Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Jurnalisme (bukan) ghibah

9,239 views

Published on

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Jurnalisme (bukan) ghibah

  1. 1. Jurnalisme (bukan) GhibahOleh Enjang Muhaemin TERKAIT dibukanya jurusan Ilmu Jurnalistik, teman seprofesi saya, sempat mengutarakan protes tetangganya, sebut saja Fulan. Ia berujar, “UIN itu perguruan tinggi Islam yang bertujuan mencetak para sarjana muslim. Tapi, mengapa sih harus membuka jurusan Jurnalistik?” Kira-kira, begitulah inti protes yang disampaikan tetangga teman saya itu. “Ini bahaya,” katanya lagi, “ bisa kontraproduktif. Nanti, sarjana-sarjananya bukan lagi terjun berdakwah, malah gemar meng-ghibah.”Protes Fulan itu, tentu tidak dapat disalahkan. Sebagai muslim yang baik, iakhawatir betul bila sarjana-sarjana jurnalistik ini, nantinya akan menjadi parapenyebar keburukan orang, para pembuka aib, dan menjadi agen ghibah yangjelas-jelas dilarang Islam.Ia tahu persis bahwa ghibah itu haram, dan dosanya juga amat berat. Bahkan,dalam Al-Hujuraat ayat 12, Allah mengibaratkan orang yang melakukan ghibah,tak ubahnya orang yang memakan bangkai saudaranya.Di dalam Sunan Abu Dawud, juga terdapat riwayat dari Anas bin Malik, bahwaRasulullah SAW bersabda: “Ketika aku dimi’rajkan, aku melewati suatu kaumyang kuku-kukunya dari tembaga. Dengan kuku-kukunya itu, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Maka aku berkata: ‘Siapakah mereka itu wahaiJibril?’ Jibril menjawab, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang melakukan ghibah,serta menjatuhkan kehormatan dan harga diri orang lain’.”Ghibah memang berbahaya, karenanya Islam melarang orang melakukannya.Berita-berita yang Fulan baca di koran, lihat di televisi, dan ia dengar dari radio,dipandang penuh dengan ghibah. Bahkan sebagiannya lagi, ada yang masukdalam kategori fitnah. Berita yang berwujud dakwah, bila tidak dikatakan tidakada, jumlahnya jauh amat sedikit. Karena itu, tidak usah heran, bila ia resah,jangan-jangan UIN akan terjerumus melahirkan para pengghibah, para pembukaaib orang, para penyebar isu, dan sejumlah aktivitas lainnya yang masuk dalamkelompok ghibah dan fitnah.Ghibah, Fitnah, dan DakwahDalam terminologi Islam, ada yang disebut fitnah, ghibah, dan dakwah. Dua yangpertama dijawab Rasulullah SAW dalam sebuah percakapan dengan sahabat,sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah ra.1|JURNALISME [BUKAN] GHIBAH
  2. 2. “Ghibah, apakah itu?” tanya seorang sahabat pada Rasulullah SAW. “Ghibahadalah memberitakan kejelekan orang lain!” Jawab Rasul. “Kalau keadaannyamemang benar?” “Jika benar, itulah ghibah. Jika tidak benar, itulah dusta!” tegasBaginda Rasul.Menyebarkan keburukan atau aib orang lain dan kalau keburukan itu memangbetul adanya disebut ghibah. Menyebarkan informasi dusta tentang keburukanorang lain disebut fitnah. Dosanya keduanya amat berat, dan tidak dibenarkandalam ajaran Islam. Bahaya keduanya biasa berdampak luar biasa. Bukan hanyaakan menimbulkan jatuhnya kehormatan dan harga diri yang dighibah ataudifitnah, tapi juga akan memunculkan kebencian, dendam, dan permusuhan.Itulah sebabnya Islam melarang para pemeluknya melakukan keduanya. Yangdiperintahkan Islam adalah terminologi yang ketiga, yakni dakwah. Apa itudakwah? Syekh Ali Mahfudz menegaskan, dakwah adalah mendorong manusiaberbuat kebaikan, dan mencegah manusia berbuat munkar. Dalam“Membumikan” Al-Qur’an, M. Quraish Shihab berpendapat, dakwah adalahseruan, atau ajakan kepada keinsafan, atau usaha mengubah situasi kepadasituasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat.Sejarah telah membuktikan, dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW telahberhasil mengantarkan umat manusia ke tingkat peradaban yang luar biasa.Sukses mengubah situasi, dari alam kegelapan ke alam yang terang benderang.Yuhriju-hum min ash-zhulumat ila an-nur.Mengubah satu situasi ke situasi lain yang jauh lebih baik adalah tugas yang kitaemban. Dalam Alqur’an, Allah menegaskan, “Serulah (manusia) kepada jalanTuhanmu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik, dan bantahlah merekadengan cara yang baik….” (QS.An-Nahl:125). Hikmah dimaknai sebagaiperkataan yang tegas dan benar, yang dapat membedakan antara yang hakdengan yang bathil.Mudah TerpelesetBila ghibah memunculkan permusuhan, dan fitnah menimbulkan kemarahan,maka dakwah justru melahirkan kemaslahatan. Islam melarang ghibah, danfitnah, tapi Islam memerintahkan dakwah. Jurnalisme yang benar, bukanjurnalisme ghibah, juga bukan jurnalisme fitnah. Yang benar adalah jurnalismedakwah. Ini yang diperintahkan Islam. Dan ini pula yang diharapkan lahir darijurnalistik UIN Bandung.Tugas yang diemban seorang jurnalis memang tidak ringan, juga tidak mudah.Disebut demikian, karena selain mengemban tugas yang berat, juga mudahterpeleset ke wilayah ghibah dan fitnah. Untuk tidak jatuh pada dua wilayah ini,seorang jurnalis harus super hati-hati. Selain harus piawai melacak data, memiliki2|JURNALISME [BUKAN] GHIBAH
  3. 3. wawasan yang luas, kemampuan menulis yang mumpuni, para jurnalis jugadituntut memahami dan mematuhi kode etik jurnalistik.Seorang jurnalis, tak ubahnya seorang juru dak dakwah, yang mengemban tugasmendorong manusia untuk berbuat baik, dan mencegah kemunkaran (amarma’ruf, nahyi munkar). “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umatyang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegahdari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran:110).Namun dalam realitasnya, tidak sedikit jurnalis yang justru jatuh terpeleset padawilayah ghibah, dan fitnah. Karena itu, tidaklah mengherankan bila kemudianmuncul kegelisahan, bukan hanya dari masyarakat awam, tetapi juga darikalangan jurnalis yang sudah malang melintang di dunia media. Ini seperti yangdirasakan H. Budhiana Kartawijaya dan H. Wakhudin, sehingga dari keduanyalahir paradigma pemikiran tentang jurnalisme inspiratif dan jurnalisme mabrur.Jurnalisme, seperti dikatakan Farid Gaban, pada dasarnya adalah serangkaiankaidah atau prinsip etik, dan metode untuk menggali kebenaran atau informasiserta menyampaikannya kepada khalayak. Kaidah etik berisi hal-hal yang bolehdan tak boleh dilakukan seorang jurnalis, yang biasanya lazim disebut Kode EtikJurnalistik. Adapun metode jurnalistik berisi tata cara penggalian kebenaran/informasi, dan menyajikannya kepada pembaca/pemirsa.Baik gagasan jurnalisme inspiratif maupun jurnalisme mabrur, yangdilatarbelakangi fenomena kian bertambahnya berita-berita yang tidak mendidik,bahkan sebagiannya berbau fitnah atau ghibah, adalah otokritik bagi parajurnalis, untuk kembali memposisikan jurnalisme sebagai paradigma penegakanamar ma’ruf nahyi munkar dengan cara yang benar, tepat, dan akurat. Jugamemperhatikan dampak ikutan atas muatan berita yang dipublikasikan.Jurnalisme bukanlah serangkaian kaidah dan kegiatan untuk menjatuhkan,mencederai kehormatan, tapi sebagai serangkaian upaya untuk memperbaikikeadaan ke arah yang lebih baik. Inilah yang dalam pemahaman saya sebagaijurnalisme dakwah. “Barang siapa yang melihat kemunkaran, maka hendaklah iamengubahnya dengan tangannya,” kata Rasulullah SAW. “Jika tidak mampu,hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya. Namun, jika masih juga tidakmampu, maka hendaklah mengubahnya dengan hatinya….”Mulia, tapi berat. Itulah tugas yang diemban para jurnalis dalam perspektifjurnalisme dakwah. Selain harus mendidik, juga mesti mencerahkan. Ia bukanhanya sekadar terjun menggali data, dan mengungkap fakta, lalumempublikasikannya, tetapi jauh di balik itu dilandasi spirit suci: amar ma’rufnahyi munkar, bukan amar munkar nahyi ma’ruf.3|JURNALISME [BUKAN] GHIBAH
  4. 4. Berita-beritanya terpilih dan terseleksi dengan ketat. Bukan berita esek-esek,juga bukan berita ecek-ecek. Tabayyun menjadi prinsip utama bersama prinsipetik lainnya seperti objektif, berimbang, dan benar, bukan informasi dusta ataubohong. Yang tidak kalah pentingnya, mempertimbangkan secara masak unsurkemaslahatannya. Jurnalis yang baik akan mampu membedakan mana dakwah,mana ghibah, dan mana fitnah. ***Penulis, Staf Pengajar Jurnalistik di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SunanGunung Djati Bandung.---------------------------------------------4|JURNALISME [BUKAN] GHIBAH

×