Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Rancang kota yang baik

4,147 views

Published on

rancang kota yang baik meliputi keterbacaan suatu kota, rancang kota yang berkelanjutan, serta mampu mengartikulasikan kearifan lokal

Published in: Education
  • Be the first to comment

Rancang kota yang baik

  1. 1. jurusan perencanaan wilayah dan kota universitas brawijaya r a n c a n g k o t a y a n g b a i k
  2. 2. 22 Pengantar Rancang Kota yg baik 1. Dasar suatu kota adalah aktivitas yang beragam 2. Bangunan (dan ruang yang dibentuknya) merupakan elemen pertumbuhan kota 3. Pertumbuhan (pembangunan) kota yang baru harus memahami konteks yang ada (yang dibentuk konstruksi lama) 4. Tujuan utama urban design adalah membentuk ruang terbuka publik termasuk ruang jalan yang memiliki makna 5. Jalan harus mengakomodasi beragam bentuk pergerakan dan meningkatkan aktivitas pejalan kaki dan pergerakan 6. Sistem transportasi harus rasional 7. Urban places harus beragam untuk meningkatkan aktivitas yang terkait (perumahan, pertokoan, fasilitas umum) 8. Masyarakat harus berperan dalam membentuk urban setting
  3. 3. 33 Freiburg,Germany Rancang Kota yang Baik 1. Kota harus Terbaca (LegibilityofCity) 2. Kota Berkelanjutan 3. Kota mampu Artikulasi Kearifan Lokal
  4. 4. jurusan perencanaan wilayah dan kota universitas brawijaya LEGIBILITY of CITY
  5. 5. 55 Keterbacaan suatu Kota (LegibilityofaCity) [suatu karakter, dimana bagian-bagian kota dapat dikenali dan diorganisiasi menjadi suatu pola yang jelas] -------- Keterbacaan yang jelas merupakan prasyarat suatu kota yang menarik -------- Strukturisasi dan Identifikasi lingkungan merupakan kemampuan penting untuk semua pergerakan dalam menetapkan orientasi dan identifikasi -------- Banyak tanda yang dapat digunakan al: warna, bentuk, gerakan, suara, bau, gravity – dapat membentuk ‘senseofaplace’ -------- Citra merupakan produk sensasi saat ini dan juga memori pengalaman masa lalu --------
  6. 6. 66 “Jalan pulang ke rumah”
  7. 7. 77 illegibility city – kota monoton
  8. 8. 88 “Imageofthecity” Apakah ImageoftheCity Model kota yang Intangible Bersifat personal Didesain utk keperluan praktis dan tidak persis Selalu berubah Manfaat? Membantu navigasi Pedoman utk interaksi sosial Mencegah perasaan kehilangan Membuat desain kota yang nyaman
  9. 9. 99 Image of the City Mengapa penting Mental map Spatial behavior Bentuk Kota
  10. 10. 1010 “Imageofthecity” Beberapa nama lain Image of the City (KevinLynch) Mental maps (PeterGould,RodneyWhite) Cognitive maps (RogerDownsandDavidStea,Reg Golledge)
  11. 11. 1111 IMAGE of The CITY Kevin Lynch, 1960 Melakukan interview dg penduduk BOSTON Aspeknya: Paths, Edges, Districts, Nodes, Landmarks
  12. 12. 1212 PATHS1 DISTRICTS3 EDGES2 NODES4 LANDMARKS5 CITRA KOTA(Kevin Lynch)
  13. 13. 1313 Mental Maps Dikenal juga sebagai cognitive maps, mind maps, cognitive moodels atau mental models Merupakan: Suatu jenis proses mental yang tersusun dari suatu rangkaian transformasi psikologi, yang mana seorang individu mampu memperoleh, mengklasifikasikan, menyimpan, dan mengurai informasi tentang lokasi relatif dan atribut dari fenomena setiap hari atau metafora lingkungan spasial Suatu metoda yang digunakan untuk mengkonstruksikan dan mengakumulasi informasi dan pemahaman spasial Manfaat dalam Urban Design Memvisualisasikan dan mendesain elemen-elemen kota sesuai persepsi masyarakat/ pengguna
  14. 14. 1414 Mental Map
  15. 15. 1515
  16. 16. 1616
  17. 17. 1717 Faktor Urban Experience Mengapa terdapat perbedaan antar individu Urban Experience Urban Experience UsiaUsia Akses thd Transportasi Akses thd Transportasi Waktu LuangWaktu Luang Tkt Ketakutan/ Keberanian Tkt Ketakutan/ Keberanian PendapatanPendapatan Mata Pencaharian Mata Pencaharian PendidikanPendidikan PendapatanPendapatan Mata Pencaharian Mata Pencaharian Suku/ RasSuku/ Ras Lokasi Rumah Lokasi Rumah Jenis Kelamin Jenis Kelamin Fisik Bangunan Fisik Bangunan UsiaUsia SikapSikap Korban Kekerasan Korban Kekerasan
  18. 18. jurusan perencanaan wilayah dan kota universitas brawijaya URBAN DESIGN yang BERKELANJUTAN
  19. 19. 1919 Definisi Kota Berkelanjutan Terdapat Beragam Definisi dan Konsep Kota Berkelanjutan
  20. 20. 2020 Neotraditional Development Suatu strategi desain yang mendorong masy untuk lebih memilih berjalan kaki, naik sepeda atau naik angkutan umum dibandingkan naik mobil pribadi Kriteria Guna lahan campuran antara perumahan, perdagangan, jasa dan faasilitas umum dalam area yang kompak Keseimbangan antara ruang privat dan publik untuk meningkatkan identitas dan nilai kawasan Membentuk masyarakat yang guyub, mendorong walkability dan meningkatkan kenyamanan Penggunaan pola kota dan kawasan tradisional sebagai model masa depan
  21. 21. 2121 Neotraditional Development Desain Perumahan Neotradisional
  22. 22. 2222 Neotraditional Development Desain Perumahan Neotradisional
  23. 23. 2323 Neotraditional Development Desain Perumahan Neotradisional
  24. 24. 2424 Neotraditional Development Desain Perumahan Modern (Planned Unit Development)
  25. 25. 2525 Neotraditional Development Desain Perumahan Modern (Planned Unit Development)
  26. 26. 2626 TIPE PERMUKIMAN Permukiman Tradisional Planned Unit Developments (PUD) Hibrid (Campuran) Sumber : Ewing dan Cervero dalam Mitra, Raktim (2007) Neotraditional Development
  27. 27. 2727 Neotraditional Development
  28. 28. 2828 Neotraditional Development RepairSprawl
  29. 29. 2929 NEW URBANISM Gerakan Urban Design yang mempromosikan lingkungan walkability disekitar perumahan dan tempat kerja Merupakan perluasan konsep smart growth
  30. 30. 3030 NEW URBANISM Skala REGIONAL Membatasi area terbangun dengan batas geografis Hubungan terbatas antara ruang kota dan hinterlandnya Pola ruang kota harus memiliki batas yang jelas Pengembangan kearah dalam dibandingkan eksnpansi melewati pinggir kota Penggunaan instrumen insentif dan desinsentif untuk menghindari kerusakan kawasan non budidaya Kerjasama antar pemda untuk menghindari kompetisi yang destruktif
  31. 31. 3131 NEW URBANISM Skala KAWASAN Kawasan harus kompak, pedestrian yang nyaman dan guna lahan campuran Keragaman jenis perumahan shg membentuk diversifikasi Fasilitas umum, sosial dan ekonomi harus menyatu dengan perumahan Penyediaan angkutan sebagai pilihan alternatif kend pribadi
  32. 32. 3232 NEW URBANISM Skala BLOK Desain bangunan yang menyatu dengan lingkungan Desain bangunan dan lansekap memiliki kearifan lokal (iklim, topografi,sejarah dan budaya Pengembangan failitas kendaraan bermotor mengakomodasi jalur pedestrian yang nyaman Jalan harus aman dan menjadi ruang interaksi sosial
  33. 33. 3333 Walkability Jalan yang memiliki jalur pedestrian yang nyaman Konektivitas Jaringan jalan terintegrasi Guna Lahan Campuran dan Keragaman Perumahan-Perdagangan’ Usia, pendapatan dan ras Keragaman jenis perumahan Desain bangunan dan lansekap yang baik Prinsip New Urbanism
  34. 34. 3434 P R I N S I P NEW URBANISM Walkability: Jalan yang memiliki jalur pedestrian yang nyaman Konektivitas Jaringan jalan terintegrasi Guna Lahan Campuran dan Keragaman Perumahan-Perdagangan’ Usia, pendapatan dan ras Keragaman jenis perumahan Desain bangunan dan lansekap yang baik
  35. 35. 3535 Transit Oriented Development Suatu area dengan guna lahan campuran perumahan dan komersial, yang didesai memiliki aksesibilitas tinggi ke angkutan umum. Suatu kawasan TOD memiliki pusat berupa transitstation atau transit stop (halte/ stasiun kereta api, metro, trem atau bis) yang dikelilingi oleh area terbangun yang relatif padat dan menyebar keluar semakin rendah kepadatannya. Area TOD umumnya berada dalam radius (400-800 m) dari transit stop
  36. 36. 3636 Transit Oriented Development
  37. 37. 3737 Transit Oriented Development
  38. 38. 3838 Urban Containment Tujuan menghambat ekspansi area terbangun suatu kota dan mendorong perkembangan ke “inward”. Mendorong kepadatan yang tinggi, tata guna lahan campuran, transportasi umum, utilitas yang lebih efisien Metode : Urban Growth Boundaries, Urban Limit Line, Green Line
  39. 39. 3939 Urban Containment
  40. 40. 4040 Urban Containment YorkYork Green Belt West MidlandsWest Midlands Green Belt Tyne and Wear, Durham and HexhamNorth East Green Belt Stoke-on-TrentStoke-on-Trent Green Belt South Yorkshire and West YorkshireSouth and West Yorkshire Green Belt OxfordOxford Green Belt Nottingham and DerbyNottingham and Derby Green Belt Merseyside and Greater ManchesterNorth West Green Belt Greater LondonMetropolitan Green Belt Gloucester and CheltenhamGloucester and Cheltenham Green Belt Dorset, Bournemouth and PooleSouth West Hampshire/South East Dorset Green Belt CambridgeCambridge Green Belt Burton upon Trent and SwadlincoteBurton upon Trent and Swadlincote Green Belt Bristol and BathAvon Green Belt Urban coreGreen belt
  41. 41. 4141 Urban Containment
  42. 42. 4242 Urban Containment Gren belt di Ottawa
  43. 43. 4343 Urban Containment
  44. 44. 4444 Compact City Definisi compactcity menurut Burton (2000) dalam tulisannya menekankan pada dimensi ‘kepadatan yang tinggi’. Pendekatan compactcity adalah meningkatkan kawasan terbangun dan kepadatan penduduk permukiman, mengintensifkan aktifitas ekonomi, sosial dan budaya perkotaan, dan memanipulasi ukuran kota, bentuk dan struktur perkotaan serta sistem permukiman dalam rangka mencapai manfaat keberlanjutan lingkungan, sosial, dan global, yang diperoleh dari pemusatan fungsi-fungsi perkotaan (Jenks, 2000). Ide kota kompak ini pada awalnya adalah sebuah respon dari pembangunan kota acak (urbansprawldevelopment), seperti ditunjukkan perbedaannya pada tabel 1.
  45. 45. 4545 Eco City Eco-city direncanakan memiliki tujuan dalam penggunaan sumber daya yang seminimal mungkin (minimalisasi input energi, air dan makanan) serta memberikan dampak yang sekecil mungkin (output/ limbah panas, polusi udara dan polusi air) Kota harus mampu mendaur-ulang sumber-sumber daya tersebut.
  46. 46. 4646 Eco City
  47. 47. 4747 Eco City Ecotopia
  48. 48. 4848 Eco City Ecotopia
  49. 49. 4949 Tipologi Kota Berkelanjutan A. Neotraditional Development B. Urban Containment C. Compact City D. Eco City
  50. 50. 5050 Neotraditional Development • Kota berorientasi pedestrian dan tingkat kepadatan yg lebih tinggi dibandandingkan lingkungan sekitarnya, • Penggunaan lahan campuran (mix landuse) • Kesempatan pengemudi dan pejalan kaki memiliki alternatif rute untuk mencapai tujuan • Istilah lain : New Urbanism, Transit Oriented Development, Transit Village, Transit-friendly design • (Audirac 1994, Berman 1996)
  51. 51. 5151 Urban Containment • Tujuan : Menghambat ekspansi area terbangun suatu kota dan mendorong perkembangan ke dalam (inward) • Mendorong kepadatan yang tinggi, guna lahan campuran, transportasi umum, utilitas yang lebih efisien • Metode : Urban Growth Boundaries, Urban Limit Line, Green Line • (Rodriguez 2006, Woo 2007))
  52. 52. 5252 Compact City • Bentuk kota yang kompak dengan rdiuas kota yang kecil, kepadatan tinggi serta guna laham campuran • (Tsuei 1996, Burton 2000, Kaji 2004 , Holden 2005, Neuman 2005)
  53. 53. 5353 Tipologi Kota Berkelanjutan Eco City • Didominasi ruang terbuka hijau, dengan keragaman ekologi dan kultural • Cara : penerapan managemen lingkungan • Istilah lain : Environmental City, Green City, Sustainable City, Sustainable Community • (Kentworthy 2006)
  54. 54. 5454 greening ecological design neo traditio- nal devt. eco-cityurban containment compact city passive solar design 7 6 transportasi berkelanjut- an5 kompaksi tinggi4 guna lahan campuran3 keragaman tinggi2 kepadatan tinggi1 A B C D tipologi kota berkelanjutan kriteria tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang sedang kecil kecil kecil kecil kecil kecil
  55. 55. 5555 Kepadatan (Kenworthy 2006) Keragaman (Jacobs 2002) TGL Campuran (Jabareen 2006) Kompaksi (Acioly Jr & Claudio 2000) Transportasi Berkelanjutan (Handy, 2005). Pasive Solar Design (Moughtin dan Peter 2005) Greening-Ecological Design (Beatly 2000) Didasarkan pada konsep kelayakan ambang batas variasi jenis perum, kepdtn bang, ukuran rumah tangga, usia, budaya & pendapatan lhn campuran atau zonasi yg heterogen Kepadatan bang & aktivitas Kesimbangan antara kebutuhan akan aksesibilitas dan kualitas lingkungan Pengaturan bentuk & desain bang, jln, materia, vegetasi dan permukaan air, Integrasi antara alam dengan kota • Mengurangi pemakaian SD • MEndorong Interaksi Sosial • Keragaman sosial budaya • Kesetaraan • Mengurangi jarak tempuh • Pengurangan kend pribadi • Meminimalkan energi untuk transportasi, air, barang dan manusia • Transportasi yang efisien dan setara • Efisiensi energi • Peningkatan kualitas lingkungan Kriteria Kota Berkelanjutan
  56. 56. 5656 Kepadatan TinggiDidasarkan pada konsep kelayakan ambang batas yang bertujuan mengurangi pemakaian Sumber Daya dan mendorong Interaksi Sosial (Kenworthy2006)
  57. 57. 5757 Kepadatan Tinggi
  58. 58. 5858 “Radiant City” (le Corbusier) DESAIN Radiant City Bangunan dengan kepadatan tinggi Open space yg luas dan plasa Zona fungsional memisahkan penggunaan lahan yg berbeda
  59. 59. 5959 Gerakan “Radiant City” Kepadatan Tinggi
  60. 60. 6060 Urban Block Perimeter
  61. 61. 6161 Keragaman TinggiVariasi jenis perumahan, kepadatan, bangunan, ukuran, rumah tangga, usia, budaya & pendapatan untuk meningkatkan kesetaraan dan keragaman sosial budaya (Jacobs,2002)
  62. 62. 6262 Keragaman Tinggi Kota New York : Keragaman Tinggi?
  63. 63. 6363 Keragaman Tinggi Kota SINGAPORE : Keragaman Tinggi?
  64. 64. 6464 Keragaman Tinggi Kota DUBAI : Keragaman Tinggi?
  65. 65. 6565 Keragaman Tinggi Kota WLLWMSTAD, BELANDA : Keragaman Tinggi
  66. 66. 6666 Kota BURANO, ITALY : Keragaman Tinggi Keragaman Tinggi
  67. 67. 6767 Keragaman Tinggi Kota WROCLAW, POLAND : Keragaman Tinggi
  68. 68. 6868 Keragaman Tinggi Kota Santa Marta, Rio de Janeiro : Keragaman Tinggi
  69. 69. 6969 Keragaman Pengg. LahanLahan atau Zonasi yang campuran / heterogen untuk mengurangi jarak tempuh serta mengurangi penggunaan kendaraan pribadi (Jabareen2006)
  70. 70. 7070 Keragaman Penggunaan Lahan Perum Perum Perdag Fasos Fasum RTH Perum Perdag Fasos Fasum RTH Tipe 1 Tipe 2 Tipe 3
  71. 71. 7171 Keragaman Penggunaan Lahan Konsep Bekerja Berhuni Rekreasi Jarak yang membutuhkan kend bermotor Bekerja Berhuni Rekreasi Jarak yang dapat dicapai dengan berjalan kaki dan naik sepeda
  72. 72. 7272 KEMARIN HARI INI HARI ESOK PERDAGANGAN & JASA INDUSTRI PENDIDIKAn & FAS UMUM PERUMAHAN REKREASI Keragaman Penggunaan Lahan
  73. 73. 7373 Keragaman Penggunaan Lahan
  74. 74. 7474 Kompakasi TinggiKepadatan bangunan dan aktivitas yang tinggi disertai radius area terbangunan yang kecil untuk meminimalkan energi transportasi, air, barang dan manusia (Acioly Jr&Claudio 2000)
  75. 75. 7575 Excessive SprawlJarak rata-rata ke pusat pelayanan > 6.001 mE Rural SprawlJarak rata-rata ke pusat pelayanan =3..001 – 6.000 mD Suburban SprawlJarak rata-rata ke pusat pelayanan =1.501 – 3.000 mC Berorientasi Kendaraan tdk bermotor (BicycleSmartGrowth) Jarak rata-rata ke pusat pelayanan =751 – 1.500 mB Berorientasi Berjalan Kaki (Walking Smart Growth) Jarak rata-rata ke pusat pelayanan = 0 – 750 mA Karakter KawasanKriteriaTingkat Kompaksi
  76. 76. 7676 R W KELURAHAN KECAMATAN KOTA/KOTA SATELIT TAMAN KOTA SMA,D1,D2,D3 TAMAN METROPOLITAN UNIVERSITAS SMP TAMAN TAMAN KECAMATAN TK RUMAH S D TAMAN KELURAHAN KIOS Pertokoan PASAR LOKAL PASAR GROSIR/ SUPERMARKET PASAR INDUK Kriteria Jarak Pencapaian Walkable Development
  77. 77. 7777 Transportasi BerkelanjutanLahan atau Zonasi yang campuran / heterogen untuk mengurangi jarak tempuh serta mengurangi penggunaan kendaraan pribadi (Jabareen2006)
  78. 78. 7878 Transportasi Berkelanjutan Penggunaan Angkutan Umum Walkability
  79. 79. 7979 Prinsip Walkability Jalan Kendaraan Bermotor yang Sempit1
  80. 80. 8080 Prinsip Walkability Vegetasi Jalan2
  81. 81. 8181 Prinsip Walkability Volume Lalu Lintas3
  82. 82. 8282 Prinsip Walkability Sidewalks4
  83. 83. 8383 KONFIGURASI POHON KONFIGURASI SELL HUBUNGAN-T (simpang tiga) HUBUNGAN-X (simpang empat) A A A A B B B B Prinsip Walkability Jalan Terkoneksi5
  84. 84. 8484 Prinsip Walkability Jalan Terkoneksi5
  85. 85. 8585 Prinsip Walkability On Street Parking6
  86. 86. 8686 Prinsip Walkability Lower Traffic Speed7
  87. 87. 8787 Prinsip Walkability Mixed Land Use8
  88. 88. 8888 Prinsip Walkability Orientasi Bangunan ke Jalan9
  89. 89. 8989 PassiveSolar DesignPengaturan bentuk dan desain bangunan, jalan, material, vegetasi dan permukaan air untuk mencapai efisiensi energi (mengurangi biaya energi dan pemeliharaan, (Moughtin danPeter2005)
  90. 90. 9090
  91. 91. 9191 Pasive Solar Design Pengaturan Bangunan terhadap Aliran Angin Kurang Baik Baik
  92. 92. 9292 Greening EcologicalDesignIntegrasi antara alam dengan bangunan, kawasan dan kota untuk peningkatan kualitas lingkungan (Beatly 2000)
  93. 93. 9393 Greening Eco Design PEARTURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/PRT/M/2015 Tentang BANGUNAN GEDUNG HIJAU
  94. 94. jurusan perencanaan wilayah dan kota universitas brawijaya Contoh yang Baik
  95. 95. 9595 Pasau,Germany
  96. 96. 9696 Offendurg,Germany
  97. 97. 9797 OrchardRoad,Singapore
  98. 98. 9898 Chinatown,Singapore
  99. 99. 9999 Kampong Glam Singapore
  100. 100. 100100 Kotagede Jogjakarta
  101. 101. 101101 Kotagede Jogjakarta
  102. 102. 102102 Kotagede Jogjakarta kepadatan tinggi keragaman tinggi guna lahan campuran kompaksi tinggi konektivitas tinggi passive sollar design greening ecological design kawasan yang “legible” kearifan lokal
  103. 103. 103103
  104. 104. 104104 KampungLaweyan,Solo
  105. 105. 105105 KampungArab,Surabaya
  106. 106. 106106 KampungSurabaya
  107. 107. 107107 KampungKemasan,Gresik
  108. 108. 108108 SosrowijayanJogjakarta

×