karbaon tersimpan di lahan bervariasi antar penggunaan lahan tergantung pada jenis, kerapatan dan umur pohon. Oleh karena itu ada dua parameter yang diamati pada setiap penggunaan lahan yaitu jenis pohon dan biomassa yang diestimasi dengan “Above Ground C-Stock”. Ada tiga macam penggunaan lahan. Penggunaan lahan yang pertama adalah hutan produksi dengan tutpan lahan Alpukat, pisang, kopi, mangga, lamtoro, rumput, kayu putih. Berdasarkan kondisi tersebut, diketahui bahwa tingkat tutupan kanopi tinggi dan tingkat tutupan seresah tinggi dan kerapatan sedang, sehingga estimasi C-Stok 150 ton/ha. Penggunaan lahan yang kedua adalah agroforestry dengan tutupan lahan Apel, jeruk, kopi, wortel, pisang, rumput. Tingkat tutupan lahan kanopi sedang dan tingkat tutupan seresah rendah, dan kerapatan sedang, sehingga C-Stok 50 ton/ha. Penggunaan lahan ketiga adalah tanaman semusim denga ntutupan lahan wortel dan rumput. Tingkat tutupan kanopi sedang dan tingkat tutupan seresah rendah, kerapatan sedang, dengan nilai C-Stok 1 ton/ha. Maka dapat diketahui bahwa penggunaan lahan hutan produksi lebih banyak menyimpan karbon daripada agroforestry, dan tanaman semusim hanya memiliki cadangan karbon 1 ton/ha. Pepohonan dapat menyimpan karbon dalam jumlah yang lebih banyak sehingga semakin banyak tutupan lahan berupa tanaman pohon, maka cadangan karbon di lahan tersebut semakin banyak. Cadangan karbon merupakan indikator pertanian berlanjut
  29. 29. 3.1.3 3.1.2.1. Indikator Pertanian Berlanjut dari Sosial Ekonomi Economically viable (keberlangsungan secara ekonomi)  Kemampuan masyarakat menghasilkan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dari bidang pertanian (perhitungan pendapatan usahatani)! Untuk komoditas tanaman yang paling dominan adalah tanaman wortel tetapi petani juga menanam tanaman seladah, gubis, tomat, dan lombok. Modal berasal dari uang sendiri dan tidak meminjam dibank, untuk bibit dan pupuknya semua serba beli. Untuk hasil panennya semuanya dijual ketengkulak dengan harga wortel Rp. 3000 per kilo, untuk komoditas tomat harga perkilonya Rp. 4000 untuk 1 kali panennya mengahsilkan 20ton perhektarnya sedangkan sealdah air, harga 1 iketnya 1 ribu. Harga yang dijual ketengkulak memang rendah karena komoditasnya sering terkena hama sehingga produksi rendah.  Penghasilan yang didapat masyarakat untuk pengembalian input produksi: Contoh :  tenaga kerja, Petani ini tidak memperkerjakan buruh tetapi lahan dikelola sendiri sehingga petani tidak mengembalikan input produksi  bibit, Untuk bibitnya petani membeli, dan harga bibit wortel Rp.60.000 per kalengnya. Untuk 1 ha nya bibit wortel memerlukan 150 kaleng. Penggunaan bibitnya yaitu dengan cara disebar setelah tanaman sudah tumbuh diambil dan dialihkan ke lahan dengan penggunaan jarak tanam terserah.  Pupuk Untuk kebutuhan pupuk tanaman wortel, menggunakan pupuk kandang dan pupuk kimia dengan cara membeli. Harga pupuk kandang 1 karung Rp. 13.000 3.1.2.2. Ecologically sound (ramah lingkungan)  Kualitas & kemampuan agroekosistem yang terjadi di lingkungan landscape (manusia, tanaman, hewan dan organisme tanah) dipertahankan dan ditingkatkan  Berdasarkan hasil wawancara kami dilapang, kemampuan dan kualitas agroekosistem masih terjaga dengan baik. Dibuktikan dengan masih tetap produktifnya lahan tersebut dengan ditandai dengan hasil panen yang masih cukup tinggi mencapai 20 ton/ha. Ini membuktikan bahwa kemampuan dan kualitas agroekosistem masih terjaga dengan baik. Dan untuk saat ini adalah perlunya menjaga keadaaan tersebut agar tetap mempunyai kualitas dan kemampuan yang tinggi di masa yang akan datang.
  30. 30.  Sistem pertanian berorientasi pada ramah lingkungan & keragaman hayati (biodiversitas).  Pada petani yang kami wawancarai, menyatakan bahwa dalam pembudidayaan tanamannya menggunakan pupuk kimia dan pupuk kandang, serta dalam penanggulangan hama dan penyakit. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa sistem pertanian yang dilakukan mulai berorientasi pada ramah lingkungan, namun dari sebagian besar inputnya masih terdiri dari bahan kimia yang tidak ramah lingkungan. Kemudian dilihat dari pola tanamnya, bapak tersebut menggunakan monokultur sehingga biodiversitas rendah.  Pelestarian sumberdaya alam yang dilakukan oleh masyarakat  Petani disana terlalu individualis, bahkan tidak adanya kelembagaan pada masyarakat setempat, sehingga rendahnya teknologi yang diterima oleh masyarakat tersebut tidak ada penyuluhan. Hal itu menyebabkan masyarakat disana kurang peduli pada lingkungan sekitarnya, sehingga mereka tidak melakukan pelestarian sumber daya alam, mereka hanya terpaku pada pertanian mereka sendiri tanpa memperdulikan pertanian sekitarnya.  Minimalisasi resiko-resiko alamiah yang mungkin terjadi di lapang  Dilihat dari kondisi lahan yang terdapat pada daerah pengamatan masih banyaknya masalah-maslah yang timbul seperti halnya banyaknya lahan terbuka membuat resiko-resiko alami seperti banjir, erosi, dan longsor dapat terjadi. Namun pembukaan lahan tersebut dilakukan oleh masyarakat atau petani setempat. Dan mereka kurang menyadari akan bahay-bahaya yang mungkin terjadi karena pengaruh perlakuan mereka sehingga membuat minimalisasi resiko-resiko itu sangat kurang. 3.1.2.3. Socially just (berkeadilan = menganut azas keadilan)  Kebutuhan dasar sebagai pengelola pertanian  hak-hak  Penggunaan fungsi lahan pertanian Kondisi penggunaan fungsi lahan disana kurang sesuai karena para petani menanam tanaman semusim sedangkan kondisi didaerah tersebut memiliki kelerengan yang sangat curam sehingga lebih cocok ditanami tanaman tahunan agar dapat mengendalikan laju erosi dan longsor  Keanekaragaman, kepemilikan& melestarikan keanekaragaman hayati Keanekaragaman hayati sudah cukup baik karana dalam satu lahan terdapat beberapa macam tanaman sehingga dapat mengurangi seangan hama dan penyakit  Pemuliaan & pengembangan  Saling menukar & menjual benih di masyarakat
  31. 31. Tidak terjadinya penjualan atau tukar benih kesesama masnyarakat petani karena petani langsung menjual ketengkulak dari kota  Memperoleh informasi pasar (harga & kuantitas Demand –Supply)  Memiliki karakter yang humanistik (manusiawi), artinya semua bentuk kehidupan baik tanaman, hewan dan manusia dihargai secara proporsional  Mereka hanya memperhatikan sistem pertanian yang berbasis pada keuntungan ekonomi dan kurang memperhatikan tentang kesehatan lingkungan sehingga seakan-akan membuat rasa keadilan terhadap aspek lingkungan sangatlah kurang.  Martabat dasar semua mahluk hidup dihormati  Dalam ekosistem seluruh makhluk hidup memiliki peran dan fungsi masingmasing, yang semuanya akan menjadi penting dalam suatu rantai kehidupan oleh karena itu keberadaannya perlu dilestarikan dan dijaga sehingga semua makhluk hidup memiliki hak untuk dihormati untuk menjalankan peran dan fungsinya. 3.1.2.4. Culturally acceptable (berakar pd budaya setempat)  Selaras/sesuai dengan sistem budaya yg berlaku  Karena masyarakat memiliki sifat individualisme yang tinggi mereka tidak menganut pada sistem budaya yang ada sehingga mereka menetapkan sendiri peraturan-peraturan untuk mereka, hal ini diperburuk dengan tidak adanya sosialisasi dari pemerintah setempat.  Hubungan serta institusi yang ada mampu menggabungkan nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti kepercayaan, kejujuran, harga diri, kerja sama dan rasa kasih sayang.  Adanya hubungan serta intitusi yang ada yaitu sebuah kelompok tani tetapi kegiatan ini tidak pernah berjalan dikarenakan masyarakat disana individualis sehingga para petani kurangnya berkomunikasi dan berinteraksi antar masyarakat petani disana selain itu belum terjadi penyuluhan ke petani sehingga petani kurang dalam berdiskusi yang menyebabkan sulit untuk menerapkan teknologi baru pada petani dalam mengolah lahannya.  Fleksibel atau luwes, yang berarti bahwa masyarakat pedesaan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usahatani yang berlangsung terus.  Masyarakat setempat memang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi usaha tani yang terus berlangsung, dapat dilihat dari cara pola tanam mereka dalam merotasi komoditas di lahan pertanian mereka pada waktu tertentu, sehingga mampu mencegah degradasi pada lahan pertanian dan dapat mencegah menurunnya produktivitas yang dihasilkan. Dapat dilihat juga dari
  32. 32. banyaknya petani yang memiliki ternak dan pekerjaan sambilan untuk mengantisipasi kondisi usahatani yang tidak menentu. Hasil Wawancara Tanaman yang paling banyak di dusun kekep yaitu wortel, seladah, gubis, tomat, Lombok. Lahan yang dimilikinya adalah lahan sendiri. Tidak ada lahan yang disewakan. Digarapnya lahan itu juga digarap oleh pemiliknya sendiri. Untuk bibitnya petani membeli, harga bibit wortel Rp.60.000 per kalengnya. Untuk 1 ha nya bibit wortel memerlukan 150 kaleng. Penggunaan bibitnya yaitu dengan cara disebar. Jarak tanam yang digunakan petani yaitu terserah. Untuk pupuknya menggunakan pupuk kandang dan pupuk kimia dengan cara membeli. Harga pupuk kandang 1 karung 13 ribu. Hama yang menyerang tanaman wortel dibasmi dengan menggunakan pestisida setiap 3 hari sekali. Modal pestisidanya sebesar Rp.500.000 untuk 20 drum. Stelah wortel dipanen, ada sisa-sisa daun yang nantinya akan dimasukkan kelahan dan di uruk untuk menjadi kompos. Untuk komoditas tanaman yang paling dominan adalah tanaman wortel. Untuk modalnya semua milik sendiri, maksutnya tidak pinjam ke bank. Dan untuk bibit dan pupuknya semua serba beli. Untuk hasil panennya semuanya dijual. Untuk 1 kali panennya mengahsilkan 20ton perhektarnya. Sedangkan untuk komoditas tomat, harga perkilonya 4 ribu. Harga yang ditengkulak rendah karena jumlah tanamannya rendah. Untuk sealdah air, harga 1 iketnya 1 ribu. Komoditasnya sering terkena penyakit. Untuk masalah yang dihadapi selain terkena hama, penurunan produksi juga ada, itu terjadi pada musim hujan yang mengakibatkan produksi turun dan harganya pun juga turun. Semua hasil panennya dijual ke pasar dengan menggunakan mobil. Bapaknya tidak ada lagi pekerjaan selain petani. Untuk bencana longsor belum pernah terjadi. Banyak penebangan pohon yg terjadi. Untuk penyuluhannya tidak ada, kelompok tani ada tapi tidak pernah berjalan, dikarenakan masyrakat disana sangat individualis. Untuk pengairan menggunakan irigasi secara gentian. Sumbernya dari sungai berantas.
  33. 33. 3.2 Pembahasan Umum 3.2.1 Keberlanjutan Sistem Pertanian di Lokasi Pengamatan Indikator Keberhasilan Plot 1 Plot 2 Plot 3 Produksi 4 2 3 Air 3 3 Karbon 1 2 Hama 3 3 3 Gulma 3 Rerata Note : v = kurang; vv= sedang; vvv = baik; vvvv = sangat baik. Plot 4 3 1 2 Plot 1 = Perkebunan Pinus , Plot 2 = Agroforestri,Plot 3 = Tanaman semusim, Plot 4. Permukiman Table di atas merupakan tabulasi data dari keempat plot pengamatan, yaitu Plot I, Plot II, Plot III, dan Plot IV. Dalam data tersebut ada indikator yang digunakan untuk menilai kondisi biofisik di keempat plot. Indikator tersebut meliputi produksi (ekonomi), kualitas air, karbon, hama (biodiversitas aspek HPT), dan gulma (biodiversitas aspek agronomi). Secara umum, BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan 4.2 Saran LAMPIRAN Sketsa Penggunaan Lahan di Lokasi Pengamatan Sketsa Transek Data-data lapangan lainnya Hasil Interview

×