Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Ringkasan Kitab Sistem Sanksi dan Hukum Pembuktian dalam Islam_Hudud

750 views

Published on

Ringkasan Kitab Sistem Sanksi dan Hukum Pembuktian dalam Islam_Hudud

Published in: Spiritual
  • Be the first to comment

Ringkasan Kitab Sistem Sanksi dan Hukum Pembuktian dalam Islam_Hudud

  1. 1. 1 | P a g e SISTEM SANKSI DAN HUKUM PEMBUKTIAN DALAM ISLAM MUQADIMAH SISTEM SANKSI  Uqubat disyariatkan untuk mencegah manusia dari tindak kejahatan [QS. Al-Baqarah (2): 179]  Sebagai zawajir (pencegah)  Kejahatan: perbuatan tercela (al-qabih) Al-qabih: apa yang dicela oleh Syari (Allah) Dosa = kejahatan Kejahatan (jarimah) bukan sesuatu yang fitri, profesi atau penyakit.  Tindakan melanggar peraturan, yang mengatur perbuatan-perbuatan manusia dalam hubungannya dengan Rabbnya, dengan dirinya sendiri, dan dengan manusia yang lain.  Syariat Islam telah menjelaskan hukum atas setiap peristiwa yang terjadi pada manusia.  Perintah & larangan tidak akan berarti tanpa adanya sanksi (sanksi dunia & sanksi akhirat) bagi orang yang melanggarnya. Sanksi akhirat: [QS. ar-Rahman (55): 41] [QS. al-Fathir (35): 36] [QS. at-Taubah (9): 34-35] [QS. Shād (38): 55-56] Walaupun demikian, mungkin saja Allah berkehendak untuk memberi ampunan [QS. an-Nisa (4): 48] bagi yang bertaubat.  Fungsi uqubat: pencegah (zawajir) dan penebus (jawabir)  Sanksi akhirat bagi seorang muslim akan gugur oleh sanksi yang dijatuhkan negara di dunia. “Kami bersama Rasulullah SAW dalam suatu majelis dan beliau bersabda: Kalian telah membai’atku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, kemudian beliau membaca keseluruhan ayat tersebut. “Barangsiapa di antara kalian memenuhinya, maka pahalanya di sisi Allah, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu sesuatu maka sanksinya adalah kifarat (denda) baginya, dan barangsiapa mendapatkan dari hal itu sesuatu, maka Allah akan menutupinya, mungkin mengampuni ayau mengadzab.” (HR. Bukhari dari ‘Ubadah bin Shamit ra)  Sanksi negara yang dijatuhkan atas dosa-dosa & kejahatan merupakan satu-satunya metode untuk melaksanakan perintah dan laranganNya. Contoh: 1) Allah memerintahkan kaum Muslim untuk menjaga hartanya. Bagi yang melanggar: hukum potong tangan 2) Allah melarang perzinaan [QS. al-Isra (17): 32]. Bagi yang melanggar: hukum jilid & rajam TINDAKAN-TINDAKAN YANG DIJATUHI SANKSI - Meninggalkan kewajiban (fardlu). - Mengerjakan perbuatan haram. - Menentang perintah & melanggar larangan yang pasti & telah ditetapkan oleh negara. Siksaan hanya diberikan kepada orang-orang yang bermaksiat. [QS. al-Jinn (72): 23], [QS. an-Nisa (4): 14] JENIS-JENIS UQUBAT 1) Hudud = sanksi atas kemaksiatan yang telah ditetapkan kadarnya (dan menjadi) hak Allah. Had: = kemaksiatan [QS. al-Baqarah (2): 187] = sanksi bagi kemaksiatan  Dalam hudud tidak ada pemaafan, baik dari hakim (qadliy) maupun dari si pendakwa.  Sanksi hudud telah ditetapkan oleh Syari secara spesifik.  Hudud tidak membedakan manusia (aspek manusianya). 2) Jinayat = penganiayaan/penyerangan terhadap badan, yang mewajibkan qishash (balasan setimpal) atau diyat (denda)  Dalam jinayat ada pemaafan (hak manusia)/ tidak ada hak Allah [QS. al-Baqarah (2): 178].  Pemaafan dari shahibul haq (pemilik hak) mewajibkan pengampunan dari hakim.  Jika pelaku penganiayaan dimaafkan oleh shahibul haq, maka mereka menggugurkan sanksi bagi pelaku penganiayaan tersebut.  Jinayat tidak melihat/ membedakan manusia.
  2. 2. 2 | P a g e 3) Ta’zir = sanksi bagi kemaksiatan yang di dalamnya tidak ada had & kafarat (Allah tidak menetapkan kafaratnya). = sanksi yang bentuknya tidak ditetapkan secara spesifik oleh Syari (Allah), atau sanksi bagi pelanggaran terhadap perintah & larangan Allah.  Ta’zir menerima pemaafan & pengguguran sanksi  Ta’zir mempertimbangkan aspek manusianya (apakah pelaku pernah melakukan pelanggaran sebelumnya, apakah orangnya berperilaku baik, dsb)  Kadar sanksi terhadap perkara ta’zir boleh berbeda disebabkan perbedaan kondisi & tabiat manusia 4) Mukhālafat = uqubat yang dijatuhkan oleh penguasa kepada orang yang menentang perintah penguasa (Khalifah, Muawin, Wali, dll)  Penentangan terhadap perintah Imam adalah kemaksiatan [QS. an-Nisa (4): 59].  Allah tidak menetapkan kadar sanksinya bagi pelanggaran ini.  Mukhālafat : pelanggaran terhadap perintah Allah untuk menaati penguasa.  Bentuk perintah & larangan penguasa hanya terbatas pada perkara yang ditetapkan Syara bagi penguasa tersebut untuk mengatur, sesuai pendapat & ijtihadnya. Contoh: pengaturan Baitul Mal, pembangunan pemukiman, dll.  Khalifah tidak boleh menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. HUDUD Definisi: sanksi yang telah ditetapkan kadarnya oleh syara bagi suatu tindak kemaksiatan, untuk mencegah pelanggaran pada kemaksiatan yang sama. Tindakan maksiat yang sanksinya termasuk bagian dari hudud: 1. Zina [QS. al-Isra (17): 32] 2. Liwath [QS. al-Araf (7): 80-81], [QS. Hud (11): 82] 3. Qadzaf [QS. an-Nur (24): 23] 4. Minum khamr [QS. al-Maidah (5): 90-91] 5. Pencurian [QS. al-Mumtahanah (60): 12] 6. Riddah (murtad) [QS. al-Baqarah (2): 217] 7. Hirabah (pembegalan) [QS. al-Maidah (5): 33] 8. Bughat [QS. al-Hujurat (49): 9]  Melanggar hudud adalah kemaksiatan.  Had dijatuhkan kepada orang yang baligh, berakal, mengerti hukum-hukum Islam, baik muslim maupun dzimmy.  Orang yang dikenai hudud tidak ditelentangkan/ditelanjangi pakaiannya.  Kaum lelaki dipukul dengan cambuk yang sedang (tidak baru/lama).  Tidak diperkeras pukulannya.  Pemukul tidak boleh mengangkat tangan hingga terlihat ketiaknya.  Wajib menjaga wajah, kepala, kemaluan, serta anggota badan yang mematikan jika dipukul (hanya memukul badan).  Perempuan dipukul dengan posisi duduk, sedangkan lelaki dengan berdiri. HAD (SANKSI) ZINA 1) Pezina ghairu muhsan (belum menikah) - Jilid 100 kali cambukan [QS. an-Nuur (24): 2] - Sanksi pengasingan (taghrib) hukumnya jaiz (boleh) Taghrib (pengasingan): mengeluarkan pezina dari tempat tinggalnya ke tempat yang sangat jauh jaraknya. - Khalifah boleh menjilid & mengasingkannya selama 1 tahun, atau menjilidnya saja tanpa mengasingkannya, tetapi Khalifah tidak boleh hanya mengasingkan pezina ghairu muhsan tanpa menjilidnya. 2) Pezina muhshan (telah menikah dengan ikatan nikah yang sah, merdeka, baligh, dan berakal) - Hukuman: rajam sampai mati - Boleh menjilid terlebih dahulu, kemudian dirajam. Boleh pula dikenai sanksi rajam tanpa menjilidnya. - Dalil: sunah Rasulullah SAW yang telah mengkhusukan al-Quran. Rasulullah SAW telah merajam Maiz bin Malik & al-Ghāmidiyyah. Dari Ubadah bin Shāmit: “Ambillah dariku, ambillah dariku, sungguh Allah akan menjadikannjalan bagi mereka. Jejaka & perawan jilidlah 100 kali dan asingkanlah selama 1 tahun. Untuk janda & duda jilidlah 100 kali dan dirajam.”
  3. 3. 3 | P a g e  Ketika zina telah terbukti, secepatnya had wajib dilaksanakan & tidak boleh diundur-undur, serta tidak boleh ada rasa belas kasihan dalam pelaksanaan hukumannya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Hindarilah hudud dari kaum muslim semampu kalian. Jika ada jalan keluar, maka mudahkanlah jalannya. Sesungguhnya Imam yang salah dalam pengampunannya lebih baik daripada Imam yang salah dalam menjatuhkan sanksi (uqubat).”  Bila orang yang hendak dijatuhi had sakit, maka had ditunda sampai ia sembuh. Jika kesembuhannya tidak dapat diharapkan, ia dipukul dengan pukulan ringan yang mampu ditanggungnya.  Pelaksanaan had untuk wanita hamil ditunggu sampai ia melahirkan & untuk wanita menyusui ditunggu sampai ia menyapih anaknya. PEMBUKTIAN ZINA Zina terbukti dengan salah satu dari 3 perkara: 1) Pengakuan dari pezina (cukup 1 kali) dengan bentuk pengakuan yang jelas, dan ia tidak menarik kembali pengakuannya sampai dilaksanakan had. Jika ia menarik pengakuannya atau melarikan diri, maka dibiarkan. 2) Perzinaan harus disaksikan (di tempat & waktu yang sama) oleh 4 orang lelaki Muslim yang adil & menyaksikan perzinaan itu dengan jelas. Jika salah seorang dari saksi itu tidak melihat secara rinci atau melihatnya namun tidak jelas, maka perzinaan dianggap tidak terbukti [QS. an-Nisa (4): 15], [QS. an-Nur (24): 13], [QS. an-Nur (24):4]. 3) Terjadinya kehamilan. Jika seorang wanita hamil sementara ia tidak memiliki suami, maka ia harus dikenai had.  Hudud harus ditinggalkan bila ada syubhat. Jika seorang wanita mengatakan bahwa ia hamil karena masuknya sperma ke farjinya tanpa perzinaan (baik karena perbuatannya maupun perbuatan orang lain); atau bila ia berkata bahwa ia telah dipaksa untuk berzina dengan paksaan yang berat, maka had tidak dijatuhkan.  Zina tidak bisa dibuktikan dengan persaksian dokter/bidan atas keperawanan seseorang, bahwa ia adalah janda, atau ia telah berzina, dll. HAD LIWATH (HOMOSEKSUAL) Liwath tidak termasuk jenis perzinaan. Zina : masuknya kelamin laki-laki ke dalam farjinya perempuan. Liwath : masuknya kelamin laki-laki ke dalam dubur laki-laki. Had liwath: dibunuh, baik pelaku maupun yang dikumpulinya, baik muhshan maupun ghairu muhshan. Dalil : sunnah & ijma sahabat  Ikrimah dari Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum (Nabi) Luth, maka bunuhlah keduannya.”  Para sahabat berbeda pendapat dalam menetapkan cara (uslub) untuk membunuh pelaku liwath. Meskipun demikian, mereka sepakat untuk membunuhnya.  Boleh membunuh dengan cara: dirajam, digantung, ditembak senapan, dijatuhkan dari atas bangunan yang paling tinggi kemudian dilempari batu, dibunuh dengan pedang kemudian dibakar, dll. PEMBUKTIAN LIWATH 1) Pengakuan 2) Kesaksian 2 orang laki-laki atau 1 orang laki-laki dan 2 orang wanita. Pelaku liwath harus baligh, berakal, dan tidak dipaksa. MENDATANGI WANITA PADA DUBURNYA  Hukumnya haram, tetapi tindakan itu bukan termasuk zina atau liwath [QS. al-Baqarah (2):222].  Farji adalah tempat yang diperintahkan Allah untuk didatangi oleh seorang laki-laki pada ayat-ayat tentang nikah & suami istri, karena kelahiran tidak akan terjadi kecuali mendatangi wanita pada farjinya.  Dari Khuzaimah bin bin Tsābit: “Rasulullah SAW melarang seorang laki-laki mendatangi istrinya pada duburnya.”  Dari Abu Hurairah: “Allah tidak akan melihat seorang laki-laki yang berjima dengan istrinya pada duburnya.”  Perbuatan ini termasuk ke dalam ta’zir, bukan hudud, karena syāra tidak menetapkan sanksi tertentu.  Imam wajib menetapkan sanksi yang menyakitkan, sehingga berfungsi sebagai pencegah.
  4. 4. 4 | P a g e HAD QADZAF  Qadzaf : melempar tuduhan  Menuduh wanita yang suci & terjaga adalah haram, kecuali ada bukti [QS. an-Nur (24): 4-5][QS. an-Nur (24): 23]. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah 7 macam keburukan. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasul, apakah itu?’ Rasul menjawab, ‘Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan dan menuduh wanita yang baik-baik (berbuat zina).”  Hukuman : 80 kali cambukan  Syarat penuduh : mukallaf & melakukan qadzaf atas kesadarannya.  Syarat muhshanat (wanita baik-baik yang tertuduh): - Berakal - Merdeka - Islam - Terjaga (tidak pernah berzina) - Terjaga dari dosa-dosa besar yang derajatnya sama dengan zina  Jilid terhadap penuduh dijatuhkan jika tidak ada bukti (4 orang saksi).  Syarat lain : tidak ada pengakuan dari wanita tertuduh.  Jika penuduh adalah suaminya, maka ada syarat lain, yaitu wanita tersebut menolak melakukan sumpah li’an. Jika istrinya tidak mau melakukan li’an (bersumpah), maka istrinya dirajam. HAD PEMINUM KHAMAR  Khamar telah diharamkan [QS. al-Maidah (5): 90-91]  Khamar= semua minuman yang memabukkan (menutupi akal), baik yang terbuat dari anggur, jagung, kurma, gandum, kopi, dll. Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah khamar, dan setiap yang memabukkan adalah haram.”  Pengharaman khamar tidak mengandung illat, tetapi disebabkan substansi (zat)-nya itu sendiri, sama seperti pengharaman bangkai [QS. al-Maidah (5): 3].  Pengharam khamar tidak boleh dicari-cari illatnya.  Kadar sanksi: 40 kali jilid (berdasarkan hadist) atau 80 kali jilid (berdasarkan ijtihad sahabat). Selain dua batasan ini tidak dibolehkan jumlah bilangan lain secara mutlak, karena sanksi peminum khamar termasuk pada hudud, bukan ta’zir.  Pembuktian: - Pengakuan - 2 orang saksi laki-laki. Salah seorang saksi cukup bersaksi bahwa ia melihat seseorang minum khamar, sedangkan yang lain melihatnya muntah. HAD PENCURIAN Had pencurian adalah potong tangan. “Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan potonglah tangan keduanya.” [QS. al-Maidah (5): 38] “Tangan dipotong karena mencuri ¼ dinar atau lebih.” (HR Bukhari) SYARAT DILAKUKAN HAD 1) Perbuatannya termasuk ke dalam definisi pencurian. Mencuri: mengambil harta dari pemilik/ wakilnya dengan cara sembunyi-sembunyi.  Jika seseorang merampas, menjambret, merampok, atau mengingkari barang titipan (wadi’ah), maka ia tidak disebut sebagai pencuri.  Orang yang meminjam barang kemudian mengingkarinya, maka ia dikenai sanksi potong tangan. 2) Harta yang dicuri mencapai nisab (1/4 dinar emas atau lebih). 1 dinar emas = 4,25 gram emas = 20 dirham perak ¼ dinar emas = 1,0625 gram emas = 5 dirham perak 1 dirham = 2,975 gram perak Standar nisab harus ditetapkan dengan emas, kemudian bisa dikonversikan ke dalam perak atau uang kertas. 3) Harta yang dicuri berupa harta yang terjaga, yang diizinkan Allah untuk dimiliki. Contoh: Pencurian khamar dan daging babi yang dimiliki seorang muslim, maka terhadap pencurinya tidak dipotong tangan. Namun jika ia mencurinya dari non-muslim, maka ia akan dipotong tangan karena Allah mengizinkan non-muslim untuk memiliki khamar dan babi.
  5. 5. 5 | P a g e 4) Ia mencuri dan mengeluarkannya dari tempat penyimpanan.  Jika pintu/tempat penyimpanan terbuka, maka ia tidak dipotong tangannya.  Jika seseorang mencuri buah dari pohonnya, maka ia tidak dipotong tangan, tetapi harus mengembalikan 2x lipat dari nilai buah yang dicurinya.  Al-hirz = istilah yang digunakan masyarakat untuk menyebut tempat penyimpanan, yang berbeda-beda bentuknya tergantung harta yang disimpan.  Syarat ini dikecualikan bagi orang yang meminjam barang lalu mengingkarinya. Jika seseorang mengingkari barang yang dipinjam, maka ia dikenai had potong tangan. 5) Harta yang dicuri bukan harta syubhat ditinjau dari sisi bahwa seseorang memiliki hak terhadap barang tersebut.  Seseorang yang mencuri harta bapak/anaknya, atau harta yang ia juga berserikat tidak dikenai potong tangan.  Pencuri tidak dikenai potong tangan bila harta yang diambilnya berasal dari Baitul Mal.  Suami/istri yang mencuri harta milik pasangannya tidak dikenai hukum potong tangan. 6) Pencurinya telah baligh, berakal dan terikat dengan hukum-hukum Islam, baik muslim maupun ahlu dzimmy. 7) Ditetapkan berdasarkan pengakuan pencuri (cukup 1 kali) dan/atau disaksikan 2 orang laki-laki yang adil, atau seorang laki-laki dan 2 orang perempuan. Saksi harus bisa mendeskripsikan pencurinya jika pencuri itu tidak hadir. Pencuri tidak cukup hanya dipotong tangannya. Ia wajib mengembalikan barang yang dicuri kepada pemiliknya. Jika barang tersebut cacat/rusak kandungannya, maka ia wajib mengembalikan dengan kadar yang senilai. PENCURI YANG TIDAK DIKENAI POTONG TANGAN  Dari Rafi bin Khudaij, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada potong tangan dalam (pencurian) tsamr dan katsar.” Tsamr : kurma yang masih menggantung di pohon Katsar : - Kurma muda yang dicuri agar matang di tempat lain - Mayang kurma & tandannya - Tandan kurma yang lebat (baik diambil dari tempat penyimpanan atau bukan)  Dari Hasan ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada potong tangan dalam pencurian makanan yang disiapkan untuk disantap.” (baik diambil dari tempat penyimpanan maupun bukan)  Dari Makhûl ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada potong tangan dalam (masa) kelaparan.” (karena paceklik/kemarau panjang) BATAS TANGAN YANG DIPOTONG “Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan potonglah tangan keduanya.” [QS. al-Maidah (5): 38]  Penafsiran kata “aidiyahuma” harus dikembalikan kepada makna bahasa. “Yad” (tangan): - Dari telapak tangan sampai ujung jari - Dari telapak tangan s.d akhir telapak tangan  Pencuri dipotong sampai pergelangan tangan (tangan kanan, menurut ketetapan Abu Bakar & Umar)  Setelah itu, tangan pencuri dicelupkan ke dalam minyak panas  mengandung illat, yakni agar tidak membunuh pencurinya. Boleh menggunakan selain minyak/ alat kedokteran.  Jika pencuri tidak memiliki tangan, atau jika tangannya dipotong dapat menyebabkan kebinasaan, maka hukum potong tangan tidak bisa dilaksanakan (tangan tidak boleh diganti dengan anggota tubuh yang lain).  Hukuman potong tangan tidak dilaksanakan pada wanita hamil/selesai bersalin dan orang sakit. Ia ditunggu hingga sembuh.  Jika pencuri telah dipotong tangannya kemudian mencuri lagi, maka ia dipenjara, karena pencuri yang mencuri kedua kalinya tidak dijelaskan sanksinya. HAD PENCURIAN ADALAH HAK ALLAH  Had pencuri tidak bisa digugurkan oleh pengampunan dari pemilik barang secara mutlak, baik sebelum atau setelah dilaporkan kepada penguasa.  Had bisa dijatuhkan tanpa adanya tuntutan atau laporan, sebagaimana had zina. Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa memebrikan pengampunan dengan tidak melaksanakan had dari had-hadnya Allah, maka ia telah menjadi pembangkang perintah Allah SWT.”  Pengampunan dari pemilik barang tidak berarti bisa menggugurkan had.  Laporan kasus pencurian boleh dilakukan oleh pemilik barang atau polisi.
  6. 6. 6 | P a g e HAD PEROMPAK/PEMBEGAL (HIRABAH) Yaitu orang yang melakukan teror di jalan, merampas harta benda orang yang lewat, dan menumpahkan darah (membunuh). Abu Dawud dan Nasaaiy mengeluarkan dari haditsnya Ibnu ‘Abbas, “Bahwa sekelompok orang merampas onta Rasulullah saw, kemudian mereka murtad dari Islam, membunuh penggembala ontanya Rasulullah saw yang mukmin. Rasulullah saw memerintahkan untuk mencari mereka dan akhirnya mereka berhasil ditangkap. Kemudian mereka dipotong tangan dan kakinya, dicongkel matanya. Ibnu ‘Abbas berkata, “Kemudian turunlah ayat muharibah ini.”  Ayat ini [QS.al-Maidah(5): 33-34] bersifat umum pada qutha’ al-thaariq, baik muslimin maupun orang-orang kafir. CARA PELAKSANAAN HAD Imam Syafi’iy meriwayatkan dalam musnadnya dari Ibnu ‘Abbas tentang qutha’ al-thaariq, “Jika mereka membunuh dan merampas harta benda, mereka dibunuh dan disalib, dan jika mereka membunuh tetapi tidak merampas harta benda, mereka dibunuh namun tidak disalib, jika mereka mengambil harta benda tepi tidak membunuh, tangan dan kaki mereka dipotong secara bersilang, dan jika mereka menteror di jalan dan tidak merampas harta benda, usirlah mereka.”  Sanksi berbeda-beda tergantung tindakan yang mereka lakukan. Tindakan perompak Sanksi Merampas harta benda Dipotong tangan kanan dan kaki kirinya Tangan dipotong di pergelangannya seperti pemotongan pada kasus pencurian. Sedangkan kaki dipotong pada persendian mata kakinya. Menteror di jalan Deportasi (nafiy), yaitu mengusir ke negeri yang jauh Membunuh Dibunuh Membunuh dan merampas harta benda Dibunuh dan disalib Salib dilakukan setelah pembunuhan, bukan sebelumnya. Tujuan penyaliban: untuk menakuti yang lain, bukan menyiksa. Lama waktu penyaliban: ditentukan pendapat imam (tidak dibiarkan sampai jenazah rusak & bau busuk) Sanksi bagi qutha’ al-thaariq terbatas pada 3 pelanggaran: pembunuhan, merampas harta benda, dan menteror di jalan. Jika tindakannya selain hal tersebut (misal hanya menghardik, melukai dua tangan/kaki/tulang rusuk/hidung, atau melakukan tindakan selain pembunuhan), maka tidak ada had; karena had adalah sanksi yang telah ditetapkan kadarnya & harus sesuai dengan nash.  Termasuk jinayat (hukum penyerangan terhadap badan, bukan jiwa) SYARAT QUTHA’ AL-THAARIQ 1) Terjadi di luar kota (tempat yang jauh dari datangnya pertolongan) 2) Pelaku membawa persenjataan untuk membunuh 3) Pelaku datang secara terang-terangan, mengambil harta benda dengan cara paksa, dan menetap di tempat-tempat mereka. Jika pelaku bertaubat sebelum tertangkap oleh Daulah, maka gugurlah hudud Allah bagi mereka, namun mereka harus mengembalikan haq-haq manusia (huquq adamiyyin), baik jiwa, pelukaan, atau harta benda. HAD ORANG BUGHAT Yaitu mereka yang memberontak kepada Daulah, memiliki kekuasaan dan kekuatan, menampakkan perlawanannya dengan persenjataan, serta mengumumkan perang (baik melawan khalifah yang adil maupun dzalim). Latar belakang: menyimpang dalam menakwilkan agama atau menghendaki harta. TINDAKAN KHALIFAH - Mengirim utusan (wajib hukumnya sebelum memerangi) dan menanyakan kepada mereka apa yang mereka tidak setujui dari penguasa. - Jika mereka menyebutkan kedzaliman penguasa, maka penguasa harus segera menghentikan kedzaliman itu. Utusan tersebut harus menjelaskan bukti, dan mengarahkan mereka ke arah kebenaran. (Islam memerintahkan kaum muslimin untuk memerangi penguasa, jika terlihat kekufuran yang nyata, atau jika penguasa tidak menerapkan hukum-hukum Islam. Mereka boleh memerangi penguasa untuk memenuhi kewajiban dari syara’) - Jika mereka kembali dari bughat, maka diterima, dan mereka tidak boleh ditangkap. Jika tidak, mereka wajib diperangi dengan penyerangan yang mendidik. Haram menyerang mereka dengan sesuatu yang dapat menyebabkan kematian massal, kecuali dalam kondisi mendesak (setelah alat-alat yang mendidik tidak berhasil).
  7. 7. 7 | P a g e - Tidak boleh mengambil harta & membunuh keluarga mereka, atau orang yang melarikan diri. Jika salah seorang diantara mereka menyerah, maka ia ditahan dan diperlakukan sebagaimana perbuatan orang yang melakukan dosa (bukan sebagai tawanan). PERSEKONGKOLAN AHLU BUGHAT DENGAN ORANG KAFIR Ahlu bughat diharamkan bersekongkol dengan orang kafir untuk memerangi kaum muslimin, baik secara individu maupun negara. 1) Jika ahlu bughat bersekongkol dengan kafir harbi yang mendapat jaminan keamanan dari ahlu bughat/membuat perjanjian dengan ahlu bughat untuk menjadi ahlu dzimmah. Tindakan: - ahlu bughat diperangi dengan peperangan yang bersifat edukatif. - kafir harbi yang bersama dengan ahlu bughat diperangi dengan pemerangan yang sebenarnya (jihad syar’iyyah) 2) Jika ahlu bughat bersekongkol dengan kafir musta’miin. Tindakan: - Jika kafir musta’min melakukannya karena pilihan sendiriMereka dianggap telah melepaskan perjanjiannya, sehingga berubah statusnya menjadi ahlu harbiy. - Jika kafir musta’min bersekongkol karena paksaan, takut siksaan dan ancaman  Mereka diperlakukan sebagai bughat, bukan perlakuan muharibin [layaknya kafir harbiy]. 3) Jika ahlu bughat bersekongkol dengan kafir dzimmiy  Mereka tetap dianggap sebagai ahlu dzimmah (baik persekongkolannya atas pilihan sendiri atau paksaan) karena perjanjian dengan mereka bersifat langgeng. Tindakan: kafir dzimmiy dikenai hukum bughat (diperangi secara edukatif, bukan agresi militer 4) Jika ahlu dzimmah memerangi Daulah sendirian, agar mereka bisa keluar dan melepaskan diri  Status mereka berubah menjadi ahlu harbiy dan diperangi secara agresif. HAD MURTAD Murtad = keluar dari agama Islam. Tindakan: diajak kembali pada Islam, jika tidak maka dibunuh. “Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akherat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [2:217]. Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Ikrimah berkata, “Dihadapkan kepada Amirul Mukminin ‘Ali ra orang-orang zindiq, kemudian beliau ra membakar mereka. Hal ini kemudian disampaikan kepada ‘Ibnu ‘Abbas dan ia berkata, “Seandainya saya, maka saya tidak akan membakarnya karena larangan dari Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Janganlah kalian mengadzab [menghukum] dengan ‘adzabnya Allah.” Dan aku [Ibnu ‘Abbas] akan membunuhnya, berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa mengganti agamanya [murtad] bunuhlah dia.” Diriwayatkan oleh Daruquthniy dan Baihaqiy dari Jabir, “Bahwa Ummu Marwan telah murtad. Rasulullah saw memerintahkan untuk menasehatinya agar ia kembali kepada Islam. Jika ia bertaubat [maka dibiarkan], bila ia tidak, maka dibunuh.”  Orang murtad dianjurkan untuk bertaubat dalam tempo tiga hari. Mohammad bin ‘Abd al-Allah bin ‘Abd al-Qaariy berkata, “Seorang laki-laki dari sisi Abu Musa menghadap kepada ‘Umar bin Khaththab. ‘Umar bertanya kepada lelaki itu, “Apakah ada khabar dari [daerah yang] jauh?” Lelaki itu menjawab, “Ada! Yakni, seorang laki-laki telah kafir setelah beragama Islam. “ Umar berkata, “Apa yang engkau lakukan?”Dia kudekati lalu aku membunuhnya.” ‘Umar berujar, “Mengapa tidak engkau penjara di rumahnya saja selama tiga hari, kemudian engkau beri makan roti setiap harinya, dan engkau anjurkan agar bertaubat, barangkali ia bertaubat, dan kembali ke agama Allah?. Ya Allah, sungguh aku tidak setuju tindakan ini, dan aku tidak ridlo karena ia menyampaikan kepadaku.” Daruquthniy dan Baihaqiy mengeluarkan , “Bahwa Abu Bakar menganjurkan wanita yang murtad untuk bertaubat. Wanita itu bernama Ummu Qurfah, dimana ia kafir setelah masuk Islam. Wanita itu tidak mau bertaubat, sehingga beliau ra membunuh wanita itu.”  Anjuran taubat selama tiga hari, bukanlah qayyid (batasan), namun hanya batas minimal yang umumnya memungkinkan terjadinya keinsyafan, jika belum, maka waktu untuk bertaubat bisa lebih panjang. Diriwayatkan bahwa Abu Musa memberi kesempatan taubat seorang yang murtad selama 2 bulan sebelum Mu’adz memerintahkan untuk membunuhnya.
  8. 8. 8 | P a g e  Taubat dari seorang murtad bisa diterima jika ia tidak mengulang-ulang kemurtadannya. Diriwayatkan oleh Asyram dari Thibyana bin ‘Umarah, “Bahwa seorang laki-laki dari Bani Sa’ad melintas ke masjidnya Bani Hunaifah, sedangkan mereka sedangkan mengagungkan Musailamah al-Kadzab. Kemudian laki- laki itu mendatangi Ibnu Mas’ud dan menceritakan kejadian tersebut. Kemudian mereka didatangi dan mereka disuruh bertaubat. Kemudian mereka bertaubat. Semuanya telah meninggalkan jalan keyakinan mereka kecuali seorang laki-laki, dimana Ibnu Nuwahah berkata kepadanya, “Sungguh aku melihat engkau satu kali, dan aku menduga bahwa engkau telah bertaubat, dan aku melihatmu mengulangi lagi perbuatanmu itu. Maka laki-laki tersebut dibunuh.”  Yang berhak membunuh orang murtad adalah Daulah dengan ketetapan dari penguasa. Jika seseorang membunuh salah seorang dari kaum muslimin dengan sengaja, maka ia wajib dikenai qishash, seperti bila seseorang membunuh orang kafir yang telah menjadi warga negara Daulah Islamiyyah.  Seorang muslim bisa menjadi kafir disebabkan empat hal: 1) I’tiqad [keyakinan] a. Menyakini dengan pasti sesuatu yang berlawanan dengan perintah & larangan Allah. Misal: menyakini bahwa Allah memiliki sekutu, meyakini al-Quran bukan Kalamullah. b. Mengingkari sesuatu yang sudah ma’lum dalam masalah agama. Misal: mengingkari jihad, keharaman khamr, hukum potong tangan, dll. 2) Syak [ragu-ragu] Yaitu keraguan dalam ber’aqidah, dan dalam semua hal yang dalilnya qath’iy. Misal: ragu bahwa Allah itu satu, ragu bahwa Muhammad saw adalah Rasulullah, ragu tentang sanksi jilid bagi pezina [ghairu muhshon]. 3) Qaul [ucapan] - Yaitu perkataan yang tidak mengandung penafsiran lagi. Misal, mengatakan bahwa al-Masih putera Allah, agama Islam adalah buatan Muhammad , dll. - Perkataan yang masih belum jelas, atau masih perlu dita’wilkan maka hal ini tidak memurtadkan pengucapnya, walaupun perkataannya mengandung 99% kekafiran, dan 1% keimanan. 4) Fi’l [perbuatan] - Yaitu perbuatan yang jelas tanpa perlu ta’wil lagi bahwa itu termasuk kekufuran. Misal: menyembah berhala, melakukan misa di gereja dengan tata cara misa ala gereja. - Perbuatan yang masih mengandung penafsiran, maka perbuatan tersebut tidak mengkafirkan pelakunya. Misal: masuk gereja (bisa jadi untuk sholat), membaca Kitab Injil (bisa jadi untuk mempelajarinya)  Saksi riddah: 2 orang laki-laki yang adil, atau 1 laki-laki dan 2 orang wanita, atau dengan pembuktian syar’iyyah, sebab tidak ada nash yang menyebutkan secara khusus tentang masalah ini. HARTA ORANG MURTAD  Seorang yang murtad kemudian dibunuh (karena menolak untuk kembali) maka hartanya digunakan untuk melunasi utang-utangnya, mengurusi jiwanya, memberi nafkah kepada isteri, dan orang-orang yang ada di bawah tanggungjawabnya. Jika ada sisa, maka harta sisa ini adalah harta fai’, dan dimasukkan ke dalam baitul maal.  Jika ia melarikan diri ke daar harb, harta-hartanya dibekukan dengan ketetapan dari negara. Daulah tetap berupaya agar ia bertaubat.  Abu Bakar memerangi orang-orang yang murtad, dengan menghalalkan darah dan merampas harta mereka (sebagai ghanimah). Seluruh sahabat menyetujui tindakan ini.  Bila penduduk suatu negeri murtad, dan maka negeri itu menjadi daar harb.

×