Laporan praktikum regenerasi

7,222 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
7,222
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
172
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Laporan praktikum regenerasi

  1. 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berudu atau kecebong adalah tahap pra-dewasa (larva) dalam daur hidupamfibia. Berudu eksklusif hidup di air dan berespirasi menggunakan insang, seperti ikan. Tahap akuatik (hidup di perairan) inilah yang membuat amfibia memperoleh namanya (amphibia = "hidup [pada tempat] berbeda-beda") kecebong ini juga salah satu contoh dari sekian banyak makhluk hidup yang mempunyai kemampuan dalam regenerasi organ. Ekor yang diputuskan tersebut akan tergantikan kembali melalui proses regenerasi organ yang memerlukan waktu tertentu dalam proses pembentukannya. Regenerasi merupakan proses yang begitu penting artinya bagi kehidupan makhluk hidup, tanpa regenerasi maka tubuh organisme tak akan ada yang sempurna. Dalam tubuh makhluk hidup terdapat kemampuan untuk melakukan regenerasi pada tingkat sel atau jaringan sedangkan pada hewan tertentu mampu melakukan regenerasi pada tingkat organ.Dalam melakukan regenerasi banyak faktor yang mempengaruhi, salah satu diantaranya yaitu pemberian nutrisi. Tingkat regenerasi akan cepat jika memperhatikan aspek makanan, makanan yang cukup dapat membantu mempercepat proses regenerasi. Regenerasi bila ditinjau lebih lanjut, ternyata terdiri dari berbagai kegiatan, mulai dari pemulihan kerusakan yang parah akibat hilangnya bagian tubuh utama. Misalnya penggantian anggota bagian badan sampai pada penggantian kerusakan kecil yang terjadi dalam proses biasa, misalnya rontoknya rambut. Regenerasi dapat juga berbentuk sebagai poliferasi dan diferensiasi sel-sel lapisan marginal.Pemanfaatan dunia sains yang berbasis teknologi sangatlah penting artinya dalam pengembangan berbagai peristiwa regenerasi.Kemapuan untuk melakukan regenerasi struktur yang hilang terdapat pada hampir semua makhluk hidup, paling tidak dalam suatu derajat tertentu.Pada vertebrata kemampuan meregenerasi struktur-struktur utama tubuh terbatas pada Urodella yang dapat mengganti anggota badan atau ekor yang hilang.Ada juga pada beberapa Icertulia yang dapat meregenerasi bagian ekor yang hilang seperti kecebong. Regenerasi tidak sama pada bagian organisme. Hubungan antara kedudukan sistematik hewan dengan daya regenerasinya belum begitu diketahui. Kelas ampibi , memiliki daya regenerasi yang rendah, biasanya terbatas pada bagian ekor yang lepas atau rusak. Proses regenerasi yang efektif adalah pada masa embrio hingga masa bayi, setelah dewasa kemampuan regenerasi ini terbatas pada sel atau jaringan tertentu saja. Namun tidak demikian
  2. 2. dengan bangsa avertebrata dan reptilia tertentu, kemampuan untuk memperbaiki dirinya sangat menakjubkan hingga dia mencapai dewasa .Setiap hewan mempunyai kemampuan hidup yang bervariasi antara makhluk yang satu dengan yang lainnya. 1. 2 Rumusan masalah 1. Bagaimana reaksi regenerasi kecebong setelah diberikan perlakuan yang berbeda? 2. Bagaimana perkembangan ekor cicak yang telah diberi perlakuan yang berbeda? 3. Bagaimana perbedaan antara percepatan regenerasi antara kecebong dan cicak? 1.3 Hipotesis penelitian pertumbuhan ekor kodok lebih lambat yang diberi kaporit, sedangkan yang diair tawar cepat. 1.4 Tujuan Penelitian · 1. Mengetahui percepatan regenerasi kecebong dan cicak · 2. Mengetahui pengaruh dari perlakuan dengan cara memotong ekor miring dan tegak lurus 1.5 Manfaat penelitian Penelitian inidapat mengetahui regenerasi pada ekor kecebong dan cicak serta mengetahui percepatan regenerasi ekor kecebong dan cicak
  3. 3. BAB II KAJIAN PUSTAKA Proses perkembangan dalam metamorfosis direaktivasi oleh hormon spesifik, dan semua organisme berubah untuk mempersiapkan dirinya terhadap model kehidupannya yang baru. Perubahannya tidak selalu dalam satu bentuk saja (Husen1985).Metamorfosis pada katak menyebabkan pemasakan enzim hati, hemoglobin, dan pigmen mata, seperti halnya pada pembentukan ulang sistem syaraf, pencernaan, dan sistem reproduksi.Perubahan yang terjadi meliputi hilangnya gigi tanduk dan insang dalam, seperti halnya dalam penghilangan ekor pada berudu. Proses pembentukan seperti perkembangan otot dan kelenjar dermoid pada waktu yang sama juga terlihat dengan jelas. Ekor pedal mereduksi untuk pergerakan, sedangkan lengan belakang dan lengan depan berdiferensiasi. Alat sensori juga berubah, seperti sistem lateral yang berdegenerasi, telinga dan mata juga mengalami diferensiasi lebih lanjut. Telinga di bagian dalam berkembang, seperti halnya membran tympanium yang menjadikan karakteristik pada katak dan kodok.Membran niktitans dan selaput mata muncul pada katak dan kodok.Lebih dari itu, pigmen mata juga berubah.Foto pigmen utama utama pada retina berudu adalah porpiropsin.Pigmen berubah menjadi rodopsin pada katak dewasa untuk menyesuaikan diri pada kehidupan darat. Ekor akan mengalami regenerasi bila ekor tersebut putus dalam usaha perlindungan diri dari predator. Regenerasi tersebut diikuti oleh suatu proses, yaitu autotomi. Autotomi adalah proses adaptasi yang khusus membantu hewan melepaskan diri dari serangan musuh. Jadi, autotomi merupakan perwujudan dari mutilasi diri. Cicak jika akan dimangsa oleh predatornya maka akan segera memutuskan ekornya untuk menyelamatkan diri. Ekor yang putus tersebut dapat tumbuh lagi tetapi tidak sama seperti semula (kalthoff.1981) regenerasi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah temperatur, proses biologi dan faktor bahan makanan. Kenaikan dari temperatur, pada hal tertentu, mempercepat regenerasi. Regenerasi menjadi lebih cepat pada suhu 29,7o C. Faktor bahan makanan tidak begitu mempengaruhi dalam proses regenerasi. Regenerasi melalui beberapa tahapan, yaitu : 1. Luka akan tertutup oleh darah yang mengalir, lalu membeku membentuk scab yang bersifat sebagai pelindung.
  4. 4. 2. Sel epitel bergerak secara amoeboid menyebar di bawah permukaan luka, di bawah scab. Proses ini membutuhkan waktu selama dua hari, dimana pada saat itu luka telah tertutup oleh kulit. 3. Diferensiasi sel-sel jaringan sekitar luka, sehingga menjadi bersifat muda kembali dan pluripotent untuk membentuk berbagai jenis jaringan baru. Matriks tulang dan tulang rawan akan melarut, sel-selnya lepas tersebar di bawah epitel. Serat jaringan ikat juga berdisintegrasi dan semua sel-selnya mengalami diferensiasi.Sehingga dapat dibedakan antara sel tulang, tulang rawan, dan jaringan ikat. Setelah itu sel-sel otot akan berdiferensiasi, serat miofibril hilang, inti membesar dan sitoplasma menyempit. 4. Pembentukan kuncup regenerasi (blastema) pada permukaan bekas luka. Pada saat ini scab mungkin sudah terlepas.Blastema berasal dari penimbunan sel-sel diferensiasi atau sel-sel satelit pengembara yang ada dalam jaringan, terutama di dinding kapiler darah. Pada saatnya nanti, sel- sel pengembara akan berproliferasi membentuk blastema. 5. Proliferasi sel-sel berdiferensiasi secara mitosis, yang terjadi secara serentak dengan proses dediferensiasi dan memuncak pada waktu blastema mempunyai besar yang maksimal dan tidak membesar lagi. 6. Rediferensiasi sel-sel dediferensiasi, serentak dengan berhentinya proliferasi sel-sel blastema tersebut. Sel-sel yang berasal dari parenkim dapat menumbuhkan alat derifat mesodermal, jaringan saraf dan saluran pencernaan. Sehingga bagian yang dipotong akan tumbuh lagi dengan struktur anatomis dan histologis yang serupa dengan asalnya.(johan w.1992) Peristiwa regenerasi lain juga dihubungkan dengan metamorfosis. Hemoglobin berudu mengikat oksigen lebih cepat dan melepaskannya lebih lambat dibanding hemoglobin dewasa (Soeminto et al., 2000).Lebih dari itu, (Soeminto et al., 2000) menunjukkan bahwa pengikatan oksigen pada hemoglobin berudu, sedangkan hemoglobin pada katak menunjukkan peningkatan pengikatan oksigen pada saat pH naik (efek Bohr). Perubahan regenerasi lain pada metamorfosis beberapa katak adalah induksi semua enzim penting untuk memproduksi urea. Berudu, seperti kebanyakan ikan air tawar adalah ammonotelik (mengekskresikan amoniak).Kebanyakan katak dewasa adalah urotelik (mengekskresikan urea).Selama metamorfosis, hati berkembang, enzim dibutuhkan untuk mencipatakan urea dari karbondioksida dan amoniak. Enzim ini mendasari siklus urea, dan masing-masing muncul selama metamorfosis (manylom, 1994)
  5. 5. Faktor-faktor yang mempengaruhi metamorfosis adalah adanya hormon tiroid, yang telah ditunjukkan Hormon tiroid menyebabkan inti mensintesis atau menginduksi aktivitas enzim hidrolitik, yaitu enzim yang menyebabkan jaringan atau sel menjadi lisis atau pecah. Enzim kolagonase telah dibuktikan dihasilkan selama proses regresi ekor berudu in vitro (Sounders, 1982). Faktor eksternal yang mempengaruhi metamorfosis adalah ada tidaknya sumber makanan dan adanya pemangsa berudu. Menurut (tjitrosoepomo.1984) kecebong dapat menumbuhkan kembali ekor, meningkatkan kemungkinan jaringan spesies lain yang rusak bisa diset ulang setelah cedera. Peran kaporit yang mengejutkan dalam regenerasi amfibi pada akhirnya memberikan cara untuk membujuk ke dalam jaringan organ manusia yang terputus atau rusak untuk regrowing. Tidak seperti katak dewasa, kecebong memiliki kemampuan untuk benar-benar tumbuh kembali secara lengkap jika terluka.Manusia mempertahankan beberapa kemampuan tersebut.Sampai sekitar umur 11 tahun, manusia bisa menumbuhkan kembali jari. Tetapi dengan bertambahnya usia, kemampuan untuk menumbuhkan jaringan berkurang. Dalam studi baru, para peneliti yang dipimpin oleh Michael Levin dari Tufts University, Medford, Massachusetts, menemukan kecebong yang tidak bisa mentransfer garam ke dalam sel menyebabkan tidak bisa menumbuhkan ekor kembali, sementara kecebong normal mampu secarasempurna.(Wilis, 1983) Regenerasi adalah menumbuhkan kembali bagian tubuh yang rusak atau lepas.Daya regenerasi paling besar pada echinodermata dan platyhelminthes yang dimana tiap potongan tubuh dapat tumbuh menjadi individu baru yang sempurna.Pada Anelida kemampuan itu menurun.Daya itu tinggal sedikit dan terbatas pada bagian ujung anggota pada amfibi dan reptil. Pada mamalia daya itu paling kecil, terbatas pada penyembuhan luka.(Bainkky, 1981) Kodok merupakan hewan amfibi bertubuh pendek, gempal atau kurus, berpunggung agak bungkuk, berkaki empat dan tak berekor. Untuk membedakannya dengan katak, kodok umumnya berkulit halus, lembab, dengan kaki belakang yang panjang.Sebaliknya, katak berkulit kasar berbintil-bintil sampai berbingkul-bingkul, kerap kali kering, dan kaki belakangnya pendek, sehingga kebanyakan katak kurang pandai melompat jauh. Kodok yang banyak menjadi hama atau predator benih ikan adalah jenis kodok kolam yang hidup di sekitar kolam, saluran air dan sungai, kodok kongkang gading di kolam dan telaga, kodok hijau di sawah-sawah; dan kodok tegalan di sawah dan tegalan ( Wikipedia, 2013)
  6. 6. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Alat dan bahan 1. Pisau silet 2. Kecebong 3. cicak 4. Air tawar 5. Gelas aqua (sebagai tempat media) 6. Label 7. Kertas grafik 3.2 Prosedur kerja 1. Sediakan gelas aqua 10 buah masing-masing diisi dengan 3 ekor kecebong yang sama besar, 2. Sebagai control, berikan label A1, A2, A3 pada 3 buah gelas aqua pertama. Untuk kecebong yang dipotong tegak lurus, berikan label B1, B2, B3 pada 3 buah gelas aqua kedua. Untuk kecebong yang dipotong miring berikan label C1, C2, C3 pada 3 buah gelas ketiga dan untuk cicak letakkan pada gelas aqua selanjutnya. 3. Ukurlah ekor kecebong dan ekor cicak sebelum dipotong dan sesudah dipotong 4. Amatilah daya regenerasi kecebong dan cicak tersebut yang mana lebih cepat regenerasinya selama 6 kali pengamatan.
  7. 7. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Tabel 1. Panjang ekor kecebong yang tidak dipotong (kontrol) Variable Panjang awal (cm) Hari ke-2 (cm) Hari ke-4 (cm) Hari ke-6 (cm) Hari ke-8 (cm) Hari ke-10 (cm) Hari ke-12 (cm) A1 0, 8 0, 9 0, 1 1,4 1,6 1,8 1,9 A2 0, 8 0, 9 0, 95 1,5 1,8 1,9 2,0 A3 0, 9 0, 95 1, 2 1, 7 2,0 2,0 - Tabel 2. Panjang ekor kecebongsayatan tegak lurus Variable Panjang awal (cm) Panjang stlh pemotongan (cm) Hari ke-2 (cm) Hari ke-4 (cm) Hari ke-6 (cm) Hari ke-8 (cm) Hari ke-10 (cm) Hari ke-12 (cm) B1 1, 0 0, 5 0, 9 1, 2 1,3 1,6 2,0 2,0 B2 1, 2 0, 7 1,0 1,3 1,4 1, 8 2,0 - B3 1, 4 0, 9 1,3 1, 5 1, 7 1, 9 - - Tabel3. Panjang ekor kecebong sayatan miring Variable Panjang awal (cm) Panjang stlh pemotongan (cm) Hari ke-2 (cm) Hari ke-4 (cm) Hari ke-6 (cm) Hari ke-8 (cm) Hari ke- 10 (cm) Hari ke- 12 (cm) C1 0, 9 0, 4 1,2 1,4 1,5 1,8 2,0 2,1 C2 1, 0 0, 5 1,2 1,4 1,6 1,9 2,1 - C3 1, 0 0, 5 0,9 1,5 1,8 1,9 - - Tabel 4. Panjang ekor Cicak Panjang awal (cm) Panjang stlh pemotongan (cm) Hari ke-2 (cm) Hari ke-4 (cm) Hari ke-6 (cm) Hari ke-8 (cm) Hari ke-10 (cm) Hari ke-12 (cm) 4 1, 7 1, 9 - - - - -
  8. 8. 4.2 Pembahasan Dari hasil percobaan kali ini dilihat pada kecebong dengan memotong ekornya, dengan perlakuan dipotong miring dan tegak lurus.Setelah diamati selama 12 hari, ternyata bagian ekor yang telah dipotong mengalami pertumbuhan. Ekor yang putus tersebut tumbuh tetapi tidak dapat tumbuh sama seperti semula terkadang ada yang tidak tumbuh atau sama seperti ukuran pertama. Tidak seperti katak dewasa, kecebong memiliki kemampuan untuk benar-benar tumbuh kembali secara lengkap jika terluka dengan mengantikan suatu jaringan yang disebut dengan blastema. Pada pengamatan kecebong mengalami regenerasi pada dihari pertama, kecebong yang dipotong tegak lurus mendapat hasil 0,9 cm , 1, 0 dan 1, 3 cm. Demikian pula dengan kecebong lainnya cuma satu yang mengalami pertumbuhan yang cepat yaitu kecebong 2 = 2,0 cm. Proses perbaikan pada regenerasi ekor kecebong adalah penyembuhan luka dengan cara penumbuhan kulit di atas luka tersebut. Kemudian tunas-tunas sel yang belum berdiferensiasi terlihat.Tunas ini menyerupai tunas anggota tubuh pada embrio yang sedang berkembang. Ketika waktu berlalu sel-sel dari anggota tubuh yang sedang regenerasi diatur dan berdiferensiasi sekali lagi menjadi otot, tulang dan jaringan lajunya yang menjadikan ekor fungsional.dengan catatan khusus karena baik secara struktur maupun cara regenerasinya berbeda (Balinsky, 1983). Regenerasi diatur dan berdiferensiasi sekali lagi menjadi otot, tulang dan jaringan lajunya yang menjadikan ekor fungsional. Proses regenerasi ini secara mendasar tidak ada perusakan jaringan otot, akibatnya tidak ada pelepasan sel-sel otot. Sumber utama sel-sel untuk beregenerasi adalah berasal dari ependima dan dari berbagai macam jaringan ikat yang menyusun septum otot, dermis, jaringan lemak, periosteum dan mungkin juga osteosit vertebrae.Sumber sel untuk regenerasi pada reptile berasal dari beberapa sumber yaitu ependima dan berbagai jaringan ikat (Manylov, 1994). Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan pada cicak dengan memotong setengah bagian ekornya dengan menggunakan silet, setelah diamati selama kurang lebih 12 hari, ternyata bagian ekor yang telah dipotong mengalami pertumbuhan, pada pengamatan pertama panjang ekor cicak bertambah 0, 2 cm. Ekor yang putus tersebut tumbuh tetapi tidak sama seperti semula. Pengamatan pada minggu kedua pasca amputasi mengalami pertambahan 0, 2 cm. Pengamatan pada pengamatan kedua atau hari ke 4, pasca amputasi yaitu mati, hal ini disebabkan kurangnya
  9. 9. perlakuan pada cicak. Perbandingannya sangat berbeda dengan data pribadi karena pada data pribadi lebih cepat tumbuh, namun pertumbuhannya tidak sempurna yaitu mati pada hari ke 4 Praktikum regenerasi yang menggunakan cicak dan kecebong sebagai bahan praktikum, menghasilkan data pertumbuhan ekor cicak dan kecebong yang berbeda-beda.Hal ini disebabkan karena daya regenerasi yang dimiliki oleh setiap individu berbeda-beda. Ekor cicak dan kaki kecebong yang terpotong akan sedikit demi sedikit tumbuh dan melalui tahapan-tahapan yang telah disebutkan. Ekor kecebong yang dipotong sel epidermisnya menyebar menutupi permukaan luka dan membentuk tudung epidermis apikal.Semua jaringan mengalami diferensiasi dan generasi membentuk sel kerucut yang disebut blastema regenerasi di bawah tudung.Berakhirnya periode proliferasi, sel blastema mengadakan rediferensiasi dan memperbaiki ekornya.Ketika salah satu anggota badan terpotong hanya bagian tersebut yang disuplai darah dan dapat bergenerasi.Hal inilah yang memberi pertimbangan bahwa bagian yang dipotong selalu bagian distal (Kalthoff, 1996). Proses regenerasi pada reptil berbeda dengan pada hewan golongan amfibi. Regenerasi tidak berasal dari proliferasi atau perbanyakan sel-sel blastema. Regenerasi pada reptil diketahui bahwa ekor yang terbentuk setelah autotomi menghasikan hasil dengan catatan khusus karena baik secara struktur maupun cara regenerasinya berbeda (Balinsky, 1983). Secara eksperimental pada ekor kecebong yang telah dipotong, ternyata hasil regenerasinya tidak sama dengan semula. Pertambahan panjang tidak sama dengan ekor yang dipotong. Ekor baru tidak mengandung notochord dan vertebrae yang baru hanya terdiri dari ruas-ruas tulang rawan.Ruas-ruas ini hanya meliputi batang syaraf (medula spinalis), jumlah ruas itu pun tidak lengkap seperti semula. Regenerasi melalui beberapa tahapan, yaitu : 1. Luka akan tertutup oleh darah yang mengalir, lalu membeku membentuk scab yang bersifat sebagai pelindung. 2. Sel epitel bergerak secara amoeboid menyebar di bawah permukaan luka, di bawah scab. Proses ini membutuhkan waktu selama dua hari, dimana pada saat itu luka telah tertutup oleh kulit. 3. Diferensiasi sel-sel jaringan sekitar luka, sehingga menjadi bersifat muda kembali dan pluripotent untuk membentuk berbagai jenis jaringan baru. Matriks tulang dan tulang rawan akan melarut, sel-selnya lepas tersebar di bawah epitel. Serat jaringan ikat juga berdisintegrasi dan
  10. 10. semua sel-selnya mengalami diferensiasi.Sehingga dapat dibedakan antara sel tulang, tulang rawan, dan jaringan ikat. Setelah itu sel-sel otot akan berdiferensiasi, serat miofibril hilang, inti membesar dan sitoplasma menyempit. 4. Pembentukan kuncup regenerasi (blastema) pada permukaan bekas luka. Pada saat ini scab mungkin sudah terlepas.Blastema berasal dari penimbunan sel-sel diferensiasi atau sel-sel satelit pengembara yang ada dalam jaringan, terutama di dinding kapiler darah. Pada saatnya nanti, sel- sel pengembara akan berproliferasi membentuk blastema. 5. Proliferasi sel-sel berdiferensiasi secara mitosis, yang terjadi secara serentak dengan proses dediferensiasi dan memuncak pada waktu blastema mempunyai besar yang maksimal dan tidak membesar lagi. 6. Rediferensiasi sel-sel dediferensiasi, serentak dengan berhentinya proliferasi sel-sel blastema tersebut. Sel-sel yang berasal dari parenkim dapat menumbuhkan alat derifat mesodermal, jaringan saraf dan saluran pencernaan. Sehingga bagian yang dipotong akan tumbuh lagi dengan struktur anatomis dan histologis yang serupa dengan asalnya (scribd, 2013) Regenerasi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah temperatur, proses biologi dan faktor bahan makanan.Kenaikan dari tempetatur, pada hal-hal tertentu dapat mempercepat regenerasi. Regenerasi menjadi cepat pada suhu 29,7 derajat Celcius. Faktor bahan makanan tidak begitu mempengaruhi proses regenerasi (Morgan, 1989). Dapat dilihat dalam hasil pengamatan terlihat bahwa regenerasi kecebong terjadi dengan sangat baik.Penyebabnya mungkin tempat mereka hidup tidak sebebas di air sungai sehingga kecebong menjadi stres yang dapat mempengaruhi kerja proses biologis di dalam tubuhnya, yang mengakibatkan pertumbuhan ekornya lambat. Hasil regenerasi dari organ tertentu dalam hal ini ekor kecebong tidak harus kembali seperti semula. Hal itu membuktikan bahwa sel de- differensiasi bersifatpluripotent, yakni dapat menimbulkan jaringan yang bukan darimana ia berasal.
  11. 11. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 1. Regenerasi dalam biologi adalah menumbuhkan kembali bagian tubuh yang rusak atau lepas 2. Regenerasi dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu: a. Temperature b. Makanan c. Sistem syaraf 3. Regenerasi merupakan suatu peristiwa yang terjadi atas beberapa tahap yaitu : a. Penyembuhan luka. b. Penyembuhan jaringan . c. Pembentukan blastoma. d. Morfologi dan redeferensiasi. 4. Pemberian nutrisi cukup berpengaruh pada pertumbuhan daya regenerasi ekor kecebong. 5.2 Saran Diharapkan kepada penulis agar lebih teliti lagi dalam melakukan penelitian ini
  12. 12. DAFTAR PUSTAKA Anonim1. 1992. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta. Balinsky, B. I. 1981. An Introduction to Embriology. W. B. Saunders Company, Philadelpia. Kalthoff, Klaus. 1996. Analysis of Biological Development. Mc Graw-Hill Mc, New York Kimball, John W. 1992. Biology.Addison-Wesley Publishing Company, Inc., New York. Sugianto, 1996.Perkembangan Hewan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Yatim, W. 1994.Reproduksi dan Embriologi.Bandung : Tarsito. Manylov, O.G.1994. Regeneration in Gastrotricha –I Light Microscopical Observation on The Regeneration in Turbanella sp.St.Petersburg State University. Russia. Tjitrosoepomo. 1984. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta. Willis, S. 1983. Biology. Holt Rinehart & Winston Inc, USA. Yatim, W. 1982. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito, Bandung.

×