5 sistem dan struktur sosial ind

12,626 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
12,626
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1,552
Actions
Shares
0
Downloads
264
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

5 sistem dan struktur sosial ind

  1. 2. <ul><li>Sitem sosial menurut Nasikun: adalah suatu sistem tindakan, yang terbentuk dari interaksi yang terjadi di antara berbagai individu, yang tumbuh dan berkembang di atas standar penilaian umum yang disepakati bersama oleh anggota masyarakat. </li></ul><ul><li>Standar penilaian umum: Norma-norma sosial yang membentuk struktur sosial </li></ul><ul><li>Dalam masyarakat setiap anggota masyarakat menganut dan mengikuti pengertian-pengertian sosial, maka tingkah laku setiap anggota masyarakat kemudian terjalain sedemikian rupa ke dalam bentuk suatu struktur sosial tertentu </li></ul>
  2. 3. <ul><li>Interaksi sosial K omitmen terhadap norma mengatasi perbedaan pendapat dan kepentinganTerjadilah Integrasi Sosial </li></ul>
  3. 4. PARSON <ul><li>Sistem sosial sebagai satu dari tiga cara di mana tindakan sosial bisa diorganisasikan </li></ul><ul><li>Teradapat dua sistem tindakan: Sitem kultural yang mengandung nilai dan simbol ; sitem kepribadian para pelaku individual </li></ul><ul><li>Masyarakat menurut Parson: sistem sosial yang dilihat sebagai sebuah sistem parsial, maka masyarakat dapat berupa setiap jumlah dari sekian banyak sitem yang kecil-kecil, seperti keluarga, sistem pendidikan, lembaga-lembaga keagamaan </li></ul><ul><li>Pendapat Parson terkenal dngan Pendekatan Fungsionalisme struktural </li></ul>
  4. 5. <ul><li>Masyarakat dilihat sebagai suatu sistem yang saling berhubungan satu sama lain </li></ul><ul><li>Hungan tersebut saling mempengaruhi diantara bagian tersebut dan bersifat ganda serta timbal balik </li></ul><ul><li>Sitem sosial cenderung bergerak ke arah Equilibrium bersifat dinamis </li></ul><ul><li>Meski terjadi disfungsi tapi melalui proses penyesuaian dan institusionalisasi maka norma akan dikenal, diakui, dihargai, dan ditaati </li></ul><ul><li>Perubahan dalam sistem sosial secra gradual tidak revolusioner . Perubahan drastis hanya bagian luar saja unsur sosial budaya yang menjadi bagian dasarnya tidak banyak berubah </li></ul>
  5. 6. 6. Perubahan sosial tersebut melalui 3 kemungkinan: 1. penyesuaian sistem sosial terhadap perubahan-perubahan dari luar; 2. pertumbuhan proses melalui diferensiasi struktural dan fungsional; 3. penemuan-penemuan baru 7. Faktor yag memiliki daya mengintegrasikan adalah konsensus tentang nilai-nilai kemasyarakatan Individu dengan sistem sosial dapat dihubungkan dan dianalisis melalui konsep STATUS dan PERAN PERAN: UNTUK INDIVIDU PERANAN: UNTUK LEMBAGA
  6. 7. Status: adalah kedudukan dalam sistem sosial, seperti guru, ibu, ataupresiden Peranan adalah perilaku yang diharapkan atau perilaku normatif yang melekat pada ststus guru, ibu, atau presiden tersebut. Di dalam sistem sosial, individu menduduki tempat (status), dan bertindak (peranan) sesuai dengan norma atau aturan yang dibuat oleh sistem Peranan bersifat timbal balik penghargaan timbal balik pula
  7. 8. <ul><li>Sistem sosial cenderung bergerak ke arah keseimbangan atau stabilitas, keteraturan merupakan norma dalam sebuah sistem. Apabila terjadi kekecauan norma-norma, maka sistem akan mengadakan penyesuaian dan mencoba kembali mencapai keadaan normal. </li></ul><ul><li>Patern Variables : Sarana mengkatagorikan tindakan atau untuk mengklasifikasikan tipe peranan sosial dalam sistem sosial </li></ul>
  8. 9. <ul><li>Skema Patern Variables: </li></ul><ul><li>Affective versus Affective Neutrality : di dalam suatu hubungan sosial seseorang bisa bertindak untuk pemuasan afeksi atau kebutuhan emosional atau bertindak tanpa unsur afeksi (netral) </li></ul><ul><li>Self Orientation versus collective orientation : kepentingan didominasi oleh diri sendiri dan didominasi oleh kelompok </li></ul><ul><li>Universalism versus Particularism : dalam hubungan yang universalitas para pelaku berhubungan menurut kriteria yang dapat diterapkan kepada semua orang. Dalam hubungan partikularistik, digunakan ukuran-ukuran tertentu </li></ul>
  9. 10. 4. Quality versus Performance : kualitas menunjuk pada status karena kelahiran ( asrcibed status ) perfomance berupa prestasi ( Achievement) atau apa yang telah dicapai seseorang ( achieved status ) 5. Specifty versus diffusness : hubungan spesifik adalah hubungan antar orang dalam situasi yang terbatas berdasar status dan peran (misal hubungan penjual dan pembeli) hubungan diffusnes misalnya dalam hubungan keluarga tanpa status dan peran hubungan interaksi dalam keluarga
  10. 11. <ul><li>NILAI SOSIAL </li></ul><ul><li>Digunakan patokan oleh sebagian besar anggota masyarakat </li></ul><ul><li>Diperlukan sebagai aturan hidup utk mencapai keteraturan </li></ul><ul><li>Tidak harus nyata tapi bisa berupa dorongan dari seseorang utk melakukan sesuatu atau tdk melakukan sesuatu </li></ul><ul><li>Nilai sosial erta kaitannya dengan kebudayaan masyarakat </li></ul><ul><li>Adalah sejumlah sikap perasaan ataupun anggapan terhadap suatu hal mengenai baik-buruk, benar-salah, patut-tidak patut, mulia-hina, maupun penting-tidak penting </li></ul><ul><li>Ada nilai inividu ada nilai masyarakat </li></ul>
  11. 12. <ul><li>NOTONEGORO </li></ul><ul><li>Nilai Metrial </li></ul><ul><li>Nilai Vital </li></ul><ul><li>Nilai Kerohanian (nilai kebenaran, nilai keindahan, nilai moral, nilai keagamaan) </li></ul><ul><li>Nilai sosial merupakan konstruksi masyarakat yang tercipta karena interaksi, tercipta secara sosial bukan biologis </li></ul><ul><li>Diimbaskan dalam individu, kelompok melalui proses sosial </li></ul><ul><li>Dipelajari melalui proses belajar </li></ul>
  12. 13. <ul><li>4. Memuaskan manusia </li></ul><ul><li>5. Asumsi-asumsi abstrak dalam masyarakat </li></ul><ul><li>6. Cenderung berkaitan satu dengan yang lain dan emmbentuk pola </li></ul><ul><li>7. Beragam bentuknya. Kenegaragaman kebudayaan dengan bentuk dan fungsi yang berbeda akan menghasilkan sistem nilai yang berbeda pula </li></ul>
  13. 14. 8 . Memberikan pilihan dari sistem nilai yang ada dengan tingkatan kepentingannya 9. Mempunyai pengaruh yang berbeda terhdapa individu dan masyarakat 10. Melibatkan emosi atau perasaan 11. Mempengaruhi perkembangan pribadi baik positif maupun negatif
  14. 15. <ul><li>Sebagai faktor pendorong berhungan dengan cita-cita dan harapan </li></ul><ul><li>Sebagai petunjuk arah </li></ul><ul><li>Alat pengawas </li></ul><ul><li>Berfungsi sebagai alat solidaritas dalam kelompok </li></ul><ul><li>Sebagai benteng perlindungan </li></ul>
  15. 16. <ul><li>NORMA SOSIAL </li></ul><ul><li>Aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan, dan kendali tingkah laku yang sesuai dan diterima </li></ul><ul><li>Robert M.Z. Lawang: Patokan perilaku dalam suatu keplompok tertentu </li></ul><ul><li>Soerjono Seoekanto: Suatu perangkat agar hubungan di dalam suatu masyarakat terlaksana sebagaimana yang diharapkan. Norma mengalami proses pelembagaan yakni proses yang dilewati oleh suatu norma kemasyarakatan yang baru untuk menjadi bagian dari salah satu lembaga masyarakat sehingga norma tersebut terkendali, diakui, dihargai ditaati </li></ul>
  16. 17. KEKUATAN NORMA (Soekanto) <ul><li>Cara (Usage) </li></ul><ul><li>Kebiasaan (Folkways) </li></ul><ul><li>Tata kelakuan (mores) </li></ul><ul><li>Adat Kebiasaan (cutom) </li></ul><ul><li>PEMBAGIAN NORMA </li></ul><ul><li>Norma Agama </li></ul><ul><li>Norma Kesopanan </li></ul><ul><li>Norma Kebiasaan </li></ul><ul><li>Norma Kesusilaan </li></ul><ul><li>Norma Hukum </li></ul>
  17. 18. <ul><li>Merupakan faktor Perilaku dalam suatu kelompok tertentu yang memungkinkan seseorang untuk menetukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya akan dinilai orang lain </li></ul><ul><li>Merupakan aturan dan sanksi-sanksi untuk mendorong sesorang, kelompok atau masyarakat mencapai nilai sosial </li></ul><ul><li>Merupakan aturan yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat sebagi unsur pengikat dan pengendali manusia dalam hidup </li></ul>
  18. 19. PENGERTIAN STRUKTUR SOSIAL <ul><li>ETIMOLOGIS: Susunan masyarakat </li></ul><ul><li>DEFINITIF: Skema penempatan nilai-nilai sosial budaya dan organ-organ masyarakat pada posisi yang dianggap sesuai, demi berfungsinya organisme masyarakat sebagai suatu keseluruhan, dan demi kepentingan masing masing bagian </li></ul><ul><li>Skema dibangun secara obyektif gar dapat mengenal posisi yang diberikan masyarakat kepada nilai sosial budaya dan organ atau komponen sosial yang menjadi milik masyarakat </li></ul>
  19. 20. CIRI STRUKTUR MASYARAKAT INDONESIA
  20. 25. KONFIGURASI MASYARAKAT INDONESIA <ul><li>KARAKTERISTIK MASYARAKAT MAJEMUK (Pierre L. Van Den Berge) </li></ul><ul><li>Terjadinya segmentasi ke dalam bentuk entuk kelompok yang bersub kebudayaan yang berbeda satu sama lain </li></ul><ul><li>Memiliki struktur sosial terbagi ke dalam lembaga yang bersifat komplementer </li></ul><ul><li>Kurang mengembangkan konsensus terhadap nilai-nilai sosial yang bersifat dasar </li></ul><ul><li>Secara relatif sering terjadi konflik antar kelompok </li></ul><ul><li>Secara relatih integrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling ketergantungan di bidang ekonomi </li></ul><ul><li>Dominasi politik oleh kelompok tertentu terhadap lainnya </li></ul>
  21. 26. <ul><li>2 . Emile Durkheim: </li></ul><ul><li>Masyarakat majemuk tidak sama dengan masyarakat yang mempunyai unit-unit kekerabatan yang segmenter yaitu masyarakat yang terbagi ke dalam kelompok yang bergaris keturunan tunggal, tetapi mempunyai struktur kelembagaan yang homogeneous </li></ul><ul><li>Masyarakat majemuk tidak sama dengan masyarakat yang memiliki deferensiasi atau spesialisasi tinggi. Suatu masyarakat dengan tingkat deferensiasi fungsional tinggi dengan banyak lembaga kemasyarakatan tetapi bersifat komplementer dan saling tergantung </li></ul>

×