MAKALAH FARMAKOLOGIUJI ANTIINFLAMASI METODE VOLUME UDEMKELOMPOK IVSYAROFINA D. (201110410311212)EIFA RUHIYATUL (2011104103...
PRAKTIKUM VUJI ANTIINFLAMASI METODE VOLUME UDEMI. TujuanMemahami prinsip eksperimen terhadap efek antiinflamasi dengan men...
 Edema ( pembengkakan )Tahap kedua dari inflamasi.Plasma merembes ke jaringan interstial pada tempatcedera.Kinin mendilat...
IV. Bahan1. Tikus 5 ekor2. Larutan karagenin 1% 0,1 ml3. Aquadest 2,5 ml/20 g BB4. Na diklofenat 6,75 mg/kg BB5. Infus rim...
VI. Perhitungan DosisDosis tikus 1 ( aquadest)Berat = 0,145 kgDosis = 2,5 ml / 20mg x 0,145 = 0,02 mlDosis tikus 2 ( Na di...
VII. Hasil PengamatanVIII. Grafik Hasil Pengamatan00.20.40.60.811.21.41.61.81 2 3 4Volumeudem15 menit ke-tikus 1tikus 2tik...
IX. PembahasanPada praktikum kali ini Karagenin berfungsi sebagai senyawa iritan yang tidakmenimbulkan kerusakan jaringan,...
Pada tikus pertama yang volume awal kakinya adalah 0,8 cm, kemudian diberiaquadest sebagai kontrol negatif, kemudian diind...
Secara umum dilihat dari inhibisi maksimal pembentukan edema dapat dilihat bahwaefek inhibisi edema semakin baik dengan pe...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Praktikum v

1,590 views

Published on

Uji anti inflamasi metode volume udem

Published in: Education
2 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,590
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
2
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Praktikum v

  1. 1. MAKALAH FARMAKOLOGIUJI ANTIINFLAMASI METODE VOLUME UDEMKELOMPOK IVSYAROFINA D. (201110410311212)EIFA RUHIYATUL (201110410311214)ERRY PROBO S. (201110410311215)NURKHOLIVIANI (201110410311217)RIZKA NOVIA A. (201110410311218)DILLA NOVITA (201110410311220)APRILIA SUDI R. (201110140311235)NUR FAJAR R. (201110410311236)SITI ROBIATUL (201110410311237)M. HASAN W. (201110410311238)M. FAHRIZAL S. (201110410311239)PROGRAM STUDI FARMASIFAKULTAS ILMU KESEHATANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG2012/2013
  2. 2. PRAKTIKUM VUJI ANTIINFLAMASI METODE VOLUME UDEMI. TujuanMemahami prinsip eksperimen terhadap efek antiinflamasi dengan menggunakanalat plestimometer.II. Dasar TeoriA. InflamasiInflamasi merupakan respon terhadap cedera jaringan dan infeksi. Ketika prosesinflamasi berlangsung, terjadi reaksi vaskular dimana cairan, elemen – elemen darah, seldarah putih ( leukosit ), dan mediator kimia berkumpul pada tempat cedera jaringa atauinfeksi. Proses inflamasi merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh dimana tubuhberusaha untuk menetralisir dan membasmi agen berbahaya pada tempat cederadanuntuk mempersiapkan keadaan untuk perbaikan jaringan.Meskipun ada hubungan antara inflamasi dan infeksi, tetapi tidak boleh dianggapsama. Infeksi disebabkan oleh mikroorganisme dan menyebabkan inflamasi, tetapi tidaksemua inflamasi disebabkan oleh infeksi.Terjadinya inflamasi akibat dilepaskannya mediator – mediator kimia contohnya: HistaminMerupakan mediator pertama dalam proses inflamasi, menyebabkan dilatasiarteriol dan meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga cairan dapatmeninggalkan kapiler dan mengalir ke daerah cedera. Kinin (bradikinin)Dapat meningkatkan permeabilitas kapiler dan rasa nyeri. ProstaglandinDilepaskannya prostaglandin menyebabkan bertambahnya vasodilatasipermeabilitas kapiler, nyeri, dan demam.Tanda – tanda utama inflamasi: Eritema ( kemerahan )Merupakan tahap pertama dari inflamasi.Darah berkumpul pada daerah cederajaringan akibat pelepasan mediator kimia tubuh.
  3. 3.  Edema ( pembengkakan )Tahap kedua dari inflamasi.Plasma merembes ke jaringan interstial pada tempatcedera.Kinin mendilatasi arteriol dengan meningkatkan permeabilitas kapiler. PanasPanas pada tempat inflamasi dapat disebabkan oleh bertambahnya penggumpalandarah dan juga dikarenakan pirogen (substansi yang menimbulkan demam) yangmengganggu pusat pengaturan panas dan hipotalamus. Dolor ( nyeri )Disebabkan oleh peningkatan dan pelepasan mediator – mediator kimia. Function laesa ( hilangnya fungsi )Disebabkan karena penumpukan cairan pada tempat cedera jaringan dan karenarasa nyeri, yang mengurangi mobilitas pada daerah yang terkena.B. Obat anti inflamasiObat – obat anti inflamasi contohnya obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID) danobat anti inflamasi steroid (preparat kortison) yang bekerja dengan cara menghambatmediator – mediator kimia sehingga mengurangi proses inflamasi.(Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan : 305 – 320)III. Alat1. Plestimometer2. Spuit3. Sonde4. SpidolCedera jaringanDilatasi arteriol(Vasodilatasi)Bertambahnyapermeabilitas kapilerNyeri danpembengkakanujung syarafPanas(Vasodilatasi)Pelepasan mediator – mediator kimia
  4. 4. IV. Bahan1. Tikus 5 ekor2. Larutan karagenin 1% 0,1 ml3. Aquadest 2,5 ml/20 g BB4. Na diklofenat 6,75 mg/kg BB5. Infus rimpang 5% (0,625 g/kg BB)6. Infus rimpang 10% (1,25 g/ kg BB)7. Infus rimpang 20% (2,5 g/ kg BB)V. Prosedur KerjaTikus dipuasakan 6 – 8 jam(Pengosongan lambung)Salah satu kaki belakang tikus diberi tanda dengan spidolDiukur volumenyaDicelupkan ke dalam tabung air raksa (pletismometer) ad garis tandaPemberian bahan ujiSelang 10 – 15 menit + larutan karagenin 1 % sebanyak 0,1 mlsecara subkutan di bagian dorsal kakiVolume kaki tikus diukur setiap interval waktu 5 menit ad efek udemnya hilangCatat datanya
  5. 5. VI. Perhitungan DosisDosis tikus 1 ( aquadest)Berat = 0,145 kgDosis = 2,5 ml / 20mg x 0,145 = 0,02 mlDosis tikus 2 ( Na diklofenat)Berat = 0,136 kgDosis =6,75 ml / 1 kg x 0,136 = 0,92 mlDosis tikus 3 ( infus rimpang 5%)Berat = 0,141 kgDosis =0,625ml / 1kg x 0,141 = 1,8 mlDosis tikus 4 ( infus rimpang 10%)Berat=0,109 kgDosis = 1,25ml / 1kg x 0,109 = 1,4 mlDosis tikus 5 ( infus rimpang 20%)Berat = 0,133 kgDosis = 2,5ml / 1kg x 0,133 = 1,7 ml
  6. 6. VII. Hasil PengamatanVIII. Grafik Hasil Pengamatan00.20.40.60.811.21.41.61.81 2 3 4Volumeudem15 menit ke-tikus 1tikus 2tikus 3tikus 4tikus 5Kelompok4VolumeawalVolumeSetelahInduksiRadangVolume Setelah Induksi Radang + PerlakuanVolume udem15 menit ke-% Hambatan5’ 10’ 15’ 20’ 25’ 30’ 35’ 40’ 45’ 50’ 55’ 60’ 1 2 3 4 1 2 3 4Tikus 1 0,8 1,67 1,3 1,2 1,4 0,96 1,17 0,9 1,03 1,2 0,96 1,1 1,2 1,3 1,4 0,9 0,96 1,3 0 0 0 0Tikus 2 0,6 1,47 1,43 1,2 1,57 1,17 1,2 1,23 1,17 1,23 0,9 1,17 0,8 1,2 1,57 1,23 0,9 1,2 12,1 36,7 6,3 7,7Tikus 3 0,37 1,3 1,07 1,17 1,03 1,03 0,8 1 0,77 1 0,83 0,86 0,86 1,1 1,03 1 0,83 1,1 26,4 11,1 13,5 15,4Tikus 4 0,1 1,1 1,23 1,1 1,1 0,9 0,83 1 0,77 0,83 0,93 0,6 0,8 0,73 1,1 1 0,93 0,73 21,4 11,1 3,1 43,8Tikus 5 0,3 1,07 1,03 0,86 1,17 1,03 1,07 0,7 0,86 0,93 0,86 0,96 1,17 1,13 1,17 0,7 0,86 1,13 16,4 22,2 10,4 13,1
  7. 7. IX. PembahasanPada praktikum kali ini Karagenin berfungsi sebagai senyawa iritan yang tidakmenimbulkan kerusakan jaringan, ia adalah senyawa yang paling banyak digunakan untukmemprediksi efek terapeutik obat antinflamasi steroid maupun nonsteroid. Karagenin tidakmeimbulkan kerusakan jaringan, tidak menimbulkan bekas, serta menimbulkan responyang paling peka terhadap obat antiflamasi dibandingkan senyawa iritan lainnya. Padaproses pembentukan udema, karagenin akan menginduksi cedera sel denagandilepaskannya mediator yang mengawali proses inflamasi. Karagenin merupakan senyawayang dapat menginduksi cedera sel dengan melepaskan mediator yang mengawali prosesinflamasi. Udema yang terjadi akibat terlepasnya mediator inflamasi seperti: histamin,serotin, bradikinin, dan prostagladin. Pada saat mengalami pelepasan mediator inflamasiterjadi udem maksimal dan bertahan beberapa jam.Udem yang disebabkan oleh injeksikaragenin diperkuat oleh mediator inflamasi terutama PGE1 dan PGE2 dengan caramenurunkan permeabilitas vaskuler. Apabila permeabilitas vaskuler turun maka protein-protein plasma dapat menuju ke jaringan yang luka sehingga terjadi udema.Penggunaan Na-diklofenak. Obat ini adalah penghambat siklooksigenase yang kuatdengan efek antiinflamasi, analgetik dan antipiretik.Obat ini cepat diabsorpsi setelahpemberian oral dan mempunyai waktu paruh pendek.Obat ini berkumpul di cairansinovial.Efek samping dari obat ini kurang keras dibandingkan dengan obat kuat yang lainseperti indometasin dan piroxycam.Obat ini sering digunakan untuk segala macam nyeri,migrain dan encok.Rimpang putih sebagai antiinflamasi.Rimpang temu putih mengandungzat aktif sebagai anti radang, yaitu mengandung kurkumin yang terbukti dapat berfungsisebagai anti radang.Kurkumin bekerja sangat efktif dalam menghambat peradangan secaraakut dan kronis. Kurkumin hampir sama dengan kortison dan fenilbutason.Efek ditunjukkan dengan semakin besarnya nilai % efektifitas udem.Semakin kecilnilai udem berarti sediaan mampu menghambat udem yang terbentuk akibat induksikaragenin.Larutan karagenin disini berfungsi untuk menguji obat antiinflamasimenimbulkan efek atau tidak. Jika suatu obat antiinflamasi menimbulkan efak maka udemyang disebabkan oleh induksi karagenin akan berkurang.Dari grafik dan data di atas terlihat bahwa kontrol positif (Na-diklofenak) dapatmenghambat udem yang ditunjukkan dengan semakin besarnya nilai persen efektivitas.Mekanisme kerja obat Na-diklofenak adalah dengan cara menghambat sintesisprostaglandin di dalam jaringan tubuh dengan menginhibisi siklooksigenase.
  8. 8. Pada tikus pertama yang volume awal kakinya adalah 0,8 cm, kemudian diberiaquadest sebagai kontrol negatif, kemudian diinduksi dengan karagenin, diukur pada menitke 60 volumenya menjadi 1,3 cm. Tikus kedua volume awal kaki adalah 0,6 cm, kemudiandiberi Na-diklofenak sebagai kontrol positif, kemudian diinduksi karagenin, diukur padamenit 60 volumenya menjadi 1,2 cm. Tikus ketiga volume awal kaki adalah 0,37 cm,kemudian diberi rimpang temu putih 5%, kemudian diinduksi karagenin, diukur padamenit 60 volume udemnya menjadi 1,1 cm. Tikus keempat volume awal kaki adalah 0,1cm, kemudian diberi rimpang temu putih 10%, kemudian diinduksi karagenin, diukur padamenit 60 volume udemnya menjadi 0,73% cm. Tikus kelima volume awal kaki adalah 0,3cm, kemudian diberi rimpang temu putih 15%, kemudian diinduksi karagenin, diukur padamenit 60 volume udemnya menjadi 1,13 cm.Pada penelitian ini terlihat bahwa pada semua dosis kelompok zat uji menunjukkanterdapatnya efek antiinflamasi dimana volume edema rata-rata setiap kelompok zat ujitidak sebesar volume edema pada kelompok kontrol.Volume edema yang terbentuk semakin kecil dengan penambahan dosis infusrimpang temu putih. Pada volume edema yang terbentuk pada dosis 0,625g/kgBB lebihbesar dari volume edema yang terbentuk pada dosis 1,25g/kgBB, sedangkan volumeedema yang terbentuk pada dosis 2,5g/kgBB lebih kecil dari volume edema pada dosis1,25g/kgBB. Diduga hal ini merupakan variasi mekanisme respon tubuh (variasi biologi)karena respon setiap individu terhadap suatu obat bisa sangat bervariasi. Suatu individudapat memberikan respon yang berlainan terhadap obat yang sama selama masa pemakaianobat. Selain itu mungkin hal itu juga terjadi karena kekurang telitian dalam pengamatanvolume edema yang dapat terjadi karena kurang sejajarnya mata pada saat mengamatikenaikan air raksa pada plestimometer.Kemudian dapat juga disebabkan karena adanyahewan coba yang sulit ditenangkan sehingga pada saat pengukuran pemasukan kaki kiritikus pada air raksa tidak tepat pada garis tanda.Pada pemberian semua dosis infus rimpang temu putih menunjukkan inhibisipembentukan edema.Pemberian infus rimpang temu putih dengan dosis 2,5g/kgBB inhibisipembentukan edema maksimal.Hal ini diduga merupakan efek dari penggunaan dosisbesar, dimana dengan dosis besar memperlihatkan efek yang lebih cepat.Hal ini mungkindisebabkan oleh semakin tingginya dosis infus rimpang temu putih jumlah zat aktif yangterkandung didalamnya semakin tinggi sehingga kemampuannya dalam menginhibisiedema juga semakin besar.
  9. 9. Secara umum dilihat dari inhibisi maksimal pembentukan edema dapat dilihat bahwaefek inhibisi edema semakin baik dengan peningkatan dosis. Dari hasil penelitian initerlihat bahwa seluruh kelompok dosis infuse rimpang temu putih memiliki potensiantiinflamasi. Hal ini diduga merupakan efek dari kurkumin sebagai salah satu bahan aktiftemu putih yang dapat menghambat pembentukan prostaglandin dan menekan aktivitasenzim siklooksigenase.Adanya efek antiinflamasi infus rimpang temu putih diharapkandapat dijadikan obat alternatif untuk pengobatan penyakit-penyakit inflamasi pada saatini.Hal ini didukung oleh keberadaan rimpang temu putih yang masih belum banyakdimanfaatkan dan memiliki efek samping kecil.Jadi pada tikus pertama menggunakan aquadest yang tidak terbukti sebagaiantiinflamasi, sehingga volume udem yang berkurang hanya sedikit.Tikus keduamenggunakan Na-dikofenak yang telah terbukti sebagai anti-inflamasi, maka penurunanvolume udem banyak.Begitu pula pada rimpang tamu putih, namun tergantung padakadarnya yang telah disesuaikan dengan dosis. Sehingga tikus dengan kadar dan dosistertinggi memiliki antiiflamasi yang tinggi pula untuk menurunkan volume udem tikus.X. KesimpulanEfek dari antiinflamasi ditunjukkan dengan semakin besarnya persen efektifitas yaitusemakin kecilnya volume udem. Semakin kecil nilai udem berarti obat yang diujikanmampu menurunkan udem yang terjadi akibat dari pemberian karagenin. Di sini kontrolpositif memberikan nilai efektifitas paling besar. Dalam percobaan juga memberikan hasilbahwa rimpang temu putih juga berefek sebagai antiiflamasi. Namun di praktiknya, adabeberapa angka atau hasil yang didapat meleset dari cara teoritisnya, dikarenakan banyakfaktor yang dapat mengganggu. Contohnya saat memasukan sonde secara peroral, adayang salah memasukkan sehingga obat tidak masuk ke saluran pencernaan tikus, atau obattumpah ke luar mulut sewaktu penyondean. Faktor lain, saat injeksi, terjadi pendarahanpada kaki tikus, kurang teliti pada saat pengukuran volume udem, dan kurang tepat saatmemasukkan kaki tikus ke dalam air raksa. Hal-hal seperti ini dapat terjadi dalampraktikum, sehingga angka-angka yang didapat ada yang tidak akurat hasilnya dibandingteoritisnya.

×