SHALAT ISTIKHARAH IMPLIKASINYA TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Oleh
DINA HAYA SUFYA
108070000051

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVE...
BAB 1

PENDAHULUAN
Allah telah menciptakan makhluknya dengan kasih sayang dan dengan kekuasaan-Nya,
begitu dalam kasih say...
Menurut Ramadhan Al-Buthi dalam Fiqh Sirah-nya salah satu hikmah mengapa
Muhammad kecil sudah ditinggal oleh bapaknya saat...
Allah SWT dengan sifat Rahman-Nya akan meratakan kasih sayangnya kepada semua
makhluk-Nya. Kerajaan dan kemuliaan-Nya tida...
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Shalat Istikharah
1. Pengertian Shalat Istikharah
Secara bahasa, Istikharah berasal dari kata khara...
2. Hukum Shalat Istikharah
“Rasulullah mengajari kami cara beristikharah (memohon petunjuk pilihan
terbaik) dalam berbagai...
fardhu maupun shalat sunnah lain. Yang jelas, ketika mendapatkan masalah atau ingin
melakukan sesuatu maka beristikharahla...
Setelah salam dilanjutkan do'a shalat istikharah kemudian memohon petunjuk dan
mengutarakan masalah yang dihadapi. Sebuah ...
pengambilan keputusan. Dengan demikian, dapat dibuat batasan bahwa pengertian
pengambilan keputusan adalah suatu tindakan ...
3.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan menurut So...
Atwater (1984), mengklasifikasikan strategi pengambilan keputusan berdasarkan unsur
resiko yang terlibat di dalamnya:
1.Wi...
Untuk hal-hal tertentu terkadang masa lalu ikut menentukan dalam proses
pengambilan keputusan dan bisa jadi ia merupakan h...
1. Luruskan niat.
Niat memiliki kedudukan tertinggi dalam ibadah. Suatu perbuatan tidak dibilang
ibadah manakala tidak dis...
Rasulullah selalu melakukan istikharah pada setiap saat, yakni ketika akan melakukan
suatu pekerjaan atau mengambil keputu...
5. Hadirkan hati
Kalimat-kalimat doa tidaklah cukup hanya kita ucapkan dan hapalkan dengan lisan.
Tetapi, lebih dari itu h...
Segala bentuk keberhasilan seseorang ditentukan oleh kesungguhannya dalam
memperjuangkan apa yang dicita-citakannya. Demik...
memikirkan hal-hal yang mengerikan atau ngobrol tentang hantu sebelum tidur, ia
bisa mengalami mimpi buruk (nightmare).
b....
2. Tafsir Psikologi Tentang Mimpi
Para penafsir mimpi sepakat bahwa mimpi adalah ungkapan yang berupa simbolsimbol yang me...
Keempat, mimpi yang menakutkan, yaitu yang mengingatkan akan bahaya yang
mengancam atau suatu pengaruh yang mengganggu.

B...
DAFTAR PUSTAKA
Ayyash, Muhammad Abu, 2008. Keajaiban Shalat Istikharah. Jakarta: Qultum media.
Daradjat, Zakiah, 1996. Sha...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Shalat istikharah implikasinya terhadap pengambilan keputusan

6,518 views

Published on

Allah telah menciptakan makhluknya dengan kasih sayang dan dengan kekuasaan-Nya, begitu dalam kasih sayang tersebut, tak satu wajahpun yang sama dengan wajah lainnya sepintas mungkin kelihatan ada yang sama, tapi bila diteliti lebih jauh dan lebih mendalam, banyak ditemukan perbedaan, apakah itu lengkungan alis, lekok-lekok pada kuping, sayu dan tegarnya pandangan mata dan sebaginya. Demikian pula dengan jalannya kehidupan, berbeda-beda, mungkin sama persoalan, belum tentu sama pemecahan dan penyebabnya.

1 Comment
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
6,518
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
41
Comments
1
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Shalat istikharah implikasinya terhadap pengambilan keputusan

  1. 1. SHALAT ISTIKHARAH IMPLIKASINYA TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN Oleh DINA HAYA SUFYA 108070000051 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2011
  2. 2. BAB 1 PENDAHULUAN Allah telah menciptakan makhluknya dengan kasih sayang dan dengan kekuasaan-Nya, begitu dalam kasih sayang tersebut, tak satu wajahpun yang sama dengan wajah lainnya sepintas mungkin kelihatan ada yang sama, tapi bila diteliti lebih jauh dan lebih mendalam, banyak ditemukan perbedaan, apakah itu lengkungan alis, lekok-lekok pada kuping, sayu dan tegarnya pandangan mata dan sebaginya. Demikian pula dengan jalannya kehidupan, berbeda-beda, mungkin sama persoalan, belum tentu sama pemecahan dan penyebabnya. Hidup tidak satu warna, ada hitam dan ada putih, bahkan ada warna abu-abu di antara keduanya. Ada tanah mendatar yang menjadi harapan setiap orang, tanjakan yang melelahkan, bahkan ada turunan curam yang menakutkan. Itulah harga dan arti sebuah kehidupan. Selagi paru-paru seseorang masih bernapas, detak jantung amsih berdetak, dan urat nadi masih dialiri darah maka selama itu pula selalu ada masalah yang akan selalu menemaninya. Di saat seperti itulah akan terlihat perbedaan pada diri setiap orang dalam menyikapi permasalahan yang datang. Bagi seorang muslim, sebuah masalah menjadi nilai dari setiap amal dan gerak. Ia ibarat satu ujian yang harus dilewati sebagai indikasi meningkatnya iman dalam hatinya, atau sebuah teguran yang Allah berikaan atas kesalahan yang ia lakukan sebagai sesuatu yang bisa menyucikan dosa-dosanya, atau dari sebuah masalah tadi, Allah ingin mengangkat derajat seorang muslim di sisi-Nya. Semua ujian, bagi seorang muslim, akan mendapatkan balasan pahala di sisi Allah. Hanya sekarang bagaimana kita menyikapi setiap permasalahan yang menghampiri kita, karena bagi seorang muslim masalah ataupun cobaan adalah proses menuju mukmin yang sabar, teguh dan tegar. Ibarat tanah yang akan dijadikan batu bata, dalam proses pembuatannya perlu diinjakinjak, dibanting, dicetak, dijemur, kemudian dibakar hingga menjadi matang. Perlu ada proses pematangan pribadi dalam setiap tahapan dalam kehidupan.
  3. 3. Menurut Ramadhan Al-Buthi dalam Fiqh Sirah-nya salah satu hikmah mengapa Muhammad kecil sudah ditinggal oleh bapaknya saat berusia enam bulan dalam rahim ibunya, kemudian disusul dengan kepergian ibunya saat berusia enam tahun, setelah itu beliau bekerja menggembalakan kambing, adalah supaya Allah-lah yang langsung mendidik dan membentuk Muhammad hingga menjadi seorang rasul yang mulia, pemimpin para rasul, dan itulah skenario Allah, supaya tidak ada campur tangan manusia dalam proses Muhammad menjadi seorang rasul. Ketika sebuah masalah itu datang dalam bentuk pilihan yang membutuhkan keputusan tepat, berarti harus dilihat skala prioritasnya, mana yang harus didahulukan dan mana yang harus diakhirkan. Tentu saja menurut kadar kepentingan yang tetap berorientasikan kepada nilai ibadah. Pada saat keduanya mempunyai bobot yang sama, atau tidak ada yang kecenderungannya lebih Dalam 'mengarungi' perjalanan hidup di dunia ini, sudah bukan mustahil manusia kerap dihadang bermacam persoalan yang pelik, hingga membuatnya harus berhati-hati dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan. Di antara aneka pilihan dan keputusan yang sulit itu, bisa berupa soal jodoh, pekerjaan dan bahkan sampai memilih seorang pemimpin. Tak diragukan lagi, kalau pilihan yang diambil, sungguh, mengandung resiko. Karena itu, beruntunglah manusia yang memilih dengan pilihan yang tepat, sehingga membawanya ke arah kebaikan. Tapi, bagaimana kalau seseorang 'terjerumus' dalam pilihan yang salah? Sudah pasti, ia akan merugi. Sebab, pilihan yang buruk akan berakibat kerugian. Karena itu, agar manusia tidak menyesal di kemudian hari atas pilihan atau keputusan yang diambil. Kanjeng Nabi Saw. menganjurkan untuk melakukan shalat istikharah. Shalat Istikharah adalah shalat sunnah 2 (dua) rakaat yang dilakukan ketika seseorang ragu dalam memilih dua perkara atau lebih. Juga, ketika seseorang mengahadapi permasalahan penting dalam memilih suatu keputusan yang berdampak besar. Dengan shalat itu, seseorang dianjurkan agar meminta petunjuk atau bimbingan Allah supaya keputusan yang diambil nantinya tidak salah. Setiap permasalahan yang kita hadapi, atau apa pun yang akan kita lakukan mempunyai kapasitas lebih supaya bisa dilihat baik buruknya setiap persoalan tadi. Namun, jangan lupa, bahwa kita masih punya Allah, yang menjadi wakil dan penolong di setiap langkah dan hembusan napas kita. Allah yang akan memberikan apa yang terbaik buat kita.
  4. 4. Allah SWT dengan sifat Rahman-Nya akan meratakan kasih sayangnya kepada semua makhluk-Nya. Kerajaan dan kemuliaan-Nya tidak akan berkurang sedikit pun seandainya semua makhluk yang ada dari awal penciptaan sampai akhir mengingkari-Nya, dan ketaatan semua makhluk tidak akan menambah sedikit pun kemuliaan-Nya. Yang membedakan seorang hamba yang beristikharah dan selalu menyandarkan setiap persoalannya kepada Allah adalah dia termasuk hamba-hamba yang paling dirahmati Allah karena percaya atau tsiqah terhadap segala keputusan yang Allah berikan. Ia yakin setiap apa yang Allah berikan kepadanya adalah yang terbaik untuk dunia dan akhiratnya. Karena, belum tentu setiap apa yang kita sukai itu baik untuk kita. Allah berfirman, (ALbaqarah 216) Bermacam selubung menutupi kehidupan ini, kita menemukan orang yang begitu tenang, baik cara dia mengahadapi suatu persoalan, juga dalam menghadapi persoalan yang sangat rumit, berat dan membebabn, dipecahkannya dengan hati yang lapang, tidak ada gejolak, gelombang badai yang mendampar. Kesulitan yang dihadapi manusia begitu kompleks dan pilihan-pilihan untuk memutuskan suatu masalah sangat sulit ditemukan. Berapa banyak manusia kebingungan menghadapi berbagai pilihan di dalam hidupnya, sehingga ia mengalami penderitaan kejiwaan, dan menjadi lelah mengikuti kelabilan pendiriannya yang terombang-ambing dari satu pilihan ke pilihan yang lain karena setiap ia mengejar yang satu yang dianggapnya unggul, setelah ia mendekati pilihannya, tapi kemudian ia ragu lagi dengan pilihan yang pertama dan terbayang keistimewaan yang lain yang ditinggalkannya itu. Lalu ia kembali mengejarnya dan meninggalkan yang hamper dapat dicapainya itu. Namun pengalaman yang sama menyebabkannya ragu kembali sehingga ia merasa lelah. Menurut Prof. Zakiah Daradjat keadaan yang demikian itu dapat menjadi semacam gangguan kejiwaan yang dikenal dengan konflik kejiwaan.1 1 Zakiah Daradjat, Doa Menunjang Semangat Hidup, (Ruhana: Jakarta, 1996), hl. 32
  5. 5. BAB II KAJIAN TEORI A. Shalat Istikharah 1. Pengertian Shalat Istikharah Secara bahasa, Istikharah berasal dari kata khara-yakhiru, yang berarti memilih. Kata ini kemudian mendapat tambahan huruf hamzah (yang disebut hamzah washal), sin, dan ta’ sehingga menjadi istikhara—yastakhiru—istikharatan, yang berarti usaha untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik dengan cara memohon petunjuk Allah. Istikharah bisa juga diartikan meminta kepada Allah agar dimantapkan pada suatu pilihan. Dari segi tata bahasa Arab, perubahan kata khara menjadi istikharah ini serupa dengan perubahan yang terjadi pada kata istighfar. Kata yang amat familiar dan melekat dalam keseharian kita ini berasal dari kata ghafara—yaghfiru, yang berarti mengampuni. Ketika mendapat imbuhan hamzah, sin, dan ta’ maka menjadi istaghfara—yastaghfiru— istighfaran, yang berarti meminta ampunan. Kata lain yang memiliki akar serupa dengan istikharah adalah kata khair, yang berarti kebaikan. Melihat keserupaan bangunan kata ini dapat disimpulkan bahwa istikharah merupakan usaha spiritual untuk mendapatkan pencerahan dan kemantapan atas suatu hal yang dipandang baik atau bahkan terbaik di sisi Allah swt.. Dalam terminologi Islam, istilah ini kemudian dilekatkan pada suatu ritual tertentu berupa shalat, yang disebut shalat istikharah. Berbahagialah seseorang yang menyerahkan pilihan hidupnya kepada Allah, dan rugilah orang yang meninggalkan Istikharah. Rasulullah saw. bersabda, “Di antara kebahagiaan anak Adam adalah banyak meminta pilihan terbaik kepada Allah swt. dan ridha kepada ketentuan yang telah ditetapkan Allah swt., dan di antara kesengsaraan anak Adam adalah meninggalkan istikharah serta membenci (tidak rela) pada ketentuan yang telah ditetapkan Allah swt..” (H.r. Ibnu Hibban, Al-Bazzar, dan Al-Ashbihani)
  6. 6. 2. Hukum Shalat Istikharah “Rasulullah mengajari kami cara beristikharah (memohon petunjuk pilihan terbaik) dalam berbagai persoalan, sebagaimana beliau mengajari kami satu surat dari AlQur‟an. Beliau bersabda, „Apabila seseorang di antara kamu mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaklah ia rukuk (shalat) dua rakaat yang bukan shalat wajib. Kemudian bacalah: Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika…..‟.” (H.r. Bukhari dan Ashhabus Sunan) Berdasarkan hadits tersebut, Imam Nawawi berkomentar bahwa shalat Istikharah hukumnya adalah sunnah. Pendapat senada juga dilontarkan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari. Lebih tegas lagi, dalam Fiqhu as-Sunnah, Sayyid Sabiq mengatakan bahwa shalat Istikharah disunnahkan bagi orang yang menghadapi pilihan yang masih membingungkan dirinya, manakah yang lebih baik di antara pilihan-pilihan yang ada. Lebih lanjut Sayyid Sabiq mengatakan bahwa shalat sunnah ini dilakukan untuk memilih suatu hal yang bersifat mubah, bukan wajib, sunnah, atau makruh, apalagi haram. Karena, sesuatu yang bersifat wajib atau sunnah itu mathlubul fi’li (diharuskan atau dianjurkan untuk dilaksanakan), sedangkan yang bersifat makruh atau haram itu mathlubut tarki (dianjurkan atau diharuskan untuk ditinggalkan). Karena itulah, perlu ditegaskan sekali lagi hanya berlaku untuk suatu pilihan yang bersifat mubah. 3. Waktu Shalat Istikharah Shalat istikharah nyaris sama dengan shlat sunnah Muthlaq yang pada dasarnya tidak memiliki waktu tertentu untuk melaksanakannya. Artinya, boleh dikerjakan kapan pun: pagi, siang, ataupun malam; setelah menunaikan shalat fardhu atau shalat sunnah; atau setelah melakukan aktivitas ibadah lain. Akan tetapi, Syaikh Asy-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar mengatakan bahwa istikharah tidak disunnahkan setelah shalat fardhu maupun shalat sunnah lain. Dalam artian, ia dikerjakan secara terpisah dari shalat-shalat lain. Namun, menurut AnNawawi, istikharah itu tetap disunnahkan meskipun setelah selesai mendirikan shalat
  7. 7. fardhu maupun shalat sunnah lain. Yang jelas, ketika mendapatkan masalah atau ingin melakukan sesuatu maka beristikharahlah. Shalat istikharah memang dapat dilakukan kapan pun, namun yang lebih utama adalah dikerjakan pada malam hari terlebih pada sepertiga malam yang terakhir sebagaimana shalat Tahajud. Karena pada saat itulah, di tengah keheningan malam, kita lebih mudah mengonsentrasikan diri untuk bermunajat kepada Allah. Saat itu pula dialog kita dengan-Nya menjadi lebih dekat, bahkan teramat dekat. 4. Bilangan Rakat Istikharah Ketika seseorang ragu dalam memilih dua perkara atau lebih, atau ketika menghadapi permasalahan penting dalam memilih suatu keputusan yang berdampak besar, ia dianjurkan meminta petunjuk dan bimbingan Allah melalui shalat Istikharah supaya keputusan yang diambilnya tidak salah. Shalat Istikharah cukup dilakukan dua rakaat. Jadi, shalat Istikharah tidak perlu dilakukan dengan jumlah bilangan yang banyak sebagaimana shalat Tarawih yang berjumlah 8 atau 20 rakaat, atau seperti shalat Witir yang maksimal dikerjakan 11 rakaat. Meski hanya dua rakaat, namun apabila dilakukan dengan penuh keimanan dan ketundukan, insyaAllah dua rakaat shalat Istikharah ini akan menjadi begitu berharga di hadapan Allah melebihi shalat-shalat lain yang dilakukan semaunya saja. 5. Tata Cara Shalat Istikharah Shalat istikharah boleh dikerjakan dua rakaat atau hingga dua belas rakaat (enam salam). Selepas membaca Al-Fatihah pada rakaat yang pertama, baca Surah Al-Kafiruun (1 kali). Selepas membaca Al-Fatihah pada rakaat yang kedua, baca 1 Surah Al-Ikhlas (1 kali). Ada pula bacaan lainnya, selepas membaca Al-Fatihah pada rakaat yang pertama, baca ayat Al-Kursi (7 kali). Selepas membaca Al-Fatihah pada rakaat yang kedua, baca Surah Al-Ikhlas (11 kali).
  8. 8. Setelah salam dilanjutkan do'a shalat istikharah kemudian memohon petunjuk dan mengutarakan masalah yang dihadapi. Sebuah hadits tentang do'a setelah shalat istikharah dari Jabir r.a mengemukakan bahwa do'a tersebut dapat berbunyi : "Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagi dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan itu". (HR Al Bukhari) B. Pengambilan Keputusan 1. Pengertian pengambilan keputusan. Siagian (1990) mengemukakan definisi tentang pengambilan keputusan, yaitu: pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penemuan yang matang dari alternative yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. Keputusan yang diambil beraneka ragam, tetapi ada tanda-tanda umumnya, yaitu: 1. Keputusan merupakan hasil berpikir, hasil usaha intelektual 2. Keputusan selalu melibatkan pilihan dari beberapa alternative 3. Keputusan selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun pelaksanaannya boleh ditangguhkan atau dilupakan. (Jalaluddin Rakhmat, 2005). Berdasarkan tanda-tanda yang umum dalam pengambilan keputusan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dalam pengambilan keputusan haruslah memenuhi beberapa hal yang nantinya akan berpengaruh terhadap hasil dari keputusan tersebut. Artinya, keputusan yang diambil dari hasil pemikiran atau usaha dari intelektual saja, namun juga ia harus memiliki alternative yang lain serta mampu diwujudkan dalam tindakan nyata. Selain itu, terlihat jelas bahwa pengambilan keputusan merupakan bagian dari pemecahan masalah, dan melibatkan unsur-unsur masalah, tindakan memilih dan tanggung jawab
  9. 9. pengambilan keputusan. Dengan demikian, dapat dibuat batasan bahwa pengertian pengambilan keputusan adalah suatu tindakan memilih salah satu di antara sejumlah alternative pilihan, dengan disertai tanggung jawab atas pilihan yang diambil. 2. Tahapan Pengambilan Keputusan Para ahli umumnya mengartikan pengambilan keputusan sebagai cara memecahkan masalah dengan memilih alternatif terbaik dari sejumlah alternative yang ada. Adapun proses pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: 1. Tahap Input Pada tahap ini individu menemukan atau diberi suatu persoalan 2. Tahap Throughout (decision making stages) Pada tahap ini masalah sudah dikenal 3. Tahap Output Pada tahap ini keputusan telah selesai dibuat Di samping tahapan-tahapan di atas, Janis dan Mann mengungkapkan 7 kriteria untuk menguji efektifitas pengambilan keputusan, yaitu: 1. Secara menyeluruh melihat alternatif tindakan yang mungkin dilakukan 2. Mempertimbangkan seluruh tujuan yang akan dicapai dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya 3. Secara hati-hati menimbang kerugian yang dihadapi, meperkirakan resikoresiko yang belum pasti, baik konsekuensi positif maupun negative 4. Secara intensif mencari informasi baru yang relevan untuk evaluasi lanjut 5. Membuka diri memperhitungkan informasi baru walaupun informasi itu tidak mendukung pilihan yang disukainya 6. Menilai kembali konsekuensi positif dan negative setiap pilihan termasuk pilihan yang semula tidak diterima sebelum mengambil keputusan akhir 7. Membuat langkah-langkah tindakan dan rencana yang terperinci dengan mempertimbangkan kemungkinan tindakan antisipatif (Janis & Mann, 1979 dalam S.P. Siagan, 1990).
  10. 10. 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan menurut Sondang P. Siagian, (1990) diantaranya adalah factor individu dan lingkungan 1. Individu, orang yang memiliki pendirian yang tetap dengan orang yang tidak memiliki pendirian yang tetap akan memiliki perbedaan dalam mengambil suatu keputusan, yang berupa kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki individu. 2. Lingkungan, setiap keputusan mempunyai lingkungan sendiri yang bersifat khas. Artinya, sesungguhnya semua keputusan harus taat kepada tekanan-tekanan yang bersumber dari lingkungan. Faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi pengambilan keputusan individu dalam menghadapi masalah atau konflik adalah: 1. Kuatnya motivasi. Bila motivasi yang timbul dari sebuah pilihan semakin kuat, maka akan semakin kuat pula dorongan untuk memilih hal tersebut, dibandingkan dengan pilihan yang timbul dari motivasi yang lemah. 2. Jarak, tempat, dan waktu. Individu akan cenderung mendekati atau menghindari salah satu pilihan sesuai dengan jauh-dekatnya jarak, tempat, dan waktu dari pilihan tersebut. 3. Pengharapan. Semakin besar harapan individu terhadap salah satu pilihan, maka akan besar pula keinginannya untuk memilih pilihan tersebut. 4. Strategi Pengambilan Keputusan Keputusan seseorang ditentukan oleh strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan. Setiap orang melakukan strategi pengambila keputusan yang berbeda-beda. Tiap orang pun memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Tiap orang pun memiliki kemampuan yang berbda-beda. Oleh karena itu, walaupun strategi pengambilan keputusan tampaknya dapat diklasifikasikan oleh para ahli, dan strategi pengambilan keputusan itu bersifat unik (Atwater, 1984 dalam Sugiarto, 2004).
  11. 11. Atwater (1984), mengklasifikasikan strategi pengambilan keputusan berdasarkan unsur resiko yang terlibat di dalamnya: 1.Wish Strategy. Memilih alternative yang hasilnya paling diinginkan, tanpa mempertimbangkan resiko. Strategi ini memilih alternatif yang dapat membawa pada hasil yang diharapkan, tanpa memperhatikan resikonya. 2. Escape Strategy. Memilih alternative yang paling tinggi kecenderungannya untuk dapat terhindar dari hasil yang buruk. Strategi ini memilih alternative yang paling terhindar dari hasil yang paling buruk atau yang paling tidak diharapkan terjadi. 3. Safe Strategy. Memilih alternatif yang paling mendatangakan sukses, meski dengan hasil yang kecil. Strategi ini memilih alternative yang paling tinggi kecenderungannya untuk mencapai keberhasilan. 4. Combination Strategy. Memilih alternative yang menggabungkan kebolehjadian paling besar dari keinginan yang paling besar. Dalam strategi ini alternative yang dipilih dapat dikombinasikan kemungkinannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan dengan probabilitas peluang tertinggi. 5. Kendala-kendala dalam Pengambilan Keputusan Kiranya perlu disadari, bahwa pemecahan masalah yang paling tepat melalui pemikiran yang paling kreatif dan pengalaman dalam proses pengambilan keputusan tetap mengandung resiko ketidakberhasilan atau tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Keputusan yang diambil dapat saja tidak tepat, meleset, atau bahkan mungkin salah sama sekali. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang menjadi kendala dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Adapun kendalakendala tersebut, antara lain: a. Dari dalam diri. Kendala ini bersumber pada diri pengambil keputusan yang bersangkutan. Kendala ini bisa berbagai macam dan terjadi karena berbagai alasan, tapi benarbenar berdasarkan atau karena diri sendiri, bukan karena hal-hal lain di luar si pengambil keputusan. Misal, pemikirannya, daya nalarnya, intuisinya sendiri, pola-pola yang ia tempuh, kesehatan mental dan fisiknya serta semua hal yang dari diri pengambilan keputusan. b. Trauma masa lalu.
  12. 12. Untuk hal-hal tertentu terkadang masa lalu ikut menentukan dalam proses pengambilan keputusan dan bisa jadi ia merupakan hal yang menjadi kendala dalam proses tersebut. Kendala dalam masa lalu tersebut menjadi ketakutan tersendiri dalam diri si pengambilan keputusan. Ketakutan di sini maksudnya ialah, karena berdasarkan pengalamannya yang telah lalu (saat mengambil keputusan) ternyata keputusan yang diambil kurang atau tidak tepat, bahkan merugikan banyak pihak. Sehingga terbentuklah ketakutan akan “kegagalan masa lalu”. c. Pemahaman yang Kurang Tepat Terhadap Informasi. Dalam hal ini si pengambil keputusan mendapatkan kendala karena kurangnya pengetahuan tentang berbagai informasi yang berkaitan dengan keputusan yang ia akan ambil. Dapat dikatakan intuisi dan pengalaman dapat member sumbangan yang berarti, karena kemampuan seseorang untuk menganalisa dan memahami informasi yang masuk dapat menjadi kendala dalam proses pengambilan keputusan seseorang. d. Kurang Mampu Mengelola Waktu. Dalam hal tertentu keputusan itu bergantung dengan ketepatan waktu. Jika orang tersebut tidak dapat mengatur waktu dengan baik, maka hal itu akan berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan. e. Ketidakpastian. Ketidak pastian juga merupakan hal yang dapat menjadi kendala dalam mengambil suatu keputusan, seperti ketidakpastian tentang masalah apa atau hal apa yang harus diambil keputusannya, kapan keputusan itu harus diambil, berapa lama, dan ketidakpastian akan semua hal yang berkaitan dengan pengambilan keputusan. C. Shalat Istikharah dan Pengambilan Keputusan Shalat Istikharah dan doa yang menyertainya sejatinya merupakan sebentuk permohonan kepada Allah agar kita dibimbing dan dituntun menuju pilihan terbaik menurut-Nya. Pilihan terbaik dalam konteks ini adalah menurut Allah swt., bukan menurut nafsu dan ego kita. Agar istikhara kita mendapat jawaban terbaik dari Allah Ta‟ala, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
  13. 13. 1. Luruskan niat. Niat memiliki kedudukan tertinggi dalam ibadah. Suatu perbuatan tidak dibilang ibadah manakala tidak disertai dengan niat. Artinya, tanpa niat perbuatan itu sekadar menjadi rutinitas yang tidak bernilai ibadah terkontaminasi oleh ketidakikhlasan maka akan mengurangi nilai dari ibadah itu sendiri. Ketika kita sudah berniat melakukan shalat Istikharah semata karena Allah, kita harus mengikhlaskan pilihan kita kepada-Nya. Mengikhlaskan pilihan kepada Allah berarti menyerahkan semua urusan yang kita istikharahkan hanya kepada-Nya. Kita tidak boleh menilai jelek, apalagi tidak bersyukur atas pilihan Allah dalam istikharah tersebut. Al-Fudhail bin „Iyadh pernah berpetuah, “Sesungguhnya amal perbuatan itu meskipun benar tetapi tidak ikhlas maka tidak akan diterima. Begitu juga sebaliknya, jika dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima pula. Jadi, amal perbuatan harus dilakukan dengan ikhlas dan benar. Yang dimasuk ikhlas ialah dikerjakan hanya karena Allah, dan yang dimaksud dengan benar ialah dilakukan sesuai dengan tuntutan sunnah Nabi saw..” Ikhlas dapat mengubah keraguan menjadi kemantapan, kesedihan menjadi kebahagiaan, dan kesulitan menjadi kemudahan. Mengikhlaskan pilihan kepada Allah merupakan manifestasi tauhid yang paling tinggi. Karena itu, wajar jika Allah tidak menerima ibadah hamba-hamba-Nya yang tidak diniatkan secara ikhlas menerima keputusan Allah dalam istikharahnya, maka ia akan menjalankan keputusan yang telah diambilnya itu secara penuh tanggung jawab. Bahkan, segala risiko—apa pun bentuknya—sanggup dihadapinya dengan penuh keberanian dan kepercayaan diri. Dengan menyerahkan pilihan kepada Allah, ada jaminan kebahagiaan yang akan kita rasakan setiap waktu. Dengan meyakini apa yang dipilihkan Allah untuk kita adalah yang terbaik maka ada jaminan kita tidak akan mengalami kekecewaan atas setiap “kegagalan” yang dating. Karena, kita telah meyakini justru “kegagalan” itulah yang terbaik untuk kita. Ingat, apa yang kita pandang “gagal” bisa saja justru yang terbaik menurut Allah, dan apa yang kita pandang baik dan sukses bisa saja justru buruk dan gagal menurut Allah. 2. Jangan hanya sekali.
  14. 14. Rasulullah selalu melakukan istikharah pada setiap saat, yakni ketika akan melakukan suatu pekerjaan atau mengambil keputusan. Beliau melakukannya bukan hanya untuk persoalan-persoalan yang berat, tetapi juga yang ringan sekalipun. Sebaliknya, kita jarang sekali menyertakan Allah dalam setiap pengambilan keputusan kita. Padahal, setiap keputusan yang kita ambil memiliki risiko yang tidak kecil. Betapa kita sering mengabaikan keberadaan Allah. Kita merasa begitu yakin dengan segala yang kita lakukan, bahkan mungkin terlalu yakin dengan kemampuan diri sendiri. Kita sering lupa bahwa ada Dzat Yang Berkuasa atas diri kita, yaitu Allah Ta‟ala. Sering memohon kepada Allah merupakan bukti penghambaan kita kepada-Nya. Bukti betapa lemahnya kita. Terus-menerus meminta (berdoa) yang dibarengi dengan sikap menghamba, menyadari kelemahan, dan selalu merasa butuh kepada-Nya. 3. Utamakan sepertiga malam terakhir Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling istimewa untuk berdoa. Bahkan, bukan hanya merupakan waktu yang istimewa untuk memohon, melainkan juga untuk mengambil keputusan. Ahmad Hulusi, penulis buku An Up-to-Date Understanding of Islam, mengatakan, “Sebagaimana sinyal parasit berkurang bila atmosfer bumi membelakangi matahari dan penerimaan gelombang menjadi sangat mudah, otak manusia juga lebih menjadi sensitif dan paling kuat terutama pada akhir malam. Inilah yang terjadi pada penerimaan ilham dan penyampaian doa.” Oleh karena itu, waktu sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat istimewa untuk kita isi dengan memanjatkan doa istikharah dan mempertimbangkan pengambilan keputusan berdasarkan petunjuk-Nya. 4. Berpikir positif Dalam melakukan istikharah, yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan doa kita. “Ana ‘inda zhanni ‘abdi bi (Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku), “ begitulah Allah menegaskan dalam sebuah hadits qudsi. Keyakinan kita ini mirip dengan Law of Attraction (hokum tarik-menarik). Hukum ini menyatakan bahwa jika kita berpikir positif terhadap sesuatu maka kita pun akan mendapatkan hasil yang positif pula. Sebaliknya, jika kita memiliki pikiran yang negative, serta-merta seluruh alam semesta seakan menjadikannya negative.
  15. 15. 5. Hadirkan hati Kalimat-kalimat doa tidaklah cukup hanya kita ucapkan dan hapalkan dengan lisan. Tetapi, lebih dari itu harus dibarengi juga dengan merenungkan makna-maknanya. Artinya, saat bibir kita bergerak melafalkan doa-doa tersebut, hati juga harus turut hadir di dalamnya. Karena itu, Al-„Allamah Ibnul Qayyim menganggap kelalaian dan ketidak-hadiran hati termasuk salah satu penghalang doa. 6. Kuatkan doa Hendaknya seorang muslim memposisikan doa sebagaimana mestinya, yakni sebagai satu ibadah yang harus dilakukan secara kontinu tanpa terikat keadaan, susah maupun senang. Disebutkan dalam sebuah hadits, “Barangsiapa ingin dosanya dikabulkan Allah pada waktu kesusahan, hendaklah ia banyak berdoa pada waktu lapang.” (H.r. Tirmidzi) Dari hadits ini dapat dipahami, janganlah manusia berdoa hanya pada waktu didera bencana, musibah, atau di kala jatuh miskin saja. Tetapi, hendaklah ia juga senang berdoa di waktu senang dan lapang. Dengan itu, Allah akan lebih mudah mengabulkan doanya pada saat ditimpa kesusahan. 7. Jangan abaikan adab berdoa Maulana Muhammad Jazri dalam kitab Hisnul Hasin menuliskan beberapa poin yang harus dilakukan oleh seseorang ketika memanjatkan permohonan kepada Allah swt.. Bersungguh-sungguh dalam berdoa Memperbanyak amal kebaikan sebelum berdoa Meminta ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan Memohon pengabulan doa dengan perantara amal shalihnya Memuji Allah sebelum dan setelah berdoa Doa yang dimohonkan hendaknya masuk akal Jangan berdoa untuk berbuat dosa atau memutuskan silaturahmi Jangan memohon tergesa-gesa untuk dikabulkan Yakinlah bahwa doa yang kita panjatkan akan dikabulkan Berdoalah dari lubuk hati yang paling dalam dan penuh khusyuk. Sebab, Allah tidak menerima doa yang dilakukan setengah hati atau lalai. 8. Bersungguh-sungguh dalam memilih
  16. 16. Segala bentuk keberhasilan seseorang ditentukan oleh kesungguhannya dalam memperjuangkan apa yang dicita-citakannya. Demikian pula orang yang diberi petunjuk dan pilihan terbaik oleh Allah, mereka mendapatkan petunjuk-Nya juga dikarenakan kesungguhannya dalam melakukan shalat Istikharah. Jadi, bukan saja kesuksesan dan keberhasilan yang memerlukan kesungguhan, tetapi istikharah pun harus demikian. Agar tidak keliru dalam menentukan pilihan, setiap keputusan yang kita ambil haruslah melalui proses pemikiran dan perenungan yang panjang. Namun, karena keterbatasan akal dan pikiran kita, seringkali kita tidak mampu menjamin setiap pilihan kita adalah hal yang terbaik. Karena itu, agar pilihan yang kita ambil benarbenar yang terbaik maka sandarkanlah pilihan kita hanya kepada Allah melalui shalat Istikharah yang sungguh-sungguh. Tanpa kesungguhan, mustahil istikharah kita dapat menghasilkan jawaban yang cepat dan maksimal. 9. Landasi dengan kecerdasan jiwa Kemampuan mengendalikan sifat pemarah, suka memfitnah, bergunjing, adu domba dan buruk sanagka akan kembali mencerdaskan jiwa-jiwa yang tumpul sehingga kita mampu membedakan antara salah dan benar, halal dan haram, serta baik dan buruk. Dengan ridha Allah swt., melalui shalat Istikharah, kita pun diberi kemampuan oleh Allah untuk menentukan pilihan yang terbaik menurut-Nya. D. Ritualisasi Shalat Istikharah 1. Psikologi Mimpi Secara psikologis, mimpi adalah produk dari keinginan-keinginan yang ditekan secara tidak sadar. Keinginan-keinginan bawah sadar yang tidak terselesaikan inilah yang akhirnya berpotensi mengganggu kesadaran. Dalam mimpi, kesadaran kita menjadi lebih lemah dan ketidaksadaran menjadi lebih banyak bekerja. Macrobius dan Artemidorus mengemukakan pandangan tentang mimpi yang telah popular cukup lama. Mereka membagi mimpi menjadi dua. a. Mimpi yang berkaitan dengan masa lalu dan masa sekarang. Artinya, mimpi punya hubungan dengan peristiwa-peristiwa sebelum tidur. Ketika seseorang tidur dalam keadaan lapar, ia bisa mimpi menyantap makanan enak. Ketika seseorang
  17. 17. memikirkan hal-hal yang mengerikan atau ngobrol tentang hantu sebelum tidur, ia bisa mengalami mimpi buruk (nightmare). b. Mimpi yang berkaitan dengan masa depan. Artinya, mimpi bisa membawa pesan tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi. Mimpi ini terbagi menjadi tiga, yaitu: Oraculum, yaitu mimpi kenabian (nubuwat) atau mimpi yang membawa pesan dari Yang Ilahi. Visio, yaitu mimpi ramalan untuk kejadian di masa mendatang. Somnium, yaitu mimpi simbolis yang perlu ditafsirkan dengan hati-hati, seperti bertemu naga atau monster. Sigmund Freud (1865-1939) mengatakan bahwa mimpi adalah sumber informasi yang penting dalam memahami pesan-pesan yang mengalir dari dunia ketidaksadaran (the unconscious). Sayangnya, pesan-pesan dari ketidaksadaran keluar lewat simbol-simbol yang seringkali membingungkan. Karen jalurnya adalah symbol, mimpi tidak bisa diterjemahkan secara harfiah. Untuk itulah dibutuhkan pengetahuan tentang simbol-simbol tersebut (bahasa mimpi). Dalam Asrar An-Naum (Rahasia Alam Tidur), Prof. Dr. Ahmad Syauqi Ibrahim mengatakan bahwa dilihat dari perspektif Ilmu Jiwa, mimpi terjadi karena beberapa penyebab, di antaranya:  Segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar manusia (di tengahtengah aktivitas hariannya), berpengaruh terhadap jiwa orang tersebut. Ketika tidur, ia akan bermimpi melihat sesuatu yang terjadi pada dirinya.  Faktor kejiwaan mempunyai pengaruh besar dalam membentuk mimpi. Seseorang yang terancam suatu bahaya: baik harta, kesehatan, maupun pekerjaan maka kebanyakan bahaya tersebut akan tampak dalam mimpinya.  Freud berpendapat bahwa mimpi adalah kesenangan yang tersembunyi dalam jiwa, yang terungkap dalam bentuk mimpi. Itu terjadi pada masa kecil, di mana anak kecil selalu memimpikan hal-hal yang ia lihat. Freud juga berpendapat, mimpi pada usia muda juga merupakan ungkapan kenangan masa kecil seseorang.
  18. 18. 2. Tafsir Psikologi Tentang Mimpi Para penafsir mimpi sepakat bahwa mimpi adalah ungkapan yang berupa simbolsimbol yang membutuhkan penafsiran secara benar. Simbol dan tanda-tanda yang muncul dalam mimpi itu akan segera lenyap seiring dengan berubahnya pikiran, kesenangan, atau angan-angan seseorang. Hal ini sangat dipengaruhi pula oleh kondisi kejiwaan seseorang. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam menginterpretasikan mimpi.  Kadang-kadang, mimpi menunjukkan respons bawah sadar terhadap rangsangan luar yang dialami tubuh.  Kadang-kadang, mimpi adalah halusinasi yang wajar sebelum masuk ke dalam tidur lelap.  Kadang-kadang, mimpi adalah respons bawah sadar terhadap kondisi organorgan tubuh.  Kadang-kadang mimpi bersumber dari peristiwa yang terekam secara tidak sadar dalam kegiatan sehari-hari. 3. Mimpi yang Benar Mimpi yang benar ialah mimpi yang mengungkapkan kebenaran. Artinya, kata-kata dalam mimpi itu terbukti kebenarannya dalam kenyataan. Menurut Muhammad Ibnu Sirin dalam bukunya Tafsir Mimpi Menurut Al-Qur’an dan Sunnah, mimpi yang benar terbagi empat. Pertama, mimpi yang menginformasikan kebenaran dan menjadi kenyataan. Mimpi demikian merupakan bagian dari kenabian karena Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya…” (Q.s. Al-Fath [48] : 27) Kedua, mimpi yang baik. Mimpi demikian merupakan kabar gembira dari Allah, seperti mimpi melihat Nabi saw., sahabat Nabi, dan orang shalih. Ketiga, mimpi simbolis bisikan, yaitu yang terjadi dan dapat menjelaskan masalah rumit yang tengah dihadapi dan kita tidak mampu menemukan solusinya. Solusi itu tampak dalam bentuk gambaran atau symbol yang logis. Mimpi ini dapat ditafsirkan pada berbagai persoalan.
  19. 19. Keempat, mimpi yang menakutkan, yaitu yang mengingatkan akan bahaya yang mengancam atau suatu pengaruh yang mengganggu. BAB III KESIMPULAN Shalat Istikharah dilakukan tidak saja ketika mengalami kebimbangan dalam menghadapi dua hal yang sulit memilihnya, karena sama baiknya, tapi berbeda sisi kebaikannya, atau memilih di antara dua kebijaksanaan yang sudah jelas arah dan tujuannya masing-masing. Akan tetapi petunjuk Allah diperlukan dalam setiap langkah, kebijaksanaan, keputusan atau urusan apa pun yang penting dalam hidup. Jika shalat Istikharah ditinjau dari segi kejiwaan, maka dapat dikatakan bahwa ia merupakan terapi (pengobatan) bagi gangguan kejiwaan yang disebut konflik jiwa. Konflik jiwa ada yang bersifat ringan, hanya merupakan keragu-raguan ata kebimbangan yang dangkal, yang segera berakhir, apabila telah diambil keputusan tentang mana yang dipilih. Akan tetapi ada juga kebimbangan yang agak berat, karena harus memilih di antara dua hal yang bertentangan, misalnya antara yang satu ingin dicapai, tapi yang lain ingin dihindari. Apabila yang diingini dapat tercapai, maka yang tidak diinginkan terjadi. Sungguh banyak macam gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh konflik batin yang tidak teratasi, bahkan tidak jarang orang terserang berbagai penyakit psiko-somatik (penyakit fisik yang disebabkan terganggunya jiwa). Shalat Istikharah dalam segala urusan itu amat penting, karena kadang-kadang manusia terdorong oleh emosi dan keinginan lahir tanpa pertimbangan yang mendalam untuk mengambil keputusan atau kebijaksanaan tertentu, yang kemudian mungkin disesali karena gagal, sehingga bahayanya tidak terhadap diri sendiri saja, akan tetapi mengenai orang lain juga, bahkan mungkin menimbulkan bahaya bagi orang banyak. Orang sering tidak sabar menunggu petunjuk Allah, setelah satu dua kali shalat Istikharah mengharapkan petunjuk Allah dating. Namun tidak dapat dipastikan, berapa lama harus menunggu petunjuk Allah, yang penting teruslah bermohon, insya Allah pada waktunya petunjuk Allah akan dating juga.
  20. 20. DAFTAR PUSTAKA Ayyash, Muhammad Abu, 2008. Keajaiban Shalat Istikharah. Jakarta: Qultum media. Daradjat, Zakiah, 1996. Shalat Menjadikan Hidup Bermakna. Jakarta: CV. Ruhama. Rusyda Babel Haqq, Baba, 2010. Shalat Istikharah: Cara dahsyat menentukan pilihan ideal dan tepat. Jakarta: Citra risalah. Siagan, S.P., 1990. Teori dan Praktek Pengambilan Keputusan. Jakarta: Haji Massagung.

×