Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
Eko Prabowo 
www.wustuk.com | @wustuk
Berada di sana, di tengah gempuran distorsi dan teriakan kebebasan yang membahana, adalah berkah. 
Bersama pertunjukkan mu...
4 
5 
DAFTAR 
foreword 
is 
8 - 123 
124 - 149 
7 
6 
5 
150 - 165 
166 - 169 
170 - 225 
gigs 
album 
catatan pinggir 
te...
terimakasih 
6 
7 
I 
I 
ni hanyalah kumpulan catatan saya yang semula tertuang di wustuk.com, Kompasiana, blogspot (blogg...
8 
9 
gigs
10 
11 
I 
1 
tulah puisi Chairil Anwar yang disisipkan Robi di penghujung penampilannya, jam dua pagi. Sejujurnya, jika g...
12 
13 
Sesi ini adalah yang paling tertib. Tidak banyak moshing terjadi di depan panggung. Semua audiens seolah hanyut da...
14 
WE DON’T NEED NO DEFINITION 
Satu nomor instrumen dihembuskan ke udara Prost Beer House yang sudah beku dengan kehenin...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Buku Grunge Lokal - Teaser

4,080 views

Published on

Grunge. Seattle sound. Alternative rock. Buku ini tentang keindahan yang hingar bingar. Sebuah meditasi dalam distorsi.

KUTIPAN BUKU:
"Berada di sana, di tengah gempuran distorsi dan teriakan kebebasan yang membahana, adalah berkah... Bersama pertunjukan musik rock dalam wujudnya yang paling hakiki, saya tidak hanya menemukan keindahan musik... Saya menemukan diri sendiri…"

Published in: Entertainment & Humor
  • Be the first to comment

Buku Grunge Lokal - Teaser

  1. 1. Eko Prabowo www.wustuk.com | @wustuk
  2. 2. Berada di sana, di tengah gempuran distorsi dan teriakan kebebasan yang membahana, adalah berkah. Bersama pertunjukkan musik rock dalam wujudnya yang paling hakiki, saya tidak hanya menemukan keindahan musik. Saya menemukan diri sendiri… Eko Prabowo www.wustuk.com | @wustuk 2 3
  3. 3. 4 5 DAFTAR foreword is 8 - 123 124 - 149 7 6 5 150 - 165 166 - 169 170 - 225 gigs album catatan pinggir terima kasih foreword opini epilog bo nus: pearl jam indonesia Saya musisi. Hanya membuat lagu, masuk studio, berada di panggung, dan menjalani tur-tur panjang yang melelahkan, namun tidak pernah menulisnya sebagai sebuah kisah perjalanan. Tidak juga menulis sebuah pengakuan. Grunge dan Indonesia, diantara terjal perjalanan dan sebuah pengakuan. Dengan apa yang kamu tulis, kelak saya dan grunge Indonesia bukan hanya mitos. Te t apla h menul is . Saya akan t e t ap membua t la g u. -Dankie-
  4. 4. terimakasih 6 7 I I ni hanyalah kumpulan catatan saya yang semula tertuang di wustuk.com, Kompasiana, blogspot (blogger), dan facebook yang, di luar dugaan, rupanya cukup banyak dibaca orang. Siapa yang baca, saya tidak tahu persis. Teman- teman saya yang cari makan sebagai musisi atau yang aktif nongkrong di Pearl Jam Indonesia (PJID) tentu termasuk di dalamnya. Bagi sebagian orang, grunge sudah mati. Begitulah. Mereka bilang grunge mati ketika Kurt Cobain meledakkan kepalanya sendiri. Bahkan Chris Cornell bilang bahwa grunge mati sebelum lahir, ketika Andy Wood meninggal akibat over dosis. Ya, itu kata mereka. Kata saya sih, grunge tetap hidup. Setidaknya dalam semangat jiwa saya yang menolak pudar dan menua. Bagi saya, grunge tidak akan pernah mati! Tapi barangkali saya hanya sekedar beruntung. Saya banyak dapat kesempatan menikmati aksi grunge lokal khas Indonesia secara live. Aksi edan penuh energi dari Navicula, Besok Bubar, Cupumanik, Respito, Alien Sick, Konspirasi, Solidair, dan tentu saja konser-konser suguhan PJID. Dalam semua kesempatan itu, saya menyaksikan dan merasakan sendiri betapa yang namanya grunge tidak berhenti di kaset ataupun CD. Ketika dihadirkan di panggung dan kemudian dikunyah oleh massa yang menyemut, grunge meledak. Selalu seperti itu. Meledak!!! Tidak masuk akal rasanya pulang dari sebuah konser grunge lokal tanpa merasa lelah seperti hampir mati, tanpa keringat yang mengucur sampai kering, atau tanpa sedikit memar di ujung bibir akibat kena tendang peserta crowd surfing yang kurang tahu diri. Dengan itu semua, saya menolak kematian grunge. Dan dengan catatan pinggir ini, saya mati-matian menolak grunge dipinggirkan! Selamat membaca. cha, istri saya yang turut hadir menemani saya di sebagian gigs dalam buku ini (waktu itu dia masih jadi pacar saya), adalah tempat bersandar yang tiada duanya. Abby, anak perempuan pertama saya yang saat buku ini disusun masih berumur 8 bulan, adalah semangat hidup yang tak kan pernah padam. Dua keajaiban dalam hidup saya itulah yang memberi saya keberanian dan energi untuk menyelesaikan buku ini. I ni bukan upaya untuk menyaingi catatan pinggir Goenawan Mohamad yang legendaris itu. Bukan! Seujung kukunya saja tidak. Buku ini jelas didedikasikan bagi kalian semua, penikmat musik sejati. Juga bagi musisi keras kepala yang selamanya menolak mati meski habis-habisan digebuki industri. Untuk keberanian dan ketulusan hati itulah saya menulis buku ini. CATATAN PINGGIR: SUPAYA GRUNGE TIDAK TERUS-TERUSAN DIAM DI PINGGIR TERIMA KASIH CATATAN PINGGIR Kepada Rudi, yang pontang-panting mendesain buku ini dan terpaksa bangun tengah malam hanya gara-gara urusan tipografi, saya haturkan terima kasih. Dia adalah teman terbaik untuk memantulkan ide, kapan saja dan di mana pun. Juga Gede, yang menjadi mentor dalam urusan self-publish dan sumber koreksi tiada akhir. Davro, yang coretan tangannya sudah tidak perlu diragukan lagi kualitasnya, memberi saya sampul buku yang layak dipamerkan. Bangga! Terima kasih sudah menampung semua kecerewetan saya soal konsep sampul yang sangat abstrak. Untuk semua kontributor foto, sungguh saya berhutang rasa. Foto-foto kalian sungguh ciamik! Juga kepada para musisi yang begitu rendah hati, yang menanggalkan atribut keartisan dan hadir di hadapan saya sebagai sosok seniman, bahkan sebagai teman, terima kasih untuk itu semua. Akhirnya, kepada gerombolan anjing hilang di PJID, kepada teman-teman tempat saya berbagi kegilaan akan Pearl Jam, saya layangkan cium sayang untuk kalian semua. B uku ini, sekali lagi, untuk kalian.
  5. 5. 8 9 gigs
  6. 6. 10 11 I 1 tulah puisi Chairil Anwar yang disisipkan Robi di penghujung penampilannya, jam dua pagi. Sejujurnya, jika grunge, atau setidaknya rock, di negeri ini dimainkan seperti Navicula semalam (13/4/2009) memainkannya, jangankan seribu tahun lagi, sampai matahari padam pun ia akan selalu terdengar. Akan selalu terasa. Menemani hidup kita semua. Memberi makna melalui tawa dan juga air mata. “Grunge Gods II”, yang kali ini berlokasi di Prost Beer House di bilangan Kemang, seolah ingin mengukuhkan keinginan tersebut. Sebuah pertunjukan daya hidup dari band-band pengusung rock dan grunge yang meskipun hidup penuh penderitaan, disingkirkan dari hingar-bingarnya industri musik bernilai trilyunan rupiah, namun tetap menolak kematian. Bahkan pembuka upacara pemujaan kebebasan berkarya malam itu pun adalah Besok Bubar, rock band yang sesungguhnya sudah benar-benar bubar, namun bangkit dari kuburan demi menjawab panggilan “Grunge Gods” edisi kedua ini! “Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari. Hingga hilang pedih, perih. Aku mau hidup seribu tahun lagi!” GRUNGE GODS II: WE DON’T NEED NO DEFINITION WE DON’T NEED NO DEFINITION WE DON’T NEED NO DEFINITION Membuka dengan “Diskriminasi”, Besok Bubar menggebrak audiens dengan kebebasan ekspresi. Amar, si vokalis berambut gondrong layaknya Cornell di era “Louder Than Love”, memuntahkan paru-parunya hingga puas. Beberapa nomor milik sendiri dan Soundgarden digeber tuntas. Auidens yang masih terbilang adem-ayem pun mulai merespon. Tidak ganas memang. Belum ada yang terbang melayang seperti yang nanti terjadi berulang-ulang. Namun energi malam itu sudah mulai terasa membakar. Terlebih ketika Amar merelakan gitarnya digaruk oleh audiens di tepi panggung. Jadilah si gitar itu terombang- ambing di pelukan penonton. Meraung-raung tidak karuan dijamah oleh sekian banyak jemari, hingga akhirnya kembali ke pangkuan si pemilik. Untung kembali! Kalau tidak, benar-benar bubar, deh! Respito menjadi menu berikutnya. Rock band yang kerap mengkampanyekan batik ini menyuguhkan nomor-nomor beragam. Mulai Stone Temple Pilots hingga Pearl Jam. Mengundang gitaris tamu, mereka menunjukkan keberanian dengan membawakan “Blood”. Terus terang, menurut pendapat saya yang bukan musisi, ini adalah lagu yang sulit. Namun yang benar-benar muncul ke permukaan adalah “Freedom”. Lagu cadas milik mereka sendiri. Mantap! Suara gitar yang menderu mengiringi jeritan vokal yang seolah menumpahkan semua kesangsian dalam jiwa. Melihat ekspresi wajah Pheps ketika meneriakkan ‘Freeeedoooommmm!!!’, rasanya memang ada sesuatu yang penting, dan mendesak, yang ingin disampaikan. Sayangnya, saya tidak tahu sama sekali bagaimana wujud lirik lagu ini secara lengkap. Malam itu dilanjutkan dengan Sonic Death. Kehadiran vokalis cewek yang sekaligus pembetot bass di band ini sedikit menyejukkan audiens yang sudah menunjukkan tanda-tanda bakal kalap. Apalagi dia membuka dengan: “Oh ya, ini kenalkan...” Gerrr... Sahutan-sahutan jail beterbangan di udara. Saya rasa malam itu memang banyak jomblo berkeliaran di sekitar panggung. Bagaimana mungkin ajakan kenalan seperti dilewatkan begitu saja? Sayangnya saya tidak menyaksikan penampilan mereka secara tuntas. Bukan apa-apa, saya terpaksa keluar ruangan karena tidak tahan dengan asap rokok. Maklum, saya kan memang mudah terharu. Mata saya selalu berkaca-kaca jika ditempatkan dalam ruangan penuh asap rokok. Menyegarkan diri selama 15 menitan di luar, saya masuk kembali dan disuguhi penampilan langka. Bagaimana tidak? Stigmata, yang sudah tidak pernah terlihat selama dua tahun belakangan, tampil dengan kekuatan penuh. Minus penggebuk drum, yang malam itu posisinya digantikan oleh istrinya Joshua.
  7. 7. 12 13 Sesi ini adalah yang paling tertib. Tidak banyak moshing terjadi di depan panggung. Semua audiens seolah hanyut dalam nostalgia. Bernyanyi bersama, mengenang kejayaan Stone Temple Pilots yang lagunya “Plush” pernah dikira single milik Pearl Jam oleh sebagian orang. Gudang senjata dikosongkan. Semua hits milik Stone Temple Pilots dimainkan. Dari “Unglued” hingga “Interstate Love Song”. Lagu yang diplesetkan menjadi Cinta Antar Kota Antar Propinsi, oleh sebagian anak milis PJId yang berbaris rapi di depan bartender. Satu lagu milik mereka sendiri, “Stigma Pagi Hari”, disuguhkan di penghujung penampilan, yang ternyata batal menjadi akhir karena audiens meneriakkan encore. Setelah sekian lama hilang, kembalinya Stigmata memberi kesegaran tersendiri. Seolah penegasan bahwa grunge memang belum mati. Dan mungkin takkan pernah mati. Setidaknya di hati kita, gerombolan kucel yang jiwanya merdeka. Bulan sudah menggelinding menuju tengah malam ketika Alien Sick tampil. Dilengkapi dengan gitaris tambahan: Javier, dan bintang tamu: Anda, mereka menyerbu tanpa ampun. Musik yang disuguhkan benar-benar menghantam seperti ingin merontokkan dada. Dua nomor dari album anyar mereka, “Lost In Friday”, digeber tanpa putus. Disusul kemudian dengan “Zero” yang legendaris. Jurus pembuka yang maut. Anda tampil memukau dalam dua nomor sakral, “Would” milik Alice in Chains dan “Spoonman” milik Soundgarden. Inilah saatnya luapan energi menyeruak. Menghantam kiri-kanan. Dari penampil turun ke penonton, kembali lagi ke atas panggung. Memantul ke segala penjuru ruangan. Menyelusup ke dalam jiwa. Tubuh-tubuh terlempar, melayang dalam pengertian sesungguhnya, diantara lengkingan suara gitar, disela teriakan Anda yang mempertanyakan alurnya kehidupan. “So I make a big mistake... Try to see it once my way...”. Kegelisahan di dada semakin memuncak ketika dia memprovokasi penonton dengan mantra dalam “Spoonman”: “Come on, will I get on... Come on, will I get on...”, sementara Pronky, Dicky, Olitz, dan Javier satu per satu maju dengan permainan individu yang matang. Kegilaan tengah malam mencapai puncaknya ketika audiens, sembari bertabrakan kiri-kanan, terlempar dan melayang, koor bersama seperti satu jiwa meneriakkan chorus dari “Slave” milik Silver Chair. “Want to be your soldier... Want to be your slave!!!” Saya tidak dapat membayangkan apa kelanjutan malam itu seandainya Olitz cs memutuskan untuk menggempur lagi. Mungkin hanya ada satu solusi: BAKAR!!! Untungnya mereka cukup pengalaman untuk meredakan letupan energi yang semakin menjadi, dan menyudahi penampilan malam itu dengan Kedua, sebuah nomor keras namun harmonis dari album yang sama, “Lost In Friday”. Jeda sejenak dan Konspirasi pun menghantam. Grunge band yang merupakan side project gagasan Edwin Cokelat ini menggempur dengan beberapa nomor anyar yang rencananya akan masuk dalam album debut mereka. “Lelah”, “Lelaki”, “Korup”, “Black”, “Simfoni Luka” dan satu nomor lagi yang saya tidak tahu judulnya, dibawakan mulus tanpa henti. Hanya sekali dua saja diselingi oleh ceramah tengah malam dari Che. Pertama kali menyaksikan “Lelah” dibawakan secara live adalah di panggung mini “Hai” di bilangan Jalan Panjang. Keras. Grunge total! Kali ini, mereka membawakan dengan lebih apik. Vokal Che yang mengingatkan saya pada bagian awal “Once”-nya Pearl Jam seolah berkejaran dengan cabikan gitar Edwin yang menderu. Bising. Namun sekaligus juga merdu. Apalagi bagian chorus yang mengalun panjang. Terkesan pop dan sepertinya enak untuk dinyanyikan bersama. Seandainya saya tahu liriknya! Penonton lebih banyak diam memperhatikan dan mengambil gambar selama Konspirasi beraksi. Deretan lagu yang belum familiar menjadi alasan utama. Moshing dan koor kecil-kecilan terjadi ketika “Them Bones”-nya Alice in Chains serta “Down”-nya Stone Temple Pilots digeber. Namun yang paling menarik adalah edisi akapela dari medley “Alive” dan “Yellow Ledbetter” milik Pearl Jam. Iseng-iseng Edwin memainkan intro “Alive” yang langsung disambut oleh semua audiens. Terutama warga milis PJID yang memang sejak sore menantikan lagu- lagu Pearl Jam (yang sialnya memang seperti alergi untuk dibawakan!). Sampai chorus pertama, ketika Che dan audiens sudah menyatu, tiba-tiba petikan berubah menjadi intro “Yellow Ledbetter”. Makjang! Dan benar-benar kurang ajar, di bait pertama petikan gitar menghilang! Alhasil audiens berakapela melanjutkan lagu. Barulah pada chorus pertama, yang sekaligus penghujung lagu, Edwin muncul kembali mengiringi. Nice touch! Semua sudah lelah ketika Zu muncul mengusung “Animal”. Sesuai dugaan, dan juga ekspektasi, mereka membawakannya dengan interpretasi bebas. Menjadikan “Animal” terdengar familiar sekaligus berbeda. Ketiga pemuda Bandung ini memang selalu beda. Pagi itu pun, dalam balutan masalah teknis yang datang silih berganti, mereka mampu menyajikan nomor-nomor yang terdengar enak. Sederetan cover version yang terdengar baru. Redefinisi. Itulah Zu. Seolah menanti datangnya badai, semua penonton cenderung tenang selama Zu berada di panggung. Bahkan ketika Aryo Wahab, Dendi Kunci, dan Ipang BIP maju membawakan “Interstate Love Song” pun audiens tetap diam. Keheningan yang mengawali sebuah badai sempurna. Badai dahsyat bernama Navicula. Kalau kamu gemar Led Zeppelin, tentu tahu jurus memanggil arwah milik Jimmy Page yang diperdengarkan di bagian awal “Black Dog”. Demikianlah yang dilakukan Navicula dini hari itu. WE DON’T NEED NO DEFINITION WE DON’T NEED NO DEFINITION
  8. 8. 14 WE DON’T NEED NO DEFINITION Satu nomor instrumen dihembuskan ke udara Prost Beer House yang sudah beku dengan keheningan. Dengan keingintahuan yang demikian dalam tertahan. Kebisuan yang terdengar ramai di kepala. Karena berkecamuk pertanyaan: seperti apa wujud Navicula? Apakah mereka memang pantas digelari The Last Gentlemen of Grunge? Dan nuansa instrumen yang dimainkan ini seolah membawa kenangan serta kekuatan dari tanah yang jauh. Dari tanah dewata. Tanah yang aneh, karena disana berdiam masyarakat pesisir yang membalikkan tubuhnya dari laut dan memilih untuk berserah pada kebesaran gunung. Bagaikan sebuah pernyataan dalam diam. Kami sudah datang. Dengarkanlah... Dan benarlah. Audiens mendengar. Menyerap. Merespon. Menggelora. Menggila! “Menghitung Mundur”, “Supremasi Rasa”, “Zat Hijau Daun”, “Abdi Negeri”, “Aku Bukan Mesin”, “Televishit”, dan sederet nomor maut lainnya meluncur bagai peluru. Cepat. Keras! Dentuman bass, derapan drum, cabikan gitar yang menderu, teriakan yang seperti suara dari neraka, semua menyatu. Semua mendesing cepat. Satu belum selesai dicerna, sudah tiba yang kedua. Tiga belum selesai, sudah datang lima. Benar-benar seperti berondongan peluru. Yang terbang ke segala arah. Ke atas. Ke bawah. Ke dalam dada. Dan korbannya adalah jiwa kami. Yang serasa tercabik. Diangkat ke angkasa lalu dibanting kembali. Terperangah. Terpesona. Tergugah amarah yang tersimpan apik dalam muntahan lirik-lirik menggugat. Dahsyat! Dalam kebisingan, kekerasan luar biasa, kemarahan yang membara, Navicula terdengar merdu. Terlihat indah. Terasa benar kedamaian musiknya. Bersatu bersama audiens yang memuja. Bagaikan angin siklon, Navicula menyentuh lautan manusia di depan panggung yang serta-merta menggelora. Tubuh-tubuh menggeletar. Berteriak bersama. Satu nada. Tubuh-tubuh bertabrakan. Beterbangan. Seolah dipermainkan oleh nada-nada ganas yang berkekuatan dewa. Dihempaskan. Diangkat. Dihempaskan lagi. Mungkin inilah grunge, yang tidak mampu didefinisikan dengan baik oleh kebanyakan orang. Terutama saya. Mungkin kita memang tidak perlu mendefinisikannya. Sia-sia. Alami saja. Rasakan. Inilah grunge. Yang tidak perlu definisi supaya eksis. Yang tidak butuh pengakuan supaya ada. Karena dia memang ada. Terdengar. Terasa. Hingga seribu tahun lagi... Dan korbannya adalah jiwa kami. Y ang serasa tercabik. Diangkat ke angkasa lalu dibanting kembali. Terperangah. Terpesona.

×