MAKALAH EKONOMI ISLAM
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mandiri Mata Kuliah Ekonomi Islam

Di susun Oleh : Andi Chayang Kurniaty...
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahhirabbil alamin penulis ucapkan karena dapat menyelesaikan
Makalah Ekonomi Islam ini tepat wak...
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................

...
BAB IV. PERBANDINGAN SISTEM EKONOMI ISLAM DAN SISTEM
EKONOMI KONVENSIONAL
A.Ekonomi Islam dan Konvensional...................
D.

Produksi ala Islami.........................................................................................

36

E.

...
4)

50

5)
B.

Wakaf....................................................................................................
M...
A.

Pengertian.........................................................................................................

7...
2. Tujuan......................................................................................................... 117
3. ...
3. Produk Pasar Modal Syariah...................................................................... 132
4. Lembaga Pasar M...
2. Tujuan & Peran Koperasi Syariah.............................................................. 148
3. Perkmbangan Kopera...
BAB I
PENDAHULUAN
Aktifitas ekonomi merupakan kegiatan yang paling dekat dengan kehidupan
manusia. Seluruh makhluk dimuka ...
Kami tentukan)dan dia tidak akan mendapatkan apapun di akhirat kelak” (QS AsSyurah : 20)
“Sikap berlomba-lomba untuk menda...
syariah. Dan juga diperlukan semangat untuk mendalami serta memahami aspek-aspek
perekonomian ala islam agar tidak terjadi...
Namun pemikiran mazhab-mazhab tersebut tidak dapat diadopsi oleh ekonom
Muslim, karena mazhab tersebut menghadapi problem ...
tidak baik. Ibnu Mughirah berkata : “ Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki
menjual makanan di Pasar itu dengan harga y...
C. Periode Perkembangan Ekonomi Islam
1) Periode Pertama (Masa awal Islam-450 H/1058 M)
Pada periode ini banyak sarjana mu...
(1294 M/1897 M), Muhammad Abduh (1320 H/1905 M), Ibnu Nujaym (1562 M), dan
lain-lain.
4) Periode Kontemporer (1930 –sekara...
6

b) Fase Kedua
Pada sekitar tahun 1970-an banyak ekonom muslim yang berjuang
keras mengembangkan aspek ilmu ekonomi Isla...
d) Fase Keempat
7

Pada saat ini perkembangan ekonomi Islam sedang menuju kepada
sebuah pembahasan yang lebih integral dan...
ekonomi syariah hal ini juga sebagai pembaharuan ekonomi dalam negeri yang masih
penuh kerusakan serta awal kebangkitan ek...
BAB III
RUANG LINGKUP & PENGERTIAN EKONOMI ISLAM
A. Pengertian Ekonomi Islam
Menurut bahasa, ekonomi islam terdiri dari du...
5. M. Akram Khan, “ilmu ekonomi islam bertujuan melakukan studi terhadap
kesejahteraan (falah) manusia yang dicapai dengan...
2. Untuk menghindarkan dosa bersama, sebab sebagian dari ekonomi itu adalah
fardhu kifayah.
3. Untuk tidak bergantung kepa...
C. Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam
1. Mutlak milik Allah
11

ii
24
2. Amanah yang dititipkan kepada manusia {Apa yang dimiliki manusia hanyalah
amanah semata yg akan dimintai pertanggung ja...
6.

Seorang muslim harus tunduk oleh allah dan hari pertanggungjawaban di

akhierat (amar ma’ruf nahi mungkar)
7.

Zakat h...
Inilah dasar dan ciri utama ekonomi islam yang paling menonjol pada lahan terapan.
Sistem ekonomi selalu mengacu pada kese...
(unsur judi dan sifat spekulatif); Gharar (unsur ketidakjelasan); dan Haram (unsur
haram baik dalam barang maupun jasa ser...
tanah endapan sungai, zakat, dan harta yang boleh digunakan untuk umum merupakan
Hak milik Negara.
Ekonomi islam juga menc...
BAB IV
PERBANDINGAN SISTEM EKONOMI ISLAM DAN SISTEM EKONOMI
KONVENSIONAL
A.

Ekonomi Islam Dan Ekonomi Konvensional
Islam ...
16

ii
31
Pertama. Perbedaan antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi
lainnya adalah dalam hal konsep kepemilikan harta.
Pa...
barang yang haram adalah tidak diperbolehkan. Termasuk juga upaya investasi berupa
pendirian pabrik barang-barang haram ju...
18

B.

Perbandingan Sistem Ekonomi Islam & Sistem Ekonomi Konvensional
Bila dilihat dari berbagai aspek inilah perbedaan ...
Penjelasan lebih lanjut mengenai uraian diatas :
1.

Rasionaliti dalam ekonomi konvensional adalah rational economics man ...
5.

Orientasi dari keseimbangan konsumen dan produsen dalam ekonomi

konvensional adalah untuk semata-mata mengutamakan ke...
21

C.

Keistimewaan Sistem Ekonomi Islam
Ada beberapa unsur yang tidak terdapat didalam ekonomi islam, ketidakadaan
unsur...
3. Unsur Tadlis al-‘aib
Tadlis

al-‘aib

bermaksud

menyembunyikan

kekurangan-kekurangan

(kecacatan) yang diketahui ada ...
Ghalat yang mesti dipastikan tidak wujud ialah ghalat wadhihah (kesilapan
amat nyata). Pihak-pihak yang berkontrak harus m...
sendiri. Karakteristik dari kebutuhan dan manfaat secara tegas juga diatur dalam
ekonomi Islam.
1) Kebutuhan (Hajat)
 Keb...
Ialah segala sesuatu yang oleh hukum syara’ tidak dimaksudkan untuk
memelihara lima hal pokok tadi, akan tetapi dimaksudka...
 Maslahah bersifat subyektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim
bagi masing masing dalam menentukan apakah su...
1) Konsumsi bukanlah aktifitas tanpa batas, melainkan juga terbatasi oleh sifat
kehalalan dan keharaman yang telah digaris...
"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihlebihan, dan tidak kikir, dan hendaklah (cara be...
halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas...
dan kebenaran dapat dicapai dengan prilaku yang baik dan bermanfaat bagi
kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan.
3) ...
F.

Perbedaan Perilaku Konsumen Muslim & Perilaku Konsumen Konvensional
Konsumen Muslim memiliki keunggulan bahwa mereka d...
BAB VI
KONSEP PRODUKSI & KEPEMILIKAN DALAM ISLAM
A. Konsep Produksi Dalam Islam
Produksi merupakan proses untuk menghasilk...
32

Seorang pengusaha muslim terikat dengan beberapa aspek dalam melakukan
produksi, antara lain:
 Berproduksi merupakan ...
harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang
yang kafir di antara mereka itu siksa yang p...
Mekanisme pemberdayaan lahan pertanian oleh orang lain dan penentuan return
yang berhak diperoleh masing-masing pihak. Seb...
a. Menimbulkan sikap syukur yang timbul atas kesadaran bahwa apa pun yang ia
temui bisa dimanfaatkan sebagai input produks...
modal, sedang pihak kedua (‘amil, mudharib, nasabah) bertindak selaku pengelola dan
keuntungan usaha dibagi di antara mere...
E.

Konsep Kepemilikan Dalam Islam
Pandangan kapitalisme terhadap kepemilikan bersifat mutlak. Konsekuensinya

seseorang b...
individu pemilik, jangan sampai dalam investasi tidak memperhatikan dampak
negative terhadap orang lain.
Hak milik pribadi...
Hak milik negara didefinisikan sebagai harta yang menjadi hak seluruh umat dan
pengelolaannya diserahkan kepada kepala Neg...
Alasannya, ketika dia mengelola hartanya dengan cara yang tidak sah menurut
syara’, seperti menghambur-hamburkan, maksiat,...
jumlah barang yang diminta. Secara garis besar, permintaan dalam ekonomi islam sama
dengan ekonomi konvensional, namun ada...
2) Apabila menghadapi permintaan pilihan antara barang halal dan haram,
maka optimal solutionnya adalah corner solution, y...
3.

Kualitas pembeli (Al-Mu’awid). Di mana tingkat pendapatan merupakan salah satu

ciri kualitas pembeli yang baik. Semak...
menjadi teori-teori, tapi juga berasal dari firman-firman Tuhan (revelation), yang
menggambarkan bahwa ekonomi Islam didom...
d.

Permintaan Islam bertujuan mendapatkan kesejahteraan atau kemenangan akhirat

(falah) sebagai turunan dari keyakinan b...
penawaran ini sebagai ketersediaan barang di pasar. Dalam pandangannya, penawaran
dapat berasal dari impor dan diproduksi ...
Zakat pada lughaq ialah suci dan subur, sedangkan menurut syara’ Ialah kadar
harta tertentu yang diberikan pada yang berha...
Warisan dalam syari'at Islam termasuk sarana untuk menyebarkan harta benda
kepada orang banyak yaitu memindahkan harta ben...
3) Wasiat
Secara etimologis bermakna menyambung sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam
terminologi syariah ia memiliki be...
48

 WASIAT SUNNAH
Wasiat adalah Sunnah mu'akkad menurut ijmak (kesepakatan) ulama. Walaupun
bersedekah pada waktu hidup ...
49

4) Wakaf
Wakaf ialah menahan sesuatu benda yang tetap zatnya dan akan diammbil
manfaatnya untuk jalan kebaikan.
Ibadah...
50

5) Memberi Makan Anak Yatim
Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw bersabda “barang siapa yang memberi makan
dan minum se...
Menimbun adalah membeli barang dalam jumlah yang banyak kemudian
menyimpannya dengan maksud untuk menjualnya dengan harga ...
52

Adapun mengenai waktu penimbunan tidak terbatas,dalam waktu pendek
maupun panjang jika dapat menimbulkan dampak ataupu...
53

ii
72
BAB IX
MEKANISME PASAR ISLAMI

A.

Islam dan Sistem Pasar
Pasar adalah tempat bertemunya antara penjual dan pembeli dan me...
Didukung pula oleh hadits riwayat Abu dawud, Turmudzi, dan Ibnu Majjah dan as
Syaukani sebagai berikut ”Orang-orang berkat...
Kekhalifahan Harun Al-Rasyid di Baghdad. Ia menyimpulkan bekerjanya hukum
permintaan dan penawaran pasar dalam menentukan ...
mengenai hal ini sebenarnya terfokus pada masalah pergerakan harga yang terjadi pada
waktu itu, tetapi ia letakakan dalam ...
C.

Prinsip-Prinsip Pasar

Adapun prinsip-prinsip mekanisme pasar islam adalah:
1.Ar-Ridha, yakni segala transaksi yang di...
d. Menukar kurma kering dengan kurma basah dilarang, karena takaran kurma
basah ketika kering bisa jadi tidak sama dengan ...
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Andi chayang kurniaty
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Andi chayang kurniaty

2,845 views

Published on

Sejarah Ekonomi Islam, perkembangan, Teori konsumsi, kepemilikan, permintaan & penawaran, mekanisme pasar islami, konsep uang dalam Islam, kebijakan moneter fiskal syariah, lembaga keuangan islami.

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,845
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
24
Actions
Shares
0
Downloads
37
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Andi chayang kurniaty

  1. 1. MAKALAH EKONOMI ISLAM Disusun Guna Memenuhi Tugas Mandiri Mata Kuliah Ekonomi Islam Di susun Oleh : Andi Chayang Kurniaty NIM. 102121010005 Dosen Pembimbing Zainal Arifin, SE. ME PROGRAM STUDI AKUNTANSI SMT. II/A FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM INDRAGIRI TEMBILAHAN T.a 2012/2013 ii 1
  2. 2. KATA PENGANTAR Alhamdulillahhirabbil alamin penulis ucapkan karena dapat menyelesaikan Makalah Ekonomi Islam ini tepat waktu. Shalawat serta salam tak lupa pula terucapkan untuk Nabi kita Muhammad SAW , semoga kita senantiasa menjadi hamba-hambaNya yang shalih (amin). Adapun isi makalah ini adalah mengenai Sistem Ekonomi Islam, dimulai dari awal sejarah perkembangan hingga proses pendistribusian kekayaan. Semua secara jelas terangkum dan ada juga penjelasan spesifik mengenai keistimewaan Ekonomi yang berakarkan syariat ini. Serta instrument pendistribusian kekayaan yang hanya dimiliki oleh Islam pun dibahas dalam makalah ini. Demikianlah, jika terdapat kesalahan mohon dimaafkan karena sesungguhnya kesempurnaan itu hanya milik Allah. Dan diharapkan adanya saran serta kritik agar kedepannya penulis bisa lebih baik. Wallahu a’lam bish-shawab, billahittaufiq walhidayah. Selamat membaca. Tembilahan, Juni 2013 Penulis i ii 2
  3. 3. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR............................................................................................... i DAFTAR ISI............................................................................................................. ii BAB I. PENDAHULUAN........................................................................................ 1 BAB II. SEJARAH EKONOMI ISLAM A. Mengapa Harus Ada Ekonomi Islam ?........................................................... 3 B. Perekonomian diMasa Rasulullah.................................................................. 4 C. Periode Perkembangan Ekonomi Islam......................................................... 1) Periode Pertama (450 H/1058 M)......................................................... 5 .............................................................................................................. 2) Periode Kedua (450-850H/1058-1446M)............................................. 3) Periode Ketiga (850-1350 H/1446-1930M).......................................... 5 4) Periode Kontemporer (1930M-sekarang)............................................. D. 5 6 Perkembangan Ekonomi Islam di Indonesia.................................................. 8 BAB III. RUANG LINGKUP EKONOMI ISLAM A.Pengertian Ekonomi Islam...................................................................................... 9 B.Tujuan Ekonomi Islam............................................................................................ 10 C.Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam............................................................................... 11 D.Dasar-Dasar Ekonomi Islam................................................................................... 13 E.Landasan Teori Ekonomi Islam............................................................................... 14 F.Asas-Asas Ekonomi Islam....................................................................................... 15 ii 3
  4. 4. BAB IV. PERBANDINGAN SISTEM EKONOMI ISLAM DAN SISTEM EKONOMI KONVENSIONAL A.Ekonomi Islam dan Konvensional.......................................................................... 16 B.Perbandingan system Ekonomi Islam & Konvensional.......................................... 19 C.Keistimewaan Sistem Ekonomi Islam.................................................................... 22 ii BAB V. KONSEP KONSUMSI DAN PERILAKU KONSUMEN A. Konsep Konsumsi 1) Kebutuhan / Hajat............................................................................... 24 2) Kegunaan / Maslahah......................................................................... 26 B. Karakteristik Konsumsi dalam Islam............................................................. 27 C. Pedoman Syariah dalam Berkonsumsi........................................................... 29 D. Teori perilaku Konsumen............................................................................... 29 E. Norma dan Etika Konsumen Muslim............................................................. 30 F. Perbedaan Perialku Konsumen Muslim & non-Muslim................................ 31 BAB VI. KONSEP PRODUKSI DAN KEPEMILIKAN A. Konsep Produksi dalam Islam........................................................................ 32 B. Faktor-Faktor Produksi................................................................................... 34 C. Dampak Berproduksi bagi Seorang Muslim.................................................. 35 ii 4
  5. 5. D. Produksi ala Islami......................................................................................... 36 E. Konsep Kepemilikan dalam Islam................................................................. 37 F. Unsur-Unsur Kepemilikan.............................................................................. 38 G. Pengembangan Kepemilikan.......................................................................... 39 BAB VII. TEORI PERMINTAAN DAN PENAWARAN A. Konsep Permintaan......................................................................................... B. Permintaan Menurut Islam............................................................................. 40 1) Permintaan Terhadap Barang Halal.................................................... 41 2) Permintaan Terhadap Pilihan Halal-Haram........................................ 41 C. Hal yang Mempengaruhi Permintaan............................................................. 42 D. Perbedaan Teori Permintaan Konvensional dan Islami.................................. 43 E. Konsep Penawaran Dalam Islam.................................................................... 44 iii BAB VIII. SISTEM DISTRIBUSI KEKAYAAN DAN PENDAPATAN A. Instrumen Distribusi Dalam Islam 1) Zakat..................................................................................................... 46 2) Warisan.................................................................................................. 47 3) Wasiat.................................................................................................... 48 ii 5
  6. 6. 4) 50 5) B. Wakaf.................................................................................................... Memberi makan Anak Yatim................................................................ 51 Larangan Distribusi dalam Islam................................................................... 51 BAB IX. MEKANISME PASAR ISLAMI A. Islam dan Sistem Pasar..................................................................................... 54 B. Pasar dalam Pandangan para Sarjana............................................................... 56 C. Prinsip-Prinsip Pasar......................................................................................... 58 D. Harga dan Persaingan Sempurna pada Pasar Islami......................................... 59 E. Intervensi Pasar................................................................................................. 60 F. Hisbah dan Pengawasan Pasar.......................................................................... 62 G. Mekanisme Pasar pada Masa Rasulullah.......................................................... 63 BAB X. KONSEP UANG DALAM ISLAM A. Pengertian Uang................................................................................................ 66 B. Sejarah Kemunculan Uang............................................................................... 67 C. Fungsi Uang...................................................................................................... 68 D. Konsep Uang dalam Islam................................................................................ 72 E. Kriteria Uang.................................................................................................... 73 F. Faktor Peralihan Uang Kertas........................................................................... 75 G. Uang Kertas dalam Pandangan Islam............................................................... 76 H. Perbedaan Uang dalam Konsep Islam & Konvensional................................... 77 BAB XI. KONSEP PERDAGANGAN & PERNIAGAAN DALAM ISLAM ii 6
  7. 7. A. Pengertian......................................................................................................... 78 B. Etika Perdagangan & Perniagaan dalam Islam Menurut Qardhawi Yusuf ...... 80 Prinsip Perniagaan Islam.................................................................................. 87 iv C. BAB XII. KEBIJAKAN MONETER SYARIAH A. Pengertian Kebijakan Moneter......................................................................... 90 B. Instrumen Kebijakan Moneter Konvensional................................................... 92 C. Mazhab Kebijakan MOneter Islam................................................................... 93 D. Instrumen Kebijakan Moneter Syariah............................................................. 95 E. Aplikasi Instrumen Moneter Konvensional di Indonesia................................. 97 F. Aplikas Instrumen MOneter Syariah di Indonesia.......................................... 97 BAB XIII. KEBIJAKAN FISKAL SYARIAH A. Definisi & Konsep Kebijakan Fiskal................................................................ B. Komponen Kebijakan Fiskal Syariah............................................................... 104 C. Kebijakan Belanja Negara menurut Islam........................................................ 107 D. Kebijakan Fiskal Masa Rasulullah................................................................... 110 E. Formulasi Kebijakan Fiskal Islami di Era Modern........................................... 113 99 BAB XIV. LEMBAGA KEUANGAN ISLAM A. Prinsip & Ciri Lembaga Keuangan Islami........................................................ 114 B. Perbankan Syariah 1. Sejarah........................................................................................................ 116 ii 7
  8. 8. 2. Tujuan......................................................................................................... 117 3. Prinsip Dasar & Produk Perbankan Syariah a. Titipan/wadiah...................................................................................... 117 b. Bagi Hasil/PSR..................................................................................... 118 c. Jual Beli/al-Tijarah................................................................................ 119 d. Sewa/al-Ijarah....................................................................................... 120 e. Jasa........................................................................................................ 121 f. Pelayanan Jasa...................................................................................... 122 4. Kegiatan Usaha Bank Syariah.................................................................... 123 v C. Asuransi Syariah 1. Perbedaan Asuransi Syarih & Konvensional.............................................. 124 2. Prinsip Dasar............................................................................................... 125 3. Produk Asuransi Syariah............................................................................. 126 4. Tantangan Perkembangan Asuransi Syariah............................................... 127 D. Pasar Modal Syariah 1. Fungsi Pasar Modal Syariah....................................................................... 130 2. Pelaku Pasar Modal Syariah....................................................................... 131 ii 8
  9. 9. 3. Produk Pasar Modal Syariah...................................................................... 132 4. Lembaga Pasar Modal Syariah................................................................... 135 E. Pegadaian Syariah 1. Rukun Gadai............................................................................................... 137 2. Syarat Sah Gadai......................................................................................... 137 3. Akad & Tujuan Pagadaian Syariah............................................................. 138 4. Tugas & Fungsi Pegadaian Syariah............................................................ 139 5. Manfaat Pegadaian Syariah........................................................................ 139 F. Dana Pensiun 1. Tujuan dana Pensiun................................................................................... 140 2. Fungsi Dana Pensiun.................................................................................. 141 3. Jenis Dana Pensiun..................................................................................... 141 G. Baitul Maal Wattamwil (BMT) 1. Tujuan BMT................................................................................................ 142 2. Fungsi BMT................................................................................................ 141 3. Jenis BMT................................................................................................... 141 H. Reksadana Syariah 1. Perbedaan Reksadana Syariah & Konvensional......................................... 145 2. Kegiatan Investasi....................................................................................... 146 I. Koperasi Syariah 1. Usaha Koperasi Syariah.............................................................................. 148 ii 9
  10. 10. 2. Tujuan & Peran Koperasi Syariah.............................................................. 148 3. Perkmbangan Koperasi Syariah.................................................................. 149 vi BAB XV. PERKEMBANGAN EKONOMI ISLAM A. Perkembangan Ekonomi Islam di Indonesia 1. Industri Keuangan Syariah......................................................................... 151 2. Industri non Keuangan................................................................................ 153 B. Dampak Sistem Ekonomi Syariah Terhadap Perokonomian Nasional............. 154 C. Potensi Ekonomi Islam Memimpin Dunia....................................................... 155 D. Ekonomi Islam, Sebuah Tren Lama Yang Universal........................................ 157 BAB XVI. PENUTUP.............................................................................................. 162 DAFTAR PUSTAKA vii iv ii 10
  11. 11. BAB I PENDAHULUAN Aktifitas ekonomi merupakan kegiatan yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Seluruh makhluk dimuka bumi ini melakukan kegiatan ekonomi demi memenuhi kebutuhan hidup. Ekonomi merupakan bagian dari kehidupan namun ekonomi bukanlah tujuan akhir kehidupan, tidak seperti yang dimaksudkan oleh kaum feodal bahwa kesejahteraan akan didapat jika memilki harta berlimpah. Islam menepis anggapan tersebut, Islam mengatakan bahwa kegiatan perekonomian dan hasil serta proses dari kegiatan tersebut merupakan sarana untuk mencapai falah. Tetapi pandangan dunia yang berkembang saat ini cenderung bersandar pada aspek konvensional. Budaya tersebut tidak memperhitungkan kehidupan akherat dan nilai rohaniah, tetapi lebih menekankan pendekatan materialistis. Kekayaan, kekuasaan, kedudukan, martabat merupakan tujuan dari setiap aktivitas manusia-termasuk kegiatan ekonomi. Islam sangat berlawanan dengan budaya materialisme seperti itu, karena kekayaan, kekuasaan, kedudukan, prestasi, martabat, dan sebagainya bukan tujuan utama kehidupan. Sikap mementingkan materi sangat dibenci dalam Islam. Hal tersebut diatur dalam Al-Qur’an : 1 “Siapa yang menghendaki (melalui amal usahanya) keuntungan duniawi saja, niscaya Kami akan berikan keuntungan itu kepadanya (berdasarkan apa yang telah ii 11
  12. 12. Kami tentukan)dan dia tidak akan mendapatkan apapun di akhirat kelak” (QS AsSyurah : 20) “Sikap berlomba-lomba untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya kepentingan duniawi telah melalaikan kamu sampai kamu masuk kubur ! Jangan sekali-kali kamu bersikap demikian. Kelak kamu akan maengetahui (akan hakikat persoalan tersebut dan akibat buruk dari perbuatan kamu)…. Ingatlah kamu akan melihat api neraka (pada hari kiamat) (QS. At-Takatsur : 1-6) Kecintaan akan kekayaan duniawi saja adalah awal dari kejahatan dan ia merupakan racun bagi perkembangan moral manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah “Mencintai duniawi adalah awal dari segala kejahatan”. Demikian jelasnya pandangan Islam terhadap aspek perekonomian dan Islam juga telah membentuk sistem budaya serta nilai yang mencerminkan tujuan akhir seorang muslim. Sistem tersebut bersandar pada Al-Quran dan As-sunnah sehingga kebenarannya sudah terjamin. Dan sistem tersebut dikenal dengan Ekonomi Islam, akan tetapi sistem tersebut belum sepenuhnya dimengerti oleh seluruh kaum muslim. Masih sering terjadi kekeliruan dalam mengartikan perekonomian ala Islam. Ekonomi Islam pun kalah tenar dibanding ilmu ekonomi konvensional, pemikiran ekonomi ala Barat telah terlanjur beranak pinak dalam kehidupan. Namun, pada era ini sistem ekonomi ala Islam juga mulai menunjukkan taringnya. Kemunculan Bank Syariah, Asuransi Syariah, Koperasi Syariah, Leasing Syariah dsb telah membuktikan bahwa system islam telah mulai dikenal. Hanya menunggu waktu untuk mengubah keseluruhan sistem ekonomi menjadi berbasis ii 12
  13. 13. syariah. Dan juga diperlukan semangat untuk mendalami serta memahami aspek-aspek perekonomian ala islam agar tidak terjadi kesalahpahaman. 2 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN EKONOMI ISLAM A. Mengapa Harus ada Ekonomi Islam ? Revolusi ilmu pengetahuan yang terjadi di Eropa Barat sejak abad ke-16 Masehi menyebabkan terjadinya sekularisasi dalam segala bidang, termasuk ilmu pengetahuan. Agama, nilai & norma dikeluarkan dari pemikiran para ilmuwan sehingga lahirlah ilmu pengetahuan yang bersifat positivistik yaitu suatu ilmu hanya menjelaskan fakta-fakta secara apa adanya. Sehingga ilmu pengetahuan pun menjadi tersekularisme dan bebas dari nilai-nilai agama. Hal ini berlanjut dengan terjadinya fragmentasi pemikiran dan reduksionisme dalam ilmu pengetahuan, yakni keyakinan bahwa semua aspek kompleks dari suatu fenomena dapat dipahami hanya dengan memecahnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Akibatnya ilmu pengetahuan hanya membahas lingkup ilmu tersebut tanpa perduli dengan keberadaan ilmu lainnya. Dari paradigma tersebut munculah ilmu pengetahuan modern yang melahirkan mazhab–mazhab baru dalam bidang ekonomi, diantaranya Grant Economic, Humanistic Economics, Social Economics, dan Institutional Economics. ii 13
  14. 14. Namun pemikiran mazhab-mazhab tersebut tidak dapat diadopsi oleh ekonom Muslim, karena mazhab tersebut menghadapi problem perbedaan standar nilai. 3 Sementara itu, pemikiran ilmu ekonomi konvensional yang mengesampingkan aspek normatif bukan merupakan cara berpikir ekonom Muslim. Oleh karena itu para ekonom Muslim perlu mengembangkan suatu ilmu ekonomi yang khas, dengan dilandasi oleh nilai-nilai iman dalam pemikiran serta pelaksanaannya yang kemudian ilmu ekonomi tersebut dikenal dengan istilah Ekonomi Islam. B. Perekonomian di Masa Rasulullah Pemikiran ekonomi Islam dimulai sejak Muhammad dipilih menjadi rasul, beliau kemudian mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menyangkut dengan kemaslahatan umat termasuk masalah ekonomi atau perniagaan-mu’amalat. Masalah ekonomi rakyat menjadi perhatian Rasulullah karena masalah itu merupakan pilar penyangga keimanan yang harus diperhatikan, hal ini terbukti dengan adanya hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah bersabda yang artinya : “Kemiskinan membawa kepada kekafiran”. Maka upaya memberantas kemiskinan merupakan bagian dari kebijakan Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah membangun Pasar Madinah dengan cara membagi-bagi tanah pasar Madinah kepada kaum Muslim tanpa dipungut biaya dan jadilah pasar bebas. Rasulullah juga melarang menipu dan menaikkan harga di Pasar Madinah. Ibnu Zabaalah meriwayatkan dari Abdur Rahman bin Ya’cub, bahwa Rasul pada suatu hari datang ke Pasar Madinah, Rasul marah mencampur makanan yang baik dengan yang ii 14
  15. 15. tidak baik. Ibnu Mughirah berkata : “ Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki menjual makanan di Pasar itu dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasar itu”. Rasulullah Bersabda: “Orang yang datang membawa barang-barang ke pasar ini seperti orang berjihad fisabilillah. Orang-orang yang menaikan harga di pasar ini seperti orang ingkar kepada Allah”. 4 ii 15
  16. 16. C. Periode Perkembangan Ekonomi Islam 1) Periode Pertama (Masa awal Islam-450 H/1058 M) Pada periode ini banyak sarjana muslim yang hidup bersama para sahabat Rasulullah dan para tabi’in sehingga dapat memperoleh referensi ajaran Islam yang akurat. Seperti Zayd bin Ali (120 H/798 M), Abu Yusuf (182/798), Muhammad Bin Hasan al Shaybani (189/804), Abu Ubayd (224/838) Al Kindi (260/873), Junayd Baghdadi (297/910), Ibnu Miskwayh (421/1030), dan lain-lain. 2) Periode Kedua (450-850 H/1058-1446 M) Pemikiran ekonomi pada masa ini banyak dilatarbelakangi oleh menjamurnya korupsi dan dekadensi moral, serta melebarnya kesenjangan social antara miskin dan kaya. Meskipun secara umum kondisi perekonomian masyarakat Islam berada dalam taraf kemakmuran. Terdapat pemikir-pemikir besar yang karyanya banyak dijadikan rujukan hingga kini, misalnya Al Ghazali (451-505 H/1055-1111 M), Nasiruddin Tutsi (485 H/1093 M), Ibnu Taimyah (661-728 H/1263-1328 M), Ibnu Khaldun (732-808 H/1332-1404 M), Al Maghrizi (767-846 H/1364-1442 M), Abu Ishaq Al Shatibi (1388 M), Abdul Qadir Jaelani (1169 M), Ibnul Qayyim (1350 M), dan lain-lain. 3) Periode Ketiga (850-1350 H/1446-1930 M) Pada periode ketiga ini merupakan kejayaan pemikiran ilmu ekonomi dan juga dalam bidang lainnya, akan tetapi umat Islam mengalami penurunan. 5 Namun demikian, terdapat beberapa pemikiran ekonomi berdasar islam yang berbobot selama dua ratus tahun terakhir, Seperti Shah Waliullah (1114-1176 M/17031762 M), Muhammad bin Abdul Wahab (1206 H/1787 M), Jamaluddin al Afghani ii 16
  17. 17. (1294 M/1897 M), Muhammad Abduh (1320 H/1905 M), Ibnu Nujaym (1562 M), dan lain-lain. 4) Periode Kontemporer (1930 –sekarang) Era tahun 1930-an merupakan masa kebangkitan kembali intelektualitas di dunia Islam. Kemerdekaan negara-negara muslim dari kolonialisme Barat turut mendorong semangat para sarjana muslim dalam mengembangkan pemikirannya. Ahmad, Khurshid (1985 h. 9-11) membagi perkembangan pemikiran ekonomi Islam kontemporer menjadi 4 fase sebagaimana berikut : a) Fase Pertama Pada pertengahan 1930-an muncul analisis–analisis masalah ekonomi sosial dari sudut syariah Islam sebagai wujud kepedulian terhadap dunia Islam yang secara umum dikuasai oleh negara-negara Barat. Meskipun kebanyakan analisis ini berasal dari para ulama yang tidak memiliki pendidikan formal bidang ekonomi, namun langkah mereka telah membuka kesadaran baru tentang perlunya perhatian yang serius terhadap masalah sosial ekonomi. Berbeda dengan para modernis dan apologist yang umum berupaya untuk menginterpretasikan ajaran Islam sedemikian rupa sehingga sesuai dengan praktek ekonomi modern, para ulama ini secara berani justru menegaskan kembali posisi Islam sebagai comperehensive way of life, dan mendorong untuk suatu perombakan tatanan ekonomi dunia yang ada menuju tatatan yang lebih Islami. Meskipun pemikiran-pemikiran ini masih banyak membahas hal-hal elementer dan dalam lingkup yang terbatas, namun telah menandai sebuah kebangkitan pemikiran Islam modern. ii 17
  18. 18. 6 b) Fase Kedua Pada sekitar tahun 1970-an banyak ekonom muslim yang berjuang keras mengembangkan aspek ilmu ekonomi Islam, terutama dari sisi moneter. Mereka banyak mengetengahkan pembahasan tentang bunga dan riba dan mulai menawarkan alternatif pengganti bunga. Kerangka kerja suatu perbankan yang bebas bunga mendapat bahasan yang komperehensif. Berbagai pertemuan internasional untuk pembahasan ekonomi Islam diselenggarakan untuk mempercepat akselerasi pengembangan dan memperdalam cakupan bahasan ekonomi Islam. c) Fase Ketiga Perkembangan pemikiran ekonomi Islam selama satu setengah dekade terakhir menandai fase ketiga di mana banyak berisi upaya-upaya praktikaloperasional bagi realisasi perbankan tanpa bunga, baik di sektor publik maupun swasta. Bank-bank tanpa bunga banyak didirikan, baik di negara-negara muslim maupun di negara-negara non muslim. Dengan berbagai kelemahan dan kekurangan atas konsep bank tanpa bunga yang digagas oleh para ekonom muslim dan karenanya terus disempurnakan langkah ini menunjukkan kekuatan riil dan keniscayaan dari sebuah teori keuangan tanpa bunga. ii 18
  19. 19. d) Fase Keempat 7 Pada saat ini perkembangan ekonomi Islam sedang menuju kepada sebuah pembahasan yang lebih integral dan komperehensif terhadap teori dan praktek ekonomi Islam. Adanya berbagai keguncangan dalam sistem ekonomi konvensional, yaitu kapitalisme dan sosialisme, menjadi sebuah tantangan sekaligus peluang bagi implementasi ekonomi Islam. Dari sisi teori dan konsep yang terpenting adalah membangun sebuah kerangka ilmu ekonomi yang menyeluruh dan menyatu, baik dari aspek mikro maupun makro ekonomi. D. Perkembangan Ekonomi Islam di Indonesia Pada awal tahun 1997 terjadi krisis ekonomi yang berdampak besar terhadap lembaga perbankan yang berakhir dengan likuidasi pada sejumlah bank, namun Bank Islam atau Bank Syariah justru semakin tumbuh pesat. Sejak saat itulah bank-bank konvensional mulai merilik bank syariah. Perkembangan ekonomi islam yang semakin marak saat ini merupakan cerminan dan kerinduan umat islam di Indonesia khususnya seorang yang berdagang, berinvestasi, bahkan berbisnis untuk bermuamallah secara islami dan diridhoi oleh Allah swt. Dukungan serta komitmen dari Bank Indonesia dalam keikutsertaannya dalam perkembangan ekonomi islam merupakan awalan bergeraknya pemikiran dan praktek ekonomi islam serta saat ini pun banyak universitas melirik mata kuliah ii 19
  20. 20. ekonomi syariah hal ini juga sebagai pembaharuan ekonomi dalam negeri yang masih penuh kerusakan serta awal kebangkitan ekonomi islam di Indonesia maupun di seluruh dunia. 8 ii 20
  21. 21. BAB III RUANG LINGKUP & PENGERTIAN EKONOMI ISLAM A. Pengertian Ekonomi Islam Menurut bahasa, ekonomi islam terdiri dari dua kata yaitu ekonomi dan islam. Kata “ekonomi” merujuk pada pengertian mengatur kemakmuran dan kata “syariah” adalah hukum yang terkandung dalam kitab suci al-qur’an. Jadi ekonomi Syariah / Islam adalah perihal mengatur kemakmuran berdasarkan aturan-aturan yang telah disyariatkan oleh Islam. Beberapa pengertian Ilmu Ekonomi Islam menurut para ahli : 1. S. M. Hasanuzzaman, “ilmu ekonomi islam adalah pengetahuan dan aplikasi dari anjuran dan aturan syariah yang mencegah ketidakadilan dalam memperoleh sumber-sumber daya materiil sehingga tercipta kepuasan manusia dan memungkinkan mereka menjalankan peerintah Allah dan masyarakat.” 2. M. A. Mannan, “Ilmu ekonomi islam adalah suatu ilmu social yang mempelajari persoalan-persoalan ekonomi manusia dengan celupan nilai-nilai islam”. 3. Khurshid Ahmad, “ilmu ekonomi islam adalah suatu usaha sistematis untuk mencoba memahami persoalan ekonomi dan perilaku manusia dalam hubungannya kepada persoalan tersebut menurut kaca mata islam”. 4. M. Nejatullah Siddiqi, “ilmu ekonomi islam adalah jawaban dari pemikir muslim terhadap tantangan-tantangan ekonomi pada zamannya. Dalam upaya tersebut dan dibantu oleh Al-Qur’an, as-Sunnah, akal serta pengalaman”. 9 ii 21
  22. 22. 5. M. Akram Khan, “ilmu ekonomi islam bertujuan melakukan studi terhadap kesejahteraan (falah) manusia yang dicapai dengan mengorganisasikan sumbersumber daya bumi berdasarkan kerja sama dan partisipasi”. 6. Syed Nawab Haider Naqvi, “ilmu ekonomi islam adalah perwakilan perilaku kaum muslimin dalam suatu masyarakat muslim tipikal”. 7. Louis Cantori, “ilmu ekonomi islam pada hakikatnya adalah suatu upaya untuk memformulasikan suatu ilmu ekonomi yang berorientasi kepada manusia dan masyarakat yang tidak mengakui individualisme berlebihan dalam ekonomi klasik”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan yang mengatur bagaimana cara manusia memenuhi kebutuhannya, serta bagaimana cara manusia menyelesaikan masalah ekonomi dan bagaimana melakukan kegiatan perekonomian yang sesuai dengan tuntunan syariat. B. Tujuan Ekonomi Islam Tujuan ekonomi islam sangat jauh berbeda dengan sistem ekonomi lain. Islam memandang ekonomi sebagai salah satu aspek perjuangan untuk menegakkan agama Tuhan. Tujuan-tujuan ekonomi islam adalah sebagai berikut : 1. Melahirkan kehidupan Islam dalam bidang ekonomi. ii 22
  23. 23. 2. Untuk menghindarkan dosa bersama, sebab sebagian dari ekonomi itu adalah fardhu kifayah. 3. Untuk tidak bergantung kepada pihak lain. Dengan demikian dapat hidup merdeka tanpa adanya aturan dari pihak lain. 10 4. Untuk dapat memanfaatkan sumber-sumber hasil bumi dengan cara yng benar. 5. Membuka peluang pekerjaan kepada masyarakat dan mengatasi masalah pengangguran. 6. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan. 7. Untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya kepada manusia melalui ekonomi. Dalam sumber lain menyebutkan bahwa tujuan ekonomi Islam adalah : 1. Memelihara keturunan 2. Memelihara akal 3. Memelihara kehormatan 4. Memelihara jiwa manusia 5. Memelihara harta 6. Memelihara agama 7. Memelihara keamanan 8. Memelihara negara Namun, secara umum tujuan-tujuan tersebut bermuara pada hal yang sama yaitu agar umat manusia sejahtera di dunia dan selamat di akherat. ii 23
  24. 24. C. Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam 1. Mutlak milik Allah 11 ii 24
  25. 25. 2. Amanah yang dititipkan kepada manusia {Apa yang dimiliki manusia hanyalah amanah semata yg akan dimintai pertanggung jawaban kelak (QS.al-Baqarah:29, al-Hadiid:7)} 3. Pemilikan harta dengan cara halal {Bebas mendapatkan harta sepanjang tidak melanggar syariat (QS. Al-Baqarah:267)} 4. Harta harus dikembangkan {Harta harus produktif sehingga bisa dirasakan manfaatnya oleh orang lain (tidak beredar di kalangan tertentu)(QS.alBaqarah:261)} 5. Ada hak orang lain {Dalam harta kita ada hak orang lain sebagai bentuk keadilan distribusi pendapatan (QS.Adz-Dzariyaat:19)} Dalam sumber lain disebutkan bahwa prinsip Ekonomi Islam mencakup : 1. Sumber daya dipandang sebagai amanah allah, manusia harus menggunakan sumber daya tersebut dalam kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. 2. Kepemilikan pribadi diakui dalam batas tertentu yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat dan tidak mengakui pendapatan yang tidak sah 3. Bekerja adalah kekuatan penggerak kegiatan ekonomi islam 4. Kepemilikan kekayaan tidak boleh hanya dimiliki oleh segelintir orang kaya dan harus berperan sebagai kapital produktif yang akan meningkatkan pendapatan nasonal 5. Islam menjamin kepemilikan masyarakat dan penggunaannya dialokasikan untuk kepentingan orang banyak 12 ii 25
  26. 26. 6. Seorang muslim harus tunduk oleh allah dan hari pertanggungjawaban di akhierat (amar ma’ruf nahi mungkar) 7. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab) yaitu 2,5 % untuk semua kekayaan tidak produktif (uang, deposito, emas, perak dan permata ) dan 10 % dari pendapatan bersih investasi. 8. Islam melarang riba dalam segala bentuk. (qs.30:39. 4:160-161, 3-130 dan 2 : 278- 279 ). D. Dasar-Dasar Ekonomi Islam Terdapat beberapa dasar ekonomi islam, yaitu : 1. al-Iman atau Ekonomi Ketuhanan Dasar ini menempati dasar pertama untuk system ekonomi islam karena akidah atau iman adalah denyut nadi segala aktivitas seorang muslim termasuk dalam bidang ekonomi. Dapat disimpulkan bahwa sebuah system ekonomi adalah cabang dari filsafat hidup dan ekonomi islam bukanlah system ciptaan manusia. 2. Dasar Khilafah Konsep khilafah bermaksud bahwa manusia adalah wakil Allah di bumi, ia diturunkan ke bumi dengan membawa misi tertentu. 3. Dasar Keseimbangan dan keadilan ii 26
  27. 27. Inilah dasar dan ciri utama ekonomi islam yang paling menonjol pada lahan terapan. Sistem ekonomi selalu mengacu pada keseimbangan dan keadilan dalam segala hal. Hal tersebut adalah : 1. Keseimbangan antara kebutuhan materi dan kebutuhan rohani. 13 2. Keseimbangan antara kepentingan individu (al-fard) dan public (‘am). 3. Seimbang antara sikap berlebih-lebihan dan sikap terlalu bakhil dalam hal konsumsi. E. Landasan Teori Ekonomi Islam 1. Tauhid “ Wahai orang-orang yang beriman maukah Aku tunjukan suatu bisnis yang dapat menguntungkan, menyelamatkan dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rosul-Nya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya.” (QS. 61:10-11) 2. Keadilan Yang dimaksud adil yaitu seseorang mendapatkan sesuatu sesuai dengan hasil jerih payahnya, pendistribusian kesejahteraan secara merata, berbagi untung dan resiko dan menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Serta terbebas dari unsur Riba (unsur bunga dalam segala bentuk dan jenisnya, baik riba nasiah maupun fadhl); Kezaliman (unsur yang merugikan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan); Maysir ii 27
  28. 28. (unsur judi dan sifat spekulatif); Gharar (unsur ketidakjelasan); dan Haram (unsur haram baik dalam barang maupun jasa serta aktivitas operasional yang terkait). 3. Nubuwwah Ada bukti konkret bahwa konsep ekonomi Islam bukan sekedar normatif, tapi juga aplikatif, dan sudah dibuktikan oleh Nabi SAW. 4. Ma’ad (return/ penghasilan) 14 Ekonomi konvensional baru akan bergerak apabila para pelaku ekonomi memiliki motivasi (adanya keuntungan yang bisa didapatkan) dan iklim ekonomi yang baik sebagai motivasi luar. Namun, pada konsep islami individu harus mengubah orientasinya dari laba ke zakat. 5. Khilafah Pemerintah memainkan peran yang kecil namun sangat penting dalam ekonomi yaitu memastikan bahwa kegiatan ekonomi berjalan tanpa ada kezaliman. Paling tidak perlu dijabarkan ayat yang bermakna bahwa pemerintah yang mendapat petunjuk akan selalu mendorong kebaikan dan mencegah kemungkaran (QS 22:41). F. Asas-Asas Ekonomi Islam Inti asas ekonomi islam adalah hak milik. Hak milik itu sendiri terdiri dari hak milik pribadi, hak milik umum, dan hak milik Negara. Uang, tanah, kendaraan, rumah, perhiasan, perabotan rumah tangga, pakaian, hasil kebun, dan barang milik individu lainnya termasuk Hak milik pribadi. Barang tambang, sarana serta prasarana umum, hutan, jalan dan sebagainya merupakan Hak milik umum. Sementara padang pasir, ii 28
  29. 29. tanah endapan sungai, zakat, dan harta yang boleh digunakan untuk umum merupakan Hak milik Negara. Ekonomi islam juga mencakup tentang tata cara memperoleh harta kekayaan dan pemanfaatannya untuk kegiatan konsumsi maupun distribusi. Dalam hukum Syara’ dijelaskan bagaimana seharusnya harta kekayaan (barang dan jasa) diperoleh, juga menjelaskan cara mengelola harta serta mendistribusikan kekayaan yang ada. 15 Atas dasar-dasar tersebut, maka asas-asas ekonomi islam yang digunakan untuk membangun system ekonomi berdiri atas 3 asas, yaitu : bagaimana harta diperoleh yang menyangkut mengenai hak milik (tamalluk), pengelolaan dan pemanfaatan hak milik (tashmaful milkiyah), serta distribusi (tauzi al anwal) kekyaan ditengah masyarakat. ii 29
  30. 30. BAB IV PERBANDINGAN SISTEM EKONOMI ISLAM DAN SISTEM EKONOMI KONVENSIONAL A. Ekonomi Islam Dan Ekonomi Konvensional Islam merumuskan sistem ekonomi yang berbeda dari sistem ekonomi lain, karena memiliki akar dari syariah yang menjadi sumber dan panduan setiap muslim dalam menjalankan setiap kehidupannya. Dalam hal ini Islam memiliki tujuan-tujuan syari’ah (maqosid asy-syariah) serta petunjuk untuk mencapai maksud tersebut. Sebagai sebuah keyakinan yang bersifat rahmatan lil ‘alamin (universal), Islam mudah dan logis untuk dipahami serta dapat diterapkan termasuk didalam kaidah-kaidah muamalahnya dalam hubungan sosial ekonomi. Ekonomi Islam sebagai bagian kegiatan muamalah sesuai kaidah syariah dapat diartikan sebagai ilmu ekonomi yang dilandasi ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran, As-Sunnah, Ijma’ (kesepakatan ulama) dan Qias (analogi). Al-Quran dan AsSunnah merupakan sumber utama, sedangkan Ijma’ dan Qias merupakan pelengkap untuk memahami al-Quran dan as-Sunnah. Ada perbedaan yang mendasar antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya khususnya sistem ekonomi Kapitalis. Perbedaan tersebut mencakup perbedaan pandangan tentang : (1) Konsep kepemilikan harta kekayaan, (2) Konsep tentang pengelolaan kepemilikan harta, (3) Konsep tentang distribusi kekayaan di tengah masyarakat. ii 30
  31. 31. 16 ii 31
  32. 32. Pertama. Perbedaan antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya adalah dalam hal konsep kepemilikan harta. Pandangan tentang kepemilikan harta berbeda antara sistem ekonomi sosialis dengan sistem ekonomi kapitalis serta berbeda juga dengan sistem ekonomi Islam. Kepemilikan harta (barang dan jasa) dalam Sistem Sosialis dibatasi dari segi jumlah, namun dibebaskan dari segi cara memperoleh harta yang dimiliki. Artinya dalam memperolehnya dibebaskan dengan cara apapun yang dapat dilakukan. Sedangkan menurut pandangan Sistem Ekonomi Kapitalis jumlah (kuantitas) kepemilikan harta individu berikut cara memperolehnya (kualitas) tidak dibatasi, yakni dibolehkan dengan cara apapun selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Sedangkan menurut sistem ekonomi Islam kepemilikan harta dari segi jumlah tidak dibatasi namun dibatasi dengan cara-cara tertentu dalam memperoleh harta (ada aturan halal dan haram). Kedua. Perbedaan dalam hal konsep pengelolaan kepemilikan harta, baik dari segi nafkah maupun upaya pengembangan kepemilikan. 17 Menurut system ekonomi kapitalis dan sosialis, harta yang telah dimiliki dapat dipergunakan (konsumsi) ataupun di kembangkan (investasi) secara bebas tanpa memperhatikan aspek halal dan haram serta bahayanya bagi masyarakat. Contohnya membeli dan mengkonsumsi minuman keras (khamr) adalah sesuatu yang dibolehkan, bahkan upaya pembuatannya dalam bentuk pendirian pabrik-pabrik minuman keras dilegalkan dan tidak dilarang. Sedangkan menurut Islam harta yang telah dimiliki baik pemanfaatan (konsumsi) maupun pengembangannya (investasi) wajib terikat dengan ketentuan halal dan haram. Dengan demikian maka membeli, mengkonsumsi barang- ii 32
  33. 33. barang yang haram adalah tidak diperbolehkan. Termasuk juga upaya investasi berupa pendirian pabrik barang-barang haram juga dilarang. Ketiga. Perbedaan dalam hal konsep distribusi kekayaan di tengah masyarakat. Menurut sistem ekonomi sosialis, distribusi kekayaan di tengah masyarakat dilakukan oleh negara secara mutlak. Negara akan membagikan harta kekayaan kepada individu rakyat dengan sama rata, tanpa memperhatikan lagi kedudukan dan status sosial mereka. Akibatnya, meskipun seluruh anggota masyarakat memperoleh harta yang sama, namun penghargaan yang adil seperti dengan jalan aktivitas riba, judi, serta aktivitas terlarang lainnya. Mekanisme distribusi kekayaan kepada individu, dilakukan dengan mengikuti ketentuan sebab-sebab kepemilikan serta transaksi-transaksi yang wajar. Hanya saja, perbedaan individu dalam masalah kemampuan dan pemenuhan terhadap suatu kebutuhan, bisa juga menyebabkan perbedaan distribusi kekayaan tersebut di antara mereka. Selain itu perbedaan antara masing-masing individu mungkin saja menyebabkan terjadinya kesalahan dalam distribusi kekayaan. Kemudian kesalahan tersebut akan membawa konsekuensi terdistribusikannya kekayaan kepada segelintir orang saja, sementara yang lain kekurangan. Oleh karena itu, syara' melarang perputaran kekayaan hanya di antara orang-orang kaya namun mewajibkan perputaran tersebut terjadi di antara semua orang. Allah Swt berfirman :Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." (QS. Al-Hasyr : 7) ii 33
  34. 34. 18 B. Perbandingan Sistem Ekonomi Islam & Sistem Ekonomi Konvensional Bila dilihat dari berbagai aspek inilah perbedaan antara sistem ekonomi islam dengan system ekonomi konvensional : No 1 2 3 4 5 6 7 8 Keterangan Sumber Motif Paradigma Pondasi dasar Landasan fillosofi Harta Investasi Distribusi kekayaan Islam Al-Quran Ibadah Syariah Muslim Falah Pokok kehidupan Bagi hasil Zakat, infak, shodaqoh, Konvensional Daya fikir manusia Rasional matearialism Pasar Manusia ekonomi Utilitarian individualism Asset Bunga Pajak dan tunjangan hibah, hadiah, wakaf dan 9 10 Konsumsi-produksi Mekanisme pasar warisan. Maslahah, kebutuhan dan kewajiban Bebas dan dalam Egoism, materialism, dan rasionalisme Bebas pengawasan 19 ii 34
  35. 35. Penjelasan lebih lanjut mengenai uraian diatas : 1. Rasionaliti dalam ekonomi konvensional adalah rational economics man yaitu tindakan individu dianggap rasional jika tertumpu kepada kepentingan diri sendiri yang menjadi satu-satunya tujuan bagi seluruh aktivitas. Ekonomi konvensional mengabaikan moral dan etika dan terbatas hanya di dunia saja tanpa memikirkan hari akhirat. Sedangkan dalam ekonomi Islam jenis manusia yang hendak dibentuk adalah Islamic man Islamic man dianggap perilakunya rasional jika konsisten dengan prinsip-prinsip Islam yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang seimbang. Tauhidnya mendorong untuk yakin, Allah-lah yang berhak membuat peraturan untuk mengantarkan kesuksesan hidup. Ekonomi Islam menawarkan konsep rasionaliti secara lebih menyeluruh tentang tingkah laku agen-agen ekonomi yang berlandaskan etika ke arah mencapai al-falah, bukan kesuksesan di dunia malah yang lebih penting lagi ialah kesuksesan di akhirat. 2. Tujuan utama ekonomi Islam adalah mencapai falah di dunia dan akhirat, sedangkan ekonomi konvensional semata-mata kesejahteraan duniawi. 3. 4. Sumber utama ekonomi Islam adalah al-Quran dan al-Sunnah atau ajaran Islam. Islam lebih menekankan pada konsep need daripada want dalam menuju maslahah, karena need lebih bisa diukur daripada want. Menurut Islam, manusia mesti mengendalikan dan mengarahkan want dan need sehingga dapat membawa maslahah dan bukan madarat untuk kehidupan. 20 ii 35
  36. 36. 5. Orientasi dari keseimbangan konsumen dan produsen dalam ekonomi konvensional adalah untuk semata-mata mengutamakan keuntungan. Semua tindakan ekonominya diarahkan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Jika tidak demikian justru dianggap tidak rasional. Lain halnya dengan ekonomi Islam yang tidak hanya ingin mencapai keuntungan ekonomi tetapi juga mengharapkan keuntungan rohani dan al-falah. Keseimbangan antara konsumen dan produsen dapat diukur melalui asumsi-asumsi secara keluk. Memang untuk mengukur pahala dan dosa seorang hamba Allah, tidak dapat diukur dengan uang, akan tetapi hanya merupakan ukuran secara anggaran unitnya tersendiri. Perbedaan yang utama antara system ekonomi islam dan system ekonomi konvensional adalah: 1. Secara epistemologis ekonomi Islam dipercaya sebagai bagian integral dari ajaran Islam itu sendiri, sehingga pemikiran ekonomi Islam langsung bersumber dari Tuhan. 2. Ekonomi Islam dilihat sebagai sistem yang bertujuan bukan hanya mengatur kehidupan manusia di dunia, tapi juga menyeimbangkan kepentingan manusia di dunia dan akhirat. Ini membawa implikasi dari aspek normatif: apa yang baik dan buruk, apa yang harus dilakukan atau dihindari bukan semata-mata dilihat dari aspek efisiensi sebagaimana dikenal dalam ekonomi konvensional, melainkan bagaimana agar tindakan di kehidupan duniawi juga menghasilkan imbalan di akhirat. 3, Sebagai konsekuensi dari landasan normatif itu, sejumlah aspek positif atau teknis dalam ekonomi konvensional tak bisa diaplikasikan karena bertentangan dengan nilainilai yang dibenarkan oleh Islam. ii 36
  37. 37. 21 C. Keistimewaan Sistem Ekonomi Islam Ada beberapa unsur yang tidak terdapat didalam ekonomi islam, ketidakadaan unsur-unsur dibawah inilah yang membuat ekonomi islam istimewa dibandingkan system ekonomi konvensional. Unsur-unsur tersebut adalah : 1. Unsur Tanajusy Al-Tanajusy merujuk kepada suatu persepakatan antara penjual dengan pembeli supaya menunjukkan keinginan membeli dengan harga lebih tinggi sedangkan sebenarnya pembeli tidak mahu membeli barangan berkenaan. Persepakatan ini bertujuan supaya orang lain terpedaya dan merebut-rebut ingin membeli yang dengan sendirinya menaikkan permintaan dan penjual menikmati harga tawaran tertinggi ini menguntungkan penjual. Hal ini berlaku di bursa-bursa saham dan disebut sebagai ‘market manipulation by syndicates’. 2. Unsur Gharar Gharar berarti ketidakpastian. Dalam jual beli ia merujuk kepada barangan yang tidak pasti wujud, harga yang tidak pasti, penipuan harga dan penipuan sifat jualan. Fiqh Islam menolak jual beli yang mempunyai sifat gharar. ii 37
  38. 38. 3. Unsur Tadlis al-‘aib Tadlis al-‘aib bermaksud menyembunyikan kekurangan-kekurangan (kecacatan) yang diketahui ada pada sesuatu yang dijual dari pengetahuan satu pihak lagi dalam kontrak. Kontrak mestilah bersih dari unsure ini supaya pembeli benar-benar membeli berasaskan pertimbangan sendiri. 22 4. Unsur al-ghabnu al-fahisy Al-ghabnu bermaksud kurang. Dalam kontrak al-mu’awadhah al-maliah (pertukaran pemilikan harta) al-ghabnu boleh berlaku sama ada dari pihak penawar atau pihak penerima kontrak. Dalam konteks harga terlalu tinggi, penjual memperoleh keuntungan melampau, manakala pembeli mengalami kerugian teruk manakala pembeli mengalami keuntungan tinggi. Sekiranya al-ghabnu al-fahisy berlaku kerana suasana pasaran sesuai dengan permintaan dan penawaran yang biasa tidak menjadi satu kesalahan menurut fiqh Islam. Seperti gharar, jika al-ghabnu al-yasir (tidak melampau) ia diiktiraf suatu yang normal dan fiqh Islam mengganggapnya bukan suatu kecacatan pasaran. 5. Unsur Ghalat Ghalat bermaksud kesilapan, namun bukan semua ghalat dianggap mencacatkan pasaran. Ghalat yang danggap tidak negative ialah ghalat fi nafsi al-‘aqid yang bermaksud kesilapan kerana pertimbangan salah diri pihak yang berkontrak. ii 38
  39. 39. Ghalat yang mesti dipastikan tidak wujud ialah ghalat wadhihah (kesilapan amat nyata). Pihak-pihak yang berkontrak harus menentukan jenis perkara yang dilakukan kontrak keatasnya. 23 BAB V KONSEP KONSUMSI & PERILAKU KONSUMEN A. Konsep Konsumsi dalam Islam Pada dasarnya konsumsi dibangun atas dua hal, yaitu, kebutuhan (hajat) dan kegunaan atau kepuasan (mashlahah). Secara rasional, seseorang tidak akan pernah mengkonsumsi suatu barang manakala dia tidak membutuhkannya sekaligus mendapatkan manfaat darinya. Dalam prespektif ekonomi Islam, dua unsur ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan konsumsi itu sendiri. Konsumsi dalam Islam diartikan sebagai penggunaan terhadap komoditas yang baik dan jauh dari sesuatu yang diharamkan, maka motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan aktifitas konsumsi juga harus sesuai dengan prinsip konsumsi itu ii 39
  40. 40. sendiri. Karakteristik dari kebutuhan dan manfaat secara tegas juga diatur dalam ekonomi Islam. 1) Kebutuhan (Hajat)  Kebutuhan Daruriyat Yang termasuk dalam lingkup marsalah dharuriyat ini ada lima macam, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. 24 ”Memelihara kelima hal tersebut termasuk kedalam tingkatan dharuriyat. Ia merupakan tingkatan maslahat yang paling kuat. Diantara contoh-contoh nya, syara’ menetapkan hukuman mati atas orang kafir yang berbuat menyesatkan orang lain dan menghukum penganut bid’ah yang mengajak orang lain kepada bid’ahnya, karena hal demikian mengganggu kehidupan masyarakat dalam mengikuti kebenaran agamanya; memasyarakatkan hukuman qishas,. karena dengan adanya ancaman hukuman ini dapat terpelihara jiwa manusia; mewajibkan hukuman had atas peminum khamar, karena dengan demikian dapat memelihara akal yang menjadi sendi taklif; mewajibkan had zina, karena dengan hal itu dapat memelihara nasab (keturunan); mewajibkan mendera pembongkar kuburan dan pencuri, karena dengan demikian dapat memelihara harta yang menjadi sumber kehidupan dimana mereka sangat memerlukannya.”  Kebutuhan hajjiyat (Sekunder) ii 40
  41. 41. Ialah segala sesuatu yang oleh hukum syara’ tidak dimaksudkan untuk memelihara lima hal pokok tadi, akan tetapi dimaksudkan untuk menghilangkan kesulitan, kesusahan, kesempitan dan ihtiyath (berhatihati) terhadap lima hal pokok tersebut.  Kebutuhan Tahsiniyat (Tersier) atau Kamaliyat (Pelengkap) Ialah tingkat kebutuhan yang apabila tidak terpenuhi tidak mengancam eksistensi salah satu dari kelima pokok diatas serta tidak pula menimbulkan kesulitan. Yang dimaksud dengan maslahat jenis ini ialah sifatnya untuk memelihara kebagusan dan kebaikan budi pekerti serta keindahan saja. Sekiranya kemaslahatan tidak dapat diwujudkan dalam kehidupan tidaklah menimbulkan kesulitan dan kegoncangan. 25 2) Kegunaan (Mashlahah) Maslahah merupakan tujuan hukum syara' yang paling utama. Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini. Ada lima elemen dasar, yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs), properti atau harta benda (al mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau keturunan (al-nasl). Semua barang dan jasa yang mendukung tercapainya dan terpeliharanya kelima elemen tersebut di atas pada setiap individu, itulah yang disebut maslahah. Adapun sifat-sifat maslahah sebagai berikut: ii 41
  42. 42.  Maslahah bersifat subyektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi masing masing dalam menentukan apakah suatu perbuatan merupakan suatu maslahah atau bukan bagi dirinya. Namun, berbeda dengan konsep utility, kriteria maslahah telah ditetapkan oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu. Misalnya, bila seseorang mempertimbangkan bunga bank memberi maslahah bagi diri dan usahanya, namun syariah telah menetapkan keharaman bunga bank, maka penilaian individu tersebut menjadi gugur. 26  Maslahah orang per seorang akan konsisten dengan maslahah orang banyak. Konsep ini sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum, yaitu keadaan optimal di mana seseorang tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau kesejahteraannya tanpa menyebabkan penurunan kepuasan atau kesejahteraan orang lain.  Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat, baik itu produksi, konsumsi, maupun dalam pertukaran dan distribusi. Dengan demikian seorang individu Islam akan memiliki dua jenis pilihan:  Berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk maslahah jenis pertama dan berapa untuk maslahah jenis kedua. B. Karakteristik Konsumsi Dalam Islam Di bawah ini adalah beberapa karakteristik konsumsi dalam prespektif ekonomi Islam, di antaranya adalah: ii 42
  43. 43. 1) Konsumsi bukanlah aktifitas tanpa batas, melainkan juga terbatasi oleh sifat kehalalan dan keharaman yang telah digariskan oleh syara'. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas"(QS. Al maidah : 86) 27 2) Konsumen yang rasional (mustahlik al-aqlani) senantiasa membelanjakan pendapatan pada berbagai jenis barang yang sesuai dengan kebutuhan jasmani maupun ruhaninya. Cara seperti ini dapat mengantarkannya pada keseimbangan hidup yang memang menuntut keseimbangan kerja dari seluruh potensi yang ada, mengingat, terdapat sisi lain di luar sisi ekonomi yang juga butuh untuk berkembang. 3) Menjaga keseimbangan konsumsi dengan bergerak antara ambang batas bawah dan ambang batas atas dari ruang gerak konsumsi yang diperbolehkan dalam ekonomi Islam (mustawa al-kifayah). Mustawa kifayah adalah ukuran, batas maupun ruang gerak yang tersedia bagi konsumen muslim untuk menjalankan aktifitas konsumsi.Di bawah mustawa kifayah, seseorang akan terjerembab pada kebakhilan, kekikiran, kelaparan hingga berujung pada kematian. Sedangkan di atas mustawa al-kifayah seseorang akan terjerumus pada tingkat yang berlebih-lebihan (mustawa israf, tabdzir dan taraf). Kedua tingkatan ini dilarang di dalam Islam, sebagaimana nash al-Qur'an : ‫وا ل ذي ن إ ِ ذا أَ ن ف قوا ل م ي س ر فوا و ل م ي ق ت روا و كا ن ب ي ن ذ ل ك ق وا ما‬ ً َ َ َ َِ َ َْ َ َ َ ُ ُْ َ ْ ََ ُ ِ ْ ُ ْ َ ُ َ ْ َ َ ِ ّ َ ii 43
  44. 44. "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihlebihan, dan tidak kikir, dan hendaklah (cara berbelanja seperti itu) ada di tengahtengah kalian".(QS. Alfurqan : 47) 28 4) Memperhatikan prioritas konsumsi antara dlaruriyat, hajiyat dan takmiliyat. "Dlaruriyat adalah komiditas yang mampu memenuhi kebutuhan paling mendasar konsumen muslim, yaitu, menjaga keberlangsungan agama (hifdz ad-din), jiwa (hifdz an-nafs), keturunan (hifdz an-nasl), hak kepemilikan dan kekayaan (hifdz almal), serta akal pikiran (hifdz al-aql). Sedangkan hajiyat adalah komoditas yang dapat menghilangkan kesulitan dan juga relatif berbeda antar satu orang dengan lainnya, seperti luasnya tempat tinggal, baiknya kendaraan dan sebagainya. Sedangkan takmiliyat adalah komoditi pelengkap yang dalam penggunaannya tidak boleh melebihi dua prioritas konsumsi di atas. C. Pedoman Syariah dalam Berkonsumsi 1) Azas maslahat dan manfaat. Membawa maslahat dan manfaat bagi jasmani dan rohani dan sejalan dengan nilai maqasid syariah. Termasuk dalam hal ini kaitan konsumsi dengan halal dan thoyyib. 2) Azas kemandirian : ada perencanaan, ada tabungan, mengutang adalah kehinaan. Nabi SAW menyimpan sebagian pangan untuk kebutuhan keluarganya selama setahun. 3) Azas kesederhanaan : bersifat qanaah, tidak mubazir. “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang Telah Allah ii 44
  45. 45. halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”(QS al-Maidah : 87) 4) Azas Sosial : anjuran berinfaq, “dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘apa yang lebih dari keperluan (al-afwu). Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu berpikir”. D. Teori Perilaku Konsumen Teori perilaku konsumen yang dibangun berdasarkan syariah Islam, memiliki perbedaan yang mendasar dengan teori konvensional. Perbedaan ini menyangkut nilai dasar yang menjadi fondasi teori, motif dan tujuan konsumsi, hingga teknik pilihan dan alokasi anggaran untuk berkonsumsi. Ada tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi masyarakat muslim : 29 1) Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat, prinsip ini mengarahkan seorang konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk akhirat daripada dunia. Mengutamakan konsumsi untuk ibadah daripada konsumsi duniawi. Konsumsi untuk ibadah merupakan future consumption (karena terdapat balasan surga di akherat), sedangkan konsumsi duniawi adalah present consumption. 2) Konsep sukses dalam kehidupan seorang muslim diukur dengan moral agama Islam, dan bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi moralitas semakin tinggi pula kesuksesan yang dicapai. Kebajikan, kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah merupakan kunci moralitas Islam. Kebajikan ii 45
  46. 46. dan kebenaran dapat dicapai dengan prilaku yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan. 3) Kedudukan harta merupakan anugrah Allah dan bukan sesuatu yang dengan sendirinya bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara berlebihan). Harta merupakan alat untuk mencapai tujuan hidup, jika diusahakan dan dimanfaatkan dengan benar. E. Norma dan Etika konsumen Muslim  Menghindari sifat tamak dan rakus  Tidak melampaui batas serta tidak berbuat zhalim  Harus memperhatikan apakah produk itu memberikan manfaat atau tidak, baik ataukah buruk, sesuai dengan nilai dan akhlak ataukah tidak, sesuai dengan norma dan etika ataukah tidak. 30  Seorang muslim harus mengkonsumsi yang halal dan tidak merugikan diri sendiri maupun masyarakat banyak, tetap dalam norma dan etika serta akhlak yang mulia.  Tidak mementingkan keuntungan semata.  Diharamkan memproduksi segala sesuatu yang merusak akidah dan akhlak serta segala sesuatu yang menghilangkan identitas umat, merusak nilai-nilai agama, menyibukkan pada hal-hal yang sia-sia dan menjauhkan kebenaran, mendekatkan kepada kebatilan, mendekatkan dunia dan menjauhkan akhirat, merusak kesejahteraan individu dan kesejahteraan umum. ii 46
  47. 47. F. Perbedaan Perilaku Konsumen Muslim & Perilaku Konsumen Konvensional Konsumen Muslim memiliki keunggulan bahwa mereka dalam memenuhi kebutuhannya tidak sekadar memenuhi kebutuhan individual (materi), tetapi juga memenuhi kebutuhan sosial (spiritual). Konsumen Muslim ketika mendapatkan penghasilan rutinnya tidak berpikir pendapatan yang sudah diraihnya itu harus dihabiskan untuk dirinya sendiri, tetapi karena kesadarannya bahwa ia hidup untuk mencari ridha Allah maka sebagian pendapatannya dibelanjakan di jalan Allah (fi sabilillah). Dalam Islam, perilaku seorang konsumen Muslim harus mencerminkan hubungan dirinya dengan Allah (hablu mina Allah) dan manusia (hablu mina an-nas). Konsep inilah yang tidak didapati dalam ilmu perilaku konsumen konvensional. Selain itu, yang tidak kita dapati pada kajian perilaku konsumsi dalam perspektif ilmu ekonomi konvensional adalah adanya saluran penyeimbang dari saluran kebutuhan individual yang disebut dengan saluran konsumsi sosial. 31 ii 47
  48. 48. BAB VI KONSEP PRODUKSI & KEPEMILIKAN DALAM ISLAM A. Konsep Produksi Dalam Islam Produksi merupakan proses untuk menghasilkan suatu barang dan jasa, atau proses peningkatan utility (nilai) suatu benda. Dalam istilah ekonomi, produksi merupakan suatu proses (siklus) kegiatan-kegiatan ekonomi untuk menghasilkan barang atau jasa tertentu dengan memanfaatkan faktor-faktor produksi (amal/kerja, modal, tanah) dalam waktu tertentu. Beberapa nilai yang dijadikan sandaran oleh produsen sebagai motivasi dalam melakukan produksi, yaitu:  Profit sebagai target utama dalam produksi, namun dalam system ekonomi islam perolehan secara halal dan adil dalam profit merupakan motifasi utama dalam berproduksi.  Produsen harus memperhatikan dampak social (social return) sebagai akibat atas proses produksi yang dilakukan. Dampak negative dari proses produksi yang berimbas pada masyarakat dan lingkungan, seperti limbah produksi, pencemaran lingkungan, kebisingan, maupun gangguan lainnya. Lain halnya produsen muslim tidak akan memproduksi barang dan jasa yang bersifat tersier dan skunder selama kebutuhan primer masyarkat terhadap barang dan jasa belum terpenuhi.  Produsen harus memperhatikan nilai-nilai spiritualisme, dimana nilai tersebut harus dijadikan sebagai penyeimbang dalam melakukan produksi. Dalam menetapkan harga barang dan jasa harus berdasarkan nilai-nilai keadilan. ii 48
  49. 49. 32 Seorang pengusaha muslim terikat dengan beberapa aspek dalam melakukan produksi, antara lain:  Berproduksi merupakan ibadah, sehingga seorang muslim berproduksi sama artinya dengan mengaktualisasikan keberadaan Allah SWT yang telah diberikan kepada manusia. “Dan katakanlah. ‘bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepadaNya Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu aa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah : 105)  Faktor produksi yang digunakan untuk menyelenggarakan proses produksi sifatnya tidak terbatas, manusia perlu berusaha mengoptimalkan segala kemampuannya yang telah diberikan Allah SWT. Seorang muslim tidak akan kecil hati bahwa Allah tidak akan memberikan rezeki kepadanya.  Seorang muslim yakin bahwa apapun yang diusahakannya sesuai dengan ajaran Islam tidak akan membuat hidupnya kesulitan.  Berproduksi bukan semata-mata karena keuntungan yang diperolehnya tetapi uga seberapa penting manfaat dari keuntungan tersebut untuk kemaslahatan umum. Dalam konsep islam harta adalah titipan Allah yang dipercayakan untuk diberikan kepada orang-orang yang tertentu, harta bagi seorang muslim bermakna amanah.  Seorang muslim menghindari praktek produksi yang mengandung unsur haram atau riba, pasar gelap dan spekulasi. “dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan ii 49
  50. 50. harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih” An Nisa (4): 161 33 B. Faktor-Faktor Produksi Menurut Al-Maududi dan Abu-Su’ud faktor produksi terdiri atas amal/kerja (labor), tanah (land), dan modal (capital). M.A. Mannan menyatakan bahwa faktor produksi berupa amal/kerja dan tanah. Menurutnya capital (modal) bukanlah merupakan faktor produksi yang independen, karena capital (modal) bukanlah merupakan faktor dasar. Menurut An-Najjar, faktor produksi terdiri dari dua elemen, yaitu amal (labor) dan capital. Abu Sulaiman menyatakan, amal bukanlah merupakan faktor produksi, 1) Amal/Kerja (Labor) Amal adalah segala daya dan upaya yang dicurahkan dalam menghasilkan dan menigkatkan kegunaan barang dan jasa, baik dalam bentuk teoretis (pemikiran, ide, konsep) maupun aplikatif (tenaga, gerakan) yang sesuai dengan syariah. Pada dasarnya, ada dua tujuan yang harus dicapai oleh produsen dalam melakukan pekerjaan, yaitu materialisme dengan konotasi ultinity, dan spiritualisme dengan konotasi ibadah. 2) Bumi/Tanah (Land) Land (tanah) meliputi segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar ataupun disekitar bumi yang menjadi sumber-sumber ekonomi, seperti pertambangan, pasir, tanah pertanian, sungai dan lain sebagainnya. Bumi biasa diberdayakan untuk pertanian, perternakan, pendirian kawasan industry, perdagangan, sarana transportasi, ataupun pertambangan. ii 50
  51. 51. Mekanisme pemberdayaan lahan pertanian oleh orang lain dan penentuan return yang berhak diperoleh masing-masing pihak. Sebagian berpendapat, bahwa mekanisme yang tepat adalah muzara’ah. Akan tetapi, ulama yang lain menolaknya dan menawarkan konsep penyewaan dengan sistem uang. 34 3) Modal (Capital) Capital adalah bagian dari harta kekayaan yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa, seperti mesin, alat produksi, equipment (peralatan), gedung, fasilitas kantor, transportasi dan lain sebagainya. Dalam kapitalisme capital berhak mendapat bunga sebagai kompensasi pinjaman (return of loans). Berdasarkan jangka waktu penggunaan capital, asset (kekayaan) biasa dibedakan menjadi dua macam, yaitu fixed asset (asset tetap) dan variabel asset (asset berubah). Fised asset adalah capital yang digunakan untuk beberapa proses produksi dan tidak terjadi perubahan seperti bangunan, mesin, dan peralatan. Variabel asset adalah capital yang digunakan untuk proses produksi dan akan mengalami perubahan seiring dengan perubahan proses produksi yang dilakukan seperti labor, sumber energi, dan lainnya. C. Dampak Produksi Bagi Seorang Muslim Berproduksi merupakan bagian dari sikap syukur atas nikmat Allah SWT. Anugerah yang diberikan Allah adalah untuk keharmonisan dalam hidup dan kehidupan ini yang mampu menjadikan suasan lebih kondusif dalam melakukan usaha. Ada bebrapa dampak yang timbul bila seorang muslim melakukan usaha sesuai dengan ajaran Islam, yaitu : ii 51
  52. 52. a. Menimbulkan sikap syukur yang timbul atas kesadaran bahwa apa pun yang ia temui bisa dimanfaatkan sebagai input produksi. 35 b. Ajaran Islam menjadikan manusia untuk tidak mudah putus asa dalm produksi karena suatu alasan tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya sehingga produksi dalam Islam akan mendorong seorang muslim untuk melakukan usaha yang lebih kreatif. c. Seorang muslim akan menjauhi praktek produksi yang merugikan orang lain atau kepentingan-kepentingan sesaat, contohnya riba. d. Keuntungan dikenakan didasarkan atas keuntungan yang tidak merugikan konsumen maupun produsen lain. D. Produksi ala Islam  Revenue Sharing adalah mekanisme bagi hasil di mana seluruh biaya ditanggung oleh pengelola modal. Sementara pemilik modal tidak menanggung biaya produksi.  Profit Sharing. Dalam akad muamalah islam, dikenal akad mudharabah, yaitu akad yang disepakati antara pemilik modal dengan pelaksana usaha mengenai nisbah bagi hasil sebagai pedoman pembagian keuntungan.  Profit dan Loss Sharing. Dalam akad bagi untung dan bagi rugi dapat dilakukan pada akad syirkah. Bagi untung dan bagi rugi tidak terjadi secara simetris, karena adanya dasar yang berbeda. Bagi untung didasarkan pada nisbah, sementara bagi rugi didasarkan pada besaran penyertaan modal.  Mudharabah. Akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (malik, shahib al mal, Lembaga keuangan Syariah) menyediakan seluruh ii 52
  53. 53. modal, sedang pihak kedua (‘amil, mudharib, nasabah) bertindak selaku pengelola dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai kesepakatanyang dituangkan dalam kontrak.  Musyarakah. Pembiayaan berdasarkan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan konstribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. 36 ii 53
  54. 54. E. Konsep Kepemilikan Dalam Islam Pandangan kapitalisme terhadap kepemilikan bersifat mutlak. Konsekuensinya seseorang bebas mengelola sumber daya ekonomi bagi kepentingannya. Dan dalam bentuk selanjutnya mereka bebas melakukan kegiatan produksi, konsumsi, investasi, dan distribusi pada berbagai bidang ekonomi tanpa berfikir apakah kegiatannya tersebut sesuai dengan syariah atau tidak, apakah barang tersebut halal atau haram, apakah kegiatan investasinya bersifat makruh atau mubah. Semuanya bebas merela lakukan karena beranggapan bahwa barang yang dimilki merupakan hasil jerih payahnya sehingga mereka bebas memperlakukan barang tersebut sesuai keinginan. Islam memandang bahwa kepemilikan yang sebenarnya adalah milik Allah SWT. Karena Dia-lah yang telah menciptakan seluruh isi semesta ini. Sehingga manusia dalam mengelola dan menggunakan segala bentuk materi harus selalu dalam bingkai Syariah, tidak boleh hanya semata-mata mempertimbangkan untung rugi tanpa tuntunan syariah. F. Unsur-Unsur Kepemilikan dalam Islam Islam secara jelas telah membagi konsep kepemilikan kedalam tiga golongan yaitu kepemilikan pribadi, kepemilikan umum, dan kepemilikan Negara. 1) Kepemilikan Pribadi 37 Islam mengakui dan mengabsahkan kepemilikan pribadi, menghalalkan manusia untuk menabung, menyarankan manusia berkreasi dan mengembangkan bakat dan bekerja, tetapi Islam memberi pula berbagai aturan dan tekanan peduli social pada ii 54
  55. 55. individu pemilik, jangan sampai dalam investasi tidak memperhatikan dampak negative terhadap orang lain. Hak milik pribadi adalah hukum syara yang berlaku bagi zat ataupun manfaat tertentu yang memungkinkan siapa saja mendapatkan barang tersebut serta memperoleh kompensasi baik karena barang tersebut diambil kegunaannya oleh orang lain ataupun dengan dikonsumsi. Sumber kepemilikan pribadi adalah dengan bekerja, mendapat warisan, pemberian Negara kepada rakyat, hibah, sedekah,dll sepanjang tidak melanggar syariat Islam. 2) Kepemilikan Umum Kepemilikan umum adalah harta yang ditetapkan haknya oleh Allah, dan menjadikan harta tersebut sebagai milik bersama, dan setiap manusia boleh mempergunakan harta tersebut namun dilarang untuk menguasainya secara pribadi. Harta milik umum mencakup barang tambang (sumber daya alam) yang tidak terbatas jumlahnya, sarana-prasarana umum yang dipergunakan oleh seluruh umat dalam kehidupan sehari-hari, dan harta-harta yang keadaan asalnya terlarang bagi pribadi tertentu untuk memilikinya sebagaimana hadist Rasulullah yang artinya “Tidak ada penguasaan (atas harta milik umum) kecualii bagi Allah dan RasulNya.” 3). Kepemilikan Negara ii 55
  56. 56. Hak milik negara didefinisikan sebagai harta yang menjadi hak seluruh umat dan pengelolaannya diserahkan kepada kepala Negara, dimana dia bisa memberikan sesuatu kepada sebagian umat sesuai dengan kebijaksanaannya. 38 Makna pengelolaan oleh kepala Negara ini adalah adanya kekuasaan yang dimiliki oleh kepala negara untuk mengelolanya. Hak milik Negara semisal harta fa’I, kharaj, jizyah, harta orang murtad, harta yang tidak memiliki ahli waris, dan tanah hak milik Negara. Hak milik umum dan harta milik Negara sama-sama dikelola oleh Negara namun ada perbedaan diantara keduanya. Harta yang termasuk hak milik umum pada dasarnya tidak boleh dimiliki/diberikan kepada seorang untuk dimilki secara individu, harta milik umum hnaya boleh dipergunakan secara bersama. Berbeda dengan hak milik Negara, dimana negara berhak memberikan harta tersebut kepada siapapun yang dikehendaki sesuai dengan kebijakan. G. Pengembangan Kepemilikan Menurut Islam harta pada hakikatnya adalah hak milik Allah. Namun karena Allah telah menyerahkan kekuasaannya atas harta tersebut kepada manusia, maka perolehan seseorang terhadap harta itu sama dengan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk memanfaatkan serta mengembangkan harta. Sebab, ketika seseorang memiliki harta, maka esensinya dia memiliki harta tersebut hanya untuk dimanfaatkan dan terikat dengan hukum-hukum syara’, bukan bebas mengelola secara mutlak. ii 56
  57. 57. Alasannya, ketika dia mengelola hartanya dengan cara yang tidak sah menurut syara’, seperti menghambur-hamburkan, maksiat, dan sebagainya. Maka Negara wajib mengawalnya dan melarang untuk mengelolanya serta wajib merampas wewenang yang telah diberikan Negara kepadanya. 39 Dengan demikian, mengelola harta dalam pandangan Islam sama dengan mengelola dan memanfaatkan zat benda. Dan system ekonomi Islam tidak membahas tentang pengembangan harta melainkan hanya membahas tentang pengembangan kepemilikannya. BAB VII KONSEP PERMINTAAN & PENAWARAN DALAM ISLAM A. Konsep Permintaan Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu. Sedangkan pengertian penawaran adalah sejumlah barang yang dijual atau ditawarkan pada suatu harga dan waktu tertentu. Pandangan ekonomi islam mengenai permintaan, penawaran dan mekanisme pasar ini relatif sama dengan ekonomi konvensional, namun terdapat batasan-batasan dari individu untuk berperilaku ekonomi yang sesuai dengan aturan syariah. Dalam ekonomi islam, norma dan moral “islami” yang merupakan prinsip islam dalam berekonomi, merupakan faktor yang menentukan suatu individu maupun masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonominya sehingga teori ekonomi yang terjadi menjadi berbeda. B. Permintaan menurut Islam Menurut Ibnu Taimiyyah, permintaan suatu barang adalah hasrat terhadap sesuatu, yang digambarkan dengan istilah raghbah fil al-syai. Diartikan juga sebagai ii 57
  58. 58. jumlah barang yang diminta. Secara garis besar, permintaan dalam ekonomi islam sama dengan ekonomi konvensional, namun ada prinsip-prinsip tertentu yang harus diperhatikan oleh individu muslim dalam keinginannya. 40 Islam mengharuskan orang untuk mengkonsumsi barang yang halal dan thayyib. Aturan islam melarang seorang muslim memakan barang yang haram, kecuali dalam keadaan darurat dimana apabila barang tersebut tidak dimakan, maka akan berpengaruh terhadap nya muslim tersebut. Di saat darurat seorang muslim dibolehkan mengkonsumsi barang haram secukupnya. Selain itu, dalam ajaran islam orang yang mempunyai uang banyak tidak serta merta diperbolehkan untuk membelanjakan uangnya untuk membeli apa saja dan dalam jumlah berapapun yang diinginkannya. Batasan anggaran (budget constrain) belum cukup dalam membatasi konsumsi. Batasan lain yang harus diperhatikan adalah bahwa seorang muslim tidak berlebihan (israf), dan harus mengutamakan kebaikan (maslahah). Islam tidak menganjurkan permintaan terhadap suatu barang dengan tujuan kemegahan, kemewahan dan kemubadziran. Bahkan islam memerintahkan bagi yang sudah mencapai nisab, untuk menyisihkan dari anggarannya untuk membayar zakat, infak dan shadaqah. 1) Permintaan terhadap barang halal sama dengan permintaan dalam ekonomi pada umumnya, yaitu berbanding terbalik terhadap harga, apabila harga naik, maka permintaan terhadap barang halal tersebut berkurang, dan sebaliknya, dengan asumsi cateris paribus. ii 58
  59. 59. 2) Apabila menghadapi permintaan pilihan antara barang halal dan haram, maka optimal solutionnya adalah corner solution, yaitu keadaan dimana kepuasan maksimal terjadi jika konsumsi barang haramnya berada di titik 0. Dengan kata lain, gunakan anggaran untuk mengkonsumsi barang halal seluruhnya. Sebagaiman firman Allah ”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” QS Al-Baqarah (2): 168 41 C. Hal yang Mempengaruhi Permintaan Ibnu Taimiyyah (1263-1328 M) dalam kitab Majmu’ Fatawa menjelaskan bahwa hal-hal yang mempengaruhi terhadap permintaan suatu barang antara lain: 1. Keinginan atau selera masyarakat (Raghbah) terhadap berbagai jenis barang yang berbeda dan selalu berubah-ubah. Di mana ketika masyarakat telah memiliki selera terhadap suatu barang maka hal ini akan mempengaruhi jumlah permintaan terhadap barang tersebut. 2. Jumlah para peminat (Tullab) terhadap suatu barang. Jika jumlah masyarakat yang menginginkan suatu barang semakin banyak, maka harga barang tersebut akan semakin meningkat. Dalam hal ini dapat disamakan dengan jumlah penduduk, di mana semakin banyak jumlah penduduk maka semakin banyak jumlah para peminat terhadap suatu barang. ii 59
  60. 60. 3. Kualitas pembeli (Al-Mu’awid). Di mana tingkat pendapatan merupakan salah satu ciri kualitas pembeli yang baik. Semakin besar tingkat pendapatan masyarakat, maka kualitas masyarakat untuk membeli suatu barang akan naik. 4. Lemah atau kuatnya kebutuhan terhadap suatu barang. Apabila kebutuhan terhadap suatu barang tinggi, maka permintaan terhadap barang tersebut tinggi. 5. Cara pembayaran yang dilakukan, tunai atau angsuran. Apabila pembayaran dilakukan dengan tunai, maka permintaan tinggi 6. Besarnya biaya transaksi. Apabila biaya transaksi dari suatu barang rendah, maka besar permintaan meningkat. 42 D. Perbedaan Teori Permintaan Konvensional dengan Permintaan Islami Definisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap permintaan, antara permintaan konvensional dan islam mempunyai kesamaan. Ini dikarenakan bahwa keduanya merupakan hasil dari penelitian kenyataan dilapangan (empiris) dari tiap-tiap unit ekonomi. Namun terdapat perbedaan yang mendasar di antara keduanya, diantaranya : a. Perbedaan utama antara kedua teori tersebut tentunya adalah mengenai sumber hukum dan adanya batasan syariah dalam teori permintaan Islami. Permintaan Islam berprinsip pada entitas utamanya yaitu Islam sebagai pedoman hidup yang langsung dibimbing oleh Allah SWT. Permintaan Islam secara jelas mengakui bahwa sumber ilmu tidak hanya berasal dari pengalaman berupa data-data yang kemudian mengkristal ii 60
  61. 61. menjadi teori-teori, tapi juga berasal dari firman-firman Tuhan (revelation), yang menggambarkan bahwa ekonomi Islam didominasi oleh variabel keyakinan religi dalam mekanisme sistemnya. Sementara itu dalam ekonomi konvensional filosofi dasarnya terfokus pada tujuan keuntungan dan materialme. Hal ini wajar saja karena sumber inspirasi ekonomi konvensional adalah akal manusia yang tergambar pada daya kreatifitas, daya olah informasi dan imajinasi manusia. Padahal akal manusia merupakan ciptaan Tuhan, dan memiliki keterbatasan bila dibandingkan dengan kemampuan b. Konsep permintaan dalam Islam menilai suatu komoditi tidak semuanya bisa untuk dikonsumsi maupun digunakan, dibedakan antara yang halal maupun yang haram. Allah telah berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 87, 88 : 43 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. Oleh karenanya dalam teori permintaan Islami membahas permintaan barang halal, barang haram, dan hubungan antara keduanya. Sedangkan dalam permintaan konvensional, semua komoditi dinilai sama, bisa dikonsumsi atau digunakan. c. Dalam motif permintaan Islam menekankan pada tingkat kebutuhan konsumen terhadap barang tersebut sedangkan motif permintaan konvensional lebih didominasi oleh nilai-nilai kepuasan (interest). Konvensional menilai bahwa egoisme merupakan nilai yang konsisten dalam mempengaruhi seluruh aktivitas manusia. ii 61
  62. 62. d. Permintaan Islam bertujuan mendapatkan kesejahteraan atau kemenangan akhirat (falah) sebagai turunan dari keyakinan bahwa ada kehidupan yang abadi setelah kematian yaitu kehidupan akhirat, sehingga anggaran yang ada harus disisihkan sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. E. Penawaran dalam Islam Penawaran adalah barang atau jasa yang ditawarkan pada jumlah dan tingkat harga tertentu dan dalam kondisi tertentu. Penawaran islam pun ada hal yang membedakannya dengan penawaran hedonis, bahwa barang atau jasa yang ditawarkan harus transparan dan dirinci spesifikasinya, bagaimana keadaan barang tersebut, apa kelebihan dan kekurangan barang tersebut. Jangan sampai penawaran yang kita lakukan merugikan pihak yang mengajukan permintaan. 44 Adapun rasulullah dalam melakukan penawaran selalu merinci tentang spesifikasi barang dagangannya, sampai-sampai harga beli nya pun disebutkan dan menawarkan dengan harga berapa barang tersebut dibeli dan yang akan diperoleh olehnya. F. Faktor-faktor Penawaran dalam Islam Dalam khasanah pemikiran ekonomi islam klasik, penawaran telah dikenali sebagai kekuatan penting di dalam pasar, Ibnu Taimiyah, misalnya mengistilahkan ii 62
  63. 63. penawaran ini sebagai ketersediaan barang di pasar. Dalam pandangannya, penawaran dapat berasal dari impor dan diproduksi lokal kegiatan ini dilakukan oleh produsen maupun penjual. 1. Mashlahah Pengaruh mashlahah terhadap penawaran pada dasarnya akan tergantung pada tingkat keimanan dari produsen. Jika jumlah mashlahah yang terkandung dalam barang yang diproduksi semakin meningkat maka produsen muslim akan memperbanyak jumlah produksinya. 2. Keuntungan Keuntungan merupakan bagian dari mashlahah karena ia dapat mengakumulasi modal yang pada akhirnya dapat digunakan untuk berbagai aktivitas lainnya. Dengan kata lain, keuntungan akan menjadi tambahan modal guna memperoleh mashlahah lebih besar lagi untuk mencapai falah. 45 BAB VIII SISTEM DISTRIBUSI KEKAYAAN & PENDAPATAN DALAM ISLAM A. Instrumen Distribusi Dalam Islam 1) Zakat ii 63
  64. 64. Zakat pada lughaq ialah suci dan subur, sedangkan menurut syara’ Ialah kadar harta tertentu yang diberikan pada yang berhak menerimanya dengan beberapa syarat. Firman Allah dalam surat At-Taubah : 60 yang artinya : “Sesungguhnya sedekah (zakat) itu hanya untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus zakat,orang-orang muallaf hatinya, untuk memederkakan hamba (budak), orang yang berutang untuk jalan Allah, dan untuk orang musafir, sebagai suatu keperluan daripada Allah. Allah mahan mengetahui lagi maha bijaksana. Salah satu perhatian pokok ilmu ekonomi islam adalah mewujudkan keadilan distribusi. Karena itu,semua keadaan ekonomi yang didasarkan pada ketidakseimbangan (zulm) harus diganti dengan keadaan-keadaan yang memenuhi tuntutan keseimbangan. Dengan kata lain,ekonomi islam akan berusaha memaksimalkan kesejahteraan total. Tindakan social harus digerakkan secara langsung untuk perbaikan kesejahteraan kalangan yang kurang beruntung dalam masyarakat melalui zakat,infaq serta sodaqoh. Sebagaiman firman Allah yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS Al Baqarah : 277) 46 2) Warisan ii 64
  65. 65. Warisan dalam syari'at Islam termasuk sarana untuk menyebarkan harta benda kepada orang banyak yaitu memindahkan harta benda dari milik seseorang kepada beberapa orang. Firman Allah dalam Al-Qur'an: "Allah mensyari'atkan bagimu tentang pembagian pusaka untuk anak-anakmu, yaitu bahagian seorang anak laki-laki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih sari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal itu tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh ibu-bapaknya saja, maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. Pembagian-pembagian tersebut di atas sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau dan sesudahnya dibayar hutangnya ... " (Q.S. an Nisa : 11). Hukum waris merupakan suatu aturan yang sangat penting dalam mengurangi ketidakadilan distribusi kekayaan.Hukum waris merupakan alat penimbang yang sangat kuat dan efektif untuk mencegah pengumpulan kekayaan dikalangan tertentu dan pengembangannya dalam kelompok-kelompok besar dalam masyarakat. Dengan demikian waris bertujuan untuk menyebarkanluaskan pembagian kekayaan dan mencegah penimbunan harta dalam bentuk apapun. 47 ii 65
  66. 66. 3) Wasiat Secara etimologis bermakna menyambung sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam terminologi syariah ia memiliki beberapa arti sbb: (a) Pemberian seorang manusia pada yang lain dalam bentuk benda, atau hutang, atau manfaat untuk dimiliki oleh penerima wasiat (al-musho lahu) atas hibah itu setelah kematian pewasiat. (b) Amal kebaikan dengan harta setelah matinya pewasiat., dan (c) Kepemilikan yang disandarkan pada sesuatu setelah kematian dengan cara syar'i. Quran Surah Al-Baqarah 2:180 ‫كتب عليكم إذا حضر أحدكم الموت إن ترك خيرا الوصية للوالدين والقربين بالمعروف حقا على‬ َ ِ ‫المتقين‬ Artinya: Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tandatanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.  WASIAT WAJIB Wasiat adalah wajib apabila manusia mempunyai kewajiban syara’ yang dikhawatirkan akan disia-siakan bila dia tidak berwasiat, seperti adanya titipan, hutang kepada Allah dan hutang kepada manusia. Misalnya dia mempunyai kewajiban zakat yang belum ditunaikan, atau haji yang belum dilaksanakan, atau amanat yang harus disampaikan, atau dia mempunyai hutang yang tidak diketahui sselain dirinya, atau dia mempunyai titipan yang tidak dipersaksikan. ii 66
  67. 67. 48  WASIAT SUNNAH Wasiat adalah Sunnah mu'akkad menurut ijmak (kesepakatan) ulama. Walaupun bersedekah pada waktu hidup itu lebih utama. Dan apabila diperuntukkan bagi kebajikan, karib kerabat, orang-orang fakir dan orang-orang saleh. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam yang empat, yaitu Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal  WASIAT MAKRUH Makruh apabila orang yang berwasiat sedikit harta, sedang dia mempunyai seorang atau banyak ahli waris yang membutuhkan hartanya. Dan wasiat kepada orang yang fasik jika diketahui atau diduga keras bahwa mereka akan menggunakan harta itu di dalam kefasikan dan kerusakan.  WASIAT HARAM Haram jika ia merugikan ahli waris. Wasiat yang maksudnya merugikan ahli waris seperti ini adalah batil, sekalipun wasiat itu mencapai sepertiga harta. Diharamkan juga mewasiatkan khamar, membangun gereja, atau tempat hiburan.  WASIAT MUBAH (BOLEH) Wasiat hukumnya mubah apabila ia ditujukan kepada orang yang kaya, baik orang yang diwasiati itu kerabat ataupun orang jauh (bukan kerabat). Menurut Imam Rafi'i mubahnya wasiat karena bukan transaksi ibadah. ii 67
  68. 68. 49 4) Wakaf Wakaf ialah menahan sesuatu benda yang tetap zatnya dan akan diammbil manfaatnya untuk jalan kebaikan. Ibadah wakaf merupakan ibadah yang sudah lama diamalkan oleh umat Islam dan sudah menjadi tradisi di Indonesia. Bahkan dapat dipastikan dimana ada komunitas manusia (masyarakat) maka ditempat itu ada harta wakaf. Sebab komunitas masyarakat itu memerlukan fasilitas umum, seperti rumah ibadah dan pemakaman. Dalam ajaran Islam wakaf merupakan amal mulia, karena merupakan amal yang bersifat mendatar (horizontal) dan bersifat menegak (vertikal). Disebut bersifat horizontal karena ibadah wakaf sangat bermanfaat kepada sesama manusia, dan. dapat dipastikan apabila harta wakaf dimanfaatkan secara baik, akan banyak orang yang menikmatinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Disebut bersifat vertikal, karena ibadah wakaf merupakan salah satu manifestasi keimanan kepada Allah swt, dan telah dijanjikan Allah swt kepada orang yang berwakaf akan diberikan ganjaran pahala yang berlipat ganda dan terus menerus sepanjang harta wakaf itu masih memberikan manfaat. Dalam Islam ajaran wakaf merupakan ajaran yang bersumber kepada nash-nash AlQur’an dan Al-Hadis. Namun demikian Al-Qur’an tidak secara khusus (spesifik) mengemukakan wakaf. Nash Al-Qur’an hanya menjelaskan tentang berbagai bentuk amal kebajikan yang bersifat umum, yaitu dalam bentuk shadaqah dan infak. ii 68
  69. 69. 50 5) Memberi Makan Anak Yatim Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw bersabda “barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim diantara kaum muslimin, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni” Syah Abdul Aziz rah.a. menulis dalam tafsirnya bahwa ada dua jenis kebaikan dapat dilakukan terhadap anak yatim: 1. Apa yang wajib bagi ahli warits. Misal: menjaga harta anak-anak yatim, mengembangkan hasil dari tanahnya agar keuntungannya dapat dipergunakan untuk biaya makan, pakaian dan pendidikannya. 2. Yang bersifat umum. Yaitu jangan membiarkan anak yatim dalam kesusahan, berilah kasih sayang kepada mereka. Di dalam majlis berilah tempat duduk yang terhormat. Usaplah kepalanya dengan penuh kasih sayang, perlakukan mereka seperti kepada anak sendiri, lahir dan batin (agar mereka tidak merasakan kesedihan dan duka cita yang berlarut-larut karena kematian ayahnya). B. Bentuk-bentuk Distribusi Yang Dilarang Oleh Islam a) Penimbunan 51 ii 69
  70. 70. Menimbun adalah membeli barang dalam jumlah yang banyak kemudian menyimpannya dengan maksud untuk menjualnya dengan harga tinggi. Penimbunan dilarang dalam islam hal ini dikarenakan agar supaya harta tidak hanya beredar di kalangan orang-orang tertentu. Seperti dalam sebuah hadits: Artinya:”siapa saja yang melakukan penimbunan untuk mendapatkan harga yang paling tinggi,dengan tujuan mengecoh orang islam maka termasuk perbuatan yang salah” (H.R Ahmad) Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa perbuatan yang salah yaitu menyimpang dari peraturan jual-beli atau perdagangan dalam system ekonomi islam yang berdasarkan al-quran dan hadits. Dalam hadits itu tidak ditentukan jenis barang yang dilarang ditimbun. Muncul pebedaan pendapat dikalangan ulama tentang jenis barang yang dilarang ditimbun. Menurut al-syafi”iyah dan Hanabilah,barang yang dilarang ditimbun adalah kebutuhan primer. Abu yusuf berpendapat bahwa barang yang dilarang ditimbun adalah semua barang yang dapat menyebabkan kemadaratan orang lain,termasuk emas dan perak. Para ulama fiqh berpendapat bahwa penimbunan diharamkan apabila: 1. Barang yang ditimbun melebihi kebutuhannya 2. Barang yang ditimbun dalam usaha menunggu saat naiknya harga, misalnya emas dan perak 3. Penimbunan dilakukan disaat masyarakat membutuhkan,misalnya bahan bakar minyak dll. ii 70
  71. 71. 52 Adapun mengenai waktu penimbunan tidak terbatas,dalam waktu pendek maupun panjang jika dapat menimbulkan dampak ataupun 3 syarat tersebut diatas terpenuhi maka haram hukumnya. Rasullulah bersabda dalam sebuah hadits sohih yang Artinya: “Dari ibnu umar dari nabi:”Barang siapa Menimbun makanan 40 malam maka ia terbebas dari rahmad Allah,dan Allah bebas darinya.Barang siapa yang keluar rumah pagi-pagi dan dari kalangan mereka ada yang dalam keadaan lapar maka tanggungan Allah juga lepas dari mereka”. b) Monopoli Pasar monopoli (dari bahasa Yunani : monos, satu + polein, menjual) adalah suatu bentuk pasar di mana hanya terdapat satu penjual yang menguasai pasar. Penentu harga pada pasar ini adalah seorang penjual atau sering disebut sebagai "monopolis". Sebagai penentu harga (price-maker), seorang monopolis dapat menaikan atau mengurangi harga dengan cara menentukan jumlah barang yang akan diproduksi; semakin sedikit barang yang diproduksi, semakin mahal harga barang tersebut, begitu pula sebaliknya. Walaupun demikian, penjual juga memiliki suatu keterbatasan dalam penetapan harga. Ada beberapa ciri dan sifat dasar pasar monopoli. Ciri utama pasar ini adalah adanya seorang penjual yang menguasai pasar dengan jumlah pembeli yang sangat banyak. 53 ii 71
  72. 72. 53 ii 72
  73. 73. BAB IX MEKANISME PASAR ISLAMI A. Islam dan Sistem Pasar Pasar adalah tempat bertemunya antara penjual dan pembeli dan melakukan transaksi barang atau jasa. Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ menjelaskan tentang sebab timbulnya pasar “Dapat saja petani hidup di mana alat-alat pertanian tidak tersedia. Sebaliknya, pandai besi dan tukang kayu hidup di mana lahan pertanian tidak ada. Namun, secara alami mereka akan saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Dapat saja terjadi tukang kayu membutuhkan makanan, tetapi petani tidak membutuhkan alat-alat tersebut. Keadaan ini menimbulkan masalah. Oleh karena itu, secara alami pula orang akan terdorong untuk menyediakan tempat penyimpanan alat-alat di satu pihak, dan penyimpanan hasil pertanian di pihak lain. Tempat inilah yang kemudian di datangi pembeli sesuai kebutuhannya masing-masing sehingga terbentuklah pasar”. Berdagang adalah aktivitas yang paling umum dilakukan di pasar. Untuk itu teks-teks Al Qur’an selain memberikan stimulan agar umat Islam menjadi seorang pedagang, di lain pihak juga menjalankan aktivitas tersebut dengan sejumlah rambu atau aturan main yang bisa diterapkan di pasar dalam upaya menegakkan kepentingan semua pihak, baik individu maupun kelompok. Dalam Islam, transaksi perdagangan terjadi secara sukarela, sebagaimana disebutkan dalam Qur’an surat An Nisa’ ayat 29. 54 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesukamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. ii 73
  74. 74. Didukung pula oleh hadits riwayat Abu dawud, Turmudzi, dan Ibnu Majjah dan as Syaukani sebagai berikut ”Orang-orang berkata: “Wahai Rasulullah, harga mulai mahal. Patoklah harga untuk kami!” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah-lah yang mematok harga, yang menyempitkan dan yang melapangkan rizki, dan aku sungguh berharap untuk bertemu Allah dalam kondisi tidak seorangpun dari kalian yang menuntut kepadaku dengan suatu kezhaliman-pun dalam darah dan harta”. (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, danasy-Syaukani). Sistem pasar yang adil akan melahirkan harga yang wajar dan juga tingkat laba yang tidak berlebihan, sehingga tidak termasuk riba yang diharamkan oleh Allah SWT. Sebagaimana QS Al Baqarah 275, 55 “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghunipenghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. B. Pasar dalam Pandangan Para Sarjana Muslim 1) Mekanisme Pasar Menurut Abu Yusuf (731-798 M) Pemikiran Abu Yusuf tentang pasar dapat dijumpai dalam bukunya Al-Kharaj yang membahas prinsip-prinsip perpajakan dan anggaran negara yang menjadi pedoman ii 74
  75. 75. Kekhalifahan Harun Al-Rasyid di Baghdad. Ia menyimpulkan bekerjanya hukum permintaan dan penawaran pasar dalam menentukan tingkat harga, meskipun kata permintaan dan penawaran ini tidak ia katakana secara eksplisit. Selain itu dalam bukunya secara implisit juga dijelaskan bahwa, harga bukan hanya ditentukan oleh penawaran saja, tetapi juga permintaan terhadap barang tersebut. Bahkan, Abu Yusuf mengidikasikan adanya variable-variabel lain yang juga turut mempengaruhi harga, misalnya jumlah uang beredar di Negara itu, penimbunan atau penahanan suatu barang, atau lainnya. 2) Evolusi Pasar Menurut Al-Ghazali (1058-1111 M) Al-Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali banyak membahas topik-topik ekonomi, termasuk pasar. Dalam karyanya tersebut ia membicarakan barter dan permasalahannya, pentingnya aktivitas perdagangan dan evolusi terjadinya pasar, termasuk bekerjanya kekuatan permintaaan dan penawaran dalam mempengaruhi harga. Al-Ghazali menyadari kesulitan yang timbul akibat sistem barter yang dalam istilah ekonomi modern disebut double coincidence, dan karena itu diperlukan suatu pasar. Selain itu Al-Ghazali juga telah memahami suatu konsep, yang sekarang kita sebut elastisitas permintaan. Hal ini tampak jelas dari perkataaannya bahwa mengurangi margin keuntungan dengan menjual harga yang lebih murah akan meningkatkan volume penjualan, dan ini pada gilirannya akan meningkatkan keuntungan. 56 3) Pemikiran Ibn Taimiyah Pemikiran Ibn Taimiyah mengenai mekanisme pasar banyak dicurahkan melalui bukunya, yaitu Al-Hisbah fi’l Al-Islam dan Majmu’ Fatawa. Pandangan Ibn Taimiyah ii 75
  76. 76. mengenai hal ini sebenarnya terfokus pada masalah pergerakan harga yang terjadi pada waktu itu, tetapi ia letakakan dalam kerangka mekanisme pasar. Secara umum, beliau telah menunjukan the beauty of market (keindahan mekanisme pasar sebagai mekanisme ekonomi). Beberapa faktor yang mempengaruhi permintaaan dan kemudian tingkat harga adalah sebagai berikut : a. Keinginan orang terhadap barang-barang sering kali berbeda-beda. b. Jumlah orang yang meminta. c. Kuat atau lemahnya kebutuhan terhadap barang-barang itu. d. Kualitas pembeli baranng tersebut. e. Jenis (uang) pembayaran yang digunakan dalam transaksi jual beli. Ibn Taimiyah secara umum sangat menghargai arti penting harga yang terjadi karena mekanisme pasar yang bebas. Ia menolak segala campur tangan untuk menekan atau menetapkan harga sehingga mengganggu mekanisme yang bebas. 4) Mekanisme Pasar Menurut Ibn Khaldun (1332-1383 M) 57 Ibn Khaldun sangat menghargai harga yang terjadi dalam pasar bebas, namun ia tidak mengajukan saran-saran kebijakan pemerintah untuk mengelola harga. Ia lebih banyak memfokuskan kepada faktor-faktor yang mempengaruhi harga. Hal ini tentu saja berdeda dengan Ibn Taimiyah yang dengan tegas menentang intervensi pemerintah sepanjang pasar berjalan dengan bebas dan normal. ii 76
  77. 77. C. Prinsip-Prinsip Pasar Adapun prinsip-prinsip mekanisme pasar islam adalah: 1.Ar-Ridha, yakni segala transaksi yang dilakukan haruslah atas dasar kerelaan antara masing-masing pihak. Hal ini sesuai dengan Qur’an Surat an Nisa’ ayat 29: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” 2. Berdasarkan persaingan sehat. Mekanisme pasar akan terhambat bekerja jika terjadi penimbunan (ihtikar) atau monopoli. Monopoli dapat diartikan, setiap barang yang penahanannya akan membahayakan konsumen atau orang banyak. 3. Kejujuran. Islam melarang tegas melakukan kebohongan dan penipuan dalam bentuk apapun. Sebab, nilai kebenaran ini akan berdampak langsung kepada para pihak yang melakukan transaksi dalam perdagangan dan masyarakat secara luas. 4. Keterbukaan serta keadilan, pelaksanaan prinsip ini adalah transaksi yang dilakukan dituntut untuk berlaku benar dalam pengungkapan kehendak dan keadaan yang sesungguhnya. Islam mengatur agar persaingan di pasar dilakukan dengan adil, setiap bentuk yang dapat menimbulkan ketidakadilan itu dilarang yakni seperti: a. Talaqqi rukban, dilarang karena pedagang yang menyongsong di pinggir kota mendapat keuntungan dari ketidaktahuan penjual dari kampung akan harga yang berlaku di kota. 58 b. Mengurangi timbangan dilarang, karena barang dijual dengan harga yang sama untuk jumlah yang lebih sedikit. c. Menyembunyikan barang yang cacat dilarang, karena penjual mendapat harga yang baik untuk kualitas yang buruk. ii 77
  78. 78. d. Menukar kurma kering dengan kurma basah dilarang, karena takaran kurma basah ketika kering bisa jadi tidak sama dengan kurma kering yang ditukar. e. Menukar satu takar kurma kualitas bagus dengan dua takar kurma kualitas sedang dilarang, karena kualitas kurma mempunyai harga pasarnya. f. Transaksi najasy dilarang, karena si penjual menyuruh orang lain memuji barangnya atau menawar dengan harga tinggi agar orang lain tertarik. g. Ikhtikar dilarang, yaitu mengambil keuntungan diatas keuntungan normal dengan menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi. h. Ghaban faa-hisy (besar) dilarang, yaitu menjual diatas harga pasar. D. Harga Dan Persaingan Sempurna Pada Pasar Islami Konsep Islam memahami bahwa pasar dapat berperan aktif dalam kehidupan ekonomi apabila prinsip persaingan bebas dapat berlaku secara efektif. Pasar tidak mengharapkan adanya intervensi dari pihak manapun termasuk Negara dalam hal intervensi harga atau privat sektor dengan kegiatan monopolistik dan lainya. Karena pada dasarnya pasar tidak membutuhkan kekuasaan yang besar untuk menentukan apa yang harus dikonsumsi dan diproduksi. Sebaliknya, biarkan tiap individu dibebaskan untuk memilih sendiri apa yang dibutuhkan dan bagaimana memenuhinya. Pasar yang efisien akan tercapai apabila termasuk investor (jika dalam pasar modal) dan seluruh pelaku pasar lainnya memperoleh akses dan kecepatan yang sama atas keseluruhan informasi yang tersedia. 59 Dari pemahaman itu, harga dari sebuah komoditas baik barang maupun jasa ditentukan oleh kualitas dan kuantitas penawaran dan permintaan. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Anas bahwasannya suatu hari terjadi kenaikan harga yang luar biasa di masa Rasulullah SAW, maka sahabat meminta Nabi untuk menentukan harga pada saat itu, lalu nabi bersabda: Artinya, “Bahwa Allah adalah Dzat yang mencabut dan memberi sesuatu, Dzat yang memberi rezeki dan penentu harga.” (HR. Abu Daud). ii 78

×