RESUME SEMINAR GUNUNG PADANG  
DI INTERNATIONAL CONFERENCE GOTRASAWALA  
5‐7 Desember 2013, Hotel Homann – Gd.Merdeka, Ban...
presentasi, Dr.Eng. Bagus Endar, anggauta TTRM yang Ketua Himpunan Ahli Geofisika Jawa Barat 
dan juga staf pengajar di Fi...
bawahnya  ditemukan  tertimbun  oleh  tanah  urug  yang  berumur  sekitar  10.000  tahun.    Kemudian 
umur karbon dari si...
sudah  berbudaya  tinggi.    Menariknya,  Situs  Gobekli  Tepe  juga  ditimbun  dengan  tanah  dan  batu 
dengan sengaja p...
Berikutnya  Prof.  Scoch  mengemukakan  teori  tentang  hancurnya  peradaban    Zaman  Es  karena 
bencana badai plasma ma...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Resume Seminar Gunung Padang pada Konferensi Internasional Gotrasawala

375 views

Published on

Prof. Dr. Anthony Reid, sejarawan kenamaan dari Australian National University yang menjadi “general keynote speaker”, mengawali acara seminar dengan presentasi umum tentang sejarah Indonesia, khususnya Jawa Barat. Salah satu wacana menggelitik yang dikemukakan beliau adalah perihal ketiadaan fakta tentang keberadaan tinggalan budaya tinggi di tanah Jawa Barat, tidak seperti misalnya Candi Borobudur di Jawa Tengah, sehingga menurut beliau kebudayaan leluhur Jawa Barat dianggap “Low Culture”. Mudah‐mudahan apabila nanti keberadaan monumen agung yang masih terpendam di bawah Situs Gunung Padang sudah terungkap jelas maka budaya leluhur tanah Jawa Barat tidak lagi dianggap tertinggal.
Gunung Padang menjadi tema utama acara seminar Gotrasawala yang perdana ini. Sehari sebelum seminar, pada tanggal 5 Desember 2013, diselenggarakan acara “Field Trip” atau ekskursi lapangan ke Situs Gunung Padang di Cianjur yang diikuti oleh semua peserta dari manca negara dan lokal.
Seminar Gunung Padang pada tanggal 6 Desember, baru dimulai pada pukul 13:30 setelah rehat Sholat Jumat dan makan siang. Acara ini diisi oleh tiga pembicara utama, yaitu: Dr. Ir. Danny Hilman Natawidjaja, M.Sc (TTRM), Mr. Graham Hancock dari Inggris (UK) dan Prof.Dr. Robert Schoch dari Boston University USA. Mr. Hancock adalah peneliti terkenal dari U.K. yang banyak menulis buku tentang kebudayaan kuno dan situs‐situs megalitik besar di seluruh dunia. Prof. Schoch adalah ahli geologi yang juga banyak mengunjungi dan meneliti situs‐situs megalitik besar di dunia termasuk
Piramid Giza dan Sphinx di Mesir dan Gobekli Tepe di Turki serta situs‐situs kontroversial seperti klaim Piramid di Bosnia dan bangunan megalitik besar yang tenggelam di dekat Pulau Yonaguni, perairan Okinawa, Jepang.

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
375
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
8
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Resume Seminar Gunung Padang pada Konferensi Internasional Gotrasawala

  1. 1. RESUME SEMINAR GUNUNG PADANG   DI INTERNATIONAL CONFERENCE GOTRASAWALA   5‐7 Desember 2013, Hotel Homann – Gd.Merdeka, Bandung  Disparbud, Pemerintah Provinsi Jawa Barat    Acara Seminar Internasional Gotrasawala, tgl 6 Desember 2013, dibuka oleh sambutan dari Wakil  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan dilanjutkan oleh Gubernur Jawa Barat.  Bapak Gubernur  mengungkapkan apresiasi dan optimismenya terhadap penelitian yang sudah dilakukan, khususnya  oleh  Tim  Terpadu  Riset  Mandiri  (TTRM)  dan  menyatakan  bahwa  kontroversi  pendapat  tentang  Gunung  Padang  tidak  boleh  menjadi  penghalang,  penelitian  harus  dilanjutkan  sampai  tuntas  sehingga terang untuk semua pihak.    Prof.  Dr.  Anthony  Reid,  sejarawan  kenamaan  dari  Australian  National  University  yang  menjadi  “general  keynote  speaker”,  mengawali  acara  seminar  dengan  presentasi  umum  tentang  sejarah  Indonesia, khususnya Jawa Barat.  Salah satu wacana menggelitik yang dikemukakan beliau adalah  perihal  ketiadaan  fakta  tentang  keberadaan  tinggalan  budaya  tinggi  di  tanah  Jawa  Barat,  tidak  seperti  misalnya  Candi  Borobudur  di  Jawa  Tengah,  sehingga  menurut  beliau  kebudayaan  leluhur  Jawa Barat dianggap “Low Culture”.  Mudah‐mudahan apabila nanti keberadaan monumen agung  yang masih terpendam di bawah Situs Gunung Padang sudah terungkap jelas maka budaya leluhur  tanah Jawa Barat tidak lagi dianggap tertinggal.  Gunung Padang menjadi tema utama acara seminar Gotrasawala yang perdana ini.  Sehari sebelum  seminar, pada tanggal 5 Desember 2013,  diselenggarakan acara “Field Trip” atau ekskursi lapangan  ke Situs Gunung Padang di Cianjur yang diikuti oleh semua peserta dari manca negara dan lokal.    Seminar  Gunung  Padang  pada  tanggal  6  Desember,  baru  dimulai  pada  pukul  13:30  setelah  rehat  Sholat Jumat dan makan siang.  Acara ini diisi oleh tiga pembicara utama, yaitu: Dr.Ir. Danny Hilman  Natawidjaja, M.Sc (TTRM), Mr. Graham Hancock dari Inggris (UK) dan Prof.Dr. Robert Schoch dari  Boston University USA.  Mr. Hancock adalah peneliti terkenal dari U.K. yang banyak menulis buku  tentang kebudayaan kuno dan situs‐situs megalitik besar di seluruh dunia.  Prof. Schoch adalah ahli  geologi yang juga banyak mengunjungi dan meneliti situs‐situs megalitik besar di dunia termasuk  Piramid Giza dan Sphinx di Mesir dan Gobekli Tepe di Turki serta  situs‐situs kontroversial seperti  klaim  Piramid  di  Bosnia  dan  bangunan  megalitik  besar  yang  tenggelam  di  dekat  Pulau  Yonaguni,  perairan Okinawa, Jepang.   Pembicara pertama, Dr. Natawidjaja, memaparkan metoda, data dan hasil‐hasil analisa penelitian  TTRM di Gunung Padang  secara cukup detil dan komprehensif selama sekitar satu seperampat jam.  Dalam  pemaparannya  disampaikan  bahwa  penelitian  di  Gunung  Padang  adalah  penelitian  murni  ilmiah  yang  komprehensif  mengintegrasikan  keahlian  dan  metoda  dari  berbagai  disiplin  keilmuan  termasuk  bidang  arkeologi,  geologi,  geofisika,  arsitektur  dan  kebudayaan.    TTRM  Khususnya   memperkenalkan aplikasi metoda dan perangkat teknologi terkini untuk pemindaian struktur bawah  permukaan  di  bidang  ilmu  kebumian,  yaitu:  teknik  georadar  (Ground  Penetration  Radar),  teknik  eksplorasi  geolistrik  (multi‐channel  resistivity  survey)  dan  teknik  seismik  tomografi.    Berbagai  penampang  citra  hasil  pemindaian  geofisika  ini  di‐‘kalibrasi’  jenis  tanah/batuan  penyusun  setiap  lapisan‐lapisannya  oleh  data  sampel  tanah/batuan  dari  hasil  pemboran  (“drill  cores”).    Dalam 
  2. 2. presentasi, Dr.Eng. Bagus Endar, anggauta TTRM yang Ketua Himpunan Ahli Geofisika Jawa Barat  dan juga staf pengajar di Fisika Bumi ITB, menjelaskan studi seismik tomografi di Gunung Padang  oleh  tim  yang  dipimpinnya.    Beliau  dengan  jelas  dan  tegas  menepis  tuduhan  miring  tentang  penggunaan  dinamit  dalam  survey.    Yang  dipakai  untuk  “source”  sumber  bunyi  survey  tomografi  adalah peledak kecil berbahan mercon dengan ukuran hanya 5 sentimeter.  Hasil survey tomografi  konsisten  dengan  hasil  survey  geolistrik  dan  georadar  tentang  keberadaan  struktur  bangunan  di  bawah permukaan.  Ir. Chaedar Saleh ikut berbicara  mewakili Bpk.Ir. Pon Purajatnika, ahli lanskap‐ arsitektur ITB yang banyak meneliti arsitektur sunda dan tinggalan purbakalanya, menguraikan aspek  lanskap dan model arsitektur dari situs Gunung padang dari hail pemindaian geofisika.  Kemudian Dr.  Undang  Darsa,  ahli  filologi  dan  budaya  Sunda  dari  Universitas  Pajajaran,    menguraikan  pandangannya  yang  menarik  tentang  hasil  penelitian  Gunung  Padang  ditinjau  dari  sejarah  dan  kebudayaan Sunda.  Beliau mengatakan bahwa pada penelitian tahap lanjutan nanti sangat penting  untuk  mempelajari  berbagai  simbol‐simbol  yang  banyak  terlihat  di  bebatuan  situs,  tentu  setelah  terlebih  dahulu  dipisah‐pisahkan  mana  yang  hasil  proses  alam  dan  mana  yang  dibuat  manusia.   Singkatnya, hasil penelitian TTRM nyata serta teruji secara ilmiah; Semua metoda dan teknik yang  dipakai dalam penelitian sangat aman, tidak ada yang merusak lingkungan apalagi situs.  Penelitian  TTRM di Gunung Padang adalah penelitian yang dilakukan secara sukarela oleh para anggautanya  tidak  didanai  oleh  pemerintah.    Dr.  Bagus  Endar    mengemukakan  bahwa  kegiatannya  di  Gunung  Padang adalah juga bagian dari kegiatan HAGI jabar dalam bakti dan pemasyarakatan ilmu.  Semua  kegiatan  penelitian  di  Gunung  Padang  dilakukan  sesuai  dengan  prosedur  dan  perizinan  yang  semestinya.  Dalam presentasi Dr. D.H. Natawidjaja menguraikan bahwa temuan‐temuan penting hasil penelitian  adalah sebagai berikut: 1. Situs punden‐berundak yang terdiri dari susunan batu‐batu kolom andesit‐ basaltik  (“columnar  joint  rocks”)  tidak  hanya  sebatas  3  hektar  di  atas  bukit  (seperti  yang  sudah  ditetapkan)    tapi  menutupi  seluruh  badan  bukit  setinggi  100  meter  dengan  luasan  mencapai  15  hektar,  bahkan  mungkin  lebih  besar  lagi;  2.  Di  bawah  permukaan  masih  ditemukan  lapisan  yang  tersusun dari batu‐batu kolom sejenis sampai kedalaman 15 meteran yang juga dibuat oleh manusia  (man‐made) bukan dalam posisi/kondisi alamiah; 3. Formasi batuan alamiah/geologi baru ditemukan  (ditembus bor) pada kedalaman sekitar 15 meter dari permukaan situs berupa tubuh batuan lava  basaltik masif yang tebalnya mencapai lebih dari 15 meter.  Namun geometri luar tubuh batuan lava   terlihat seperti sudah dipahat atau dibentuk oleh manusia.  Didalam tubuh batuan lava ini terlihat  ada lorong dan ruang  besar.  Lorong‐lorong dan ruang‐ruang di dalamnya kemungkinan besar juga  sudah  dibentuk  manusia  walaupun  mungkin  saja  asalnya  berupa  gua  lava  alamiah.    Singkatnya,  geologi  Gunung  Padang  memang  sisa  komplek  gunung  api  purba  berumur  jutaan  tahun  (Zaman  Tersier), asalnya berupa bukit lava alamiah yang terhampar di atas lapisan tufa gunung api; Namun  bukit  lava  itu  sudah  dipermak  menjadi  semacam  bangunan  dan  dari  zaman  ke  zaman  secara  bertahap ditutupi oleh susunan batu‐batu kolom berlapis‐lapis sampai setebal 15 meteran.  Yang  lebih  mencengangkan  lagi  adalah  umur‐umur  dari  lapisan‐lapisan  situs  tersebut.    Berdasarkan   analisa  umur  dengan  metoda  karbon  dating  yang  dilakukan  di  Badan  Tenaga  Atom  (BATAN)  dan  BETA  Analytic  USA  yang  terakreditisasi  secara  internasional,  situs  yang  terlihat  di  permukaan  didirikan di atas tanah yang berumur 2500 sampai 3500 tahunan (500‐1500 tahun SM).  Kemudian  lapisan  bangunan  susunan  batu  kolom  kedua  di  bawahnya  setebal  2‐4  meteran  mempunyai  campuran  tanah  dan  berdiri  di  atas  hamparan  pasir  kerikil  yang  mempunyai  kandungan  karbon  berumur 6700 sampai 7000 tahunan (4700 sampai 5000 tahun SM).  Lapisan batu kolom ketiga di 
  3. 3. bawahnya  ditemukan  tertimbun  oleh  tanah  urug  yang  berumur  sekitar  10.000  tahun.    Kemudian  umur karbon dari sisipan tanah pada lapisan ketiga ini berkisar dari 13.000 sampai 25.000 tahun lalu.   Apabila  keberadaan  bangunan  dan  umur‐umurnya  nanti  sudah  lebih  lanjut  diverifikasi  dan  diakui  dunia, maka situs Gunung Padang akan menjadi mahakarya agung tertua di dunia yang menjadi saksi  dari perkembangan sejarah peradaban yang hilang.    Di  bagian  akhir  presentasi  Dr.  Natawidjaja  menguraikan  tentang  temuan  di  Gunung  Padang  dari  kacamata  ilmu  pengetahuan  “mainstream”.    Dikemukakan  bahwa  pengetahuan  saat  ini  hanya  mengakui  bahwa  perkembangan  peradaban  di  dunia  baru  terjadi  sejak  sekitar  10.000  tahun  lalu.   Namun dilain pihak dunia ilmiah juga mengakui bahwa manusia modern sudah ada di bumi sejak  sekitar 195.0000 tahun lalu.  Artinya, dunia meyakini bahwa manusia tetap dalam zaman primitif,  hidup berburu dan tidur di hutan dan gua‐gua selama 185.000 tahun lamanya; Tapi tiba‐tiba sejak  10.000 tahun lalu tanpa sebab yang diketahui mendadak pintar.  Temuan konstruksi bangunan besar  yang lebih tua dari 10.000 tahun seperti di Gunung Padang tentu kontradiktif dengan dogma ilmiah  ini, namun kalau nanti sudah diakui  akan menjadi terobosan besar dalam dunia ilmu pengetahuan.   Dr.  Natawidjaja  menguraikan  bahwa    ‘kontradiktif’  ini  dapat  dijelaskan  oleh  konsep  baru,  yaitu  bahwa perkembangan peradaban/kebudayaan di dunia ini tidak menerus melainkan ‘siklus’ artinya  berkali‐kali terputus atau hancur oleh berbagai bencana alam katastrofi sehingga peradaban yang  sudah  maju  bisa  kembali  menjadi  primitif  lagi  dan  kemudian  harus  merangkak  lagi  untuk  maju  kembali.  Dengan kata lain sejarah awal perkembangan peradaban kita sejak 10.000 tahun lalu boleh  jadi bukan satu‐satunya peradaban  tapi hanya siklus peradaban setelah terjadi bencana katastrofi  ketika perioda “Younger Dryas” (12.900 – 11.600 tahun lalu)  di akhir Zaman Pleistosen.     Mr.  Graham  Hancock  dan  Prof.  Robert  Schoch  dalam  presentasinya  menyatakan  kekagumannya  terhadap Gunung Padang dan  hasil penelitiannya.  Dua‐duanya menyatakan setuju dengan instruksi  Bapak Gubernur Jawa Barat  bahwa  penelitian di Gunung Padang wajib dituntaskan dan didukung  penuh  oleh  pemerintah  dan  masyarakat.    Ketika  kunjungan  ke  Gunung  Padang,  mereka  sudah   berdiskusi  panjang  lebar  dengan  TTRM  di  lokasi.    Menurut  mereka  bukti‐bukti  ilmiah  dari  keberadaan struktur bangunan besar di bawah situs sangat meyakinkan.  Data umur hasil karbon  dating  pun  konsisten  dan  “valid”  secara  ilmiah  meskipun  mereka  menganjurkan  untuk  dilakukan  penelitian  umur  yang  lebih  detil  lagi.    Mereka  mengatakan  bahwa  Situs  Gunung  Padang  dapat  menjadi situs cagar budaya yang terpenting di dunia, dan akan menjadi pusat perhatian dunia ilmiah  sekaligus  menjadi  tujuan  wisata  manca  negara.    Mereka  mengungkapkan  sangat  berterimakasih   kepada panitia acara dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat karena sudah diundang datang sehingga  berkesempatan  melihat  sendiri  situs  Gunung  Padang  dan  hasil‐hasil  mutakhir  dari  penelitiannya.   Dengan  jujur  mereka  katakan  sangat  puas  karena  ternyata  lebih  baik  dari  yang  mereka  duga  sebelumnya.  Dalam seminar, baik Mr. Hancock dan Prof. Schoch, sama‐sama mempresentasikan fakta‐fakta dari  berbagai lokasi situs megalitik di seluruh dunia yang mendukung adanya peradaban maju sebelum  10.000  tahun  lalu.    Diantaranya  Mr.  Hancock  mempresentasikan  tentang  hasil  penelitian  di  Situs  Gobekli Tepe di Turki.  Gobekli Tepe adalah situs megalitik besar yang asalnya tertimbun tanah di  bawah  bukit,  mirip  dengan  Gunung  Padang.    Bangunan  Gobekli  Tepe  ini  juga  berlapis‐lapis  dari  zaman  ke  zaman.    Lapisan  yang  paling  tua  yang  sudah  dieskavasi  berumur  sekitar  11.600  tahun.   Situs ini terdiri dari batu‐batu masif besar yang terukir sangat bagus membentuk lingkaran‐lingkaran.  Singkatnya bangunan Gobekli tepe tidak mungkin dibuat oleh masyarakat berbudaya primitif tapi 
  4. 4. sudah  berbudaya  tinggi.    Menariknya,  Situs  Gobekli  Tepe  juga  ditimbun  dengan  tanah  dan  batu  dengan sengaja pada sekitar 9600 tahun lalu dengan alasan yang masih misterius, terutama karena  pekerjaan menimbunnya sama sulitnya dibanding dengan membangunnya.  Inilah satu‐satunya situs  bangunan kuno di dunia yang kisaran umurnya dapat disebandingkan dengan Situs Gunung Padang.   Kemudian  Mr  Hancock  juga  mempresentasikan  penelitiannya  di  Situs  Nan  Madol  di  Kepulauan  Mikronesia, di barat Lautan Pacific.  Situs Nan Madol disusun dari batu‐batu kolom persis seperti  batuan penyusun situs Gunung Padang.  Menurut penelitian, Situs Nan Madol yang berada di atas air  berumur sekitar Abad ke‐12 dan 13 Masehi, namun bangunan situs ini menurut penelitian Hancock  menerus sampai jauh ke kedalaman lebih dari 40 meter di bawah air, sehingga patut dicurigai bahwa  Nan Madol ini juga berlapis‐lapis seperti situs Gunung Padang dan boleh jadi mulai dibangun sejak  sebelum  10.000  tahun  ketika  permukaan  air  laut  masih  sekitar  50  meter  di  bawah  muka  airlaut  sekarang.  Selanjutnya Graham menguraikan berbagai data dan argumen tentang kemungkinan ada  peradaban  maju  pada  zaman  es  tapi  punah  oleh  bencana  ketika  perioda  Younger  Dryas.  Beliau  menguraikan hipotesa tumbukan meteor besar sekitar 12.900 tahun lalu (awal Younger Dryas) yang  menyebabkan kepunahan peradaban manusia. Beliau juga mengungkapkan tentang teka‐teki besar  dari konfigurasi situs kuno, termasuk piramid di Mesir dan situs candi Angkor Wat di Kamboja, yang  merepresentasikan  konfigurasi  matahari  dan  bintang‐bintang  ketika  akhir  Zaman  Pleistosen  tersebut.  Apakah hal ini untuk mengabadikan ingatan tentang hancurnya peradaban di bumi dahulu  kala?  Presentasi  Profesor  Schoch  berjudul  “Antiquity  of  Civilization:  Rethinking  The  Paradigm”.    Beliau  mempresentasikan  hasil  penelitiannya  di  situs  Sphinx  di  Piramid  Giza  Mesir.    Temuannya  membuktikan  bahwa  Sphinx  dibangun  pada  masa  sebelum  7000  tahun  lalu,  jauh  sebelum  zaman  kerajaan  Mesir  (Firaun)  yang  pertama.    Perkiraan  umur  ini  didasarkan  pada  bukti  bahwa  bagian  bawah Sphinx tererosi sangat intensif oleh media air bukan angin, sedangkan hal ini hanya dapat  terjadi sebelum 7000 tahun lalu ketika wilayah ini masih merupakan dataran hijau.  Setelah 7000  tahun wilayah ini sudah menjadi gurun yang sangat kering sehingga mustahil terjadi erosi air yang  demikian  intensif.    Penemuan  ini  sangat  kontroversial,  walaupun  banyak  didukung  oleh  para  ahli  geologi namun ditentang keras oleh para ahli arkeologi, khususnya para egiptologist yang bersikukuh  bahwa  Sphinx  dibangun  oleh  nenek  moyang  mereka,  Raja  Firaun.    Alasan  pertama  yang  dikemukakan  adalah  karena  kepala  Sphinx  adalah  kepala  Raja  Mesir,  namun  alasan  ini  ditepis  dengan  uraian  bahwa  proporsi  kepalanya  sangat  kecil  kalau  dibandingkan  dengan  badan  Sphinx  sehingga kemungkinan besar sudah dipahat ulang oleh Raja Mesir dari bentuk aslinya yang mungkin  sudah  rusak  parah.    Keberatan  berikutnya  yang  dikemukakan  oleh  para  arkeolog  adalah  karena  sebelum  5000  tahun  lalu  tidak  dikenal  ada  peradaban  maju  dalam  sejarah  Mesir  dan  sekitarnya.   Namun dengan ditemukannya Situs Gobekli Tepe yang berumur 11.600 tahun maka bantahan ini  sudah tidak relevan lagi.    Prof.  Scoch  mengemukakan  bahwa  aplikasi  survey  pemindaian  bawah  permukaan  seperti  yang  dilakukan oleh TTRM di Gunung Padang lazim dilakukan di dunia.  Penelitian arkeologi di Gobekli  Tepe juga dipandu oleh survey geofisika‐geologi bawah permukaan.  Beliau sendiripun melakukan  survey Seismik di lokasi Sphinx.  Dari survey ini ditemukan ada “chamber” atau ruangan besar di  bawah Sphinx yang diduga menyimpan informasi berharga tentang sejarah yang hilang.  Sayangnya  beliau tidak diijinkan untuk meneruskan penelitiannya oleh Pemerintah Mesir sampai sekarang. 
  5. 5. Berikutnya  Prof.  Scoch  mengemukakan  teori  tentang  hancurnya  peradaban    Zaman  Es  karena  bencana badai plasma matahari yang sangat dahsyat.  Cukup banyak penelitian ilmiah yang mengkaji  tentang  bencana  badai  matahari  yang  terjadi  pada  akhir  perioda  Younger  Dryas,  sekitar  11.600  tahun lalu.  Keberadaan bangunan batu megalitik dengan ruang‐ruang di dalamnya dicurigai sebagai  usaha manusia untuk tempat berlindung dari plasma badai matahari.  Selain itu ada banyak simbol‐ simbol  di  berbagai  situs  megalitik,  termasuk  manuskrip  pada  tablet  Rongorongo  di  Easter  Island,  yang mengindikasikan bencana plasma matahari.  Gempuran badai plasma matahari ini diduga dapat  melelehkan  es secara instan sehingga terjadi banjir besar global.  Penghilangan massa es dengan  tiba‐tiba  juga  dapat  mengganggu  kesetimbangan  isostasi  bumi  sehingga  memicu  banyak  letusan  gunung api dan gempa‐gempa bumi.  Ringkasnya, hasil seminar Gunung Padang pada acara Gotra Sawala adalah sebagai berikut:  1. Hasil penelitian di Gunung Padang didukung data‐data ilmiah yang sangat kuat bahwa Situs  Gunung  Padang  merupakan  bangunan  megalitik  pra‐sejarah  yang  luarbiasa,  besar  dan  berlapis‐lapis  sampai  puluhan  meter  di  bawah  permukaannya.    Tidak  ada  sanggahan/bantahan ilmiah dari peserta luar dan dalam negeri terhadap semua data dan  analisa  yang  diuraikan.    Juga  tidak  ada  teknik  dan  metoda  yang  dianggap  menyalahi  prosedur atau merusak (lingkungan) situs.  2. Temuan baru di Gunung Padang adalah bukti yang mendukung bahwa sejarah peradaban  manusia tidak hanya sebatas 11‐10 ribu tahun lalu saja.  Hal ini menambah kuat fakta‐fakta  yang  sudah  ditemukan  di  Sphinx,  Gobekli  Tepe,  Nan  Madol,  dan  lainnya  bahwa  ada  peradaban maju pada Zaman Es.  Peradaban kuno ini kemungkinan punah karena bencana  katastrofi yang terjadi pada perioda Younger Dryas atau fasa akhir Zaman Pleistosen.  Dua  hipotesa  menarik  yang  dikemukakan  adalah  adanya  tumbukan  meteor  besar  dan  badai  plasma matahari.  3. Para  pembicara,  peserta,  dan  juga  Wamendikbud  serta  Gubernur  Jabar  mendukung  penelitian di  Gunung Padang dilanjutkan sampai benar‐benar tuntas karena Situs Gunung  Padang berpotensi besar menjadi situs cagar budaya terpenting di dunia yang akan menjadi  kebanggaan tanah Jawa Barat dan Indonesia.   

×