Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka Raya Edisi 09

2,534 views

Published on

Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka Raya Edisi 09

3 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • KABAR BAIK!!! Nama saya Aris. Saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati karena ada penipuan di mana-mana. Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial, dan putus asa, saya telah penipuan oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai Tuhan menggunakan teman saya yang merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Ibu Cynthia meminjamkan pinjaman tanpa jaminan dari Rp800,000,000 (800 Juta) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dengan tingkat bunga hanya 2%. Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya diterapkan untuk dikirim langsung ke rekening saya tanpa penundaan. Karena saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman apapun, silahkan menghubungi dia melalui email: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dan oleh kasih karunia Allah dia tidak akan pernah mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman jika Anda mematuhi perintahnya. Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: ladymia383@gmail.com dan kehilangan Sety saya diperkenalkan dan diberitahu tentang Ibu Cynthia Dia juga mendapat pinjaman baru dari Ibu Cynthia Anda juga dapat menghubungi dia melalui email-nya: arissetymin@gmail.com sekarang, semua yang akan saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran pinjaman saya yang saya kirim langsung ke rekening bulanan.
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Baik Hari Semua orang, Saya Nolan Osman, aku baru di sini tapi saya ingin berbagi kesaksian saya kepada semua orang yang telah mencoba segala sesuatu yang mungkin dan telah kehilangan harapan tentang bagaimana untuk meminjam uang dari Bank atau mencari pinjaman untuk meningkatkan bisnis Anda dan telah kehilangan harapan. Anda harus mengabaikan semua pemberi pinjaman kredit ini, karena mereka semua penipuan ... nyata penipuan ... i adalah korban yang saya robek ribuan dolar ... Tapi hidup saya sepenuhnya berubah sejak aku bertemu Mortgage Kapital posting Kredit secara kebetulan di internet! dan bagaimana mereka memberikan pinjaman baik secara online dan saya memutuskan untuk meminta pinjaman sesegera mungkin. Saya pikir itu adalah penipuan seperti pasca tetapi saya punya membalas dan mereka menyetujui pinjaman saya untuk hanya 3% dalam waktu 24 jam setelah bertemu dengan kebutuhan yang diperlukan mereka, dan pinjaman saya disimpan di rekening bank saya tanpa agunan. Saya menyarankan orang-orang yang mencari pemberi pinjaman dapat diandalkan untuk menghubungi mortgagekapitalcredit @ gmail. com. Benar-benar saya mempercayai mereka dan jangan ragu untuk menghubungi saya di nolan.osman @ yahoo. com jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang mereka. Nolan Osman dikirim dari ipad saya
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Selamat siang...boleh kami berkenalan dan membuka komunikasi dengan pihak dari Bappeda Kota Palangka Raya? Kami dari Penerbit ANDI Yogyakarta. Jika ada alamat e-mail yang dapat dihubungi, bolehkah minta? Terima kasih sebelumnya...
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,534
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
106
Actions
Shares
0
Downloads
76
Comments
3
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Buletin Litbang Bappeda Kota Palangka Raya Edisi 09

  1. 1. EDISI 09/TAHUN V/2013 Bappeda Kota Palangka Raya MENGHIDUPKAN KEMBALI PESONA TANGKILING DENGAN JELAJAH GEOTREK KAJIAN KEMAMPUAN MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN EKONOMI KOTA PALANGKA RAYA 2014-2023 Foto : Jalan Lingkar Luar DESEMBER 2013
  2. 2. s yukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang oleh rahmat dan bimbingan-Nya Litbang edisi 9 dapat maka diselesaikan Buletin pada waktunya. Sumber artikel yang mengisi edisi ini merupakan kegiatan kajian yang dilaksanakan oleh Bappeda Kota Palangka Raya dan Dinas Pertambangan dan Energi Kota Palangka Raya. Kami sadari bahwa kemungkinan masih banyak kegiatan lain yang dilaksanakan oleh SKPD di jajaran Pemerintah Kota Palangka Raya yang dapat dimasukkan dalam Buletin Litbang ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan informasi atau masukan untuk melengkapi Buletin ini. Edisi ke-9 ini mengulas hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Kota Palangka Raya tentang potensi wisata geotrek di Bukit Tangkiling. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk mendukung visi Pemerintah Kota Palangka Raya untuk menghidupkan wisata, khususnya wisata alam. Selain itu, disajikan juga kerjasama survei potensi air tanah yang merupakan kerjasama antara Pemerintah Kota Palangka Raya dengan Badan Geologi Bandung. Kegiatan kajian yang dilaksanakan oleh Bappeda Kota Palangka Raya yang dapat disertakan dalam Buletin edisi 9 ini adalah Kajian Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah dan juga Penyusunan Masterplan Pembangunan Ekonomi Kota Palangka Raya 2014—2023. Beberapa kegiatan kajian yang juga dilaksanakan dalam Tahun Anggaran 2013 ini belum dapat ditampilkan dalam edisi ini karena keterbatasan waktu dan akan dimasukkan dalam edisi berikutnya. Kami senantiasa menyambut baik semua masukan dan saran positif untuk perbaikan mutu Buletin Litbang ini di masa yang akan datang. Akhir kata, semoga buletin ini dapat memberikan manfaat dan selamat membaca! KEPALA BAPPEDA KOTA PALANGKA RAYA H. RAHMADI HN Pembina Tingkat I NIP. 19590518 198603 1 013 1
  3. 3. TIM PENYUSUN : H. Rahmadi HN Penanggung Jawab Kata Pengantar …………………………………………………... 1 Martina, SH, M.Si Redaktur Daftar Isi ……………………………………………………………... 2 Drs. Sernus Penyunting/Editor Menghidupkan kembali Pesona Tangkiling dengan Jelajah Geotrek ………………………………………. 3 Roysart Alfons, ST, MT, MSc Penyunting/Editor Kajian Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah di Kota Palangka Raya ………………………………………... 9 Survei Potensi Air Tanah di Wilayah Kota Palangka Raya ………………………………………..…... 22 Penyusunan Masterplan Pembangunan Ekonomi Kota Palangka Raya Tahun 2014-2023….. 32 Pembelajaran dan Pemanfaatan Alat-Alat Analisis P3BM ……..………………………………. 43 Workshop Perencanaan Motivasi Pembangunan MSDM ….…………………………………….. 51 2 Kristhine Agustine, SE Penyunting/Editor Suzi Emilia Rahmah, SP Desain Grafis Nensianie, SP, M.Si Desain/Grafis Immanuel Yuwana Yakti, ST Fotografer Edy Oktora Hanyi, ST Sekretariat
  4. 4. Oleh : Muhammad Alfath, ST,MT (Dinas Pertambangan dan Energi Kota Palangka Raya) "Memandang alam dengan pengertian akan membuat kita lebih takjub“ (Albert Heim, 1849-1937, Ahli Geologi Swiss) T ravelling dalam rangka berwisata saat ini sudah merupakan bagian dari gaya hidup manusia modern. Setiap orang selalu memimpikan berwisata ketempat-tempat yang memiliki keindahan atau bahkan keunikan berbeda dari daerah lain. Pada dasarnya berwisata adalah cara manusia untuk dapat menikmati hidup dengan sejenak meninggalkan rutinitas kesehariannya dengan melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang mampu menghapus rasa jenuh. Palangka Raya, salah satu Kota di Kalteng dengan luas hampir 2.678,51 km2 merupakan kota dengan keindahan alam yang beragam. Kawasan hutan yang diselingi dengan alur-alur sungai nan indah merupakan beberapa keindahan alam yang mudah ditemui di wilayah ini. Pemandangan alam khas pulau Kalimantan tersebut saat ini telah mampu menjadi daya tarik bagi kegiatan wisata di Kota Palangka Raya. Keindahan alam Palangka Raya yang mempesona tersebut telah menjadi andalan wisata di kota yang terkenal dengan sebutan Bumi Tambun Bungai ini. Namun apakah hanya dua hal tersebut yang dapat dijadikan destinasi wisata di kota ini? Menurut saya tidak. Bagi Anda yang telah lama bermukim di Palangka Raya mungkin masih ingat, jika dahulu kota ini memiliki kawasan wisata yang menjadi favorit masyarakat untuk berkunjung dan menikmati libur akhir pekannya. Kawasan Taman Alam Bukit Tangkiling yang berada di Kecamatan Bukit Batu, dahulu merupakan salah satu obyek wisata yang banyak dikunjungi oleh masyarakat lokal atau bahkan para wisatawan dari luar daerah. Kawasan yang menawarkan keindahan perbukitan granit ini menjadi tujuan favorit wisatawan pada dekade tahun 90-an. Namun saat ini kawasan Tangkiling seperti mati suri karena minimnya pengembangan dan akibat maraknya pertambangan batu ilegal. Kawasan Bukit Tangkiling merupakan lokasi yang memiliki potensi wisata alam yang lama ‘tertidur’ karena tidak dikembangkan secara serius. Sisa-sisa keindahan alamnya masih dapat kita temui hingga sekarang. Berjarak + 30 km dari kota Palangka Raya kawasan ini dapat ditempuh melalui jalan darat selama hampir 30 menit. Total ada 9 bukit yang saling berdekatan di kawasan ini. Masingmasing bukit memilki keunikan dan 3
  5. 5. keistimewaannya sendiri. Bahkan bermacam legenda menghiasi keunikan geologi yang ada di perbukitan ini. Berbagai keunikan geologi yang ada saat ini dibeberapa tempat masih dapat kita temui. Selain keunikan geologinya, beberapa lokasi menawarkan spot-spot keindahan alam dari puncak-puncak bukit. Dalam perjalanan menuju puncak bukit (salah satunya puncak Tangkiling), kita akan disuguhi berbagai keunikan geologi yang didominasi batuan granit yang muncul di sekitar jalur menuju puncak bukit. Keunikan tersebut mestinya dapat dijadikan daya tarik wisata di kawasan perbukitan ini. Keunikan geologi yang ada di perbukitan Tangkiling merupakan salah satu potensi wisata yang belum dimaksimalkan oleh Pemerintah maupun pelaku wisata lainnya. Dari kegiatan survei dan pendataan yang telah dilakukan oleh Dinas Pertambangan dan Energi Kota Palangka Raya sepanjang tahun 2013, ditemukan banyak spot keunikan geologi di kawasan ini. Spot-spot ini berpotensi Puncak Bukit Tabala Puncak Bukit Tangkiling dijadikan rangkaian jalur wisata jelajah alam. Wisata alam yang dimaksud adalah dengan menonjolkan keunikan geologi batuan yang ada di kawasan ini. Wisata jelajah alam seperti ini banyak dikenal dengan istilah geowisata atau geotrek. Apa yang dimaksud dengan geotrek? Geotrek pada dasarnya merupakan alternatif pengelolaan wisata berbasis pemanfaatan sumberdaya alam secara aman dan lestari. Melalui geotrek diharapkan dapat menanamkan pemahaman kepada peserta jelajah geotrek bahwa gejala-gejala kebumian, budaya dan sejarah itu perlu dipelihara untuk pembelajaran. Obyek yang umumnya digunakan sebagai sarana geotrek adalah dari lokasi-lokasi di laut hingga puncak bukit atau gunung beserta isinya. Secara umum pengembangan geotrek harus berprinsip terhadap 4 hal, yaitu : (1) dapat meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif di lokasi yang dijadikan jalur geotrek, (2) mampu melibatkan masyarakat lokal, (3) dapat memberikan View dari puncak Tangkiling Batu Susun Foto-foto spot lokasi keunikan geologi di kawasan Perbukitan Tangkiling Sumber foto : Bidang Geologi Distamben Kota Palangka Raya, 2013 4
  6. 6. Foto kegiatan pertambangan ilegal yang mengancam beberapa spot keunikan geologi di kawasan perbukitan Tangkiling Sumber foto : Bidang Geologi Distamben Kota Palangka Raya, 2013 kontribusi positif bagi konservasi warisan alam dan budaya setempat, (4) harus sensitif secara budaya, dan terakhir (5) mampu memberikan pengalaman lebih menyenangkan bagi peserta. Jika kita cermati seluruh prinsip pengembangan geotrek di atas, maka kawasan Bukit Tangkiling sudah dapat masuk dalam ke lima prinsip tersebut. Untuk prinsip pertama mengenai dampak yang ditimbulkan dari kegiatan ini, dengan adanya kegiatan jelajah alam geotrek diharapkan dapat mengurangi dampak negatif, salah satunya adalah mengurangi kegiatan pertambangan ilegal yang ada saat ini. Mulai berkembangnya kegiatan wisata akan memberikan kesadaran pada masyarakat bahwa lingkungan di sekitar kawasan harus dijaga agar wisatawan tetap dapat datang di kawasan tersebut. Prinsip yang kedua terkait pelibatan masyarakat lokal, dengan adanya kegiatan geotrek di kawasan perbukitan Tangkiling ini maka diharapkan masyarakat sekitar kawasan dapat terlibat dalam rangkaian kegiatan wisata geotrek. Sebagai contoh, masyarakat dapat menjadi bagian dari kegiatan wisata dengan menawarkan berbagai cinderamata khas masyarakat setempat, atraksi budaya lokal atau menjual berbagai makanan khas tradisional. Prinsip kedua ini juga berkaitan dengan prinsip ketiga dan keempat, yaitu memberikan kontribusi positif terhadap warisan alam dan budaya serta sensitif secara budaya. Sementara terkait prinsip yang ke lima yaitu mampu memberikan pengalaman menyenangkan terhadap peserta, hal ini pada dasarnya berkaitan dengan paket yang akan ditawarkan dalam pengembangan geotrek di kawasan ini nantinya. Dari yang telah tim Distamben Kota Palangka Raya lakukan selama pendataan, pengembangan kawasan geotrek di Foto beberapa spot lokasi keunikan budaya yang berada dalam kawasan perbukitan Tangkiling Sumber foto : Bidang Geologi Distamben Kota Palangka Raya, 2013 5
  7. 7. Foto kegiatan geotrek di Jawa Barat yang diikuti oleh pelajar dan mahasiswa. Kegiatan ini menjadi bagian dalam pembelajaran mengenai ilmu kebumian di lapangan. Sumber foto : Pusdiklat Geologi, Bandung kawasan ini harus dibagi dalam 3 level peserta di mana disesuaikan dengan medan jelajah gotrek yang ada. Level tersebut adalah : level pemula dengan jalur landai, level menengah dengan jalur sedikit menanjak, dan terakhir level jalur menanjak. Masing-masing level ini disesuaikan dengan kebutuhan dari peserta. Setiap level pada prinsipnya tetap menawarkan hal-hal yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar geotrek sebagaimana telah dijabarkan tadi. Namun poin terpentingnya adalah, setiap level akan memberikan pengalaman baru bagi Foto infrastruktur berupa papan informasi yang disediakan pemerintah setempat dan pengelola jelajah geotrek di beberapa daerah di luar negeri. Sumber foto : Pusdiklat Geologi, Bandung 6 peserta jelajah geotrek ini. Geotrek di Daerah Lain Beberapa daerah di Indonesia telah mulai mengembangkan kegiatan geotrek sebagai salah satu wisata unggulan, salah satunya adalah Provinsi Jawa Barat. Jawa Barat dengan berbagai keunikan geologinya dari laut hingga pegunungan, saat ini telah mengembangkan geotrek sebagai salah satu jenis wisata jelajah yang populer. Geotrek di kawasan ini sebagian besar dijalankan oleh pihak-pihak swasta yang
  8. 8. bekerjasama dengan pihak-pihak agen perjalanan wisata. Sebut saja paket jelajah di kawasan Puncak Pasir Pawon, geotrek di Tangkuban Parahu, hingga geotrek di sepanjang sungai-sungai di wilayah Jawa Barat. Kegiatan geotrek di daerah ini menuai sukses, karena banyak diminati oleh para pelajar dan mahasiswa. Melalui geotrek para pelajar dan mahasiswa selain dapat berwisata di alam bebas, kegiatan ini juga mampu menjadi sarana belajar ilmu kebumian di lapangan secara langsung (menjadi kampus lapangan) bagi para pelajar. Dengan kegiatan jelajah geotrek ini dapat dijadikan langkah awal memperkenalkan keragaman bumi, sejarah dan budaya kepada para pelajar, komunitas dan masyarakat umum. Potensi Besar Wisata di sekitar Perbukitan Tangkiling Bagaimana dengan kawasan Tangkiling? Dari pendataan dan pemetaan kawasan yang telah tim Distamben Kota lakukan, kawasan ini ternyata banyak memiliki keunikan geologi dan budaya yang sangat kaya. Spot-spot keunikan geologi yang dimiliki kawasan ini ternyata cukup menarik jika dikelola menjadi sebuah destinasi wisata dalam kegiatan geotrek. Berbagai keunikan penampakan batuan yang asal usulnya dapat dijelaskan menurut ilmu kebumian/geologi, beberapa di antaranya juga memiliki cerita legenda yang menarik bagi wisatawan. Sebagai contoh kenampakan batu Banama yang menurut legenda adalah sebuah kapal yang terpecah, dalam ilmu geologi dapat dijelaskan sebagai dampak proses pelapukan batuan selama ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu. Kedua hal tersebut (sisi legenda/cerita rakyat dan sudut pandang saintis) jika kita perhatikan merupakan dua hal yang sangat berbeda. Yang satu merupakan bagian dari budaya dan cenderung merupakan dongeng di masyarakat sedangkan satunya merupakan disiplin keilmuan dan cenderung berdasarkan logika pengetahuan, namun keduanya dapat saling mengisi sehingga menjadi satu bagian yang menarik untuk diketahui para pengunjung. Poin inilah yang akan menjadi bagian penting dalam pengembangan wisata geotrek. Dimana hal-hal kenampakan geologi yang menurut masyarakat merupakan legenda atau dongeng dapat pula dijelaskan asal usulnya menurut sudut pandang pengetahuan terutama ilmu geologi sehingga menjadi sebuah pembelajaran bagi peserta geotrek/ wisatawan di lapangan. Jika melihat dari potensi wisata yang telah ada, pengembangan geotrek di kawasan Batu Banama Batu Rinjing Kaki Jin di puncak Bukit Tabala Foto beberapa lokasi di Tangkiling yang dianggap memiliki legenda bagi kalangan masyarakat lokal sekitar perbukitan Tangkiling. Sumber foto : Bidang Geologi Distamben Kota Palangka Raya, 2013. ini juga dapat dikembangkan bersama dengan kegiatan wisata yang telah mulai berkembang saat ini, yaitu wisata susur sungai. Dari pendataan yang dilakukan oleh tim, sungai Rungan yang melintas dekat perbukitan Tangkiling juga merupakan bagian dari keunikan geologi yang ada di wilayah ini. Dalam beberapa riset terdahulu, diketahui bahwa Sungai Rungan merupakan salah satu aliran 7
  9. 9. sungai purba yang mengalir di wilayah Kota Palangka Raya. Keunikan geologi tersebut masih dapat ditemui saat ini, yaitu berupa danaudanau yang berada didekat cekungan/ belokan sungai Rungan yang lazim disebut danau oxbow (oxbow lake). Keunikan proses geologi pada danau-danau tersebut pada akhirnya juga dapat menjadi bagian dalam kegiatan jelajah geotrek yang ditawarkan di sekitar kawasan ini. Pengembangan geotrek di kawasan ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke kawasan perbukitan Tangkiling secara khusus dan Kota Palangka Raya secara keseluruhan. Dengan program pengembangan wisata geotrek yang tepat dan serius di masa yang akan datang diyakini mampu menambah daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke daerah ini. Geotrek sebagai sebuah kegiatan jelajah alam yang mulai banyak menarik minat wisatawan di daerah lain pada prinsipnya dapat pula dikembangkan di kawasan perbukitan Tangkiling. Dengan segala kekayaan geologi berupa keunikan batuan dan budaya yang dimilikinya, Tangkiling semestinya dapat ‘dibangunkan dari tidur panjangnya’ sebagai kawasan wisata unggulan di Palangka Raya. Namun untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan keseriusan dari Pemerintah Kota Palangka Raya dan stakeholders lain untuk mewujudkannya. Dinas Pertambangan dan Energi Kota Palangka Raya sudah memulainya tahun ini. Selanjutnya semoga pihak lain terutama swasta dapat pula terlibat dalam upaya pengembangan kawasan ini menjadi salah satu andalan wisata di Kota Palangka Raya di masa yang akan datang. Semoga. *** Foto keunikan Sungai Rungan dilihat dari atas puncak Bukit Tangkiling (foto atas) dan Perbukitan Tangkiling dilihat dari Sungai Rungan (foto bawah) 8
  10. 10. Sumber: Laporan Akhir Kajian Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah di Kota Palangka Raya, Tahun 2013. K ajian ini dilaksanakan dalam Tahun Anggaran 2013 oleh Bappeda Kota Palangka Raya, khususnya pada Bidang Penelitian dan Pengambangan. Beberapa tenaga akademis terlibat dalam kegiatan kajian ini, yaitu dari Lembaga Penelitian Universitas Palangka Raya, sebagai berikut: Prof. Dr. Joni Bungai, M.Pd (Ketua Tim), Dr. Berkat A. Pisi, M.Si, Dr. Tonich Uda, M.Si dan Indra Perdana, S.Pd, M.Pd. A. Latar Belakang Salah satu komponen utama yang menentukan mutu pendidikan adalah pengelolaan sekolah yang baik, sedangkan pengelolaan sekolah yang baik memprasyaratkan kompetensi manajerial kepala sekolah yang mumpuni dan efektif. Kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberikan tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang memberikan pelajaran dan murid yang menerima pelajaran (Wahjosumidjo, 2005). Kepala sekolah adalah jabatan pemimpin yang tidak bisa diisi oleh orang-orang tanpa didasarkan atas pertimbangan. Siapapun yang akan diangkat menjadi kepala sekolah harus ditentukan melalui prosedur serta persyaratan tertentu seperti: latar belakang pendidikan, pengalaman, usia, pangkat dan integritas sesuai Permendiknas No. 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah/Madrasah. Paradigma baru manajemen pendidikan memberikan kewenangan luas kepada sekolah dalam mengembangkan berbagai potensinya memerlukan peningkatan kemampuan kepala sekolah dalam berbagai aspek manajerialnya, agar dapat mencapai tujuan sesuai dengan visi dan misi yang diemban sekolahnya (Arismunandar, 2006). Secara konsepsional, yang bertanggung jawab secara mikro atas penyelenggaraan pendidikan di sekolah adalah kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan mempunyai peranan yang sangat besar dalam mengembangkan kualitas pendidikan di sekolah. Berkembangnya semangat 9
  11. 11. Seminar Laporan Akhir dipimpin oleh Wakil Walikota Palangka Raya, Dr. Mofit Saptono Subagio kerja, kerjasama yang harmonis, minat terhadap perkembangan pendidikan, suasana kerja yang menyenangkan serta kualitas profesional guru banyak ditentukan oleh kualitas pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Selanjutnya pemerintah telah menetapkan standar keterampilan kepala sekolah yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/ Madrasah. Dalam kontek manajerial sekolah maka seorang kepala sekolah dituntut untuk dapat menjalankan kompetensi sebagai berikut: 1. Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan; 2. Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan; 3. Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah/ madrasah secara optimal; 4. Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif; 5. Menciptakan budaya dan iklim sekolah/ madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik; 6. Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal; 7. Mengelola sarana dan prasarana sekolah/ madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal; 10 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah/ madrasah; Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik; Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional; Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien; Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/ madrasah; Mengelola unit layanan khusus sekolah/ madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah; Mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan; Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah; dan Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya.
  12. 12. Anggota Tim Peneliti: Dr. Tonich Uda,M.Si (Kiri) dan Dr. Berkat A. Pisi, M.Si (Kanan) Dengan latar belakang di atas, maka kemampuan manajerial kepala sekolah merupakan suatu hal yang perlu mendapat perhatian serius khususnya oleh pemerintah daerah. Evaluasi kinerja manajerial kepala sekolah, merupakan salah satu komponen penting yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah. B. Maksud dan Tujuan Kajian kemampuan manajerial kepala sekolah di Kota Palangka Raya dimaksudkan untuk mengevaluasi kinerja dan profesionalisme kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah, sehingga dapat dirancang upaya-upaya nyata untuk perbaikan dan peningkatan kualitas manajerial kepala sekolah pada masa-masa yang akan datang khususnya di Kota Palangka Raya. Untuk itu secara khusus, tujuan kajian ini adalah: 1) Mengidentifikasi dan mendeskripsikan kondisi eksisting mengenai peran dan fungsi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kota Palangka Raya. 2) Mengevaluasi kinerja kepala sekolah di Kota Palangka Raya dalam melaksanakan tugas manajerialnya sesuai dengan kompetensi yang dipersyaratkan dalam Permendiknas Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/ Madrasah. 3) Mengidentifikasi permasalahan-permasalahan mendasar baik dari lingkungan internal maupun eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja manajerial kepala sekolah di Kota Palangka Raya dalam melaksanakan kepemimpinannya. 4) Memberikan masukan dan arahan untuk meningkatkan kinerja kepala sekolah di Kota Palangka Raya dalam menjalankan peran dan fungisnya sebagai manajer di sekolah. C. Metode Kajian ini merupakan lingkup penelitian survei, dimana data diambil dari sejumlah sampel/ responden melalui teknik sampling yang representatif sehingga mampu menggambarkan kondisi populasi yang sebenarnya. Populasi dalam kajian ini adalah kepala sekolah yang mengepalai sekolah/madrasah di lingkup Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Pengumpulan data kemampuan kepala sekolah dilakukan dengan menggunakan berbagai metode, yaitu wawancara, diskusi terfokus, dan studi banding. Untuk wawancara, instrumen yang digunakan berupa kuesioner yang disusun dan dirancang untuk mampu mengungkapkan kemampuan manajerial kepala sekolah di Kota Suasana Seminar Laporan Akhir di Gedung Peteng Karuhei II pada tanggal 2 Oktober 2013 11
  13. 13. CHART 1 Palangka Raya dalam menjalankan kompetensi manajerialnya. Sasaran wawancara adalah pejabat yang berkompeten di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kota Palangka Raya, pengawas sekolah dan lingkup sekolah, yaitu wakil kepala sekolah, para guru dan tata usaha. Hasil pengumpulan data lapangan selanjutnya dilakukan analisis secara mendalam dan komprehensif dengan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis deskriptif kuantitatif, dimaksudkan untuk menyajikan data berupa ukuran sentral dan ukuran penyebaran dari masing-masing indikator secara tunggal. Penyajian data berupa ukuran sentral yang terdiri dari: ratarata, median, modus, skor minimum dan skor maksimum, rentang skor dan total skor, ukuran penyebaran berupa varians dan simpangan baku. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan untuk mengungkapkan permasalahan aktual mengenai berbagai permasalahan yang dihadapi oleh kepala sekolah dalam meningkatkan kemampuan manajerialnya, serta merumuskan rekomendasi konkrit memperbaiki kemampuan manajerial kepala sekolah di Kota Palangka Raya. Jumlah Guru PNS dan Non PNS di Kota Palangka Raya Tahun 2010/2011 1795 1800 PNS 1600 1400 1200 863 1000 NON PNS 850 800 600 400 399 376 176 204 155 30 2 200 0 Sumber: Diolah dari Data Pokok Pendidikan Kota Palangka Raya Tahun 2010/2011 552 orang (11,38%), SMP/MTs sebanyak 1.067 orang (22,00%), SMA/MA/SMK sebanyak 1.249 orang (25.75%), dan SLB sebanyak 32 orang (0,66%). Jika dilihat dari rasio guru-siswa di Kota Palangka Raya tahun 2010/2011, maka jumlah guru tersebut sudah mencukupi. Sebagaimana untuk sekolah TK/RA rasio guru-siswa sebesar 1:11; untuk SD/MI sebesar 1:14; untuk SMP/MTs sebesar 1:10, dan untuk SMA/MA/SMK sebesar 1:9. Dengan rasio ini maka diharapkan pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan berkualitas. Status kepangkatan tenaga pendidik (termasuk kepala sekolah) di Kota Palangka Raya hingga tahun 2010/2011 tergolong relatif baik. Sebagian besar guru dan kepala sekolah tersebut berada pada golongan IV yang berjumlah 2.470 orang atau sekitar 50,93% dari jumlah guru di Kota Palangka Raya. Untuk guru dan kepala sekolah yang bergolongan III juga cukup banyak yaitu 1.007 orang (20,76%), selebihnya adalah guru dan kepala sekolah golongan II dan yayasan. Keadaan status kepagawaian guru, kepala sekolah, tenaga administrasi tersebut sebagaimana pada Tabel 1 berikut ini. D. Gambaran Keadaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan Tenaga pendidik atau guru di Kota Palangka Raya hingga tahun 2010/2011 mencapai 4.850 orang. Guru tersebut tidak seluruhnya merupakan PNS (Pegawai Negeri Sipil). Dari jumlah tersebut guru yang berstatus PNS sebanyak 3.714 orang atau sekitar 76,58% dari jumlah tenaga guru, sedangkan selebihnya merupakan guru non PNS yaitu sebanyak 1.136 orang atau sekitar 23,42%. Secara rinci, jumlah guru menurut satuan pendidikan di Kota Palangka Raya tersebut sebagaimana ditunjukkan pada Chart 1. Jika dilihat dari sebarannya terhadap satuan pendidikan yang ada, maka dari sebanyak 4.850 guru yang ada di Kota Palangka Raya terbanyak merupakan guru SD/MI yaitu mencapai 1.950 orang atau sekitar 40,21% dari jumlah guru. Untuk satuan pendidikan TK/MA jumlah guru sebanyak TABEL 1. Keadaan Kepala Sekolah dan Guru Menurut Status Kepegawaian di Kota Palangka Raya Tahun 2010/2011 Status Kepegawaian Jabatan Gol I Gol II Gol III Gol IV Yayasan Bantu Pusat Tidak Tetap Bantu Daerah L P L P L P L P L P L P L P L P Kepsek - - - 1 4 11 115 157 - 52 - - - - - - Guru - - 106 134 368 624 581 1617 1 681 189 175 6 7 4 11 Admin 13 5 65 15 35 54 2 - 34 173 89 43 - - - - Jumlah 13 5 171 150 407 689 698 1774 35 906 278 218 6 7 4 11 Sumber: Diolah dari Data Pokok Pendidikan Kota Palangka Raya Tahun 2010/2011 12
  14. 14. Dalam hal ini maka dapat dikatakan bahwa guru-guru di Kota Palangka Raya merupakan guru yang mempunyai pengalaman mengajar yang sudah cukup lama. Dan hal ini tentunya merupakan faktor pendorong agar kualitas pendidikan di Kota Palangka Raya menjadi semakin baik dan berkualitas. Keadaan ini semakin ditunjang dengan tenaga administrasi yang relatif sudah berpengalaman sehingga membantu memperlancar pengelolaan pendidikan di Kota Palangka Raya. Secara akademis, guru di Kota Palangka Raya juga mempunyai kemampuan akademis yang relatif baik. Hal ini sebagaimana tergambar dari tingkat pendidikan guru di Kota Palangka Raya yang sebagian besar adalah S1. Guru berpendidikan S1 di Kota Palangka Raya hingga tahun 2010/2011 sebanyak 2.672 orang atau sekitar 65,47% dari jumlah guru. Bahkan di Kota Palangka Raya telah terdapat guru yang mempunyai pendidikan S2 dan S3 yaitu masingmasing sebanyak 51 orang (1,25%) dan 3 orang (0,07%). Keadaan ini ditunjukkan pada Chart 2. E. Hasil Evaluasi Pemerintah telah menetapkan standar keterampilan kepala sekolah yang tertuang dalam Permendiknas Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Dalam kontek manajerial sekolah maka seorang kepala sekolah dituntut untuk dapat menjalankan kompetensi sebagai berikut: melakukan perencanaan, mengembangkan organisasi, memimpin sekolah/ madrasah, mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah, menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah, mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah, mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat, mengelola peserta didik, mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembe-lajaran, mengelola keuangan sekolah/madrasah, mengelola ketatausahaan sekolah/ madrasah, mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah, mengelola sistem informasi sekolah/madrasah, memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, dan melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah. Sehubungan dengan kompetensi manajerial kepala sekolah/ madrasah tersebut maka hasil evaluasi yang dilakukan di Kota Palangka Raya sebagaimana dapat diuraikan pada tabel-tabel berikut ini. CHART 2 Persentase Jumlah Guru di Kota Palangka Raya menurut Jenjang Pendidikan 65.47 70.00 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 15.66 10.32 0.17 1.57 5.34 1.25 0.07 0.05 0.05 0.05 - 1. Menyusun Perencanaan Sekolah/Madrasah Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam perencanaan sekolah/madrasah ditunjukkan pada Tabel 2. TABEL 2 Persentasi (%) Indikator Sangat Baik Rencana-rencana telah dibuat dan hasil implementasi yang diperoleh Ketersediaan rencana sekolah yang searah dengan visi-misi Sejauhmana perencanaan yang telah dibuat dipahami oleh semua pihak dalam sekolah Baik Cukup Rendah Sangat Rendah Ratarata Status 8,33 58,33 29,63 3,09 0,62 3,71 Baik 15,08 61,23 20,92 2,15 0,62 3,88 Baik 8,70 56,52 29,81 4,66 0,31 3,49 Cukup 13
  15. 15. 2. Mengembangkan Organisasi Sekolah/Madrasah Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam mengembangkan organisasi sekolah/ madrasah ditunjukkan pada Tabel 3. TABEL 3 3. Memimpin Sekolah/Madrasah Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam memimpin sekolah/madrasah ditunjukkan pada Tabel 4. TABEL 4 4. Mengelola Perubahan dan Pengembangan Sekolah/Madrasah Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah ditunjukkan pada Tabel 5. TABEL 5 Persentasi (%) Indikator Sangat Baik Baik Cukup Rendah Sangat Rendah Ratarata Status Keberhasilan dalam mengadopsi program-program baru untuk sekolah yang dipimpinnya 13,54 56,00 25,85 4,00 0,62 3,78 Baik Implementasi inovasi-inovasi dalam rangka mengembangkan pembelajaran efektif 12,00 54,15 29,85 3,69 0,31 3,46 Cukup 5. Menciptakan Budaya dan Iklim Sekolah/Madrasah Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah/ madrasah ditunjukkan pada Tabel 6. TABEL 6 14
  16. 16. 6. Mengelola Guru dan Staf di Sekolah/Madrasah Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam mengelola guru dan staf di sekolah/madrasah ditunjukkan pada Tabel 7. TABEL 7 7. Mengelola Sarana dan Prasarana Sekolah/Madrasah Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam mengelola sarana dan prasarana sekolah/ madrasah ditunjukkan pada Tabel 8. TABEL 8 8. Mengelola Hubungan Sekolah/Madrasah dan Masyarakat Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat ditunjukkan pada Tabel 9. TABEL 9 15
  17. 17. 9. Mengelola Peserta Didik Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam mengelola peserta didik dintunjukkan pada Tabel 10. TABEL 10 Persentasi (%) Indikator Sangat Baik Baik Cukup Rendah Sangat Rendah Ratarata Status Minat siswa baru untuk masuk sekolah yang bersangkutan 37,42 38,65 20,86 2,76 0,31 4,10 Baik Menumbuhkan motivasi peserta didik dalam meningkatkan prestasi akademik 23,38 57,23 16,62 2,46 0,31 3,46 Cukup 10. Mengelola Kurikulum dan Kegiatan Pembelajaran Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam mengelola kurikulum dan kegiatan pembelajaran ditunjukkan pada Tabel 11. TABEL 11 11. Mengelola Keuangan Sekolah/Madrasah Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam mengelola keuangan sekolah/madrasah ditunjukkan pada Tabel 12 TABEL 12 12. Mengelola Ketatausahaan Sekolah/Madrasah Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah ditunjukkan pada Tabel 13. TABEL 13 16
  18. 18. 13. Mengelola Unit Layanan Khusus Sekolah/Madrasah Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam mengelola unit layanan khusus sekolah/ madrasah ditunjukkan pada Tabel 14. TABEL 14 14. Mengelola Sistem Informasi Sekolah/Madrasah Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam mengelola sistem informasi sekolah/ madrasah ditunjukkan pada Tabel 15. TABEL 15 Persentasi (%) Indikator Sangat Baik Baik Cukup Rendah Sangat Rendah Ratarata Status Ketersediaan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengambilan keputusan dan sosialisasi informasi 11,38 51,38 33,54 2,15 1,54 3,47 Cukup Ketersediaan perangkat komunikasi yang menunjang di sekolah 18,15 39,69 32,92 8,00 1,23 3,66 Baik 15. Memanfaatkan Kemajuan Teknologi Informasi Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi ditunjukkan pada Tabel 16. TABEL 16 16. Melakukan Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan Hasil evaluasi terhadap kemampuan kepala sekolah dalam melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan kegiatan ditunjukkan pada Tabel 17. TABEL 17 17
  19. 19. F. Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah/ Madrasah Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, kemampuan manajerial kepala sekolah melingkupi 16 komponen utama dengan 37 indikator penilaian. Dari hasil kajian terhadap 37 indikator tersebut terdapat sebanyak 11 indikator (29,73%) berstatus “cukup baik”, dan selebihnya yaitu 26 indikator (70,27%) berstatus “baik”. Indikator kemampuan manajerial kepala sekolah di Kota Palangka Raya yang berstatus cukup baik adalah: 1) Perencanaan sekolah/madrasah; 2) Implementasi inovasi-inovasi dalam rangka pengembangan pembelajaran efektif; 3) Meningkatkan minat siswa belajar mandiri dan menekuni penelitian-penelitian inovatif; 4) Terobosan dalam pengadaan sarana dan prasarana; 5) Menyediakan kelengkapan sarana dan prasarana sekolah; 6) Mendapatkan sponsor bagi kegiatan sekolah; 7) Menumbuhkan motivasi peserta didik; 8) Ketersediaan unit layanan khusus; 9) Efektivitas unit layanan khusus; 10) Penggunaan perangkat elektronik, IT, dan alat penunjang lain dalam metode pembelajaran; 11) Penggunaan perangkat elektronik, IT, dan alat penunjang lain dalam pengelolaan manajemen sekolah. Indikator-indikator tersebut tentunya merupakan hal yang harus segera diperbaiki oleh para kepala sekolah. Sementara itu, secara keseluruhan kemampuan manajerial kepala sekolah di Kota Palangka Raya sudah “relatif baik”. Hal ini tergambar dari sekitar 50% responden yang memberikan penilaian baik terhadap kemampuan manajerial kepala sekolah. Selain itu juga terdapat sekitar 22,87% responden menyatakan kemampuan manajerial kepala sekolah yang tergolong “sangat baik”. Meskipun demikian tidak sedikit kemampuan manajerial kepala sekolah yang tergolong sedang (22,56% responden), bahkan masih ada yang tergolong rendah (3,66% responden), dan tergolong sangat rendah (0,91% responden). Secara rinci, hasil evaluasi kemampuan manajerial kepala sekolah di Kota Palangka Raya, sebagaimana terlihat pada tabel 18. G. Peningkatan Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah/Madrasah Kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberikan tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang memberikan pelajaran 18 TABEL 18 Hasil Evaluasi terhadap Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah di Kota Palangka Raya Kategori Interval Jumlah Sangat tidak baik/sangat rendah 37,00 - 66,60 3 0,91 Tidak baik/rendah 66,70 - 96,30 12 3,66 Biasa/cukup 96,40 - 126,00 74 22,56 Baik/tinggi 126,10 - 155,70 164 50,00 Sangat baik/sangat tinggi 155,80 - 185,40 75 22,87 328 100,00 Jumlah % dan murid yang menerima pelajaran. Kepala sekolah adalah jabatan pemimpin yang tidak bisa diisi oleh orang-orang tanpa didasarkan atas pertimbangan. Siapapun yang akan diangkat menjadi kepala sekolah harus ditentukan melalui prosedur serta persyaratan tertentu seperti: latar belakang pendidikan, pengalaman, usia, pangkat dan integritas sesuai Permendiknas No. 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah/Madrasah. Penerapan fungsi manajerial kepala sekolah yang terbagi dalam 3 keterampilan, yaitu: keterampilan tehnikal, keterampilan hubungan manusia, dan keterampilan konseptual dalam praktiknya secara rinci dapat dilihat dalam kompetensi manajerial kepala sekolah. Kompetensi kepala sekolah adalah pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsiten yang memungkinkan menjadi kompeten dalam mengambil keputusan tentang penyediaan, pemanfaatan dan peningkatan potensi sumberdaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Untuk lebih meningkatkan kemampuan manajerial kepala sekolah di Kota Palangka Raya, maka upaya-upaya yang dapat dilakukan antara lain adalah: 1) Kepala sekolah yang mengalami kesulitan pada penguasaan kompetensi manajerial seyogyanya mau senantiasa berubah dan berpikir maju. Orientasi yang diharapkan adalah kepekaan kepala sekolah dimulai dari dirinya sendiri. Seorang kepala sekolah paling tidak perlu melakukan hal-hal berikut: a. Memahami tugas dan kewajibannya b. Memahami kebutuhan organsasi (sekolah) c. Memahami iklim organisasi sekolahnya d. Memahami kondisi sumber daya manusia yang dipimpinnya e. Memahami permasalahan organisasi f. Mampu memetakan prioritas pengembangan organisasi g. Menjadi teladan, serta aspek lain yang krusial bagi organisasi
  20. 20. 2) Kepala sekolah terus melakukan kerjasama dengan semua pihak. Sinergi dengan semua pihak untuk memajukan sekolah dapat dilakukan sedini mungkin dan bersifat proaktif tidak hanya menunggu uluran tangan, namun mencari dukungan sinergis secara berkesinambungan. 3) Kepala sekolah harus mau untuk berkembang dengan senantiasa mengikuti perkembangan peraturan, kebijakan, dan kondisi lainnya yang berasal dari internal dan eksternal organisasi. Kepala sekolah yang tidak peka terhadap perkembangan yang terjadi akan mengalami kesulitan, karena kebijakan yang sifatnya manajerial saat ini berkembang sangat pesat seiring perkembangan system informasi dan komunikasi. 4) Kepemimpinan kepala sekolah hendaknya diarahkan pada peningkatan kemampuan manajerial sekolah khususnya pada pengembangan kompetensi pedagogik guru. Untuk itu ada beberapa kemampuan yang hendaknya dikembangkan oleh guru, yaitu: a. Kemampuan mencipta. Kepala sekolah hendaknya memiliki ide-ide bagus khususnya dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru. Inovasi dalam proses pembelajaran mengajar sangat penting seiring dengan tantangan dunia pendidikan. Kepala sekolah hendaknya mampu memberikan solusi-solusi terhadap masalahmasalah yang dihadapi guru khususnya pada peningkatan kompetensi pedagogik. b. Kemampuan membuat perencanaan. Kepala sekolah hendaknya membuat perencanaan yang sistematis dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru. Perencanaan ini tidak hanya didasarkan pada pengamatan kepala sekolah saja tapi juga melibatkan guru. Tujuannya agar setiap perencanaan yang disusun sesuai dengan permasalahan yang dihadapi guru. c. Kemampuan berkomunikasi. Kepala sekolah hendaknya membangun komunikasi yang efektif dengan seluruh guru. Komunikasi yang dikembangkan adalah komunikasi dua arah. Seluruh guru diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berkomunikasi dengan kepala sekolah baik formal maupun informal. Komunikasi ini dapat dilakukan baik lisan maupun tulisan. d. Kemampuan memberikan motivasi. Kepala sekolah hendaknya menjadi insipirasi bagi guru, dan membantu guru dalam meningkatkan kompetensi pedagogiknya. e. Kemampuan melakukan evaluasi. Kepala sekolah hendaknya dapat melakukan evaluasi terhadap hasil kegiatan belajar yang dilakukan oleh guru. Evaluasi mengacu pada standar penilaian yang baku. Tujuannya agar secara objektif dapat menilai kompetensi pedagogik guru. 5) Kepala sekolah/madrasah memiliki peran strategis dalam peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan. Kepala sekolah/ madrasah juga memiliki peran penting dalam upaya membentuk insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif melalui kesungguhan dan kreativitasnya dalam mengelola sekolah yang menjadi tanggung jawabnya. Sebagai konsekuensinya, kepala sekolah/madrasah harus merupakan orang-orang yang terpilih dari sisi kualifikasi maupun kompetensinya. Untuk mendapatkan kepala sekolah sebagaimana yang diharapkan tersebut, maka pihak Dinas Pendidikan harus melakukan seleksi kepala sekolah secara ketat, dengan mengacu kepada Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah/ Madrasah. Hal-hal pokok yang diatur dalam Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 meliputi: a. Syarat-syarat guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah b. Penyiapan calon Kepala Sekolah/Madrasah c. Proses pengangkatan kepala sekolah/ madrasah d. Masa tugas e. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) f. Penilaian kinerja kepala sekolah/madrasah, dan g. Mutasi dan pemberhentian tugas guru sebagai kepala sekolah/madrasah. 6) Sebagai proses pemberian pengalaman teoretik dan praktik kepada calon kepala sekolah/ madrasah yang telah lulus tahap rekrutmen, Pasal 7 ayat (2) Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 telah mengatur porsi waktu untuk melaksanakan pendidikan dan pelatihan, yakni tatap muka selama minimal 100 jam, dan praktik pengalaman lapangan dalam kurun waktu minimal selama 3 bulan. Selanjutnya, ayat (5) menyatakan bahwa kegiatan pendidikan dan pelatihan diakhiri dengan penilaian untuk mengetahui pencapaian kompetensi calon kepala sekolah/madrasah. Pasal 7 ayat (2) dan (5) di atas telah mengatur jenis kegiatan yang harus dilakukan dan porsi waktu minimal untuk mendapatkan calon kepala sekolah/madrasah yang kompeten. Namun, bagaimana kegiatan itu dikemas sehingga bisa dilaksanakan dengan prosedur yang sama belum diatur dalam Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010. 19
  21. 21. H. Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Kota Palangka Raya merupakan kota pendidikan, hal ini sebagaimana yang telah dituangkan dalam RPJMD 2008-2013 dan dalam visi dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Palangka Raya dengan berbagai arah kebijakannya. Untuk mewujudkan Kota Palangka Raya sebagai Kota Pendidikan, maka Pemerintah Kota terus berupaya membangun bidang pendidikan melalui 3 pilar kebijakan, yaitu: (a) pemerataan dan perluasan akses pendidikan; (b) peningkatan mutu, relevansi pendidikan, dan daya saing; dan (c) penguatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik. 2. Dunia pendidikan di Kota Palangka Raya telah ditunjang dengan ketersediaan fasilitas gedung sekolah yang tersebar pada seluruh kecamatan, mulai dari tingkat sekolah taman kanak-kanak (TK) hingga tingkat sekolah menengah atas (SMA/MA/SMK). Pendidikan juga telah didukung oleh ketersediaan guru yang jumlahnya sangat memadai untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kota Palangka Raya. 3. Guru-guru di Kota Palangka Raya tersedia dalam jumlah yang banyak, namun penyebarannya belum merata dan masih terpusat pada sekolah-sekolah di wilayah perkotaan. Guru-guru tersebut memiliki tingkat senioritas yang relatif sudah baik, baik dilihat dari sisi pengalaman mengajar maupun jenjang kepangkatan. Dari sisi kualitas pendidikan formal, guru-guru di Kota Palangka Raya juga telah mendukung dengan sebagian besar sudah berpendidikan sarjana, dan ditunjang oleh adanya guru-guru yang tersertifikasi. 4. Kepala sekolah/madrasah di Kota Palangka Raya telah memenuhi sebagian besar persyaratan sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010. Persyaratan yang masih banyak belum terpenuhi pada kepala sekolah di Kota Palangka Raya adalah tidak semua kepala sekolah yang ada memiliki sertifikat kepala sekolah/madrasah pada jenis dan jenjang yang sesuai dengan pengalamannya sebagai pendidik yang diterbitkan oleh lembaga yang ditunjuk dan ditetapkan Direktur Jenderal. 5. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan” sudah relatif baik, namun perlu peningkatan dalam hal “sejauhmana perencanaan yang telah dibuat dipahami oleh semua pihak dalam sekolah”. 20 6. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “mengembangkan organisasi sekolah/ madrasah sesuai dengan kebutuhan” sudah relatif baik. 7. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam ”memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumberdaya sekolah/madrasah secara optimal” sudah relatif baik. 8. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif” masih perlu ditingkatkan terutama dalam hal “implementasi inovasi-inovasi dalam rangka mengembangkan pembelajaran efektif”. 9. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “menciptakan budaya dan iklim sekolah/ madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik” sudah relatif baik, namun perlu ditingkatkan dalam hal “meningkatkan minat siswa untuk belajar mandiri dan menekuni penelitian-penelitian inovatif”. 10. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumberdaya manusia secara optimal” sudah relatif baik. 11. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “mengelola sarana dan prasarana sekolah/ madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal” masih perlu ditingkatkan terutama dalam hal “kemampuan untuk menyediakan kelengkapan sarana dan prasarana sekolah” dan “terobosan dalam pengadaannya”. 12. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah/ madrasah” sudah relatif baik, namun perlu ditingkatkan dalam hal “kemampuan untuk mendapatkan sponsor bagi kegiatan sekolah”. 13. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik” masih perlu ditingkatkan terutama dalam hal “menumbuhkan motivasi peserta didik dalam meningkatkan prestasi akademik”. 14. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam
  22. 22. “mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional” sudah relatif baik. 15. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien” sudah relatif baik. 16. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/ madrasah” sudah relatif baik. 17. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “mengelola unit layanan khusus sekolah/ madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah” masih perlu ditingkatkan dalam hal “ketersediaan unit layanan khusus” dan “efektivitas unit layanan khusus”. 18. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan” perlu ditingkatkan dalam hal “ketersediaan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengambilan keputusan dan sosialisasi informasi”. 19. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah” masih harus ditingkatkan dalam hal “penggunaan perangkat elektronik, IT, dan alat penunjang lain dalam metode pembelajaran” dan “penggunaan perangkat elektronik, IT, dan alat penunjang lain dalam pengelolaan manajemen sekolah”. 20. Kemampuan manajerial kepala sekolah/ madrasah di Kota Palangka Raya dalam “melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya” sudah relatif baik. I. Saran-saran 1. Kepala sekolah/madrasah yang akan memimpin sekolah/madrasah di Kota Palangka Raya sedapat mungkin memenuhi persyaratan dan ketentuan sebagaimana yang telah diatur dalam Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah, dan Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah/Madrasah. 2. Kepala sekolah/madrasah yang telah diangkat untuk memimpin sekolah/madrasah di Kota Palangka Raya sesegera mungkin diberikan pendidikan dan pelatihan dalam rangka Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Kepala Sekolah/Madrasah. 3. Kepemimpinan kepala sekolah hendaknya diarahkan pada peningkatan kemampuan manajerial sekolah khususnya pada pengembangan kompetensi pedagogik guru, terutama yang berkaitan dengan: 1) kemampuan menciptakan; 2) kemampuan membuat perencanaan; 3) kemampuan berkomunikasi; 4) kemampuan memberikan motivasi; dan 5) kemampuan melakukan evaluasi. 4. Dinas Pendidikan maupun instansi teknis terkait sebaiknya secara aktif dan berkesinambungan melakukan melakukan penilaian kinerja kepala sekolah/madrasah di Kota Palangka Raya, sehingga penanggulangan dini terhadap persoalan-persoalan pendidikan di sekolah/ madrasah dapat segera diatasi. 5. Pemerintah daerah dengan segala kewenangannya bersama-sama dengan DPRD dan lembagalembaga yang berada di bawah jajaran Pemda, seperti Badan Kepegawaian Daerah, Bappeda, Badan Diklat Daerah, Dinas Pendidikan, dan lembaga terkait lainnya bersama-sama secara sungguh-sungguh merencanakan, menganggarkan, melaksanakan, membina, memonitor dan mensupervisi serta mengevaluasi program penyiapan, pengembangan, dan pemberdayaan kepala sekolah. Secara khusus pemerintah daerah diharapkan menyediakan sumber daya manusia dan mengalokasikan anggaran untuk: 1) penyelenggaraan rekrutmen dan seleksi calon kepala sekolah; 2) penyelenggaraan diklat calon kepala sekolah; 3) proses pemerolehan sertifikat kepala sekolah; 4) penyelenggaraan penilaian/ uji akseptabilitas; 5) program-program pengembangan keprofesian berkelanjutan kepala sekolah (PKB) dalam hal pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif baik di tingkat kabupaten/kota, propinsi, nasional, maupun internasional; dan 6) penyelenggaraan penilaian kinerja bagi kepala sekolah/madrasah baik tahunan maupun empat tahunan. *** Buku Laporan Akhir Kajian Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah di Kota Palangka Raya dapat diperoleh di Bidang Litbang Bappeda Kota Palangka Raya (persediaan terbatas) atau dalam bentuk softcopy. 21
  23. 23. Oleh: Muhammad Alfath, ST, MT (Dinas Pertambangan dan Energi Kota Palangka Raya). Disarikan dari Laporan Akhir Kegiatan. A PENDAHULUAN ir tanah merupakan sumber daya alam terbarukan (renewable resources) yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan air permukaan, sehingga pemanfaatannya untuk sumber air baku berbagai keperluan pasokan air bersih dirasakan semakin meningkat. Kondisi yang demikian ini juga terjadi di wilayah administrasi Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, air tanah memiliki peran penting dalam menunjang kegiatan pembangunan, terutama di sektor pariwisata dan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari penduduk. Menilik air tanah merupakan salah satu komponen dalam siklus hidrologi, ketersediaannya dijumpai dalam jumlah dan mutu yang dapat berbeda-beda antara satu tempat dan tempat lainnya, tergantung pada kondisi lingkungan setempat. Oleh karena itu, peningkatan pemanfaatan air tanah yang berlangsung di daerah ini perlu disertai dengan kegiatan inventarisasi potensi air tanah, sebagai upaya untuk memahami ketersediaan air tanah agar pemanfaatannya sebagai sumber air baku dapat dilakukan secara optimal dan berkelanjutan. Bertitik tolak pada hal tersebut di atas, dalam Tahun Anggaran 2013 Dinas Pertambangan dan Energi Kota Palangka Raya memandang perlu adanya kegiatan survei Potensi Air Bawah Tanah, yang pelaksanaannya bekerjasama dengan tenaga ahli dari Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan, Badan Geologi, Kementerian ESDM, yaitu di sebagian wilayah Kecamatan Pahandut dan sebagian Kecamatan Jekan Raya yang 22 pemanfaatan air tanahnya mengalami peningkatan pesat pada dasawarsa terakhir ini. Hal ini dilakukan untuk memahami ketersediaan air tanah dan inventarisasi pemanfaatannya yang telah dilakukan di daerah ini, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam perencanaan pemanfaatan air tanah di Kota Palangka Raya. MAKSUD DAN TUJUAN Maksud kegiatan Survey Potensi Air Bawah Tanah di Wilayah Kota Palangka Raya ini adalah melakukan inventarisasi dan analisis data keairtanahan serta data pendukung lainnya di sebagian wilayah Kecamatan Pahandut dan Kecamatan Jekan Raya, berdasarkan atas data yang diliput secara langsung melalui titik minatan hidrogeologi (hydrogeological point of interest) di lapangan maupun data sekunder terkait yang dikumpulkan dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Tujuannya adalah mewujudkan informasi potensi air tanah untuk digunakan sebagai dasar dalam penerbitan izin penggunaan air tanah, upaya konservasi air tanah, serta untuk penyediaan air bersih yang memenuhi persyaratan, baik dari pertimbangan aspek teknis maupun yang terkait dengan segi kebutuhan dan manfaatnya bagi penduduk setempat di wilayah Kota Palangka Raya. Adapun lokasi kegiatan survei ini dapat dilihat pada gambar 1. Dalam pelaksanaannya, kegiatan yang dilakukan merupakan beberapa tahapan analisis dengan metode pendekatan berikut : 1) Penyelidikan Geolistrik 2) Uji Pemompaan Pada Sumur Gali 3) Uji Pemompaan Pada Sumur Bor 4) Estimasi Pertumbuhan Jumlah Penduduk 5) Interpretasi Genesa Akuifer 6) Analisis Mutu Air Tanah Untuk Air Minum
  24. 24. Gambar 1. Peta lokasi kegiatan pelaksanaan survey air tanah tahun 2013 PENDUDUK DAN KEBUTUHAN AIR BERSIH Pada saat penyelidikan di lapangan berlangsung, secara umum sebaran penduduk Kota Palangka Raya terkonsentrasi di wilayah administrasi Kecamatan Pahandut dan Kecamatan Jekan Raya yang juga merupakan prioritas kegiatan penyelidikan ini. TABEL 1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kecamatan Pahandut (sebagian) Jekan Raya (sebagian) Jumlah Pahandut Panarung Langkai Tbg Rungan Luas (Km2) 9,50 23,50 10 23 Tanjung Pinang Menteng Palangka Bukit Tunggal 44 31 24,75 237,12 Kelurahan Jiwa 25.044 20.693 25.612 632 2.602 38.016 41.899 34.387 188.885 Kepadatan per km2 2.636,21 880,55 2.561,20 27,48 59,14 1.226,32 1.692,89 145,02 Sumber: Kota Palangka Raya Dalam Angka Tahun 2011 Sebagian besar penduduk di daerah penyelidikan memperoleh air bersih untuk keperluan sehari – hari dari air tanah melalui sumur pantek dan sumur gali, sedangkan penduduk yang memanfaatkan air bersih dari PDAM tergolong masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan penduduk yang mengambil air tanah. Pengambilan air tanah dengan sumur bor pada umumnya dijumpai setempat-setempat terutama untuk menunjang sektor pariwisata dan perdagangan, misalnya untuk memenuhi air bersih di hotel, perkantoran, pertokoan, serta sarana olah raga dan wisata. Perhitungan penggunaan air bersih untuk keperluan rumah tangga di daerah penyelidikan dapat dilakukan berdasarkan atas standar kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya seperti disajikan dalam Tabel 2. 23
  25. 25. Kategori I II III IV V TABEL 2. Standar Kebutuhan Air Bersih Untuk Rumah Tangga Kebutuhan Air Bersih Kota Jumlah Penduduk (Jiwa) (l/orang/hari) Metropolitan > 1.000.000 190 Besar 500.000 – 1.000.000 170 Sedang 100.000 – 500.000 150 Kecil 20.000 – 100.000 130 Kecamatan 3.000 – 20.000 100 Sumber: Ditjen Cipta Karya, Kementerian PU Berdasarkan atas evaluasi jumlah penduduk di tiap kecamatan pada daerah yang menjadi prioritas kajian seperti telah dikemukakan sebelumnya, dapat diperhitungkan pula bahwa kebutuhan air bersih untuk keperluan domestik di wilayah Kecamatan Pahandut termasuk dalam kategori IV (130 l/orang/hari), sedangkan di wilayah Kecamatan Jekan Raya termasuk dalam kategori III (150 l/orang/hari). Proyeksi pertumbuhan jumlah penduduk di daerah penyelidikan dapat diperhitungkan dengan menggunakan rumus eksponensial. Menurut Mantra I.B., (1985), pertumbuhan jumlah penduduk merupakan pertumbuhan langsung dan terus - menerus (continous), sehingga dapat diperhitungkan pertumbuhan jumlah penduduk dengan rumus eksponensial. Berdasarkan rumus tersebut, proyeksi pertumbuhan jumlah penduduk di daerah penyelidikan dapat dihitung, sehingga prakiraan kebutuhan air bersih untuk keperluan domestik dapat diperhitungkan pula. Berikut disajikan tabel perhitungan kebutuhan air bersih untuk domestik di daerah yang menjadi prioritas kegiatan berdasarkan atas data kependudukan tahun 2011 dan proyeksinya pada tahun 2015 dan 2020. Perhitungan pengambilan air tanah untuk keperluan non domestik diasumsikan 5% dari kebutuhan domestik, seperti umumnya yang terjadi di sebagian besar ibukota provinsi di luar Pulau Jawa dengan kondisi tidak sepenuhnya kebutuhan non domestik dipasok dari Perusahaan Daerah Air Minum. Hal ini dilakukan mengingat keterbatasan data pengambilan air tanah terutama terkait perizinan yang belum berjalan optimal, sementara data teknis misalnya litologi hasil pengeboran, konstruksi (kedudukan saringan, diameter pipa jambang, dll), pencatatan watermeter, dan hasil uji pemompaan tidak dimiliki pemilik sumur bor maupun instansi yang berwenang menerbitkan izin penggunaan air tanah. Bertitik tolak pada asumsi tersebut, penggunaan air tanah non domestik diperkirakan sekitar 0,49 juta m3/tahun pada tahun 2011, meningkat menjadi 0,53 juta m3/ tahun pada tahun 2015, dan 0,57 juta m3/tahun. HIDROLOGI WILAYAH KOTA PALANGKA RAYA Air tanah merupakan salah satu komponen dalam daur hidrologi (hydrologic cycle), yakni siklus peredaran air di bumi, sehingga keterdapatannya akan ditentukan pula TABEL 3. Jumlah Penduduk dan Kebutuhan Air Bersih Untuk Keperluan Domestik 2011 2015 2020 74.583 82.261 92.981 Kebutuhan Air Bersih (l/orang/ hari) 130 114.302 120.607 128.979 150 188.885 202.868 221.959 Jumlah Penduduk Kecamatan Pahandut (sebagian) (Kel. Pahandut, Kel. Panarung, Kel. Langkai, Kel. Tumbang Rungan, Kel. Tanjung Pinang) Jekan Raya (sebagian) (Kel. Menteng, Kel. Palangka, Kel. Bukit Tungal) Jumlah Kebutuhan Air Bersih (m3/tahun) 2011 2015 2020 3.538.963,35 3.903.305,396 4.411.924,945 6.258.034,5 6.603.211,04 7.061.577.153 9.796997,85 Sumber Data Kependudukan: Kota Palangka Raya Dalam Angka—2011 24 10.506.516,4 11.473.502,1
  26. 26. oleh unsur-unsur lain yang terlibat dalam daur tersebut. Dengan demikian dapat dimengerti dimengerti bahwa suatu kajian mengenai ketersediaan air tanah akan selalu terkait dengan pemahaman komponen lain yang terlibat dalam daur tersebut, yang umumnya terangkum dalam suatu analisis hidrologi. Dalam hal ini, curah hujan merupakan komponen utama dalam daur hidrologi, di mana hujan yang jatuh ke permukaan akan mengalami penguapan, baik yang berlangsung pada tumbuh-tumbuhan (transpirasi), maupun pada permukaan tanah dan air (sungai, rawa, situ) yang disebut evaporasi. Disamping itu, sebagian air hujan tersebut akan meresap ke bawah permukaan tanah (infiltrasi) dan melimpas di permukaan tanah berupa aliran permukaan (surface run off). Parameter ini dipergunakan untuk menghitung neraca air (water balance) yang terjadi di daerah penyelidikan. Berdasarkan perhitungan dengan rumus neraca air, air hujan yang masuk ke dalam tanah (U) sebesar 371,6600 mm/tahun. Dengan demikian jumlah air yang masuk ke dalam tanah di daerah penyelidikan dengan luas 90,30 km2 diperhitungkan sebesar 33,5609 juta m3/tahun. HIDROGEOLOGI WILAYAH KOTA PALANGKA RAYA a. Konfigurasi dan Sistem Akuifer Pemahaman sebaran akuifer di bawah permukaan dilakukan dengan rekonstruksi satuan batuan yang teramati di lapangan, data pemboran dan data penyelidikan geolistrik, serta data sekunder lainnya yang berkaitan dengan aspek geologi pada endapan aluvium di lembah sungai. Data informasi umum yang terkumpul tersebut merupakan dasar untuk analisis secara lebih rinci konfigurasi sistem akuifer daerah penyelidikan. Pengukuran tahanan jenis batuan telah dilakukan pada 50 (lima puluh) titik duga geolistrik dengan sebaran sistimatis untuk memahami sebaran vertikal dan horizontal akuifer di daerah penyelidikan. Nilai tahanan jenis batuan yang diperoleh dari penyelidikan geolistrik dikorelasikan dengan data pemboran, yaitu nilai tahanan jenis tertentu hasil penyelidikan geolistrik mencerminkan litologi tertentu seperti yang diketahui dari data pemboran, selanjutnya nilai ini digunakan secara deduktif untuk analisis sebaran tahanan jenis batuan lain di sekitarnya. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, data/informasi geologi regional dan pengamatan geologi permukaan dapat membantu penafsiran sebaran batuan di bawah permukaan sampai kedalaman rata-rata kurang dari 10 m, data litologi pemboran bermanfaat untuk penafsiran batuan dengan kedalaman yang besar, sedangkan data/informasi geologi regional digunakan untuk menafsirkan sebaran kelompok batuan berdasarkan atas nilai tahanan jenisnya, termasuk hubungan lateral antar kelompok batuan tersebut di daerah penyelidikan, terutama didasarkan atas informasi tentang sejarah geologinya termasuk lingkungan pengendapan. Hasil penyelidikan geolistrik digunakan sebagai data pendukung untuk memahami konfigurasi akuifer yang digambarkan dalam beberapa penampang tahanan jenis batuan dan Diagram Pagar pada Gambar 3. Gambar 2. Kegiatan Survei Geolistrik Yang Dilakukan Oleh Tim 25
  27. 27. Gambar 3. Penampang hasil geolistrik dan diagram pagar tahanan jenis batuan 26
  28. 28. Dari hasil penyelidikan geolistrik ini tim survei dapat mengetahui adanya keterkaitan antara nilai tahanan jenis batuan dengan litologi bawah permukaan sebagai berikut :  Bagian atas merupakan tanah penutup dengan ketebalan umumnya kurang dari 5 m, kenampakan di lapangan berupa material berukuran lempung sampai pasir, dengan setempat dijumpai kerakal.  Tahanan jenis batuan 1.344 sampai 4.571 ohm-meter ditafsirkan sebagai pasir mengandung kerikil dan kerakal (non akuifer). Ketebalan rata-rata lapisan ini diperkirakan antara 10 – 15 m dan menipis ke arah barat – barat laut di Kelurahan Bukit Tunggal.  Tahanan jenis batuan antara 176 sampai 647 ohm-meter ditafsirkan sebagai pasir dengan sisipan lempung (akuifer). Ketebalan total lapisan ini dapat mencapai sekitar 45 m, dengan ketebalan maksimum di sekitar pusat Kota Palangka Raya.  Tahanan jenis batuan antara 62 sampai 82 ohm-meter dengan sebaran di bagian tengah sampai selatan daerah penyelidikan ditafsirkan sebagai pasir lempungan dengan sisipan konglomerat (akuifer).  Tahanan jenis batuan antara 6 – 9 ohm-meter dengan kedudukan mengalasi lapisan batuan tersebut terdahulu, ditafsirkan sebagai lempung atau material lempungan bersifat padu. Ditafsirkan masih ada hubungan antara akuifer dangkal dan dalam di daerah kajian, artinya sistem akuifer di daerah penyelidikan dapat ditafsirkan merupakan akuifer tidak tertekan (unconfined aquifer) dan akuifer semi tertekan (semiconfined aquifer), endapan bersifat lempungan sebagai lapisan penyekat misalnya terdapat pada backswamp dan meander belt dengan sebaran tidak menerus dan masih terjadi downward leakage menuju sistem akuifer di bawahnya. Disamping itu terjadi imbuhan air tanah dari Sungai Kahayan ke dalam sistem akuifer di daerah kajian (Sungai Kahayan merupakan influent stream). b. Parameter Akuifer Penilaian parameter akuifer ini merupakan upaya untuk mengetahui karakteristik hidraulika akuifer di daerah penyelidikan, didasarkan atas analisis data uji pemompaan yang dilakukan pada beberapa lokasi terpilih secara langsung di lapangan, baik pada sumur gali maupun sumur bor. Dalam uji pemompaan sumur gali, pemompaan dilakukan dengan debit tetap sampai muka air tanah turun pada kedalaman tertentu, kemudian pemompaan dihentikan dan diukur pulihnya muka air tanah dengan selang waktu tertentu sampai tercapai kedudukan muka air tanah statis (MAS) seperti semula. Data uji pemompaan yang diperoleh secara langsung di lapangan ini dianalisis dengan Metode Bouwer-Rices yang dipandang paling sesuai untuk kondisi sumur berdiameter relatif besar. Penilaian parameter akuifer seluruh daerah penyelidikan dilakukan dengan cara deduksi, yaitu menggunakan data uji pemompaan di lokasi terpilih untuk diterapkan pada tempat lain yang memiliki karakteristik hidrogeologi sejenis. Gambar 4. Kegiatan uji pumping di lokasi terpilih oleh tim survei 27
  29. 29. Kuantitas Air Tanah Pengertian kuantitas air tanah dalam penyelidikan ini dimaksudkan sebagai kandungan air tanah yang berasal dari imbuhan, baik secara langsung dari curahan hujan maupun aliran air tanah yang mengalir menuju ke daerah yang menjadi prioritas kajian. Penghitungan kuantitas air tanah yang didasarkan atas cara pandang seperti ini merupakan tindakan bijaksana dan konservatif terhadap kemungkinan pengambilan air tanah yang berlebihan, mengingat penghitungan kuantitas air tanah yang melibatkan jumlah simpanan air tanah (groundwater storage) akan dapat menimbulkan kesalahan pengelolaan air tanah tertekan dalam hal pemanfaatan yang berlebihan, sehingga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap air tanah maupun lingkungannya. Kedudukan muka air tanah diukur melalui beberapa buah sumur gali dan sumur pantek terpilih yang dilakukan selama bulan Juni 2013. Muka air tanah di daerah dekat Sungai Kahayan umumnya terdapat pada kedalaman 2 sampai 18 di bawah muka tanah setempat (mbmt), dengan sebaran luas di bagian utara yang relatif sejajar dengan Sungai Kahayan. Selanjutnya dijumpai dengan kedalaman rata-rata antara 5 – 25 mbmt di bagian selatan dan barat, diperkirakan muka air tanah rata-rata akan semakin dalam ke arah perbukitan. Kimia Air Tanah Komposisi kimia air tanah berkaitan erat dengan ion yang terkandung dalam air tanah, baik berupa kation (ion bermuatan positif) maupun anion (ion bermuatan negatif). Interpretasi sifat kimia air tanah di daerah penyelidikan dilakukan berdasarkan atas hasil pemeriksaan laboratorium terhadap percontoh air yang berasal dari sumur gali, sumur pantek, dan sumur bor milik penduduk dan hotel di Palangka Raya. Hasil analisis dengan metode Diagram Trilinear Piper menunjukkan adanya beberapa kelompok kimia air tanah di daerah penyelidikan sebagai berikut. Kelompok I, kandungan alkali (Na+ dan K+) melebihi kandungan alkali tanahnya (Ca2+ dan Mg2+), kandungan asam kuat (SO42dan Cl-) melebihi kandungan asam lemahnya (HCO3- dan CO32-). Kelompok II, pasangan kation dan anion tidak melebihi 50 %, diketahui dari percontoh sumurgali No. 10 mewakili daerah pusat kota yang termasuk wilayah Kelurahan Palangka (Kecamatan Jekan Raya), percontoh sumur pantek No. 48 dan No. 59 yang masing-masing mewakili bagian timur dan barat Kelurahan Menteng (Kecamatan Jekan Raya). Kelompok III, kandungan alkali tanah (Ca2+ dan Mg2+) yang sedikit melebihi kandungan alkalinya (Na+ dan K+), kandungan asam lemah (HCO3- dan CO32-) melebihi asam kuatnya (SO42- dan Cl-). TABEL 4. Kelas Air Untuk Percontoh Air Tanah di Kota Palangka Raya Kode Percontoh 1 Sodium Bikarbonat 10 Sumur gali Slamet, Kec. Pahandut Sodium Bikarbonat 14 Sumur gali H. Masran, Kec. Jekan Raya Sodium Bikarbonat 20 Sumur pantek Elianson Bungas, Kec. Jekan Raya Sodium Khlorida 26 Sumur bor Rumah Susun, Kec. Jekan Raya Sodium Khlorida 42 Sumur pantek Warga, Kec. Sebangau Sodium Khlorida 48 Sumur pantek Tandi Lion, Kec. Jekan Raya Magnesium Khlorida 59 Sumur pantek Ade Ruslani, Kec. Jekan Raya Sodium Khlorida 68 Sumur pantek Edi Syah, Kec. Jekan Raya Sodium Khlorida 75 Sumur bor Hotel Global Express Sodium Khlorida 87 Sumur bor Hotel Aquarius Sodium Khlorida 88 28 Sumur gali Suparto, Kec. Pahandut Sumur bor – 1 Hotel Swiss Bell Danum Sodium Khlorida Lokasi Kelas Air
  30. 30. Mutu air untuk air minum termasuk dalam kelas I, yaitu air yang peruntukannya untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Secara umum, air tanah di daerah penyelidikan memenuhi baku mutu air untuk air minum, meskipun demikian terdapat beberapa percontoh air yang memiliki parameter tertentu menyimpang dari baku mutu air minum. POTENSI DAN PROSPEK PENGEMBANGAN AIR TANAH WILAYAH KAJIAN a. Potensi Air Tanah Pengelompokan potensi air tanah pada penyelidikan ini mencakup pemahaman tentang jumlah (kuantitas) dan mutu (kualitas) air tanah pada suatu tempat, yang dikaitkan dengan kemudahan untuk mendapatkannya dengan teknologi yang umum berlaku, artinya suatu tempat dapat dinyatakan memiliki potensi air tanah yang tinggi bila terdapat kemungkinan untuk mendapatkan air tanah dengan jumlah yang cukup, bermutu baik, serta cara untuk memperolehnya yang relatif mudah. Kriteria potensi air tanah telah ditetapkan menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 13-7121-2005 tanggal 31 Agustus 2005 tentang Penyelidikan Potensi Air Tanah Skala 1 : 100.000 atau Lebih Besar, namun dalam beberapa hal dilakukan penyesuaian untuk kepentingan perencanaan pemanfaatan air tanah dalam rangka penyediaan sarana air bersih di Kota Palangka Raya. Berdasarkan atas hubungan kuantitas dan kualitas air tanah untuk keperluan air minum, hasil analisis dan evaluasi disajikan dalam bentuk Peta Potensi Air Tanah. Dalam hal ini, kuantitas air tanah tercermin dari kemungkinan debit optimum yang dapat dihasilkan oleh suatu akuifer, sedangkan batasan kualitas airtanah ditetapkan dengan mengacu pada Baku Mutu yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 907/ MENKES/SK/VII/2002. TABEL 5. Matriks Potensi Air Tanah Mutu / Kualitas Jumlah / Kuantitas Besar Q > 10 l/det BAIK Di bawah nilai maksimum yang disarankan SEDANG Antara nilai maksimum disarankan dan maksimum diperbolehkan JELEK Di atas nilai maksimum yang diperbolehkan TINGGI Sedang Q = 2 - 10 l/det SEDANG Kecil Q < 2 l/det N I H I L RENDAH Berdasarkan atas kriteria potensi air tanah tersebut, daerah Palangka Raya dan sekitarnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa satuan potensi air tanah dan non akuifer sebagai berikut :  Potensi Air Tanah Sedang Sebaran satuan ini berada di sekitar Sungai Kahayan, yaitu meliputi seluruh wilayah Kelurahan Pahandut dan Kelurahan Tumbang Rungan; bagian tengah Kelurahan Tanjung Pinang; bagian utara Kelurahan Menteng, Kelurahan Langkai, dan Kelurahan Panarung; bagian timur – timur laut Kelurahan Palangka dan Kelurahan Petuk Katimpun. Umumnya daerah ini dibentuk oleh material yang relatif kasar berupa pasir kasar dan setempat kerikil, terutama pada jejak ox-bow lake, meander scars, dan point bar hanya di beberapa tempat agak bersifat lempungan yaitu pada daerah rawa-rawa atau yang diidentifikasi sebagai back swamp. Kedudukan akuifer tidak tertekan/semi tertekan beragam dengan kisaran kedalaman antara 2 sampai 140,00 mbmt (setempat dijumpai sampai kedalaman 160 mbmt), muka air tanah berkisar antara 2 - 20 mbmt, setempat keterusan akuifer (T) dapat mencapai 400,89 m2/hari, penghitungan debit jenis (Qs) menunjukkan kisaran antara 0,28 sampai 4,64 l/det/m, debit optimum (Q op) 2,2 - 3 l/detik dan setempat dapat mencapai 4 liter/detik, jarak antar sumur berkisar antara 30 sampai 50 m. Mutu air tanah untuk sumber air baku bagi keperluan air minum umumnya baik, namun setempat perlu perbaikan mutu air, terutama 29
  31. 31.  karena pengaruh rawa-rawa pada akuifer bagian atas. Potensi Air Tanah Rendah Satuan ini melampar luas di bagian barat dan timur lembar peta penyelidikan, yaitu meliputi bagian barat – barat daya wilayah Kelurahan Palangka; bagian selatan Kelurahan Menteng, Kelurahan Langkai, dan Kelurahan Panarung; bagian selatan dan timur Kelurahan Tanjung Pinang; bagian barat Petuk Katimpun; bagian tengah – timur Kelurahan Bukit Tunggal; serta bagian utara Kelurahan Kereng Bangkirai dan Kelurahan Sabaru (Kecamatan Sabangau). Sebagian besar daerah ini merupakan kaki perbukitan yang diperkirakan material kasar dan lempungan berselingan dan menjemari (interfingering), setempat dijumpai daerah rawa-rawa yang cukup luas. Kedudukan akuifer tidak tertekan/semi tertekan umumnya beragam dengan kisaran kedalaman antara 5 - 135,00 mbmt, muka air tanah kurang dari 40 mbmt, keterusan akuifer (T) umumnya 29,55 - 105,62 m2/hari, debit jenis (Qs) kurang dari 1,22 l/det/m, debit optimum (Q op) kurang dari 1,5 l/detik, jarak antar sumur 20 - 50 m. Mutu air tanah untuk keperluan air minum umumnya baik, namun di daerah rawa-rawa umumnya perlu perbaikan mutu air karena kandungan besinya tinggi, pH yang rendah,  atau keruh, terutama pada daerah dekat rawa -rawa dan gambut, bahkan setempat tergolong tidak baik untuk air minum. Non Akuifer Satuan ini dibentuk oleh batuan beku granit dan granodiorit, secara umum tidak dapat bertindak sebagai akuifer, sebarannya setempat di barat daya lembar peta penyelidikan (di luar daerah prioritas kajian). b. Pengembangan Air Tanah di Daerah Sulit Air Berdas a rka n pe n g am atan da n penyelidikan lapangan, kesulitan air bersih yang dialami sebagian penduduk di daerah penyelidikan lebih disebabkan oleh mutu air tanahnya jelek, sementara kemampuan penduduk terbatas untuk melakukan perbaikan mutu air atau membuat sumur bor dalam, baik karena kendala keterbatasan biaya maupun teknologi. Kondisi yang demikian inilah yang menyebabkan beban ekonomi menjadi tinggi karena harus menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli air bersih. Secara umum, dapat diketahui bahwa kebutuhan air yang mendesak untuk meningkatkan kesejahteraan sebagian masyarakat di daerah penyelidikan dapat dilakukan sebagai berikut :  Membangun sarana air bersih dengan sumber air baku berasal dari sumur bor dalam, Gambar 5. Peta Potensi air tanah di wilayah penyelidikan 30
  32. 32. dilakukan untuk kelompok masyarakat mengingat diperlukan biaya yang relatif besar dan teknologi untuk menutup akuifer guna mengatasi adanya sisipan-sisipan air tanah berkualitas jelek sehingga memerlukan ketelitian dan kemampuan teknis memadai bagi pelaksana pengeboran.  Mengembangkan dan mengoptimalkan pembangunan sarana pengolahan air permukaan Sungai Kahayan secara lebih luas dan menghasilkan kualitas air bersih yang memenuhi standard untuk keperluan pasokan air bersih. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pengadaan air bersih yang dinilai tepat dan sesuai untuk masyarakat yang kesulitan air bersih adalah dengan mengoptimalkan pemanfa -atan air permukan atau melakukan pengeboran yang menyadap air tanah dalam namun dengan resiko biaya dan kegagalan tinggi. PENUTUP Perkembangan pemanfaatan air tanah yang terus meningkat pada beberapa dekade terakhir ini, terutama untuk menunjang kegiatan pariwisata, industri, dan lainnya di Kota Palangka Raya perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari para pemilik kepentingan (stake-holder) dalam pengelolaan sumber daya air tanah, yakni agar pemanfaatannya dapat dilakukan secara optimal dan berkelanjutan. Berkaitan dengan hal di atas, perencanaan pendayagunaan air tanah yang bermuara pada konservasi air tanah perlu dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal yang dinilai penting untuk kondisi yang sesuai dengan daerah penyelidikan ini, antara lain:  Perubahan penggunaan lahan seiring dengan kemajuan pembangunan perlu dilakukan secara cermat dengan memperhatikan fungsi imbuhnya terhadap air tanah, antara lain pada daerah perbukitan di luar daerah penyelidikan yang umumnya dibentuk oleh Formasi Dahor, serta pengembangan bangunan dan infra struktur daerah perkotaan, dan daerah bantaran banjir Sungai Kahayan. Hal ini memerlukan koordinasi antar sektor di lingkungan Pemerintah Kota Palangka Raya.  Dalam rangka pengelolaan air tanah, dipandang penting untuk segera dilakukan kegiatan inventarisasi pengambilan air tanah, dan pemberlakukan izin penggunaan air tanah yang berfungsi sebagai alat kendali pengambilan air tanah.  Menilik ketersediaan sumber air permukaan yang potensial di daerah penyelidikan, perlu dioptimalkan pemanfaatan saling menunjang antara air permukaan dan air tanah, misalnya dengan mengutamakan penyediaan air bersih dari air permukaan, serta pengaturan penyadapan airtanah untuk keperluan industri dan lainnya dengan mempertimbangkan potensi ketersediaannya dan mengutamakan kepentingan untuk pasokan air bersih penduduk.  Pembuatan sumur pantau perlu segera dilakukan oleh Pemerintah Kota Palangka Raya. Lokasi yang disarankan untuk dibuat sumur pantau adalah di daerah seputar pusat kota di Jl. Imam Bonjol atau Jl. Cilik Riwut yang pengambilan air tanah melalui sumur bor tergolong intensif. 31
  33. 33. Sumber: Laporan Akhir Penyusunan Master Plan Pembangunan Ekonomi Daerah Kota Palangka Raya Tahun 2014 – 2023 I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Sejalan dengan penyusunan dokumen RPJPD dan RPJMD sebagai dokumen perencanaan pembangunan daerah, juga diperlukan perencanaan pembangunan yang bersifat strategis dan spasial yang berfungsi sebagai rencana induk (masterplan) untuk menjadi pedoman perencanaan yang lebih operasional bagi Pemerintah Kota, masyarakat dan dunia usaha. Salah satu rencana induk yang disusun adalah Masterplan Pembangunan Ekonomi yang berisi analisis, evaluasi kajian, arah pembangunan dan program/kegiatan pembangunan ekonomi yang meliputi seluruh sektor ekonomi. Masterplan Pembangunan Ekonomi Kota Palangka Raya merupakan sinergisitas dan refocusing sumber daya pembangunan guna mempercepat pembangunan ekonomi Kota Palangka Raya, sehingga kualitas Dokumen Masterplan Pembangunan Ekonomi Kota Palangka Raya sebagai acuan keterpaduan pelaksanaan sangat penting dan menentukan keberhasilan program pembangunan, sehingga pemerintah dan masyarakat di daerah saat ini hanya tinggal menjalankan proses pemberdayaan terhadap semua potensi yang ada, sehingga tujuan pembangunan daerah untuk mensejahterakan masyarakat di daerah tercapai dengan segala potensi yang dimilikinya. 32 B. MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dari Penyusunan Master Plan Pembangunan Ekonomi Kota Palangka Raya Tahun 2014 - 2023 adalah untuk menghasilkan suatu produk perencanaan yang akan menjadi pegangan dan acuan dalam penyusunan program dan kegiatan pembangunan ekonomi Kota Palangka Raya Tahun 2014 - 2023. Tujuan dari Penyusunan Master Plan Pembangunan Ekonomi Daerah Kota Palangka Raya Tahun 2014 – 2023 adalah untuk menyediakan pedoman bagi Pemerintah Daerah, masyarakat dan swasta dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembangunan ekonomi daerah yang lebih efektif, efisien dan terarah. Sedangkan tujuan khusus Penyusunan Masterplan Pembangunan Ekonomi Kota Palangka Raya Tahun 2014 – 2023 ini adalah: a. Mengetahui kondisi dan perkembangan, serta permasalahan pembangunan ekonomi Kota Palangka Raya 10 tahun terakhir. b. Mengetahui prospek dan kebutuhan pembangunan ekonomi Kota Palangka Raya sebagai dasar penyusunan rencana untuk 10 tahun ke depan. c. Menyusun strategi dan kebijakan pembangunan ekonomi daerah ke depan dengan memperhatikan dokumen perencanaan pembangunan daerah lainnya yang telah disusun sebelumnya termasuk RUTRK. d. Merumuskan dan merekomendasikan program dan kegiatan yang diperlukan untuk mendorong pembangunan ekonomi Kota Palangka Raya yang saling bersinergi dan berkelanjutan.
  34. 34. C. SASARAN a. Merumuskan konsep dan strategi ekonomi yang tepat untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi daerah. b. Pengurangan kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan sosial ekonomi masyarakat secara adil dan merata. c. Memberikan informasi/penjelasan mengenai sektor unggulan yang mendapatkan prioritas untuk dikembangkan di Kota Palangka Raya dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya saing produk. d. Menyusun masukan bagi kebijakan dan strategi pengelolaan dan pengembangan kawasan andalan. e. T e r s e l e n g g a r a n y a pembangunan berkelanjutan dan sistem integrasi li ngkungan dan ekonomi yang memperhatikan kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. D. KELUARAN (OUTPUT) Keluaran kegiatan berupa laporan hasil studi yang berisi: a. Hasil kajian pustaka mengenai sektor unggulan perekonomian. b. Hasil pengumpulan dan analisis data. c. Identifikasi potensi dan masalah pengembangan sektor unggulan perekonomian di Kota Palangka Raya. d. Rum us an kons ep dan s trate gi pengembangan sektor unggulan perekonomian, proyeksi pertumbuhan ekonomi, serta indikasi program pembangunan ekonomi Kota Palangka Raya tahun 2014 - 2023. E. OBJEK KAJIAN Objek kajian kegiatan dilakukan menurut lapangan pekerjaan utama terdiri dari :  Pertanian  Pertambangan dan Penggalian  Industri  Listrik, Gas & Air  Kostruksi  Perdagangan  Transportasi dan Komunikasi  Keuangan  Jasa F. RUANG LINGKUP 1) Program dan kegiatan pengembangan ekonomi produktif 2) Output ekonomi produktif pada tingkat kecamatan dan kota 3) Evaluasi program-program pengembangan ekonomi produktif 4) Berbagai faktor yang mempengaruhi pengembangan ekonomi produktif, baik faktor internal dan eksternal G. POPULASI DAN SAMPEL KAJIAN Populasi dalam kajian ini yaitu penduduk yang menekuni bidang usaha produktif menurut lapangan pekerjaan utama. Berdasarkan Statistik Kota Palangka Raya Dalam Angka tahun 2012, jumlah penduduk umur 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama sebanyak 106.107 jiwa, tersebar pada masing-masing lapangan pekerjaan utama. Karena banyaknya populasi pada masingmasing bidang usaha produktif tidak sama maka pengambilan sampel menggunakan metode stratifikasi proporsional sampel acak (stratified proportional random sampling). Berdasarkan hasil perhitungan, maka jumlah sampel yang dipergunakan terlihat tabel 1 sebanyak 99,16 atau dibulatkan menjadi 100 orang. TABEL 1. Jumlah Populasi dan Sampel Masing-Masing Lapangan No 1 Lapangan Usaha Pertanian Populasi 11.280 Sampel 10,54 2 Pertambangan 2.683 2,44 3 Industri 5.582 5.17 4 Listrik, Gas dan Air 769 0,64 5 Konstruksi 13.026 12,19 6 Perdagangan 30.754 28,89 7 Transportasi & Komunikasi 7.277 5,85 8 Keuangan 9 Jasa Jumlah 6.308 5,85 28.428 26,70 106.107 99,16 Jenis dan Metode Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara dan observasi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari laporan tahunan dinas/instansi terkait, serta berbagai data publikasi BPS di Kalimantan Tengah. Teknik Pengukuran Teknik pengukuran variable internal dan eksternal menggunakan pendekatan skala Likert atau skala ordinal 5 titik, yaitu skala 1 – 5 untuk semua aspek seperti SDM, SDA, kelembagaan, usaha/kegiatan. Begitu juga untuk variable internal dan eksternal kegiatan di bidang usaha pariwisata. 33
  35. 35. H. ANALISIS DATA Penetapan analisis data tidak lepas dari pencapaian tujuan dan sasaran. Enam alat analisis yang digunakan sebagai berikut :  Analisis Perkembangan dan Prospek Analisis ini menggunakan analisa trend terhadap data dasar pertumbuhan ekonomi sejak tahun 2002 sampai dengan 2012.  Analisis Hubungan Pertumbuhan Ekonomi Dengan Kemiskinan dan Pengangguran Untuk melihat hasil pembangunan ekonomi yang diukur melalui pertumbuhan ekonomi Kota Palangka Raya dalam hubungannya dengan pengentasan kemiskinan dan pengangguran.  Analisis Sektor Ekonomi Unggulan Kerangka analisis ini terlebih dahulu mencari koefisien lokasi dan koefisien spesialisasi. Alat analisis yang digunakan yaitu Location Question dan Shift Share.  Analisis Input – Output Y yaitu pendekatan kerangka yang komprehensip untuk menganalisis wilayah. Pendekatan ini mampu menggambarkan beragam sifat hubungan di antara sektorsektor industri dan antara sektor-sektor industri dengan komponen ekonomi lainnya.  Analisis Pertumbuhan Ekonomi Melalui pendekatan ekonometrika dengan model matematik yang diaplikasikan mulai dari yang sederhana dengan hanya beberapa variabel hingga yang paling komplek dengan banyak variabel.  Analisa SWOT Tahap akhir kajian yaitu dengan melakukan analisis lingkungan eksternal dan internal menggunakan analisis SWOT. II. GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN Beberapa kondisi umum perekonomian Kota Palangka Raya yang melatarbelakangi kajian ini adalah sebagai berikut: a. Perkembangan PDRB 34 b. Laju Pertumbuhan PDRB Kota Palangka Raya (Atas Dasar Harga Berlaku) c. Laju Pertumbuhan PDRB Kota Palangka Raya (Atas Dasar Harga Konstan) d. Trend Perkembangan Pendapatan Per Kapita (ADHB dan ADHK 2000) e. Tingkat Inflasi Kota Palangka Raya
  36. 36. f. Distribusi Pendapatan Menurut Kriteria Bank Dunia dan Gini Ratio Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Distribusi Pendapatan Kriteria Bank Dunia 40% Penduduk 40% Penduduk 20% Penduduk Berpenghasilan Rendah Berpenghasilan Sedang Berpenghasilan Tinggi 20,52 38,57 40,91 21,39 38,85 39,76 21,41 39,47 39,11 22,52 39,42 38,06 19,77 39,41 40,81 20,15 38,40 41,45 20,86 39,09 40,05 20,07 39,13 40,80 III. FAKTA, PERMASALAHAN, STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN a. Sektor Pertanian Penjelasan Tren (naik/turn) Tren capaian cenderung TURUN (ada masalah) Strategi & Arah Kebijakan Meningkatkan produk pertanian tanaman pangan, peternakan, dan perikanan Sasaran Jagung, sayur2an, sapi, babi, ayam, ikan keramba. 0,31 0,30 0,29 0,28 0,32 0,32 0,31 0,32 c. Sektor Industri Pengolahan Identifikasi Identifikasi Gini Ratio Penjelasan Tren (naik/ turn) Tren capaian cenderung TURUN (ada masalah) Strategi & Arah Kebijakan Meningkan produk industri kecil dan rumah tangga. Sasaran d. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih b. Sektor Pertambangan dan Penggalian Identifikasi Identifikasi Penjelasan Tren (naik/turn) Tren capaian cenderung TURUN (ada masalah) Strategi & Arah Kebijakan Meningkatkan produksi tambang dan penggalian Sasaran Zircon, pasir kuarsa Penjelasan Tren (naik/ turn) Tren capaian cenderung NAIK (tidak masalah) Strategi & Arah Kebijakan Meningkatkan produk listrik PLN dan produk air bersih PDAM. Sasaran Semua produk listrik dan semua produk air bersih 35
  37. 37. e. Sektor Bangunan Identifikasi Penjelasan Tren (naik/turn) Tren capaian cenderung NAIK (tidak masalah) Strategi & Arah Kebijakan Meningkatkan pengangkutan umum org dan barang melalui darat dan udara Sasaran Jumlah armada angkutan dan fasilitasnya; (2) jumlah jasa layanan pos da telekomunikasi h. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Identifikasi Penjelasan Tren (naik/turn) Tren capaian cenderung NAIK (tidak masalah) Strategi & Arah Kebijakan Meningkatkan produk fisik konstruksi Sasaran gedung, jalan, jembatan, terminal, pelabuhan, maupun jaringan listrik, air, telepon f. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Identifikasi Penjelasan Tren (naik/turn) Strategi & Arah Kebijakan Penjelasan Tren (naik/turn) i. Sektor Jasa-Jasa Meningkatkan nilai komo diti perdagangan pertanian, pertambangan & penggalian serta brg impor yang diperdagangkan. Sasaran Jumlah kredit, pinjaman LN, asuransi, koperasi; jasa rumah, pengacara, jasa akuntan, biro arsitektur, jasa pengolahan data, jasa periklanan Tren capaian cenderung NAIK (tidak masalah) Strategi & Arah Kebijakan Meningkatkan produk perbankan, lembaga keuangan bukan bank, persewaan bangunan dan jasa perusahaan Sasaran Identifikasi Tren TURUN (masalah) Komoditi jagung, suyur2 an, zircon, pasir, b. impor. g. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Identifikasi Penjelasan Tren Strategi & Arah Kebijakan Meningkatkan produk jasa pemerintah umum dan swasta Sasaran 36 Tren capaian cenderung NAIK (tidak masalah) Belanja pemerintah, jasa pendidikan (jumlah murid), jasa kesehatan (RS & dokter praktek)
  38. 38. IV. MASTERPLAN PEMBANGUNAN EKONOMI KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2014 – 2023 A. Pembangunan Ekonomi Makro 1. Proyeksi dan Target Pertumbuhan Ekonomi TAHUN 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 PE ADHB 15,42 15,79 16,17 16,55 16,93 17,30 17,68 18,06 18,43 18,81 PE ADHK-2000 7,37 7,55 7,73 7,90 8,08 8,25 8,43 8,61 8,78 8,96 2. Proyeksi dan Target Pendapatan Perkapita TAHUN 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 ADHB 17.096.923,93 18.136.717,11 19.176.510,28 20.216.303,46 21.256.096,64 22.295.889,81 23.335.682,99 24.375.476,17 25.415.269,34 26.455.062,52 ADHK 5.826.958,67 5.930.752,73 6.034.546,80 6.138.340,86 6.242.134,92 6.345.928,98 6.449.723,05 6.553.517,11 6.657.311,17 6.761.105,23 3. Proyeksi dan Target Investasi TAHUN PMTB ADHB PMTB ADHK 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2.936.964,01 3.288.372,46 3.639.780,91 3.991.189,36 4.342.597,81 4.694.006,26 5.045.414,71 5.396.823,16 5.748.231,61 6.099.640,06 654.944,29 678.956,30 702.968,31 726.980,31 750.992,32 775.004,33 799.016,34 823.028,35 847.040,36 871.052,36 4. Proyeksi dan Target Kredit Perbankan Tahun 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 Modal Kerja 991.164 1.099.842 1.208.520 1.317.197 1.425.875 1.534.553 1.643.230 1.751.908 1.860.586 1.969.264 Investasi 436.453 485.886 535.318 584.751 634.184 683.616 733.049 782.481 831.914 881.347 Konsumsi 2.953.989 3.278.722 3.603.454 3.928.187 4.252.920 4.577.652 4.902.385 5.227.117 5.551.850 5.876.583 Jumlah 4.381.606 4.864.449 5.347.292 5.830.135 6.312.978 6.795.821 7.278.664 7.761.507 8.244.350 8.727.193 Seminar Laporan Akhir Kajian di Aula “Rahan Pumpung Kapakat” Bappeda Kota Palangka Raya 37
  39. 39. 5. Proyeksi dan Target Sektor Unggulan NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 NAMA SEKTOR 2014 2015 PERTANIAN PERTAMBANGAN & PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN LISTRIK, GAS, DAN AIR BRSIH SU SU KONSTRUKSI SU SU PERDAGANGAN, HOTEL, DAN V V RESTORAN PENGANGKUTAN & KOMUNISKASI SU SU KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA SU SU PERUSAHAAN JASA-JASA SU SU 2016 2017 2018 2019 V 2020 V 2021 V 2022 2023 V V V SU SU V SU SU V SU SU V SU SU V SU SU V SU SU V SU SU V SU SU V V V V V V V V SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU SU Keterangan : SU = Sektor Unggulan; V = Akan dijadikan sektor unggulan 6. Proyeksi dan Target Inflasi TAHUN 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 INFLASI 5,68 7,25 7,96 9,65 8,39 7,72 7,96 9,18 6,68 7,25 8. Proyeksi dan Target Gini Rasio (Indeks) TAHUN 7. Proyeksi dan Target Pengangguran Terbuka TAHUN 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 38 PENGANGGURAN PENGANGGURAN TERBUKA TERBUKA (%) (RIBU ORG) 5,23 4,66% 4,77 4,09% 4,30 3,56% 3,84 3,06% 3,57 2,76% 2,91 2,17% 2,68 1,94% 2,33 1,64% 1,90 1,29% 1,51 1,00% GINI RASIO 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 0,27 0,27 0,26 0,26 0,25 0,25 0,24 0,23 0,23 0,22
  40. 40. B. Pembangunan Ekonomi Sektoral 1. Proyeksi dan Target Pertumbuhan Sektor Pertanian TAHUN 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 PERTUMBUHAN 2,45 2,48 2,57 2,45 2,48 2,57 2,45 2,48 2,57 2,45 2. Proyeksi dan Target Pertumbuhan Sektor Pertambangan dan Penggalian 3. Proyeksi dan Target Pertumbuhan Sektor Industri Pengolahan TAHUN PERTUMBUHAN 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2,48 2,57 2,45 2,48 2,57 2,45 2,48 2,57 2,45 2,48 4. Proyeksi dan Target Pertumbuhan Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih TAHUN PERTUMBUHAN TAHUN PERTUMBUHAN 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2,57 2,45 2,48 2,57 2,45 2,48 2,57 2,45 2,48 2,57 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 6,03 6,59 7,15 5,47 6,03 6,59 7,15 7,22 5,47 6,03 39
  41. 41. 5. Proyeksi dan Target Pertumbuhan Sektor Bangunan 7. Proyeksi dan Target Pertumbuhan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi TAHUN PERTUMBUHAN TAHUN PERTUMBUHAN 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 6,94 8,89 8,35 9,13 6,94 8,89 8,35 9,13 6,94 8,89 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 6,03 6,59 7,15 5,47 6,03 6,59 7,15 7,22 5,47 6,03 6. Proyeksi dan Target Pertumbuhan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 8. Proyeksi dan Target Pertumbuhan Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan TAHUN TAHUN PERTUMBUHAN 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 40 PERTUMBUHAN 10,12 10,52 11,64 10,12 10,52 11,64 10,12 10,52 11,64 10,52 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 11,64 10,12 10,52 11,64 10,12 10,52 11,64 10,12 10,52 11,64
  42. 42. 8. Proyeksi dan Target Pertumbuhan Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan TAHUN PERTUMBUHAN 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 8,89 8,35 9,13 6,94 8,89 8,35 9,13 6,94 8,89 9,13 V. INDIKASI PROGRAM PEMBANGUNAN EKONOMI KOTA PALANGKA RAYA A. Program Pembangunan Ekonomi Makro 1. Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Regional 2. Meningkatkan Pendapatan Perkapita 3. Meningkatkan Investasi a. Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi b. Program Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi c. Program Penyiapan Potensi Sumberdaya, Sarana dan Prasarana Daerah 4. Meningkatkan Pertumbuhan Kredit Perbankan a. Program Penciptaan Iklim Usaha Kecil Menengah Yang Konduktif b. Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha Bagi Usaha Mikro Kecil Menengah c. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi 5. Mengembangkan Sektor Ekonomi Unggulan a. Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil Menengah 6. Menjaga Kestabilan Harga 7. Mengurangi Pengangguran a. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja b. Program Peningkatan Kesempatan Kerja c. Program Perlindungan dan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan 8. Menjaga Distribusi Pendapatan a. Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) lainnya b. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial c. Program Pembinaan Anak Terlantar d. Program Pembinaan Para Penyandang Cacat dan Trauma e. Program Pembinaan Panti Asuhan/Panti Jompo f. Program Pembiasaan Eks Penyandang Penyakit Sosial (Eks Narapidana, PSK, Narkoba, dan Penyakit Sosial lainnya) g. Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejeahteraan Sosial h. Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Pedesaan i. Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Pedesaan j. Program Peningkatan Partisipasi Dalam Membangun Desa k. Program Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa l. Program Peningkatan Peran Perempuan Di Perdesaan B. Program Pengembangan Ekonomi Sektoral 1. Sektor Pertanian a. Program Peningkatan Kesejahteraan Petani b. Program Peningatan Ketahanan Pangan (Pertanian/Perkebunan) c. Program Pemberadayaan Penyuluh Pertanian/Perkebunan Lapangan d. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak e. Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan f. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Peternakan g. Program Peningkatan Penerapan Teknologi Peternakan h. Program Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan i. Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan j. Program Perlindungan dan Konservasi 41
  43. 43. Sumber Daya Hutan k. Program Pemanfaatan Kawasan Hutan Industri l. Program Pembinaan dan Penertiban Industri Hasil Hutan m. Program Perencanaan dan Pengembangan Hutan n. Program Pengembangan Budidaya Perikanan o. Program Pengembangan Perikanan Tangkap p. Program Pengembangan Sistem Penyuluhan Perikanan q. Program Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Produksi Periakanan r. Program Pengembangan Kawasan Budidaya Laut, Air Payau dan Air Tawar 2. Sektor Pertambangan dan Penggalian a. Program Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pertambangan b. Program Pengawasan dan Penertiban Kegiatan Rakyat Yang Berpotensi Merusak Lingkungan 3. Sektor Industri Pengolahan a. Program Peningkatan Kapasitas IPTEK Sistem Produksi b. Program Pengembangan Industri Kecil dan Menegah c. Program Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri d. Program Penataan Struktur Industri e. Program Pengembangan Sentra-Sentra Industri Potensial 4. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih a. Program Pembinaan dan Pengembangan Bidang Ketenagalistrikan b. Program Penyediaan dan Pengelolaan Air Baku c. Program Pengembangan, Pengelolaan dan Konservasi Sungai, Danau dan Sumber Daya Air Lainnya d. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah 5. Sektor Bangunan a. Program Pembangunan Jalan dan Jembatan b. Program Pembangunan Saluran Drainase / Gorong-Gorong c. Program Pembangunan Turap / Talud / Bronjong d. Program Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan dan Jembatan 42 e. Program Rehabilitasi / Pemeliharaan Talud/Bronjong f. Program Inspeksi Kondisi Jalan dan Jembatan g. Program Tanggap Darurat Jalan dan Jembatan h. Program Peninkatan Sarana dan Prasarana Kebinamargaan i. Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan Lainnya 6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran a. Program Perlindungan Konsumen dan Pengamanan Perdagangan b. Program Peningkatan Kerjasama Perdagangan Internasional c. Program Peningkatan dan Pengembangan Ekspor d. Program Peningkatan Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri e. Program Pembinaan Pedagang Kaki Lima dan Asongan f. Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata g. Program Pengembangan Destinasi Pariwisata h. Program Pengembangan Kemitraan 7. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi a. Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan b. Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ c. Program Peningkatan Pelayanan Angkutan d. Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Perhubungan e. Program Pengendalian dan Pengamanan Lalu Lintas f. Program Peningkatan Kelaikan Pengoperasian Kendaran Bermotor g. Program Pengembangan Data/Informasi h. Program Pengembangan Komunikasi, Informasi dan Media Massa i. Program Pengkajian dan Penelitian Bidang Informasi dan Komunikasi j. Program Fasilitasi Peningkatan SDM bidang komunikasi dan inforamsi k. Program Kerjasama Informasi dengan Mas Media ***
  44. 44. Oleh: Taronggal Silalahi, SP, M.Si (Bappeda Kota Palangka Raya) D alam rangka membantu pemerintah daerah mempercepat pemenuhan target MDGs, sejak tahun 2006 BAPPENAS dengan dukungan ADB dan UNDP melaksanakan kegiatan peningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam proses perencanaan dan penganggaran pembangunan yang pro terhadap masyarakat miskin (Pro-Poor Planning and BudgetingP3B). Pada tahun 2008, dengan maksud penambahan komponen monitoring, kegiatan ini berubah nama menjadi Pro-Poor Planning, Budgeting and Monitoring (P3BM). Sejak tahun 2007, Pemerintah Indonesia meluncurkan program Target MDGs (Millenium Development Goals) dengan didukung oleh UNDP. Target MDGs memiliki 4 komponen program, yaitu: perbaikan pendataan, pelaporan, advokasi/kampanye dan dukungan inisiatif lokal untuk memperkuat kapasitas peme -rintah daerah, LSM dan media massa. Komponen kegiatan keempat selanjutnya disebut Pro-Poor Planning, Budgeting and Monitoring (P3BM) yang merupakan penyempurnaan dari P3B. Program P3BM merupakan upaya peningkatan kapasitas pemerintah daerah untuk mempercepat pencapaian target MDGs melalui upaya perbaikan kualitas proses perencanaan dan penganggaran di daerah. Program P3BM diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam melakukan “diagnosa” status capaian MDGs di daerah, meningkatkan kapasitas aparatur dalam menyusun rencana program dan anggaran yang pro-masyarakat miskin serta monitoring proses dan hasil pembangunan. Salah satu cara meningkatkan kinerja Pemda agar lebih optimal, P3BM telah membangun Sistem Database MDGs dan Sistem Database Program Pembangunan. Manfaat Sistem Database MDGs dalam konteks kegiatan P3BM:  Menghasilkan data yang berkualitas baik untuk pembuatan score card  Menghasilkan data yang berkualitas baik untuk pembuatan mapping  Menghasilkan data yang berkualitas baik untuk pengalokasian budget daerah  Membantu proses koordinasi dalam musrenbang  Membantu proses monitoring dan evaluasi (rekam jejak) di daerah bersangkutan Manfaat Sistem Database Program Pembangunan dalam konteks kegiatan P3BM:  Membantu proses koordinasi perencanaan pembangunan daerah berkaitan dengan pencegahan tumpang tindih program dan sasaran  Menyediakan data bagi daerah yang berkualitas baik untuk pembuatan mapping berdasarkan aktivitas program di daerah. 43

×