DAFTAR ISI

Kata Pengantari

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN...................................................................
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




                                                                          ...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




1.3. Metodologi
     Metode yang digunakan untuk menentukan capaian 5 kelo...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




     Relevansi digunakan untuk menganalisa sejauh mana tujuan/sasaran pemb...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




     BAB II       HASIL EVALUASI
                  Deskripsi permasalahan ...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




                                                                          ...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




                                                                          ...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Tabel Indikator dalam Bentuk Persentase
    No                    Indikato...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Untuk menganalisis Relevansi dan Efektivitas, berikut ini adalah capaian o...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




                                    Grafik Relevansi dan Efektivitas




T...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




nasional pada tahun 2009 masih nol. Begitupula dengan data capaian pembang...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




2.       Demokrasi
Ke-8 indikator yang terdapat pada dua komponen utama te...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




PERDA Pelayanan Satu Atap
Persentase jumlah kabupaten/kota di Propinsi Kep...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




     71,5
       71

     70,5

       70
                                ...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan publik dan demokrasi...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Pemberdayaan Perempuan, Keluarga Berencana dan Perlindungan Anak dan semua...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




                    TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA

2.2.1. Capaian I...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




(4) Apabila indikator hasil (outcomes) dalam satuan persentase memiliki ma...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Tabel Indikator dalam Bentuk Angka (Tidak diperhitungkan dalam Outcomes Da...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




             90

             80
             70

             60
        ...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Tabel Relevansi dan Efektivitas Tren Nasional dan Tren Daerah
  No        ...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Secara umum, dapat dikatakan bahwa kinerja pembangunan nasional di Provins...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Ke-17 indikator yang terdapat pada tiga komponen utama tersebut menunjukka...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Secara ekonomi, ada perbedaan kebutuhan pendidikan antar jenjang SD dan SM...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




menengah baru yang dibuka di daerah ini. Kondisi ini menyebabkan terjadiny...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




               200
               180
               160
               14...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Grafik di atas menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang cukup besar bag...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




menyebabkan angka putus sekolah juga tinggi. Ke depan, pendidikan bersubsi...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




    7. Insentif tenaga kesehatan di daerah terpencil
Sebagai daerah kepula...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




                                                                          ...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




      (5) Pencapaian indikator hasil adalah jumlah nilai dari penyusun ind...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Tabel Indikator Outcomes Daerah dan Tren Daerah

  No           Indikator ...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Tabel Relevansi dan Efektivitas

  No           Indikator Outcomes        ...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Analisis Relevansi
Analisis ini digunakan untuk menganalisis sejauhmana tu...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Lihat lagi grafik capaian outcomes yang naik turun tersebut:

            ...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Grafik di atas menunjukkan bahwa meski sempat mengalami penurunan laju inf...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




dampak dari krisis keuangan global yang sangat terasa di Provinsi ini. Sed...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




                    Persentase Output Manufaktur Terhadap PDRB

     23
  ...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMDN
Seperti halnya dengan pers...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




pokok masyarakat kebanyakan didatangkan dari luar daerah. Hal disebabkan t...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




pembangunan ekonomi dengan cepat, pemerintah perlu segera memperbaiki sara...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




                                                                          ...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




2.4.1. Capaian Indikator Outcomes
         Capaian indikator outcomes (cap...
Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel




lautnya. Meskipun demikian tidak dipungkiri bahwa terdapat beberapa proses...
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB

2,390 views

Published on

Laporan Akhir EKPD 2009 Provinsi Bangka Belitung oleh Universitas Bangka Belitung

Published in: Education, Technology, Business
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,390
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
128
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Lapora Akhir EKPD 2009 Bangka Belitung - UBB

  1. 1. DAFTAR ISI Kata Pengantari Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1 1.1 Latar Belakang dan Tujuan.............................................................1 1.2 Keluaran..........................................................................................1 1.3 Metodologi.......................................................................................2 1.4 Sistematika Penulisan Laporan ......................................................3 BAB II HASIL EVALUASI .................................................................................5 2.1 TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI...................6 2.1.1. Capaian Indikator....................................................................6 2.1.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol ................10 2.1.3. Rekomendasi Kebijakan .....................................................13 2.2 TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA........................16 2.2.1 Capaian Indikator..................................................................16 2.2.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol................21 2.2.3 Rekomendasi Kebijakan.......................................................26 2.3 TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI.......................................29 2.3.1 Capaian Indikator..................................................................29 2.3.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol...............34 2.3.3 Rekomendasi Kebijakan ....................................................38 2.4 KUALITAS PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM..................41 2.4.1 Capaian Indikator....................................................................41 2.4.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol..................49 2.4.3 Rekomendasi Kebijakan ......................................................50 2.5 TINGKAT KESEJAHTERAAN RAKYAT........................................52 2.5.1 Capaian Indikator..............................................................…..52 2.5.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol.................56 2.5.3 Rekomendasi Kebijakan .....................................................59 BAB III KESIMPULAN......................................................................................61
  2. 2. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Tujuan Pembangunan daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, pada hakekatnya pembangunan daerah adalah upaya terencana untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam mewujudkan masa depan daerah yang lebih baik dan kesejahteraan bagi semua masyarakat.   Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 32 tahun 2004 yang menegaskan bahwa Pemerintah Daerah diberikan kewenangan secara luas untuk menentukan kebijakan dan program pembangunan di daerah masing-masing.   Evaluasi kinerja pembangunan daerah (EKPD) 2009 dilaksanakan untuk menilai relevansi dan efektivitas kinerja pembangunan daerah dalam rentang waktu 2004- 2008. Evaluasi ini juga dilakukan untuk melihat apakah pembangunan daerah telah mencapai tujuan/sasaran yang diharapkan dan apakah masyarakat mendapatkan manfaat dari pembangunan daerah tersebut. Secara kuantitatif, evaluasi ini akan memberikan informasi penting yang berguna sebagai alat untuk membantu pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan pembangunan dalam memahami, mengelola dan memperbaiki apa yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil evaluasi digunakan sebagai rekomendasi yang spesifik sesuai kondisi lokal guna mempertajam perencanaan dan penganggaran pembangunan pusat dan daerah periode berikutnya, termasuk untuk penentuan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Dekonsentrasi (DEKON). 1.2. Keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan EKPD 2009 meliputi: • Terhimpunnya data dan informasi evaluasi kinerja pembangunan di 33 provinsi • Tersusunnya hasil analisa evaluasi kinerja pembangunan di 33 provinsi sesuai sistematika buku panduan Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  1
  3. 3. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel 1.3. Metodologi Metode yang digunakan untuk menentukan capaian 5 kelompok indikator hasil adalah sebagai berikut: (1) Indikator hasil (outcomes) disusun dari beberapa indikator pendukung terpilih yang memberikan kontribusi besar untuk pencapaian indikator hasil (outcomes). (2) Pencapaian indikator hasil (outcomes) dihitung dari nilai rata-rata indikator pendukung dengan nilai satuan yang digunakan adalah persentase. (3) Indikator pendukung yang satuannya bukan berupa persentase maka tidak dimasukkan dalam rata-rata, melainkan ditampilkan tersendiri. (4) Apabila indikator hasil (outcomes) dalam satuan persentase memiliki makna negatif, maka sebelum dirata-ratakan nilainya harus diubah atau dikonversikan terlebih dahulu menjadi (100%) – (persentase pendukung indikator negatif). Sebagai contoh adalah nilai indikator pendukung persentase kemiskinan semakin tinggi, maka kesejahteraan sosialnya semakin rendah. Pencapaian indikator hasil adalah jumlah nilai dari penyusun indikator hasil dibagi jumlah dari penyusun indikator hasil (indicator pendukungnya). Contoh untuk indikator Tingkat Kesejahteraan Sosial disusun oleh: • persentase penduduk miskin • tingkat pengangguran terbuka • persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak • presentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia • presentase pelayanan dan rehabilitasi sosial Semua penyusun komponen indikator hasil ini bermakna negatif (Lihat No.4). Sehingga: Indikator kesejahteraan sosial = {(100% - persentase penduduk miskin) + (100% - tingkat pengangguran terbuka) + (100% - persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak) + (100%- persentase pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia) + (100% - persentase pelayanan dan rehabilitasi sosial}/5 Daftar indikator keluaran (outputs) yang menjadi komponen pendukung untuk masing-masing kategori indikator hasil (outcomes) dapat dilihat pada Lampiran 1. Untuk menilai kinerja pembangunan daerah, pendekatan yang digunakan adalah Relevansi dan Efektivitas. Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  2
  4. 4. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Relevansi digunakan untuk menganalisa sejauh mana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah tren capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Sedangkan efektivitas digunakan untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Efektivitas pembangunan dapat dilihat dari sejauh mana capaian pembangunan daerah membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya.   Dalam mengumpulkan data dan informasi, teknik yang digunakan dapat melalui: Pengamatan langsung Pengamatan langsung kepada masyarakat sebagai subjek dan objek pembangunan di daerah, diantaranya dalam bidang sosial, ekonomi, pemerintahan, politik, lingkungan hidup dan permasalahan lainnya yang terjadi di wilayah provinsi terkait.   Pengumpulan Data Primer Data diperoleh melalui FGD dengan pemangku kepentingan pembangunan daerah. Tim Evaluasi Provinsi menjadi fasilitator rapat/diskusi dalam menggali masukan dan tanggapan peserta diskusi. Pengumpulan Data Sekunder Data dan informasi yang telah tersedia pada instansi pemerintah seperti BPS daerah, Bappeda dan Satuan Kerja Perangkat Daerah terkait. 1.4. Sistematika Penulisan Laporan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Tujuan 1.2. Keluaran 1.3. Metodologi 1.4. Sistematika Penulisan Laporan Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  3
  5. 5. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel BAB II HASIL EVALUASI Deskripsi permasalahan dan tantangan utama pembangunan daerah serta identifikasi tujuan pembangunan daerah. 2.1 TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI 2.1.1. Capaian Indikator 2.1.2. Analisis Capaian 2.1.3. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol 2.1.4. Rekomendasi Kebijakan 2.2. TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA 2.2.1. Capaian Indikator 2.2.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol 2.2.3. Rekomendasi Kebijakan 2.3. TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI 2.3.1. Capaian Indikator 2.3.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol 2.3.3. Rekomendasi Kebijakan 2.4 KUALITAS PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM 2.4.1 Capaian Indikator 2.4.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol 2.4.3 Rekomendasi Kebijakan 2.5 TINGKAT KESEJAHTERAAN RAKYAT 2.5.1 Capaian Indikator 2.5.2 Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol 2.5.3 Rekomendasi Kebijakan BAB III. KESIMPULAN Menyimpulkan apakah capaian tujuan/sasaran pembangunan daerah telah relevan dan efektif terhadap tujuan/sasaran pembangunan nasional Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  4
  6. 6. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel BAB II HASIL EVALUASI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah provinsi yang relatif baru berdiri sebagai sebuah provinsi sendiri, meski demikian, keberadaan provinsi ini yang sudah memasuki usia 10 tahun merupakan rentang yang cukup panjang untuk menyelenggarakan sebuah sistem pemerintahan yang relevan dan efektif. Kenyataanya, sejumlah persoalan mendera, carut marut pengelolaan timah, pengaturan sistem transportasi yang belum optimal, proses replace sumber daya alam yang belum berjalan dengan baik, dan kendala sosial geografis yang masih relatif bermasalah. Beberapa hal tersebut yang nampak tidak optimal menyebabkan dalam deskprisi data yang didapatkan pada bagian setelah tulisan ini memperlihatkan bahwa pembangunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada berbagai indikator capaian mayoritas tidak relevan dan tidak efektif. Kalaupun ada beberapa indikator yang relevan dan efektif, setidaknya grafik yang ditunjukkan tidak stabil atau mengalami siklus naik dan turun dari tahun ke tahun. Tantangan utama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah bagaimana mengatasi persoalan penambangan yang mengeruk kekayaan alamnya, sementara proses pergantian sektor ini belum berjalan memadai. Tantangan lain terkait dengan kendala geografis sebagai wilayah kepulauan yang menyebabkan akses ke beberapa wilayah tersendat dan menyebabkan akses terhadap pelayanan publik pun mengalami kendala. Selebihnya, persoalan ancaman masuknya budaya-budaya secara cepat melalui jalur pelabuhan menjadi tantangan tersendiri. Sejalan dengan itu, tujuan pembangunan daerah sendiri yang menyasar percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat, menciptakan masyarakat yang dinamis dan demokratis, dan melestarikan dan membangkan potensi sosial budaya di daerah ini masih terus diusahakan agar dapat terwujud. Berbagai kendala yang menjadi tantangan utama kiranya menjadi bagian penting yang harus diperhatikan dan dievaluasi dari waktu ke waktu agar kualitas pembangunan daerah dari tahun ke tahun akan semakin relevan dan efektif. Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  5
  7. 7. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel 2.1 TINGKAT PELAYANAN PUBLIK DAN DEMOKRASI 2.1.1. Capaian Indikator Indikator capaian yang digunakan dalam pembahasan Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi adalah bentuk persentase yang berjumlah 8 (delapan) indikator capaian. Metode yang digunakan untuk menentukan capaian Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi adalah sebagai berikut: (1) Indikator hasil (outcomes) disusun dari beberapa indikator pendukung terpilih yang memberikan kontribusi besar untuk pencapaian indikator hasil (outcomes). Adapun indikator pendukung tersebut adalah sebagai berikut:: a. Persentase jumlah kasus korupsi yang tertangani dibandingkan dengan yang dilaporkan b. Persentase aparat yang berijazah S 1 c. Persentase jumlah kab/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap d. Gender Development Index (GDI) e. Gender Empowerment Meassurement (GEM) f. Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pemilihan Kepala Daerah Provinsi g. Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pemilihan Legislatif h. Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pilpres (2) Pencapaian indikator hasil (outcomes) dihitung dari nilai rata-rata indikator pendukung dengan nilai satuan yang digunakan adalah persentase. (3) Indikator pendukung yang satuannya bukan berupa persentase, maka tidak dimasukkan dalam rata-rata, melainkan ditampilkan tersendiri. Indikator pendukung Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi semuanya memiliki satuan persentase. (4) Apabila indikator hasil (outcomes) dalam satuan persentase memiliki makna negatif, maka sebelum dirata-ratakan nilainya harus diubah atau dikonversikan terlebih dahulu menjadi (100%) – (persentase pendukung indikator negatif). Indikator pendukung Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi tidak ada yang memiliki makna negatif. (5) Dalam hal, tidak tersedia data, maka perhitungan tetap dilakukan dengan mengurangi jumlah pembagi dari total keseluruhan capaian. (6) Pencapaian indikator hasil adalah jumlah nilai dari penyusun indikator hasil dibagi jumlah dari penyusun indikator hasil (indikator pendukungnya). Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  6
  8. 8. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Tabel Indikator dalam Bentuk Persentase No Indikator 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1. Persentase Jumlah kasus 100 100 100 100 100 enam korupsi yang tertangani kasus dibandingkan dengan yang sdg dilaporkan proses 2. Presentase aparat yang - - - - 42,06 41,81 berijazah minimal S1 3. Persentase jumlah - 14,28 14,28 14,28 42,85 71,42 kabupaten/kota yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap 4. Gender Development Index 54,34 55,44 66,3 67 - - (GDI) 5. Gender Empowerment 39,61 40,22 59,1 59,4 - - Meassurement (GEM) 6. Tingkat partisipasi politik - - 71,3 - - - masyarakat dalam Pemilihan Kepala Daerah Provinsi 7. Tingkat partisipasi politik - - - - - 69,87 masyarakat dalam Pemilihan Legislatif 8. Tingkat partisipasi politik - - - - - 69 masyarakat dalam Pilpres Jumlah Nilai Hasil 193,95 209,94 310.98 240.68 184,91 252,1 Penyusun Indikator Hasil 3 4 5 4 3 4 Nilai Indikator Hasil 64,65 52,485 62,196 60,17 61,63 63,025   Tabel Indikator Outcomes Daerah dan Tren Daerah No Indikator Outcomes 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Tingkat Pelayanan Publik dan 64,65 52,485 62,196 60,17 61,63 63,025 Demokrasi 2 Tren Daerah - -0,2 0,2 -0,03 0,02 0.02   70 60 50 40 30 Outcomes daerah Trend daerah 20 10 0 -10 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik Capaian Outcomes Daerah dan Tren Daerah Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  7
  9. 9. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Untuk menganalisis Relevansi dan Efektivitas, berikut ini adalah capaian outcomes nasional dan tren nasional Tabel Indikator Outcomes Nasional dan Tren Nasional No Indikator Outcomes 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi 9,97 10,33 10,64 10,20 10,33 0,00 2 Tren Nasional 0,04 0,03 -0,04 0,01 -1,00   12 10 8 6 Nasional 4 Tren Nasional 2 0 -2 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik capaian Outcomes Nasional dan Tren Nasional Tabel Relevansi dan Efektivitas No Indikator Outcomes 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Outcomes Nasional 9,97 10,33 10,64 10,20 10,33 0,00 2 Outcomes Daerah 64,65 52,485 62,196 60,17 61,63 63,025   70   60   50   40 Outcomes Nasional 30   Outcomes Daerah 20   10   0 2004 2005 2006 2007 2008 2009   Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  8
  10. 10. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Grafik Relevansi dan Efektivitas Tabel Relevansi dan Efektivitas Tren Nasional dan Tren Daerah No Tren 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Tren Nasional - 0,04 0,03 -0,04 0,01 -1,00 2 Tren Daerah - -0,2 0,2 -0,03 0,02 0.02     0,2 0   -0,2   -0,4 Tren Nasional   Tren Daerah -0,6   -0,8   -1 2004 2005 2006 2007 2008 2009   Grafik Relevansi dan Efektivitas Tren Nasional dan Tren Daerah Analisis Relevansi Analisis ini digunakan untuk menganalisis sejauhmana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah tren capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Memperhatikan capaian pembangunan daerah sebagaimana terlihat dalam tabel di atas, grafik menunjukkan bahwa mulai tahun 2004 sampai dengan tahun 2009, kinerja pembangunan daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung relevan dengan kinerja pembangunan secara nasional. Capaian kinerja terlihat sangat relevan di setiap tahun, dimana capaian pembangunan nasional hanya bergerak pada level 9 sampai dengan level 10. Sementara capaian pembangunan daerah berada level terendah 52 dan level tertinggi 64. Tingkat relevansi capaian pembangunan daerah dengan capaian pembangunan nasional hanya dapat terlihat sampai dengan tahun 2008, mengingat data capaian pembangunan Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  9
  11. 11. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel nasional pada tahun 2009 masih nol. Begitupula dengan data capaian pembangunan daerah masih menunjukkan data estimasi/sementara. Namun demikian secara umum, dapat dikatakan bahwa kinerja pembangunan nasional di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung relevan. Analisis Efektivitas Analisis ini digunakan untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Efektivitas pembangunan dapat dilihat dari sejauhmana capaian pembangunan daerah membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Melihat data yang tersaji di atas, dapat dikatakan bahwa capaian pembangunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih belum stabil. Grafik yang naik turun menunjukkan bahwa pembangunan di provinsi ini tidak efektif. Namun demikian untuk 2 tahun terakhir, yaitu pada tahun 2008 dan 2009 terus mengalami kenaikan. Berikut grafik capaian outcomes daerah yang naik turun tersebut: 70 60 50 40 Outcomes Daerah 30 20 10 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik Capaian Outcomes Daerah Grafik di atas menunjukkan bahwa pembangunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak efektif pada rentan tahun 2004 – 2007. Sementara ditahun 2008 dan 2009 tidak lagi mengalami penurunan. Kondisi yang sama sebetulnya ditampakkan juga pada kinerja pembangunan nasional yang capaian outcomesnya naik turun. 2.1.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol (How and way) Ada dua komponen utama dalam pengukuran indikator Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi, yaitu: 1. Pelayanan Publik Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  10
  12. 12. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel 2. Demokrasi Ke-8 indikator yang terdapat pada dua komponen utama tersebut menunjukkan capaian angka yang kerapkali sangat baik, namun pada beberapa indikator justru kurang baik. Beberapa capaian indkator sepesifik dan menonjol itu adalah: Aparat Pemerintah Berijazah Minimal S1 Presentase aparat pemerintah yang berijazah minimal S1 pada tahun 2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini dapat terlihat pada grafik sebagai berikut : 42,1 42,05 42 41,95 41,9 Aparat Berijazah S1 41,85 41,8 41,75 41,7 41,65 2008 2009 Berdasarkan grafik di atas, persentase aparat pemerintah berijazah S1 pada tahun 2008 adalah 42,06. Sementara pada tahun 2009 mengalami penurunan pada level 41,81. Penurunan ini menunjukkan bahwa disatu sisi semakin sedikit aparat pemerintah yang berijazah S1 dan sisi lain berarti semakin banyak pula aparat pemerintah yang telah melanjutkan tingkat pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, seperti pada tingkat Magister (strata 2), bahkan sampai tingkat Doktor (strata 3). Hal ini menunjukkan sudah tingginya kesadaran aparat pemerintah akan pentingnya pendidikan bagi kalangan birokrasi. Kesadaran itu pun tentunya tidak hanya untuk memenuhi syarat formal kenaikan golongan atau tunjangan, namun lebih dari itu adalah peningkatan pengetahuan yang dimiliki agar mampu memecahkan berbagai masalah pembangunan di daerah. Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  11
  13. 13. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel PERDA Pelayanan Satu Atap Persentase jumlah kabupaten/kota di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang memiliki peraturan daerah pelayanan satu atap dapat dilihat pada grafik sebagai berikut : 80 70 60 50 40 Perda Pelayanan 1 Atap 30 20 10 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Perda pelayanan satu atap merupakan mekanisme yang menjadi kebutuhan dan tuntutan akan tranparansi dan reformasi birokrasi oleh masyarakat. Pada tahun 2004 terlihat belum ada Perda pelayanan 1 atap. Namun demikian, ditahun berikutnya sudah mulai ada meskipun tidak ada peningkatan sampai dengan tahun 2007. Namun hal ini masih dapt diterima mengingat setiap kab/kota tidaklah mudah untuk dengan segera menyusun Perda ini karena harus dibuat secara cermat dan membutuhkan kerjasama, koordinasi dan sinergi dari berbagai instansi terkait dengan pelayanan publik. Adanya peningkatan pada tahun 2008 dan 2009 memperlihatkan bahwa Perda pelayanan satu atap ini telah menjadi kebutuhan setiap daerah. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, adanya tuntutan dari masyarakat akan adanya Perda tersebut, terlebih apabila didaerah tetangganya sudah ada. Kedua, Perda tersebut memang kebutuhan dari daerah dalam rangka efektivitas pelayanan publik dan mencegah maraknya pungli diberbagai instansi perizinan. Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat Tingkat partisipasi politik masyarakat ini sebenarnya pendiskripsiannya menjadi sangat sempit ruang lingkupnya, yaitu hanya pada saat Pemilihan Kepala Daerah, Pemilihan Legislatif dan puncaknya pada saat Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang kesemuanya diagendakan 5 tahun sekali. Namun demikian hal tersebut dapat dijadikan salah satu indikator outcomes demokrasi. Berikut grafik tingkat partiipasi politik masyarakat pada Pilkada, Pileg dan Pilpres yang sebenarnya tidak dapat begitu dikomparasikan mengingat waktunya penyelenggaraannya bisa saja tidak bersamaan, kecuali untuk Pileg dan Pilpres ditahun yang sama, yaitu 2009. Sementara Pilkada di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung diselenggarakan pada tahun 2006. Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  12
  14. 14. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel 71,5 71 70,5 70 2006 69,5 2009 69 68,5 68 67,5 Pilkada Pileg Pilpres Berdasarkan grafik di atas, terlihat bahwa ada penurunan partisipasi politik masyarakat. Di sini dapat dikatakan terjadi penurunan, melihat dari sisi waktu antara pelaksaan pileg Pilkada dan Pileg hanya berselang 3 tahun dimana jumlah pemilih tidak akan berbeda jauh. Penurunan ini menunjukkan masyarakat lebih tertarik pada pemilihan gubernur yang tentunya banyak menyangkut isu daerah dan para kontestannya figur yang lebih dikenal. Berbeda dengan Pileg yang biasanya peserta lebih banyak dan dampak keterpilihannya kelak belum dapat dijamin. Begitu pula dengan pilpres yang semakin menurun dibandingkan Pilkada dan Pileg. Fenomena ini bisa disebabkan oleh faktor yang sama pada Pileg tadi atau juga pada faktor-faktor yang lain, mengingat skala pemilihannya membawa figur nasional, isu nasional dan munculnya koalisi partai dalam tahapan Pilpres. Peningkatan Capaian Selain isu-isu spesifik dan menonjol seperti diuraikan di atas, indikator-indikator capaian lain menunjukkan capaian angka yang baik. Terjadi peningkatan kualitas pada indikator, seperti pada persentase kasus korupsi yang tertangani, angka Gender Development Index (GDI) dan Angka Gender Empowerment Meassurement (GEM) yang terus meningkat dari tahun ke tahun. 2.1.3. Rekomendasi Kebijakan Dari beberapa indikator di atas terlihat terjadi peningkatan Tingkat Pelayanan Publik dan Demokrasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kondisi ini tentu saja harus dipertahankan dan ditingkatkan. Sementara pada beberapa indikator lain menunjukkan capaian yang tidak stabil bahkan semakin menurun. Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  13
  15. 15. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan publik dan demokrasi ke depan di propinsi Laskar Pelangi ini, dapat direkomendasikan beberapa hal sebagai berikut: 1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas Aparat Penegak Hukum Salah satu indikator yang telah memiliki capaian yang baik adalah persentase penanganan kasus korupsi dengan yang dilaporkan. Meskipun capainnya saat sudah baik, namun yang terpenting adalah capaian tersebut tetap stabil dan semakin meningkat secara berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya. Oleh karena itu sangat diperlukan adanya peningkatan kualitas dan kuantitas aparat penegak hukum serta dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai dan sistem yang baik. 2. Memperbanyak program beasiswa bagi birokrat Grafik capaian persentase aparat pemerintah yang berijazah minimal S1 menunjukkan peningkatan yang baik. Hal ini sangat penting berkaitan dengan peningkatan kualitas pelayanan publik dan bagaimana aparat pemerintah mampu untuk mengahadapi tantangan berbagai permasalahan di masyarakat. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu jawabannya. Perlu diperbanyak program beasiswa bagi aparat pemerintah dan yang lebih penting lagi harus dihilangkan oleh aparat pemerintah bahwa melanjutkan pendidikan bukan hanya sekedar untuk naik golongan dan tunjangan, namun lebih dari itu lebih meningkatkan pengabdian kepada masyarakat. 3. Setiap daerah wajib memiliki Perda Pelayanan Satu Atap Salah satu permasalahan birokrasi diseluruh dunia adalah maraknya praktek “pungli” yang selalu ada disetiap instansi pemerintahan, khususnya yang berkaitan dengan penerbitan dokumen atau perizinan dan jelas yang menjadi korban adalah masyarakat itu sendiri. Beberapa daerah kabupaten/kota di Propinsi Kepualauan Bangka Belitung telah memiliki Perda Pelayanan Satu Atap. Namun dari grafik terlihat bahwa belum seluruh daerah memiliki perda tersebut. Oleh karena itu, perlu ada intervensi dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, bahkan dari masyarakat sendiri yang menuntut adanya perda ini, sehingga birokrasi yang panjang dapat dipotong dan pungli dapat diberantas. 4. Program Peningkatan partisipasi perempuan di bidang kesehatan, pendidikan, dunia kerja dan politik Gender Development Index (GDI) dan Gender Empowerment Meassurement (GEM) dipropinsi ini memang memiliki capaian yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun apabila dikomparasikan dengan propinsi lain, kita jauh tertinggal. Oleh karena itu Badan Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  14
  16. 16. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Pemberdayaan Perempuan, Keluarga Berencana dan Perlindungan Anak dan semua instansi terkait perlu untuk melakukan program partisipasi perempuan di bidang kesehatan, pendidikan, dunia kerja dan politik. DI bidang kesehatan, kesehatan ibu dan anak harus semakin ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat menaikkan angka harapan hidup perempuan. Begitu pula di bidang pendidikan, peningkatan angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah bagi perempuan harus menjadi prioritas melalui program pendidikan gratis dan menghilangkan stiga bahwa perempuan tidak harus sekolah tinggi. Disamping itu, tingginya tenaga kerja perempuan dan ketertibatannya dalam lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif akan meningkatkan angka GDI dan GEM. 5. Meningkatan kesadaran politik, peran pemerintah dan partai politik Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam berbagai agenda pemilu, bail Pilkada, Pileg maupun Pilpres dari grafik terlihat mengalami penurunan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan partisipasi politik masyarakat adalah dengan menumbuhkan kesadaran politik masyarakat. Jadi kesadaran itu bukan muncul hanya memenuhi kewajiban sebagai warga negara yang baik untuk melakukan “pencoblosan” selama 5 tahun sekali, namun tumbuh kesadaran bahwa kita adalah bagian dari politik negara yang arah kemajuan bangsa ini juga menjadi tanggungjawab kita. Disamping itu, peran pemerintah dan partai politik sangat penting dalam menumbuhkan kesadaran politik tersebut dan juga harus dapat membuktikan apa-apa yang mereka janjikan pada saat kampanye, sehingga masyarakat tidak apatis dan kemudian mengambil pilihan tanpa pilihan alias “golput”. 2.2 Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  15
  17. 17. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel TINGKAT KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA 2.2.1. Capaian Indikator Indikator capaian yang digunakan dalam pembahasan Tingkat Kualitas Sumber Daya Manusia adalah bentuk persentase dan bentuk angka. Terdapat 15 indikator capaian berbentuk persentase dan 2 indikator berbentuk angka yang dijelaskan dalam bentuk tabel terpisah. Metode yang digunakan untuk menentukan capaian Tingkat Kualitas Sumber Daya Manusia adalah sebagai berikut: (1) Indikator hasil (outcomes) disusun dari beberapa indikator pendukung terpilih yang memberikan kontribusi besar untuk pencapaian indikator hasil (outcomes). Adapun indikator pendukung tersebut adalah sebagai berikut: a. Angka partisipasi murni SD/MI b. Angka putus sekolah SD c. Angka putus sekolah SMP/MTs d. Angka putus sekolah SMA/K/MA e. Angka melek aksara 15 tahun f. Persentase jumlah guru yang layak mengajar SMP/MTs g. Persentase jumlah guru yang layak mengajar sekolah menengah h. Umur harapan hidup (UHH) i. Angka kematian bayi (AKB) j. Angka kematian ibu (AKI) k. Prevalensi gizi buruk l. Prevalensi gizi kurang m. Persentase tenaga kesehatan perpenduduk n. Persentase penduduk ber-KB o. Persentase laju pertumbuhan penduduk (2) Pencapaian indikator hasil (outcomes) dihitung dari nilai rata-rata indikator pendukung dengan nilai satuan yang digunakan adalah persentase. (3) Indikator pendukung yang satuannya bukan berupa persentase, maka tidak dimasukkan dalam rata-rata, melainkan ditampilkan tersendiri. Adapun indikator yang tidak termasuk dalam penghitungan indikator hasil adalah sebagai berikut: a. Rata-rata nilai akhir SMP/MTs b. Rata-rata nilai akhir SMA/K/MA Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  16
  18. 18. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel (4) Apabila indikator hasil (outcomes) dalam satuan persentase memiliki makna negatif, maka sebelum dirata-ratakan nilainya harus diubah atau dikonversikan terlebih dahulu menjadi (100%) – (persentase pendukung indikator negatif). Contoh pada Angka putus sekolah yang bermakna negatif. Sementara itu, pada kasus persentase melampaui seratus persen sebagai standard perhitungan, maka angka dimaksud dibuat minus dari seratus persen, misalnya pada indikator Angka Kematian Ibu (AKI). (5) Dalam hal, tidak tersedia data, maka perhitungan tetap dilakukan dengan mengurangi jumlah pembagi dari total keseluruhan capaian. (6) Pencapaian indikator hasil adalah jumlah nilai dari penyusun indikator hasil dibagi jumlah dari penyusun indikator hasil (indikator pendukungnya). Tabel Indikator dalam Bentuk Persentase No Indikator 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1. Angka partisipasi murni 89,57 91,59 92,03 93,79 96,94 SD/MI 2. Angka putus sekolah SD 1,11 0,98 0,67 0,68 0,53 (98,89) (99,02) (99,33) (99,32) (99,47) 3. Angka putus sekolah 2,97 2,95 2,52 2,03 1,61 SMP/MTs (97,03) (97,05) (97,48) (97,98) (98,39) 4. Angka putus sekolah 2,34 2,21 2,47 2,11 2,56 SMA/K/MA (97,66) (97,79) (97,53) (97,89) (97,44) 5. Angka melek aksara 15 93,50 95,4 95,40 88,62 91,21 tahun 6. Persentase jumlah guru 61,6 64,89 66,4 66,39 67,16 yang layak mengajar SMP/MTs 7. Persentase jumlah guru 36,22 50,7 41,34 51,9 56,4 yang layak mengajar sekolah menengah 8. Umur harapan hidup 67,2 69,66 69,66 69,66 69,66 69,66 (UHH) 9. Angka kematian bayi 5,90 5,35 6,04 6,91 8,19 18,00 (AKB) (94,1) (94,65) (93,96) (93,09) (91,81) (82) 10. Angka kematian ibu 88,00 122,50 126,83 160,73 189,31 135,00 (AKI) (12) (-22,5) (-26,83) (-60,73) (-89,31) (-35,00) 11. Prevalensi gizi buruk 2,47 2,47 0,74 0,71 0,04 0,05 (97,53) (97,53) (99,26) (99,23) (99,96 (99,95) 12. Prevalensi gizi kurang 8,10 8,10 10,30 13,70 13,05 9,80 (91,9) (91,9) (89,7) (86,3) (86,95) (90,02) 13. Persentase tenaga 13,08 19,45 21,20 23,78 29,00 33,38 kesehatan perpenduduk 14. Persentase penduduk 77,13 72,85 77,12 76,1 77,04 ber-KB 15. Persentase laju 3,04 3,02 2,95 1,43 1,39 pertumbuhan penduduk (96,96) (96,98) (97,05) (98,57) (98,61) Jumlah Nilai Hasil 1027,41 1166,59 1233,09 1242,13 1259,06 650,66 Penyusun Indikator 14 14 15 15 15 8 Hasil Nilai Indikator Hasil 73,39 83,33 82,21 82,81 83,94 81,33   Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  17
  19. 19. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Tabel Indikator dalam Bentuk Angka (Tidak diperhitungkan dalam Outcomes Daerah) No Indikator 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1. Rata-rata nilai akhir SMP/MTs 5,7 5,7 5,89 4,31 5,59 2. Rata-rata nilai akhir SMA/K/MA 5,85 5,97 6,37 6,33 6,06 Jumlah Nilai Hasil 11,55 11,67 12,26 10,64 11,65 Penyusun Indikator Hasil 2 2 2 2 2 Nilai Indikator Hasil 5,78 5,84 6,13 5,32 5,83   Tabel Indikator Outcomes Daerah dan Tren Daerah No Indikator Outcomes 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Tingkat Kualitas Sumber Daya 73,39 83,33 82,21 82,81 83,94 81,33 Manusia di Daerah 2 Tren Daerah 0,14 -0,01 0,01 0,01 -0,03 90 80 70 60 50 40 Outcomes Daerah Tren Daerah 30 20 10 0 -10 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik Capaian Outcomes Daerah dan Tren Daerah Untuk menganalisis Relevansi dan Efektivitas, berikut ini adalah capaian outcomes nasional dan tren nasional Tabel Indikator Outcomes Nasional dan Tren Nasional No Indikator Outcomes 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Tingkat Kualitas Sumber Daya 75,6 76,26 77,13 80,49 63,94 40 Manusia 2 Tren Nasional 0,01 0,01 0,04 -0,21 -0,37 Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  18
  20. 20. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel 90 80 70 60 50 Tren Nasional 40 Nasional 30 20 10 0 -10 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik capaian Outcomes Nasional dan Tren Nasional Tabel Relevansi dan Efektivitas No Indikator Outcomes 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Outcomes Nasional 75,6 76,26 77,13 80,49 63,94 40 2 Outcomes Daerah 73,39 83,33 82,21 82,81 83,94 81,33   90 80 70 60 50 Outcomes Nasional 40 Outcomes Daerah 30 20 10 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik Relevansi dan Efektivitas  Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  19
  21. 21. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Tabel Relevansi dan Efektivitas Tren Nasional dan Tren Daerah No Tren 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Tren Nasional 0,01 0,01 0,04 -0,21 -0,37 2 Tren Daerah 0,14 -0,01 0,01 0,01 -0,03   0,2 0,1 0 -0,1 Tren Nasional Tren Daerah -0,2 -0,3 -0,4 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik Relevansi dan Efektivitas Tren Nasional dan Tren Daerah  Analisis Relevansi Analisis ini digunakan untuk menganalisis sejauhmana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah tren capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Memperhatikan capaian pembangunan daerah sebagaimana ditampakkan dalam tabel di atas, terlihat grafik bahwa pada tahun 2004, kinerja pembangunan daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung nampak tidak relevan dibandingkan dengan kinerja pembangunan secara nasional. Meski demikian, pada tahun-tahun setelahnya, terjadi peningkatan yang luar biasa. Kinerja pembangunan daerah lebih baik dengan pembangunan nasional dan itu berarti relevan pada tahun 2005, 2006, 2007, 200, dan 2009. Capaian kinerja yang sangat relevan terlihat pada tahun 2008, dimana ketika capaian pembangunan nasional berada pada level 63,94 sementara pembangunan daerah berada pada level 83,94. Relevansi itu nampaknya akan semakin meningkat pada tahun 2009 melihat angka sementara menunjukkan capaian relevansi di daerah yang sangat baik. Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  20
  22. 22. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Secara umum, dapat dikatakan bahwa kinerja pembangunan nasional di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung relevan. Analisis Efektivitas Analisis ini digunakan untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Efektivitas pembangunan dapat dilihat dari sejauhmana capaian pembangunan daerah membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Melihat data yang tersaji di atas, dapat dikatakan bahwa capaian pembangunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak stabil. Grafik yang naik turun menunjukkan bahwa pembangunan di provinsi ini tidak efektif. Lihat lagi grafik capaian outcomes yang naik turun tersebut: 86 84 82 80 78 76 Outcomes 74 72 70 68 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik di atas menunjukkan bahwa pembangunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak efektif. Kondisi yang sama sebetulnya ditampakkan pada kinerja pembangunan nasional yang juga mengalami penurunan capaian pada tahun-tahun akhir. 2.2.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol (How and way) Ada tiga komponen utama dalam pengukuran indikator Tingkat Kualitas Sumber Daya Manusia, yaitu: 3. Pendidikan 4. Kesehatan 5. Keluarga Berencana Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  21
  23. 23. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Ke-17 indikator yang terdapat pada tiga komponen utama tersebut menunjukkan capaian angka yang kerapkali sangat baik, namun pada beberapa indikator justru sangat tidak baik. Beberapa capaian indkator sepesifik dan menonjol itu adalah: Angka putus sekolah siswa pada level SMA/K/MA Angka putus sekolah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami peningkatan pada jenjang SMA/K/MA. Jika kita perhatikan, grafik isu putus sekolah pada jenjang SMA/K/MA sebagai berikut: 120 100 80 60 Angka Putus Sekolah SMA/K/ 40 MA 20 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Kondisi di atas menunjukkan bahwa meski sempat mengalami penurunan jumlah pada tahun 2005 dan 2007, namun peningkatan cukup signifikan terjadi pada tahun 2008. Kondisi berbeda ditampakkan pada angka putus sekolah untuk jenjang SD/MI dan SMP/MTs yang cenderung mengalami penurunan angka dari tahun ke tahun. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor, pertama bahwa secara psikologis perkembangan anak pada usia SD dan SMP umumnya belum terkontaminasi oleh situasi lingkungan sehingga pendidikan umumnya masih diangka merupakan kewajiban bagi masyarakat. Anak-anak pun belum secara intens menerima pengaruh-pengaruh yang negatif sehingga masih beranggapan bahwa bersekolah harus tetap dilakukan. Orangtua pun masih dapat melakukan tekanan kepada anaknya untuk tetap bersekolah. Hal ini berbeda dengan anak-anak usia SMA/K/MA yang umumnya cenderung menerima pengaruh dari lingkungan yang kerapkali berefek pada tingginya angka putus sekolah. Di samping itu, pada jenjang ini, anak-anak cenderung memiliki otonomi yang lebih besar untuk menentukan apakah mereka meneruskan bersekolah atau tidak. Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  22
  24. 24. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Secara ekonomi, ada perbedaan kebutuhan pendidikan antar jenjang SD dan SMP dengan jenjang sekolah menengah. Kebutuhan peralatan dan pembiayan sekolah menengah cukup tinggi. Hal ini juga dipersepsikan oleh orangtua sebagai pendidikan yang tinggi sehingga seringkali orangtua sudah cukup jika sang anak dapat menyelesaikan pendidikan. Kebijakan pendidikan yang hanya memberikan pelayanan pendidikan gratis dari SD sampai pada jenjang SMP menyebabkan biaya pendidikan yang tetap tinggi untuk level SMA. Selain itu, SMA/K/MA yang biasanya hanya terdapat di tempat-tempat yang secara geografis mudah dijangkau menyebabkan pendidikan level ini disentuh oleh kalangan terbatas. Hal lain yang tentunya sangat penting untuk dicermati adalah dampak penambangan timah yang umumnya banyak menyedot angkatan kerja usia muda yang umumnya mereka adalah siswa-siswa yang duduk pada level sekolah menengah. Persentase Guru Layak Mengajar Persentase guru yang layak mengajar cukup memprihatinkan. Pada level SMP, kondisi guru yang layak mengajar hanya menempati posisi 60-an persen. Kondisi yang lebih parah ditunjukkan pada kelayakan guru mengajar untuk jenjang SMA/K/MA. Berikut grafiknya: 60 50 40 30 Guru Layak Mengajar Seko- 20 lah Menengah 10 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik di atas menunjukkan bahwa persentase guru yang layak mengajar pada jenjang sekolah menengah sangat memprihatinkan. Di samping angkanya yang hanya berkutat pada level 50-an persen, angka ini memperlihatkan grafik yang tidak stabil dari tahun ke tahun. Dalam beberapa tahun terjadi peningkatan, namun dalam tahun-tahun tertentu ada penurunan. Kelayakan guru mengajar tentu saja dilihat dari kompetensi pendidikan dan derajat pendidikan yang dimiliki oleh seorang guru. Sebagai provinsi baru, banyak sekolah Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  23
  25. 25. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel menengah baru yang dibuka di daerah ini. Kondisi ini menyebabkan terjadinya permintaan guru, sementara ketersediaan sumber daya manusia cukup terbatas. Itulah sebabnya, pemerintah seharusnya mengambil kebijakan yang strategis dalam rangka meningkatkan kompetensi guru. Angka Kematian Bayi (AKB) Angka kematian bayi (AKB) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terlihat mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Berikut ini grafiknya: 20 18 16 14 12 10 Angka Kematian 8 Bayi 6 4 2 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik di atas menunjukkan bahwa persentase kematian bayi selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, kecuali pada tahun 2005 yang sempat mengalami penurunan, namun meningkat dengan tajam pada tahun-tahun berikutnya. Kondisi ini nampaknya dipengaruhi oleh beberapa faktor, pertama bahwa kondisi cuaca yang tidak stabil menyebabkan potensi penyakit yang dapat menyerang tubuh anak-anak yang sistem kekebalannya memang belum kuat. Kedua, sebagai daerah pertambangan, terdapat banyak lokasi genangan air yang menyebabkan potensi penyakit malaria dan demam berdarah lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya. Hal lain yang mempengaruhinya adalah masih minimnya tenaga kesehatan di provinsi ini, sementara geografis Bangka Belitung sebagai daerah kepulauan menyebabkan akses kesehatan menjadi terhambat. Angka Kematian Ibu (AKI) Faktor kesehatan di Bangka Belitung ternyata masih dapat dikatakan memberikan kontribusi yang buruk bagi indek pembangunan manusia di provinsi ini. Hal ini sala satunya dapat dilihat pada Angka Kematian Ibu (AKI) pada grafik berikut ini: Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  24
  26. 26. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel 200 180 160 140 120 100 Angka Kematian 80 Ibu 60 40 20 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Angka kematian ibu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun secara signifikan, kecuali pada tahun 2009 yang masih berjalan (dalam estimasi sementara). Kondisi ini memprihatinkan meningat perkembangan provinsi yang setiap tahun menambah tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan dari tahun ke tahun ternyata tidak mengikutsertakan perkembangan baik bagi Angka Kematian Ibu (AKI). Kondisi ini sepertinya disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, geografis Bangka Belitung sebagai daerah kepulauan menyebabkan fasilitas kesehatan tidak terlalu mudah untuk dijangkau. Beberapa daerah pulau menyisakan persoalan khas bagi akses kesehatan. Kendala transportasi menyebabkan kesulitan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan. Selain itu, di beberapa daerah, kepercayaan masyarakat terhadap 'dukun beranak' masih cukup tinggi sehingga meski akses pelayanan kesehatan baik, namun mereka enggan memanfaatkan fasilitas tersebut. Prevalensi Gizi Kurang Prevalensi Gizi Kurang mengalami peningkatan yang cukup signifikan, seperti ditampakkan pada grafik berikut ini: 16 14 12 10 8 Prevalensi Gizi 6 Kurang 4 2 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  25
  27. 27. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Grafik di atas menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang cukup besar bagi Prevalensi Gizi Kurang. Kecuali pada tahun 2009 yang masih bersifat sementara, grafik pada tahun-tahun sebelumnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini nampaknya disebabkan oleh beberapa hal penting, antara lain tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah dalam hal menjaga kesehatan. Selain itu, masyarakat umumnya masih enggan jika harus datang ke pos-pos kesehatan sekedar untuk berkonsultasi kesehatan. Hal penting lainnya adalah subsidi pemerintah untuk kepentingan gizi masyarakat melalui pos-pos pelayanan kesehatan perlu ditingkatkan. Peningkatan Capaian Selain isu-isu spesifik dan menonjol seperti diuraikan di atas, indikator-indikator capaian lain menunjukkan capaian angka yang baik. Terjadi peningkatan kualitas pada indikator: Angka partisipasi murni SD/MI, Angka melek aksara 15 tahun, umur harapan hidup, prevalensi gizi buruk, persentase tenaga kesehatan, persentase jumlah penduduk ber-KB, dan laju pertumbuhan yangrelatif dapat ditekan. 2.2.3. Rekomendasi Kebijakan Pada beberapa indikator, terjadi peningkatan Tingkat Kualitas Sumber Daya Manusia di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kondisi ini tentu saja harus dipertahankan dan ditingkatkan. Sementara pada beberapa indikator, capaian menunjukkan grafik yang terbilang 'jalan di tempat' atau justru memburuk. Terkait dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia ke depan, beberapa hal yang direkomendasikan adalah sebagai berikut: 1. Pertahankan dan tingkatkan indikator-indikator yang sudah baik Perlu dilakukan langkah-langkah terpadu untuk tetap mempertahankan pola capaian yang sudah baik, misalnya mengintensifkan capaian angka melek aksara 15 tahun, peningkatan kelayakan mengajar guru, menekan laju pertumbuhan penduduk, dan capaian jumlah pengguna KB. 2. Pendidikan gratis sampai pada level SMA Kebijakan selama ini yang diambil oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat adalah pendidikan gratis bagi siswa di SD dan SMP atau setara, sementara pada level SMA/K/MA tetap diberlakukan kebijakan pembiayaan oleh orangtua siswa. Selain kesenjangan akan terjadi, biaya bagi pendidikan di tingkat SMA/K/MA yang relatif tinggi Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  26
  28. 28. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel menyebabkan angka putus sekolah juga tinggi. Ke depan, pendidikan bersubsidi perlu diteruskan sampai pada jenjang pendidikan sekolah menengah lanjutan 3. Dampak Penambangan Timah Terkait dengan penambangan timah yang umumnya berlangsung ilegal, selain dampak ekologi, dampak sosial juga menyebabkan resiko yang cukup tinggi. Angka putus sekolah dipercaya sangat dipengaruhi oleh penambangan ilegal. Sebagai upaya untuk mencegah dampak tersebut, maka perlu dilakukan langkah strategis untuk mencegah semakin meluasnya dampak semacam ini. Salah satunya misalnya dengan mengeluarkan regulasi yang melarang anak usia sekolah melakukan penambangan, begitu juga terkait dengan pengaturan pola penambangan yang lebih tertata. 4. Penguatan lembaga agama dan Kebudayaan Sebagai daerah kepulauan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sangat rentan dengan pembauran penduduk. Dalam beberapa aspek, pembauran dapat menimbulkan persentuhan budaya yang baik, namun dalam banyap kasus pembauran justru menyebabkan krisis budaya dan tradisi. Persinggungan budaya pada gilirannya akan menyebabkan dekadensi moral dan krisis jati diri. Kenakalan remaja, pembauran tak terkendal, dan sebagainya akan menjadi dampak nyata. Ke depan, diperlukan penguatan lembaga keagamaan dan kebudayaan dalam rangka memfilter berbagai pengaruh luar agar tidak terlalu mendekonstruksi kultur dan kearifan lokal. 5. Program peningkatan kompetensi guru Capaian yang ditampakkan oleh grafik kelayakan guru mengajar terbilang cukup rendah. Hal ini disebabkan oleh kualitas sumber daya manusia pendidik yang masih relatif rendah. Oleh karena itu, pemeritah perlu mengupayakan peningkatan kompetensi mengajar guru melalui program bantuan pendidikan studi lanjut, pelatihan-pelatihan kependidikan, dan lain sebagainya. 6. Jumlah tenaga kesehatan Jumlah tenaga kesehatan, pada berbagai pos dan daerah, di daerah ini masih relatif rendah. Ke depan perlu diambil kebijakan untuk menambah kuota penerimaan kepegawaian tenaga teknis. Tak kalah pentingnya adalah bagaimana meningkatkan etos kerja para petugas kesehatan melalui berbagai program pembinaan kepegawaian dan diklat-diklat. Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  27
  29. 29. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel 7. Insentif tenaga kesehatan di daerah terpencil Sebagai daerah kepulauan, cukup banyak wilayah di Bangka Belitung yang terletak di daerah terpencil, bahkan di seberang laut dan sungai. Oleh karena itu, untuk meningkatkan loyalitas dan semangat para petugas kesehatan, perlu diberikan intensif yang memadai bagi para tenaga medis di daerah-daerah terisolir. Tujuannya sederhana, agar pelayanan publik di bidang kesehatan dapat menjangkau masyarakat kecil dan terisolir. 8. Akses Pelayanan Kesehatan Salah satu masalah bagi akses kesehatan adalah sarana dan prasarana yang belum begitu optimal. Kendala transportasi menjadi masalah serius bagi masyarakat di daerah terpencil, sementara fasilitas kesehatan di desa-desa kecil belumlah dapat disebut layak. Pemerintah harus mempercepat pembangunan sarana dan prasarana dalam rangka meningkatkan akses pelayanan kesehatan. Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  28
  30. 30. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel 2.3 TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI 2.3.1. Capaian Indikator Indikator capaian yang digunakan dalam pembahasan Tingkat Pembangunan Ekonomi adalah bentuk persentase dan bentuk angka. Terdapat 7 indikator capaian berbentuk persentase dan 4 indikator capaian berbentuk angka yang dijelaskan dalam bentuk tabel terpisah. Metode yang digunakan untuk menentukan capaian Tingkat Pembangunan Ekonomi adalah sebagai berikut: (1) Indikator hasil (outcomes) disusun dari beberapa indikator pendukung terpilih yang memberikan kontribusi besar untuk pencapaian indikator hasil (outcomes). Adapun indikator pendukung tersebut adalah sebagai berikut: a. Laju inflasi b. Laju pertumbuhan Ekonomi c. Persentase ekspor terhadap PDRB d. Persentase output Manufaktur terhadap PDRB e. Persentase output UMKM terhadap PDRB f. Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMA g. Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMDN (2) Pencapaian indikator hasil (outcomes) dihitung dari nilai rata-rata indikator pendukung dengan nilai satuan yang digunakan adalah persentase. (3) Indikator pendukung yang satuannya bukan berupa persentase, maka tidak dimasukkan dalam rata-rata, melainkan ditampilkan tersendiri. Adapun indikator yang tidak termasuk dalam penghitungan indikator hasil adalah sebagai berikut: a. Pendapatan perkapita (Rp Juta) b. Panjang jalan nasional berdasarkan kondisi (Km) c. Panjang jalan provinsi dan kabupaten berdasarkan kondisi (Km) d. Penambahan panjang jalan provinsi per tahun (4) Apabila indikator hasil (outcomes) dalam satuan persentase memiliki makna negatif, maka sebelum dirata-ratakan nilainya harus diubah atau dikonversikan terlebih dahulu menjadi (100%) – (persentase pendukung indikator negatif). Contoh pada Angka laju inflasi yang bermakna negatif.. Dalam hal, tidak tersedia data, maka perhitungan tetap dilakukan dengan mengurangi jumlah pembagi dari total keseluruhan capaian. Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  29
  31. 31. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel (5) Pencapaian indikator hasil adalah jumlah nilai dari penyusun indikator hasil dibagi jumlah dari penyusun indikator hasil (indikator pendukungnya). Tabel Indikator dalam Bentuk Persentase No Indikator 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1. Laju Inflasi 9,00 17,45 6,42 2,64 18,40 1,59 (91) (82,55) (93,58) (97,36) (81,6) (98,41) 2. Laju Pertumbuhan 3,28 3,47 3,98 4,54 2,65 2,15 Ekonomi 3. Persentase ekspor 30,58 46,05 54,24 47,41 63,47 63,46 terhadap PDRB 4. Persentase output 22,77 22,38 22,28 22,51 22,56 21,87 manufaktur terhadap PDRB 5. Persentase output UMKM - - - - - - terhadap PDRB 6. Persentase pertumbuhan - - -0,380 -0,925 1,322 0,0059 realisasi investasi PMA 7. Persentase pertumbuhan - - -0,212 -0,623 -0,956 -0,597 realisasi investasi PMDN Jumlah Nilai Hasil 147,63 154,45 173,49 170,27 170,65 185,30 Penyusun Indikator Hasil 4 4 6 6 6 6 Nilai Indikator Hasil 36,91 38,61 28,92 28,38 28,44 30,88     Tabel Indikator dalam Bentuk Angka (Tidak diperhitungkan dalam Outcomes Daerah) No Indikator 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1. Pendapatan per kapita 11,52 13,58 14,81 16,17 (Rp. Juta). 2. Panjang jalan nasional 531,00 530,65 531,00 530,65 berdasarkan kondisi (Km) • Baik 349 228,1 452 • Sedang 116 162,51 16 • Buruk 66 140,04 63 3. Panjang jalan provinsi 3207 3018,32 1514 dan kabupaten berdasarkan kondisi (Km) • Baik 1271 990,79 446 • Sedang 941 632,58 754 • Buruk 995 899,45 314 4. Penambahan panjang 0 10,17 0 21,8 0 0 jalan provinsi per tahun Jumlah Nilai Hasil 3749,52 3572,72 2059,81 568,62 Penyusun Indikator Hasil 4 4 4 3 3 3 Nilai Indikator Hasil 937,38 893,18 514,95 189,54 - -       Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  30
  32. 32. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Tabel Indikator Outcomes Daerah dan Tren Daerah No Indikator Outcomes 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Tingkat Pembangunan Ekonomi 36,91 38,61 28,92 28,38 28,44 30,88 2 Tren Daerah 0,05 -0,25 -0,02 0,002 0,09 40 35 30 25 20 Outcomes daerah 15 Tren daerah 10 5 0 -5 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik Capaian Outcomes Daerah dan Tren Daerah Untuk menganalisis Relevansi dan Efektivitas, berikut ini adalah capaian outcomes nasional dan tren nasional Tabel Indikator Outcomes Nasional dan Tren Nasional No Indikator Outcomes 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Tingkat Pembangunan Ekonomi 39,47 40,07 40,24 41,71 42,97 -2,54 2 Tren Nasional 0,02 0,00 0,04 0,03 -1,06 45 40 35 30 25 Tingkat Pembangunan 20 Ekonomi Nasional 15 Tren Nasional 10 5 0 -5 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik capaian Outcomes Nasional dan Tren Nasional Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  31
  33. 33. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Tabel Relevansi dan Efektivitas No Indikator Outcomes 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Outcomes Nasional 39,47 40,07 40,24 41,71 42,97 -2,54 2 Outcomes Daerah 36,91 38,61 28,92 28,38 28,44 30,88   45 40 35 30 25 20 Outcomes Nasional 15 Outcomes Daerah 10 5 0 -5 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik Relevansi dan Efektivitas Tabel Relevansi dan Efektivitas Tren Nasional dan Tren Daerah No Tren 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Tren Nasional 0,02 0,00 0,04 0,03 -1,06 2 Tren Daerah 0,05 -0,25 -0,02 0,002 0,09   0,2 0 -0,2 -0,4 Tren Nasional -0,6 Tren Daerah -0,8 -1 -1,2 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik Relevansi dan Efektivitas Tren Nasional dan Tren Daerah Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  32
  34. 34. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Analisis Relevansi Analisis ini digunakan untuk menganalisis sejauhmana tujuan/sasaran pembangunan yang direncanakan mampu menjawab permasalahan utama/tantangan. Dalam hal ini, relevansi pembangunan daerah dilihat apakah tren capaian pembangunan daerah sejalan atau lebih baik dari capaian pembangunan nasional. Memperhatikan capaian pembangunan daerah sebagaimana ditampakkan dalam tabel di atas, terlihat grafik bahwa pada tahun 2005, kinerja pembangunan daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja pembangunan secara nasional. Tetapi pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2008 terjadi penurunan, dan pada tahun 2009 kembali menunjukkan peningkatan dimana trend daerah provinsi kepulauan Bangka Belitung sebesar 0,09 dan lebih tinggi dari trend nasional. Capaian kinerja yang sangat relevan terlihat pada tahun 2005, dimana tren capaian pembangunan daerah berada pada level 0,05 sementara pembangunan nasional hanya berada pada level 0,02. Tren capaian pembangunan daerah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun drastis pada tahun 2006 mencapai titik terendah yaitu pada level - 0,25, dimana pada saat itu tren capaian pembangunan nasional berada pada level 0,00. Pada tahun 2006, 2007 dan 2008 tren capaian pembangunan daerah tidak relevan jika dibandingkan dengan capaian tren pembangunan nasional. Tetapi Relevansi itu nampaknya akan meningkat pada tahun 2009 melihat angka sementara menunjukkan capaian relevansi di daerah yang sangat baik yaitu sebesar 0,09, sedangka tren capaian pembangunan nasional sebesar -1,06. Secara umum, dapat dikatakan terjadinya fluktuasi relevansi di bidang capaian pembangunan ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Analisis Efektivitas Analisis ini digunakan untuk mengukur dan melihat kesesuaian antara hasil dan dampak pembangunan terhadap tujuan yang diharapkan. Efektivitas pembangunan dapat dilihat dari sejauhmana capaian pembangunan daerah membaik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Melihat data yang tersaji di atas, dapat dikatakan bahwa capaian pembangunan Ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berfluktuasi. Keadaan yang agak stabil terjadi pada tahun 2006 sampai dengan 2008. Pada tahun 2009 diperkiraan capaian kinerja pembangunan daerah bidang ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diperkirakan akan bergerak naik. Grafik yang naik turun menunjukkan bahwa pembangunan di provinsi ini tidak terlalu efektif. Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  33
  35. 35. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Lihat lagi grafik capaian outcomes yang naik turun tersebut: Outcome daerah 45 40 35 30 25 Outcome daerah 20 15 10 5 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik di atas menunjukkan bahwa pembangunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak terlalu efektif. Kondisi yang sama sebetulnya ditampakkan pada kinerja pembangunan nasional yang juga mengalami fluktuasi. 2.3.2. Analisis Capaian Indikator Spesifik dan Menonjol (How and way) Ada tiga komponen utama dalam pengukuran indikator Tingkat Pembangunan Ekonomi, yaitu Ekonomi Makro, Investasi dan Infrastruktur Ke-11 indikator yang terdapat pada tiga komponen utama tersebut menunjukkan capaian angka yang kadangkala baik, namun pada beberapa indikator justru sangat tidak baik. Beberapa capaian indkator sepesifik dan menonjol itu adalah: Laju Inflasi Laju inflasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung cenderung mengalami fluktuasi yang sangat tajam. Fluktuasi laju inflasi tersebut dapat dilihat pada grafik berikut ini: Laju Inflasi 20 18 16 14 12 10 Laju Inflasi 8 6 4 2 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  34
  36. 36. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Grafik di atas menunjukkan bahwa meski sempat mengalami penurunan laju inflasi pada tahun 2006 dan 2007, namun mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2008, dimana angka inflasi mencapai titik tertinggi yaitu sebesar 18,40%, hal ini disebabkan terjadinya krisis keuangan global yang dimulai pada pertengahan september 2008, yang sangat berdampak terhadap makro ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kondisi ini terjadi karena komoditi andalan Bangka belitung yaitu hasil pertambangan khususnya Timah dan hasil perkebunan yaitu kelapa sawit, karet dan lada tujuan utama pemasarannya adalah pasar ekspor, disamping itu kebutuhan utama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung umumnya didatangkan dari luar. Persentase Laju Pertumbuhan Ekonomi Persentase Laju pertumbuhan ekonomi cukup memprihatinkan. Tahun 2004 sampai dengan 2008, laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berada dibawah laju pertumbuhan ekonomi Nasional. Beberapa faktor penyebab rendahnya laju pertumbuhan eonomi adalah perekonomian Bangka Belitung sangat tergantung pada sektor primer yaitu pertambangan, disamping itu masalah krisis listrik juga menjadi penyebab rendahnya laju pertumbuhan ekonomi di Bangka Belitung. Laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dapat dilihat pada grafik berikut ini: Laju Pertumbuhan Ekonomi 5 4,5 4 3,5 3 Laju Pertumbuhan 2,5 Ekonomi 2 1,5 1 0,5 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik di atas menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan persentase yang relatif rendah, berada dikisaran 2,65 sampai dengan 4,54. Pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2008 yang merupakan Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  35
  37. 37. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel dampak dari krisis keuangan global yang sangat terasa di Provinsi ini. Sedangkan pertumbuhan tertinggi sebesar 4,54 terjadi pada tahun 2007. Sampai september 2009 pertumbuhan ekonomi di provinsi ini hanya sebesar 2,15%. Persentase Ekspor terhadap PDRB Persentase ekspor terhadap PDRB menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ketahun walaupun sedikit terjadi fluktuasi, sebagaimana terlihat pada grafik berikut: Persentase Eksport Terhadap PDRB 70 60 50 40 Persentase Eksport 30 Terhadap PDRB 20 10 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Grafik di atas menunjukkan bahwa persentase ekspor terhadap PDRB dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, sedangkan pada tahun 2007 sedikit mengalami penurunan, kemudian meningkat dengan tajam pada tahun 2008 dan diprediksi akan tetap bertahan pada tahun 2009. Kondisi ini dengan jelas menunjukkan bahwa perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didominasi oleh komodi-komoditi tujuan eksport, baik yang berasal dari sektor pertambangan maupun dari sektor perkebunan. Persentase Output Manufaktur Terhadap PDRB Industri manufaktur (Pengolahan) juga memberikan kontribusi yang cukup besar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hal ini ditunjukkan oleh persentase yang ditunjukkan oleh output industri manufaktur terhadap PDRB yang relatif stabil berada pada kisaran 22 persen dari tahun 2004 sampai tahun 2008. Pada tahun 2009 ini diprediksi sedikit mengalami penurunan karena hanya akan memberikan kontribusi sebesar 21, 87 persen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini: Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  36
  38. 38. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Persentase Output Manufaktur Terhadap PDRB 23 22,8 22,6 22,4 Persentase Output 22,2 Manufaktur Terhadap 22 PDRB 21,8 21,6 21,4 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMA Pertumbuhan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) menunjukkan persentase yang negatif, hal ini terjadi pada tahun 2006 dan tahun 2007. Salah satu faktor penyebab rendahnya persentase pertumbuhan realisasi investasi PMA adalah masalah krisis daya listrik yang membelenggu perekonomian di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sehingga minat investor untuk merealisasikan investasinya cenderung rendah. Pada tahun 2008 menunjukkan tren positif, meningkat cukup signifikan dibandingkan pada tahun sebelumnya dan diperkirakan tren tersebut akan tetap positif pada tahun 2009, dimana pada tahun 2009 pemerintah telah memberkan izin kepada dua perusahaan yang berstatus Penanaman Modal Asing (PMA) yang bergerak di bidang proferti dan perikanan untuk beroperasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini: Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMA 1,5 1 0,5 Persentase Pertumbuhan 0 Realisasi Investasi 2004 2005 2006 2007 2008 2009 PMA -0,5 -1 -1,5 Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  37
  39. 39. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMDN Seperti halnya dengan persentase pertumbuhan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA), persentase pertumbuhan realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berada pada angka yang negatif. Adapun faktor penyebabnya juga masalah krisis daya listrik yang menyebabkan investor tidak begitu tertarik untuk merealisasikan investasinya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hal ini dapat dilihat pada grafik berikut ini: Persentase Pertumbuhan Realisasi Investasi PMDN 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 -0,2 -0,4 Persentase Pertumbuhan -0,6 Realisasi Investasi PMDN -0,8 -1 -1,2 Peningkatan Capaian Dari masalah spesifik dan menonjol seperti diuraikan di atas, indikator-indikator capaian lain menunjukkan capaian angka yang baik. Terjadi peningkatan kualitas pada indikator: Pendapatan perkapita.    2.3.3. Rekomendasi Kebijakan Secara umum indikator-indikator tingkat pembangunan ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung cenderung berfluktuasi, ada indikator yang cenderung stabil atau terbilang 'jalan di tempat' atau justru memburuk. Terkait dengan upaya peningkatan Tingkat Pembangunan Ekonomi ke depan, beberapa hal yang direkomendasikan adalah sebagai berikut: 1. Jangan Tergantung pada Produk Luar Salah satu faktor penyebab tingginya harga-harga yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang menyebabkan tingginya biaya hidup adalah barang kebutuhan Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  38
  40. 40. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel pokok masyarakat kebanyakan didatangkan dari luar daerah. Hal disebabkan tingginya biaya transportasi dan juga sangat tergantung pada faktor alam (cuaca). Kedepan pemerintah harus berusaha untuk menyediakan barang-barang yang bisa dihasilkan sendiri, seperti sayur-sayuran, beras, dan lain-lain sehingga tidak lagi bergatung kepada daerah luar. 2. Atasi Krisis Listrik Masalah krisis daya listrik merupakan permasalahan utama yang dihadapi oleh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Terjadinya krisis listrik berdampak pada rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari tahun ketahun cenderung berada dibawah rata-rata pertumbuhan ekonomi secara nasional. Krisis listrik juga menjadi penyebab rendahnya realisasi pertumbuhan investasi baik PMA maupun PMDN, yang selanjutnya juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, salah satu cara untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan cara mempercepat pembangunan pembangkit- pembangkit listrik baru. 3. Perbaiki iklim Investasi Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya pertumbuhan investasi baik PMA maupun PMDN di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah prosedur pengurusan administrasi yang berbelit dan cenderung membutuhkan waktu yang lama. Kedepan perlu dilakukan penyederhanaan prosedur untuk investasi dan waktu yang dibutuhkan juga tidak begitu lama. 4. Diversifikasi Komoditi Eksport Komoditi eksport Banga Belitung pada saat ini masih didominasi oleh sektor primer yaitu sektor pertambangan, khususnya timah dan sektor perkebunan seperti kelapa sawit, lada dan karet. Ke depan perlu dilakukan langkah-langkah strategis untuk menambah jenis produk atau komoditi ekspor seperti bidang industri pengolahan timah, pengolahan hasil perikanan, hasil industri kecil, dan lain-lain. 5.Perbaiki sarana dan Prasarana Salah satu masalah dalam pembangunan ekonomi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sarana dan prasarana yang belum begitu optimal. Fasilitas pelabuhan laut, sarana jalan, bandara masih menjadi permasalahan serius. Untuk menggenjot Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  39
  41. 41. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel pembangunan ekonomi dengan cepat, pemerintah perlu segera memperbaiki sarana jalan dan jembatan, mengembangkan pelabuhan-pelabuhan laut sehingga dapat melakukan bongkar-muat barang dalam jumlah yang lebih besar dalam waktu yang lebih cepat, serta memperbaiki dan meperluas fasilitas bandara. 6. Tingkatkan Promosi Daerah Sebagai provinsi baru, Kepulauan Bangka Belitung harus lebih meningkatkan promosi keluar daerah, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Banyak potensi-potensi daerah ini yang belum banyak dikenal, seperti potensi dibidang pariwisata, bidang perikanan, dan bidang-bidang lainnya. Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  40
  42. 42. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel 2.4 KUALITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM   Untuk mengetahui kualitas pengelolaan sumberdaya alam digunakan beberapa indikator yaitu: A. Dalam bidang kehutanan, indikatornya adalah : a. persentase luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis b. rehabilitasi lahan luar hutan c. luas kawasan konservasi B. Dalam bidang kelautan, indikatornya adalah : a. jumlah tindak pidana perikanan b. persentase terumbu karang dalam keadaan baik c. luas kawasan konservasi laut Indikator tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu indikator dalam bentuk prosentase dan indikator dalam bentuk bukan presentase (dalam bentuk angka). Data indikator tersebut tersaji dalam tabel 1 dan tabel 2 berikut. Tabel 1. Data Indikator dalam Bentuk Prosentase No Indikator Hasil Capaian Tahun (Output) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Persentase luas 0,01 0,03 0,48 0 0 0 lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis 2 Persentase terumbu 0 0 40 38 35 30 karang dalam keadaan baik   Tabel 2. Data Indikator dalam Bentuk Bukan Prosentase (Bentuk Angka) No Indikator Hasil Capaian Tahun (Output) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 Rehabilitasi lahan 515 120 550 95 150 0 luar hutan 2 Luas kawasan 34.690 (ha) 34.690 (ha) 2.591 2.591 2.623,099 0 Konservasi 3 Jumlah tindak 7 0 0 0 11 23 pidana perikanan 4 Luas kawasan 0 0 0 662.793,78 konservasi laut   Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  41
  43. 43. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel 2.4.1. Capaian Indikator Outcomes Capaian indikator outcomes (capaian indikator hasil) merupakan angka yang diperoleh dari rata-rata indikator-indikator yang di perbandingkan antara indicator Nasional dengan indikator Provinsi Bangka Belitung yang kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis Relevansi dan analisis Efektivitas. Dari indikator-indikator yang berasal dari Tabel 1, kemudian dibuat indikator outcomes (indikator hasil) kualitas pengelolaan sumberdaya alam di Provinsi Bangka Belitung yang berasal dari rata-rata prosentase luas lahan rehabilitasi dalam hutan terhadap lahan kritis dan prosentase terumbu karang dalam kondisi baik. Selanjutnya dibuat tren kualitas pengelolaan sumberdaya alam dari tahun 2004-2009 seperti terlihat pada Tabel 3 dibawah ini: Tabel 3. Rata-rata Dan Trend Kualitas Pengelolaan Sumberdaya Alam Provinsi Bangka Belitung No Indikator Capaian tahun 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Persentase luas lahan 1 rehabilitasi 0,01 0,03 0,48 0 0 0 dalam hutan terhadap lahan kritis Persentase terumbu 2 karang 0 0 40 38 35 30 Dalam keadaan baik Rata-rata indikator hasil 0,005 0,015 20,24 19 17,5 15 kualitas SDA Trend Kualitas Pengelolaan SDA 2 1348,333 -0,06126 -0,078947368 -0,14286 Jika kualitas pengelolaan sumberdaya alam provinsi bangka belitung dibandingkan dengan kualitas pengelolaan sumberdaya alam Nasional maka akan terlihat hasil seperti pada grafik 1. 1. Analisis Relevansi Dari grafik 1 tersebut diatas terlihat bahwa capaian indikator hasil provinsi lebih tinggi daripada capaian indikator hasil nasional, dengan catatan data capaian indikator hasil pada Provinsi Bangka Belitung baru ada pada tahun 2006. Tingginya capaian indikator hasil Provinsi Bangka Belitung tersebut karena: a. Luas wilayah Perbandingan luas wilayah Indonesia dengan luas wilayah Provinsi Bangka Belitung yang menjadi indikator output sangat berbeda dimana pada tingkat nasional banyak sekali wilayah Indonesia yang telah mengalami kondisi kritis baik hutan maupun Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  42
  44. 44. Laporan EKPD BAPPENAS 2009-Prov. Kep. Babel lautnya. Meskipun demikian tidak dipungkiri bahwa terdapat beberapa proses rehabilitasi yang terjadi di dalamnya. Grafik Capaian Indikator Kualitas Pengelolaan SDA Babel Dengan Capaian Indikator Nasional 25 20 O u tco m es In d ikato r C ap aian 15 10 5 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Capaian Tahun Indikator Outcomes Babel Indikator Outcomes Nasional Grafik 1. Perbandingan Capaian Indikator Kualitas Pengelolaan SDA Provinsi Bangka Belitung dengan Capaian Indikator Nasional b. Proses rehabilitasi sumberdaya alam Banyak sekali kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat swasta maupun pemerintah Provinsi Bangka Belitung dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan sumberdaya alam antara lain, reklamasi daerah bekas tambang timah darat oleh pihak PT Timah. Terdapat kegiatan yang dilakukan pemerintah provinsi ini yang bertujuan untuk merehabilitasi kawasan hutan yang kritis yaitu Program Perempuan Tanam, Tebar dan Pelihara untuk Ketahanan Pangan Keluarga dan Hari Menanam Pohon Indonesia. Kegiatan lain yang dilakukan pemerintah adalah memasang rambu-rambu peringatan pada kawasan hutan lindung dan hutan konservasi disertai ancaman apabila melanggarnya. Keterlibatan masyarakat miskin dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan menjaga lingkungan dengan melakukan reboisasi untuk kawasan lahan seluas 1.710 hektar. Selain itu adanya program terumbu karang buatan yang dilakukan oleh departemen kelautan dan perikanan. c. Penelitian Penelitian teknik rehabilitasi dalam rangka reklamasi kawasan bekas tambang timah telah dilakukan salah satunya oleh Universitas Bangka Belitung yang merupakan universitas yang berada di provinsi ini. Tim EKPD Universitas Bangka Belitung  43

×