BAB I
PENDAHULUAN
Bab ini akan menolong kita semua memperoleh kemampuan komunikasi antarbudaya
yang akan dibutuhkan agar k...
BAB II
PEMBAHASAN
A. Menjadi Seorang Komunikator Antarbudaya Yang Kompeten
Dalam memasuki dunia dan budaya baru, kita haru...
Agar komunikasi antarbudaya sukses, kita harus termotivasi untuk maju melintasi
batas pribadi dan berusaha mempelajari pen...
Meningkatkan Kompetensi Komunkasi Antarbudaya
Mengenal diri sendiri dan prasangka Anda merupakan elemen paling penting dal...
Menggunakan gerakan dengan penuh semangat
dan ekspresi wajah
5. Memberikan
kesan

Menyatakan pendapat dan perasaan dengan ...
Sedangkan yang dimaksud dengan empati dalam ruang lingkup budaya adalah kita
mampu membayangkan diri kita sendiri berada d...
tersebut menasehati Anda mengenai kebodohan tindakan Anda. Setelah beberpa menit
dikritik dan ditertawakan, mungkin kita a...
dan AS, orang-orang mendengar fakta dan informasi yang konkret. Dalam budaya
mendengarkan tidak langsung seperti Finlandia...
ketika berhubungan. Ada juga budaya yang menghargai keputusan yang
diambil dengan cepat.
- Memberikan umpan balik yang tid...
B. Memasuki Budaya Baru
Thomas Jefferson pernah menuliskan “Bepergian membuat seseorang lebih
bijaksana,namun sedikit baha...
Masalah yang dihadapi seseorang dalam beradaptasi dengan budaya baru
beragam.apakah anda seorang pengunjung,pengunjung jan...
sehari-hari: bagaimana memberi petunjuk, bagaimana membeli sesuatu, kapan dan
dimana untuk tidak merespon.
Walaupun defini...
literatur yang membahas masalah kejutan budaya biasanya dilewati oleh orang-orang dalam
empat tahapan.
Fase Kegembiraan
Di...
Twibell menyatakan orang merasa nyaman dalam budaya yang baru dan mampu bekerja
baik.kemampuan seseorang untuk hidup dan b...
pertama dalam mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dalam
budaya yang baru.

Akulturasi: Penyesuaia...
mempertahankan warisan budaya asli seseorang

atau sedikit rasa tertarik untuk

berhubungan dengan orang lain .
Etnosentri...
orientasi agama, system politik, nilai penting, dan kepercayaan, perilaku verbal dan nonverbal, organisai keluarga, etika ...
Bahwa anda harus meningkatkan kesadaran dan belajar untuk toleran dan menerima hal
ini dilakukan untuk mengembangkan etika...
seseorang. Dalam pandangan ini dijelaskan ada moralitas secara universal yang
ditetapkan oleh semua orang sepanjang waktu,...
mereka untuk memutuskan bagaimana mereka memperlakukan orang
lain,terlepas dari budaya orang tersebut. Persamaan inilah ya...
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam memasuki dunia dan budaya baru, kita harus siap dengan tantangan perbedaan
bahasa, keb...
DAFTAR PUSTAKA
Samovar, Larry A., Richard E. Porter, Edwin R. McDaniel. (2010). Komunikasi Lintas
Budaya Communication Bet...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Budaya konteks memasuki budaya baru

1,389 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,389
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
15
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Budaya konteks memasuki budaya baru

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN Bab ini akan menolong kita semua memperoleh kemampuan komunikasi antarbudaya yang akan dibutuhkan agar kita dapat hidup dan bekerja dalam masyarakat global. Mungkin kita nantinya bekerja di perusahaan yang melayani pelanggan multikultural sehingga kemampuan untuk bekerja dalam lingkungan kerja yang multikultural dan berinteraksi dengan orang-orang budaya lain dan mungkin bahasa lain akan sangat diperlukan untuk kesuksesan. Dengan pengetahuan tentang keberagaman budayadan kemampuan berkomunikasi antarbudaya akan menolong anda beradatasi dengan lingkungan pekerjaan. Dalam bab ini, akan memberikan pengetahuan, orientasi dan kemampuan yang akan Anda butuhkan ketika memasuki suatu budaya baru. Jadi pada baab ini akan dibahas mengenai: 1. Bagaimana menjadi komunikator antarbudaya yang berkualitas 2. Wawan mengenai dinamika ketika memasuki dunia yang baru 3. Pengetahuan tentang etika antarbudaya 1
  2. 2. BAB II PEMBAHASAN A. Menjadi Seorang Komunikator Antarbudaya Yang Kompeten Dalam memasuki dunia dan budaya baru, kita harus siap dengan tantangan perbedaan bahasa, kebiasaan dan perilaku yang tidak biasa dan mungkin aneh, dan keanekaragaman budaya baik dalam komunikasi verbal dan non-verbal, untuk mencapai kesuksesan. Untuk itu kita perlu mengembangkan kemampuan-kemampuan yang bisa membawa Anda untuk menjadi komunikator antarbudaya yang berkualitas. Sebelum kita membahas tekhniktekhnik dalam mengembangkan kompetensi komunikasi antarbudaya, kita akan membahas telebih dahulu apa itu kompetensi komunikasi antarbudaya dan 5 komponen utamanya. Kompetensi Komunikasi Antarbudaya Spitzberg menyatakan bahwa, kompetensi komunkasi antarbudaya adalah perilaku yang pantas dan efektif dalam suatu konteks tertentu. Sedangkan Kim menyebutkan bahwa kompetensi komunkasi antarbudaya merupakan kemampuan internal suatu individu untuk mengatur fitur utama dari komunikasi antarbudaya, yakni : perbedaan budaya dan kebiasaan, postur intergroup, dan pengalaman stres. Dari kedua pendapat ini, kita dapat menyimpulkan bahwa menjadi komunikator yang kompeten berarti memiliki kemampuan untuk berinterkasi secara efektif dan sesuai dengan anggota dari budaya yang memiliki latar belakang linguistik-kultural. Adapun 5 komponen kompetensi yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berinteraksi secara efektif dan pantas dalam budaya lain : 1. Motivasi untuk berkomunikasi Motivasi dalam kompetensi komunikasi antarbudaya maksudnya adalah keinginan pribadi untuk emningkatkan kemampuan komunikasi. Jadi, sebagai motivator yang penuh motivasi, Anda harus menunjukkan ketertarikan, berusaha keras untuk berbicara serta mengerti dan menawarkan bantuan. Dan selanjutnya kita menunjukkan bahwa kita ingin berhubungan dengan orang lain dalam level personal dan memiliki perspektif internasional ketika berinteraksi dengan orang-orang dari budaya yang berbeda. 2
  3. 3. Agar komunikasi antarbudaya sukses, kita harus termotivasi untuk maju melintasi batas pribadi dan berusaha mempelajari pengalaman-pengalamanorang yang bukan bagian dari kehidupan sehari-hari. 2. Pengetahuan yang cukup mengenai budaya Komponen pengetahuan dalam kompetensi komunkasi antarbudaya berarti kita menyadaridan memahami peraturan, norma, dan harapan yang diasosiasikan dengan budaya orang-orang yang berhubungan dengan Anda. Ada 2 jenis pengetahuan agar kita lebih koompten : a. Pengetahuan konten Meliputi pengetahuan mengenai topik apa, kata-kata, arti dst yang diperlukan dalam situasi. b. Pengetahuan prosedural, merujuk pada pengetahuan mengenai bagaimana membuat, merencanakan, dan menunjukkan pengetahuan konten dalam situasi tertentu. Kita memerlukan ke-2 pengetahuan ini dalam rangka menentukan strategi komunikasi yang tepat, protokol apa yang pantas, dan kebiasaan budaya apa yang perlu diamati. 3. Kemampuan berkomunikasi yang sesuai Sebagai komunikator antarbudaya yang kompeten kita harus dapat mendengar, mengamati, menganaisis dan menginterpretasikan serta mengapikasikan perilaku khusus ini dalam cara yang memungkinkan Anda untuk mencapai tujuan. Anda harus menyadari , bagaimana pun, bahwa kemampuan berkomunikasi yang sukses dengan suatu kelompok mungkin tidak pantas bagi budaya lain. 4. Sensitivitas Sensitivitas ini meliputi, sifat fleksibel, sabar, empati, keingintahuan mengenai budaya yang lain, terbuka pada perbedaan, dan merasa nyaman dengan yang lain. Komunikator yang sensitif memiliki rasa toleransi terhadap ambiguitas. 5. Karakter Karakter merupakan kesuluruhan pilihan seseorang. Bagaimana seseorang melaksanakan pilihan ketika berinteraksi dengan orang yang berbeda budayanya. Sifat yang sering diasosiakan dengan karakter adalah kejujuran, penghargaan, kewajaran, dan kemampuan untuk melakukan pilihan yang tepat, dan juga kehormatan, altruisme (sifat saling mementingkan kepentingan orang lain), ketulusan dan niat baik, 3
  4. 4. Meningkatkan Kompetensi Komunkasi Antarbudaya Mengenal diri sendiri dan prasangka Anda merupakan elemen paling penting dalam menjadi komunikator yang kompeten. Agar kita dapat merefleksikan diri dan mengetahui dari mana kita datang ketika memasuki interkasi antarbudaya, kita harus mempelajari 1. Sadarilah budaya sendiri Langkah pertama mengenal diri sendiri adalah mengenal budaya sendiri. Karean setiap orang melihat dunia dari kacamata budayanya sendiri 2. Amatilah perilaku pribadi Anda Tidak hanya mengetahui nilai, perilaku, dan persepsi budaya, tapi juga harus mengetahui sistem kepercayaan diri sendiri. Kita perlu mengidentifikasi prilaku pribadi, sterotip, prasangka dan pendapat kita miliki yang mejadi prasangka kita dalam mengenai dunia ini. Mengetahui apa yang kita suka atau tidak kita sukai dan tingkat ethnosentrisme pribadi. 3. Memahami gaya komunikasi sendiri Tanyakan pada diri Anda, “Bagaimanakah saya berkomunikasi, bagaimanakah orang melihat saya?”, jika kita memandang diri kita sendiri dalam suatu cara dan orang lain yang berinteraksi dengan kita memandang kita dengan cara dengan lain, masalah serius dapat muncul. Jika kita melihat diri kita sendiri sebagai orang yang sabar dan tenang, namun kita terlihat terburu-buru dan gelisah, maka kita akan kesulitan utnuk memahami mengapa orang mengapa orang memberikan suatu respons. Sebagai langkah awal, kita harus belajar mengenali gaya komunikasi (cara dimana kita menyatakan diri kita sendiri kepada orang lain) Gaya-Gaya Komunikasi Sifat 1. Dominan Kharakteristik komunikasi Sering bicara, memotong pembicaraan, dan menguasai pembicaraan 2. Dramatis Menggunakan bahasa yang ekspresif, kadang membesar-besarkan dan membumbui pembicaraan 3. Suka bertengkar Senang bergumen dan kadang bersifat memusuhi 4. Mengasyikkan 4
  5. 5. Menggunakan gerakan dengan penuh semangat dan ekspresi wajah 5. Memberikan kesan Menyatakan pendapat dan perasaan dengan cara yang tidak dapat dihilangkan 6. Rileks Tenang, nyaman dan kadang gelisah di antara lain 7. Penuh perhatian Pendengar yang baik, kadang memberikan semangat pada pembicara 8. Terbuka Memberitahukan informasi pribadi, menyatakan emosi, dan perasaan 9. Ramah Menawarkan umpan balik dan dukungan yang positif 4. Memonitor diri sendiri Setiap manusia memiliki cara berinteraksi yang unik. Untuk mengetahui bagaimana kita berkomunikasi bukanlah hal mudah. Akan janggal juga kita menanyakan kepada orang lain, apakh kita seorang yang rileks, suka bertengkar, ramah, asyik dsb. Kita harus sensitif terhadap umpan balik apa yang kita terima dan jujur dalam membaca umpan balik tersebut. Proses pengungkapan dan analisis diri, inlah yang disebut dengan memonitor diri sendiri. Keuntungan dari memonitor diri adalah menemukan perilaku yang pantas dalam setiap situasi, mengontrol reaksi emosi, menciptakan kesan yang baik, dan memodifikasi perilaku kita Anda berpindah dari suatu situasi ke situasi lain. Kunci dalam memonitor diri adalah dengan menyeimbangkan perhatian Anda terhadap lingkungan dan motivasi Anda sendiri, pengetahuan, dan kemampuan. 5. Berempatilah Empati secara luas dijelaskan sebagai bagian dari sensitivitas interpersonal dan kompetensi sosial. Empati merupakan kemampuan untuk merasakan, melihat secara akurat, dan memberikan respons secra tepat terhadap kepribadian, hubungan dan lingkungan sosial seseorang. Empati juga didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali dan memahami persepsi dan perasaan orang lain, dan dengan akurat menyatakan pemahaman melalui respons menerma. 5
  6. 6. Sedangkan yang dimaksud dengan empati dalam ruang lingkup budaya adalah kita mampu membayangkan diri kita sendiri berada dalam posisi yang secara budaya berbeda dan untuk mengalami apa yang dialami seseorang. Empati merupakan dasar komunikasi anatarbudaya, dan merupkan hal penting dalam komptensi komunikasi anatarbudaya yang kompeten dan efektif. Ada dua pandangan mengengai peranan empati dalam komunikasi antar budaya, a. Untuk berkomunikasi secara interpersonal, seseorang harus meninggalkan level prediksi kultural dan sosiologis menuju level psikologis. Dengan kata lain kita harus menggunakan empati karena mampu menekan poin analisisnya terletak pada kepribadian seseorang. b. Empati merupakan aktivitas yang kompleks yang terdiri dari berbagai variabel, yaitu komponen kognitif (berfikir dan berusaha melihat dunia dari cara padang orang lain), dimensi afektif (mengidentifikasikan emosi dan merasakan emosi dan pengalaman orang lain) dan elemen komunikasi (pemahaman dan perhatian melalui petunjuk verbal dan non verbal). Ada beberapa kharakteristik yang dapat menghalangi empati : 1. Latar belakang budaya yang berbeda orang dari budaya yang samaakan menampilkan kemampuan empati yang lebih besar dibandingkan dari mereka yang berasal dari budaya yang berbeda. Oleh karena itu, ketika berbicara dengan seseorang dengan budaya yang berbeda, Anda harus memiliki pengetahuan tentang budaya mereka untuk meningkatkan kemampuan empati. 2. Fokus diri yang konstan Fokus diri yang konstan merupakan halangan paling umum dalam berempati. 3. Stereotip mengenai gender, ras , dan budaya Kecendrungan untuk hanya memperhatikan gender seseorang, warna kulit dan nama keluarga dan dari informasi yang terbatas ini kita membuat asumsi mengenai sifat dan karakter seseorang. Ini merupakan cara berempati yang buruk. Karena ciri-ciri luar hanya menggambarkan sedikit ujung dari gunung es. 4. Prilaku melindungi diri Jika anda merasa orang lain sedang menghakimi atau menilai Anda, hal ini akan membuat Anda ragu-ragu untuk menawarkan informasi yang menghasilkan empati, misalnya : ketika sedang berbagi informasi pribadi kepada orang lain, ternyata orang 6
  7. 7. tersebut menasehati Anda mengenai kebodohan tindakan Anda. Setelah beberpa menit dikritik dan ditertawakan, mungkin kita akan memutuskan untuk tidak membagi informasi apapun dengan orang tersebut. Berikut ini cara-cara dalam mengembangkan keterampilan dalam berempati: 1. Perhatian Fokus selama berinteraksi merupakan langkah pertama dalam meningkatkan kemampuan dalam berempati. Sangat penting untuk mendengarkan pesan dan memperhatikan emosi spontan orang lain, dibandingkan fokus pada rencana sendiri. 2. Menyatakan empati Kita tidak bisa mengharapkan orang-orang dari budaya lain untuk memberikan Anda pesan verbal dan non verbal mengenai diri mereka jika kita tidak menanggapi usaha mereka. Dengan berperilaku lebih ekspresif, Anda akan mendorong orang tersbut untuk lebih ekspresif. 3. Terlibatlah hanya dalam perilaku yang dapat diterima budaya Empati dikembangkan dengan waspada dan tidak melakukan perilaku-perilaku yang bagi anggota subkultur tertentu merupakan hal yang kurang ajar atau penghinaan. Jadi untuk berhasil menjadi komunikator antarbudaya, Anda harus berempati, dan kemampuan tersebut dapat dikembangkan hanya jika Anda peka terhadap nilai-nilai budaya dan adat istiadat orang-orang yang berinteraksi dengan Anda. 4. Belajar menerima perbedaan Komunikator antarbudaya yang kompeten berpusat pada orang, sensitif serta baik, memiliki pengalaman dengan budaya yang berbeda, ingin belajar mengenai masalah budaya, dan mampu dalam proses tersbut. Hubungan antara empati dan penerimaan akan budaya berbeda adalah karena empati didasarkan atas penerimaan perbedaan dan membangunnya dalam cara yang positif. Mendengarkan Yang Efektif Kemampuan mendengarkan merupakan aktivitas komunikasi antarbudaya yang penting, karena mendengarkan dan budaya saling berhubungan. Dengan mendengarkan akan mengurangi kesalahpamahan. Kita akan membahas cara mendengarkan yang efektif :  Mendengarkan secara langsung dan tidak langsung. Perbedaan budaya dalam perilaku mendengarkan dapat dikategorikan atas langsung dan tidak langsung. Dalam budaya mendengarkan seperti Perancis, Jerman 7
  8. 8. dan AS, orang-orang mendengar fakta dan informasi yang konkret. Dalam budaya mendengarkan tidak langsung seperti Finlandia, jepang dan Swesi, orang mendengarkan dengan cara sangat berbeda. Tidak ada interupsi ketika seseorang berbicara dan kesopanan merupakan bagian dari perilaku mendengarkan.  Nilai dalam mendengarkan Nilai dari sikap diam dan mendengarkan lebih dihargai dibangdingkan berbicara. Dengan sikap diam kita akan lebih mendapatkan pengetahuan dari percakapan tersebut serta pemahaman yang jelas mengenai orang –orang yang berinteraksi dengan Anda.  Komunikasi non verbal dan mendengarkan. Tanggapan non verbal untuk apa yang kita dengar sering dipengaruhi oleh budaya. Di AS, suara “hmm-mm” atau uh-huh” merupakan tanda perhatian terhadap orang yang bericara. Kontak mata juga merupakan tindakan non verbal lainnya yang berpengaruh dalam proses mendengarkan.  Berikan umpan balik Umpan balik merupakan informasi yang dihasilkan oleh orang yang menerima pesan-informasi yang dikembalikan kepada orang yang mengirim pesan awal. Umpan balik dapat berupa verbal, non verbal atau keduanya dan mungkin disengaja atau tidak disengaja. Bagaimana mendorong orang lain untuk memberikan umpan balik : - Umpan balik non verbal Langkah pertama dalam meningkatkan umpan balik non verbal adalah dengan mengenali bahwa bentuk dan arti umpan balik terikat secara budaya. Sehingga jangan menyimpulkan bahwa umpan balik non verbal di suatu budaya memiliki arti yang sama di budaya lain. - Umpan balik verbal Perilaku verbal yang positif dapat mendorong umpan balik. Dalam budaya yang menghargai percakapan dan keterbukaan, menanyakan pertanyaan merupakan metode yang tepat untuk memancing umpan balik mengenai kualitas pesan Anda. - Sikap diam sebagai umpan balik Ada waktunya sikap diam digunakan sebaga umpan balik. Ada budaya yang membutuhkan waktu yang cukup lama, dan kita harus belajar menghargainya 8
  9. 9. ketika berhubungan. Ada juga budaya yang menghargai keputusan yang diambil dengan cepat. - Memberikan umpan balik yang tidak evaluatif Ketika kita memberikan umpan balik yang tidak evaluatif, artinya kita menahan diri untuk melakukan penilaian pribadi kita atau mencoba menghindari umpan balik negatif. Contohnya ketika kita tidak sependapat dengan orang lain. Hal yang dapat dilakukan adalah : 1. Sering memindahkan tubuh seolah-olah kita bosan dengan pembicaraannya 2. Postur tubuh yang sedang malas 3. Melakukan aktifitas lain (berbicara dengan orang lain, menulis) ketika orang lainsedang berbicara 4. Melipat tangan 5. Mengerutkan dahi dan cemberut Mengembangkan Fleksibilitas Komunikasi Pengertian daro kompetensi memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri (fleksibel) dan membiasakan perilaku komunikasi seseuai dengan situasi, orang lain, dan diri sendiri. Sehingga kita harus mampu memilih strategi yang sesuai untuk mengumpulkan informasi yang kita butuhkan mengenai orang lain supaya dapat berkomunikasi secara efektif dengan mereka. Komponen yang jelas dari fleksibilitas adalah bertoleransi terhadap ambiguitas. Ada beberapa perilaku selektif yang digunakan oleh komunikator antar budaya yang kompeten untuk meningkatkan rasa toleransi mereka terhadap ambiguitas : 1. Tunda keputusan untuk mendekati orang atau lingkungan baru hingga mendapatkan informasi yang cukup. 2. Gunakan uji coba dibandingkan formula yang sama sampai segala sesuatu menjadi jelas. 3. Jangan bersifat menilai, sabar, mengharapkan yang tidak diharapkan dan adptif 9
  10. 10. B. Memasuki Budaya Baru Thomas Jefferson pernah menuliskan “Bepergian membuat seseorang lebih bijaksana,namun sedikit bahagia”.pepatah ini menggarisbawahi bagaimana seseorang menyukai suatu hal yang sudah lazim.ketika anda meninggalkan hal yang biasa bagi anda dan lingkungan yang nyaman serta memasuki suatu budaya yang baru anda mungkin mengalami kegelisahan dan emosi ketika dua realitas dan konsep bertemu.anda seharusnya tidak terkejut bahwa berhubungan dengan budaya yang baru dapat menimbulkan tekanan mental dan kesulitan yang menyertainya.seperti yang dinyatakan oleh Spencer-Rodgers dan MCGovern “komunikasi dengan budaya yang berbeda kadang diasosiasikan dengan respon emosi yang kurang baik yang mengarah pada perasaan kikuk dan gugup.Smith dan Bond menawarkan kesimpulan yang lebih spesifik dari beberapa masalah ketika pindah ke lokasi yang baru: “ berpisah dari jaringan ,perbedaan iklim ,meningkatnya masalah kesehatan ,perubahan dalam materi dan teknik,kurangnya informasi mengenai rutinitas sehari-hari ( misalnya bagaimana cara berpergian antara kota A ke B) Jika anda menghabiskan akhir pecan anda di Paris dan satu minggu di Cancun,adaptasi budaya bukanlah suatu maslah.namum jika anda memasuki suatu budaya yang bau untuk waktu yang lama,anda haarus beradaptasi dengan budaya tersebut.sebelum kita membahas masalah yang diasosiasikan dengan adaptasi budaya,anda perlu menyadari bahwa ada perbedaan antara pengunjung sementara (sojourner) dan mereka yang akan tinggal lebih lama (settler,imigran).perbedaan ini relevan seperti yang ditulis oleh Bochner, “Karena pengalaman masing masing dan demikian juga dengan reaksi mereka bebeda.misalnya,dua kelompok memiliki perbedaan batasan waktu.settler(penghuni tetap) menghadapi proses dalam membuat komitmen yang permanen dengan masyarakat yang baru,di mana pengunjung ada di suatu temta untuk sementara saja walaupun hal ini berbeda antara satu hari dengan turis dan beberapa tahun dengan mahasiswa asing” 10
  11. 11. Masalah yang dihadapi seseorang dalam beradaptasi dengan budaya baru beragam.apakah anda seorang pengunjung,pengunjung jangka panjang atau berencana untuk menetap,anda akan mengalami berbagai ketidaknyamana psikologis dan fisik.pengalaman ini dikenal dengan istilah kejutan budaya (culture shock).jika anda merupakan pengunjung jangka pendek belajar mengenali dan mengatasi kejutan budaya selama periode kunjungan anda,biasanya merupakan penyesuaian yang cukup untuk membantu anda menyelesaikan masa tinggal anda.sebaliknya jika anda berencana untuk tinggal lebih lama atau menjadi penduduk tetap,anda harus mengatasi kejutan budaya dan beradaptasi dengan budaya yang baru.dalam diskusi berikut,kita akan membahas masalah kejutan budaya dan kemudian beralih ke masalah adaptasi budaya. Kejutan Budaya Dalam sebuah penelitian,Summer,Katherine,dan Patricia tiba di San Joe,Kosta Rika dengan bahagia.”kita akan memiliki banyak hal.kita bersemangat,berpikiran terbuka,dan penjelajah yang lapar untuk meneliti! Hal yang terpenting kita bersahabat,dan samam sama pergi menjelajah.namum selama masa penyesuaian ,banyak pendatang baru yang merasa takut dan diasingkan,tidak disukai bahkan dicurigai.jadi kegembiraan tiga penjelajah ini pun lenyap.”ketika kami berjuang umtuk menukarkan dollar ke mata uang Kosta Riska,kolones,berkomunikasi dalam keadaan yang nampaknya sederhana (misalnya,memesan sandwich dafri counter deli)dan berjalan di jalana Kosta Rika (yang banyak tidak diberi nama dan ditandai) ekspedisi raya kami kelihatan jauh dari kenyataan:kita adalah orang asing.sebagai tambahan kami mengalami kejutan budaya. Menjelaskan Kejutan Budaya Kejutan budaya merupakan keadaan mental yang dating dari transisi yang terjadi ketika anda pergi dari lingkungan yang anda kenal ke lingkungan yang tidak anda kenal dan menemukan bahwa pola prilaku anda yang dulu tidak efektif.Istilah “kejutan budaya” dikenalkan oleh antropolog Kalvero Orberg pada tahun 1960. Kalvero Oberg memberikan definisi yang detail mengenai fenomena ini dalam paragraf berikut: Kejutan budaya ditimbulkan oleh rasa gelisah sebagai akibat dari hilangnya semua tanda dan simbol yang biasa kita hadapi dalam hubungan sosial. Tanda dan petunjuk ini terdiri atas ribuan cara dimana kita mengorientasikan diri kita sendiri dalam kehidupan 11
  12. 12. sehari-hari: bagaimana memberi petunjuk, bagaimana membeli sesuatu, kapan dan dimana untuk tidak merespon. Walaupun definisi Oberg penting karena merupakan definisi pertama, namun definisi tersebut tidak menyebutkan bahwa kejutan budaya juga melibatkan gangguan yang hebat dari rutinitas, ego, dan gambaran diri. Perasaan ini tidak hanya dialami oleh pengunjung, pebisnis, pelajar, dan imigran, namun hal ini juga dapat dialami oleh individu yang mengalami tatap muka dengan anggota kelompok luar dalam budaya mereka sendiri. Reaksi Terhadap Kejutan Budaya Reaksi yang diasosiasikan dengan kejutan budaya bervariasi diantara setiap individu dan dapat muncul dalam waktu yang berbeda. Misalnya, seseorang yang terus menerus berhubungan dengan budaya lain mungkin merasa sedikit gelisah. Kejutan budaya menurut Smith, dapat menghasilkan sejumlah reaksi yang berpotensi mengakibatkan masalah. Paling tidak, kejutan budaya dapat menyebabkan anda merasa "putus asa", "lelah", dan "tidak nyaman'. Menurut Ryan dan Twibell, kejutan budaya membutuhkan beberapa penyesuaian sebelum anda akhirnya dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Kita harus menambahkan bahwa daftar ini tidak dimaksudkan untuk membatasi anda atau membuat anda khawatir ketika memasuki budaya yang lain, namun untuk menolong anda menyiapkan diri ketika anda mengalami reaksi tersebut. Permusuhan terhadap lingkungan yang baru Perasaan disorientasi Perasaan tertolak Sakit perut dan sakit kepala Rindu kampung halaman Merindukan teman dan keluarga Perasaan kehilangan status dan pengaruh Menyendiri Mengganggap anggota budaya yang lain tidak sensitif Tahap-Tahap Kejutan Budaya (Kurva-U) Walaupun ada banyak variasi dari bagaimana orang memberikan respons terhadap kejutan budaya dan jumlah waktu yang mereka butuhkan untuk menyesuaikan diri, banyak 12
  13. 13. literatur yang membahas masalah kejutan budaya biasanya dilewati oleh orang-orang dalam empat tahapan. Fase Kegembiraan Divisualisasikan sebagai ujung sebelah kiri dalam kurva-U, biasanya penuh dengan rasa gembira, harapan, dan euforia seperti yang diantisipasi seseorang ketika berhadapan dengan budaya yang baru. Marx menawarkan ulasan yang bagus dari bagaimana fase yang pertama ini dilihat oleh seseorang yang mengerjakan tugas manajerial internasional: Kehidupan barunya dianggap menyediakan kesempatan yang tidak terbatas dan sang manajer biasanya dalam keadaan gembira. Ada keterbukaan dan keingintahuan, tergabung dengan kesediaan untuk menerima apapun yang ada. Hal yang paling penting, dalam tahap ini penilaian tidak dikerjakan dan bahkan rasa tersinggung juga ditekan supaya dapat berkonsentrasi pada hal-hal yang menyenangkan dari pekerjaan, negara, rekan sekerja, makanan, dan lain-lain. 1. Fase Kekecewaan Dimulai ketika anda menyadari kenyataan dari ruang lingkup yang berbeda dan beberapa masalah awal mulai berkembang. Misalnya kesulitan beradaptasi dan komunikasi mulai timbul. Seperti yang dituliskan oleh Triandis, “fase kedua ini merupakan periode ketika kesulitan bahasa, tidak cukupnya sekolah untuk anak-anak, perumahan yang kualitasnya buruk, transportasi yang sesak, pusat perbelanjaan yang kacau balau, dan lain sebagainya mulai menjadi masalah. Fase ini kadang ditandai oleh perasaan kecewa, tidak puas, dan segala sesuatunya mengerikan. Hal ini merupakan periode kritis dari kejutan budaya. Orang-orang mulai bingung dan heran dengan lingkungan baru mereka. 2. Fase Awal Resolusi Ditandai oleh pemahaman yang diperolehdari budaya yang baru. Di sini orangorang secara bertahap membuat beberapa penyesuaian dan modifikasi dalam bagaimana mereka berhadapan dengan budaya yang baru. Peristiwa dan orang-orang sekarang kelihatan lebih dapat diprediksi dan tingkat stress sedikit. Fase berfungsi dengan efektif.dalam fase yang terakhir ini,berada pada ujung sebelah kanan atas dari kurva-U ,seseorang mulai mengerti emelem dari kunci budaya yang baru ( nilai,kebiasaan khusus,kepercayaanb,pola komunikasi,dan laian lain).pada tahap ini,Ryan dan 13
  14. 14. Twibell menyatakan orang merasa nyaman dalam budaya yang baru dan mampu bekerja baik.kemampuan seseorang untuk hidup dan berfungsi dalam budaya (yang lama dan yang baru) sering kali diiringi oleh perasaan gembira dan puas. Pelajaran Dari Kejutan Budaya Diskusi mengenai kejutan budaya didasarkan oleh dua premis .pertama setiap yahun jutaan orang berangkat keluar negri untuk bekerja,bepergian dan belajar.kedua banyak pengalaman pengalaman yang berakhir dengan sters,rindu kampung halaman dan kebingungan.”kejutan budaya merupakan tanda positif yang menandakan bahwa ekspariat menjadi terlibat dalam budaya yang baru dibandingkan terisolasi dalam mlingkup ekspariat saja.keterlibatan ini menolong orang orang untuk belajar mengenai diri sendiri dan pada saat yang sama juga budaya yang lain.dalam suatau studi yang mempelajari kejutan budaya Kawanao menyimpulkan bahwa kejutan budaya “memberikana kesempatan pada pengunjung untuk mempelajari diri mereka sendiri.dalam hal ini pengalaman kejutan budaya memiliki potensi yang kuat untuk membuat seseorang menjadi multikultur dan bikultur. Diluar kejutan Budaya Pengaruh dan pentingnya untuk beradaptasi pada budaya yang baru ini jelas dinyatakan oleh Kosic dan Phalet: Migrasi international menciptakan masyarakat yang berbeda secara budaya dan etnis.ketika orang orang dari budaya yang berbeda saling berinteraksi mereka tidak hanya mengalami system kepercayaan,nilai,kebiasaan dan prilaku yang berbeda,namun sayangnya juga prasangka yang satu dengan yang lainnya.kelihatannya hubungan social antara imigran dan penduduk local kurang padudan sering kali menunjukan rasa permusuhan yang kuat bahkan rasisme dibalik raasa toleransi.dalam debat politik dan debat umum imigran biasanya digambarkan sebagai pembuat masalah. Banyak dari orang mengalami kesulitan yang signifikan ketika beradaptasi dengan budaya tuan rumah.jadi masalah yang dihadapi seseorang yang mencoba beradaptasi dengan budaya yang beragam.sealama masa awal penyesuaian pendatang baru biasa merasa takut dan terisolasi,tidak disukai,dicurigai seperti yang kami jelaskan sebelumnya dalam kejutan buday.ulasan mengenai alasan dari perasaan ini merupakan langkah 14
  15. 15. pertama dalam mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dalam budaya yang baru. Akulturasi: Penyesuaian Terhadap Budaya Yang Baru Akulturasi seperti yang anda ketahui merupakan proses pembelajaran bagaimana untuk hidup dalam budaya yang baru.Berry menjelaskan akulturasi sebagai proses dari perubahan budaya dan psikologis yang terjadi sebagai akibat dari hubungan antara dua atau lebih kelompok budaya dan anggotanya.dalam tahap individual hal ini melibatkan perubahan dalam prilaku seseorang proses penyesuaian ini merupakan proses panjang yang membutuhkan banyak pengetahuan mengenai budaya baru.misalnya terbukti bahwa belajar bahsa akan menghasilkan hasil yang positif.pertama kali kita akan membahas isu bahasa,ketidak seimbangan dan etnosentrisme. Bahasa.jelaslah bahwa seseorang yang hidup dalam budaya yang baru ”harus menghadapi tantangan terhadap rintangan bahasa,kebiasaan serta praktik yang tidak biasa,dan variasi budaya dalam gaya komunikasi verbal dan non verbal dalam rangka mencapai pemahaman.mengutip kesulitan ini,Ralph Waldo Emerson menuliskan “tidak ada orang yang seharusnya bepergian sampai dia mengerti bahasa Negara yang ditujunya.kalau tidak,ia akan membuat dirinya sendiri menjadi bayi besar tidak memiliki harapan dan tampak konyol”.masalah ini sering dilihat diantara pengunjung kangka panjangdan imigran di Amerika Serikat yang tidak menguasai bahasa Inggris.mereka mengalami isolasi social,dan seperti yang dinyatakan oleh Leong dan Chou dipaksa ke dalam lingkungan tidak begitu membutuhkan kemampuan bahasa Inggris dan sedikit interaksi interpersonal. Ketidakseimbangan.adaptasi yang sukses menbutuhkan segala pengetahuan mengenai budaya tuan rumah dan bagaimana anda membuat pilihan yang tepat menyangkut pengetahuan tersebut.ketidakseimbangan ini diasosiaikan dengan adaptasi yang melahirkan dua isu yang saling bertentangan: 1.preferensi yang relative untuk mempertahakan budaya asli identitas seseorang 2.preferensi yang relative untuk berhubungan dengan anggota budaya tuan rumah.isu yang bertentangan ini mengarahn pada empat cara seorang pengunjung berpindah budaya ke yang baru.pertama,Asimilasi terjadi ketika imigran tidak ingin lagi mempertahankan identitas budaya asli mereka dan memilih bergabung dngan tuan rumah,kedua pemisahaan yang terjadi ketika imigran memegang teguh budaya asli mereka dan menolak bergabung dengan tuan rumah.bentuk paling akhir adalah marginalisasi yang terjadi ketika ada sedikit kemungkinan untuk 15
  16. 16. mempertahankan warisan budaya asli seseorang atau sedikit rasa tertarik untuk berhubungan dengan orang lain . Etnosentrisme.halangan akulturasi kadang tumbuh karena etnosentrisme yang mengarah pada prasangka yang pada gilirannya mengakibatkan kecurigaan,perrmusuhan bahkan kebencian.apa yang menarik mengenai etnosentrisme adalah bahwa hal tersebut mempengaruhu baik imigran maupun budaya tuan rumah..kunci dari adaptasi yang efektif adalahn kedua belah pihak untuk mengenali pengaruh etnosentrisme dan usaha untuk mengawasinya. Dinamika Stres-Adaptasi_Pertumbuhan. Dalam penelitian yangb terakhir,Kim telah mengembangkan model teoritis yang menunjukan proses penyesuaian budaya yang lebih kompleks dibandibgkan dengan model kurva-U dan kurva-W yang telah kita bahas sebelumnya.dari perspektif ini ketika memasuki budaya yang baru seseorang mengalami stress sebagai akibat hilangnya kemampuan untuk berfungsi secara normal,jadi ia menjadi stress ketika berhadapan dengan cara yang baru yang dibutuhkan untuk dapat berfungsi secara norma budaya yang baru yang dibutuhkan untuk dapat berfungsi secara normal,sehingga mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru melalui pngalaman yang berkelanjutan dari adaptasi stress,perspektif orangpun semakin luas, sehingga menghasilkan pertumbuhan pribadi. Strategi Adaptasi Buatlah Hubungan Pribadi dengan Budaya Tuan Rumah. Hubungan langsung dengan budaya tuan rumah mendorong dan memfasilitasi sukses tidaknya proses adaptasi dengan suatu budaya. Berteman merupakan cara terbaik untuk mengmbangkan hubungan dalam budaya tuan rumah. Penelitian membuktikan bahwa memiliki banyak teman dari budaya tuan rumah dibandingkan dengan hanya berhubungan dengan teman-teman ekspatriat, merupakan penentuan kepuasan yang penting. Pada saat yang sama, penting untuk berhubungan secara periodic dengan ekspatriat yang lain, sehingga anda dapat berbagi masalah dan penyelesaiannya serta menemukan kenyamanan dengan berbicara bahasa asli anda. Mempelajari Budaya Tuan Rumah. Salah satu tema utama adalah pandangan bahwa mengembangkan pengetahuan mengenai budaya lain merupakan langkah penting pertama dalam meningkatkan komunikasi antar budaya. Kesadaran budaya berarti pemahaman akan budayanya sendiri dan budaya orang lain yang mempengaruhi perilaku manusia dan perbedaan dalam pola budaya. Oleh karena itu, kami mendorong anda untuk mempelajari 16
  17. 17. orientasi agama, system politik, nilai penting, dan kepercayaan, perilaku verbal dan nonverbal, organisai keluarga, etika social, dan lain sebagainya dari suatu budaya. Berpartisipasilah dalam Kegiatan Budaya. Cara terbaik untuk mempelajari budaya yang baru adalah dengan berperan aktif dalam budaya tersebut. Hadirilah kegiatan sosial, religius, dan budaya. Jika mungkin, cobalah berinteraksi dengan anggota budaya tuan rumah tersebut. Dalam beberapa kesempatan, anggota dari budaya tuan rumah akan menyambut kesempatan untuk mempelajari. Anda ketika anda membagikan budaya mereka dengan anda. Reaksi Budaya Tuan Rumah Terhadap Imigran Sejauh ini kita telah membahas masalah yang dihadapi orang-orang yang memasuki suatu budaya baru untuk jangka waktu lama atau untuk tinggal menetap sebagai penduduk negara tersebut. Tingginya imigrasi dari orang-orang yang pindah ke negara dan budaya yang baru berbagai alasan, mulai dari kesempatan pekerjaan sampai pengungsi politik, telah mengakibatkan serangan balik terhadap imigrasi di mana anggota masyarakat tuan rumah merasa diserang, dikendalikan, dan kehilangan budaya. Di Amerika Serikat, banyak komunitas kecil yang secara historis lebih didominasi oleh orang kulit putih, beragama Kristen, dan berbicara dalam bahasa Inggris sekarang menemukan bahwa lingkungan tempat mereka tinggal sekarang ditempati oleh orangorang yang sedikit berbicara dalam bahasa Inggris, bukan Kristen, mengenakan pakaian aneh, dan mewakili sebagian besar latar belakang etnis dan ras. Dalam berbagai kesempatan, perubahan tersebut mengakibatkan serangan anti-imigran. Media berita kadang melaporkan perilaku anti-imigran ini dengan cerita mengenai tuntutan bahasa inggris yang ditetapkan sebagai bahasa resmi serta melarang anak-anak yang sekolah di sekolah umum mengenakan pakaian etnis dan mempermasalahkan tenaga kerja “murah” yang mengambil pekerjaan orang Amerika “asli”. Kita hanya dapat menyatakan bahwa ada kecenderungan orang-orang bereaksi dengan cara yang negative ketika mereka menganggap bahwa cara hidup mereka sedang diganggu atau diubah, terutama oleh gelombang orang budaya lain. Seperti yang dikatakan oleh Hogland, “Ketika mengalahkan dunia ini, pengaruh teknologi, perdagangan, dan komunikasi hanya sedikit yang menjadikan dunia ini tempat yang lebih toleran lagi.” Jika ingin berkomunikasi antar budaya yang sukses harus selalu dimulai dengan usaha untuk memahami karakter budaya dimana anda berinteraksi. Langkah kedua adalah penerimaan. 17
  18. 18. Bahwa anda harus meningkatkan kesadaran dan belajar untuk toleran dan menerima hal ini dilakukan untuk mengembangkan etika antar budaya pribadi. C. Etika Antarbudaya Jika berinteraksi dengan anggota dari budaya lain, bukan tidak biasa untuk menemukan diri dalam diskusi dimana ada ketidaksetujuan mengenai apa yang benar dan salah. Memutuskan bagaimana perasaan mengenai suatu posisi melibatkan penilaian yang mengandung implikasi etika dan berfokus kepada pertanyaan apa yang baik dan buruk ,pantas dan tidak pantas. Memikirkan suatu posisi juga mungkin membutuhkan pikiran tentang mereka dalam pengertian yang luas, memikirkan apa yang pantas bagi suatu masyarakat atau masyarakat global secara keseluruhan dibandingkan apa yang pantas bagi seseorang atau beberapa orang. Oleh karena itu, etika dapat dilihat sebagai refleksi dari keyakinan kita yang berakar dari kebudayaan.etika juga menyediakan petunjuk yang mempengaruhi perilaku individu ketika berkomunikasi dengan orang lain. Etika membantu dalam menentukan apa yang harus kita kerjakan, bagaimana kita harus bertindak dan bagaimana kita seharusnya berinteraksi dengan orang lain. Apa itu etika? Etika merujuk pada penilaian yang berfokus pada tingkat kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan kejahatan, dan kewajiban dalam perilaku manusia. Etika merupakan alat yang dapat digunakan ketika membuat pilihan moral yang sulit dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Pilihan-pilihan tersebut meilbatkan keseimbangan hak ketika jawaban yang „benar‟ tidak ditemukan. Pilihan-pilihan tersebut menjadi sulit ketika etika bertabrakan seperti yang biasa terjadi dalam interaksi antarbudaya. Ada beberfapa pendekatan mengenai setiap perfektif dalam etika dan mengidentifikasikan bagaimana kita menghadapi sebuah isu dan dimana pada akhirnya diri anda sendiri lah yang mengambil keputusan. 1. Fundamentalisme Pendekatan pertama dikenal dengan fundamentalisme (absolutisme moral). Pandangan ini mempercayai bahwa ada moralitas absolut yang kekal yang berlaku untuk semua orang, dimanapun dan tidak bergantung darin konvensi budaya 18
  19. 19. seseorang. Dalam pandangan ini dijelaskan ada moralitas secara universal yang ditetapkan oleh semua orang sepanjang waktu, dimana-mana. Jadi, orang-orang atau budaya yang berbeda dari atau mengikuti praktik diluar konsep moral universal ini sedang melakukan perilkau tidak etis, 2. Relativisme Budaya Tidak seperti pandangan absolut diatas, pandangan kedua ini mengikuti relativitas. Perfektif relativitas etika mempercayai bahwa nilai dan moralitas berhubungan dengan budaya dan tergantung hanya pada persfektif masing-masing budaya.relativisme budaya juga meliputi konsep relativisme etika yang menurut robertson dan crittenden “berarti bahwa standar etika bervariasi dari satu budaya ke budaya yang lain, sehingga satu standar sama benarnya dengan yang lain”. Praktek Komunikasi Interpersonal Yang Beretika 5 orientasi dan perilaku yang di rekomendasikan yang berasal dari orientasi yang menolong untuk mengembangkan etika antarbudaya. 1. Komunikasi menghasilkan respon Dalam lingkungan antarbudaya, dimana perbedaan budaya merupakan suatu faktor, sulit bagi seseorang untuk menilai dan memprediksi tipe respons yang mungkin dihasilkan dari pesannya. Menebak respons orang dari budaya lain jauh lebih sulit. Pesan-pesan berpotensi menghasilkan efek yang besar pada orang-orang yang berinteraksi dengan diri kita. Oleh karena itu kita harus selalu mewaspadai pengaruh pesan bagi orang lain. 2. Menghargai orang lain Dalam interaksi antarbudaya tentunya harus ada hukum timbal balik , yang dimaksudkan disini adalah perilaku saling menghormati. Hal ini berarti bahwa seseorang harus menjagkau jauh dari norma budaya nya dan menghormati budaya yang lain,dibandingkan dengan menghilangkan perilaku yng tidak sama dengan budaya nya sendiri. 3. Mencari persamaan antara masyarakat dan budaya Pencarian persamaan ini merupakan komponen etika yang penting, karena hal itu memungkinkan seseorang untuk melihat hal yang sama yang menolong 19
  20. 20. mereka untuk memutuskan bagaimana mereka memperlakukan orang lain,terlepas dari budaya orang tersebut. Persamaan inilah yang menyatukan orang-orang dan membuat semua orang sebagai bagian dari “desa global”. 4. Menghargai perbedaan budaya Dengan menumbuhkan rasa menghargai perbedaan budaya ,seseorang akan memperoleh perspektif etika kultural. Perspektif yang lengkap dan jujur akan menghargai persamaan dan perbedaan. Dengan menerima dan mengapresiasi kedua hal tersebut,seseorang mampu untuk menilai konsekuensi yang potensial dalam tindakan komunikatif dan menjadi lebih toleran dari yang lainnya. 5. Menerima tanggung jawab dari perilaku anda Semua keputusan atas tindakan dan bahkan kegagalan seseorang akan memengaruhi diri mereka maupun orang lain. Jadi jika kita tinggal di dunia yang sesak dan saling berhubungan dan sama-sama “penghuni sementara” yang ingin bertahan hidup maka kita harus menerima peranan kita dalam dunia ini bahwa masyarakat dan budaya itu saling berhubungan. 20
  21. 21. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dalam memasuki dunia dan budaya baru, kita harus siap dengan tantangan perbedaan bahasa, kebiasaan, perilaku, budaya dan komunikasi. Komunikasi dengan perbedaan budaya dapat menghasilkan respons emosi,seperti perasaan kikuk dan gelisah. Kompetensi antarbudaya berarti memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan efektif dan panas dengan anggota budaya yang lain. Oleh karena itu, ketika kita memasuki suatu lingkungan dan budaya baru maka kita perlu : 1. Meningkatkan kompetensi komunikasi antarbudaya 2. Mendengarkan Yang Efektif 3. Mengembangkan Fleksibilitas Komunikasi Untuk menjadi komunikator yang kompeten, kita harus memiliki : 1. Motivasi untuk berkomunikasi 2. Pengetahuan yang cukup mengenai budaya 3. Kemampuan berkomunikasi yang sesuai 4. Sensitivitas 5. Karakter Masalah yang berpotensi timbul dalam komunikasi antarbudaya meliputi gagalnya mengenali perbedaan, ras gelisah, keinginan untuk mengurangi ketidakpastian, stereotip, prasangka, dll. Orientasi dan perilaku yang untuk mengembangkan etika antarbudaya. 1. Komunikasi menghasilkan respon 2. Menghargai orang lain 3. Mencari persamaan antara masyarakat dan budaya 4. Menghargai perbedaan budaya 5. Menerima tanggung jawab dari perilaku anda 21
  22. 22. DAFTAR PUSTAKA Samovar, Larry A., Richard E. Porter, Edwin R. McDaniel. (2010). Komunikasi Lintas Budaya Communication Between Cultures (7th ed.). Jakarta: Salemba Humanika. Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat. (1990). Komunikasi Antarbudaya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Luthfia, Amia (2011) Kompetensi Komunikasi Antar Budaya Peserta Pelatihan Dari Indonesia Di Australia.Jurnal Humaniora, 02 (01). Issn 2087-1236 Luthfia, Amia (2012) Realitas Kompetensi Komunikasi Antar Budaya Pada Proses Adaptasi Pelajar Indonesia Di Luar Negeri. Jurnal Humaniora, 03 (02). Issn 2087-1236 22

×